Dunia
kosong.
Sebuah
bidang datar yang membentang tanpa ujung. Kedua kakinya berpijak pada permukaan
transparan yang terasa digital.
Ketika
dia mendongak, tidak ada langit maupun langit-langit, hanya kabut kebiruan yang
menyelimuti segalanya.
“Tempat
apa ini?”
Di
dunia yang terasa goyah dan tidak pasti itu, Mahiru bersuara seolah untuk
memastikan bahwa dirinya benar-benar ada. Mendengar suaranya sendiri memberinya
secercah kelegaan. Namun, kecemasan terhadap ruang ini, ruang yang tidak menunjukkan
perbedaan sedikit pun ke mana pun matanya memandang, semakin bertambah setiap
detik.
“Aku
menyebutnya Tempat Pembukaan.”
Sosok
itu muncul begitu saja.
Seolah
kesadarannya barusan hanyalah kebohongan, seolah sejak awal dia memang sudah
berada di sana.
Rambut putihnya tampak seperti kehilangan warna dari keberadaannya sendiri, dan matanya berkilau bak batu kecubung. Seorang wanita yang cantik dan menggemaskan, namun melampaui itu semua, dia memancarkan pesona ganjil yang justru terasa mengerikan. Pakaiannya menyerupai pustakawan dari dunia fantasi.
“Siapa
kamu?”
“Anggap
saja aku ini seorang Gembala. Itulah peran yang diberikan kepadaku.”
Wanita
itu berkata sambil membelai buku berjilid tebal yang tergantung di pinggangnya.
“Tempat
Pembukaan? Gembala? Aku tidak tanya namamu. Tempat ini buat apa? Kamu yang
membawaku ke sini? Tadi aku seharusnya masih ada di perpustakaan...”
“Ya,
ya, wajar kalau kamu bingung. Tapi penjelasan awal selalu jadi bagian yang
paling sulit bagiku. Kamu tahu, tiap orang punya tingkat penerimaan yang
berbeda. Kamu tipe orang yang percaya dunia lain, alien, atau kekuatan
supranatural tidak?”
Suara
sang Gembala terdengar riang. Dia tampak begitu bersemangat hingga seolah bisa
mulai menari kapan saja, wajahnya cerah seperti seseorang yang tidak sabar
menantikan masa depan yang akan datang.
“Hubungan
kita akan panjang atau tidak... itu tergantung padamu. Mari akur saja. Aku
bukan musuhmu. Bahkan bisa dibilang rekannya.”
“Mencurigakan
banget.”
Mahiru
mundur selangkah, menjaga jarak. Harapan sang Gembala untuk mencairkan suasana
sia-sia belaka. Tingkah lakunya justru membuat kewaspadaan Mahiru semakin
menguat.
“Baiklah,
bagaimana kalau kita duduk dan bicara?”
Dia
menjentikkan jari. Dua kursi muncul begitu saja, mewah, berkilau, dengan ukiran
rumit seperti kursi bangsawan dalam dongeng.
“...!?”
Mata
Mahiru terbelalak. Dia menoleh dua kali ke arah kursi yang tiba-tiba muncul
itu.
Sang
Gembala menyeringai puas, seolah itulah ekspresi yang ingin dia lihat.
Yang
ini mungkin lebih familiar bagimu, katanya ringan sambil kembali menjentikkan
jari. Kursi itu berubah menjadi kursi kelas standar seperti yang digunakan di SMA
Mahiru.
“Tidak
perlu terlalu waspada. Di sini tidak ada apa-apa. Dan ‘tidak ada apa-apa’ sama
saja dengan ‘ada segalanya’. Apa pun yang memiliki bentuk, bisa kamu dapatkan
jika kamu mau.”
“Serius,
aku nggak ngerti sama sekali...”
Sang
Gembala duduk lebih dulu, bersandar dalam di kursinya seolah sedang mencicipi
racun.
Dengan
ragu, Mahiru akhirnya ikut duduk.
“Tidak
perlu dipikirkan terlalu rumit. Bukannya hidup lebih menyenangkan jika banyak
hal yang tidak bisa dipahami? Lagi pula, berada berdua dengan gadis manis di
ruang kosong seperti ini tidak terlalu buruk, bukan?”
“Kalau
kamu sih, rasa menyeramkannya lebih dominan daripada manisnya.”
“Hm,
begitu ya? Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”
Dia
menjentikkan jari lagi, dan pakaiannya berubah.
Rok
cokelat bermotif kotak-kotak. Kemeja putih dengan kardigan krem. Pita merah di
leher. Itu adalah seragam SMA yang dulu dikenakan Mahiru.
Padahal
pakaian sebelumnya jelas lebih tidak lazim, tetapi entah kenapa ketika
dikenakan olehnya, justru seragam sekolah itu yang terlihat seperti kostum.
Keberadaannya sendiri terasa begitu fantastis.
“Kenapa...?”
“Kenapa
seragam sekolahmu? Tentu bukan kebetulan. Aku tahu segalanya. Tentang adikmu
yang mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Tentang orang tuamu yang bunuh diri
setelah ditipu peramal kultus. Tentang kamu yang menemukan si peramal itu dan
mencoba membunuhnya.”
Mahiru
refleks berdiri. Tanpa sadar, tinjunya mengepal kuat. Kursi di belakangnya
terdorong dan terjatuh dengan bunyi kering.
“Tenang,
tenang. Jangan menatapku seperti itu. Cara penyampaianku tadi kurang tepat.”
Sang
Gembala mengangkat kedua tangannya, seolah menenangkan.
“Sulit
juga, ya. Entah kenapa aku jadi terlalu bersemangat. Apa mungkin aku ini tipe
yang canggung bersosialisasi?”
“Mana
kutahu.”
“Aku
paham kamu tidak bisa langsung percaya padaku. Kamu pasti bingung. Tapi akan
kukatakan berkali-kali, aku di pihakmu. Dan sebentar lagi, kamu akan
membutuhkan kekuatanku.”
“Sebentar
lagi? Dari tadi kamu ngomong apa sih?”
“Aku
bisa saja menjelaskan semuanya. Tapi kamu tampaknya tipe yang hanya percaya
pada apa yang kamu lihat sendiri, bukan? Kalau begitu, tidak ada gunanya
menjelaskan lebih jauh. Mari kita mulai putaran pertama.”
“Putaran
pertama...?”
“Tenang
saja. Masa depan ini terhubung pada apa yang kamu inginkan. Mungkin akan
sedikit kejam, tapi kamu punya kekuatan yang cukup untuk mengatasinya. Tidak masalah
jika kamu salah berkali-kali. Tidak masalah jika hatimu patah berkali-kali.
Selama api yang membara di dalam dirimu tidak padam, itu saja sudah cukup untuk
menjadikanmu yang terkuat.”
Tidak
satu pun kata-katanya benar-benar bisa dipahami Mahiru. Dia bahkan tidak mampu
menebak emosi wanita itu. Suaranya terdengar seperti bahasa yang sama, namun
maknanya terasa asing, seolah makhluk di hadapannya ini bukanlah manusia.
“Selamat
jalan. Saat kamu kembali nanti, akan kuhibur dengan lembut.”
Sang
Gembala mengambil buku berjilid tebal yang tergantung di pinggangnya dan
membuka halamannya dengan sentuhan lembut.
Pada
tiap halaman terukir simbol-simbol yang tidak menyerupai bahasa mana pun di
dunia ini.
Simbol-simbol
itu memancarkan cahaya pucat, melayang seolah memberkati Mahiru, lalu
menyinarinya.
“A-Apa
ini...?”
Huruf-huruf
yang terangkat dari halaman menari mengelilinginya.
Seakan
membimbing.
Atau
mengutuk.
Run tatta. Run tatta.
Cahaya
itu semakin kuat, begitu kuat hingga terasa menimpa dan menulis ulang
keberadaan Mahiru sendiri.
“Baiklah,
mari kita mulai... ini adalah kisahmu yang sesungguhnya.”
Dunia
dongeng terkutuk dari kisah yang dikenal banyak orang. Halaman pembuka telah
dibuka.
Lingkaran
gila yang telah berputar berkali-kali itu kembali bergerak.
Dengan
senyum licik sang Gembala sebagai ingatan terakhirnya, pandangan Mahiru pun
tenggelam dalam kegelapan.