Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Tempat Pembukaan I

Dunia kosong.

Sebuah bidang datar yang membentang tanpa ujung. Kedua kakinya berpijak pada permukaan transparan yang terasa digital.

Ketika dia mendongak, tidak ada langit maupun langit-langit, hanya kabut kebiruan yang menyelimuti segalanya.

“Tempat apa ini?”

Di dunia yang terasa goyah dan tidak pasti itu, Mahiru bersuara seolah untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar ada. Mendengar suaranya sendiri memberinya secercah kelegaan. Namun, kecemasan terhadap ruang ini, ruang yang tidak menunjukkan perbedaan sedikit pun ke mana pun matanya memandang, semakin bertambah setiap detik.

“Aku menyebutnya Tempat Pembukaan.”

Sosok itu muncul begitu saja.

Seolah kesadarannya barusan hanyalah kebohongan, seolah sejak awal dia memang sudah berada di sana.

Rambut putihnya tampak seperti kehilangan warna dari keberadaannya sendiri, dan matanya berkilau bak batu kecubung. Seorang wanita yang cantik dan menggemaskan, namun melampaui itu semua, dia memancarkan pesona ganjil yang justru terasa mengerikan. Pakaiannya menyerupai pustakawan dari dunia fantasi.

“Siapa kamu?”

“Anggap saja aku ini seorang Gembala. Itulah peran yang diberikan kepadaku.”

Wanita itu berkata sambil membelai buku berjilid tebal yang tergantung di pinggangnya.

“Tempat Pembukaan? Gembala? Aku tidak tanya namamu. Tempat ini buat apa? Kamu yang membawaku ke sini? Tadi aku seharusnya masih ada di perpustakaan...”

“Ya, ya, wajar kalau kamu bingung. Tapi penjelasan awal selalu jadi bagian yang paling sulit bagiku. Kamu tahu, tiap orang punya tingkat penerimaan yang berbeda. Kamu tipe orang yang percaya dunia lain, alien, atau kekuatan supranatural tidak?”

Suara sang Gembala terdengar riang. Dia tampak begitu bersemangat hingga seolah bisa mulai menari kapan saja, wajahnya cerah seperti seseorang yang tidak sabar menantikan masa depan yang akan datang.

“Hubungan kita akan panjang atau tidak... itu tergantung padamu. Mari akur saja. Aku bukan musuhmu. Bahkan bisa dibilang rekannya.”

“Mencurigakan banget.”

Mahiru mundur selangkah, menjaga jarak. Harapan sang Gembala untuk mencairkan suasana sia-sia belaka. Tingkah lakunya justru membuat kewaspadaan Mahiru semakin menguat.

“Baiklah, bagaimana kalau kita duduk dan bicara?”

Dia menjentikkan jari. Dua kursi muncul begitu saja, mewah, berkilau, dengan ukiran rumit seperti kursi bangsawan dalam dongeng.

“...!?”

Mata Mahiru terbelalak. Dia menoleh dua kali ke arah kursi yang tiba-tiba muncul itu.

Sang Gembala menyeringai puas, seolah itulah ekspresi yang ingin dia lihat.

Yang ini mungkin lebih familiar bagimu, katanya ringan sambil kembali menjentikkan jari. Kursi itu berubah menjadi kursi kelas standar seperti yang digunakan di SMA Mahiru.

“Tidak perlu terlalu waspada. Di sini tidak ada apa-apa. Dan ‘tidak ada apa-apa’ sama saja dengan ‘ada segalanya’. Apa pun yang memiliki bentuk, bisa kamu dapatkan jika kamu mau.”

“Serius, aku nggak ngerti sama sekali...”

Sang Gembala duduk lebih dulu, bersandar dalam di kursinya seolah sedang mencicipi racun.

Dengan ragu, Mahiru akhirnya ikut duduk.

“Tidak perlu dipikirkan terlalu rumit. Bukannya hidup lebih menyenangkan jika banyak hal yang tidak bisa dipahami? Lagi pula, berada berdua dengan gadis manis di ruang kosong seperti ini tidak terlalu buruk, bukan?”

“Kalau kamu sih, rasa menyeramkannya lebih dominan daripada manisnya.”

“Hm, begitu ya? Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”

Dia menjentikkan jari lagi, dan pakaiannya berubah.

Rok cokelat bermotif kotak-kotak. Kemeja putih dengan kardigan krem. Pita merah di leher. Itu adalah seragam SMA yang dulu dikenakan Mahiru.

Padahal pakaian sebelumnya jelas lebih tidak lazim, tetapi entah kenapa ketika dikenakan olehnya, justru seragam sekolah itu yang terlihat seperti kostum. Keberadaannya sendiri terasa begitu fantastis.

“Kenapa...?”

“Kenapa seragam sekolahmu? Tentu bukan kebetulan. Aku tahu segalanya. Tentang adikmu yang mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Tentang orang tuamu yang bunuh diri setelah ditipu peramal kultus. Tentang kamu yang menemukan si peramal itu dan mencoba membunuhnya.”

Mahiru refleks berdiri. Tanpa sadar, tinjunya mengepal kuat. Kursi di belakangnya terdorong dan terjatuh dengan bunyi kering.

“Tenang, tenang. Jangan menatapku seperti itu. Cara penyampaianku tadi kurang tepat.”

Sang Gembala mengangkat kedua tangannya, seolah menenangkan.

“Sulit juga, ya. Entah kenapa aku jadi terlalu bersemangat. Apa mungkin aku ini tipe yang canggung bersosialisasi?”

“Mana kutahu.”

“Aku paham kamu tidak bisa langsung percaya padaku. Kamu pasti bingung. Tapi akan kukatakan berkali-kali, aku di pihakmu. Dan sebentar lagi, kamu akan membutuhkan kekuatanku.”

“Sebentar lagi? Dari tadi kamu ngomong apa sih?”

“Aku bisa saja menjelaskan semuanya. Tapi kamu tampaknya tipe yang hanya percaya pada apa yang kamu lihat sendiri, bukan? Kalau begitu, tidak ada gunanya menjelaskan lebih jauh. Mari kita mulai putaran pertama.”

“Putaran pertama...?”

“Tenang saja. Masa depan ini terhubung pada apa yang kamu inginkan. Mungkin akan sedikit kejam, tapi kamu punya kekuatan yang cukup untuk mengatasinya. Tidak masalah jika kamu salah berkali-kali. Tidak masalah jika hatimu patah berkali-kali. Selama api yang membara di dalam dirimu tidak padam, itu saja sudah cukup untuk menjadikanmu yang terkuat.”

Tidak satu pun kata-katanya benar-benar bisa dipahami Mahiru. Dia bahkan tidak mampu menebak emosi wanita itu. Suaranya terdengar seperti bahasa yang sama, namun maknanya terasa asing, seolah makhluk di hadapannya ini bukanlah manusia.

“Selamat jalan. Saat kamu kembali nanti, akan kuhibur dengan lembut.”

Sang Gembala mengambil buku berjilid tebal yang tergantung di pinggangnya dan membuka halamannya dengan sentuhan lembut.

Pada tiap halaman terukir simbol-simbol yang tidak menyerupai bahasa mana pun di dunia ini.

Simbol-simbol itu memancarkan cahaya pucat, melayang seolah memberkati Mahiru, lalu menyinarinya.

“A-Apa ini...?”

Huruf-huruf yang terangkat dari halaman menari mengelilinginya.

Seakan membimbing.

Atau mengutuk.

Run tatta. Run tatta.

Cahaya itu semakin kuat, begitu kuat hingga terasa menimpa dan menulis ulang keberadaan Mahiru sendiri.

“Baiklah, mari kita mulai... ini adalah kisahmu yang sesungguhnya.”

Dunia dongeng terkutuk dari kisah yang dikenal banyak orang. Halaman pembuka telah dibuka.

Lingkaran gila yang telah berputar berkali-kali itu kembali bergerak.

Dengan senyum licik sang Gembala sebagai ingatan terakhirnya, pandangan Mahiru pun tenggelam dalam kegelapan.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar