Bicara
soal benda kunci dalam kisah Cinderella, Mahiru sempat mengira itu pastilah
sepatu kaca, namun ternyata Petrie memberikan sepasang sepatu kulit kepada Elez.
Namun, itu memang benar cahaya pemurnian yang sama dengan yang pernah dia lihat
dalam kisah Si Tudung Merah.
Membongkar
rahasia negeri ini, menumbangkan sang Penyihir melalui kebangkitan Elez, dan
terakhir menerima hadiah dari sang ibu, dengan cara yang tidak terduga, Mahiru
telah mencapai True Ending.
“Uuuhm...”
Saat
Mahiru sedang tenggelam dalam pikirannya, Elez menghampirinya, melepas
sepatunya, dan menyodorkan kaki telanjangnya.
“Pasangkan
untukku. Meski lawannya cuma protagonis dalam tragedi, setidaknya kamu bisa
melakukan hal semacam ini untukku, ‘kan?”
“Jadi
kamu masih dendam soal itu ya... Baiklah, baiklah, sesuai titahmu, Tuan Putri.”
Mahiru
berlutut di hadapan Elez, memegang sepatu kulit berbulu itu dengan kedua
tangannya, lalu menyodorkannya.
Mengangkat
ujung gaun birunya, Elez menyodorkan kakinya yang putih dan mulus bagaikan
porselen ke dalam sepatu tersebut. Ukurannya benar-benar pas untuknya sekarang.
“Aku
punya satu permintaan lagi.”
“Yah,
setidaknya untuk hari ini, akan kukabulkan apa saja.”
Bagaimanapun,
pahlawan utama dalam insiden kali ini adalah Elez. Tanpa keberaniannya,
mengalahkan Layla hanyalah sebuah kemustahilan. Mahiru berniat melakukan apa
pun yang dia bisa...
“Berdansalah
satu lagu bersamaku.”
Elez
mengulurkan tangannya, seolah memohon untuk dibimbing.
Mahiru
sontak membelalakkan mata. Dia tidak menyangka jawaban yang begitu tidak
terduga akan muncul setelah Elez bicara seserius itu.
“Boleh
saja, ‘kan! Aku sudah berjuang keras hari ini! Tidak ada salahnya ‘kan kalau
impian kecilku ini dikabulkan... sedikit saja.”
Suaranya
yang mengecil saat mengatakan hal yang sangat tidak sesuai dengan
kepribadiannya membuat Mahiru merasa canggung.
Dengan
pipi yang sedikit merona dan bibir yang mengerucut, Elez terlihat seperti...
“Kamu
bisa juga bicara seperti perempuan ya...”
“Dilihat
dari mana pun aku ini memang perempuan! Kamu bisa berdansa dengan wanita
secantik aku, lho! Harusnya kamu lebih senang!”
“Cantik...
yah, kurasa begitu. Benar juga, kalau diperhatikan lagi.”
Gaya
bicaranya yang tomboi sering kali membuatnya lupa, namun jika mengabaikan
kepribadiannya, Elez memang termasuk dalam kategori gadis cantik. Gaun itu
sangat cocok untuknya, dan postur tubuhnya pun menawan. Itu jika kepribadiannya
diabaikan.
“Anak
ini...! Jadi, mau berdansa atau tidak!”
“...Baiklah,
aku mengerti. Tapi jangan berharap banyak pada kemampuanku berdansa.”
“Heh,
dari awal pun aku tidak berharap apa-apa, Mahiru bodoh! Kamu tenang saja dan
serahkan semuanya padaku, biar aku yang membimbingmu!”
Elez
menarik tangan Mahiru, lalu mulai menyenandungkan musik yang bertempo lambat.
Sambil
mengingat kembali saat-saat dia berdansa dengan Elez sebelumnya, Mahiru
berusaha keras menyelaraskan langkah kakinya. Elez sesekali hampir tertawa
melihat gerakan Mahiru yang kaku. Mahiru memasang wajah masam melihat hal itu,
yang justru membuat tawa Elez semakin ceria.
“Terima
kasih ya, Mahiru. Aku pasti akan melangkah maju dengan benar.”
“Ya.”
Wajah
Elez tampak cerah, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya telah
sirna.
“Tapi,
ternyata begitu ya. Bukannya aku berharap banyak, tapi setelah berhasil
membalas dendam pun, rasanya tidak begitu lega. Entahlah, rasanya seperti tidak
nyata.”
Ibunya
dibunuh, dan dia menghabiskan hari-harinya mengayunkan pedang demi membalas
dendam. Mengetahui bahwa musuh bebuyutannya ternyata adalah satu-satunya
sahabatnya merupakan tragedi terburuk yang bisa dibayangkan. Namun, Elez
berhasil menemukan jawabannya sendiri dan berdamai dengan kenyataan. Dia telah
memutuskan untuk melangkah maju.
Bagaimana
jika Mahiru berada di posisi Elez? Dia yakin tidak akan pernah memaafkan Layla.
Dia tidak akan ragu untuk membalas dendam. Meski tujuan akhirnya mungkin sama,
cara itu terasa sangat berbeda dengan pilihan yang diambil Elez.
Tentang
dukun palsu itu, tentang adiknya Asahi, Mahiru masih belum bisa berdamai dengan
semua itu.
“Begitu
ya?”
“Ya,
begitulah ternyata.”
Melihat
ekspresi Elez yang begitu tenang, Mahiru menggelengkan kepalanya untuk menepis
pikiran-pikiran tersebut.
Masanya
dia harus kembali bergulat dengan keraguan itu pasti akan datang lagi. Untuk
saat ini, tidak ada salahnya membiarkan diri beristirahat dalam kedamaian
sesaat ini.
Perlahan
Mahiru mulai terbiasa, dan waktu pun mengalir dengan tenang.
Sambil
mengobrolkan hal-hal sepele, mereka terus berdansa hingga merasa puas.
*
* *
Mahiru
dan Elez sekali lagi pergi berziarah ke makam.
Elez
bercerita bahwa bukit ini adalah tempat penuh kenangan yang pernah dia kunjungi
bersama Petrie sewaktu mereka menyelinap keluar dari istana semasa dia masih
kecil. Setelah melakukan doa dalam diam sejenak, Elez bangkit berdiri dengan
mantap.
“Sudah
selesai?”
“Ya.
Salam perpisahan tidak perlu diucapkan berkali-kali, ‘kan?”
Elez
menatap ke arah kota di bawah mereka dengan wajah puas, lalu meregangkan
tubuhnya lebar-lebar.
Rambut
peraknya berkibar lembut tertiup angin. Mahiru yang sekilas melihat profil
wajah gadis itu dari samping merasa Elez tampak sedikit lebih dewasa dari
biasanya.
“Aku
memutuskan untuk menjadi ratu di negeri ini.”
Mahiru
membelalakkan mata mendengar ucapan yang tidak terduga itu.
“Reset
dan Licht sudah mati, dan rahasia negeri ini pun sudah tersebar di antara para
bangsawan. Hanya masalah waktu sebelum kabar ini meluas ke luar, jadi ini
adalah kesempatan bagus. Untungnya, darah kerajaan mengalir di tubuhku. Para
bangsawan berpengaruh yang menyaksikan pertarunganku melawan Layla sepertinya
tidak keberatan menjadi pendukungku.”
“Kamu
yakin?”
Mahiru
tahu bahwa selama ini Elez selalu ingin keluar dari istana.
Dia
mengira Elez mendambakan kebebasan setelah sekian lama terkekang oleh istana
dan keluarga Cendrillon. Namun, Elez tidak tampak terpaksa saat mengambil
keputusan ini.
“Tentu
saja! Akulah yang menginginkannya. Memang akan berat setelah ini, tapi... yah,
entah kenapa aku merasa bersemangat.”
Elez
membuat gerakan seolah-olah sedang mengenakan mahkota di kepalanya, lalu
tertawa ceria.
“Ah,
tapi kamu akan berkeliling dunia untuk mengalahkan penyihir, ‘kan? Kalau
terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku. Aku akan segera terbang
menemuimu. Bagaimanapun, kamu adalah penyelamatku.”
“Rasanya
agak sungkan kalau harus memanggil-manggil seorang ratu...”
“Kamu
itu pengecualian, tahu! Lagipula, aku berniat membangun negeri yang jauh lebih
bebas!”
Tampaknya
Elez sudah memiliki gambaran ideal tentang masa depan negeri yang akan
dipimpinnya.
Dia
menggerakkan jarinya di udara, terus berbicara sembari memikirkan banyak hal.
“Aku
ingin membagi kekuasaan agar tidak terpusat di satu tangan, dan aku juga tidak
berniat menjadi pemimpin selamanya... Oh, benar juga, kalau semuanya sudah
stabil, sepertinya menyenangkan jika aku bisa bertualang bersamamu.”
Saat
menceritakan pandangan masa depannya, Elez tampak jauh lebih bersemangat
dibandingkan sebelumnya.
Setelah
itu, mereka makan di kedai rekomendasi Elez dan beristirahat di penginapan.
Begitu
fajar di hari kelima menyapa, dunia pun mulai mencair. Tempat tidur lenyap,
jendela menghilang, dan garis kota pun mulai memudar seolah terisap ke langit, hingga
tidak ada lagi yang tersisa selain hamparan datar yang tidak berujung, dan
hanya ada seorang gadis berambut putih di sana.
Tempat
di mana segalanya bermula.
Mahiru
disambut oleh si Gembala yang sedang bertepuk tangan.
“Selamat,
kamu memang pahlawan pilihanku.”
Melihat
tepuk tangan yang terasa palsu itu, rasa jengkel Mahiru pun memuncak.
Padahal
dia masih ingin berada di sana setidaknya satu hari lagi. Suasana hatinya
benar-benar rusak.
“Kamu
bicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa ya.”
“Aku
sudah yakin kamu akan menuntun dunia itu menuju True Ending. Jangan sinis
begitu, aku serius. Bukannya kamu akan lebih bersemangat jika aku sedikit
memprovokasimu? Itu adalah bentuk dukunganku dengan caraku sendiri. Kejutan!
Lihat? Faktanya kamu berhasil menyelesaikannya, jadi ini juga berkat aku, ‘kan,
Mahiru?”
Si
Gembala merentangkan tangannya seolah ingin memeluk, namun Mahiru mendecih dan
memalingkan wajah.
Ternyata
anggapannya bahwa kisah Cinderella adalah sebuah cerita balas dendam
benar-benar meleset jauh.
Kepercayaan
Mahiru pada si Gembala yang memang tidak pernah ada sejak awal kini semakin
merosot ke dasar jurang. Gadis ini benar-benar wanita licik yang tidak pernah
mengatakan hal berguna.
Si
Gembala mengintip wajah Mahiru dan mencoba menggodanya, yang membuat Mahiru
merasa sangat risi. Saat dia mengepalkan tangan dan berpikir untuk memukul
gadis itu, dia teringat satu hal yang mengganjal.
“Hei,
Gembala. Di bagian akhir, yang ada bukanlah sepatu kaca, melainkan sepatu kulit
berbulu, ‘kan? Kenapa begitu?”
“Apa?
Kamu hanya mengandalkanku di saat kamu butuh saja ya?”
Si
Gembala membelalakkan matanya sesaat, lalu mengangkat bahu dengan ekspresi
pura-pura lelah.
“Menyebalkan.”
“Mengenai
jawaban itu... entahlah. Jika kamu sangat penasaran, coba saja selidiki sendiri
tentang dongeng Cinderella di dunia nyata.”
“...Cih.”
Setiap
perkataan dan tindakan gadis ini benar-benar memancing emosi.
Sejauh
ini, sudah dua dongeng yang berhasil dia tuntun menuju True Ending, yakni Si
Tudung Merah dan Cinderella.
Menurut
si Gembala, ada tujuh dunia dongeng, yang berarti masih tersisa lima lagi.
Rasanya
seperti perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Selama ini dia berhasil
karena faktor keberuntungan, namun fitur pengulangan waktu tetaplah sama.
Menyerah bukanlah sebuah pilihan bagi Mahiru jika ingin menyelamatkan Asahi.
Demi Asahi, dia bersedia mati berkali-kali.
“Heh
heh, ada apa dengan raut wajahmu itu? Kamu seolah ingin mengatakan bahwa kamu
tidak sabar menantikan dunia berikutnya. Ketahuilah bahwa mulai dari sini,
tingkat kesulitannya akan melonjak drastis. Akan tiba saatnya kamu menyadari
bahwa Si Tudung Merah hanyalah sebuah tutorial belaka.”
Dengan
demikian, bab Cinderella pun berakhir.
Sembari
meninggalkan kata-kata penuh firasat dan teka-teki, satu dunia lagi telah
mencapai pemurnian sempurna.
Penyihir
yang menebarkan kegilaan, dan pemain yang berkeliling untuk memurnikannya.
Di
suatu tempat saat ini pun, roda siklus itu masih terus berputar.
*
* *
“Ugh...
uwek, ah, aah... aaaaaa!”
Seorang
remaja laki-laki berambut hitam muntah dengan hebat sambil memegangi
tenggorokannya dan meringkuk di lantai. Dia mengaduk-aduk muntahannya hingga
berbunyi kecipak-kecipak, sementara cairan terus mengalir keluar dari seluruh
lubang di wajahnya. Seolah tidak sudi lagi melihatnya, dia melemparkan Grimm
Note jauh-jauh.
“Hah...
kamu sama sekali tidak ada kemajuan, ya. Apa kamu tidak bosan mati dengan cara
yang sama berulang-ulang kali? Kurasa kamu harus lebih banyak menggunakan
kepalamu. Itu pun kalau yang ada di dalam tengkorakmu itu benar-benar otak,
sih.”
Si
Gembala, yang berdandan layaknya pustakawan di dunia fantasi, duduk bersandar
di kursinya yang mewah dan menghela napas panjang.
Remaja
laki-laki itu bahkan tidak menatapnya, dia hanya terus meronta dalam
penderitaan. Dia tidak menunjukkan permusuhan, namun juga tidak memohon belas
kasihan. Dia hanya berbaring di atas muntahannya, seolah ingin memamerkan
kemalangannya.
“Ada
apa ini, apa-apaan semua ini!? Aku sudah berjuang keras! Sesuai ucapanmu, aku
dipindahkan ke dunia gila itu berkali-kali... Setelah semua yang kulalui,
kenapa malah bicara seakan menyalahkanku, sungguh tidak masuk akal!”
Tiba-tiba,
dia mulai memukul lantai dan meluapkan emosinya.
“Aku
sudah menyelesaikan Si Tudung Merah! Aku sudah menyelesaikannya untukmu! Tapi
kenapa aku diperlakukan seperti ini... Dunia macam apa itu! Itu sangat berbeda
dari dongeng yang kukenal!”
Suara
melengking remaja itu hanya membuat rasa jengkel si Gembala semakin memuncak.
“Menyelesaikan...
ya.”
Tiap
saat, dia selalu meneriakkan keluhan yang sama tanpa merasa bosan.
Jika
keluhan itu tentang isi dunia dongeng, mungkin masih bisa ditoleransi, namun
merengek soal syarat dasar permainan ini sama sekali tidak menarik. Menghadapi
remaja ini sungguh sangat membosankan.
“Hah,
aku ini memang payah, ya. Sebelumnya aku tidak pernah merasa kesal terhadap
para pemain. Tidak, lebih tepatnya, kurasa aku sudah melupakan perasaan seperti
itu sejak lama. Sebab, merasa kesal berarti sedang menaruh harapan. Seseorang
baru akan merasa kesal ketika harapannya dikhianati. Aku tidak pernah menaruh
harapan pada pemain, jadi aku tidak pernah merasakan apa pun. Dengan kata lain,
sekarang ini aku tanpa sadar menaruh harapan padamu. Ini bukan salahmu, lho.
Sekalipun kamu ini lamban, dan di dalam lubuk hatimu tertanam sifat pengecut
yang selalu menyalahkan orang lain tanpa bisa diselamatkan, aku tidak akan
kecewa hanya karena hal itu. Hanya saja... karena ada seorang pemuda gila yang
muncul, dan aku mulai menaruh harapan padanya, lalu dia justru melampaui
harapan itu, standarku pun tanpa sadar jadi meningkat drastis.”
Mendengar
perkataan si Gembala, remaja laki-laki itu hanya bisa tercengang dengan wajah
yang seolah tidak mengerti apa pun. Atau mungkin, sejak awal dia memang tidak
pernah berniat untuk memahami perkataan si Gembala.
Tampaknya
kemampuan untuk mencerna dan menerima perkataan orang lain sedikit kurang pada
dirinya. Padahal dia sendiri selalu menuntut ini dan itu seperti sedang buang
kotoran sembarangan.
“Hah...
membosankan.”
Mau
tidak mau, sosok pemuda gila itu terlintas di pikirannya.
Fakta
bahwa remaja ini tidak bisa menyelesaikan permainan bukanlah masalah utama. Ini
adalah dunia di mana puluhan ribu pemain telah mencoba dan gagal. Peluang untuk
menyelesaikan permainan, apalagi mencapai True Ending, mungkin jauh lebih
rendah daripada memenangkan lotre. Yah, meskipun dia sendiri belum pernah
bermain lotre.
“Jangan
seenaknya bicara membandingkanku dengan orang yang tidak kukenal! Aku sudah
menyelesaikan Si Tudung Merah!”
“Itu
hanya Normal Ending. Aku sudah bicara tentang True Ending denganmu, bukan? Di
dunia berikutnya, aku memintamu untuk mengincar akhir itu. Sebenarnya tidak masalah
kamu bisa melakukannya atau tidak. Namun, aku sama sekali tidak melihat adanya
kemauan darimu.”
“Itu
‘kan urusanmu! Aku sebisa mungkin tidak mau mati, aku juga tidak mau merasakan
sakit! True Ending? Menyelamatkan protagonis? Konyol! Justru akulah yang ingin
diselamatkan!”
Melihat
remaja itu terus merengek dengan wajah basah oleh air mata dan ingus, tidak sedikit
pun ada rasa iba dalam hati si Gembala.
Dulu
dia berpikir bahwa manusia yang bodoh itu justru semakin menggemaskan, namun dia
tidak lagi merasa tertarik. Dia sudah bosan mendengarnya. Bosan melihatnya.
Benar, remaja ini tidak berbeda dengan manusia-manusia lain yang pernah dia
temui di suatu tempat.
Padahal,
selama ini dia selalu bisa menemukan kesenangan dari sedikit saja perubahan...
Namun, bagaimanapun juga, dia terus sampai pada kesimpulan yang sama.
“Mengingat
posisiku, mungkin tidak baik jika terlalu memihak pada satu orang... Hah,
membosankan.”
Mungkin
karena pengaruh Mahiru yang berhasil mencapai True Ending dalam Si Tudung Merah,
keenam dunia dongeng lainnya mulai menunjukkan sedikit anomali. Atau mungkin
lebih tepat dikatakan bahwa selama ini semua terasa tidak wajar, dan kini
akhirnya mulai kembali normal.
Singkatnya,
jika dunia Si Tudung Merah tidak diselesaikan dengan True Ending, dunia lainnya
pun tidak akan bisa diselesaikan dengan True Ending.
Jika
dipikirkan kembali, Si Tudung Merah memang sudah ditetapkan sebagai dunia
pertama yang harus dihadapi.
Setelah
menyelesaikan Si Tudung Merah, pemain bisa dikirim ke salah satu dari enam
dunia lainnya, menjadikan Si Tudung Merah sebagai pengecualian. Si Gembala mengira
alasannya hanya karena Si Tudung Merah memiliki tingkat kesulitan terendah dan
area yang paling kecil, sehingga cocok dijadikan sebagai tahap tutorial...
Namun, tampaknya ada alasan lain di balik itu.
Lalu,
bagaimana sekarang? Akan sangat bagus jika remaja ini bisa dimanfaatkan dengan
baik.
“Ah,
benar juga. Aku punya ide bagus.”
Si
Gembala bertepuk tangan dan bangkit berdiri, sementara remaja itu... siapa
namanya, Pemuda A atau apalah, menatapnya dengan secercah harapan. Melihat
sikap pecundang yang masih bisa-bisanya menggantungkan harapan pada setiap
gerak-geriknya di saat seperti ini, si Gembala pun nyaris tidak bisa menahan
tawanya.
“Kamu...
ya, akan kugunakan kamu sebagai tumbal. Ya, benar, itu sepertinya akan menjadi
sangat menarik.”
“Hah?
Tumbal...?”
Meski
masih butuh waktu lama untuk membuahkan hasil, ada baiknya menebar benih sedari
awal.
Jika
berhasil, baguslah. Jika tidak pun, membiarkannya membusuk begitu saja rasanya
sayang.
Membayangkan
keseruan yang menanti di masa depan, suasana hatinya yang tadinya buruk
perlahan mulai membaik.
“Nah, pergilah lebih dulu, matilah beberapa kali sampai kamu terbiasa dengan dunia itu. Sana, cepatlah mati, hibur aku sedikit saja.”