“Guh ha... ghah...!”
Seperti
pelampung yang melesat cepat dari dasar laut yang dalam, kesadaran Mahiru
melonjak ke permukaan.
Dia
menghirup udara dengan kasar dan tidak teratur, seolah hendak merobek
paru-parunya sendiri, lalu tersedak hebat.
Dia
terisak, seakan hendak memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hampir
kosong, sambil memukul-mukul tanah.
Dengan
takut-takut dia mengalihkan pandangan ke kaki kanannya. Kaki itu ada. Tidak
terpotong. Lengan kanannya pun masih utuh. Dia bisa merasakan, bisa
menggerakkannya sesuai kehendaknya.
Dan
di dekat tangannya, hanya Grimm Note yang tergeletak.
Saat
pikirannya mulai tenang, dia menyadari tidak ada rasa sakit sedikit pun di
seluruh tubuhnya. Dia juga mulai bisa mengenali tempat yang terasa begitu
familiar ini.
“Ya,
ya, lama tidak berjumpa. Senang bisa bertemu lagi denganmu.”
Senyum
tipis seolah mampu menembus segalanya. Wajah yang terlampau indah, hampir tidak
nyata.
Melihat
sosok itu, Mahiru bahkan merasakan sesuatu yang mirip nostalgia.
“...Gembala.”
“Benar.
Akulah si Gembala. Maaf sudah langsung mengirimmu begitu saja. Kamu sudah
berusaha dengan sangat baik.”
“Apa
aku masih hidup...?”
Dia
mengepalkan tangan, lalu membukanya, memastikan sensasi tubuhnya. Jantungnya
yang tadi berdegup liar perlahan mulai tenang.
“Kamu
sempat mati sekali. Tapi sekarang kamu hidup.”
Gembala
itu masih mengenakan seragam SMA milik Mahiru.
Menyadari
tatapan Mahiru, dia mencubit pita seragam itu lalu berputar sekali dengan
ringan.
“Aku
jadi cukup menyukainya. Yah, apa pun memang cocok untukku.”
“Ah...
ya. Benar.”
“Hm,
itu tadi kalimat yang seharusnya kamu tanggapi dengan komentar tajam. Tampaknya
kamu benar-benar terpukul.”
Seperti
dulu, si Gembala menjentikkan jarinya. Dua kursi muncul seketika. Kali ini
keduanya adalah kursi yang biasa digunakan di ruang kelas SMA. “Silakan duduk,”
katanya ringan. Mahiru pun duduk sesuai isyaratnya.
“Mau
kuhibur sedikit? Kita sudah berjanji begitu kalau kamu kembali, bukan?”
“Dengar...
dunia itu sebenarnya apa?”
“Hm,
pertanyaan itu dilewati, ya? Sepertinya aku salah langkah.”
Gembala
yang sempat merentangkan tangan seolah hendak menyambutnya kini membeku, lalu
memiringkan kepala dengan wajah seolah berpikir keras.
“Hm...
harus mulai dari mana, ya. Pertama, kamu tidak mati... maksudku, secara teknis
kamu memang mati. Tapi di dunia itu, kamu bisa hidup kembali berkali-kali. Dan
setiap kali, kamu akan kembali ke titik awal.”
“Berkali-kali?
Kamu menyuruhku kembali ke dunia itu lagi?”
“Benar.
Itulah peranmu. Masih ada yang mengganjal di hatimu, bukan? Saat kamu kembali
ke dunia Tudung Merah itu, ceritamu akan dimulai lagi dari hari pertama. Lalu
ketiga kalinya, keempat kalinya, kesepuluh, keseratus, akan selalu begitu.”
Maisy,
gadis yang direnggut nyawanya secara tidak masuk akal oleh neneknya sendiri.
Kisah
Tudung Merah yang tanpa harapan itu bisa diulang kembali.
Artinya,
ada kemungkinan untuk menyelamatkan Maisy.
Benar
seperti kata si Gembala, ada penyesalan yang tertinggal.
Dia
ingin menyelamatkan Maisy dari kematian yang begitu tidak adil.
Namun...
“Tidak.
Kembalikan aku ke dunia asalku. Kalau aku belum benar-benar mati, justru aku
harus kembali ke sisi Asahi. Ini bukan waktunya melakukan hal seperti ini.”
Jika
harus memilih antara Asahi dan yang lain, dia takkan ragu.
Prioritas
ini, dia tidak boleh salah lagi.
“Kembali
ke dunia asalmu? Ke lembaga pembinaan anak itu? Lalu apa yang bisa kamu
lakukan? Dengan begitu, kamu takkan bisa menyelamatkan adikmu.”
“Sama
saja kalau aku tetap di sini!”
Si
Gembala tampak memilih kata-katanya dengan hati-hati, tapi jelas bukan karena
memikirkan perasaan Mahiru. Sikapnya yang seolah mengetahui segalanya membuat
Mahiru muak.
Menghadapi
teriakan Mahiru yang penuh emosi, si Gembala tetap tenang dan mengucapkan
sesuatu yang tidak mungkin bisa diabaikan Mahiru.
“...Bagaimana
kalau dengan menaklukkan dunia dongeng ini, penyakit adikmu bisa sembuh total?”
“Apa?”
Darah
yang sempat naik ke kepala Mahiru seketika surut.
Tidak
mungkin. Mustahil. Bohong.
Berapa
banyak cara sudah dia tempuh selama ini? Dari teknologi medis paling mutakhir,
pengobatan timur yang mencurigakan, sampai praktik okultisme sialan, tidak satu
pun pernah memperbaiki kondisi Asahi.
Namun,
betapa pun tidak masuk akalnya, dia tidak mampu menepis benang laba-laba yang
kini dijulurkan di depannya.
Seberapa
pun akalnya menyangkal, otaknya tetap merindukan keselamatan.
“Tidakkah
kamu merasa dunia tempatmu hidup dipenuhi kemalangan yang terlalu tidak wajar?
Adikmu yang mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Peramal kultus jahat itu.
Tindakan yang kamu lakukan demi biaya pengobatan. Dan ini bukan hanya
tentangmu. Dalam beberapa tahun terakhir, bukannya berbagai insiden gila
terjadi di mana-mana? Pembunuhan kepala negara. Perang di berbagai belahan
dunia. Bahkan wabah penyakit baru yang menyebar belakangan ini. Sebagian
penyebabnya berasal dari dunia ini.”
“Hah...
jangan konyol.”
“Wajar
kalau kamu berpikir begitu. Hampir semua manusia akan begitu. Tapi inilah
kebenarannya. Seharusnya dunia kalian jauh lebih damai. Kegilaan yang memenuhi
dunia dongeng ini merembes keluar dan mencemari dunia nyata. Tugasku, dan juga
tugasmu, adalah memurnikan kegilaan itu.”
Si
Gembala berbicara dengan gerakan tangan besar dan teatrikal. Anehnya, tidak
terasa janggal sedikit pun, mungkin karena kecantikannya yang tidak manusiawi
dan aura misterius yang menyelimutinya.
Tetapi
tetap saja, hanya karena sebuah buku menjadi rusak, lalu dunia nyata ikut
tercemar? Terlalu tidak masuk akal. Seolah membaca pikirannya, si Gembala
melanjutkan.
“Kalian
tampaknya sungguh percaya bahwa dunia kalian lahir dari ketiadaan. Padahal
tentu saja tidak. Kalian lahir, berevolusi, memperoleh bahasa, membangun
peradaban dan masyarakat, semua itu bukan semata-mata hasil usaha dan
kecerdasan kalian sendiri. Bagaimanapun juga, manusia tidak diciptakan untuk
menciptakan sesuatu dari ketiadaan.”
“...Kamu
ingin bilang dunia kami bukan lahir secara alami, tapi diciptakan oleh
seseorang?”
“Secara
teknis, sedikit berbeda. Ambil contoh dunia Tudung Merah itu. Dan buku cerita Tudung
Merah yang ada di dunia kalian. Menurutmu, mana yang lebih dulu ada?”
“Hmm...
tidak mungkin. Benarkah dunia Tudung Merah lebih dulu?”
“Tepat.
‘Tuhan’ pertama-tama menciptakan dunia-dunia kecil. Dibanding dunia kalian,
dunia itu bengkok, tidak alami, penuh kejanggalan. Dunia Tudung Merah yang kamu
alami hanyalah salah satunya.”
“Jadi
dunia itu adalah asal mula dunia kami?”
“Tidak
sepenuhnya begitu. Tapi menganggapnya sebagai salah satu sumber bukanlah
kesalahan. Yang penting di sini adalah dunia kalian dan dunia dongeng ini
saling memengaruhi satu sama lain.”
Semakin
lama didengar, semakin terasa kepala ingin pecah oleh cerita itu. Entah
beruntung atau tidak, sejak awal Mahiru memang tidak pernah percaya pada yang
namanya Tuhan, dan dia juga membenci orang-orang yang percaya. Cerita semacam
ini sudah cukup sering dia dengar dari para bajingan penyebar agama yang datang
memaksa ke apartemennya.
“Kamu
menyuruhku percaya omong kosong seperti itu...?”
“Tidak
percaya pun tidak apa-apa. Tapi percaya atau tidak, itu tidak ada hubungannya,
bukan? Kamu sudah dipanggil. Kamu mengambil buku Tudung Merah. Kamu sudah
diundang. Sejak saat itu, peranmu sudah ditentukan. Kamu merasa itu tidak adil?
Tapi pemicunya adalah dirimu sendiri. Kamu yang memilihnya. Dan begitu kamu
terpilih, kehendakmu tidak lagi berarti. Tentu saja, itu berlaku juga untukku.
Apa pun yang kamu katakan, kamu tidak akan bisa pulang sebelum menaklukkan
dunia ini. Tapi kalau begitu, bukannya itu terlalu kejam? Karena itulah aku
ingin membantumu. Anggap saja aku rekanmu. Aku berniat bersikap jujur padamu.
Agar kamu bisa mempertahankan sedikit saja motivasimu, aku memberitahumu
kebenaran tentang dunia ini. Sebenarnya aku tidak perlu mengatakan semua ini.
Aku bisa saja berbohong. Kamu pun tidak akan mudah percaya, jadi akan lebih
mudah jika kubuat latar cerita yang terdengar lebih masuk akal. Tapi aku
sengaja memberitahumu. Anggap saja ini bukti kepercayaanku. Di sini ada cara
untuk menyelamatkan Misora Asahi.”
Kata-kata
itu diucapkan datar, seolah-olah dia hanya membacakan isi buku petunjuk. Entah
itu bentuk penyemangat versinya, atau justru nada pasrah.
“Ah,
percuma saja kamu mengeluh padaku di sini. Aku tidak punya kekuatan untuk
mengembalikanmu ke dunia asalmu. Yang bisa kulakukan hanyalah mengirimmu ke
dunia dongeng dan menemanimu berbicara di sela-selanya.”
Mahiru
menarik napas pelan.
Apakah
ucapan si Gembala itu dusta atau kebenaran, tidak peduli seberapa keras dia
berpikir, dia tidak akan pernah tahu.
Namun
seperti yang dikatakannya, mengamuk atau merengek di sini tidak akan
memperbaiki keadaan.
“Benarkah
dengan itu Asahi bisa diselamatkan?”
“Ya.
Itu benar.”
Sama
sekali tidak bisa dipercaya. Skala ceritanya terlalu besar. Terlalu tidak masuk
akal.
Meski
begitu, bagi Mahiru nyaris tidak punya pilihan lain.
“Menaklukkan
dunia itu... secara konkret aku harus melakukan apa?”
“Pada
percobaan berikutnya pun kamu pasti tidak akan bisa langsung menyelesaikannya,
tapi... baiklah, akan kuberi satu petunjuk, carilah kejanggalan di dunia itu.”
“Hah?
Dunia itu sudah penuh kejanggalan. Jangan berlagak misterius, katakan saja
jawabannya. Bukannya kamu ingin aku menaklukkan dunia ini?”
“Tidak
bisa. Ini juga bagian dari proses yang diperlukan.”
“Cih...”
“Tugasmu...
tidak, tugas kita adalah menemukan biang keladi yang membuat dunia dongeng ini
gila, lalu menyucikannya. Mari kita berusaha bersama.”
“...”
Si
Gembala mengulurkan tangan untuk berjabat, namun Mahiru hanya menatapnya
lekat-lekat.
Makhluk
yang tidak jelas asal-usulnya. Menyeramkan. Seragam yang dikenakannya begitu
familiar, namun justru terasa janggal dan tidak seimbang.
Justru
karena dia terasa begitu asing, Mahiru tidak mampu begitu saja menepis cerita tidak
masuk akal itu sebagai kebohongan belaka. Tidak diragukan lagi, ada hukum-hukum
tidak dikenal yang berada di luar jangkauannya.
Mahiru
benar-benar mengalami dunia dongeng itu. Dia mengalami kematian, dan kini dia
berdiri di sini.
Ini
jelas berbeda dari kebohongan-kebohongan sebelumnya yang hanya bertujuan
menipunya.
Lagipula,
jika yang dipertaruhkan hanyalah dirinya sendiri, maka itu bukanlah harga yang
berat. Di dunia nyata, sekeras apa pun dia berjuang, dia tidak akan mampu menyelamatkan
Asahi. Kalau begitu...
“Aku
akan menyelamatkan Asahi. Untuk itu, aku akan memanfaatkanmu.”
Mahiru
meraih tangan si Gembala dan menggenggamnya kuat-kuat.
Dia
tidak akan ragu lagi. Hal-hal yang tidak ada gunanya dipikirkan, tidak akan
lagi dia pikirkan.
Mahiru
mengusap sampul Grimm Note, lalu mengembuskan napas tipis. Dia menetapkan
tujuannya.
“Ya,
itu sudah benar. Senang bekerja sama denganmu, Misora Mahiru.”
Si
Gembala melambaikan tangan, dan pandangan Mahiru perlahan mulai kehilangan
bentuknya.
Warna-warna
memudar, hingga akhirnya matanya tidak lagi mampu menangkap apa pun.
Kesadaran
Mahiru tenggelam dalam kegelapan.
“Selamat jalan. Aku mendoakan keberuntunganmu, pergilah dan mati.”