Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Tempat Pembukaan II

“Guh ha... ghah...!”

Seperti pelampung yang melesat cepat dari dasar laut yang dalam, kesadaran Mahiru melonjak ke permukaan.

Dia menghirup udara dengan kasar dan tidak teratur, seolah hendak merobek paru-parunya sendiri, lalu tersedak hebat.

Dia terisak, seakan hendak memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hampir kosong, sambil memukul-mukul tanah.

Dengan takut-takut dia mengalihkan pandangan ke kaki kanannya. Kaki itu ada. Tidak terpotong. Lengan kanannya pun masih utuh. Dia bisa merasakan, bisa menggerakkannya sesuai kehendaknya.

Dan di dekat tangannya, hanya Grimm Note yang tergeletak.

Saat pikirannya mulai tenang, dia menyadari tidak ada rasa sakit sedikit pun di seluruh tubuhnya. Dia juga mulai bisa mengenali tempat yang terasa begitu familiar ini.

“Ya, ya, lama tidak berjumpa. Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Senyum tipis seolah mampu menembus segalanya. Wajah yang terlampau indah, hampir tidak nyata.

Melihat sosok itu, Mahiru bahkan merasakan sesuatu yang mirip nostalgia.

“...Gembala.”

“Benar. Akulah si Gembala. Maaf sudah langsung mengirimmu begitu saja. Kamu sudah berusaha dengan sangat baik.”

“Apa aku masih hidup...?”

Dia mengepalkan tangan, lalu membukanya, memastikan sensasi tubuhnya. Jantungnya yang tadi berdegup liar perlahan mulai tenang.

“Kamu sempat mati sekali. Tapi sekarang kamu hidup.”

Gembala itu masih mengenakan seragam SMA milik Mahiru.

Menyadari tatapan Mahiru, dia mencubit pita seragam itu lalu berputar sekali dengan ringan.

“Aku jadi cukup menyukainya. Yah, apa pun memang cocok untukku.”

“Ah... ya. Benar.”

“Hm, itu tadi kalimat yang seharusnya kamu tanggapi dengan komentar tajam. Tampaknya kamu benar-benar terpukul.”

Seperti dulu, si Gembala menjentikkan jarinya. Dua kursi muncul seketika. Kali ini keduanya adalah kursi yang biasa digunakan di ruang kelas SMA. “Silakan duduk,” katanya ringan. Mahiru pun duduk sesuai isyaratnya.

“Mau kuhibur sedikit? Kita sudah berjanji begitu kalau kamu kembali, bukan?”

“Dengar... dunia itu sebenarnya apa?”

“Hm, pertanyaan itu dilewati, ya? Sepertinya aku salah langkah.”

Gembala yang sempat merentangkan tangan seolah hendak menyambutnya kini membeku, lalu memiringkan kepala dengan wajah seolah berpikir keras.

“Hm... harus mulai dari mana, ya. Pertama, kamu tidak mati... maksudku, secara teknis kamu memang mati. Tapi di dunia itu, kamu bisa hidup kembali berkali-kali. Dan setiap kali, kamu akan kembali ke titik awal.”

“Berkali-kali? Kamu menyuruhku kembali ke dunia itu lagi?”

“Benar. Itulah peranmu. Masih ada yang mengganjal di hatimu, bukan? Saat kamu kembali ke dunia Tudung Merah itu, ceritamu akan dimulai lagi dari hari pertama. Lalu ketiga kalinya, keempat kalinya, kesepuluh, keseratus, akan selalu begitu.”

Maisy, gadis yang direnggut nyawanya secara tidak masuk akal oleh neneknya sendiri.

Kisah Tudung Merah yang tanpa harapan itu bisa diulang kembali.

Artinya, ada kemungkinan untuk menyelamatkan Maisy.

Benar seperti kata si Gembala, ada penyesalan yang tertinggal.

Dia ingin menyelamatkan Maisy dari kematian yang begitu tidak adil.

Namun...

“Tidak. Kembalikan aku ke dunia asalku. Kalau aku belum benar-benar mati, justru aku harus kembali ke sisi Asahi. Ini bukan waktunya melakukan hal seperti ini.”

Jika harus memilih antara Asahi dan yang lain, dia takkan ragu.

Prioritas ini, dia tidak boleh salah lagi.

“Kembali ke dunia asalmu? Ke lembaga pembinaan anak itu? Lalu apa yang bisa kamu lakukan? Dengan begitu, kamu takkan bisa menyelamatkan adikmu.”

“Sama saja kalau aku tetap di sini!”

Si Gembala tampak memilih kata-katanya dengan hati-hati, tapi jelas bukan karena memikirkan perasaan Mahiru. Sikapnya yang seolah mengetahui segalanya membuat Mahiru muak.

Menghadapi teriakan Mahiru yang penuh emosi, si Gembala tetap tenang dan mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin bisa diabaikan Mahiru.

 

“...Bagaimana kalau dengan menaklukkan dunia dongeng ini, penyakit adikmu bisa sembuh total?”

 

“Apa?”

Darah yang sempat naik ke kepala Mahiru seketika surut.

Tidak mungkin. Mustahil. Bohong.

Berapa banyak cara sudah dia tempuh selama ini? Dari teknologi medis paling mutakhir, pengobatan timur yang mencurigakan, sampai praktik okultisme sialan, tidak satu pun pernah memperbaiki kondisi Asahi.

Namun, betapa pun tidak masuk akalnya, dia tidak mampu menepis benang laba-laba yang kini dijulurkan di depannya.

Seberapa pun akalnya menyangkal, otaknya tetap merindukan keselamatan.

“Tidakkah kamu merasa dunia tempatmu hidup dipenuhi kemalangan yang terlalu tidak wajar? Adikmu yang mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Peramal kultus jahat itu. Tindakan yang kamu lakukan demi biaya pengobatan. Dan ini bukan hanya tentangmu. Dalam beberapa tahun terakhir, bukannya berbagai insiden gila terjadi di mana-mana? Pembunuhan kepala negara. Perang di berbagai belahan dunia. Bahkan wabah penyakit baru yang menyebar belakangan ini. Sebagian penyebabnya berasal dari dunia ini.”

“Hah... jangan konyol.”

“Wajar kalau kamu berpikir begitu. Hampir semua manusia akan begitu. Tapi inilah kebenarannya. Seharusnya dunia kalian jauh lebih damai. Kegilaan yang memenuhi dunia dongeng ini merembes keluar dan mencemari dunia nyata. Tugasku, dan juga tugasmu, adalah memurnikan kegilaan itu.”

Si Gembala berbicara dengan gerakan tangan besar dan teatrikal. Anehnya, tidak terasa janggal sedikit pun, mungkin karena kecantikannya yang tidak manusiawi dan aura misterius yang menyelimutinya.

Tetapi tetap saja, hanya karena sebuah buku menjadi rusak, lalu dunia nyata ikut tercemar? Terlalu tidak masuk akal. Seolah membaca pikirannya, si Gembala melanjutkan.

“Kalian tampaknya sungguh percaya bahwa dunia kalian lahir dari ketiadaan. Padahal tentu saja tidak. Kalian lahir, berevolusi, memperoleh bahasa, membangun peradaban dan masyarakat, semua itu bukan semata-mata hasil usaha dan kecerdasan kalian sendiri. Bagaimanapun juga, manusia tidak diciptakan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan.”

“...Kamu ingin bilang dunia kami bukan lahir secara alami, tapi diciptakan oleh seseorang?”

“Secara teknis, sedikit berbeda. Ambil contoh dunia Tudung Merah itu. Dan buku cerita Tudung Merah yang ada di dunia kalian. Menurutmu, mana yang lebih dulu ada?”

“Hmm... tidak mungkin. Benarkah dunia Tudung Merah lebih dulu?”

“Tepat. ‘Tuhan’ pertama-tama menciptakan dunia-dunia kecil. Dibanding dunia kalian, dunia itu bengkok, tidak alami, penuh kejanggalan. Dunia Tudung Merah yang kamu alami hanyalah salah satunya.”

“Jadi dunia itu adalah asal mula dunia kami?”

“Tidak sepenuhnya begitu. Tapi menganggapnya sebagai salah satu sumber bukanlah kesalahan. Yang penting di sini adalah dunia kalian dan dunia dongeng ini saling memengaruhi satu sama lain.”

Semakin lama didengar, semakin terasa kepala ingin pecah oleh cerita itu. Entah beruntung atau tidak, sejak awal Mahiru memang tidak pernah percaya pada yang namanya Tuhan, dan dia juga membenci orang-orang yang percaya. Cerita semacam ini sudah cukup sering dia dengar dari para bajingan penyebar agama yang datang memaksa ke apartemennya.

“Kamu menyuruhku percaya omong kosong seperti itu...?”

“Tidak percaya pun tidak apa-apa. Tapi percaya atau tidak, itu tidak ada hubungannya, bukan? Kamu sudah dipanggil. Kamu mengambil buku Tudung Merah. Kamu sudah diundang. Sejak saat itu, peranmu sudah ditentukan. Kamu merasa itu tidak adil? Tapi pemicunya adalah dirimu sendiri. Kamu yang memilihnya. Dan begitu kamu terpilih, kehendakmu tidak lagi berarti. Tentu saja, itu berlaku juga untukku. Apa pun yang kamu katakan, kamu tidak akan bisa pulang sebelum menaklukkan dunia ini. Tapi kalau begitu, bukannya itu terlalu kejam? Karena itulah aku ingin membantumu. Anggap saja aku rekanmu. Aku berniat bersikap jujur padamu. Agar kamu bisa mempertahankan sedikit saja motivasimu, aku memberitahumu kebenaran tentang dunia ini. Sebenarnya aku tidak perlu mengatakan semua ini. Aku bisa saja berbohong. Kamu pun tidak akan mudah percaya, jadi akan lebih mudah jika kubuat latar cerita yang terdengar lebih masuk akal. Tapi aku sengaja memberitahumu. Anggap saja ini bukti kepercayaanku. Di sini ada cara untuk menyelamatkan Misora Asahi.”

Kata-kata itu diucapkan datar, seolah-olah dia hanya membacakan isi buku petunjuk. Entah itu bentuk penyemangat versinya, atau justru nada pasrah.

“Ah, percuma saja kamu mengeluh padaku di sini. Aku tidak punya kekuatan untuk mengembalikanmu ke dunia asalmu. Yang bisa kulakukan hanyalah mengirimmu ke dunia dongeng dan menemanimu berbicara di sela-selanya.”

Mahiru menarik napas pelan.

Apakah ucapan si Gembala itu dusta atau kebenaran, tidak peduli seberapa keras dia berpikir, dia tidak akan pernah tahu.

Namun seperti yang dikatakannya, mengamuk atau merengek di sini tidak akan memperbaiki keadaan.

“Benarkah dengan itu Asahi bisa diselamatkan?”

“Ya. Itu benar.”

Sama sekali tidak bisa dipercaya. Skala ceritanya terlalu besar. Terlalu tidak masuk akal.

Meski begitu, bagi Mahiru nyaris tidak punya pilihan lain.

“Menaklukkan dunia itu... secara konkret aku harus melakukan apa?”

“Pada percobaan berikutnya pun kamu pasti tidak akan bisa langsung menyelesaikannya, tapi... baiklah, akan kuberi satu petunjuk, carilah kejanggalan di dunia itu.”

“Hah? Dunia itu sudah penuh kejanggalan. Jangan berlagak misterius, katakan saja jawabannya. Bukannya kamu ingin aku menaklukkan dunia ini?”

“Tidak bisa. Ini juga bagian dari proses yang diperlukan.”

“Cih...”

“Tugasmu... tidak, tugas kita adalah menemukan biang keladi yang membuat dunia dongeng ini gila, lalu menyucikannya. Mari kita berusaha bersama.”

“...”

Si Gembala mengulurkan tangan untuk berjabat, namun Mahiru hanya menatapnya lekat-lekat.

Makhluk yang tidak jelas asal-usulnya. Menyeramkan. Seragam yang dikenakannya begitu familiar, namun justru terasa janggal dan tidak seimbang.

Justru karena dia terasa begitu asing, Mahiru tidak mampu begitu saja menepis cerita tidak masuk akal itu sebagai kebohongan belaka. Tidak diragukan lagi, ada hukum-hukum tidak dikenal yang berada di luar jangkauannya.

Mahiru benar-benar mengalami dunia dongeng itu. Dia mengalami kematian, dan kini dia berdiri di sini.

Ini jelas berbeda dari kebohongan-kebohongan sebelumnya yang hanya bertujuan menipunya.

Lagipula, jika yang dipertaruhkan hanyalah dirinya sendiri, maka itu bukanlah harga yang berat. Di dunia nyata, sekeras apa pun dia berjuang, dia tidak akan mampu menyelamatkan Asahi. Kalau begitu...

“Aku akan menyelamatkan Asahi. Untuk itu, aku akan memanfaatkanmu.”

Mahiru meraih tangan si Gembala dan menggenggamnya kuat-kuat.

Dia tidak akan ragu lagi. Hal-hal yang tidak ada gunanya dipikirkan, tidak akan lagi dia pikirkan.

Mahiru mengusap sampul Grimm Note, lalu mengembuskan napas tipis. Dia menetapkan tujuannya.

“Ya, itu sudah benar. Senang bekerja sama denganmu, Misora Mahiru.”

Si Gembala melambaikan tangan, dan pandangan Mahiru perlahan mulai kehilangan bentuknya.

Warna-warna memudar, hingga akhirnya matanya tidak lagi mampu menangkap apa pun.

Kesadaran Mahiru tenggelam dalam kegelapan.

 

“Selamat jalan. Aku mendoakan keberuntunganmu, pergilah dan mati.”

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar