Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Tempat Pembukaan IV

Tanpa sadar, Mahiru mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan.

Dia mencoba berteriak, namun suaranya tidak mau keluar. Hanya deru napas parau yang menyedihkan yang lolos dari tenggorokannya. Rasanya sangat sesak, seolah lehernya masih terpisah dari tubuh. Potongan lehernya sendiri dan bayangan tubuh yang terbelenggu di atas guillotine melintas dalam kilas balik, membuatnya mual hingga ingin muntah.

“Ugh, oek, ahh.”

Pandangannya kabur. Saat tetesan air jatuh ke punggung tangannya, barulah dia menyadari bahwa dia sedang menangis. Tanpa bisa dicegah, air mata terus mengalir dari matanya.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang terdengar mengejek bergema di atas kepalanya.

Dia tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu siapa pelakunya.

“Luar biasa, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menepati janji. Itu adalah kematian yang sangat indah dan penuh nilai hiburan. Sungguh mengagumkan. Kamu memang punya bakat untuk menghiburku. Dikhianati oleh orang yang kamu percayai, menerima kebencian yang tidak terhitung banyaknya, lalu dipenggal begitu saja dengan mudahnya. Tidakkah kamu pikir itu adalah pertunjukan yang hebat?”

Si Gembala berucap dengan nada suara yang ceria seolah sedang menari, benar-benar merasa bahwa kejadian tadi sangat lucu.

Bagaikan pegas yang dilepaskan, Mahiru melonjak berdiri dan menerjang ke arah si Gembala mengikuti instingnya.

“Aaaaaaaaah!”

Namun, sebuah dinding tidak kasatmata menghalanginya. Jangankan memukulnya, menyentuh ujung bajunya pun dia tidak bisa.

Melihat itu, si Gembala terkekeh pelan.

“Jangan buat aku mengulangi hal yang sama berkali-kali. Sudah kubilang, ini bukan ruang yang seperti itu. Karena suasana hatiku sedang bagus, aku akan memaafkanmu kali ini.”

Mahiru pun jatuh tersungkur di lantai setelah menghantam dinding transparan itu.

Potongan lehernya yang menjadi pemandangan terakhir sebelum mati kembali terbayang. Rakyat yang menertawakannya seolah menyatu menjadi satu gumpalan raksasa yang berdenyut. Reset yang tertawa terbahak-bahak sambil memandang rendah ke arahnya, Elez yang terus mengalirkan air mata seperti keran rusak di sampingnya, serta Layla yang melayangkan tatapan mengejek. Berbagai emosi raksasa yang tidak terlukiskan bergejolak di dalam diri pemuda itu.

“Tapi bukannya ini bagus? Kamu sudah semakin dekat dengan kebenaran dibandingkan putaran kedua sebelumnya. Kamu sudah tahu tujuan Elez Cendrillon, rahasia Ibu Kota, jati diri asli Reset Cinder, bahkan identitas sang Penyihir. Nah, bukannya sekarang kamu merasa sedikit lagi bisa menyelesaikannya?”

Sebagian amarah Mahiru dengan mudah beralih kepada si Gembala.

Makhluk ini hanya menonton dari tempat yang aman, sementara dia selalu harus merasakan penderitaan yang luar biasa. Di dunia dongeng itu, dia tidak bisa mengandalkan siapa pun. Begitu dia menunjukkan sedikit saja kelemahan, dia akan dimanfaatkan, dibunuh, dan meski sudah mati pun semuanya tidak berakhir karena dia harus mengulang lagi dari awal.

Saat dia mendongak, kulihat si Gembala sedang memandang rendah ke arahnya dengan tatapan senang. Matanya persis seperti mata para penonton yang melihat Mahiru terjepit di alat pancung itu. Dia hanya menganggap Mahiru sebagai tontonan. Mereka semua pasti tidak akan merasa sedih sedikit pun, tidak peduli apa pun yang terjadi padanya.

“Setiap orang... semuanya saja mempermainkanku!”

Saat ini juga, Mahiru ingin sekali menghajar si Gembala. Meski dia tahu memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, tetap tenang pun bukan berarti segalanya akan beres, jadi Mahiru pikir memukulnya akan membuat perasaannya sedikit lebih lega.

“Aku tidak keberatan, kok.”

Si Gembala berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya dengan Mahiru.

“...Apa?”

“Jika itu bisa membuatmu puas, aku bilang aku tidak keberatan jika kamu ingin memukulku sebanyak yang kamu mau.”

Si Gembala mengulurkan tangan ke arah pipi Mahiru.

Mahiru tidak bisa memahami emosi di balik senyum tipisnya itu.

“Kamu pikir aku tidak akan berani memukulmu, ya?”

Mahiru mengepalkan tinju kuat-kuat dan mengangkatnya.

Si Gembala tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, dia terus menatapnya lurus. Tidak ada perisai misterius kali ini. Dia tinggal mengayunkan tinjunya sekarang. Mahiru merasa punya hak untuk itu. Setelah berkali-kali mengalami penderitaan yang mengerikan, kurasa tidak akan ada yang menyalahkan Mahiru jika dia memukul si Gembala.

Tapi, tetap saja...

“Sialan, mati saja kamu! Semuanya mati saja!”

Mahiru yang sudah mengangkat tinju akhirnya menghantamkan tangan itu ke lantai sekuat tenaga karena tidak tahu harus melampiaskannya ke mana.

Sebenarnya dia tahu. Memukul si Gembala tidak akan menyelesaikan apa pun, dan perasaannya pun tidak akan menjadi lega sedikit pun.

Lagipula, ini bukan salah si Gembala. Mahiru mati karena dia adalah orang bodoh yang tidak bisa melihat jati diri asli bajingan itu, karena dia terlalu lemah hingga tidak bisa melawan para pengawal, dan karena dia adalah manusia tidak berguna yang tidak bisa mendapatkan kepercayaan Elez.

“Kamu... sebenarnya seberapa banyak yang kamu ketahui!?” teriak Mahiru sambil meringkuk.

“Aku tidak tahu apakah ini pengaruh dari keberhasilanmu menyelesaikan kisah Si Tudung Merah dengan True Ending, tapi detail alur dalam kisah Cinderella ini berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya. Jadi, tolong pahami bahwa penaklukanmu kali ini tidak sepenuhnya berada dalam pengetahuanku.”

“Termasuk fakta bahwa Reset adalah dalangnya?”

“Hmm, kalau yang itu, aku memang sudah tahu.”

“...!”

Amarah yang mendidih seperti magma meluap dari dasar perut Mahiru.

Namun, dia sudah tidak punya gairah untuk menyalahkan si Gembala. Karena Mahiru baru saja sadar, bahwa kelemahannya sendirilah yang menjadi penyebab semuanya. Jika dia menyalahkan si Gembala di sini, rasanya seolah-olah dia sedang menggantungkan nasib padanya, dan itu sangat menjengkelkan.

Mahiru merebahkan diri dengan posisi telentang, menutupi matanya dari cahaya dengan kedua lengan.

Di tengah amarah yang besar itu, tanpa sadar rasa benci pada diri sendiri dan perasaan tidak berdaya mulai bercampur, membuat emosinya sedikit mereda.

Dia memejamkan mata dan mengingat Asahi. Sosok yang menderita di tempat tidur rumah sakit. Sosok yang tersenyum polos. Inilah kompas jalannya. Dia tidak boleh lupa untuk apa dia bertarung. Ini sudah seperti sebuah ritual bagi Mahiru.

“Suatu saat nanti, aku pasti akan memukulmu. Tapi bukan sekarang. Jika kamu merasa sedikit saja bersalah, berikan aku petunjuk, wanita brengsek.”

Mahiru mengembuskan napas panjang seolah sedang mengganti suasana hatinya.

Si Gembala duduk bersimpuh di sampingnya.

“Hmm. Aku tidak merasa bersalah sedikit pun, tapi aku akan membantumu merapikan pikiran. Aku bersedia menjadi teman bicaramu sebanyak yang kamu mau. Sejak awal, memang itulah tugasku.”

Mahiru mendecih, lalu bangkit duduk bersila.

“Mari kita rapikan satu per satu. Pertama, mulai dari Reset Cinder.”

Si Gembala menadahkan tangannya, lalu muncullah sebuah boneka kecil seukuran telapak tangan yang menyerupai Reset. Si Gembala menggerakkan boneka itu sesuka hati, membuatnya seolah-olah sedang menari.

“Melalui kejadian kali ini, sudah jelas bahwa Reset adalah dalang dari semuanya. Rumor penculikan yang didengar di kota juga merupakan hasil dari perbuatan Reset yang menculik gadis-gadis untuk dijadikan bahan baku permata.”

“Benar. Karena ceritanya hanya gadis-gadis cantik yang diculik, maka tidak salah lagi. Reset Cinder juga bilang bahwa wanita yang cantik akan menghasilkan permata yang lebih indah.”

Mahiru mengangguk dalam-dalam menyetujui penjelasan tambahan dari si Gembala.

“Tujuannya adalah menyingkirkan Pangeran Pertama dan naik takhta. Dan pada akhirnya, untuk memiliki Elez, adik tirinya sendiri. Demi hal itu, dia meminjam kekuatan Penyihir, mengubah rakyat menjadi permata... sungguh memuakkan.”

Mahiru teringat kembali pada kejadian di bawah tanah istana dan refleks merasa mual.

Si Gembala kemudian membuat boneka Layla dan memainkannya. Itu bukan rupa Elez, melainkan sosok aslinya; seorang wanita dengan rambut merah laksana api yang membara.

“Layla... ternyata Layla-lah sang Penyihir.”

Satu-satunya teman tempat Elez membuka hati. Mungkin karena itu pula, Mahiru sama sekali tidak menaruh curiga padanya. Dia sempat mengira bahwa Layla hanyalah seorang pengguna sihir biasa.

“Benar. Dia bekerja sama dengan Pangeran Kedua, Reset, untuk menciptakan permata dari daging manusia. Entah apa yang dia makan sampai bisa memiliki pemikiran semacam itu... sungguh mengerikan. Mungkin kaviar atau foie gras? Jika benar begitu, kamu bisa merasa tenang karena pemikiran itu sangat asing bagi duniamu. Hehehe.”

Si Gembala membuat boneka Reset dan sang Penyihir saling bergandengan tangan.

Di bawah tanah istana terdapat lingkaran sihir, tempat gadis-gadis diubah menjadi permata. Layla-lah yang menyusun neraka itu, dan pengumpulan bahan baku untuk membuat permata adalah tujuan asli dari pesta dansa tersebut.

“Lalu, ada dia. Pangeran Pertama.”

“Dia menyimpan potensi untuk menjadi sekutu, bukan?”

Si Gembala membuat boneka Pangeran Pertama dan meletakkannya di posisi yang berlawanan dengan Reset.

Akibat hasutan Reset dan sikap kaku Pangeran Pertama, Mahiru sempat salah sangka dan mengira bahwa Licht adalah akar dari segala kejahatan, padahal dia justru adalah korban.

Musuh dari musuh adalah kawan. Dengan adanya Reset sebagai musuh bersama, ada kemungkinan Mahiru bisa bekerja sama dengan Licht.

“Terakhir, Elez.”

Seolah sudah menanti saat ini, si Gembala bertepuk tangan dan membuat boneka Elez. Boneka Elez itu meraih tangan boneka Reset dan mulai menari.

Mahiru merasa geram melihat sandiwara boneka yang menyebalkan itu. Dia mencoba menepisnya, namun boneka-boneka itu menghindar dengan lincah. Hal itu justru membuat kekesalannya semakin menumpuk hingga dia mendecih keras.

“Hehe, jangan terlalu emosi begitu. Bukannya sekarang kita sedang berada di tempat untuk bekerja sama dan membicarakan hal serius? Lihat, kamu sudah mendapatkan banyak hasil terkait Elez Cendrillon, ‘kan?”

Mahiru merasa si Gembala-lah yang salah karena terus-menerus memancing emosinya, namun dia tahu akan percuma bicara apa pun pada wanita berwatak buruk yang sangat ahli dalam menghasut orang ini. Mahiru hanya mendecih dengan sengaja dan memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan.

“Ya, benar. Kali ini tujuan Elez sudah menjadi jelas. Balas dendam atas kematian ibunya yang dibunuh di lingkungan keluarga kerajaan. Alasannya ingin pergi ke pesta dansa pun adalah untuk membalas dendam.”

Awalnya Mahiru mengira Elez ingin bertemu pangeran dan keluar dari kediaman tempat ibu tiri serta kakak-kakak tirinya menindasnya, namun ternyata alasannya bukanlah sesuatu yang naif layaknya gadis pemimpi.

Elez adalah seorang pendendam, sama seperti Mahiru.

“Dan musuhnya adalah Layla.”

Mahiru sudah mendapatkan pengakuan langsung dari mulut Layla, jadi hal itu sudah tidak diragukan lagi.

Dengan kata lain, Mahiru dan Elez memiliki musuh yang sama untuk dikalahkan.

“Bagus, ‘kan? Akhirnya lokasi musuh yang harus dikalahkan sudah diketahui dengan jelas. Dia bukan berada di tempat yang tidak terjangkau, bukan pula sosok abadi yang tidak terkalahkan. Meskipun keadaannya tidak seperti sebelumnya di mana Penyihir sudah dikalahkan, fakta bahwa dia dalam kondisi lemah adalah kabar baik.”

“Kabar baik, ya?”

“Tentu saja. Seharusnya Penyihir memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia biasa. Jika kamu menghadapinya secara langsung, kamu pasti akan berakhir menemui aku lagi dalam sekejap.”

Si Gembala berbicara panjang lebar dengan senyum yang mencurigakan.

Mahiru merasa argumennya tidak salah, namun ada satu masalah besar yang mengganjal.

“Jiwa Layla ada di dalam tubuh Elez. Tidak ada cara bagi kita untuk menyerangnya tanpa melukai Elez.”

“Begitu ya, hmm. Mari kita konfirmasi dulu syarat dasarnya.”

Si Gembala berucap seolah sudah menduga reaksi Mahiru.

“Hah?”

“Ikuti saja permainanku. Ini pasti akan membantumu. Sekali lagi, apa tujuanmu kali ini?”

“Mengalahkan Penyihir. Dan menyelamatkan Elez, ‘kan?”

Mendengar jawaban Mahiru, si Gembala menjatuhkan bahunya dengan gaya yang berlebihan seolah merasa kecewa.

“Aduh, aduh, kamu masih saja mengatakan hal seperti itu? Itu bukan tujuan. Itu hanyalah salah satu sarana.”

“...Maksudmu membimbing Cinderella menuju True Ending?”

Meski merasa hal itu sama saja, Mahiru tetap meladeni si Gembala.

Wanita itu menyeringai lebar sebagai tanda membenarkan.

“Letakkan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya. Kalimat ini tidak boleh diabaikan jika ingin mencapai True Ending. Bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya aturan mutlak di dunia dongeng ini. Bagaimana saat di dunia Si Tudung Merah?”

“Maksudmu... mengembalikan tudung merah kepada Maisy?”

“Benar. Tapi menurutku, itu hanyalah kepingan terakhir setelah beberapa elemen lainnya terpenuhi. Kalimat ‘kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya’ itu maknanya jauh lebih abstrak.”

“Hah? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Artinya, kamu tidak dianggap menyelesaikan cerita hanya karena mengembalikan tudung merah, melainkan karena kamu telah memperbaiki penyimpangan dalam cerita tersebut hingga terhubung ke True Ending. Mengembalikan tudung merah hanyalah salah satu faktor pendukungnya saja.”

“Maksudmu, seandainya sejak awal aku menemukan tudung merah itu dan memberikannya pada Maisy, itu tetap tidak akan berhasil?”

Mengembalikan ingatan Maisy, menyelamatkan Nina yang merupakan kakaknya, serta mengalahkan serigala yang merupakan peran musuh di dongeng aslinya. Lalu mengambil kembali tudung merah dan menyambut akhir yang bahagia.

Karena semua hal itu berjalan dengan baik, barulah kisah Si Tudung Merah menjadi normal kembali. Itulah yang ingin disampaikan si Gembala sebagai True Ending.

“Tepat sekali. Sangat berbahaya jika kamu berpikir ada syarat yang sederhana untuk menyelesaikan cerita. Yang penting adalah ‘kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya’, dalam cerita kali ini pun, kamu harus memikirkan maknanya dalam-dalam.”

“Aku tahu itu, tapi...”

“Tidak, kamu masih salah paham.”

Si Gembala menggelengkan kepalanya dengan sikap yang dibuat-buat.

“Yang terpenting adalah menyadari apa yang menjadi penyimpangan dan apa esensi dari cerita tersebut. Dan dongeng aslinya bukanlah jawaban mutlak, melainkan hanyalah sebuah petunjuk. Berdasarkan hal itu, kamu harus memikirkan kisah Cinderella ini sebenarnya cerita tentang apa.”

Raut wajah wanita itu tampak menyebalkan, terdistorsi oleh kepuasan.

Mahiru tahu bahwa jika si Gembala bersikap seperti ini, biasanya dia tidak akan mengatakan hal yang benar. Kesadaran itu membuat rasa jengkel dan gelisah semakin menumpuk dalam diri Mahiru.

“Apa yang ingin kamu katakan?”

“Tentang dongeng Cinderella yang ada di duniamu. Apa kamu tahu bagaimana kisah Cinderella berakhir?”

“Hah? Dia bertemu pangeran, diundang ke istana, dan berakhir bahagia.”

Itu benar-benar sebuah kisah sukses yang menjadi impian bagi setiap gadis.

“Mungkin itu versi yang paling terkenal. Tapi tidak hanya itu. Kebanyakan dongeng sudah mengalami perubahan agar lebih cocok untuk anak-anak. Dalam versi Dongeng Grimm, kakak-kakak tirinya yang jahat berakhir dengan mata yang dipatuk hingga buta dan menjadi pengemis. Dalam cerita itu, sang pangeran sangat terobsesi pada Cinderella dan berusaha mendapatkannya meskipun harus menggunakan cara yang kotor.”

Si Gembala menyeringai dengan penuh arti.

Dunianya Mahiru berasal dari tujuh dunia dongeng. Dikatakan bahwa dongeng yang diketahui Mahiru diciptakan berdasarkan masing-masing dari tujuh dunia tersebut.

“Menurutmu, apa esensi dari cerita ini? Coba pikirkan dan bandingkan dengan pengalaman yang kamu alami di dunia Cinderella ini.”

“...Balas dendam.”

Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Mahiru tanpa keraguan sedikit pun.

Entah itu karena dia merefleksikan masa lalunya sendiri atau bukan, yang jelas, jika Elez membunuh saudara-saudara tirinya, alasannya tidak lain adalah balas dendam. Begitu pula dengan Layla.

Si Gembala bertepuk tangan pelan sebagai tanda setuju.

“Tapi, kalau begitu, ujung-ujungnya kembali ke masalah awal, ‘kan?”

Jiwa Layla yang menjadi target balas dendam berada di dalam tubuh Elez, sehingga Mahiru tidak bisa menyerangnya. Pembicaraan berbelit-belit tadi seharusnya bermula dari masalah tersebut.

Namun, seolah sudah menyadari celah itu, Si Gembala menggelengkan kepalanya dengan gaya sok menyesal.

“Masih belum mengerti juga? Sederhana saja, bunuh saja Layla bersama dengan Elez Cendrillon.”

Mahiru tanpa sadar melonjak maju dan mencengkeram Si Gembala.

Dia menindihnya dengan penuh emosi. Namun, bahkan dalam situasi seperti itu, Si Gembala hanya memandangnya dengan tatapan dingin.

“Kenapa terkejut begitu? Kamu pun pasti sudah memikirkannya. Jiwa Penyihir Layla berada dalam kondisi di mana dia tidak bisa ada tanpa tubuh Elez Cendrillon. Maka, jawabannya hanya satu: hancurkan saja tubuh itu. Lebih tepatnya, tidak ada cara lain.”

“Mana mungkin...”

Mendengar bantahan refleks Mahiru, Si Gembala mengembuskan napas panjang yang menunjukkan kejengkelan.

“Hah... apa kita harus melakukan perdebatan seperti saat di dunia Si Tudung Merah lagi? Aku mulai merasa muak.”

Dulu di dunia Si Tudung Merah, metode yang ditawarkan Si Gembala adalah membunuh semua karakter satu per satu. Dia bersikeras bahwa tidak ada cara lain. Namun, Mahiru tidak membiarkan dirinya dipermainkan oleh kata-kata itu dan berhasil menemukan jalan keluar lain.

“Waktu itu pun kamu salah! Maisy berhasil kuselamatkan!”

“Aku paham bahwa prinsipmu untuk menghormati penduduk dunia dongeng itu tidaklah salah. Kenyataannya, Maisy Carmine memang bisa diselamatkan. Tapi, Elez Cendrillon tidak bisa diselamatkan. Justru karena aku tahu adanya True Ending, aku bisa menyimpulkan demikian.”

“Apa katamu...!”

Si Gembala mengulurkan tangan dan menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Mahiru. Meski hanya sentuhan, Mahiru merasakan tekanan dan kedinginan yang tidak biasa. Rasanya seolah-olah dia sedang disentuh oleh mayat hidup.

“Biar kuberikan sedikit petunjuk... atau mungkin lebih tepat disebut syarat dasar. Aku akan berbagi fakta baru yang kusadari dalam kisah Cinderella kali ini. Aku bisa mengetahui hal ini sepenuhnya berkat bantuanmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kesimpulannya, tampaknya selama kisah Si Tudung Merah tidak diselesaikan dengan True Ending, enam dunia lainnya hanya bisa diselesaikan dengan Normal Ending.”

“Hah?”

True Ending berarti pemurnian kegilaan secara total. Berdasarkan kalimat “kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya” yang terukir di Grimm Note, saat sebuah dongeng dikembalikan ke jalurnya, kisah tersebut akan sepenuhnya terbebas dari kegilaan.

Sebaliknya, dalam Normal Ending, pemurnian kegilaan hanya terjadi sedikit dan tidak menyelesaikan masalah secara mendasar. Si Gembala pernah bilang bahwa Mahiru-lah orang pertama yang berhasil membimbing Si Tudung Merah menuju True Ending.

“Biar kujelaskan secara bertahap. Dalam kisah Cinderella yang kulihat selama ini, Layla bukanlah sang Penyihir. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa dia tidak bisa dikenali sebagai Penyihir.”

“Maksudmu bagaimana...?”

“Sampai sekarang, Cinderella memang selalu terkena dampak kegilaan, dan penyimpangan serupa dengan yang kamu alami pun terjadi. Artinya, dunia itu berada di bawah pengaruh Penyihir. Namun, tidak ada pemain lain yang bisa bertemu dengan sang Penyihir. Tadinya kukira mereka hanya tidak bisa menemukannya, tapi sepertinya bukan itu masalahnya. Mungkin bisa dibilang, sampai sekarang sang Penyihir dan para pemain berada di dimensi atau lapisan yang berbeda dalam dunia yang sama.”

Mahiru mengernyitkan dahi karena tidak bisa membayangkan maksud dari perkataan si Gembala.

“Heh, pantas saja selama ini logika penalaran yang normal tidak mempan. Kamu tidak terlalu paham, ya? Baiklah, agar orang bodoh sepertimu bisa mengerti... anggap saja begini, selama ini aku dipaksa menyelesaikan teka-teki gambar yang potongan-potongannya tidak lengkap.”

Si Gembala berucap seolah merasa malu atas kegagalannya sendiri, namun Mahiru sama sekali tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Jangan bicara berbelit-belit begitu. Intinya, dunia Cinderella kali ini adalah sesuatu yang asing bagimu, dan itu terjadi karena aku berhasil menyelesaikan Si Tudung Merah dengan sempurna, begitu ‘kan?”

“Tepat sekali. Pintar juga kamu, aku senang kamu cepat mengerti.”

Melihat si Gembala bertepuk tangan pelan di depan dadanya terasa sangat menyebalkan bagi Mahiru. Namun, jika semua perkataannya benar, maka kejanggalan yang dirasakan Mahiru selama ini berubah menjadi keyakinan.

“Aku tidak terlalu paham... tapi bisa kusimpulkan kalau mulai sekarang kata-katamu tidak bisa diandalkan lagi, hah?”

Si Gembala selalu menyesatkan Mahiru dengan cara bicara seolah dia menguasai segalanya di dunia ini, padahal kenyataannya, Mahiru sudah curiga sejak di dunia Si Tudung Merah bahwa dia tidak tahu apa-apa soal hal-hal yang penting.

Pernyataannya barusan semakin memperkuat pemikiran itu.

Terlebih lagi, si Gembala sendiri mengaku tidak tahu cara untuk mencapai True Ending.

“Itu sangat menyinggung perasaanku. Kepalaku berisi semua informasi tentang karakter yang muncul maupun peta di setiap dunia, dan garis besar perkembangan dongengnya pun tidak berubah. Bukannya informasi dariku terlalu berharga untuk dibuang begitu saja?”

Si Gembala tetap mempertahankan sikapnya yang merasa lebih unggul.

Namun bagi Mahiru, tingkat kepercayaan yang tadinya rendah kini benar-benar terkubur di dasar bumi.

“......”

Mahiru mungkin harus meninjau kembali anggapannya terhadap Si Gembala. Meski sikap wanita itu memang seperti itu, Mahiru menyadari bahwa secara tidak sadar dia menganggapnya sebagai sosok yang lebih tinggi.

Rekan apanya. Mustahil dia bisa menaruh perasaan selain muak pada orang yang tertawa terpingkal-pingkal melihat kematian rekannya sendiri.

Dari percakapan tadi pun, dia hanya tahu satu hal: Si Gembala sebenarnya tidak tahu banyak tentang dunia dongeng melebihi imajinasi Mahiru sendiri.

Pada akhirnya, Si Gembala tetaplah sosok yang tidak bisa dipercaya.

Begitu Mahiru menarik kesimpulan itu dan menatapnya, wanita itu justru tampak sedang dalam suasana hati yang bagus, seolah menganggap keheningan Mahiru sebagai sebuah persetujuan.

“Mari kembali ke topik. Berdasarkan hal itu, biar aku sampaikan pandanganku tentang Cinderella. Ada dua alasan mendasar mengapa Elez Cendrillon harus mati.”

Si Gembala mengangkat dua jari di samping wajahnya sambil melanjutkan perkataannya.

“Pertama, fakta bahwa Elez Cendrillon dan Penyihir Layla berbagi raga. Kendala fisik, begitulah sebutannya. Selama jiwa Layla tidak bisa dipisahkan, tidak ada cara lain.”

“Jangan asal bicara. Aku tidak percaya pada kata tidak bisa darimu. Misalnya, bagaimana kalau menggunakan Pemurnian untuk mengusir jiwa Penyihir itu?”

“Itu adalah kekuatan yang hanya bisa menghancurkan kegilaan di bawah tingkat tertentu. Mana mungkin bisa melakukan hal senyaman itu untuk menyerang jiwa, apalagi jiwa sang Penyihir yang menjadi akar masalah. Jika ingin mencobanya, silakan saja, tapi aku tidak akan menghiburmu jika kamu mati karena itu.”

Si Gembala bangkit dengan gerakan tidak alami, seolah ditarik oleh benang.

Tubuh Mahiru menegang melihat gerakan mendadak yang mengabaikan hukum fisika itu. Tanpa sempat melawan, posisi mereka berbalik dalam sekejap. Kali ini, Mahiru-lah yang berada di bawah tindihan si Gembala.

“Kedua, plot cerita Cinderella yang kamu ketahui sebenarnya melambangkan kemalangan sang tokoh utama. Diberi sihir oleh ibu baptis, pergi ke pesta dansa, lalu memikat hati sang pangeran. Coba selaraskan plot itu dengan dunia yang sekarang.”

Jari-jari si Gembala menelusuri pakaian Mahiru, bergerak ke sana kemari seolah sedang membelai.

Mahiru berusaha keras mengabaikan sensasi itu dan memutar otaknya.

Pada putaran sebelumnya, Elez pergi ke pesta dansa dan dijemput oleh Pangeran Kedua untuk tinggal di istana. Mahiru tidak tahu apakah dendam Elez terbalaskan atau tidak, namun wajah gadis itu tampak sangat putus asa, meskipun secara garis besar dia telah meniti alur Cinderella yang Mahiru ketahui.

“...Hampir sama dengan rute yang kita tempuh kali ini.”

“Tepat sekali. Tapi sebagai syarat mutlak, membasmi Penyihir adalah hal wajib untuk menyelesaikan permainan. Dengan rute itu, kamu tidak akan menyelesaikannya. Kenapa? Karena itu berbeda dengan inti ceritanya. Ingat versi cerita lain yang kuberi tahu tadi?”

Itu adalah versi di mana para kakak tiri akhirnya kehilangan mata mereka.

Meski tidak tahu apakah itu keinginan Elez atau bukan, kisah Cinderella bisa diinterpretasikan sebagai sebuah cerita balas dendam, di mana seorang gadis yang tertindas membalas dendam melalui sebuah pemicu.

Pangeran di dunia itu juga diceritakan sebagai orang yang bejat, mirip dengan dunia dongeng kali ini.

“Jadi, dengan mempertimbangkan keberadaan Penyihir, plot ceritanya begini: pertama, biarkan dia membalaskan dendam pada kedua kakak tirinya. Karena mereka hanyalah manusia biasa, membunuh mereka itu mudah. Yah, meski tidak perlu sampai dibunuh, setidaknya mereka harus disiksa sampai dendam Elez Cendrillon terpuaskan. Lalu, berikutnya adalah... pembunuh ibu kandung Elez Cendrillon. Untungnya, melalui putaran kali ini, kita sudah tahu siapa pelakunya.”

Si Gembala menyeringai dan menunjuk tepat ke jantungnya sendiri.

Mahiru mengerti maksudnya. Memuakkan, tapi dia paham.

Kepribadian lain yang bersemayam dalam diri Elez, yaitu Layla, adalah sang Penyihir dunia Cinderella sekaligus musuh yang membunuh ibu Elez.

Jika benar seperti kata si Gembala bahwa Cinderella adalah kisah gadis Si Upik Abu yang membalas dendam pada musuh yang ada di dalam dirinya, maka itu sejalan dengan tujuan Mahiru untuk memurnikan kegilaan.

Artinya...

“Tidakkah menurutmu bunuh diri akan menyelesaikan segalanya? Kamu tidak perlu mengotori tanganmu, dan Elez Cendrillon bisa menuntaskan dendamnya. Bukannya itu akhir yang luar biasa?”

“Jangan bercanda!”

“Kamu merasa aku sedang bercanda? Karena kamu memintaku bekerja sama dengan serius, maka aku memberikan pendapatku. Aku menggabungkan informasi yang kamu dapatkan dengan pengetahuanku untuk menuntunmu pada jawaban ini. Padahal aku bisa saja berlagak penting dan terus menontonmu menangis lebih lama lagi, tahu? Tapi aku tidak melakukannya. Aku merasa punya utang budi karena kejadian di dunia Si Tudung Merah, jadi aku berniat menunjukkan ketulusanku. Namun, kamu malah menuduhku bercanda.”

Setelah berkata demikian, si Gembala berpura-pura menangis dengan suara yang dibuat-buat.

“Itu hanya interpretasi yang menguntungkanmu saja!”

Kenyataannya, tidak ada jaminan apa pun. Jika itu yang dianggap sebagai cerita yang seharusnya, maka cerita itu sudah hancur sejak awal. Itu hanyalah sebuah tragedi.

“Terserahmu saja. Kamu memang badut malang yang dipaksa menari di panggung yang penuh kegilaan, tapi kamu bukan bonekaku. Hak memilih ada padamu.”

Si Gembala berdiri lalu berputar dengan riang. Rumbai pada pakaian pelayannya bergoyang. Dia meregangkan tubuh seolah-olah baru saja menyelesaikan pekerjaan besar.

“Lagipula, untuk kali ini, kukira kamu akan setuju.”

“...Apa?”

“Kukira kamu tidak terlalu menyukai Elez Cendrillon.”

“M-Mana mungkin...”

Kata-kata Mahiru tercekat.

Dia sempat ingin membantah, namun tidak ada kata-kata yang keluar.

Sebenarnya, membantahnya itu mudah. Memang benar pada putaran pertama dia hampir ditusuk pisau oleh Elez, dan pada putaran ketiga dia ditinggalkan demi balas dendam. Namun...

“Kalau maksudmu soal dikhianati, aku tidak mempermasalahkannya. Dalam kondisi ekstrem seperti itu, wajar saja, apalagi ini dunia yang terjangkit kegilaan. Aku mati sekali bukanlah masalah besar.”

Meski Mahiru bicara dengan cepat, dia merasa seperti seorang terpidana yang sedang membela diri; semakin banyak alasan yang dia berikan, semakin hilang kredibilitasnya.

Seolah menyadari apa yang ada di hati Mahiru, si Gembala hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.

Elez adalah orang yang baik, sebenarnya dia perhatian, memiliki masa lalu yang serupa, dan Mahiru merasa dia seperti teman, meski dia belum pernah punya teman sebelumnya.

“Cobalah kamu pastikan sendiri.”

“Pastikan apa?”

Si Gembala menyeringai.

“Misalnya, adikmu menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Anggaplah itu sebenarnya ulah iblis yang merasuk. Namun, iblis itu bukan merasuk ke adikmu, melainkan kepadamu. Dengan merasukimu yang merupakan kerabat sedarahnya, dia menggunakan kutukan untuk membuat adikmu sakit parah. Kenapa dia merasukimu dan bukan adikmu? Sederhana saja. Tidak ada orang bodoh yang mau masuk ke raga yang sebentar lagi akan mati. Tapi kemudian kamu menyadari, bahwa jika sang inang mati, maka iblis itu pun akan ikut binasa.”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?”

Mahiru merasa semakin jengkel dengan perumpamaan panjang yang sangat gamblang itu.

“Dalam situasi seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?”

“Tentu saja aku akan mati.”

“Ah, aku sudah tahu kamu akan menjawab begitu. Dan kamu pasti akan mengakhiri hidupmu tanpa keraguan sedikit pun sesuai ucapanmu. Kamu akan dengan senang hati menyerahkan nyawamu demi menyelamatkan adikmu. Aku menyukai sisi dirimu yang seperti itu.”

“Dan aku membenci segala hal tentangmu.”

Setelah dijelaskan sejelas itu, mau tidak mau Mahiru mengerti niat si Gembala.

Intinya, dia diminta untuk memposisikan diri sebagai Elez. Sebagai orang yang memiliki masa lalu serupa, Mahiru dianggap bisa memahami perasaan Elez lebih dari siapa pun.

Mahiru mencoba melakukan eksperimen pikiran yang lebih langsung.

Peramal keparat yang telah mendorong orang tuanya hingga bunuh diri. Entah bagaimana, jiwa orang itu dan Mahiru terhubung, hingga luka mereka pun saling berbagi. Tentu saja, jika salah satu mati, nyawa yang satunya lagi pun akan ikut melayang.

Jika begitu, maka Mahiru akan... tidak, kesimpulannya sudah jelas, bukan? Dia tidak mungkin mengutamakan dendam pribadi dan mati dengan meninggalkan Asahi yang sedang sakit.

Namun, seandainya Asahi tidak ada.

“...”

Mengajak Elez untuk mengakhiri hidup memang terdengar buruk, namun jika dipikir sebagai cara agar Elez bisa menuntaskan dendamnya, sudut pandangnya akan berubah. Lagi pula, Mahiru adalah orang yang paling tidak berhak menyangkal arti sebuah pembalasan dendam.

Dia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa dendam bukanlah sesuatu yang tidak berarti.

Jika Elez mengambil keputusan yang sama seperti Mahiru, hal itu memang harus dipastikan. Keinginan Elez, permohonannya. Sebagai sesama pendendam, apa yang sebenarnya dia inginkan.

Seolah menyadari apa yang ada di dalam hati Mahiru, si Gembala menyunggingkan senyum.

“Heh, sepertinya kamu sudah memantapkan tekad.”

“Belum tentu. Semua tadi ‘kan cuma spekulasi. Aku tidak akan tahu sebelum bertanya langsung pada Elez.”

Mendengar perkataan Mahiru, kali ini si Gembala membelalakkan matanya dengan heran.

“...Ah, begitu rupanya. Aku tidak tahu apa kamu memang belum sadar setelah sejauh ini atau hanya pura-pura tidak tahu, tapi sepertinya akan cukup menyenangkan melihatmu dihadapkan secara langsung dengan kejanggalan yang kamu rasakan sendiri.”

“Hah?”

“Heh, jangan menatapku seserius itu. Bukannya kamu sudah menetapkan langkahmu? Kalau begitu, ya sudah, tidak apa-apa ‘kan?”

Perkataannya yang penuh teka-teki itu memang mengganggu, namun Mahiru rasa dia harus memaklumi bahwa si Gembala memang makhluk yang seperti itu.

Seperti katanya, langkah Mahiru sudah bulat. Dia perlu menanyakan niat yang sebenarnya kepada Elez.

Jika menuruti perasaan pribadinya, Mahiru ingin Elez bahagia.

Namun, Mahiru tahu betul bahwa kebahagiaan bagi Elez, yang segala sesuatunya telah dirampas, bukanlah kebahagiaan yang biasa. Standar kebahagiaan itu sudah lama hancur. Nilai moral pun sama sekali tidak ada gunanya.

“Hehe, kuharap segalanya berjalan semulus itu.”

“Berisik. Cepat kirim aku ke sana.”

Mahiru mengepalkan tinjunya kuat-kuat sembari berucap.

Si Gembala membolak-balik halaman buku seolah sedang menari, dan putaran keempat pun dimulai.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar