Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

The Science Notes by δ and γ Volume 1: Therefore, the first love has been proven - Chapter 4

Bab 4: Hilangnya Lorenz

Konrad Lorenz, ahli etologi asal Austria, sangat terkenal sebagai penemu imprinting, fenomena di mana anak unggas air akan mengikuti benda bergerak pertama yang mereka lihat. Foto dirinya yang hanya memperlihatkan kepala menyembul dari permukaan danau sementara dikelilingi angsa abu-abu yang mengutak-atik rambutnya dari kiri dan kanan bahkan sering dimuat di dalam buku teks biologi.

Tanpa mengkhianati kesan dari foto itu, kabarnya dia memang orang yang sangat nyeleneh. Ah, mungkin tidak sopan menyebut seorang peneliti pemenang Nobel sebagai orang nyeleneh. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa dia menjalani hidup dengan cara yang unik dan teguh pada prinsipnya sendiri.

Dalam mengamati perilaku, Lorenz tidak suka mengurung hewan-hewan di dalam jeruji atau kandang. Karena itu, dia membiarkan burung hingga monyet berkeliaran bebas di dalam rumah dan sekitarnya. Tentu saja, sebagai konsekuensinya, kehidupan pribadinya menderita kerugian besar. Namun kabarnya, dia menceritakan hal itu dengan nada ceria dan penuh kebanggaan.

Meski tidak seekstrem itu, gadis yang bernama Karato Roura ini jelas-jelas orang yang nyeleneh.

Katanya orang tuanya mengelola klinik hewan. Karena rumahnya penuh dengan hewan-hewan yang diselamatkan, seragamnya selalu dipenuhi bulu. Bukan hanya itu. Rambutnya berantakan dan diikat asal-asalan. Kacamata berbingkai hitamnya retak di sana-sini. Bukannya dia kotor, tapi hanya dalam sekali lihat orang akan langsung tahu, “Ah, orang ini bukan sembarang orang.”

Aku baru tahu belakangan kalau rambutnya terasa kaku karena di rumahnya tidak ada sampo untuk manusia. Katanya, dia tidak bisa mandi bersama hewan-hewan jika menggunakan sampo biasa. Dia juga sudah menyerah untuk membeli kacamata baru karena sahabatnya, seekor kakatua raja, sering bertengger di bahunya dan mengunyah kacamatanya.

Hari Senin, seminggu setelah agenda jalan-jalan itu, akhirnya jadwal kegiatan resmi ditetapkan melalui Tokumura-sensei. Karato-senpai muncul begitu saja di laboratorium biologi tempat aku, Mizusaki, Kannabi, dan Iwama menunggu.

Muncul begitu saja adalah ungkapan yang sangat tepat. Kalimat pertama yang dia ucapkan saat membuka pintu sungguh mengejutkan.

“Eh, siapa...?”

Sambil berpikir bahwa tidak seharusnya dia bertanya “siapa?” kepada anggota baru, kami masing-masing memperkenalkan diri.

Senpai mendengarkan sambil mengangguk-angguk dengan mata yang memiliki lingkaran hitam besar di bawahnya yang tampak melebar.

“Ooh, intinya aku tinggal mengajari kalian cara mengurus hewan-hewan ini saja, ‘kan? Ini berat, tapi semangat ya. Namaku Karato. Kalian tidak perlu memberiku makan, tapi kalau diberi ya akan kuterima. Aku pemakan segalanya, kok,” ucapnya dengan nada datar tanpa emosi. Kali ini giliran kami yang membelalakkan mata.

Mengingat klub biologi ini hanya menyisakan satu orang anggota, aku sudah mempersiapkan diri sampai batas tertentu. Aku dan Mizusaki sudah sepakat untuk sebisa mungkin menangani segalanya sendiri. Namun, aku tidak menyangka akan disambut dengan sikap acuh tak acuh tanpa kata selamat datang, dan langsung dipasrahi tugas merawat hewan sejak awal.

Lagipula, karena aku sendiri yang memperkenalkan Iwama, aku sungguh ingin menghindari kesalahan di sini.

Tanpa menunggu jawaban kami, Senpai langsung berjalan cepat ke arah belakang kelas. Dari area tempat akuarium dan kandang yang berjejer berantakan, dia membawa hewan-hewan dengan terampil dan meletakkannya di atas meja panjang sesuai jenisnya.

“Hewannya banyak, tapi pada dasarnya tugas kalian ada tiga. Memberi makan, membersihkan, dan mengeluarkannya jika diperlukan. Yah, yang perlu dikeluarkan cuma sebagian kecil saja, jadi tidak usah dipikirkan sekarang.”

“Halo!”

“Iya, iya, halo juga,” jawab Senpai ke arah kandang.

Setelah memastikan pintu geser di depan, pintu menuju ruang persiapan, pintu ke taman, dan jendela kaca sudah tertutup rapat, dia membuka kandang tersebut. Seekor parkit cantik berwarna biru muda dan putih terbang keluar dan bertengger manis di lengan baju Senpai. Seekor parkit budgie.

“Ini Rot-Gelb. Panggil saja Ro-chan. Meskipun betina, dia cerewet sekali. Saat jam pelajaran, Tokumura-sensei akan memasukkannya ke ruang persiapan. Awalnya dia dibiarkan di sini saat jam pelajaran, tapi setelah melihat eksperimen pembuahan bulu babi, dia mulai sering mengoceh soal sperma dan sel telur saat sesi teori di kelas. Ayo, sapa mereka?”

“Sel telur...”

Benar-benar malang sekali burung ini.

“Dia mungkin makhluk paling cerdas di ruangan ini. Jadi, ajaklah bermain sesekali. Hanya saja, dia bisa terbang dalam jarak pendek, jadi kalian harus benar-benar memastikan dia tidak kabur. Jangan keluarkan dia dari kandang tanpa seizinku saat aku tidak ada. Tentang makanan atau bersih-bersih... seharusnya tertulis di kertas di suatu tempat, jadi tolong dibaca saja nanti.”

Kuliah mendadak tentang cara merawat hewan pun dimulai. Kami sempat dibuat tercengang, namun melihat si burung parkit yang menggerak-gerakkan lehernya dengan riang, perasaan kami tidaklah buruk.

“Anu, Senpai,” potong Iwama.

“Hmm? Ah, Gadis Kuncir Kuda. Ada pertanyaan?”

“Burung itu warnanya biru muda, tapi kenapa namanya Rot-Gelb?”

Kukira dia akan bertanya soal cara merawat hewan, ternyata dia malah mengomentari soal nama. Aku pun memikirkan hal yang sama saat Tokumura-sensei memperkenalkannya dulu. Rot adalah bahasa Jerman untuk merah, dan Gelb berarti kuning. Benar-benar tidak ada yang cocok dengan burung parkit biru muda itu.

“Oh, itu ya. Dulu ada burung jantan bernama Gelb-Grun, tapi dia sudah mati. Burung itu parkit warna kuning dan hijau. Nah, burung ini dinamai Rot-Gelb untuk mengenang burung itu.”

Jawaban yang sama sekali bukan jawaban. Mungkin itu semacam kutipan dari sesuatu?

Seolah sudah merasa cukup menjelaskan, Senpai pindah ke meja panjang di sebelahnya dengan si burung parkit tetap bertengger di lengan bajunya.

“Nah, kalau yang ini Jou no Uchi. Kelihatan tidak?”

Kami mendekat setelah dipanggil oleh lambaian tangannya. Di dalam kandang itu, tumpukan kertas koran yang disobek kecil-kecil memenuhi seluruh dasarnya. Kandang tersebut dilengkapi dengan wadah makanan, botol minum, dan roda putar. Sosok Jou no Uchi sendiri tidak terlihat, mungkin sedang bersembunyi di balik tumpukan koran.

“Jou-no-uchi?” Iwama memiringkan kepalanya, dan Karato-senpai menjawab dengan santai.

“Sepertinya artinya ‘Di Dalam Istana’. Aku tidak tahu kenapa dia diberi nama begitu.”

Melihat ada roda putar, aku sudah tahu dia hewan apa, tapi aku merasa perlu memberikan penjelasan tambahan.

“Itu nama seekor hamster.”

“Ah, begitu rupanya!”

“Ya. Hamster syrian. Hewan terbaik yang diciptakan Tuhan demi para pencinta hewan malang di perkotaan. Mereka lucu, cerdas, dan yang terpenting, mudah dipelihara. Ah, benar juga. Bagaimana kalau hari ini kalian saja yang mengurus anak ini?”

“Ide bagus. Kami akan melakukannya!”

Mizusaki tampak sangat bersemangat. Padahal seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk merasa keberatan, tapi karena Karato-senpai juga seorang perempuan, sepertinya mode merak Mizusaki sedang aktif.

“Oh, syukurlah kalau begitu. Mengurusnya sederhana saja, kok. Keluarkan Jou no Uchi, bersihkan kandangnya, masukkan sobekan kertas koran yang baru, lalu ganti makanannya. Detailnya seharusnya tertulis di kertas di suatu tempat. Kalau kalian baca itu, kurasa kalian bisa mengurus hampir semuanya sendiri. Hewan-hewan air pun pada dasarnya tinggal diberi makan saja. Penggantian filter atau kerikil tentu saja ada, tapi kurasa cukup dilakukan sesekali saja...”

Aku merasa kami tidak akan sanggup mengingat semuanya jika hanya dijelaskan secara lisan.

“Kertas yang Senpai maksud itu, apakah bisa kami minta?”

Saat aku bertanya, Senpai dan Rot-Gelb menatapku dengan ekspresi yang sangat mirip.

“...Maksudku, jika kami melihat kertas itu terlebih dahulu, mungkin segalanya akan berjalan lebih lancar.”

“Hmm, masuk akal. Tunggu sebentar ya, nanti kuberikan semuanya.”

Sambil bicara, Senpai membiarkan Rot-Gelb bertengger di bahunya lalu membuka kandang Jou no Uchi. Dengan gerakan tangan yang terbiasa, dia menggali tumpukan koran dan meletakkan hamster itu di atas meja panjang dengan santai.

Mungkin karena masih mengantuk, hamster itu duduk tegak dengan bagian belakangnya dan melihat ke sekeliling seperti peri bola nasi. Selain warna cokelat keemasan yang sesuai dengan namanya, ada campuran warna hitam dan putih yang membuatnya terlihat seperti pola kucing belang tiga.

“Aku akan mengambil kertas panduannya, jadi tolong awasi anak ini. Aku menjamin kalian tidak akan bosan melihatnya.”

Senpai pun hendak beranjak dari meja panjang tersebut. Mizusaki buru-buru memanggilnya.

“Eh, anu, permisi!”

“Ada apa, Pemuda Rambut Coklat?”

“Apa dia tidak akan kabur jika dibiarkan begitu saja di atas meja?”

Jou no Uchi sepertinya baru tersadar sepenuhnya dan mulai berjalan pelan di atas meja panjang.

“Jangan khawatir. Mereka pintar, jadi mereka pasti akan berbalik arah setiap kali mendekati pinggiran meja.”

Senpai terus berjalan menuju lemari di bagian belakang kelas, lalu mulai mengaduk-aduk laci dengan Rot-Gelb tetap bertengger di bahunya.

Karena disuruh mengawasi, kami pun duduk mengelilingi meja panjang tempat Jou no Uchi berada. Melihat hamster yang bergerak lincah ke sana kemari itu memang cukup lucu. Meski kurasa kami akan bosan juga setelah melihatnya selama beberapa menit.

“Kebiasaan yang praktis ya, tidak mau turun dari meja. Jadi dia tidak akan kabur kalau begini,” ucap Mizusaki dengan kagum.

Kannabi bergumam pelan, “Persis seperti para siswa SMA malang yang terkurung di lingkungan sekolah.”

Dilihat dari sudut pandang mana pernyataan itu?

“Terkadang memang ingin rasanya melompat keluar, tapi sekolah adalah tempat yang benar-benar tidak bisa kita tinggalkan begitu saja,” sahut Iwama. Aku tidak menyangka Iwama menyimpan keinginan seperti itu di dalam dirinya.

Sambil mengobrol santai, kami memandangi Jou no Uchi yang tertawan di atas meja panjang. Dia bergerak lincah ke sana kemari, namun benar saja, begitu sampai di pinggiran meja dia langsung berbalik. Sepertinya dia benar-benar paham bahwa jatuh dari sana berbahaya. Makhluk yang cerdik.

“Selain membagi tugas perawatan, kita juga harus memikirkan apa yang akan menjadi kegiatan utama kita,” ucapku memulai diskusi.

Iwama langsung mengangguk paling cepat.

“Aku ingin mencoba melakukan survei atau penelitian, mungkin mulai dengan meniru contoh kasus yang pernah dilakukan para senpai sebelumnya.”

Iwama memang belum menyerahkan formulir pendaftaran dan hari ini statusnya masih sekadar mencoba, tapi dialah yang paling antusias. Cara bicaranya seolah dia sudah resmi menjadi anggota.

Mizusaki menaruh tangan di dagunya, berlagak sedang berpikir serius.

“Dengan banyaknya jenis hewan di sini, mungkin kita bisa melakukan penelitian menggunakan mereka. Ini SMA Tsunanagai yang tersohor, tidak mungkin mereka memelihara hewan-hewan ini tanpa tujuan.”

“Kalau hamster, eksperimen labirin ‘kan terkenal. Katanya kemampuan belajar mereka tinggi.”

“Labirin palsu...”

Sambil mengabaikan komentar misterius dari Kannabi, aku pun menimpali.

“Eksperimen tentang pembelajaran dan kognisi mungkin bisa menggunakan burung parkit juga. Tapi hamster di sini hanya ada dua ekor termasuk Jou no Uchi, dan parkitnya cuma satu, jadi kurasa nilai n-nya kurang mencukupi.”

“Mungkin untuk permulaan tidak apa-apa dicoba dengan sampel yang sedikit. Misalnya, kalau hanya mengukur kecepatan belajar dalam satu individu, kita mungkin bisa mendapatkan data yang bermakna dengan mengulanginya beberapa kali.”

“Kausalitas yang berulang...”

“Benar sekali!”

Benarkah begitu...?

“Yah, tapi aku senang Gamma-san mau datang. Ini benar-benar membuatku tenang.”

Iwama merespons dengan sedikit terlambat atas panggilan mendadak Mizusaki yang menggunakan nama julukan ciptaannya sendiri.

“Ah, aku?”

“Benar, benar. Lihat saja, kalau nama Iwama-san dibaca pakai metode jubako-yomi, ‘kan jadinya Gamma-san.”

“Begitu ya... Jadi sama seperti Delta.”

“Tapi Delta bukan dibaca pakai jubako-yomi, lho.”

Sebab baik kanji keluar maupun sawah sama-sama menggunakan kunyomi.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Bukannya ini hebat? Nomor absen berurutan, dan huruf Yunani kalian juga berurutan?”

“Benar juga! Mizusaki-kun, kamu pintar sekali memikirkannya.”

“Hehe, kalau urusan begini sih kecil bagiku.”

Cara Iwama mengalihkan pembicaraan memang luar biasa. Mizusaki pasti berniat mengarahkan obrolan ke arah betapa takdirnya pertemuanku dengan Iwama, namun dengan memuji daya imajinasi Mizusaki, Iwama berhasil menghindari jebakan itu dengan cerdik.

“Tapi Gamma-san, kenapa tiba-tiba kamu datang hari ini?”

Mizusaki yang jalurnya telah digagalkan, kini malah melangkah masuk ke topik yang paling tidak ingin kusentuh.

Tentu saja bukannya aku berniat menyembunyikannya mati-matian. Aku hanya belum menceritakannya saja. Namun, kejadian hari Sabtu kemarin entah kenapa agak sulit diceritakan kepada Mizusaki. Salah satu alasannya adalah karena Mizusaki pasti akan mengolok-olok fakta bahwa aku pergi jalan-jalan dengan dua orang gadis. Tapi yang terpenting, kepergian kami hari Sabtu itu melibatkan hubungan rumit antara Iwama dan Kannabi yang bersinggungan dengan keterlibatanku yang tidak kalah rumit, sehingga sulit sekali untuk dijelaskan.

“...Soal organ hati.”

“Organ hati?”

Mizusaki memiringkan kepalanya mendengar kata yang dilontarkan Kannabi. Pola ini rasanya pernah kulihat di suatu tempat.

“Rio bilang dia ingin melihat awetan formalin dari organ hati, makanya aku mengajaknya ke sini.”

Hening sejenak.

“Eh, apa aku pernah bilang begitu ya...? Hmm, tapi kalau diingat-ingat, rasanya aku memang pernah bilang begitu...”

Sudah pasti dia tidak pernah mengatakannya, namun Mizusaki percaya begitu saja dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Sepermya yang seperti itu tidak kelihatan di sini. Mungkin ada di dalam ruang persiapan.”

Melihat obrolan berhasil dialihkan dengan sukses, aku segera mengganti topik.

“Ngomong-ngomong, apa kertasnya sudah ketemu?”

Kami berempat menengok ke bagian belakang kelas. Karato-senpai sedang berdiri membelakangi kami di depan lemari, tangannya bergerak sibuk mengaduk-aduk isi laci. Rot-Gelb yang berada di bahunya tampak bosan sambil memainkan rambut Senpai.

“Mau kami bantu cari bersama?”

Saat aku berseru, Senpai tersentak dan berbalik ke arah kami. Rot-Gelb bergoyang dengan riang di bahunya.

“Ah... tidak, iya, tidak apa-apa. Punya si hamster sudah ketemu, kok.”

Senpai menutup laci lalu berjalan menghampiri kami. Dia meletakkan selembar kertas berukuran B5 yang tampak usang di atas meja.

“Maaf ya. Tadi kubilang mau kuberikan semua, tapi di sana agak berantakan jadi cuma ini yang ketemu. Sisanya nanti kucari pelan-pelan, jadi untuk hari ini maafkan aku ya.”

Aku melihat kertas yang diletakkan itu. Itu adalah sebuah catatan tulisan tangan di lembar kertas binder. Prosedur perawatan hamster dituliskan dengan rapi, lengkap dengan ilustrasi dan penggunaan pulpen warna-warni yang pas. Tanggal yang tertera adalah bulan April empat tahun lalu. Kemungkinan ini disusun oleh senpai beberapa tahun lalu. Karena sudah sering dipakai, bagian pinggirannya tampak agak koyak. Di sudut kanan atas, tulisan “Dilarang Membawa Keluar!” yang ditulis dengan spidol merah terlihat sangat mencolok.

“Ini resep rahasia yang diwariskan turun-temurun. Sebenarnya lebih baik kalau dibuat format digital di komputer atau semacamnya, tapi aku paling payah kalau soal hal-hal digital begitu... Hari ini ayo coba lakukan bersama Kakak. Sebagian besar caranya sesuai dengan yang tertulis di buku panduan ini, tapi ada beberapa triknya sendiri.”

Tiba-tiba aku merasakan kejanggalan. Aku tahu Senpai suka menggunakan gaya bicara yang aneh, jadi ini bukan karena akhiran katanya yang tidak biasa. Rasanya atmosfer di sekelilingnya sedikit berubah.

Jika sebelumnya dia memberikan kesan seperti pegawai paruh waktu tidak niat yang sedang serah terima pekerjaan, sekarang dia akhirnya terasa seperti seorang senpai... Singkatnya, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi ramah.

Senpai mengelus Jou no Uchi sedikit dengan ujung jarinya, lalu membawakan kertas koran.

“Kalau begitu, mari kita mulai dari menyobek kertas koran dulu. Ah, si Kacamata bisa bantu membersihkannya bersama?”

Maka dari itu, kami berlima mulai mengurus Jou no Uchi.

Sesuai dengan pengalamannya yang sudah lama mengurus hewan-hewan ini, gerakan tangan Senpai sangat terampil dan instruksinya pun tepat sasaran.

Mungkin karena menilai kami berempat sudah bisa melakukannya sendiri, di tengah jalan Senpai mulai membersihkan kandang Rokujougawara (seekor hamster lainnya) di meja sebelah.

“Karena mereka suka tiba-tiba berkelahi sampai tumpah darah, kalau mau mengeluarkan mereka, pastikan mejanya berbeda dengan Jou no Uchi, ya.”

Sambil berkata demikian, dia juga mengeluarkan Rokujougawara dari kandang. Rokujougawara adalah seekor hamster berwarna abu-abu tikus yang ukurannya sedikit lebih kecil daripada Jou no Uchi. Apakah kurang tepat menggunakan warna abu-abu tikus untuk menggambarkan seekor hamster?

“Hamster warna abu-abu tikus...”

Mendengar Kannabi bergumam pelan seperti itu, aku merasa malu karena ternyata jalan pikiran kami sama.

Karena semua tugas sudah tertulis di buku panduan perawatan dan instruksi Senpai juga tepat, seluruh perawatan yang diperlukan pun selesai tanpa kendala. Selagi Senpai memberi makan makhluk hidup lainnya, kami ditugasi untuk memberikan camilan kepada Jou no Uchi dan Rokujougawara.

“Jangan terlalu banyak memberi kuaci atau biji-bijian ya. Kandungan lemaknya tinggi, nanti mereka bisa obesitas. Walaupun mereka jarang mau memakannya, sebenarnya pelet khusus hamster adalah yang terbaik.”

Meskipun menurutku aneh ada hamster yang tidak suka pelet hamster, kenyataannya memang persis seperti kata Senpai. Saat diberikan, mereka memang memegangnya, namun tidak lama kemudian mereka bosan dan membiarkannya begitu saja.

Karato-senpai menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan cepat, lalu mengembalikan Rot-Gelb yang sedari tadi bertengger di bahunya layaknya burung peliharaan bajak laut ke dalam kandangnya.

“Syukurlah.”

“Iya ya, syukurlah, Ro-chan.”

Berbanding terbalik dengan arti ucapannya, Rot-Gelb bergumam tidak puas seolah dia masih ingin berada di luar, namun Senpai mengunci pintu kandangnya menggunakan pengait karabiner.

“Ah, aku benar-benar senang. Syukurlah kalian mau bergabung.”

Karato-senpai mengatakannya sambil tersenyum ke arah kami.

“Sebenarnya aku tidak punya penyesalan apa pun terhadap klub ini. Kejayaan pasti akan meredup, ada alasan yang tidak terhindarkan kenapa tempat ini menjadi sepi. Tapi, meski manusia bisa keluar dari klub biologi, hewan-hewan ini ‘kan tidak bisa melakukannya.”

Rot-Gelb menggigiti jeruji kandang seolah dia ingin menyentuh Karato-senpai. Jo no Uchi dan Rokujougawara berlarian lincah di atas meja panjang. Si kura-kura bernama Tortoise Huxley entah apa namanya, membuat suara kecipak air seakan menginginkan sesuatu.

“...Anu,” Iwama pun membuka suara. “Apakah ada catatan tentang observasi atau eksperimen perilaku yang menggunakan hewan-hewan ini?”

“Oh, eksperimen?”

“Jika hanya merawat makhluk hidup saja, ini tidak bisa disebut sebagai kegiatan klub. Selain metode pemeliharaan, kami ingin tahu kegiatan apa saja yang pernah dilakukan di sini.”

Kerja bagus karena telah menyuarakannya. Kami masuk ke klub biologi, bukan mendaftar sebagai petugas piket perawat hewan.

Senpai berpikir sejenak, lalu menepukkan kedua tangannya.

“Ah, kalau dipikir-pikir, tadi aku baru saja menemukan yang seperti ini.”

Sambil melangkah kembali ke arah lemari di bagian belakang kelas, Senpai membawa sebilah papan kayu yang ukurannya sebesar papan catur go.

Di atas papan itu, bilah-bah kayu tipis ditegakkan untuk membentuk lorong-lorong yang rumit. Selembar papan akrilik transparan dipasang di bagian atasnya. Sebuah labirin. Sebuah labirin palsu untuk hewan kecil.

“Itu labirin hamster?”

“Benar sekali, Pemuda Rambut Pirang. Kemampuan belajar hamster itu tidak boleh diremehkan, lho. Kalau Jou no Uchi, dia pasti masih bisa menyelesaikannya tanpa tersesat.”

Senpai meletakkan labirin itu di atas meja panjang yang sedang kami kelilingi. Jou no Uchi yang sedari tadi berkeliaran di atas meja mulai menunjukkan ketertarikan pada labirin tersebut.

“Oh, mau dicoba?”

Senpai mengangkat Jou no Uchi dengan enteng dan meletakkannya di jalan masuk labirin. Namun, mungkin karena sudah terlalu tua, sebagian dinding luar labirin itu tiba-tiba runtuh begitu saja dengan mengenaskan. Jou no Uchi malah berjalan menjauh ke arah yang berlawanan dengan langkah kaki kecilnya.

“Aduh, kalau begini tidak bisa ya.”

Dia membuka lemari di samping kelas dan mengambil segulung lakban. Mizusaki menerima lakban itu sambil sedikit mengerutkan kening, lalu meletakkannya di samping labirin dan mengintip ke arahku melalui lubang gulungannya.

“Ini sisanya tinggal sedikit sekali, lho.”

Saat kulihat, lakbannya memang tinggal sekelumit. Hampir seperti sampah. Jelas tidak akan cukup untuk memperbaikinya.

“Maaf ya, mungkin cuma itu saja yang ada di laboratorium biologi sekarang. Harus minta ke Tokumura-sensei atau OSIS dulu.”

Yah, lagipula tidak perlu memaksakan diri untuk mencobakan labirin itu hari ini. Hadiahnya pasti makanan, tapi karena kami sudah memberi Jou no Uchi cukup banyak camilan, motivasinya untuk menyelesaikan labirin pasti sedang rendah.

Saat aku sedang berpikir demikian, pintu geser di depan laboratorium biologi berbunyi klik. Karena pintunya dikunci, pintu itu tidak terbuka dan kembali digoyang-goyang dengan berisik.

“Ah, tunggu sebentar!”

Senpai berlari kecil menuju pintu masuk. Terdengar suara kunci dibuka. Pintu pun terbuka lebar.

“Eh, anak kelas satu? Maaf ya, tadi burung parkitnya baru dikeluarkan, jadi dikunci supaya tidak kabur. Silakan masuk, silakan.”

Bodohnya aku karena sempat merasa tertarik dan mengira mereka adalah calon anggota baru.

Orang-orang yang masuk adalah wajah-wajah yang sangat kukenal. Tomare, yang sempat mencemooh kami di laboratorium fisika saat acara penyambutan klub dulu. Diikuti oleh dua orang lainnya. Oozawa yang bertubuh kurus krempeng dan tampaknya baru mewarnai rambutnya menjadi pirang terang setelah masuk SMA, serta Toudo yang rambut hitamnya tetap berantakan dengan kacamata berlensa tebal. Sejak zaman SMP mereka bertiga selalu bersama, dan mereka semua masuk klub fisika, membuat hubungan mereka seperti anjing dan kucing dengan aku dan Mizusaki yang dulunya anggota klub kimia.

Mizusaki sering memanggil mereka Trio Ototo yang diambil dari huruf pertama nama belakang mereka, dan karena kedengarannya konyol, aku pun menyukainya. Kudengar mereka bertiga sudah mengumpulkan formulir pendaftaran ke klub fisika. Kedatangan mereka ke sini pasti hanya untuk mengejek kami.

“Apa kalian tertarik dengan klub biologi?”

Kepada Karato-senpai yang menyambut mereka dengan ramah tanpa tahu apa-apa, Tomare menggelengkan kepala dengan cuek.

“Tidak, kami anak klub fisika. Karena hari ini libur, kami disuruh Mikage-senpai untuk meninjau situasi klub lain. Klub kimia dan klub biologi.”

“Ah... begitu ya.”

Dasar orang-orang tidak tahu malu. Mereka berjalan melewati Senpai dan menghampiri kami yang sedang mengelilingi Jou no Uchi.

“Uwah, tikus?”

Toudo si rambut hitam berkacamata mundur selangkah saat melihat Rokujougawara.

“Bukan tikus, ini hamster.”

Di depan Iwama, Kannabi, dan Senpai, sebenarnya aku tidak ingin memicu keributan, namun kata-kata itu telanjur lolos dari mulutku.

“Sama saja akhirnya. Aku memang payah kalau soal tikus atau sejenisnya.”

Kalau begitu tidak usah datang ke laboratorium biologi, dasar Doraemon!, pikirku, namun karena di sini ada para gadis, tentu saja aku tidak menyuarakannya.

Tomare si rambut cokelat gondrong melirik Toudo yang menjauh dari meja panjang, lalu berjalan mendekat ke arah kami.

“Kira-kira sudah bosan mengutak-atik tabung reaksi, sekarang kamu malah mulai bermain dengan hamster ya, Delta?”

“Ini bukan main-main. Hari ini kami hanya sedang diajari cara merawatnya. Kalau tidak tertarik, cepat pulang saja sana, lalu pergi lakukan interferensi gelombang atau semacamnya.”

Karena aku refleks menjawabnya, atmosfer di laboratorium biologi seketika menegang.

“Tidak apa-apa, ‘kan? Kami datang berkunjung demi menjalin hubungan baik, lho.”

Tomare, yang gelagatnya sama sekali jauh dari kata ramah, tampak salah tingkah dan tiba-tiba mencoba menyentuh Jou no Uchi.

“...Dia menggigit, lho.”

Tiba-tiba Kannabi membuka suara.

“Hamster itu, sekali menggigit jarimu, dia tidak akan melepaskannya sampai mati.”

Memangnya labi-labi apa?

Namun, efeknya sangat instan. Tomare langsung menarik kembali tangannya dengan wajah ketakutan. Kemudian, mungkin karena merasa dipermalukan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling laboratorium biologi dengan tatapan tajam khas berandalan.

“Penuh dengan hewan ya.”

“Tentu saja, ini ‘kan laboratorium biologi. Malah aneh kalau adanya garpu tala.”

Sambil mengabaikan candaan Mizusaki, Tomare menatap tajam ke arahku. Tatapan ini adalah tatapan yang digunakannya saat ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku. Tatapan yang enggan dia suarakan, namun terpaksa dia lakukan karena menganggapnya demi kebaikanku.

“Kamu tahu tidak, Delta? Ada alasan kenapa klub biologi ini bisa menjadi sepi semacam ini.”

Aku sempat berpikir berani sekali dia bicara begitu di depan senpai klub biologi, namun aku penasaran dengan alasan yang dia maksud. Aku tidak memotong kalimatnya dan hanya membalas tatapan tajam Tomare.

“Empat tahun lalu, kegiatan klub dibatasi dengan ketat, namun perawatan makhluk hidup tetap harus dilanjutkan oleh seseorang. Itu seperti mendapat ampasnya saja. Jumlah anggota baru merosot tajam, dan kalaupun ada yang masuk, katanya hanya orang-orang pencinta hewan saja. Akibatnya, klub biologi sempat dicemooh sebagai komunitas pencinta hewan, dan orang-orang yang seharusnya masuk ke klub biologi malah beralih ke tempat lain.”

Setelah melontarkan kalimat panjang itu sekaligus, Tomare tampaknya baru teringat akan keberadaan Karato-senpai.

Apa dia mendengarnya dari Mikage-senpai? Cerita itu terasa memiliki dasar yang kuat. Namun, bukan berarti itu adalah hal yang pantas dibicarakan di tempat ini. Melalui sudut mataku, aku melihat Karato-senpai bergerak sedikit, namun aku tidak sanggup menatapnya langsung.

Saat aku membuka mulut untuk membalas, Tomare menghentikanku dengan isyarat tangan.

“Kalian bebas mau masuk klub mana saja... tapi, jangan sampai kalian menjadi manusia yang membosankan.”

Seolah sudah puas setelah mengatakan itu, dia berbalik arah dan pergi begitu saja.

Benar-benar perhatian yang tidak perlu.

Toudo sepertinya ingin segera menjauh dari hewan-hewan kecil itu secepat mungkin, jadi dialah yang paling pertama menuju pintu keluar. Oozawa si rambut pirang kurus yang sedari tadi terdiam tampak menundukkan kepala dengan canggung sebelum mengekor di belakangnya.

Pemuda berambut pirang itu tiba-tiba menghilang dari pandanganku.

Hampir di saat yang bersamaan, terdengar suara dentangan keras yang menggema dari arah sana. Suara seperti tumpukan peralatan kaca yang pecah berkeping-keping. Kami pun buru-buru bangkit berdiri dan bergegas menuju ke arah sumber suara.

Ternyata Oozawa terjatuh. Mengingat dia memang tipe orang ceroboh yang sering jatuh karena berjalan tanpa melihat langkahnya, hal itu tidak masalah, namun tampaknya dia baru saja tersandung ember yang berisi peralatan kaca yang sudah retak. Ember berwarna biru muda dengan tulisan “Sampah Anorganik” tampak terguling, dan serpihan kaca berserakan di sekelilingnya.

“Aduh, duh, duh, duh...”

“Hei, apa-apaan yang kamu lakukan, bodoh.”

Tomare membantu Oozawa berdiri dengan wajah dongkol. Oozawa mengusap kedua tangannya yang tampak kesakitan.

“Kamu tidak apa-apa...? Tidak kena kaca, ‘kan?”

Iwama yang baik hati langsung bergegas mendekat paling pertama.

“Ah, e-eh, t-tidak... mungkin. Maaf,” berhadapan dengan Iwama, telinga Oozawa memerah padam dan dia mendadak gagap. Dasar cowok yang mudah ditebak.

Aku menghampiri lokasi tempat kaca berserakan, lalu mendirikan ember yang terguling tadi.

“...Bersihkan ini sampai bersih sebelum pergi.”

“Aku juga tahu tanpa kamu beri tahu.”

Tomare menjawab dengan ketus, lalu berbalik menghadap Karato-senpai.

“Maaf. Boleh kami pinjam sapu?”

“Ah, sapu...? Boleh, ada di dalam lemari alat kebersihan di belakang.”

Tomare dan Oozawa pergi mengambil sapu di loker yang ditunjuk Senpai, sementara Toudo, Mizusaki, dan aku memunguti serpihan kaca yang berukuran agak besar. Iwama pun ikut berjongkok di sampingku.

“Ah, tidak, tidak usah, Gamma-san dan yang lain tidak perlu repot, biar kami saja yang bereskan.”

“Tidak apa-apa. Biarkan aku membantu.”

Akhirnya Kannabi pun ikut membantu, ditambah lagi Tomare dan Oozawa yang membawa sapu serta pengki, membuat proses pembersihan selesai dalam sekejap. Toudo yang melilitkan lakban di tangannya mengumpulkan serpihan-serpihan kecil yang tersisa di bagian akhir.

Karato-senpai hanya berdiri mematung seperti orang linglung sampai ketiga anggota Trio Ototo itu bergegas pergi dan pintu menutup dengan bunyi klik.

“Maaf ya, Senpai. Mereka itu teman seangkatan kami waktu SMP... tipe orang yang suka bicara ketus tanpa merasa bersalah.”

Mizusaki menundukkan kepala meminta maaf kepada Senpai. Senpai akhirnya tersentak sadar dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, tidak apa-apa, kamu tidak perlu minta maaf. Seleksi alam. Lagipula semua yang dikatakannya memang benar... Maaf ya.”

“Jangan begitu, Senpai tidak perlu minta maaf.”

“Rasanya aku lelah sekali. Bagaimana kalau hari ini kita sudahi saja dan pulang?”

Suasana menjadi sangat kacau gara-gara Trio Ototo. Tidak ada yang membantah usulan itu.

Yah, kurasa hari pertama memang biasa seperti ini.

Saat kami hendak mulai beres-beres.

Kami menyadari bahwa Jou no Uchi telah menghilang.

 

“Pasti salah satu dari mereka bertiga yang membawanya pergi!”

Karato-senpai tidak sampai berteriak, namun nadanya terdengar sangat tajam.

Jou no Uchi tidak ada di dalam labirin. Dia juga tidak kembali ke kandangnya.

Di saat kami lengah dan mengalihkan pandangan, Jou no Uchi lenyap sepenuhnya dari atas meja panjang bagai menguap begitu saja.

“Apa ada kemungkinan dia jatuh?”

Mau tidak mau aku harus menyuarakan pendapat yang berbeda.

“Mereka bertiga memang orang yang menyebalkan, tapi mereka bukan tipe orang yang bertindak tanpa akal sehat sampai mencuri seperti itu.”

“Jou no Uchi tidak akan pernah jatuh dari pinggiran meja. Sama sekali tidak akan. Aku tahu betul karena akulah yang paling mengenalnya. Lagipula, aku belum mengenalmu cukup dekat untuk langsung memercayai mentah-mentah penilaianmu tentang mereka bertiga.”

Memang benar juga kata-katanya. Saat aku sedang kebingungan mencari kata untuk membalas, Iwama angkat bicara.

“Anu, apakah ada kemungkinan dia terkejut karena suara bising? Tadi ember berisi kaca itu terguling dan menimbulkan suara yang sangat keras. Mungkinkah dia refleks berlari mendengar suara itu lalu tidak sengaja jatuh dari meja?”

“Tidak, itu tidak mungkin. Saat mendeteksi ancaman yang tidak terlihat, hamster akan mematung terlebih dahulu untuk memantau situasi di sekitarnya. Kalau mereka langsung lari tunggang-langgang, mereka akan mudah ditemukan dan dimangsa oleh predator, ‘kan?”

Sesuai dugaan, pengetahuannya tentang perilaku hewan sangatlah mendalam. Penjelasan Senpai terdengar sangat meyakinkan.

Namun, ada bagian dari teori Senpai yang masih belum bisa kuterima.

“Senpai bilang salah satu dari mereka bertiga membawanya pergi, tapi apa memang benar begitu? Salah satu dari mereka sejak awal ketakutan melihat hamster. Yang satunya lagi sudah dibohongi kalau Jou no Uchi suka menggigit, jadi dia pasti tidak akan berani menyentuhnya. Dan orang yang jatuh tadi sedang kesakitan di kedua tangannya.”

“...”

Tidak ada bantahan dari Senpai. Aku pun melanjutkan.

“Aku mengawasi mereka dengan saksama saat mereka keluar dari laboratorium biologi, dan tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat membawa Jou no Uchi, tidak ada juga tanda-tanda Jou no Uchi kabur melewati kaki mereka. Jou no Uchi pasti jatuh dari meja karena suatu alasan dan saat ini masih berada di dalam laboratorium biologi ini. Mari kita bagi tugas untuk mencarinya.”

Kali ini argumenku tidak bisa dibantah. Senpai memejamkan matanya sejenak seolah sedang merenungi kesalahannya, lalu berkata, “...Benar juga ya. Mari kita lakukan itu. Aku tidak bermaksud menyalahkan kalian, kok... Maaf ya.”

Setelah itu dia menunduk dengan canggung dan memunggungi kami.

Keheningan yang tercipta benar-benar terasa sangat mencekam.

Kami berempat saling bertukar pandang, lalu mengangguk setuju untuk fokus mencari Jou no Uchi terlebih dahulu.

Untungnya, laboratorium biologi sudah ditutup rapat sejak awal untuk mencegah Rot-Gelb kabur. Pintu tempat ketiga orang tadi keluar juga langsung dikunci agar tidak bisa dibuka dari luar. Pintu yang menuju ke ruang persiapan biologi pun dalam keadaan terkunci, lagipula ruangan itu kosong dan tidak ada yang akan membukanya dari arah sana. Menurut Karato-senpai, laboratorium biologi ini sama sekali tidak memiliki celah kecil, demi mencegah serangga atau hewan kecil dari luar menyusup masuk.

Singkatnya, ruangan ini saat ini merupakan sebuah ruangan tertutup rapat tanpa celah bagi seekor hamster untuk meloloskan diri. Jadi, kecuali Jou no Uchi menggunakan trik yang sangat cerdik, wajar jika menganggapnya masih berada di dalam laboratorium biologi ini.

Kami pun mulai membagi tugas untuk menggeledah laboratorium biologi.

Meja panjang tempat Jou no Uchi berada dibiarkan apa adanya untuk menjaga keaslian tempat kejadian perkara. Di atas meja panjang itu hanya ada kandang dan labirin. Kami sudah memastikan bahwa Jou no Uchi tidak bersembunyi di salah satu dari kedua benda itu. Kami mulai mencari dari area sekitar meja, lalu memeriksa bagian dalam tas masing-masing untuk berjaga-jaga, dan secara bertahap memperluas area pencarian.

Aku bergeser ke arah bagian belakang laboratorium biologi. Di sana dipenuhi berbagai barang yang berserakan, sehingga ada banyak sekali tempat bagi seekor hamster untuk bersembunyi. Untuk saat ini, aku mencoba mengamati lemari terdekat.

“Tunggu,” terdengar suara Senpai dari arah belakang. Aku pun berbalik.

“Bagian itu biar aku saja yang cari. Sebaiknya kamu pergi menemui ketiga orang tadi untuk menanyakannya secara langsung. Ini hanya untuk memastikan saja.”

“...Maaf, Senpai, tapi aku tetap tidak berpikir mereka bertiga menculik Jou no Uchi.”

“Kalau begitu, coba jelaskan bagaimana bisa Jou no Uchi mendadak hilang dari atas meja?”

Aku langsung mati kutu. Bagian atas meja pun dalam arti tertentu merupakan area terisolasi. Bagi seekor hamster, area sekeliling pinggiran meja laksana tebing yang terjal. Dan kabarnya, dia belum pernah sekalipun jatuh dari sana.

“Ah, tidak, bukan begitu... Maaf,” Karato-senpai meminta maaf saat melihatku terdiam.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar. Begitu aku keluar, tolong langsung kunci pintunya dan lanjutkan pencarian kalian, ya.”

Kemudian dia berjalan setengah berlari keluar dari laboratorium biologi, meskipun dia tetap membuka pintunya dengan sangat hati-hati.

 

“Sekarang... bagaimana?” ucap Mizusaki, lalu Iwama memegang gagang pintu masuk.

“Untuk sementara, aku kunci dulu ya.”

Klik. Dengan begitu laboratorium biologi kembali menjadi ruangan tertutup. Jou no Uchi seharusnya berada di dalam sini.

Melihat laboratorium biologi yang bagi seekor hamster luasnya seperti pulau terpencil ini, aku mengembuskan napas panjang.

“...Mau bagaimana lagi, kita harus mencarinya dengan sabar.”

“Benar juga.”

Sambil menatap lantai papan kayu yang tua, kami mencari dalam diam selama beberapa saat. Mungkin karena sempat dibersihkan secara besar-besaran pada akhir tahun ajaran, hampir tidak ada sampah sama sekali, dan sepatu dalam ruangan kami berdecit-decit, tampaknya karena lantai baru dipoles dengan semacam lilin pelapis. Jou no Uchi seharusnya tadi makan cukup banyak. Siapa tahu, satu atau dua butir kotorannya terjatuh di suatu tempat.

“...Kenapa Jou no Uchi-kun bisa menghilang dari atas meja ya?” gumam Iwama setelah beberapa saat. Kannabi mengangkat wajahnya.

“Aneh sekali. Seperti diculik oleh dewa.”

“Sama seperti Delta, aku juga tidak berpikir kalau mereka bertiga ada hubungannya dengan ini. Walaupun mereka memang orang-orang yang menyebalkan.”

Tanpa alasan khusus, aku kembali ke depan lemari di bagian belakang kelas.

“Aku tidak tahu apakah ada hubungannya, tapi... bukannya gelagat Senpai tadi agak aneh?”

Mizusaki mengangguk menyetujui poin yang kulontarkan.

“Iya. Rasanya seolah dia sedang menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan di sekitar sana.”

Saat aku hendak menggeledah tempat ini, dia tiba-tiba menghentikanku. Pasti ada rahasia di sini, dan rahasia itu berhubungan dengan hilangnya Jou no Uchi... Yah, kemungkinannya kecil, sih, tapi tidak ada ruginya untuk memeriksa. Aku membuka laci lemari satu per satu mulai dari bawah.

Kalau tidak salah, ini adalah lemari tempat Karato-senpai mencari buku panduan perawatan hewan dan mengambil selembar kertas tadi. Namun secara mengejutkan, setiap laci ternyata kosong melompong.

“...Ada yang ketemu?” Iwama sudah berada di sampingku. Aku menggelengkan kepala, lalu mengambil sebuah binder cincin dari laci paling atas yang kubuka terakhir.

“Cuma ini yang ada di dalam lemari.”

“Hmm...? Album foto?”

Aku menyerahkannya kepada Iwama. Saat arsip tebal itu dibuka, di dalamnya tertempel banyak sekali foto.

“Oh, yang ini. Bukannya ini album yang dibuat oleh para lulusan tahun lalu? Tokumura-sensei pernah memperlihatkannya padaku.”

Mizusaki dan Kannabi pun ikut mendekat. Iwama membuka halaman demi halaman tebal itu dengan agak kaku. Di sana terekam jejak klub biologi di masa ketika anggotanya belum menyisakan satu orang saja.

“Meskipun jumlah anggotanya sedikit... tapi terlihat sangat menyenangkan ya,” ucap Kannabi sambil memandangi foto para anggota yang sedang asyik mengobrol di sekeliling Rot-Gelb.

 

Menyambut anggota baru, Ro-chan. Semoga Roura tidak kesepian lagi bahkan setelah libur musim panas dimulai!

 

Foto itu diambil sekitar satu tahun lalu, tepat setelah Golden Week usai. Di halaman sebelahnya, terdapat foto bersama yang diambil di laboratorium biologi sebelum libur musim panas, lengkap dengan catatan mengenai pensiunnya para murid tahun ketiga.

Kudengar di SMA ini, murid tahun ketiga biasanya mulai fokus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi di sekitar masa libur musim panas. Paling lambat, mereka akan pensiun setelah festival budaya pada bulan September berakhir. Tahun lalu, para senpai di klub biologi sudah pensiun bahkan sebelum musim panas berakhir.

Apakah itu berarti selama kurang lebih delapan bulan setelahnya, Karato-senpai mengurus hewan-hewan ini sendirian?

“Sepi yaaa...”

Suara Rot-Gelb terdengar dari kandang yang ditaruh di bagian belakang kelas.

Seketika itu juga, bulu kudukku merinding.

Gumamannya yang selama ini kuanggap lalu begitu saja tanpa kupikirkan.

Namun, burung parkit tidak mungkin bisa mengucapkan kata-kata seperti itu jika tidak ada seseorang yang sering mengajaknya bicara sambil berkata sepi ya.

Rot-Gelb datang pada bulan Mei tahun lalu. Pensiunnya murid tahun ketiga terjadi pada bulan Juli.

Artinya, Karato-senpai ditinggalkan seorang diri, dan dia terus mengajak bicara burung parkit ini.

Album di tangan Iwama bergetar kecil. Tangan yang memegangnya tampak gemetar.

“Pasti rasanya berat sekali... mempertahankan kegiatan klub seorang diri...” Setelah mengatakan itu, seolah tersentak sadar, Iwama menutup album tersebut dan mengembalikannya ke dalam laci.

“Kita harus mencari Jou no Uchi-kun.”

Aku pun sempat benar-benar teralihkan oleh album itu. Aku memang tidak tahu pasti kenapa Senpai mencoba menyembunyikan lemari ini, tapi setidaknya, hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus hilangnya Jou no Uchi.

Lagipula, mengingat bagaimana sayangnya Senpai kepada hewan-hewan ini, jika ada sesuatu yang bahkan sedikit saja berkaitan dengan hilangnya Jou no Uchi, dia pasti tidak akan menyembunyikannya dari kami.

...Hmm?

Aku mengeluarkan album itu sekali lagi. Mungkin karena ketebalan halamannya tidak rata, halaman yang tidak sengaja kubuka justru langsung memperlihatkan lembaran yang menarik perhatianku.

 

Jou no Uchi yang terus berlari. Apakah dia yang memutar mainannya, atau justru dia yang dipaksa berlari oleh mainan tersebut?

 

Foto seekor hamster yang sedang bermain dengan roda putar. Itu adalah foto biasa yang sangat damai.

Tapi, foto itulah yang memberikan secercah kilasan ide padaku.

Aku menatap ke arah meja panjang tempat Jou no Uchi menghilang. Kandang, labirin, dan... ada satu benda yang kurang!

“Mizusaki, di mana lakbannya?”

Sambil meletakkan album di laci yang masih terbuka, aku bergegas berlari menghampiri meja panjang.

“Hah? Lakban?”

“Lakban yang tinggal sekelumit pemberian Senpai tadi! Kamu menerimanya dan meletakkannya di atas meja, ‘kan?”

“Eh, kalau diingat-ingat, benda itu memang sudah tidak ada... tunggu, ah! Jadi begitu maksudmu!”

“Ada apa sebenarnya?”

Mendengar pertanyaan Kannabi, wajah Mizusaki seketika berkerut penuh penyesalan.

“Maaf! Ini semua salahku. Waktu menaruh lakban di meja tempat Jou no Uchi berada tadi, aku tidak meletakkannya dalam posisi tidur mendatar, melainkan mendirikannya pada sisi lingkaran tabungnya. Persis seperti roda putar.”

Aku teringat kembali momen ketika mata Mizusaki menatapku dari balik lubang tabung lakban tersebut.

Iwama memekik pelan.

“Jou no Uchi-kun masuk ke dalam, lalu terus berjalan tanpa melihat ke depan, dan jatuh bersama lakbannya.”

Aku mengangguk.

“Benar. Roda putar tetap diam di satu tempat, tapi tidak begitu halnya dengan lakban.”

“Tapi di mana lakbannya? Aku sudah memeriksa lantai, tapi tidak ada yang jatuh.”

Kannabi tiba-tiba menyadari sesuatu dan melangkah menuju tempat sampah. Kemudian dia memungut gulungan karton bagian dalam lakban tersebut.

“Yang ini, orang berambut hitam di antara mereka bertiga tadi...”

Mendengar ucapan itu, aku teringat saat kami membersihkan serpihan kaca tadi.

“...Begitu ya, Toudo menggunakan lakban yang jatuh itu untuk mengumpulkan serpihan kaca yang kecil-kecil.”

Kami bertiga berkumpul di dekat Kannabi. Gulungan karton itu tampak sangat usang. Dan isinya sudah habis terpakai. Hampir bisa dipastikan, benda inilah yang diletakkan Mizusaki di atas meja tempat Jou no Uchi berada tadi.

“Apa ada petunjuk di benda ini? Mau coba tanya Toudo-kun di mana benda ini jatuh?”

“Benar juga, ayo hubungi...”

“Tunggu, lihat ini.”

Kannabi memotong kalimatku.

Apakah di gulungan karton lakban biasa ini benar-benar ada petunjuk tentang keberadaan Jonouchi?

“...Meskipun hanya sedikit, sepertinya ada darah yang menempel.”

Kannabi menunjuk ke salah satu bagian gulungan karton. Pada karton tebal berwarna cokelat itu, terdapat noda merah kehitaman yang tampak seperti goresan tipis.

“Apa itu benar-benar darah? Bisa jadi itu hanya noda tinta yang sudah ada sejak awal.”

“Mari kita pastikan!”

Iwama segera mengeluarkan tisu saku dan mengusap bagian merah kehitaman itu dengan lembut.

Di atas tisu putih tersebut, warna merah yang pudar menempel sedikit. Begitu rupanya. Kemungkinan besar itu darah segar.

Kami terdiam seribu bahasa selama beberapa saat. Apakah Jou no Uchi terluka saat jatuh tadi? Karena jumlah darahnya sangat sedikit, mungkin bukan luka parah, tapi... Kami harus segera menemukannya.

Iwama berpikir dengan tatapan mata yang serius.

“Tapi... kalau Jou no Uchi-kun terluka, bukannya sebaliknya kita malah bisa melacak jejak darahnya?”

“Tidak bisa, Gamma-san, sulit kalau di lantai seperti ini. Apalagi ini cuma sedikit darah dari seekor hamster.”

Aku melihat ke lantai. Harapan yang baru saja sedikit merekah langsung layu kembali. Lantai kayu dengan corak urat hitam berwarna cokelat tua. Walaupun ada sedikit darah yang menempel, mustahil bisa terlihat di lantai seperti ini.

“Tentu saja kalau dicari dengan mata telanjang memang tidak bisa. Tapi, lihat... secara ilmiah!”

Secara ilmiah, apakah hal seperti itu mungkin dilakukan?

“Jika ada bahan kimia di suatu tempat, kita bisa melacak darahnya, ‘kan? Misalnya reaksi luminol yang juga digunakan dalam investigasi forensik, benda itu bisa mendeteksi darah meski dalam jumlah yang sangat sedikit.”

“Masalahnya adalah apakah bahan kimia seperti itu ada di sekolah ini.”

Mengabaikan poin yang dilontarkan Kannabi, Mizusaki dan aku refleks saling bertukar pandang.

Biasanya, pernyataan Iwama akan berakhir sebagai ide yang terlalu mengawang-awang saja.

Namun bagaimanapun juga, tempat ini adalah SMA Tsunanagai.

 

Sesaat setelah Mizusaki berlari keluar dari laboratorium biologi, suara langkah kaki yang berisik terdengar menggema dari lantai atas. Jangan berlari di koridor.

Karena anak itu pergi tanpa mengatakan apa-apa, Iwama dan Kannabi masih tampak termangu heran.

“Ayo kita tutup gordennya.”

Hanya itu yang kukatakan. Mizusaki pasti akan segera kembali.

Sesuai dugaan, tepat ketika gorden selesai ditutup, pintu diketuk dan terdengar suara Mizusaki berseru, “Buka pintunya!”

Setelah memastikan Jou no Uchi tidak berada di sekitar kaki kami, aku membiarkan Mizusaki masuk.

“Luar biasa, Gamma-san. Idenya bagus sekali.”

Sambil napasnya tersengal-sengal, Mizusaki menunjukkan sebuah kantong perak kecil kepada Iwama.

“Itu...?”

Mizusaki mengeluarkan sebotol semprotan dari dalam kantong perak tersebut. Itu adalah reaktan pendaran untuk reaksi luminol yang gagal kami dapatkan saat acara penyambutan klub minggu lalu. Cairan yang dibuat terlalu banyak oleh Hongou-senpai dan akhirnya tidak terpakai. Beruntung sepertinya cairan itu masih tersisa.

“Eh, jangan-jangan itu luminol?”

“Iya. Aku memintanya dari klub kimia.”

Seolah enggan membuang waktu sedetik pun untuk bicara, dia melangkah mendekati meja panjang tempat Jou no Uchi berada tadi. Jika lakban itu berguling dan jatuh, posisinya pasti berada di dekat kursi Mizusaki. Dia berlutut, lalu memberikan isyarat tangan tanda oke kepadaku.

“Baik. Aku matikan lampunya ya.”

Aku memadamkan pencahayaan. Kini satu-satunya sumber cahaya hanyalah seberkas sinar alami yang menyelinap dari celah gorden. Jika begini, pendaran cahaya sekecil apa pun di atas lantai tidak akan terlewatkan oleh kami.

“Sifatnya basa dan seharusnya ada hidrogen peroksida yang larut di dalamnya. Berbahaya kalau cairannya terkena mata, jadi tolong menjauh sedikit.”

Setelah berkata demikian, Mizusaki menyemprotkan reaktan pendaran itu ke lantai dari botol semprotannya.

Semprotan pertama. Tidak ada yang muncul.

Semprotan kedua. Masih belum ada hasil. Apakah karena reaktannya sudah terlalu lama?

“...Kalian sedang melakukan apa?”

Aku menjawab pertanyaan Kannabi.

“Ini adalah reaktan yang akan memancarkan cahaya jika terkena darah, seberapa pun sedikit jumlahnya. Lantai ini baru saja dilapisi lilin pelapis pada akhir tahun ajaran kemarin. Jika kaki Jou no Uchi terluka dan berdarah, hanya jejak kakinya saja yang akan menyala.”

Entah sudah semprotan yang keberapa. Sambil tetap berlutut, Mizusaki terus menekan botol semprotan dengan keseriusan yang tidak seperti biasanya.

“Uwooo!” seru Mizusaki lantang.

Saat aku mendekat dengan hati-hati dan mengintip ke bawah, di atas lantai yang gelap gulita, tampak sesuatu yang memancarkan pendaran cahaya biru keputihan dalam bentuk titik-titik kecil. Terlebih lagi, polanya tidak acak. Titik-titik itu berbaris rapi membentuk sebuah barisan dengan jarak yang hampir selalu sama.

“Bagus! Menyala!”

Aku pun refleks ikut berseru.

“Hebat... Seperti investigasi forensik nyata,” ucap Iwama yang kini telah benar-benar terpikat, menatap lurus ke arah pendaran di lantai dari jarak yang begitu dekat hingga bahu kami saling bersentuhan.

Di dalam laboratorium biologi yang gelap, suara desisan ringan dari Mizusaki yang menyemprotkan reaktan pendaran menggema lembut. Di tengah kegelapan yang membentang di bawah kaki kami, jejak-jejak kaki berikutnya mulai menyala satu demi satu bagai lentera kecil.

Aku mulai merasa terpesona oleh pendaran cahaya yang sekelumit itu.

Memikirkan bahwa pengetahuan kimia yang kami kuasai ternyata benar-benar berguna untuk memecahkan masalah di depan mata.

Ini benar-benar ilmiah.

Alasan mengapa bentuk hati kelopak sakura itu rusak. Alasan mengapa usia pohon ginkgo disembunyikan. Keunikan tidak terduga yang muncul saat mengkaji hal-hal misterius di sekitar secara ilmiah, aku mulai menyadarinya setelah diajari oleh Iwama.

Bagi aku yang selama ini hidup di dunia yang sempit, hal itu benar-benar bisa disebut sebagai sebuah revolusi Copernicus.

Hingga saat itu, aku merasa seperti telah memasang semacam sekat pemisah antara mempelajari sains dan menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, sains sama sekali bukanlah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi para ilmuwan saja.

Sains boleh saja digunakan untuk menuntaskan rasa penasaran, dan sah-sah saja dipakai demi mencapai suatu tujuan.

Apakah memandang ke bawah ke arah kota tempat tinggalku sendiri dari atas bahu raksasa adalah hal yang seperti ini?

Suara semprotan terdengar berdesis secara bersahutan.

Jejak kaki yang bercahaya itu terus membentang hingga ke bagian bawah bak cuci di dekat jendela. Tempat itu berupa lemari kecil, dan ada satu sudut yang tampaknya tidak tertutup rapat sepenuhnya. Mizusaki yang berdiri di depannya memberikan isyarat kepadaku. Aku pun melangkah menuju pintu masuk laboratorium biologi dan menyalakan lampu.

Sembari diawasi oleh Iwama dan Kannabi, Mizusaki perlahan membuka pintu lemari tersebut.

“Wah, ketemu!”

Iwama bertepuk tangan. Kemenangan sains. Kannabi membelalakkan matanya dan memperlihatkan senyuman senang yang langka.

Di atas tangan Mizusaki yang bangkit berdiri, Jou no Uchi duduk dengan manis.

 

Tidak lama kemudian, Karato-senpai kembali dengan napas terengah-engah saat kami sedang membersihkan lantai. Waktunya terlalu lama jika hanya untuk buang air, dan seandainya dia menggunakan toilet terdekat, dia tidak perlu berlari seperti itu. Sepertinya, dia enggan membuang waktu untuk meyakinkanku dan memilih mengejar Trio Ototo selaku saksi kunci untuk meminta penjelasan dari mereka. Namun, karena Senpai tidak menyinggung hal itu sama sekali, aku pun memilih untuk tidak mengungkitnya.

Begitu diberitahu bahwa Jou no Uchi sudah ditemukan, mata Senpai berkaca-kaca karena gembira, dan dia terus mengulang kalimat, “Terima kasih, terima kasih banyak ya.” Dia sama sekali tidak marah bahkan setelah kami menceritakan soal lakban dan lukanya. “Syukurlah kalian menemukannya, cuma itu yang terpenting. Benar-benar terima kasih banyak ya.” Akhirnya, air mata bahkan mengalir dari sudut matanya.

Rumah Karato-senpai adalah klinik hewan. Senpai menelepon Tokumura-sensei untuk memberi tahu bahwa dia akan membawa pulang Jou no Uchi hari ini. Katanya lukanya tidak begitu serius setelah diperiksa. Namun, sepertinya Jou no Uchi harus fokus beristirahat untuk sementara waktu. Eksperimen labirinnya terpaksa ditunda.

Jam pulang sekolah pukul lima sudah semakin dekat.

Tepat saat kami bersiap untuk pulang, Senpai menyadari laci lemari dalam keadaan terbuka. Album foto di sana masih tergeletak dalam kondisi terbuka.

“Ah, memalukan sekali,” ucap Senpai sambil menutup album itu dengan gerakan tangan yang lembut. “Terkadang aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Padahal seharusnya aku tidak tertarik pada umat manusia.” Dia menutup lacinya perlahan.

“Ro-chan, selamat pagi!”

“Iya ya, Ro-chan, selamat pagi.”

Padahal hari sudah sore, namun Karato-senpai membalas ucapan burung parkit itu seperti itu.

“Dulu para senpai memanggilku dan juga Rot-Gelb dengan sebutan ‘Ro-chan’. Makanya sampai sekarang, kami saling memanggil Ro-chan,” ucapnya, mungkin untuk menyembunyikan rasa malu, sebelum kemudian bergumam pelan. “Kalau dipikir-pikir, kalian berempat ya. Ini pasti bukan kebetulan, dasar anak itu...”

“...Maksudnya apa, Senpai?”

Menanggapi pertanyaan Mizusaki, Karato-senpai menggelengkan kepala.

“Bukan, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, apa tidak ada kertas atau semacamnya yang terselip di dalam album?”

“Kertas? Bagaimana, Gamma-san?”

“Tidak, aku tidak melihat hal seperti itu... Senpai sedang mencari sesuatu?”

“Ah, kalau begitu tidak apa-apa. Kegiatan berikutnya hari lusa. Aku harus pergi ke ruang guru dulu untuk mengambil kunci ruangan ini. Kalian boleh pulang duluan saja.”

Kemudian dia menambahkan.

“Para burung muda, selamat datang di klub biologi.”

 

Saat aku setengah berlari kembali ke area pintu masuk, hanya Iwama yang sedang menungguku.

“Lho, di mana Mizusaki dan Kannabi?”

“Katanya ada urusan mendesak, jadi mereka berdua pulang duluan.”

“Hanya dalam beberapa menit ini? Urusan apa memangnya?”

“Entahlah.”

Setelah memiringkan kepalanya sedikit, Iwama menambahkan seolah baru teringat sesuatu.

“Rei bilang, sampaikan ‘dadah’ kepada Del-chan.”

Anak itu... benar-benar mempermainkanku.

Perkataan Kannabi jelas-jelas bernada provokasi, dan mana mungkin Mizusaki punya urusan mendesak secara mendadak. Ini pasti rencana mereka untuk membiarkan aku dan Iwama pulang berdua. Dalam hal-hal seperti ini mereka berdua tampaknya sangat kompak. Faktanya, baik dalam kejadian sakura maupun kejadian hari Sabtu kemarin, mereka berdua sudah melakukan hal yang mirip.

Aku bersumpah tidak akan pernah memberi tahu mereka kebenaran yang sesungguhnya.

Ya, kebenaran yang sesungguhnya.

Tadi kami berempat sudah keluar dari laboratorium biologi dan bersiap untuk pulang bersama, namun karena ada satu hal yang benar-benar mengganjal di pikiranku, aku memutuskan kembali sendirian ke laboratorium biologi untuk memastikannya.

Hanya ada satu pertanyaan.

Apakah benda yang ingin disembunyikan Senpai benar-benar album foto itu?

“Kalau cuma album foto, kurasa itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan sampai segitunya,” yang memicu ini adalah poin yang dilontarkan Mizusaki sebelumnya. “Delta ‘kan sedang mencari Jou no Uchi, tidak seharusnya dia menghentikanmu hanya karena kamu mendekati lemari. Kalau dia memang tidak mau isi albumnya dilihat, seharusnya dia mendiamkannya saja. Gara-gara dia menghentikanmu, kita malah jadi membuka album itu, ‘kan?”

Intinya, dia menduga ada sesuatu yang jauh lebih mencurigakan yang disembunyikan di sana.

“Pertanyaannya tentang apakah ada kertas yang terselip juga terasa aneh jika hanya dianggap sebagai alasan untuk menutupi rasa malu,” Kannabi pun memiliki pemikiran yang sama.

Memang benar, pertanyaan itu terdengar janggal.

Di sanalah sebuah kilasan ide muncul di kepalaku.

Benda itu, pasti disembunyikan di tempat tersebut, pikirku.

Aku menyuruh mereka bertiga untuk menunggu di pintu masuk, lalu memanfaatkan kesempatan saat Senpai pergi ke ruang guru untuk mengambil kunci demi memastikan wujud asli benda tersebut di laboratorium biologi. Benda yang persis seperti dugaanku, disembunyikan dengan cara yang persis seperti dugaanku pula.

Dan ketika aku kembali, Mizusaki dan Kannabi yang seharusnya menunggu justru sudah menghilang.

Mau tidak mau, akhirnya aku harus pulang berdua saja dengan Iwama.

Kami menuruni jalan turunan yang diapit barisan pohon ginkgo. Daun-daunnya sudah jauh lebih rimbun dibandingkan saat kami pergi melihat sakura dulu.

Iwama berjalan tepat di sampingku. Jarak kami begitu dekat. Saat aku mencoba melirik profil wajahnya dari samping, matahari yang mengambang di langit barat memancarkan cahaya yang teramat menyilaukan.

“...Sudah ketemu? Benda yang coba disembunyikan oleh Karato-senpai?”

Mendengar pertanyaan Iwama, aku mengangguk. Saat aku sedang bimbang apakah boleh menceritakannya atau tidak, Iwama lebih dulu membuka mulut.

“Buku panduan perawatan hewan sisanya, ‘kan?”

Ternyata dia sudah tahu. Kalau begitu tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi. Aku pun kembali mengangguk.

“Benar. Kantong transparan untuk menyimpan dokumen pada binder cincin yang digunakan sebagai album itu berukuran A4. Kertas gambar yang dimasukkan ke dalamnya juga berukuran A4. Sisi yang tidak ditempeli foto diposisikan saling memunggungi, dan di sela-sela itulah panduan perawatan hewan berukuran B5 disembunyikan.”

Itu adalah trik menyembunyikan kertas di antara lembaran kertas.

Karena aku langsung keluar dari laboratorium biologi begitu memastikan keberadaannya, aku tidak tahu berapa jumlah total lembarnya. Hanya saja, ada cukup banyak lembaran yang disembunyikan di dalam kantong album tersebut.

“Pantas saja aku merasa album itu agak sulit dibalik,” ucap Iwama sambil tersenyum kecil.

Benar. Pertama kali kami melihat album itu adalah saat Mizusaki dan aku mengunjungi laboratorium biologi bersama Mikage Aya. Tokumura-sensei menyerahkannya kepada kami. Waktu itu, Mizusaki membalik-balik halamannya dengan lancar.

Namun hari ini, saat Iwama membuka album yang kami temukan di lemari itu, halaman-halamannya tampak sulit untuk dibalik. Ketika aku mencoba mencari foto Jou no Uchi pun, ketebalan halamannya terasa tidak rata.

Bentuk album itu telah berubah.

Hanya Iwama dan aku, yang benar-benar membuka album itu hari ini, yang menyadari kejanggalan pada kantong plastiknya.

“Kamu sudah menyadarinya sejak pertama kali membukanya?”

“...Iya.”

Namun, dia tidak mengatakannya kepada Mizusaki ataupun Kannabi. Itu adalah sesuatu yang disembunyikan orang lain, sesuatu yang ingin mereka rahasiakan. Bukan hal yang patut digembor-gemborkan ke mana-mana. Tapi karena Iwama dan aku sama-sama mengetahui kebenarannya, kurasa tidak ada salahnya jika kami mendiskusikan hal itu sampai batas tertentu.

“Saat aku meminta buku panduan, Senpai pergi mencarinya ke lemari itu. Dia menghabiskan waktu yang lumayan lama, tapi pada akhirnya hanya menyerahkan satu lembar saja, hanya buku panduan perawatan hamster. Dia bahkan bilang kalau cuma itu yang berhasil ditemukannya.”

“Benar. Tapi menurutku, sebenarnya semua buku panduan itu ada di sana saat itu. Hanya saja, Senpai berpura-pura cuma menemukan satu lembar, lalu memutuskan untuk menyembunyikan sisanya.”

“Di buku panduan itu tertulis ‘Dilarang Membawa Keluar!’. Itulah sebabnya dia tidak berniat memasukkannya ke dalam tas sendiri untuk dibawa pulang. Dia pun langsung mencari tempat di dalam laboratorium biologi yang bisa digunakan untuk bersembunyi dalam sekejap.”

Karato-senpai dengan patuh berusaha menjaga peraturan yang ditulis oleh senpai-nya di buku panduan tersebut.

“Iya. Dan tempat persembunyian yang dipilihnya adalah di dalam album foto itu. Dia pasti berpikir kalau disembunyikan di sela-sela kantong, dokumen itu tidak akan ketahuan kecuali terjadi sesuatu yang luar biasa.”

Namun, Senpai justru melakukan tindakan yang keliru. Karena takut buku panduannya ketahuan, dia malah menjauhkanku dari lemari tersebut. Tindakan itu justru sebaliknya membuat kami menaruh curiga. Sebuah kegagalan yang lahir dari kepolosannya. Saat dia tahu album itu ditemukan dan memastikan apakah ada kertas yang terselip, itu pasti dilakukannya untuk memeriksa apakah triknya ketahuan atau tidak, namun hal itu malah memberikan efek sebaliknya.

Masalahnya adalah dari sini.

“Tapi, kenapa dia harus melakukan hal seperti itu...?”

Sederhananya, dia tinggal menyerahkan semuanya kepada kami. Lagi pula, tidak ada hal mencurigakan yang tertulis di sana. Seharusnya tidak ada alasan bagi Senpai untuk menyembunyikan buku panduan perawatan tersebut.

Iwama mengintip dari samping ke arahku yang sedang berpikir, wajahnya tampak sedikit geli.

“Aku ingin kamu mendengarkan ini, anggap saja ini cuma khayalan liarku, ya,” Iwama melanjutkan sembari melangkah pelan.

“Seandainya saat itu dia tidak hanya menyerahkan buku panduan hamster, tapi juga buku panduan makhluk hidup lainnya... Senpai mungkin berpikir bahwa dia seolah sedang melimpahkan seluruh beban perawatan kepada kita.”

“...Ah, begitu rupanya.”

Kami adalah anggota baru. Terlebih lagi, ini adalah hari pertama kegiatan resmi kami. Sebesar apa pun tuntutan untuk mengajari cara merawat hewan, dia pasti merasa tidak enak jika langsung menyerahkan seluruh buku panduan perawatan makhluk hidup sekaligus. Namun karena suasananya sudah telanjur mengarah untuk menyerahkan semuanya, dia membutuhkan alasan untuk hanya memberikan selembar saja. Karena itulah dia menyembunyikan sisanya.

Itu adalah bentuk kebaikan canggung khas Senpai, yang berusaha agar perhatiannya tidak disadari oleh orang lain.

Iwama masih terus melanjutkan.

“Del-chan, apa kamu ingat? Di buku panduan hamster itu, tertera tanggal pembuatannya.”

“Kalau tidak salah, tahun 2020...”

“Benar, bulan April.”

Empat tahun lalu. Kami baru saja naik ke kelas enam SD. Namun, aku masih ingat dengan jelas peristiwa saat itu.

Itu adalah bulan ketika status darurat nasional diumumkan.

Di sekitar masa itulah, wajah sekolah dan kegiatan klub berubah secara drastis. Pada bulan Maret tindakan penutupan sekolah diberlakukan, dan tahun ajaran baru pun dimulai di tengah situasi yang serbasingkat dan membingungkan. Tepat pada bulan April itu.

Pasti ada alasan mengapa Iwama mengungkit masa-masa itu. Aku pun menunggu kalimat berikutnya.

“Kupikir itu adalah buku panduan yang dibuat dengan sekuat tenaga oleh murid tahun kedua dan ketiga pada masa itu. Seperti yang dikatakan oleh temanmu tadi, meski kegiatan klub dibatasi, perawatan makhluk hidup tetap harus dilanjutkan. Namun, para senpai tidak bisa membimbing junior mereka secara langsung dengan leluasa. Karena itulah, buku panduan yang ditulis dengan sangat detail itu lahir.”

Begitu rupanya.

Buku panduan yang teramat mendetail seperti itu memang tidak akan pernah tercipta dalam kegiatan normal yang petunjuknya bisa diwariskan secara lisan.

“Jadi sejak awal, benda itu bukanlah sesuatu yang lahir dari kenangan yang menyenangkan, ya.”

“Kurasa Karato-senpai pun memikirkan hal yang sama. Sejak pertama kali Senpai menerima kertas-kertas itu.”

Karena aku bukanlah Mikage Aya, aku mencoba menghitungnya dengan menekuk jari-jariku satu per satu. Karato-senpai masuk ke SMA Tsunanagai pada bulan April 2022. Murid tahun ketiga saat itu adalah murid tahun pertama ketika buku panduan tersebut pertama kali dibuat.

Setelah benar-benar menghitungnya, aku menyadari betapa cepatnya siklus pergantian generasi dalam sebuah klub sekolah.

Setiap bulan April tiba, tidak akan ada lagi orang yang mengingat masa sebelum dua tahun yang lalu.

Para murid yang sempat merasakan kegiatan klub sebelum adanya pembatasan sudah lulus ketika Karato-senpai baru bergabung. Seluruh senpai di atasnya adalah murid-murid yang berjuang mempertahankan tugas merawat hewan di tengah segala keterbatasan aktivitas.

Sebagian besar daya tarik dari kegiatan klub pasti telah lenyap dengan cepat. Fakta bahwa tidak ada murid tahun ketiga selain Karato-senpai, bahkan tidak ada satu pun murid tahun kedua, menceritakan realitas tersebut dengan sangat jelas.

Berbeda dengan klub fisika atau klub kimia, klub biologi tidak berhasil melewati badai besar itu dengan selamat.

Di dalam buku panduan perawatan yang tertinggal dalam situasi seperti itu, kesedihan mendalam selama empat tahun telah meresap kuat.

Bagi Karato-senpai, benda itu mungkin terasa seperti lambang kemunduran dari klub biologi.

“Makanya, menurutku alasan Senpai tidak menyerahkan buku panduan itu kepada kita adalah sebuah bentuk pernyataan sikap. Sebuah tekad bahwa dia tidak akan membiarkan murid tahun pertama yang baru bergabung mengalami hal yang sama lagi, sebuah pernyataan tekad.”

Apakah memang begitu? Apakah Karato-senpai benar-benar berpikir sejauh itu?

Yah, seperti yang dikatakan Iwama sendiri, ini hanyalah kelanjutan dari sebuah khayalan belaka.

“Mungkin saja,” hanya itu yang kupilih untuk kuucapkan. Kalaupun tebakan ini salah, tidak akan ada pihak yang dirugikan.

Kami keluar di area pertokoan pusat yang ramai oleh orang-orang yang berbelanja di waktu sore. Tanpa kusadari, aku telah melewati jalan simpang menuju rumahku sendiri. Aku malah terus mengekor di belakang Iwama, berjalan sia-sia menuju arah stasiun. Rasanya sangat canggung jika baru sekarang aku menyatakan bahwa aku salah jalan. Dibandingkan harus berbalik arah, rasanya lebih baik sekalian saja aku pergi sampai ke stasiun.

Di saat aku sedang memikirkan hal itu dengan tatapan kosong, Iwama berujar dengan penuh semangat.

“Mari kita berjuang bersama!”

Sepasang matanya memantulkan cahaya senja, berkilau dengan pancaran tekad yang kuat.

“Klub biologi, kalau kita yang melakukannya, aku yakin kita pasti bisa membangkitkannya kembali. Jadi, mari kita berjuang.”

“...Benar juga. Mari kita berjuang bersama,” karena merasa hanya mengulang kata-katanya saja tidak cukup, aku menambahkan, “Mohon bantuannya, ya.”

“Aku juga, mohon bantuannya.”

Meskipun itu adalah interaksi yang hanya mengulang kata-kata biasa, entah kenapa rasanya agak menggelitik bagi kami berdua.

Aroma kaldu dashi tercium samar dari saluran pembuangan udara sebuah kedai makanan kecil yang kami lewati. Perutku mulai terasa lapar.

“Mungkin saja, ini adalah efek dari bunga sakura waktu itu,” karena Iwama tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, aku salah mengatur napas dan tersedak air liurku sendiri dengan hebat. Aku memalingkan wajah dan membungkukkan tubuhku.

“Ah! Maaf, maksudku bukan yang aneh-aneh... Itu, lho, kita ‘kan berharap agar awal kehidupan SMA kita berjalan lancar dan membuat permohonan pada bentuk hati sakura waktu itu. Maksudku ke arah sana.”

“Tidak apa-apa. Aku paham kok.”

“Begitu ya... Tapi tadi kamu tersedak parah sekali.”

“Jangan khawatir. Ini hal yang jarang tapi sering terjadi.”

“Mau pakai saputangan?”

Aku menggelengkan kepala lalu mengeluarkan tisu saku. Akhirnya tenggorokan dan diafragmaku mulai tenang kembali. Iwama memperhatikan gelagatku itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia membuka mulut perlahan.

“...Tapi benar-benar deh, rasanya seperti sebuah keajaiban ya.”

“Keajaiban?”

Aku sempat berpikir dia membicarakan sesuatu yang tidak ilmiah, namun Iwama tampak sama sekali tidak meragukan ucapannya sendiri.

“Iya, keajaiban. Karena kejadian sakura itu, aku jadi tahu kalau ada teman sepertimu, Del-chan. Dan karena tahu aku mengagumi teman yang seperti itu, Rei pun ikut mendorongku... Makanya aku merasa kalau aku boleh melangkah di jalan ini. Rasanya, aku akhirnya bisa mengambil keputusan sendiri demi diriku.”

Begitu ya, aku pun mengangguk.

Iwama memang sempat bimbang. Apakah dia harus mewujudkan sosok diri yang diharapkan orang lain, atau melangkah di jalan yang ingin dia tempuh sendiri.

Melihat bunga sakura waktu itu telah menjadi alasan tidak langsung bagi Iwama untuk memilih jalan yang kedua, mungkin saja begitu.

Senyuman manis yang pernah dibicarakan itu kini diarahkan kepadaku.

“Aku benar-benar berpikir begitu, mungkin karena kita melihat sakura pembawa kebahagiaan itu bersama-sama makanya ada diriku yang sekarang.”

 

Setelah mengantarkan Iwama di stasiun, sembari berjalan pulang ke rumah, aku merenungkan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak hari upacara penerimaan siswa baru.

Rasanya aku sudah memecahkan misteri yang teramat banyak.

Bersama Iwama memecahkan misteri di Kan’oudai dan menemukan bentuk kelopak sakura yang sesuai dengan legenda.

Memecahkan misteri ajakan masuk klub yang direncanakan oleh Mikage, lalu memutuskan untuk masuk ke klub biologi bersama Mizusaki.

Diajak oleh Kannabi untuk memecahkan misteri pohon ginkgo, yang kemudian berujung pada ajakan kepada Iwama untuk masuk ke klub biologi.

Dan hari ini, kegiatan klub akhirnya resmi dimulai, dan kami berempat menyatukan kekuatan untuk menyelesaikan misteri hilangnya Jou no Uchi.

Meskipun awal mulanya dipenuhi oleh misteri, namun berkat rangkaian kejadian yang sangat pas itulah makanya ada masa sekarang.

Awal kehidupan SMA yang berjalan lancar, sakura di gunung belakang itu mungkin memang benar-benar telah mengabulkan permohonan kami.

Bentuk kebahagiaan yang tahun ini hanya ditemukan oleh Iwama dan aku saja.

Bentuk hati berwarna merah muda pucat yang tidak bisa ditemukan oleh siapa pun selain kami.

...Hmm?

Ada sesuatu yang mengganjal di sudut kepalaku. Hanya sebuah kejanggalan kecil, namun jelas terasa aneh.

Pada hari ketika kami melihat bentuk hati itu, kenapa kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut orang itu...?

Begitu rasa curiga mulai muncul, aku pun mulai menyadari bukti fisik lain yang sangat mengindikasikan keterlibatan sosok tersebut.

Begitu pula dengan rumus matematika itu. Juga dengan posternya.

Lalu, ah, jadi yang waktu itu maksudnya begitu...

Bagai bola salju yang menggelinding, kecurigaanku pun semakin membesar.

Aku bisa saja menganggap semua ini berkat kekuatan sihir dari bunga sakura. Bahwa karena kami melihat bentuk hati sakura itulah, awal kehidupan sekolah kami bisa berjalan dengan sangat lancar. Namun, apakah benar-benar tidak apa-apa jika menganggapnya demikian?

Mizusaki yang merencanakan masalah sakura. Mikage yang merencanakan masalah kunjungan klub. Kannabi yang merencanakan masalah jalan-jalan hari Sabtu kemarin.

Padahal mereka bertiga seharusnya sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya, namun tindakan mereka masing-masing telah berkontribusi hingga kami berempat bisa berkumpul sebagai anggota baru di klub biologi.

Seperti sebuah keajaiban, persis seperti kata Iwama.

Namun, seandainya semua itu bukanlah sekadar keajaiban belaka...?

Tentu saja tidak mungkin dia bisa membaca isi hatiku saat ini, namun di ujung penyeberangan jalan setelah aku menyeberang, aku menyadari ada seorang gadis yang sedang menungguku. Saat melihat ke arahku, dia membungkuk memberi hormat sedikit.

“Bisa bicara sebentar?”

Dengan suara rendah dan jernih yang tidak memancarkan emosi sama sekali.

“...Ada yang ingin kubicarakan dengan Delta-kun.”

Sosok itu adalah Mikage Aya.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#The Science Notes by δ and γ ,#The Science Notes by δ and γ_1 ,
Getting Info...

Posting Komentar