Tanpa
sadar, Mahiru mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan.
Dia
mencoba berteriak, namun suaranya tidak mau keluar. Hanya deru napas parau yang
menyedihkan yang lolos dari tenggorokannya. Rasanya sangat sesak, seolah
lehernya masih terpisah dari tubuh. Potongan lehernya sendiri dan bayangan
tubuh yang terbelenggu di atas guillotine melintas dalam kilas balik,
membuatnya mual hingga ingin muntah.
“Ugh,
oek, ahh.”
Pandangannya
kabur. Saat tetesan air jatuh ke punggung tangannya, barulah dia menyadari
bahwa dia sedang menangis. Tanpa bisa dicegah, air mata terus mengalir dari
matanya.
Tiba-tiba,
suara tepuk tangan yang terdengar mengejek bergema di atas kepalanya.
Dia
tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu siapa pelakunya.
“Luar
biasa, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menepati janji. Itu adalah
kematian yang sangat indah dan penuh nilai hiburan. Sungguh mengagumkan. Kamu
memang punya bakat untuk menghiburku. Dikhianati oleh orang yang kamu percayai,
menerima kebencian yang tidak terhitung banyaknya, lalu dipenggal begitu saja
dengan mudahnya. Tidakkah kamu pikir itu adalah pertunjukan yang hebat?”
Si
Gembala berucap dengan nada suara yang ceria seolah sedang menari, benar-benar
merasa bahwa kejadian tadi sangat lucu.
Bagaikan
pegas yang dilepaskan, Mahiru melonjak berdiri dan menerjang ke arah si Gembala
mengikuti instingnya.
“Aaaaaaaaah!”
Namun,
sebuah dinding tidak kasatmata menghalanginya. Jangankan memukulnya, menyentuh
ujung bajunya pun dia tidak bisa.
Melihat
itu, si Gembala terkekeh pelan.
“Jangan
buat aku mengulangi hal yang sama berkali-kali. Sudah kubilang, ini bukan ruang
yang seperti itu. Karena suasana hatiku sedang bagus, aku akan memaafkanmu kali
ini.”
Mahiru
pun jatuh tersungkur di lantai setelah menghantam dinding transparan itu.
Potongan
lehernya yang menjadi pemandangan terakhir sebelum mati kembali terbayang.
Rakyat yang menertawakannya seolah menyatu menjadi satu gumpalan raksasa yang
berdenyut. Reset yang tertawa terbahak-bahak sambil memandang rendah ke
arahnya, Elez yang terus mengalirkan air mata seperti keran rusak di
sampingnya, serta Layla yang melayangkan tatapan mengejek. Berbagai emosi
raksasa yang tidak terlukiskan bergejolak di dalam diri pemuda itu.
“Tapi
bukannya ini bagus? Kamu sudah semakin dekat dengan kebenaran dibandingkan
putaran kedua sebelumnya. Kamu sudah tahu tujuan Elez Cendrillon, rahasia Ibu
Kota, jati diri asli Reset Cinder, bahkan identitas sang Penyihir. Nah, bukannya
sekarang kamu merasa sedikit lagi bisa menyelesaikannya?”
Sebagian
amarah Mahiru dengan mudah beralih kepada si Gembala.
Makhluk
ini hanya menonton dari tempat yang aman, sementara dia selalu harus merasakan
penderitaan yang luar biasa. Di dunia dongeng itu, dia tidak bisa mengandalkan
siapa pun. Begitu dia menunjukkan sedikit saja kelemahan, dia akan
dimanfaatkan, dibunuh, dan meski sudah mati pun semuanya tidak berakhir karena dia
harus mengulang lagi dari awal.
Saat
dia mendongak, kulihat si Gembala sedang memandang rendah ke arahnya dengan
tatapan senang. Matanya persis seperti mata para penonton yang melihat Mahiru
terjepit di alat pancung itu. Dia hanya menganggap Mahiru sebagai tontonan.
Mereka semua pasti tidak akan merasa sedih sedikit pun, tidak peduli apa pun
yang terjadi padanya.
“Setiap
orang... semuanya saja mempermainkanku!”
Saat
ini juga, Mahiru ingin sekali menghajar si Gembala. Meski dia tahu memukulnya
tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, tetap tenang pun bukan berarti segalanya
akan beres, jadi Mahiru pikir memukulnya akan membuat perasaannya sedikit lebih
lega.
“Aku
tidak keberatan, kok.”
Si
Gembala berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya dengan Mahiru.
“...Apa?”
“Jika
itu bisa membuatmu puas, aku bilang aku tidak keberatan jika kamu ingin memukulku
sebanyak yang kamu mau.”
Si
Gembala mengulurkan tangan ke arah pipi Mahiru.
Mahiru
tidak bisa memahami emosi di balik senyum tipisnya itu.
“Kamu
pikir aku tidak akan berani memukulmu, ya?”
Mahiru
mengepalkan tinju kuat-kuat dan mengangkatnya.
Si
Gembala tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, dia terus menatapnya lurus.
Tidak ada perisai misterius kali ini. Dia tinggal mengayunkan tinjunya
sekarang. Mahiru merasa punya hak untuk itu. Setelah berkali-kali mengalami
penderitaan yang mengerikan, kurasa tidak akan ada yang menyalahkan Mahiru jika
dia memukul si Gembala.
Tapi,
tetap saja...
“Sialan,
mati saja kamu! Semuanya mati saja!”
Mahiru
yang sudah mengangkat tinju akhirnya menghantamkan tangan itu ke lantai sekuat
tenaga karena tidak tahu harus melampiaskannya ke mana.
Sebenarnya
dia tahu. Memukul si Gembala tidak akan menyelesaikan apa pun, dan perasaannya
pun tidak akan menjadi lega sedikit pun.
Lagipula,
ini bukan salah si Gembala. Mahiru mati karena dia adalah orang bodoh yang
tidak bisa melihat jati diri asli bajingan itu, karena dia terlalu lemah hingga
tidak bisa melawan para pengawal, dan karena dia adalah manusia tidak berguna
yang tidak bisa mendapatkan kepercayaan Elez.
“Kamu...
sebenarnya seberapa banyak yang kamu ketahui!?” teriak Mahiru sambil meringkuk.
“Aku
tidak tahu apakah ini pengaruh dari keberhasilanmu menyelesaikan kisah Si
Tudung Merah dengan True Ending, tapi detail alur dalam kisah Cinderella ini
berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya. Jadi, tolong pahami bahwa
penaklukanmu kali ini tidak sepenuhnya berada dalam pengetahuanku.”
“Termasuk
fakta bahwa Reset adalah dalangnya?”
“Hmm,
kalau yang itu, aku memang sudah tahu.”
“...!”
Amarah
yang mendidih seperti magma meluap dari dasar perut Mahiru.
Namun,
dia sudah tidak punya gairah untuk menyalahkan si Gembala. Karena Mahiru baru
saja sadar, bahwa kelemahannya sendirilah yang menjadi penyebab semuanya. Jika dia
menyalahkan si Gembala di sini, rasanya seolah-olah dia sedang menggantungkan
nasib padanya, dan itu sangat menjengkelkan.
Mahiru
merebahkan diri dengan posisi telentang, menutupi matanya dari cahaya dengan
kedua lengan.
Di
tengah amarah yang besar itu, tanpa sadar rasa benci pada diri sendiri dan
perasaan tidak berdaya mulai bercampur, membuat emosinya sedikit mereda.
Dia
memejamkan mata dan mengingat Asahi. Sosok yang menderita di tempat tidur rumah
sakit. Sosok yang tersenyum polos. Inilah kompas jalannya. Dia tidak boleh lupa
untuk apa dia bertarung. Ini sudah seperti sebuah ritual bagi Mahiru.
“Suatu
saat nanti, aku pasti akan memukulmu. Tapi bukan sekarang. Jika kamu merasa
sedikit saja bersalah, berikan aku petunjuk, wanita brengsek.”
Mahiru
mengembuskan napas panjang seolah sedang mengganti suasana hatinya.
Si
Gembala duduk bersimpuh di sampingnya.
“Hmm.
Aku tidak merasa bersalah sedikit pun, tapi aku akan membantumu merapikan
pikiran. Aku bersedia menjadi teman bicaramu sebanyak yang kamu mau. Sejak
awal, memang itulah tugasku.”
Mahiru
mendecih, lalu bangkit duduk bersila.
“Mari
kita rapikan satu per satu. Pertama, mulai dari Reset Cinder.”
Si
Gembala menadahkan tangannya, lalu muncullah sebuah boneka kecil seukuran telapak
tangan yang menyerupai Reset. Si Gembala menggerakkan boneka itu sesuka hati,
membuatnya seolah-olah sedang menari.
“Melalui
kejadian kali ini, sudah jelas bahwa Reset adalah dalang dari semuanya. Rumor
penculikan yang didengar di kota juga merupakan hasil dari perbuatan Reset yang
menculik gadis-gadis untuk dijadikan bahan baku permata.”
“Benar.
Karena ceritanya hanya gadis-gadis cantik yang diculik, maka tidak salah lagi.
Reset Cinder juga bilang bahwa wanita yang cantik akan menghasilkan permata
yang lebih indah.”
Mahiru
mengangguk dalam-dalam menyetujui penjelasan tambahan dari si Gembala.
“Tujuannya
adalah menyingkirkan Pangeran Pertama dan naik takhta. Dan pada akhirnya, untuk
memiliki Elez, adik tirinya sendiri. Demi hal itu, dia meminjam kekuatan Penyihir,
mengubah rakyat menjadi permata... sungguh memuakkan.”
Mahiru
teringat kembali pada kejadian di bawah tanah istana dan refleks merasa mual.
Si
Gembala kemudian membuat boneka Layla dan memainkannya. Itu bukan rupa Elez,
melainkan sosok aslinya; seorang wanita dengan rambut merah laksana api yang
membara.
“Layla...
ternyata Layla-lah sang Penyihir.”
Satu-satunya
teman tempat Elez membuka hati. Mungkin karena itu pula, Mahiru sama sekali
tidak menaruh curiga padanya. Dia sempat mengira bahwa Layla hanyalah seorang pengguna
sihir biasa.
“Benar.
Dia bekerja sama dengan Pangeran Kedua, Reset, untuk menciptakan permata dari
daging manusia. Entah apa yang dia makan sampai bisa memiliki pemikiran semacam
itu... sungguh mengerikan. Mungkin kaviar atau foie gras? Jika benar begitu, kamu
bisa merasa tenang karena pemikiran itu sangat asing bagi duniamu. Hehehe.”
Si
Gembala membuat boneka Reset dan sang Penyihir saling bergandengan tangan.
Di
bawah tanah istana terdapat lingkaran sihir, tempat gadis-gadis diubah menjadi
permata. Layla-lah yang menyusun neraka itu, dan pengumpulan bahan baku untuk
membuat permata adalah tujuan asli dari pesta dansa tersebut.
“Lalu,
ada dia. Pangeran Pertama.”
“Dia
menyimpan potensi untuk menjadi sekutu, bukan?”
Si
Gembala membuat boneka Pangeran Pertama dan meletakkannya di posisi yang
berlawanan dengan Reset.
Akibat
hasutan Reset dan sikap kaku Pangeran Pertama, Mahiru sempat salah sangka dan
mengira bahwa Licht adalah akar dari segala kejahatan, padahal dia justru
adalah korban.
Musuh
dari musuh adalah kawan. Dengan adanya Reset sebagai musuh bersama, ada
kemungkinan Mahiru bisa bekerja sama dengan Licht.
“Terakhir,
Elez.”
Seolah
sudah menanti saat ini, si Gembala bertepuk tangan dan membuat boneka Elez.
Boneka Elez itu meraih tangan boneka Reset dan mulai menari.
Mahiru
merasa geram melihat sandiwara boneka yang menyebalkan itu. Dia mencoba
menepisnya, namun boneka-boneka itu menghindar dengan lincah. Hal itu justru
membuat kekesalannya semakin menumpuk hingga dia mendecih keras.
“Hehe,
jangan terlalu emosi begitu. Bukannya sekarang kita sedang berada di tempat
untuk bekerja sama dan membicarakan hal serius? Lihat, kamu sudah mendapatkan
banyak hasil terkait Elez Cendrillon, ‘kan?”
Mahiru
merasa si Gembala-lah yang salah karena terus-menerus memancing emosinya, namun
dia tahu akan percuma bicara apa pun pada wanita berwatak buruk yang sangat
ahli dalam menghasut orang ini. Mahiru hanya mendecih dengan sengaja dan
memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan.
“Ya,
benar. Kali ini tujuan Elez sudah menjadi jelas. Balas dendam atas kematian
ibunya yang dibunuh di lingkungan keluarga kerajaan. Alasannya ingin pergi ke
pesta dansa pun adalah untuk membalas dendam.”
Awalnya
Mahiru mengira Elez ingin bertemu pangeran dan keluar dari kediaman tempat ibu
tiri serta kakak-kakak tirinya menindasnya, namun ternyata alasannya bukanlah
sesuatu yang naif layaknya gadis pemimpi.
Elez
adalah seorang pendendam, sama seperti Mahiru.
“Dan
musuhnya adalah Layla.”
Mahiru
sudah mendapatkan pengakuan langsung dari mulut Layla, jadi hal itu sudah tidak
diragukan lagi.
Dengan
kata lain, Mahiru dan Elez memiliki musuh yang sama untuk dikalahkan.
“Bagus,
‘kan? Akhirnya lokasi musuh yang harus dikalahkan sudah diketahui dengan jelas.
Dia bukan berada di tempat yang tidak terjangkau, bukan pula sosok abadi yang tidak
terkalahkan. Meskipun keadaannya tidak seperti sebelumnya di mana Penyihir
sudah dikalahkan, fakta bahwa dia dalam kondisi lemah adalah kabar baik.”
“Kabar
baik, ya?”
“Tentu
saja. Seharusnya Penyihir memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia biasa.
Jika kamu menghadapinya secara langsung, kamu pasti akan berakhir menemui aku
lagi dalam sekejap.”
Si
Gembala berbicara panjang lebar dengan senyum yang mencurigakan.
Mahiru
merasa argumennya tidak salah, namun ada satu masalah besar yang mengganjal.
“Jiwa
Layla ada di dalam tubuh Elez. Tidak ada cara bagi kita untuk menyerangnya
tanpa melukai Elez.”
“Begitu
ya, hmm. Mari kita konfirmasi dulu syarat dasarnya.”
Si
Gembala berucap seolah sudah menduga reaksi Mahiru.
“Hah?”
“Ikuti
saja permainanku. Ini pasti akan membantumu. Sekali lagi, apa tujuanmu kali
ini?”
“Mengalahkan
Penyihir. Dan menyelamatkan Elez, ‘kan?”
Mendengar
jawaban Mahiru, si Gembala menjatuhkan bahunya dengan gaya yang berlebihan
seolah merasa kecewa.
“Aduh,
aduh, kamu masih saja mengatakan hal seperti itu? Itu bukan tujuan. Itu
hanyalah salah satu sarana.”
“...Maksudmu
membimbing Cinderella menuju True Ending?”
Meski
merasa hal itu sama saja, Mahiru tetap meladeni si Gembala.
Wanita
itu menyeringai lebar sebagai tanda membenarkan.
“Letakkan
sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya. Kalimat ini tidak boleh
diabaikan jika ingin mencapai True Ending. Bagaimanapun juga, ini adalah
satu-satunya aturan mutlak di dunia dongeng ini. Bagaimana saat di dunia Si
Tudung Merah?”
“Maksudmu...
mengembalikan tudung merah kepada Maisy?”
“Benar.
Tapi menurutku, itu hanyalah kepingan terakhir setelah beberapa elemen lainnya
terpenuhi. Kalimat ‘kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang
seharusnya’ itu maknanya jauh lebih abstrak.”
“Hah?
Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Artinya,
kamu tidak dianggap menyelesaikan cerita hanya karena mengembalikan tudung merah,
melainkan karena kamu telah memperbaiki penyimpangan dalam cerita tersebut
hingga terhubung ke True Ending. Mengembalikan tudung merah hanyalah salah satu
faktor pendukungnya saja.”
“Maksudmu,
seandainya sejak awal aku menemukan tudung merah itu dan memberikannya pada
Maisy, itu tetap tidak akan berhasil?”
Mengembalikan
ingatan Maisy, menyelamatkan Nina yang merupakan kakaknya, serta mengalahkan serigala
yang merupakan peran musuh di dongeng aslinya. Lalu mengambil kembali tudung merah
dan menyambut akhir yang bahagia.
Karena
semua hal itu berjalan dengan baik, barulah kisah Si Tudung Merah menjadi
normal kembali. Itulah yang ingin disampaikan si Gembala sebagai True Ending.
“Tepat
sekali. Sangat berbahaya jika kamu berpikir ada syarat yang sederhana untuk
menyelesaikan cerita. Yang penting adalah ‘kembalikan sesuatu yang seharusnya
di tempat yang seharusnya’, dalam cerita kali ini pun, kamu harus memikirkan
maknanya dalam-dalam.”
“Aku
tahu itu, tapi...”
“Tidak,
kamu masih salah paham.”
Si
Gembala menggelengkan kepalanya dengan sikap yang dibuat-buat.
“Yang
terpenting adalah menyadari apa yang menjadi penyimpangan dan apa esensi dari
cerita tersebut. Dan dongeng aslinya bukanlah jawaban mutlak, melainkan
hanyalah sebuah petunjuk. Berdasarkan hal itu, kamu harus memikirkan kisah
Cinderella ini sebenarnya cerita tentang apa.”
Raut
wajah wanita itu tampak menyebalkan, terdistorsi oleh kepuasan.
Mahiru
tahu bahwa jika si Gembala bersikap seperti ini, biasanya dia tidak akan
mengatakan hal yang benar. Kesadaran itu membuat rasa jengkel dan gelisah
semakin menumpuk dalam diri Mahiru.
“Apa
yang ingin kamu katakan?”
“Tentang
dongeng Cinderella yang ada di duniamu. Apa kamu tahu bagaimana kisah
Cinderella berakhir?”
“Hah?
Dia bertemu pangeran, diundang ke istana, dan berakhir bahagia.”
Itu
benar-benar sebuah kisah sukses yang menjadi impian bagi setiap gadis.
“Mungkin
itu versi yang paling terkenal. Tapi tidak hanya itu. Kebanyakan dongeng sudah
mengalami perubahan agar lebih cocok untuk anak-anak. Dalam versi Dongeng
Grimm, kakak-kakak tirinya yang jahat berakhir dengan mata yang dipatuk hingga
buta dan menjadi pengemis. Dalam cerita itu, sang pangeran sangat terobsesi
pada Cinderella dan berusaha mendapatkannya meskipun harus menggunakan cara
yang kotor.”
Si
Gembala menyeringai dengan penuh arti.
Dunianya
Mahiru berasal dari tujuh dunia dongeng. Dikatakan bahwa dongeng yang diketahui
Mahiru diciptakan berdasarkan masing-masing dari tujuh dunia tersebut.
“Menurutmu,
apa esensi dari cerita ini? Coba pikirkan dan bandingkan dengan pengalaman yang
kamu alami di dunia Cinderella ini.”
“...Balas
dendam.”
Jawaban
itu meluncur begitu saja dari mulut Mahiru tanpa keraguan sedikit pun.
Entah
itu karena dia merefleksikan masa lalunya sendiri atau bukan, yang jelas, jika Elez
membunuh saudara-saudara tirinya, alasannya tidak lain adalah balas dendam.
Begitu pula dengan Layla.
Si
Gembala bertepuk tangan pelan sebagai tanda setuju.
“Tapi,
kalau begitu, ujung-ujungnya kembali ke masalah awal, ‘kan?”
Jiwa
Layla yang menjadi target balas dendam berada di dalam tubuh Elez, sehingga
Mahiru tidak bisa menyerangnya. Pembicaraan berbelit-belit tadi seharusnya
bermula dari masalah tersebut.
Namun,
seolah sudah menyadari celah itu, Si Gembala menggelengkan kepalanya dengan
gaya sok menyesal.
“Masih
belum mengerti juga? Sederhana saja, bunuh saja Layla bersama dengan Elez
Cendrillon.”
Mahiru
tanpa sadar melonjak maju dan mencengkeram Si Gembala.
Dia
menindihnya dengan penuh emosi. Namun, bahkan dalam situasi seperti itu, Si Gembala
hanya memandangnya dengan tatapan dingin.
“Kenapa
terkejut begitu? Kamu pun pasti sudah memikirkannya. Jiwa Penyihir Layla berada
dalam kondisi di mana dia tidak bisa ada tanpa tubuh Elez Cendrillon. Maka,
jawabannya hanya satu: hancurkan saja tubuh itu. Lebih tepatnya, tidak ada cara
lain.”
“Mana
mungkin...”
Mendengar
bantahan refleks Mahiru, Si Gembala mengembuskan napas panjang yang menunjukkan
kejengkelan.
“Hah...
apa kita harus melakukan perdebatan seperti saat di dunia Si Tudung Merah lagi?
Aku mulai merasa muak.”
Dulu
di dunia Si Tudung Merah, metode yang ditawarkan Si Gembala adalah membunuh
semua karakter satu per satu. Dia bersikeras bahwa tidak ada cara lain. Namun,
Mahiru tidak membiarkan dirinya dipermainkan oleh kata-kata itu dan berhasil
menemukan jalan keluar lain.
“Waktu
itu pun kamu salah! Maisy berhasil kuselamatkan!”
“Aku
paham bahwa prinsipmu untuk menghormati penduduk dunia dongeng itu tidaklah
salah. Kenyataannya, Maisy Carmine memang bisa diselamatkan. Tapi, Elez Cendrillon
tidak bisa diselamatkan. Justru karena aku tahu adanya True Ending, aku bisa
menyimpulkan demikian.”
“Apa
katamu...!”
Si
Gembala mengulurkan tangan dan menempelkan kedua telapak tangannya di pipi
Mahiru. Meski hanya sentuhan, Mahiru merasakan tekanan dan kedinginan yang
tidak biasa. Rasanya seolah-olah dia sedang disentuh oleh mayat hidup.
“Biar
kuberikan sedikit petunjuk... atau mungkin lebih tepat disebut syarat dasar.
Aku akan berbagi fakta baru yang kusadari dalam kisah Cinderella kali ini. Aku
bisa mengetahui hal ini sepenuhnya berkat bantuanmu.”
“Apa
maksudmu?”
“Kesimpulannya,
tampaknya selama kisah Si Tudung Merah tidak diselesaikan dengan True Ending,
enam dunia lainnya hanya bisa diselesaikan dengan Normal Ending.”
“Hah?”
True
Ending berarti pemurnian kegilaan secara total. Berdasarkan kalimat “kembalikan
sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya” yang terukir di Grimm Note,
saat sebuah dongeng dikembalikan ke jalurnya, kisah tersebut akan sepenuhnya
terbebas dari kegilaan.
Sebaliknya,
dalam Normal Ending, pemurnian kegilaan hanya terjadi sedikit dan tidak
menyelesaikan masalah secara mendasar. Si Gembala pernah bilang bahwa Mahiru-lah
orang pertama yang berhasil membimbing Si Tudung Merah menuju True Ending.
“Biar
kujelaskan secara bertahap. Dalam kisah Cinderella yang kulihat selama ini,
Layla bukanlah sang Penyihir. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa dia
tidak bisa dikenali sebagai Penyihir.”
“Maksudmu
bagaimana...?”
“Sampai
sekarang, Cinderella memang selalu terkena dampak kegilaan, dan penyimpangan
serupa dengan yang kamu alami pun terjadi. Artinya, dunia itu berada di bawah
pengaruh Penyihir. Namun, tidak ada pemain lain yang bisa bertemu dengan sang Penyihir.
Tadinya kukira mereka hanya tidak bisa menemukannya, tapi sepertinya bukan itu
masalahnya. Mungkin bisa dibilang, sampai sekarang sang Penyihir dan para
pemain berada di dimensi atau lapisan yang berbeda dalam dunia yang sama.”
Mahiru
mengernyitkan dahi karena tidak bisa membayangkan maksud dari perkataan si Gembala.
“Heh,
pantas saja selama ini logika penalaran yang normal tidak mempan. Kamu tidak
terlalu paham, ya? Baiklah, agar orang bodoh sepertimu bisa mengerti... anggap
saja begini, selama ini aku dipaksa menyelesaikan teka-teki gambar yang
potongan-potongannya tidak lengkap.”
Si
Gembala berucap seolah merasa malu atas kegagalannya sendiri, namun Mahiru sama
sekali tidak mengerti arah pembicaraannya.
“Jangan
bicara berbelit-belit begitu. Intinya, dunia Cinderella kali ini adalah sesuatu
yang asing bagimu, dan itu terjadi karena aku berhasil menyelesaikan Si Tudung Merah
dengan sempurna, begitu ‘kan?”
“Tepat
sekali. Pintar juga kamu, aku senang kamu cepat mengerti.”
Melihat
si Gembala bertepuk tangan pelan di depan dadanya terasa sangat menyebalkan
bagi Mahiru. Namun, jika semua perkataannya benar, maka kejanggalan yang
dirasakan Mahiru selama ini berubah menjadi keyakinan.
“Aku
tidak terlalu paham... tapi bisa kusimpulkan kalau mulai sekarang kata-katamu tidak
bisa diandalkan lagi, hah?”
Si
Gembala selalu menyesatkan Mahiru dengan cara bicara seolah dia menguasai
segalanya di dunia ini, padahal kenyataannya, Mahiru sudah curiga sejak di dunia
Si Tudung Merah bahwa dia tidak tahu apa-apa soal hal-hal yang penting.
Pernyataannya
barusan semakin memperkuat pemikiran itu.
Terlebih
lagi, si Gembala sendiri mengaku tidak tahu cara untuk mencapai True Ending.
“Itu
sangat menyinggung perasaanku. Kepalaku berisi semua informasi tentang karakter
yang muncul maupun peta di setiap dunia, dan garis besar perkembangan dongengnya
pun tidak berubah. Bukannya informasi dariku terlalu berharga untuk dibuang
begitu saja?”
Si
Gembala tetap mempertahankan sikapnya yang merasa lebih unggul.
Namun
bagi Mahiru, tingkat kepercayaan yang tadinya rendah kini benar-benar terkubur
di dasar bumi.
“......”
Mahiru
mungkin harus meninjau kembali anggapannya terhadap Si Gembala. Meski sikap
wanita itu memang seperti itu, Mahiru menyadari bahwa secara tidak sadar dia
menganggapnya sebagai sosok yang lebih tinggi.
Rekan
apanya. Mustahil dia bisa menaruh perasaan selain muak pada orang yang tertawa
terpingkal-pingkal melihat kematian rekannya sendiri.
Dari
percakapan tadi pun, dia hanya tahu satu hal: Si Gembala sebenarnya tidak tahu
banyak tentang dunia dongeng melebihi imajinasi Mahiru sendiri.
Pada
akhirnya, Si Gembala tetaplah sosok yang tidak bisa dipercaya.
Begitu
Mahiru menarik kesimpulan itu dan menatapnya, wanita itu justru tampak sedang
dalam suasana hati yang bagus, seolah menganggap keheningan Mahiru sebagai
sebuah persetujuan.
“Mari
kembali ke topik. Berdasarkan hal itu, biar aku sampaikan pandanganku tentang
Cinderella. Ada dua alasan mendasar mengapa Elez Cendrillon harus mati.”
Si
Gembala mengangkat dua jari di samping wajahnya sambil melanjutkan
perkataannya.
“Pertama,
fakta bahwa Elez Cendrillon dan Penyihir Layla berbagi raga. Kendala fisik,
begitulah sebutannya. Selama jiwa Layla tidak bisa dipisahkan, tidak ada cara
lain.”
“Jangan
asal bicara. Aku tidak percaya pada kata tidak bisa darimu. Misalnya, bagaimana
kalau menggunakan Pemurnian untuk mengusir jiwa Penyihir itu?”
“Itu
adalah kekuatan yang hanya bisa menghancurkan kegilaan di bawah tingkat tertentu.
Mana mungkin bisa melakukan hal senyaman itu untuk menyerang jiwa, apalagi jiwa
sang Penyihir yang menjadi akar masalah. Jika ingin mencobanya, silakan saja,
tapi aku tidak akan menghiburmu jika kamu mati karena itu.”
Si
Gembala bangkit dengan gerakan tidak alami, seolah ditarik oleh benang.
Tubuh
Mahiru menegang melihat gerakan mendadak yang mengabaikan hukum fisika itu.
Tanpa sempat melawan, posisi mereka berbalik dalam sekejap. Kali ini, Mahiru-lah
yang berada di bawah tindihan si Gembala.
“Kedua,
plot cerita Cinderella yang kamu ketahui sebenarnya melambangkan kemalangan
sang tokoh utama. Diberi sihir oleh ibu baptis, pergi ke pesta dansa, lalu
memikat hati sang pangeran. Coba selaraskan plot itu dengan dunia yang
sekarang.”
Jari-jari
si Gembala menelusuri pakaian Mahiru, bergerak ke sana kemari seolah sedang
membelai.
Mahiru
berusaha keras mengabaikan sensasi itu dan memutar otaknya.
Pada
putaran sebelumnya, Elez pergi ke pesta dansa dan dijemput oleh Pangeran Kedua
untuk tinggal di istana. Mahiru tidak tahu apakah dendam Elez terbalaskan atau
tidak, namun wajah gadis itu tampak sangat putus asa, meskipun secara garis
besar dia telah meniti alur Cinderella yang Mahiru ketahui.
“...Hampir
sama dengan rute yang kita tempuh kali ini.”
“Tepat
sekali. Tapi sebagai syarat mutlak, membasmi Penyihir adalah hal wajib untuk
menyelesaikan permainan. Dengan rute itu, kamu tidak akan menyelesaikannya.
Kenapa? Karena itu berbeda dengan inti ceritanya. Ingat versi cerita lain yang
kuberi tahu tadi?”
Itu
adalah versi di mana para kakak tiri akhirnya kehilangan mata mereka.
Meski
tidak tahu apakah itu keinginan Elez atau bukan, kisah Cinderella bisa
diinterpretasikan sebagai sebuah cerita balas dendam, di mana seorang gadis
yang tertindas membalas dendam melalui sebuah pemicu.
Pangeran
di dunia itu juga diceritakan sebagai orang yang bejat, mirip dengan dunia
dongeng kali ini.
“Jadi,
dengan mempertimbangkan keberadaan Penyihir, plot ceritanya begini: pertama,
biarkan dia membalaskan dendam pada kedua kakak tirinya. Karena mereka hanyalah
manusia biasa, membunuh mereka itu mudah. Yah, meski tidak perlu sampai
dibunuh, setidaknya mereka harus disiksa sampai dendam Elez Cendrillon terpuaskan.
Lalu, berikutnya adalah... pembunuh ibu kandung Elez Cendrillon. Untungnya,
melalui putaran kali ini, kita sudah tahu siapa pelakunya.”
Si
Gembala menyeringai dan menunjuk tepat ke jantungnya sendiri.
Mahiru
mengerti maksudnya. Memuakkan, tapi dia paham.
Kepribadian
lain yang bersemayam dalam diri Elez, yaitu Layla, adalah sang Penyihir dunia
Cinderella sekaligus musuh yang membunuh ibu Elez.
Jika
benar seperti kata si Gembala bahwa Cinderella adalah kisah gadis Si Upik Abu
yang membalas dendam pada musuh yang ada di dalam dirinya, maka itu sejalan
dengan tujuan Mahiru untuk memurnikan kegilaan.
Artinya...
“Tidakkah
menurutmu bunuh diri akan menyelesaikan segalanya? Kamu tidak perlu mengotori
tanganmu, dan Elez Cendrillon bisa menuntaskan dendamnya. Bukannya itu akhir
yang luar biasa?”
“Jangan
bercanda!”
“Kamu
merasa aku sedang bercanda? Karena kamu memintaku bekerja sama dengan serius,
maka aku memberikan pendapatku. Aku menggabungkan informasi yang kamu dapatkan
dengan pengetahuanku untuk menuntunmu pada jawaban ini. Padahal aku bisa saja
berlagak penting dan terus menontonmu menangis lebih lama lagi, tahu? Tapi aku
tidak melakukannya. Aku merasa punya utang budi karena kejadian di dunia Si
Tudung Merah, jadi aku berniat menunjukkan ketulusanku. Namun, kamu malah
menuduhku bercanda.”
Setelah
berkata demikian, si Gembala berpura-pura menangis dengan suara yang
dibuat-buat.
“Itu
hanya interpretasi yang menguntungkanmu saja!”
Kenyataannya,
tidak ada jaminan apa pun. Jika itu yang dianggap sebagai cerita yang
seharusnya, maka cerita itu sudah hancur sejak awal. Itu hanyalah sebuah
tragedi.
“Terserahmu
saja. Kamu memang badut malang yang dipaksa menari di panggung yang penuh
kegilaan, tapi kamu bukan bonekaku. Hak memilih ada padamu.”
Si
Gembala berdiri lalu berputar dengan riang. Rumbai pada pakaian pelayannya
bergoyang. Dia meregangkan tubuh seolah-olah baru saja menyelesaikan pekerjaan
besar.
“Lagipula,
untuk kali ini, kukira kamu akan setuju.”
“...Apa?”
“Kukira
kamu tidak terlalu menyukai Elez Cendrillon.”
“M-Mana
mungkin...”
Kata-kata
Mahiru tercekat.
Dia
sempat ingin membantah, namun tidak ada kata-kata yang keluar.
Sebenarnya,
membantahnya itu mudah. Memang benar pada putaran pertama dia hampir ditusuk
pisau oleh Elez, dan pada putaran ketiga dia ditinggalkan demi balas dendam.
Namun...
“Kalau
maksudmu soal dikhianati, aku tidak mempermasalahkannya. Dalam kondisi ekstrem
seperti itu, wajar saja, apalagi ini dunia yang terjangkit kegilaan. Aku mati
sekali bukanlah masalah besar.”
Meski
Mahiru bicara dengan cepat, dia merasa seperti seorang terpidana yang sedang
membela diri; semakin banyak alasan yang dia berikan, semakin hilang
kredibilitasnya.
Seolah
menyadari apa yang ada di hati Mahiru, si Gembala hanya tersenyum tipis tanpa
berkata apa-apa.
Elez
adalah orang yang baik, sebenarnya dia perhatian, memiliki masa lalu yang
serupa, dan Mahiru merasa dia seperti teman, meski dia belum pernah punya teman
sebelumnya.
“Cobalah
kamu pastikan sendiri.”
“Pastikan
apa?”
Si
Gembala menyeringai.
“Misalnya,
adikmu menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Anggaplah itu sebenarnya
ulah iblis yang merasuk. Namun, iblis itu bukan merasuk ke adikmu, melainkan
kepadamu. Dengan merasukimu yang merupakan kerabat sedarahnya, dia menggunakan
kutukan untuk membuat adikmu sakit parah. Kenapa dia merasukimu dan bukan adikmu?
Sederhana saja. Tidak ada orang bodoh yang mau masuk ke raga yang sebentar lagi
akan mati. Tapi kemudian kamu menyadari, bahwa jika sang inang mati, maka iblis
itu pun akan ikut binasa.”
“Apa
sebenarnya yang ingin kau katakan?”
Mahiru
merasa semakin jengkel dengan perumpamaan panjang yang sangat gamblang itu.
“Dalam
situasi seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu
saja aku akan mati.”
“Ah,
aku sudah tahu kamu akan menjawab begitu. Dan kamu pasti akan mengakhiri
hidupmu tanpa keraguan sedikit pun sesuai ucapanmu. Kamu akan dengan senang
hati menyerahkan nyawamu demi menyelamatkan adikmu. Aku menyukai sisi dirimu
yang seperti itu.”
“Dan
aku membenci segala hal tentangmu.”
Setelah
dijelaskan sejelas itu, mau tidak mau Mahiru mengerti niat si Gembala.
Intinya,
dia diminta untuk memposisikan diri sebagai Elez. Sebagai orang yang memiliki
masa lalu serupa, Mahiru dianggap bisa memahami perasaan Elez lebih dari siapa
pun.
Mahiru
mencoba melakukan eksperimen pikiran yang lebih langsung.
Peramal
keparat yang telah mendorong orang tuanya hingga bunuh diri. Entah bagaimana,
jiwa orang itu dan Mahiru terhubung, hingga luka mereka pun saling berbagi.
Tentu saja, jika salah satu mati, nyawa yang satunya lagi pun akan ikut
melayang.
Jika
begitu, maka Mahiru akan... tidak, kesimpulannya sudah jelas, bukan? Dia tidak
mungkin mengutamakan dendam pribadi dan mati dengan meninggalkan Asahi yang
sedang sakit.
Namun,
seandainya Asahi tidak ada.
“...”
Mengajak
Elez untuk mengakhiri hidup memang terdengar buruk, namun jika dipikir sebagai
cara agar Elez bisa menuntaskan dendamnya, sudut pandangnya akan berubah. Lagi
pula, Mahiru adalah orang yang paling tidak berhak menyangkal arti sebuah
pembalasan dendam.
Dia
tahu lebih baik dari siapa pun bahwa dendam bukanlah sesuatu yang tidak berarti.
Jika
Elez mengambil keputusan yang sama seperti Mahiru, hal itu memang harus
dipastikan. Keinginan Elez, permohonannya. Sebagai sesama pendendam, apa yang
sebenarnya dia inginkan.
Seolah
menyadari apa yang ada di dalam hati Mahiru, si Gembala menyunggingkan senyum.
“Heh,
sepertinya kamu sudah memantapkan tekad.”
“Belum
tentu. Semua tadi ‘kan cuma spekulasi. Aku tidak akan tahu sebelum bertanya
langsung pada Elez.”
Mendengar
perkataan Mahiru, kali ini si Gembala membelalakkan matanya dengan heran.
“...Ah,
begitu rupanya. Aku tidak tahu apa kamu memang belum sadar setelah sejauh ini
atau hanya pura-pura tidak tahu, tapi sepertinya akan cukup menyenangkan
melihatmu dihadapkan secara langsung dengan kejanggalan yang kamu rasakan
sendiri.”
“Hah?”
“Heh,
jangan menatapku seserius itu. Bukannya kamu sudah menetapkan langkahmu? Kalau
begitu, ya sudah, tidak apa-apa ‘kan?”
Perkataannya
yang penuh teka-teki itu memang mengganggu, namun Mahiru rasa dia harus
memaklumi bahwa si Gembala memang makhluk yang seperti itu.
Seperti
katanya, langkah Mahiru sudah bulat. Dia perlu menanyakan niat yang sebenarnya
kepada Elez.
Jika
menuruti perasaan pribadinya, Mahiru ingin Elez bahagia.
Namun,
Mahiru tahu betul bahwa kebahagiaan bagi Elez, yang segala sesuatunya telah
dirampas, bukanlah kebahagiaan yang biasa. Standar kebahagiaan itu sudah lama
hancur. Nilai moral pun sama sekali tidak ada gunanya.
“Hehe,
kuharap segalanya berjalan semulus itu.”
“Berisik.
Cepat kirim aku ke sana.”
Mahiru
mengepalkan tinjunya kuat-kuat sembari berucap.
Si Gembala membolak-balik halaman buku seolah sedang menari, dan putaran keempat pun dimulai.