Putaran Pertama: Si Tudung Putih dan Hutan Tanpa Nama
Cahaya
merembes masuk. Mahiru mengusap matanya yang masih setengah sadar, dan hal
pertama yang tertangkap pandangannya adalah langit-langit kayu.
Udara
hangat dan jernih. Kicau burung. Debu pasir menumpuk di beberapa sudut lantai.
“Di
mana ini...?”
Dengan
ketegangan yang membuatnya sepenuhnya terjaga, Mahiru bangkit dan menoleh ke
segala arah.
Tampaknya
dia berada di sebuah ruangan kayu seluas kira-kira empat setengah tatami.
Tidak
ada perabot seperti kursi atau meja. Hanya sebuah jendela untuk memasukkan
cahaya, posisinya cukup tinggi, harus berjinjit dan mengulurkan tangan agar
nyaris bisa menyentuhnya, serta sebuah pintu yang mengarah ke luar. Ruangan itu
lebih menyerupai gudang.
“Sial!
Apa yang sebenarnya terjadi?”
Perkembangan
yang terlalu mendadak membuat kepalanya tidak mampu mengejar keadaan. Hal
pertama yang ingin dia curigai adalah kemungkinan ini hanya mimpi, tetapi
kesadarannya dan ingatannya terlalu jelas untuk disebut mimpi.
Namun
situasinya sendiri terlalu tidak nyata. Dia membuka buku asing di perpustakaan
lembaga pembinaan anak, lalu berada di ruang putih bersama wanita aneh itu, dan
kini tiba-tiba dipindahkan ke ruangan kayu. Tidak masuk akal.
“Ck...”
Tapi
jika dia tidak bergerak, keadaan tidak akan berubah.
Untuk
sementara, dia memeriksa isi ruangan.
Di
sudut ruangan yang kosong itu, ada tiga benda yang diletakkan secara tidak
wajar.
Yang
pertama adalah senapan berburu. Dia mengintip ke dalam larasnya. Tampaknya
sudah terisi satu peluru.
Yang
kedua adalah sebuah buku tebal dengan hiasan megah. Mirip dengan yang dibawa si
Gembala, meski hiasannya sedikit lebih sederhana.
“Grimm
Note”
“Grim...
not... begitu bacanya, ‘kan?”
Mahiru
menelusuri judul yang terukir di sampulnya dengan jari, lalu membacanya dengan
ragu.
Ada
daya tarik ganjil pada buku itu yang membuatnya sulit berpaling. Sensasinya
sama seperti saat dia menemukan buku Si Tudung Merah di perpustakaan.
Seolah
ada sesuatu yang mengusap jantungnya, ketegangan yang tidak nyaman.
Jika
dia membuka buku ini, sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali akan dimulai.
Dengan
firasat itu, dia memberanikan diri membalik halamannya.
Namun
hasilnya justru mengecewakan.
“Tidak
ada apa-apa.”
Yang
ada hanya halaman-halaman putih polos.
Satu-satunya
tulisan terdapat di punggung buku, sebuah kalimat dalam bahasa Inggris.
“I
wish what should be where it should be”
“Ai...
wis... wat... syud... bi... we-er... it... syud... bi... Semua katanya pernah
kulihat, tapi artinya nggak ngerti sama sekali.”
Dia
memiringkan kepala sambil membacanya keras-keras.
Sayangnya,
Mahiru bahkan tidak menamatkan SMP dengan benar, apalagi SMA. Menguraikan kalimat
itu mustahil baginya. Dia tidak paham apa maksudnya.
Jika
diperhatikan lebih dekat, ada tulisan lain dalam bahasa Inggris di halaman
sebelah.
Chapter
1—Record
Chapter
2—Purification
Chapter
3—Storage
Chapter
4—???
“Chapter
satu itu Record. Tiga itu Storage... ya?”
Kalau
diterjemahkan, Chapter berarti bab. Record mungkin catatan. Storage mungkin
penyimpanan.
Tiga
kata itu cukup umum hingga Mahiru masih bisa menebaknya.
Namun
Purification? Dia bahkan tidak punya gambaran. Pasti kosakata tingkat tinggi.
Benda
terakhir yang diletakkan di sana adalah mantel luar berwarna khaki.
Kainnya
tipis, tampak kotor dan sudah lama dipakai. Mengingatkannya pada pakaian
pemburu. Mungkin dia berpikir begitu karena ada senapan di ruangan ini. Saat dia
mengambilnya, bau anyir binatang menusuk hidungnya.
“Sial...
ini sebenarnya tempat apa sih... huh?”
Barulah
saat itu Mahiru menyadari pakaian yang dia kenakan telah berubah.
Hoodie
abu-abu, celana olahraga longgar, dan sepatu kets usang.
Itu
semua adalah pakaian yang biasa dia kenakan sebelum masuk lembaga pembinaan
anak. Bahkan ada noda kecap di lengan bajunya. Tidak mungkin salah.
“Hei,
Gembala! Jawab aku! Ini di mana sebenarnya!?”
Wanita
itu memang menyeramkan dan aneh, tapi berada sendirian seperti ini justru lebih
menakutkan.
Tempat
yang asing. Pakaian yang tidak dia ingat pernah kenakan. Mantel. Senapan. Buku
misterius.
Dia
tidak tahu tujuannya. Tidak ada informasi untuk menebaknya. Tidak bisa meminta
pertolongan. Dia benar-benar sendirian.
Mahiru
terduduk dan menghela napas panjang.
“Sialan...!
Harus gimana sekarang?”
Orang
bilang menghela napas akan mengusir kebahagiaan. Tapi adakah kebahagiaan dalam
dirinya yang layak untuk disesali jika pergi?
Sejak
awal, tidak pernah ada banyak pilihan baginya.
Semua
yang membawanya ke sini tidak masuk akal. Dari cara bicaranya, jelas wanita psikopat
mencurigakan itu yang membawanya.
Namun
tanpa penjelasan, apa yang harus dia lakukan? Terlalu tidak ramah. Meski kesal,
dia sadar tidak ada yang berubah jika hanya diam di sini.
Dari
ruangan empat setengah tatami ini, bahkan tidak bisa mengintip pemandangan
luar. Hanya dari cahaya yang masuk lewat jendela dia tahu sekarang siang hari.
Informasi yang bisa didapat dari ruangan ini sudah habis.
Mahiru
mengambil Grimm Note dan senapan, lalu mengenakan mantel sebelum keluar.
Saat
itulah dia melihat noda merah kehitaman membentang dari lantai menuju pintu.
Noda seukuran telapak tangan. Tampaknya belum terlalu lama.
“Apa
lagi ini...”
Dengan
tekad bulat, dia memutar gagang pintu dan membukanya.
Angin
segar langsung menyapu rambut hitamnya.
Sambutan
mendadak dari matahari membuatnya refleks menutupi mata dengan lengan.
Aroma
yang terbawa angin adalah bau pepohonan, bau yang pernah dia cium saat kecil.
Setelah
matanya menyesuaikan diri dengan cahaya, pandangannya dipenuhi pemandangan
hutan yang indah.
“Di tengah hutan...”
Merasa
muak pada dirinya sendiri yang bisa dibuat kehilangan kewaspadaan hanya karena
hal sepele seperti itu, Mahiru membanting pintu gubuk dengan kasar. Jalan yang
membentang dari gubuk menuju hutan di hadapannya bahkan tidak pantas disebut
jalan, hanya setapak yang dibentuk oleh jejak binatang. Namun selain itu, tidak
ada rute lain yang tampak bisa dilalui.
Dengan
pasrah, dia melangkah maju, menginjak rerumputan dan semak yang tumbuh liar
dari tanah.
Syuuh, syuuh.
Pepohonan
menggoyangkan tubuh raksasanya seakan tengah menari.
Kep, kep, kep.
Seekor
kupu-kupu terbang dengan lintasan sembarang, seolah mengejek.
Cah, cah, cah.
Matahari
bersinar lembut, seperti mengawasi langkah Mahiru.
Gemerisik.
Anak
sungai mengalir lapang, seakan mendorong punggungnya untuk terus berjalan.
Setelah
beberapa waktu menyusuri hutan, akhirnya dia tiba di sebuah jalur yang layak
disebut jalan. Tidak diaspal atau dirawat secara khusus, namun jelas sering
dilalui orang.
“Persimpangan...”
Tidak
lama setelah keluar ke jalan itu, dua arah terbentang di hadapannya.
Jalan
kiri menanjak menuju pegunungan.
Jalan
kanan membentang sempit, mengikuti aliran sungai kecil.
Mahiru
memilih jalur menanjak di sebelah kiri. Dia khawatir, mungkin ada hewan buas
yang berkeliaran di dekat sungai.
Beberapa
langkah kemudian, kilasan putih bersih melintas di depan matanya.
Langkah-langkah
ringan yang teratur dan riang. Rok yang berayun lembut.
“Seorang
gadis...?”
Melihat
manusia pertama di dunia ini, Mahiru tanpa sadar langsung berlari
menghampirinya.
*
* *
Gadis
yang menoleh saat dipanggil itu membuat Mahiru terpaku.
Di
tangannya tergenggam keranjang anyaman cokelat. Di kepalanya terpasang tudung
putih. Sepasang mata berwarna zamrud memandang lurus padanya. Rambut pirangnya
jatuh hingga sebatas bahu. Usianya barangkali baru 15 atau 16 tahun, tubuhnya
mungil, wajahnya manis. Dia tampak begitu fantastis, seolah penghuni negeri
dongeng.
Tidak,
mungkin bukan seolah. Sosoknya terasa begitu familiar.
Tidak
peduli bagaimana dia mencoba menyangkal, bayangan seorang tokoh tertentu muncul
dalam benaknya. Di dunia asalnya, tokoh itu digambarkan secara terdistorsi
dalam buku bergambar. Rambut pirang itu. Tudung putih yang kelak akan ternodai
merah. Keranjang yang kini digenggamnya.
“...Tudung
Merah.”
Itulah
ingatan terakhir sebelum dia terseret ke dunia ini. Buku cerita yang dia ambil
di perpustakaan. Dongeng yang telah kehilangan kewarasannya.
“Eh?
Merah dari mana? Ini putih. Putih sekali.”
Gadis
itu mencubit ujung tudung putihnya, memiringkan kepala sambil bersikeras.
“Ah,
bukan begitu maksudku... ya, cocok kok. Tudung putih itu.”
Sambil
menggaruk tengkuknya untuk menutupi kegugupan, Mahiru berbicara dengan
canggung.
“Hah.
Tapi warna merah juga sepertinya bagus, ya. Rasanya lebih pas. Ngomong-ngomong,
Kakak ini siapa sebenarnya?”
“Siapa...
ya, siapa...”
Di
dunia ini, sebenarnya dia ini siapa?
Bahkan
di mana dia berada pun dia tidak tahu. Di tengah hutan. Pakaian gadis itu jelas
bukan pakaian Jepang.
Kalau
dilihat sekilas, mungkin seperti negeri asing di Eropa. Tapi entah kenapa
rasanya juga berbeda. Yang paling mencolok, penampilannya seperti keluar dari
dunia fantasi. Dunia lain? Namun suara burung yang terdengar terasa familiar.
Tumbuhan di sekitarnya pun tidak ada yang aneh atau ganjil. Semuanya terasa
campur aduk. Tapi saat dia mengingat keberadaan gadis ini dan kejadian sebelum
bertemu si Gembala itu, samar-samar mulai terangkai sesuatu di benaknya.
Siswa
kelas dua SMA. 17 tahun. Mantan penghuni lembaga pembinaan anak. Jadi, siapa
dirinya sebenarnya?
Pertanyaan
yang mungkin takkan pernah menemukan jawaban berputar-putar di kepalanya.
“Pakaiannya
aneh ya. Seragam kerja khusus? Tapi... hmm... ah, jangan-jangan, Kakak ini pemburu?”
Mungkin
dia menyimpulkannya dari senapan yang dibawa Mahiru.
Kalau
itu membuatnya puas, Mahiru memutuskan untuk mengikuti alurnya saja.
“Yah,
kurang lebih begitu. Aku ke sini buat berburu, tapi malah tersesat.”
“Oh,
begitu begitu. Kalau belum terbiasa, daerah sini memang membingungkan. Hasil
buruan Kakak... dari kelihatannya sih belum ada, ya?”
“Ya,
begitulah. Ngomong-ngomong, kamu sendiri ngapain di tempat begini?”
“Jangan
panggil ‘kamu’, dong. Namaku Maisy. Maisy Carmine. Boleh kok panggil aku Nona
Maisy.”
Maisy
mencondongkan tubuh, menatap wajah Mahiru. Lalu Anda siapa? sorot matanya
bertanya.
“Aku
Mahiru. Misora Mahiru. Salam kenal, Maisy.”
“Wah,
langsung panggil nama saja, ya.”
“Salam
kenal, Nona Maisy.”
“Eh,
pakai ‘Nona’ segala, Kakak waras tidak sih?”
“Lalu
maunya apa?”
Melihat
wajah Mahiru yang benar-benar kebingungan, Maisy tertawa terpingkal-pingkal
sambil memegangi perutnya.
Mahiru
sendiri tidak mengerti bagian mana yang lucu, tapi bagi gadis itu tampaknya
sangat menggelitik.
“Maisy
lagi apa di sini?”
“Aku
mau pulang. Tadi beli pai apel di kota, sekarang mau minum teh bareng Nenek.”
Maisy
menggoyangkan keranjang yang ditutup kain merah.
Kalau
dipikir-pikir, sejak tadi memang tercium aroma manis dan harum yang menggoda.
Melihat
sumber bau itu, Mahiru baru sadar sudah cukup lama dia tidak makan apa-apa. Krrruuuk. Perutnya berbunyi menyedihkan.
“Hei!
Jangan pasang wajah seperti itu! Aku tidak akan membagikannya, oke!? Ini untuk
Nenek!”
Maisy
mengembungkan pipi, menatap lurus ke arah perut Mahiru.
“Aku
tidak minta. Aku memang belum makan.”
“...”
Maisy
menatapnya dengan pandangan menyipit dan curiga.
Tatapan
seperti sedang menilai itu membuat Mahiru merasa tidak nyaman, tubuhnya sedikit
beringsut gelisah.
“Ngomong-ngomong,
berapa lama dari sini ke kota terdekat?”
“Kalau
mau turun gunung sebelum matahari terbenam, itu mustahil.”
“Begitu
ya. Berarti untuk sekarang memang harus ke sana...”
“Kamu
serius?”
“Hah?”
“Belakangan
ini kabarnya ada serigala pemakan manusia berkeliaran. Apa kamu bisa
mengalahkannya, Mahiru-san?”
“...Entahlah.”
Mahiru
melirik senapan di punggungnya dengan senyum pahit.
Seumur
hidup, dia belum pernah benar-benar menggunakan senjata api. Pistol pernah dia
sentuh, tapi hanya sekadar menyentuh, bukan berarti bisa mengoperasikannya.
“Ah,
tidak mungkinlah. Serigala itu kadang turun sampai ke kota, makan santai, lalu
kembali lagi ke hutan. Pasti gesit sekali dan sangat cerdas.”
Kalau
dia bisa menemukan serigalanya lebih dulu, mungkin masih ada peluang. Selain
itu, rasanya bahkan tidak akan jadi pertarungan. Menembak target yang bergerak
pasti sangat sulit. Dia pun tidak yakin bisa tetap tenang saat mengangkat
senapan.
“Selain
itu, kadang beruang juga muncul.”
Wajah
Mahiru makin lama makin muram.
Krrruuuk. Sebagai
ganti jawaban, perutnya berbunyi lagi.
“Haa...
Terpaksa deh.”
Sambil
memainkan ujung rambutnya dan memalingkan wajah, Maisy menyodorkan keranjangnya
ke arah Mahiru.
“Hah?
Buatku?”
“Bukan!
Bukan berarti aku mau bagi! Tolong bawa. Angkut. Kalau sudah sampai rumah dan
Nenek mengizinkan, aku bagi sedikit. Mungkin kamu juga boleh menginap. Kamarnya
kosong, kok.”
Maisy
berbicara cepat, wajahnya tampak agak malu.
“Oh
ya, ada syarat lain. Butter cake. Itu kesukaanku. Ingat baik-baik, ya. Nanti aku
minta sebagai ganti pai apel. Tukar tambah.”
Masih
dengan wajah berpaling, Maisy mengangkat sedikit pandangannya, penasaran dengan
reaksi Mahiru. Mahiru tersenyum lembut lalu berkata, “Wah, terima kasih. Maisy
baik sekali.”
“Hah!
Aku tidak baik, ya! Cuma kebetulan butuh tukang angkut saja! Sekalian bisa
dapat makanan favorit juga, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!”
“Ya,
ya.”
“Eh,
kenapa tatapanmu lembut begitu? Menyebalkan sekali.”
“Entah
kenapa kalau ngobrol sama Maisy itu... ah, tidak jadi.”
Dia
hampir saja keceplosan mengatakan, mengingatkanku pada adikku.
Asahi
jauh lebih kalem, sama sekali tidak mirip gadis manja yang jelas-jelas keras
kepala ini. Kalau dipaksa mencari kesamaan, mungkin hanya satu, entah kenapa
mereka sama-sama membangkitkan naluri ingin melindungi. Sudah lama dia tidak
melihat wajah adiknya. Mungkin karena itu dia jadi sedikit sentimental.
“Ih,
bikin penasaran saja. Tapi pasti bukan hal penting... ayo, kita berangkat,
Kakak tukang angkut. Jangan coba-coba mencicipi di jalan, ya.”
Dengan
senyum jahil seperti anak kecil, Maisy yang kini bebas dari beban melangkah
lebih dulu memimpin jalan.
Langkah
kakinya ringan dan seperti sedang menari, dan ketika Maisy memintanya untuk
mempercepat langkah, mereka berdua mengikutinya, berjalan menuju rumahnya.
*
* *
Di
dalam buku cerita itu, kalau tidak salah, Tudung Merah membawa roti dan susu.
Seorang
gadis bertudung putih. Hutan. Keranjang. Rumah tempat nenek menunggu. Detailnya
memang berbeda, namun untuk memahami dunia ini, kisah “Tudung Merah” yang
pernah dia baca di perpustakaan lembaga pembinaan anak tidak mungkin diabaikan
begitu saja.
Jika
gadis ini benar-benar bertumpang tindih dengan cerita itu, maka yang menanti di
ujung sana adalah akhir yang mengenaskan. Titik akhir kegilaan yang berlumur
darah dan duka. Sebuah kisah tentang seorang gadis malang yang tidak memiliki
harapan keselamatan.
Meski
perasaan cemas yang samar menyelusup di dadanya, Mahiru terus berjalan
menyusuri hutan sambil mengobrol dengan Maisy. Tidak lama kemudian, di sebuah
tanah lapang, berdirilah sebuah rumah beratap merah, sendirian.
Bukan
bangunan baru, tetapi dari luar pun terlihat jelas bahwa rumah itu dirawat
dengan baik. Besarnya cukup untuk dihuni satu keluarga, rumah yang kokoh dan
layak.
Jika
menemukannya di tengah malam, mungkin orang akan ragu untuk mengetuk pintunya
karena aura ganjil yang menyelubunginya. Namun Maisy tersenyum lebar penuh
kegembiraan dan membuka pintu tanpa ragu. Engselnya berderit pelan.
Bahkan
sebelum sang pemilik rumah sempat menyambut, Maisy sudah berlari masuk dan
memeluk neneknya dengan penuh semangat, namun tetap dengan sentuhan lembut yang
penuh perhatian.
“Yay!
Nenek, aku pulang!”
Suaranya
mendadak berubah manja, begitu berbeda dari sebelumnya hingga sulit dipercaya
itu orang yang sama.
Sang
nenek menyambutnya dengan senyum hangat.
Rambutnya
telah memutih seluruhnya. Pakaiannya sederhana dan bersih. Pinggangnya sedikit
membungkuk, namun sinar kehidupan masih terpancar kuat darinya.
“May-chan
selalu ceria, ya.”
“Iya!
Hari ini pun aku tetap sehat dan imut!”
“Tentu
saja, seperti biasa kamu sangat menggemaskan. Oh, keranjang itu...”
“Iyaaa!
Aku beli pai apel! Nenek suka sekali, ‘kan? Kupikir Nenek pasti senang!”
Maisy
dan neneknya, Olivia, berbincang riang merayakan pertemuan mereka.
Mahiru
berdiri di luar pintu, memandang pemandangan itu dengan senyum tipis.
“Terima
kasih selalu, ya. Nenek jadi tidak sabar ingin mencicipinya. Ngomong-ngomong,
May-chan, anak laki-laki berpakaian aneh itu siapa?”
Olivia
mengalihkan pandangannya pada Mahiru. Bukan nada terkejut karena melihat tamu
asing, melainkan lebih heran karena Maisy membawa orang lain ke rumah.
“Oh,
dia cuma tukang angk... maksudnya, dia kelihatannya sedang kesulitan, jadi aku
menolongnya! Sepertinya dia lapar sekali, jadi kupikir mungkin bisa makan
bersama. Lagipula, kalau ada tenaga pria, pasti lebih membantu!
“Aku
ini gadis baik hati, lho!” katanya sambil membusungkan dada.
Bagi
Mahiru, yang sudah bersyukur hanya karena akan diberi makan, senyum tipis itu
terasa cukup.
“Wah,
kasihan sekali. Namaku Olivia. Senang berkenalan.”
“Mahiru.
Senang berkenalan juga, Olivia-san.”
“Oh,
sopan sekali. Tutup pintunya dan kemarilah. Nenek siapkan teh.”
Mahiru
mengangguk ringan dan melangkah masuk ke rumah Maisy.
Perapian
dari batu bata. Langit-langit tinggi. Di ruang tamu terdapat meja yang bisa
diduduki enam orang. Dapurnya pun luas dan rapi. Peralatan makan tertata bersih
di lemari, dan pakaian yang telah dijemur tergantung di kursi goyang. Rumah itu
memiliki kehangatan yang pas, nyaman dan terasa hidup.
“Rumahnya
indah sekali.”
“Terima
kasih. Tinggal berdua dengan May-chan memang terasa luas dan membersihkannya
cukup merepotkan, tapi rumah ini nyaman.”
Sementara
Mahiru terpukau memandangi interiornya, Olivia sudah sibuk menyiapkan jamuan
teh. Dia menata tiga cangkir dan menuangkan teh dengan cekatan.
“Kalian
tinggal berdua saja?”
Mahiru
sempat mengira ada anggota keluarga lain.
Dari
jumlah kursi, peralatan makan, hingga banyaknya ruangan di bagian dalam, rumah
ini tidak terasa seperti hanya dihuni dua orang.
Yang
menjawab pertanyaannya justru Maisy.
“Ada
Ayah dan Kakak juga. Sekarang cuma sedang pergi saja.”
“...Ah,
ya. Benar juga,” sahut Olivia pelan.
“Duh,
Nenek belakangan ini pelupa sekali, ya? Nenek masih ingat aku, ‘kan? Tidak
lupa, ‘kan?”
“Mana
mungkin lupa? Sekalipun Nenek melupakan segalanya, May-chan tetap akan Nenek
ingat.”
“Kalau
begitu tidak apa-apa. Kalau sampai lupa, aku bisa menangis, lho!”
Maisy
mengembungkan pipinya, memperingatkan dengan cara yang justru tampak manis.
Lalu
dia menoleh pada Mahiru dengan tatapan tajam, mungkin karena sedikit malu.
“Ngomong-ngomong,
Mahiru-san, kenapa berdiri saja? Jangan biarkan Nenek bekerja sendiri. Tolong
bantu.”
Sebagai
tamu yang diberi tempat menginap dan makanan, Mahiru jelas tidak punya hak
menolak.
“Baiklah,”
jawabnya ringan, lalu berdiri di samping Olivia.
Namun
pai apel sudah dipotong rapi dan siap disajikan. Tidak ada lagi yang bisa dia
bantu. Persiapan pun selesai, dan tatapan menyipit Maisy terasa menusuk.
Maisy
dan Olivia duduk berhadapan, sementara Mahiru duduk di samping Maisy.
Jamuan
teh senja hari. Bintang utamanya tentu pai apel yang dibeli Maisy.
Pai
yang dikeluarkan dari keranjang itu memiliki kualitas yang membuat orang ingin
bertepuk tangan. Kulitnya dipanggang hingga keemasan, irisan apel tersusun rapi
di atasnya. Taburan kayu manis di permukaan menambah kesan elegan. Dari
tampilannya saja sudah terasa betapa telitinya sang pembuat.
“Hmm~
memang aku hebat. Pilihan yang luar biasa! Enak sekali, ‘kan!?”
“Benar
sekali. Toko baru, ya? Kamu menemukan tempat yang bagus.”
Melihat
Maisy tersenyum puas sambil mengangkat garpunya, Olivia tersenyum lembut.
Mahiru
memotong sepotong kecil dan memasukkannya ke mulut.
“Enak.”
“Ya,
‘kan! Luar biasa, bukan? Kualitasnya tidak kalah dengan yang biasa kubuat!”
“Maisy
bisa memasak?”
“Ada
masalah?”
“Bukan
begitu. Cuma tidak menyangka saja.”
“Eh?
Kenapa reaksimu seperti tidak percaya?”
“Bukan
maksudku meremehkan. Hebat. Bisa memasak, punya kebaikan hati menolong orang
asing, dan juga imut. Sempurna, ya.”
Dengan
nada datar seperti biasa, Mahiru merangkai pujian demi pujian.
Seharusnya
dia sedang memuji, namun yang dia terima justru tatapan menyipit penuh curiga
dari Maisy.
“Eh,
kasar sekali. Baru kali ini aku dapat pujian yang hanya dibuat-buat.”
“Cuma
kupikir masakanmu kelihatannya asal-asalan, tapi ternyata lumayan juga.”
“Hah?
Lumayan katanya!? Aku ini jago sekali, tahu! Jadi itu isi hatimu sebenarnya!?
Dasar tidak bersyukur!”
“Aku
bersyukur, kok.”
“Tidak
terasa sama sekali kalau kamu bersyukur!”
“Hehe,
kalian berdua akur sekali, ya.”
Melihat
adu mulut Mahiru dan Maisy, Olivia tersenyum hangat.
Reaksi
keduanya bertolak belakang.
“Kurasa
kami cocok.”
“Sama
sekali tidak cocok!!”
Maisy
mengembungkan pipi. “Aku tidak suka orang ini,” katanya seolah ngambek.
Meja
makan itu terasa begitu damai, sampai-sampai membuatnya hampir lupa pada
keadaan mereka.
Sebuah
rumah hangat yang berdiri di tengah hutan yang subur. Maisy yang walau
ucapannya tajam tetap saja baik hati. Olivia yang lembut dan penuh kehangatan.
Awalnya Mahiru tidak tahu apa yang akan menantinya, tetapi dia ternyata
dipertemukan dengan orang-orang yang baik.
Satu
hal yang mengganjal hanyalah dongeng Tudung Merah yang dia baca sebelum datang
ke sini. Entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa kisah itu
berhubungan dengan dunia ini. Melihat rumah ini justru semakin memperkuat
kecurigaannya.
Jika
memang benar demikian, bukankah berarti dia akan berhadapan dengan sosok itu?
Binatang
pemakan manusia yang disebut Maisy di perjalanan.
Dalam
dunia dongeng, tokoh antagonisnya sudah jelas. Jika berbicara tentang musuh
dalam kisah Tudung Merah, jawabannya hanya satu.
Dan
jika mengingat versi mengerikan yang dia baca di perpustakaan.
“Olivia-san.
Di hutan ini memang ada serigala pemakan manusia, ya?”
“Ya.
Belakangan ini memang sering terdengar rumor yang tidak menyenangkan.”
“Apa
semuanya baik-baik saja? Maksudku, ada langkah pencegahan atau semacamnya? Di
sekitar sini sepertinya tidak ada rumah lain. Kalau sampai diserang, pasti
berbahaya.”
Dia
tidak bisa tidak waspada. Rasanya mustahil semuanya ini kebetulan belaka.
“Kami
punya jimat penolak serigala, kok.”
“Tuh,”
Maisy mengisyaratkan dengan dagunya. Di samping perapian, bersandar sebuah
gunting raksasa. Gunting perak setinggi dada Maisy. Mengangkatnya saja pasti
sudah berat. Disebut jimat, tetapi ketajamannya tampak mampu merobek kulit
hanya dengan sentuhan.
“Benda
itu benar-benar manjur?”
“Ada
kepercayaan bahwa serigala membenci gunting. Semua orang di sekitar sini pasti
punya. Dengan gunting sebesar itu, serigala pasti tidak berani mendekat.”
Dia
paham soal kepercayaan turun-temurun, tapi gagasan bahwa semakin besar
guntingnya semakin ampuh terdengar terlalu sederhana.
“Orang-orang
di kota juga punya?”
“Ya,
kurasa begitu.”
Tadi
Maisy bilang serigala itu kadang turun ke kota dan memangsa manusia.
Kalau
benar ada korban, wajar saja kalau Mahiru meragukan keampuhan gunting itu.
Jimat biasanya tidak lebih dari penenang hati. Namun mungkin, bagi orang-orang
di dunia ini, benda itu memiliki makna lebih dari sekadar simbol.
“Aku
sendiri belum pernah melihat serigala. Tapi karena ada korban, mungkin memang
benar-benar ada.”
“Ya,
lebih baik tidak pernah bertemu.”
“Kalau
soal belum pernah lihat, justru rumor yang satu lagi lebih menakutkan
menurutku. Setidaknya serigala itu jelas wujudnya, jadi mungkin masih bisa
dihadapi, bukan?”
“Tidak
juga. Justru karena bisa dibayangkan, jadi makin menyeramkan. Rumor apa lagi?
Masih ada yang lebih gawat?”
“Entah
gawat atau tidak, tapi katanya... di hutan ini ada penyihir.”
“Penyihir?”
Dalam
dongeng pun, itu sosok antagonis yang tidak kalah terkenal.
Kadang
mengubah pangeran menjadi katak, kadang menidurkan putri dalam tidur abadi,
kadang menculik anak-anak untuk disantap.
“Iya.
Katanya, dia akan mengabulkan permintaan apa pun, tapi sebagai gantinya dia akan
mengambil hal yang paling berharga dari orang itu.”
Barangkali
hanya cerita untuk menakut-nakuti anak-anak agar patuh. Mahiru teringat masa
kecilnya, saat ibunya berkata, “Kalau tidak cepat tidur, nanti setan datang.”
Lagipula,
dalam kisah Tudung Merah seharusnya tidak ada penyihir. Baik dalam buku yang dia
baca sebelum bertemu si Gembala maupun dalam versi aslinya, tokoh itu tidak muncul.
“Ah,
cuma rumor. Rumor saja. Kalau Mahiru-san, apa yang akan kamu minta? Katanya
bisa mengabulkan apa saja, lho.”
Apa
saja. Jika diberi pilihan seperti itu, hanya satu yang terlintas di benaknya.
Tolong
selamatkan adikku, Asahi.
Jika
permintaan itu benar-benar hendak dikabulkan, apa harga yang harus dia bayar?
Hal
yang paling berharga baginya. Selain Asahi, tidak ada yang lain.
Karena
itu, bayaran itu tidak boleh berupa dirinya. Kalau nyawanya sendiri cukup
sebagai tebusan, Mahiru pasti akan bersujud tanpa ragu di hadapan sang
penyihir. Tapi jika dia menghilang, Asahi pasti akan bersedih. Dia anak yang
sangat baik.
Sudahlah.
Memikirkan kemungkinan semacam itu hanya akan membuat hati terasa hampa.
“Dengan
syarat seperti itu, mana mungkin ada yang mau membuat permintaan.”
Keinginan
yang benar-benar ingin diwujudkan tidak seharusnya diserahkan pada orang lain.
Mahiru
tahu betul hal itu.
“Jawaban
yang membosankan. Pantas saja Mahiru-san tidak populer.”
“Berisik.
Kalau kamu, Maisy, mau minta apa?”
“Hmm~
aku ingin makan butter cake sepuasnya!”
Membayangkan
permintaan itu terkabul, Maisy tersenyum puas, pipinya mengendur bahagia.
Sederhana
sekali.
“Ngomong-ngomong,
kira-kira boleh minta berapa kali, ya?”
“Kamu
masih kepikiran makanan?”
“Aku
tidak bilang soal makanan, ‘kan?”
“Lalu
apa?”
“Aku
juga suka Bakewell tart, lho~”
Ternyata
tetap soal makanan. Mahiru bahkan tidak punya tenaga untuk menyela lagi. Dia
tidak tahu apa itu Bakewell tart, tapi pasti sejenis kue.
Maisy
memasukkan sepotong pai apel ke mulutnya dengan wajah riang.
Setelah
itu mereka terus berbincang ringan tanpa topik penting, hingga jamuan teh pun
berakhir.
*
* *
Malam
ini dia akan menginap di rumah Maisy.
Malam
di pegunungan begitu dingin. Di rumah, mereka tampaknya akan segera menyalakan
perapian, maka Mahiru dan Maisy pergi ke hutan untuk mengumpulkan ranting.
Sepertinya mereka kekurangan ranting-ranting kecil yang dibutuhkan agar api
bisa merambat ke kayu bakar yang lebih besar.
Sekitar
mereka remang-remang, dan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu di
langit malam. Udara khas pegunungan yang menggigit, ditambah lolongan binatang
yang membangkitkan rasa takut. Di bawah sabit bulan yang bersinar terang,
Mahiru dengan keranjang punggungnya berjalan berdampingan dengan Maisy yang
tampak tak puas.
“Kenapa
aku juga harus melakukan hal beginian sih? Jangan-jangan Mahiru-san tidak
berguna, ya? Sudah numpang makan gratis, numpang menginap, masih menyuruhku
bekerja juga? Begitu, ya?”
Mengumpulkan
kayu untuk dibakar bukanlah masalah, tetapi Mahiru yang hidup di Jepang modern
tidak punya pengetahuan tentang hal-hal seperti ini. Saat dia kebingungan,
Olivia menyarankan agar dia mengajak Maisy.
Meski
merasa tidak enak, Mahiru yang memang tidak tahu harus berbuat apa sendirian
akhirnya meminta Maisy menemaninya.
“Maaf,
aku benar-benar kurang pengetahuan soal beginian.”
“Padahal
kamu pemburu?”
“Hei,
jangan remehkan pemburu.”
“Lho,
kenapa jadi ke situ? Yang kuremehkan itu Mahiru-san, tahu.”
Diremehkan
rupanya. Meski begitu, itu masih lebih baik daripada dicurigai macam-macam.
“Ah,
jangan-jangan kamu bohong cuma supaya bisa berdua saja denganku⁉ Meski aku memang imut,
menurutku itu tetap kelakuan buruk.”
“...Setiap
saat percaya diri sekali. Itu datangnya dari mana, sih? Rantingnya biar aku
saja yang ambil semua, Maisy tinggal kasih arahan saja.”
“Ya
tentu saja. Mahiru-san harus bekerja rajin seperti kuda penarik kereta.”
Matanya
mulai terbiasa dengan gelap. Mahiru berjongkok dan memungut ranting yang
bentuknya kira-kira cocok. Dia belum pernah melihat perapian menyala secara
langsung, tetapi setidaknya dia punya gambaran umumnya.
“Maisy,
yang begini sudah oke?”
“Jelas
tidak. Sama sekali tidak. Ranting basah seperti itu mana mungkin bisa terbakar?
Itu sih akal sehat. Kamu ini bodoh, ya?”
“Kalau
dipikir-pikir... benar juga. Jadi itu patokannya, ya. Maisy memang pintar.”
“Yang
seperti ini mah biasa saja. Cuma Mahiru-san saja yang terlalu bodoh.”
“Itu
juga tidak bisa kubantah.”
Setelah
ditegur, Mahiru mencari ranting kecil yang kering dan memasukkannya ke
keranjang punggung. Dia duduk sambil tetap mengenakan keranjang dan terus
mencari ranting. Pekerjaan sederhana, tetapi melelahkan. Memang mungkin terlalu
kejam kalau menyuruh Olivia melakukan ini.
“...Eh,
reaksimu menjijikkan. Tidak mau membalas sedikit pun? Tidak apa-apa kamu
diperlakukan seenaknya oleh gadis yang lebih muda? Jadinya aku seperti anak
jahat, tahu.”
“Kalau
begitu mungkin kamu bakal merasa bersalah, Maisy.”
“Uwah...
mungkin aku jadi tidak suka sama kamu.”
Maisy
menjulurkan lidah sambil mengejek Mahiru.
“Mahiru-san
sebenarnya berkepribadian buruk, ya.”
“Mungkin
saja. Tapi Maisy itu gadis yang baik dan imut, kok.”
“Hah,
haaah!? Jijik, sungguh menjijikkan! Ih, jijik banget!”
Pipi
Maisy memerah. Dia meninggikan suara sampai ludahnya hampir beterbangan.
Melihat reaksinya barusan, mungkin dia memang tidak terbiasa dipuji.
“Berhenti
banyak omong dan cepat kerja, dasar si menjijikkan.”
“Kurasa
sudah cukup banyak. Masih kurang?”
“Tidak
akan pernah rugi punya banyak. Jadi ambil lagi yang banyak.”
“Baik,
baik, sesuai perintah, Nona.”
Mahiru
mengikuti arahan Maisy dan terus memungut ranting sampai keranjangnya penuh.
Dengan
jumlah sebanyak ini, rasanya tidak akan ada keluhan lagi.
Mereka
sudah berjalan cukup jauh dari rumah. Kalau tadi dia datang sendirian, mungkin
Mahiru sudah tersesat dan tidak bisa kembali.
Setelah
berjalan beberapa lama, tiba-tiba pandangan mereka terbuka lebar. Di balik
hutan terbentang sebuah tempat seperti bukit dengan pemandangan yang luas.
Tanpa terhalang dedaunan, ketika mendongak terlihat langit penuh bintang
membentang sejauh mata memandang. Maisy duduk seolah bermandikan cahaya bintang
itu, kedua kakinya diluruskan santai.
Mahiru
menurunkan keranjang punggungnya dan duduk di sebelahnya. Setelah berjalan lama
di dalam hutan, saat dia duduk, rasa lelahnya seolah luruh sekaligus.
“Ini
tempat favoritku. Langit malamnya indah, bukan begitu?”
Cahaya
bintang terpantul di matanya yang sendu. Rapuh. Seakan-akan dia telah menyerah
pada sesuatu, dan di saat yang sama menyimpan sedikit kepahitan. Ekspresi yang
belum pernah Mahiru lihat sebelumnya membuatnya terpaku sejenak.
“Kok
diam saja? Terpukau, ya?”
Tanpa
mengalihkan pandangan dari langit, Maisy tersenyum pada Mahiru di sampingnya.
“Tidak,
kamu terlalu percaya diri.”
“Hah...?
Maksudku langitnya, tahu!? Eh, jangan-jangan kamu malah melihatku dan melupakan
bintang-bintangnya? Apa aku bintang paling bersinar di langit malam ini?”
“...Salahku.
Anggap saja tadi tidak pernah terjadi.”
“Tidak
bisa. Untuk sementara ini aku akan menjadikan ini bahan untuk menggodamu,
Mahiru-san.”
“Terserah.”
Sambil
menggerutu pelan bahwa tingkah Maisy sehari-hari memang pantas digoda, Mahiru
menghela napas.
Maisy
bilang “untuk sementara”. Apakah itu berarti dia berniat terus berhubungan
dengannya ke depannya? Kalau ditanya, mungkin dia akan menyangkal.
“Terima
kasih, Maisy.”
“Hah?
Tiba-tiba berterima kasih di saat seperti ini itu tidak masuk akal, tahu.
Jangan-jangan kamu ini masokis?”
“Bukan
begitu. Maksudku, karena kamu sudah menunjukkan tempat ini, mengantarku pulang,
berbagi makanan, dan semuanya itu. Kalau aku tidak bertemu Maisy, mungkin
keadaanku sudah gawat sekarang. Baru sekarang aku benar-benar menyadarinya.”
Dia
tidak punya kenalan. Tidak punya pengetahuan. Tidak tahu di mana dirinya
berada. Bahkan tidak tahu kebiasaan, aturan, atau tata krama di sini.
Jika
tidak bertemu Maisy, ada kemungkinan dia akan tersesat di hutan sampai mati.
Baru
sekarang Mahiru menyadari betapa rapuhnya situasinya. Dia akhirnya cukup tenang
untuk memikirkan hal itu. Dan ketenangan itu, tanpa diragukan lagi, berkat Maisy.
“Uwah,
lebay sekali. Dan lagi, bukan karena kamu Mahiru-san makanya aku menolongmu.
Cuma iseng saja. Itu karena aku ini gadis malaikat yang super baik hati.”
“Meski
begitu, aku tetap senang.”
“Haa...
ya sudahlah, tidak ada salahnya juga dipuji dan disyukuri... jadi ya tidak
apa-apa.”
Setelah
itu, sambil berkata neneknya pasti sudah khawatir, Maisy berdiri dan Mahiru
mengikutinya pulang.
Mereka
menyusun kayu bakar yang sudah tersedia dan ranting-ranting yang tadi
dikumpulkan, lalu menyalakannya dengan korek api. Terakhir kali Mahiru memakai
korek api mungkin saat pelajaran sains di sekolah dasar. Dia gagal menyalakan
dengan baik dan tanpa sengaja mematahkan dua batang.
Setelah
itu, mereka bergantian menyeka tubuh dengan kain dan dia diantar ke kamar tamu.
Hari-hari
damai yang secara alami dikelilingi orang-orang baik hati.
Namun,
tidak mungkin ada kisah yang hanya berisi kebaikan semata.
Langkah
kaki kegilaan perlahan-lahan, setapak demi setapak, semakin mendekat.
*
* *
Di
rumah itu ada empat kamar utama.
Kamar
Maisy, kamar ayahnya, kamar kakaknya, dan satu kamar yang kini dijadikan gudang
karena sudah tidak dipakai.
Saat
Mahiru bertanya apakah tidak ada kamar untuk Olivia, Maisy menjawab bahwa
Olivia sendiri yang bilang dia tidak membutuhkannya. Meski begitu,
barang-barang pribadi Olivia secara alami diletakkan di kamar gudang tersebut. Dia
tampaknya masuk ke sana hanya saat perlu mengambil pakaian atau keperluan lain;
selebihnya, dia hampir selalu menghabiskan waktu di ruang keluarga.
“Aku
tidur sama Nenek, jadi Mahiru-san pakai kamar ini saja!”
Maisy
memberikan kamar ayahnya, kamar kedua dari bagian paling dalam rumah, untuk
Mahiru.
“Tidak
apa-apa aku pakai sembarangan? Aku tidak keberatan tidur di ruang keluarga,
kok.”
“Tidak
apa-apa, sih. Tapi mungkin agak berantakan, jadi tolong dibereskan secukupnya,
ya.”
Maisy
membuka pintu lalu mendorong Mahiru masuk.
Mahiru
sempat mengira kata “berantakan” itu hanya basa-basi atau semacam peringatan
halus. Rupanya bukan. Di dalam kamar, pakaian dan barang-barang kecil
berserakan di mana-mana, seprai kusut tidak berbentuk, bahkan selimut
tergeletak begitu saja di lantai.
“O-Oh...”
“Tuh,
‘kan? Berantakan, ‘kan?”
Kondisinya
begitu parah sampai-sampai Mahiru hampir curiga kamar ini sengaja diberikan
kepadanya agar dia membersihkannya.
“Ayah
dan kakakmu itu pergi dari rumah tadi pagi, ya? Ini ada celana yang dilempar
begitu saja seolah baru dilepas.”
“Tidak
kok. Cuma memang tidak pernah dibersihkan saja. Sudah lama juga kamar ini tidak
dibuka.”
“Eh...
hubungan kalian tidak baik?”
Mahiru
mulai merasa tidak enak menggunakan kamar ini seenaknya.
“Tidak,
tidak. Kami keluarga berempat yang akur, kok. Ayah juga baik, aku sayang sekali
sama beliau. Cuma, bersih-bersih itu merepotkan... oh, dan kupikir Ayah mungkin
tidak suka kalau kamarnya dimasuki putrinya yang sudah seusia ini.”
Maisy
tersenyum manis, jelas-jelas seperti baru saja mengarang alasannya di tempat.
Bukannya
justru sebaliknya? Biasanya anak perempuan yang enggan masuk kamar ayahnya.
“Terserah,
deh. Yang jelas, aku pakai ranjangnya tanpa sungkan, ya.”
“Silakan,
silakan~. Kalau sekalian dibereskan sedikit, aku akan sangat terbantu.”
Jadi
memang itu tujuannya. Meski begitu, sebagai orang yang menumpang menginap,
Mahiru tidak bisa banyak mengeluh. Kalau begitu, sekalian saja dia bersihkan
sampai Maisy terkejut melihat hasilnya.
“Baiklah.
Terima kasih. Selamat malam, Maisy.”
“Iya.
Selamat malam.”
Pintu
pun ditutup. Mahiru sendirian di kamar ayah Maisy.
Untuk
sementara, dia mulai memunguti barang-barang yang berserakan di lantai.
Kebanyakan pakaian. Kemeja-kemeja dilipat dan dimasukkan seadanya ke dalam rak.
Saat
dia menggantung mantel di hanger dan menyimpannya ke dalam lemari, selembar
kertas meluncur jatuh perlahan. Ukurannya kira-kira sebesar kartu pos, tampak
seperti foto hitam-putih.
Ketika
dipungut, terlihat tiga orang di dalamnya. Seorang pria paruh baya bertubuh
tambun dengan wajah cemberut, mungkin ayah Maisy. Seorang gadis berkerudung
tersenyum cerah, Maisy. Dan di sampingnya, gadis lain dengan kerudung warna
berbeda, barangkali kakaknya.
Tidak
lebih dari foto keluarga biasa.
Mahiru
memasukkan kembali foto itu ke saku mantel ayah Maisy, lalu menutup lemari.
“Ugh.”
Saat
melanjutkan bersih-bersih, dia menemukan sebuah gelas bir besar tergeletak di
lantai. Bau alkohol menusuk hidungnya. Masih ada sedikit minuman tersisa di
dalamnya, dan cairan yang tampaknya tumpah telah meninggalkan noda di lantai.
Jika diperhatikan lebih saksama, di sudut kamar juga ada beberapa botol minuman
kosong tergeletak.
“Setidaknya
yang beginian dibereskanlah.”
Mahiru
menggerutu pada penghuni kamar yang saat ini tidak ada di rumah.
Botol-botol
dan gelas itu dia kumpulkan di satu sudut ruangan.
Awalnya
dia masih menata barang-barang kecil dengan rapi, tetapi di tengah jalan rasa
malas menyerang dan dia mulai memasukkan semuanya begitu saja ke rak yang
kosong. Sekilas pandang, kamar itu sudah terlihat jauh lebih bersih.
Kemudian,
dia menyadari ada beberapa goresan besar yang cukup mencolok di lantai dan
dinding.
Maisy
memang bilang ayahnya orang yang baik, tetapi kemungkinan kebiasaan buruk saat
mabuk tampaknya cukup besar.
Setelah
merapikan selimut dan membaringkan diri di ranjang, kesadarannya pun tenggelam
begitu saja, seolah terseret lumpur pekat.
*
* *
Hangatnya
sinar matahari dan kicau burung kecil. Dari ruangan lain tercium aroma harum
yang menggugah selera. Kasur yang lembut berubah bentuk mengikuti setiap
gerakan tubuh pemiliknya.
Kesadaran
Mahiru perlahan mengapung naik. Di sudut pandangannya yang masih buram, rambut
pirang yang tertata rapi bergoyang pelan.
“Gueh!”
Tiba-tiba.
Sebuah
benturan tumpul menghantam perutnya.
Mengeluarkan
suara seperti katak yang terinjak, Mahiru terlonjak bangun. Dia mengusap
perutnya yang berdenyut nyeri, berusaha memahami situasi. Di tangan kanan Maisy
yang tersenyum manis, tergenggam sebuah wajan. Sepertinya benda itulah yang
barusan menghantam perutnya.
“Mahiru-san,
mau tidur sampai kapan? Sudah numpang gratis, masa persiapan sarapan juga mau
diserahkan ke orang lain?”
Maisy
tampak benar-benar kesal. Rambut Mahiru yang kusut mencuat lucu ke atas.
“Maaf.
Ada yang bisa kubantu sekarang?”
“Hah,
sudah hampir selesai, kok. Cuci muka dulu sana. Rambutmu juga parah. Kepalamu
berantakan seperti masuk ke tengah badai.”
“Iya,
maaf.”
“Ngomong-ngomong,
kamarnya jadi jauh lebih rapi, ya. Jujur saja, aku tidak berharap banyak, tapi
lumayan juga.”
“Aku
‘kan numpang. Setidaknya itu bisa kulakukan.”
“Bagus
kalau begitu. Aku kembali dulu, ya. Cepat bersiap dan menyusul.”
Maisy
berbalik, melambaikan tangan ringan. Saat tangannya sudah menyentuh gagang
pintu, Mahiru teringat sesuatu dan memanggilnya.
“Eh,
pipimu ada bekas air liur.”
“...Eh!?”
Maisy
panik dan buru-buru mengusap mulutnya dengan lengan. Dia bahkan sampai
berjongkok, meraba sudut bibirnya dengan jari. Sudah hilang belum, ya?
Melihat
itu, Mahiru tersenyum puas.
“Maaf,
sepertinya aku salah lihat.”
“Kamu
ini! Sialan! Habis sarapan, langsung kuusir kamu!”
Maisy
melempar bantal yang ada di dekatnya. Bantal itu meluncur lurus ke arah wajah
Mahiru, tetapi dia dengan mudah menghindar hanya dengan berjongkok di tempat.
Terdengar suara kesal Maisy yang melengking frustrasi.
Anggap
saja itu sudah menebus pukulan wajan tadi.
Setelah
mencuci muka, Mahiru pergi membantu Olivia. Meski begitu, persiapan sarapan
hampir selesai, dan yang bisa dia lakukan hanya membantu menyajikan makanan.
Olivia tersenyum lembut sambil berkata dia sebenarnya tidak perlu bangun sepagi
itu.
Maisy
duduk dengan wajah cemberut. Mungkin tadi Mahiru memang sedikit kelewatan.
Namun entah kenapa, gadis itu memang punya daya tarik yang membuatnya ingin
menggoda.
“Ada
yang bisa kubantu lagi? Pekerjaan berat pun tidak apa. Aku sudah banyak
merepotkan, jadi kalau ada yang bisa kulakukan, akan kulakukan.”
Setelah
sarapan, Mahiru menawarkan diri kepada Olivia.
“Kamu
bisa santai saja, Nak. Tidak ada yang terlalu merepotkan, kok.”
“Kalau
tidak melakukan apa-apa malah bikin aku tidak tenang. Beri aku pekerjaan, ya?”
“Begitu,
ya? Baiklah. Kalau begitu, ada satu hal yang bisa kamu bantu...”
Olivia
membawanya ke sebuah gudang yang letaknya sedikit terpisah dari rumah.
Di
dalamnya ada berbagai macam alat: cangkul, busur, sapu, dan benda-benda lain
yang Mahiru kenali, juga beberapa barang aneh yang bahkan tidak dia tahu
gunanya. Jumlahnya banyak dan tersimpan seadanya. Hampir setengah dari isi
gudang itu adalah kayu bakar sepanjang lengan.
“Tolong
belah kayu-kayu yang sudah ditumpuk itu.”
Di
arah yang ditunjuk Olivia ada tunggul kayu dan sebuah kapak untuk membelah
kayu. Sepertinya jarang digunakan, karena karat menonjol jelas di mata kapak
itu. Sulit rasanya menyebutnya sebagai alat yang layak pakai.
“Baik.
Kira-kira butuh berapa banyak?”
“Sebanyak
mungkin akan sangat membantu, tapi jangan memaksakan diri, ya. Kalau sudah
merasa cukup, berhenti saja.”
“Aku
akan membuat kue sambil menunggu,” tambah Olivia sebelum kembali ke rumah.
Mahiru
memperhatikannya pergi, lalu segera mengambil kapak itu. Beratnya jauh melebihi
dugaan hingga tubuhnya sedikit oleng. Dia menaruh sepotong kayu di atas tunggul
dan mencoba mengayunkan kapak. Dia cukup percaya diri dengan kemampuan
fisiknya, tetapi kayu itu ternyata tidak mudah terbelah.
Bukan
karena dia tidak terampil, melainkan karena alatnya yang bermasalah. Gagang
yang sudah usang mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi mata kapak yang
berkarat separah itu jelas tidak memiliki ketajaman yang berarti. Memaksa
memakainya mungkin tetap bisa membelah kayu, namun akan memakan waktu terlalu
lama.
Mahiru
kembali ke gudang, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengasah kapak.
“Uhuk...
Dengan barang sebanyak ini, harusnya ada sesuatu...”
Sedikit
saja memindahkan barang, debu beterbangan tebal. Dia menggeser, membalik,
membuka kotak, mengobrak-abrik isinya, menggali ke dalam tumpukan, terus
mencari. Entah sudah berapa lama berlalu.
Saat
seluruh tubuhnya sudah dipenuhi debu, akhirnya dia menemukan sesuatu yang
tampak seperti batu asah.
“Lumayan.
Setidaknya ini akan membuatnya sedikit lebih baik.”
Dia
berdiri hendak keluar membawa batu itu, ketika di dekat pintu masuk dia melihat
sesuatu.
Atau
mungkin, “sesuatu” adalah kata yang kurang tepat. Bagi Mahiru, itu makhluk yang
belum pernah dia lihat. Bahkan dia tidak yakin itu makhluk hidup. Sebuah
keberadaan asing. Cahaya pucat. Jika dia memicingkan mata, bentuknya tampak
menyerupai manusia. Jika harus menamainya, mungkin itu peri?
Peri
itu melayang-layang pelan, seolah mengejeknya.
Haaai. Selamat tinggal. Padahal
baru saja bertemu, sudah bilang selamat tinggal itu aneh, ya? Tapi sayang
sekali. Kali ini benar-benar sayang.
Peri
itu berbicara sambil menatapnya. Bukan berbicara lewat suara biasa, melainkan
seakan-akan suaranya langsung menggema di dalam kepala. Suara yang terdengar
seperti laki-laki dan perempuan sekaligus, seperti anak kecil dan orang dewasa
pada saat yang sama, suara yang aneh.
“Kamu
ini apa sebenarnya...”
Apa katanya? Reaksimu membosankan
sekali. Tidak seru. Tidak seru! Makanya kamu akan mengalami hal buruk. Buatku
sih menyenangkan. Kasihan. Kasihan sekali.
“Hal
buruk? Apa maksudmu?”
Wah, benar-benar membosankan. Aku
tahu, lho. Orang seperti ini biasanya cepat rusak. Kalau terlalu kosong juga
tidak benar, ya. Kamu mengerti tidak?
Jawaban
yang tidak jelas arahnya. Mahiru tidak tahu apa identitas atau tujuan peri itu.
Atau mungkin sejak awal memang tidak ada tujuan. Sekadar keberadaan yang
menyesatkan. Jika begitu, memang sangat seperti peri.
Ngomong-ngomong, kamu tidak punya
waktu untuk meladeni kami, ‘kan? Tidak ada waktu. Sama sekali tidak ada.
“Hah?
Apa yang kamu mak...”
“Kyyaaa!”
Tiba-tiba,
jeritan melengking menggema. Suara tinggi yang serak.
Jeritan
itu datang dari arah rumah. Itu suara Maisy.
Ah... sudah tidak akan sempat, ya.
Kali ini tidak bisa dihindari. Ya, tidak bisa dihindari.
“Sial!
Apa sebenarnya kamu ini!”
Mengabaikan
peri yang terus berbicara dengan nada mengejek, Mahiru berlari. Dengan segenap
tenaga, dia berlari menuju rumah.
Jeritan
tadi jelas milik Maisy. Apa ada serigala yang datang? Atau mungkin penyihir
yang dirumorkan itu? Andai saja itu hanya salah paham kecil, sekadar
kecerobohan biasa. Namun jeritan tadi terlalu sarat keputusasaan. Itu adalah
jeritan yang benar-benar putus asa.
Air
liur yang lengket terasa menyumbat tenggorokannya. Paru-parunya sesak. Meski
begitu, dia terus berlari.
Akhirnya
dia sampai. Bau itu langsung menusuk hidungnya, rasa tidak nyaman yang
membuatnya ingin menguras isi perutnya hingga bersih. Seandainya usus direbus
sampai mengental, lalu orang yang memasaknya bosan di tengah jalan dan
menumpahkannya begitu saja, mungkin baunya akan seperti ini.
Kaca
jendela pecah. Aneh sekali, suasananya begitu sunyi.
Dari
celah pintu yang terbuka setengah, dia mengintip ke dalam.
“...Apa,
ini...”
Pemandangan
mengerikan yang terbentang di hadapannya membuat Mahiru seketika limbung.
Mahiru
tahu ketakutan yang tidak akan pernah dialami siswa SMA biasa. Dia juga pernah
merasakan keputusasaan. Namun ini terlalu kejam untuk disebut sekadar tragedi. Dia
menahan hati yang nyaris menjadi gila, menusuk dorongan untuk menyakiti dirinya
sendiri, menyisakan secuil nalar untuk memahami, lalu menunduk dan memuntahkan
isi perutnya.
Inilah
halaman pertama dari sebuah tragedi.
Kisah
lingkaran gila itu berderit, menggerakkan roda giginya, dan mulai berputar.
*
* *
Meja
yang hancur berkeping-keping. Peralatan makan yang pecah. Bahan makanan yang
remuk. Tirai yang tercabik. Abu yang merayap keluar dari perapian. Kasur-kasur
yang berserakan koyak tidak berbentuk, dan di lantai tertinggal bekas cakaran
seolah-olah binatang buas telah menggaruknya.
Di
antara semua itu, yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa seluruh ruangan
diwarnai oleh satu warna tertentu.
Cairan
kental setengah mengering, lebih merah kehitaman daripada jus tomat. Genangan
merah menyala yang meluas. Dari lantai, ke dinding, hingga langit-langit,
semuanya dihiasi warna itu dengan begitu tajam. Tetesan merah menurun dari
langit-langit, jatuh tepat di depan mata Mahiru.
Di
pusat semua itu terbaring Olivia.
Mahiru
tahu itu Olivia karena dari dua orang yang seharusnya berada di tempat ini,
yang tersisa hanya satu, Maisy.
Begitu
parahnya keadaan mayat Olivia hingga tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya.
Sebuah
kaki tergeletak jauh di sana. Serat-serat otot yang masih tersambung menjulur
seperti benang. Organ-organ dalam yang dicabut telah dicincang halus,
tulang-tulang telanjang menusuk lantai. Bola mata yang tampaknya sempat
menggelinding meninggalkan garis di permukaan lantai. Potongan daging yang tidak
lagi dapat dikenali bagian tubuh mana beterbangan ke sana kemari.
“Uwegh...”
Melihat
itu, Mahiru kembali memuntahkan isi perutnya.
Menyaksikan
muntahan itu, Maisy menyeringai, sudut bibirnya terangkat.
Gaun
putihnya kini merah sepenuhnya oleh darah yang memercik. Dari sudut mulutnya
menjulur serpihan kecil daging. Saat dia berusaha menghapusnya, warna merah
justru semakin melebar di pipinya.
Ah,
tidak... tanganku gemetar. Tidak kusangka aku akan muntah.
Kukira
rasa takut itu sudah lama lenyap.
Penyakit
adikku.
Kematian
orang tuaku.
Aku
bahkan pernah menodai tangan dengan kejahatan, mengayunkan pisau dan melukai
orang.
Kupikir
aku sudah mengenal kegelapan dunia. Sudah mengenal rasa sakit dan ketakutan.
Namun.
Apa
ini?
Ini
terlalu terlalu menjijikkan.
Akal
sehatku tidak mampu mengejarnya.
Naluri
tubuhku berteriak ketakutan.
Situasi
ini seperti adegan film horor murahan.
Terlalu
tidak nyata untuk dipercaya.
Namun
sensasi muntahan yang masih hangat dan darah yang dingin di kulitnya terasa
begitu nyata, tidak terbantahkan.
“Jadi
ini... Tudung Merah.”
Maisy
meninggalkan jejak kaki berdarah saat dia melangkah perlahan mendekati Mahiru.
Mahiru
teringat buku cerita bergambar yang dia baca sebelum datang ke dunia ini.
Kisah
tentang Tudung Merah yang menjadi gila setelah memakan daging neneknya.
Pinggangnya
terasa lemas karena takut. Dengan gerakan kaku seolah sendi-sendinya berkarat,
Mahiru mundur selangkah demi selangkah.
Kakinya
tersandung, dan dia pun jatuh terduduk di tempat.
“Ya.
Entah kenapa warna merah terasa begitu cocok untukku. Seharusnya memang
beginilah diriku sejak awal, ah, merahnya darah memang indah.”
Penampilannya,
suaranya, semuanya tetap Maisy.
Gadis
yang sedikit tajam lidahnya, egois, namun berhati lembut.
“Apa
aku masih terlihat seperti Maisy? Terlihat seperti Maisy yang manis, ceria, dan
menggemaskan itu?”
Namun
cara bicaranya berbeda. Suasananya berbeda. Dia berubah seakan menjadi orang
lain sepenuhnya. Hanya ada satu kemungkinan yang terlintas di benak Mahiru.
Meski terasa mustahil dan tidak masuk akal, nalurinya mengatakan demikian.
Dengan
riang, dengan menyeramkan, dengan menjijikkan, gadis itu tertawa.
“...Olivia-san?”
Mendengar
itu, Maisy membuka mulut lebar-lebar dan tertawa seakan benar-benar terhibur.
Tawa
yang tidak mungkin dilakukan Maisy.
“Tepat
sekali! Tapi aku tidak suka dipanggil begitu. Aku bukan lagi nenek tua yang
layu! Aku Maisy yang muda dan manis! Akulah Maisy Carmine!”
Melihat
Maisy tertawa buruk rupa seperti itu, Mahiru tetap terduduk sambil mundur
perlahan.
“Omong
kosong... Apa maksudnya ini? Maisy, di mana Maisy?”
“Sudah
kubilang, akulah Maisy. Kamu bisa melihatnya, bukan? Gadis yang luar biasa
manis ini. Ah, rasanya begitu pas. Tentu saja pas.”
“Hah...
haha... apa sih ini... apa sebenarnya dunia ini!?”
Meski
tidak mengerti logikanya, Mahiru mengerti satu hal: Maisy telah mati, dan
Olivia merebut tubuhnya. Yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah Maisy.
Itu tidak terbantahkan.
“Kenapa...
Bukannya Maisy itu berharga bagimu?”
“Gadis
entah dari mana itu? Berharga? Tentu saja tidak. Aku hanya menginginkan tubuh
yang muda. Belakangan ini pinggangku sering sakit. Itu yang pertama kali
kupikirkan setiap bangun pagi. Tenagaku tidak lagi seperti dulu. Naik turun
tangga saja membuatku terengah-engah. Penglihatanku pun memburuk. Sebenarnya
wajah Maisy pun hanya terlihat samar bagiku. Wajahmu pun baru kali ini kulihat
dengan jelas. Ternyata matamu lebih gelap dari yang kubayangkan, seperti
lumpur.”
Seolah
memuja tubuh barunya, Olivia memeluk dirinya sendiri dengan kedua lengan sambil
melonjak-lonjak kecil.
Setiap
kali dia melompat, darah yang menggenang di lantai memercik dengan bunyi basah.
Dia menari seperti anak kecil yang bermain setelah hujan reda. Potongan daging
yang terlempar menempel di pipi Mahiru, lalu meluncur turun meninggalkan garis
lengket sebelum jatuh ke lantai.
“Gila...
Apa ini sebenarnya...”
Ketakutan
yang lahir dari ketidakmampuan memahami.
Tubuhnya
gemetar secara naluriah, terpapar kegilaan yang tidak dikenal yang berdiri di
hadapannya.
Perasaannya
tidak sempat mengejar kenyataan, yang ada hanya ketakutan semata pada kegelapan
di hadapannya.
“Jadi
kamulah penyihir itu?”
“Ah,
bukan begitu. Penyihir bukanlah peran yang diberikan padaku.”
Dengan
langkah ringan berjingkat, dia berpindah tempat seolah sedang menari.
Olivia
yang mengenakan kulit Maisy itu mengangkat gunting raksasa setinggi tubuhnya
dari genangan darah. Senjata yang tadi tenggelam kini berkilau. Darah kental
menetes darinya, dan kegilaan mengangkat kepalanya, siap menerkam.
“Kenapa...
kenapa harus Maisy? Bukannya Maisy menganggapmu berharga?”
“Masih
mau melanjutkan tanya jawab itu? Yang kupahami hanya kekuatan untuk mengambil
alih yang bersemayam dalam diriku, dan fakta bahwa ada wadah terbaik tepat di
depan mata.”
“Bukannya
kamu neneknya Maisy?”
“Siapa
peduli soal itu.”
Gunting
raksasa itu menutup. Kaki meja yang terjepit di antaranya terbelah dua semudah
mematahkan ranting. Ketajamannya mengerikan, setajam tampilannya.
“Sial...
sialan! Masa aku harus mati di tempat seperti ini tanpa tahu apa-apa...!”
Olivia
memutar guntingnya seperti sedang menari, lalu bersiap. Gerakannya bak akrobat.
Dia mengayunkan gunting sambil menebarkan merah ke sekeliling, gila, sekaligus
memiliki keindahan seperti karya seni. Dan justru karena itu, dia semakin
menakutkan.
“Aku
adalah Maisy Carmine. Tapi untuk hidup sebagai Maisy, ada satu keberadaan yang
mengganggu. Waktu kecil, kita ingin tahu segalanya tanpa batas. Tapi semakin
dewasa, semakin banyak hal yang justru berharap tidak pernah kita ketahui.
Katanya ketidaktahuan itu dosa, tapi bukannya ada banyak hal yang akan membuat
kita tetap bahagia jika tidak pernah mengetahuinya?”
Olivia
menyeret guntingnya, mendekat perlahan, setapak demi setapak, ke arah Mahiru.
Takut.
Dia mengendus kematian.
Justru
karena merasakan kematian itulah, otaknya mendadak jernih.
Bukankah
tidak masalah jika mati? Bukankah dia memang tidak benar-benar ingin hidup?
Jika ketakutan paling mendasar menjadikan kematian sebagai garis akhir,
seharusnya dia tidak perlu takut.
Namun,
ada yang tidak beres jika dia mati.
Jika
Mahiru mati, siapa yang akan menyelamatkan Asahi?
“Aku
tidak bisa mati... Tidak mungkin aku mati di tempat seperti ini.”
Sudah
tidak termaafkan rasanya dia hidup sementara adiknya menderita sendirian. Jika
sampai kehilangan nyawa, bahkan pada arwah orang tuanya pun dia takkan bisa
berani bertemu.
Apa
pun yang terjadi, dia harus menyelamatkan Asahi.
Untuk
itu, Mahiru tidak boleh mati.
Dan
lagi, dia belum membalaskan dendam orang tuanya. Peramal itu belum dia habisi.
“Mana
mungkin aku mati di tangan nenek tua bangka sialan sepertimu.”
Mahiru
meraba lantai yang tergenang darah.
Bang! Bang! Bang! Cecipak! Cecipak!
Tubuhnya
tidak lagi gemetar. Dia meraih senapan buru. Mengangkatnya. Membidik.
“Maaf,
Maisy. Setidaknya akan kubalaskan dendammu.”
Dia
membidik tanpa ragu.
“Kamu
bisa melakukannya? Bisa menarik pelatuknya? Bisa menjadi pembunuh?”
Maisy
telah direnggut nyawanya secara kejam oleh keserakahan Olivia.
Maisy
yang menyukai makanan enak. Yang mencintai neneknya.
Benar.
Yang selalu tertawa itu adalah pihak yang merampas.
Jika
tubuhnya dibiarkan dipakai sesuka hati seperti ini, itu terlalu kejam bagi Maisy.
“Membayangkan
perasaan Maisy saja membuat isi perutku mendidih.”
Mahiru
meletakkan jarinya di pelatuk dan menariknya.
Peluru
melesat ke arah Olivia, namun meleset, tidak menyentuh sedikit pun, menembus
dinding di atas kepalanya.
Entakan
yang lebih kuat dari dugaannya membuat Mahiru terlempar dan menjatuhkan senapan
itu.
“Sialan...!”
Seumur
hidupnya Mahiru tidak pernah menggunakan senjata api.
Dengan
pengetahuan seadanya dan meniru apa yang pernah dia lihat, satu tembakan itu tidak
berhasil mengenai Olivia.
“Hihihi.
Kalau mau menyalahkan, salahkan saja May-chan yang membawamu kemari. Sejak awal
aku tidak tertarik pada nyawamu.”
Olivia
mengangkat guntingnya lagi. Dia tidak menghentikan langkahnya.
Mahiru
kini sangat tenang.
Pikirannya
beralih sepenuhnya pada satu hal: kabur.
Seperti
yang baru saja dia sadari, yang terpenting, dia tidak boleh mati di sini.
Dendam
pada Maisy bisa dibalas kapan saja.
Selama
dia hidup.
Di
dalam hati, dia menghitung sampai tiga. Lalu dia memulai dengan sekuat tenaga
dan berlari.
“...ha?”
Seharusnya
begitu.
Namun
tanah justru mendekat ke wajahnya.
Lantai
terasa miring. Dia berlari, atau setidaknya mencoba berlari, namun tidak maju
sedikit pun.
Atau...
sejak awal dia memang tidak berlari?
Dengan
perasaan tidak enak, Mahiru menoleh perlahan... dan yang seharusnya ada di
sana, sudah lenyap.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”
Jeritannya
meledak, seakan rasa sakit dimuntahkan dari setiap lubang di wajahnya.
Dari
lutut kanan ke bawah, kakinya hilang bersih. Dari potongan itu darah menyembur
deras seperti keran rusak. Dan ketika dia menggeser pandangan sedikit ke
samping, di sana tergeletak kaki kanannya, yang seharusnya masih tersambung, terbuang
seperti sampah.
“Hah...
hah... sialan! Tidak mungkin... tidak di sini... aku harus kabur. Harus
menyelamatkannya. Aku masih hidup. Masih... masih bisa... masih ada cara...”
Olivia
mengatupkan gunting raksasanya berulang kali, seolah mengejek.
Dia
tertawa. Dia menikmati situasi ini.
Rasa
panas menjalar dari kaki yang terputus, seperti besi cair ditekan ke luka terbuka.
Mahiru
mencengkeram lantai dengan kedua tangan dan menyeret tubuhnya menjauh dari
Olivia.
Tubuhnya
terasa berat. Meski kehilangan satu kaki seharusnya membuatnya lebih ringan,
tetap saja menyeret diri begitu terasa amat sulit.
Air
mata mengalir tanpa dia mengerti kenapa. Napasnya sesak. Pandangannya
menyempit. Suara Olivia terdengar jauh. Jangan menoleh. Kerahkan seluruh
tenaga. Maju saja. Gerakkan kaki kiri yang tersisa. Menuju pintu depan. Merayap
seperti ulat, meninggalkan jejak merah darah di belakangnya.
“Hah...
hah... Asahi! Asahi! Asahi!”
Akhirnya
dia sampai di pintu. Telapak tangannya yang berlumur darah menekan lantai. Dia mengangkat
tubuhnya. Mengulurkan tangan untuk meraih gagang pintu. Ujung jarinya
menyentuhnya. Tidak bisa menggenggam. Sedikit lagi. Dia mengentakkan tubuhnya,
melompat kecil dan akhirnya berhasil meraih gagangnya... namun lengannya
terlepas dari bahu.
“Ah,
ha? Le... lenganku... ah... ha... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”
Lengan
kanannya yang masih menggenggam gagang pintu terkulai, tergantung lemas sambil
menyemburkan darah.
Dug. Dengan
bunyi tumpul, lengan itu jatuh ke lantai.
Saat
Mahiru menggeser pandangan ke samping, dilihatnya Olivia berjongkok. Dia mengangkat
lengan yang terputus itu, lengan yang tadi milik Mahiru.
“Wah,
wah... ternyata lengan itu lumayan berat juga, ya.”
“L-Lepaskan
aku... aku akan melupakanmu. Jadi...”
Melihat
wajah Mahiru yang menyedihkan, sudut bibirnya terangkat penuh kepuasan.
Seolah-olah
dia tidak tahan menahan kegembiraan, karena kini hidup dan mati Mahiru
sepenuhnya berada dalam genggamannya.
“Hah?
Maisy nggak ngerti deh♡”
Dengan
wajah Maisy, Olivia sengaja mengeluarkan suara manja yang dibuat-buat.
Dia
menyeringai mengejek, menatap Mahiru yang perlahan tenggelam di genangan darah
yang semakin melebar.
Permohonan
ampun tidak pernah dikabulkan. Keajaiban tidak pernah datang. Gunting raksasa
itu berkilat.
Bersamaan
dengan rasa sakit yang luar biasa, penglihatan Mahiru pun tertutup dalam
kegelapan.