Bab 5: Berusaha Mencegah Pembunuhan Si Raksasa Kecil
Aku
dibawa sampai ke Sansetsuto. Matahari yang mulai tenggelam menyinar masuk ke
dalam kedai melalui jendela yang lebar.
Warna
jingga yang seharusnya terlihat indah itu pun terasa agak menyesakkan.
Seolah-olah
langit sedang berbisik kepadaku bahwa pada akhirnya, aku tidak akan pernah bisa
keluar dari lingkaran yang terus berulang ini.
Di
bagian paling dalam kedai, terdapat sebuah ruangan privat. Sebuah pintu yang
selalu tertutup, terletak di seberang toilet. Mikage menuntunku sampai ke sana.
“Masuklah.”
Saat
dipersilakan membuka pintu, aku menatap ke gagang pintu kuningan yang tampak
modis. Seandainya Mikage berniat mengobrol berdua saja denganku, pastilah dia
sendiri yang akan membukanya. Artinya, sudah ada seseorang yang menunggu di
dalam ruangan ini.
Setelah
berdeham sedikit untuk menenangkan tenggorokan, aku mengetuk pintu lalu
membukanya.
Hal
pertama yang menyambutku adalah kilauan menyengat dari matahari barat yang
menusuk mata. Perlahan, meja dan kursi bergaya antik mulai tertangkap oleh
pandanganku.
Dan
benar saja, di sana sesosok orang yang sudah kuduga sebelumnya sedang menunggu
seorang diri.
“Oh,
akhirnya datang juga, Delchi. Selamat ya atas kerja kerasnya setelah kegiatan
klub. Ayo duduk, duduk!”
Ketua
klub kimia, Hongou Nagisa. Masih mengenakan seragam sekolah, dia sedang
menikmati kopinya dengan santai.
Menghadapi
meja untuk empat orang, aku dan Mikage duduk di seberangnya. Melalui jendela
yang ukurannya jauh lebih besar, pemandangan laut yang sewarna dengan langit
senja bisa terlihat dengan jelas, namun pikiranku sama sekali tidak terfokus ke
sana.
Percakapan
seperti apa yang akan kami lalui di dalam ruangan ini setelah ini?
“Tidak
usah tegang begitu. Kamu mau pesan apa?”
Menu
disodorkan kepadaku melewati meja. Aku merasakan kejanggalan pada jemarinya.
Seni kuku yang ramai dan mencolok itu sudah lenyap, digantikan oleh kuku yang
dipotong rapi dan hanya diwarnai dengan warna biru pirus layaknya batu pirus.
Jika kuku mencolok yang dulu itu dipakai sengaja hanya untuk memicu rasa risi
kami, aku hanya bisa berdecak kagum atas totalitasnya.
Menu
rekomendasi di Sansetsuto masih tetap sama seperti sebelumnya, Spring Blend.
“Aku
sudah memutuskan.”
“Ayachi
bagaimana?”
Setelah
sedikit bimbang selama beberapa saat, Mikage hanya menjawab pelan, “Blend
saja.”
“Oke.”
Kukira
Senpai akan memanggil pelayan kedai, namun dia justru memiringkan cangkir yang
dipegangnya dan meminum habis isinya.
Tepat
saat itulah, suara ketukan pintu terdengar menggema.
“Permisi.”
Seorang
pelayan pria berusia muda membuka pintu dan melangkah masuk. Di atas nampan
perak yang dibawanya, terdapat tiga buah cangkir. Begitu menerima secangkir kopi
susu miliknya, Hongou-senpai memberi isyarat tangan agar cangkir berwarna merah
muda sakura diletakkan di hadapanku, dan cangkir putih di hadapan Mikage.
Mustahil,
aku langsung terbungkam seribu bahasa.
Kami
bahkan belum memesan apa-apa. Terlebih untuk diriku sendiri, aku bahkan belum
sempat menyuarakan bahwa aku ingin memesan Spring Blend.
Namun,
cangkir merah muda sakura yang disajikan di hadapanku sudah pasti berisi Spring
Blend, dan aku juga tahu bahwa kopi di dalam cangkir putih di hadapan Mikage
adalah Blend reguler milik Sansetsuto.
Ini
benar-benar seperti sulap. ...Atau jangan-jangan, senpai yang satu ini bisa
membaca pikiranku?
“Terkejut,
ya? Kalau urusan yang begini sih, aku memang jagonya.”
“Bagaimana
bisa seperti ini?”
Aku
merasa kesal karena bertanya-tanya apa maksud tindakannya, dan penasaran
tentang bagaimana cara dia melakukannya.
“Soalnya
kalau tidak kuberi demonstrasi langsung, kurasa kamu tidak akan percaya apa
yang akan kukatakan setelah ini. Kalau triknya dibongkar, jawabannya sederhana,
kok. Aku hanya memprediksi kalau Delchi pasti akan langsung memilih menu
rekomendasi tanpa ragu, sedangkan Ayachi yang biasanya selalu memesan kopi susu,
hari ini pasti akan memilih menu termurah karena dia tidak ingin berutang budi
padaku.”
Sulit
dipercaya.
Kalau
soal Mikage mungkin aku bisa maklum, tapi bagaimana bisa dia mengetahui begitu
banyak hal tentang diriku yang hanya sempat mengobrol sebentar dengannya saat
acara penyambutan klub dulu?
...Tidak,
dia pasti memang sudah tahu.
Justru
karena dia sudah tahu sejak awal, dia bisa mengendalikan kami semua seperti
ini.
Tanpa
menyentuh Spring Blend itu sedikit pun, aku menatap lurus ke arah Hongou-senpai,
musuh yang sesungguhnya yang berada tepat di hadapanku.
“Apa tujuan Senpai memanggilku ke sini?”
“Melihat
wajah seriusmu itu, pasti semua ini persis seperti yang Delchi pikirkan. Karena
mengira ini sudah saatnya kamu menyadarinya, makanya aku berinisiatif untuk
berterus terang duluan.”
Setelah
menyeruput kopi susunya yang tampak panas, dia menatap balik ke arahku dengan
sepasang mata yang terbuka lebar.
“Ayo,
tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Kakak akan menjawab apa saja hari
ini.”
Mikage
tampaknya berniat untuk terus bungkam. Dia pasti tidak ingin membicarakan apa
pun. Dari posisiku duduk, aku bisa melihatnya sedang mengepalkan tangan dengan
erat di atas lutut.
Ada
banyak hal yang ingin kutanyakan. Hal pertama yang harus kupertanyakan adalah
kejanggalan yang paling awal.
Setelah
menarik napas dalam-dalam, aku pun berbicara.
“Saat
pergi melihat sakura di gunung belakang, kami berpapasan dengan Senpai dan
Mikage-senpai yang sedang berjalan turun.”
“Iya,
iya, memang begitu waktu itu.”
“Waktu
itu Senpai berkata, ‘Padahal sudah susah payah mendaki, tapi ternyata
mengecewakan’.”
“Lalu?”
“Bukannya
itu aneh? Orang yang memberi tahu Mizusaki bahwa bentuk hati pada sakura itu
sudah rusak seharusnya adalah kamu sendiri, Hongou-senpai. Padahal kamu sudah
tahu sejak awal bahwa tahun ini bentuk hatinya tidak akan terlihat, tapi kenapa
bisa-bisanya Senpai kecewa?”
Senpai
mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya sedikit pun.
“Benar
juga.”
“Kenapa
Senpai mengatakan hal seperti itu?”
“Soalnya,
mendengarkan langsung ucapan dari orang yang gagal melihatnya pasti akan
membuat rasa haru saat berhasil melihatnya menjadi lebih besar. Semacam pemicu,
mungkin? Bukan bermaksud mencocokkan dengan nama sakuranya, sih, tapi karena
kupikir kalian berdua bisa saja langsung berbalik arah di tengah jalan jika
tidak ada orang lain sama sekali di sana, jadi ini hanya untuk berjaga-jaga
saja.”
Dia
melontarkan hal yang mengerikan itu dengan begitu enteng. Intinya, dia sengaja
memanipulasi kesan di dalam hati aku dan Iwama.
“Kenapa
Senpai melakukan hal sejauh itu?”
“Apa
kamu tidak menyadarinya? Padahal bunga sakura itu sedang mekar dengan sempurna,
tapi tidak ada satu pun orang lain yang datang melihatnya, ‘kan? Itu juga salah
satu tradisi yang hampir punah akibat dampak dari situasi selama empat tahun
terakhir ini. Katanya sampai lima tahun lalu pembersihan area Kanoudai dan
pemangkasan pohon sakura masih rutin dilakukan, tapi sekarang itu semua sudah
tidak ada lagi.”
Aku
teringat kembali. Padahal menurut Mizusaki itu adalah pohon sakura yang
terkenal, namun selain Iwama dan aku, hari itu kami hanya melihat Hongou-senpai
dan Mikage-senpai saja di sana. Papan penanda yang sudah dipasang dengan susah
payah pun sampai tertutup oleh lumut kerak.
“Alasan
kenapa posisi panggungnya berubah juga karena hal itu. Guru yang menangani
masalah saat pohonnya tumbang dulu sama sekali tidak tahu tentang legenda
tersebut. Padahal posisi untuk melihatnya adalah hal yang krusial, tapi demi
mencegah para murid agar tidak memanjat pohon yang tumbang, mereka hanya
menggeser posisi panggungnya saja dan menganggap urusannya sudah selesai.”
“...Aku
tidak mengerti.”
“Apanya?”
“Dengan
menghasut Mizusaki dan mengirimku ke tempat seperti itu, sebenarnya apa yang
ingin kamu lakukan, Senpai?”
Senpai
mengangkat alisnya dengan wajah terkejut. Ekspresinya seolah berkata, hal
begitu saja masa tidak paham.
“Soalnya
kupikir kalau Delchi dan Riochi memecahkan misteri sakura bersama-sama, kalian
bisa menjadi akrab dan bisa saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik.
Memangnya kamu pikir ada alasan apa lagi selain itu?”
Karena
sejak awal aku sudah mempersiapkan diri jika memang hal semacam inilah yang
terjadi, guncangan di hatiku kemungkinan besar tidak terpancar di wajahku.
Namun, Mikage yang sedari tadi diam mematung, menggerakkan wajahnya sedikit dan
menatap ke arahku. Apakah dia sedang mencemaskanku?
“...Seberapa
banyak yang diketahui Mizusaki?”
“Kepada
Mizucchi, aku hanya memberi tahu soal sakuranya saja. Sambil berkata, coba beri
tahu temanmu ya, terutama kalau ada sepasang laki-laki dan perempuan yang ingin
kamu pasangkan, mungkin ada baiknya kamu beri tahu mereka, atau semacam
itulah.”
Memang
benar, Mizusaki adalah tipe orang yang hanya dengan diberi tahu begitu saja
pasti akan merasa tertarik lalu merencanakan trik untuk menjodohkan aku dan
Iwama.
Namun,
bagaimana bisa Hongou-senpai mengetahui begitu banyak detail tentang diri kami
sampai sejauh itu?
“Ah,
aku lupa menceritakan dasarnya ya. Karena pacarku adalah orang yang tahu banyak
informasi, aku sudah menyelidiki sebagian besar tentang murid baru yang
berprestasi sebelum upacara penerimaan sekolah dimulai. Ya, semacam membuat
profil, begitulah?”
Dia
menjelaskannya seolah-olah sedang membaca isi pikiranku.
“Bagaimana
nilai akademis anak itu, apa klub kegiatannya, siapa saja temannya, apa yang
dilakukannya di luar sekolah, dan kalau mau bicara lebih detail lagi, bahkan
sampai minuman apa yang akan dipilihnya di kedai kopi seperti ini. Anak yang
logis dan berkepribadian mantap itu tidak memiliki banyak inkonsistensi, jadi
datanya sangat mudah untuk dikumpulkan.”
Sungguh,
sebenarnya orang seperti apa dia ini.
“...Saat
acara penyambutan klub, apakah Senpai juga yang menyusun rencana untuk
menggiring aku dan Mizusaki masuk ke klub biologi?”
“Tentu
saja.”
Di
hadapanku, Spring Blend dibiarkan begitu saja hingga mendingin. Senpai meminum
kopi susunya.
“Ngomong-ngomong,
di bagian mana Delchi mulai sadar?”
“Awal
mulanya adalah pulpen penandanya. Bagian yang menekankan persamaan Euler di
dalam majalah matematika milik Mikage ditandai dengan pulpen penanda yang tidak
pernah digunakan baik oleh Mikage maupun Mikage-senpai. Senpai-lah yang membeli
majalah itu, memberikan tanda pada persamaan Euler, lalu menyerahkannya kepada
Mikage. Kemudian Senpai memanfaatkan Mikage-senpai untuk membujuk Mikage. Apa
aku salah?”
“Aduh
Ayachi, kenapa kamu sampai membocorkan hal seperti itu?”
Hongou-senpai
mengarahkan tatapan dongkol ke arah Mikage.
“Iya.
Karena kamu tidak melarangku untuk memberitahukannya.”
Mikage
membalas dengan datar menggunakan dalih yang terdengar seperti alasan anak SD.
Tampaknya dia tidak bergerak murni hanya karena patuh pada perintah Hongou-senpai
saja, melainkan memiliki motif tersendiri di dalam hatinya. Hongou-senpai
mengangkat bahunya sambil mendesah pasrah.
Aku
melemparkan pertanyaan lebih lanjut.
“Poster
yang ditempel di depan laboratorium biologi juga perbuatan Senpai, ‘kan?”
“Benar
sekali. Soalnya kalau tidak ada poster itu, orang-orang bisa mengira kalau klub
biologi tidak sedang mengadakan acara penyambutan, ‘kan? Walaupun Ayachi sudah
bersusah payah membawa kalian ke sana, akan merepotkan kalau tidak ada alasan
kuat untuk melangkah masuk ke dalam laboratorium biologi, ‘kan?”
Laboratorium
biologi yang sama sekali tidak memancarkan atmosfer penyambutan. Alasan utama
yang melandasi Mikage menggiring kami ke dalam ruangan itu tidak lain dan tidak
bukan adalah poster tersebut. Sampai-sampai hal seperti itu pun sudah
dipikirkannya terlebih dahulu?
“Tapi,
aku tidak menyangka kamu akan menyadari bagian yang itu. Kenapa memangnya? Apa
karena desainnya mirip dengan sampul pamflet superjelek yang kubagikan waktu
itu?”
Ternyata
senpai yang satu ini sengaja memberikan pamflet dengan kualitas buruk saat
acara penyambutan klub dulu.
Namun,
hal itu tidak ada hubungannya di sini.
“Tokumura-sensei
menceritakan bahwa poster itu dibuat oleh murid tahun ketiga yang sekarang.
Namun, kudengar Karato-senpai sangat payah dalam mengoperasikan komputer. Hasil
akhir yang rapi seperti itu hanya bisa dibuat oleh orang yang sudah terbiasa
dengan dunia desain.”
“Ah,
bisa saja ‘kan Rochi memanfaatkan data lama dari masa lalu untuk memesannya.”
“Di
dalam poster itu disisipkan foto burung parkit berwarna biru muda yang baru
datang setelah Golden Week tahun lalu. Jadi poster itu bukan sekadar diganti
teksnya saja, melainkan sengaja didesain khusus demi acara penyambutan klub
tahun ini. Terlebih lagi, oleh tangan seseorang yang bukan merupakan anggota
klub biologi. Orang yang memiliki alasan untuk melakukan campur tangan yang
merepotkan seperti itu hanyalah Senpai sekalian, ‘kan?”
Hongou-senpai
mengangguk paham.
“Begitu
rupanya. Yah, memang persis seperti katamu, tapi sebutan campur tangan
merepotkan itu rasanya agak kurang menyenangkan, ya. Demi klub biologi yang
sama-sama berada di rumpun sains, dan demi sahabatku yang telah kehilangan
motivasinya sama sekali, sudah sewajarnya aku melakukan hal sekecil itu, ‘kan?”
Membuatkan
poster dan membantu menyukseskan acara penyambutan klub demi seorang teman yang
telah kehilangan motivasi, jika hanya mendengar bagian itu memang terkesan
mulia, namun rencana yang disusun oleh senpai yang satu ini jauh lebih
kekanak-kanakan dari itu.
Dia
memerintahkan Mikage untuk memandu aku dan Mizusaki menyelesaikan misteri
persamaan matematika, sebuah cara yang jauh lebih memutar dibandingkan jika
hanya merekomendasikan klub biologi secara langsung, namun terbukti sangat
efektif untuk membuat kami mendaftarkan diri ke klub biologi.
Dan
juga.
“Senpai
juga yang memberi tahu Kannabi bahwa kami masuk ke klub biologi.”
“Wah,
ternyata kamu sudah tahu sampai sejauh itu, ya.”
Senpai
kembali meminum kopi susunya dengan nikmat sembari menawari kami kopi. Aku
meminumnya sedikit untuk membasahi tenggorokan, namun rasanya hampir tidak
terasa sama sekali.
“Apa
Nabichi menyebut namaku?”
Merasakan
sebersit nada dingin dari suaranya, sebuah kengerian yang seolah-olah dia
sedang mencari sosok seorang pengkhianat, aku menggelengkan kepala.
“Tidak.
Kannabi hanya menyebutmu sebagai sang pemberi instruksi.”
Hongou-senpai
tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Ahaha,
benarkah? Pemberi instruksi! Pemikirannya sama persis dengan Senpai.”
“Maksudnya
senpai yang memanggilmu Indy?”
“Benar
sekali. Kashiwabara-senpai namanya, mantan ketua klub kimia sebelumku. Sama
sepertiku, dia juga menjabat sebagai wakil ketua OSIS... Orang itu sendiri
sebenarnya juga keterlaluan, tapi dia memberiku nama julukan yang agak cerdik.
Sepertinya dia ingin mengatakan kalau aku ini wanita licik yang suka memperalat
orang-orang di sekitar sebagai pionnya.”
Ternyata
memang benar begitu.
Indy.
Atau lebih tepatnya, Indicator.
Alasan
Hongou-senpai mengatakan bahwa nama julukan itu hanya berlaku di klub kimia adalah
karena itu merupakan lelucon konyol yang menggunakan istilah kimia. Arti dari
indikator, sesuatu yang menunjuk atau menunjukkan di sini bukanlah sebuah alat
ukur atau layar penunjuk.
Itu
adalah sebuah titik buta, namun sebenarnya ada terjemahan yang jauh lebih tepat
dan meyakinkan.
Jika
mengacu pada konteks kimia, “indikator” berarti...
Zat
penunjuk.
Benar-benar
sebuah sosok yang menunjukkan itu sendiri.
Jika
kanji-nya diganti, pelafalan kata tersebut bisa bermakna, sang pemberi
instruksi.
Itu
adalah kata yang belakangan ini sering digunakan dalam konteks kasus penipuan
terstruktur atau kerja paruh waktu gelap. Otak kriminal yang menyusun rencana
dan menggerakkan orang-orang. Kata itu memang sangat cocok untuk menggambarkan
orang ini.
Sebelum
rasa amarah sempat muncul, rasa ngeri terlebih dahulu memenuhi dadaku.
Sebuah
perasaan yang mendekati rasa takjub sekaligus takut terhadap kecerdasan dan
keberanian yang mampu mewujudkan semua hal itu.
“Demi
memasukkan anggota baru ke klub biologi, Senpai menghasut Mizusaki untuk
membuatku dan Iwama saling mengenal, memerintahkan Mikage untuk membuatku dan
Mizusaki bergabung, lalu memanfaatkan Kannabi untuk mendorong Iwama agar ikut
masuk. Apakah begitu?”
Aku
merasa seolah-ofah dijadikan sebagai salah satu komponen dalam sebuah mesin
Rube Goldberg. Seperti bagian dari perangkat mekanis rumit yang dirancang untuk
menjatuhkan kelereng ke tempat tujuan, sang pemberi instruksi ini menggerakkan
orang lain demi kepentingannya.
“Yaa,
kalau disederhanakan, kasarnya memang begitu,” ucapnya dengan teramat enteng.
“Kenapa...
kenapa Senpai sampai melakukan hal seperti itu? Apa tidak cukup jika hanya
membantu acara penyambutan secara normal? Kenapa harus kami?”
“Soalnya,
kondisi klub biologi maupun Rochi ‘kan sudah seperti itu. Kalau dilakukan
dengan cara biasa, anak-anak yang berprestasi pasti tidak akan sudi memilih
tempat semacam itu. Aku berpikir, jika tidak ada anak yang luar biasa jenius yang
masuk, maka tradisi gemilang klub biologi akan berakhir begitu saja.”
Luar
biasa jenius, dikatakan seperti itu di tempat seperti ini sama sekali tidak
membuatku merasa senang.
“Makanya
sebelum tahun ajaran baru dimulai, aku memilih kalian berempat yang sekiranya
mampu membangkitkan kembali klub biologi, dan memutuskan untuk membuat kalian
bergabung ke sana. Tentu saja selain karena nilai akademis kalian yang luar
biasa, kalian berempat juga mengikuti klub sains saat SMP dan memiliki
kemungkinan besar untuk mengambil penjurusan biologi. Padahal sebenarnya, aku
ingin mengamankan Delchi dan Riochi untuk masuk ke klub kimia, lho.”
Konyol
sekali. Sebenarnya dia menganggap kami ini apa?
“Bagaimana
bisa... Kami pun punya keinginan sendiri, jangan memperlakukan kami seperti
pemain dalam rapat draf olahraga!”
Hongou-senpai
kembali tertawa.
“Ahaha,
kamu bisa saja bercanda. Rapat draf? Tapi pada akhirnya, yang memilih klub
biologi adalah kalian sendiri, ‘kan? Hak memilih sepenuhnya berada di tangan
kalian. Kalian berkumpul di sana murni atas keinginan kalian sendiri.”
Aku
tidak bisa membalas kata-katanya. Itu benar. Memang kamilah yang memilihnya.
Namun.
“...Berkumpul?”
Tanpa
sadar, aku menyuarakan apa yang ada di dalam benakku. Kejanggalan yang
kurasakan memang sebesar itu.
“Tunggu
sebentar, urutannya terbalik. Sejak awal, kami memang sudah dikumpulkan.”
Di
saat yang sama, aku tidak melewatkan gestur Mikage di sampingku yang bergerak
sedikit.
“Dalam
satu angkatan yang terdiri dari enam kelas, kami berempat berada di kelas yang
sama. Terlebih lagi, nomor absenku, Iwama, dan Kannabi berurutan, apakah
murid-murid yang memenuhi kriteria pilihan Senpai untuk menjadi anggota baru
ini secara kebetulan berkumpul seperti ini? Bahkan Mikage pun berada di kelas
yang sama.”
Meskipun
mencari orang yang tepat dari dalam satu kelas, mana mungkin semuanya bisa
berjalan semulus ini? Jika hanya sekadar anak IPA mungkin masih masuk akal,
namun orang yang bercita-cita mengambil penjurusan biologi sejak awal adalah
kelompok minoritas.
Subjeknya,
Hongou-senpai tadi berkata bahwa dia sudah memilih kami sebelum upacara
penerimaan sekolah dimulai. Jika benar dia sudah memilih kami sejak sebelum
masuk sekolah, maka pembagian kelas ini adalah sebuah kebetulan yang teramat
sangat beruntung.
“Ah,
ternyata ketahuan juga ya.”
Senpai
meletakkan cangkirnya dengan bunyi ketukan pelan.
“Bukan
seperti Mizucchi, sih. Tapi awalnya, setelah menyadari kalau nama belakang Delchi
dan Riochi sama-sama dimulai dengan huruf depan yang sama, aku langsung
berpikir bahwa tidak ada cara lain. Dari sana diputuskan untuk menempatkan
kalian di kelas yang sama dengan posisi duduk yang berdekatan.”
...Tunggu
dulu.
“Alasan
memilih Nabichi sebagai kandidat tentu saja karena dia anak yang baik, tapi di
sisi lain nama belakangnya juga tidak akan aneh jika nomor absennya berada
dekat dengan kalian berdua. Kalau posisi Mizucchi dan Ayachi yang berdekatan
itu murni kebetulan, sih. Tapi yah, hal itu juga membawa sedikit keuntungan terkait
pengaturan posisi duduk.”
Jangan
bercanda yang tidak-tidak.
“Tunggu
sebentar, ini ‘kan masalah pembagian kelas. Bagaimana bisa Senpai yang hanya
seorang murid biasa...”
“Aku
bukan murid biasa. Aku ini wakil ketua OSIS. Kamu sudah mendengarnya dari
pacarku, ‘kan? Di SMA Tsunanagai, murid-murid yang berprestasi diberikan
kekuasaan dan hak prerogatif yang sepadan. Biasanya, ketua OSIS bertugas
sebagai sosok yang memimpin pergerakan di permukaan, sedangkan wakil ketua OSIS
adalah sosok yang memegang kendali komando di balik layar. Otak utama yang
sebenarnya adalah aku.”
Pikirkannya
tidak sanggup mengejarnya.
Di
tengah rasa terperangah, aku samar-samar teringat kembali. Apakah sebutan
pasangan terbaik di SMA Tsunanagai memiliki arti seperti itu? Tadinya aku
bertanya-tanya apa yang terbaik dari mereka, namun jika status mereka adalah
ketua OSIS dan wakil ketua OSIS, hal itu sangat masuk akal. Atau mungkin karena
nilai akademis mereka? Kudengar Mikage-senpai berada di peringkat kedua satu
angkatan. Jangan-jangan, Hongou-senpai adalah murid peringkat pertama.
Monster.
Tiba-tiba kata itu terlantas di dalam kepalaku.
Sang
pemberi instruksi yang memanfaatkan wewenang yang diberikan kepadanya dan
menggunakan kemampuan komando yang luar biasa untuk mencapai tujuannya.
Namun,
bagaimanapun cara memikirkannya, hal seperti itu jelas tidak masuk akal.
Ini
masalah pembagian kelas. Tidak peduli seberapa berprestasinya seorang murid,
hal seperti itu bukanlah sesuatu yang boleh diserahkan kepada mereka.
Melihatku
terdiam, Hongou-senpai yang terlebih dahulu membuka mulut.
“Memasukkan
sampai empat orang dengan inisial di urutan awal abjad ke dalam satu kelas yang
sama, sampai-sampai membuat Wakil Kepala Sekolah melontarkan teguran kepadaku,
lho. Tapi karena posisi tempat duduk dan pembagian kelompok belajar di kelas
itu krusial, aku berjuang keras untuk memaksakan kehendakku. Jika kamu tahu
bahwa aku memikirkannya seserius ini, apa Delchi bisa mengerti sekarang?”
Kepalaku
rasanya mendadak menjadi kosong. Memikirkan bahwa dia bahkan sampai melakukan
hal sejauh itu, sesuatu yang seolah sedang memanipulasi hukum sebab akibat.
Agar
Iwama duduk di kursi paling belakang dan bisa mengajakku mengobrol.
Agar
Iwama dan Kannabi berada di kelompok yang sama saat pelajaran dan mempererat
hubungan mereka.
Apakah
itu berarti tidak hanya kelas, bahkan nomor absen pun ditentukan hanya berdasarkan
keputusan sepihak dari murid bernama Hongou Nagisa ini?
Semuanya
demi memasukkan kami berempat ke klub biologi. Sebuah penataan agar kelereng
jatuh ke tempat yang dituju.
“Apakah
para guru... tahu tentang hal itu?”
“Beberapa
orang petinggi tentu saja tahu. Karena pada akhirnya yang menurunkan keputusan
bukanlah aku, melainkan pihak sekolah. Tapi semuanya sepakat. Mereka menganggap
hal itu tidak apa-apa demi melindungi klub biologi.”
“Mana
mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Hanya demi kelangsungan satu klub saja?”
“Satu
klub?”
Suara
Hongou-senpai merendah, volume suaranya tetap sama, namun tekanannya terasa
semakin kuat.
“Di
SMA yang membanggakan tradisi sejak masa SMP dengan sistem lama dan berfokus
pada pendidikan sains ini, klub ini adalah salah satu bagian yang dengan berani
diizinkan menyandang nama Fakultas Sains? Ini berbeda jauh dengan komunitas
atau klub pertemanan biasa. Banyak peneliti yang lahir dari klub biologi ini.
Begitu pula dengan ayahmu, dan meski bukan seorang peneliti, wali kota di sini
pun lulusan dari klub biologi, lho.”
Aku
tidak menyangka nama ayahku akan diungkit di sini. Dia pasti benar-benar sudah
menyelidikinya dengan sangat baik.
Suara
Senpai perlahan mulai dipenuhi emosi.
“Tradisi
itu adalah seorang raksasa. Justru karena adanya akumulasi raksasa dari para
pendahulu, kita bisa melihat ke bawah ke arah dunia dari atas bahunya. Meski
hanya sebuah klub sekolah, walaupun kecil, itu adalah seorang raksasa. Pihak
sekolah ingin melindungi raksasa kecil itu. Dan aku, sama sekali tidak akan
pernah membiarkan sahabatku dituduh sebagai pelaku pembunuhan raksasa
tersebut.”
“Meskipun
begitu... apakah boleh memanipulasi dan mengendalikan kami dengan memainkan
trik semacam itu?”
“Trik?
Itu sebutan yang agak kurang menyenangkan bagi diriku.”
Hongou-senpai
tampak berpikir sejenak, lalu berujar dengan ekspresi serius.
“Tidak
ada trik dalam masa muda. Yang ada hanyalah perjuangan mati-matian seseorang,
dan alasan yang membuatnya bertindak demikian.”
Saat
konsep masa muda tiba-tiba dibawa-bawa, aku mulai merasa kesal karena
keegoisannya yang keterlaluan. Apakah kami ini hanya sebatas salah satu
perangkat panggung yang digerakkan demi mewujudkan masa muda yang indah bagi
para senpai?
Seolah
menyadari amarahku, Hongou-senpai menatapku dengan pandangan menenangkan.
“Yah,
ini sebenarnya cuma mengutip kata-kata Kashiwabara-senpai, sih. Kedengarannya
klise, ‘kan? Tapi dalam arti tertentu itu benar. Aku hanya menggunakan segala
hal yang kupunya dan melakukan semua hal yang bisa kulakukan agar sahabatku
yang berharga tidak dituduh sebagai pembunuh. Tidak peduli apa pendapatmu
tentang kerja keras ini, aku yakin Rochi akan menganggapnya sebagai sesuatu
yang mulia.”
Hanya
saja dalam kasus Senpai, hal yang dia punya terlalu besar. Begitu pula dengan
hal yang bisa dia lakukan.
Aku
bukannya tidak paham apa yang ingin dia sampaikan. Namun, meski ada alasan yang
kuat dan itu hanyalah bentuk perjuangan mati-matian versinya sendiri, bukannya
tindakan tersebut telah menginjak-injak sesuatu yang besar?
“Aku
paham motivasi Senpai. Tapi...”
Namun,
hanya hal ini yang harus kukatakan.
“Bagaimana
dengan keinginan kami sendiri? Jika Senpai tidak memainkan siasat, kami
seharusnya memilih jalan yang berbeda. Namun Senpai selaku kakak kelas justru
memelintirnya dengan tipu muslihat, dan pihak sekolah menyetujuinya.”
“Aku
tidak memelintirnya karena berniat jahat, kok. Kami hanya menempatkan semua
orang di posisi yang tepat lalu mendorong punggung mereka dengan lembut.
Bukannya kami hanya melindungi sesuatu yang mungkin saja lenyap akibat
kekacauan dan kebetulan, dengan menggunakan keteraturan dan keniscayaan?”
Keteraturan
dan keniscayaan, meski itu adalah hasil dari tipu muslihat, kami memang
akhirnya menetap di tempat yang semestinya.
Mungkin
hal itu memang benar. Aku sendiri pun merasa senang bisa masuk ke klub biologi.
Namun,
kalau begitu kenapa? Kenapa aku merasa begitu murka seperti ini?
“Kalau
begitu, mari kita buat sebuah perumpamaan,” Senpai pun mulai bercerita.
“Dahulu
kala, di suatu tempat, hiduplah seorang pengembara. Saat sedang berjalan
menyusuri jalanan desa, dia menemui jalan bercabang. Karena jalan sebelah kiri
becek, si pengembara memilih jalan sebelah kanan.”
Pengembara
yang dimaksud pasti adalah diriku. Dan jalan itu adalah pilihanku.
“Yang
menantinya di sana adalah tangga batu yang panjang. Si pengembara memantapkan
tekadnya lalu mendakinya sekaligus. Di ujung tangga terdapat gerbang torii yang
hampir rusak. Sebuah kuil yang sepi. Begitu melewati gerbang torii, seekor ular
biru mengajaknya bicara.”
Hongou-senpai
menjulurkan sedikit ujung lidahnya untuk membasahi bibir.
“Ular
itu berkata, ‘Becek itu adalah perbuatanku. Karena aku ingin kamu datang ke sini,
aku pun menutup jalannya.’ Nah, apakah si pengembara akan turun kembali melewati
tangga batu dengan penuh amarah, atau justru melewati kuil dan terus melangkah
maju?”
Aku
mencoba memikirkan situasinya. Jika itu adalah aku...
“Jika
pengembara itu adalah aku, kurasa aku akan terus melangkah maju. Karena tempat
tujuan belum ditentukan, tanpa ada keterikatan khusus, bukannya aku akan
mengikuti jalan yang telah dipilih oleh si ular?”
“Benar.
Syukurlah.”
Di
sanalah aku akhirnya menyadari wujud asli dari amarahku.
“Tapi,
bagaimana dengan Iwama?”
“Riochi?
Anak itu pastilah yang akan berjalan melewati jalan si ular, ‘kan?”
“Iya,
aku pun berpikir demikian. Dia bukanlah orang yang akan turun kembali melewati
tangga batu, dia tidak bisa melakukannya.”
“Kupikir
juga begitu.”
“Namun,
justru karena itulah hal yang dilakukan oleh si ular, tindakan Senpai ini,
telah menodai jalan hidup seorang Iwama Rio.”
Mungkin
karena itu adalah kalimat yang tidak terduga, Hongou-senpai tidak membalas
sepatah kata pun.
“Iwama
sempat merasa bimbang. Dia didera kepedihan karena memikirkan jalan hidup mana
yang harus diprioritaskan, apakah jalan hidup yang diinginkan orang di
sekitarnya atau jalan hidup demi dirinya sendiri... Dan dia merasa sangat
senang karena akhirnya bisa mengambil keputusan demi dirinya sendiri. Orang tua
maupun temannya mungkin tidak mengharapkannya. Namun dia benar-benar merasa
senang karena bisa masuk ke klub biologi.”
“Benar.
Aku tahu itu.”
“Seandainya
dia tahu bahwa keputusan itu pun berjalan persis seperti yang Senpai inginkan,
bagaimana kira-kira perasaan Iwama?”
Penemuan
bentuk hati sakura, pertemuan dengan Kannabi yang membuatnya bisa merasa cocok,
serta pertemuan dengan Mizusaki dan aku, bagaimana perasaan Iwama jika tahu
bahwa segala hal yang dia syukuri sebagai sebuah keajaiban itu ternyata
merupakan semua siasat dari ular bernama Hongou Nagisa?
Apa
yang akan terjadi pada senyuman yang terpancar begitu tulus dan polos itu?
Melihat
diriku yang mulai terbawa emosi, Hongou-senpai sedikit memiringkan kepalanya.
“Bagaimana
perasaannya, sudah pasti dia akan sangat syok, ‘kan? Karena itulah hari ini aku
memanggil Delchi, lho. Aku berpikir, jika Delchi sampai menemukan kebenaran ini
bersama dengan Riochi, segalanya bisa hancur berantakan.”
“Apa...
maksud dari semua ini?”
“Alasanku
berinisiatif untuk menceritakan seluruh kebenaran ini terlebih dahulu, tentu saja,
untuk membungkam mulutmu.”
Aku
tidak bisa berkata-kata.
“Riochi
belum tahu tentang masalah ini. Dia tidak punya cara untuk mengetahuinya. Fakta
bahwa Mizucchi mendengar cerita tentang rusaknya bentuk hati sakura dariku tidak
pernah diberitahukan kepadanya, dia juga tidak melihat bingkai pulpen penanda
yang mengelilingi persamaan Euler, dan poster di depan laboratorium biologi pun
sudah lama dicabut. Jika tidak dibicarakan, dia tidak akan pernah tahu.”
“...Maksudnya,
aku dilarang memberi tahu hal ini kepadanya?”
“Benar.
Jika Delchi dan Nabichi bekerja sama, hal ini pasti bisa disembunyikan sampai
akhir. Bukan hal yang sulit, kok. Delchi bisa menyadari hal-hal yang mendetail,
dan Nabichi sangat pandai menggunakan kebohongan. Bisa aku minta tolong?”
Aku
mencoba merenungkannya. Jika aku merahasiakan rencana Hongou-senpai, apakah
Iwama akan tetap bisa bahagia?
Menilik
diriku yang bimbang, Hongou-senpai tersenyum tipis. Dia pasti menduga bahwa
setelah ragu-ragu, aku akan berkata “Baiklah” dengan wajah pahit.
Dan
mungkin, itu adalah jalan yang benar.
Iwama
sudah puas dengan situasinya sekarang. Dia merasa senang karena bisa mengambil
keputusan demi dirinya sendiri. Oleh karena itu, jika aku tiba-tiba membongkar
bahwa “sebenarnya ada rahasia di balik semua ini”, hal itu benar-benar menjadi
perhatian yang tidak perlu.
Aku
sendiri tahu betul akan hal itu. Jalan hidupku tidak pernah mencampuri urusan
orang lain sejauh harus memilih tindakan yang menanggung tanggung jawab besar,
yang salah-salah malah bisa merusak kebahagiaan Iwama.
Namun.
Hidup
bahagia di atas tanah yang mengubur sebuah rahasia, sama sekali bukanlah sebuah
sikap yang ilmiah.
“Aku
akan memberitahunya.”
“Eh?”
Mendengar
jawabanku yang pasti di luar dugaannya, Hongou-senpai menggerakkan alisnya
sedikit.
“Aku
akan menceritakan semuanya kepada Iwama.”
“Kenapa?”
“Sebab
dia bukanlah tipe orang yang bisa bahagia di atas kebohongan atau rahasia.”
Ruangan
privat itu seketika dilingkupi keheningan selama beberapa saat. Ekspresi Senpai
berubah menjadi tegang, dan atmosfer gadis gyaru yang santai lenyap tidak berbekas.
“...Apa
kamu bisa bertanggung jawab setelah membongkar kebenaran itu? Apa kamu tidak
apa-apa jika Riochi harus hidup dengan terus memendam rasa mengganjal di dalam
dadanya setelah mengetahui kebenarannya?”
“Iya.
Aku akan menanggung apa yang disebut tanggung jawab itu. Jika setelah
menceritakan seluruh kebenaran Iwama tetap bersedia masuk ke klub biologi...”
Dengan
lancar, “Aku yang akan membuat Iwama bahagia.”
Kata-kata
itu meluncur begitu saja dengan sangat alami dari mulutku.
Baru
setelah mengatakannya, aku menyadari kalimat macam apa yang baru saja
kuucapkan.
Aku
tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun setelah itu, sementara Hongou-senpai
menatapku dengan kening yang sedikit berkerut.
“Kalau
begitu,” Mikage yang akhirnya memecah keheningan. “Biar aku yang menyampaikan
kebenaran ini kepada Iwama-san... Karena menurutku, setidaknya itulah bentuk
iktikad baik kita kepada dia yang sudah kita manfaatkan demi kepentingan kita
sendiri.”
Aku
menatap Mikage.
Dengan
wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, Mikage mengangguk ke arahku.
Jam
istirahat makan siang keesokan harinya, Mikage menghampiri Iwama. Dia mengajak
Iwama untuk makan bekal bersama, lalu mereka berdua berjalan keluar kelas. Aku
hanya bisa melempar pandang mengikuti punggung mereka dari kejauhan.
Tepat
ketika jam istirahat berakhir dan Iwama kembali ke kelas, dia sama sekali tidak
tampak seperti orang yang sedang syok.
Namun
saat sepulang sekolah tiba, “Hei Del-chan, mau pulang bersama lagi hari ini?”
ucapnya mengajakku. Ini bukan saatnya untuk mencemaskan apa yang akan
dipikirkan oleh Mizusaki atau Kannabi. Aku mengangguk, lalu kami berdua segera
bergegas meninggalkan sekolah.
Bukannya
kami sedang menyembunyikan sesuatu yang salah, namun kami keluar dari jalur
pulang yang biasa dan tanpa alasan yang jelas langsung melompat naik ke dalam
bus yang menuju ke arah stasiun. Kami duduk di deretan kursi paling belakang.
Benar-benar tanpa rencana, dan aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ingin
kami lakukan. Karena ini bukan rute bus sekolah yang umum, tidak ada satu pun
murid SMA Tsunanagai lain yang ikut naik.
Bus
ini mengambil rute yang tidak melewati area pertokoan di depan stasiun,
melainkan langsung menuju ke stasiun sebelah. Tadi aku sempat berpikir untuk
turun di pintu masuk area pertokoan depan stasiun, namun jika begitu kami hanya
memutar jauh menggunakan bus untuk jalur pulang yang sebenarnya bisa ditempuh
dengan berjalan kaki. Karena Iwama tidak beranjak dari kursinya, aku pun tetap
duduk di sampingnya dengan jarak sekitar setengah kepalan tangan.
“Nah,
sekarang kita mau ke mana?” ucapku sambil memandangi Stasiun Tsunanagai yang
semakin menjauh.
“Sampai
pemberhentian terakhir,” jawab Iwama sambil tersenyum.
Di
dalam bus, beberapa orang lanjut usia duduk dengan tenang. Kami pun menahan
diri untuk tidak banyak mengobrol dan akhirnya turun di pemberhentian terakhir,
Stasiun Koshizaki. Begitu melangkah keluar dari bus, cahaya matahari yang cerah
menyengat lurus dari langit yang biru bersih.
Koshizaki
adalah sebuah stasiun kecil yang berada di jalur bawah, berlawanan arah dengan
Ebiwakagawa yang biasa digunakan Iwama atau Samizu yang digunakan Kannabi.
Karena bukan merupakan tempat yang biasa dikunjungi sengaja, ini pun menjadi
kali pertama bagiku untuk menginjakkan kaki di sini. Jelas hampir tidak ada
orang sama sekali.
Iwama
mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan wajah riang, lalu mulai
melangkah. Aku pun mengekor di belakangnya dengan santai. Setelah melewati
perlintasan kereta api, kami memasuki sebuah taman yang teramat luas yang
dibangun di tengah hutan pinus di sepanjang tepi pantai.
“Apa
kamu pernah datang ke sini sebelumnya?”
“Tidak,
sama sekali belum pernah.”
“Kalau
begitu, tahu dari rekomendasi seseorang?”
“Bukan,
kok. Ini keputusan kita berdua saja.”
Jawaban
yang bagus.
Angin
bertiup sedikit kencang, namun pemandangan lautnya sangat indah. Di bawah
langit yang sepenuhnya biru, Samudra Pasifik membentang dengan warna biru yang
sedikit lebih pekat. Beberapa buah kapal layar berwarna putih tampak mengambang
di kejauhan.
Karena
kami langsung pergi tepat setelah jam sekolah usai, matahari masih bertengger
tinggi. Cuaca cerah yang biru terasa sangat menenteramkan hati.
“Segar
sekali, ya.”
Iwama
merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut angin laut. Dari belakang,
aku meniru gerakannya secara samar. Angin yang sejuk membuat seragam kami
berkibar. Saat aku menarik napas dalam-dalam, aroma samar air laut tercium oleh
penciumanku.
Kami
membeli minuman bersoda di mesin penjual otomatis, lalu menikmatinya sedikit
demi sedikit di sebuah bangku yang terlindung dari terpaan angin dan sengatan
matahari oleh jajaran pohon pinus merah sembari menatap laut luas.
Perlahan,
kami mulai membicarakan hal yang semestinya dibicarakan.
Iwama
bercerita bahwa dia sudah mendengar seluruh kebenaran dari Mikage. Karena
berpikir akan memicu masalah baru jika aku bertanya terlalu detail, aku memilih
untuk tidak banyak bicara.
“Intinya,
para senpai menyusun berbagai rencana karena mereka ingin aku masuk ke klub
biologi, ‘kan?”
“Entah
apakah itu disebut demi kita atau murni keinginan mereka sendiri, sih.”
Iwama
mengangguk, lalu berbalik menghadapku.
“Tahu
tidak, Mikage-san memutuskan untuk masuk ke klub kimia, lho, bukan klub
fisika.”
Ini
adalah pertama kalinya aku mendengar hal itu.
“Benarkah?
Kupikir dia pasti akan masuk ke klub fisika... Mengingat kakaknya ada di sana,
dan dia juga bilang kalau dia suka matematika.”
“Justru
karena itulah alasannya. Katanya dia memilih klub kimia karena ingin
meruntuhkan prediksi para senpai. Saat dia mengatakannya, kabarnya kakaknya
sampai menangis, lho.”
Ternyata
orang itu bisa menangis juga.
“Begitu
rupanya. Meruntuhkan prediksi, ya...”
Aku
bisa memahami perasaannya dengan sangat baik. Dia pasti ingin menggoreskan
sedikit perlawanan pada hasil yang sepenuhnya berjalan sesuai dengan kehendak
para senpai itu. Meski sudah dimanfaatkan sedemikian rupa, Mikage tetap
melakukan sebuah pemberontakan kecil.
Iwama
membuka suara perlahan.
“Mikage-san
bilang, lho. Del-chan sempat marah demi aku.”
Ternyata
dia menceritakannya sampai sejauh itu, pikirku.
Jangan-jangan,
dia juga menceritakan kalau aku dengan lancangnya berkata akan membuat Iwama
bahagia.
Karena
tidak tahu harus menanggapi apa, aku meminum kolaku. Rasa manis tanpa pemanis
buatan mengalir di atas lidahku. Sensasi soda yang meletup sedikit mencairkan
rasa maluku.
“...Terima
kasih, ya. Aku merasa sangat senang waktu mendengarnya.”
“Bukan
apa-apa... Aku tidak marah demi Iwama, kok. Aku hanya menganggap dia orang yang
keterlaluan, jadi aku cuma bilang kalau apa yang dilakukannya itu benar-benar
keterlaluan.”
Iwama
tersenyum kecil.
“Tidak
banyak orang yang mau marah dengan sungguh-sungguh demi diriku. Kebanyakan
hanya bilang, karena aku melangkah di jalan yang benar, aku harus membusungkan
dada... Aku senang, sih, tapi selalu saja kata-kata seperti itu yang kudengar.”
Dari
kenyataan itu, aku seolah bisa melihat kepedihan yang dirasakan Iwama.
Itu
adalah dunia yang sama sekali tidak bisa kubayangkan, namun aku mencoba
merenungkannya sedikit.
Siapa
pula yang akan ikut marah demi sosok yang melangkah dengan gagah di bawah
limpahan cahaya, layaknya seorang idola atau pahlawan, sosok yang dianggap
sebagai pihak yang sangat kuat?
Bukannya
aku marah justru karena aku tahu Iwama sedang bimbang, karena aku tahu
kelemahan yang sempat dia perlihatkan sedikit waktu itu?
Seandainya
itu demi bunga sakura yang mekar dengan penuh percaya diri di bawah terik
matahari, entahlah bagaimana reaksiku.
“Pasti
melelahkan ya, kalau harus terus-menerus membusungkan dada.”
“Mungkin
saja.”
Minuman
yang diminum Iwama adalah C.C. Lemon. Saat dia membuka tutup botolnya,
terdengar suara desisan pelan yang tertahan.
“Kamu
belum mengumpulkan formulir pendaftaran klubnya, ‘kan?”
“Iya.”
“Untuk
berjaga-jaga... kamu masih bisa berbalik arah.”
Aku
sedikit memiringkan kepala dan menatap Iwama di sampingku.
“Kalau
Iwama tidak masuk ke klub biologi pun, aku tidak akan marah. Mizusaki juga
pasti sama. Kannabi juga pasti bisa mengerti. Menurutku, tidak ada salahnya
juga kalau kamu mau memikirkannya kembali dari awal.”
Iwama
menoleh ke arahku dengan gurat wajah yang tampak agak sedih.
“Artinya,
kalau aku tidak bergabung, Del-chan tidak akan merasa kesepian?”
Mendengar
kalimat yang tidak terduga itu, aku tahu diriku sendiri langsung menjadi salah
tingkah.
“Ah,
tidak, maksudku... yah, mungkin sedikit sih...”
“Maaf,
cuma bercanda.”
Candaan
yang keterlaluan. Padahal aku sedang serius.
“Aku
senang kamu bilang boleh memikirkannya kembali, tapi aku tetap akan masuk ke
klub biologi.”
“...Bahkan
setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?”
“Iya.
Lagipula dalam hidup, hal semacam itu pasti sering terjadi, ‘kan? Apa pun
pilihan yang kita ambil, pasti akan selalu ada sedikit cela yang mengikutinya.”
“Begitu
ya.”
Pemikiran
yang sangat pragmatis. Dia tampaknya jauh lebih dewasa dibandingkan diriku.
Sembari
membiarkan poni rambutnya berkibar diterpa angin laut, Iwama meminum C.C.
Lemon-nya dengan nikmat.
“Pasti,
seperti yang dipikirkan para senpai, klub biologi memang cocok untukku.
Terlebih lagi, saat ini aku benar-benar ingin mencoba melakukan survei atau
penelitian bersama kalian semua.”
“...Kalau
begitu syukurlah.”
Aku
tidak menyuarakannya, namun aku pun merasakan hal yang sama.
Jika
aku bisa melakukan penelitian bersama Iwama yang mengetahui dunia yang tidak
kupahami, hal itu pasti akan sangat menyenangkan.
Setelah
puas menikmati embusan angin laut, kami melangkah menuju Stasiun Koshizaki.
Karena Iwama bisa langsung pulang dengan kereta dari sana, kami memutuskan
untuk menggunakan jalur kereta untuk perjalanan pulang.
Bangunan
stasiun itu tidak berpenjaga. Suasananya begitu sepi, sampai-sampai sulit
dipercaya bahwa tempat ini berada tepat di sebelah Stasiun Tsunanagai. Namun,
dari bangku plastik yang terpasang di peron, pemandangan laut luas membentang
melewati jalur rel kereta. Karena jadwal kereta berikutnya masih lama, kami pun
duduk di sana sembari meminum sisa minuman bersoda kami sedikit demi sedikit.
“Ngomong-ngomong,
aku sudah mencoba membuat spesimen herbarium.”
Iwama
tiba-tiba membuka percakapan.
“Bunga
katakuri?”
“Iya.”
Aku
teringat kembali hari saat kami pergi melihat sakura dulu, ketika aku
menyerahkan bunga katakuri yang kugali kepada Iwama. Seandainya saja aku
memberikan dalam bentuk buket mungkin masih mendingan, namun bunga katakuri itu
kuberikan lengkap bersama umbi lapisnya yang masih berlumuran tanah di dalam
kantong plastik kresek bekas minimarket. Sampai sekarang aku terkadang masih
menyesali tindakan konyolku itu.
“...Ternyata
tidak kamu buang, ya.”
“Eeeh?
Mana mungkin kubuang! Daripada dibuang, lebih baik kumakan saja.”
Bukan
kekhawatiran semacam itu yang kumaksud. Iwama menatap heran ke arahku yang
refleks tertawa.
“Maaf.
Aku sempat berpikir jangan-jangan ka,u merasa terganggu karena diberikan benda
seperti itu oleh orang yang baru pertama kali bertemu.”
“Sama
sekali tidak terganggu, kok. Setelah itu aku sempat mencobanya sendiri, tapi
ternyata menggali akar bunga katakuri itu sulit sekali... Aku jadi kagum pada
Del-chan yang bisa menggalinya dengan begitu mudah.”
Sebenarnya
ada triknya sendiri, namun kurasa menjelaskannya di sini adalah hal yang tidak
perlu.
“Aku
merasa terhormat jika bisa membantu.”
“Iya.
Terima kasih ya.”
Iwama
memandangi laut selama beberapa saat, lalu sedikit menolehkan wajahnya ke
arahku.
“Apa
Del-chan tahu bahasa bunga dari katakuri?”
“...Tidak,
aku tidak tahu.”
Baru
setelah mengatakannya aku tersadar. Bukannya tindakan bodohku waktu itu bisa
diartikan bahwa aku telah memberikan bunga kepada Iwama? Meskipun artinya bukan
kesengsaraan sampai tujuh turunan, memikirkan jika ada makna bahasa bunga yang
aneh saja sudah membuatku merinding.
“Anu,
maaf, aku sama sekali tidak memikirkan hal-hal seperti makna bahasa bunga saat
itu.”
“Tentu
saja aku tahu. Aku sudah menduganya, kok.”
Iwama
terkekeh pelan, lalu, “Bertahan dalam kesepian.”
Perkataan
itu diucapkannya dengan lambat, seolah sedang meresapi setiap maknanya.
“Jadi
itu makna bahasa bunga dari katakuri?”
“Iya.
Selama delapan tahun sejak berkecambah, katakuri hanya melebarkan daunnya di
musim semi, lalu menghabiskan waktu dengan menyimpan nutrisi di dalam tanah. Dari
musim panas hingga musim dingin, katakuri berada di dalam tanah. Jika tidak
memekarkan bunga, serangga tidak akan datang, dan tidak ada yang mau
meliriknya. Menurut salah satu teori, cara hidup katakuri yang terus bertahan
dengan sabar hingga memekarkan bunga itulah yang menjadi asal-usul dari makna
bahasa bunga ini.”
“Begitu
ya, kalau begitu itu...”
“Ilmiah!”
Aku
tidak berniat memancingnya, namun entah kenapa situasinya malah membuat dia
mengucapkan kata itu.
“Makanya
aku merasa senang, dalam artian itu juga.”
“...Apa
maksudmu?”
Iwama
sedikit bimbang sebelum berbicara, lalu membuka mulutnya dengan malu-malu.
“Pikirku,
ah, dengan begini, apakah akhirnya aku pun bisa memekarkan bunga?”
“Kereta
akan segera...” suara pengumuman stasiun mulai berkumandang, membuatku
kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Namun, hal itu mungkin justru terasa
pas.
Aku
teringat kembali kalimat yang tertulis pada ema yang sempat kulihat sebelum
mengenal Iwama.
“Semoga
di SMA nanti, aku bisa menjalaninya dengan baik.”
Mengingat
dia sampai menulis kata di SMA nanti, berarti pasti ada sesuatu yang tidak bisa
dia jalani dengan baik sebelumnya.
Di
masa SMP dulu, Iwama pasti sempat merasakan pengalaman yang pahit. Sesuatu yang
setara dengan masa delapan tahun di dalam tanah yang dilalui oleh katakuri
pasti ada di masa lalunya. Namun, keberanian untuk menggali hal tersebut
kembali, belum dimiliki oleh diriku yang sekarang.
“Mari
kita berjuang ya.”
“Iya!”
Hanya
itulah yang bisa kuucapkan.
Suara
gemeretak roda kereta mulai terdengar. Menyusuri jalur rel di sepanjang tepi
pantai, kereta akhirnya datang.
Permukaan
laut yang berwarna biru pekat berkilau dengan riang di bawah langit biru.
Hari
ini tampaknya aku bisa pulang selagi hari masih terang.