Bab 4: Hilangnya Lorenz
Konrad
Lorenz, ahli etologi asal Austria, sangat terkenal sebagai penemu imprinting, fenomena di mana anak unggas
air akan mengikuti benda bergerak pertama yang mereka lihat. Foto dirinya yang
hanya memperlihatkan kepala menyembul dari permukaan danau sementara
dikelilingi angsa abu-abu yang mengutak-atik rambutnya dari kiri dan kanan
bahkan sering dimuat di dalam buku teks biologi.
Tanpa
mengkhianati kesan dari foto itu, kabarnya dia memang orang yang sangat
nyeleneh. Ah, mungkin tidak sopan menyebut seorang peneliti pemenang Nobel
sebagai orang nyeleneh. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa dia menjalani
hidup dengan cara yang unik dan teguh pada prinsipnya sendiri.
Dalam
mengamati perilaku, Lorenz tidak suka mengurung hewan-hewan di dalam jeruji
atau kandang. Karena itu, dia membiarkan burung hingga monyet berkeliaran bebas
di dalam rumah dan sekitarnya. Tentu saja, sebagai konsekuensinya, kehidupan
pribadinya menderita kerugian besar. Namun kabarnya, dia menceritakan hal itu
dengan nada ceria dan penuh kebanggaan.
Meski
tidak seekstrem itu, gadis yang bernama Karato Roura ini jelas-jelas orang yang
nyeleneh.
Katanya
orang tuanya mengelola klinik hewan. Karena rumahnya penuh dengan hewan-hewan
yang diselamatkan, seragamnya selalu dipenuhi bulu. Bukan hanya itu. Rambutnya
berantakan dan diikat asal-asalan. Kacamata berbingkai hitamnya retak di
sana-sini. Bukannya dia kotor, tapi hanya dalam sekali lihat orang akan
langsung tahu, “Ah, orang ini bukan sembarang orang.”
Aku
baru tahu belakangan kalau rambutnya terasa kaku karena di rumahnya tidak ada
sampo untuk manusia. Katanya, dia tidak bisa mandi bersama hewan-hewan jika
menggunakan sampo biasa. Dia juga sudah menyerah untuk membeli kacamata baru
karena sahabatnya, seekor kakatua raja, sering bertengger di bahunya dan
mengunyah kacamatanya.
Hari
Senin, seminggu setelah agenda jalan-jalan itu, akhirnya jadwal kegiatan resmi
ditetapkan melalui Tokumura-sensei. Karato-senpai muncul begitu saja di laboratorium
biologi tempat aku, Mizusaki, Kannabi, dan Iwama menunggu.
Muncul
begitu saja adalah ungkapan yang sangat tepat. Kalimat pertama yang dia ucapkan
saat membuka pintu sungguh mengejutkan.
“Eh,
siapa...?”
Sambil
berpikir bahwa tidak seharusnya dia bertanya “siapa?” kepada anggota baru, kami
masing-masing memperkenalkan diri.
Senpai
mendengarkan sambil mengangguk-angguk dengan mata yang memiliki lingkaran hitam
besar di bawahnya yang tampak melebar.
“Ooh,
intinya aku tinggal mengajari kalian cara mengurus hewan-hewan ini saja, ‘kan?
Ini berat, tapi semangat ya. Namaku Karato. Kalian tidak perlu memberiku makan,
tapi kalau diberi ya akan kuterima. Aku pemakan segalanya, kok,” ucapnya dengan
nada datar tanpa emosi. Kali ini giliran kami yang membelalakkan mata.
Mengingat
klub biologi ini hanya menyisakan satu orang anggota, aku sudah mempersiapkan
diri sampai batas tertentu. Aku dan Mizusaki sudah sepakat untuk sebisa mungkin
menangani segalanya sendiri. Namun, aku tidak menyangka akan disambut dengan
sikap acuh tak acuh tanpa kata selamat datang, dan langsung dipasrahi tugas
merawat hewan sejak awal.
Lagipula,
karena aku sendiri yang memperkenalkan Iwama, aku sungguh ingin menghindari
kesalahan di sini.
Tanpa
menunggu jawaban kami, Senpai langsung berjalan cepat ke arah belakang kelas.
Dari area tempat akuarium dan kandang yang berjejer berantakan, dia membawa
hewan-hewan dengan terampil dan meletakkannya di atas meja panjang sesuai
jenisnya.
“Hewannya
banyak, tapi pada dasarnya tugas kalian ada tiga. Memberi makan, membersihkan,
dan mengeluarkannya jika diperlukan. Yah, yang perlu dikeluarkan cuma sebagian
kecil saja, jadi tidak usah dipikirkan sekarang.”
“Halo!”
“Iya,
iya, halo juga,” jawab Senpai ke arah kandang.
Setelah
memastikan pintu geser di depan, pintu menuju ruang persiapan, pintu ke taman,
dan jendela kaca sudah tertutup rapat, dia membuka kandang tersebut. Seekor
parkit cantik berwarna biru muda dan putih terbang keluar dan bertengger manis
di lengan baju Senpai. Seekor parkit budgie.
“Ini
Rot-Gelb. Panggil saja Ro-chan. Meskipun betina, dia cerewet sekali. Saat jam
pelajaran, Tokumura-sensei akan memasukkannya ke ruang persiapan. Awalnya dia
dibiarkan di sini saat jam pelajaran, tapi setelah melihat eksperimen pembuahan
bulu babi, dia mulai sering mengoceh soal sperma dan sel telur saat sesi teori
di kelas. Ayo, sapa mereka?”
“Sel
telur...”
Benar-benar malang sekali burung ini.
“Dia
mungkin makhluk paling cerdas di ruangan ini. Jadi, ajaklah bermain sesekali.
Hanya saja, dia bisa terbang dalam jarak pendek, jadi kalian harus benar-benar
memastikan dia tidak kabur. Jangan keluarkan dia dari kandang tanpa seizinku
saat aku tidak ada. Tentang makanan atau bersih-bersih... seharusnya tertulis
di kertas di suatu tempat, jadi tolong dibaca saja nanti.”
Kuliah
mendadak tentang cara merawat hewan pun dimulai. Kami sempat dibuat tercengang,
namun melihat si burung parkit yang menggerak-gerakkan lehernya dengan riang,
perasaan kami tidaklah buruk.
“Anu,
Senpai,” potong Iwama.
“Hmm?
Ah, Gadis Kuncir Kuda. Ada pertanyaan?”
“Burung
itu warnanya biru muda, tapi kenapa namanya Rot-Gelb?”
Kukira
dia akan bertanya soal cara merawat hewan, ternyata dia malah mengomentari soal
nama. Aku pun memikirkan hal yang sama saat Tokumura-sensei memperkenalkannya
dulu. Rot adalah bahasa Jerman untuk merah, dan Gelb berarti kuning.
Benar-benar tidak ada yang cocok dengan burung parkit biru muda itu.
“Oh,
itu ya. Dulu ada burung jantan bernama Gelb-Grun, tapi dia sudah mati. Burung
itu parkit warna kuning dan hijau. Nah, burung ini dinamai Rot-Gelb untuk
mengenang burung itu.”
Jawaban
yang sama sekali bukan jawaban. Mungkin itu semacam kutipan dari sesuatu?
Seolah
sudah merasa cukup menjelaskan, Senpai pindah ke meja panjang di sebelahnya
dengan si burung parkit tetap bertengger di lengan bajunya.
“Nah,
kalau yang ini Jou no Uchi. Kelihatan tidak?”
Kami
mendekat setelah dipanggil oleh lambaian tangannya. Di dalam kandang itu,
tumpukan kertas koran yang disobek kecil-kecil memenuhi seluruh dasarnya.
Kandang tersebut dilengkapi dengan wadah makanan, botol minum, dan roda putar.
Sosok Jou no Uchi sendiri tidak terlihat, mungkin sedang bersembunyi di balik
tumpukan koran.
“Jou-no-uchi?”
Iwama memiringkan kepalanya, dan Karato-senpai menjawab dengan santai.
“Sepertinya
artinya ‘Di Dalam Istana’. Aku tidak tahu kenapa dia diberi nama begitu.”
Melihat
ada roda putar, aku sudah tahu dia hewan apa, tapi aku merasa perlu memberikan
penjelasan tambahan.
“Itu
nama seekor hamster.”
“Ah,
begitu rupanya!”
“Ya.
Hamster syrian. Hewan terbaik yang diciptakan Tuhan demi para pencinta hewan
malang di perkotaan. Mereka lucu, cerdas, dan yang terpenting, mudah dipelihara.
Ah, benar juga. Bagaimana kalau hari ini kalian saja yang mengurus anak ini?”
“Ide
bagus. Kami akan melakukannya!”
Mizusaki
tampak sangat bersemangat. Padahal seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk
merasa keberatan, tapi karena Karato-senpai juga seorang perempuan, sepertinya
mode merak Mizusaki sedang aktif.
“Oh,
syukurlah kalau begitu. Mengurusnya sederhana saja, kok. Keluarkan Jou no Uchi,
bersihkan kandangnya, masukkan sobekan kertas koran yang baru, lalu ganti
makanannya. Detailnya seharusnya tertulis di kertas di suatu tempat. Kalau
kalian baca itu, kurasa kalian bisa mengurus hampir semuanya sendiri.
Hewan-hewan air pun pada dasarnya tinggal diberi makan saja. Penggantian filter
atau kerikil tentu saja ada, tapi kurasa cukup dilakukan sesekali saja...”
Aku
merasa kami tidak akan sanggup mengingat semuanya jika hanya dijelaskan secara
lisan.
“Kertas
yang Senpai maksud itu, apakah bisa kami minta?”
Saat
aku bertanya, Senpai dan Rot-Gelb menatapku dengan ekspresi yang sangat mirip.
“...Maksudku,
jika kami melihat kertas itu terlebih dahulu, mungkin segalanya akan berjalan
lebih lancar.”
“Hmm,
masuk akal. Tunggu sebentar ya, nanti kuberikan semuanya.”
Sambil
bicara, Senpai membiarkan Rot-Gelb bertengger di bahunya lalu membuka kandang Jou
no Uchi. Dengan gerakan tangan yang terbiasa, dia menggali tumpukan koran dan
meletakkan hamster itu di atas meja panjang dengan santai.
Mungkin
karena masih mengantuk, hamster itu duduk tegak dengan bagian belakangnya dan
melihat ke sekeliling seperti peri bola nasi. Selain warna cokelat keemasan
yang sesuai dengan namanya, ada campuran warna hitam dan putih yang membuatnya
terlihat seperti pola kucing belang tiga.
“Aku
akan mengambil kertas panduannya, jadi tolong awasi anak ini. Aku menjamin kalian
tidak akan bosan melihatnya.”
Senpai
pun hendak beranjak dari meja panjang tersebut. Mizusaki buru-buru
memanggilnya.
“Eh,
anu, permisi!”
“Ada
apa, Pemuda Rambut Coklat?”
“Apa
dia tidak akan kabur jika dibiarkan begitu saja di atas meja?”
Jou
no Uchi sepertinya baru tersadar sepenuhnya dan mulai berjalan pelan di atas
meja panjang.
“Jangan
khawatir. Mereka pintar, jadi mereka pasti akan berbalik arah setiap kali
mendekati pinggiran meja.”
Senpai
terus berjalan menuju lemari di bagian belakang kelas, lalu mulai mengaduk-aduk
laci dengan Rot-Gelb tetap bertengger di bahunya.
Karena
disuruh mengawasi, kami pun duduk mengelilingi meja panjang tempat Jou no Uchi
berada. Melihat hamster yang bergerak lincah ke sana kemari itu memang cukup
lucu. Meski kurasa kami akan bosan juga setelah melihatnya selama beberapa
menit.
“Kebiasaan
yang praktis ya, tidak mau turun dari meja. Jadi dia tidak akan kabur kalau
begini,” ucap Mizusaki dengan kagum.
Kannabi
bergumam pelan, “Persis seperti para siswa SMA malang yang terkurung di
lingkungan sekolah.”
Dilihat
dari sudut pandang mana pernyataan itu?
“Terkadang
memang ingin rasanya melompat keluar, tapi sekolah adalah tempat yang
benar-benar tidak bisa kita tinggalkan begitu saja,” sahut Iwama. Aku tidak
menyangka Iwama menyimpan keinginan seperti itu di dalam dirinya.
Sambil
mengobrol santai, kami memandangi Jou no Uchi yang tertawan di atas meja
panjang. Dia bergerak lincah ke sana kemari, namun benar saja, begitu sampai di
pinggiran meja dia langsung berbalik. Sepertinya dia benar-benar paham bahwa
jatuh dari sana berbahaya. Makhluk yang cerdik.
“Selain
membagi tugas perawatan, kita juga harus memikirkan apa yang akan menjadi
kegiatan utama kita,” ucapku memulai diskusi.
Iwama
langsung mengangguk paling cepat.
“Aku
ingin mencoba melakukan survei atau penelitian, mungkin mulai dengan meniru
contoh kasus yang pernah dilakukan para senpai sebelumnya.”
Iwama
memang belum menyerahkan formulir pendaftaran dan hari ini statusnya masih
sekadar mencoba, tapi dialah yang paling antusias. Cara bicaranya seolah dia
sudah resmi menjadi anggota.
Mizusaki
menaruh tangan di dagunya, berlagak sedang berpikir serius.
“Dengan
banyaknya jenis hewan di sini, mungkin kita bisa melakukan penelitian
menggunakan mereka. Ini SMA Tsunanagai yang tersohor, tidak mungkin mereka
memelihara hewan-hewan ini tanpa tujuan.”
“Kalau
hamster, eksperimen labirin ‘kan terkenal. Katanya kemampuan belajar mereka
tinggi.”
“Labirin
palsu...”
Sambil
mengabaikan komentar misterius dari Kannabi, aku pun menimpali.
“Eksperimen
tentang pembelajaran dan kognisi mungkin bisa menggunakan burung parkit juga.
Tapi hamster di sini hanya ada dua ekor termasuk Jou no Uchi, dan parkitnya
cuma satu, jadi kurasa nilai n-nya kurang mencukupi.”
“Mungkin
untuk permulaan tidak apa-apa dicoba dengan sampel yang sedikit. Misalnya,
kalau hanya mengukur kecepatan belajar dalam satu individu, kita mungkin bisa
mendapatkan data yang bermakna dengan mengulanginya beberapa kali.”
“Kausalitas
yang berulang...”
“Benar
sekali!”
Benarkah
begitu...?
“Yah,
tapi aku senang Gamma-san mau datang. Ini benar-benar membuatku tenang.”
Iwama
merespons dengan sedikit terlambat atas panggilan mendadak Mizusaki yang
menggunakan nama julukan ciptaannya sendiri.
“Ah,
aku?”
“Benar,
benar. Lihat saja, kalau nama Iwama-san dibaca pakai metode jubako-yomi, ‘kan
jadinya Gamma-san.”
“Begitu
ya... Jadi sama seperti Delta.”
“Tapi
Delta bukan dibaca pakai jubako-yomi, lho.”
Sebab
baik kanji keluar maupun sawah sama-sama menggunakan kunyomi.
“Sudahlah,
tidak apa-apa. Bukannya ini hebat? Nomor absen berurutan, dan huruf Yunani
kalian juga berurutan?”
“Benar
juga! Mizusaki-kun, kamu pintar sekali memikirkannya.”
“Hehe,
kalau urusan begini sih kecil bagiku.”
Cara
Iwama mengalihkan pembicaraan memang luar biasa. Mizusaki pasti berniat
mengarahkan obrolan ke arah betapa takdirnya pertemuanku dengan Iwama, namun dengan
memuji daya imajinasi Mizusaki, Iwama berhasil menghindari jebakan itu dengan
cerdik.
“Tapi
Gamma-san, kenapa tiba-tiba kamu datang hari ini?”
Mizusaki
yang jalurnya telah digagalkan, kini malah melangkah masuk ke topik yang paling
tidak ingin kusentuh.
Tentu
saja bukannya aku berniat menyembunyikannya mati-matian. Aku hanya belum
menceritakannya saja. Namun, kejadian hari Sabtu kemarin entah kenapa agak
sulit diceritakan kepada Mizusaki. Salah satu alasannya adalah karena Mizusaki
pasti akan mengolok-olok fakta bahwa aku pergi jalan-jalan dengan dua orang
gadis. Tapi yang terpenting, kepergian kami hari Sabtu itu melibatkan hubungan
rumit antara Iwama dan Kannabi yang bersinggungan dengan keterlibatanku yang tidak
kalah rumit, sehingga sulit sekali untuk dijelaskan.
“...Soal
organ hati.”
“Organ
hati?”
Mizusaki
memiringkan kepalanya mendengar kata yang dilontarkan Kannabi. Pola ini rasanya
pernah kulihat di suatu tempat.
“Rio
bilang dia ingin melihat awetan formalin dari organ hati, makanya aku
mengajaknya ke sini.”
Hening
sejenak.
“Eh,
apa aku pernah bilang begitu ya...? Hmm, tapi kalau diingat-ingat, rasanya aku
memang pernah bilang begitu...”
Sudah
pasti dia tidak pernah mengatakannya, namun Mizusaki percaya begitu saja dan
mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
“Sepermya
yang seperti itu tidak kelihatan di sini. Mungkin ada di dalam ruang
persiapan.”
Melihat
obrolan berhasil dialihkan dengan sukses, aku segera mengganti topik.
“Ngomong-ngomong,
apa kertasnya sudah ketemu?”
Kami
berempat menengok ke bagian belakang kelas. Karato-senpai sedang berdiri
membelakangi kami di depan lemari, tangannya bergerak sibuk mengaduk-aduk isi
laci. Rot-Gelb yang berada di bahunya tampak bosan sambil memainkan rambut
Senpai.
“Mau
kami bantu cari bersama?”
Saat
aku berseru, Senpai tersentak dan berbalik ke arah kami. Rot-Gelb bergoyang
dengan riang di bahunya.
“Ah...
tidak, iya, tidak apa-apa. Punya si hamster sudah ketemu, kok.”
Senpai
menutup laci lalu berjalan menghampiri kami. Dia meletakkan selembar kertas
berukuran B5 yang tampak usang di atas meja.
“Maaf
ya. Tadi kubilang mau kuberikan semua, tapi di sana agak berantakan jadi cuma ini
yang ketemu. Sisanya nanti kucari pelan-pelan, jadi untuk hari ini maafkan aku
ya.”
Aku
melihat kertas yang diletakkan itu. Itu adalah sebuah catatan tulisan tangan di
lembar kertas binder. Prosedur perawatan hamster dituliskan dengan rapi,
lengkap dengan ilustrasi dan penggunaan pulpen warna-warni yang pas. Tanggal
yang tertera adalah bulan April empat tahun lalu. Kemungkinan ini disusun oleh senpai
beberapa tahun lalu. Karena sudah sering dipakai, bagian pinggirannya tampak
agak koyak. Di sudut kanan atas, tulisan “Dilarang Membawa Keluar!” yang
ditulis dengan spidol merah terlihat sangat mencolok.
“Ini
resep rahasia yang diwariskan turun-temurun. Sebenarnya lebih baik kalau dibuat
format digital di komputer atau semacamnya, tapi aku paling payah kalau soal
hal-hal digital begitu... Hari ini ayo coba lakukan bersama Kakak. Sebagian
besar caranya sesuai dengan yang tertulis di buku panduan ini, tapi ada
beberapa triknya sendiri.”
Tiba-tiba
aku merasakan kejanggalan. Aku tahu Senpai suka menggunakan gaya bicara yang
aneh, jadi ini bukan karena akhiran katanya yang tidak biasa. Rasanya atmosfer
di sekelilingnya sedikit berubah.
Jika
sebelumnya dia memberikan kesan seperti pegawai paruh waktu tidak niat yang
sedang serah terima pekerjaan, sekarang dia akhirnya terasa seperti seorang
senpai... Singkatnya, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi ramah.
Senpai
mengelus Jou no Uchi sedikit dengan ujung jarinya, lalu membawakan kertas
koran.
“Kalau
begitu, mari kita mulai dari menyobek kertas koran dulu. Ah, si Kacamata bisa
bantu membersihkannya bersama?”
Maka
dari itu, kami berlima mulai mengurus Jou no Uchi.
Sesuai
dengan pengalamannya yang sudah lama mengurus hewan-hewan ini, gerakan tangan
Senpai sangat terampil dan instruksinya pun tepat sasaran.
Mungkin
karena menilai kami berempat sudah bisa melakukannya sendiri, di tengah jalan
Senpai mulai membersihkan kandang Rokujougawara (seekor hamster lainnya) di
meja sebelah.
“Karena
mereka suka tiba-tiba berkelahi sampai tumpah darah, kalau mau mengeluarkan
mereka, pastikan mejanya berbeda dengan Jou no Uchi, ya.”
Sambil
berkata demikian, dia juga mengeluarkan Rokujougawara dari kandang. Rokujougawara
adalah seekor hamster berwarna abu-abu tikus yang ukurannya sedikit lebih kecil
daripada Jou no Uchi. Apakah kurang tepat menggunakan warna abu-abu tikus untuk
menggambarkan seekor hamster?
“Hamster
warna abu-abu tikus...”
Mendengar
Kannabi bergumam pelan seperti itu, aku merasa malu karena ternyata jalan
pikiran kami sama.
Karena
semua tugas sudah tertulis di buku panduan perawatan dan instruksi Senpai juga
tepat, seluruh perawatan yang diperlukan pun selesai tanpa kendala. Selagi
Senpai memberi makan makhluk hidup lainnya, kami ditugasi untuk memberikan camilan
kepada Jou no Uchi dan Rokujougawara.
“Jangan
terlalu banyak memberi kuaci atau biji-bijian ya. Kandungan lemaknya tinggi,
nanti mereka bisa obesitas. Walaupun mereka jarang mau memakannya, sebenarnya
pelet khusus hamster adalah yang terbaik.”
Meskipun
menurutku aneh ada hamster yang tidak suka pelet hamster, kenyataannya memang
persis seperti kata Senpai. Saat diberikan, mereka memang memegangnya, namun tidak
lama kemudian mereka bosan dan membiarkannya begitu saja.
Karato-senpai
menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan cepat, lalu mengembalikan Rot-Gelb
yang sedari tadi bertengger di bahunya layaknya burung peliharaan bajak laut ke
dalam kandangnya.
“Syukurlah.”
“Iya
ya, syukurlah, Ro-chan.”
Berbanding
terbalik dengan arti ucapannya, Rot-Gelb bergumam tidak puas seolah dia masih
ingin berada di luar, namun Senpai mengunci pintu kandangnya menggunakan
pengait karabiner.
“Ah,
aku benar-benar senang. Syukurlah kalian mau bergabung.”
Karato-senpai
mengatakannya sambil tersenyum ke arah kami.
“Sebenarnya
aku tidak punya penyesalan apa pun terhadap klub ini. Kejayaan pasti akan
meredup, ada alasan yang tidak terhindarkan kenapa tempat ini menjadi sepi.
Tapi, meski manusia bisa keluar dari klub biologi, hewan-hewan ini ‘kan tidak
bisa melakukannya.”
Rot-Gelb
menggigiti jeruji kandang seolah dia ingin menyentuh Karato-senpai. Jo no Uchi
dan Rokujougawara berlarian lincah di atas meja panjang. Si kura-kura bernama
Tortoise Huxley entah apa namanya, membuat suara kecipak air seakan
menginginkan sesuatu.
“...Anu,”
Iwama pun membuka suara. “Apakah ada catatan tentang observasi atau eksperimen
perilaku yang menggunakan hewan-hewan ini?”
“Oh,
eksperimen?”
“Jika
hanya merawat makhluk hidup saja, ini tidak bisa disebut sebagai kegiatan klub.
Selain metode pemeliharaan, kami ingin tahu kegiatan apa saja yang pernah
dilakukan di sini.”
Kerja
bagus karena telah menyuarakannya. Kami masuk ke klub biologi, bukan mendaftar
sebagai petugas piket perawat hewan.
Senpai
berpikir sejenak, lalu menepukkan kedua tangannya.
“Ah,
kalau dipikir-pikir, tadi aku baru saja menemukan yang seperti ini.”
Sambil
melangkah kembali ke arah lemari di bagian belakang kelas, Senpai membawa
sebilah papan kayu yang ukurannya sebesar papan catur go.
Di
atas papan itu, bilah-bah kayu tipis ditegakkan untuk membentuk lorong-lorong
yang rumit. Selembar papan akrilik transparan dipasang di bagian atasnya.
Sebuah labirin. Sebuah labirin palsu untuk hewan kecil.
“Itu
labirin hamster?”
“Benar
sekali, Pemuda Rambut Pirang. Kemampuan belajar hamster itu tidak boleh
diremehkan, lho. Kalau Jou no Uchi, dia pasti masih bisa menyelesaikannya tanpa
tersesat.”
Senpai
meletakkan labirin itu di atas meja panjang yang sedang kami kelilingi. Jou no
Uchi yang sedari tadi berkeliaran di atas meja mulai menunjukkan ketertarikan
pada labirin tersebut.
“Oh,
mau dicoba?”
Senpai
mengangkat Jou no Uchi dengan enteng dan meletakkannya di jalan masuk labirin.
Namun, mungkin karena sudah terlalu tua, sebagian dinding luar labirin itu
tiba-tiba runtuh begitu saja dengan mengenaskan. Jou no Uchi malah berjalan
menjauh ke arah yang berlawanan dengan langkah kaki kecilnya.
“Aduh,
kalau begini tidak bisa ya.”
Dia
membuka lemari di samping kelas dan mengambil segulung lakban. Mizusaki
menerima lakban itu sambil sedikit mengerutkan kening, lalu meletakkannya di
samping labirin dan mengintip ke arahku melalui lubang gulungannya.
“Ini
sisanya tinggal sedikit sekali, lho.”
Saat
kulihat, lakbannya memang tinggal sekelumit. Hampir seperti sampah. Jelas tidak
akan cukup untuk memperbaikinya.
“Maaf
ya, mungkin cuma itu saja yang ada di laboratorium biologi sekarang. Harus
minta ke Tokumura-sensei atau OSIS dulu.”
Yah,
lagipula tidak perlu memaksakan diri untuk mencobakan labirin itu hari ini.
Hadiahnya pasti makanan, tapi karena kami sudah memberi Jou no Uchi cukup
banyak camilan, motivasinya untuk menyelesaikan labirin pasti sedang rendah.
Saat
aku sedang berpikir demikian, pintu geser di depan laboratorium biologi
berbunyi klik. Karena pintunya dikunci, pintu itu tidak terbuka dan kembali
digoyang-goyang dengan berisik.
“Ah,
tunggu sebentar!”
Senpai
berlari kecil menuju pintu masuk. Terdengar suara kunci dibuka. Pintu pun
terbuka lebar.
“Eh,
anak kelas satu? Maaf ya, tadi burung parkitnya baru dikeluarkan, jadi dikunci
supaya tidak kabur. Silakan masuk, silakan.”
Bodohnya
aku karena sempat merasa tertarik dan mengira mereka adalah calon anggota baru.
Orang-orang
yang masuk adalah wajah-wajah yang sangat kukenal. Tomare, yang sempat
mencemooh kami di laboratorium fisika saat acara penyambutan klub dulu. Diikuti
oleh dua orang lainnya. Oozawa yang bertubuh kurus krempeng dan tampaknya baru
mewarnai rambutnya menjadi pirang terang setelah masuk SMA, serta Toudo yang
rambut hitamnya tetap berantakan dengan kacamata berlensa tebal. Sejak zaman
SMP mereka bertiga selalu bersama, dan mereka semua masuk klub fisika, membuat
hubungan mereka seperti anjing dan kucing dengan aku dan Mizusaki yang dulunya
anggota klub kimia.
Mizusaki
sering memanggil mereka Trio Ototo yang diambil dari huruf pertama nama
belakang mereka, dan karena kedengarannya konyol, aku pun menyukainya. Kudengar
mereka bertiga sudah mengumpulkan formulir pendaftaran ke klub fisika.
Kedatangan mereka ke sini pasti hanya untuk mengejek kami.
“Apa
kalian tertarik dengan klub biologi?”
Kepada
Karato-senpai yang menyambut mereka dengan ramah tanpa tahu apa-apa, Tomare menggelengkan
kepala dengan cuek.
“Tidak,
kami anak klub fisika. Karena hari ini libur, kami disuruh Mikage-senpai untuk
meninjau situasi klub lain. Klub kimia dan klub biologi.”
“Ah...
begitu ya.”
Dasar
orang-orang tidak tahu malu. Mereka berjalan melewati Senpai dan menghampiri
kami yang sedang mengelilingi Jou no Uchi.
“Uwah,
tikus?”
Toudo
si rambut hitam berkacamata mundur selangkah saat melihat Rokujougawara.
“Bukan
tikus, ini hamster.”
Di
depan Iwama, Kannabi, dan Senpai, sebenarnya aku tidak ingin memicu keributan,
namun kata-kata itu telanjur lolos dari mulutku.
“Sama
saja akhirnya. Aku memang payah kalau soal tikus atau sejenisnya.”
Kalau
begitu tidak usah datang ke laboratorium biologi, dasar Doraemon!, pikirku,
namun karena di sini ada para gadis, tentu saja aku tidak menyuarakannya.
Tomare
si rambut cokelat gondrong melirik Toudo yang menjauh dari meja panjang, lalu
berjalan mendekat ke arah kami.
“Kira-kira
sudah bosan mengutak-atik tabung reaksi, sekarang kamu malah mulai bermain
dengan hamster ya, Delta?”
“Ini
bukan main-main. Hari ini kami hanya sedang diajari cara merawatnya. Kalau
tidak tertarik, cepat pulang saja sana, lalu pergi lakukan interferensi
gelombang atau semacamnya.”
Karena
aku refleks menjawabnya, atmosfer di laboratorium biologi seketika menegang.
“Tidak
apa-apa, ‘kan? Kami datang berkunjung demi menjalin hubungan baik, lho.”
Tomare,
yang gelagatnya sama sekali jauh dari kata ramah, tampak salah tingkah dan
tiba-tiba mencoba menyentuh Jou no Uchi.
“...Dia
menggigit, lho.”
Tiba-tiba
Kannabi membuka suara.
“Hamster
itu, sekali menggigit jarimu, dia tidak akan melepaskannya sampai mati.”
Memangnya
labi-labi apa?
Namun,
efeknya sangat instan. Tomare langsung menarik kembali tangannya dengan wajah
ketakutan. Kemudian, mungkin karena merasa dipermalukan, dia mengedarkan
pandangannya ke sekeliling laboratorium biologi dengan tatapan tajam khas
berandalan.
“Penuh
dengan hewan ya.”
“Tentu
saja, ini ‘kan laboratorium biologi. Malah aneh kalau adanya garpu tala.”
Sambil
mengabaikan candaan Mizusaki, Tomare menatap tajam ke arahku. Tatapan ini
adalah tatapan yang digunakannya saat ada sesuatu yang ingin dia sampaikan
padaku. Tatapan yang enggan dia suarakan, namun terpaksa dia lakukan karena
menganggapnya demi kebaikanku.
“Kamu
tahu tidak, Delta? Ada alasan kenapa klub biologi ini bisa menjadi sepi semacam
ini.”
Aku
sempat berpikir berani sekali dia bicara begitu di depan senpai klub biologi,
namun aku penasaran dengan alasan yang dia maksud. Aku tidak memotong
kalimatnya dan hanya membalas tatapan tajam Tomare.
“Empat
tahun lalu, kegiatan klub dibatasi dengan ketat, namun perawatan makhluk hidup
tetap harus dilanjutkan oleh seseorang. Itu seperti mendapat ampasnya saja. Jumlah
anggota baru merosot tajam, dan kalaupun ada yang masuk, katanya hanya
orang-orang pencinta hewan saja. Akibatnya, klub biologi sempat dicemooh
sebagai komunitas pencinta hewan, dan orang-orang yang seharusnya masuk ke klub
biologi malah beralih ke tempat lain.”
Setelah
melontarkan kalimat panjang itu sekaligus, Tomare tampaknya baru teringat akan
keberadaan Karato-senpai.
Apa
dia mendengarnya dari Mikage-senpai? Cerita itu terasa memiliki dasar yang
kuat. Namun, bukan berarti itu adalah hal yang pantas dibicarakan di tempat
ini. Melalui sudut mataku, aku melihat Karato-senpai bergerak sedikit, namun
aku tidak sanggup menatapnya langsung.
Saat
aku membuka mulut untuk membalas, Tomare menghentikanku dengan isyarat tangan.
“Kalian
bebas mau masuk klub mana saja... tapi, jangan sampai kalian menjadi manusia
yang membosankan.”
Seolah
sudah puas setelah mengatakan itu, dia berbalik arah dan pergi begitu saja.
Benar-benar
perhatian yang tidak perlu.
Toudo
sepertinya ingin segera menjauh dari hewan-hewan kecil itu secepat mungkin,
jadi dialah yang paling pertama menuju pintu keluar. Oozawa si rambut pirang
kurus yang sedari tadi terdiam tampak menundukkan kepala dengan canggung
sebelum mengekor di belakangnya.
Pemuda
berambut pirang itu tiba-tiba menghilang dari pandanganku.
Hampir
di saat yang bersamaan, terdengar suara dentangan keras yang menggema dari arah
sana. Suara seperti tumpukan peralatan kaca yang pecah berkeping-keping. Kami
pun buru-buru bangkit berdiri dan bergegas menuju ke arah sumber suara.
Ternyata
Oozawa terjatuh. Mengingat dia memang tipe orang ceroboh yang sering jatuh
karena berjalan tanpa melihat langkahnya, hal itu tidak masalah, namun
tampaknya dia baru saja tersandung ember yang berisi peralatan kaca yang sudah
retak. Ember berwarna biru muda dengan tulisan “Sampah Anorganik” tampak
terguling, dan serpihan kaca berserakan di sekelilingnya.
“Aduh,
duh, duh, duh...”
“Hei,
apa-apaan yang kamu lakukan, bodoh.”
Tomare
membantu Oozawa berdiri dengan wajah dongkol. Oozawa mengusap kedua tangannya
yang tampak kesakitan.
“Kamu
tidak apa-apa...? Tidak kena kaca, ‘kan?”
Iwama
yang baik hati langsung bergegas mendekat paling pertama.
“Ah,
e-eh, t-tidak... mungkin. Maaf,” berhadapan dengan Iwama, telinga Oozawa
memerah padam dan dia mendadak gagap. Dasar cowok yang mudah ditebak.
Aku
menghampiri lokasi tempat kaca berserakan, lalu mendirikan ember yang terguling
tadi.
“...Bersihkan
ini sampai bersih sebelum pergi.”
“Aku
juga tahu tanpa kamu beri tahu.”
Tomare
menjawab dengan ketus, lalu berbalik menghadap Karato-senpai.
“Maaf.
Boleh kami pinjam sapu?”
“Ah,
sapu...? Boleh, ada di dalam lemari alat kebersihan di belakang.”
Tomare
dan Oozawa pergi mengambil sapu di loker yang ditunjuk Senpai, sementara Toudo,
Mizusaki, dan aku memunguti serpihan kaca yang berukuran agak besar. Iwama pun
ikut berjongkok di sampingku.
“Ah,
tidak, tidak usah, Gamma-san dan yang lain tidak perlu repot, biar kami saja
yang bereskan.”
“Tidak
apa-apa. Biarkan aku membantu.”
Akhirnya
Kannabi pun ikut membantu, ditambah lagi Tomare dan Oozawa yang membawa sapu
serta pengki, membuat proses pembersihan selesai dalam sekejap. Toudo yang
melilitkan lakban di tangannya mengumpulkan serpihan-serpihan kecil yang
tersisa di bagian akhir.
Karato-senpai
hanya berdiri mematung seperti orang linglung sampai ketiga anggota Trio Ototo
itu bergegas pergi dan pintu menutup dengan bunyi klik.
“Maaf
ya, Senpai. Mereka itu teman seangkatan kami waktu SMP... tipe orang yang suka
bicara ketus tanpa merasa bersalah.”
Mizusaki
menundukkan kepala meminta maaf kepada Senpai. Senpai akhirnya tersentak sadar
dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak,
tidak apa-apa, kamu tidak perlu minta maaf. Seleksi alam. Lagipula semua yang
dikatakannya memang benar... Maaf ya.”
“Jangan
begitu, Senpai tidak perlu minta maaf.”
“Rasanya
aku lelah sekali. Bagaimana kalau hari ini kita sudahi saja dan pulang?”
Suasana
menjadi sangat kacau gara-gara Trio Ototo. Tidak ada yang membantah usulan itu.
Yah,
kurasa hari pertama memang biasa seperti ini.
Saat
kami hendak mulai beres-beres.
Kami
menyadari bahwa Jou no Uchi telah menghilang.
“Pasti
salah satu dari mereka bertiga yang membawanya pergi!”
Karato-senpai
tidak sampai berteriak, namun nadanya terdengar sangat tajam.
Jou
no Uchi tidak ada di dalam labirin. Dia juga tidak kembali ke kandangnya.
Di
saat kami lengah dan mengalihkan pandangan, Jou no Uchi lenyap sepenuhnya dari
atas meja panjang bagai menguap begitu saja.
“Apa
ada kemungkinan dia jatuh?”
Mau
tidak mau aku harus menyuarakan pendapat yang berbeda.
“Mereka
bertiga memang orang yang menyebalkan, tapi mereka bukan tipe orang yang
bertindak tanpa akal sehat sampai mencuri seperti itu.”
“Jou
no Uchi tidak akan pernah jatuh dari pinggiran meja. Sama sekali tidak akan.
Aku tahu betul karena akulah yang paling mengenalnya. Lagipula, aku belum
mengenalmu cukup dekat untuk langsung memercayai mentah-mentah penilaianmu
tentang mereka bertiga.”
Memang
benar juga kata-katanya. Saat aku sedang kebingungan mencari kata untuk
membalas, Iwama angkat bicara.
“Anu,
apakah ada kemungkinan dia terkejut karena suara bising? Tadi ember berisi kaca
itu terguling dan menimbulkan suara yang sangat keras. Mungkinkah dia refleks
berlari mendengar suara itu lalu tidak sengaja jatuh dari meja?”
“Tidak,
itu tidak mungkin. Saat mendeteksi ancaman yang tidak terlihat, hamster akan
mematung terlebih dahulu untuk memantau situasi di sekitarnya. Kalau mereka
langsung lari tunggang-langgang, mereka akan mudah ditemukan dan dimangsa oleh
predator, ‘kan?”
Sesuai
dugaan, pengetahuannya tentang perilaku hewan sangatlah mendalam. Penjelasan
Senpai terdengar sangat meyakinkan.
Namun,
ada bagian dari teori Senpai yang masih belum bisa kuterima.
“Senpai
bilang salah satu dari mereka bertiga membawanya pergi, tapi apa memang benar
begitu? Salah satu dari mereka sejak awal ketakutan melihat hamster. Yang
satunya lagi sudah dibohongi kalau Jou no Uchi suka menggigit, jadi dia pasti
tidak akan berani menyentuhnya. Dan orang yang jatuh tadi sedang kesakitan di
kedua tangannya.”
“...”
Tidak
ada bantahan dari Senpai. Aku pun melanjutkan.
“Aku
mengawasi mereka dengan saksama saat mereka keluar dari laboratorium biologi,
dan tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat membawa Jou no Uchi, tidak ada
juga tanda-tanda Jou no Uchi kabur melewati kaki mereka. Jou no Uchi pasti
jatuh dari meja karena suatu alasan dan saat ini masih berada di dalam
laboratorium biologi ini. Mari kita bagi tugas untuk mencarinya.”
Kali
ini argumenku tidak bisa dibantah. Senpai memejamkan matanya sejenak seolah sedang
merenungi kesalahannya, lalu berkata, “...Benar juga ya. Mari kita lakukan itu.
Aku tidak bermaksud menyalahkan kalian, kok... Maaf ya.”
Setelah
itu dia menunduk dengan canggung dan memunggungi kami.
Keheningan
yang tercipta benar-benar terasa sangat mencekam.
Kami
berempat saling bertukar pandang, lalu mengangguk setuju untuk fokus mencari Jou
no Uchi terlebih dahulu.
Untungnya,
laboratorium biologi sudah ditutup rapat sejak awal untuk mencegah Rot-Gelb
kabur. Pintu tempat ketiga orang tadi keluar juga langsung dikunci agar tidak
bisa dibuka dari luar. Pintu yang menuju ke ruang persiapan biologi pun dalam
keadaan terkunci, lagipula ruangan itu kosong dan tidak ada yang akan
membukanya dari arah sana. Menurut Karato-senpai, laboratorium biologi ini sama
sekali tidak memiliki celah kecil, demi mencegah serangga atau hewan kecil dari
luar menyusup masuk.
Singkatnya,
ruangan ini saat ini merupakan sebuah ruangan tertutup rapat tanpa celah bagi
seekor hamster untuk meloloskan diri. Jadi, kecuali Jou no Uchi menggunakan
trik yang sangat cerdik, wajar jika menganggapnya masih berada di dalam
laboratorium biologi ini.
Kami
pun mulai membagi tugas untuk menggeledah laboratorium biologi.
Meja
panjang tempat Jou no Uchi berada dibiarkan apa adanya untuk menjaga keaslian
tempat kejadian perkara. Di atas meja panjang itu hanya ada kandang dan
labirin. Kami sudah memastikan bahwa Jou no Uchi tidak bersembunyi di salah
satu dari kedua benda itu. Kami mulai mencari dari area sekitar meja, lalu
memeriksa bagian dalam tas masing-masing untuk berjaga-jaga, dan secara
bertahap memperluas area pencarian.
Aku
bergeser ke arah bagian belakang laboratorium biologi. Di sana dipenuhi
berbagai barang yang berserakan, sehingga ada banyak sekali tempat bagi seekor
hamster untuk bersembunyi. Untuk saat ini, aku mencoba mengamati lemari
terdekat.
“Tunggu,”
terdengar suara Senpai dari arah belakang. Aku pun berbalik.
“Bagian
itu biar aku saja yang cari. Sebaiknya kamu pergi menemui ketiga orang tadi
untuk menanyakannya secara langsung. Ini hanya untuk memastikan saja.”
“...Maaf,
Senpai, tapi aku tetap tidak berpikir mereka bertiga menculik Jou no Uchi.”
“Kalau
begitu, coba jelaskan bagaimana bisa Jou no Uchi mendadak hilang dari atas
meja?”
Aku
langsung mati kutu. Bagian atas meja pun dalam arti tertentu merupakan area
terisolasi. Bagi seekor hamster, area sekeliling pinggiran meja laksana tebing
yang terjal. Dan kabarnya, dia belum pernah sekalipun jatuh dari sana.
“Ah,
tidak, bukan begitu... Maaf,” Karato-senpai meminta maaf saat melihatku
terdiam.
“Aku
mau ke kamar mandi sebentar. Begitu aku keluar, tolong langsung kunci pintunya
dan lanjutkan pencarian kalian, ya.”
Kemudian
dia berjalan setengah berlari keluar dari laboratorium biologi, meskipun dia
tetap membuka pintunya dengan sangat hati-hati.
“Sekarang...
bagaimana?” ucap Mizusaki, lalu Iwama memegang gagang pintu masuk.
“Untuk
sementara, aku kunci dulu ya.”
Klik.
Dengan begitu laboratorium biologi kembali menjadi ruangan tertutup. Jou no Uchi
seharusnya berada di dalam sini.
Melihat
laboratorium biologi yang bagi seekor hamster luasnya seperti pulau terpencil
ini, aku mengembuskan napas panjang.
“...Mau
bagaimana lagi, kita harus mencarinya dengan sabar.”
“Benar
juga.”
Sambil
menatap lantai papan kayu yang tua, kami mencari dalam diam selama beberapa
saat. Mungkin karena sempat dibersihkan secara besar-besaran pada akhir tahun
ajaran, hampir tidak ada sampah sama sekali, dan sepatu dalam ruangan kami
berdecit-decit, tampaknya karena lantai baru dipoles dengan semacam lilin
pelapis. Jou no Uchi seharusnya tadi makan cukup banyak. Siapa tahu, satu atau
dua butir kotorannya terjatuh di suatu tempat.
“...Kenapa
Jou no Uchi-kun bisa menghilang dari atas meja ya?” gumam Iwama setelah
beberapa saat. Kannabi mengangkat wajahnya.
“Aneh
sekali. Seperti diculik oleh dewa.”
“Sama
seperti Delta, aku juga tidak berpikir kalau mereka bertiga ada hubungannya
dengan ini. Walaupun mereka memang orang-orang yang menyebalkan.”
Tanpa
alasan khusus, aku kembali ke depan lemari di bagian belakang kelas.
“Aku
tidak tahu apakah ada hubungannya, tapi... bukannya gelagat Senpai tadi agak
aneh?”
Mizusaki
mengangguk menyetujui poin yang kulontarkan.
“Iya.
Rasanya seolah dia sedang menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan di sekitar
sana.”
Saat
aku hendak menggeledah tempat ini, dia tiba-tiba menghentikanku. Pasti ada
rahasia di sini, dan rahasia itu berhubungan dengan hilangnya Jou no Uchi...
Yah, kemungkinannya kecil, sih, tapi tidak ada ruginya untuk memeriksa. Aku
membuka laci lemari satu per satu mulai dari bawah.
Kalau
tidak salah, ini adalah lemari tempat Karato-senpai mencari buku panduan
perawatan hewan dan mengambil selembar kertas tadi. Namun secara mengejutkan,
setiap laci ternyata kosong melompong.
“...Ada
yang ketemu?” Iwama sudah berada di sampingku. Aku menggelengkan kepala, lalu
mengambil sebuah binder cincin dari laci paling atas yang kubuka terakhir.
“Cuma
ini yang ada di dalam lemari.”
“Hmm...?
Album foto?”
Aku
menyerahkannya kepada Iwama. Saat arsip tebal itu dibuka, di dalamnya tertempel
banyak sekali foto.
“Oh,
yang ini. Bukannya ini album yang dibuat oleh para lulusan tahun lalu? Tokumura-sensei
pernah memperlihatkannya padaku.”
Mizusaki
dan Kannabi pun ikut mendekat. Iwama membuka halaman demi halaman tebal itu
dengan agak kaku. Di sana terekam jejak klub biologi di masa ketika anggotanya
belum menyisakan satu orang saja.
“Meskipun
jumlah anggotanya sedikit... tapi terlihat sangat menyenangkan ya,” ucap
Kannabi sambil memandangi foto para anggota yang sedang asyik mengobrol di
sekeliling Rot-Gelb.
Menyambut
anggota baru, Ro-chan. Semoga Roura tidak kesepian lagi bahkan setelah libur
musim panas dimulai!
Foto
itu diambil sekitar satu tahun lalu, tepat setelah Golden Week usai. Di halaman
sebelahnya, terdapat foto bersama yang diambil di laboratorium biologi sebelum
libur musim panas, lengkap dengan catatan mengenai pensiunnya para murid tahun
ketiga.
Kudengar
di SMA ini, murid tahun ketiga biasanya mulai fokus belajar untuk ujian masuk
perguruan tinggi di sekitar masa libur musim panas. Paling lambat, mereka akan
pensiun setelah festival budaya pada bulan September berakhir. Tahun lalu, para
senpai di klub biologi sudah pensiun bahkan sebelum musim panas berakhir.
Apakah
itu berarti selama kurang lebih delapan bulan setelahnya, Karato-senpai
mengurus hewan-hewan ini sendirian?
“Sepi
yaaa...”
Suara
Rot-Gelb terdengar dari kandang yang ditaruh di bagian belakang kelas.
Seketika
itu juga, bulu kudukku merinding.
Gumamannya
yang selama ini kuanggap lalu begitu saja tanpa kupikirkan.
Namun,
burung parkit tidak mungkin bisa mengucapkan kata-kata seperti itu jika tidak
ada seseorang yang sering mengajaknya bicara sambil berkata sepi ya.
Rot-Gelb
datang pada bulan Mei tahun lalu. Pensiunnya murid tahun ketiga terjadi pada
bulan Juli.
Artinya,
Karato-senpai ditinggalkan seorang diri, dan dia terus mengajak bicara burung
parkit ini.
Album
di tangan Iwama bergetar kecil. Tangan yang memegangnya tampak gemetar.
“Pasti
rasanya berat sekali... mempertahankan kegiatan klub seorang diri...” Setelah
mengatakan itu, seolah tersentak sadar, Iwama menutup album tersebut dan
mengembalikannya ke dalam laci.
“Kita
harus mencari Jou no Uchi-kun.”
Aku
pun sempat benar-benar teralihkan oleh album itu. Aku memang tidak tahu pasti
kenapa Senpai mencoba menyembunyikan lemari ini, tapi setidaknya, hal ini sama
sekali tidak ada hubungannya dengan kasus hilangnya Jou no Uchi.
Lagipula,
mengingat bagaimana sayangnya Senpai kepada hewan-hewan ini, jika ada sesuatu
yang bahkan sedikit saja berkaitan dengan hilangnya Jou no Uchi, dia pasti
tidak akan menyembunyikannya dari kami.
...Hmm?
Aku
mengeluarkan album itu sekali lagi. Mungkin karena ketebalan halamannya tidak
rata, halaman yang tidak sengaja kubuka justru langsung memperlihatkan lembaran
yang menarik perhatianku.
Jou
no Uchi yang terus berlari. Apakah dia yang memutar mainannya, atau justru dia
yang dipaksa berlari oleh mainan tersebut?
Foto
seekor hamster yang sedang bermain dengan roda putar. Itu adalah foto biasa
yang sangat damai.
Tapi,
foto itulah yang memberikan secercah kilasan ide padaku.
Aku
menatap ke arah meja panjang tempat Jou no Uchi menghilang. Kandang, labirin,
dan... ada satu benda yang kurang!
“Mizusaki,
di mana lakbannya?”
Sambil
meletakkan album di laci yang masih terbuka, aku bergegas berlari menghampiri
meja panjang.
“Hah?
Lakban?”
“Lakban
yang tinggal sekelumit pemberian Senpai tadi! Kamu menerimanya dan meletakkannya
di atas meja, ‘kan?”
“Eh,
kalau diingat-ingat, benda itu memang sudah tidak ada... tunggu, ah! Jadi
begitu maksudmu!”
“Ada
apa sebenarnya?”
Mendengar
pertanyaan Kannabi, wajah Mizusaki seketika berkerut penuh penyesalan.
“Maaf!
Ini semua salahku. Waktu menaruh lakban di meja tempat Jou no Uchi berada tadi,
aku tidak meletakkannya dalam posisi tidur mendatar, melainkan mendirikannya
pada sisi lingkaran tabungnya. Persis seperti roda putar.”
Aku
teringat kembali momen ketika mata Mizusaki menatapku dari balik lubang tabung
lakban tersebut.
Iwama
memekik pelan.
“Jou
no Uchi-kun masuk ke dalam, lalu terus berjalan tanpa melihat ke depan, dan
jatuh bersama lakbannya.”
Aku
mengangguk.
“Benar.
Roda putar tetap diam di satu tempat, tapi tidak begitu halnya dengan lakban.”
“Tapi
di mana lakbannya? Aku sudah memeriksa lantai, tapi tidak ada yang jatuh.”
Kannabi
tiba-tiba menyadari sesuatu dan melangkah menuju tempat sampah. Kemudian dia
memungut gulungan karton bagian dalam lakban tersebut.
“Yang
ini, orang berambut hitam di antara mereka bertiga tadi...”
Mendengar
ucapan itu, aku teringat saat kami membersihkan serpihan kaca tadi.
“...Begitu
ya, Toudo menggunakan lakban yang jatuh itu untuk mengumpulkan serpihan kaca
yang kecil-kecil.”
Kami
bertiga berkumpul di dekat Kannabi. Gulungan karton itu tampak sangat usang.
Dan isinya sudah habis terpakai. Hampir bisa dipastikan, benda inilah yang
diletakkan Mizusaki di atas meja tempat Jou no Uchi berada tadi.
“Apa
ada petunjuk di benda ini? Mau coba tanya Toudo-kun di mana benda ini jatuh?”
“Benar
juga, ayo hubungi...”
“Tunggu,
lihat ini.”
Kannabi
memotong kalimatku.
Apakah
di gulungan karton lakban biasa ini benar-benar ada petunjuk tentang keberadaan
Jonouchi?
“...Meskipun
hanya sedikit, sepertinya ada darah yang menempel.”
Kannabi
menunjuk ke salah satu bagian gulungan karton. Pada karton tebal berwarna
cokelat itu, terdapat noda merah kehitaman yang tampak seperti goresan tipis.
“Apa
itu benar-benar darah? Bisa jadi itu hanya noda tinta yang sudah ada sejak
awal.”
“Mari
kita pastikan!”
Iwama
segera mengeluarkan tisu saku dan mengusap bagian merah kehitaman itu dengan
lembut.
Di
atas tisu putih tersebut, warna merah yang pudar menempel sedikit. Begitu
rupanya. Kemungkinan besar itu darah segar.
Kami
terdiam seribu bahasa selama beberapa saat. Apakah Jou no Uchi terluka saat
jatuh tadi? Karena jumlah darahnya sangat sedikit, mungkin bukan luka parah,
tapi... Kami harus segera menemukannya.
Iwama
berpikir dengan tatapan mata yang serius.
“Tapi...
kalau Jou no Uchi-kun terluka, bukannya sebaliknya kita malah bisa melacak
jejak darahnya?”
“Tidak
bisa, Gamma-san, sulit kalau di lantai seperti ini. Apalagi ini cuma sedikit
darah dari seekor hamster.”
Aku
melihat ke lantai. Harapan yang baru saja sedikit merekah langsung layu
kembali. Lantai kayu dengan corak urat hitam berwarna cokelat tua. Walaupun ada
sedikit darah yang menempel, mustahil bisa terlihat di lantai seperti ini.
“Tentu
saja kalau dicari dengan mata telanjang memang tidak bisa. Tapi, lihat...
secara ilmiah!”
Secara
ilmiah, apakah hal seperti itu mungkin dilakukan?
“Jika
ada bahan kimia di suatu tempat, kita bisa melacak darahnya, ‘kan? Misalnya
reaksi luminol yang juga digunakan dalam investigasi forensik, benda itu bisa
mendeteksi darah meski dalam jumlah yang sangat sedikit.”
“Masalahnya
adalah apakah bahan kimia seperti itu ada di sekolah ini.”
Mengabaikan
poin yang dilontarkan Kannabi, Mizusaki dan aku refleks saling bertukar
pandang.
Biasanya,
pernyataan Iwama akan berakhir sebagai ide yang terlalu mengawang-awang saja.
Namun
bagaimanapun juga, tempat ini adalah SMA Tsunanagai.
Sesaat
setelah Mizusaki berlari keluar dari laboratorium biologi, suara langkah kaki
yang berisik terdengar menggema dari lantai atas. Jangan berlari di koridor.
Karena
anak itu pergi tanpa mengatakan apa-apa, Iwama dan Kannabi masih tampak
termangu heran.
“Ayo
kita tutup gordennya.”
Hanya
itu yang kukatakan. Mizusaki pasti akan segera kembali.
Sesuai
dugaan, tepat ketika gorden selesai ditutup, pintu diketuk dan terdengar suara
Mizusaki berseru, “Buka pintunya!”
Setelah
memastikan Jou no Uchi tidak berada di sekitar kaki kami, aku membiarkan Mizusaki
masuk.
“Luar
biasa, Gamma-san. Idenya bagus sekali.”
Sambil
napasnya tersengal-sengal, Mizusaki menunjukkan sebuah kantong perak kecil
kepada Iwama.
“Itu...?”
Mizusaki
mengeluarkan sebotol semprotan dari dalam kantong perak tersebut. Itu adalah reaktan
pendaran untuk reaksi luminol yang gagal kami dapatkan saat acara penyambutan
klub minggu lalu. Cairan yang dibuat terlalu banyak oleh Hongou-senpai dan
akhirnya tidak terpakai. Beruntung sepertinya cairan itu masih tersisa.
“Eh,
jangan-jangan itu luminol?”
“Iya.
Aku memintanya dari klub kimia.”
Seolah
enggan membuang waktu sedetik pun untuk bicara, dia melangkah mendekati meja
panjang tempat Jou no Uchi berada tadi. Jika lakban itu berguling dan jatuh,
posisinya pasti berada di dekat kursi Mizusaki. Dia berlutut, lalu memberikan
isyarat tangan tanda oke kepadaku.
“Baik.
Aku matikan lampunya ya.”
Aku
memadamkan pencahayaan. Kini satu-satunya sumber cahaya hanyalah seberkas sinar
alami yang menyelinap dari celah gorden. Jika begini, pendaran cahaya sekecil
apa pun di atas lantai tidak akan terlewatkan oleh kami.
“Sifatnya
basa dan seharusnya ada hidrogen peroksida yang larut di dalamnya. Berbahaya
kalau cairannya terkena mata, jadi tolong menjauh sedikit.”
Setelah
berkata demikian, Mizusaki menyemprotkan reaktan pendaran itu ke lantai dari
botol semprotannya.
Semprotan
pertama. Tidak ada yang muncul.
Semprotan
kedua. Masih belum ada hasil. Apakah karena reaktannya sudah terlalu lama?
“...Kalian
sedang melakukan apa?”
Aku
menjawab pertanyaan Kannabi.
“Ini
adalah reaktan yang akan memancarkan cahaya jika terkena darah, seberapa pun
sedikit jumlahnya. Lantai ini baru saja dilapisi lilin pelapis pada akhir tahun
ajaran kemarin. Jika kaki Jou no Uchi terluka dan berdarah, hanya jejak kakinya
saja yang akan menyala.”
Entah
sudah semprotan yang keberapa. Sambil tetap berlutut, Mizusaki terus menekan
botol semprotan dengan keseriusan yang tidak seperti biasanya.
“Uwooo!”
seru Mizusaki lantang.
Saat
aku mendekat dengan hati-hati dan mengintip ke bawah, di atas lantai yang gelap
gulita, tampak sesuatu yang memancarkan pendaran cahaya biru keputihan dalam
bentuk titik-titik kecil. Terlebih lagi, polanya tidak acak. Titik-titik itu
berbaris rapi membentuk sebuah barisan dengan jarak yang hampir selalu sama.
“Bagus!
Menyala!”
Aku
pun refleks ikut berseru.
“Hebat...
Seperti investigasi forensik nyata,” ucap Iwama yang kini telah benar-benar
terpikat, menatap lurus ke arah pendaran di lantai dari jarak yang begitu dekat
hingga bahu kami saling bersentuhan.
Di
dalam laboratorium biologi yang gelap, suara desisan ringan dari Mizusaki yang
menyemprotkan reaktan pendaran menggema lembut. Di tengah kegelapan yang
membentang di bawah kaki kami, jejak-jejak kaki berikutnya mulai menyala satu
demi satu bagai lentera kecil.
Aku
mulai merasa terpesona oleh pendaran cahaya yang sekelumit itu.
Memikirkan
bahwa pengetahuan kimia yang kami kuasai ternyata benar-benar berguna untuk
memecahkan masalah di depan mata.
Ini
benar-benar ilmiah.
Alasan
mengapa bentuk hati kelopak sakura itu rusak. Alasan mengapa usia pohon ginkgo
disembunyikan. Keunikan tidak terduga yang muncul saat mengkaji hal-hal
misterius di sekitar secara ilmiah, aku mulai menyadarinya setelah diajari oleh
Iwama.
Bagi
aku yang selama ini hidup di dunia yang sempit, hal itu benar-benar bisa
disebut sebagai sebuah revolusi Copernicus.
Hingga
saat itu, aku merasa seperti telah memasang semacam sekat pemisah antara
mempelajari sains dan menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, sains sama sekali
bukanlah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi para ilmuwan saja.
Sains
boleh saja digunakan untuk menuntaskan rasa penasaran, dan sah-sah saja dipakai
demi mencapai suatu tujuan.
Apakah
memandang ke bawah ke arah kota tempat tinggalku sendiri dari atas bahu raksasa
adalah hal yang seperti ini?
Suara
semprotan terdengar berdesis secara bersahutan.
Jejak
kaki yang bercahaya itu terus membentang hingga ke bagian bawah bak cuci di
dekat jendela. Tempat itu berupa lemari kecil, dan ada satu sudut yang
tampaknya tidak tertutup rapat sepenuhnya. Mizusaki yang berdiri di depannya
memberikan isyarat kepadaku. Aku pun melangkah menuju pintu masuk laboratorium
biologi dan menyalakan lampu.
Sembari
diawasi oleh Iwama dan Kannabi, Mizusaki perlahan membuka pintu lemari
tersebut.
“Wah,
ketemu!”
Iwama
bertepuk tangan. Kemenangan sains. Kannabi membelalakkan matanya dan
memperlihatkan senyuman senang yang langka.
Di
atas tangan Mizusaki yang bangkit berdiri, Jou no Uchi duduk dengan manis.
Tidak
lama kemudian, Karato-senpai kembali dengan napas terengah-engah saat kami
sedang membersihkan lantai. Waktunya terlalu lama jika hanya untuk buang air,
dan seandainya dia menggunakan toilet terdekat, dia tidak perlu berlari seperti
itu. Sepertinya, dia enggan membuang waktu untuk meyakinkanku dan memilih
mengejar Trio Ototo selaku saksi kunci untuk meminta penjelasan dari mereka.
Namun, karena Senpai tidak menyinggung hal itu sama sekali, aku pun memilih
untuk tidak mengungkitnya.
Begitu
diberitahu bahwa Jou no Uchi sudah ditemukan, mata Senpai berkaca-kaca karena
gembira, dan dia terus mengulang kalimat, “Terima kasih, terima kasih banyak
ya.” Dia sama sekali tidak marah bahkan setelah kami menceritakan soal lakban
dan lukanya. “Syukurlah kalian menemukannya, cuma itu yang terpenting. Benar-benar
terima kasih banyak ya.” Akhirnya, air mata bahkan mengalir dari sudut matanya.
Rumah
Karato-senpai adalah klinik hewan. Senpai menelepon Tokumura-sensei untuk
memberi tahu bahwa dia akan membawa pulang Jou no Uchi hari ini. Katanya
lukanya tidak begitu serius setelah diperiksa. Namun, sepertinya Jou no Uchi
harus fokus beristirahat untuk sementara waktu. Eksperimen labirinnya terpaksa
ditunda.
Jam
pulang sekolah pukul lima sudah semakin dekat.
Tepat
saat kami bersiap untuk pulang, Senpai menyadari laci lemari dalam keadaan
terbuka. Album foto di sana masih tergeletak dalam kondisi terbuka.
“Ah,
memalukan sekali,” ucap Senpai sambil menutup album itu dengan gerakan tangan
yang lembut. “Terkadang aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Padahal
seharusnya aku tidak tertarik pada umat manusia.” Dia menutup lacinya perlahan.
“Ro-chan,
selamat pagi!”
“Iya
ya, Ro-chan, selamat pagi.”
Padahal
hari sudah sore, namun Karato-senpai membalas ucapan burung parkit itu seperti
itu.
“Dulu
para senpai memanggilku dan juga Rot-Gelb dengan sebutan ‘Ro-chan’. Makanya
sampai sekarang, kami saling memanggil Ro-chan,” ucapnya, mungkin untuk
menyembunyikan rasa malu, sebelum kemudian bergumam pelan. “Kalau
dipikir-pikir, kalian berempat ya. Ini pasti bukan kebetulan, dasar anak itu...”
“...Maksudnya
apa, Senpai?”
Menanggapi
pertanyaan Mizusaki, Karato-senpai menggelengkan kepala.
“Bukan,
bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, apa tidak ada kertas atau semacamnya yang
terselip di dalam album?”
“Kertas?
Bagaimana, Gamma-san?”
“Tidak,
aku tidak melihat hal seperti itu... Senpai sedang mencari sesuatu?”
“Ah,
kalau begitu tidak apa-apa. Kegiatan berikutnya hari lusa. Aku harus pergi ke
ruang guru dulu untuk mengambil kunci ruangan ini. Kalian boleh pulang duluan
saja.”
Kemudian
dia menambahkan.
“Para
burung muda, selamat datang di klub biologi.”
Saat
aku setengah berlari kembali ke area pintu masuk, hanya Iwama yang sedang
menungguku.
“Lho,
di mana Mizusaki dan Kannabi?”
“Katanya
ada urusan mendesak, jadi mereka berdua pulang duluan.”
“Hanya
dalam beberapa menit ini? Urusan apa memangnya?”
“Entahlah.”
Setelah
memiringkan kepalanya sedikit, Iwama menambahkan seolah baru teringat sesuatu.
“Rei
bilang, sampaikan ‘dadah’ kepada Del-chan.”
Anak
itu... benar-benar mempermainkanku.
Perkataan
Kannabi jelas-jelas bernada provokasi, dan mana mungkin Mizusaki punya urusan
mendesak secara mendadak. Ini pasti rencana mereka untuk membiarkan aku dan
Iwama pulang berdua. Dalam hal-hal seperti ini mereka berdua tampaknya sangat
kompak. Faktanya, baik dalam kejadian sakura maupun kejadian hari Sabtu
kemarin, mereka berdua sudah melakukan hal yang mirip.
Aku
bersumpah tidak akan pernah memberi tahu mereka kebenaran yang sesungguhnya.
Ya,
kebenaran yang sesungguhnya.
Tadi
kami berempat sudah keluar dari laboratorium biologi dan bersiap untuk pulang
bersama, namun karena ada satu hal yang benar-benar mengganjal di pikiranku,
aku memutuskan kembali sendirian ke laboratorium biologi untuk memastikannya.
Hanya
ada satu pertanyaan.
Apakah
benda yang ingin disembunyikan Senpai benar-benar album foto itu?
“Kalau
cuma album foto, kurasa itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan sampai
segitunya,” yang memicu ini adalah poin yang dilontarkan Mizusaki sebelumnya. “Delta
‘kan sedang mencari Jou no Uchi, tidak seharusnya dia menghentikanmu hanya
karena kamu mendekati lemari. Kalau dia memang tidak mau isi albumnya dilihat,
seharusnya dia mendiamkannya saja. Gara-gara dia menghentikanmu, kita malah
jadi membuka album itu, ‘kan?”
Intinya,
dia menduga ada sesuatu yang jauh lebih mencurigakan yang disembunyikan di
sana.
“Pertanyaannya
tentang apakah ada kertas yang terselip juga terasa aneh jika hanya dianggap
sebagai alasan untuk menutupi rasa malu,” Kannabi pun memiliki pemikiran yang
sama.
Memang
benar, pertanyaan itu terdengar janggal.
Di
sanalah sebuah kilasan ide muncul di kepalaku.
Benda
itu, pasti disembunyikan di tempat tersebut, pikirku.
Aku
menyuruh mereka bertiga untuk menunggu di pintu masuk, lalu memanfaatkan
kesempatan saat Senpai pergi ke ruang guru untuk mengambil kunci demi
memastikan wujud asli benda tersebut di laboratorium biologi. Benda yang persis
seperti dugaanku, disembunyikan dengan cara yang persis seperti dugaanku pula.
Dan
ketika aku kembali, Mizusaki dan Kannabi yang seharusnya menunggu justru sudah
menghilang.
Mau
tidak mau, akhirnya aku harus pulang berdua saja dengan Iwama.
Kami
menuruni jalan turunan yang diapit barisan pohon ginkgo. Daun-daunnya sudah jauh
lebih rimbun dibandingkan saat kami pergi melihat sakura dulu.
Iwama
berjalan tepat di sampingku. Jarak kami begitu dekat. Saat aku mencoba melirik
profil wajahnya dari samping, matahari yang mengambang di langit barat
memancarkan cahaya yang teramat menyilaukan.
“...Sudah
ketemu? Benda yang coba disembunyikan oleh Karato-senpai?”
Mendengar
pertanyaan Iwama, aku mengangguk. Saat aku sedang bimbang apakah boleh
menceritakannya atau tidak, Iwama lebih dulu membuka mulut.
“Buku
panduan perawatan hewan sisanya, ‘kan?”
Ternyata
dia sudah tahu. Kalau begitu tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi. Aku pun
kembali mengangguk.
“Benar.
Kantong transparan untuk menyimpan dokumen pada binder cincin yang digunakan
sebagai album itu berukuran A4. Kertas gambar yang dimasukkan ke dalamnya juga
berukuran A4. Sisi yang tidak ditempeli foto diposisikan saling memunggungi,
dan di sela-sela itulah panduan perawatan hewan berukuran B5 disembunyikan.”
Itu
adalah trik menyembunyikan kertas di antara lembaran kertas.
Karena
aku langsung keluar dari laboratorium biologi begitu memastikan keberadaannya,
aku tidak tahu berapa jumlah total lembarnya. Hanya saja, ada cukup banyak
lembaran yang disembunyikan di dalam kantong album tersebut.
“Pantas
saja aku merasa album itu agak sulit dibalik,” ucap Iwama sambil tersenyum
kecil.
Benar.
Pertama kali kami melihat album itu adalah saat Mizusaki dan aku mengunjungi
laboratorium biologi bersama Mikage Aya. Tokumura-sensei menyerahkannya kepada
kami. Waktu itu, Mizusaki membalik-balik halamannya dengan lancar.
Namun
hari ini, saat Iwama membuka album yang kami temukan di lemari itu,
halaman-halamannya tampak sulit untuk dibalik. Ketika aku mencoba mencari foto
Jou no Uchi pun, ketebalan halamannya terasa tidak rata.
Bentuk
album itu telah berubah.
Hanya
Iwama dan aku, yang benar-benar membuka album itu hari ini, yang menyadari
kejanggalan pada kantong plastiknya.
“Kamu
sudah menyadarinya sejak pertama kali membukanya?”
“...Iya.”
Namun,
dia tidak mengatakannya kepada Mizusaki ataupun Kannabi. Itu adalah sesuatu
yang disembunyikan orang lain, sesuatu yang ingin mereka rahasiakan. Bukan hal
yang patut digembor-gemborkan ke mana-mana. Tapi karena Iwama dan aku sama-sama
mengetahui kebenarannya, kurasa tidak ada salahnya jika kami mendiskusikan hal
itu sampai batas tertentu.
“Saat
aku meminta buku panduan, Senpai pergi mencarinya ke lemari itu. Dia
menghabiskan waktu yang lumayan lama, tapi pada akhirnya hanya menyerahkan satu
lembar saja, hanya buku panduan perawatan hamster. Dia bahkan bilang kalau cuma
itu yang berhasil ditemukannya.”
“Benar.
Tapi menurutku, sebenarnya semua buku panduan itu ada di sana saat itu. Hanya
saja, Senpai berpura-pura cuma menemukan satu lembar, lalu memutuskan untuk
menyembunyikan sisanya.”
“Di
buku panduan itu tertulis ‘Dilarang Membawa Keluar!’. Itulah sebabnya dia tidak
berniat memasukkannya ke dalam tas sendiri untuk dibawa pulang. Dia pun
langsung mencari tempat di dalam laboratorium biologi yang bisa digunakan untuk
bersembunyi dalam sekejap.”
Karato-senpai
dengan patuh berusaha menjaga peraturan yang ditulis oleh senpai-nya di buku
panduan tersebut.
“Iya.
Dan tempat persembunyian yang dipilihnya adalah di dalam album foto itu. Dia
pasti berpikir kalau disembunyikan di sela-sela kantong, dokumen itu tidak akan
ketahuan kecuali terjadi sesuatu yang luar biasa.”
Namun,
Senpai justru melakukan tindakan yang keliru. Karena takut buku panduannya
ketahuan, dia malah menjauhkanku dari lemari tersebut. Tindakan itu justru
sebaliknya membuat kami menaruh curiga. Sebuah kegagalan yang lahir dari
kepolosannya. Saat dia tahu album itu ditemukan dan memastikan apakah ada
kertas yang terselip, itu pasti dilakukannya untuk memeriksa apakah triknya
ketahuan atau tidak, namun hal itu malah memberikan efek sebaliknya.
Masalahnya
adalah dari sini.
“Tapi,
kenapa dia harus melakukan hal seperti itu...?”
Sederhananya,
dia tinggal menyerahkan semuanya kepada kami. Lagi pula, tidak ada hal
mencurigakan yang tertulis di sana. Seharusnya tidak ada alasan bagi Senpai
untuk menyembunyikan buku panduan perawatan tersebut.
Iwama
mengintip dari samping ke arahku yang sedang berpikir, wajahnya tampak sedikit
geli.
“Aku
ingin kamu mendengarkan ini, anggap saja ini cuma khayalan liarku, ya,” Iwama
melanjutkan sembari melangkah pelan.
“Seandainya
saat itu dia tidak hanya menyerahkan buku panduan hamster, tapi juga buku
panduan makhluk hidup lainnya... Senpai mungkin berpikir bahwa dia seolah
sedang melimpahkan seluruh beban perawatan kepada kita.”
“...Ah,
begitu rupanya.”
Kami
adalah anggota baru. Terlebih lagi, ini adalah hari pertama kegiatan resmi
kami. Sebesar apa pun tuntutan untuk mengajari cara merawat hewan, dia pasti
merasa tidak enak jika langsung menyerahkan seluruh buku panduan perawatan
makhluk hidup sekaligus. Namun karena suasananya sudah telanjur mengarah untuk
menyerahkan semuanya, dia membutuhkan alasan untuk hanya memberikan selembar
saja. Karena itulah dia menyembunyikan sisanya.
Itu
adalah bentuk kebaikan canggung khas Senpai, yang berusaha agar perhatiannya
tidak disadari oleh orang lain.
Iwama
masih terus melanjutkan.
“Del-chan,
apa kamu ingat? Di buku panduan hamster itu, tertera tanggal pembuatannya.”
“Kalau
tidak salah, tahun 2020...”
“Benar,
bulan April.”
Empat
tahun lalu. Kami baru saja naik ke kelas enam SD. Namun, aku masih ingat dengan
jelas peristiwa saat itu.
Itu
adalah bulan ketika status darurat nasional diumumkan.
Di
sekitar masa itulah, wajah sekolah dan kegiatan klub berubah secara drastis.
Pada bulan Maret tindakan penutupan sekolah diberlakukan, dan tahun ajaran baru
pun dimulai di tengah situasi yang serbasingkat dan membingungkan. Tepat pada
bulan April itu.
Pasti
ada alasan mengapa Iwama mengungkit masa-masa itu. Aku pun menunggu kalimat
berikutnya.
“Kupikir
itu adalah buku panduan yang dibuat dengan sekuat tenaga oleh murid tahun kedua
dan ketiga pada masa itu. Seperti yang dikatakan oleh temanmu tadi, meski
kegiatan klub dibatasi, perawatan makhluk hidup tetap harus dilanjutkan. Namun,
para senpai tidak bisa membimbing junior mereka secara langsung dengan leluasa.
Karena itulah, buku panduan yang ditulis dengan sangat detail itu lahir.”
Begitu
rupanya.
Buku
panduan yang teramat mendetail seperti itu memang tidak akan pernah tercipta
dalam kegiatan normal yang petunjuknya bisa diwariskan secara lisan.
“Jadi
sejak awal, benda itu bukanlah sesuatu yang lahir dari kenangan yang
menyenangkan, ya.”
“Kurasa
Karato-senpai pun memikirkan hal yang sama. Sejak pertama kali Senpai menerima
kertas-kertas itu.”
Karena
aku bukanlah Mikage Aya, aku mencoba menghitungnya dengan menekuk jari-jariku
satu per satu. Karato-senpai masuk ke SMA Tsunanagai pada bulan April 2022.
Murid tahun ketiga saat itu adalah murid tahun pertama ketika buku panduan
tersebut pertama kali dibuat.
Setelah
benar-benar menghitungnya, aku menyadari betapa cepatnya siklus pergantian
generasi dalam sebuah klub sekolah.
Setiap
bulan April tiba, tidak akan ada lagi orang yang mengingat masa sebelum dua
tahun yang lalu.
Para
murid yang sempat merasakan kegiatan klub sebelum adanya pembatasan sudah lulus
ketika Karato-senpai baru bergabung. Seluruh senpai di atasnya adalah
murid-murid yang berjuang mempertahankan tugas merawat hewan di tengah segala
keterbatasan aktivitas.
Sebagian
besar daya tarik dari kegiatan klub pasti telah lenyap dengan cepat. Fakta
bahwa tidak ada murid tahun ketiga selain Karato-senpai, bahkan tidak ada satu
pun murid tahun kedua, menceritakan realitas tersebut dengan sangat jelas.
Berbeda
dengan klub fisika atau klub kimia, klub biologi tidak berhasil melewati badai
besar itu dengan selamat.
Di
dalam buku panduan perawatan yang tertinggal dalam situasi seperti itu,
kesedihan mendalam selama empat tahun telah meresap kuat.
Bagi
Karato-senpai, benda itu mungkin terasa seperti lambang kemunduran dari klub
biologi.
“Makanya,
menurutku alasan Senpai tidak menyerahkan buku panduan itu kepada kita adalah
sebuah bentuk pernyataan sikap. Sebuah tekad bahwa dia tidak akan membiarkan
murid tahun pertama yang baru bergabung mengalami hal yang sama lagi, sebuah
pernyataan tekad.”
Apakah
memang begitu? Apakah Karato-senpai benar-benar berpikir sejauh itu?
Yah,
seperti yang dikatakan Iwama sendiri, ini hanyalah kelanjutan dari sebuah
khayalan belaka.
“Mungkin
saja,” hanya itu yang kupilih untuk kuucapkan. Kalaupun tebakan ini salah,
tidak akan ada pihak yang dirugikan.
Kami
keluar di area pertokoan pusat yang ramai oleh orang-orang yang berbelanja di
waktu sore. Tanpa kusadari, aku telah melewati jalan simpang menuju rumahku
sendiri. Aku malah terus mengekor di belakang Iwama, berjalan sia-sia menuju
arah stasiun. Rasanya sangat canggung jika baru sekarang aku menyatakan bahwa
aku salah jalan. Dibandingkan harus berbalik arah, rasanya lebih baik sekalian
saja aku pergi sampai ke stasiun.
Di
saat aku sedang memikirkan hal itu dengan tatapan kosong, Iwama berujar dengan
penuh semangat.
“Mari
kita berjuang bersama!”
Sepasang
matanya memantulkan cahaya senja, berkilau dengan pancaran tekad yang kuat.
“Klub
biologi, kalau kita yang melakukannya, aku yakin kita pasti bisa
membangkitkannya kembali. Jadi, mari kita berjuang.”
“...Benar
juga. Mari kita berjuang bersama,” karena merasa hanya mengulang kata-katanya
saja tidak cukup, aku menambahkan, “Mohon bantuannya, ya.”
“Aku
juga, mohon bantuannya.”
Meskipun
itu adalah interaksi yang hanya mengulang kata-kata biasa, entah kenapa rasanya
agak menggelitik bagi kami berdua.
Aroma
kaldu dashi tercium samar dari saluran pembuangan udara sebuah kedai makanan
kecil yang kami lewati. Perutku mulai terasa lapar.
“Mungkin
saja, ini adalah efek dari bunga sakura waktu itu,” karena Iwama tiba-tiba
mengatakan hal seperti itu, aku salah mengatur napas dan tersedak air liurku
sendiri dengan hebat. Aku memalingkan wajah dan membungkukkan tubuhku.
“Ah!
Maaf, maksudku bukan yang aneh-aneh... Itu, lho, kita ‘kan berharap agar awal
kehidupan SMA kita berjalan lancar dan membuat permohonan pada bentuk hati
sakura waktu itu. Maksudku ke arah sana.”
“Tidak
apa-apa. Aku paham kok.”
“Begitu
ya... Tapi tadi kamu tersedak parah sekali.”
“Jangan
khawatir. Ini hal yang jarang tapi sering terjadi.”
“Mau
pakai saputangan?”
Aku
menggelengkan kepala lalu mengeluarkan tisu saku. Akhirnya tenggorokan dan
diafragmaku mulai tenang kembali. Iwama memperhatikan gelagatku itu selama
beberapa saat, sebelum akhirnya dia membuka mulut perlahan.
“...Tapi
benar-benar deh, rasanya seperti sebuah keajaiban ya.”
“Keajaiban?”
Aku
sempat berpikir dia membicarakan sesuatu yang tidak ilmiah, namun Iwama tampak
sama sekali tidak meragukan ucapannya sendiri.
“Iya,
keajaiban. Karena kejadian sakura itu, aku jadi tahu kalau ada teman sepertimu,
Del-chan. Dan karena tahu aku mengagumi teman yang seperti itu, Rei pun ikut
mendorongku... Makanya aku merasa kalau aku boleh melangkah di jalan ini.
Rasanya, aku akhirnya bisa mengambil keputusan sendiri demi diriku.”
Begitu
ya, aku pun mengangguk.
Iwama
memang sempat bimbang. Apakah dia harus mewujudkan sosok diri yang diharapkan
orang lain, atau melangkah di jalan yang ingin dia tempuh sendiri.
Melihat
bunga sakura waktu itu telah menjadi alasan tidak langsung bagi Iwama untuk
memilih jalan yang kedua, mungkin saja begitu.
Senyuman
manis yang pernah dibicarakan itu kini diarahkan kepadaku.
“Aku
benar-benar berpikir begitu, mungkin karena kita melihat sakura pembawa
kebahagiaan itu bersama-sama makanya ada diriku yang sekarang.”
Setelah
mengantarkan Iwama di stasiun, sembari berjalan pulang ke rumah, aku
merenungkan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak hari upacara
penerimaan siswa baru.
Rasanya
aku sudah memecahkan misteri yang teramat banyak.
Bersama
Iwama memecahkan misteri di Kan’oudai dan menemukan bentuk kelopak sakura yang
sesuai dengan legenda.
Memecahkan
misteri ajakan masuk klub yang direncanakan oleh Mikage, lalu memutuskan untuk
masuk ke klub biologi bersama Mizusaki.
Diajak
oleh Kannabi untuk memecahkan misteri pohon ginkgo, yang kemudian berujung pada
ajakan kepada Iwama untuk masuk ke klub biologi.
Dan
hari ini, kegiatan klub akhirnya resmi dimulai, dan kami berempat menyatukan
kekuatan untuk menyelesaikan misteri hilangnya Jou no Uchi.
Meskipun
awal mulanya dipenuhi oleh misteri, namun berkat rangkaian kejadian yang sangat
pas itulah makanya ada masa sekarang.
Awal
kehidupan SMA yang berjalan lancar, sakura di gunung belakang itu mungkin
memang benar-benar telah mengabulkan permohonan kami.
Bentuk
kebahagiaan yang tahun ini hanya ditemukan oleh Iwama dan aku saja.
Bentuk
hati berwarna merah muda pucat yang tidak bisa ditemukan oleh siapa pun selain
kami.
...Hmm?
Ada
sesuatu yang mengganjal di sudut kepalaku. Hanya sebuah kejanggalan kecil,
namun jelas terasa aneh.
Pada
hari ketika kami melihat bentuk hati itu, kenapa kata-kata seperti itu bisa keluar
dari mulut orang itu...?
Begitu
rasa curiga mulai muncul, aku pun mulai menyadari bukti fisik lain yang sangat
mengindikasikan keterlibatan sosok tersebut.
Begitu
pula dengan rumus matematika itu. Juga dengan posternya.
Lalu,
ah, jadi yang waktu itu maksudnya begitu...
Bagai
bola salju yang menggelinding, kecurigaanku pun semakin membesar.
Aku
bisa saja menganggap semua ini berkat kekuatan sihir dari bunga sakura. Bahwa karena
kami melihat bentuk hati sakura itulah, awal kehidupan sekolah kami bisa
berjalan dengan sangat lancar. Namun, apakah benar-benar tidak apa-apa jika
menganggapnya demikian?
Mizusaki
yang merencanakan masalah sakura. Mikage yang merencanakan masalah kunjungan
klub. Kannabi yang merencanakan masalah jalan-jalan hari Sabtu kemarin.
Padahal
mereka bertiga seharusnya sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya, namun
tindakan mereka masing-masing telah berkontribusi hingga kami berempat bisa
berkumpul sebagai anggota baru di klub biologi.
Seperti
sebuah keajaiban, persis seperti kata Iwama.
Namun,
seandainya semua itu bukanlah sekadar keajaiban belaka...?
Tentu
saja tidak mungkin dia bisa membaca isi hatiku saat ini, namun di ujung
penyeberangan jalan setelah aku menyeberang, aku menyadari ada seorang gadis
yang sedang menungguku. Saat melihat ke arahku, dia membungkuk memberi hormat
sedikit.
“Bisa
bicara sebentar?”
Dengan
suara rendah dan jernih yang tidak memancarkan emosi sama sekali.
“...Ada
yang ingin kubicarakan dengan Delta-kun.”
Sosok
itu adalah Mikage Aya.