Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Putaran Pertama

Putaran Pertama: Kediaman si Gadis Penuh Abu dan Cendrillon

Berdebu dan temaram.

Mahiru mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tenang.

Cahaya matahari sedikit menyelinap masuk melalui jendela tinggi yang tidak terjangkau meski dia sudah berjinjit, membuat butiran debu tampak beterbangan di udara. Lantainya terasa keras, dan ruangan itu memberi kesan yang menyesakkan. Luasnya mungkin hanya sekitar enam meter persegi. Namun, karena banyaknya barang di sana, ruangan itu terasa jauh lebih sempit dari aslinya.

Berbagai macam peralatan tersimpan di dalam rak dan kotak kayu yang berjejer. Di bagian dalam, terdapat kursi antik, karpet, serta kasur yang tertumpuk begitu saja. Tampaknya benda-benda itu sudah lama tidak digunakan.

Meski berdebu, barang-barang di sana tertata cukup rapi sehingga masih ada ruang untuk berpijak, namun justru karena itulah, gundukan kain di depan pintu keluar tampak sangat mencolok.

“Setelan jas... lebih baik kucoba pakai saja dulu.”

Mengingat pengalamannya di dunia Si Tudung Merah, Mahiru merasa sebaiknya tidak melawan arus kali ini.

Salah satu alasan dia bisa meredam kewaspadaannya saat pertama kali bertemu Maisy adalah karena dia mengenakan jubah yang tergeletak di gubuk awal. Barang yang diletakkan dengan penuh maksud seperti ini tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan strategi penyelesaian.

Dia pun berganti pakaian ke setelan jas itu, lalu menyimpan tudung dan pakaian lamanya ke dalam fitur Storage di Grimm Note. Dia baru menyadari bahwa seluruh perlengkapan pakaiannya kini dihitung sebagai item. Meski kesulitan mengikat dasi tanpa cermin, pengalamannya mengenakan setelan jas saat bekerja sambilan sebagai pengawal tokoh penting dulu ternyata sangat membantu.

“...Baiklah.”

Dia menatap pintu ayun gudang tersebut. Keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam erat Grimm Note.

Begitu pintu ini dibuka, kisah tentang lingkaran takdir yang gila akan segera dimulai.

Mahiru teringat saat pertama kali dia terlempar ke gubuk awal.

Kala itu, dia tidak tahu apa-apa dan nyaris hancur karena rasa cemas yang menyesakkan.

Namun sekarang, dia memiliki tujuan yang jelas.

Menuntun dunia dongeng menuju True Ending dan menyucikan kegilaan di dalamnya. Dengan begitu, kondisi kesehatan Asahi akan membaik. Hal itu sudah dia buktikan sendiri sekembalinya dia ke dunia nyata. Selama ada harapan itu, Mahiru yakin dia sanggup mati berkali-kali.

“Akan kusucikan kegilaan ini sepenuhnya dan kusembuhkan penyakit Asahi. Lalu, aku akan memukul si Gembala.”

Dia memegang kenop pintu, lalu, dunia pun terbuka.

Sinar matahari yang menyilaukan dan kehangatan yang terasa pas menyambutnya.

Jalan setapak berbatu kerikil membentang lurus di atas tanah, diapit oleh hamparan rumput hijau di kedua sisinya. Patung-patung gips berdiri di sana-sini, sementara sebuah air mancur raksasa bertahta dengan gagahnya di tengah taman yang luas.

Dan di sebelah kirinya, sebuah kediaman megah dari susunan bata tampak menjulang tinggi.

 

* * *

 

“Benar-benar dunia fantasi...” gumam Mahiru sambil menyipitkan mata menghalau cahaya matahari, menatap hunian megah di hadapannya.

Dinding bangunan itu didominasi warna oker. Menilik dari tiga deret jendela yang berjejer vertikal, sepertinya bangunan ini memiliki tiga lantai. Terdapat dinding atap melengkung dengan pagar langkan berukir tembus. Strukturnya simetris, dengan menara runcing kecil menghiasi kedua ujungnya.

Di kejauhan, sebuah istana megah dengan jajaran menara tinggi tampak menjulang menembus cakrawala. Selain itu, sejauh mata memandang, hanya bangunan buatan manusia yang tampak. Jika dunia Si Tudung Merah dimulai dari dalam hutan, tempat ini justru sebaliknya; berada di tengah kota yang gemerlap. Lebih tepatnya, dia kini berada di area halaman sebuah rumah mewah.

Segala sesuatu yang tertangkap matanya adalah gambaran nyata dari dunia fantasi yang ada dalam benak Mahiru. Istana di kejauhan itu benar-benar mirip dengan Istana Cinderella. Tidak, barangkali bukan sekadar mirip. Sebab, Mahiru memang diundang ke dunia ini setelah membaca kisah Cinderella.

“Hei, siapa kau?”

Tiba-tiba, suara kasar itu seakan menghantam punggungnya.

Sosok itu adalah seorang gadis yang mengenakan seragam pelayan. Seragam itu memiliki bentuk yang lebih fungsional daripada sekadar gaun pelayan biasa, tampak sangat sering dipakai dan penuh dengan noda yang mencolok. Jika boleh jujur, pakaian itu terlihat kusam dan kotor.

Rambut peraknya yang panjang hingga ke pinggang tampak berantakan seolah tidak terurus, sementara matanya yang tajam mengarah ke atas terlihat buas bagaikan binatang pemangsa. Meski memberikan kesan berangasan dan kasar, dia adalah gadis misterius yang entah mengapa masih menyiratkan secercah keanggunan.

“Wajah baru, ya. Apa kamu pengganti orang yang berhenti tempo hari?”

Ujung sapu itu ditodongkan ke arahnya, membuat Mahiru refleks mengangkat kedua tangan.

“Jawab, dong. Aku tanya apa kamu ini pelayan baru?”

“...Ya, benar.”

Ternyata pilihannya untuk berganti pakaian menjadi setelan jas sangat tepat.

Karena gadis itu telanjur salah paham, dia memutuskan untuk mengikuti alurnya tanpa membantah.

Gadis itu memandangi Mahiru dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan saksama.

Mahiru bergegas memasang senyum canggung, namun raut wajah gadis itu justru semakin galak.

“Tapi tetap saja, kamu jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Malah lebih mirip berandalan yang datang ke sini. ...Yah, kalau sudah sebanyak itu yang dipecat, orang waras pasti akan waspada.”

Apa setelan jas ini tidak terlihat olehnya? Ataukah, meskipun terlihat, kesan berandalan Mahiru tetap terpancar begitu kuat hingga menutupi segalanya?

“Biarpun berandalan, aku ini pelayan.”

Begitu Mahiru berucap dengan nada sedikit nekat, mata gadis itu langsung membulat heran.

Lalu, dia tertawa terbahak-bahak.

“Ahahaha! Begitu, ya, begitu. Yah, apa pun boleh. Lagipula beban kerjaku jadi berkurang. Selamat datang! Sini, akan kuantar.”

Gadis itu menyampirkan sapunya di bahu, lalu mengedikkan dagu ke arah kediaman megah di hadapan mereka dan mulai melangkah.

Tampaknya Mahiru disuruh mengikutinya. Entah apa yang menurutnya lucu, gadis itu mulai bersenandung dengan riang.

“Namaku Elez Cendrillon. Bisa dibilang aku putri ketiga keluarga Cendrillon... tapi yah, secara kasta, kedudukanku tidak jauh beda darimu. Khusus untukmu, panggil saja Elez, tidak perlu pakai embel-embel.”

Elez yang berjalan di depan menoleh sekilas ke arah Mahiru.

“Misora Mahiru. Mahiru itu nama depanku.”

“Oke. Mahiru, ya. Tunggu di situ sebentar.”

Setibanya di pintu masuk utama, Elez mendorong pintu besar berukir megah itu dan masuk ke dalam.

Begitu berada di dekat bangunan itu, Mahiru kembali merasa terintimidasi. Rumah tunggal di tengah hutan memang terasa mengerikan, namun kediaman ini pun memiliki aura misterius yang berbeda.

Apakah itu karena dia tahu bahwa tempat ini adalah dunia yang diwarnai kegilaan?

Tidak lama kemudian, terdengar bunyi derit pintu dan seorang nyonya muncul.

Rambut pirangnya disanggul rapi di belakang kepala. Dia mengenakan gaun kuning dengan korset yang mengikat pinggangnya dengan sangat kencang. Penampilannya benar-benar mencitrakan sosok ibu yang kaku dan tegas, tanpa ada sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya. Dari atas undakan tangga menuju pintu, dia menatap rendah ke arah Mahiru seolah tengah menilai barang dagangan.

Elez, yang tadi membuka pintu, kini hanya bersandar malas di sana.

“Pelayan? Aku tidak dengar akan ada yang datang,” ucap sang nyonya dengan wajah yang tetap kaku.

“Yah, meskipun Anda bilang begitu... aku dipanggil ke sini.”

“Benar-benar anak yang tidak beradab.”

Melihat tatapan menghina dari wanita itu, rasa marah mulai bergejolak di hati Mahiru.

Di dunia asalnya pun dia sering mendapatkan tatapan seperti itu, dan dia tidak punya kenangan indah mengenainya. Mahiru teringat kembali bahwa pada dasarnya, dia sangat membenci orang-orang kaya.

“Tempo hari ada tiga pelayan yang berhenti. Orang itu pasti memanggilnya sebagai pengganti. Baiklah, bekerjalah di sini mulai hari ini. Sisanya, tanyakan pada anak ini.”

Pandangan sang nyonya beralih kepada Elez yang masih bersandar di pintu.

“Yah, sudah kuduga bakal begitu... Merepotkan saja.”

“Aku tidak berniat mengurusi cara bicaramu sekarang, tapi setidaknya aku ingin kamu tahu tata krama yang paling dasar. Bagaimanapun juga, dunia luar melihatmu sebagai putriku. Terlepas dari apa yang kupikirkan... meski itu sangat menjijikkan bagiku.”

Cara wanita itu memandang Elez sama sekali bukan tatapan seorang ibu kepada anaknya. Itu adalah tatapan penuh kebencian, penghinaan, dan dendam; seolah dia benar-benar merasa muak dengan kehadiran Elez.

“Pastikan dia bisa bekerja dalam dua hari. Sebagai Cinderella, kamu pasti bisa melakukan setidaknya itu, ‘kan?”

Elez memalingkan wajahnya sambil menjulurkan lidah, menampakkan raut wajah yang sangat muak.

Setelah itu, sang nyonya segera mengabaikan keberadaan Elez dan kembali masuk ke dalam rumah.

Mahiru bisa merasakan tekanan kuat seolah wanita itu tidak sudi menghirup udara yang sama lebih lama lagi dengan mereka.

Namun, perhatian Mahiru justru tersita oleh hal lain. Wanita tadi dengan jelas memanggil Elez dengan sebutan Cinderella.

Itu adalah nama sang protagonis dalam kisah kali ini. Artinya, meski jauh dari citra gadis pendiam dalam buku cerita, gadis ini adalah....

“Apa? Ada sesuatu di wajahku?”

“Bukan, bukan apa-apa.”

Setelah itu, di bawah bimbingan Elez, Mahiru segera memulai pekerjaannya sebagai pelayan.

Bagian dalam kediaman itu sungguh megah dan gemerlap, selaras dengan penampakan luarnya.

Lantai ditutupi karpet merah yang tebal, dan tepat di depan pintu masuk terdapat tangga menuju lantai dua. Baluster dan tiang tangganya dipenuhi ukiran indah, sementara lampu gantung kristal menggantung megah di langit-langit.

“Tugasmu secara garis besar adalah urusan serabutan. Untuk makanan tidak perlu kamu pikirkan karena ada koki khusus. Intinya adalah membersihkan rumah, mencuci, dan merawat kuda di kandang yang terpisah. Sisanya... yah, lakukan saja sebisamu agar terlihat seperti sedang bekerja.”

Mahiru mengikuti Elez menaiki tangga dan tiba-tiba disodori seperangkat alat pembersih klasik; sapu, pengki, kain lap, dan ember. Elez menunjuk lantai marmer yang panjang serta dua pintu di ujung sana, lalu menyuruhnya mulai membersihkan.

“Anu... aku harus mulai dari mana?”

“Hah? Sudah kubilang, bersih-bersih!”

“Iya, aku tahu soal bersih-bersih... tapi apa cukup diusap asal-asalan saja pakai kain lap?”

“Asal-asalan apa maksudmu? Kamu ini benar-benar pelayan, ‘kan?”

“Kalau bicara soal itu, kamu juga sama saja, ‘kan, Elez?”

“Beda! Aku bukan pelayan! Aku cuma diperlakukan seperti pelayan!”

“Bukannya itu posisi yang lebih tidak enak dariku...?”

“Memang!”

Elez mengacak-acak rambut peraknya dengan kesal karena merasa ritme bicaranya terganggu.

Bukannya Mahiru tidak pernah bersih-bersih. Jika bicara soal rumah sendiri, memang tidak banyak yang bisa dibersihkan, tapi dia punya pengalaman kerja sambilan sebagai petugas kebersihan. Masalahnya adalah, dia merasa cemas harus langsung bekerja di dunia yang tidak dia kenal hanya dengan modal peralatan yang diberikan begitu saja. Dia tidak yakin bisa menangani berbagai lukisan dan vas mahal dengan benar, yang jelas-jelas milik orang kaya baru.

“Begini, bolehkah aku memecahkan beberapa vas di sini? Ngomong-ngomong, katanya aku akan menginap, jadi di mana aku harus tidur? Apa aku dapat jatah makan? Di mana letak kandangnya? Lalu... di mana aku bisa mendapatkan air?”

“Aduh, banyak tanya sekali, sih! Baiklah, baiklah! Hanya hari ini! Karena hanya hari ini, aku akan membantumu. Aku juga akan menjawab semua pertanyaanmu. Tapi mulai besok, kamu harus melakukan semuanya sendirian dengan sempurna! Mengerti!?”

“O-Oke...”

Ternyata, gadis ini cukup perhatian juga.

Mahiru mulai membersihkan lantai dua di bawah arahan Elez. Katanya lantai marmer tidak tahan air, jadi dia diperintahkan untuk memeras kain lapnya dengan kuat. Di depan tangga lantai dua terdapat ruang tengah, dan ada banyak ruangan lain yang letaknya tidak beraturan, membuatnya terasa seperti labirin. Ada ruang tamu, ruang penerima tamu, ruang kerja, ruang rapat, dapur, aula besar, hingga kamar anak-anak. Meski bingung, Mahiru terus melanjutkan bersih-bersih sesuai instruksi Elez.

Di lorong itu, terpajang lukisan-lukisan cat minyak yang menggambarkan sosok wanita tanpa busana serta koleksi pedang yang berkilauan di dinding. Di antara jajaran pedang tersebut, ada satu yang tampak berbeda; sebuah pedang dengan pengerjaan sederhana dan minim hiasan. Karena penasaran, Mahiru menyentuh bilahnya, dan seketika ujung jarinya sedikit tersayat.

“Ternyata ini sungguhan.”

“Hei, apa yang kamu lakukan? Perlu kupasangkan perban?” tanya Elez sambil mengernyitkan dahi setelah menarik tangan Mahiru.

“Kamu berlebihan. Luka begini saja bakal sembuh kalau diolesi air liur.”

“Hah... kamu ini memang terasa aneh, ya.”

“Ma? Apa maksudmu?”

“Pedang itu katanya punya legenda bisa mengusir roh jahat. Dulu kepala keluarga pernah bilang kalau itu pemberian dari orang yang sangat berharga baginya. Padahal biasanya dia tidak peduli pada kami, tapi tiba-tiba saja bicara hal yang tidak jelas begitu.”

Begitu, ya. Jika itu adalah barang berharga, memang sebaiknya tidak disentuh sembarangan.

Mereka kemudian menuju lantai satu. Di lantai tiga tampaknya merupakan area kamar pribadi bagi para penghuni rumah, termasuk Elez, namun dia tidak diajak ke sana. Setelah menyelesaikan pembersihan lantai satu secara singkat, Mahiru dibawa menuju kandang kuda.

“Urusan teknis akan dikerjakan oleh penjaga kandang yang datang dua kali seminggu. Tugas kita cuma bersih-bersih atau menyisir bulu kuda saja, lakukan sebisanya.”

Saat mendekati kandang, tercium aroma khas perpaduan kotoran hewan dan bau prengus binatang. Di dindingnya tergantung sekop, tali, serta garu rumput, dengan beberapa kotak kayu yang bertumpuk. Kuda-kuda di sana tampak tenang, sama sekali tidak menoleh saat Mahiru dan Elez masuk.

Pertama-tama, mereka harus mengeluarkan kuda dari kandang untuk mengganti jeraminya. Jerami yang sudah tercemar kotoran dan urine dikumpulkan, lalu diganti dengan jerami baru yang menumpuk di luar kandang. Kotoran kuda itu nantinya akan digunakan kembali sebagai pupuk dan diambil oleh pengepul, jadi mereka harus mengumpulkannya secara terpisah.

Percakapan dengan Elez mengalir begitu saja tanpa rasa canggung.

Meski gaya bicaranya kasar, Elez bukanlah tipe orang yang tidak peka; dia sama sekali tidak menyentuh topik-topik yang sekiranya tidak ingin dibicarakan oleh Mahiru.

Obrolan santai itu terus berlanjut hingga mencapai pembahasan tentang keluarga. Mahiru menceritakan sejujurnya bahwa dia sudah tidak memiliki orang tua dan mempunyai seorang adik perempuan yang sedang sakit.

“Elez juga punya saudara, ‘kan?”

Di lantai dua tadi ada tiga kamar penghuni. Karena Elez bilang area tempat tinggal orang tuanya ada di lantai tiga, maka masuk akal jika dua kamar sisanya adalah milik saudara-saudaranya. Lagipula, dia punya dugaan lain berdasarkan pengetahuan ceritanya.

“Ya, dua orang kakak tiri yang keparat,” jawab Elez datar sambil menyingkirkan jerami kotor dengan garunya.

Kemudian, dia melanjutkan penjelasannya seolah menjawab rasa penasaran Mahiru.

“Aku ini anak angkat. Ibu tiri dan kedua kakak tiriku tidak menyukaiku, hubungan kami buruk. Yah, tapi aku sudah tidak peduli lagi sekarang.”

Keluarga Cendrillon yang tinggal di kediaman ini.

Mereka terdiri dari Elez, kedua kakak tirinya yang bernama Sharle dan Coupe, serta ibu tiri dan ayah tiri.

Keretakan hubungan Elez dengan keluarganya bisa Mahiru tebak dari sikap sang ibu tiri tadi serta fakta bahwa Elez harus membersihkan kandang seperti ini. Walaupun anak angkat, Elez tetaplah putri dari keluarga yang memiliki kediaman sebesar ini. Mahiru tahu bahwa perlakuan seperti ini tidaklah wajar.

“Hati-hatilah pada kakak-kakakku, sifat mereka buruk sekali. Kalau kamu melakukan kesalahan sedikit saja, kamu bisa dipecat.”

Rencana Mahiru untuk putaran pertama ini adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Dia pun tidak ingin membuat masalah di luar hal-hal yang berkaitan dengan penyelesaian dunia dongeng ini.

Namun, jika benar begitu, maka kedua kakak tiri itu pasti merupakan sosok yang berkaitan erat dengan cara menamatkan kisah Cinderella. Meski harus waspada, tidak ada salahnya jika dia mencoba menjalin kontak dengan mereka.

Setelah selesai mengganti jerami dan menyortir kotoran, terakhir mereka menyisir bulu kuda. Kuda-kuda itu tidak memberontak pada Mahiru yang baru pertama kali mereka temui, justru menurut dengan tenang.

“Bagus, kurasa ini sudah cukup. Kerja bagus. Untuk ukuran pemula, kerjamu tidak buruk juga. Kamu punya stamina yang oke, sepertinya kamu berbakat.”

Kruyuuuk.

Perut Mahiru berbunyi seolah menanggapi kata-kata Elez.

Mahiru memalingkan wajah dengan canggung, sementara Elez sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Ahahaha! Benar juga. Kamu pasti lapar. Kamar untuk pelayan ada di dekat gudang. Nanti akan kubawakan makanan ke sana.”

“Ouh, terima kasih banyak bantuannya.”

“Jangan dipikirkan. Ini juga jadi pengisi waktu luang yang bagus buatku.”

 

* * *

 

Setelah berpisah dengan Elez, Mahiru memutuskan untuk mendatangi kakak-kakak tirinya.

Jika dugaannya benar, mereka pun pasti memegang kunci penting dalam misi ini. Meskipun dia sempat ragu karena peringatan Elez, mengabaikan mereka bukanlah sebuah pilihan.

Putri sulung keluarga Cendrillon, Schale Cendrillon.

Serta putri kedua, Coupe Cendrillon.

Kamar mereka berjejer di lantai tiga, di sebelah kanan setelah menaiki tangga. Kamar yang paling dekat dengan tangga adalah milik Schale, diikuti oleh kamar Coupe, lalu Elez.

Berpura-pura hendak membersihkan ruangan, Mahiru membawa kembali seperangkat alat pembersih yang digunakannya tadi, lalu mengetuk pelan pintu kamar Schale.

“Masuk.”

Saat pintu dibuka, tampak seorang gadis berambut pirang yang tengah duduk menghadap meja tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. Wajahnya yang kaku mengingatkan Mahiru pada sang ibu tiri. Kulitnya pucat, dengan lengan dan tungkai kaki yang ramping. Rambut pirangnya yang pasti dirawat dengan sangat telaten itu tampak seindah sutra, sementara sepasang matanya sedingin es.

Ukuran kamar itu beberapa kali lipat lebih luas daripada sel berisi empat orang yang Mahiru tempati di lembaga pembinaan anak, dengan sebuah tempat tidur bertiang kelambu di bagian dalamnya.

“Anu, begini. Mulai hari ini saya bekerja di kediaman keluarga Cendrillon. Namaku Misora Ma...”

“Aku tidak butuh perkenalan diri. Lagipula aku akan langsung melupakannya. Aku tidak sudi membiarkan nama rakyat jelata yang kotor menyita satu persen pun ruang di otakku yang berharga ini.”

“...Baiklah. Saya datang untuk membersihkan kamar, boleh saya masuk?”

Mahiru menahan amarah yang mulai bergejolak akibat gaya bicara gadis itu yang sangat angkuh.

“Hah? Mana mungkin aku membiarkan jelata yang tumbuh di tempat sampah sepertimu masuk ke kamarku. Sadarlah akan posisimu.”

“Jadi saya tidak perlu bersih-bersih di sini?”

“Bukannya itu yang baru saja kukatakan? Apa kamu tidak mendengar apa-apa dari Cinderella itu?”

“Cinderella...”

Sebutan itu sama dengan yang diucapkan oleh sang nyonya tadi.

Sudah jelas siapa yang dimaksud, dan keyakinan Mahiru mengenai siapa tokoh utama dalam cerita ini pun semakin kuat.

“Ya. Bukannya itu nama yang sangat cocok untuk gadis dekil yang berlumuran debu dan kotoran itu? Dan lagi, jaga bicaramu. Bagiku, memecat orang sepertimu adalah perkara yang sangat mudah.”

Setelah berkata demikian, Schale melemparkan cangkir teh yang ada di tangannya. Cangkir itu menghantam dahi Mahiru dengan telak. Sisa teh yang sudah dingin mengotori setelan jasnya, sebelum akhirnya cangkir itu jatuh ke lantai dengan bunyi yang tumpul.

“Kalau kamu sangat ingin membuang sampah, buanglah itu. Yah, meskipun bagiku itu sampah, kurasa nilainya masih lebih berharga daripada gajimu selama setahun.”

Rasa panas akibat amarah seketika menyambar, namun peringatan Elez kembali terngiang di benaknya.

“Hati-hatilah pada kakak-kakakku, sifat mereka buruk sekali. Kalau kamu melakukan kesalahan sedikit saja, kamu bisa dipecat.”

Dia tidak boleh melupakan tujuan aslinya. Dulu dia sering kehilangan pekerjaan karena memperturutkan amarah, namun di dunia ini, konsekuensinya jauh berbeda. Keberhasilan menaklukkan dunia dongeng terhubung langsung dengan kesembuhan Asahi. Dia harus terus menanamkan hal itu di hatinya.

“...Saya mengerti.”

Saat Mahiru melemaskan tubuhnya dan menundukkan kepala, Schale mendengus puas.

“Hmph, baguslah kalau kamu paham. Sampah memang paling cocok dengan sampah.”

Schale kemudian melemparkan botol tinta ke arahnya. Terdengar bunyi hantaman yang ringan, disusul perasaan tidak karuan saat cairan tinta itu meresap ke rambutnya. Mahiru hanya bisa terpaku menahan benturan itu, tetap menundukkan kepala sampai Schale membanting pintu dengan keras.

 

Berikutnya, dia mengetuk pelan pintu kamar Coupe di sebelah.

Namun, tidak ada jawaban meski dia sudah menunggu lama. Hanya terdengar suara gaduh yang sibuk dari dalam ruangan.

Setelah menunggu beberapa menit, dia mengetuk sekali lagi. Tiba-tiba pintu di hadapannya terbuka dengan sangat keras hingga menghantam dahi Mahiru. Coupe yang muncul dari balik pintu itu hanya mengernyitkan dahi dengan heran melihat Mahiru yang memegangi dahinya.

Sepasang mata safirnya tampak setengah terbuka. Rambut pirangnya diikat dua dengan posisi tinggi, namun penampilannya terlihat sangat berantakan.

Kamar yang tampak sekilas dari celah pintu itu pun sangat kotor. Pakaian meluap keluar dari lemari seperti sekelompok mayat hidup, sementara lantai dipenuhi baju, barang-barang kecil, dan tumpukan kertas, yang kemungkinan besar adalah lembaran musik, hingga tidak ada ruang untuk berpijak. Tempat tidur bertiang kelambu yang seharusnya mewah itu pun tampak rusak setengah karena kelambunya yang sobek.

“Aku tidak butuh bersih-bersih. Lagipula kamu siapa, sih? Tidak mungkin aku membiarkanmu masuk ke kamarku, ‘kan? Kamu tidak punya sopan santun, ya? Menjijikkan, jadi jangan bicara padaku, ya?”

Meski jelas-jelas kamarnya sangat butuh dibersihkan, Coupe hanya mengatakan itu sebelum kembali membanting pintu dengan keras. Tidak lama kemudian, suara dentuman keras kembali terdengar dari dalam kamar.

 

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai pelayan, Mahiru diantar menuju sebuah gubuk kecil untuk tempat menginap.

Luasnya hanya sekitar enam meter persegi, dengan hanya ada tempat tidur, selimut, kursi, dan meja. Semuanya tampak sudah tua; meja kayunya bahkan miring karena permukaannya yang melengkung, sementara kaki-kaki kursinya tidak sama panjang.

Jika dibandingkan dengan kamar kedua kakak tiri tadi, perbedaannya bagaikan langit dan kutu air. Alih-alih kamar, tempat ini lebih mirip gudang, atau jika ingin disebut lebih bagus, mirip sebuah sel penjara.

“Setidaknya masih bisa untuk berteduh dari hujan dan angin...”

Sambil bergumam sendiri, Mahiru menyuapkan sup yang diberikan oleh Elez ke dalam mulutnya.

Menu hari ini adalah sup dari sisa-sisa sayuran dan roti yang sudah mengeras. Padahal, menu makan malam untuk Schale dan yang lainnya adalah hidangan lengkap dengan menu utama steik daging sapi. Benar-benar kesenjangan yang luar biasa.

Sup itu hampir tidak ada rasanya, dan sayuran di dalamnya kebanyakan hanyalah kulit atau bagian bonggol yang tersisa dari bahan makan malam Schale dan keluarganya.

Mahiru tidak punya hal khusus untuk dikerjakan, jadi dia memanggil kembali Grimm Note yang sebelumnya dia sembunyikan dan membalik-balik halamannya. Seandainya bisa, dia lebih memilih membaca komik untuk menghabiskan waktu, namun yang tertulis di sana hanyalah untaian kalimat bahasa Inggris yang tidak dia pahami. Akan tetapi, di tengah kegiatannya, dia merasakan sesuatu yang janggal dan kembali ke halaman awal.

“Seingatku sebelumnya tidak ada tulisan apa pun di sini...”

Bagian Bab 4 yang sebelumnya tertulis ??? saat di dunia Si Tudung Merah, kini telah berubah menjadi “Karakter”. Di halaman tersebut tertulis nama Little Red Riding Hood dengan ukuran besar, dan di sampingnya tertera nama Maisy Carmine, ???, serta Nina Carmine.

Yah, meskipun dia tidak tahu apa kegunaannya.

Sepertinya ini adalah semacam catatan dari misi yang telah diselesaikan.

Mahiru kembali mengusap sampul belakang buku itu untuk menyembunyikannya lagi.

Dia teringat akan Asahi, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Setelah selesai menyantap makan malam, atau lebih tepatnya umpan hewan, dia bergegas menuju kediaman utama untuk merapikan alat makan.

Tiba-tiba saja, dari arah halaman belakang terdengar suara teriakan yang menekan serta gelak tawa yang menjijikkan.

“Ahahaha! Lihat dirimu, menyedihkan sekali. Tadi kamu tampak sangat senang, apa kamu sebegitu bahagianya karena punya teman rakyat jelata? Kurasa sesama sampah memang sangat cocok, tapi kamu harus tetap tahu diri, bukan?”

Mahiru melongokkan kepalanya dari jendela ke arah halaman belakang. Di sana, tampak Elez sedang terduduk di tanah, dikepung oleh Schale dan Coupe. Tubuh Elez basah kuyup seolah baru saja disiram air, dan dia hanya bisa menunduk membisu. Coupe melemparkan ember kosong yang dipegangnya sambil terkekeh pelan.

“Uwah, sepertinya dingin sekali. Hei, kenapa kamu diam saja dari tadi? Tunjukkan sedikit semangat untuk menghibur kami, dong!”

Coupe berjongkok, lalu menjambak rambut perak Elez agar gadis itu mendongak. Rambut yang basah itu menempel di pipinya, dan tampak pipi Elez memerah bengkak, seolah baru saja ditampar. Meski Elez menggigit bibirnya dengan penuh dendam, dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

“Tatapan yang sangat menantang. Persis seperti binatang. Aku selalu membencimu. Padahal cuma anak angkat, tapi hanya kamu yang diperhatikan oleh Ayah. Padahal kamu hanyalah pelayan rendah yang tidak punya harga diri, tidak punya otak, dan tidak berpendidikan!”

“...Apa-apaan itu. Aku pun tidak pernah meminta hal semacam itu.”

“Cih! Sikap seperti itulah yang membuatku muak! Padahal kamu tidak punya apa-apa! Mati saja kamu! Mati! Cepatlah mati!”

Berulang kali, dengan penuh kebencian, Schale mengayunkan kakinya ke arah Elez.

Dia menginjak Elez sekuat tenaga sembari melontarkan makian kasar.

Elez hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit, tanpa membalas sepatah kata pun ataupun melakukan perlawanan.

“Hei, hei, Cinderella, kamu pasti ingin menjadi berguna bagi dunia, ‘kan? Meskipun kamu terlalu kasar untuk ukuran perempuan, tapi karena tubuhmu ini cukup menggairahkan, kurasa kamu bisa menggunakannya untuk mencari uang.”

Coupe menekuk lututnya dan duduk bersimpuh, lalu mengeluarkan gunting perak dari balik pakaiannya. Ujung gunting itu dia gunakan untuk menusuk-nusuk bagian dada Elez dengan nakal. Wajah Elez memerah karena malu, dan napasnya memburu karena amarah yang tertahan.

“Apa ini? Melihat reaksimu yang seperti itu, aku jadi semakin ingin merundungmu.”

Seolah tidak bisa menahan diri, Coupe semakin gencar menusuk-nusuk dada Elez dengan guntingnya.

Tiba-tiba, Schale merebut gunting itu dari tangan Coupe dan membuka bilahnya. Sambil berjongkok, dia mengayunkan benda tajam itu ke arah Elez. Bilahnya tersangkut di bagian dada dan merobek kain pakaiannya dengan bunyi yang menyayat hati. Pakaian yang memang sudah compang-camping itu kini koyak lebar, memperlihatkan lekuk dada Elez yang berisi.

“H-Hentikan!”

Elez refleks menutupi dadanya dengan kedua tangan. Melihat hal itu, Schale dan Coupe menarik sudut bibir mereka dengan penuh kegembiraan.

Kemudian, seolah baru saja memikirkan ide cemerlang, Coupe bertepuk tangan sekali.

“Cinderella, coba tebak apa ini?”

Dia mengeluarkan sebuah jarum jahit dari sakunya.

“Akhir-akhir ini, sedang tren di kalangan bangsawan untuk menghias kuku dengan cantik. Kamu pasti tidak punya uang untuk itu, ‘kan? Tapi kurasa kuku-kukumu akan terlihat manis kalau dihias jadi merah pekat dengan ini.”

“Jangan-jangan...”

Begitu Elez tercekat, seolah itu adalah jawaban yang dia cari, Schale langsung menginjak punggung tangan Elez dengan kuat. Coupe kemudian memegang jari telunjuk Elez dan mendekatkan jarumnya.

“Sebenarnya aku tidak mau membuat luka di tempat yang mencolok, tapi kalau ini sih bisa dijadikan alasan. Katakan saja kalau kamu sangat mengagumi bangsawan dan ingin menghias kukumu jadi cantik. Lucu sekali.”

Ujung jarum itu mulai diselipkan ke sela-sela kuku untuk mengoreknya. Rasa sakit yang ditimbulkannya pasti tidak sebanding dengan sekadar pukulan atau tendangan biasa. Ini bukan lagi sekadar perundungan, melainkan sudah mendekati penyiksaan.

“Ini semua salahmu karena telah menginjak-injak perasaan kami. Jadi, aku bebas melakukan apa pun padamu. Kamu pasti merasa terhormat, ‘kan?”

Elez memejamkan matanya erat-erat, namun masa depan mengerikan yang dia takutkan tidak kunjung tiba.

“Cukup sampai di situ.”

Mahiru telah mencengkeram lengan Schale yang tengah memegang jarum.

Schale sempat tersentak kaget dengan kemunculan Mahiru, namun wajahnya segera berubah menjadi penuh amarah.

“Hah? Beraninya rakyat jelata sepertimu memerintahku! Lepaskan! Kamu mengotori tanganku!”

Schale mencoba menarik lengannya dengan kuat, namun Mahiru tidak bergeming sedikit pun. Karena kesal, dia berkali-kali menginjak kaki Mahiru, namun pemuda itu tetap diam mematung.

“Mahiru...”

Elez menatap Mahiru dengan pandangan kosong. Dia tampak malu karena telah memperlihatkan sisinya yang menyedihkan, namun di saat yang sama, tampak pula secercah rasa lega di matanya.

Mahiru mengingat kembali percakapan mereka tadi.

Apa alasan Schale dan Coupe merundung Elez? Apa yang mereka takuti? Jika dia harus melontarkan satu kalimat efektif di tempat ini, maka itu adalah....

“Apa kalian yakin? Sebagai pelayan, aku akan melaporkan semua kejadian di sini kepada kepala keluarga Cendrillon... kepada ayah kalian.”

Mendengar kalimat itu, kekuatan di lengan Schale seketika lenyap.

Begitu Mahiru melepaskan genggamannya, Schale mendecih kesal. Dia mengusap pergelangan tangannya sembari menatap Mahiru dengan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya. Sikap Coupe yang sebelumnya terlihat jenaka pun kini berubah, dia menatap Mahiru dengan pandangan yang sama tajamnya.

“Aah, jadi tidak seru lagi.”

“Kamu sepertinya benar-benar tidak sadar akan posisi dirimu. Ingat ya, aku tidak akan membiarkanmu selesai hanya dengan sekadar dipecat.”

Schale memegang gunting dengan posisi terbalik dan mengarahkan ujungnya kepada Mahiru.

Setelah melontarkan ancaman dengan nada rendah yang penuh amarah, dia pun pergi membawa Coupe bersamanya.

“Hah, benar-benar dialog penjahat kelas teri.”

Tinggallah Elez yang mengepalkan tinjunya kuat-kuat sambil menunduk. Tetesan air jatuh perlahan dari ujung rambutnya yang basah oleh air dingin. Tubuhnya gemetar, entah karena kedinginan atau karena gejolak emosi yang lebih besar dari itu.

“Jangan ikut campur...” gumam Elez dengan suara serak.

“Apa?”

“Apa aku terlihat begitu menyedihkan di matamu!? Hal seperti ini sudah biasa terjadi, dan melindungiku sekali saja tidak akan mengubah apa pun!”

Darah Mahiru sempat naik ke kepala mendengar ucapan Elez, namun itu hanya sesaat.

Begitu Elez mendongak, matanya berkaca-kaca dengan ekspresi penuh kekesalan dan rasa malu yang mendalam, membuat Mahiru justru tidak bisa berkata-kata.

Jika dia memposisikan dirinya di tempat Elez... jika situasinya terbalik, Mahiru pun pasti tidak akan sanggup mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“...Maaf.”

Hanya itu yang Mahiru katakan sebelum dia melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Elez.

Tanpa menoleh lagi, dia segera melangkah pergi dari tempat itu dengan cepat.

Lalu, seakan membaur di antara bintang-bintang di langit malam, sosok itu pun muncul.

Cahaya temaram. Siluet manusia yang tidak stabil. Suara yang misterius sekaligus menyebalkan, yang sulit dibedakan apakah milik laki-laki atau perempuan.

Aduh, kalau itu sih benar-benar membosankan. Terlalu biasa. Tidak menarik sama sekali. Hei, aku ingin kamu memberikan variasi yang sedikit lebih banyak, dong.

Itu adalah peri yang juga muncul di dunia Si Tudung Merah.

Kalau dipikir-pikir, peran maupun maksud dari makhluk ini tetap tidak jelas hingga akhir.

Satu hal yang pasti, kata-kata makhluk ini selalu saja terasa tidak menyenangkan. Terutama saat ini, rasanya kemunculannya justru memperparah suasana hati Mahiru yang sedang kacau, sungguh membuat geram.

Bagaimana kalau aku memberimu satu saran?

Saran dariku adalah, jangan pernah dengarkan kata-kata dari makhluk sepertiku! Cuma bercanda. Nah, nah, pergilah mati, tontonlah baik-baik. Waktu yang menyenangkan akan segera dimulai!

Mahiru berjalan cepat seolah ingin mengibaskan keberadaan peri itu.

Tanpa disadari si peri sudah menghilang, dan setelah memastikan hal itu, Mahiru menyelinap masuk ke dalam kediaman. Dia melangkah dengan wajar menuju dapur, lalu mengambil sepotong daging kering yang tergantung di sana. Sambil mengunyahnya, dia kembali ke gubuknya. Begitu menelan habis makanannya, dia pun merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

Sambil merasakan kelelahan yang seakan melekat erat di punggungnya, Mahiru pun akhirnya terlelap.

 

* * *

 

Hal pertama yang Mahiru rasakan adalah kekakuan pada tubuhnya.

Sensasi seolah dia telah berada dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Saat mencoba mengucek matanya yang masih setengah terpejam, dia menyadari bahwa lengannya tidak bisa digerakkan. Meski sudah mencoba menggeliat, dia tetap tidak bisa bangkit.

Dengan terburu-buru dia mengumpulkan kesadarannya, dan barulah saat itu dia memahami situasi yang tengah dihadapinya.

Tangan dan kakinya terikat kencang dengan tali tambang kasar, tergeletak begitu saja di lantai gubuk. Jeratan tali itu terasa lebih kuat dari bayangannya, mustahil baginya untuk meloloskan diri. Meski Mahiru sudah mengerahkan tenaga, tubuhnya hanya bisa meronta-ronta layaknya ikan yang terdampar di daratan.

Di luar masih temaram, namun seberkas cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui jendela tinggi.

Dan di hadapannya, berdiri tiga orang gadis.

Schale dan Coupe menatap rendah ke arahnya sambil terkekeh pelan.

Sementara itu, Elez tampak pucat pasi dan meringkuk ketakutan dengan sebuah pisau dapur di genggamannya.

“Akhirnya bangun juga. Bagaimana? Sama sekali tidak bisa lepas, ‘kan? Aku memang ahli dalam hal begini. Tanganku ini sedikit terampil, tahu,” ujar Coupe yang kemudian duduk bersimpuh dan menarik rambut Mahiru sambil tersenyum.

Saat Mahiru mendongak hendak menggigitnya, Coupe menjauh sambil berseloroh jenaka, “Aduh, takutnya.”

Tampaknya Schale dan Coupe menyerang Mahiru saat dia sedang terlelap karena mereka marah soal kejadian dia melindungi Elez semalam. Mereka berniat menyiksanya hanya demi melampiaskan dendam pribadi. Mahiru bisa melihat niat itu dari mata mereka.

“Hah... haha, aku tahu kalian memang sampah, tapi ini benar-benar picik. Apa kaum bangsawan di dunia mana pun memang selalu seperti ini, hah?”

“Masih sanggup bicara begitu, ya. Kamu benar-benar membuatku muak sampai ke ulu hati!”

Schale menghantamkan pedang kayu sekuat tenaga ke pipi Mahiru.

Rasa darah langsung menjalar di dalam mulut, dan pipinya berdenyut nyeri.

“Kamu tahu siapa aku? Aku adalah putri sulung keluarga Cendrillon, Schale Cendrillon! Seharusnya orang rendahan sepertimu tidak punya hak untuk bicara sepatah kata pun denganku!”

Dia berulang kali mengangkat pedang kayunya, lalu menghantamkannya pada Mahiru berkali-kali tanpa henti. Gerakan Schale memang tampak seperti amatir, namun dipukuli dengan batang kayu sekeras itu tetap saja menyakitkan dan membuat Mahiru berdarah.

“Gara-gara kamu sok pahlawan dengan rasa keadilan sampah itu, jadinya seperti ini! Seharusnya kamu merangkak saja di tanah, saling sikut dengan sesama jelata, dan membusuk di kawasan kumuh!”

Bugh. Brak.

Kepala dihantam.

Pinggang dihantam.

Pipi dihantam.

Perut dihantam.

Lengan dihantam.

Bahu dihantam.

Rusuk dihantam.

Paha dihantam.

Sakit yang tumpul menjalar. Perih. Sakit. Sangat sakit.

“Gkh...!”

Crat. Tes.

Darah mulai keluar, menciptakan noda merah di lantai. Erangan pendek sesekali lolos dari mulut Mahiru dengan tidak beraturan.

Hingga akhirnya, saat napas Schale mulai memburu karena kelelahan, sosok yang menghentikan kekerasan itu adalah orang yang tidak terduga.

“Sudah, hentikan. Kalau dia mati sekarang, semuanya jadi sia-sia, ‘kan?”

Coupe meletakkan kedua tangannya dengan lembut di atas tangan Schale yang masih menggenggam pedang kayu, lalu tersenyum manis.

Schale pun menurut dan menyarungkan pedangnya sambil bergumam, “Benar juga.”

“Hah... hah... hah... bajingan.”

Mahiru bernapas terengah-engah seolah mencoba memulihkan darah yang hilang, sembari meringkuk menahan rasa sakit. Dia menatap mereka berdua dengan mata penuh amarah sambil menggertakkan gigi.

Seandainya saja dia bisa membuka Grimm Note. Dia mencoba memanggilnya, namun karena tubuhnya terikat, dia tidak bisa menggerakkan tangannya dengan benar. Dia menahan rasa sakit ini sambil menggeliat, mencoba mencari jalan keluar.

“Habisnya, Elez-chan yang akan membunuh orang ini untuk kita, ‘kan?”

Namun, segala pemikiran kalut Mahiru seketika terhenti oleh ucapan Coupe.

Sontak pandangannya beralih ke arah Elez.

Dengan wajah yang tampak menahan perih, Elez mengarahkan ujung pisau dapur ke arah Mahiru dan perlahan mendekat. Ujung bilahnya gemetar hebat, dan darah merembes dari bibirnya yang dia gigit kuat-kuat. Dengan tatapan kosong, hanya wajahnya yang menghadap ke arah Mahiru.

“Hei... apa yang kamu lakukan, Elez?”

Suara Mahiru yang serak tidak mendapat tanggapan.

“Janji itu... kamu akan menepatinya, ‘kan?” tanya Elez dengan suara gemetar saat dia berjongkok di hadapan Mahiru.

“Tentu saja. Atas nama keluarga Cendrillon. Jika kamu berhasil membunuh orang rendahan ini, kami akan membawamu ke pesta dansa lusa nanti,” jawab Schale sambil mengulas senyum licik dan membelai pipi Elez. Gerakannya menjijikkan, layaknya seekor ular yang sedang merayap.

Pupil mata Elez bergetar seolah dia sedang terhipnotis, bayangan wajahnya terpantul pada permukaan bilah pisau yang mengilap.

“Hei... ini bohong, ‘kan?”

Mendengar pertanyaan Mahiru, mulut Elez terbuka dan tertutup berkali-kali, namun tidak ada suara berarti yang keluar.

Tanpa sepatah kata pun, dia menekan ujung pisau dapur itu ke perut Mahiru. Mahiru gemetar saat merasakan rasa perih yang menusuk dan sensasi cairan dingin yang mulai merembes.

“Hei...! Apa yang kamu lakukan!? Kamu!”

“Aku tahu... aku pikir aku dan Mahiru bisa menjadi teman baik.”

Jleb. Bilah pisau itu merobek kulit dan daging. Terus masuk membelah bagian dalam tubuh Mahiru. Begitu dia menyadari bilahnya sudah tertanam beberapa sentimeter, rasa sakit yang tajam langsung menusuk hingga ke saraf.

“Agkh...!”

“Kemarin, saat kamu melindungiku, sebenarnya aku merasa senang.”

Elez menusukkan pisaunya lebih dalam lagi. Bersamaan dengan sensasi menjijikkan dari daging yang terbelah, rasa sakit yang tidak tertahankan meledak di dalam diri Mahiru. Ini sudah gawat, alarm bahaya mulai berbunyi nyaring di dalam otaknya.

“Elez, hentikan... melakukan ini pun tidak akan...”

“Hehe. Elez-chan, tidak boleh begitu! Kalau cuma segini, dia tidak akan mati. Ayo, kerahkan tenagamu lagi!”

Permohonan darurat Mahiru tenggelam oleh suara Coupe yang dibuat-buat.

“Sini, akan kubantu.”

Coupe menumpangkan tangannya di atas tangan Elez yang memegang pisau, lalu menekannya kuat-kuat. Lebih dalam, dan semakin dalam lagi bilah itu menembus masuk ke dalam diri Mahiru. Kemudian, dengan seruan ringan Hup!, dia mencabut pisau itu keluar dengan sekali sentak.

“Aaaaaaaaaahhh!”

Sret. Suara menjijikkan yang membuat bulu kuduk merinding. Rasa sakitnya seolah saraf Mahiru sedang dikikir, disertai perasaan kehilangan yang luar biasa hebat. Pandangannya mulai berkedip-kedip. Darah meluap keluar. Dia ingin menghentikannya. Dia ingin menghentikan pendarahan ini, tapi lengannya terikat, dan seiring dengan rasa sakit yang mendera, darahnya terus mengalir deras.

“Maaf, Mahiru... maaf. T-Tapi aku...”

“Habisnya kamu sangat ingin pergi ke pesta dansa itu, ‘kan? Kamu ingin pergi meskipun harus mengorbankan apa pun, ‘kan? Siapa tahu sang Pangeran akan terpikat padamu. Kamu mungkin saja bisa bahagia, bukan begitu?”

Schale menjambak poni Elez dan memaksanya mendongak.

Dia melontarkan kata-kata itu dengan nada suara yang licin dan menusuk.

“Hi, iuh...”

Tubuh Elez terus gemetar tanpa henti, air mata mengalir membasahi pipinya, dan suara napas yang tercekat lolos dari mulutnya. Seolah telah dikutuk, dia terus menggenggam erat pisau dapur itu dan sama sekali tidak mau menatap mata Mahiru.

“Dia masih bernapas, lho? Cepat bunuh dia.”

“Benar, Elez-chan. Kalau tidak dibunuh dengan benar, kamu tidak bisa pergi ke pesta dansa, ‘kan? Ini adalah kesempatan langka, jadi kamu harus berusaha membunuhnya. Tenang saja, kamu tidak salah apa-apa. Yang salah adalah orang ini karena sudah berani melawan kami. Iya, ‘kan?”

Coupe dan Schale terus mendesak Elez dari kedua sisi.

Layaknya boneka kayu yang dibuat asal-asalan, Elez menodongkan pisau dapurnya dengan gerakan yang tidak alami.

“A-Ah... aku... kalau tidak ke pesta dansa, demi tujuanku, aku harus pergi ke pesta dansa itu!”

Elez mengangkat pisau dapur itu seolah sedang terlecut.

Elez mengayunkan pisau itu ke bawah seakan sedang memohon ampun.

Jeritan parau Mahiru tumpah.

Elez mengangkat pisau itu seolah ingin menutup telinganya sendiri.

Elez mengayunkan pisau itu ke bawah seolah ingin memalingkan wajah.

Berulang kali, berulang kali, dan berulang kali.

Meski terus memalingkan pandangan dari Mahiru, ayunannya menghunjam dengan tepat.

“Agkh... uek, henti, hentikan Elez... aaaaargkh!”

Di tengah rasa sakit, mual, dan pandangan yang berkedip-kedip, pikiran Mahiru berpacu cepat.

Meski tahu itu sia-sia, kata-kata memohon nyawa meluncur dari mulutnya. Di dalam rasa sakit yang hebat dan pikiran yang kacau-balau, ada sisi lain dari dirinya yang merenung dengan tenang, seolah-olah dia memiliki otak cadangan.

Elez itu orangnya kasar, tapi dia anak baik. Mahiru tidak tahu detail masalahnya, tapi dia yakin gadis itu punya tujuan yang ingin dicapai meski harus mengorbankan apa pun. Mahiru bisa memahami itu. Namun, jika memang begitu.

Kenapa ayunan senjatamu begitu ragu-ragu, sialan!

Dengan wajah yang tampak sangat putus asa, Elez gemetar seolah sedang mencari pertolongan dan memohon maaf.

“Maaf, Mahiru... maaf, maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.”

Bagaikan orang kerasukan, bagaikan mesin, dia terus menghunjamkan pisau itu ke tubuh Mahiru.

Crat. Crit.

Seragam pelayan Elez ternoda oleh darah segar yang merah pekat. Rambut peraknya yang indah basah oleh darah yang lengket. Darah tepercik ke pipinya, mengalir turun seolah dia sedang meneteskan air mata.

“E...lez...”

Pandangan Mahiru sudah kabur, pikirannya mulai meleleh, dia tidak lagi bisa melihat ekspresi Elez dengan jelas.

Perundungan kejam yang menyerupai penyiksaan, dihasut oleh kakak tirinya, hingga akhirnya menghunjamkan bilah tajam berulang kali ke arah pelayan yang sebelumnya mengobrol akrab dengannya, apakah kegilaan ini merupakan bagian dari kisah Cinderella yang sebenarnya?

Tenaganya untuk mengerang menahan sakit sudah sirna, Mahiru hanya bisa melihat dunianya perlahan memerah tanpa bisa melakukan apa pun.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, rasa dingin yang luar biasa menyerang, namun dia tidak lagi merasakan sakit. Pandangannya gelap. Di ambang antara hidup dan mati, hanya suara-suara yang terdengar menusuk kepalanya.

“A-Aku sudah membunuhnya... karena aku sudah membunuhnya, ke pesta dansa...”

“Pesta dansa? Apa maksudmu? Coupe, apa kamu ingat sesuatu?”

“Eh, aku tidak tahu. Mungkin kamu salah dengar? Bukannya kamu cuma salah paham? Bukannya Elez-chan baru saja membunuh pelayan kurang ajar ini atas kemauannya sendiri?”

“B-Bohong... kalian bohong, ‘kan? Kita sudah berjanji!”

“Lagi pula, membunuh orang itu tidak boleh, lho.”

“Benar. Kita harus melaporkannya pada Ayah. Meskipun kamu adik kami yang manis, kami tidak bisa membiarkan seorang pembunuh begitu saja. Mungkin hukuman mati skenario terburuknya. Ah, Elez yang malang. Hei, kamu ingin bunga warna apa yang kami taburkan di kuburanmu?”

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar