Putaran Keempat: Jiwa Penyihir dan Pendendam
Suara
ringkikan kuda berpadu dengan aroma jerami dan bau binatang.
Sore
hari di hari kedua. Mahiru kembali ke titik simpan yang dia buat pada putaran
kedua.
Kali
ini pun tidak ada barang baru yang ditambahkan ke dalam inventarisnya.
Rencana
untuk putaran keempat sudah ditetapkan; dia harus mengetahui keinginan Elez
yang sebenarnya.
Mahiru
menyembunyikan Grimm Note lalu bangkit berdiri.
Alur
cerita setelah ini berjalan sama seperti sebelumnya. Mahiru mengunjungi kamar Elez
di lantai tiga kediaman itu. Dua memohon agar mereka tidur bersama malam ini
dengan alasan bahwa dia sedang diincar oleh Penyihir. Karena pada putaran
sebelumnya Elez menunjukkan kekhawatiran yang tidak biasa, kali ini Mahiru
berusaha berbicara dengan setenang mungkin.
“Ada
kemungkinan besar kamu yang menjadi penyebab masalah ini juga akan diserang.
Baiklah. Jika kamu ingin aku melindungimu malam ini, aku tidak keberatan.”
Layla
menerima permintaan untuk menjadi pengawal Mahiru tanpa rasa curiga sedikit
pun, sama seperti sebelumnya.
Tentu
saja begitu. Bagi sang Penyihir, sosok yang akan menyerang malam ini adalah
mangsa yang paling cocok untuk mengalihkan kecurigaan dari dirinya sendiri.
Bahkan
saat dia memasang wajah tenang seperti sekarang, di dalam hati dia pasti sedang
mencemooh betapa bodohnya Mahiru.
“Ada
apa? Kenapa kamu menatap wajahku terus?”
“Meskipun
wajahnya sama, aku terkejut karena kamu terlihat seperti orang yang benar-benar
berbeda.”
“Hehe,
itu karena isinya berbeda. Bagaimana? Tidakkah kamu pikir aku jauh lebih
memikat daripada Elez?”
Senyum
Layla benar-benar terlihat seperti senyuman iblis di mata Mahiru.
Itulah
ekspresi sang penyihir yang telah mengkhianati Elez dan menghunjamkan pedang ke
tubuh Mahiru.
Pada
putaran sebelumnya, Mahiru bahkan tidak mencurigai Layla sedikit pun. Baik
Layla maupun Reset hanya menganggap Mahiru sebagai pion yang tidak berharga.
Dahulu
di dunia Si Tudung Merah, Mahiru merasa takut pada manusia yang tercemar
kegilaan, namun kali ini dia merasakan ketidakberdayaan seolah sedang dihimpit
oleh sesuatu yang jauh lebih besar.
“Aku
kembali ke pondok duluan.”
Setelah
mengatakan itu, Mahiru berbalik seolah sedang melarikan diri, lalu menuruni
tangga kediaman itu dengan tergesa-gesa.
*
* *
Mahiru
menyeka keringat di dahinya, merasakan kelelahan yang terasa cukup melegakan. Dia
melemaskan tubuh dan mencoba mengatur napasnya.
Karena
merasa tidak tenang di dalam pondok, Mahiru membawa pedang kayu ke luar demi
membuang segala pikiran buruk yang berkecamuk di kepalanya.
Sambil
mengingat kembali pelajaran dari Elez, dia mengayunkan pedangnya dengan membabi
buta.
Sepertinya,
menggerakkan tubuh memang jauh lebih cocok bagi jiwanya daripada terus-menerus
tenggelam dalam pemikiran yang berbelit-belit.
Saat
dia kembali mencengkeram pedang kayu yang sudah basah oleh keringat untuk
memulai satu set latihan lagi, sebuah suara yang riang terdengar diikuti
tepukan di punggungnya.
“Wah,
rajin juga latihan mandiri. Bagus, bagus.”
“...Elez.”
Bagi
Mahiru, latihan bersama Elez terasa seperti kenangan yang sudah sangat lama,
namun bagi gadis itu, semua ini baru terjadi kemarin.
“Aku
temani kamu latihan.”
Entah
apakah Elez memikirkan hal yang sama dengan Mahiru, yang jelas dia sudah
menyandang pedang kayu di bahunya.
Elez
menyeringai lalu memasang kuda-kuda. Mahiru tidak membantah, dia hanya balas
memasang kuda-kuda seolah sedang menatap cermin.
Tanpa
aba-aba, keduanya mulai bergerak dan saling mengadu pedang kayu.
Dalam
keheningan, mereka hanya terus mengayunkan senjata. Suara benturan kayu itu
terasa nyaman di telinga. Dibandingkan hanya berlatih ayunan kosong, berlatih
tanding seperti ini jauh lebih membakar semangat. Mahiru menyerang dengan
bertubi-tubi, seolah ingin menebas segala kegundahan yang menyelimuti hatinya.
Seolah
memahami apa yang sedang dirasakan Mahiru, Elez tidak memberikan instruksi
mendetail. Dia hanya menangkis dan memutar setiap serangan liar Mahiru dengan
sangat tangkas.
Setelah
beberapa lama berlalu.
Mahiru
akhirnya bertumpu pada lututnya, bernapas tersengal-sengal dengan bahu yang
naik turun.
“Sudah
puas, Mahiru?”
Elez
tampak masih sangat bugar, hanya ada sedikit keringat yang membasahi dahinya.
“...Ya.
Terima kasih sudah menemaniku.”
“Yah,
cuma segini saja, sih. Lagipula kamu sudah banyak membantuku.”
“Tidak,
aku tidak melakukan hal yang istimewa.”
Setidaknya,
dalam ingatan Elez saat ini, Mahiru memang belum melakukan apa-apa.
Bahkan
jika Elez mengingat putaran sebelumnya pun, Mahiru merasa dirinya belum
mencapai hasil apa pun.
“Tidak
juga. Kamu sangat membantu. ...Kenapa?”
“Hah?”
“Kenapa
kamu mau membantuku, Mahiru?”
Pertanyaan
itu terdengar tumpang tindih dengan kata-kata si Gembala di benak Mahiru.
Sejak
putaran keempat dimulai, Mahiru terus-menerus memikirkan Elez.
Dia
membayangkan kehidupan Elez selama ini; tentang ibunya, tentang saat dia dibawa
ke kediaman Cendrillon. Terkadang, ada bagian yang terasa sangat mirip dengan
dirinya sendiri. Bukan karena dia sengaja memanggil kembali ingatan lama itu,
namun perasaan dari masa lalu itu mendadak bangkit kembali dengan sangat nyata.
“Ups.”
Mahiru
melancarkan serangan mendadak, namun Elez menanggapinya dengan sigap.
Saat
Mahiru mengayunkan pedangnya lagi untuk mendaratkan satu pukulan tambahan, Elez
sudah sepenuhnya kembali ke posisi stabil. Dia menahan hantaman Mahiru dengan
ekspresi tenang.
Elez
memang memiliki kemiripan dengan Mahiru.
Hal
itu sudah dia rasakan sejak pertama kali mereka bertemu.
“Kedua
orang tuaku mati bunuh diri.”
Mahiru
berucap di tengah adu kekuatan pedang mereka.
Elez
tidak menjawab, dia hanya mendorong Mahiru hingga menjauh, namun Mahiru kembali
menghantamkan pedang kayunya dengan lebih keras.
Mahiru
teringat saat dia mengayunkan pemukul bisbol logam di dunia asalnya. Ada
seorang pria yang berteriak padanya, bertanya apakah dia gila karena melakukan
ayunan penuh ke arah manusia, bertanya apakah dia tidak merasa takut. Mahiru
hanya membatin, apa yang dibicarakan pria itu? Masih banyak hal lain yang jauh
lebih menakutkan di dunia ini.
“Adikku
menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ayah dan Ibu berusaha keras
untuk menyembuhkannya. Mereka mendatangi banyak dokter tapi tidak ada hasilnya.
Kami bukan keluarga kaya, jadi mengumpulkan uang pun terasa sangat berat. Saat
itu aku masih bocah, jadi aku sama sekali tidak bisa membantu.”
Mungkin
itu terjadi saat Mahiru masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dia
pergi ke rumah sakit tempat Asahi dirawat hampir setiap hari, berusaha keras
untuk menyemangatinya, namun di sudut hatinya dia selalu merasa tidak berdaya.
Asahi
adalah sosok yang dewasa. Mahiru tidak ingat pernah melihat adiknya menangis di
depan orang tua mereka. Bahkan di depan Mahiru pun, Asahi jarang sekali
mengeluh.
“Kenapa Kakak datang ke sini setiap
hari? Apa Kakak tidak punya teman? Kalau terlalu terobsesi padaku, nanti Kakak
sendiri yang susah di masa depan, lho.”
Begitu
kata Asahi, dia justru selalu mencemaskan Mahiru.
Padahal
Mahiru ingin Asahi lebih egois sedikit. Namun Mahiru bukan orang yang pandai
merangkai kata untuk menyampaikannya, dan apa pun yang dia katakan, Asahi hanya
akan tersenyum kecil yang menyiratkan rasa sungkan.
“Sejak
kapan, semuanya mulai menjadi kacau!?”
Sambil
bertukar posisi, Mahiru dan Elez terus mengadu pedang kayu mereka.
“Ayah
dan Ibu yang frustrasi karena tidak menemukan jalan keluar untuk penyakit
adikku mulai mengandalkan orang-orang mencurigakan seperti dukun atau
cenayang!”
Mereka
sesumbar bahwa jika dokter saja tidak tahu penyebabnya, maka pasti ada kekuatan
gaib yang bermain. Orang tua Mahiru bahkan sampai berutang demi mendengar omong
kosong orang-orang misterius itu.
Jika
dipikirkan sekarang, dugaan tentang kekuatan misterius itu mungkin tidak
sepenuhnya salah jika dikaitkan dengan kegilaan, namun Mahiru saat itu tidak
mungkin berpikiran seperti itu. Dia bahkan sempat melontarkan kata-kata kasar
kepada orang tuanya.
“Mereka
akhirnya bergantung pada seorang peramal... Yah, dulu aku pikir orang yang kena
tipu itu bodoh, tapi ternyata penipu profesional itu sangat hebat. Semua uang
kami ludes, bahkan kami sampai meninggalkan utang yang menumpuk.”
Napas
Mahiru mulai habis, namun dia tetap menyerang dengan membabi buta tanpa peduli.
Tidak
ada lagi teknik atau pola dalam gerakannya, namun Elez tetap meladeninya tanpa
berkomentar.
“Lalu,
lalu... saat aku pulang ke rumah, aku melihat Ayah dan Ibu sudah gantung diri.”
Pemandangan
saat itu terpaku di dalam benaknya dan tidak pernah hilang.
Rasanya
seperti pijakan yang sudah retak itu akhirnya runtuh sepenuhnya, dan dia jatuh
ke dasar jurang yang paling gelap. Dia jatuh berlutut dan muntah di sana,
berpikir bahwa tempat itulah neraka yang sesungguhnya.
“Setelah
itu, aku bekerja keras demi Asahi, bahkan melakukan hal-hal yang hampir
menjurus ke kriminal. Aku berhasil menemukan peramal itu dan mencoba
membunuhnya, tapi aku gagal. Sampai belum lama ini, aku mendekam di dalam
penjara.”
Mahiru
akhirnya kehabisan tenaga dan menghentikan gerakannya. Dia bertumpu pada
lututnya dengan napas yang memburu. Amarah selalu menjadi bahan bakar utamanya.
Hal itu tidak berubah sampai sekarang.
Amarah
kepada peramal yang merenggut segalanya. Amarah kepada dunia tidak adil yang tidak
pernah mengulurkan tangan.
Dia
juga membenci si Gembala yang menyebalkan, dan dia tidak akan memaafkan Reset
maupun Layla.
“Kamu
juga sudah melewati banyak kesulitan ya...”
Saat
Mahiru mendongak, dia melihat wajah Elez tampak sedih.
Bukan
sekadar rasa kasihan, namun seolah Elez sedang melihat masa lalunya sendiri
melalui sosok Mahiru. Atau mungkin, dia sedang memikirkan bayangan masa
depannya sendiri.
“Kenapa
kamu menceritakan ini padaku?”
“Aku
merasakan bau yang sama.”
Alasan
Mahiru sempat berpikir bahwa dia dan Elez bisa berteman adalah karena rasa
simpati yang dia rasakan. Dia merasa Elez berdiri di neraka yang sama
dengannya. Meski tahu bahwa di ujung neraka itu tidak ada apa pun, mereka tidak
punya pilihan selain terus melangkah maju. Itulah cara hidup mereka.
“...Ya,
mungkin memang begitu.”
Elez
membuang pedang kayunya, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya.
“Dengarkan
ceritaku juga.”
Mahiru
mengangguk singkat dan ikut melepaskan pedang kayunya.
“Sebenarnya,
aku lahir dari hubungan antara Raja dan selirnya. Saat kecil, aku tinggal di dalam
istana. Mengejutkan, bukan?”
Elez
tertawa seolah sedang mengejek dirinya sendiri.
Meski
terkejut, Mahiru merasakan semacam pemakluman saat pertama kali mendengarnya.
Sebab, dia selalu merasakan aura keanggunan dalam setiap gerak-gerik Elez.
“Karena
status sebagai selir, Ibu sangat dibenci di dalam istana. Aku pun pasti
begitu... tapi Ibu selalu melindungiku. Lalu, akhirnya, dia dibunuh oleh
seseorang.”
Kebencian
yang kuat terpancar dari kata-kata Elez.
“Aku
terus mencari pelaku yang membunuh Ibuku. Itulah alasanku bertahan tinggal di
rumah keparat ini. Keluarga Cendrillon adalah bangsawan besar yang cukup
berpengaruh, jadi mereka punya banyak koneksi dengan keluarga kerajaan.”
“Jadi
kamu menahan semua perlakuan buruk kakak-kakak tirimu demi hal itu?”
Elez
tampak tersentak sejenak, mungkin terkejut karena Mahiru mengetahui hal
tersebut, namun dia tetap melanjutkan perkataannya dengan penuh emosi.
“Ya,
benar! Kalau bukan karena itu, sudah kuhajar mereka semua sejak lama.
Keinginanku untuk ikut pesta dansa juga demi balas dendam. Memanfaatkan Ibuku
yang baik hati sesuka mereka, lalu membunuhnya dan menganggapnya tidak pernah
ada saat situasinya tidak lagi menguntungkan? Hal seperti itu tidak akan pernah
kumaafkan!”
Nada
bicara Elez semakin meninggi, suaranya dipenuhi amarah yang membara. Mahiru
merasa amarah itu selaras dengan apa yang ada di dalam dirinya. Dia memahami
perasaan Elez seolah itu adalah perasaannya sendiri. Jika sudah begitu,
kesimpulannya sudah bulat.
“Elez...”
“Kamu pasti sangat memahami
perasaan Elez Cendrillon. Sebagai sesama pendendam, kamu pasti bisa mengerti
dia.”
Benar.
Mungkin hanya Mahiru yang sanggup menyelami perasaan Elez.
Bagi
orang lain, logika ini pasti mustahil untuk dipahami.
“Jika
kamu bisa membalaskan dendammu dengan mengorbankan nyawamu sendiri, apa yang
akan kamu lakukan?”
Mahiru
merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Apakah
ini rasa harap, ataukah kecemasan? Jika ini harapan, lantas apa yang sebenarnya
dia harapkan?
Terdengar
suara Elez menelan ludah sebelum dia membuka suara. Setelah sempat mengeluarkan
suara serak yang tidak berarti, Elez berucap dengan penuh penekanan.
“Kalau
saat itu tiba, aku akan mati tanpa ragu sedikit pun.”
“...Yah,
memang seharusnya begitu.”
Mahiru
harus memberitahukan kebenaran yang kejam kepada Elez sekarang.
Fakta
bahwa Layla, satu-satunya teman Elez, adalah musuh yang dia cari selama ini.
Begitu
mengetahuinya, Elez pasti tidak akan ragu untuk menghunjamkan bilah tajam ke
jantungnya sendiri.
“...Ah.”
Sampai
di titik itu, Mahiru menyadari sebuah celah yang fatal.
Apakah
Elez akan percaya jika Mahiru mengatakan bahwa Layla adalah pembunuh ibunya?
Antara
Mahiru yang baru dia kenal sebagai pelayan dua hari lalu, dengan Layla yang
sudah bertahun-tahun bersamanya sebagai teman. Tidak perlu dipikirkan lagi
kata-kata siapa yang lebih layak dipercaya.
Lantas,
haruskah dia menunjukkan bukti yang kuat? Tidak, mana mungkin ada bukti yang
bisa didapat semudah itu. Bahkan jika dia menunjukkan pemandangan di bawah
tanah istana sekalipun, dia tidak punya bukti bahwa Layla pelakunya.
Lagipula,
begitu pesta dansa besok tiba, bukankah semuanya akan terlambat? Pada putaran
ketiga, Layla yang mengambil alih kesadaran telah menghunjamkan pedang ke arah
Mahiru.
Setelah
itu, kepribadian Elez tidak pernah muncul kembali.
Artinya,
pada titik itu, Layla telah memiliki kendali penuh atas tubuh tersebut.
Dan
itu tidak menjamin bahwa sekarang Elez-lah yang memegang kendali sepenuhnya.
Ada kemungkinan Layla sudah bisa menggunakan tubuh Elez sesuka hatinya.
“Hei,
Mahiru? Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba diam?”
Apa
yang harus dia lakukan? Langkah apa yang harus dia ambil?
Tidakkah
menurutmu bunuh diri akan menyelesaikan segalanya? Bukankah itu kesimpulan yang
luar biasa, mengingat kamu juga tidak perlu mengotori tanganmu sendiri?
Suara
si Gembala yang menyebalkan itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Mendorong
Elez untuk bunuh diri? Itu hanyalah sebuah cara. Itu hanyalah hasil yang
mungkin terjadi saat Elez mengetahui kebenarannya. Jika dia tahu Layla adalah
pembunuh ibunya... Tapi, jika Mahiru ingin hal itu terjadi, apakah itu karena dia
tidak mau tangannya kotor?
Bukan, bukan begitu...!
Melalui
percakapan tadi, Mahiru telah memastikan keinginan Elez.
Maka,
dia seharusnya memahami perasaan gadis itu lebih dari siapa pun.
Seandainya
Mahiru menuduh Layla sekarang, Elez pasti tidak akan percaya. Namun, dia akan
menyadarinya nanti, bahwa perkataan Mahiru benar dan selama ini dia hanya
dimanfaatkan.
Bukankah
itu adalah akhir yang paling menyedihkan?
Kalau
begitu, meskipun dengan cara yang sedikit memaksa, Mahiru harus membantu Elez
menuntaskan keinginannya.
“...Mahiru?”
Mahiru
menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Dia kembali memungut pedang
kayunya.
Sambil
memunggungi Elez, dia memunculkan Grimm Note dan menyimpan pedang kayunya, lalu
mengeluarkan sebilah pedang Barat.
“Aku
tahu siapa jati diri pembunuh ibumu.”
Mahiru
menatap bayangan matanya sendiri pada bilah pedang itu, memantapkan tekadnya.
Dia
mencengkeram gagang pedang itu kuat-kuat agar tidak ragu saat menyerang nanti.
Begitu kuatnya hingga tangannya memerah, seraya dia merancang setiap gerakannya
di dalam otak.
“Hah?
Apa yang kamu... bercanda itu ada batasnya...”
“Aku
tidak bercanda! Tapi aku tahu kamu tidak akan percaya padaku. Karena itu,
maafkan aku, Elez.”
Mahiru
berbalik dan mengayunkan pedangnya seketika.
Dia
tidak berniat membunuh Elez sekarang. Mati tanpa mengetahui kebenaran bukanlah
keinginan Elez yang sebenarnya, meskipun musuhnya ikut mati bersamanya. Karena
itu, targetnya adalah kaki. Dia menyerang kaki Elez untuk melumpuhkan
pergerakannya.
“Ugh,
apa yang kamu lakukan!?”
Sensasinya
terasa lebih ringan dari bayangannya, Mahiru segera menyadari bahwa serangannya
meleset. Meski dia berhasil menyayat paha Elez, luka itu tidak cukup untuk
melumpuhkan pergerakannya. Elez melakukan langkah mundur dengan gesit, menjaga
jarak dari Mahiru.
Dengan
begitu, Elez menjauh dari pedang kayunya. Sekuat apa pun Elez, dia tidak akan
bisa menang jika bertarung dengan tangan kosong. Darah mulai mengalir dari
pahanya, membentuk genangan kecil di lantai.
“Layla
yang ada di dalam dirimu. Itulah jati diri pembunuh ibumu yang sebenarnya.”
“Hah?
Kamu sudah gila!?”
Hanya
ada satu cara untuk membuat Elez memercayai kebenaran itu, yaitu membuat Layla
mengakuinya sendiri.
Jika
Elez berada dalam bahaya, Layla pasti akan muncul. Entah dia muncul secara
paksa atau karena Elez yang memintanya, Layla tidak akan punya pilihan lain.
Mahiru
tahu segalanya, mulai dari rencana Reset hingga jati diri Layla yang
sebenarnya. Dia memiliki informasi dengan tingkat akurasi yang mustahil bagi
Layla. Jika dia membeberkan semuanya, Layla pun pasti tidak akan bisa tetap
tenang.
“Kamu
tahu ‘kan kalau negara ini meraup untung dari ekspor permata? Di saat yang
sama, gadis-gadis muda di Ibu Kota menghilang setiap malam. Kamu juga tahu soal
sihir Layla, ‘kan? Sadarlah, Layla adalah sang Penyihir yang mengubah penduduk
menjadi permata untuk dijual bersama Pangeran Kedua, Reset.”
“Tiba-tiba
bicara apa sih, jangan mengigau!”
“Ini
bukan khayalan! Lihat ini.”
Mahiru
mengeluarkan permata biru dari Grimm Note. Itu adalah barang dari putaran
kedua, milik pemilik toko permata.
“Murnikan,
Grimm Note.”
Dengan
pemurnian, Mahiru melenyapkan kegilaan pada permata itu.
Yang
muncul kemudian adalah gumpalan daging bercampur rambut dan serpihan tulang
yang entah milik siapa.
“Ha...
apa-apaan itu?”
“Ini
daging manusia. Inilah jati diri permata itu, dan Layla yang melakukannya.”
Mahiru
melemparkan potongan daging itu ke kaki Elez. Bunyi basah yang menjijikkan
terdengar saat potongan itu mendarat dan tenggelam dalam genangan darah dari
paha Elez.
“A-Aku
tidak mengerti... tidak ada bukti kalau Layla yang melakukannya! Lagipula itu
mustahil! Layla selalu bersamaku!”
“Lalu,
apa kamu tahu semua yang dia lakukan saat dia mengambil alih kesadaranmu!?”
“I-Itu...
dia juga pasti punya urusan pribadi, dan memang ada saat-saat aku merasa
seperti sedang tidur... tapi dia itu orang baik!”
Teriakan
pilu itu menusuk hati Mahiru.
Pengkhianatan
yang dialami Elez adalah masa depan yang pasti. Tidak peduli seberapa keras dia
meronta, tidak ada yang berubah. Entah dia percaya atau tidak, akhirnya dia
hanya akan ditertawakan sebagai wadah dan dibuang begitu saja.
“Hei,
kapan tepatnya Layla mulai bersemayam di tubuhmu?”
“Kenapa
tanya begitu...”
“Bukannya
tepat setelah ibumu meninggal? Apa kamu tidak merasa waktunya terlalu pas?”
Elez
terbelalak, namun dia segera menggelengkan kepala dengan cepat.
“Itu
cuma kebetulan!”
“Siapa
yang bilang padamu kalau pembunuh ibumu ada di istana? Bukannya Layla?”
“M-Meski
begitu, bukan berarti...”
“Hei.
Layla menggunakan permata untuk merapal sihirnya, ‘kan?”
Elez
mencoba membantah namun kata-katanya terhenti.
Bahunya
merosot, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya tersembunyi di balik poni, namun
Mahiru yakin gadis itu sedang menangis karena tetesan air mulai jatuh membasahi
lantai melalui ujung hidungnya.
“T-Tidak
mungkin...”
Gumam
Elez lemah. Lalu dia berteriak lagi dengan lantang.
“Tidak
mungkin!”
Dia
menyeka air mata lalu mendongak.
“Layla
itu temanku! Dia selalu ada di pihakku, mendengarkan keluh kesahku... kamu
tahu, seberapa banyak dia telah menyelamatkanku? Memang sih, kadang ada hal
yang bikin kesal, tapi menculik orang lalu mengubahnya jadi batu permata? Mana mungkin
dia orang yang seperti itu, aku yang paling tahu!”
Kalau
begitu, Mahiru juga tahu betul.
Apa
yang akan Layla lakukan selanjutnya.
“Layla
membuat kesepakatan dengan Reset. Dia dapat bantuan sebagai ganti menyerahkan
tubuh Elez. Reset punya obsesi nggak wajar sama kamu. Kalau kamu tetap pergi ke
pesta dansa itu, kamu bakal dikhianati Layla dan berakhir jadi boneka Reset!
Bahkan di ruang bawah tanah istana, ada bukti wanita-wanita yang diubah jadi
batu permata! Layla tidak pernah menganggapmu teman!”
“Diam,
diam! Masa aku percaya apa yang kamu katakan itu!?”
Elez
memegangi kepalanya, mengentakkan kaki tanpa peduli darah yang menetes.
Dia
mengacak-acak rambut peraknya, menggelengkan kepala, lalu terduduk ambruk
begitu saja.
“Sebenarnya
kamu ‘kan sudah punya firasat? Makanya kamu mati-matian membantah kayak gitu.”
“T-Tidak...
itu tidak benar ‘kan? Layla...”
Elez
bertanya seperti bercermin, menempelkan dahinya ke genangan darah.
Berulang
kali dia memanggil nama Layla, lalu setelah beberapa saat, tiba-tiba terdiam
seperti tombol dimatikan.
Bahu
Elez bergerak sedikit. Saat gadis itu perlahan bangkit, bukan, saat Layla
menyisir poninya dengan tangan yang berlumuran darah dan menyeringai. Mata
safirnya yang berkilat jahat kini menatap lurus ke arah Mahiru.
“Kamu
bukan sekadar pelayan biasa, ya?”
“Jadi
kamu mengakuinya?”
Layla
terperangah sejenak, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang seolah
mengatakan bahwa Mahiru telah melakukan kesalahan besar. Mahiru mencengkeram
pedangnya kuat-kuat.
“Heh
heh heh, ah, lucu sekali. Apa kamu berpikir segalanya berjalan sesuai
rencanamu?”
“Hah?”
“Percuma
saja. Aku bisa membaca pemikiran dangkalmu. Tapi tidak ada yang akan berhasil.
Sudah terlambat. Semuanya sudah hancur, bahkan sejak syarat dasarnya.”
“...Apa
maksudmu?”
Layla
mendengus mengejek.
Di
sudut penglihatan Mahiru, tampak cahaya berbentuk manusia yang tidak jelas.
Itu
si peri menyebalkan. Cahayanya berkedip-kedip seolah sedang mengejek dan dia
terkikik geli.
Hee
hee hee. Hee hee. Hee hee hee hee. Hee hee hee. Hee. Hee hee hee hee hee.
Mahiru
menggelengkan kepala untuk mengusir gangguan itu, namun rasa jengkel dan
gelisahnya semakin memuncak.
“Kamu
sama sekali tidak mengerti, ya. Aku muncul sekarang karena keinginan gadis ini.
Aku belum memegang kendali penuh atas tubuhnya. Tapi itu tidak masalah.
Ngomong-ngomong, gadis ini mendengar seluruh percakapan kita. Mari kita coba
ikuti skenario yang kamu susun, bagaimana?”
“...Apa?”
Kenapa
Layla bisa begitu tenang?
Peri
itu mendadak hilang. Jantung Mahiru berdegup kencang karena perkataan Layla.
Apakah
dia berbohong dan sebenarnya sudah memegang kendali penuh?
Atau
dia menggunakan sihir? Sebelum Mahiru menemukan jawabannya, Layla kembali
bicara.
“Aku
mengakuinya. Aku yang membunuh ibunya Elez, Petri Liliarouge. Wanita murahan
yang bodoh itu mencoba menghalangiku yang ingin memanfaatkan keluarga kerajaan,
jadi kuhabisi saja karena dia sangat mengganggu. Tapi dia memberikan kutukan
sialan padaku hingga jiwa dan ragaku terpisah. Karena itulah aku meminjam tubuh
Elez. Mendekati Elez yang sedang berduka sangatlah mudah, aku juga bisa
menyiksanya, dan karena Elez punya kekuatan sihir, aku bisa menggunakannya.
Lihat, bukannya dia wadah yang sangat sempurna?”
Setelah
selesai bicara, Layla mengangkat satu alisnya dengan nada provokatif. Itu
adalah pengakuan yang seolah dilakukan karena dia sudah putus asa. Dengan ini, Elez
pasti tidak akan ragu lagi bahwa Layla adalah musuhnya. Tapi kenapa? Padahal
Layla bisa saja berpura-pura tidak tahu saat Mahiru menyudutkannya.
“Apa
sebenarnya rencana busukmu...”
“Heh
heh heh, tidak sopan sekali. Bukannya kamu yang merencanakan banyak hal?”
“Jangan
menyesal, Elez! Kamu dengar tadi, ‘kan! Elez!”
Layla
memejamkan mata sejenak, dan saat mata itu terbuka kembali, kepribadiannya
seolah ikut berubah.
Yang
terpancar di matanya entah amarah, kesedihan, atau kebencian, mungkin semuanya
campur aduk.
“M-Mahiru...
aku...”
Elez
tampak bingung, dia melangkah limbung sebelum akhirnya jatuh terduduk di sana. Dia
duduk bersimpuh, merunduk dengan rambut perak yang berantakan, tubuhnya gemetar
hebat.
“Maaf
karena aku bertindak kasar, Elez. Aku benar-benar tidak terpikir cara lain
selain ini. Tapi, kamu sudah paham sekarang, ‘kan?”
Mahiru
melemparkan pedang Barat yang dia pegang ke arah Elez.
Elez
memungutnya dengan gerakan lamban dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
Pedang yang dicengkeram kuat itu bergetar, dan Elez menangis saat menatap ujung
tajam senjata tersebut.
“...Jadi
itu maksudmu tadi. Benar, jika aku mati, Layla juga akan mati. Berarti ini
caraku membalaskan dendam.”
Suaranya
terdengar gemetar.
Mahiru
merasa pedih melihat kondisi Elez. Pada akhirnya, Elez memang tidak bisa
bahagia. Dikhianati oleh satu-satunya teman, dan pilihan balas dendamnya
hanyalah bunuh diri. Namun, Mahiru berpikir Elez beruntung karena setidaknya dia
bisa membalas dendam. Meski ada gejolak batin, menyampaikan hal itu hanyalah
kepuasan pribadi bagi Mahiru. Sebagai sesama pendendam, Mahiru merasa bisa
memahami keinginan Elez sepenuhnya.
Jika
dia benar-benar memikirkan Elez, membiarkan Elez mewujudkan keinginannya adalah
kebaikan yang paling maksimal.
“Aku
sangat mengerti perasaanmu, Elez. Kamu sudah hidup selama ini demi membalas
dendam. Kamu menahan perlakuan kejam di rumah ini demi tujuan itu. Kamu terus
membenci orang yang membunuh ibumu. Nyawa orang itu sekarang ada di tanganmu.”
Elez
memegang bagian bilah pedang dan menempelkannya ke lehernya sendiri. Lapisan
tipis kulitnya teriris, dan darah segar perlahan mengalir di lehernya.
“Ya,
benar... aku hidup demi saat ini. Aku selalu ingin membunuhnya. Selalu, selalu,
selalu! Aku sudah berlatih pedang dengan tekad untuk menebasnya dengan tanganku
sendiri!”
Hati
Elez pasti dipenuhi kebencian terhadap Layla. Sosok Layla telah menyatu dengan
target kebenciannya sebagai pembunuh sang ibu, dan niat membunuh pasti sedang
bergejolak di sekujur tubuhnya. Tidak ada jalan lain untuk membalas segalanya
selain membunuh Layla.
“Lagipula,
aku dikhianati oleh orang yang selama ini kuanggap teman, tahu? Aku tidak bisa
memaafkannya! Apa-apaan ini! Seharusnya... seharusnya tidak begini.”
Nada
bicara Elez perlahan melemah, dan raut wajahnya yang penuh amarah
berangsur-angsur melunak.
“Elez...?”
“Kenapa...
ini keterlaluan.”
Air
mata menetes deras, dan akhirnya pedang itu terlepas dari tangannya, jatuh
berguling di lantai dengan bunyi tumpul. Darah yang mengucur dari telapak
tangan Elez yang tersayat menempel pada pedang itu, sementara di lehernya hanya
tersisa satu goresan tipis berwarna merah.
“Hei,
ada apa, Elez?”
Mahiru
sempat berpikir apakah Layla sedang mencampuri kesadaran Elez, namun tampaknya
bukan itu masalahnya.
Elez
menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang memerah karena darahnya sendiri,
sementara air mata terus mengalir di sela-selanya. Wajah Elez kacau oleh darah
dan air mata, rambutnya acak-acakan, dan emosi yang terpancar dari mata safirnya
jauh dari kata amarah.
“Maaf...
Mahiru, aku tidak ingin mati...”
Kalimat
yang keluar dari mulut Elez benar-benar di luar dugaan.
Tidak
ingin mati?
Tidak
mau mati?
Begitu
rupanya, dia tidak ingin mati.
“...Hah?
Haha, apa-apaan itu.”
Mahiru
tidak mengerti.
Apakah
Elez masih belum bisa percaya bahwa Layla adalah pembunuh ibunya?
Tidak,
mungkin bukan itu. Apa karena rasa takut? Tapi dengan mati, dia bisa membalas
dendam.
“Aku
tidak mau lagi... aku tidak mau hal yang menyakitkan seperti ini, aku ingin
bertemu Ibu, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi...”
Elez
bersujud di lantai seolah memohon ampun, menggesekkan dahinya ke tanah. Dia benar-benar
terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Itu
adalah pemandangan yang mengejutkan.
Elez
bilang dia hidup demi membalas dendam ibunya.
Dia
sendiri yang dengan tegas mengatakan akan mati tanpa ragu jika itu bisa
membalaskan dendamnya.
Bukannya
Mahiru ingin Elez mati.
Tapi,
perasaan apa ini.
Rasa
sesak apa ini.
“...Menyedihkan.”
Ah,
begitu ya, ini rasa kecewa.
Dia
secara sepihak menganggap Elez sebagai rekan dan menaruh harapan yang
menjijikkan, lalu berakhir dikhianati.
Hanya
begitu rupanya.
“Kuhuhu,
pffft, ahahahaha!”
Tawa
Layla yang penuh kegembiraan bergema di dalam pondok.
Layla
bangkit berdiri, dia menyeka wajahnya yang berlumuran darah dengan kasar
setelah merobek baju tidurnya.
“Kamu
benar-benar gila ya. Tidak peduli seberapa besar dendammu, mana mungkin
seseorang bisa bunuh diri begitu saja. Kalau aku, aku tidak akan pernah
melakukannya. Konyol sekali. Memangnya apa yang bisa didapatkan dari hal itu?”
“Ini
bukan masalah untung atau rugi! Mana mungkin aku bisa memaafkan pembunuh orang
tua yang hidup berleha-leha sendirian! Melupakan segalanya lalu mencari kebahagiaan
biasa itu benar-benar memuakkan!”
Bukankah
Elez pun memiliki pemikiran yang sama?
Setelah
Mahiru menceritakan masa lalunya dan mendengar masa lalu Elez, Mahiru berpikir
bahwa mereka telah menjalani hidup dengan perasaan yang sama.
“Itu
logikamu saja, ‘kan?”
“Elez
juga berkata begitu...”
“Dia
hanya mengatakannya. Ada jarak yang lebar antara bicara dan bertindak. Apa kamu
benar-benar akan membunuh seseorang hanya karena mengucapkannya? Apa kamu akan
benar-benar mati hanya karena bilang ingin mati?”
Apa
yang dibicarakan wanita ini? Apa maksudnya?
Apakah
kata-kata ingin membunuh itu begitu ringan? Tidak. Nyawa itu berat. Tidak
mungkin seseorang dibiarkan merampas dan merampas begitu saja. Ini adalah
perasaan yang wajar, bukan?
“Aku
membunuh karena dia memang harus dibunuh. Jika aku harus mati demi itu, maka
aku akan melakukannya. Itu hal yang wajar.”
“Ah,
begitu ya. Kamu memang benar-benar sudah sinting.”
“Jangan
asal bicara, dasar penyihir keparat!”
Benar.
Mahiru tidak punya waktu untuk berlama-lama berdebat dengan Layla.
Situasinya
sangat buruk. Layla sudah menyadari kebencian Mahiru, dan Elez ternyata tidak
memiliki keberanian untuk melakukan bunuh diri. Melihat kondisi Elez tadi,
sepertinya dia bahkan tidak punya kekuatan mental untuk merebut kembali
tubuhnya dari Layla. Jika sudah begitu, Mahiru adalah musuh nyata bagi Layla.
Karena
fakta bahwa Mahiru mengetahui niat asli Layla serta hubungannya dengan Reset
telah terbongkar, Layla pun pasti tidak berniat membiarkannya pergi
hidup-hidup.
“Keparat...!”
Maka,
tidak ada pilihan lain selain segera meloloskan diri.
Berpikir
demikian, Mahiru memutuskan untuk mengambil jarak dan dengan cepat memutar
tumitnya. Dia mengambil satu langkah untuk mulai berlari, namun dia justru
tersungkur, atau lebih tepatnya, dia tidak mampu melangkahkan kakinya.
“Lho...?”
Mulutnya
terasa berpasir. Tanah masuk ke dalam sana. Rasa panas seperti besi pijar yang
ditempelkan merambat di kakinya. Di saat yang sama ketika dia menyadari hal
itu, rasa sakit yang tajam menyerang. Mahiru spontan memegang kakinya, namun
telapak tangannya pun ikut merasakan perih yang luar biasa. Dia buru-buru
menunduk, dan baru tersadar bahwa paha kakinya telah ditembus oleh sebilah
pedang perak yang besar.
“Ah,
ugh... S-Sejak kapan...”
Saat
dia mendongak lebih jauh, dia melihat sosok Layla yang menjepit beberapa butir
permata di sela-sela jarinya. Layla menyeka pipinya dengan lengan, membuat
darah yang telah mengeras mengelupas perlahan.
“Mana
mungkin aku membiarkanmu pulang hidup-hidup. Orang gila sepertimu lebih baik
mati demi kebaikan dunia.”
Permata
di tangannya berkilau, lalu berubah wujud menjadi pedang perak.
Senjata
itu melesat lurus mengincar Mahiru dan menembus bahu kirinya. Darah segar
memercik, dibarengi rasa sakit yang hebat. Pandangannya tertutup warna merah,
dan tubuhnya seolah diremukkan oleh rasa perih.
Mahiru
meronta mencoba mencabut pedang itu, namun jari-jarinya tidak bertenaga. Lengan
kirinya bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali, dan rasa sakit membuat
pikirannya buntu. Pandangannya menyempit, napasnya pun mulai sesak.
Namun,
dia tetap merayap maju dengan gerakan seperti ulat jengking demi menjauh
sedikit saja dari Layla. Dia sendiri tidak yakin apakah dia benar-benar
bergerak maju, tapi jika tetap diam, dia pasti akan mati. Suara napasnya yang
parau bergema di dalam kepala. Di saat yang sama, senandung riang terdengar
turun dari atas.
“Lagu
ini, katanya ibunya sering menyanyikannya sebagai lagu pengantar tidur, lho.
Padahal akulah yang membunuh ibunya, tapi dia menceritakannya dengan wajah yang
sangat bahagia, jadi, heh heh, rasanya sangat lucu.”
“Keparat...!”
Pada
akhirnya, yang meluap dari dalam dirinya tetaplah amarah. Tidakkah kamu merasa
ini keterlaluan, Elez? Setelah dihina sedemikian rupa, setelah tubuhmu
diperalat sesuka hati, bukankah wajar jika kamu ingin membunuhnya apa pun yang
terjadi? Jika kamu tidak mau melakukannya, maka biar aku yang melakukannya.
“Akan
kubunuh kauuuuuuuuu!”
Mahiru
menumpukan lengannya ke tanah dan mencoba bangkit. Setidaknya, dia ingin
mendaratkan satu pukulan terakhir. Namun saat dia menoleh, di depan matanya
telah bersinar permata yang jumlahnya tidak terhitung bagaikan langit malam.
Satu
per satu permata itu berubah wujud menjadi pedang perak, lalu melesat bagaikan
hujan meteor.
“Ha,
eh?”
Mahiru
mengulurkan tangannya ke arah Layla, namun lengan yang dia ulurkan itu justru
tertebas putus dan melayang di udara. Pemandangan pedang perak yang mendekat ke
depan matanya tampak seperti gerak lambat, namun sebelum sempat melawan, bola
matanya telah tertusuk.
“Bukannya
biasanya orang akan memohon jangan bunuh aku? Kasar sekali, ya.”
Setelah itu, Mahiru tidak lagi mengerti apa yang terjadi. Dia hanya merasakan rasa sakit yang tajam menusuk di sekujur tubuhnya. Dia tidak tahu bagian tubuh mana yang masih tersisa atau bagaimana kondisinya sekarang. Suaranya tidak bisa keluar, napasnya tersumbat oleh darah yang merembak naik. Pandangannya pun meredup, hingga akhirnya kesadarannya terkoyak habis, tenggelam dalam rasa sakit, amarah, dan genangan darah.