Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Putaran Pertama

Putaran Pertama: Si Tudung Putih dan Hutan Tanpa Nama

Cahaya merembes masuk. Mahiru mengusap matanya yang masih setengah sadar, dan hal pertama yang tertangkap pandangannya adalah langit-langit kayu.

Udara hangat dan jernih. Kicau burung. Debu pasir menumpuk di beberapa sudut lantai.

“Di mana ini...?”

Dengan ketegangan yang membuatnya sepenuhnya terjaga, Mahiru bangkit dan menoleh ke segala arah.

Tampaknya dia berada di sebuah ruangan kayu seluas kira-kira empat setengah tatami.

Tidak ada perabot seperti kursi atau meja. Hanya sebuah jendela untuk memasukkan cahaya, posisinya cukup tinggi, harus berjinjit dan mengulurkan tangan agar nyaris bisa menyentuhnya, serta sebuah pintu yang mengarah ke luar. Ruangan itu lebih menyerupai gudang.

“Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?”

Perkembangan yang terlalu mendadak membuat kepalanya tidak mampu mengejar keadaan. Hal pertama yang ingin dia curigai adalah kemungkinan ini hanya mimpi, tetapi kesadarannya dan ingatannya terlalu jelas untuk disebut mimpi.

Namun situasinya sendiri terlalu tidak nyata. Dia membuka buku asing di perpustakaan lembaga pembinaan anak, lalu berada di ruang putih bersama wanita aneh itu, dan kini tiba-tiba dipindahkan ke ruangan kayu. Tidak masuk akal.

“Ck...”

Tapi jika dia tidak bergerak, keadaan tidak akan berubah.

Untuk sementara, dia memeriksa isi ruangan.

Di sudut ruangan yang kosong itu, ada tiga benda yang diletakkan secara tidak wajar.

Yang pertama adalah senapan berburu. Dia mengintip ke dalam larasnya. Tampaknya sudah terisi satu peluru.

Yang kedua adalah sebuah buku tebal dengan hiasan megah. Mirip dengan yang dibawa si Gembala, meski hiasannya sedikit lebih sederhana.

“Grimm Note”

“Grim... not... begitu bacanya, ‘kan?”

Mahiru menelusuri judul yang terukir di sampulnya dengan jari, lalu membacanya dengan ragu.

Ada daya tarik ganjil pada buku itu yang membuatnya sulit berpaling. Sensasinya sama seperti saat dia menemukan buku Si Tudung Merah di perpustakaan.

Seolah ada sesuatu yang mengusap jantungnya, ketegangan yang tidak nyaman.

Jika dia membuka buku ini, sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali akan dimulai.

Dengan firasat itu, dia memberanikan diri membalik halamannya.

Namun hasilnya justru mengecewakan.

 

“Tidak ada apa-apa.”

 

Yang ada hanya halaman-halaman putih polos.

Satu-satunya tulisan terdapat di punggung buku, sebuah kalimat dalam bahasa Inggris.

“I wish what should be where it should be”

“Ai... wis... wat... syud... bi... we-er... it... syud... bi... Semua katanya pernah kulihat, tapi artinya nggak ngerti sama sekali.”

Dia memiringkan kepala sambil membacanya keras-keras.

Sayangnya, Mahiru bahkan tidak menamatkan SMP dengan benar, apalagi SMA. Menguraikan kalimat itu mustahil baginya. Dia tidak paham apa maksudnya.

Jika diperhatikan lebih dekat, ada tulisan lain dalam bahasa Inggris di halaman sebelah.

Chapter 1—Record

Chapter 2—Purification

Chapter 3—Storage

Chapter 4—???

“Chapter satu itu Record. Tiga itu Storage... ya?”

Kalau diterjemahkan, Chapter berarti bab. Record mungkin catatan. Storage mungkin penyimpanan.

Tiga kata itu cukup umum hingga Mahiru masih bisa menebaknya.

Namun Purification? Dia bahkan tidak punya gambaran. Pasti kosakata tingkat tinggi.

Benda terakhir yang diletakkan di sana adalah mantel luar berwarna khaki.

Kainnya tipis, tampak kotor dan sudah lama dipakai. Mengingatkannya pada pakaian pemburu. Mungkin dia berpikir begitu karena ada senapan di ruangan ini. Saat dia mengambilnya, bau anyir binatang menusuk hidungnya.

“Sial... ini sebenarnya tempat apa sih... huh?”

Barulah saat itu Mahiru menyadari pakaian yang dia kenakan telah berubah.

Hoodie abu-abu, celana olahraga longgar, dan sepatu kets usang.

Itu semua adalah pakaian yang biasa dia kenakan sebelum masuk lembaga pembinaan anak. Bahkan ada noda kecap di lengan bajunya. Tidak mungkin salah.

“Hei, Gembala! Jawab aku! Ini di mana sebenarnya!?”

Wanita itu memang menyeramkan dan aneh, tapi berada sendirian seperti ini justru lebih menakutkan.

Tempat yang asing. Pakaian yang tidak dia ingat pernah kenakan. Mantel. Senapan. Buku misterius.

Dia tidak tahu tujuannya. Tidak ada informasi untuk menebaknya. Tidak bisa meminta pertolongan. Dia benar-benar sendirian.

Mahiru terduduk dan menghela napas panjang.

“Sialan...! Harus gimana sekarang?”

Orang bilang menghela napas akan mengusir kebahagiaan. Tapi adakah kebahagiaan dalam dirinya yang layak untuk disesali jika pergi?

Sejak awal, tidak pernah ada banyak pilihan baginya.

Semua yang membawanya ke sini tidak masuk akal. Dari cara bicaranya, jelas wanita psikopat mencurigakan itu yang membawanya.

Namun tanpa penjelasan, apa yang harus dia lakukan? Terlalu tidak ramah. Meski kesal, dia sadar tidak ada yang berubah jika hanya diam di sini.

Dari ruangan empat setengah tatami ini, bahkan tidak bisa mengintip pemandangan luar. Hanya dari cahaya yang masuk lewat jendela dia tahu sekarang siang hari. Informasi yang bisa didapat dari ruangan ini sudah habis.

Mahiru mengambil Grimm Note dan senapan, lalu mengenakan mantel sebelum keluar.

Saat itulah dia melihat noda merah kehitaman membentang dari lantai menuju pintu. Noda seukuran telapak tangan. Tampaknya belum terlalu lama.

“Apa lagi ini...”

Dengan tekad bulat, dia memutar gagang pintu dan membukanya.

Angin segar langsung menyapu rambut hitamnya.

Sambutan mendadak dari matahari membuatnya refleks menutupi mata dengan lengan.

Aroma yang terbawa angin adalah bau pepohonan, bau yang pernah dia cium saat kecil.

Setelah matanya menyesuaikan diri dengan cahaya, pandangannya dipenuhi pemandangan hutan yang indah.

“Di tengah hutan...”

Merasa muak pada dirinya sendiri yang bisa dibuat kehilangan kewaspadaan hanya karena hal sepele seperti itu, Mahiru membanting pintu gubuk dengan kasar. Jalan yang membentang dari gubuk menuju hutan di hadapannya bahkan tidak pantas disebut jalan, hanya setapak yang dibentuk oleh jejak binatang. Namun selain itu, tidak ada rute lain yang tampak bisa dilalui.

Dengan pasrah, dia melangkah maju, menginjak rerumputan dan semak yang tumbuh liar dari tanah.

Syuuh, syuuh.

Pepohonan menggoyangkan tubuh raksasanya seakan tengah menari.

Kep, kep, kep.  

Seekor kupu-kupu terbang dengan lintasan sembarang, seolah mengejek.

Cah, cah, cah.

Matahari bersinar lembut, seperti mengawasi langkah Mahiru.

Gemerisik.

Anak sungai mengalir lapang, seakan mendorong punggungnya untuk terus berjalan.

Setelah beberapa waktu menyusuri hutan, akhirnya dia tiba di sebuah jalur yang layak disebut jalan. Tidak diaspal atau dirawat secara khusus, namun jelas sering dilalui orang.

“Persimpangan...”

Tidak lama setelah keluar ke jalan itu, dua arah terbentang di hadapannya.

Jalan kiri menanjak menuju pegunungan.

Jalan kanan membentang sempit, mengikuti aliran sungai kecil.

Mahiru memilih jalur menanjak di sebelah kiri. Dia khawatir, mungkin ada hewan buas yang berkeliaran di dekat sungai.

Beberapa langkah kemudian, kilasan putih bersih melintas di depan matanya.

Langkah-langkah ringan yang teratur dan riang. Rok yang berayun lembut.

“Seorang gadis...?”

Melihat manusia pertama di dunia ini, Mahiru tanpa sadar langsung berlari menghampirinya.

 

* * *

 

Gadis yang menoleh saat dipanggil itu membuat Mahiru terpaku.

Di tangannya tergenggam keranjang anyaman cokelat. Di kepalanya terpasang tudung putih. Sepasang mata berwarna zamrud memandang lurus padanya. Rambut pirangnya jatuh hingga sebatas bahu. Usianya barangkali baru 15 atau 16 tahun, tubuhnya mungil, wajahnya manis. Dia tampak begitu fantastis, seolah penghuni negeri dongeng.

Tidak, mungkin bukan seolah. Sosoknya terasa begitu familiar.

Tidak peduli bagaimana dia mencoba menyangkal, bayangan seorang tokoh tertentu muncul dalam benaknya. Di dunia asalnya, tokoh itu digambarkan secara terdistorsi dalam buku bergambar. Rambut pirang itu. Tudung putih yang kelak akan ternodai merah. Keranjang yang kini digenggamnya.

“...Tudung Merah.”

Itulah ingatan terakhir sebelum dia terseret ke dunia ini. Buku cerita yang dia ambil di perpustakaan. Dongeng yang telah kehilangan kewarasannya.

“Eh? Merah dari mana? Ini putih. Putih sekali.”

Gadis itu mencubit ujung tudung putihnya, memiringkan kepala sambil bersikeras.

“Ah, bukan begitu maksudku... ya, cocok kok. Tudung putih itu.”

Sambil menggaruk tengkuknya untuk menutupi kegugupan, Mahiru berbicara dengan canggung.

“Hah. Tapi warna merah juga sepertinya bagus, ya. Rasanya lebih pas. Ngomong-ngomong, Kakak ini siapa sebenarnya?”

“Siapa... ya, siapa...”

Di dunia ini, sebenarnya dia ini siapa?

Bahkan di mana dia berada pun dia tidak tahu. Di tengah hutan. Pakaian gadis itu jelas bukan pakaian Jepang.

Kalau dilihat sekilas, mungkin seperti negeri asing di Eropa. Tapi entah kenapa rasanya juga berbeda. Yang paling mencolok, penampilannya seperti keluar dari dunia fantasi. Dunia lain? Namun suara burung yang terdengar terasa familiar. Tumbuhan di sekitarnya pun tidak ada yang aneh atau ganjil. Semuanya terasa campur aduk. Tapi saat dia mengingat keberadaan gadis ini dan kejadian sebelum bertemu si Gembala itu, samar-samar mulai terangkai sesuatu di benaknya.

Siswa kelas dua SMA. 17 tahun. Mantan penghuni lembaga pembinaan anak. Jadi, siapa dirinya sebenarnya?

Pertanyaan yang mungkin takkan pernah menemukan jawaban berputar-putar di kepalanya.

“Pakaiannya aneh ya. Seragam kerja khusus? Tapi... hmm... ah, jangan-jangan, Kakak ini pemburu?”

Mungkin dia menyimpulkannya dari senapan yang dibawa Mahiru.

Kalau itu membuatnya puas, Mahiru memutuskan untuk mengikuti alurnya saja.

“Yah, kurang lebih begitu. Aku ke sini buat berburu, tapi malah tersesat.”

“Oh, begitu begitu. Kalau belum terbiasa, daerah sini memang membingungkan. Hasil buruan Kakak... dari kelihatannya sih belum ada, ya?”

“Ya, begitulah. Ngomong-ngomong, kamu sendiri ngapain di tempat begini?”

“Jangan panggil ‘kamu’, dong. Namaku Maisy. Maisy Carmine. Boleh kok panggil aku Nona Maisy.”

Maisy mencondongkan tubuh, menatap wajah Mahiru. Lalu Anda siapa? sorot matanya bertanya.

“Aku Mahiru. Misora Mahiru. Salam kenal, Maisy.”

“Wah, langsung panggil nama saja, ya.”

“Salam kenal, Nona Maisy.”

“Eh, pakai ‘Nona’ segala, Kakak waras tidak sih?”

“Lalu maunya apa?”

Melihat wajah Mahiru yang benar-benar kebingungan, Maisy tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Mahiru sendiri tidak mengerti bagian mana yang lucu, tapi bagi gadis itu tampaknya sangat menggelitik.

“Maisy lagi apa di sini?”

“Aku mau pulang. Tadi beli pai apel di kota, sekarang mau minum teh bareng Nenek.”

Maisy menggoyangkan keranjang yang ditutup kain merah.

Kalau dipikir-pikir, sejak tadi memang tercium aroma manis dan harum yang menggoda.

Melihat sumber bau itu, Mahiru baru sadar sudah cukup lama dia tidak makan apa-apa. Krrruuuk. Perutnya berbunyi menyedihkan.

“Hei! Jangan pasang wajah seperti itu! Aku tidak akan membagikannya, oke!? Ini untuk Nenek!”

Maisy mengembungkan pipi, menatap lurus ke arah perut Mahiru.

“Aku tidak minta. Aku memang belum makan.”

“...”

Maisy menatapnya dengan pandangan menyipit dan curiga.

Tatapan seperti sedang menilai itu membuat Mahiru merasa tidak nyaman, tubuhnya sedikit beringsut gelisah.

“Ngomong-ngomong, berapa lama dari sini ke kota terdekat?”

“Kalau mau turun gunung sebelum matahari terbenam, itu mustahil.”

“Begitu ya. Berarti untuk sekarang memang harus ke sana...”

“Kamu serius?”

“Hah?”

“Belakangan ini kabarnya ada serigala pemakan manusia berkeliaran. Apa kamu bisa mengalahkannya, Mahiru-san?”

“...Entahlah.”

Mahiru melirik senapan di punggungnya dengan senyum pahit.

Seumur hidup, dia belum pernah benar-benar menggunakan senjata api. Pistol pernah dia sentuh, tapi hanya sekadar menyentuh, bukan berarti bisa mengoperasikannya.

“Ah, tidak mungkinlah. Serigala itu kadang turun sampai ke kota, makan santai, lalu kembali lagi ke hutan. Pasti gesit sekali dan sangat cerdas.”

Kalau dia bisa menemukan serigalanya lebih dulu, mungkin masih ada peluang. Selain itu, rasanya bahkan tidak akan jadi pertarungan. Menembak target yang bergerak pasti sangat sulit. Dia pun tidak yakin bisa tetap tenang saat mengangkat senapan.

“Selain itu, kadang beruang juga muncul.”

Wajah Mahiru makin lama makin muram.

Krrruuuk. Sebagai ganti jawaban, perutnya berbunyi lagi.

“Haa... Terpaksa deh.”

Sambil memainkan ujung rambutnya dan memalingkan wajah, Maisy menyodorkan keranjangnya ke arah Mahiru.

“Hah? Buatku?”

“Bukan! Bukan berarti aku mau bagi! Tolong bawa. Angkut. Kalau sudah sampai rumah dan Nenek mengizinkan, aku bagi sedikit. Mungkin kamu juga boleh menginap. Kamarnya kosong, kok.”

Maisy berbicara cepat, wajahnya tampak agak malu.

“Oh ya, ada syarat lain. Butter cake. Itu kesukaanku. Ingat baik-baik, ya. Nanti aku minta sebagai ganti pai apel. Tukar tambah.”

Masih dengan wajah berpaling, Maisy mengangkat sedikit pandangannya, penasaran dengan reaksi Mahiru. Mahiru tersenyum lembut lalu berkata, “Wah, terima kasih. Maisy baik sekali.”

“Hah! Aku tidak baik, ya! Cuma kebetulan butuh tukang angkut saja! Sekalian bisa dapat makanan favorit juga, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!”

“Ya, ya.”

“Eh, kenapa tatapanmu lembut begitu? Menyebalkan sekali.”

“Entah kenapa kalau ngobrol sama Maisy itu... ah, tidak jadi.”

Dia hampir saja keceplosan mengatakan, mengingatkanku pada adikku.

Asahi jauh lebih kalem, sama sekali tidak mirip gadis manja yang jelas-jelas keras kepala ini. Kalau dipaksa mencari kesamaan, mungkin hanya satu, entah kenapa mereka sama-sama membangkitkan naluri ingin melindungi. Sudah lama dia tidak melihat wajah adiknya. Mungkin karena itu dia jadi sedikit sentimental.

“Ih, bikin penasaran saja. Tapi pasti bukan hal penting... ayo, kita berangkat, Kakak tukang angkut. Jangan coba-coba mencicipi di jalan, ya.”

Dengan senyum jahil seperti anak kecil, Maisy yang kini bebas dari beban melangkah lebih dulu memimpin jalan.

Langkah kakinya ringan dan seperti sedang menari, dan ketika Maisy memintanya untuk mempercepat langkah, mereka berdua mengikutinya, berjalan menuju rumahnya.

 

* * *

 

Di dalam buku cerita itu, kalau tidak salah, Tudung Merah membawa roti dan susu.

Seorang gadis bertudung putih. Hutan. Keranjang. Rumah tempat nenek menunggu. Detailnya memang berbeda, namun untuk memahami dunia ini, kisah “Tudung Merah” yang pernah dia baca di perpustakaan lembaga pembinaan anak tidak mungkin diabaikan begitu saja.

Jika gadis ini benar-benar bertumpang tindih dengan cerita itu, maka yang menanti di ujung sana adalah akhir yang mengenaskan. Titik akhir kegilaan yang berlumur darah dan duka. Sebuah kisah tentang seorang gadis malang yang tidak memiliki harapan keselamatan.

Meski perasaan cemas yang samar menyelusup di dadanya, Mahiru terus berjalan menyusuri hutan sambil mengobrol dengan Maisy. Tidak lama kemudian, di sebuah tanah lapang, berdirilah sebuah rumah beratap merah, sendirian.

Bukan bangunan baru, tetapi dari luar pun terlihat jelas bahwa rumah itu dirawat dengan baik. Besarnya cukup untuk dihuni satu keluarga, rumah yang kokoh dan layak.

Jika menemukannya di tengah malam, mungkin orang akan ragu untuk mengetuk pintunya karena aura ganjil yang menyelubunginya. Namun Maisy tersenyum lebar penuh kegembiraan dan membuka pintu tanpa ragu. Engselnya berderit pelan.

Bahkan sebelum sang pemilik rumah sempat menyambut, Maisy sudah berlari masuk dan memeluk neneknya dengan penuh semangat, namun tetap dengan sentuhan lembut yang penuh perhatian.

“Yay! Nenek, aku pulang!”

Suaranya mendadak berubah manja, begitu berbeda dari sebelumnya hingga sulit dipercaya itu orang yang sama.

Sang nenek menyambutnya dengan senyum hangat.

Rambutnya telah memutih seluruhnya. Pakaiannya sederhana dan bersih. Pinggangnya sedikit membungkuk, namun sinar kehidupan masih terpancar kuat darinya.

“May-chan selalu ceria, ya.”

“Iya! Hari ini pun aku tetap sehat dan imut!”

“Tentu saja, seperti biasa kamu sangat menggemaskan. Oh, keranjang itu...”

“Iyaaa! Aku beli pai apel! Nenek suka sekali, ‘kan? Kupikir Nenek pasti senang!”

Maisy dan neneknya, Olivia, berbincang riang merayakan pertemuan mereka.

Mahiru berdiri di luar pintu, memandang pemandangan itu dengan senyum tipis.

“Terima kasih selalu, ya. Nenek jadi tidak sabar ingin mencicipinya. Ngomong-ngomong, May-chan, anak laki-laki berpakaian aneh itu siapa?”

Olivia mengalihkan pandangannya pada Mahiru. Bukan nada terkejut karena melihat tamu asing, melainkan lebih heran karena Maisy membawa orang lain ke rumah.

“Oh, dia cuma tukang angk... maksudnya, dia kelihatannya sedang kesulitan, jadi aku menolongnya! Sepertinya dia lapar sekali, jadi kupikir mungkin bisa makan bersama. Lagipula, kalau ada tenaga pria, pasti lebih membantu!

“Aku ini gadis baik hati, lho!” katanya sambil membusungkan dada.

Bagi Mahiru, yang sudah bersyukur hanya karena akan diberi makan, senyum tipis itu terasa cukup.

“Wah, kasihan sekali. Namaku Olivia. Senang berkenalan.”

“Mahiru. Senang berkenalan juga, Olivia-san.”

“Oh, sopan sekali. Tutup pintunya dan kemarilah. Nenek siapkan teh.”

Mahiru mengangguk ringan dan melangkah masuk ke rumah Maisy.

Perapian dari batu bata. Langit-langit tinggi. Di ruang tamu terdapat meja yang bisa diduduki enam orang. Dapurnya pun luas dan rapi. Peralatan makan tertata bersih di lemari, dan pakaian yang telah dijemur tergantung di kursi goyang. Rumah itu memiliki kehangatan yang pas, nyaman dan terasa hidup.

“Rumahnya indah sekali.”

“Terima kasih. Tinggal berdua dengan May-chan memang terasa luas dan membersihkannya cukup merepotkan, tapi rumah ini nyaman.”

Sementara Mahiru terpukau memandangi interiornya, Olivia sudah sibuk menyiapkan jamuan teh. Dia menata tiga cangkir dan menuangkan teh dengan cekatan.

“Kalian tinggal berdua saja?”

Mahiru sempat mengira ada anggota keluarga lain.

Dari jumlah kursi, peralatan makan, hingga banyaknya ruangan di bagian dalam, rumah ini tidak terasa seperti hanya dihuni dua orang.

Yang menjawab pertanyaannya justru Maisy.

“Ada Ayah dan Kakak juga. Sekarang cuma sedang pergi saja.”

“...Ah, ya. Benar juga,” sahut Olivia pelan.

“Duh, Nenek belakangan ini pelupa sekali, ya? Nenek masih ingat aku, ‘kan? Tidak lupa, ‘kan?”

“Mana mungkin lupa? Sekalipun Nenek melupakan segalanya, May-chan tetap akan Nenek ingat.”

“Kalau begitu tidak apa-apa. Kalau sampai lupa, aku bisa menangis, lho!”

Maisy mengembungkan pipinya, memperingatkan dengan cara yang justru tampak manis.

Lalu dia menoleh pada Mahiru dengan tatapan tajam, mungkin karena sedikit malu.

“Ngomong-ngomong, Mahiru-san, kenapa berdiri saja? Jangan biarkan Nenek bekerja sendiri. Tolong bantu.”

Sebagai tamu yang diberi tempat menginap dan makanan, Mahiru jelas tidak punya hak menolak.

“Baiklah,” jawabnya ringan, lalu berdiri di samping Olivia.

Namun pai apel sudah dipotong rapi dan siap disajikan. Tidak ada lagi yang bisa dia bantu. Persiapan pun selesai, dan tatapan menyipit Maisy terasa menusuk.

Maisy dan Olivia duduk berhadapan, sementara Mahiru duduk di samping Maisy.

Jamuan teh senja hari. Bintang utamanya tentu pai apel yang dibeli Maisy.

Pai yang dikeluarkan dari keranjang itu memiliki kualitas yang membuat orang ingin bertepuk tangan. Kulitnya dipanggang hingga keemasan, irisan apel tersusun rapi di atasnya. Taburan kayu manis di permukaan menambah kesan elegan. Dari tampilannya saja sudah terasa betapa telitinya sang pembuat.

“Hmm~ memang aku hebat. Pilihan yang luar biasa! Enak sekali, ‘kan!?”

“Benar sekali. Toko baru, ya? Kamu menemukan tempat yang bagus.”

Melihat Maisy tersenyum puas sambil mengangkat garpunya, Olivia tersenyum lembut.

Mahiru memotong sepotong kecil dan memasukkannya ke mulut.

“Enak.”

“Ya, ‘kan! Luar biasa, bukan? Kualitasnya tidak kalah dengan yang biasa kubuat!”

“Maisy bisa memasak?”

“Ada masalah?”

“Bukan begitu. Cuma tidak menyangka saja.”

“Eh? Kenapa reaksimu seperti tidak percaya?”

“Bukan maksudku meremehkan. Hebat. Bisa memasak, punya kebaikan hati menolong orang asing, dan juga imut. Sempurna, ya.”

Dengan nada datar seperti biasa, Mahiru merangkai pujian demi pujian.

Seharusnya dia sedang memuji, namun yang dia terima justru tatapan menyipit penuh curiga dari Maisy.

“Eh, kasar sekali. Baru kali ini aku dapat pujian yang hanya dibuat-buat.”

“Cuma kupikir masakanmu kelihatannya asal-asalan, tapi ternyata lumayan juga.”

“Hah? Lumayan katanya!? Aku ini jago sekali, tahu! Jadi itu isi hatimu sebenarnya!? Dasar tidak bersyukur!”

“Aku bersyukur, kok.”

“Tidak terasa sama sekali kalau kamu bersyukur!”

“Hehe, kalian berdua akur sekali, ya.”

Melihat adu mulut Mahiru dan Maisy, Olivia tersenyum hangat.

Reaksi keduanya bertolak belakang.

“Kurasa kami cocok.”

“Sama sekali tidak cocok!!”

Maisy mengembungkan pipi. “Aku tidak suka orang ini,” katanya seolah ngambek.

Meja makan itu terasa begitu damai, sampai-sampai membuatnya hampir lupa pada keadaan mereka.

Sebuah rumah hangat yang berdiri di tengah hutan yang subur. Maisy yang walau ucapannya tajam tetap saja baik hati. Olivia yang lembut dan penuh kehangatan. Awalnya Mahiru tidak tahu apa yang akan menantinya, tetapi dia ternyata dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

Satu hal yang mengganjal hanyalah dongeng Tudung Merah yang dia baca sebelum datang ke sini. Entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa kisah itu berhubungan dengan dunia ini. Melihat rumah ini justru semakin memperkuat kecurigaannya.

Jika memang benar demikian, bukankah berarti dia akan berhadapan dengan sosok itu?

Binatang pemakan manusia yang disebut Maisy di perjalanan.

Dalam dunia dongeng, tokoh antagonisnya sudah jelas. Jika berbicara tentang musuh dalam kisah Tudung Merah, jawabannya hanya satu.

Dan jika mengingat versi mengerikan yang dia baca di perpustakaan.

“Olivia-san. Di hutan ini memang ada serigala pemakan manusia, ya?”

“Ya. Belakangan ini memang sering terdengar rumor yang tidak menyenangkan.”

“Apa semuanya baik-baik saja? Maksudku, ada langkah pencegahan atau semacamnya? Di sekitar sini sepertinya tidak ada rumah lain. Kalau sampai diserang, pasti berbahaya.”

Dia tidak bisa tidak waspada. Rasanya mustahil semuanya ini kebetulan belaka.

“Kami punya jimat penolak serigala, kok.”

“Tuh,” Maisy mengisyaratkan dengan dagunya. Di samping perapian, bersandar sebuah gunting raksasa. Gunting perak setinggi dada Maisy. Mengangkatnya saja pasti sudah berat. Disebut jimat, tetapi ketajamannya tampak mampu merobek kulit hanya dengan sentuhan.

“Benda itu benar-benar manjur?”

“Ada kepercayaan bahwa serigala membenci gunting. Semua orang di sekitar sini pasti punya. Dengan gunting sebesar itu, serigala pasti tidak berani mendekat.”

Dia paham soal kepercayaan turun-temurun, tapi gagasan bahwa semakin besar guntingnya semakin ampuh terdengar terlalu sederhana.

“Orang-orang di kota juga punya?”

“Ya, kurasa begitu.”

Tadi Maisy bilang serigala itu kadang turun ke kota dan memangsa manusia.

Kalau benar ada korban, wajar saja kalau Mahiru meragukan keampuhan gunting itu. Jimat biasanya tidak lebih dari penenang hati. Namun mungkin, bagi orang-orang di dunia ini, benda itu memiliki makna lebih dari sekadar simbol.

“Aku sendiri belum pernah melihat serigala. Tapi karena ada korban, mungkin memang benar-benar ada.”

“Ya, lebih baik tidak pernah bertemu.”

“Kalau soal belum pernah lihat, justru rumor yang satu lagi lebih menakutkan menurutku. Setidaknya serigala itu jelas wujudnya, jadi mungkin masih bisa dihadapi, bukan?”

“Tidak juga. Justru karena bisa dibayangkan, jadi makin menyeramkan. Rumor apa lagi? Masih ada yang lebih gawat?”

“Entah gawat atau tidak, tapi katanya... di hutan ini ada penyihir.”

“Penyihir?”

Dalam dongeng pun, itu sosok antagonis yang tidak kalah terkenal.

Kadang mengubah pangeran menjadi katak, kadang menidurkan putri dalam tidur abadi, kadang menculik anak-anak untuk disantap.

“Iya. Katanya, dia akan mengabulkan permintaan apa pun, tapi sebagai gantinya dia akan mengambil hal yang paling berharga dari orang itu.”

Barangkali hanya cerita untuk menakut-nakuti anak-anak agar patuh. Mahiru teringat masa kecilnya, saat ibunya berkata, “Kalau tidak cepat tidur, nanti setan datang.”

Lagipula, dalam kisah Tudung Merah seharusnya tidak ada penyihir. Baik dalam buku yang dia baca sebelum bertemu si Gembala maupun dalam versi aslinya, tokoh itu tidak muncul.

“Ah, cuma rumor. Rumor saja. Kalau Mahiru-san, apa yang akan kamu minta? Katanya bisa mengabulkan apa saja, lho.”

Apa saja. Jika diberi pilihan seperti itu, hanya satu yang terlintas di benaknya.

Tolong selamatkan adikku, Asahi.

Jika permintaan itu benar-benar hendak dikabulkan, apa harga yang harus dia bayar?

Hal yang paling berharga baginya. Selain Asahi, tidak ada yang lain.

Karena itu, bayaran itu tidak boleh berupa dirinya. Kalau nyawanya sendiri cukup sebagai tebusan, Mahiru pasti akan bersujud tanpa ragu di hadapan sang penyihir. Tapi jika dia menghilang, Asahi pasti akan bersedih. Dia anak yang sangat baik.

Sudahlah. Memikirkan kemungkinan semacam itu hanya akan membuat hati terasa hampa.

“Dengan syarat seperti itu, mana mungkin ada yang mau membuat permintaan.”

Keinginan yang benar-benar ingin diwujudkan tidak seharusnya diserahkan pada orang lain.

Mahiru tahu betul hal itu.

“Jawaban yang membosankan. Pantas saja Mahiru-san tidak populer.”

“Berisik. Kalau kamu, Maisy, mau minta apa?”

“Hmm~ aku ingin makan butter cake sepuasnya!”

Membayangkan permintaan itu terkabul, Maisy tersenyum puas, pipinya mengendur bahagia.

Sederhana sekali.

“Ngomong-ngomong, kira-kira boleh minta berapa kali, ya?”

“Kamu masih kepikiran makanan?”

“Aku tidak bilang soal makanan, ‘kan?”

“Lalu apa?”

“Aku juga suka Bakewell tart, lho~”

Ternyata tetap soal makanan. Mahiru bahkan tidak punya tenaga untuk menyela lagi. Dia tidak tahu apa itu Bakewell tart, tapi pasti sejenis kue.

Maisy memasukkan sepotong pai apel ke mulutnya dengan wajah riang.

Setelah itu mereka terus berbincang ringan tanpa topik penting, hingga jamuan teh pun berakhir.

 

* * *

 

Malam ini dia akan menginap di rumah Maisy.

Malam di pegunungan begitu dingin. Di rumah, mereka tampaknya akan segera menyalakan perapian, maka Mahiru dan Maisy pergi ke hutan untuk mengumpulkan ranting. Sepertinya mereka kekurangan ranting-ranting kecil yang dibutuhkan agar api bisa merambat ke kayu bakar yang lebih besar.

Sekitar mereka remang-remang, dan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu di langit malam. Udara khas pegunungan yang menggigit, ditambah lolongan binatang yang membangkitkan rasa takut. Di bawah sabit bulan yang bersinar terang, Mahiru dengan keranjang punggungnya berjalan berdampingan dengan Maisy yang tampak tak puas.

“Kenapa aku juga harus melakukan hal beginian sih? Jangan-jangan Mahiru-san tidak berguna, ya? Sudah numpang makan gratis, numpang menginap, masih menyuruhku bekerja juga? Begitu, ya?”

Mengumpulkan kayu untuk dibakar bukanlah masalah, tetapi Mahiru yang hidup di Jepang modern tidak punya pengetahuan tentang hal-hal seperti ini. Saat dia kebingungan, Olivia menyarankan agar dia mengajak Maisy.

Meski merasa tidak enak, Mahiru yang memang tidak tahu harus berbuat apa sendirian akhirnya meminta Maisy menemaninya.

“Maaf, aku benar-benar kurang pengetahuan soal beginian.”

“Padahal kamu pemburu?”

“Hei, jangan remehkan pemburu.”

“Lho, kenapa jadi ke situ? Yang kuremehkan itu Mahiru-san, tahu.”

Diremehkan rupanya. Meski begitu, itu masih lebih baik daripada dicurigai macam-macam.

“Ah, jangan-jangan kamu bohong cuma supaya bisa berdua saja denganku Meski aku memang imut, menurutku itu tetap kelakuan buruk.”

“...Setiap saat percaya diri sekali. Itu datangnya dari mana, sih? Rantingnya biar aku saja yang ambil semua, Maisy tinggal kasih arahan saja.”

“Ya tentu saja. Mahiru-san harus bekerja rajin seperti kuda penarik kereta.”

Matanya mulai terbiasa dengan gelap. Mahiru berjongkok dan memungut ranting yang bentuknya kira-kira cocok. Dia belum pernah melihat perapian menyala secara langsung, tetapi setidaknya dia punya gambaran umumnya.

“Maisy, yang begini sudah oke?”

“Jelas tidak. Sama sekali tidak. Ranting basah seperti itu mana mungkin bisa terbakar? Itu sih akal sehat. Kamu ini bodoh, ya?”

“Kalau dipikir-pikir... benar juga. Jadi itu patokannya, ya. Maisy memang pintar.”

“Yang seperti ini mah biasa saja. Cuma Mahiru-san saja yang terlalu bodoh.”

“Itu juga tidak bisa kubantah.”

Setelah ditegur, Mahiru mencari ranting kecil yang kering dan memasukkannya ke keranjang punggung. Dia duduk sambil tetap mengenakan keranjang dan terus mencari ranting. Pekerjaan sederhana, tetapi melelahkan. Memang mungkin terlalu kejam kalau menyuruh Olivia melakukan ini.

“...Eh, reaksimu menjijikkan. Tidak mau membalas sedikit pun? Tidak apa-apa kamu diperlakukan seenaknya oleh gadis yang lebih muda? Jadinya aku seperti anak jahat, tahu.”

“Kalau begitu mungkin kamu bakal merasa bersalah, Maisy.”

“Uwah... mungkin aku jadi tidak suka sama kamu.”

Maisy menjulurkan lidah sambil mengejek Mahiru.

“Mahiru-san sebenarnya berkepribadian buruk, ya.”

“Mungkin saja. Tapi Maisy itu gadis yang baik dan imut, kok.”

“Hah, haaah!? Jijik, sungguh menjijikkan! Ih, jijik banget!”

Pipi Maisy memerah. Dia meninggikan suara sampai ludahnya hampir beterbangan. Melihat reaksinya barusan, mungkin dia memang tidak terbiasa dipuji.

“Berhenti banyak omong dan cepat kerja, dasar si menjijikkan.”

“Kurasa sudah cukup banyak. Masih kurang?”

“Tidak akan pernah rugi punya banyak. Jadi ambil lagi yang banyak.”

“Baik, baik, sesuai perintah, Nona.”

Mahiru mengikuti arahan Maisy dan terus memungut ranting sampai keranjangnya penuh.

Dengan jumlah sebanyak ini, rasanya tidak akan ada keluhan lagi.

Mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah. Kalau tadi dia datang sendirian, mungkin Mahiru sudah tersesat dan tidak bisa kembali.

Setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba pandangan mereka terbuka lebar. Di balik hutan terbentang sebuah tempat seperti bukit dengan pemandangan yang luas. Tanpa terhalang dedaunan, ketika mendongak terlihat langit penuh bintang membentang sejauh mata memandang. Maisy duduk seolah bermandikan cahaya bintang itu, kedua kakinya diluruskan santai.

Mahiru menurunkan keranjang punggungnya dan duduk di sebelahnya. Setelah berjalan lama di dalam hutan, saat dia duduk, rasa lelahnya seolah luruh sekaligus.

“Ini tempat favoritku. Langit malamnya indah, bukan begitu?”

Cahaya bintang terpantul di matanya yang sendu. Rapuh. Seakan-akan dia telah menyerah pada sesuatu, dan di saat yang sama menyimpan sedikit kepahitan. Ekspresi yang belum pernah Mahiru lihat sebelumnya membuatnya terpaku sejenak.

“Kok diam saja? Terpukau, ya?”

Tanpa mengalihkan pandangan dari langit, Maisy tersenyum pada Mahiru di sampingnya.

“Tidak, kamu terlalu percaya diri.”

“Hah...? Maksudku langitnya, tahu!? Eh, jangan-jangan kamu malah melihatku dan melupakan bintang-bintangnya? Apa aku bintang paling bersinar di langit malam ini?”

“...Salahku. Anggap saja tadi tidak pernah terjadi.”

“Tidak bisa. Untuk sementara ini aku akan menjadikan ini bahan untuk menggodamu, Mahiru-san.”

“Terserah.”

Sambil menggerutu pelan bahwa tingkah Maisy sehari-hari memang pantas digoda, Mahiru menghela napas.

Maisy bilang “untuk sementara”. Apakah itu berarti dia berniat terus berhubungan dengannya ke depannya? Kalau ditanya, mungkin dia akan menyangkal.

“Terima kasih, Maisy.”

“Hah? Tiba-tiba berterima kasih di saat seperti ini itu tidak masuk akal, tahu. Jangan-jangan kamu ini masokis?”

“Bukan begitu. Maksudku, karena kamu sudah menunjukkan tempat ini, mengantarku pulang, berbagi makanan, dan semuanya itu. Kalau aku tidak bertemu Maisy, mungkin keadaanku sudah gawat sekarang. Baru sekarang aku benar-benar menyadarinya.”

Dia tidak punya kenalan. Tidak punya pengetahuan. Tidak tahu di mana dirinya berada. Bahkan tidak tahu kebiasaan, aturan, atau tata krama di sini.

Jika tidak bertemu Maisy, ada kemungkinan dia akan tersesat di hutan sampai mati.

Baru sekarang Mahiru menyadari betapa rapuhnya situasinya. Dia akhirnya cukup tenang untuk memikirkan hal itu. Dan ketenangan itu, tanpa diragukan lagi, berkat Maisy.

“Uwah, lebay sekali. Dan lagi, bukan karena kamu Mahiru-san makanya aku menolongmu. Cuma iseng saja. Itu karena aku ini gadis malaikat yang super baik hati.”

“Meski begitu, aku tetap senang.”

“Haa... ya sudahlah, tidak ada salahnya juga dipuji dan disyukuri... jadi ya tidak apa-apa.”

Setelah itu, sambil berkata neneknya pasti sudah khawatir, Maisy berdiri dan Mahiru mengikutinya pulang.

Mereka menyusun kayu bakar yang sudah tersedia dan ranting-ranting yang tadi dikumpulkan, lalu menyalakannya dengan korek api. Terakhir kali Mahiru memakai korek api mungkin saat pelajaran sains di sekolah dasar. Dia gagal menyalakan dengan baik dan tanpa sengaja mematahkan dua batang.

Setelah itu, mereka bergantian menyeka tubuh dengan kain dan dia diantar ke kamar tamu.

Hari-hari damai yang secara alami dikelilingi orang-orang baik hati.

Namun, tidak mungkin ada kisah yang hanya berisi kebaikan semata.

Langkah kaki kegilaan perlahan-lahan, setapak demi setapak, semakin mendekat.

 

* * *

 

Di rumah itu ada empat kamar utama.

Kamar Maisy, kamar ayahnya, kamar kakaknya, dan satu kamar yang kini dijadikan gudang karena sudah tidak dipakai.

Saat Mahiru bertanya apakah tidak ada kamar untuk Olivia, Maisy menjawab bahwa Olivia sendiri yang bilang dia tidak membutuhkannya. Meski begitu, barang-barang pribadi Olivia secara alami diletakkan di kamar gudang tersebut. Dia tampaknya masuk ke sana hanya saat perlu mengambil pakaian atau keperluan lain; selebihnya, dia hampir selalu menghabiskan waktu di ruang keluarga.

“Aku tidur sama Nenek, jadi Mahiru-san pakai kamar ini saja!”

Maisy memberikan kamar ayahnya, kamar kedua dari bagian paling dalam rumah, untuk Mahiru.

“Tidak apa-apa aku pakai sembarangan? Aku tidak keberatan tidur di ruang keluarga, kok.”

“Tidak apa-apa, sih. Tapi mungkin agak berantakan, jadi tolong dibereskan secukupnya, ya.”

Maisy membuka pintu lalu mendorong Mahiru masuk.

Mahiru sempat mengira kata “berantakan” itu hanya basa-basi atau semacam peringatan halus. Rupanya bukan. Di dalam kamar, pakaian dan barang-barang kecil berserakan di mana-mana, seprai kusut tidak berbentuk, bahkan selimut tergeletak begitu saja di lantai.

“O-Oh...”

“Tuh, ‘kan? Berantakan, ‘kan?”

Kondisinya begitu parah sampai-sampai Mahiru hampir curiga kamar ini sengaja diberikan kepadanya agar dia membersihkannya.

“Ayah dan kakakmu itu pergi dari rumah tadi pagi, ya? Ini ada celana yang dilempar begitu saja seolah baru dilepas.”

“Tidak kok. Cuma memang tidak pernah dibersihkan saja. Sudah lama juga kamar ini tidak dibuka.”

“Eh... hubungan kalian tidak baik?”

Mahiru mulai merasa tidak enak menggunakan kamar ini seenaknya.

“Tidak, tidak. Kami keluarga berempat yang akur, kok. Ayah juga baik, aku sayang sekali sama beliau. Cuma, bersih-bersih itu merepotkan... oh, dan kupikir Ayah mungkin tidak suka kalau kamarnya dimasuki putrinya yang sudah seusia ini.”

Maisy tersenyum manis, jelas-jelas seperti baru saja mengarang alasannya di tempat.

Bukannya justru sebaliknya? Biasanya anak perempuan yang enggan masuk kamar ayahnya.

“Terserah, deh. Yang jelas, aku pakai ranjangnya tanpa sungkan, ya.”

“Silakan, silakan~. Kalau sekalian dibereskan sedikit, aku akan sangat terbantu.”

Jadi memang itu tujuannya. Meski begitu, sebagai orang yang menumpang menginap, Mahiru tidak bisa banyak mengeluh. Kalau begitu, sekalian saja dia bersihkan sampai Maisy terkejut melihat hasilnya.

“Baiklah. Terima kasih. Selamat malam, Maisy.”

“Iya. Selamat malam.”

Pintu pun ditutup. Mahiru sendirian di kamar ayah Maisy.

Untuk sementara, dia mulai memunguti barang-barang yang berserakan di lantai. Kebanyakan pakaian. Kemeja-kemeja dilipat dan dimasukkan seadanya ke dalam rak.

Saat dia menggantung mantel di hanger dan menyimpannya ke dalam lemari, selembar kertas meluncur jatuh perlahan. Ukurannya kira-kira sebesar kartu pos, tampak seperti foto hitam-putih.

Ketika dipungut, terlihat tiga orang di dalamnya. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan wajah cemberut, mungkin ayah Maisy. Seorang gadis berkerudung tersenyum cerah, Maisy. Dan di sampingnya, gadis lain dengan kerudung warna berbeda, barangkali kakaknya.

Tidak lebih dari foto keluarga biasa.

Mahiru memasukkan kembali foto itu ke saku mantel ayah Maisy, lalu menutup lemari.

“Ugh.”

Saat melanjutkan bersih-bersih, dia menemukan sebuah gelas bir besar tergeletak di lantai. Bau alkohol menusuk hidungnya. Masih ada sedikit minuman tersisa di dalamnya, dan cairan yang tampaknya tumpah telah meninggalkan noda di lantai. Jika diperhatikan lebih saksama, di sudut kamar juga ada beberapa botol minuman kosong tergeletak.

“Setidaknya yang beginian dibereskanlah.”

Mahiru menggerutu pada penghuni kamar yang saat ini tidak ada di rumah.

Botol-botol dan gelas itu dia kumpulkan di satu sudut ruangan.

Awalnya dia masih menata barang-barang kecil dengan rapi, tetapi di tengah jalan rasa malas menyerang dan dia mulai memasukkan semuanya begitu saja ke rak yang kosong. Sekilas pandang, kamar itu sudah terlihat jauh lebih bersih.

Kemudian, dia menyadari ada beberapa goresan besar yang cukup mencolok di lantai dan dinding.

Maisy memang bilang ayahnya orang yang baik, tetapi kemungkinan kebiasaan buruk saat mabuk tampaknya cukup besar.

Setelah merapikan selimut dan membaringkan diri di ranjang, kesadarannya pun tenggelam begitu saja, seolah terseret lumpur pekat.

 

* * *

 

Hangatnya sinar matahari dan kicau burung kecil. Dari ruangan lain tercium aroma harum yang menggugah selera. Kasur yang lembut berubah bentuk mengikuti setiap gerakan tubuh pemiliknya.

Kesadaran Mahiru perlahan mengapung naik. Di sudut pandangannya yang masih buram, rambut pirang yang tertata rapi bergoyang pelan.

“Gueh!”

Tiba-tiba.

Sebuah benturan tumpul menghantam perutnya.

Mengeluarkan suara seperti katak yang terinjak, Mahiru terlonjak bangun. Dia mengusap perutnya yang berdenyut nyeri, berusaha memahami situasi. Di tangan kanan Maisy yang tersenyum manis, tergenggam sebuah wajan. Sepertinya benda itulah yang barusan menghantam perutnya.

“Mahiru-san, mau tidur sampai kapan? Sudah numpang gratis, masa persiapan sarapan juga mau diserahkan ke orang lain?”

Maisy tampak benar-benar kesal. Rambut Mahiru yang kusut mencuat lucu ke atas.

“Maaf. Ada yang bisa kubantu sekarang?”

“Hah, sudah hampir selesai, kok. Cuci muka dulu sana. Rambutmu juga parah. Kepalamu berantakan seperti masuk ke tengah badai.”

“Iya, maaf.”

“Ngomong-ngomong, kamarnya jadi jauh lebih rapi, ya. Jujur saja, aku tidak berharap banyak, tapi lumayan juga.”

“Aku ‘kan numpang. Setidaknya itu bisa kulakukan.”

“Bagus kalau begitu. Aku kembali dulu, ya. Cepat bersiap dan menyusul.”

Maisy berbalik, melambaikan tangan ringan. Saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu, Mahiru teringat sesuatu dan memanggilnya.

“Eh, pipimu ada bekas air liur.”

“...Eh!?”

Maisy panik dan buru-buru mengusap mulutnya dengan lengan. Dia bahkan sampai berjongkok, meraba sudut bibirnya dengan jari. Sudah hilang belum, ya?

Melihat itu, Mahiru tersenyum puas.

“Maaf, sepertinya aku salah lihat.”

“Kamu ini! Sialan! Habis sarapan, langsung kuusir kamu!”

Maisy melempar bantal yang ada di dekatnya. Bantal itu meluncur lurus ke arah wajah Mahiru, tetapi dia dengan mudah menghindar hanya dengan berjongkok di tempat. Terdengar suara kesal Maisy yang melengking frustrasi.

Anggap saja itu sudah menebus pukulan wajan tadi.

Setelah mencuci muka, Mahiru pergi membantu Olivia. Meski begitu, persiapan sarapan hampir selesai, dan yang bisa dia lakukan hanya membantu menyajikan makanan. Olivia tersenyum lembut sambil berkata dia sebenarnya tidak perlu bangun sepagi itu.

Maisy duduk dengan wajah cemberut. Mungkin tadi Mahiru memang sedikit kelewatan. Namun entah kenapa, gadis itu memang punya daya tarik yang membuatnya ingin menggoda.

“Ada yang bisa kubantu lagi? Pekerjaan berat pun tidak apa. Aku sudah banyak merepotkan, jadi kalau ada yang bisa kulakukan, akan kulakukan.”

Setelah sarapan, Mahiru menawarkan diri kepada Olivia.

“Kamu bisa santai saja, Nak. Tidak ada yang terlalu merepotkan, kok.”

“Kalau tidak melakukan apa-apa malah bikin aku tidak tenang. Beri aku pekerjaan, ya?”

“Begitu, ya? Baiklah. Kalau begitu, ada satu hal yang bisa kamu bantu...”

Olivia membawanya ke sebuah gudang yang letaknya sedikit terpisah dari rumah.

Di dalamnya ada berbagai macam alat: cangkul, busur, sapu, dan benda-benda lain yang Mahiru kenali, juga beberapa barang aneh yang bahkan tidak dia tahu gunanya. Jumlahnya banyak dan tersimpan seadanya. Hampir setengah dari isi gudang itu adalah kayu bakar sepanjang lengan.

“Tolong belah kayu-kayu yang sudah ditumpuk itu.”

Di arah yang ditunjuk Olivia ada tunggul kayu dan sebuah kapak untuk membelah kayu. Sepertinya jarang digunakan, karena karat menonjol jelas di mata kapak itu. Sulit rasanya menyebutnya sebagai alat yang layak pakai.

“Baik. Kira-kira butuh berapa banyak?”

“Sebanyak mungkin akan sangat membantu, tapi jangan memaksakan diri, ya. Kalau sudah merasa cukup, berhenti saja.”

“Aku akan membuat kue sambil menunggu,” tambah Olivia sebelum kembali ke rumah.

Mahiru memperhatikannya pergi, lalu segera mengambil kapak itu. Beratnya jauh melebihi dugaan hingga tubuhnya sedikit oleng. Dia menaruh sepotong kayu di atas tunggul dan mencoba mengayunkan kapak. Dia cukup percaya diri dengan kemampuan fisiknya, tetapi kayu itu ternyata tidak mudah terbelah.

Bukan karena dia tidak terampil, melainkan karena alatnya yang bermasalah. Gagang yang sudah usang mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi mata kapak yang berkarat separah itu jelas tidak memiliki ketajaman yang berarti. Memaksa memakainya mungkin tetap bisa membelah kayu, namun akan memakan waktu terlalu lama.

Mahiru kembali ke gudang, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengasah kapak.

“Uhuk... Dengan barang sebanyak ini, harusnya ada sesuatu...”

Sedikit saja memindahkan barang, debu beterbangan tebal. Dia menggeser, membalik, membuka kotak, mengobrak-abrik isinya, menggali ke dalam tumpukan, terus mencari. Entah sudah berapa lama berlalu.

Saat seluruh tubuhnya sudah dipenuhi debu, akhirnya dia menemukan sesuatu yang tampak seperti batu asah.

“Lumayan. Setidaknya ini akan membuatnya sedikit lebih baik.”

Dia berdiri hendak keluar membawa batu itu, ketika di dekat pintu masuk dia melihat sesuatu.

Atau mungkin, “sesuatu” adalah kata yang kurang tepat. Bagi Mahiru, itu makhluk yang belum pernah dia lihat. Bahkan dia tidak yakin itu makhluk hidup. Sebuah keberadaan asing. Cahaya pucat. Jika dia memicingkan mata, bentuknya tampak menyerupai manusia. Jika harus menamainya, mungkin itu peri?

Peri itu melayang-layang pelan, seolah mengejeknya.

Haaai. Selamat tinggal. Padahal baru saja bertemu, sudah bilang selamat tinggal itu aneh, ya? Tapi sayang sekali. Kali ini benar-benar sayang.

Peri itu berbicara sambil menatapnya. Bukan berbicara lewat suara biasa, melainkan seakan-akan suaranya langsung menggema di dalam kepala. Suara yang terdengar seperti laki-laki dan perempuan sekaligus, seperti anak kecil dan orang dewasa pada saat yang sama, suara yang aneh.

“Kamu ini apa sebenarnya...”

Apa katanya? Reaksimu membosankan sekali. Tidak seru. Tidak seru! Makanya kamu akan mengalami hal buruk. Buatku sih menyenangkan. Kasihan. Kasihan sekali.

“Hal buruk? Apa maksudmu?”

Wah, benar-benar membosankan. Aku tahu, lho. Orang seperti ini biasanya cepat rusak. Kalau terlalu kosong juga tidak benar, ya. Kamu mengerti tidak?

Jawaban yang tidak jelas arahnya. Mahiru tidak tahu apa identitas atau tujuan peri itu. Atau mungkin sejak awal memang tidak ada tujuan. Sekadar keberadaan yang menyesatkan. Jika begitu, memang sangat seperti peri.

Ngomong-ngomong, kamu tidak punya waktu untuk meladeni kami, ‘kan? Tidak ada waktu. Sama sekali tidak ada.

“Hah? Apa yang kamu mak...”

“Kyyaaa!”

Tiba-tiba, jeritan melengking menggema. Suara tinggi yang serak.

Jeritan itu datang dari arah rumah. Itu suara Maisy.

Ah... sudah tidak akan sempat, ya. Kali ini tidak bisa dihindari. Ya, tidak bisa dihindari.

“Sial! Apa sebenarnya kamu ini!”

Mengabaikan peri yang terus berbicara dengan nada mengejek, Mahiru berlari. Dengan segenap tenaga, dia berlari menuju rumah.

Jeritan tadi jelas milik Maisy. Apa ada serigala yang datang? Atau mungkin penyihir yang dirumorkan itu? Andai saja itu hanya salah paham kecil, sekadar kecerobohan biasa. Namun jeritan tadi terlalu sarat keputusasaan. Itu adalah jeritan yang benar-benar putus asa.

Air liur yang lengket terasa menyumbat tenggorokannya. Paru-parunya sesak. Meski begitu, dia terus berlari.

Akhirnya dia sampai. Bau itu langsung menusuk hidungnya, rasa tidak nyaman yang membuatnya ingin menguras isi perutnya hingga bersih. Seandainya usus direbus sampai mengental, lalu orang yang memasaknya bosan di tengah jalan dan menumpahkannya begitu saja, mungkin baunya akan seperti ini.

Kaca jendela pecah. Aneh sekali, suasananya begitu sunyi.

Dari celah pintu yang terbuka setengah, dia mengintip ke dalam.

“...Apa, ini...”

Pemandangan mengerikan yang terbentang di hadapannya membuat Mahiru seketika limbung.

Mahiru tahu ketakutan yang tidak akan pernah dialami siswa SMA biasa. Dia juga pernah merasakan keputusasaan. Namun ini terlalu kejam untuk disebut sekadar tragedi. Dia menahan hati yang nyaris menjadi gila, menusuk dorongan untuk menyakiti dirinya sendiri, menyisakan secuil nalar untuk memahami, lalu menunduk dan memuntahkan isi perutnya.

Inilah halaman pertama dari sebuah tragedi.

 

Kisah lingkaran gila itu berderit, menggerakkan roda giginya, dan mulai berputar.

 

* * *

 

Meja yang hancur berkeping-keping. Peralatan makan yang pecah. Bahan makanan yang remuk. Tirai yang tercabik. Abu yang merayap keluar dari perapian. Kasur-kasur yang berserakan koyak tidak berbentuk, dan di lantai tertinggal bekas cakaran seolah-olah binatang buas telah menggaruknya.

Di antara semua itu, yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa seluruh ruangan diwarnai oleh satu warna tertentu.

Cairan kental setengah mengering, lebih merah kehitaman daripada jus tomat. Genangan merah menyala yang meluas. Dari lantai, ke dinding, hingga langit-langit, semuanya dihiasi warna itu dengan begitu tajam. Tetesan merah menurun dari langit-langit, jatuh tepat di depan mata Mahiru.

Di pusat semua itu terbaring Olivia.

Mahiru tahu itu Olivia karena dari dua orang yang seharusnya berada di tempat ini, yang tersisa hanya satu, Maisy.

Begitu parahnya keadaan mayat Olivia hingga tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya.

Sebuah kaki tergeletak jauh di sana. Serat-serat otot yang masih tersambung menjulur seperti benang. Organ-organ dalam yang dicabut telah dicincang halus, tulang-tulang telanjang menusuk lantai. Bola mata yang tampaknya sempat menggelinding meninggalkan garis di permukaan lantai. Potongan daging yang tidak lagi dapat dikenali bagian tubuh mana beterbangan ke sana kemari.

“Uwegh...”

Melihat itu, Mahiru kembali memuntahkan isi perutnya.

Menyaksikan muntahan itu, Maisy menyeringai, sudut bibirnya terangkat.

Gaun putihnya kini merah sepenuhnya oleh darah yang memercik. Dari sudut mulutnya menjulur serpihan kecil daging. Saat dia berusaha menghapusnya, warna merah justru semakin melebar di pipinya.

Ah, tidak... tanganku gemetar. Tidak kusangka aku akan muntah.

Kukira rasa takut itu sudah lama lenyap.

Penyakit adikku.

Kematian orang tuaku.

Aku bahkan pernah menodai tangan dengan kejahatan, mengayunkan pisau dan melukai orang.

Kupikir aku sudah mengenal kegelapan dunia. Sudah mengenal rasa sakit dan ketakutan.

Namun.

Apa ini?

Ini terlalu terlalu menjijikkan.

Akal sehatku tidak mampu mengejarnya.

Naluri tubuhku berteriak ketakutan.

Situasi ini seperti adegan film horor murahan.

Terlalu tidak nyata untuk dipercaya.

Namun sensasi muntahan yang masih hangat dan darah yang dingin di kulitnya terasa begitu nyata, tidak terbantahkan.

“Jadi ini... Tudung Merah.”

Maisy meninggalkan jejak kaki berdarah saat dia melangkah perlahan mendekati Mahiru.

Mahiru teringat buku cerita bergambar yang dia baca sebelum datang ke dunia ini.

Kisah tentang Tudung Merah yang menjadi gila setelah memakan daging neneknya.

Pinggangnya terasa lemas karena takut. Dengan gerakan kaku seolah sendi-sendinya berkarat, Mahiru mundur selangkah demi selangkah.

Kakinya tersandung, dan dia pun jatuh terduduk di tempat.

“Ya. Entah kenapa warna merah terasa begitu cocok untukku. Seharusnya memang beginilah diriku sejak awal, ah, merahnya darah memang indah.”

Penampilannya, suaranya, semuanya tetap Maisy.

Gadis yang sedikit tajam lidahnya, egois, namun berhati lembut.

“Apa aku masih terlihat seperti Maisy? Terlihat seperti Maisy yang manis, ceria, dan menggemaskan itu?”

Namun cara bicaranya berbeda. Suasananya berbeda. Dia berubah seakan menjadi orang lain sepenuhnya. Hanya ada satu kemungkinan yang terlintas di benak Mahiru. Meski terasa mustahil dan tidak masuk akal, nalurinya mengatakan demikian.

Dengan riang, dengan menyeramkan, dengan menjijikkan, gadis itu tertawa.

“...Olivia-san?”

Mendengar itu, Maisy membuka mulut lebar-lebar dan tertawa seakan benar-benar terhibur.

Tawa yang tidak mungkin dilakukan Maisy.

“Tepat sekali! Tapi aku tidak suka dipanggil begitu. Aku bukan lagi nenek tua yang layu! Aku Maisy yang muda dan manis! Akulah Maisy Carmine!”

Melihat Maisy tertawa buruk rupa seperti itu, Mahiru tetap terduduk sambil mundur perlahan.

“Omong kosong... Apa maksudnya ini? Maisy, di mana Maisy?”

“Sudah kubilang, akulah Maisy. Kamu bisa melihatnya, bukan? Gadis yang luar biasa manis ini. Ah, rasanya begitu pas. Tentu saja pas.”

“Hah... haha... apa sih ini... apa sebenarnya dunia ini!?”

Meski tidak mengerti logikanya, Mahiru mengerti satu hal: Maisy telah mati, dan Olivia merebut tubuhnya. Yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah Maisy. Itu tidak terbantahkan.

“Kenapa... Bukannya Maisy itu berharga bagimu?”

“Gadis entah dari mana itu? Berharga? Tentu saja tidak. Aku hanya menginginkan tubuh yang muda. Belakangan ini pinggangku sering sakit. Itu yang pertama kali kupikirkan setiap bangun pagi. Tenagaku tidak lagi seperti dulu. Naik turun tangga saja membuatku terengah-engah. Penglihatanku pun memburuk. Sebenarnya wajah Maisy pun hanya terlihat samar bagiku. Wajahmu pun baru kali ini kulihat dengan jelas. Ternyata matamu lebih gelap dari yang kubayangkan, seperti lumpur.”

Seolah memuja tubuh barunya, Olivia memeluk dirinya sendiri dengan kedua lengan sambil melonjak-lonjak kecil.

Setiap kali dia melompat, darah yang menggenang di lantai memercik dengan bunyi basah. Dia menari seperti anak kecil yang bermain setelah hujan reda. Potongan daging yang terlempar menempel di pipi Mahiru, lalu meluncur turun meninggalkan garis lengket sebelum jatuh ke lantai.

“Gila... Apa ini sebenarnya...”

Ketakutan yang lahir dari ketidakmampuan memahami.

Tubuhnya gemetar secara naluriah, terpapar kegilaan yang tidak dikenal yang berdiri di hadapannya.

Perasaannya tidak sempat mengejar kenyataan, yang ada hanya ketakutan semata pada kegelapan di hadapannya.

“Jadi kamulah penyihir itu?”

“Ah, bukan begitu. Penyihir bukanlah peran yang diberikan padaku.”

Dengan langkah ringan berjingkat, dia berpindah tempat seolah sedang menari.

Olivia yang mengenakan kulit Maisy itu mengangkat gunting raksasa setinggi tubuhnya dari genangan darah. Senjata yang tadi tenggelam kini berkilau. Darah kental menetes darinya, dan kegilaan mengangkat kepalanya, siap menerkam.

“Kenapa... kenapa harus Maisy? Bukannya Maisy menganggapmu berharga?”

“Masih mau melanjutkan tanya jawab itu? Yang kupahami hanya kekuatan untuk mengambil alih yang bersemayam dalam diriku, dan fakta bahwa ada wadah terbaik tepat di depan mata.”

“Bukannya kamu neneknya Maisy?”

“Siapa peduli soal itu.”

Gunting raksasa itu menutup. Kaki meja yang terjepit di antaranya terbelah dua semudah mematahkan ranting. Ketajamannya mengerikan, setajam tampilannya.

“Sial... sialan! Masa aku harus mati di tempat seperti ini tanpa tahu apa-apa...!”

Olivia memutar guntingnya seperti sedang menari, lalu bersiap. Gerakannya bak akrobat. Dia mengayunkan gunting sambil menebarkan merah ke sekeliling, gila, sekaligus memiliki keindahan seperti karya seni. Dan justru karena itu, dia semakin menakutkan.

“Aku adalah Maisy Carmine. Tapi untuk hidup sebagai Maisy, ada satu keberadaan yang mengganggu. Waktu kecil, kita ingin tahu segalanya tanpa batas. Tapi semakin dewasa, semakin banyak hal yang justru berharap tidak pernah kita ketahui. Katanya ketidaktahuan itu dosa, tapi bukannya ada banyak hal yang akan membuat kita tetap bahagia jika tidak pernah mengetahuinya?”

Olivia menyeret guntingnya, mendekat perlahan, setapak demi setapak, ke arah Mahiru.

Takut. Dia mengendus kematian.

Justru karena merasakan kematian itulah, otaknya mendadak jernih.

Bukankah tidak masalah jika mati? Bukankah dia memang tidak benar-benar ingin hidup? Jika ketakutan paling mendasar menjadikan kematian sebagai garis akhir, seharusnya dia tidak perlu takut.

Namun, ada yang tidak beres jika dia mati.

Jika Mahiru mati, siapa yang akan menyelamatkan Asahi?

“Aku tidak bisa mati... Tidak mungkin aku mati di tempat seperti ini.”

Sudah tidak termaafkan rasanya dia hidup sementara adiknya menderita sendirian. Jika sampai kehilangan nyawa, bahkan pada arwah orang tuanya pun dia takkan bisa berani bertemu.

Apa pun yang terjadi, dia harus menyelamatkan Asahi.

Untuk itu, Mahiru tidak boleh mati.

Dan lagi, dia belum membalaskan dendam orang tuanya. Peramal itu belum dia habisi.

“Mana mungkin aku mati di tangan nenek tua bangka sialan sepertimu.”

Mahiru meraba lantai yang tergenang darah.

Bang! Bang! Bang! Cecipak! Cecipak!

Tubuhnya tidak lagi gemetar. Dia meraih senapan buru. Mengangkatnya. Membidik.

“Maaf, Maisy. Setidaknya akan kubalaskan dendammu.”

Dia membidik tanpa ragu.

“Kamu bisa melakukannya? Bisa menarik pelatuknya? Bisa menjadi pembunuh?”

Maisy telah direnggut nyawanya secara kejam oleh keserakahan Olivia.

Maisy yang menyukai makanan enak. Yang mencintai neneknya.

Benar. Yang selalu tertawa itu adalah pihak yang merampas.

Jika tubuhnya dibiarkan dipakai sesuka hati seperti ini, itu terlalu kejam bagi Maisy.

“Membayangkan perasaan Maisy saja membuat isi perutku mendidih.”

Mahiru meletakkan jarinya di pelatuk dan menariknya.

Peluru melesat ke arah Olivia, namun meleset, tidak menyentuh sedikit pun, menembus dinding di atas kepalanya.

Entakan yang lebih kuat dari dugaannya membuat Mahiru terlempar dan menjatuhkan senapan itu.

“Sialan...!”

Seumur hidupnya Mahiru tidak pernah menggunakan senjata api.

Dengan pengetahuan seadanya dan meniru apa yang pernah dia lihat, satu tembakan itu tidak berhasil mengenai Olivia.

“Hihihi. Kalau mau menyalahkan, salahkan saja May-chan yang membawamu kemari. Sejak awal aku tidak tertarik pada nyawamu.”

Olivia mengangkat guntingnya lagi. Dia tidak menghentikan langkahnya.

Mahiru kini sangat tenang.

Pikirannya beralih sepenuhnya pada satu hal: kabur.

Seperti yang baru saja dia sadari, yang terpenting, dia tidak boleh mati di sini.

Dendam pada Maisy bisa dibalas kapan saja.

Selama dia hidup.

Di dalam hati, dia menghitung sampai tiga. Lalu dia memulai dengan sekuat tenaga dan berlari.

“...ha?”

Seharusnya begitu.

Namun tanah justru mendekat ke wajahnya.

Lantai terasa miring. Dia berlari, atau setidaknya mencoba berlari, namun tidak maju sedikit pun.

Atau... sejak awal dia memang tidak berlari?

Dengan perasaan tidak enak, Mahiru menoleh perlahan... dan yang seharusnya ada di sana, sudah lenyap.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”

Jeritannya meledak, seakan rasa sakit dimuntahkan dari setiap lubang di wajahnya.

Dari lutut kanan ke bawah, kakinya hilang bersih. Dari potongan itu darah menyembur deras seperti keran rusak. Dan ketika dia menggeser pandangan sedikit ke samping, di sana tergeletak kaki kanannya, yang seharusnya masih tersambung, terbuang seperti sampah.

“Hah... hah... sialan! Tidak mungkin... tidak di sini... aku harus kabur. Harus menyelamatkannya. Aku masih hidup. Masih... masih bisa... masih ada cara...”

Olivia mengatupkan gunting raksasanya berulang kali, seolah mengejek.

Dia tertawa. Dia menikmati situasi ini.

Rasa panas menjalar dari kaki yang terputus, seperti besi cair ditekan ke luka terbuka.

Mahiru mencengkeram lantai dengan kedua tangan dan menyeret tubuhnya menjauh dari Olivia.

Tubuhnya terasa berat. Meski kehilangan satu kaki seharusnya membuatnya lebih ringan, tetap saja menyeret diri begitu terasa amat sulit.

Air mata mengalir tanpa dia mengerti kenapa. Napasnya sesak. Pandangannya menyempit. Suara Olivia terdengar jauh. Jangan menoleh. Kerahkan seluruh tenaga. Maju saja. Gerakkan kaki kiri yang tersisa. Menuju pintu depan. Merayap seperti ulat, meninggalkan jejak merah darah di belakangnya.

“Hah... hah... Asahi! Asahi! Asahi!”

Akhirnya dia sampai di pintu. Telapak tangannya yang berlumur darah menekan lantai. Dia mengangkat tubuhnya. Mengulurkan tangan untuk meraih gagang pintu. Ujung jarinya menyentuhnya. Tidak bisa menggenggam. Sedikit lagi. Dia mengentakkan tubuhnya, melompat kecil dan akhirnya berhasil meraih gagangnya... namun lengannya terlepas dari bahu.

“Ah, ha? Le... lenganku... ah... ha... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”

Lengan kanannya yang masih menggenggam gagang pintu terkulai, tergantung lemas sambil menyemburkan darah.

Dug. Dengan bunyi tumpul, lengan itu jatuh ke lantai.

Saat Mahiru menggeser pandangan ke samping, dilihatnya Olivia berjongkok. Dia mengangkat lengan yang terputus itu, lengan yang tadi milik Mahiru.

“Wah, wah... ternyata lengan itu lumayan berat juga, ya.”

“L-Lepaskan aku... aku akan melupakanmu. Jadi...”

Melihat wajah Mahiru yang menyedihkan, sudut bibirnya terangkat penuh kepuasan.

Seolah-olah dia tidak tahan menahan kegembiraan, karena kini hidup dan mati Mahiru sepenuhnya berada dalam genggamannya.

“Hah? Maisy nggak ngerti deh

Dengan wajah Maisy, Olivia sengaja mengeluarkan suara manja yang dibuat-buat.

Dia menyeringai mengejek, menatap Mahiru yang perlahan tenggelam di genangan darah yang semakin melebar.

Permohonan ampun tidak pernah dikabulkan. Keajaiban tidak pernah datang. Gunting raksasa itu berkilat.

Bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa, penglihatan Mahiru pun tertutup dalam kegelapan.


Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar