Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Epilog

Bicara soal benda kunci dalam kisah Cinderella, Mahiru sempat mengira itu pastilah sepatu kaca, namun ternyata Petrie memberikan sepasang sepatu kulit kepada Elez. Namun, itu memang benar cahaya pemurnian yang sama dengan yang pernah dia lihat dalam kisah Si Tudung Merah.

Membongkar rahasia negeri ini, menumbangkan sang Penyihir melalui kebangkitan Elez, dan terakhir menerima hadiah dari sang ibu, dengan cara yang tidak terduga, Mahiru telah mencapai True Ending.

“Uuuhm...”

Saat Mahiru sedang tenggelam dalam pikirannya, Elez menghampirinya, melepas sepatunya, dan menyodorkan kaki telanjangnya.

“Pasangkan untukku. Meski lawannya cuma protagonis dalam tragedi, setidaknya kamu bisa melakukan hal semacam ini untukku, ‘kan?”

“Jadi kamu masih dendam soal itu ya... Baiklah, baiklah, sesuai titahmu, Tuan Putri.”

Mahiru berlutut di hadapan Elez, memegang sepatu kulit berbulu itu dengan kedua tangannya, lalu menyodorkannya.

Mengangkat ujung gaun birunya, Elez menyodorkan kakinya yang putih dan mulus bagaikan porselen ke dalam sepatu tersebut. Ukurannya benar-benar pas untuknya sekarang.

“Aku punya satu permintaan lagi.”

“Yah, setidaknya untuk hari ini, akan kukabulkan apa saja.”

Bagaimanapun, pahlawan utama dalam insiden kali ini adalah Elez. Tanpa keberaniannya, mengalahkan Layla hanyalah sebuah kemustahilan. Mahiru berniat melakukan apa pun yang dia bisa...

“Berdansalah satu lagu bersamaku.”

Elez mengulurkan tangannya, seolah memohon untuk dibimbing.

Mahiru sontak membelalakkan mata. Dia tidak menyangka jawaban yang begitu tidak terduga akan muncul setelah Elez bicara seserius itu.

“Boleh saja, ‘kan! Aku sudah berjuang keras hari ini! Tidak ada salahnya ‘kan kalau impian kecilku ini dikabulkan... sedikit saja.”

Suaranya yang mengecil saat mengatakan hal yang sangat tidak sesuai dengan kepribadiannya membuat Mahiru merasa canggung.

Dengan pipi yang sedikit merona dan bibir yang mengerucut, Elez terlihat seperti...

“Kamu bisa juga bicara seperti perempuan ya...”

“Dilihat dari mana pun aku ini memang perempuan! Kamu bisa berdansa dengan wanita secantik aku, lho! Harusnya kamu lebih senang!”

“Cantik... yah, kurasa begitu. Benar juga, kalau diperhatikan lagi.”

Gaya bicaranya yang tomboi sering kali membuatnya lupa, namun jika mengabaikan kepribadiannya, Elez memang termasuk dalam kategori gadis cantik. Gaun itu sangat cocok untuknya, dan postur tubuhnya pun menawan. Itu jika kepribadiannya diabaikan.

“Anak ini...! Jadi, mau berdansa atau tidak!”

“...Baiklah, aku mengerti. Tapi jangan berharap banyak pada kemampuanku berdansa.”

“Heh, dari awal pun aku tidak berharap apa-apa, Mahiru bodoh! Kamu tenang saja dan serahkan semuanya padaku, biar aku yang membimbingmu!”

Elez menarik tangan Mahiru, lalu mulai menyenandungkan musik yang bertempo lambat.

Sambil mengingat kembali saat-saat dia berdansa dengan Elez sebelumnya, Mahiru berusaha keras menyelaraskan langkah kakinya. Elez sesekali hampir tertawa melihat gerakan Mahiru yang kaku. Mahiru memasang wajah masam melihat hal itu, yang justru membuat tawa Elez semakin ceria.

“Terima kasih ya, Mahiru. Aku pasti akan melangkah maju dengan benar.”

“Ya.”

Wajah Elez tampak cerah, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya telah sirna.

“Tapi, ternyata begitu ya. Bukannya aku berharap banyak, tapi setelah berhasil membalas dendam pun, rasanya tidak begitu lega. Entahlah, rasanya seperti tidak nyata.”

Ibunya dibunuh, dan dia menghabiskan hari-harinya mengayunkan pedang demi membalas dendam. Mengetahui bahwa musuh bebuyutannya ternyata adalah satu-satunya sahabatnya merupakan tragedi terburuk yang bisa dibayangkan. Namun, Elez berhasil menemukan jawabannya sendiri dan berdamai dengan kenyataan. Dia telah memutuskan untuk melangkah maju.

Bagaimana jika Mahiru berada di posisi Elez? Dia yakin tidak akan pernah memaafkan Layla. Dia tidak akan ragu untuk membalas dendam. Meski tujuan akhirnya mungkin sama, cara itu terasa sangat berbeda dengan pilihan yang diambil Elez.

Tentang dukun palsu itu, tentang adiknya Asahi, Mahiru masih belum bisa berdamai dengan semua itu.

“Begitu ya?”

“Ya, begitulah ternyata.”

Melihat ekspresi Elez yang begitu tenang, Mahiru menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran-pikiran tersebut.

Masanya dia harus kembali bergulat dengan keraguan itu pasti akan datang lagi. Untuk saat ini, tidak ada salahnya membiarkan diri beristirahat dalam kedamaian sesaat ini.

Perlahan Mahiru mulai terbiasa, dan waktu pun mengalir dengan tenang.

Sambil mengobrolkan hal-hal sepele, mereka terus berdansa hingga merasa puas.

 

* * *

 

Mahiru dan Elez sekali lagi pergi berziarah ke makam.

Elez bercerita bahwa bukit ini adalah tempat penuh kenangan yang pernah dia kunjungi bersama Petrie sewaktu mereka menyelinap keluar dari istana semasa dia masih kecil. Setelah melakukan doa dalam diam sejenak, Elez bangkit berdiri dengan mantap.

“Sudah selesai?”

“Ya. Salam perpisahan tidak perlu diucapkan berkali-kali, ‘kan?”

Elez menatap ke arah kota di bawah mereka dengan wajah puas, lalu meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

Rambut peraknya berkibar lembut tertiup angin. Mahiru yang sekilas melihat profil wajah gadis itu dari samping merasa Elez tampak sedikit lebih dewasa dari biasanya.

“Aku memutuskan untuk menjadi ratu di negeri ini.”

Mahiru membelalakkan mata mendengar ucapan yang tidak terduga itu.

“Reset dan Licht sudah mati, dan rahasia negeri ini pun sudah tersebar di antara para bangsawan. Hanya masalah waktu sebelum kabar ini meluas ke luar, jadi ini adalah kesempatan bagus. Untungnya, darah kerajaan mengalir di tubuhku. Para bangsawan berpengaruh yang menyaksikan pertarunganku melawan Layla sepertinya tidak keberatan menjadi pendukungku.”

“Kamu yakin?”

Mahiru tahu bahwa selama ini Elez selalu ingin keluar dari istana.

Dia mengira Elez mendambakan kebebasan setelah sekian lama terkekang oleh istana dan keluarga Cendrillon. Namun, Elez tidak tampak terpaksa saat mengambil keputusan ini.

“Tentu saja! Akulah yang menginginkannya. Memang akan berat setelah ini, tapi... yah, entah kenapa aku merasa bersemangat.”

Elez membuat gerakan seolah-olah sedang mengenakan mahkota di kepalanya, lalu tertawa ceria.

“Ah, tapi kamu akan berkeliling dunia untuk mengalahkan penyihir, ‘kan? Kalau terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku. Aku akan segera terbang menemuimu. Bagaimanapun, kamu adalah penyelamatku.”

“Rasanya agak sungkan kalau harus memanggil-manggil seorang ratu...”

“Kamu itu pengecualian, tahu! Lagipula, aku berniat membangun negeri yang jauh lebih bebas!”

Tampaknya Elez sudah memiliki gambaran ideal tentang masa depan negeri yang akan dipimpinnya.

Dia menggerakkan jarinya di udara, terus berbicara sembari memikirkan banyak hal.

“Aku ingin membagi kekuasaan agar tidak terpusat di satu tangan, dan aku juga tidak berniat menjadi pemimpin selamanya... Oh, benar juga, kalau semuanya sudah stabil, sepertinya menyenangkan jika aku bisa bertualang bersamamu.”

Saat menceritakan pandangan masa depannya, Elez tampak jauh lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya.

Setelah itu, mereka makan di kedai rekomendasi Elez dan beristirahat di penginapan.

Begitu fajar di hari kelima menyapa, dunia pun mulai mencair. Tempat tidur lenyap, jendela menghilang, dan garis kota pun mulai memudar seolah terisap ke langit, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain hamparan datar yang tidak berujung, dan hanya ada seorang gadis berambut putih di sana.

Tempat di mana segalanya bermula.

Mahiru disambut oleh si Gembala yang sedang bertepuk tangan.

“Selamat, kamu memang pahlawan pilihanku.”

Melihat tepuk tangan yang terasa palsu itu, rasa jengkel Mahiru pun memuncak.

Padahal dia masih ingin berada di sana setidaknya satu hari lagi. Suasana hatinya benar-benar rusak.

“Kamu bicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa ya.”

“Aku sudah yakin kamu akan menuntun dunia itu menuju True Ending. Jangan sinis begitu, aku serius. Bukannya kamu akan lebih bersemangat jika aku sedikit memprovokasimu? Itu adalah bentuk dukunganku dengan caraku sendiri. Kejutan! Lihat? Faktanya kamu berhasil menyelesaikannya, jadi ini juga berkat aku, ‘kan, Mahiru?”

Si Gembala merentangkan tangannya seolah ingin memeluk, namun Mahiru mendecih dan memalingkan wajah.

Ternyata anggapannya bahwa kisah Cinderella adalah sebuah cerita balas dendam benar-benar meleset jauh.

Kepercayaan Mahiru pada si Gembala yang memang tidak pernah ada sejak awal kini semakin merosot ke dasar jurang. Gadis ini benar-benar wanita licik yang tidak pernah mengatakan hal berguna.

Si Gembala mengintip wajah Mahiru dan mencoba menggodanya, yang membuat Mahiru merasa sangat risi. Saat dia mengepalkan tangan dan berpikir untuk memukul gadis itu, dia teringat satu hal yang mengganjal.

“Hei, Gembala. Di bagian akhir, yang ada bukanlah sepatu kaca, melainkan sepatu kulit berbulu, ‘kan? Kenapa begitu?”

“Apa? Kamu hanya mengandalkanku di saat kamu butuh saja ya?”

Si Gembala membelalakkan matanya sesaat, lalu mengangkat bahu dengan ekspresi pura-pura lelah.

“Menyebalkan.”

“Mengenai jawaban itu... entahlah. Jika kamu sangat penasaran, coba saja selidiki sendiri tentang dongeng Cinderella di dunia nyata.”

“...Cih.”

Setiap perkataan dan tindakan gadis ini benar-benar memancing emosi.

Sejauh ini, sudah dua dongeng yang berhasil dia tuntun menuju True Ending, yakni Si Tudung Merah dan Cinderella.

Menurut si Gembala, ada tujuh dunia dongeng, yang berarti masih tersisa lima lagi.

Rasanya seperti perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Selama ini dia berhasil karena faktor keberuntungan, namun fitur pengulangan waktu tetaplah sama. Menyerah bukanlah sebuah pilihan bagi Mahiru jika ingin menyelamatkan Asahi. Demi Asahi, dia bersedia mati berkali-kali.

“Heh heh, ada apa dengan raut wajahmu itu? Kamu seolah ingin mengatakan bahwa kamu tidak sabar menantikan dunia berikutnya. Ketahuilah bahwa mulai dari sini, tingkat kesulitannya akan melonjak drastis. Akan tiba saatnya kamu menyadari bahwa Si Tudung Merah hanyalah sebuah tutorial belaka.”

 

Dengan demikian, bab Cinderella pun berakhir.

Sembari meninggalkan kata-kata penuh firasat dan teka-teki, satu dunia lagi telah mencapai pemurnian sempurna.

Penyihir yang menebarkan kegilaan, dan pemain yang berkeliling untuk memurnikannya.

Di suatu tempat saat ini pun, roda siklus itu masih terus berputar.

 

* * *

 

“Ugh... uwek, ah, aah... aaaaaa!”

Seorang remaja laki-laki berambut hitam muntah dengan hebat sambil memegangi tenggorokannya dan meringkuk di lantai. Dia mengaduk-aduk muntahannya hingga berbunyi kecipak-kecipak, sementara cairan terus mengalir keluar dari seluruh lubang di wajahnya. Seolah tidak sudi lagi melihatnya, dia melemparkan Grimm Note jauh-jauh.

“Hah... kamu sama sekali tidak ada kemajuan, ya. Apa kamu tidak bosan mati dengan cara yang sama berulang-ulang kali? Kurasa kamu harus lebih banyak menggunakan kepalamu. Itu pun kalau yang ada di dalam tengkorakmu itu benar-benar otak, sih.”

Si Gembala, yang berdandan layaknya pustakawan di dunia fantasi, duduk bersandar di kursinya yang mewah dan menghela napas panjang.

Remaja laki-laki itu bahkan tidak menatapnya, dia hanya terus meronta dalam penderitaan. Dia tidak menunjukkan permusuhan, namun juga tidak memohon belas kasihan. Dia hanya berbaring di atas muntahannya, seolah ingin memamerkan kemalangannya.

“Ada apa ini, apa-apaan semua ini!? Aku sudah berjuang keras! Sesuai ucapanmu, aku dipindahkan ke dunia gila itu berkali-kali... Setelah semua yang kulalui, kenapa malah bicara seakan menyalahkanku, sungguh tidak masuk akal!”

Tiba-tiba, dia mulai memukul lantai dan meluapkan emosinya.

“Aku sudah menyelesaikan Si Tudung Merah! Aku sudah menyelesaikannya untukmu! Tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini... Dunia macam apa itu! Itu sangat berbeda dari dongeng yang kukenal!”

Suara melengking remaja itu hanya membuat rasa jengkel si Gembala semakin memuncak.

“Menyelesaikan... ya.”

Tiap saat, dia selalu meneriakkan keluhan yang sama tanpa merasa bosan.

Jika keluhan itu tentang isi dunia dongeng, mungkin masih bisa ditoleransi, namun merengek soal syarat dasar permainan ini sama sekali tidak menarik. Menghadapi remaja ini sungguh sangat membosankan.

“Hah, aku ini memang payah, ya. Sebelumnya aku tidak pernah merasa kesal terhadap para pemain. Tidak, lebih tepatnya, kurasa aku sudah melupakan perasaan seperti itu sejak lama. Sebab, merasa kesal berarti sedang menaruh harapan. Seseorang baru akan merasa kesal ketika harapannya dikhianati. Aku tidak pernah menaruh harapan pada pemain, jadi aku tidak pernah merasakan apa pun. Dengan kata lain, sekarang ini aku tanpa sadar menaruh harapan padamu. Ini bukan salahmu, lho. Sekalipun kamu ini lamban, dan di dalam lubuk hatimu tertanam sifat pengecut yang selalu menyalahkan orang lain tanpa bisa diselamatkan, aku tidak akan kecewa hanya karena hal itu. Hanya saja... karena ada seorang pemuda gila yang muncul, dan aku mulai menaruh harapan padanya, lalu dia justru melampaui harapan itu, standarku pun tanpa sadar jadi meningkat drastis.”

Mendengar perkataan si Gembala, remaja laki-laki itu hanya bisa tercengang dengan wajah yang seolah tidak mengerti apa pun. Atau mungkin, sejak awal dia memang tidak pernah berniat untuk memahami perkataan si Gembala.

Tampaknya kemampuan untuk mencerna dan menerima perkataan orang lain sedikit kurang pada dirinya. Padahal dia sendiri selalu menuntut ini dan itu seperti sedang buang kotoran sembarangan.

“Hah... membosankan.”

Mau tidak mau, sosok pemuda gila itu terlintas di pikirannya.

Fakta bahwa remaja ini tidak bisa menyelesaikan permainan bukanlah masalah utama. Ini adalah dunia di mana puluhan ribu pemain telah mencoba dan gagal. Peluang untuk menyelesaikan permainan, apalagi mencapai True Ending, mungkin jauh lebih rendah daripada memenangkan lotre. Yah, meskipun dia sendiri belum pernah bermain lotre.

“Jangan seenaknya bicara membandingkanku dengan orang yang tidak kukenal! Aku sudah menyelesaikan Si Tudung Merah!”

“Itu hanya Normal Ending. Aku sudah bicara tentang True Ending denganmu, bukan? Di dunia berikutnya, aku memintamu untuk mengincar akhir itu. Sebenarnya tidak masalah kamu bisa melakukannya atau tidak. Namun, aku sama sekali tidak melihat adanya kemauan darimu.”

“Itu ‘kan urusanmu! Aku sebisa mungkin tidak mau mati, aku juga tidak mau merasakan sakit! True Ending? Menyelamatkan protagonis? Konyol! Justru akulah yang ingin diselamatkan!”

Melihat remaja itu terus merengek dengan wajah basah oleh air mata dan ingus, tidak sedikit pun ada rasa iba dalam hati si Gembala.

Dulu dia berpikir bahwa manusia yang bodoh itu justru semakin menggemaskan, namun dia tidak lagi merasa tertarik. Dia sudah bosan mendengarnya. Bosan melihatnya. Benar, remaja ini tidak berbeda dengan manusia-manusia lain yang pernah dia temui di suatu tempat.

Padahal, selama ini dia selalu bisa menemukan kesenangan dari sedikit saja perubahan... Namun, bagaimanapun juga, dia terus sampai pada kesimpulan yang sama.

“Mengingat posisiku, mungkin tidak baik jika terlalu memihak pada satu orang... Hah, membosankan.”

Mungkin karena pengaruh Mahiru yang berhasil mencapai True Ending dalam Si Tudung Merah, keenam dunia dongeng lainnya mulai menunjukkan sedikit anomali. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa selama ini semua terasa tidak wajar, dan kini akhirnya mulai kembali normal.

Singkatnya, jika dunia Si Tudung Merah tidak diselesaikan dengan True Ending, dunia lainnya pun tidak akan bisa diselesaikan dengan True Ending.

Jika dipikirkan kembali, Si Tudung Merah memang sudah ditetapkan sebagai dunia pertama yang harus dihadapi.

Setelah menyelesaikan Si Tudung Merah, pemain bisa dikirim ke salah satu dari enam dunia lainnya, menjadikan Si Tudung Merah sebagai pengecualian. Si Gembala mengira alasannya hanya karena Si Tudung Merah memiliki tingkat kesulitan terendah dan area yang paling kecil, sehingga cocok dijadikan sebagai tahap tutorial... Namun, tampaknya ada alasan lain di balik itu.

Lalu, bagaimana sekarang? Akan sangat bagus jika remaja ini bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Ah, benar juga. Aku punya ide bagus.”

Si Gembala bertepuk tangan dan bangkit berdiri, sementara remaja itu... siapa namanya, Pemuda A atau apalah, menatapnya dengan secercah harapan. Melihat sikap pecundang yang masih bisa-bisanya menggantungkan harapan pada setiap gerak-geriknya di saat seperti ini, si Gembala pun nyaris tidak bisa menahan tawanya.

“Kamu... ya, akan kugunakan kamu sebagai tumbal. Ya, benar, itu sepertinya akan menjadi sangat menarik.”

“Hah? Tumbal...?”

Meski masih butuh waktu lama untuk membuahkan hasil, ada baiknya menebar benih sedari awal.

Jika berhasil, baguslah. Jika tidak pun, membiarkannya membusuk begitu saja rasanya sayang.

Membayangkan keseruan yang menanti di masa depan, suasana hatinya yang tadinya buruk perlahan mulai membaik.

“Nah, pergilah lebih dulu, matilah beberapa kali sampai kamu terbiasa dengan dunia itu. Sana, cepatlah mati, hibur aku sedikit saja.”


Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar