Kata Penutup
Kata
penutup kali ini akan diawali dengan sebuah permohonan maaf.
Kepada
para pembaca yang menantikan aksi Maisy, saya memohon maaf yang
sebesar-besarnya. Di akhir jilid pertama, kehadiran Maisy sempat diisyaratkan,
namun pada akhirnya dia tidak muncul sama sekali. Saya pun merasakan hal yang
sama. Pada awalnya, saya berniat untuk memunculkannya di jilid ini, bahkan
sosoknya sudah ada dalam draf awal. Saya sempat tidak meragukan bahwa aksinya
akan terlihat kembali, namun semua itu berubah karena apa yang disebut sebagai
alasan teknis produksi. Istilah yang sungguh tidak menyenangkan.
Jika
bicara lebih spesifik, penyebab kegagalannya adalah karena pesona Maisy sebagai
heroine terlalu kuat. Pada dasarnya, Grimm Connect adalah kisah yang lahir dari
karakter bernama Maisy Carmine. Saya memang sering membangun cerita, dunia,
hingga alur berdasarkan karakter, dan karya ini pun tidak terkecuali karena
kisahnya dibangun dengan Maisy sebagai pusatnya. Karakter Mahiru sendiri
tercipta agar bisa bersanding dan membuat pesona Maisy semakin menonjol sebagai
heroine, jadi tidak heran jika mereka sangat serasi. Saya menganggap wajar jika
pesona seorang heroine itu tinggi, dan saya menulis cerita dengan keyakinan
bahwa semakin tinggi pesona itu maka akan semakin baik, namun ternyata hal itu
bisa menimbulkan masalah juga. Keberadaan Maisy membuat kondisi mental Mahiru
menjadi sedikit stabil. Itu tidak bagus. Benar-benar tidak bagus. Para pembaca
tentu lebih ingin melihat Mahiru menderita, bukan? Padahal saya ingin dia
bahagia, tapi ini sungguh ironis. Harap nantikan kemunculan Maisy di
jilid-jilid berikutnya.
Setelah
Si Tudung Merah, buku ini menyajikan kisah Cinderella.
Ini
juga merupakan dongeng mewah yang diketahui oleh semua orang.
Namun,
saya merasa Cinderella adalah kisah yang sulit dimengerti. Dongeng biasanya memiliki
pesan moral, namun jika ditanya apa pesan moral dari Si Tudung Merah, saya hanya
bisa memikirkan jangan bicara dengan orang asing, jadi pesan moral di dalamnya
memang samar. Namun dalam hal Cinderella, saya merasa pesan moral itu hampir
tidak terasa sama sekali.
Apakah
karena penampilan? Apakah pada akhirnya dunia ini hanya mementingkan rupa?
Perkembangan ceritanya membuat siapa pun akan berpikir demikian. Memang
Cinderella digambarkan sebagai wanita yang baik hati, namun karena tidak ada
penggambaran sang pangeran mengetahui sisi tersebut, kemungkinan besar pangeran
tertarik padanya hanya karena sosoknya yang cantik berbalut gaun, lalu
menggunakan kekuasaannya untuk mencari gadis itu. Pada titik tersebut, sang
pangeran pun seharusnya belum tahu fakta bahwa Cinderella sedang ditindas, jadi
tindakannya bukan didasari oleh rasa keadilan. Pangeran itu jadi terasa seperti
pria yang tidak benar. Cinderella sendiri pun jarang memperlihatkan keinginan
atau kehendaknya, sehingga tidak jelas mengapa dia begitu mendambakan pesta
dansa. Jika alasannya adalah karena memang begitu alurnya, ya mau bagaimana
lagi. Saya merasa ragu apakah dia benar-benar bahagia setelah dipikat oleh
pangeran. Saya juga berpikir apakah Cinderella adalah tipe gadis yang tidak
memiliki kemandirian.
Setelah
melalui berbagai pertimbangan, lahirlah cerita seperti yang ada sekarang.
Mengaturnya menjadi satu jilid sangatlah sulit, bahkan sempat ada percakapan
seperti, “Bolehkah saya menjadikannya dua jilid?”, yang kemudian dijawab
dengan, “Tidak boleh”. Melalui perombakan naskah yang sangat berat meski tidak
separah jilid pertama, akhirnya buku ini selesai. Ya, ini adalah masalah
kemampuan menulis saya. Saya berharap bisa segera memiliki kemampuan yang
mumpuni agar bisa menyebut diri sebagai penulis profesional dengan penuh
percaya diri...
Meskipun
dalam cerita utama tidak digali terlalu dalam, saya cukup menyukai Reset dan
diam-diam ingin menulis cerita rute Reset suatu saat nanti. Meskipun
kemungkinan besar yang akan menyelamatkannya bukanlah Mahiru, melainkan pemain
lain. Mengenai Elez, dia akan terus muncul di masa depan, jadi penulis berharap
pembaca bisa menantikan aksinya. Saya juga ingin memunculkan Layla kembali
karena visualnya sangat sesuai dengan selera saya, namun saya belum tahu pasti
mengenai hal itu. Tubuhnya yang mungil, kakinya yang ramping, matanya yang
berputar-putar, serta kantung mata di bawah matanya... gadis ini benar-benar
terlalu menggoda...
Mari
kita akhiri sampai di sini.
Kelanjutan
Grimm Connect sudah dipastikan, dan saat ini pengerjaan jilid ketiga sedang
dilakukan. Seri ini direncanakan akan terus berlanjut untuk sementara waktu,
jadi saya berharap pembaca bisa terus mendukungnya dengan tenang. Selain itu,
proyek adaptasi manga juga sedang berjalan. Harap tunggu dengan sabar.
Berikut
adalah ucapan terima kasih. Kepada Nyanpo-sensei yang kembali menggambar
ilustrasi luar biasa seperti di jilid pertama, saya tidak bisa berhenti
berterima kasih. Ilustrasi Nyanpo-sensei benar-benar menusuk selera saya dengan
tepat... Terima kasih banyak.
Kepada
Direktur Otaku Penguin yang telah menyunting karya ini, saya kembali berutang
budi banyak padanya. Sepertinya saya masih akan merepotkan ke depannya, jadi
mohon bantuannya.
Selain
itu, saya ingin berterima kasih sedalam-dalamnya kepada semua orang yang
terlibat dalam pembuatan karya ini.
Terakhir,
terima kasih khusus kepada para pembaca yang telah membeli buku ini.
Saya akan berusaha keras agar jilid ketiga bisa segera sampai ke tangan kalian.