Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Prolog

Bunyi elektronik yang tidak asing. Lampu lalu lintas berganti dari merah ke hijau.

Pada saat yang sama, orang-orang mengalir keluar dari segala penjuru bagaikan bendungan yang jebol.

Udara terasa pengap, barangkali karena sudah terlalu lama dia hanya menghirup udara segar di dalam hutan. Matahari yang bersinar terik. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seakan hendak menggapainya. Aspal yang membentang tanpa ujung, serta fatamorgana yang tampak bergoyang di kejauhan.

Di tengah-tengah semua itu, Mahiru berdiri terpaku.

Persimpangan Shibuya.

Terbawa arus kerumunan orang yang dingin, dia melangkah tanpa tujuan ke arah Dogenzaka.

“Tiba-tiba dilempar ke tempat seperti ini, aku harus bagaimana? ...Tidak, ini masih jauh lebih baik daripada dikembalikan ke lembaga pembinaan anak.”

Mahiru mempertimbangkan skenario terburuk lalu berubah pikiran. Jika itu si Gembala, gangguan picik semacam itu memang sangat mungkin dia lakukan.

Asahi, adik perempuannya, menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Orang tua mereka tertipu oleh seorang peramal sesat hingga seluruh harta mereka dikuras habis, sebelum akhirnya keduanya memilih untuk mengakhiri hidup bersama-sama.

Setelah kejadian itu, Mahiru yang dimasukkan ke panti asuhan berusaha keras mencari peramal yang telah menyudutkan orang tuanya ke liang lahat. Dia pun banting tulang demi biaya pengobatan Asahi, namun dalam prosesnya, dia terpaksa menempuh jalan yang melanggar hukum. Pasalnya, tidak ada tempat yang mau mempekerjakan anak SMP seperti Mahiru, dan ketika dia beranjak SMA pun, upah seribu yen per jam tidak akan pernah cukup untuk menutupi biaya medis yang selangit.

Akhirnya dia berhasil menemukan peramal tersebut, namun Mahiru yang tidak mampu meredam amarahnya langsung menyerang dengan sebilah pisau. Sayangnya, dia hanya sanggup menorehkan luka sayat yang jauh dari kata fatal.

Alhasil, Mahiru dijebloskan ke dalam lembaga pembinaan anak.

Di sana, dia tersedot ke dalam buku cerita bergambar Si Tudung Merah yang dia temukan di perpustakaan, lalu berpindah ke dunia dongeng. Di sana dia bertemu dengan seorang gadis berkerudung putih bernama Maisy Carmine. Dengan mempertaruhkan nyawa dalam arti yang sebenarnya, dia mencoba menyucikan kegilaan yang ada, dan sampailah dia di saat ini.

Mahiru mengembuskan napas pendek sembari menatap satu-satunya senjata untuk menaklukkan dunia dongeng yang ada di tangannya, Grimm Note. Pakaiannya tidak berubah, dia masih mengenakan tudung abu-abu yang sering dipakainya sejak masih di dunia ini, dipadukan dengan celana olahraga yang longgar serta sepatu kets usang.

Begitu dia kembali ke tempat asalnya, tudung yang sebelumnya tercabik-cabik dan bersimbah darah akibat ulah Elfiria, begitu pula dengan luka-luka Mahiru, semuanya telah pulih seperti sedia kala.

“...Cih.”

Mahiru tidak punya rumah untuk pulang. Dia pun tidak berniat repot-repot kembali ke lembaga pembinaan, apalagi mengandalkan panti asuhan.

Sekarang, apa yang harus dia lakukan?

Si Gembala berkata bahwa selain Si Tudung Merah, masih ada enam dunia dongeng lainnya. Menilik dari nada bicaranya, tampaknya dia memang berencana membuat Mahiru menaklukkan dunia-dunia itu juga. Jika demikian, maka saat ini hanyalah waktu istirahat sejenak.

Dia meraba saku pakaiannya, namun tidak menemukan ponsel maupun dompet.

Namun secara mengejutkan, segepok uang justru muncul dari saku tudungnya.

“...!”

Mahiru bergegas menjejalkan kembali uang itu ke dalam sakunya, lalu lanjut berjalan sambil berpura-pura tenang. Tidak baik jika dia panik dan malah menarik perhatian orang di sekitarnya. Uang itu masih terikat segel kertas. Jumlahnya mungkin sekitar satu juta yen.

Apakah ini ulahnya? Mahiru dapat dengan mudah membayangkan wajah si Gembala yang menyunggingkan senyum licik saat melihatnya panik.

Uang palsu? Kalaupun iya, semua sudah terlambat. Menambah sedikit catatan kriminal pun bukan masalah baginya. Dengan ini, masalah tempat tinggal dan makanan sudah teratasi.

Lagi pula ini hanyalah uang panas. Dia berpikir lebih baik menggunakannya untuk berfoya-foya sekalian. Namun sungguh malang, Mahiru yang belum pernah memegang uang sebanyak itu sama sekali tidak tahu cara menghabiskannya. Dia sempat terpikir untuk menyantap daging kualitas tinggi, tetapi dia tidak tahu di mana bisa mendapatkannya. Akhirnya, dia pergi ke sebuah kedai ramen yang terlihat oleh matanya dan memesan menu dengan semua jenis topping. Bagi Mahiru, itulah puncak kemewahan yang mampu dia bayangkan.

Dia menyewa satu bilik di warnet untuk tempat menginap. Padahal sekarang dia punya cukup uang untuk menyewa hotel bisnis, namun dia merasa hal itu tidak perlu dilakukan. Jika dibandingkan dengan bangku taman atau kolong jembatan, tempat ini adalah surga. Selain bisa terlindung dari hujan dan angin, di sini sudah dilengkapi pendingin ruangan, pancuran air, bahkan minuman sepuasnya.

Keberadaan akses internet pun sangat dia syukuri.

Mahiru adalah seorang tahanan di lembaga pembinaan anak. Dia mendadak menghilang karena tersedot ke dunia dongeng, namun apakah statusnya sekarang dianggap sebagai narapidana yang melarikan diri? Dia mencoba menyelidiki hal itu, dan setidaknya, tampaknya nama aslinya tidak diberitakan ke publik. Begitu pula dengan foto wajahnya yang tidak tersebar luas.

Ternyata lembaga pembinaan anak hanyalah institusi untuk pendidikan pembinaan, sehingga melarikan diri dari sana tidak termasuk dalam tindak pidana pelarian. Sebenarnya melarikan diri dari sana dianggap mustahil, namun jika memang berhasil kabur, apakah masa kadaluwarsanya akan berlaku? Dia tidak begitu paham, tetapi yang jelas, dia bersyukur nama aslinya tidak dipublikasikan.

Tidur. Bangun. Makan. Tidur kembali.

Kehidupan seperti itu terus berlanjut selama beberapa hari.

“...Sepertinya aku tidak bisa terus melarikan diri.”

Tepat saat dia mulai merindukan sinar matahari, dia membulatkan tekad untuk menaiki kereta Jalur Yamanote yang sudah mendekati jadwal keberangkatan terakhir. Dia turun di stasiun yang sudah berulang kali dia kunjungi, lalu setelah berjalan sekitar sepuluh menit, tampaklah sebuah bangunan yang sangat besar dan bersih.

Inilah rumah sakit universitas tempat adiknya, Asahi, dirawat.

Asahi yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan tidak diperbolehkan menerima kunjungan selain dari anggota keluarga. Mahiru memenuhi syarat tersebut, namun secara status, dia seharusnya sedang mendekam di lembaga pembinaan. Tentu saja dia tidak bisa menemui Asahi dengan cara biasa, jadi dia menyelinap masuk melalui pintu belakang.

Melalui rute yang sudah dihafalnya, dia tiba di depan kamar perawatan adiknya.

Menatap papan nama bertuliskan Misora Asahi, dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.

Saat terakhir kali mereka bertemu, kondisi Asahi sedemikian parah sehingga dia harus selalu terhubung dengan masker oksigen dan infus hanya untuk menyambung nyawanya. Gejalanya kian memburuk dari tahun ke tahun, dan tidak ada harapan sedikit pun untuk menemukan metode pengobatan.

Namun, si Gembala berkata...

Jika dia berhasil menaklukkan dunia dongeng dan menyucikan kegilaan di dalamnya, Asahi bisa diselamatkan.

Sejujurnya, setelah kembali ke dunia ini, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah berlari menemui adiknya.

Alasan dia tidak melakukannya hanyalah karena dia merasa takut. Dia telah mempertaruhkan segenap jiwanya untuk menaklukkan dunia Si Tudung Merah demi kesembuhan adiknya. Itu hanyalah seberkas harapan yang sangat tipis, namun karena tidak ada cara lain yang bisa dia andalkan, harapan itu bagaikan seutas benang laba-laba yang terjuntai tepat di hadapannya. Seandainya benang itu ternyata tidak terhubung ke mana pun...

“Tidak, aku tidak boleh bersikap selemah ini.”

Kalau pun Asahi belum pulih, itu hanya berarti dia kembali ke titik awal. Jika itu terjadi, dia tinggal mencari cara lain saja, bukan?

Mahiru mengembuskan napas panjang lalu membuka pintu tersebut.

Aroma disinfektan yang tajam menusuk hidung. Di atas tempat tidur putih yang sederhana, tampak sosok adiknya yang mengenakan pakaian pasien.

Asahi tengah terlelap dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya, sembari mengembuskan napas yang teratur dalam tidurnya.

“Asahi....”

Dia duduk di kursi bulat yang ada di samping tempat tidur, lalu menatap wajah adiknya lamat-lamat.

Kulitnya sepucat hantu. Rambutnya tampak sedikit kering. Tanpa bermaksud memuji keluarga sendiri, Mahiru rasa adiknya memiliki paras yang cantik, namun wajahnya yang kuyu itu sungguh menyayat hati.

“Apa benar....”

Namun secara mengejutkan, Asahi tidak lagi mengenakan masker oksigen. Meski peralatan infus masih tersedia, saat ini tidak ada selang yang terhubung ke tubuhnya. Dia bernapas dengan begitu tenang, seakan-akan dia hanya sedang menikmati tidur siang yang lelap.

“Apa kamu benar-benar sudah membaik? Apa ini karena aku berhasil menaklukkan dunia Si Tudung Merah?”

Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Tidak mungkin. Sejak pertama kali jatuh sakit, kondisi Asahi selalu saja memburuk. Dokter pun telah menyatakan bahwa tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Namun kini, kondisinya telah membaik sedemikian rupa hingga Mahiru yang awam pun bisa menyadarinya.

“Kakak...?”

Asahi mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan bergerak gelisah, lalu membisikkan suara yang seakan hampir lenyap.

“Asahi...!”

“Kakak tidak mungkin ada di sini, ‘kan...? Apa ini hanya ilusi yang tercipta dari keinginanku?”

Dia menyipitkan matanya, mungkin karena penglihatannya yang masih kabur.

Tampaknya dia tidak bisa percaya keberadaan Mahiru di sana, hingga suaranya yang serak terdengar seperti sebuah igauan.

Mahiru menggenggam lembut tangan Asahi yang terulur perlahan, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat rapuh.

Tangan itu terasa begitu dingin dan kurus, tak ubahnya seperti sebatang ranting.

“Meski hanya ilusi, aku senang... karena kukira, aku tidak akan bisa bertemu Kakak lagi untuk waktu yang lama.”

Asahi terbatuk pelan. Sekadar mengeluarkan suara saja sepertinya terasa menyakitkan baginya.

Tidak bisa bertemu untuk waktu yang lama... Artinya, apa Asahi tahu kalau Mahiru dijebloskan ke lembaga pembinaan anak?

Mahiru merenungi betapa bodoh perbuatannya yang hanya didasari emosi sesaat itu. Dia telah membuatnya khawatir, padahal tidak ada hal yang lebih berharga baginya selain Asahi.

“Maafkan Kakak, Asahi. Kakak benar-benar minta maaf.”

“Suara Kakak, menenangkan... Lembut, tapi kuat... Kakak...”

Kekuatan dalam suara Asahi berangsur lenyap, dan tangan yang digenggam itu terasa semakin berat.

Jantung Mahiru sempat berdegup kencang karena terkejut, namun dia merasa lega saat melihat selimut yang kembang kempis secara teratur. Rupanya, dia hanya tertidur.

“Akhirnya Kakak menemukan cara untuk menyelamatkanmu. Memang caranya sangat aneh dan sulit dipercaya, tapi orang seperti Kakak yang tidak punya uang ataupun pendidikan pun sepertinya bisa melakukannya.”

Mahiru menggenggam kedua tangan Asahi erat-erat, seolah sedang mengucapkan sebuah sumpah.

“Asalkan Kakak tidak menyerah. Dengan begitu, Kakak bisa menyembuhkan penyakitmu.”

Hal yang sangat sederhana.

Tidak perlu membuang banyak uang dan waktu untuk belajar kedokteran, tidak perlu pula memohon pada dukun atau paranormal gadungan; dia bisa menolong Asahi hanya dengan mengandalkan kerja kerasnya sendiri.

“Tunggulah sebentar lagi, Kakak pasti akan menyelamatkanmu.”

Mahiru mengusap kepala Asahi dengan lembut untuk terakhir kalinya, lalu melangkah keluar meninggalkan kamar perawatan tersebut.

 

Saat kembali ke warnet, benda itu tiba-tiba tertangkap oleh pandangan Mahiru.

Di ujung kanan rak buku pajangan yang berisi deretan majalah, sebuah buku dengan hiasan yang sangat megah memancarkan aura ganjil, “Cinderella”.

“Setelah Si Tudung Merah, sekarang Cinderella...?”

Mahiru mengambil buku Cinderella itu dan membalik-balik halamannya.

Isinya jauh lebih kejam, tanpa harapan, dan penuh kegilaan jika dibandingkan dengan cerita yang Mahiru ketahui.

Begitu dia selesai membalik halaman terakhir, cahaya yang lebih pekat dan menyilaukan daripada matahari pagi memancar dari buku cerita tersebut. Suara dentang lonceng yang berat bergema di dalam kepalanya, mengaburkan batas antara dirinya dan dunia luar. Kini, tidak ada lagi secuil pun pemandangan dunia yang tertangkap oleh matanya, dan cahaya itu pun menelan Mahiru bulat-bulat.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar