Seorang
gadis manis bak sekuntum bunga, mengenakan tudung putih bersih, bernama Maisy.
Suatu
hari, Maisy mendapat tugas mengantarkan roti dan susu kepada neneknya yang
tinggal jauh di dalam hutan.
Dengan
langkah ringan, dia menyusuri jalan setapak menuju rumah sang nenek, semakin
masuk ke rimba yang lebat.
Di
tengah hutan yang dipenuhi dedaunan hijau pekat, cahaya matahari yang bersinar
terik terhalang oleh rimbunnya pepohonan, membuat suasana menjadi redup dan
remang.
Di
sanalah muncul seekor serigala yang juga mengenakan tudung menutupi kepalanya
dalam-dalam.
“Gadis
kecil yang manis, manis sekali. Membawa sesuatu yang tampak begitu lezat... kamu
hendak pergi ke mana sekarang?”
Serigala
itu menyembunyikan cakar dan taringnya, menirukan suara wanita yang nyaris
terlalu sempurna untuk terdengar alami, lalu mengajukan pertanyaan itu kepada Maisy.
Maisy yang polos menjawab dengan ceria, tanpa sedikit pun curiga.
“Ke
rumah Nenek! Aku mau mengantarkan roti dan susu!”
Mendengar
itu, serigala pun tersenyum licik dalam hati dan memutuskan untuk mengambil
jalan pintas agar bisa sampai lebih dulu ke rumah nenek.
Tidak
lama kemudian, dia tiba di rumah kecil yang berdiri di ujung jalan mendaki.
Dengan cakarnya yang tajam, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan, serigala itu
menusuk tubuh sang nenek.
Darah
nenek ditampungnya ke dalam botol, sementara dagingnya dipotong dengan cekatan
dan dimasak.
Setelah
semuanya selesai, serigala itu menyelinap ke ranjang tempat nenek biasa
berbaring, bersiap menyambut kedatangan Maisy.
Beberapa
saat kemudian, Maisy pun tiba. Tanpa menaruh curiga pada nenek yang
menyambutnya, dia menurut ketika disuguhi anggur dan daging. Dia memakannya. Dia
benar-benar memakannya.
“Kenapa
telingamu besar?”
“Kenapa
matamu besar?”
“Kenapa
cakarmu tajam?”
Merasa
ada yang janggal pada sosok nenek di hadapannya, Maisy melontarkan
pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu.
Namun
dengan kepiawaian berbicara, serigala mengelak dengan luwes, menghindari
kecurigaan itu.
Akhirnya,
dengan suara terbata-bata, Maisy bertanya, “K-Kenapa mulutmu besar sekali?”
Jantung
Maisy berdegup kencang, dan pada saat yang sama, mulut sang nenek terbelah dan
menyeringai begitu lebar hingga tampak tidak wajar.
“Untuk
memakanmu.”
Serigala
pun memperlihatkan wujud aslinya.
Dengan
tubuh gemetar ketakutan, Maisy menanyakan di mana neneknya yang asli berada.
Tanpa
berkata-kata, serigala itu hanya mengangkat sudut bibirnya, lalu menunjuk ke
arah perut Maisy yang tampak membuncit.
Barulah
saat itu Maisy menyadari, anggur dan daging yang tadi dia santap adalah
neneknya sendiri.
Tiba-tiba,
perut Maisy membesar secara tidak wajar. Dari balik kulit yang meregang, wajah
nenek yang kurus dan bertulang mencuat, seakan menerobos keluar. Bola mata yang
berlendir, daging pipi yang membusuk dan runtuh.
“Kenapa
kamu memakanku?”
Suara
berlumpur itu menggema di dalam kepala Maisy, lengket dan menjijikkan, seolah
melilit otaknya.
Melihat
itu, wajah Maisy terdistorsi oleh ketakutan. Dia mundur perlahan, berusaha
mengalihkan pandangan dari wajah nenek yang muncul dari tubuhnya sendiri.
Namun
dia tidak mampu menghapus ratapan penuh kebencian yang menggema dari dalam
dirinya.
Tidak
sanggup lagi menahannya, Maisy mencakar-cakar kepalanya sendiri hingga hampir
gila, lalu meraih sebilah golok besar yang tergeletak di dekatnya.
“Maaf
maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf...”
Dengan
mata tidak lagi fokus, dia mengayunkan golok itu sambil terus mengulang
permintaan maafnya seperti orang kerasukan.
Berulang
kali. Lagi dan lagi. Dan lagi.
Dia
membelah daging. Menghancurkan tulang. Menebas.
Mematahkan.
Meremukkan.
Menghancurkan.
Menghancurkan.
Menghancurkan.
Setiap
satu ayunan membuat tubuh serigala berubah bentuk, memercikkan cairan merah ke
segala arah, sedikit demi sedikit mengurangi wujud yang membuatnya masih bisa
disebut serigala.
Jeritan
serigala seakan tidak lagi terdengar oleh Maisy. Tubuhnya yang bermandikan
darah tampak sepenuhnya merah... seperti Tudung Merah yang ternodai kegilaan
berdarah.