Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Gadis Bertudung Merah

Seorang gadis manis bak sekuntum bunga, mengenakan tudung putih bersih, bernama Maisy.

Suatu hari, Maisy mendapat tugas mengantarkan roti dan susu kepada neneknya yang tinggal jauh di dalam hutan.

Dengan langkah ringan, dia menyusuri jalan setapak menuju rumah sang nenek, semakin masuk ke rimba yang lebat.

Di tengah hutan yang dipenuhi dedaunan hijau pekat, cahaya matahari yang bersinar terik terhalang oleh rimbunnya pepohonan, membuat suasana menjadi redup dan remang.

Di sanalah muncul seekor serigala yang juga mengenakan tudung menutupi kepalanya dalam-dalam.

“Gadis kecil yang manis, manis sekali. Membawa sesuatu yang tampak begitu lezat... kamu hendak pergi ke mana sekarang?”

Serigala itu menyembunyikan cakar dan taringnya, menirukan suara wanita yang nyaris terlalu sempurna untuk terdengar alami, lalu mengajukan pertanyaan itu kepada Maisy. Maisy yang polos menjawab dengan ceria, tanpa sedikit pun curiga.

“Ke rumah Nenek! Aku mau mengantarkan roti dan susu!”

Mendengar itu, serigala pun tersenyum licik dalam hati dan memutuskan untuk mengambil jalan pintas agar bisa sampai lebih dulu ke rumah nenek.

Tidak lama kemudian, dia tiba di rumah kecil yang berdiri di ujung jalan mendaki. Dengan cakarnya yang tajam, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan, serigala itu menusuk tubuh sang nenek.

Darah nenek ditampungnya ke dalam botol, sementara dagingnya dipotong dengan cekatan dan dimasak.

Setelah semuanya selesai, serigala itu menyelinap ke ranjang tempat nenek biasa berbaring, bersiap menyambut kedatangan Maisy.

Beberapa saat kemudian, Maisy pun tiba. Tanpa menaruh curiga pada nenek yang menyambutnya, dia menurut ketika disuguhi anggur dan daging. Dia memakannya. Dia benar-benar memakannya.

“Kenapa telingamu besar?”

“Kenapa matamu besar?”

“Kenapa cakarmu tajam?”

Merasa ada yang janggal pada sosok nenek di hadapannya, Maisy melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu.

Namun dengan kepiawaian berbicara, serigala mengelak dengan luwes, menghindari kecurigaan itu.

Akhirnya, dengan suara terbata-bata, Maisy bertanya, “K-Kenapa mulutmu besar sekali?”

Jantung Maisy berdegup kencang, dan pada saat yang sama, mulut sang nenek terbelah dan menyeringai begitu lebar hingga tampak tidak wajar.

“Untuk memakanmu.”

Serigala pun memperlihatkan wujud aslinya.

Dengan tubuh gemetar ketakutan, Maisy menanyakan di mana neneknya yang asli berada.

Tanpa berkata-kata, serigala itu hanya mengangkat sudut bibirnya, lalu menunjuk ke arah perut Maisy yang tampak membuncit.

Barulah saat itu Maisy menyadari, anggur dan daging yang tadi dia santap adalah neneknya sendiri.

Tiba-tiba, perut Maisy membesar secara tidak wajar. Dari balik kulit yang meregang, wajah nenek yang kurus dan bertulang mencuat, seakan menerobos keluar. Bola mata yang berlendir, daging pipi yang membusuk dan runtuh.

“Kenapa kamu memakanku?”

Suara berlumpur itu menggema di dalam kepala Maisy, lengket dan menjijikkan, seolah melilit otaknya.

Melihat itu, wajah Maisy terdistorsi oleh ketakutan. Dia mundur perlahan, berusaha mengalihkan pandangan dari wajah nenek yang muncul dari tubuhnya sendiri.

Namun dia tidak mampu menghapus ratapan penuh kebencian yang menggema dari dalam dirinya.

Tidak sanggup lagi menahannya, Maisy mencakar-cakar kepalanya sendiri hingga hampir gila, lalu meraih sebilah golok besar yang tergeletak di dekatnya.

“Maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf...”

Dengan mata tidak lagi fokus, dia mengayunkan golok itu sambil terus mengulang permintaan maafnya seperti orang kerasukan.

Berulang kali. Lagi dan lagi. Dan lagi.

Dia membelah daging. Menghancurkan tulang. Menebas.

Mematahkan.

Meremukkan.

Menghancurkan.

Menghancurkan.

Menghancurkan.

Setiap satu ayunan membuat tubuh serigala berubah bentuk, memercikkan cairan merah ke segala arah, sedikit demi sedikit mengurangi wujud yang membuatnya masih bisa disebut serigala.

Jeritan serigala seakan tidak lagi terdengar oleh Maisy. Tubuhnya yang bermandikan darah tampak sepenuhnya merah... seperti Tudung Merah yang ternodai kegilaan berdarah.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar