Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

The Science Notes by δ and γ Volume 1: Therefore, the first love has been proven - Chapter 5

Bab 5: Berusaha Mencegah Pembunuhan Si Raksasa Kecil 

Aku dibawa sampai ke Sansetsuto. Matahari yang mulai tenggelam menyinar masuk ke dalam kedai melalui jendela yang lebar.

Warna jingga yang seharusnya terlihat indah itu pun terasa agak menyesakkan.

Seolah-olah langit sedang berbisik kepadaku bahwa pada akhirnya, aku tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran yang terus berulang ini.

Di bagian paling dalam kedai, terdapat sebuah ruangan privat. Sebuah pintu yang selalu tertutup, terletak di seberang toilet. Mikage menuntunku sampai ke sana.

“Masuklah.”

Saat dipersilakan membuka pintu, aku menatap ke gagang pintu kuningan yang tampak modis. Seandainya Mikage berniat mengobrol berdua saja denganku, pastilah dia sendiri yang akan membukanya. Artinya, sudah ada seseorang yang menunggu di dalam ruangan ini.

Setelah berdeham sedikit untuk menenangkan tenggorokan, aku mengetuk pintu lalu membukanya.

Hal pertama yang menyambutku adalah kilauan menyengat dari matahari barat yang menusuk mata. Perlahan, meja dan kursi bergaya antik mulai tertangkap oleh pandanganku.

Dan benar saja, di sana sesosok orang yang sudah kuduga sebelumnya sedang menunggu seorang diri.

“Oh, akhirnya datang juga, Delchi. Selamat ya atas kerja kerasnya setelah kegiatan klub. Ayo duduk, duduk!”

Ketua klub kimia, Hongou Nagisa. Masih mengenakan seragam sekolah, dia sedang menikmati kopinya dengan santai.

Menghadapi meja untuk empat orang, aku dan Mikage duduk di seberangnya. Melalui jendela yang ukurannya jauh lebih besar, pemandangan laut yang sewarna dengan langit senja bisa terlihat dengan jelas, namun pikiranku sama sekali tidak terfokus ke sana.

Percakapan seperti apa yang akan kami lalui di dalam ruangan ini setelah ini?

“Tidak usah tegang begitu. Kamu mau pesan apa?”

Menu disodorkan kepadaku melewati meja. Aku merasakan kejanggalan pada jemarinya. Seni kuku yang ramai dan mencolok itu sudah lenyap, digantikan oleh kuku yang dipotong rapi dan hanya diwarnai dengan warna biru pirus layaknya batu pirus. Jika kuku mencolok yang dulu itu dipakai sengaja hanya untuk memicu rasa risi kami, aku hanya bisa berdecak kagum atas totalitasnya.

Menu rekomendasi di Sansetsuto masih tetap sama seperti sebelumnya, Spring Blend.

“Aku sudah memutuskan.”

“Ayachi bagaimana?”

Setelah sedikit bimbang selama beberapa saat, Mikage hanya menjawab pelan, “Blend saja.”

“Oke.”

Kukira Senpai akan memanggil pelayan kedai, namun dia justru memiringkan cangkir yang dipegangnya dan meminum habis isinya.

Tepat saat itulah, suara ketukan pintu terdengar menggema.

“Permisi.”

Seorang pelayan pria berusia muda membuka pintu dan melangkah masuk. Di atas nampan perak yang dibawanya, terdapat tiga buah cangkir. Begitu menerima secangkir kopi susu miliknya, Hongou-senpai memberi isyarat tangan agar cangkir berwarna merah muda sakura diletakkan di hadapanku, dan cangkir putih di hadapan Mikage.

Mustahil, aku langsung terbungkam seribu bahasa.

Kami bahkan belum memesan apa-apa. Terlebih untuk diriku sendiri, aku bahkan belum sempat menyuarakan bahwa aku ingin memesan Spring Blend.

Namun, cangkir merah muda sakura yang disajikan di hadapanku sudah pasti berisi Spring Blend, dan aku juga tahu bahwa kopi di dalam cangkir putih di hadapan Mikage adalah Blend reguler milik Sansetsuto.

Ini benar-benar seperti sulap. ...Atau jangan-jangan, senpai yang satu ini bisa membaca pikiranku?

“Terkejut, ya? Kalau urusan yang begini sih, aku memang jagonya.”

“Bagaimana bisa seperti ini?”

Aku merasa kesal karena bertanya-tanya apa maksud tindakannya, dan penasaran tentang bagaimana cara dia melakukannya.

“Soalnya kalau tidak kuberi demonstrasi langsung, kurasa kamu tidak akan percaya apa yang akan kukatakan setelah ini. Kalau triknya dibongkar, jawabannya sederhana, kok. Aku hanya memprediksi kalau Delchi pasti akan langsung memilih menu rekomendasi tanpa ragu, sedangkan Ayachi yang biasanya selalu memesan kopi susu, hari ini pasti akan memilih menu termurah karena dia tidak ingin berutang budi padaku.”

Sulit dipercaya.

Kalau soal Mikage mungkin aku bisa maklum, tapi bagaimana bisa dia mengetahui begitu banyak hal tentang diriku yang hanya sempat mengobrol sebentar dengannya saat acara penyambutan klub dulu?

...Tidak, dia pasti memang sudah tahu.

Justru karena dia sudah tahu sejak awal, dia bisa mengendalikan kami semua seperti ini.

Tanpa menyentuh Spring Blend itu sedikit pun, aku menatap lurus ke arah Hongou-senpai, musuh yang sesungguhnya yang berada tepat di hadapanku.

“Apa tujuan Senpai memanggilku ke sini?”

“Melihat wajah seriusmu itu, pasti semua ini persis seperti yang Delchi pikirkan. Karena mengira ini sudah saatnya kamu menyadarinya, makanya aku berinisiatif untuk berterus terang duluan.”

Setelah menyeruput kopi susunya yang tampak panas, dia menatap balik ke arahku dengan sepasang mata yang terbuka lebar.

“Ayo, tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Kakak akan menjawab apa saja hari ini.”

Mikage tampaknya berniat untuk terus bungkam. Dia pasti tidak ingin membicarakan apa pun. Dari posisiku duduk, aku bisa melihatnya sedang mengepalkan tangan dengan erat di atas lutut.

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Hal pertama yang harus kupertanyakan adalah kejanggalan yang paling awal.

Setelah menarik napas dalam-dalam, aku pun berbicara.

“Saat pergi melihat sakura di gunung belakang, kami berpapasan dengan Senpai dan Mikage-senpai yang sedang berjalan turun.”

“Iya, iya, memang begitu waktu itu.”

“Waktu itu Senpai berkata, ‘Padahal sudah susah payah mendaki, tapi ternyata mengecewakan’.”

“Lalu?”

“Bukannya itu aneh? Orang yang memberi tahu Mizusaki bahwa bentuk hati pada sakura itu sudah rusak seharusnya adalah kamu sendiri, Hongou-senpai. Padahal kamu sudah tahu sejak awal bahwa tahun ini bentuk hatinya tidak akan terlihat, tapi kenapa bisa-bisanya Senpai kecewa?”

Senpai mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya sedikit pun.

“Benar juga.”

“Kenapa Senpai mengatakan hal seperti itu?”

“Soalnya, mendengarkan langsung ucapan dari orang yang gagal melihatnya pasti akan membuat rasa haru saat berhasil melihatnya menjadi lebih besar. Semacam pemicu, mungkin? Bukan bermaksud mencocokkan dengan nama sakuranya, sih, tapi karena kupikir kalian berdua bisa saja langsung berbalik arah di tengah jalan jika tidak ada orang lain sama sekali di sana, jadi ini hanya untuk berjaga-jaga saja.”

Dia melontarkan hal yang mengerikan itu dengan begitu enteng. Intinya, dia sengaja memanipulasi kesan di dalam hati aku dan Iwama.

“Kenapa Senpai melakukan hal sejauh itu?”

“Apa kamu tidak menyadarinya? Padahal bunga sakura itu sedang mekar dengan sempurna, tapi tidak ada satu pun orang lain yang datang melihatnya, ‘kan? Itu juga salah satu tradisi yang hampir punah akibat dampak dari situasi selama empat tahun terakhir ini. Katanya sampai lima tahun lalu pembersihan area Kanoudai dan pemangkasan pohon sakura masih rutin dilakukan, tapi sekarang itu semua sudah tidak ada lagi.”

Aku teringat kembali. Padahal menurut Mizusaki itu adalah pohon sakura yang terkenal, namun selain Iwama dan aku, hari itu kami hanya melihat Hongou-senpai dan Mikage-senpai saja di sana. Papan penanda yang sudah dipasang dengan susah payah pun sampai tertutup oleh lumut kerak.

“Alasan kenapa posisi panggungnya berubah juga karena hal itu. Guru yang menangani masalah saat pohonnya tumbang dulu sama sekali tidak tahu tentang legenda tersebut. Padahal posisi untuk melihatnya adalah hal yang krusial, tapi demi mencegah para murid agar tidak memanjat pohon yang tumbang, mereka hanya menggeser posisi panggungnya saja dan menganggap urusannya sudah selesai.”

“...Aku tidak mengerti.”

“Apanya?”

“Dengan menghasut Mizusaki dan mengirimku ke tempat seperti itu, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan, Senpai?”

Senpai mengangkat alisnya dengan wajah terkejut. Ekspresinya seolah berkata, hal begitu saja masa tidak paham.

“Soalnya kupikir kalau Delchi dan Riochi memecahkan misteri sakura bersama-sama, kalian bisa menjadi akrab dan bisa saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Memangnya kamu pikir ada alasan apa lagi selain itu?”

Karena sejak awal aku sudah mempersiapkan diri jika memang hal semacam inilah yang terjadi, guncangan di hatiku kemungkinan besar tidak terpancar di wajahku. Namun, Mikage yang sedari tadi diam mematung, menggerakkan wajahnya sedikit dan menatap ke arahku. Apakah dia sedang mencemaskanku?

“...Seberapa banyak yang diketahui Mizusaki?”

“Kepada Mizucchi, aku hanya memberi tahu soal sakuranya saja. Sambil berkata, coba beri tahu temanmu ya, terutama kalau ada sepasang laki-laki dan perempuan yang ingin kamu pasangkan, mungkin ada baiknya kamu beri tahu mereka, atau semacam itulah.”

Memang benar, Mizusaki adalah tipe orang yang hanya dengan diberi tahu begitu saja pasti akan merasa tertarik lalu merencanakan trik untuk menjodohkan aku dan Iwama.

Namun, bagaimana bisa Hongou-senpai mengetahui begitu banyak detail tentang diri kami sampai sejauh itu?

“Ah, aku lupa menceritakan dasarnya ya. Karena pacarku adalah orang yang tahu banyak informasi, aku sudah menyelidiki sebagian besar tentang murid baru yang berprestasi sebelum upacara penerimaan sekolah dimulai. Ya, semacam membuat profil, begitulah?”

Dia menjelaskannya seolah-olah sedang membaca isi pikiranku.

“Bagaimana nilai akademis anak itu, apa klub kegiatannya, siapa saja temannya, apa yang dilakukannya di luar sekolah, dan kalau mau bicara lebih detail lagi, bahkan sampai minuman apa yang akan dipilihnya di kedai kopi seperti ini. Anak yang logis dan berkepribadian mantap itu tidak memiliki banyak inkonsistensi, jadi datanya sangat mudah untuk dikumpulkan.”

Sungguh, sebenarnya orang seperti apa dia ini.

“...Saat acara penyambutan klub, apakah Senpai juga yang menyusun rencana untuk menggiring aku dan Mizusaki masuk ke klub biologi?”

“Tentu saja.”

Di hadapanku, Spring Blend dibiarkan begitu saja hingga mendingin. Senpai meminum kopi susunya.

“Ngomong-ngomong, di bagian mana Delchi mulai sadar?”

“Awal mulanya adalah pulpen penandanya. Bagian yang menekankan persamaan Euler di dalam majalah matematika milik Mikage ditandai dengan pulpen penanda yang tidak pernah digunakan baik oleh Mikage maupun Mikage-senpai. Senpai-lah yang membeli majalah itu, memberikan tanda pada persamaan Euler, lalu menyerahkannya kepada Mikage. Kemudian Senpai memanfaatkan Mikage-senpai untuk membujuk Mikage. Apa aku salah?”

“Aduh Ayachi, kenapa kamu sampai membocorkan hal seperti itu?”

Hongou-senpai mengarahkan tatapan dongkol ke arah Mikage.

“Iya. Karena kamu tidak melarangku untuk memberitahukannya.”

Mikage membalas dengan datar menggunakan dalih yang terdengar seperti alasan anak SD. Tampaknya dia tidak bergerak murni hanya karena patuh pada perintah Hongou-senpai saja, melainkan memiliki motif tersendiri di dalam hatinya. Hongou-senpai mengangkat bahunya sambil mendesah pasrah.

Aku melemparkan pertanyaan lebih lanjut.

“Poster yang ditempel di depan laboratorium biologi juga perbuatan Senpai, ‘kan?”

“Benar sekali. Soalnya kalau tidak ada poster itu, orang-orang bisa mengira kalau klub biologi tidak sedang mengadakan acara penyambutan, ‘kan? Walaupun Ayachi sudah bersusah payah membawa kalian ke sana, akan merepotkan kalau tidak ada alasan kuat untuk melangkah masuk ke dalam laboratorium biologi, ‘kan?”

Laboratorium biologi yang sama sekali tidak memancarkan atmosfer penyambutan. Alasan utama yang melandasi Mikage menggiring kami ke dalam ruangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah poster tersebut. Sampai-sampai hal seperti itu pun sudah dipikirkannya terlebih dahulu?

“Tapi, aku tidak menyangka kamu akan menyadari bagian yang itu. Kenapa memangnya? Apa karena desainnya mirip dengan sampul pamflet superjelek yang kubagikan waktu itu?”

Ternyata senpai yang satu ini sengaja memberikan pamflet dengan kualitas buruk saat acara penyambutan klub dulu.

Namun, hal itu tidak ada hubungannya di sini.

“Tokumura-sensei menceritakan bahwa poster itu dibuat oleh murid tahun ketiga yang sekarang. Namun, kudengar Karato-senpai sangat payah dalam mengoperasikan komputer. Hasil akhir yang rapi seperti itu hanya bisa dibuat oleh orang yang sudah terbiasa dengan dunia desain.”

“Ah, bisa saja ‘kan Rochi memanfaatkan data lama dari masa lalu untuk memesannya.”

“Di dalam poster itu disisipkan foto burung parkit berwarna biru muda yang baru datang setelah Golden Week tahun lalu. Jadi poster itu bukan sekadar diganti teksnya saja, melainkan sengaja didesain khusus demi acara penyambutan klub tahun ini. Terlebih lagi, oleh tangan seseorang yang bukan merupakan anggota klub biologi. Orang yang memiliki alasan untuk melakukan campur tangan yang merepotkan seperti itu hanyalah Senpai sekalian, ‘kan?”

Hongou-senpai mengangguk paham.

“Begitu rupanya. Yah, memang persis seperti katamu, tapi sebutan campur tangan merepotkan itu rasanya agak kurang menyenangkan, ya. Demi klub biologi yang sama-sama berada di rumpun sains, dan demi sahabatku yang telah kehilangan motivasinya sama sekali, sudah sewajarnya aku melakukan hal sekecil itu, ‘kan?”

Membuatkan poster dan membantu menyukseskan acara penyambutan klub demi seorang teman yang telah kehilangan motivasi, jika hanya mendengar bagian itu memang terkesan mulia, namun rencana yang disusun oleh senpai yang satu ini jauh lebih kekanak-kanakan dari itu.

Dia memerintahkan Mikage untuk memandu aku dan Mizusaki menyelesaikan misteri persamaan matematika, sebuah cara yang jauh lebih memutar dibandingkan jika hanya merekomendasikan klub biologi secara langsung, namun terbukti sangat efektif untuk membuat kami mendaftarkan diri ke klub biologi.

Dan juga.

“Senpai juga yang memberi tahu Kannabi bahwa kami masuk ke klub biologi.”

“Wah, ternyata kamu sudah tahu sampai sejauh itu, ya.”

Senpai kembali meminum kopi susunya dengan nikmat sembari menawari kami kopi. Aku meminumnya sedikit untuk membasahi tenggorokan, namun rasanya hampir tidak terasa sama sekali.

“Apa Nabichi menyebut namaku?”

Merasakan sebersit nada dingin dari suaranya, sebuah kengerian yang seolah-olah dia sedang mencari sosok seorang pengkhianat, aku menggelengkan kepala.

“Tidak. Kannabi hanya menyebutmu sebagai sang pemberi instruksi.”

Hongou-senpai tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Ahaha, benarkah? Pemberi instruksi! Pemikirannya sama persis dengan Senpai.”

“Maksudnya senpai yang memanggilmu Indy?”

“Benar sekali. Kashiwabara-senpai namanya, mantan ketua klub kimia sebelumku. Sama sepertiku, dia juga menjabat sebagai wakil ketua OSIS... Orang itu sendiri sebenarnya juga keterlaluan, tapi dia memberiku nama julukan yang agak cerdik. Sepertinya dia ingin mengatakan kalau aku ini wanita licik yang suka memperalat orang-orang di sekitar sebagai pionnya.”

Ternyata memang benar begitu.

Indy. Atau lebih tepatnya, Indicator.

Alasan Hongou-senpai mengatakan bahwa nama julukan itu hanya berlaku di klub kimia adalah karena itu merupakan lelucon konyol yang menggunakan istilah kimia. Arti dari indikator, sesuatu yang menunjuk atau menunjukkan di sini bukanlah sebuah alat ukur atau layar penunjuk.

Itu adalah sebuah titik buta, namun sebenarnya ada terjemahan yang jauh lebih tepat dan meyakinkan.

Jika mengacu pada konteks kimia, “indikator” berarti...

Zat penunjuk.

Benar-benar sebuah sosok yang menunjukkan itu sendiri.

Jika kanji-nya diganti, pelafalan kata tersebut bisa bermakna, sang pemberi instruksi.

Itu adalah kata yang belakangan ini sering digunakan dalam konteks kasus penipuan terstruktur atau kerja paruh waktu gelap. Otak kriminal yang menyusun rencana dan menggerakkan orang-orang. Kata itu memang sangat cocok untuk menggambarkan orang ini.

Sebelum rasa amarah sempat muncul, rasa ngeri terlebih dahulu memenuhi dadaku.

Sebuah perasaan yang mendekati rasa takjub sekaligus takut terhadap kecerdasan dan keberanian yang mampu mewujudkan semua hal itu.

“Demi memasukkan anggota baru ke klub biologi, Senpai menghasut Mizusaki untuk membuatku dan Iwama saling mengenal, memerintahkan Mikage untuk membuatku dan Mizusaki bergabung, lalu memanfaatkan Kannabi untuk mendorong Iwama agar ikut masuk. Apakah begitu?”

Aku merasa seolah-ofah dijadikan sebagai salah satu komponen dalam sebuah mesin Rube Goldberg. Seperti bagian dari perangkat mekanis rumit yang dirancang untuk menjatuhkan kelereng ke tempat tujuan, sang pemberi instruksi ini menggerakkan orang lain demi kepentingannya.

“Yaa, kalau disederhanakan, kasarnya memang begitu,” ucapnya dengan teramat enteng.

“Kenapa... kenapa Senpai sampai melakukan hal seperti itu? Apa tidak cukup jika hanya membantu acara penyambutan secara normal? Kenapa harus kami?”

“Soalnya, kondisi klub biologi maupun Rochi ‘kan sudah seperti itu. Kalau dilakukan dengan cara biasa, anak-anak yang berprestasi pasti tidak akan sudi memilih tempat semacam itu. Aku berpikir, jika tidak ada anak yang luar biasa jenius yang masuk, maka tradisi gemilang klub biologi akan berakhir begitu saja.”

Luar biasa jenius, dikatakan seperti itu di tempat seperti ini sama sekali tidak membuatku merasa senang.

“Makanya sebelum tahun ajaran baru dimulai, aku memilih kalian berempat yang sekiranya mampu membangkitkan kembali klub biologi, dan memutuskan untuk membuat kalian bergabung ke sana. Tentu saja selain karena nilai akademis kalian yang luar biasa, kalian berempat juga mengikuti klub sains saat SMP dan memiliki kemungkinan besar untuk mengambil penjurusan biologi. Padahal sebenarnya, aku ingin mengamankan Delchi dan Riochi untuk masuk ke klub kimia, lho.”

Konyol sekali. Sebenarnya dia menganggap kami ini apa?

“Bagaimana bisa... Kami pun punya keinginan sendiri, jangan memperlakukan kami seperti pemain dalam rapat draf olahraga!”

Hongou-senpai kembali tertawa.

“Ahaha, kamu bisa saja bercanda. Rapat draf? Tapi pada akhirnya, yang memilih klub biologi adalah kalian sendiri, ‘kan? Hak memilih sepenuhnya berada di tangan kalian. Kalian berkumpul di sana murni atas keinginan kalian sendiri.”

Aku tidak bisa membalas kata-katanya. Itu benar. Memang kamilah yang memilihnya. Namun.

“...Berkumpul?”

Tanpa sadar, aku menyuarakan apa yang ada di dalam benakku. Kejanggalan yang kurasakan memang sebesar itu.

“Tunggu sebentar, urutannya terbalik. Sejak awal, kami memang sudah dikumpulkan.”

Di saat yang sama, aku tidak melewatkan gestur Mikage di sampingku yang bergerak sedikit.

“Dalam satu angkatan yang terdiri dari enam kelas, kami berempat berada di kelas yang sama. Terlebih lagi, nomor absenku, Iwama, dan Kannabi berurutan, apakah murid-murid yang memenuhi kriteria pilihan Senpai untuk menjadi anggota baru ini secara kebetulan berkumpul seperti ini? Bahkan Mikage pun berada di kelas yang sama.”

Meskipun mencari orang yang tepat dari dalam satu kelas, mana mungkin semuanya bisa berjalan semulus ini? Jika hanya sekadar anak IPA mungkin masih masuk akal, namun orang yang bercita-cita mengambil penjurusan biologi sejak awal adalah kelompok minoritas.

Subjeknya, Hongou-senpai tadi berkata bahwa dia sudah memilih kami sebelum upacara penerimaan sekolah dimulai. Jika benar dia sudah memilih kami sejak sebelum masuk sekolah, maka pembagian kelas ini adalah sebuah kebetulan yang teramat sangat beruntung.

“Ah, ternyata ketahuan juga ya.”

Senpai meletakkan cangkirnya dengan bunyi ketukan pelan.

“Bukan seperti Mizucchi, sih. Tapi awalnya, setelah menyadari kalau nama belakang Delchi dan Riochi sama-sama dimulai dengan huruf depan yang sama, aku langsung berpikir bahwa tidak ada cara lain. Dari sana diputuskan untuk menempatkan kalian di kelas yang sama dengan posisi duduk yang berdekatan.”

...Tunggu dulu.

“Alasan memilih Nabichi sebagai kandidat tentu saja karena dia anak yang baik, tapi di sisi lain nama belakangnya juga tidak akan aneh jika nomor absennya berada dekat dengan kalian berdua. Kalau posisi Mizucchi dan Ayachi yang berdekatan itu murni kebetulan, sih. Tapi yah, hal itu juga membawa sedikit keuntungan terkait pengaturan posisi duduk.”

Jangan bercanda yang tidak-tidak.

“Tunggu sebentar, ini ‘kan masalah pembagian kelas. Bagaimana bisa Senpai yang hanya seorang murid biasa...”

“Aku bukan murid biasa. Aku ini wakil ketua OSIS. Kamu sudah mendengarnya dari pacarku, ‘kan? Di SMA Tsunanagai, murid-murid yang berprestasi diberikan kekuasaan dan hak prerogatif yang sepadan. Biasanya, ketua OSIS bertugas sebagai sosok yang memimpin pergerakan di permukaan, sedangkan wakil ketua OSIS adalah sosok yang memegang kendali komando di balik layar. Otak utama yang sebenarnya adalah aku.”

Pikirkannya tidak sanggup mengejarnya.

Di tengah rasa terperangah, aku samar-samar teringat kembali. Apakah sebutan pasangan terbaik di SMA Tsunanagai memiliki arti seperti itu? Tadinya aku bertanya-tanya apa yang terbaik dari mereka, namun jika status mereka adalah ketua OSIS dan wakil ketua OSIS, hal itu sangat masuk akal. Atau mungkin karena nilai akademis mereka? Kudengar Mikage-senpai berada di peringkat kedua satu angkatan. Jangan-jangan, Hongou-senpai adalah murid peringkat pertama.

Monster. Tiba-tiba kata itu terlantas di dalam kepalaku.

Sang pemberi instruksi yang memanfaatkan wewenang yang diberikan kepadanya dan menggunakan kemampuan komando yang luar biasa untuk mencapai tujuannya.

Namun, bagaimanapun cara memikirkannya, hal seperti itu jelas tidak masuk akal.

Ini masalah pembagian kelas. Tidak peduli seberapa berprestasinya seorang murid, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang boleh diserahkan kepada mereka.

Melihatku terdiam, Hongou-senpai yang terlebih dahulu membuka mulut.

“Memasukkan sampai empat orang dengan inisial di urutan awal abjad ke dalam satu kelas yang sama, sampai-sampai membuat Wakil Kepala Sekolah melontarkan teguran kepadaku, lho. Tapi karena posisi tempat duduk dan pembagian kelompok belajar di kelas itu krusial, aku berjuang keras untuk memaksakan kehendakku. Jika kamu tahu bahwa aku memikirkannya seserius ini, apa Delchi bisa mengerti sekarang?”

Kepalaku rasanya mendadak menjadi kosong. Memikirkan bahwa dia bahkan sampai melakukan hal sejauh itu, sesuatu yang seolah sedang memanipulasi hukum sebab akibat.

Agar Iwama duduk di kursi paling belakang dan bisa mengajakku mengobrol.

Agar Iwama dan Kannabi berada di kelompok yang sama saat pelajaran dan mempererat hubungan mereka.

Apakah itu berarti tidak hanya kelas, bahkan nomor absen pun ditentukan hanya berdasarkan keputusan sepihak dari murid bernama Hongou Nagisa ini?

Semuanya demi memasukkan kami berempat ke klub biologi. Sebuah penataan agar kelereng jatuh ke tempat yang dituju.

“Apakah para guru... tahu tentang hal itu?”

“Beberapa orang petinggi tentu saja tahu. Karena pada akhirnya yang menurunkan keputusan bukanlah aku, melainkan pihak sekolah. Tapi semuanya sepakat. Mereka menganggap hal itu tidak apa-apa demi melindungi klub biologi.”

“Mana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Hanya demi kelangsungan satu klub saja?”

“Satu klub?”

Suara Hongou-senpai merendah, volume suaranya tetap sama, namun tekanannya terasa semakin kuat.

“Di SMA yang membanggakan tradisi sejak masa SMP dengan sistem lama dan berfokus pada pendidikan sains ini, klub ini adalah salah satu bagian yang dengan berani diizinkan menyandang nama Fakultas Sains? Ini berbeda jauh dengan komunitas atau klub pertemanan biasa. Banyak peneliti yang lahir dari klub biologi ini. Begitu pula dengan ayahmu, dan meski bukan seorang peneliti, wali kota di sini pun lulusan dari klub biologi, lho.”

Aku tidak menyangka nama ayahku akan diungkit di sini. Dia pasti benar-benar sudah menyelidikinya dengan sangat baik.

Suara Senpai perlahan mulai dipenuhi emosi.

“Tradisi itu adalah seorang raksasa. Justru karena adanya akumulasi raksasa dari para pendahulu, kita bisa melihat ke bawah ke arah dunia dari atas bahunya. Meski hanya sebuah klub sekolah, walaupun kecil, itu adalah seorang raksasa. Pihak sekolah ingin melindungi raksasa kecil itu. Dan aku, sama sekali tidak akan pernah membiarkan sahabatku dituduh sebagai pelaku pembunuhan raksasa tersebut.”

“Meskipun begitu... apakah boleh memanipulasi dan mengendalikan kami dengan memainkan trik semacam itu?”

“Trik? Itu sebutan yang agak kurang menyenangkan bagi diriku.”

Hongou-senpai tampak berpikir sejenak, lalu berujar dengan ekspresi serius.

“Tidak ada trik dalam masa muda. Yang ada hanyalah perjuangan mati-matian seseorang, dan alasan yang membuatnya bertindak demikian.”

Saat konsep masa muda tiba-tiba dibawa-bawa, aku mulai merasa kesal karena keegoisannya yang keterlaluan. Apakah kami ini hanya sebatas salah satu perangkat panggung yang digerakkan demi mewujudkan masa muda yang indah bagi para senpai?

Seolah menyadari amarahku, Hongou-senpai menatapku dengan pandangan menenangkan.

“Yah, ini sebenarnya cuma mengutip kata-kata Kashiwabara-senpai, sih. Kedengarannya klise, ‘kan? Tapi dalam arti tertentu itu benar. Aku hanya menggunakan segala hal yang kupunya dan melakukan semua hal yang bisa kulakukan agar sahabatku yang berharga tidak dituduh sebagai pembunuh. Tidak peduli apa pendapatmu tentang kerja keras ini, aku yakin Rochi akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mulia.”

Hanya saja dalam kasus Senpai, hal yang dia punya terlalu besar. Begitu pula dengan hal yang bisa dia lakukan.

Aku bukannya tidak paham apa yang ingin dia sampaikan. Namun, meski ada alasan yang kuat dan itu hanyalah bentuk perjuangan mati-matian versinya sendiri, bukannya tindakan tersebut telah menginjak-injak sesuatu yang besar?

“Aku paham motivasi Senpai. Tapi...”

Namun, hanya hal ini yang harus kukatakan.

“Bagaimana dengan keinginan kami sendiri? Jika Senpai tidak memainkan siasat, kami seharusnya memilih jalan yang berbeda. Namun Senpai selaku kakak kelas justru memelintirnya dengan tipu muslihat, dan pihak sekolah menyetujuinya.”

“Aku tidak memelintirnya karena berniat jahat, kok. Kami hanya menempatkan semua orang di posisi yang tepat lalu mendorong punggung mereka dengan lembut. Bukannya kami hanya melindungi sesuatu yang mungkin saja lenyap akibat kekacauan dan kebetulan, dengan menggunakan keteraturan dan keniscayaan?”

Keteraturan dan keniscayaan, meski itu adalah hasil dari tipu muslihat, kami memang akhirnya menetap di tempat yang semestinya.

Mungkin hal itu memang benar. Aku sendiri pun merasa senang bisa masuk ke klub biologi.

Namun, kalau begitu kenapa? Kenapa aku merasa begitu murka seperti ini?

“Kalau begitu, mari kita buat sebuah perumpamaan,” Senpai pun mulai bercerita.

“Dahulu kala, di suatu tempat, hiduplah seorang pengembara. Saat sedang berjalan menyusuri jalanan desa, dia menemui jalan bercabang. Karena jalan sebelah kiri becek, si pengembara memilih jalan sebelah kanan.”

Pengembara yang dimaksud pasti adalah diriku. Dan jalan itu adalah pilihanku.

“Yang menantinya di sana adalah tangga batu yang panjang. Si pengembara memantapkan tekadnya lalu mendakinya sekaligus. Di ujung tangga terdapat gerbang torii yang hampir rusak. Sebuah kuil yang sepi. Begitu melewati gerbang torii, seekor ular biru mengajaknya bicara.”

Hongou-senpai menjulurkan sedikit ujung lidahnya untuk membasahi bibir.

“Ular itu berkata, ‘Becek itu adalah perbuatanku. Karena aku ingin kamu datang ke sini, aku pun menutup jalannya.’ Nah, apakah si pengembara akan turun kembali melewati tangga batu dengan penuh amarah, atau justru melewati kuil dan terus melangkah maju?”

Aku mencoba memikirkan situasinya. Jika itu adalah aku...

“Jika pengembara itu adalah aku, kurasa aku akan terus melangkah maju. Karena tempat tujuan belum ditentukan, tanpa ada keterikatan khusus, bukannya aku akan mengikuti jalan yang telah dipilih oleh si ular?”

“Benar. Syukurlah.”

Di sanalah aku akhirnya menyadari wujud asli dari amarahku.

“Tapi, bagaimana dengan Iwama?”

“Riochi? Anak itu pastilah yang akan berjalan melewati jalan si ular, ‘kan?”

“Iya, aku pun berpikir demikian. Dia bukanlah orang yang akan turun kembali melewati tangga batu, dia tidak bisa melakukannya.”

“Kupikir juga begitu.”

“Namun, justru karena itulah hal yang dilakukan oleh si ular, tindakan Senpai ini, telah menodai jalan hidup seorang Iwama Rio.”

Mungkin karena itu adalah kalimat yang tidak terduga, Hongou-senpai tidak membalas sepatah kata pun.

“Iwama sempat merasa bimbang. Dia didera kepedihan karena memikirkan jalan hidup mana yang harus diprioritaskan, apakah jalan hidup yang diinginkan orang di sekitarnya atau jalan hidup demi dirinya sendiri... Dan dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa mengambil keputusan demi dirinya sendiri. Orang tua maupun temannya mungkin tidak mengharapkannya. Namun dia benar-benar merasa senang karena bisa masuk ke klub biologi.”

“Benar. Aku tahu itu.”

“Seandainya dia tahu bahwa keputusan itu pun berjalan persis seperti yang Senpai inginkan, bagaimana kira-kira perasaan Iwama?”

Penemuan bentuk hati sakura, pertemuan dengan Kannabi yang membuatnya bisa merasa cocok, serta pertemuan dengan Mizusaki dan aku, bagaimana perasaan Iwama jika tahu bahwa segala hal yang dia syukuri sebagai sebuah keajaiban itu ternyata merupakan semua siasat dari ular bernama Hongou Nagisa?

Apa yang akan terjadi pada senyuman yang terpancar begitu tulus dan polos itu?

Melihat diriku yang mulai terbawa emosi, Hongou-senpai sedikit memiringkan kepalanya.

“Bagaimana perasaannya, sudah pasti dia akan sangat syok, ‘kan? Karena itulah hari ini aku memanggil Delchi, lho. Aku berpikir, jika Delchi sampai menemukan kebenaran ini bersama dengan Riochi, segalanya bisa hancur berantakan.”

“Apa... maksud dari semua ini?”

“Alasanku berinisiatif untuk menceritakan seluruh kebenaran ini terlebih dahulu, tentu saja, untuk membungkam mulutmu.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

“Riochi belum tahu tentang masalah ini. Dia tidak punya cara untuk mengetahuinya. Fakta bahwa Mizucchi mendengar cerita tentang rusaknya bentuk hati sakura dariku tidak pernah diberitahukan kepadanya, dia juga tidak melihat bingkai pulpen penanda yang mengelilingi persamaan Euler, dan poster di depan laboratorium biologi pun sudah lama dicabut. Jika tidak dibicarakan, dia tidak akan pernah tahu.”

“...Maksudnya, aku dilarang memberi tahu hal ini kepadanya?”

“Benar. Jika Delchi dan Nabichi bekerja sama, hal ini pasti bisa disembunyikan sampai akhir. Bukan hal yang sulit, kok. Delchi bisa menyadari hal-hal yang mendetail, dan Nabichi sangat pandai menggunakan kebohongan. Bisa aku minta tolong?”

Aku mencoba merenungkannya. Jika aku merahasiakan rencana Hongou-senpai, apakah Iwama akan tetap bisa bahagia?

Menilik diriku yang bimbang, Hongou-senpai tersenyum tipis. Dia pasti menduga bahwa setelah ragu-ragu, aku akan berkata “Baiklah” dengan wajah pahit.

Dan mungkin, itu adalah jalan yang benar.

Iwama sudah puas dengan situasinya sekarang. Dia merasa senang karena bisa mengambil keputusan demi dirinya sendiri. Oleh karena itu, jika aku tiba-tiba membongkar bahwa “sebenarnya ada rahasia di balik semua ini”, hal itu benar-benar menjadi perhatian yang tidak perlu.

Aku sendiri tahu betul akan hal itu. Jalan hidupku tidak pernah mencampuri urusan orang lain sejauh harus memilih tindakan yang menanggung tanggung jawab besar, yang salah-salah malah bisa merusak kebahagiaan Iwama.

Namun.

Hidup bahagia di atas tanah yang mengubur sebuah rahasia, sama sekali bukanlah sebuah sikap yang ilmiah.

“Aku akan memberitahunya.”

“Eh?”

Mendengar jawabanku yang pasti di luar dugaannya, Hongou-senpai menggerakkan alisnya sedikit.

“Aku akan menceritakan semuanya kepada Iwama.”

“Kenapa?”

“Sebab dia bukanlah tipe orang yang bisa bahagia di atas kebohongan atau rahasia.”

Ruangan privat itu seketika dilingkupi keheningan selama beberapa saat. Ekspresi Senpai berubah menjadi tegang, dan atmosfer gadis gyaru yang santai lenyap tidak berbekas.

“...Apa kamu bisa bertanggung jawab setelah membongkar kebenaran itu? Apa kamu tidak apa-apa jika Riochi harus hidup dengan terus memendam rasa mengganjal di dalam dadanya setelah mengetahui kebenarannya?”

“Iya. Aku akan menanggung apa yang disebut tanggung jawab itu. Jika setelah menceritakan seluruh kebenaran Iwama tetap bersedia masuk ke klub biologi...”

Dengan lancar, “Aku yang akan membuat Iwama bahagia.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan sangat alami dari mulutku.

Baru setelah mengatakannya, aku menyadari kalimat macam apa yang baru saja kuucapkan.

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun setelah itu, sementara Hongou-senpai menatapku dengan kening yang sedikit berkerut.

“Kalau begitu,” Mikage yang akhirnya memecah keheningan. “Biar aku yang menyampaikan kebenaran ini kepada Iwama-san... Karena menurutku, setidaknya itulah bentuk iktikad baik kita kepada dia yang sudah kita manfaatkan demi kepentingan kita sendiri.”

Aku menatap Mikage.

Dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, Mikage mengangguk ke arahku.

 

Jam istirahat makan siang keesokan harinya, Mikage menghampiri Iwama. Dia mengajak Iwama untuk makan bekal bersama, lalu mereka berdua berjalan keluar kelas. Aku hanya bisa melempar pandang mengikuti punggung mereka dari kejauhan.

Tepat ketika jam istirahat berakhir dan Iwama kembali ke kelas, dia sama sekali tidak tampak seperti orang yang sedang syok.

Namun saat sepulang sekolah tiba, “Hei Del-chan, mau pulang bersama lagi hari ini?” ucapnya mengajakku. Ini bukan saatnya untuk mencemaskan apa yang akan dipikirkan oleh Mizusaki atau Kannabi. Aku mengangguk, lalu kami berdua segera bergegas meninggalkan sekolah.

Bukannya kami sedang menyembunyikan sesuatu yang salah, namun kami keluar dari jalur pulang yang biasa dan tanpa alasan yang jelas langsung melompat naik ke dalam bus yang menuju ke arah stasiun. Kami duduk di deretan kursi paling belakang. Benar-benar tanpa rencana, dan aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ingin kami lakukan. Karena ini bukan rute bus sekolah yang umum, tidak ada satu pun murid SMA Tsunanagai lain yang ikut naik.

Bus ini mengambil rute yang tidak melewati area pertokoan di depan stasiun, melainkan langsung menuju ke stasiun sebelah. Tadi aku sempat berpikir untuk turun di pintu masuk area pertokoan depan stasiun, namun jika begitu kami hanya memutar jauh menggunakan bus untuk jalur pulang yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Karena Iwama tidak beranjak dari kursinya, aku pun tetap duduk di sampingnya dengan jarak sekitar setengah kepalan tangan.

“Nah, sekarang kita mau ke mana?” ucapku sambil memandangi Stasiun Tsunanagai yang semakin menjauh.

“Sampai pemberhentian terakhir,” jawab Iwama sambil tersenyum.

Di dalam bus, beberapa orang lanjut usia duduk dengan tenang. Kami pun menahan diri untuk tidak banyak mengobrol dan akhirnya turun di pemberhentian terakhir, Stasiun Koshizaki. Begitu melangkah keluar dari bus, cahaya matahari yang cerah menyengat lurus dari langit yang biru bersih.

Koshizaki adalah sebuah stasiun kecil yang berada di jalur bawah, berlawanan arah dengan Ebiwakagawa yang biasa digunakan Iwama atau Samizu yang digunakan Kannabi. Karena bukan merupakan tempat yang biasa dikunjungi sengaja, ini pun menjadi kali pertama bagiku untuk menginjakkan kaki di sini. Jelas hampir tidak ada orang sama sekali.

Iwama mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan wajah riang, lalu mulai melangkah. Aku pun mengekor di belakangnya dengan santai. Setelah melewati perlintasan kereta api, kami memasuki sebuah taman yang teramat luas yang dibangun di tengah hutan pinus di sepanjang tepi pantai.

“Apa kamu pernah datang ke sini sebelumnya?”

“Tidak, sama sekali belum pernah.”

“Kalau begitu, tahu dari rekomendasi seseorang?”

“Bukan, kok. Ini keputusan kita berdua saja.”

Jawaban yang bagus.

Angin bertiup sedikit kencang, namun pemandangan lautnya sangat indah. Di bawah langit yang sepenuhnya biru, Samudra Pasifik membentang dengan warna biru yang sedikit lebih pekat. Beberapa buah kapal layar berwarna putih tampak mengambang di kejauhan.

Karena kami langsung pergi tepat setelah jam sekolah usai, matahari masih bertengger tinggi. Cuaca cerah yang biru terasa sangat menenteramkan hati.

“Segar sekali, ya.”

Iwama merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut angin laut. Dari belakang, aku meniru gerakannya secara samar. Angin yang sejuk membuat seragam kami berkibar. Saat aku menarik napas dalam-dalam, aroma samar air laut tercium oleh penciumanku.

Kami membeli minuman bersoda di mesin penjual otomatis, lalu menikmatinya sedikit demi sedikit di sebuah bangku yang terlindung dari terpaan angin dan sengatan matahari oleh jajaran pohon pinus merah sembari menatap laut luas.

Perlahan, kami mulai membicarakan hal yang semestinya dibicarakan.

Iwama bercerita bahwa dia sudah mendengar seluruh kebenaran dari Mikage. Karena berpikir akan memicu masalah baru jika aku bertanya terlalu detail, aku memilih untuk tidak banyak bicara.

“Intinya, para senpai menyusun berbagai rencana karena mereka ingin aku masuk ke klub biologi, ‘kan?”

“Entah apakah itu disebut demi kita atau murni keinginan mereka sendiri, sih.”

Iwama mengangguk, lalu berbalik menghadapku.

“Tahu tidak, Mikage-san memutuskan untuk masuk ke klub kimia, lho, bukan klub fisika.”

Ini adalah pertama kalinya aku mendengar hal itu.

“Benarkah? Kupikir dia pasti akan masuk ke klub fisika... Mengingat kakaknya ada di sana, dan dia juga bilang kalau dia suka matematika.”

“Justru karena itulah alasannya. Katanya dia memilih klub kimia karena ingin meruntuhkan prediksi para senpai. Saat dia mengatakannya, kabarnya kakaknya sampai menangis, lho.”

Ternyata orang itu bisa menangis juga.

“Begitu rupanya. Meruntuhkan prediksi, ya...”

Aku bisa memahami perasaannya dengan sangat baik. Dia pasti ingin menggoreskan sedikit perlawanan pada hasil yang sepenuhnya berjalan sesuai dengan kehendak para senpai itu. Meski sudah dimanfaatkan sedemikian rupa, Mikage tetap melakukan sebuah pemberontakan kecil.

Iwama membuka suara perlahan.

“Mikage-san bilang, lho. Del-chan sempat marah demi aku.”

Ternyata dia menceritakannya sampai sejauh itu, pikirku.

Jangan-jangan, dia juga menceritakan kalau aku dengan lancangnya berkata akan membuat Iwama bahagia.

Karena tidak tahu harus menanggapi apa, aku meminum kolaku. Rasa manis tanpa pemanis buatan mengalir di atas lidahku. Sensasi soda yang meletup sedikit mencairkan rasa maluku.

“...Terima kasih, ya. Aku merasa sangat senang waktu mendengarnya.”

“Bukan apa-apa... Aku tidak marah demi Iwama, kok. Aku hanya menganggap dia orang yang keterlaluan, jadi aku cuma bilang kalau apa yang dilakukannya itu benar-benar keterlaluan.”

Iwama tersenyum kecil.

“Tidak banyak orang yang mau marah dengan sungguh-sungguh demi diriku. Kebanyakan hanya bilang, karena aku melangkah di jalan yang benar, aku harus membusungkan dada... Aku senang, sih, tapi selalu saja kata-kata seperti itu yang kudengar.”

Dari kenyataan itu, aku seolah bisa melihat kepedihan yang dirasakan Iwama.

Itu adalah dunia yang sama sekali tidak bisa kubayangkan, namun aku mencoba merenungkannya sedikit.

Siapa pula yang akan ikut marah demi sosok yang melangkah dengan gagah di bawah limpahan cahaya, layaknya seorang idola atau pahlawan, sosok yang dianggap sebagai pihak yang sangat kuat?

Bukannya aku marah justru karena aku tahu Iwama sedang bimbang, karena aku tahu kelemahan yang sempat dia perlihatkan sedikit waktu itu?

Seandainya itu demi bunga sakura yang mekar dengan penuh percaya diri di bawah terik matahari, entahlah bagaimana reaksiku.

“Pasti melelahkan ya, kalau harus terus-menerus membusungkan dada.”

“Mungkin saja.”

Minuman yang diminum Iwama adalah C.C. Lemon. Saat dia membuka tutup botolnya, terdengar suara desisan pelan yang tertahan.

“Kamu belum mengumpulkan formulir pendaftaran klubnya, ‘kan?”

“Iya.”

“Untuk berjaga-jaga... kamu masih bisa berbalik arah.”

Aku sedikit memiringkan kepala dan menatap Iwama di sampingku.

“Kalau Iwama tidak masuk ke klub biologi pun, aku tidak akan marah. Mizusaki juga pasti sama. Kannabi juga pasti bisa mengerti. Menurutku, tidak ada salahnya juga kalau kamu mau memikirkannya kembali dari awal.”

Iwama menoleh ke arahku dengan gurat wajah yang tampak agak sedih.

“Artinya, kalau aku tidak bergabung, Del-chan tidak akan merasa kesepian?”

Mendengar kalimat yang tidak terduga itu, aku tahu diriku sendiri langsung menjadi salah tingkah.

“Ah, tidak, maksudku... yah, mungkin sedikit sih...”

“Maaf, cuma bercanda.”

Candaan yang keterlaluan. Padahal aku sedang serius.

“Aku senang kamu bilang boleh memikirkannya kembali, tapi aku tetap akan masuk ke klub biologi.”

“...Bahkan setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?”

“Iya. Lagipula dalam hidup, hal semacam itu pasti sering terjadi, ‘kan? Apa pun pilihan yang kita ambil, pasti akan selalu ada sedikit cela yang mengikutinya.”

“Begitu ya.”

Pemikiran yang sangat pragmatis. Dia tampaknya jauh lebih dewasa dibandingkan diriku.

Sembari membiarkan poni rambutnya berkibar diterpa angin laut, Iwama meminum C.C. Lemon-nya dengan nikmat.

“Pasti, seperti yang dipikirkan para senpai, klub biologi memang cocok untukku. Terlebih lagi, saat ini aku benar-benar ingin mencoba melakukan survei atau penelitian bersama kalian semua.”

“...Kalau begitu syukurlah.”

Aku tidak menyuarakannya, namun aku pun merasakan hal yang sama.

Jika aku bisa melakukan penelitian bersama Iwama yang mengetahui dunia yang tidak kupahami, hal itu pasti akan sangat menyenangkan.

 

Setelah puas menikmati embusan angin laut, kami melangkah menuju Stasiun Koshizaki. Karena Iwama bisa langsung pulang dengan kereta dari sana, kami memutuskan untuk menggunakan jalur kereta untuk perjalanan pulang.

Bangunan stasiun itu tidak berpenjaga. Suasananya begitu sepi, sampai-sampai sulit dipercaya bahwa tempat ini berada tepat di sebelah Stasiun Tsunanagai. Namun, dari bangku plastik yang terpasang di peron, pemandangan laut luas membentang melewati jalur rel kereta. Karena jadwal kereta berikutnya masih lama, kami pun duduk di sana sembari meminum sisa minuman bersoda kami sedikit demi sedikit.

“Ngomong-ngomong, aku sudah mencoba membuat spesimen herbarium.”

Iwama tiba-tiba membuka percakapan.

“Bunga katakuri?”

“Iya.”

Aku teringat kembali hari saat kami pergi melihat sakura dulu, ketika aku menyerahkan bunga katakuri yang kugali kepada Iwama. Seandainya saja aku memberikan dalam bentuk buket mungkin masih mendingan, namun bunga katakuri itu kuberikan lengkap bersama umbi lapisnya yang masih berlumuran tanah di dalam kantong plastik kresek bekas minimarket. Sampai sekarang aku terkadang masih menyesali tindakan konyolku itu.

“...Ternyata tidak kamu buang, ya.”

“Eeeh? Mana mungkin kubuang! Daripada dibuang, lebih baik kumakan saja.”

Bukan kekhawatiran semacam itu yang kumaksud. Iwama menatap heran ke arahku yang refleks tertawa.

“Maaf. Aku sempat berpikir jangan-jangan ka,u merasa terganggu karena diberikan benda seperti itu oleh orang yang baru pertama kali bertemu.”

“Sama sekali tidak terganggu, kok. Setelah itu aku sempat mencobanya sendiri, tapi ternyata menggali akar bunga katakuri itu sulit sekali... Aku jadi kagum pada Del-chan yang bisa menggalinya dengan begitu mudah.”

Sebenarnya ada triknya sendiri, namun kurasa menjelaskannya di sini adalah hal yang tidak perlu.

“Aku merasa terhormat jika bisa membantu.”

“Iya. Terima kasih ya.”

Iwama memandangi laut selama beberapa saat, lalu sedikit menolehkan wajahnya ke arahku.

“Apa Del-chan tahu bahasa bunga dari katakuri?”

“...Tidak, aku tidak tahu.”

Baru setelah mengatakannya aku tersadar. Bukannya tindakan bodohku waktu itu bisa diartikan bahwa aku telah memberikan bunga kepada Iwama? Meskipun artinya bukan kesengsaraan sampai tujuh turunan, memikirkan jika ada makna bahasa bunga yang aneh saja sudah membuatku merinding.

“Anu, maaf, aku sama sekali tidak memikirkan hal-hal seperti makna bahasa bunga saat itu.”

“Tentu saja aku tahu. Aku sudah menduganya, kok.”

Iwama terkekeh pelan, lalu, “Bertahan dalam kesepian.”

Perkataan itu diucapkannya dengan lambat, seolah sedang meresapi setiap maknanya.

“Jadi itu makna bahasa bunga dari katakuri?”

“Iya. Selama delapan tahun sejak berkecambah, katakuri hanya melebarkan daunnya di musim semi, lalu menghabiskan waktu dengan menyimpan nutrisi di dalam tanah. Dari musim panas hingga musim dingin, katakuri berada di dalam tanah. Jika tidak memekarkan bunga, serangga tidak akan datang, dan tidak ada yang mau meliriknya. Menurut salah satu teori, cara hidup katakuri yang terus bertahan dengan sabar hingga memekarkan bunga itulah yang menjadi asal-usul dari makna bahasa bunga ini.”

“Begitu ya, kalau begitu itu...”

“Ilmiah!”

Aku tidak berniat memancingnya, namun entah kenapa situasinya malah membuat dia mengucapkan kata itu.

“Makanya aku merasa senang, dalam artian itu juga.”

“...Apa maksudmu?”

Iwama sedikit bimbang sebelum berbicara, lalu membuka mulutnya dengan malu-malu.

“Pikirku, ah, dengan begini, apakah akhirnya aku pun bisa memekarkan bunga?”

“Kereta akan segera...” suara pengumuman stasiun mulai berkumandang, membuatku kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Namun, hal itu mungkin justru terasa pas.

Aku teringat kembali kalimat yang tertulis pada ema yang sempat kulihat sebelum mengenal Iwama.

 

“Semoga di SMA nanti, aku bisa menjalaninya dengan baik.”

 

Mengingat dia sampai menulis kata di SMA nanti, berarti pasti ada sesuatu yang tidak bisa dia jalani dengan baik sebelumnya.

Di masa SMP dulu, Iwama pasti sempat merasakan pengalaman yang pahit. Sesuatu yang setara dengan masa delapan tahun di dalam tanah yang dilalui oleh katakuri pasti ada di masa lalunya. Namun, keberanian untuk menggali hal tersebut kembali, belum dimiliki oleh diriku yang sekarang.

“Mari kita berjuang ya.”

“Iya!”

Hanya itulah yang bisa kuucapkan.

Suara gemeretak roda kereta mulai terdengar. Menyusuri jalur rel di sepanjang tepi pantai, kereta akhirnya datang.

Permukaan laut yang berwarna biru pekat berkilau dengan riang di bawah langit biru.

Hari ini tampaknya aku bisa pulang selagi hari masih terang.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#The Science Notes by δ and γ ,#The Science Notes by δ and γ_1 ,
Getting Info...

Posting Komentar