Bab
4: Ambang Kematian
Battle_With_ARCHENEMY
Bagian 1
Pabrik-pabrik di Distrik 17 mengepung mereka.
Waktu telah melewati pukul 4 pagi. Jika saat ini
bukan bulan Januari, matahari mungkin sudah mulai terbit.
Satu garis tampak jauh lebih nyata daripada
cakrawala dan juga cukup berbahaya. Tembok
Kota Akademi
terlihat jelas.
Nasib dunia akan ditentukan oleh berhasil atau
tidaknya sang iblis agung menyeberangi tembok itu.
Namun baik Kamijou Touma maupun Coronzon tidak
melirik ke arah sana sedikit pun.
Mereka tahu ancaman terbesar saat ini ada tepat di
depan mata.
Coronzon memulai lebih dulu.
“Ra-Hoor-Khuit. Penguasa cakrawala timur.”
“Hoor-Paar-Kraat. Penguasa cakrawala barat.”
“Dan selatan adalah arah Set. Timur dan barat telah
disegel. Kini dunia hanyalah sebuah garis lurus. Tertusuklah oleh cahaya
menyilaukan yang menikam dunia dari tangan selatanku dan matilah, manusia!!”
Cahaya putih yang mengerikan memadat sebelum melesat
keluar, menghanguskan udara yang dilewatinya.
Dan beberapa lainnya menyusul.
“!!”
Satu hantaman saja pada Kamijou, maka tidak akan ada
sisa daging yang tertinggal. Dia akan benar-benar musnah.
Namun dia tidak menangkisnya dengan tinju kanannya.
Dia mengayunkan seluruh tubuhnya ke samping untuk menghindar.
Serangan Coronzon luar biasa.
Bahkan dengan Imagine Breaker, mencoba
menghentikannya sembarangan akan membuat lengannya terpelintir bersama seluruh
tubuhnya, mengempaskannya hingga jauh.
Kekuatan tangan kanannya tidak lagi berguna.
Namun, Kamijou Touma bertarung bukan karena dia
pikir dia bisa menang.
Dia tahu betul betapa besarnya ketertinggalannya.
Namun ada alasan mengapa dia tidak bisa membiarkan
ini terus berlanjut, jadi dia pun bertarung.
Tubuhnya... bergerak.
Dia tidak bisa mengingat lagi seperti apa rupa orang
itu, namun seseorang telah melakukan sesuatu untuk membantunya, dan kini dia
bisa melampaui luka-lukanya untuk bertarung.
Jika aku bisa
bergerak seperti ini, jika aku punya cukup kecepatan untuk menyelinap melewati
serangan-serangannya, maka aku bisa menjangkaunya. Setiap langkah yang kuambil
dan setiap sentimeter aku berpindah membawa tinjuku semakin dekat untuk
menjangkau Coronzon!!
“Ha ha!! Jadi serangan pertama tidak menghabisimu!?
Kamu benar-benar sudah berkembang!! Kupikir kamu akan langsung bergulingan di
atas tanah kotor segera setelah meracaukan omong kosong liar seperti biasanya!”
Ini bukan sekadar masalah kekuatan fisik.
Coronzon mencabik-cabik ikatan antarmanusia dan
menghambat kemajuan mereka. Namun dunia tetap membutuhkannya. Dia membenci
dirinya sendiri, jadi dia ingin menghancurkan kerangka itu dan menciptakan
dunia yang adil dan tidak memihak, yang terbebas dari konflik.
Kamijou tahu wanita itu telah menyimpang, namun
sebagian dari dirinya tidak bisa membantah langsung apa yang dia katakan.
Itulah sebabnya dia kalah dalam pertempuran sebelumnya. Tanpa daya.
Bagaimana dengan sekarang?
Bisakah dia mengatakan bahwa wanita itu salah tepat
di hadapannya?
Dia menanyakan hal itu pada dirinya sendiri
sekarang.
Dan dia menatap ke depan dengan garang. Pada sang iblis
agung yang mencoba menghancurkan dunia dengan menjalankan perannya secara
berlebihan. Pada seseorang yang tidak bisa menerima dunia di mana sosok sejahat
dirinya diizinkan untuk ada.
Jika dia tidak bisa, ini akan menjadi pengulangan
pertempuran sebelumnya terkait Adikalika.
Dia akan kalah dalam pertempuran psikologis, membeku
di tempat, dan menderita luka parah hanya dengan berdiri di sana.
“Aku tidak begitu mengerti semua hal membingungkan
tentang Sephiroth dan tentang dirimu yang merupakan iblis agung... tapi intinya
kamu ingin menciptakan dunia yang adil, ‘kan? Itulah alasanmu bertarung?”
“Ya. Benar sekali! Aku akan menciptakan dunia yang
murni tanpa peran menjijikkan seperti peranku yang mencerai-beraikan
orang-orang!! Dunia berikutnya akan menjadi dunia yang penuh kebebasan,
keadilan, dan kebahagiaan, yang hanya diisi oleh hal-hal yang benar. Aku akan
menciptakan sebuah era di mana tidak ada orang yang menderita atau
tercerai-berai. Dan aku akan melakukan apa saja untuk mencapainya!!”
“...Begitu ya. Tapi menurutku tidak apa-apa jika dunia
ini agak melenceng sedikit.”
“?”
“Selama dunia ini baik kepada orang-orang, tidak
apa-apa jika dunia agak sedikit melenceng. Maksudku, dunia di mana hanya
hal-hal benar yang terjadi, dan hanya dengan cara yang benar pula, terdengar
sangat menyesakkan. Tidak ada bantalan empuk di dunia seperti itu. Setiap
benturan akan menghantammu secara langsung, seperti memukul beton padat dengan
pemukul logam. Itu berarti tidak akan pernah ada orang yang memaklumi apa pun
dan tidak akan pernah ada bonus kejutan, bukan? Mereka yang tidak adil
diharapkan untuk dihancurkan dan tidak pernah mendapatkan kesempatan kedua.
Tidak, mereka yang tidak adil bahkan tidak akan pernah ada sejak awal. ...Ya,
itu benar-benar akan terasa menyesakkan. Aku tidak ingin hidup di dunia yang
begitu adil, di mana mengatakan hal yang salah tidak hanya membuatmu dikritik,
tapi juga dihukum mati.”
“Apa yang kamu bicarakan?”
"Maksudku, dunia berikutnya yang kamu dambakan,
di mana segala sesuatunya tertata rapi dan bisa dijelaskan, kedengarannya tidak
terlalu menyenangkan. Idealismemu tidak menyisakan ruang bagi angan-angan dan
ketidakpastian. Rasanya seperti memiliki banyak pilihan, tetapi kamu sudah tahu
ke mana arahnya bahkan sebelum kamu memilih. Dalam skenario terburuk, mungkin
tidak akan ada pilihan yang salah sama sekali. Jika begitu, maka apa pun yang
kamu pilih, jalan yang kamu tempuh dari lahir hingga mati akan berujung pada
akhir yang sama. Itu akan menjadi kehidupan yang membosankan, seperti menekan tombol
yang sama berulang-ulang.”
Wajah Coronzon memerah.
“Alasan macam apa itu!? Kamu bahkan tidak bisa
memetik hasil dari perbuatan baikmu di dunia yang tidak sempurna saat ini.
Semuanya akan hancur pada suatu saat nanti. Apa kamu bilang bahwa kamu akan menerima
perbuatan buruk!?”
“Ada sesuatu yang membuatku bertanya-tanya saat
melihat Qliphah Puzzle 545 dan Bologna Succubus. Mengapa iblis memenuhi
keinginan manusia? Apakah untuk menyeret manusia menuju kehancuran mereka
sendiri? Tanpa membunuh mereka secara fisik secara langsung? Jika demikian,
pasti ada cara yang lebih baik, seperti menggunakan hipnosis atau ilusi untuk
mengadu domba manusia. Namun, semua iblis meminjamkan kekuatan mereka kepada
manusia dan mengambil kehancuran manusia tersebut sebagai bayarannya. Bahkan
kalian melakukannya untuk jenis keinginan yang tidak akan pernah dikabulkan
oleh malaikat dan keinginan yang enggan kamu ceritakan kepada orang lain.
Bukannya itu berarti kalian para iblis seperti bantalan empuk untuk menangkap
orang-orang yang terjatuh ke sela-sela dan tidak bisa pulih melalui cara-cara
normal? Bagaimanapun kalian awalnya diciptakan, kalian mungkin akhirnya berfungsi
dengan cara seperti itu.”
Tentu saja, orang-orang itu akan hancur pada
akhirnya. Seseorang tidak bisa mengandalkan iblis lalu melenggang pergi begitu
saja tanpa beban.
Namun, setiap orang memiliki kebebasan untuk
memilih: mati tanpa sempat bersuara, atau pergi ke neraka dengan rasa puas
karena telah menentukan pilihan sendiri.
“Apa kamu bercanda, Kamijou Touma? Jangan bersikap
seolah kamu tahu apa yang kamu bicarakan hanya dengan modal hidup selama 15 tahun!
Aku ada untuk menghancurkan manusia! Tuhan tahu aku akan memberontak, namun Dia
tidak melakukan apa pun untuk menghentikanku!! Kejatuhanku sudah direncanakan.
Bantalan empuk untuk menangkap orang-orang yang terjatuh ke sela-sela? Aku
tidak dilengkapi dengan fungsi seperti itu dan menginginkannya saja sudah
merupakan sebuah dosa!!”
Kamijou tersenyum sedikit.
Dia bukan Hamazura Shiage. Kamijou Touma tidak bisa
setuju dengan Iblis Agung Coronzon. Namun, dia merasa sedikit lebih dekat untuk
memahami mengapa Hamazura mengkhawatirkan wanita itu dan memutuskan untuk
bertaruh padanya. Meski tidak terlalu dekat.
Hamazura tidak ingin Coronzon ditinggalkan sendirian
hanya karena gelar iblis agungnya.
Coronzon adalah perwujudan kejahatan, tetapi dia
tidak akan menyebut dirinya benar. Hamazura mungkin telah melihat kelemahan
dalam diri Coronzon yang mencegahnya mencapai jawaban tersebut.
“Sepertinya ucapanku tepat mengenai sasaran. Padahal
kupikir kalian para iblis seharusnya ahli dalam urusan silat lidah ini.”
“Kh.”
“Kamu ini iblis, ‘kan? Tapi apa kamu benar-benar
ingin mengalahkan surga?”
Coronzon baru saja mengatakan bahwa menginginkan
fungsi itu adalah sebuah dosa.
Dia terus mengatakan akan menentang Tuhan,
menghancurkan dunia, dan menghapus segalanya, tetapi dia masih memahami beban
dari aturan yang ada saat ini. Dia terus mengatakan bahwa dia membencinya,
tetapi dia terus-menerus menyadarinya. Hampir seperti remaja pemberontak dan
orang tua mereka.
Dengan kata lain...
“Tidak peduli seberapa besar kamu membenci,
mendendam, dan mengutuk-Nya, kamu masih membayangkan-Nya sebagai penguasa dunia
berikutnya, bukan? Kamu tidak bisa mengabaikan gagasan dan keberadaan Tuhan yang
baik.”
“Jangan mencoba menganalisis diriku, manusia. Aku
adalah makhluk jahat yang tidak tertolong, tetapi ada satu hal yang kutahu:
tuduhan tidak berdasar adalah dosa yang pantas dibayar dengan kematian!!!”
Raungan udara yang terbelah melintas di atas kepala
Kamijou.
Sekelompok orang terbang dengan cepat di langit
malam di atas mereka.
Mereka adalah para Transenden seperti Bologna Succubus
dan Aradia.
Beberapa cahaya berkilat. Cahaya yang
berwarna-warni.
“Astaga. Apa kamu sudah lupa siapa yang memukulmu
jatuh dari tembok!?”
“Alice!! Jika kamu ingin menyelamatkan Kamijou
Touma, maka bersiaplah. Kami akan melakukan persiapan dan memvisualisasikan
tingkat kerusakan sihirnya. Lalu saat kamu menyerang, kamu tidak perlu khawatir
bocah itu akan terkena ledakannya! Hari ini bukan hari untuk bermain-main,
bersikap egois, atau marah-marah! Hari ini adalah harinya kamu bersikap
serius!!”
Melakukan persiapan.
Setiap cahaya yang berkilat di langit malam pastilah
serangan yang mematikan. Cahaya-cahaya itu akan segera menghunjam ke tanah. Itu
akan menjadi hujan kehancuran. Meskipun para Transenden hanya meminjam
wujud-wujud tersebut, ketepatan mereka membuat hasil akhirnya tidak jauh
berbeda dengan tindakan para dewa dalam mitologi.
Semua ekspresi lenyap dari wajah Coronzon.
Dan kemudian dia terkekeh.
Bagi Kamijou, itu tidak terlihat seperti dia sedang
menikmati ini. Itu adalah raut wajah seseorang yang baru saja disiram air
dingin.
“Aku adalah iblis agung yang bersembunyi di dalam Jurang
Sephiroth dan menghalangi umat manusia untuk mencapai kebijaksanaan.”
Bahu Kamijou bergetar.
Ini gawat.
Dia merasakan semacam perubahan tidak kasat mata di
udara. Dia tahu itu tidak ilmiah, namun Coronzon berdiri di puncak segala hal
yang tidak ilmiah.
Kehadiran wanita itu kian membesar.
“Karena itu, sihir jenis inilah yang paling cocok
untukku. ...Dakshina Kalika.”
Ledakan putih menyusul.
Itu terbuat dari es.
Satu titik di langit membeku secara tidak wajar.
Sebelum Kamijou sempat mengenalinya sebagai bola es sehalus bola kristal, benda
itu meledak dari dalam, melontarkan serpihan tajam ke segala arah. Sebongkah
massa seukuran bola sepak berubah menjadi puluhan ribu serpihan. Dengan
kekuatan yang cukup untuk menyambar dan merobohkan cerobong asap pabrik serta
tungku tiup.
Tidak peduli berapa banyak berkas cahaya warna-warni
yang dilontarkan oleh Aradia, Bologna Succubus, dan para Transenden terbang
lainnya. Setiap serangan sihir itu seharusnya cukup kuat untuk membunuh
Kamijou... namun tidak satu pun yang berhasil menembus. Dia sempat
menganggapnya sebagai hujan lebat, namun semuanya dicegat sebelum mencapai
Coronzon. Bahkan tidak ada satu pun tetesan hujan bercahaya yang jatuh dari
langit yang berhasil lolos. Alih-alih mengenai masing-masing serangan dengan
akurat, itu lebih seperti menyelimuti seluruh area dengan ledakan kecil.
Presisinya sempurna. Benar-benar sebuah dinding. Dinding es yang tidak tertembus.
Langkah Coronzon limbung. Darah menetes dari
mulutnya. Sebagai ganti dari kekuatan besar ini, ada sesuatu yang terkikis di dalam
dirinya.
Meski tahu dia bisa mengakhiri ini, Kamijou tetap
berteriak keras.
“Tunggu! Kanzaki memberitahuku bahwa kamu
menyelamatkan seorang gadis dari pria kejam saat kamu melarikan diri. Kalau
begitu, kamu pun pasti memiliki semacam...”
“Ya, itu benar! Ha ha ha. Tuhan pasti benar-benar
membenciku. Aku tidak tahu apakah Dia menanamkan sifat itu di dalam diriku
sejak awal atau apakah Dia mencampuri dari jauh, tapi Dia membuatku melakukan
hal itu!”
“Bukan, sialan, bukan itu yang terjadi! Tuhan tidak
mengendalikanmu! Ini berarti kamu memang memiliki kemampuan itu di dalam dirimu
sejak aw...”
Beberapa bola es meledak lagi.
Teriakan Kamijou tidak sampai ke telinga Coronzon.
Tepat sasaran, seolah-olah seseorang telah
mengaturnya seperti itu.
Dan semua serangan yang jatuh dari langit malam
ditembak jatuh sebelum mencapainya. Cahaya dan ledakan menari dengan liar.
Ledakan.
Tanpa henti.
Dan, yang terpenting, dengan presisi yang luar
biasa.
Pencegatan, penembakan jatuh, tindakan penghalangan.
Coronzon memanfaatkan tujuannya sepenuhnya dan menyeringai. Bahkan saat matanya
goyah dan darah merah menetes dari sudut mulutnya.
Coronzon bahkan tidak melirik ke arah para Transenden.
Dia hanya memikirkan bagaimana dia akan menggunakan ini untuk menyiksa,
meruntuhkan, dan membunuh anak laki-laki yang tidak berdaya itu.
Hanya dia seorang yang akan dipastikan mati di sini.
Kamijou merasakan sesuatu yang lain bergejolak di
balik senyum jahatnya.
“Uhuk... Sekarang bagaimana, Kamijou Touma? Aku
punya lebih dari satu kartu as. Aku bisa menghancurkan dunia manusia dengan
begitu banyak cara lain selain Adikalika. Seperti yang sudah kujelaskan
berkali-kali! Tapi aku tidak ingat pernah bilang bahwa aku tidak bisa
mendatangkan kehancuran itu dari dalam Kota Akademi untuk kedua kalinya!”
Dia bisa meledakkan dan menembak jatuh hujan
proyektil cepat itu dengan akurasi sempurna. Apa yang akan terjadi jika dia
melakukan itu untuk menyerangnya di daratan? Mungkin dia bisa menghentikan satu
atau dua dengan Imagine Breaker, tapi dia tidak bisa mengimbangi serangan
sebanyak itu. Lalu, haruskah dia melarikan diri? Bagaimana dia bisa menjauh
dari hal itu dengan kedua kaki manusianya!?
Jaraknya melebar lagi.
Kesenjangan di antara mereka tampaknya telah
menyusut dan dia tadinya yakin tinju kanannya akan menjangkau wanita itu.
Namun sekarang jarak psikologisnya terus menjauh.
“Aku bisa menembak jatuh objek yang terbang hingga
Mach 9 dengan akurat, entah itu datang dari depan atau belakang. Ini adalah
penghalang 360 derajat. Transenden? Sandiwara sekolah dari para peniru yang
berdandan seperti dewa itu!? Ha ha ha!! Jumlah yang unggul tidak berarti apa-apa
bagi seorang iblis agung!!”
“Sial!!”
“Kemarilah, Alice Anotherbible!! Hanya kamulah yang
kemungkinan besar bisa menembus rentetan Dakshina Kalika dengan kekuatan murni.
Tapi aku tidak takut padamu! Aku ini ahli dalam membuat orang menyerah. Itulah
tujuanku sebagai iblis agung. Jadi aku akan menghadapimu secara langsung
sembari mengikis dan menghancurkan setiap jengkal semangatmu!! Jika kamu tidak
bertindak sekarang, aku akan mengubah gurumu yang berharga menjadi daging
cincang!!!”
Coronzon pasti memahami ancaman yang dimilki Alice.
Namun dia malah menghasut dan memprovokasi Alice
demi kesenangannya sendiri.
Coronzon benar-benar keterlaluan. Kamijou bahkan
tidak perlu bergerak untuk menyerang. Jika dia cukup berjalan ke arahnya, dia
akan hancur. Terlepas dari apakah dia menyiapkan tinjunya atau tidak.
Kamijou mundur, terdesak oleh rentetan ledakan es.
“Apa kamu bercanda!? Apa kamu pikir taktik kekuatan
kasar ini cukup untuk membuat para Transenden menyerah!? Kami hanya perlu
mematahkan batas Mach 9 itu!!” ucap Succubus Bologna.
“Ha ha!! Seperti yang kuharapkan dari seorang
figuran tanpa nama. Mematahkan batas Mach 9 hanya membiarkanmu mendekat. Bahkan
jika garis lurus yang tidak terkendali itu benar-benar mencapai diriku, aku
hanya akan memukulmu dengan serangan balasan. Aku punya lebih dari satu kartu
as, kamu benar-benar tolol!!”
Cahaya berkilat dan ledakan berdentum.
Kamijou menerjang masuk ke dalam pabrik otomatis
terdekat sambil mendengar teriakan amarah dari orang-orang luar biasa itu. Hal
itu saja sudah merupakan mukjizat. Ya, tanpa kesempatan yang diberikan para Transenden,
dia pasti sudah menjadi daging cincang begitu melangkah pertama kali. Manusia
biasa tidak mungkin bisa menyerang, bertahan, atau bahkan bergerak bebas
melawan Coronzon. Bahkan Santo supersonik seperti Kanzaki pun tidak cukup.
Coronzon adalah monster yang terlalu mengerikan!
“Tapi ini pabrik apa?”
Apakah dia benar-benar sudah lolos? Jika ini adalah
pabrik ultra-berbahaya yang ditandai dengan simbol peringatan karena mengolah
bahan kimia atau mikroba berbahaya, dia lebih baik tidak mengetahuinya.
Kamijou mengamati sekeliling dan menemukan ruang
dalam yang sangat luas seperti gudang pelabuhan atau aula olahraga sekolah.
Namun, ruangan itu tidak terasa luas karena objek yang berada di tengahnya.
Awalnya, benda itu tampak baginya seperti ikameshi raksasa yang terbuat dari
baja abu-abu, namun ternyata bukan.
Sebuah kapal induk yang terpotong-potong tergeletak
di sana.
Kapal itu ditopang dari bawah oleh pilar-pilar kayu
yang tidak terhitung jumlahnya serta dikelilingi oleh perancah logam dan
tangga.
Bagian belakangnya sudah selesai, namun bagian itu
pun terpotong-potong. Penampang melintangnya memperlihatkan bagian dalam kapal,
termasuk kabin dan koridor. Kamijou tahu dia sedang melihat sesuatu yang aneh.
Tampaknya ada tiga atau empat tingkat di bawah dek yang datar.
Dia mengernyitkan dahi.
“Mereka sedang membangun kapal? Jadi ini galangan
kapal?”
“Dilihat dari bentuknya, panjangnya paling-paling 100
meter jika disatukan, sangat kecil untuk ukuran kapal induk. Ini pasti kapal
induk drone yang memangkas semua kebutuhan untuk kru manusia.”
“Wah,” seru Kamijou.
Tiba-tiba, dia mendapati Othinus berukuran 15 cm
berada di bahunya. Dia merasakan gadis itu sedang memelototinya. Di tengah
kekacauan setelah makhluk raksasa LAShTAL itu merobohkan gedung, Othinus pasti
bersembunyi di dalam jaketnya.
“Kamu pasti sudah cukup mengerti diriku sehingga aku
tidak perlu menjelaskan apa yang kulakukan di sini, manusia?”
“Baiklah, baiklah.”
Kapal induk drone. Kota Akademi terletak di Tokyo
barat, jadi tidak berbatasan dengan laut. Namun jika dipikir-pikir, bukankah Transenden
Mut Thebes menemukan kapal perang untuk digunakan sebagai senjata? Karena kapal
yang satu ini terpotong-potong, mungkin helikopter pengangkut besar akan
menggantungnya dengan kabel dan membawanya, bagian demi bagian, ke kota
pelabuhan pesisir di luar Kota Akademi di mana bagian-bagian itu akan dilas
menjadi kapal perang yang utuh. Itu melenceng jauh dari metode normal, namun
Kota Akademi bisa melakukannya.
Sisi kapal melengkung lebih dari vertikal dan
menyandang nama Kagenui.
Coronzon dilindungi oleh penghalang Mach 9. Dan
kapal induk drone ini sedang menunggu penyelesaian di galangan kapal.
...Haruskah dia mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan, ataukah terlalu
berbahaya bagi seorang amatir untuk menyentuh apa pun di sini? Anak SMA biasa
bahkan tidak bisa membuat penilaian itu. Dengan iblis agung sebagai musuh, dia
takut dia akan terpancing ke arah yang terlihat seperti pilihan terbaik namun
sebenarnya justru merugikannya.
“Jadi apa benda yang digunakan Coronzon itu?
Dak-apalah tadi!?”
“Dakshina Kalika. Sama seperti Adikalika, itu adalah
nama lain untuk dewi India, Kali, dan simbol abjad yang digunakan dalam Magick
gaya Crowley. Aku rasa kamu bisa menyimpulkan sendiri seberapa tinggi peringkat
yang diberikan Coronzon padanya.”
Jadi mantra itu setara dengan mantra serangan skala
besar Adikalika...
Kamijou nyaris berhenti karena tercengang. Meskipun
dia tahu esensi sejati dari iblis agung itu, ya, esensi yang sangat dia benci
dan membuatnya putus asa, adalah menghancurkan semangat orang-orang, membuat
mereka menyerah, membuat mereka gagal, membuat mereka membusuk, dan
menjerumuskan mereka ke dalam jurang terdalam.
...Ya, sihir itu luar biasa kuat. Mungkin butuh
waktu, namun jika Coronzon berjalan melewati kota atau negara yang ingin dia
hancurkan, dia bisa menebar kehancuran tanpa akhir dan menghapusnya dari peta.
Tidak ada orang yang sedang dihancurkan itu yang bisa menghentikan
pendekatannya yang lambat, sehingga semua orang dan segala sesuatu di area itu
akan musnah oleh ledakan es. Itu adalah sihir pencegatan mutlak, penghalang
Mach 9. Kedengarannya tidak terlalu seru, namun tidak ada penangkalnya!
Mungkin seorang
teleporter akan mampu melawan hal itu... Namun aku ragu itu saja cukup untuk
menang.
“Apa kamu bercanda? Jika dia bisa melakukan ini,
kenapa tidak dia gunakan sejak awal? Baru beberapa jam yang lalu dia bisa
menang dengan mudah jika dia bertahan sampai Adikalika diaktifkan!”
“Mungkin karena itu terlalu kuat. Di Skotlandia dan
di sini, dia sedang menyiapkan upacara besar yang dimaksudkan untuk memengaruhi
seluruh dunia. Menggunakan serangan besar tanpa perhitungan akan merusak benda
spiritual dan upacaranya yang rumit, jadi dia memilih untuk tidak
menggunakannya. Namun sekarang dia tidak punya apa pun lagi untuk dilindungi.
Pada titik ini, dia tidak punya alasan untuk menyembunyikan keberadaannya. Dia
bisa fokus membunuh musuh di depannya dan melarikan diri, sehingga dia bisa
lebih mudah mengerahkan kekuatan penuhnya.”
Othinus tiba-tiba berhenti bicara di sana.
Karena ada langkah kaki.
Di kejauhan.
“Kh.”
Kamijou bersikap waspada. Mungkinkah ini Alice atau
orang lain di pihaknya? Tidak. Langkah kaki ini tidak terdengar terburu-buru,
jadi dia ragu jika ini adalah seorang Transenden yang bergegas masuk setelah
menembus rentetan es. Terlebih lagi, Kamijou Touma sudah terlalu mengenal kesialannya
sendiri untuk berharap pada keberuntungan semacam itu.
Ratusan pilar kayu yang menopang kapal induk
terpotong-potong itu lebih tebal dari tubuh Kamijou, jadi dia bersembunyi di
balik salah satunya.
Rambut pirang yang sangat panjang.
Jubah berwarna beige.
Namun ada sesuatu yang tidak beres.
Ledakan-ledakan itu terus berlanjut.
Dari balik tembok dan luar galangan kapal. Coronzon
sudah berada di dalam sini, namun ledakan itu tetap terdengar sekuat
sebelumnya?
“Aku meninggalkan beberapa turret di luar sana,”
ucap Coronzon sendiri. Cukup keras untuk didengar Kamijou meski dari jarak
sejauh ini.
Dan dengan senyum yang merekah di wajahnya.
“Ini memang mengharuskanku untuk mengirimkan
kekuatan sihir ke arah mereka. Mereka turret stasioner, namun selama aku terus
memasok kekuatan kepada mereka, aku bisa memasang sebanyak yang aku inginkan.
Kekuatan, kecepatan, akurasi, dan presisinya tidak berbeda dari milikku
sendiri. Hal ini membuat para Transenden terpaku oleh rentetan serangan mereka.
Dan jika kamu tidak memilih jalan keluar dengan hati-hati, kamu akan berubah
menjadi daging cincang segera setelah melangkah keluar.”
“Manusia.”
“Ya, aku tahu.”
Kamijou tidak percaya.
Analisis dari sang pemahamnya, Othinus, adalah satu
hal, namun akankah Coronzon benar-benar mengungkapkan spesifikasi yang akurat
saat dia bahkan tidak bertanya? Mustahil. Dia harus berasumsi bahwa wanita itu
menyembunyikan sesuatu, seperti turret-turret itu sebenarnya bisa bergerak
dengan kecepatan tinggi atau mereka memperkuat kekuatan tembakan melampaui apa
yang bisa dia lakukan sendiri.
Wanita itu bahkan lebih serius dari sebelumnya.
Namun ini adalah keseriusan dari hewan yang terluka.
Dia telah didorong sangat jauh melampaui batas kemampuannya.
Akankah dia melewati galangan kapal untuk melepaskan
diri dari para Transenden lalu menyeberangi tembok kota dengan aman?
“Alice Anotherbible dan para Transenden lainnya
tidak akan muncul untuk menyelamatkanmu. Lagipula, mereka hanyalah tambahan
yang tidak perlu dalam konfrontasi kita. Sekarang, apa masih ada lemak yang
perlu dipangkas? Misalnya, bagaimana dengan Dewa Sihir di bahumu yang terus
membisikkan kebijaksanaan ke telingamu? Aku akan menghancurkannya sekarang,
Kamijou Touma!!”
Coronzon tidak ragu-ragu. Dia mengarahkan telapak tangannya
lurus ke arah pemuda itu dari posisinya yang jauh. Ternyata persembunyiannya
tidak seefektif yang dia kira!
“Sialan!!”
Ledakan putih yang membeku meletus.
Serangkaian ledakan cepat terjadi.
Masing-masing potongan kapal induk yang tipis itu
pastilah berbobot ratusan ton. Semakin banyak pilar kayu yang menyangga beban
mereka yang patah dan mereka miring dengan erangan hebat. Kamijou tidak punya
waktu untuk mempertimbangkan apa yang aman dan apa yang berisiko. Dia merunduk
di bawah potongan yang tampak siap runtuh kapan saja, menyelam ke sisi lain
kapal. Dia ingin menjauh dari Coronzon sejauh mungkin dan meletakkan semacam
pelindung di antara mereka.
Coronzon memiringkan kepalanya sebagai tanggapan.
...Ya, tidak masuk akal jika Kamijou bisa melarikan
diri dengan berjalan kaki seperti itu. Dia sudah mengatakan mantra itu bisa
menangani apa pun hingga kecepatan Mach 9.
“Hmm.”
Dia mengarahkan pandangan penuh tanya ke
sekelilingnya, alih-alih kepada Kamijou.
“Titik serangannya terpencar. Atau lebih tepatnya,
akurasiku jelas telah menurun. Mengapa penargetan otomatisnya gagal? Apakah
gemanya tidak memantul dengan benar di ruang tertutup ini? Tidak, meskipun
begitu...”
“Masalahnya ada pada Telesma yang membentuk
Coronzon. Yaitu, hakikatnya sebagai iblis agung. Aku tahu aku bukan orang yang
tepat untuk mengatakannya setelah menyusut menjadi peri, namun monster jahat
secara tradisional menghindari perak atau besi. Ya, besi. Dan kuharap aku tidak
perlu mengingatkanmu bahwa ini adalah galangan kapal militer. Apa dia
menyebutnya gema? Ya, karena Telesma tidak bergantung pada hukum fisika,
menggunakan gemanya yang lemah untuk melacak target akan memberikan
sensitivitas terhebat sepanjang sejarah. Namun kekuatan iblisnya yang tidak
murni diserap oleh emas dan dipantulkan secara liar oleh perak dan besi. Itu
berarti gemanya tidak berfungsi di sini.”
Othinus membisikkan semua ini ke telinga Kamijou.
Dia tidak bisa memercayai kata-kata Coronzon
sendiri, namun analisis Othinus adalah masalah lain.
“Kamu baru saja mengatakan sesuatu yang gila, bukan?
Gema yang tidak bergantung pada hukum fisika!? Apa kamu sedang mengerjaiku!?”
“Apa kamu kira manual kelompok sihir akan membuang
banyak halaman untuk membahas fisika? Dan bukan itu yang penting di sini.
Berhentilah berdebat saat itu berarti musuh tidak bisa menggunakan kemampuan
tersebut di sini, bodoh.”
Singkatnya, dia bisa mengabaikan penghalang Mach 9
itu selama berada di dalam galangan kapal. Dia mendekati Coronzon.
Kali ini, tinju kanannya akan menjangkaunya.
Bagian 2
Ruang di bawah tumpukan puing itu tidaklah terlalu
luas.
Luasnya paling-paling hanya lima meter persegi.
Orang normal pasti sudah menyalakan lampu ponsel
mereka dan akan langsung menyesalinya. Mereka akan berpikir bahwa kegelapan
jauh lebih baik. Mereka akan merasakan tekanan yang luar biasa hebat tanpa
mendapatkan hal positif apa pun, sehingga bisa saja mereka pingsan seketika.
Index duduk meringkuk dengan lutut menempel di dada
sembari memainkan kucing kaliko di tangannya, seraya berucap dengan suara
gemetar.
“Aku lapar.”
“Bukannya kamu baru saja bilang itu?” Misaka Mikoto
terdengar jengkel saat dia meringkuk di tengah cahaya yang temaram. “Aku memang
punya beberapa kue darurat, tapi masalahnya adalah kita tidak punya minuman.”
“Horeeee!”
“Sama sekali tidak ragu!? Apa kamu belum pernah
merasakan neraka mulut kering sebelumnya!?”
Penyelesaian masalah ini sudah bukan berada di
tangan mereka lagi.
Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu bantuan
datang.
Mereka hanya berharap saat mereka digali keluar dari
tumpukan puing nanti, mereka tidak mendapati seluruh planet ini telah berubah
menjadi reruntuhan.
“Kuharap Touma baik-baik saja.”
“Apa, kamu menyesal sudah membiarkannya pergi begitu
saja? Dia adalah pria yang mengalahkan si Nomor 1 Kota Akademi dan menyelamatkan
hampir sepuluh ribu adik-adikku. Sekali dia memutuskan untuk melakukan sesuatu,
dia akan menyelesaikannya sampai akhir.”
“Ya. Tidak peduli seberapa sering aku menggigitnya
karena melihatku telanjang, sepertinya itu tidak pernah membuatnya jera.”
“Itu memang terdengar sepert...tunggu, apa saja yang
sudah dilakukan si bodoh itu!?”
Mereka tertawa getir bersama.
Mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak
begitu mengenal satu sama lain. Kesamaan mereka hanyalah Kamijou Touma, namun
hampir tidak ada hubungan langsung selain itu.
Berapa lama lagi sampai fajar menyingsing?
Bagaimanapun juga, situasi ini mungkin tidak akan
bertahan lama.
“...Aku tidak mau mati.”
Mikoto menyatakan hal yang sudah jelas.
Namun ada kalanya hal yang sudah jelas mengandung
makna yang mendalam.
Seperti saat puluhan ribu ton beban menekan tepat
dari atas kepala mereka.
“Ya.” Index kembali mengangguk di tengah reruntuhan yang mematikan itu. “Aku tidak bisa pergi ke sekolah bersama Touma... tapi aku memang ingin melihat ‘semester baru’ yang selalu dia bicarakan.”
Bagian 3
Kesunyian akhirnya menyelimuti, sebuah perubahan
situasi yang melegakan.
Iblis Agung Coronzon pasti sudah berhenti
menggunakan Dakshina Kalika miliknya di dalam galangan kapal.
Dentuman-dentuman teredam terdengar dari balik
dinding yang tebal. Dari apa yang dia sebut sebagai turret.
Ancaman terbesar dari sihir itu adalah kemampuan
tembakan cepat dan presisinya yang luar biasa. Di sisi lain, daya hancur dari
setiap serangan individu tidaklah cukup besar untuk membuat kaki pemuda itu
membeku di tempat hanya dengan melihatnya. Tentu saja, hantaman langsung dari
ledakan tajam berukuran lima meter itu tetap akan menembus setiap bagian
tubuhnya dan membunuhnya seketika, namun hanya sebatas itu saja. Itu adalah kehancuran
yang benar-benar bisa dia bayangkan, yang mana tidaklah menyerupai Coronzon. Dia
tidak tahu apakah sang iblis agung telah menyadari bagaimana trik besi itu
bekerja, namun wanita itu pasti telah memutuskan bahwa serangan tersebut telah
kehilangan daya tariknya karena akurasinya yang menurun drastis.
...Itu berarti dia tidak akan mencegatnya sekarang.
Kamijou menggunakan perancah logam dan tangga untuk
mencapai geladak dari kapal induk yang terpotong-potong itu. Anehnya, tidak ada
katapel peluncur. Selain itu, geladak yang datar itu ditutupi panel-panel
persegi berukuran beberapa meter. Mungkin Kagenui mengoperasikan pesawatnya
dengan cara yang sama sekali berbeda.
Dia menendang kotak perkakas berat yang tertinggal
di geladak. Geladak tersebut setara dengan tiga atau empat lantai di atas
lantai galangan kapal, jadi kira-kira sama seperti menjatuhkan sesuatu dari
atap sekolah. Tutup kotak perkakas itu terbuka saat jatuh, membiarkan kunci
pas, bor listrik, kikir, dan peralatan lainnya tumpah seperti hujan. Dengan
wanita itu berada tepat di bawahnya.
“Oh?”
Suara aneh menyusul. Suara letusan yang terdistorsi,
seperti mencambuk udara.
Coronzon memanjangkan rambut pirangnya yang sangat
panjang layaknya lidah bunglon dan melompat naik ke geladak kapal induk yang
berada tiga atau empat lantai di atasnya.
Membuat posisinya berada kurang dari 100 sentimeter
dari Kamijou.
Bagaimana bisa
dia masih menunjukkan kemampuan baru!?
“Kh!!”
“Sekarang, izinkan aku berteriak: Veparrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!”
Dia harus menekan instingnya.
Menggunakan Imagine Breaker terlalu berbahaya.
Sebaliknya, dia segera merendahkan tubuh bagian
atasnya.
Sesuatu seperti gelombang kejut tidak kasatmata
meledak dari mulut Coronzon yang terbuka lebar. Serangan itu meleset dari
Kamijou dan membengkokkan geladak kapal perang mutakhir itu dengan hebat, meski
kapal tersebut masih dalam tahap pembangunan. Dan tidak berakhir di sana.
Sesuatu seperti butiran beras putih sedang menggerogotinya. Belatung. Panel
zirah itu menjadi gelap dan membusuk sebelum akhirnya meleleh.
“!!”
Akhirnya.
Meski sangat kuat, salah satu serangan Coronzon
meleset. Ini adalah kesempatan sempurna. Kamijou menerjang maju dan mengepalkan
tangan kanannya, namun kakinya terperosok. Lantainya tidak kuat menahan beban.
Dia jatuh.
“Gah... aduh!!”
Namun itu bisa saja lebih buruk. Dia hanya jatuh
satu lantai. Dia mendarat di kabin tepat di bawahnya. Dia mungkin sudah mati
seandainya jatuh sampai ke lantai dasar.
Meja dan kursi-kursi dibaut langsung ke lantai.
Sulit untuk memastikannya karena komputer dan kabel-kabel belum terpasang, apakah
itu yang disebut dengan pemasangan perlengkapan? Tapi di sinilah kapal itu
dikendalikan.
“Apa ini CIC?”
Begitu kata Othinus. ...Mengapa dia bisa memikirkan
istilah “pemasangan perlengkapan” tapi bukan “CIC”[1].
Tentu saja, dia tidak punya waktu untuk duduk santai
mendengarkan Othinus. Raungan kedua dan ketiga diluncurkan dari tepat di
atasnya. Tidak ada pembusukan kali ini. Satu kali bagian dalam kapal terbakar
habis, di lain waktu bagian itu hancur berkeping-keping seperti batu atau es.
Kamijou berguling menjauh dari lubang besar di atas kepalanya, meninggalkan
kabin yang hancur dan memasuki koridor sempit.
“Rank3” tertulis besar di dinding, dan garis-garis
merah serta kuning di lantai bercabang mengikuti jalur yang berbeda, namun dia
tidak tahu apa artinya semua itu.
Othinus mengatakan sesuatu sambil berpegangan pada
pakaiannya.
“Jadi sekarang dia beralih ke Goetia? ...Sialan,
Coronzon. Dia memanyunkan bibirnya dan bertingkah seperti spesialis di bidang niche, namun dia sebenarnya hanya
pengikut tren. Bahkan dia pun menyukai hal-hal klasik. Mungkin dia mendambakan
metode-metode yang semestinya karena itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia
lakukan sendiri.”
“Apa benda Goe itu!? Aku mungkin bodoh, tapi aku
tahu jika aku melewatkan ini, aku akan terbunuh!!”
“Setelah semua perhatian yang dikumpulkan R&C
Occultics, aku rasa itu cukup terkenal bahkan untuk diketahui oleh seorang
siswi SMP goth loli... Masyarakat umum memandangnya sebagai grimoire praktis
yang membiarkanmu memanggil sekelompok iblis hanya dengan satu buku, namun
faksi Crowley menafsirkannya sebagai sebuah ‘gumaman’. Alih-alih monster fisik
yang dipanggil, mereka melihatnya sebagai mantra yang menarik kekuatan tidak dikenal
dari dalam dirimu melalui atavisme sadar. Ada 72 ditambah 1 tambahan. Crowley
sendiri konon menarik sebagian kekuatan Buer untuk sihir penyembuhan. Aku
bilang ‘konon’ karena itu adalah legenda tanpa bukti yang menguatkan.”
Jadi, apakah itu sihir yang menempatkan berbagai
efek khusus pada suara? Seperti jeritan yang melumpuhkan, teriakan yang
menebas, atau nyanyian penyembuhan?
“Jadi maksudmu serangan ini punya lebih dari 72
pola? Kita sedang tidak membicarakan set pensil warna anak orang kaya di sini.
Bagaimana aku harus menghadapi variasi gila semacam itu?”
“Goetia memang menyebalkan. Itu berawal dengan
banyak kemampuan dasar dan memiliki banyak ruang untuk adaptasi di antaranya,
jadi sulit untuk menebak apa yang akan muncul selanjutnya. Karena itu kamu
harus membuatnya beralih ke sihir lain, manusia.”
“?”
Othinus pasti sudah menduga kerutan di dahi Kamijou.
Bagus sekali dia bisa melewati banyak kerumitan yang menjengkelkan berkat sang
pemahamnya.
“Setiap mantra yang dia gunakan sejauh ini sangatlah
kuat, namun dia tidak pernah sekalipun menggunakan lebih dari satu mantra
secara bersamaan. Dia selalu fokus pada satu per satu. Kamu melihatnya
berdarah, ‘kan? Dia telah mempersingkat waktu persiapan untuk upacara berskala
besar itu terlalu jauh bahkan untuk seorang iblis agung. Karena mantra itu
sangat kuat, dia mungkin takut kehilangan kendali dan membuatnya meledak tepat
di wajahnya sendiri. Ada juga hambatan dari Aleister yang perlu
dipertimbangkan.”
“Maksudnya?”
“Jika kita bisa membuatnya menggunakan mantra yang
menguntungkan kita, dia akan menciptakan titik butanya sendiri. Saat
menggunakan mantra tertentu, kamu tahu dia tidak akan menggunakan Dakshina
Kalika atau Goetia.”
Kesimpulan itu sangat berarti.
Hal itu cukup untuk membuat masa depan tampak
sedikit lebih cerah bagi Kamijou.
“Aku akan melakukannya, tapi mantra apa yang harus
dia gunakan agar kita bisa menang?”
“Magick: Flaming_Sword.”
Masa depan seketika tenggelam dalam kegelapan.
Bukankah itu serangan paling berbahaya yang pernah
wanita itu gunakan melawannya dalam pertempuran Adikalika?
Serangan proyektil yang sangat cepat dan sangat kuat
itu telah memuntir seluruh tubuhnya bersama dengan Imagine Breaker.
Itulah alasan awal mengapa dia takut pada Coronzon.
“Tapi kalau dia menggunakan itu, aku mati!”
“Saat dia memiliki tubuh fisik, ya. Namun Imagine
Breaker berhasil menangkalnya ketika dia terpisah dari tubuhnya di Skotlandia.”
“Dan sekarang...?”
“Dia memiliki tubuh fisik.”
Ternyata keputusasaannya belum sepenuhnya tuntas
sebelumnya. Sekarang sang pemahamnya telah membuktikan secara menyeluruh bahwa
dia akan mati seketika.
“Dengar, manusia. Semua sihir Coronzon sudah cukup
kuat untuk membunuh seketika. Merasa takut atas kekuatan serangan pada titik
ini adalah hal yang sia-sia. Dan tidak peduli seberapa kuatnya itu, kamu
mengenal serangan ini. Antara Skotlandia dan Kota Akademi, kamu sudah kena
serangan itu dua kali dan tetap hidup di keduanya. Dan kamu meniadakannya
sekali, saat dia tidak berada dalam kekuatan penuh. Tubuhmu sudah mempelajari
pola dan penentuan waktunya sekarang, bukan? Membuatku pening memikirkannya,
namun serangan yang paling menakutkan itu telah menjadi yang paling mudah untuk
kamu hindari. Ditambah lagi, Coronzon melihat pengalaman masa lalu itu sebagai
kesuksesan, jadi dia akan menggunakannya jika dia mulai tidak sabar. Terutama
sekarang karena dia bisa menggunakannya dengan kekuatan penuh.”
“...”
Apakah ini saatnya dia harus berteriak “sial sekali”?
“Hal terburuk yang bisa dia lakukan sekarang adalah
mengeluarkan kemampuan baru yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Kamu
melihatnya tadi saat dia menggunakan rambutnya untuk menarik dirinya ke atas
kapal induk, ‘kan? Itulah hal terakhir yang kamu inginkan sekarang. Jadi tidak peduli
seberapa berbahayanya itu, serangan yang sudah dikenal jauh lebih aman. Saat kamu
sudah tahu serangannya, kamu hanya perlu menghindarinya. Sederhana saja. Kamu bisa
melakukannya, ‘kan, manusia?”
“Tidak sesederhana itu! Kalau itu mudah dihindari,
kita tidak akan berada dalam kekacauan ini sejak awal!!”
Tetap saja, memang benar wanita itu akan terbuka
lebar setelah menggunakan serangan tersebut. Sama halnya dengan serangan Goetia
tadi. Jika dia tidak jatuh menembus geladak yang membusuk, dia pasti sudah bisa
melayangkan satu pukulan.
“Hanya untuk berjaga-jaga seandainya kamu lupa, aku
akan menekankan bahwa aku tidak mengatakan hal-hal ini untuk membuatmu
menderita. Terus terang, ini adalah pilihan terbaik yang tersisa untukmu. Aku
bahkan enggan untuk mengungkit pilihan lainnya. Apa kamu rela memilih jalan
yang lebih menyakitkan dan lebih sulit, manusia?”
Apa dia sedang mengatakan bahwa garis pilihan
terbaiknya sudah merosot sejauh ini?
Iblis Agung Coronzon memang makhluk yang sangat
berbahaya.
Kemungkinan besar, sebagian besar pilihannya akan
berujung pada kematian. Pilihan yang normal akan membuatnya terbunuh secara
normal. Jadi Othinus menyodorkan pilihan yang tidak terpikirkan dan
mendorongnya.
“Ugh. Dari mana aku harus mulai?”
“Kamu tidak perlu melakukannya. ...Kamu bukan
malaikat, Dewa Sihir, ataupun Transenden, namun dia gagal membunuhmu. Kesabaran
iblis agung itu pastilah sudah mulai habis. Hal itu melukai harga dirinya.
Satu-satunya kejutan adalah dia belum mencoba mengandalkan kesuksesan masa lalu
itu.”
Dia tadi berpikir aneh betapa kerasnya Othinus
mendorongnya ke arah ini, namun rupanya itu adalah sesuatu yang harus dia
siapkan terlepas dari apa pun.
Tentu saja dia takut, namun semua ini akan sia-sia
jika dia membiarkan rasa takut itu membimbingnya ke jalan kekalahan.
Dia mendengar langkah kaki.
Dari dekat, di lantai yang sama. Dia merapatkan diri
ke sudut koridor.
“Aku adalah iblis, tetapi bukan dari Qliphoth tempat
kekuatan jahat berkumpul. Aku adalah iblis agung yang tersembunyi oleh
Sephiroth suci. Aku berdiam di jurang yang sama dengan Da’at.”
Dia mendengar sebuah suara. Dalam nada yang terlalu
menyeramkan untuk disebut sebagai senandung.
“Setiap angka adalah angka yang sama. Tangan kananku
memuat Nuit Kebangkitan. Saksikan kemungkinan-kemungkinan meluas yang dan
melampaui batas yang fana. Tangan kiriku memuat Hadit Pembalasan.”
Dia mengenali penggalan kalimat ini. Ini adalah
mantra yang diucapkan Coronzon sebelum merapal Magick: Flaming_Sword. Wanita
itu benar-benar sudah tidak sabar. Adikalika telah dihentikan, dia melarikan
diri melintasi Kota Akademi, dan dia belum sanggup menyeberangi tembok kota.
Jika diingat kembali, dia telah mengalami kegagalan demi kegagalan. Dia pasti
merasakan kesialan, atau sebuah tren kasatmata yang tidak menyenangkan. Masuk
akal jika dia ingin mengandalkan kesuksesan masa lalu untuk membebaskan diri.
Jika dia berfokus pada mantra tersebut, dia pasti
sudah mengganti sihir yang digunakannya.
Tidak akan ada Goetia yang datang. Dia tidak perlu
khawatir soal Dakshina Kalika.
Kamijou merapatkan diri ke dinding dan menunggu.
Tiga langkah.
Dua langkah.
Satu langkah.
Dia memantapkan tekad dan melesat keluar dari sudut
koridor.
Coronzon ada tepat di sana. Dia bahkan tidak perlu
membiarkan wanita itu menggunakan mantra api tersebut. Tinjunya bisa
menjangkaunya!!
Dan bibir Coronzon berbisik.
“Hajar dia, Dakshina Kalika.”
Jantung Kamijou membeku.
Namun pemuda malang itu boleh saja menuduh ini tidak
adil atau tidak masuk akal sesuka hatinya. Itu tidak akan membuat kenyataan
menjadi tidak kejam.
“Ohhhhhhhhh!?”
Dia berteriak, memutar tubuh, dan, karena
menggunakan Imagine Breaker akan lebih berbahaya, dia menjatuhkan diri ke
lantai untuk entah bagaimana menghindari rentetan serangan itu.
Atau setidaknya dia mencoba. Namun pada
kenyataannya, dia merasakan panas yang menyengat di pinggang kanannya. Sejumlah
es pasti telah meledak di samping potongan kapal induk itu. Es tersebut
menghancurkan dirinya sendiri untuk menebarkan serpihan es yang tidak terhitung
jumlahnya dengan kecepatan yang lebih besar dari peluru. Serpihan itu menembus
zirah kapal dengan mudah dan salah satunya merobek pinggang sang pemuda.
Dia berputar di udara.
Dia terlepas dari gravitasi dan kemudian menemukan
sebuah kenyataan yang mengerikan. Kapal induk itu teriris menjadi beberapa
bagian. Dan dia telah terlempar melampaui irisan ini. Dia terbang melewati
ketinggian tiga lantai menuju lantai galangan kapal dan mendarat di irisan
berikutnya.
“Gah!!”
Othinus... salah?
Tidak, tidak mungkin.
Mungkin Coronzon memang hanya bisa menggunakan satu
mantra dalam satu waktu. Namun dia bisa mengakali masalah itu dengan
menciptakan perbedaan waktu. Dan dia telah memberikan informasi yang meragukan
sebelumnya.
Turret-turret itu.
Jika dia memasang turret stasioner (yang mungkin
sebenarnya bisa bergerak) di sana-sini di dalam galangan kapal, maka Coronzon
sendiri bebas untuk bertindak. Dengan menggunakan sihir keduanya di awal, dia
bisa menjepit Kamijou dalam baku tembak. Diskusi strategi dengan Othinus memang
diperlukan, namun hal itu telah memberikan terlalu banyak kebebasan kepada
Coronzon!!
Penurunan akurasi tidak lagi penting. Jika rentetan
serangan itu disebarkan ke area yang cukup luas, serangan itu tetap bisa
mengenai sasaran.
Kamijou berguling melewati area yang luas. Terletak
tepat di bawah geladak datar, tempat itu kemungkinan adalah hanggar
pemeliharaan di mana banyak drone menunggu dalam posisi siaga. ...Namun lebar
irisan kapal itu hanya menyisakan ruang seukuran ruang kelas dan tidak ada
tempat untuk bersembunyi.
Selain itu, Coronzon tadi telah bersenandung. Apa
yang telah dia siapkan untuk separuh lainnya dari serangan jepitan ini?
Bukankah itu serangan yang akan membunuh jika
mengenai sasaran?
“Magick: Flaming_Sword. Wujudkanlah dirimu menuruni Sephirah dan mandikan dia dalam kekuatanmu.”
Bagian 4
Blarrr!!!
Kekuatan yang bahkan lebih brutal daripada petir
menembus tubuh Kamijou Touma.
Ini bukan kesialan yang tidak terduga.
Ini adalah sesuatu yang jauh lebih pasti. Setelah
semua upaya dan perjuangannya, apakah dia gagal mengatasi serangan kekuatan
penuh yang dilancarkan saat Coronzon memiliki tubuh fisik?
“...Hmph.”
Dia tidak hancur
berkeping-keping. Apa dia menggunakan Imagine Breaker di detik terakhir? Upaya
yang berani padahal dia pasti tahu itu tetap akan hancur dan membunuhnya.
Terlepas dari itu, pertempuran telah berakhir.
Dia masih bernapas, namun dia hanya tergeletak di
sana dalam posisi meringkuk di lantai. Menghabisinya akan sangatlah mudah.
Othinus versi 15 sentimeter sedang meneriakkan sesuatu kepada pemuda itu dan
memelototi Coronzon dengan tajam, namun itu pun sia-sia. Dia tidak bisa
melakukan apa-apa.
Pengetahuan sihirnya memang berguna dalam
pertempuran, namun dia bukanlah perpustakaan grimoire. Dewa Sihir yang telah
jatuh itu tidak bisa menggunakan Spell Intercept yang memuakkan itu.
“Mungkin bukan kamu yang seharusnya berada di
sisinya, Dewa Sihir.”
Rasa sakit ini tidak diperlukan untuk kemenangannya.
Namun jiwanya tersiksa oleh hakikatnya sebagai
seorang iblis agung.
Saat Coronzon mencibir, mulutnya dipenuhi rasa
darah. Darah yang sangat pahit.
“Tidak harus kamu yang memberinya kebijaksanaan
sihir. Namun kamu bersikeras mempertahankan posisi itu untuk dirimu sendiri.
Apa kamu membiarkan keinginan nistamu memengaruhimu? Seandainya Index Librorum
Prohibitorum yang bersamanya di sini, dia mungkin bisa melindungi bocah sekarat
itu!”
“Apa yang membuatmu berpikir kamu telah mengalahkan
dunia di sini? Pertempuran belum berakhir. Berlakulah sesuka hatimu seolah kamu
pemenangnya, serangan berhargamu itu tetap gagal membunuh Kamijou Touma. Kamu
gagal. Sama seperti kamu gagal melarikan diri dari kota ini!”
“Ini bahkan bukan tentang itu.”
Coronzon melirik ke samping.
Kapal induk drone yang terpotong-potong dan galangan
kapal itu sendiri menciptakan beberapa lapisan padat yang menghalangi
pandangannya, namun dia tampak masih bisa menafsirkan bintang-bintang di langit
malam.
“Planet ini mungkin sedang menuju kehancurannya tanpa aku perlu mengangkat jari sedikit pun.”
Bagian 5
Sebuah bayangan meluncur cepat membelah pekatnya
langit malam.
Ia dijuluki si Angsa yang elok, namun itu hanyalah
siasat dari cat putih murninya yang berfungsi sebagai tameng pertahanan untuk
menangkis panas sebanyak mungkin saat meluncurkan serangan nuklir. Bahkan orang
awam yang tidak paham spesifikasi teknisnya pun bisa membayangkan tumpukan bom
dan rudal jelajah yang dibawa pesawat pembom strategis itu, andai mereka tahu
bahwa raksasa sepanjang 55 meter dengan bobot 275 ton tersebut hanya diawaki
oleh empat orang.
Saat ini, ruang peluncur bomnya yang luas dipenuhi
oleh sesuatu yang jauh lebih mematikan.
Hukuman bagi Malaikat Agung.
Begitu lingkaran sihir itu menghantam wilayah Kota
Akademi bersama hancurnya badan pesawat, pengaruhnya akan segera bangkit.
Hakikat iblis dan malaikat akan dipengaruhi sedemikian rupa demi mencederai
sang iblis agung secara paksa. Seluruh nyawa dalam radius 50 kilometer, lingkaran
yang membentang dari Tokyo Barat hingga wilayah Chubu, akan terbunuh, namun itu
dianggap sebagai pengorbanan yang sebanding.
Asalkan itu memungkinkan mereka melenyapkan makhluk yang
bukan manusia tersebut dari muka bumi.
“Hee hee. Aku sudah menunggu sampai detik terakhir,
tapi pembacaan Coronzon masih saja kuat. Kalian sudah gagal, Kota Akademi.
Daaaan kalian juga, para Anglikan. Kalian, para spesialis manusia, sebaiknya
tetap mengejar penyihir manusia saja. Sudah saatnya para spesialis monster
membereskan kekacauan ini.”
Setelah itu, Vasilisa tersenyum getir meremehkan
diri sendiri.
Pada akhirnya, dia hanya bicara pada dirinya
sendiri.
Pilot yang duduk di sampingnya hanyalah prajurit
biasa (?) yang tidak tahu-menahu soal sihir, namun hal itu bukanlah masalah
karena dia telah dicuci otak sepenuhnya. Dengan kecepatan melebihi Mach 2, Kota
Akademi di Jepang sama sekali tidak terasa jauh. Dan dia sudah memulai aksinya
jauh sebelum mereka semua menduganya.
Vasilisa tersenyum simpul.
Ada kalanya dia bertarung berdampingan dengan sekte
lain. Melindungi bumi dan umat manusia biasanya berarti kepentingannya sejalan
dengan keyakinan lainnya.
Namun tidak untuk kali ini.
Mengingat tujuannya, Annihilatus milik Gereja
Ortodoks Rusia tidak bisa berkompromi soal ini.
Dunia ini dikelola.
Karena itu, makhluk yang bukan manusia tidak boleh
dibiarkan mengancam nyawa manusia.
Itulah asumsi dasarnya.
Selama mereka mematuhi prinsip itu, Vasilisa dan
rekan-rekannya bisa bekerja sama dengan sekte lain, namun jika tidak, maka
sekte-sekte tersebut akan menjadi musuhnya.
Vasilisa tidak merasa senang harus melakukan ini. Dia
menggunakan pesawat pembom strategis untuk mengantarkan lingkaran sihir yang
diperlukan ke Kota Akademi, namun lingkaran sihir tetaplah lingkaran sihir.
Seseorang harus memasoknya dengan kekuatan sihir untuk mengaktifkannya.
Vasilisa tidak akan selamat saat mereka menghantam taman terbuka dengan
kecepatan penuh. Begitu pula mereka yang berada di dalam atau di sekitar Kota
Akademi. Tentu saja dia tidak menikmati keharusan mengorbankan nyawanya sendiri
maupun nyawa orang lain.
Masih banyak orang yang ingin dia sayangi, tidak terkecuali
Sasha dan sang Patriark.
Namun dia percaya ini adalah hal yang benar untuk
dilakukan.
Dia sedang melindungi bumi. Melindungi kemanusiaan.
Melindungi keadilan. Melindungi perdamaian.
Dia menggunakan cara manusia untuk melindungi
seluruh umat manusia dari ancaman bukan manusia.
...Ya, melakukan segala hal yang diperlukan untuk
mengalahkan Iblis Agung Coronzon tidak diragukan lagi adalah tindakan yang
benar. Siapa di dunia ini yang sanggup menolak kegembiraan, godaan, dan
kewajiban seperti ini?
Kuharap Sasha
akan mengerti betapa bijaksananya aku dengan tidak melibatkannya dalam hal ini.
Kota Akademi sedang tidak dalam kondisi yang mampu
melakukan pertahanan udara yang efektif.
Malaikat dari sisi sains, Kazakiri Hyouka, tadinya
adalah satu-satunya kekhawatiran, namun bahkan dia pun tidak bisa bertindak
saat ini.
Syarat-syaratnya telah terpenuhi.
Seandainya mereka lebih berhati-hati namun lebih
berani dalam upaya membunuh Coronzon, Vasilisa mungkin tidak akan punya
kesempatan untuk bertindak dan hanya bisa terpaku menonton.
Tapi sebaliknya,
aku bisa menyambar di akhir dan mengklaim kemenangan ini untuk diriku sendiri.
Pemandangan di bawah berubah dari lautan menjadi
daratan.
Kota Akademi berada tepat di depan mata.
Berbagai alarm aneh berbunyi di dalam pesawat pembom
itu, namun berdasarkan drone pengintai yang mereka kirim sebelumnya, pasukan di
luar sana sebenarnya tidak akan menembak. Dia tidak tahu mengapa, namun
beberapa peraturan mereka melarangnya. Jadi, sebuah pesawat pembom yang mampu
membawa senjata nuklir sedang mendekat, namun mereka membiarkannya begitu saja.
Negara itu tidak pernah masuk akal baginya.
Taman terbuka adalah tempat terbaik untuk
meluncurkan lingkaran sihir ke tanah. Dia memberi perintah kepada sang pilot.
Kemiringan moncong pesawat yang hanya sepuluh
derajat saja sudah memenuhi kabin pembom dengan sensasi jatuh yang nyata.
Mereka tidak perlu mengeluarkan roda pendaratan.
Menghantamkan badan pesawat ke tanah dan membiarkan permukaannya
mencabik-cabiknya akan menjadi cara yang sempurna.
“Itu akan memudahkan urusanku. Kalian bisa
beristirahat dengan tenang, wahai orang-orang Jepang. Terimalah kenyataan bahwa
Kota Akademi memang tidak pernah seharusnya ada di sini, dan lupakan saja!!”
Ucapan Vasilisa terhenti di sana.
Getaran dahsyat mengguncang seluruh badan pesawat
pembom strategis sepanjang lima puluh meter itu.
Alih-alih hantaman yang membawa kerusakan, rasanya
lebih seperti jalurnya telah dialihkan secara paksa. Melawan kendali dari tuas
kontrol. Dan dengan begitu, si Angsa meleset dari sasarannya di Kota Akademi.
Pesawat itu terbang melintas begitu saja.
“Apa-apaan!?”
Ukuran raksasa serta kecepatan pembom itu membuatnya
mustahil memerintahkan pilot untuk putar balik. Radius putarnya terlalu lebar.
Namun, ini bukanlah perbuatan sang malaikat sains.
Sistem pertahanan udara Kota Akademi seharusnya
sudah lumpuh atau setidaknya nyaris tamat. Lalu, apa sebenarnya ini?
Tiba-tiba, dia mendengar sebuah suara.
Pesawat pembom strategis itu merupakan medan upacara
yang membelah langit malam dengan kecepatan melebihi Mach 2. Hal ini mustahil
terjadi tanpa seizin Vasilisa selaku sang penguasa upacara.
Kami bisa saja menembakmu jatuh saat kamu sedang
bingung begitu, tapi rasanya aku akan merasa tidak enak.”
“Bagaimanapun juga, kami adalah dewa. Ha ha!
Memangnya ada yang bilang kalau kami tidak bisa terbang!?”
“Nephthys dan Niang-Niang...”
Vasilisa menggumamkan nama mereka dengan linglung,
sebelum kemudian sesuatu jauh di dalam kepalanya mendadak mendidih hebat.
Dia akhirnya menyadari apa yang terjadi.
“Kalian para Dewa Sihir sialan!!”
“Oh? Tapi kami sama sekali tidak bermaksud
menghalangi pekerjaan Gereja Ortodoks Rusia-mu itu. Lihat, ada dua monster
tepat di hadapanmu sekarang. Dan kami memiliki kekuatan penuh, tidak seperti
Othinus. Kupikir kami jauh lebih layak diprioritaskan ketimbang menyerang Kota
Akademi.”
“Ayolah, kamu ini spesialis dalam menangani hal-hal yang bukan manusia, ‘kan? Nah, kami adalah para Dewa Sihir gila yang tidak akan berpikir dua kali untuk melintasi garis antara hidup dan mati demi merengkuh pengetahuan. Jadi, mari bermain dengan kami para monster ini, wahai sang spesialis!!”
Bagian 6
Menengadah dari dalam kapal induk yang
terpotong-potong di dalam galangan kapal, Iblis Agung Coronzon sedikit
mengernyitkan dahi.
Ini aneh.
Mengapa pesawat pembom strategis itu tidak jatuh?
Hantaman langsung darinya tidak akan terlalu melukainya. Dan jika Kota Akademi
hancur lebur karenanya, itu akan menciptakan kekacauan yang cukup untuk dia
rayakan karena memang dia ingin melarikan diri dari kota ini. Namun, itu tidak
terjadi?
Trik Aleister
tidak mempan. Lalu apakah ini perbuatanmu? Tidak, apa aku terlalu berlebihan
memikirkannya? Bagaimanapun juga, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya
dengan kondisi sekarang.
Setelah merenung sejenak, Coronzon mematung.
Seseorang menyandarkan tangannya pada dinding bagian
dalam kapal. Sembari mengumpulkan kekuatan di kaki mereka. Gerakannya goyah,
namun dia mengatupkan gigi rapat-rapat. Kamijou Touma bangkit kembali. Sekali
lagi.
Ya, dia bergerak.
Dia dipuntir dan terlempar.
Normalnya, dia seharusnya tidak akan pernah bisa
bergerak lagi.
“Syukurlah,” ucapnya.
Dia memiliki suara seseorang yang belum menyerah.
“Kepalaku sakit sekali dan sejujurnya aku merasa
seperti akan mati, tapi syukurlah aku tidak sengaja menyentuh kepalaku... Ya,
benar sekali. Aku tidak tahu siapa orangnya, tapi seseorang telah membantuku.
Semua demi momen ini. Karena sekarang aku tidak perlu khawatir akan pingsan
bahkan saat rasa sakitku pasti sudah melampaui batas!!”
Bukankah Othinus tadi bertanya apa yang membuat
Coronzon berpikir dia telah mengalahkan dunia?
Kamijou Touma adalah satu hal, namun Dewa Sihir yang
licik itu tidak akan memberikan argumen emosional yang tidak berdasar. Dia sudah
tahu sejak awal kendali psikologis macam apa yang telah diterapkan pada Kamijou
Touma!
Meski begitu.
Selagi dia masih bisa bertarung, apa yang mendorong
manusia itu sejauh ini?
Dia akan lebih baik jika mati saja.
Orang yang tenggelam akan meraih apa pun demi
bertahan hidup. Rasa sakit dan ketakutan tidak bisa dijinakkan oleh logika.
Bahkan jika dia selamat, dia mungkin bisa menghindari pukulan lebih lanjut jika
dia berpura-pura mati. Mungkin dunia nantinya akan hancur, namun dia akan aman
untuk saat ini.
“Bagaimana kamu bisa begitu polos percaya pada masa
depan?”
Coronzon mendapati dirinya melakukan tindakan yang
sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemenangannya.
Kata-kata yang berat dan tidak kasatmata meluncur
dari mulutnya.
Seolah-olah dia sedang mengucapkan kutukan.
“Imagine Breaker meniadakan semua kekuatan
supernatural dan mengundang kesialan. Dia meniadakan hal baik bersamaan dengan
hal buruk, jadi selama kamu memiliki tangan kanan itu, kamu tidak akan pernah bisa
menerima berkat Tuhan. Sama sepertiku, fungsimu merasuki hidupmu. Tidak, itu
lebih buruk bagimu karena kamu tidak pernah memilih sendiri untuk memberontak.
Kamu diabaikan oleh Tuhan sejak kamu lahir. Dia bilang itu tidak bisa dihindari
dan kesialan adalah takdir hidupmu. Tanpa alasan lebih dari itu!! Itu sudah
lebih dari cukup bagimu untuk menolak dunia yang mengaku adil. Jadi mengapa kamu
tidak mengutuk dunia ini? Mengapa kamu tidak ingin menghancurkan dunia yang
tidak sudi memilihmu!?”
Kamijou yang babak belur tersenyum sedikit.
...Dia tidak ingin menjadi orang yang paling bahagia
dan bersukacita atas kemenangannya.
Meskipun akan terlihat cukup keren jika dia bisa
mengatakannya seolah-olah itu bukan apa-apa.
Namun dia tidak bisa mengatakannya.
Dia menolak.
Dia pernah pergi ke neraka. Selama perjalanannya di
neraka bersama CRC dan Anna Kingsford, dia telah melihat dengan sangat jelas seperti
apa hakikat dirinya.
Dia adalah manusia yang kotor.
Saat seseorang menangis, itu menyakitinya juga dan dia
hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit itu. Dia hanya mengepalkan tinjunya
dan bertarung begitu gigih karena dia adalah orang yang sangat lemah yang tidak
memiliki keteguhan untuk menerima tragedi. Dipukul jauh lebih mudah daripada
melihat tragedi, jadi itulah yang dia lakukan.
Dia tidak menginginkan kesialan.
Dia ingin bahagia.
Dia ingin hidup.
Dia mungkin dirundung oleh kesialan, kesialan, kesialan,
dan lebih banyak kesialan, namun dia tidak akan berbohong tentang keinginannya
untuk melindungi nyawanya sendiri dan berharap pada kebahagiaan. Jika tidak, dia
tidak akan perlu melarikan diri dari neraka. Tidak peduli idealisme apa pun
yang dia paparkan, dia tetap tidak ingin mati. Tidak, dia tidak ingin menyerah
pada kehidupan hanya karena dia mati. Masih banyak yang ingin dia lakukan di
dunia ini.
Bukan sesuatu yang terlampau luhur seperti
menciptakan penemuan besar yang mengubah cara hidup orang banyak atau
melenyapkan segala kejahatan dari muka bumi.
Hanya selembar roti panggang.
Dia tidak ingin kematian merampas bahkan tindakan
sesederhana menggigit roti panggang beroles mentega.
Hal itu terasa buruk rupa, konyol, dan nista.
Dia menyadari hal itu, dan kesadaran itulah yang
memungkinkannya berucap dengan penuh keyakinan.
“Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kamu tunggu
sampai ada orang yang memberikannya padamu.”
“Sialan... kamu.”
“Meskipun kamu terlahir dalam kesialan dan meskipun
kamu telah melakukan kesalahan besar, tidak ada aturan yang mewajibkanmu
berhenti mengharapkan kebahagiaan. Siapa pun boleh memintanya, bahkan jika
mereka sudah terpuruk ke titik terendah. Tidak ada yang berhak menghalangi
keinginan seseorang untuk berbahagia.”
“~~~”
Ini adalah pilihan berbeda yang tidak mampu diambil
oleh Coronzon.
Wanita itu membenci, mengutuk, mendendam... dan
menghancurkan keinginannya sendiri untuk bahagia. Pada satu titik, dia sudah
berhenti menggantungkan harap pada kebahagiaan.
Kamijou menatap langsung pada sebuah fakta yang
enggan dia ingat.
Mengalahkan Coronzon juga berarti menyerang
Aleister.
Tapi kamu juga
belum membusuk, ‘kan?
Yang satu sudah membusuk dan yang lainnya tidak.
Pada akhirnya, keputusan itu terasa mudah. Kamijou Touma mengambil langkah pertama ke depan.
Bagian 7
Dia harus mundur.
Iblis Agung Coronzon memaksakan kehendaknya untuk
melakukan itu. Pada akhirnya, Kamijou Touma hanya memiliki tinju kanannya. Maka
dia harus segera melompat mundur untuk menciptakan jarak yang cukup di antara
mereka, lalu melenyapkannya dengan proyektil tembakan cepat. Dia bisa
menggunakan Dakshina Kalika, Goetia, dan banyak kartu as lainnya.
Namun di saat itu, kakinya membeku.
Apakah dia ingin mengalahkan manusia ini secara
langsung tanpa tipu muslihat?
...Tidak. Coronzon adalah perwujudan dari kejahatan
yang pekat, jadi dia tidak akan pernah mempertimbangkan sesuatu yang begitu
mulia. Pihak ketiga jelas-jelas sedang menahan tubuhnya di tempat!
“Alei...ster?”
Kamu juga? Kamu
juga belum membusuk!? Setelah semua yang dunia dan orang-orangnya lakukan
padamu, dan setelah kamu akhirnya kehilangan bahkan tubuhmu sendiri!? Kamu
masih menemukan sesuatu yang tersisa di dunia yang benar-benar bengkok ini!?
Hal berikutnya yang dia sadari, Coronzon membisikkan
sesuatu di sela napasnya.
“Aku adalah iblis, tetapi bukan dari Qliphoth tempat
kekuatan jahat berkumpul. Aku adalah iblis agung yang tersembunyi oleh
Sephiroth suci. Aku berdiam di jurang yang sama dengan Da’at.”
Dia seharusnya sudah tahu sejak awal bahwa Kamijou
Touma dan Aleister Crowley berbeda darinya. Namun sang iblis agung tampak
terpuruk.
Perbedaan itu baru saja ditunjukkan di depan
matanya.
Gagasan bahwa lingkungan dan keadaan seseorang
mengubah mereka menjadi orang jahat hanyalah fantasi konyol yang dibayangkan
oleh orang-orang kaya dan bahagia saat mereka memandang rendah mereka yang
tidak terpenuhi. Tidak ada kebenaran di sana.
Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang
menggunakan lingkungan dan keadaan mereka untuk bertumbuh.
Inilah pembuktiannya.
Kesialan bukanlah alasan untuk membiarkan karaktermu
membusuk.
Yang berarti kejahatan Iblis Agung Coronzon adalah
sesuatu yang dia sendiri besarkan di dalam dirinya.
“Jika...”
Kamijou Touma pun memikirkan hal ini.
Pada akhirnya, Coronzon mengandalkan kesuksesan masa
lalunya.
Tentu saja. Kamijou belum pernah sekalipun
menghindari serangan ini ketika diluncurkan dengan kekuatan penuh saat Coronzon
memiliki tubuh fisik. Dia kalah setiap saat, seolah-olah itu adalah takdir.
Coronzon selalu menggunakan ini untuk menyelesaikan segala urusan. Dengan
memaksakan kekuatan yang bahkan melampaui kemampuan Imagine Breaker untuk
meniadakan kekuatan supernatural.
Kapan pun dia benar-benar membutuhkan kemenangan, dia
akan menggunakan ini.
Dia akan menikmati kemenangan mutlak dan sempurna
ini.
Kamijou Touma sebenarnya tersenyum sedikit.
Iblis Agung Coronzon adalah makhluk yang mengerikan.
Namun pilihan ini entah bagaimana tampak manusiawi.
“Setiap
angka adalah angka yang sama. Tangan kananku memuat Nuit Kebangkitan. Saksikan
kemungkinan-kemungkinan yang meluas dan melampaui batas yang fana. Tangan
kiriku memuat Hadit Pembalasan. Titik terkecil mengumpulkan dan memusatkan
seluruh kekuatan untuk menciptakan satu makna tunggal. Maka, sebuah serangan
akan dilepaskan dari percepatan tidak terbatas Lingkaran Ra-Hoor-Khuit dan akan
muncul di permukaan dunia ini.”
“Jika kamu kira satu-satunya harapan bagimu ada di
dunia berikutnya... Dan jika kamu bilang kamu bersedia menghancurkan dunia saat
ini untuk mencapai dunia itu...”
Dia sudah terluka parah setelah terkena serangan ini
sekali. Dia tidak tahu seperti apa kondisi tubuhnya atau berapa lama lagi dia
bisa terus bergerak.
Dan.
Hal ini sudah diramalkan. Apa yang dikatakan Dewa
Sihir Othinus sebelumnya?
“Magick:
Flaming_Sword. Wujudkanlah dirimu menuruni Sephirah dan mandikan dia dalam
kekuatanmu.”
Serangan itu melesat tepat di samping telinganya.
Arus kekuatan yang lebih hebat dari petir meluncur
secara horizontal dan merenggut beberapa helai rambut Kamijou, namun hanya
sebatas itu.
Dia menghindarinya untuk pertama kalinya.
Dia tidak menggunakan jenis kekuatan khusus apa pun.
Hanya kekuatan fisiknya sendiri.
Beberapa irisan kapal induk di belakangnya runtuh
dengan hiruk-pikuk dan guncangan yang hebat.
Mungkin Coronzon memiliki sedikit ciri di suatu
tempat. Semacam kebiasaan kecil yang bahkan tidak disadari oleh Kamijou
sendiri.
Kesialannya, kutukannya, takdir tragisnya...
semuanya telah runtuh.
Othinus mengatakan bahwa hal terburuk yang bisa dia
lakukan sekarang adalah mengeluarkan kemampuan baru yang belum pernah dia lihat
sebelumnya.
Dengan kata lain, tidak peduli betapa mengerikan
kekuatannya, serangan yang sudah dikenal memberinya sebuah kesempatan. Ketika
tubuhnya sudah mengenal serangan itu, yang perlu dia lakukan hanyalah
menghindarinya. “Kamu bisa melakukannya, bukan?” desak Othinus. Awalnya, dia
mengira wanita itu hanya mengada-ada, namun kini tidak lagi. Othinus tidak
membuang gagasan itu sebelum menyampaikannya karena dia percaya Kamijou sanggup
melakukannya.
Dia telah mengatasinya.
Dan dia pun sudah melihat bahwa pertahanan Coronzon
terbuka lebar setelah menggunakan serangan ini.
Kamijou Touma memusatkan seluruh fokus pada
tinjunya.
Dia melangkah maju.
Wajah terkejut Coronzon yang berlumuran darah
membesar memenuhi seluruh bidang pandangnya.
Siapakah yang berada di lapisan permukaan pada momen
terakhir ini?
Apakah itu Iblis Agung Coronzon atau Manusia
Aleister Crowley?
Kamijou tidak tahu.
Dia mengepalkan tangan kanannya. Erat. Jauh lebih
erat dari sekadar erat.
Dia masih belum memiliki jawaban.
Namun dia tetap berucap.
“Kalau begitu!! Akan kuhancurkan ilusi itu!!!”
Suara dan sensasi sentuhan yang dirasakannya terasa
lebih tumpul dari biasanya.
Dia benar-benar melakukan hal itu.
Bagian 8
Suasana terasa hening.
Sesaat sebelum momen terakhir, area di luar galangan
kapal sebenarnya sunyi senyap mencekam.
Coronzon bisa saja memasang turret Dakshina Kalika
sebanyak yang dia mau, namun dia harus terus-menerus memasoknya dengan kekuatan
sihir. Demi mencurahkan seluruh tenaganya ke dalam bentrokan melawan Kamijou
Touma, dia tidak lagi memiliki sisa kekuatan untuk hal lain. Semua turret yang
terbuat dari rambut pirang panjang itu, yang menyerupai kepala singa dengan empat
kaki yang mencuat darinya, kini telah lunglai dan membisu.
Hamazura Shiage secara kebetulan telah terbebas dari
selnya, namun tidak seperti Necromancer Isabella Theism, dia tidak memiliki
tujuan jelas di benaknya dan akhirnya hanya berkelana di kota saat larut malam,
meski begitu, mengikuti jejak Coronzon bukanlah hal sulit. Seluruh kota telah
diperintahkan untuk tetap berada di dalam ruangan, jadi dia hanya perlu menuju
ke tempat keributan terbesar terjadi. Namun setiap kali dia tiba, Coronzon
sudah melarikan diri ke distrik lain.
Dia mengulangi proses itu beberapa kali.
Dan dia akhirnya berhasil menyusul di Distrik 17.
Namun, itu bukan berarti dia akan menyusul tepat
waktu.
Coba pikirkan. Hamazura mengikuti jejak yang
ditinggalkannya, jadi jika dia berhasil menyusul, itu artinya Coronzon telah
melambat. Jadi, itu bukanlah sesuatu yang patut disyukuri. Ini berarti wanita
itu sedang terdesak.
Rentetan es Dakshina Kalika yang sangat akurat itu
telah sirna.
Hamazura tidak menemui kendala saat melangkah masuk
ke dalam galangan kapal.
Walaupun mungkin salah jika mengatakan dia
melakukannya dengan aman. Dia seharusnya tidak mengintip ke dalam kotak raksasa
itu.
“Tunggu...”
Kapal induk drone itu masih belum rampung dan
disimpan dalam bentuk irisan-irisan.
Karena itulah, dia memiliki pandangan jelas ke
bagian dalam kapal.
Pada momen terakhir itu.
Menengadah dari jauh di bawah, Hamazura Shiage yang
kecil berteriak.
Dengan segenap kekuatannya, seolah-olah dia mencoba
merobek tenggorokannya sendiri.
“Tungguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!”
Sang iblis sudah mati.
Hasrat jahatnya tetap tidak terpenuhi.