Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Putaran Kelima

Putaran Kelima: Dentang Lonceng Tengah Malam dan Kelahiran Pengguna Sihir

Aroma jerami dan ringkikan kuda.

Mahiru masih terbaring di atas tumpukan jerami baru, seolah tidak sanggup untuk bangkit.

Karena besok adalah hari pesta dansa, keriuhan kota terdengar samar dari kejauhan. Alunan musik piano entah dari mana pun sesekali tertangkap oleh indranya. Segalanya terasa seperti kejadian di dunia yang sangat jauh.

Setelah si Gembala menghilang, amarah yang sebelumnya membara di hati Mahiru sedikit mereda, membuatnya mampu meninjau kembali situasinya dengan lebih jernih. Di dunia Si Tudung Merah, dia hanya perlu mengalahkan seekor serigala, namun kali ini tidak sesederhana itu.

Lawannya adalah seorang pangeran yang mabuk kekuasaan serta obsesi, dan telah terpikat oleh penyihir yang mampu meruntuhkan negara.

Penyihir Layla bersemayam di dalam tubuh Elez. Satu-satunya jalan untuk mengalahkannya hanyalah dengan membunuh Elez.

Mahiru merasa jika dia mengulanginya beberapa kali lagi, mungkin dia bisa membereskan urusan dengan Reset. Dia tidak merasa hal itu mustahil. Namun, bagaimana dengan Layla? Elez sudah berkata bahwa dia tidak ingin mati. Sambil berurai air mata dan ingus, gadis itu telah mengucapkannya secara langsung...

Mahiru merasa seolah-olah dia sedang menuruni anak tangga menuju keputusasaan secara perlahan.

Entah sudah berapa lama dia berbaring di sana.

Bintang-bintang mulai nampak berkilauan di langit yang semakin gelap.

Elez bukanlah seorang pendendam.

Lantas, siapakah dia sebenarnya? Hanya gadis biasa?

Bayangan tentang gadis bertudung merah yang tertawa nakal melintas di benak Mahiru, membuatnya buru-buru menggelengkan kepala.

Sama sekali tidak. Dipikir bagaimanapun, gadis itu sangat jauh dari kata biasa.

Setelah menyelesaikan kisah Si Tudung Merah, Maisy berada di tempat pembukaan, namun dia menghilang saat Mahiru kembali ke dunia nyata. Jika dipikir secara wajar, Maisy pasti kembali ke kisah aslinya, namun Mahiru bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang.

Tidak, tidak boleh. Kenapa Mahiru jadi selemah ini?

Dia harus tetap membakar amarahnya.

Reset tidak bisa dimaafkan.

Layla pun akan dia hancurkan.

Dunia yang tidak adil ini benar-benar tidak boleh dibiarkan.

“Hei.”

Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya, membuat Mahiru perlahan bangkit.

Di depannya berdiri Elez yang tampak heran. Begitu melihat Mahiru, dia mengerutkan dahi dengan cemas.

“Ada apa? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?”

Mahiru menatap Elez sekali lagi.

Keras kepala, kasar, namun sebenarnya tidak sekuat itu. Ah, benar kata si Gembala, Mahiru memang masih kurang memahami sosok Elez.

“Hei, kakak-kakakmu itu benar-benar sampah, ya?”

Mahiru teringat perlakuan mereka terhadap Elez pada putaran pertama.

Mereka menyiramnya dengan air, memojokkannya, dan hampir melakukan sesuatu yang menyerupai penyiksaan.

Dia bisa merasakan obsesi dan kegilaan yang mereka tujukan pada Elez. Itu bukan sekadar perundungan biasa.

“Memang benar... tapi kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?”

“Kenapa kamu tidak pergi saja dari rumah ini? Apa kamu tidak pernah memikirkannya?"

Elez mengernyitkan dahi dengan curiga.

Namun, melihat ekspresi Mahiru yang sangat serius, dia merasa tidak pantas untuk menghindar dan mulai mencari kata-kata. Setelah mengorek tanah dengan ujung sepatunya dan meremas ujung baju pelayannya, akhirnya satu kata singkat keluar dari mulutnya.

“Balas dendam.”

“...”

“Kamu merasa jijik?”

Elez menatap Mahiru seolah sedang memantau reaksinya.

“Sama sekali tidak, jika itu memang benar. Karena aku pun sama sepertimu.”

Benar, Elez bilang itulah tujuannya bertahan hidup selama ini.

Namun, apakah itu benar-benar hal yang paling utama baginya? Fakta bahwa dia bisa menceritakannya kepada Mahiru yang hubungannya masih belum dalam, apakah itu berarti dia memiliki niat tulus yang lain?

“Kamu bilang ingin mengalahkan Penyihir demi adikmu, ‘kan?”

Itu adalah pembicaraan Mahiru dengan Layla sebelumnya.

Tampaknya Elez pun mendengar percakapan itu.

“Ya. Untuk menyelamatkan adikku, aku harus mengalahkannya bagaimanapun caranya. Karena itu, aku harus melewati hari ini dan pergi ke pesta dan... eh?”

Sesuatu seolah menusuk otak Mahiru, membuatnya terdiam kaku.

Apa yang baru saja dia katakan? Melewati hari ini? Bagaimana caranya?

Dengan meminta bantuan Layla untuk melindunginya dari Penyihir yang akan menyerang saat dia tidur?

Tidak, tunggu, tunggu, itu aneh!

“Ada apa, Mahiru?”

Mahiru menjulurkan tangannya untuk menghentikan Elez yang tampak bingung. Saat ini dia tidak ingin diganggu karena sedang berpikir keras.

Aneh. Sangat aneh. Jika penyihirnya adalah Layla, lantas dari siapa dia harus dilindungi? Musuh Mahiru adalah Penyihir Layla.

Lalu, siapa sebenarnya sosok yang datang menyerang malam itu?

Jika sosok itu bukan sang Penyihir, lantas kenapa dia mengincar Mahiru? Tidak, ada hal lain yang lebih penting. Jika Layla adalah sang Penyihir, maka Mahiru harus meragukan seluruh tindakan Layla selama ini.

Ingat kembali kejadian sebelum putaran ketiga saat identitas Layla terbongkar. Percakapan apa yang dia lakukan dengan Layla? Pasti ada sebuah petunjuk...

“...Ah, permata.”

Layla memintanya untuk meletakkan permata merah di tempat yang telah ditentukan.

Layla bilang kekuatannya sedang dibatasi oleh Penyihir dan dia butuh permata itu untuk melepaskan segelnya. Mahiru tidak tahu itu benar atau bohong. Namun, yang pasti hal itu menguntungkan Layla, dan itu berarti merugikan bagi Mahiru.

Meski belum semuanya terhubung, dia yakin tindakannya saat itu telah mengubah sesuatu. Pasti mengubah sesuatu. Permata merah itu adalah benda yang sama sekali tidak boleh diletakkan di sana.

“H-Hei, Mahiru!?”

Mahiru yang mendadak berdiri langsung berlari sekuat tenaga.

Elez yang bingung sempat mencengkeram lengannya, namun Mahiru melepaskan diri sambil berteriak, “Maaf, aku ingat ada urusan mendesak! Kalau ada apa-apa, tolong karang alasan apa saja untuk menutupi kepergianku!”

Mahiru berlari sekencang mungkin menuju bukit yang terletak di pinggiran Ibu Kota.

 

* * *

 

Sebatang pohon metasequoia agung berdiri kokoh di puncak bukit, mendampingi sebuah batu nisan.

Secara kronologis seharusnya ini masih hari yang sama, namun bagi Mahiru, rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali dia menginjakkan kaki di tempat ini.

Ada orang lain di depan batu nisan itu. Mahiru terkejut saat menyadari bahwa sosok itu adalah satu dari sedikit orang yang dia ketahui namanya di dunia ini. Rambut pirang yang tertata rapi, pakaian bangsawan kelas atas yang kemewahannya bahkan bisa dikenali Mahiru, serta wajah yang tampak gagah dan berwibawa.

Dia adalah kepala keluarga Cendrillon, Ryzen Cendrillon.

Pria itu baru saja meletakkan sekuntum bunga.

Sebatang mawar merah menyala. Seingat Mahiru, saat dia datang sebelumnya, ada bunga mawar serupa yang tergeletak di sana. Tampaknya Ryzen rutin mengunjungi tempat ini.

Menyadari kehadiran Mahiru, Ryzen mengeraskan raut wajahnya, kembali ke ekspresi masamnya yang biasa.

“Membolos kerja bukan hal yang patut dipuji.”

“...Anda masih ingat saya, ya.”

Mahiru terkejut karena tidak menyangka akan disapa.

Meski mereka pernah berpapasan sekali, Mahiru yakin belum sempat memperkenalkan diri. Lagipula, dia mengira sang kepala keluarga tidak akan menaruh minat pada seorang pelayan yang baru bekerja dua hari.

“Sepertinya kamu cukup akrab dengan Elez.”

“Ya, begitulah...”

Mahiru tidak bisa membaca emosi dari wajah Ryzen. Apakah pria itu mencemaskan Elez, atau sekadar berbasa-basi karena canggung? Tidak, dia tidak tampak seperti tipe orang yang sudi membuang waktu berkomunikasi dengan pelayan. Apa dia marah? Mahiru benar-benar tidak paham.

Namun, Ryzen terus menatapnya lekat-lekat seolah menaruh rasa ingin tahu.

Atmosfer ketegasan yang dipancarkannya membuat Mahiru merasa sangat tidak nyaman hingga dia refleks membuang muka.

“Ada apa? Anda tidak mungkin tertarik pada rakyat jelata seperti saya, ‘kan?”

“Tidak juga. Misalnya, aku tertarik pada alasanmu menyamar sebagai pelayan demi menyusup ke kediaman Cendrillon.”

Mata Ryzen menyipit, memicu ketegangan di udara. Bayangan tentang kepalanya yang dipenggal gara-gara salah bicara seketika melintas di benak Mahiru, membuat punggungnya basah oleh keringat dingin.

Bodoh sekali dia. Mana mungkin pria yang mempekerjakan para pelayan ini tidak mengetahui hal itu.

“...Kenapa Anda diam saja sampai sekarang?”

“Jika kamu mata-mata dari faksi lawan, aku pasti sudah langsung memenggal kepalamu. Tapi sepertinya bukan. Pekerjaanmu terlalu ceroboh untuk ukuran seorang mata-mata. Lagipula, sudah lama aku tidak melihat Elez tampak seceria itu.”

Untuk sekejap, raut tajam di wajah Ryzen melunak.

Karena Elez tampak ceria...? Apa-apaan itu?

Mahiru bingung mendengar ucapan yang terdengar seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya. Ibu angkat Elez, juga Schale dan Coupe, semuanya membenci Elez yang merupakan anak angkat. Elez sendiri merasa tidak punya tempat di rumah itu. Namun, meski hanya sekali, Ryzen memang pernah menunjukkan gelagat peduli dengan Elez.

“Padahal kalian sama sekali tidak mirip. Namun, saat melihat mata liarmu dan api yang berkobar di baliknya, aku teringat padanya. Wanita yang datang dari luar akal sehat yang kaku ini.”

“...Wanita itu.”

Saat bertemu di kediaman, Ryzen selalu memancarkan aura yang mengancam, namun sekarang dia tampak berbeda. Mengapa Ryzen, yang bersikap dingin bahkan kepada putrinya sendiri, mencoba berbicara dengan orang seperti Mahiru? Apakah suasana tempat ini yang memengaruhinya, ataukah ini jati dirinya yang sebenarnya?

Mahiru mengikuti arah pandang Ryzen menuju batu nisan tersebut.

“...Petrie Liliarouge.”

Mahiru merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

“Dari mana kamu berasal?”

“...Tempat yang jauh. Diberi tahu pun Anda tidak akan paham.”

“Haha, bahkan caramu menjawab pun sama persis dengannya.”

Kali ini Ryzen benar-benar tersenyum. Raut masamnya sirna, digantikan oleh ekspresi yang membuatnya tampak seperti anak laki-laki. Ryzen sedikit melonggarkan kerah pakaiannya, lalu duduk di samping batu nisan itu.

Dia memberi isyarat dengan dagunya agar Mahiru mendekat, maka dengan ragu Mahiru pun duduk di sampingnya.

Angin berembus kencang.

Ryzen menatap pemandangan ibu kota yang terbentang di bawah mata mereka dan mengembuskan napas panjang.

“Dia tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku masih muda. Berpakaian kumal, bicara sembarangan. Namun, dia memiliki aura keanggunan yang aneh, daya tarik yang memikat mata orang lain.”

Ryzen mulai bercerita dengan pandangan menerawang.

“Awalnya aku seorang bangsawan, sementara dia bukan sekadar rakyat biasa; dia adalah gadis polos yang datang sendirian dari antah berantah. Namun, tidak butuh waktu lama bagiku untuk jatuh hati padanya. Aku sering menyelinap keluar dari rumah untuk menemuinya... Kalau dipikir kembali, masa-masa itulah yang paling membahagiakan.”

Kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Ryzen, seolah dia tengah mengakukan rahasia yang selama ini terpendam rapat.

“Namun, aku tidak bisa bersatu dengannya. Dia memiliki kekuatan misterius, dan Paduka Raja menginginkan kekuatan itu. Aku tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Dia pasti sangat membenciku.”

Ryzen adalah sosok agung, bangsawan kaku berwajah besi yang angkuh. Itulah kesan Mahiru saat pertama kali melihatnya. Namun jika sosok itu hanyalah topeng yang harus dia pakai di rumah, di depan Schale atau Coupe, maka ceritanya berbeda. Mahiru merasakan benih-benih pemberontakan dalam setiap perkataan Ryzen terhadap keluarganya sendiri dari balik nada bicaranya.

“Apa tidak apa-apa menceritakan ini pada saya?”

“Jangan cemas. Jika keadaan mendesak, melenyapkan satu orang sepertimu adalah perkara mudah.”

Karena Ryzen mengucapkan kalimat ancaman itu dengan wajah datar, Mahiru sama sekali tidak merasa itu lucu.

“Ah, benar juga. Dia memiliki seorang putri dari Paduka Raja. Gadis itu tumbuh menjadi sosok yang mirip dengannya... cantik, liar, dan sangat menawan. Dia meninggal saat putrinya masih kecil... Jika bisa, aku ingin memperlihatkan sosok putrinya sekarang kepadanya.”

Selesai bicara, Ryzen berdiri dan merapikan pakaiannya.

“...Apa Anda tidak menyukai keluarga kerajaan?”

“Kamu sepertinya salah paham. Bangsawan itu sama sekali tidak hebat. Di saat genting, kami selalu tidak berdaya. Bahkan untuk melindungi satu wanita yang dicintai pun kami tidak mampu.”

Mahiru terpaku mendengar jawaban yang di luar dugaannya. Menyadari bahwa Ryzen ternyata cukup bersahabat, Mahiru ingin menanyakan banyak hal. Termasuk soal Elez, karena seharusnya Ryzen-lah orang yang mengambilnya sebagai anak angkat.

Namun, Ryzen tampak sudah puas bicara dan mulai beranjak pergi.

“Hei, tunggu dulu!”

“Jaga bicaramu. Terutama di dalam kediaman. Jika tidak, aku benar-benar harus melenyapkanmu.”

Wibawa Ryzen yang tidak terbantahkan membuat langkah Mahiru terhenti seketika. Tanpa menoleh lagi, Ryzen menuruni bukit, meninggalkan Mahiru yang termangu kebingungan.

Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, Mahiru menyambar permata merah yang sebelumnya dia letakkan di samping batu nisan itu.

 

* * *

 

Mahiru tidak tahu apa yang akan berubah dengan ini. Namun, dia yakin keadaan pasti akan bergeser ke arah yang lebih baik. Untuk saat ini, mungkin yang terbaik adalah melihat hasilnya terlebih dahulu.

Setelah memasukkan permata merah itu ke dalam saku, Mahiru mulai menuruni bukit.

Tiba-tiba, napasnya terasa sesak.

“Ugh...!”

Udara di sekelilingnya terasa sangat berat, seolah dia sedang tenggelam di dasar laut.

Ini bukan pertama kalinya dia merasakan sensasi ini. Ini adalah perasaan yang sama dengan yang menyerang Mahiru saat dia tertidur pada malam kedua. Ini adalah pertanda kehadiran sang Penyihir—tidak, lebih tepatnya, gadis berjubah itu.

“Berani-beraninya kamu menampakkan muka bodohmu lagi di depan makamku, dasar keparat!”

Mahiru menoleh dan melihat seorang gadis kuncir dua yang mengenakan jubah dalam.

“Tunggu, kenapa kamu ada di sini?”

Gadis itu bergumam pelan, lalu cahaya mulai memancar dan menyelimuti tubuhnya. Cahaya itu berubah bentuk, memiliki massa, menyimpan fungsi khusus, dan menjadi sepasang zirah. Sang pengguna sihir mengenakan perlengkapan ringan yang mengutamakan kelincahan, lengkap dengan sebuah tombak panjang.

Dengan gerakan lincah, dia mengarahkan tombak itu ke arah Mahiru.

“Muntahkan isi perutmu, dasar buruk rupa!”

Mata tombak itu melesat lurus ke arah Mahiru dan darah segar memercik. Meski wajahnya menyernyit menahan perih, Mahiru berhasil menjepit tombak itu dengan lengannya. Sambil berkeringat dingin merasakan sentuhan darah yang mengalir, dia memaksakan kekuatannya dan meyakinkan diri bahwa ini hanyalah luka ringan.

Pikirkan. Gadis ini adalah sosok yang sama dengan penyihir palsu yang menyerangnya di malam hari. Awalnya dia mengira gadis ini adalah Penyihir, namun kini terbukti bahwa Layla-lah penyihir yang sebenarnya, musuh yang menyebarkan kegilaan dalam kisah Cinderella.

Gadis di depannya bukanlah Penyihir itu. Namun, mustahil jika dia tidak memiliki kaitan dengan cerita ini.

Jika begitu, berarti ada satu peran yang masih kosong.

“...Kamu adalah si pengguna sihir, ya?”

“Hah? Pakaian itu, kamu pelayan keluarga Cendrillon? Dia membiarkan antek Penyihir masuk ke dalam rumah? Padahal kupikir wajahmu terlihat sedikit lebih mendingan, ternyata pria itu tetap bodoh seperti biasanya.”

Jika gadis ini adalah si pengguna sihir, maka menurut dongeng Cinderella, dia adalah peran yang wajib ada dalam cerita, dan yang terpenting, dia memiliki kemampuan khusus untuk melawan sihir jahat.

Jujur saja, Mahiru tidak bisa melihat masa depan di mana dia bisa menang melawan Layla, tidak seperti saat melawan serigala dulu. Jika gadis ini adalah jawabannya, maka ini adalah taktik melawan racun dengan racun. Dengan kekuatannya, Mahiru bisa melawan balik.

“Aku bukan antek Penyihir, aku justru musuhnya!”

“Hah? Jangan bohong, dasar bocah brengsek yang tidak tahu malu.”

“Aku tidak bohong! Aku tahu rahasia negeri ini! Bahwa pusat kerajaan telah dicemari oleh Penyihir! Aku tahu mereka mengumpulkan wanita di pesta dansa untuk diubah menjadi permata dan menyebarkan kegilaan ke mana-mana!”

Mendengar desakan Mahiru yang penuh keputusasaan, pegangan gadis itu pada tombaknya mengendur.

Ini adalah sebuah pertaruhan. Sudah hampir pasti bahwa si pengguna sihir ini bermusuhan dengan Layla, namun Mahiru tidak tahu seberapa jauh dia memahami situasi negeri ini.

Semakin banyak informasi yang dia buka, semakin besar pula kemungkinan dia dicurigai, apalagi tingkat kepercayaan terhadap Mahiru sudah berada di titik terendah karena dia telah bertindak sesuai rencana Layla.

Namun, justru karena dia pernah melakukan kesalahan besar, dia tidak boleh ragu di sini. Dia harus mengambil risiko demi meraih kemungkinan sukses.

“Aku berada di sini untuk mengalahkan Penyihir! Tapi aku gagal menyadari bahwa Layla adalah pelakunya. Itulah sebabnya aku kembali! Untuk menyingkirkan benda ini, sekali lagi!”

Mahiru mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak berniat menyerang, lalu mengeluarkan permata merah dari sakunya.

Gadis itu menurunkan kuda-kudanya, membuat Mahiru bisa bernapas lega. Namun ketenangan itu hanya sesaat. Gadis itu bergerak dengan sangat cepat mendekati Mahiru, lalu mendorongnya hingga jatuh dan menindihnya. Permata merah itu terlepas dari tangan Mahiru. Bagian belakang kepalanya menghantam tanah dengan keras hingga dia melihat kilatan cahaya. Begitu pandangannya kembali jelas, ujung tombak sudah berada tepat di depan matanya.

“Jangan berlagak polos, kamu pasti sekutu Penyihir keparat itu, ‘kan? Apa tujuanmu? Apa kamu bocah tolol yang tergiur kekuatan sihir, atau kamu cuma haus harta? Hah?”

Mata gadis itu dipenuhi dengan permata permusuhan.

Kata-katanya membuat amarah Mahiru mendidih dari dasar perut. Sekutu Penyihir? Tergiur kekuatan sihir? Mahiru sudah merasakan penderitaan yang luar biasa gara-gara Layla. Dia ditipu, dikhianati, dan ditusuk dengan pedang. Biarpun mati seratus kali, dia tidak akan pernah sudi menjadi sekutu Penyihir itu.

“Siapa yang sekutu Penyihir!? Daripada jadi temannya, aku lebih baik mati gantung diri!”

Mahiru tidak peduli ujung tombak yang menggores pipinya. Dia mengulurkan tangan ke arah leher gadis itu, mencengkeram pakaiannya, dan berteriak dalam amarah.

“Aku datang ke sini untuk membantai Penyihir sialan itu! Bahkan jika anggota tubuhku dipotong-potong pun, aku siap menggigit lehernya sampai putus! Jadi diam dan pinjamkan kekuatanmu!”

Gadis itu tampak tercengang dan menjatuhkan tombaknya. Dia mendecih lalu menepis lengan Mahiru, kemudian berdiri sambil menatap Mahiru dengan bingung.

“Sebenarnya siapa kamu ini?”

“Misora Mahiru. Aku akan membantai Penyihir itu, menyelamatkan adikku... dan juga Elez.”

Mendengar perkataan Mahiru, alis gadis yang terbentuk indah itu sedikit bergerak.

Berlawanan dengan amarahnya, pikiran Mahiru terasa sangat jernih.

Tadi, gadis itu melihat batu nisan dan mengatakan itu adalah makamnya sendiri. Bisa dianggap bahwa gadis ini, entah bagaimana caranya, pernah mati sekali.

Ryzen memberikan bunga di makam itu dan membicarakan masa lalu. Tentang wanita yang dia cintai, perasaannya, masa lalu, dan fakta bahwa wanita itu memiliki seorang putri.

Terlebih lagi, penampilan gadis ini. Rambut perak yang indah, mata safir, bahkan cara bicaranya yang kasar pun sangat mirip.

Dengan semua petunjuk ini, bahkan Mahiru yang tidak peka pun bisa menebak identitas gadis di depannya.

“Kamu ini ibunya Elez, bukan?”

Itulah jawaban yang ditarik oleh Mahiru.

Meskipun ada beberapa pertanyaan seperti mengapa dia berwujud gadis muda atau bagaimana dia bisa ada di sini padahal seharusnya sudah mati, namun dia terlalu banyak menyisakan kemiripan dengan Elez.

Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, dia melepaskan perlengkapan sihirnya. Mahiru menganggap itu sebagai sebuah jawaban.

Elez bilang dia ingin membalas dendam dan hidup demi hal itu.

Namun di saat kritis, dia mengaku tidak ingin mati, lalu mengutarakan perasaan dari lubuk hatinya yang terdalam.

“Elez bersumpah untuk membalas dendam... tapi, dia mengatakannya dengan jujur. Bahwa dia ingin bertemu ibunya. Itulah keinginannya yang paling tulus.”

Ya, benar. Mungkin hal yang diinginkan Elez sebenarnya adalah ibunya. Bukankah ibu yang seharusnya sudah mati ini memegang kunci besar untuk mencapai True Ending?

Jika esensi dari Cinderella bukanlah balas dendam, maka hipotesis si Gembala akan runtuh.

“Ah, sial, baiklah aku mengerti.”

Petrie mengacak-acak rambutnya, lalu melepas jubahnya dengan raut wajah gusar.

“Setelah kamu bicara sejauh itu, aku tidak bisa menganggapmu sebagai musuh. Akan kuberi tahu jawabannya, bocah tolol. Petrie Liliarouge. Akulah ibu kandung Elez, sekaligus si pengguna sihir yang baik.”

* * *

 

Ini adalah kisah tentang jalinan takdir antara sang Penyihir dan pengguna sihir yang tidak diketahui oleh Mahiru dan kawan-kawannya.

 

Petrie lahir di sebuah desa para penyihir yang terletak jauh di dalam hutan, terpisah dari hiruk-pikuk Ibu Kota.

Dia menginjakkan kaki di kota pusat kerajaan itu saat usianya baru 17 tahun. Kala itu, suasana kota tidak segegap gempita sekarang. Meski tidak bisa dikatakan diliputi kemalangan, kota itu hanyalah sebuah tempat biasa yang bisa ditemukan di mana saja, dengan sebuah istana megah yang menjulang tinggi di pusatnya.

Kedatangan Petrie ke Ibu Kota didorong oleh rasa penasaran yang besar.

Ilmu sihir adalah sesuatu yang harus dirahasiakan dan tidak boleh bocor ke dunia luar. Begitulah aturannya, namun Petrie tidak sanggup membayangkan dirinya harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya hingga ajal menjemput di dalam hutan yang rimbun dan suram.

Petrie menjalani hidupnya hari demi hari dengan serabutan. Dia menggunakan sihir untuk mencuri makanan atau pakaian, dan menginap di sembarang tempat sesuka hatinya. Meski merasa lebih bebas dibandingkan saat di dalam hutan, bukan berarti dia memiliki tujuan hidup yang jelas. Baginya, setiap hari terasa membosankan.

Di tengah masa itulah, dia bertemu dengan seorang bangsawan bernama Ryzen.

“Luar biasa. Apa kamu yang melakukan itu?”

Secara tidak terduga, pria itu melihat Petrie saat sedang menggunakan sihir.

Gawat, apa aku harus membunuhnya? Pikiran ekstrem itu sempat melintas di benak Petrie, namun kalimat yang keluar dari mulut pria itu justru di luar perkiraan.

“Tapi, cara pakaimu kurang tepat. Itu adalah kekuatan yang sangat indah. Seharusnya kamu menggunakannya untuk membantu orang lain. Itu juga demi kebaikanmu sendiri.”

Petrie benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu.

Dia selalu mengira bangsawan di Ibu Kota hanyalah sekumpulan orang brengsek, namun pria ini benar-benar merusak persepsinya.

Sosok pria besar yang berwajah masam, kaku, namun sangat jujur. Itulah kesan pertama Petrie terhadapnya. Ryzen tampak sangat benci pada ketidakadilan, namun di balik itu dia memiliki kelembutan hati yang melebihi orang biasa. Walaupun, dia sangat buruk dalam menunjukkannya.

Seiring berjalannya waktu, mereka perlahan mulai saling tertarik hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih. Di masa itu, Petrie mulai menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka di kota atau memperbaiki pakaian mereka menjadi baru kembali. Bukannya dia mendadak memiliki cita-cita yang mulia, dia hanya merasa senang setiap kali melihat raut wajah Ryzen yang kaku itu melunak.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Petrie dipanggil oleh sang Raja yang telah mengetahui rahasia sihirnya. Raja menggunakan keselamatan Ryzen sebagai jaminan; jika Petrie tidak mau menjadi miliknya, maka kedudukan dan gelar bangsawan Ryzen akan dicabut. Petrie tidak ragu sedikit pun.

Yah, mau bagaimana lagi. Aku yang nekat keluar dari hutan, lalu dipungut oleh pria seperti Ryzen... Segalanya memang terasa terlalu indah selama ini.

Petrie menganggap ini sebagai hukuman atas segala tindakan seenaknya di masa lalu.

Berpikir demikian, dia pun menyerahkan dirinya menjadi milik sang Raja.

Karena praktik memiliki selir tampaknya tidak diakui secara terbuka di negeri ini, Petrie dipandang rendah dan dicibir oleh orang-orang di dalam istana.

Kehidupan yang tidak nyaman itu terus berlanjut untuk beberapa waktu.

Awalnya Petrie mengira Raja memanggilnya karena mengincar kekuatan sihirnya untuk dimanfaatkan, namun dugaannya meleset. Tampaknya, Raja benar-benar jatuh cinta pada Petrie. Suatu malam, Raja berkata bahwa karena Petrie telah menjadi sosok yang sangat berharga baginya, dia tidak sanggup memanfaatkan Petrie demi keuntungan finansial.

Konyol sekali. Rasanya ingin muntah. Dia membawaku ke sini dengan paksa, lalu bicara seolah-olah telah bertemu dengan pasangan takdirnya... Padahal aku ingin sekali menghancurkannya saat ini juga.

Tak lama kemudian, Elez lahir.

Karena statusnya sebagai anak selir, Elez pun dipandang sebelah mata. Petrie berusaha keras agar kebencian orang-orang tidak sampai menyentuh Elez. Meski dia sangat membenci sang Raja, dia mencintai anak pertamanya itu dari lubuk hatinya yang terdalam.

 

Tujuh tahun berlalu tanpa sekalipun Petrie menginjakkan kaki ke luar istana.

Elez yang dulunya mungil kini sudah bisa berlari dengan kedua kakinya sendiri dan berbicara dengan lancar.

Meski Elez adalah anak yang bandel dan merepotkan, melihatnya tumbuh sehat tanpa penyakit adalah kebahagiaan terbesar bagi Petrie. Namun di saat yang sama, hatinya terasa pedih karena harus mengurung Elez di dalam sangkar burung seperti ini selamanya.

Di saat itulah, sebuah peristiwa terjadi. Sosok penyihir muncul di hadapan Raja. Sebagai perkenalan, sang Penyihir mengubah menteri yang menentang Raja menjadi sebilah permata. Lalu, dia kembali menggunakan kekuatannya untuk memenuhi satu per satu permintaan Raja. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk memikat hati sang Raja.

“Hehehe, Anda ingin membuat negara ini menjadi lebih besar, bukan? Saya akan meminjamkan kekuatan saya.”

Itu adalah kekuatan sihir yang mengerikan dan menjijikkan, berbeda dengan sihir milik Petrie.

Meski sama-sama merupakan kemampuan yang mengabaikan hukum dunia, sihir itu berbeda jenis dengan yang diketahui Petrie. Wanita itu adalah sosok jahat yang sangat pantas disebut sebagai Penyihir.

Sang Penyihir menawarkan kesepakatan kepada Raja; dia berjanji akan memakmurkan negeri ini asalkan Raja mau memberikan beberapa rakyatnya sebagai tumbal. Raja pun menyetujuinya.

Dan akhirnya, tangan jahat sang Penyihir mulai mengincar Elez. Mungkin dia merasa terganggu dengan keberadaan Elez yang memiliki kekuatan sihir, apalagi Elez juga mendapat tempat di hati Raja. Petrie tidak bisa memaafkan hal itu. Dia bertekad kuat bahwa anak yang dicintainya, serta negeri hangat yang dicintai Ryzen dan telah menerimanya ini, tidak boleh dicemari oleh kegilaan sang Penyihir.

Raja sudah sepenuhnya terpikat oleh penyihir itu, dan suara Petrie tidak lagi mampu menjangkaunya.

Jika sudah begitu, tidak ada pilihan lain.

Dia tidak bisa lagi memilah-milih cara.

“Kalau kamu berani menyentuh Elez, aku tidak akan melepaskanmu, dasar penyihir keparat!”

Sebagai pengguna sihir, ia akan menghancurkan wanita brengsek yang tampak seperti wujud nyata dari kebencian itu.

Petrie mengerahkan seluruh kekuatan sihir yang telah dia kumpulkan selama ini menjadi daya serang untuk menghadapi sang Penyihir.

Namun, dia justru terdesak oleh sang Penyihir yang mampu merapal sihir berubah-ubah dengan menggunakan permata. Sang Penyihir tidak tampak lelah sedikit pun, dia terus merapal sihir bertubi-tubi dengan wajah tenang seolah sedang bermain dengan permatanya.

“Heh heh, kamu cukup tangguh juga, tapi level peran kita berbeda. Bagaimanapun, kamu hanyalah sebatas pengguna sihir.”

Dan saat tersadar, Petrie sudah terkapar di lantai dalam kondisi bersimbah darah.

Kekuatan sihirnya terkuras habis, dan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit seolah tulang-tulangnya akan remuk.

Namun, Petrie sama sekali tidak berniat menyerah begitu saja.

“Hah? Kalau kamu pikir aku sama dengan pengguna sihir penurut lainnya, kamu salah besar!”

Petrie mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk melakukan serangan sihir terakhir yang mempertaruhkan nyawa.

Jika dia memang harus mati, setidaknya dia ingin memberikan perlawanan terakhir. Dia membiarkan kekuatan sihir bergejolak di seluruh pembuluh darah mikronya. Sambil merasakan panas yang membakar di sekujur tubuh, dia merapal kutukan yang dipenuhi rasa benci.

“Apa!? Menggunakan tubuh sendiri sebagai katalis untuk kutukan...!”

Begitulah cara Petrie melepaskan sihirnya, dengan bayaran kehilangan raga miliknya sendiri.

Dia membatasi kekuatan sihir lawan dan melemahkan raga sang Penyihir secara drastis. Selain itu, dia juga memasang mantra agar sang Penyihir tidak bisa mendekati Petrie lebih dari jarak tertentu. Untuk sementara waktu, sang Penyihir pasti tidak akan bisa menggunakan sihir permata andalannya.

Setelah itu, Petrie berubah menjadi entitas pikiran. Sebagai bukti kehilangan kekuatannya, wujudnya pun berubah kembali menjadi sosok dirinya di masa kecil. Meski begitu, dia merasa beruntung karena masih bisa mempertahankan kesadarannya.

Alasan dia melarang sang Penyihir mendekat adalah karena dia merasa hanya dirinyalah, sang pengguna sihir, yang mampu melawan Penyihir itu. Dia berpikir akan menyegel sang Penyihir sepenuhnya saat kekuatannya pulih nanti. Namun...

Segalanya justru berbalik menjadi malapetaka.

Penyihir itu, entah bagaimana caranya, memindahkan jiwanya ke dalam tubuh Elez.

 

Fakta bahwa sang Penyihir tidak bisa mendekati Petrie berarti Petrie pun tidak bisa mendekati sang Penyihir. Gara-gara sihir maut yang dia rapalkan sendiri, Petrie tidak berdaya menemui Elez yang jiwanya telah dirasuki sang Penyihir.

Dia benar-benar dikalahkan.

Setelah itu, dengan menggunakan tubuh Elez, Layla mendekati Pangeran Kedua, Reset.

Memanfaatkan pesta dansa untuk mengamankan bahan baku, mengubahnya menjadi permata, lalu menyebarkannya ke seluruh negeri.

Meski sihir Petrie seharusnya membuat sang Penyihir sulit mengolah sihir, segalanya berubah saat dia menanggalkan raga aslinya. Alasannya merasuki Elez mungkin demi menyiksa Petrie, namun yang terpenting adalah karena mengalir darah Petrie dalam nadi Elez, yang berarti gadis itu memiliki kekuatan sihir. Sang Penyihir berniat memanfaatkan hal tersebut.

Namun, dia tampak kesulitan mengendalikan tubuh yang asing baginya. Seandainya dia bisa menggunakan kekuatan penuh, pemandangan di Ibu Kota pasti sudah jauh lebih mengerikan dari sekarang.

Terpisah dari kekasih, bahkan tidak mampu melihat pertumbuhan putrinya yang tercinta. Kalah dari Penyihir meski sudah bertaruh nyawa, dan ironisnya, dia justru tersiksa oleh sihir buatannya sendiri.

Benar-benar kehidupan yang tiada harapan.

Tidak ada satu pun yang berjalan sesuai keinginan, tidak ada satu pun yang berhasil dia capai.

Petrie yakin Elez pasti membencinya... Hanya perasaan itulah yang terus menghantuinya.

 

Mendengar cerita Petrie, segala teka-teki yang selama ini berserakan akhirnya terhubung menjadi satu garis lurus.

Penyihir Layla dan pengguna sihir Petrie yang mencoba melawannya. Sang Raja yang terpikat oleh Penyihir. Lalu Pangeran Kedua Reset yang memanfaatkan sekaligus dimanfaatkan oleh kekuatan Penyihir. Serta Ryzen, mantan kekasih Petrie sekaligus kepala keluarga Cendrillon yang kemudian mengambil Elez sebagai anak angkat.

Petrie ternyata selama ini bertarung sendirian. Tidak, bahkan hingga sekarang dia masih bertarung.

“Anda hebat.”

“Hah? Jangan coba-coba menjilat, aku belum sepenuhnya percaya padamu! Kamu datang untuk membatalkan kutukan yang kupasang pada sang Penyihir. Tentu saja aku menganggapmu musuh, bocah bodoh.”

Itu adalah permata merah yang diberikan Layla. Penjelasan bahwa benda itu adalah alat untuk memulihkan kelemahan Layla memang tidak salah, namun tampaknya benda itu juga berfungsi untuk menghapus pembatas yang mencegah pertemuan antara Layla dan Petrie.

“Tapi, bukannya ini aneh? Keuntungan bagi Layla untuk menghapus sihirmu itu kecil. Tentu dia ingin bebas bersihir, tapi risikonya dia bisa ditemui olehmu. Diganggu oleh pengguna sihir sepertimu pasti merugikan bagi Layla.”

Jika Petrie membocorkan rencana dan niat asli Layla kepada Elez, semuanya akan hancur. Berbeda dengan Mahiru yang hanya seorang pelayan asing, Elez pasti akan langsung memercayai kata-kata ibunya sendiri.

“Ini bukan lagi soal itu. Besok adalah pesta dansa. Sang Penyihir berniat merebut kembali tubuhnya saat kekuatan sihir Elez mencapai puncaknya.”

“Kekuatan sihir memuncak...?”

“Pada hari seseorang dilahirkan ke dunia, seorang pengguna sihir akan menerima berkah. Hari setelah pesta dansa adalah, hari ulang tahun Elez.”

Layla memilih tubuh Elez karena bakat sihirnya. Dengan adanya sihir, dia bisa melakukan apa saja.

“Tujuan penyihir busuk itu pasti untuk menghapus sihirku sepenuhnya. Begitu kekuatan sihir Elez memuncak, dia akan merapalkan sihir penangkal pada tubuh aslinya.”

“...Berarti sejauh ini, semuanya berjalan sesuai skenario yang dia buat.”

Layla memanfaatkan Elez untuk kembali ke tubuh aslinya.

Menyegel Petrie, memenangkan kepercayaan Elez, bahkan Mahiru sempat diperalat olehnya. Segalanya berjalan mulus sesuai rencana. Jika dibiarkan, Layla akan bangkit sepenuhnya, rakyat akan diubah menjadi permata, dan Elez yang dikhianati akan hancur batinnya lalu dipermainkan oleh Reset.

“Tapi selama dia di tubuh Elez, tidak ada cara membunuh Layla. Setelah dia kembali ke tubuh aslinya, semua sudah terlambat... lagipula, entah kita bisa menang atau tidak.”

Kalimat Mahiru terhenti oleh rasa janggal yang menusuk.

“Kembali ke tubuh asli... tunggu sebentar.”

Pada akhir putaran ketiga, Layla sudah memisahkan diri dari tubuh Elez.

Mahiru yang saat itu dijebloskan ke penjara bawah tanah, di tengah pusaran amarah dan keputusasaan, memang sempat bertukar kata dengan Layla. Meski kesadarannya kacau dan kewarasannya menghilang, rambut merah menyala itu terpaku kuat dalam ingatannya. Benar.

Jika tubuh itu memang benar adanya...

“Layla punya tubuh asli!”

Mahiru mendongak, melihat secercah cahaya harapan yang tidak terduga.

“Hah? Ya tentu saja ada. Makhluk seperti dia pun pasti sangat menghargai tubuhnya sendiri.”

“Di mana! Di mana tubuh itu berada!?”

“Pasti di istana. Itu tempat paling aman dan pasti bagi dirinya.”

Mengingat Layla berada di istana saat hari pesta dansa, dugaan itu pasti benar.

Jiwa Layla ada di dalam tubuh Elez. Oleh karena itu, satu-satunya cara membunuh Layla hanyalah dengan membunuh Elez. Mahiru telah bersusah payah mencari cara untuk mematahkan persamaan yang menjurus pada keputusasaan itu.

“Apa yang terjadi kalau tubuh itu dihancurkan?”

Jantung Mahiru berdegup kencang. Dia seolah melihat seutas benang laba-laba turun di hadapannya, lalu dia menelan ludah.

“Entahlah... tapi sang Penyihir merapalkan sihir dengan tujuan kembali ke raga itu. Jiwa butuh raga, raga butuh jiwa. Keduanya terhubung oleh jalur tidak kasatmata... artinya, jika raga dibunuh, jiwa pun akan mati.”

Mahiru mengepalkan tangannya mendengar penjelasan itu.

Layla bisa dibunuh. Tanpa harus membunuh Elez, ternyata ada cara lain untuk melenyapkan Layla.

“Sebelum Layla merebut raganya kembali... sebelum lonceng tengah malam berdentang, kita harus menghancurkan tubuhnya!”

“Secara teori memang begitu, tapi...”

Petrie menunjukkan ekspresi yang berat.

Namun, Mahiru justru merasakan energi yang meluap dari dasar tubuhnya.

Dia melihat jalan, dia melihat arah yang harus dituju, dia melihat masa depan yang harus diraih.

“Tolong, bantu aku.”

“Kamu mau menyelinap ke istana dan membunuh raga sang Penyihir? Itu gila.”

“Lalu kamu mau kita melawan Layla yang sudah bangkit sepenuhnya?”

“Itu malah lebih gila lagi. Saat lonceng tengah malam berbunyi, Layla berniat memindahkan jiwanya kembali ke raga aslinya. Jika raga itu berhasil dia rebut kembali, sang Penyihir Bayangan akan bangkit sepenuhnya. Kalau sudah begitu, aku pun takkan mampu menandinginya.”

Bukan hanya itu. Saat tujuan Layla tercapai, kemalangan Elez sudah bisa dipastikan.

“Kalau begitu, pilihannya cuma satu! Di pesta dansa besok, sebelum lonceng berbunyi, kita cari raga Layla dan hancurkan!”

Penjagaan istana sangat ketat. Untuk menyelinap ke sana, tidak ada cara lain selain memanfaatkan pesta dansa. Jika Petrie saja tidak bisa mengalahkan Layla yang sudah pulih, maka kesempatan untuk bertindak hanya ada pada momen singkat ini. Mahiru harus mempertaruhkan segalanya di sini.

“Aduh, benar-benar ya!”

Petrie tampak berpikir keras sesaat, sebelum akhirnya dia menggaruk kepalanya dengan kasar.

Setelah memutar otak berkali-kali, Petrie tampaknya tidak menemukan rencana lain. Dia terlihat sudah pasrah dan siap menghadapi risiko terburuk. Petrie memejamkan matanya sejenak, lalu ketika membukanya kembali, dia menatap Mahiru dengan sepasang mata yang memancarkan keteguhan.

“Ada pepatah yang bilang bahwa di balik kemakmuran sebuah negara besar selalu ada bayang-bayang penyihir, tapi siapa pun yang benar-benar percaya pada hal itu hanyalah orang bodoh yang tidak tertolong.”

Petrie menatap ke arah istana dengan penuh kebencian sembari menggigit bibirnya.

“Memang benar, negara ini sempat makmur untuk sementara. Namun, kekuatan besar selalu menuntut imbalan yang setimpal. Begitu pula dengan sihir, atau apa pun itu. Akhir bagi mereka yang dengan mudahnya menyentuh kekuatan yang tidak pantas mereka miliki sudah pasti akan berakhir mengenaskan.”

Jika Mahiru memejamkan mata, kegelapan mengerikan di negeri ini seketika terbayang di benaknya.

Ini adalah kota yang sudah membusuk, yang berada dalam cengkeraman penyihir gila. Pangeran yang telah terperangkap dalam rayuan sang Penyihir mengadakan pesta dansa untuk mengumpulkan para gadis muda. Gadis-gadis yang terkumpul itu kemudian diubah oleh kekuatan Penyihir menjadi permata yang penuh dengan kegilaan untuk diperjualbelikan. Negara menjadi kaya raya, kegilaan tersebar ke mana-mana, sementara orang-orang kaya tertawa sembari mengenakan permata itu di tubuh mereka tanpa menyadari bahwa benda itu terbuat dari daging manusia. Benar-benar sebuah kegilaan yang nyata.

Petrie telah mengetahui kegelapan kota ini jauh sebelum Mahiru, dan selama ini dia terus berjuang sendirian.

“Baiklah. Aku akan meminjamkan kekuatanku padamu.”

Petrie menyipitkan mata seolah sedang menilai, lalu menjulurkan tangannya kepada Mahiru.

“Syukurlah... Jadi, bisa kuanggap kau sudah sedikit percaya padaku?”

Ketika Mahiru menyahut dengan nada sedikit ketus, Petrie justru tertawa dengan riang.

“Hah? Tentu saja aku masih merasa kamu mencurigakan. Tiba-tiba saja muncul dan membualkan hal-hal yang terdengar terlalu muluk. Aku juga tidak tahu bagaimana kamu bisa mengetahui rahasia permata itu. Tapi, yah, selama ini aku hidup dengan meyakini instingku.”

“Kalau kamu sampai mati begitu, instingmu tidak banyak membantu ya.”

“Kamu benar. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk Elez. Satu-satunya yang kutinggalkan untuknya hanyalah kebencian. Padahal, sebenarnya aku hanya ingin dia bahagia. Aku tidak ingin dia menderita. Aku ingin dia hidup bebas tanpa terikat oleh apa pun. Aku benar-benar ibu yang gagal.”

Elez telah menghabiskan hidupnya dengan memendam dendam atas kematian ibunya.

Namun Petrie mengatakan bahwa dia hanya ingin Elez bahagia.

Dada Mahiru terasa sesak. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan situasi ini dengan nasibnya sendiri. Apa yang dipikirkan oleh ibu Mahiru saat itu? Apakah ibunya juga mengharapkan kebahagiaan Mahiru dan Asahi? Namun, jika memang begitu, bukankah seharusnya ibunya tidak memilih untuk mati?

Mahiru-lah yang sebenarnya tidak sempat membalas apa pun kepada ibunya. Dia tetap tidak tahu apa-apa tentang perasaan sang ibu. Seumur hidup, dia tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang lebih dari sekadar imajinasi, karena ibunya telah tiada.

“Aku yakin kebencianmu pada penyihir itu nyata. Rasanya tidak enak memanfaatkan kebencianmu sementara aku sendiri meracau ingin putriku bahagia, tapi bagaimanapun juga, aku adalah seorang ibu.”

“...”

“Aku benar-benar berada di titik putus asa. Kumohon, tolong selamatkan Elez.”

Mahiru tidak akan pernah bisa lagi mendengar perasaan ibunya, apalagi mewujudkannya.

Jika memang begitu, setidaknya, apakah dengan melakukan ini dia bisa sedikit merasa tenang?

“Ya, aku mengerti. Bahkan jika harus bertaruh nyawa, aku pasti akan menyelamatkan Elez.”

Setelah mengatakannya, Mahiru menjabat tangan Petrie.

 

Nah, sebelum sihirnya lenyap, musnahkanlah raga sang Penyihir itu.

 

* * *

 

Malam telah benar-benar larut saat Mahiru kembali ke gubuk pelayan.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Layla, dia memutuskan untuk meninggalkan permata merah itu di batu nisan. Bagaimanapun juga, saat ini Petrie belum bisa bersentuhan dengan Layla, dan Mahiru ingin menghindari segala bentuk kecurigaan sebelum mereka pergi ke pesta dansa.

Mengingat dia sudah berdamai dengan Petrie, tidak akan ada lagi orang yang datang menyerang Mahiru malam ini. Namun, tidak peduli berapa lama dia berbaring di tempat tidur, rasa kantuk tidak kunjung datang. Arus pemikiran yang tidak terbendung terus mendesak pikirannya, dan panas di tubuhnya tidak kunjung reda, besok adalah hari penentuan.

Saat matahari pagi mulai menyinari, Mahiru bangkit berdiri.

Sambil mengikuti alur yang sudah dia lalui berkali-kali, dia mengarang alasan asal-asalan kepada Elez mengenai kepergian mendadaknya kemarin sore. Karena suasana menjelang pesta dansa begitu sibuk, tampaknya Elez tidak terlalu memikirkannya dan tidak bertanya lebih dalam.

Begitu waktunya tiba, Elez dan Mahiru mengenakan pakaian pesta berkat sihir Layla.

Sebenarnya Mahiru ingin masuk ke istana lebih awal, namun karena adanya pesta dansa, penjagaan terasa jauh lebih ketat dari biasanya. Tampaknya tidak ada cara lain selain menyelinap masuk dengan berpura-pura menjadi tamu.

“Wah, aku terlihat cukup cantik juga ya dengan gaun ini... Eh, ada apa? Tatapanmu lebih garang dari biasanya.”

Elez mengernyitkan dahi dan mencoba mengintip wajah Mahiru.

Sekali lagi, kata-kata Petrie terngiang-ngiang di dalam kepala pemuda itu, “tolong selamatkan putriku”.

Dia telah mendengar permohonan dari seorang ibu yang seharusnya sudah mati. Wajah Petrie saat menundukkan kepala kepada Mahiru benar-benar murni wajah seorang ibu. Sosok itu tumpang tindih dengan bayangan ibunya sendiri yang telah tiada, yang dia pikir tidak akan pernah bisa dia temui lagi seumur hidup.

Permohonan yang diucapkan Petrie terasa cukup berat bagi Mahiru.

“Bukan apa-apa,” jawab Mahiru sambil menggelengkan kepala, lalu dia merapikan jasnya.

 

Dia menaiki kereta kuda bersama Elez menuju aula pesta dansa.

Disambut oleh musik klasik yang megah, mereka melangkahkan kaki ke dalam ajang pergaulan para bangsawan yang berkilauan.

Mahiru segera berdansa satu lagu dengan Elez. Karena gerakannya yang cukup intens, dia menyeka keringat di dahinya.

Dia mengamati sekeliling aula. Reset belum menampakkan diri. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, seharusnya sebentar lagi pangeran itu akan turun dari tangga utama. Sebelum itu terjadi, Mahiru memantapkan tekad dan mencengkeram lengan Elez.

“Aku benar-benar tidak suka suasana seperti ini. Ayo kita keluar sebentar.”

Dia langsung menarik lengan Elez, berjalan membelah kerumunan para bangsawan.

“Hei, tunggu, Mahiru?”

Meski tampak bingung, Elez tetap mengikuti langkahnya.

Jika mengikuti alur yang sama seperti sebelumnya, Reset akan datang menghampiri mereka. Bagi Mahiru yang ingin menyelidiki istana demi mencari raga asli Layla, menarik perhatian Reset adalah hal yang ingin dia hindari.

Di bawah langit bertabur bintang, angin sejuk berembus pelan. Mahiru dan Elez telah keluar dari istana menuju taman tengah, tepat di depan air mancur yang biasa. Musik klasik bergema dari kejauhan, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sana.

Jika segalanya berjalan lancar, dia akan membunuh Layla, musuh bebuyutan Elez.

Sebelum itu, ada hal yang harus dia pastikan kepada gadis itu.

Kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya... apa sebenarnya makna di balik kalimat itu? Kata-kata Petrie memang sangat berat, namun bagaimanapun juga, tokoh utama dalam cerita ini adalah Elez Cendrillon.

Namun, Mahiru bingung bagaimana harus memulai pembicaraan. Pada tahap ini, dia belum sempat mendengar sumpah balas dendam Elez maupun alasan mengapa gadis itu sempat tinggal di lingkungan kerajaan.

“Kenapa diam saja dengan wajah serius begitu? Apa perutmu sakit karena gugup?”

“Tentu saja tidak!”

“Kamu terlihat tegar tapi ternyata cukup sensitif juga ya! Baiklah, aku akan menemanimu di sini sampai kamu merasa lebih baik.”

“Sudah kubilang bukan itu alasannya! Ah, sudahlah, kenapa jadi begini...”

Mahiru memegangi kepalanya saat atmosfer kaku di antara mereka mulai mencair.

Rasanya suasananya sudah tidak mendukung lagi untuk membicarakan masa lalu yang berat.

“Nona Elez...? Apakah itu Anda, Nona Elez?”

Tiba-tiba, suara rendah seorang wanita terdengar.

Mahiru menoleh dengan heran sementara Elez tampak terkejut. Di sana berdiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan istana. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam, menandakan dia telah melewati banyak kesulitan hidup.

“...Cecil?”

“Benar, ini saya, Cecil... Ah, Anda sudah tumbuh sebesar ini. Sejak Nona Petrie tiada, saya tidak bisa berbuat apa-apa... Saya baru tahu belum lama ini bahwa Anda diambil oleh keluarga Cendrillon. Saya sungguh... saya...”

Wanita bernama Cecilitu tampak sangat terguncang, kata-katanya melantur tidak beraturan.

Dengan ekspresi penuh penyesalan dia memeluk Elez, dan Elez hanya diam menerima pelukan itu.

“Hanya sekali lihat saya langsung tahu itu Anda. Anda tumbuh cantik mirip sekali dengan Nona Petrie. Saya selalu mencemaskan Anda. Tapi saya terlalu penakut untuk datang menemui Anda...”

Elez tampak bingung harus bersikap bagaimana, dia mulai mengusap punggung Cecil untuk menenangkannya. Namun hal itu justru memberikan efek sebaliknya; Cecil malah menangis semakin kencang.

Setelah beberapa saat, Cecil akhirnya tampak lebih tenang. Dia melepaskan pelukannya dan mengatur napas.

“A-Ah, benar juga... Ada sesuatu yang ingin saya berikan jika saya bertemu dengan Nona Elez...”

Cecil mengamati sekeliling dengan waspada, lalu berbisik pelan, “Maukah Anda ikut ke ruangan saya?”

Mahiru sempat berpikir apakah dia sebaiknya pergi dan memberi mereka ruang, namun Cecil menahannya. Wanita itu menatap Mahiru dan Elez bergantian, lalu tersenyum hangat. Mahiru merasa ada sesuatu yang salah paham di sini, namun dia memilih diam karena situasi ini menguntungkan baginya.

Mereka kemudian dipandu menuju sebuah ruangan sederhana yang biasa digunakan oleh para pelayan istana.

Cecil mengeluarkan sepucuk surat yang disimpan rapat di dalam laci meja, lalu menyerahkannya kepada Elez.

Elez menerima surat itu sambil mengernyitkan dahi.

“Maafkan saya... seharusnya saya memberikan ini lebih awal.”

Cecil menundukkan kepala dengan rasa bersalah.

Elez membuka surat itu, matanya bergerak menyusuri setiap baris kalimat di dalamnya. Setelah membaca isi surat itu sebanyak dua kali, dia membelalakkan mata dengan ekspresi yang tampak rumit.

“Tidak apa-apa. Terima kasih, Cecil.”

Elez menyimpan surat itu dengan hati-hati, lalu tersenyum tipis yang menyiratkan kegundahan.

Pandangan Cecil dan Mahiru bertemu. Cecil esil memberikan anggukan kecil dengan raut wajah penuh harap, seolah sedang menitipkan keselamatan Elez kepadanya.

Setelah itu, Elez dan Cecil bertukar sepatah dua patah kata sebelum Mahiru dan Elez meninggalkan ruangan tersebut.

Mungkin karena Cecil telah membocorkan rahasianya, Elez merasa tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Sambil berjalan di depan Mahiru, dia mulai bercerita tentang masa lalunya saat tinggal di istana, statusnya sebagai anak selir raja, serta tekad balas dendam yang menjadi tujuannya.

Mahiru hanya diam mengikuti di belakang dan mendengarkan ceritanya.

“Kamu tidak terkejut, ya?” ucap Elez saat mereka telah kembali ke taman tengah.

“Entah kenapa, aku sudah punya firasat.”

“Apa karena aku cantik sekali sampai pantas jadi putri?”

“Menyebalkan.”

Elez tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan Mahiru.

Mahiru mencengkeram liontin di balik pakaiannya. Benda itu pemberian Petrie. Petrie, yang kini berupa entitas pikiran, harus menggunakan kekuatan untuk mempertahankan wujudnya. Di dalam liontin itu, tersegel sebuah inti yang bisa disebut sebagai jiwanya. Petrie bilang dia bisa keluar jika Mahiru memohon dengan sungguh-sungguh... tapi Mahiru bertanya-tanya, apakah wanita itu juga bisa merasakan situasi di luar?

Seandainya dia masih memiliki kesadaran saat ini...

“Ngomong-ngomong, ibumu itu orangnya seperti apa?”

“Hmm... dia orang yang lembut.”

Elez menatap rerumputan di depannya dengan pandangan menerawang. Mungkin dia sedang menyelaraskan tempat ini dengan kenangan saat dia masih tinggal di istana.

Jika dipikir kembali, Elez tidak pernah ragu untuk menceritakan soal balas dendam maupun masa lalunya di lingkungan kerajaan. Mahiru merasa jika dia bertanya, Elez pasti akan menjawab, dan gadis itu sepertinya tidak menganggap hal tersebut sebagai rahasia yang memalukan. Mungkin, sebenarnya dia hanya ingin seseorang mengetahuinya.

Ah, benar juga. Elez bukanlah seorang pendendam.

Dia berbeda dari manusia bodoh seperti Mahiru, dia adalah sang protagonis.

 

Elez lahir di istana.

Ibunya adalah Petrie, sang pengguna sihir.

Dia tidak memiliki ingatan pernah berbincang secara layak dengan ayahnya, sang Raja.

Satu-satunya teman bicaranya hanyalah sang ibu, dan dia dilarang keras menginjakkan kaki ke luar istana. Seluruh masa kecilnya dihabiskan di dalam sana. Namun, Elez tidak pernah merasa keberatan. Dia menganggap itulah dunianya, dan dia tidak pernah mempertanyakannya.

Di dalam istana, ada dua anak lain selain Elez. Para pangeran pemegang hak takhta: Licht dan Reset. Licht tampak sama sekali tidak tertarik pada Elez dan tidak pernah menyapanya. Sebaliknya, Reset selalu mengganggunya sampai pada tahap yang menyebalkan.

“Bagaimana, Elez? Maukah kamu menjadi milikku yang hebat ini? Habisnya, kamu terlihat sangat malang jika dibiarkan begini. Anggap saja ini adalah tugas dari kakakmu.”

Elez sangat membenci pria itu dari lubuk hatinya.

Sang ibu sering melatih Elez menggunakan pedang.

“Kamu tertarik pada ilmu pedang... padahal kamu ini perempuan. Yah, kurasa itu memang mirip denganku. Tapi, aku tidak pandai bermain pedang. Aku hanya bisa mengajarimu dasar-dasarnya saja,” kata Petrie.

Meski bicaranya kasar dan latihannya sangat berat karena dia mengajar dengan penuh semangat, di akhir latihan, Petrie akan mengacak-acak rambut Elez dan memujinya.

“Bakatmu dalam pedang jauh melampauiku! Benar-benar putriku!”

Elez merasa senang dan terus mengayunkan pedangnya meskipun sedang sendirian.

“Suatu saat nanti, aku akan mengalahkan naga!”

“Naga? Tahu dari mana istilah itu?”

“Dari buku cerita di perpustakaan!”

“Begitu ya... entah ada atau tidak sihir yang bisa memanggil naga.”

“Aku akan jadi lebih kuat lagi! Jika ada naga atau apa pun yang menyerang, aku yang akan melindungi Ibu!”

Mendengar itu, Petrie membelalakkan mata karena terkejut, lalu tertawa kecil sambil mengusap kepala Elez, “Begitu ya. Kalau begitu Ibu tenang, apa pun yang terjadi nanti.”

Meski merasa cukup dengan adanya sang ibu, terkadang Elez tetap penasaran dengan dunia luar.

“Apa naga hanya ada di pegunungan jauh?” gumamnya sambil menatap kota dari balik jendela.

Suatu kali, Petrie pernah membawanya menyelinap keluar istana.

Elez masih ingat hangatnya mentari musim semi kala itu. “Ini rahasia kita berdua ya,” bisik Petrie sambil menarik tangannya menuju sebuah bukit yang puncaknya dihiasi sebatang pohon besar. Seluruh tempat itu ditumbuhi bunga, dan Petrie bercerita bahwa itu adalah tempat kenangannya dengan orang yang sangat penting.

“Wah...”

Sejak saat itulah, Elez merasa sangat tertarik pada dunia luar.

Dia mulai mendambakan kebebasan.

“Ibu! Suatu saat nanti mari kita keluar dari istana dan tinggal di dunia luar! Itu janji kita!”

Namun, seolah ingin menghancurkan harapan Elez, perpisahan dengan Petrie pun tiba.

Ibunya mati. Dibunuh. Seseorang merenggut nyawanya di dalam istana.

Kamar itu berlumuran warna merah. Petrie tergeletak dengan mata hampa, tubuhnya terkoyak, dan genangan darah meluas di sekelilingnya bagaikan rawa tanpa dasar. Petrie yang seharusnya hangat kini terasa begitu dingin. Tidak peduli apa pun yang dikatakan Elez, sang ibu tidak menyahut. Petrie tidak pernah kembali.

“A-Ahh, aaaaahhh... bohong, tidak mungkin...”

Terdengar suara tawa yang tertahan.

Elez merinding, seolah punggungnya dicakar oleh hantu, lalu dia menoleh.

Di sana, ada seseorang. Seseorang yang telah membunuh ibunya. Sosok itu menyeringai. Bayangannya tampak seperti coretan tinta hitam yang pekat, membuat Elez tidak bisa mengenalinya dengan jelas. Dia tidak tahu apakah itu pria atau wanita, namun yang tersisa di ingatannya hanyalah citra warna merah.

Sesuatu yang menyerupai cairan kental mulai merembes dari sosok itu, merayap perlahan mendekati Elez. Pemandangan itu begitu sulit dinalar hingga dia tidak bisa memastikan apakah itu kenyataan atau bukan. Sampai sekarang pun, dia masih ragu apakah kejadian itu benar-benar ada, atau sekadar kegelapan yang mulai menggerogoti tubuhnya.

Apakah ini mimpi? Mimpi buruk akibat syok kehilangan ibu? Siapa kamu? Kamu siapa, pembunuh Petrie? Dia tidak bisa mengingatnya. Dia tidak akan pernah bisa mengingatnya. Setiap kali dia mencoba mengingat, hanya rasa dendam yang semakin membara.

Kepalanya terasa sakit seolah akan pecah.

Rasanya sakit, seolah tengkoraknya sedang dicungkil paksa dari dalam. Sakit sekali...

 

“Ugh, uwek, aaa! Kembalikan, kembalikan Ibuku, ugh.”

Elez, yang baru saja menceritakan kejadian masa lalu itu, mendadak memegangi kepalanya dan berjongkok.

Dia muntah, terengah-engah dalam kepedihan, dan meringkuk erat.

Dari tubuhnya, kegelapan yang berat dan pekat seperti lumpur meluap keluar. Mahiru pernah melihat ini di bawah tanah istana. Inilah kegilaan, akar penyebab yang merusak dunia ini, juga dunia Mahiru. Sesuatu yang begitu kuat hingga sanggup menampakkan wujudnya.

“Begitu rupanya, Elez. Ternyata kamu tahu!”

Sebenarnya, Elez pernah melihat pelaku yang membunuh ibunya, sang Penyihir.

Dia tahu perbuatan keji yang dilakukan penyihir itu. Namun, sebagian ingatannya disegel oleh kegilaan, hingga yang tersisa hanyalah rasa dendam yang terombang-ambing tanpa arah.

Mahiru memunculkan Grimm Note dan menggunakan kemampuan Pemurnian.

Cahaya menyelimuti Elez dan melenyapkan kegilaan itu, dibarengi dengan gema suara nyaring seperti kaca yang pecah.

“Kamu baik-baik saja?”

Mahiru berlutut dan mengusap punggung Elez.

Gadis yang kini bersujud dengan kedua tangan dan lutut di tanah itu berusaha mengatur napas dengan dada yang kembang kempis. Dia menyeka mulutnya, lalu mencengkeram tanah kuat-kuat dengan jemarinya.

“Benar... seorang penyihir muncul di istana. Wanita dengan rambut merah menyala dan rupa yang sangat menawan... dia memikat Raja, mulai keluar masuk istana, dan sejak saat itu segalanya menjadi kacau... Ibuku pun dibunuh olehnya!”

Layla benar-benar licik. Dengan menyegel ingatan Elez, dia mengarahkan panah amarah gadis itu kepada pihak kerajaan. Karena ingatan pahit di istana itu memang nyata, sangat mudah baginya untuk melakukan hasutan. Bahkan setelah ingatan tentang penyihir itu kembali pun, Mahiru ragu apakah Elez bisa menghubungkan sosok penyihir itu dengan Layla. Sebab, yang Elez ketahui hanyalah sosok Layla sebagai sebuah jiwa.

“Jadi, musuhku yang sebenarnya adalah sang Penyihir...”

Elez mengepalkan tangannya, mendongak, lalu berdiri. Di saat itulah, amplop yang tadi dia terima terjatuh dari balik pakaiannya. Isinya pun menyembul keluar, dan Elez tersentak saat melihatnya.

I hope you find happiness.

Mahiru tidak mengerti makna mendalam dari tulisan itu.

Namun, Elez yang sebelumnya mengerutkan dahi kini melonggarkan kepalan tangannya, menunduk, dan membiarkan sebutir air mata mengalir. Dengan tangan yang gemetar, dia memungut surat itu dan memeluknya erat di dada.

“Aku... aku hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu. Suatu saat nanti keluar dari istana, dan meski mungkin hidup serba terbatas, aku tetap mendambakan hari-hari yang damai bersamanya...”

Mahiru mengusap punggung Elez yang terisak dengan lembut.

“Aku... hanya ingin dia tetap hidup.”

Mendengar kalimat itu, Mahiru tanpa sadar mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

Seorang ibu pasti berharap anaknya tetap hidup. Namun, hal yang sama juga berlaku bagi sang anak. Mahiru pun sangat ingin ibunya tetap hidup. Dia tidak ingin ibunya memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Baginya, asalkan sang ibu tetap hidup, itu sudah lebih dari cukup.

Elez ternyata memiliki perasaan yang ingin dia utamakan lebih dari sekadar dendam.

Berbeda dengan Mahiru yang bodoh, Elez sudah menyadari hal itu sebelum segalanya terlambat. Seperti halnya Mahiru yang selalu memikirkan Asahi, Elez pun terus menjalani hidup dengan memikirkan Petrie, meskipun sosok itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Dunia ini telah dirusak sepenuhnya oleh sang Penyihir.”

Seandainya tidak ada penyihir itu, mungkinkah Elez dan Petrie sudah keluar dari istana keparat itu dan hidup dengan damai berdua?

Kembalikan sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya, mungkin makna sejati dari kalimat itu adalah memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh Penyihir yang menjadi tumor bagi dunia ini.

“Serahkan padaku, Elez.”

Jika esensi dari cerita ini adalah kebahagiaan bagi gadis yang dijuluki si Upik Abu, maka Mahiru harus mewujudkan keinginan Elez.

“...Ugh, uwaa.”

Elez yang baru saja menyeka air matanya kembali membungkuk dan merintih. Mahiru menopang tubuh gadis yang tampak limbung sambil memegangi dahinya dalam kesakitan itu. Wajah Elez pucat pasi, dia tampak sangat kelelahan.

“Maaf, ingatanku masih agak kacau. Terima kasih sudah mau mendengarkan.”

“Jangan bicara begitu sekarang. Jika ada tempat untuk beristirahat...”

Mahiru mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun Elez menarik lengannya dan menggeleng.

“Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan aku... Mahiru juga punya hal yang harus dilakukan hingga datang ke tempat ini, ‘kan?”

Mahiru sempat ragu sejenak, namun setelah melihat tatapan mata Elez yang penuh kesungguhan, dia memantapkan hatinya.

Gadis ini sedang mencoba menghadapi masa lalunya dan melangkah maju. Dan seperti kata Elez, Mahiru pun memiliki pertarungannya sendiri, memiliki alasan mengapa dia harus terus melawan.

“Ya, kamu benar. Hidupku pun telah dihancurkan oleh penyihir itu. Jangan khawatir, aku pasti akan membunuh wanita itu.”

Hanya kalimat itu yang Mahiru ucapkan sebelum dia melangkah kembali menuju istana.

 

* * *

 

“Kamu bukan tipe tuan putri yang hanya menunggu untuk diselamatkan. Kamu memang benar-benar sang protagonis.”

Asalkan dia bisa mengalahkan Layla, Mahiru yakin akan ada waktu untuk berbicara dengan Petrie.

Berbeda dengannya, Elez masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan kata-katanya.

Untuk itu, dia harus menemukan raga Layla terlebih dahulu.

Mahiru berlari menyusuri koridor istana dengan tujuan yang pasti. Namun, menyusup dan menggeledah istana sambil menghindari para penjaga adalah tugas yang sangat berat. Tanpa petunjuk yang berarti, waktu yang tersisa sebelum tengah malam kini kurang dari satu jam.

Dia bersembunyi di sudut koridor, mengawasi seorang pelayan yang menghilang di balik belokan. Dia melirik jam saku yang dipinjamnya dari kediaman Cendrillon, lalu mendecih karena rasa cemas.

Haruskah aku menangkap salah satu dari mereka dan memaksanya bicara...?

Tidak, mustahil Reset yang licik itu akan sembarangan menyebarkan rahasia tentang permata.

Kalau begitu, menangkap Reset dan menginterogasinya? Risikonya terlalu tinggi. Kecil kemungkinan pria itu akan berada dalam kondisi tanpa perlindungan.

Alunan musik klasik yang terdengar dari kejauhan hanya menambah kegelisahan di hatinya.

Di mana? Kalau aku jadi dia, di mana aku akan menyembunyikannya?

Tempat yang tidak diketahui siapa pun. Tempat yang cukup luas untuk menyembunyikan satu orang dewasa. Karena tubuh itu perlu dijaga agar tetap hidup, mungkin tempat itu memiliki fasilitas yang memadai. Jika demikian...

“Ketemu.”

Tempat itu memenuhi semua kriteria yang baru saja dia pikirkan.

Lagipula, tadi ada jalan bercabang saat dia menuruni tangga.

“Ruang bawah tanah. Tubuh sang Penyihir pasti ada di bawah tanah.”

 

Mahiru memutar mekanisme pada leher baju zirah pajangan, memicu munculnya pintu menuju lorong bawah tanah.

Setelah menuruni tangga beberapa lama, dia sampai di jalan bercabang.

Ke kanan, terdapat laboratorium kegilaan tempat para gadis diubah menjadi permata.

Sisi kiri adalah tempat yang belum pernah dia injaki.

Namun jika dugaannya benar, tubuh Layla pasti ada di sana.

Hawa dingin yang merayap dari kegelapan membuat Mahiru menelan ludah. “Ayo jalan,” ucapnya pada diri sendiri untuk menguatkan tekad, lalu dia menuruni lorong kiri.

Tidak lama kemudian, dia sampai di sebuah ruangan terbuka.

Lantai batu yang lembap dengan jeruji besi berkarat yang berderet di kiri dan kanan. Aroma busuk yang menyengat hidung bercampur dengan cahaya lilin yang temaram. Tampaknya ini adalah penjara bawah tanah.

Namun, sebagian besar sel itu kosong melompong, dan tempat itu tidak terlihat seperti penjara yang berfungsi normal. Lebih tepat jika disebut sebagai bekas penjara.

Kemungkinan besar, di sinilah tempat Mahiru dikurung pada putaran ketiga.

Sambil memeriksa bagian dalam sel, dia terus melangkah jauh ke dalam. Hingga tiba-tiba...

 

“Hei, ada orang di sana?”

 

Sebuah suara yang sangat tenang dan tidak selaras dengan suasana tempat itu terdengar.

Mahiru mengernyitkan dahi mengenali suara tersebut, lalu mendekat dengan langkah mengendap-endap.

“...Licht.”

Licht Cinder, sang Pangeran Pertama, sedang mendekam di dalam sel dengan kedua tangan terikat di belakang punggung.

Pakaiannya masih rapi dan dia tidak tampak terlalu kelelahan. Sepertinya dia baru saja ditangkap. Licht menatap Mahiru dengan tajam, kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi.

Ini adalah keberuntungan yang tidak terduga. Bagi Reset yang mengincar takhta, Licht yang memiliki urutan pewaris lebih tinggi adalah musuh. Kesimpulan Mahiru adalah dia memiliki kemungkinan untuk bekerja sama dengan Licht.

Mahiru memunculkan Grimm Note dan mengeluarkan sepasang gunting raksasa dari Storage.

“Aku tidak peduli siapa kamu sebenarnya. Ada hal yang harus kuselesaikan. Cepat keluarkan aku dari sini, rakyat jelata.”

“Ah, berisik sekali. Apa kamu tidak punya mata? Itu ‘kan yang sedang kulakukan.”

Mengingat kembali putaran ketiga, Mahiru dihukum mati justru karena Licht tidak banyak bicara. Seandainya dia menjelaskan kekejaman Reset sejak awal, Mahiru pasti sudah menyadari kebenarannya lebih cepat.

Mahiru menghantamkan ujung gunting itu ke arah gembok sel.

“Jika kamu merasa berhutang budi sedikit saja padaku... atau ya, meski tidak pun, ini sudah menjadi keharusan. Jika kamu membiarkan Reset menguasai negara ini, semuanya akan berakhir. Bantu aku, Licht.”

“Kamu... sebenarnya siapa? Seberapa banyak yang kamu ketahui?”

“Menjelaskannya satu per satu itu merepotkan. Semuanya! Aku tahu semuanya! Tentang rahasia permata itu, tentang niatnya merebut takhta, tentang sang Penyihir, bahkan tentang obsesinya yang menjijikkan terhadap Elez!”

Setelah beberapa kali hantaman gunting, gembok itu akhirnya hancur. Mahiru menendang jeruji besi itu hingga terbuka, lalu menghampiri Licht dan melepaskan ikatannya.

“Kita tidak punya waktu untuk saling curiga. Musuh kita sama. Asalkan kita paham itu, tidak akan ada masalah.”

“...Jadi kamu sudah melihat laboratorium bawah tanah itu.”

“Yah, anggap saja begitu.”

Mahiru mengulurkan tangan dan membantu Licht berdiri, pada saat itulah, sebuah guncangan seperti tusukan jarum melintasi otaknya. Kejanggalan yang nyaris dia lewatkan tiba-tiba muncul ke permukaan.

Tunggu sebentar... kenapa Licht ada di sini?

Pada putaran ketiga, saat dia dikhianati Reset di bawah tanah istana, gaun yang dikenakan Elez mencair dan menghilang bersamaan dengan dentang lonceng. Itu karena kekuatan sihirnya habis tepat pada tengah malam, persis seperti dalam dongeng.

Artinya, paling lambat, Licht baru turun ke bawah tanah istana sekitar tiga puluh menit sebelum tengah malam pada putaran ketiga.

Lantas, kenapa sekarang Licht sudah tertangkap?

Apalagi, karena kali ini Mahiru tidak melakukan kontak dengan Reset, seharusnya kejadian Mahiru dibawa ke bawah tanah istana tidak terjadi. Bukankah sebelumnya Licht mengikuti mereka karena melihat Mahiru dan Elez turun ke bawah tanah? Apa Licht memang berniat menyelidiki tempat ini hari ini, terlepas dari apa yang dilakukan Mahiru?

Tidak mungkin segalanya berjalan semulus itu, ‘kan?

Mahiru merasakan firasat buruk yang aneh.

“Hei, Licht. Di mana kamu ditangkap? Di bawah tanah ini? Ataukah...”

Jika Licht memang menyelidiki Reset secara mandiri dan berniat memojokkannya di hari pesta dansa, maka tidak ada masalah. Meski pergerakannya yang berubah dibanding putaran sebelumnya tetap terasa mengganjal.

 

Namun, kemungkinan terburuknya adalah...

 

“Wah, Mahiru. Aku bertanya-tanya ke mana kamu pergi, ternyata kamu ada di sini. Ternyata percaya pada Layla adalah keputusan yang tepat.”

Saat menoleh, di sana sudah berdiri Reset bersama hampir sepuluh orang prajurit pengawal istana.

Reset melontarkan tatapan penuh penghinaan, lalu menghunus sebilah pedang yang tampak mewah.

“Reset...!”

 

* * *

 

Dia terlalu naif.

Dia telah memurnikan kegilaan dari tubuh Elez dan membuka segel ingatannya. Jika dipikirkan dengan tenang, tidak mungkin Layla tidak menyadarinya. Dengan kata lain, apakah kepemilikan tubuh itu sudah berada di tangan Layla sekarang?

Tidak. Dia tidak punya waktu untuk menganalisis situasi dengan santai.

Seolah melindungi Reset yang telah menghunuskan pedang, para prajurit pengawal mulai bergerak maju dengan tombak, mengepung Mahiru dan Licht secara perlahan. Situasi ini sudah bukan lagi tahap untuk bernegosiasi. Reset telah menetapkan Mahiru sebagai musuh yang nyata.

Musuh berjumlah sekitar sepuluh orang, sedangkan mereka hanya berdua. Bisa dikatakan ini adalah situasi yang sangat mendesak.

Mahiru mengeluarkan sebilah pedang Barat dari Grimm Note dan memasang kuda-kuda. Mustahil baginya untuk menang jika bertarung secara frontal. Untungnya koridor ini cukup sempit, sehingga mereka tidak akan terkepung sepenuhnya. Jika dia bisa meloloskan diri dengan baik, itu sudah cukup.

Namun pada saat itu, pedangnya dirampas oleh Licht.

“Hei, apa-apaan kamu!”

Licht mengabaikan teguran Mahiru dan langsung menerjang ke arah para prajurit pengawal.

“Raaaaa! Akan kuhajar watakmu itu sampai benar, adik bodoh!”

Licht merangsek masuk ke tengah-tengah kepungan prajurit dengan keganasan bak iblis yang sedang mengamuk. Para prajurit pengawal itu tampaknya tidak menyangka seorang anggota keluarga kerajaan akan menyerang dengan nafsu bertarung yang begitu besar. Terlihat jelas mereka terintimidasi dan gagal mempertahankan formasi dengan baik.

“Ternyata dia sekuat ini. Cih.”

Mahiru terpaksa merebut sebuah tombak panjang dari prajurit yang tumbang, lalu memasang posisi bertarung.

Meski merasa kikuk dengan senjata yang tidak biasa dia gunakan, dia tetap menerjang masuk untuk membantu Licht.

Mahiru mencengkeram tombak panjang itu kuat-kuat dengan kedua tangan, membalas serangan lawan sambil terus menjaga jarak. Menurut teori, saat menghadapi musuh dalam jumlah besar, seseorang harus membelakangi dinding untuk membatasi arah datangnya serangan. Melihat Reset yang biasanya melakukan gerakan-gerakan aneh membuat Mahiru merasa campur aduk, namun sekarang bukan saatnya untuk keras kepala.

Mahiru memusatkan perhatiannya untuk menangkis setiap serangan musuh, berusaha sekuat tenaga mempertahankan nyawanya.

“Hei, rakyat jelata pengguna ilmu aneh.”

“Apa, pangeran yang kaku?”

“Kamu bilang kamu tahu seluruh keadaannya, ‘kan?”

Licht berucap dengan suara tenang sambil mengayunkan pedangnya, merubah posisi berdirinya dengan gerakan yang mengalir.

“Dari ucapanmu, aku mengerti kamu punya dendam pada adik bodohku dan sang Penyihir itu. Pergilah duluan, jangan biarkan Penyihir itu bertindak sesukanya.”

“Hah? Aku juga harus membalas utangku pada Reset...”

Kalimat Mahiru terputus saat dia menggigit bibirnya sendiri.

“Hmm. Aku sama sekali tidak ingat. Apa ini soal urusan wanita? Yah, menjadi terlalu tampan memang terkadang merepotkan.”

Reset menyisir rambut pirangnya yang indah sambil terus berlindung di balik barisan prajurit pengawal.

“...Keparat.”

Mahiru sangat ingin menghancurkan pria itu dengan tangannya sendiri, namun dia harus mempertimbangkan skala prioritas. Dia sudah cukup muak dikuasai oleh emosi sesaat yang hanya berujung pada penyesalan.

Petrie telah menitipkan Elez kepadanya. Saat ini, tubuh Elez mungkin sedang dikendalikan oleh Layla. Terlebih lagi, jika dia tidak menemukan tubuh asli Layla sebelum lonceng berbunyi, segalanya akan sia-sia.

Dia memeriksa jam saku miliknya. Pukul 11:23 malam.

Tersisa waktu kurang dari empat puluh menit sebelum batas waktu berakhir.

Hal terburuk yang bisa terjadi adalah Layla mendapatkan kembali kekuatan aslinya tepat saat lonceng berdentang.

Ternyata tubuh asli Layla tidak ada di ruang bawah tanah istana. Artinya, Mahiru harus menemukan tubuh itu di sisa waktu yang ada dan menghancurkannya.

Benar, berapa pun waktu yang tersisa, rasanya tidak akan pernah cukup...

Seolah menembus pemikiran santainya, sebuah tombak panjang melesat ke depan matanya. Mahiru refleks memiringkan kepala untuk menghindar, namun bilah tajam itu tetap menggores pipinya. Darah segar memercik diikuti rasa perih yang menusuk.

“Cepat pergi! Ini adalah masalah yang harus kuselesaikan sebagai seorang kakak!”

Dongan dorongan dari tepukan Licht yang sedang murka, tekad Mahiru pun bulat.

Apakah untuk memukul Reset?

Ataukah untuk menyelamatkan Elez?

Itu adalah pertanyaan yang jawabannya tidak perlu ditimbang lagi.

“Ah, sial, baiklah aku mengerti! Jangan bunuh Reset! Sisakan bagian untuk kupukul nanti!”

Begitu Mahiru memantapkan hati untuk meloloskan diri, Reset tentu saja langsung menghalanginya.

“Kamu kira aku akan membiarkanmu lari? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Meski penampilannya seperti itu, kemampuan pedang Reset sama sekali tidak bisa diremehkan. Saat Mahiru mendecih kesal, Licht kembali menyelinap masuk di waktu yang tepat.

“Raaaaah! Tidak akan kubiarkan!”

Licht yang berlumuran darah dan keringat dengan napas memburu itu terlihat seperti binatang buas. Pakaian mewahnya telah terkoyak, tubuhnya bersimbah darah, namun dia tetap meraung tanpa sedikit pun mengendurkan serangannya. Atmosfer di tempat ini telah sepenuhnya dikuasai oleh Licht.

“Ugh, padahal selama ini kamu tidak pernah melakukan apa pun!”

“Ya, karena itulah, demi melepaskan diri dari sosok bodohku yang membiarkan segalanya selama ini, aku akan menghentikanmu meski harus mempertaruhkan nyawa!”

Tring! Pedang Reset yang diayunkan bertemu dengan bilah pedang Licht, memercikkan bunga api.

Mahiru tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah diciptakan oleh Licht.

Dia berbalik dan berlari menembus kekacauan pertarungan itu, lalu segera menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.

 

* * *

 

Mahiru keluar dari bawah tanah istana dan kembali ke permukaan. Alunan musik megah masih mengalir dari aula, meski temponya perlahan berubah menjadi lebih lambat.

Waktunya sempit.

Akhir dari pesta dansa, batas waktu terakhir sudah semakin dekat.

Mahiru menaiki tangga di ujung koridor, terus menyisir ke lantai dua, lalu lantai tiga.

Dan di sana, di lorong lantai tiga, helai rambut perak yang dia kenali melambai di sudut mata.

“Elez...?”

Sosok itu menoleh, lalu menyisir rambut peraknya ke belakang sambil tersenyum menawan.

“Bukan, bukan dia...”

Itu adalah ekspresi yang mengejek Mahiru, ekspresi yang tidak mungkin ditunjukkan oleh Elez.

Amarah seketika meluap di dalam dada Mahiru, dan bekas luka di tubuhnya yang pernah terkoyak mendadak terasa perih.

“Layla!”

“Lama tidak jumpa ya, Mahiru-kun. Ada apa? Kenapa wajahmu seseram itu?”

Tampaknya dia tidak berniat bersandiwara lagi. Layla tersenyum provokatif. Dia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan jati dirinya. Dengan kata lain, dia sudah menunjukkan niat untuk bermusuhan secara terang-terangan.

Mahiru pun merasakan hal yang sama.

“Masih perlu bersilat lidah, hah?”

Mahiru kini sudah mengetahui segalanya.

Tentang Layla yang melemah karena sihir Petrie dan terpaksa merasuki tubuh Elez.

Tentang usahanya memanfaatkan Mahiru untuk menghapus sihir itu karena dia tidak bisa mendekati Petrie.

Tentang warga yang diubah menjadi permata dan disebarkan melalui Reset untuk menebar kegilaan.

Tentang niatnya merebut kembali tubuh aslinya tepat saat pergantian hari, ketika kekuatan sihir Elez mencapai puncaknya.

Begitu pula dengan Layla; dia sadar bahwa Mahiru, yang telah memurnikan kegilaan, adalah musuhnya.

“Hehehe, aku penasaran bagaimana kamu bisa tahu kalau Petrie bukanlah Penyihir.”

Layla menyeringai lebar, menunjukkan rasa senangnya.

“Karena baunya sangat busuk sampai aku tidak tahan. Bau yang menjijikkan seperti usus yang mulai membusuk.”

Dalam kisah Si Tudung Merah yang tidak lazim itu, sang Penyihir sudah mati.

Ini adalah pertama kalinya Mahiru berhadapan langsung dengan penyihir yang menjadi sumber dari segala kegilaan ini.

Namun, tidak ada sedikit pun rasa gentar dalam dirinya.

Ini bukanlah jalan buntu. Tidak peduli seberapa sulit jalannya, memiliki musuh yang nyata dan target yang harus diselamatkan memberikan secercah harapan yang besar.

Dibandingkan dengan keputusasaan di dunia Si Tudung Merah, di mana dia dipaksa menimbang nyawa Elez, memukul mundur Layla bukanlah apa-apa.

Rute jawaban sudah terpampang jelas.

Sisanya, dia tidak peduli berapa kali harus mengulang.

Tidak peduli berapa kali dia harus mati.

Mulai sekarang, inilah arena permainan Mahiru.

“Aku sudah muak dengan permainan tebak-tebakan yang bertele-tele ini. Mari kita akhiri saja, penyihir keparat!”

Mahiru membuka Storage di Grimm Note dan bersiap.

“Maksudmu, kamu pikir kamu bisa menang melawanku? Rakyat jelata sepertimu?”

“Ya, cepatlah keluar dari tubuh Elez, dasar parasit tidak berguna.”

“Mustahil. Dalam perebutan hak kendali tubuh, kondisi mental sangatlah berpengaruh. Elez tidak akan pernah bisa muncul lagi.”

Layla terkekeh mengejek.

“Sebenarnya, saat kamu membuka paksa ingatannya... yah, aku penasaran bagaimana caramu melakukannya, tapi saat itu dia sadar kalau akulah yang membunuh Petrie.”

Mahiru sempat mengira bahwa karena Elez hanya mengenal sosok jiwa Layla, dia tidak akan bisa menghubungkannya dengan pembunuh ibunya. Namun, tampaknya tawa palsu Elez selama ini menyimpan makna tersebut.

“Aku yang membunuh ibunya Elez. Aku, yang seharusnya menjadi satu-satunya teman yang bisa dia percayai. Aku hanya memanfaatkan Elez demi mendapatkan tubuhku kembali. Aku mendekatinya saat dia berduka demi memenangkan kepercayaannya, padahal dalam hati aku selalu menertawakannya. Betapa malangnya anak itu, benar-benar tidak tertolong...”

“Berisik!”

Mahiru berteriak menggelegar.

“Saat itu, seharusnya kamu tidak membiarkan Elez sendirian!”

Layla menyahut, suaranya tumpang tindih dengan teriakan Mahiru.

“Elez tidak selemah yang kamu kira!”

“Bicara kasar itu hanya kedok dari kelemahannya. Sama halnya dengan kata-katanya yang seolah ingin dipahami. Begitu juga dengan fakta bahwa dia harus bergantung padaku. Dia adalah wanita yang lemah, bodoh, dan terlahir hanya untuk diperas.”

Terlahir hanya untuk diperas?

Apa karena Elez anak selir?

Karena ayahnya tidak peduli dan ibunya dibunuh?

Karena status sosial? Karena harta?

Jika seseorang memiliki kelemahan, apakah wajar jika dia dimanfaatkan?

“Jangan bercanda! Jangan biarkan orang seperti dia berbuat semaunya! Robek jiwa Penyihir sialan itu dengan tangan kosong dan keluarlah!”

“Percuma. Tubuh ini sudah menjadi milikku.”

“Aku bicara pada Elez! Kamu bukan orang yang selemah itu, ‘kan!? Hei!”

Namun, tidak ada tanda-tanda Elez akan muncul, dan Layla tetap memasang wajah tenang.

Kalau diingat kembali, pada putaran keempat pun Elez yang tubuhnya diambil alih oleh Layla tidak menjawab panggilan Mahiru.

Tapi ini salah. Elez pasti punya alasan untuk bangkit.

Ingatlah, hei, Elez.

Di saat itulah, liontin di dadanya mulai memancarkan cahaya redup.

“Petrie...?”

Mahiru merasakan amarah yang luar biasa hebat dari benda itu.

Liontin itu memancarkan panas yang seolah berteriak, “Panggil aku!”

Benar juga, Mahiru sudah mengeluarkan semua pedang dan gunting yang bisa dijadikan senjata.

Jika dia menyerang Layla hanya dengan amarah, hasilnya sudah bisa ditebak.

Mahiru langsung memutuskan bahwa inilah saatnya mengeluarkan kartu Joker.

Mahiru menggenggam liontin itu erat-erat dan memusatkan seluruh pikirannya.

“Datanglah, sang pengguna sihir!”

Cahaya perak yang menyilaukan meluap dari tangan Mahiru. Cahaya itu membentuk sosok manusia kecil. Rambut perak yang sama seperti Elez. Kuncir duanya berkibar tertiup angin, menampakkan sosok seorang gadis, sang pengguna sihir kini telah bermanifestasi.

“B-Bagaimana bisa kamu ada di sini?”

Untuk pertama kalinya Layla tampak gugup di hadapan musuh bebuyutannya, satu-satunya orang yang dia anggap sebagai ancaman.

“Wajah bodoh yang bagus. Tentu saja aku di sini untuk menghancurkanmu, penyihir keparat!”

Amarah Petrie meledak, menandakan bahwa saat yang dinantinya akhirnya tiba.

Jubah yang berkibar karena luapan sihir, berpadu dengan rambut perak yang tertiup angin.

“Berani-beraninya kamu meremehkan putriku yang sangat kucintai, wanita sampah. Kali ini, mari kita selesaikan semuanya. Ayo!”

“Heh heh heh, bicaramu lucu sekali. Segalanya sudah selesai, tahu. Aku sudah menguasai tubuh Elez, dan untukmu sendiri, aku sudah pernah mengalahkanmu sekali.”

“Mari kita bertarung sampai salah satu jiwa kita hangus terbakar! Lagipula, aku tidak bilang kalau lawanmu cuma aku saja, ‘kan? Nah, pergilah, Mahiru. Kalau sampai gagal, kamu juga akan kubunuh!”

“Ya. Sisanya kuserahkan padamu.”

Selama Layla berada di tubuh Elez, masalah tidak akan selesai begitu saja meskipun dia berhasil dikalahkan di sini. Mahiru harus menemukan tubuh asli Layla yang tersembunyi di suatu tempat di istana ini, lalu menghancurkannya. Petrie secara sukarela menawarkan diri untuk menjadi umpan.

Mahiru mencoba meninggalkan medan pertarungan tanpa ragu.

Namun.

“Mana mungkin aku membiarkanmu pergi!”

Menyadari niat Mahiru, Layla menyeringai dengan wajah cantiknya yang kini tampak bengis, lalu dia mengeluarkan permatanya.

Dia melemparkan permata beraneka warna, biru, hijau, dan kuning, sambil merapal sihir. Api merah membara seketika dimuntahkan ke arah Petrie dan Mahiru.

“Dress Up...!”

Seketika, Petrie merapal sihir yang pernah dia tunjukkan saat menyerang Mahiru dulu.

Wujud jubah yang sebelumnya tampak seperti kain rombeng berubah, peran yang dimainkannya berganti, dan bertransformasi menjadi baju zirah perak yang berkilau. Dengan perisai besar yang ukurannya melampaui tubuhnya sendiri, dia menghalau serangan api itu sepenuhnya.

“Ha, cuma segini? Katanya ini duel maut antara kita, ayo buat suasana jadi lebih panas!”

Layla yang didera kegelisahan segera menggunakan permatanya satu per satu untuk merapal sihir secara bertubi-tubi, namun Petrie berhasil menangkis dan menghalau semuanya. Mahiru bisa merasakan tekad yang membara, bahkan jika Petrie harus gugur dalam pertarungan ini sekalipun.

“Pergilah, Mahiru!”

Mahiru tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Petrie.

Dia berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk segera meninggalkan medan pertarungan.

 

* * *

 

Mahiru berlari kesana kemari di dalam istana dengan panik, namun dia belum menemukan petunjuk apa pun. Dia mengira tubuh Layla pasti ada di fasilitas bawah tanah. Namun, di lorong kiri hanya ada sel penjara yang sudah tidak terpakai.

Jika ada pintu rahasia lain dengan mekanisme serupa, tamatlah riwayatnya.

Tidak, Layla itu tampak gelisah saat menyadari tujuanku. Jika dia bersembunyi di tempat yang mustahil ditemukan, dia tidak akan bereaksi seperti itu.

Pikirkan, ayo berpikir, Misora Mahiru.

Musik klasik yang terdengar dari kejauhan sudah sepenuhnya menyuarakan suasana penutupan.

Keringat membasahi telapak tangannya, dan pikirannya tidak bisa fokus dengan baik.

Pukul 11:44.

Tersisa 16 menit sebelum batas waktu berakhir.

Istana ini terlalu luas untuk dijelajahi secara membabi buta.

Dia merasa pemikirannya tadi tidak meleset jauh. Jika Mahiru harus menyembunyikan tubuh Layla, itu haruslah tempat yang tidak diketahui siapa pun. Tempat yang mampu menyembunyikan sesuatu sebesar manusia. Karena tubuh itu butuh sokongan hidup, fasilitas yang memadai mungkin diperlukan.

Jika merujuk pada syarat-syarat itu, tempat yang belum dia selidiki adalah...

“...Ah, aku mungkin tahu di mana.”

Tempat ini pasti diketahui oleh semua orang yang bekerja di istana, bahkan jika mereka tidak tahu soal urusan sang Penyihir.

Dia tidak perlu repot-repot mencari dengan kakinya sendiri, cukup paksa seseorang untuk bicara.

Begitu menaiki tangga, tepat di depannya ada seorang pelayan wanita yang mengenakan seragam pelayan bersih tanpa kerutan. Pelayan itu terperanjat saat melihat Mahiru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan panik.

“Beruntung sekali. Syukurlah lawanku bukan pria kekar.”

Mahiru berlari ke arah pelayan itu tanpa ragu.

Tanpa mengurangi kecepatannya, dia menerjang pelayan yang ketakutan itu. Pelayan itu jatuh terlentang, dan Mahiru langsung menindihnya. Dia melayangkan tinjunya hingga nyaris mengenai wajah wanita itu.

“Beri tahu aku di mana kamar Reset. Kalau menolak, kubunuh kamu.”

Inilah tempatnya. Tempat yang paling masuk akal memenuhi kriteria tadi hanyalah kamar pribadi sang pangeran.

Waktu sudah hampir habis. Mahiru tidak punya kemewahan maupun kekuatan untuk memilih cara yang halus.

Dia baru saja berpikir untuk mematahkan beberapa jarinya jika wanita itu tidak mau buka mulut.

“Di... di lantai empat, kamar paling ujung... Ah, tapi, kalau ketahuan aku yang memberi tahu, itu...”

Pelayan itu bicara dengan suara gemetar karena ketakutan.

Mendengar jawaban itu, Mahiru langsung bangkit dan berlari kencang.

Sambil berlari, dia melirik jam sakunya.

Gawat. Waktu tersisa kurang dari sepuluh menit.

“Semoga sempat!”

Dia menaiki tangga beralas karpet merah menyala dan sampai di lantai empat.

Entah karena perintah Reset atau pengaruh pesta dansa, untungnya tidak ada prajurit penjaga atau pelayan yang terlihat. Dia berlari lurus menyusuri koridor, melewati baju zirah pajangan yang berjejer rapi. Seperti yang dikatakan pelayan tadi, di ujung koridor terdapat pintu yang dihias dengan sangat mewah.

“Hiaaa!”

Dia mengambil jarak, lalu melayangkan tendangan terbang dengan sekuat tenaga ke pintu itu.

Mahiru mengambil sebilah pedang Barat dari salah satu baju zirah pajangan dan masuk ke dalam.

Di sana ada tempat tidur berkelambu yang cukup untuk lima orang, serta lemari pakaian raksasa. Ruangan itu sangat bersih tanpa setitik debu pun, dan di setiap sudut terpajang lukisan seorang gadis berambut perak. Lukisan-lukisan itu menggambarkan sang gadis dalam berbagai rentang usia, mulai dari lima tahun hingga remaja akhir, dengan berbagai pose dan latar belakang.

Tidak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui siapa sosok dalam lukisan itu.

“Elez...”

Tidak salah lagi. Ini adalah kamar pribadi sang pangeran sesat itu.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah lukisan yang tingginya setara dengan Mahiru.

Itu adalah lukisan Elez yang sedang tersenyum sambil memegang bunga matahari.

Tapi kenapa?

Ada rasa janggal yang sangat mengusik.

Bukan karena dia tidak bisa membayangkan Elez menyukai bunga, tapi... ya, bingkainya terlalu besar untuk lukisan itu. Seolah-olah bingkai itu sudah disiapkan lebih dulu, lalu lukisannya dipaksa masuk ke sana.

“...Jangan-jangan.”

Begitu dia menyentuh lukisan bunga matahari itu, Grak.

Bagian lukisan itu amblas ke dalam, lalu seluruh bingkainya terangkat ke atas seperti tirai yang dibuka.

Mungkin mekanismenya mirip dengan pintu menuju bawah tanah. Di baliknya terdapat ruang kecil yang luasnya sekitar delapan tikar tatami. Di sana ada tempat tidur yang bersih, rak berisi obat-obatan aneh, peralatan medis, dan sejenisnya, benar-benar seperti ruang perawatan rumah sakit.

Dan di atas tempat tidur, terbaring seorang gadis kecil berambut merah panjang. Kulitnya pucat pasi, tulang rusuknya menonjol karena kurus, dan kakinya mengecil karena kehilangan massa otot, seolah dia sudah lama tidak berjalan.

“Ini Layla... ‘kan?”

Mahiru merasa kurang yakin karena sosok ini sangat berbeda jauh dengan yang dia lihat di penjara pada putaran ketiga.

Sosok dalam ingatannya adalah wanita dewasa yang berisi dan menggoda, namun gadis di hadapannya ini justru sebaliknya. Dia tampak menyedihkan, rapuh, dan benar-benar seperti anak-anak. Namun, ciri-ciri lainnya mengarah tepat pada sosok yang dikatakan Petrie waktu itu.

Jadi wujud yang dulu itu hanya sihir, ah, detail kecil seperti itu tidak penting sekarang.

Tersisa lima menit menuju tengah malam, dia nyaris terlambat.

Petrie bilang jiwa dan tubuh Layla saling terhubung, jadi jika raganya mati, jiwanya pun akan sirna.

Dengan kata lain, jika dia menghabisi tubuh ini, Elez akan terbebas dari kutukan Layla. Soal penjelasan Elez, dia bisa mendengarkannya nanti saja.

Pertama-tama, dia harus menyingkirkan penyihir pengganggu ini dari dunia dongeng.

Mahiru menggenggam pedang Baratnya dengan kedua tangan, lalu menodongkannya ke leher Layla.

“Sampai di sini saja, penyihir keparat!”

Saat dia mengangkat pedangnya, pada detik itu juga, rasa panas yang hebat menjalar di lengan kirinya, dan percikan darah segar melayang di sudut matanya.

 

* * *

 

Sebilah tombak baja kasar menyerempet lengan kiri Mahiru.

Menahan diri agar tidak menjatuhkan pedangnya, dia menoleh dan mendapati Elez, bukan, Layla yang sedang mengendalikan tubuh Elez, dengan rambut perak panjang yang berantakan.

“Hehehe, sayang sekali ya.”

Layla mencengkeram tengkuk Petrie yang sudah babak belur dan menyeretnya. Setiap kali Layla menyentak lengannya dengan kasar, Petrie terengah-engah dalam kepedihan.

Entah karena posisinya tidak menguntungkan tanpa tubuh asli, atau karena dia tidak bisa mengerahkan kekuatan penuh melawan Layla yang merasuki tubuh Elez, yang jelas Petrie tidak mampu menang.

“Ah, tidak boleh. Karena kamu sudah melihat tubuhku itu, aku harus membunuhmu apa pun yang terjadi.”

“...Sialan.”

Layla mengubah permata menjadi pedang perak dan menerjang Mahiru.

“Seandainya kamu sampai beberapa menit lebih awal, kamu mungkin menang. Tapi, inilah kenyataannya.”

Mahiru menangkis serangan sebongkah besi yang diayunkan tanpa keanggunan itu dengan pedang Barat yang sempat dipungutnya. Dia memilih serangan jarak dekat kemungkinan besar karena takut melukai tubuhnya sendiri yang berada di belakang Mahiru. Meski itu sebuah keberuntungan di tengah kemalangan, Mahiru harus berjuang sekuat tenaga hanya untuk menahan adu pedang itu. Entah karena pengaruh sihir atau memang kekuatan fisik asli Elez yang luar biasa.

Dia tidak punya waktu untuk bersantai.

Begitu tengah malam tiba dan kekuatan sihir Elez meningkat, Layla akan dengan mudah mengempaskannya, lalu menggunakan sihir itu untuk merebut kembali tubuh aslinya.

Sial, padahal sedikit lagi!

Tepat saat itu.

Keseimbangan Layla goyah dan kekuatan di lengan yang menggenggam pedangnya melonggar.

“Mati saja sana, bodoh.”

Petrie memeluk pinggang Layla erat-erat, mengunci pergerakannya dari belakang.

“Cih, dasar bangkai bernapas...!”

Raut wajah Layla berubah panik dan tubuhnya membeku.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Mahiru melayangkan tendangan keras ke perutnya.

“Agh...!”

Berkat bantuan Petrie, serangan itu mendarat telak tanpa ada kekuatan yang terbuang. Layla jatuh tersungkur di sana, mengerang kesakitan dengan air liur yang menetes.

Mahiru segera menggenggam kembali pedangnya.

Kali ini pasti!

Dia membidik leher tubuh Layla yang terbaring di tempat tidur dan mengayunkan pedangnya.

“Berakhir sudah semuanya!”

Seketika, mata tubuh Layla yang seharusnya kosong melompong itu membelalak lebar.

Di saat yang sama, sebuah gelombang kejut panas yang menyesakkan melesat dan melemparkan Mahiru.

“Ugh...!”

Punggungnya menghantam rak obat-obatan sebelum akhirnya terjatuh di sana.

Rasa sakit yang tumpul membuat pandangannya berkunang-kunang.

Kenapa? Seharusnya lonceng tengah malam belum berbunyi. Apakah dia gagal?

Pertanyaan hampa itu terus berputar di kepala Mahiru.

“Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan. Semuanya hanya bisa mengganggu saja... Manusia di dunia dongeng ini hanyalah bahan baku belaka di hadapanku, sang Penyihir Bayangan!”

Layla yang telah kembali ke tubuh aslinya merampas segenggam penuh permata dari balik pakaian Elez, lalu melemparkannya sembarangan untuk memicu sihir. Tanpa bidikan yang jelas, itu hanyalah penggunaan kekuatan yang membabi buta. Cahaya putih menyilaukan yang seolah membakar retina muncul, diikuti suara ledakan yang menggelegar. Di saat yang sama, dia merasa mendengar jeritan melengking Petrie, namun Mahiru tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Sihir Layla memicu ledakan raksasa yang merambat secara berantai.

Tempat tidur hancur, dinding ruangan lenyap berkeping-keping, kaca jendela pecah, lantai amblas, dan Mahiru merasakan tubuhnya melayang. Pandangannya tertutup oleh api dan debu hingga tidak bisa melihat apa-apa. Meski dia berusaha menggapai sesuatu, tangannya hanya meraup udara hampa. Dia tersungkur. Hanya itu yang bisa disadarinya.

“Agh, sakit...”

Beberapa saat kemudian, sebuah guncangan hebat menghantam tubuhnya.

Menahan rasa sakit, Mahiru memaksa dirinya bangkit, dan di depannya, pemandangan tragis terbentang luas.

Sepertinya dia terjatuh tepat di tengah aula pesta dansa.

Seluruh area itu hancur lebur. Orang-orang tertimbun reruntuhan, dan genangan darah merah merekah di mana-mana bagaikan bunga yang bermekaran. Aroma daging yang hangus menyengat. Bau kematian dan amis darah memenuhi udara, terasa seolah bisa merontokkan hidung.

Di puncak tumpukan reruntuhan yang tinggi, sosok Layla tampak melayang dengan kaki menjuntai seperti patung hiasan di haluan kapal. Mata lembayungnya berkilat aneh saat dia memandang rendah lautan darah dan gunung mayat yang diciptakannya sendiri.

“Kehehe, heheh heh, ahahahaha!”

Seolah menyahuti tawa melengking Layla, dentang lonceng penanda tengah malam berbunyi. Bagi Mahiru, suara itu terdengar seperti jeritan yang mengabarkan keputusasaan.

 

* * *

 

Begitu debu mereda, kesadaran Mahiru pun mulai kembali jernih.

Mengapa dia bisa selamat meski terkena ledakan dari jarak sedekat itu, jawabannya terpampang nyata pada sosok gadis di hadapannya yang kini terengah-engah dalam kondisi babak belur.

Petrie, yang mengenakan zirah putih murni dan membawa perisai besar, telah melindungi Mahiru dan Elez.

Seolah seluruh sisa sihirnya telah diperas habis, zirah Petrie mulai luruh menjadi partikel dan menghilang. Gadis itu terduduk lemas, dan Mahiru bergegas menopangnya. Elez tampak benar-benar dirundung keputusasaan; mulutnya ternganga, mencoba berucap, namun tidak ada satu pun suara bermakna yang keluar dari sana.

Saat Mahiru mendongak, dia melihat Layla sedang membabi buta melepaskan sihirnya.

Aula itu telah berubah menjadi neraka jahanam yang dipenuhi jerit tangis.

Para gadis bergaun indah yang tadinya terbuai oleh sisa-sisa pesta dansa kini berlarian menyelamatkan diri. Layla mengejar mereka dengan penuh kegirangan, mengubah bagian tubuh atau seluruh raga mereka menjadi permata.

Reruntuhan bangunan yang menumpuk telah menutup pintu keluar dengan sempurna, mengubah aula itu menjadi lahan perburuan yang dipenuhi keputusasaan.

Pandangan Mahiru beralih ke samping, melihat Reset berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi lengan kirinya yang tampak kesakitan.

Jangan-jangan! Ketika pikiran itu melintas, Mahiru mengedarkan pandangan dan menemukan Licht terkapar telentang bersimbah darah. Mahiru bergegas menghampiri dan mengangkat tubuhnya. Lengan kiri Licht putus dari siku ke bawah, dan sebuah lubang menganga di perutnya.

“Maafkan aku, maafkan aku... Seharusnya aku menghentikannya, Reset...” gumam Licht meracau. Cahaya di matanya telah sirna, dan suaranya yang serak perlahan kehilangan kekuatan. Tubuh itu terasa sangat berat, seolah seluruh semangat hidupnya telah menguap begitu saja.

“Keparat!”

Situasinya benar-benar buruk.

Dia menatap Layla dengan raut wajah pahit saat melihat wanita itu mengubah orang-orang menjadi permata lalu meledakkannya dengan sihir.

Mahiru kembali ke sisi Petrie, namun pengguna sihir itu sudah hancur lebur, sementara Elez tampak seperti tubuh yang kehilangan jiwa.

“Seharusnya belum waktunya...!”

Suara lonceng baru bergema setelah Layla menggunakan sihir untuk meledakkan istana.

Mahiru sempat tiba tepat waktu. Seharusnya dia berhasil...

“Dia pasti memaksakan diri untuk kembali meski tubuhya belum pulih benar. Tapi penyihir keparat itu sama sekali tidak terlihat lelah,” ujar Petrie sambil bangkit berdiri dengan goyah dan meludahkan darah.

Apakah semuanya akan berakhir di sini? Seperti kata Petrie, jika Layla sudah mendapatkan kembali tubuhnya, apakah benar-benar tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan?

Mahiru mengatupkan rahangnya kuat-kuat, tidak mampu membayangkan cara untuk mengalahkan Layla.

“Poin yang menunjukkan kemalangan sang protagonis dalam cerita Cinderella yang kamu ketahui. Diberi sihir oleh penyihir, pergi ke pesta dansa, lalu dipikat oleh pangeran. Coba selaraskan alur cerita itu dengan dunia yang sekarang.”

Kata-kata si Gembala terlintas di benaknya.

Bahwa akhir yang benar bagi Cinderella adalah saat Elez menjadi malang. Bahwa akhir yang sekilas terlihat seperti akhir yang buruk itulah yang sebenarnya merupakan True Ending.

Mahiru menopang Petrie dan menatap Elez yang tubuhnya gemetar hebat.

Dia mengepalkan tangan, lalu menggelengkan kepala seolah ingin menepis segala keraguan dalam dirinya.

Tidak, itu salah. Bukan begitu seharusnya!

Di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang hidupnya dihancurkan oleh sang Penyihir. Elez hanya mendambakan kehidupan yang damai bersama Petrie.

Bukankah Cinderella Story, sebuah kisah tentang si Upik Abu yang meraih kebahagiaannya sendiri, adalah esensi sebenarnya dari cerita ini?

“Ayo berjuang, Elez! Bukannya kamu terus berlatih pedang selama ini demi saat-saat seperti sekarang!?”

Mahiru mengguncang bahu Elez, lalu melemparkan tatapan benci ke arah Layla.

“Penyihir Layla. Dialah pelaku yang memojokkan dan membunuh ibumu. Dia mengubah orang-orang menjadi permata dan menyebarkan kegilaan. Dialah akar dari segala kejahatan ini. Aku akan membantumu, jadi...”

 

“...Tidak mungkin.”

 

Namun, yang kembali dari bibir Elez hanyalah sepatah kata yang tidak bertenaga.

Dengan wajah yang tampak seperti akan menangis kapan saja, Elez mengutarakan keputusasaannya.

Tidak mungkin? Apa yang dia katakan? Di depannya ada musuh bebuyutannya, ada ibunya yang sekarat, dan kata pertama yang keluar adalah tidak mungkin?

“Akhir seperti ini... ini bukan akhir yang aku inginkan.”

“Musuhmu ada di depan mata!”

“Apa yang kamu tahu tentang perasaanku!? Layla adalah satu-satunya temanku! Meski aku curiga ada alasan tertentu, aku tetap mencoba percaya padanya... Tapi ternyata sejak awal, sejak awal aku hanya dimanfaatkan!”

“...!”

Ibunya meninggal, dan Elez diadopsi oleh keluarga Cendrillon sendirian.

Dikelilingi oleh ibu angkat yang kejam dan dua kakak angkat, tidak ada seorang pun yang berada di pihak Elez.

Dia ditindas di saat luka atas kematian ibunya belum kering, dan dipaksa menjalani hidup yang sangat berat.

Di saat itulah, dia mendapatkan teman satu-satunya; jiwa lain yang bersemayam di dalam tubuhnya, Layla.

“Memangnya apa salahku!? Aku tidak meminta sesuatu yang istimewa, ‘kan!? Ibu dibunuh, dan setiap hari aku ditindas ibu angkat dan kakak-kakak angkatku! Hidupku seperti sampah! Selama ini aku hanya berpikir untuk membalas dendam... dan ternyata pelakunya adalah Layla? Apa-apaan semua ini!?”

Elez bukanlah seorang pendendam.

Namun, tanpa tujuan yang jelas seperti balas dendam, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan hidup hingga hari ini. Dia menggenggam pedang sendirian, mengatupkan gigi, dan terus berjuang. Tanpa menunjukkan kelemahan pada siapa pun, meski hanya gertakan belaka atau apa pun alasannya, dia terus melangkah maju.

Namun, kemalangan yang menimpa Elez terlalu bertubi-tubi.

Dia telah menerima terlalu banyak kebencian dalam hidupnya.

Teman satu-satunya yang terus mendukungnya sejak kematian sang ibu.

Ternyata adalah sosok yang telah membunuh ibunya sendiri.

“Aku sudah tidak sanggup lagi... Apa aku masih harus berjuang? Semua orang pergi meninggalkanku. Tidak ada seorang pun yang bisa kupercayai sepenuhnya. Aku lelah mencurigai orang lain. Lelah hidup dalam kepura-puraan. Aku sudah berusaha... aku sudah berjuang sekuat tenaga...”

Suara Elez perlahan melemah, dan dia pun menunduk.

Tiba-tiba, beberapa bilah pedang melesat ke arah Elez. Serangan maut itu membelah udara, namun Mahiru segera mendekap Elez dan menghindar di saat-saat terakhir. Bilah-bilah itu menggores lengan dan kakinya, namun baginya itu hanyalah luka ringan yang bisa diabaikan.

“Dasar keparat!”

Petrie menggunakan pedang besarnya untuk menjatuhkan pedang-pedang yang terus berdatangan.

Dengan sihirnya, Petrie kembali mengenakan zirahnya, bertransformasi menjadi kesatria perak dengan pedang besar yang berdiri melindungi Mahiru dan yang lainnya. Tampak jelas dia sedang mengerahkan sisa kekuatan terakhirnya; bahkan dari belakang pun Mahiru bisa melihat bahunya yang kembang kempis karena sesak napas.

Petrie tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Elez. Melihat ekspresi wajahnya tadi, Mahiru paham alasannya. Petrie merasa tidak punya hak untuk memanggil putri itu.

“Hei, Petrie...”

“Maafkan aku. Karena aku begitu lemah, maaf!”

Mendengar suara Petrie yang dipaksakan itu, Mahiru tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Elez hanya terus menyembunyikan wajahnya dengan bahu yang gemetar, tanpa memberikan jawaban.

Mahiru merasa gemas, bahkan nyaris marah. Dia sudah tahu apa keinginan Elez. Begitu pun dengan keinginan Petrie. Mereka berada di jarak yang cukup dekat untuk saling bicara, namun, tidak ada kemewahan waktu untuk menengahi hubungan ibu dan anak itu sekarang.

Layla mengubah permata menjadi pedang dan melontarkannya bertubi-tubi. Suara ledakan menggema, lantai terkoyak, percikan api menyambar, dan Petrie terus membalas serangan itu. Salah langkah sedikit saja, kepala bisa melayang, ini benar-benar sebuah medan tempur.

Layla yang melayang tampak terbuai oleh rasa kuasa yang tidak terbatas, dia tertawa terbahak-bahak.

Dengan bilah-bilah baja yang menyelimutinya, bersimbah darah segar, dan berhiaskan kegilaan, begitulah wujud mengerikan sang Penyihir itu sekarang.

“Aku ingin menghentikan permainan rumah-rumahan itu sejak dulu. Benar-benar konyol. Aku selalu ingin melakukan ini. Membalikkan seluruh panggung dan menghancurkannya berkeping-keping, bukannya itu hal yang paling gila?”

Layla membidik Mahiru dan yang lainnya sambil mendekat.

Mahiru melirik Elez, namun gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak.

Jika sudah begini, Mahiru harus melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri. Pikirkan, ayo berpikir, Misora Mahiru. Dunia ini tidak mungkin dibuat mustahil untuk diselesaikan. Pasti ada sesuatu yang terlewat. Pasti ada celah. Pasti ada jalan keluar.

“Menyebarkan permata sedikit demi sedikit saja tidak cukup. Berikan lebih banyak keputusasaan! Lebih banyak kegilaan! Dengan lipstik merah yang indah dan memukau, mari kita berpisah dengan dunia yang terkutuk ini!”

“Cih, dasar penyihir gila keparat.”

“Apa yang kamu katakan? Inilah seharusnya wujud dunia yang benar!”

Layla melepaskan permatanya dan menembakkan pedang yang tidak terhitung jumlahnya. Pedang-pedang itu melesat membentuk lengkungan ke arah Elez, namun Petrie kembali menangkisnya dengan pedang besar. Meski begitu, beberapa luka sayatan baru mulai terukir di tubuh Petrie.

“Ugh... ah, kurang ajar...”

Petrie nyaris tidak bisa berdiri, menggunakan pedang besarnya sebagai penopang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia hanya bertahan dengan harga diri yang tersisa. Dia sedang mengerahkan seluruh sisa hidupnya demi melindungi putrinya.

Layla sepertinya sudah mengincar Elez sejak tadi.

Tunggu, kenapa dia harus repot-repot mengincar Elez yang sedang putus asa?

“Kekeke, menghancurkan kalian hanya masalah wak...”

Layla yang memandang rendah Mahiru dan kawan-kawannya dari langit tiba-tiba menyisir rambutnya dengan anggun. Dengan tubuh kecilnya yang tampak tidak selaras namun terlihat memikat, dia tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba memuntahkan darah. Darah menetes deras dari mulut dan hidungnya.

“Eh... kenapa?”

Penyihir itu sendiri tampak terbelalak kebingungan.

“Kenapa... aku berbeda dari sampah-sampah buatan ini, aku adalah sosok yang terpilih. Aku istimewa. Aku ini spesial. Begitu indah, seperti permata, bahkan lebih dari permata... ah, aaaah.”

Darah menetes dari celah jemari yang menutupi wajahnya.

Layla menatap telapak tangannya yang memerah dan wajahnya berkerut penuh kebencian.

Mahiru menegang melihat perubahan mendadak pada Layla.

Wajah tenangnya sirna, dan seiring dengan jiwanya yang tidak stabil, tubuhnya semakin mengurus. Layla mencakar tubuhnya sendiri seolah berteriak melarang sesuatu pergi. Seakan baru pertama kali melihat tubuhnya sendiri dengan jelas, dia membelalak kaget merasakan tekstur fisiknya.

“A-Aaa... ak-ak-ak-ak-aaaah, aku ini penyihir! Aku akan menenggelamkan dunia dalam kegilaan dan meraih kebahagiaan!”

Layla berteriak sambil memegangi dahinya dalam kesakitan.

“Penyihir keparat itu... sihir yang serampangan tadi... dia benar-benar sudah memaksakan diri.”

Jelas sekali bahwa saat Layla merebut kembali tubuhnya, waktu belum melewati tengah malam. Ternyata proses itu memang tidak sempurna. Belum lagi, melakukan hal gila dengan tubuh yang sudah lama tidak digerakkan pasti akan menimbulkan efek samping yang hebat.

Tunggu, sihir? Benar juga, ada satu orang lagi yang punya kemungkinan untuk menandingi Layla!

Mahiru kembali menatap Elez.

Satu-satunya alasan mereka masih bisa bertahan melawan Layla meski hanya sekejap adalah berkat bantuan Petrie.

Hanya pengguna sihir yang bisa menghadapi sihir Layla secara frontal.

Dan Layla pernah berkata bahwa dia memilih tubuh Elez karena gadis itu memiliki kekuatan sihir.

Jika begitu, Elez sendiri mungkin bisa menggunakan sihir. Layla menggunakan sihir saat berada di dalam tubuh Elez. Secara teori, itu seharusnya mungkin dilakukan.

Layla mengincar Elez demi menyingkirkan kemungkinan sekecil apa pun itu.

Ternyata kuncinya tetaplah Elez.

Mahiru harus membuat Elez bangkit sekali lagi.

Karena tokoh utama dalam dunia dongeng ini adalah Elez Cendrillon.

 

* * *

 

Elez merasakan pertempuran yang terjadi di hadapannya seperti kejadian di tempat yang sangat jauh.

Sambil menatap hampa ke arah itu, kenangan masa lalu berputar di benaknya bagaikan lentera putar.

Ibunya dibunuh, dia baru menyadari bahwa Layla adalah pelakunya beberapa saat yang lalu, tetapi saat itu dia tidak tahu apa-apa dan hanya tenggelam dalam keputusasaan.

Tidak lama kemudian, Elez diusir dari istana.

Sepertinya keberadaan anak selir seperti dirinya memang tidak diizinkan. Dia diberi penjelasan panjang lebar untuk bersyukur karena tidak dibunuh, namun tidak ada satu pun kata yang masuk ke kepalanya. Saat itulah dia baru menyadari bahwa selama ini Petrie-lah yang menanggung semua makian, kecemburuan, dan perundungan itu sendirian.

Padahal asalkan ibunya hidup, itu sudah cukup baginya.

Meski di dalam istana seperti itu, dia merasa bahagia.

Setelah menghabiskan malam di atas tanah gang yang dingin dan keras, dia baru benar-benar tersadar bahwa Petrie telah tiada. Elez menangis sejadi-jadinya, seolah-olah baru pertama kali melihat dunia yang sebenarnya.

Kemudian, dia dipungut oleh seseorang bernama Ryzen Cendrillon.

Sampai sekarang pun dia tidak tahu alasan pria itu memungutnya. Pria itu tidak ramah, jarang berbicara, dan terkadang hanya menatapnya dengan ekspresi rumit sambil bertanya apakah dia baik-baik saja. Elez tidak pernah mengerti maksudnya.

Sejak saat itu, hari-hari bagaikan neraka dimulai.

Entah kenapa ibu angkatnya sangat membencinya, dan entah karena hal itu menular ke anak-anaknya atau memang karena mereka tidak menyukainya, kedua kakak angkatnya terus merundungnya.

Ibunya sudah tidak ada.

Tidak ada seorang pun yang memihak Elez.

Merasa kesepian, tersiksa, berat, dan sedih, dia hanya bisa menangis diam-diam sendirian.

Malam-malam seperti itu terus berulang hingga dia sempat berpikir untuk mengakhiri hidup, namun dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk itu. Saat dia menodongkan pisau ke lehernya sendiri, tepat di saat-saat terakhir, muncul sebuah benih keinginan yang disebut insting untuk bertahan hidup, daripada mati sia-sia...

“Benar, bunuh saja mereka, Elez.”

Sebuah suara terdengar dari dalam dirinya.

“Kamu harus merebut kembali apa yang telah dirampas darimu. Bukannya begitu, Elez?”

Itu adalah suara yang manis dan melumpuhkan, seolah melilitnya dengan lekat.

Sejak saat kematian Petrie, dia memang merasa ada sosok lain di dalam dirinya. Dia baru bisa berkomunikasi dengan jelas setelah beberapa lama tinggal di kediaman Cendrillon.

“Pembunuh ibumu ada di keluarga kerajaan. Benar-benar tidak termaafkan, bukan? Pasti menyakitkan. Hatimu tidak akan pernah tenang sampai kamu membalaskan dendam itu. Ayo, ayunkan pedangmu, Elez.”

Jiwa yang satu lagi itu menyebut dirinya Layla.

Layla berbisik seolah sedang mengutuknya.

Jika dipikirkan sekarang, memang banyak kejanggalan.

Namun saat itu, hanya Layla yang bisa diandalkan oleh Elez.

Dia pun memutuskan untuk hidup demi membalaskan dendam ibunya.

Dia menyelidiki segala hal tentang istana secara mandiri, dan sisa waktunya dia habiskan untuk berlatih pedang.

Setelah memiliki tujuan, Elez merasa hidupnya seolah-olah memiliki arti.

Dia mengayunkan pedang untuk mengusir kecemasan.

Dia mengayunkan pedang untuk membuang kelemahan.

Dia mengayunkan pedang seolah tidak mengenal rasa sedih.

Layla selalu memberikan kata-kata yang dia inginkan di saat yang tepat.

Terkadang Layla menyemangatinya, memarahinya, atau sekadar berbincang tentang hal-hal sepele. Karena Layla selalu mendampinginya, dia tidak lagi menangis di malam hari yang sepi. Tanpa disadari, mereka menjadi sangat akrab, dan Elez mengira dia akhirnya menemukan sosok yang bisa disebut sahabat untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Namun, itu pun hanya salah paham.

Layla hanya memanfaatkan Elez dan tidak merasakan sedikit pun ikatan persahabatan.

Selama ini, Elez sudah berjuang sekuat tenaga untuk tetap melangkah maju.

Benar, Elez telah berjuang sendirian.

Namun, kini dia sudah merasa lelah.

“Maafkan aku... Maafkan aku, Ibu.”

Dia bersusah payah untuk membalaskan dendam Petrie, namun mengetahui bahwa musuh bebuyutannya adalah orang yang dia anggap satu-satunya sahabat merupakan mimpi buruk yang mengerikan. Dia terus membakar amarahnya karena tidak bisa memaafkan pembunuh ibunya, namun setelah tahu bahwa pelakunya adalah Layla, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Selama ini dia berusaha untuk tidak memikirkannya.

Namun, sekali saja emosi itu meluap, dia tidak bisa menghentikannya.

Mengapa hanya dia yang harus mengalami hal seperti ini?

Apa salahnya?

Padahal dia hanya ingin menjalani kehidupan yang normal.

Asalkan ibunya tetap hidup, itu sudah cukup baginya.

Seandainya dia bisa hidup bersama ibunya di luar istana, itu saja sudah cukup.

Dia ingin seseorang menolongnya.

Dia ingin dibebaskan dari neraka yang perlahan-lahan mencekiknya ini.

Ah, ternyata di akhir masih ada satu orang lagi yang sepertinya bisa menjadi temannya.

Apa Mahiru akan menolongnya?

Tiba-tiba dia kembali ke kenyataan, melihat tragedi yang membentang di hadapannya, dan melihat sosok Mahiru yang sedang menuju ke arahnya.

Dia mengulurkan tangannya perlahan, memohon bantuan.

Namun, pemuda itu justru melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Elez.

“Jangan berlagak seperti protagonis dalam tragedi! Dasar bodooooooh!”

 

* * *

 

“Sama sekali tidak cocok untukmu! Beraninya kamu menyerah begitu saja dan mencoba mencari jalan pintas untuk merasa tenang!”

“Ha... haha... Apa-apaan kamu? Kamu juga ingin memojokkanku?”

Elez memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya.

Sorot matanya seolah meneriakkan bahwa dia baru saja dikhianati dan dibuang.

“Ya, benar! Memangnya siapa yang sudi menolong orang peragu sepertimu? Aku tidak sudi, begitu pun orang lain!”

Mahiru merenungkan kembali dongeng tentang Cinderella.

Namun, dia tidak pernah benar-benar memahami Cinderella.

Itu semata-mata karena kehendak diri sang gadis tidak pernah terlihat dalam cerita tersebut.

Cinderella yang ditindas ibu angkat dan kedua kakak angkatnya, lalu tiba-tiba muncul seorang penyihir yang memberinya sihir agar dia bisa pergi ke pesta dansa dambaan. Akhirnya, dia pun dipikat oleh pangeran dan hidup bahagia selamanya.

Lantas, di mana letak keinginan Cinderella?

Pangerannya pun sama saja. Apa cerita itu hanya ingin bilang bahwa penampilan adalah segalanya? Meski sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat pesta dansa, si pangeran tetap tidak mengenali Cinderella saat gadis itu mengenakan pakaian kumal. Benar-benar pria yang hanya mementingkan rupa.

Ah, menjengkelkan. Semuanya benar-benar memuakkan.

“Apa kamu pikir orang yang mendekatimu dengan lembut saat kamu sedang lemah itu berniat menyelamatkanmu karena niat baik semata!? Salah! Kamu sebenarnya tahu itu, ‘kan!?”

Mahiru memahami perasaan Elez seolah itu adalah perasaannya sendiri. Siapa pun pasti pernah berada di titik terlemah. Siapa pun bisa saja ditimpa ketidakadilan yang tidak masuk akal.

Di saat seperti itulah muncul keinginan untuk diselamatkan seseorang dari neraka tersebut.

Mahiru pun pernah merasakannya.

Saat Asahi menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan orang tua mereka bunuh diri. Mahiru harus menanggung biaya rumah sakit Asahi. Sebagai siswa SMP saat itu, mustahil baginya untuk mencari uang dalam jumlah besar dengan cara yang benar, dan dia pun mengalami banyak hal mengerikan.

Sudah tidak terhitung berapa kali hatinya nyaris hancur. Setiap kali itu pula, pasti ada seseorang yang mengulurkan tangan, dan sudah tidak terhitung berapa kali dia dikhianati. Berkali-kali dimanfaatkan, lalu dibuang seperti kain pel yang kotor.

Elez pun seharusnya menyadari hal itu.

Pada putaran pertama, kakak-kakak angkatnya mendekatinya dengan janji akan membawanya ke pesta dansa, namun mereka justru membuat Elez membunuh Mahiru dan mengingkari janji tersebut. Pada putaran ketiga, Elez memihak Reset karena pria itu mengaku tahu siapa pembunuh ibunya. Namun, setelah rahasia Layla terungkap sekarang, bisa dibayangkan bagaimana akhir dari pilihan itu.

“...Berisik.”

Dan sekarang, Elez sedang mencoba bergantung pada Mahiru.

Itu bukan kehendak Elez; dia hanya mengibaskan ekor pada cahaya semu di depan matanya yang tampak seperti harapan. Dia tidak memilih, dia hanya dipaksa untuk memilih.

“Isinya hanya orang-orang yang ingin memanfaatkan kelemahanmu! Betapa konyolnya dirimu, Elez, begitu mudahnya percaya orang lain! Bisa saja aku ini bajingan yang memanfaatkanmu untuk mendapatkan banyak uang!”

“Apa-apaan!? Kenapa keinginanku untuk ditolong seseorang harus kamu anggap sebagai sesuatu yang jahat! Aku sudah berjuang sekuat tenaga! Bukannya aku layak mendapatkan imbalan? Atas dasar apa kamu terus-terusan menyalahkanku!?”

Ah, dugaannya benar.

Elez sangat mirip dengan Mahiru yang dulu.

Karena tidak bisa menerima kenyataan pahit, Mahiru pun selalu berharap ada seseorang yang akan menolongnya. Dia pernah berpikir bahwa karena dia sudah bekerja sekeras ini, pasti akan ada orang yang datang menyelamatkannya.

Namun, orang-orang yang mendekat saat itu hanyalah orang jahat. Begitu pun orang tua Mahiru yang tertipu dukun palsu saat sudah tidak punya pegangan lagi.

Setelah mengalami banyak kepahitan, Mahiru akhirnya sadar, siapa pun yang lemah akan dirampas segalanya.

Meski dia sudah berusaha waspada, pada akhirnya dia tetap tertipu dengan mudahnya kali ini. Hal itu akan terus terukir dalam hatinya.

“Jangan buat aku tertawa dengan dalih sudah berjuang sementara kamu hanya pasrah menerima kemalangan!”

“Habisnya mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu cara berteman, aku tidak pernah diajari bahwa aku boleh bersandar pada orang lain! Aku sudah meronta sebisaku! Dan hasilnya adalah ini!”

Elez berteriak dengan air mata yang menggenang, lalu mulai terisak.

“Meronta? Jangan seenaknya menyudahi semuanya! Justru di sinilah tempatmu untuk bertahan! Yang bisa menyelamatkanmu hanyalah dirimu sendiri! Merontalah sekarang! Merontalah, berjuanglah, Elez!”

Sekarang Mahiru sedikit memahami perasaan orang-orang yang pernah memerasnya.

Ingin diselamatkan, ingin ditolong, ingin seseorang mengulurkan tangan. Merampas segalanya dari orang malang yang mengumumkan kelemahannya dengan cara mengibaskan ekor seperti itu pasti semudah membalikkan telapak tangan.

“Di dasar neraka ini, kamu sendirian! Yang bisa keluar dari sana hanyalah kamu dengan kekuatanmu sendiri! Siapa yang sudi menolong orang yang hanya diam di tempat seperti itu! Sadarlah!”

Mahiru tahu betul kata-kata apa yang ingin didengar oleh Elez. Justru karena itulah, dia tidak akan pernah mengucapkannya.

“Aku tahu, aku mengerti... tapi sendirian itu menyakitkan...”

Elez memasang wajah putus asa seolah-olah dialah orang paling malang di dunia.

Dia benar-benar mirip dengan Mahiru yang dulu. Lemah, tidak tertolong, dan bahkan tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.

Mungkin karena itulah Mahiru merasa sangat jengkel.

Dan mungkin karena itu pula dia merasa ingin mengulurkan tangan.

Jika dia hanya menanggung penderitaan itu sebagai ganti Elez, gadis itu tidak akan pernah selamat. Mahiru tahu hal itu lebih baik dari siapa pun.

“Aku bilang pilih dengan kehendakmu sendiri! Jangan hanya mengikuti arus dan mencoba mengambil jalan termudah dari pilihan yang diberikan padamu!”

Petrie berkata bahwa dia tidak ingin Elez menderita.

Namun, seperti halnya seorang ibu yang memiliki keinginan untuk anaknya, Elez sebagai seorang putri pun pasti memiliki perasaan yang ingin dia tunjukkan.

“Apa keinginanmu yang sebenarnya, Elez! Apakah membalas dendam pada pembunuh ibumu!? Apa kamu akan puas bagaimana pun akhirnya asalkan pembunuhnya mati!? Itu bukan keinginanmu, ‘kan? Aku sudah mendengarnya langsung darimu! Jawab, Elez!”

“Tapi, Ibu... sudah...”

Sambil menahan rasa sakit, Mahiru menatap Layla yang sedang mengamuk melepaskan sihir secara membabi buta.

Para bangsawan yang datang ke pesta dansa berlarian panik. Mereka satu per satu berubah menjadi permata atau tewas tertusuk pedang. Aula itu bersimbah darah. Harmoni sumbang dari jeritan dan denting senjata bergema. Api merah berkobar, benar-benar menyerupai neraka.

Di tengah semua itu, Petrie sedang bertarung mempertaruhkan nyawa.

Menggunakan pedang besarnya, dia menangkis pedang-pedang yang dilontarkan Layla demi melindungi orang-orang.

Meski keringat bercucuran dan memuntahkan darah, dia tidak menyerah, memeras setiap tetes sihirnya untuk terus bertarung.

Elez mengikuti arah pandangan Mahiru dan menangkap pemandangan itu.

“Apa Petrie yang sedang bertarung di depanmu itu hanya khayalan? Apa dia palsu?”

“Itu...”

“Ibuku sudah mati dan aku bahkan tidak bisa lagi bertukar kata dengannya. Tapi kamu berbeda, Elez.”

Mendengar ucapan Mahiru, Elez tersentak dan mendongak.

Di dasar matanya, sisa-sisa api yang nyaris padam kembali berkobar.

“...Benar. Selama ini aku mengira dia sudah tiada.”

Elez mengepalkan tangannya dan berucap dengan nada penuh penekanan.

“Jika aku bisa bertemu dengannya sekali lagi, apa yang harus kukatakan... Aku sudah memikirkannya lebih sering daripada jumlah malam yang telah kulewati.”

Sama saja. Mahiru pun merasakan hal yang sama.

Terkadang pikiran negatif melintas di benaknya. Hidupnya penuh dengan penyesalan. Dia pun sering memusingkan hal-hal yang sudah tidak bisa diubah lagi. Sambil berpikir bahwa hal itu terasa seperti kutukan, dia pasti belum bisa melepaskan diri sepenuhnya.

Seandainya dia bisa berbicara kembali dengan orang tuanya, apa yang ingin dia sampaikan?

Ingin hidup damai bersama ibu. Itu pun bukan sebuah kebohongan. Namun, Elez menyadari bahwa hal itu takkan mungkin terwujud lagi. Jika masih ada satu keinginan yang bisa dikabulkan sekarang, itu adalah....

“Aku yakin Ibu sangat mengkhawatirkanku.”

“Ya.”

Sebab Petrie bahkan bertarung demi Elez meski dia kini hanyalah roh.

Petrie pun memendam penyesalannya sendiri dan terus melawan sendirian dengan cara yang sama.

“Aku belum sempat membalas budinya sedikit pun. Sejujurnya, aku ingin kami hidup damai bersama. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin. Setidaknya, bagi Ibu yang selalu melindungiku, aku ingin menunjukkan sisi kerenku untuk terakhir kalinya.”

“Ya.”

“Apa yang kamu katakan itu benar, Mahiru. Ibu memang sudah meninggal, tapi kami masih bisa berbicara. Dia selalu menjagaku. Jika aku terus meratapi nasib seperti ini, rasanya benar-benar memalukan.”

Benar. Elez tidak sepenuhnya terpisah dari Petrie.

Petrie memperhatikan Elez. Elez memperhatikan Petrie.

Mereka bisa saling bertukar kata. Dia bisa menunjukkan kehendak hatinya.

Pasti ada sesuatu yang ingin Elez sampaikan sejak lama. Mahiru pun berpikir demikian. Sebab, bagi seorang ibu yang akan pergi, tidak banyak hal yang bisa diberikan oleh seorang anak...

“Aku ingin menunjukkan betapa besarnya aku telah tumbuh. Aku ingin dia merasa tenang dan yakin bahwa aku sudah baik-baik saja.”

Elez mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu memejamkan mata.

“Kalau aku terus menangis sesenggukan begini, hal itu tidak akan pernah terwujud!”

Dia menyeka air matanya dan bangkit berdiri. Dia memaksakan diri untuk tersenyum dan mengeraskan suaranya.

Kemudian, dengan tekad yang bulat, dia mengulurkan tangannya kepada Mahiru.

“Tapi, meskipun terlihat begini, aku tidak sekuat dirimu. Jadi, tolong pinjamkan kekuatanmu padaku. Ini bukan karena aku dipaksa memilih.”

“...Elez.”

“Kalau bersamamu, kurasa aku bisa berjuang sedikit lebih lama lagi. Sebagai teman yang setara, aku ingin meminjam kekuatanmu, Mahiru.”

“Tentu saja!”

Mahiru menjabat tangan Elez dengan erat.

Keduanya menatap Layla yang melayang di atas tumpukan reruntuhan, memantapkan tekad mereka sekali lagi.

“Petrie! Tukar!”

Petrie menoleh dengan wajah heran saat Mahiru menghampirinya di tengah gempuran Layla.

Tubuhnya sudah babak belur, seharusnya dia sudah lama melewati batas kekuatannya, namun sepasang matanya masih memancarkan semangat yang berkobar.

“Memangnya kamu sanggup menghadapi Penyihir itu sendirian?”

“Ini bukan soal sanggup atau tidak. Ini satu-satunya cara. Kumohon, ajari Elez sihir.”

Mendengar itu, kerutan di dahi Petrie semakin dalam.

“Kamu bilang akan membunuhku kalau aku gagal menyelamatkan Elez, ‘kan? Aku berdiri di sini justru agar Elez tidak perlu bertarung, dasar bodoh!”

“Anak-anak itu tumbuh dewasa. Sama seperti orang tua yang mengkhawatirkan anaknya, kami pun punya perasaan yang ingin kami tunjukkan pada kalian.”

Petrie sempat bimbang sejenak, namun dia menggelengkan kepala.

Tangannya yang mencengkeram pedang besar yang tertancap di tanah tampak gemetar. Dia mengertakkan gigi seolah meratapi sesuatu. Dia menatap Layla yang kini menjadi penyihir mengerikan, lalu menatap putri tercintanya, Elez, sebelum akhirnya membuka suara.

“Tidak bisa. Sebagai orang tua, ada hal yang tidak bisa kutoleransi. Aku belum memberikan apa pun untuk Elez... Jika aku mundur sekarang, aku benar-benar ibu yang gagal.”

Tekadnya tampak sangat kuat.

Mahiru mengerti perasaan itu. Petrie telah berjuang sendirian demi melindungi Elez. menantang Layla dengan keberanian maut, menganggap ini sebagai tugas terakhirnya sebagai seorang ibu.

Namun, Mahiru tetap berpihak pada perasaan Elez sebagai seorang anak.

“Ibu bukan ibu yang gagal!”

Elez merangsek maju melewati Mahiru dan berteriak.

Keraguan yang tadi menyelimutinya telah sirna, berganti dengan wibawa seorang kesatria yang telah memantapkan hati.

“Aku tahu semuanya. Saat aku kecil, Ibu melindungiku dari orang-orang istana keparat itu. Ibu bertarung melawan Layla, bahkan setelah mati pun Ibu masih terus melawan... Itu semua demi aku, ‘kan?”

“...Benar. Kalau kamu sudah paham, pergilah dari sini.”

Petrie menjawab dengan nada berat setelah terdiam sejenak.

Tekadnya tetap teguh, dia sama sekali tidak berniat menyerah.

Melihat hal itu, Elez menggaruk kepalanya dengan kesal, seolah ingin memprotes ibunya yang keras kepala.

“Ibu tahu! Sekarang aku sudah bisa makan wortel!”

“Hah... apa?”

Petrie mengeluarkan suara bodoh karena tidak mengerti maksud dari ucapan mendadak itu.

“Aku juga jago memasak. Tidak seperti Ibu yang payah dalam urusan dapur.”

“O-Oh...”

“Lagipula, aku terus berlatih pedang selama ini. Aku yakin sekarang aku lebih kuat dari Ibu!”

“Enak saja... aku juga belum kalah, tahu! Aku tahu betul semua kebiasaanmu dalam bertarung. Masih terlalu dini seratus tahun bagimu untuk bisa menang dariku!”

Petrie akhirnya terpancing untuk membalas ucapan Elez yang terus mendesaknya.

“Kalau begitu, mau coba tanding sekarang? Karena tubuh Ibu sudah mengecil, aku akan memberi Ibu kompensasi. Keuntungan buat Ibu!”

“Tidak butuh! Malah tubuh kecil ini yang memberimu keuntungan, dasar bodoh!”

“Baiklah kalau begitu, akan kuhajar Ibu sampai babak belur! Sekalian kubalas semua latihan keras yang Ibu berikan dulu!”

Meski baru kembali berbicara setelah sekian lama, suasana hangat yang mencerminkan hubungan ibu dan anak mengalir di antara mereka.

Walaupun jika dilihat sekilas, interaksi mereka terasa sedikit lebih kasar daripada hubungan orang tua dan anak pada umumnya...

Elez membuat gerakan seperti akan mengayunkan pedang, lalu ekspresi wajahnya melunak sejenak seolah sedang mengenang masa lalu.

“Kumohon, Ibu. Ajari aku sihir.”

Setelah melirik ke arah Layla, Elez mengucapkannya dengan nada suara yang penuh kekuatan.

“...Elez.”

Petrie tertegun sejenak.

Suara hantaman keras terdengar. Serpihan batu melesat dan menggores lengan Mahiru.

Gempuran membabi buta dari Layla sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Para bangsawan berlarian panik di dalam istana. Layla seolah sedang menikmati perburuan; dia menggunakan kekuatannya secara serampangan untuk mengubah orang-orang menjadi permata, lalu menggunakan permata itu untuk merapalkan sihir. Mungkin karena kondisi mentalnya yang tidak stabil, dia tidak fokus menyerang Mahiru dan yang lainnya. Dua tampak sedang mengamuk kehilangan kendali.

“Maaf sudah membuat Ibu khawatir. Tapi sekarang, aku sudah tidak apa-apa.”

Elez mengucapkannya seolah sedang menenangkan.

“Aku ini putrinya Ibu, jadi aku pasti akan baik-baik saja.”

Selama ini Petrie pasti terus mengawasi Elez.

Dia melihat Elez yang ditindas dengan tidak adil di kediaman Cendrillon.

Dia melihat Elez yang mengayunkan pedang dengan amarah yang membara. Dia melihat Elez yang bertahan hidup dengan segala kepura-puraannya.

Petrie pasti tahu bahwa sebenarnya Elez merasa kesepian dan sering menangis sendirian di tengah malam.

Karena itulah, dia bisa memahami betapa berat beban dari kata-kata Elez.

Apakah itu sekadar gertakan, kenyataan, atau rasa pesimis, Petrie pasti lebih paham daripada Mahiru.

Mahiru yakin seorang ibu tidak akan mungkin mengabaikan hal itu.

“Ah, sial, baiklah! Lagipula kalau dibiarkan begini, kita semua akan hancur lebur. Dan kalau aku tidak percaya pada putriku sendiri, itu baru namanya ibu yang gagal. Hei, Mahiru...”

Petrie menggaruk rambut peraknya dengan kasar dan berucap dengan nada sedikit pasrah.

Kemudian, dia mengambil sebuah kalung dari balik pakaiannya dan melemparkannya kepada Mahiru.

“Ambil ini!”

Mahiru menangkap kalung itu dengan sedikit kikuk. Itu adalah sebuah perhiasan dengan tiga buah kristal biru yang tertanam di sana. Kata “alat sihir” langsung terlintas di kepala Mahiru.

Melihat Mahiru yang kebingungan, Petrie mengangkat tiga jarinya.

“Tiga kali. Benda itu akan menanggung luka fatalmu sampai tiga kali. Jangan mati, bodoh.”

“Siap!”

Mahiru mengenakan kalung itu, mencengkeram gunting raksasanya kuat-kuat, lalu mendongak menatap Layla.

Layla terus merapalkan sihir dengan liar sambil memegangi dahinya yang tampak kesakitan, seolah sedang tantrum. Tugas Mahiru hanyalah mengulur waktu. Mengulur waktu dengan tingkat kesulitan maksimal.

Aku harus melakukannya!

Seandainya Layla menyerang dengan sihir yang terorganisir dengan tenang, Mahiru pasti sudah angkat tangan. Namun untungnya, Layla sedang dalam kondisi kalap. Hal itu disebabkan karena Mahiru berhasil menemukan tubuh aslinya sebelum tengah malam dan mempercepat kebangkitannya yang tidak sempurna. Bagus, ternyata semua usahanya tidak sia-sia.

Mahiru tidak boleh membiarkan Layla mengarahkan perhatian pada Elez. Dia akan mempertaruhkan tiga nyawa tambahannya untuk memberikan waktu bagi Elez mempelajari sihir.

Tepat saat Mahiru menggengam gunting raksasanya, memantapkan tujuannya...

Reset muncul dari balik reruntuhan, memanfaatkan celah saat serangan Layla terhenti sejenak. Kaki kirinya tampak terseret, kemungkinan terluka akibat terkena sihir Layla. Darah menempel di beberapa bagian tubuhnya, rambutnya berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah.

“Sial, sial, sial... Beraninya kamu menghancurkan istanaku sampai berantakan begini. Apa kamu tidak tahu cara menahan diri? Ah, memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini saja sudah membuatku muak.”

Melihat Reset yang terus meracau penuh keluhan, Mahiru langsung berlari menerjang sebelum dia sempat menyadarinya.

Mengingat bagaimana pria itu menghasut Elez dengan kata-kata manis demi ambisinya sendiri, mengkhianati Mahiru, dan mengeksekusinya sebagai kriminal besar di depan rakyat... hanya dengan mengingat senyum palsu pria itu saja sudah membuat darah Mahiru mendidih. Amarah yang nyata inilah yang menggerakkan kedua kakinya.

“Sebelum itu, aku harus membalas utangku padamu!”

Mahiru melayangkan tinjunya dengan penuh amarah.

Namun, serangan besar itu berhasil dihindari oleh Reset yang terperanjat dan memiringkan tubuhnya.

“Kamu rupanya... aku tidak tahu apa maksudmu, sayangnya saat ini suasana hatiku sedang buruk!”

Reset melangkah maju dengan cepat dan mendaratkan pukulan telak di wajah Mahiru.

Rasa sakit yang tumpul menjalar, namun kedua kaki Mahiru tetap berpijak kokoh di atas tanah, menahan serangan itu.

“Pukulan yang ringan, cocok sekali dengan kepribadianmu yang dangkal, Reset!”

Mahiru mencengkeram pergelangan tangan Reset dan menariknya mendekat. Reset mendecih kesal dan membalas dengan memukul Mahiru berkali-kali. Otak Mahiru terasa berguncang hebat. Meski rasa sakit yang datang bertubi-tubi menyerangnya, kesadaran Mahiru yang dibakar amarah tetap terjaga dengan jernih.

“Lepaskan aku! Dasar rakyat jelata yang kotor! Aku adalah calon raja berikutnya, Reset Cinder!”

Mahiru mencengkeram tangan yang memegang Reset lebih kuat lagi, menatap sang pangeran dengan tajam.

“Mana aku peduli! Alasan aku memukulmu hanyalah karena aku sangat muak, jadi aku berniat membunuhmu sekali saja!"

Dia mengepalkan tinju erat-erat, lalu mengayunkan lengannya lebar-lebar.

Reset yang matanya membelalak panik mencoba memukul balik, namun rasa sakit itu kalah oleh luapan emosi yang membara dalam diri Mahiru.

“Matilah, pangeran brengsek!”

Mahiru menghantamkan kepalan tangannya sekuat tenaga tepat ke wajah Reset.

“Agh!”

Gigi Reset yang tanggal terpental ke tanah, darah mulai merembes dari sudut mulutnya. Tampaknya satu pukulan itu cukup untuk melenyapkan nyalinya; dia berlutut lemas dan menatap Mahiru dengan mata penuh ketakutan. Namun, Mahiru masih belum melepaskan cengkeramannya.

“Jangan harap ini akan berakhir semudah itu. Aku, sudah pernah kamu bunuh sekali, tahu.”

“...K-Kamu gila.”

Gila? Seharusnya itu adalah kalimat Mahiru. Meminjam kekuatan Penyihir, mengubah orang-orang menjadi permata untuk dijual, itu benar-benar perbuatan iblis.

Mahiru kembali mengangkat tinjunya, namun gerakannya mendadak terhenti. Sesuatu yang aneh mulai terjadi pada tubuh Reset. Matanya bergerak liar tidak menentu, lalu keringat dalam jumlah besar mengucur deras dari tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat, dan dalam sekejap wajahnya memucat pasi seolah dia menua puluhan tahun dalam hitungan detik.

Mahiru mengikuti arah pandangan Reset dan menoleh ke belakang. Di sana berdiri Layla yang tampak seperti pecandu tahap akhir; dia menjambak rambut merahnya sendiri, sementara yang mengalir dari matanya bukanlah air mata, melainkan darah.

“T-Tunggu, Layla.”

“Apa? Kamu mencoba memerintahku? Apa-apaan itu. Kamu pikir kita ini setara? Jangan bercanda. Mustahil. Menjijikkan. Benci, aku sangat membencimu. Padahal kamu cuma boneka.”

Tubuh Reset memancarkan cahaya redup, dan pengerasan mulai merayap naik dari kakinya. Mahiru yang menyadari bahaya segera melepaskan tangannya dari Reset.

Itu adalah sihir pengubah tubuh manusia menjadi permata yang pasti sudah sering dilakukan di laboratorium bawah tanah. Meski belum sempurna, penggunaan sihir oleh Layla yang telah kembali ke tubuh aslinya memiliki kekuatan yang jauh melampaui kristalisasi sebagian tubuh seperti yang selama ini dia lakukan dalam tahap uji coba.

“Bagus, ‘kan? Wujud yang ini jauh lebih keren untukmu.”

Kristalisasi pada tubuh Reset terus merambat naik dari kakinya.

“...Ah, tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak!”

Perlahan namun pasti, kebebasan tubuhnya dirampas seolah-olah ada sosok dari alam baka yang sedang menariknya untuk ikut ke sana. Kristal permata itu sudah mencapai lutut, paha, pinggang, dada, lalu merambat ke lengan yang terulur meminta bantuan, hingga akhirnya mencapai leher, menyisakan mulutnya untuk terakhir kali.

“Kenapa!? Aku adalah calon raja berikutnya! Kastaku berbeda dengan rakyat jelata! Aku ini seorang raja, kenapa aku harus... tidak, tidak, tidak, menjadi permata, aaarrggghhh...!”

Pada akhirnya, seluruh tubuhnya mengkristal sempurna. Wujudnya menjadi sebongkah permata yang tampak seperti lumpur hitam keruh yang membeku.

“Mudah sekali kamu dikalahkan. Sial, padahal aku belum puas menghajarmu.”

Mahiru meludah dengan kesal.

Dendamnya karena telah dikhianati dan dieksekusi di depan umum belum sepenuhnya terbalas. Melihat bagaimana Reset menganggap orang lain sebagai benda dengan begitu wajarnya juga sangat menjengkelkan. Dia sudah bersumpah akan membunuhnya dengan tangannya sendiri, namun dia justru kecolongan.

Tidak, mungkin ini adalah akhir yang cocok untuk pangeran sampah yang tidak berguna itu.

Mahiru menggigit bagian dalam pipinya untuk mengalihkan kesadaran. Dia menenangkan hatinya dengan berpikir bahwa Reset hanyalah musuh kecil yang tidak layak dia habisi secara langsung.

Selain itu, dia harus melihat sisi positifnya; setidaknya kejadian ini memberinya sedikit tambahan waktu untuk tujuannya. Setiap menit dan detik saat ini secara harfiah akan mengubah masa depan.

“I-Ini semua salahmu. Benar. Siapa kamu sebenarnya? Gara-garamu semuanya jadi berantakan. Padahal aku hanya menjalankan peranku sebagai Penyihir.”

Perhatian Layla kini beralih kepada Mahiru.

Permata berjatuhan dari telapak tangannya, berubah menjadi pedang-pedang Barat yang melesat ke arah Mahiru. Mahiru segera melompat ke samping untuk menghindar. Dia langsung bangkit berdiri sambil tetap mengawasi Layla.

“...Eh?”

Tiba-tiba keseimbangannya goyah.

Mahiru menunduk saat merasakan perih yang tajam, dan melihat paha kirinya tersayat hingga darah segar mengalir. Padahal dia yakin tadi sudah menghindar dengan sempurna...

Dia menatap Layla yang sedang tertawa cekikikan.

“Keparat, lengah sedikit saja langsung tamat!”

Layla kembali melemparkan permata, dan pedang-pedang Barat yang tidak terhitung jumlahnya kini membidik Mahiru. Senjata-senjata itu membelah udara, melesat secepat peluru. Mahiru memaksa tubuhnya yang sudah babak belur untuk berlari. Suara denting logam dan ledakan terdengar silih berganti dari arah belakangnya.

Debu beterbangan di depannya, membuatnya harus berhenti mendadak, berbelok, dan kembali berlari sekuat tenaga.

Gawat, gawat, gawat! Sial, aku tidak boleh berakhir di tempat seperti ini!

Layla yang melayang di udara sulit untuk dijangkau. Karena dia terus mengubah para bangsawan di aula menjadi permata, tampaknya dia tidak akan kehabisan amunisi dalam waktu dekat.

Mahiru memiliki sisa tiga nyawa, dia memang percaya diri dengan kemampuan fisiknya, tapi itu jika dibandingkan dengan standar manusia biasa.

“Keheheheh, ah, aaaah, tidak, tidak, benar-benar tidak menyenangkan. Sebaiknya kamu berputus asa, menangis sejadi-jadinya, dan memohon ampunlah seperti peran figuran yang tidak berguna. Aku akan membunuhmu tanpa menunggu sedetik pun!”

Layla menganggap Mahiru tidak lebih dari serangga kecil yang remeh.

“Mana mungkin aku menyerah... Sudah sampai sejauh ini, memalukan sekali kalau aku bahkan tidak bisa mengulur waktu!”

Napasnya mulai memburu. Tubuhnya terasa seberat timah.

Namun, dia tahu jika dia berhenti, dia akan mati. Dengan pikiran itu, dia terus menggerakkan kakinya sekuat tenaga.

Situasinya hampir sama seperti saat melawan serigala di dunia Si Tudung Merah. Saat itu dia juga dengan nekat menghadapi lawan yang memiliki kekuatan fisik luar biasa hanya dengan tubuh manusianya. Tidak, ada yang berbeda. Tiba-tiba bayangan seorang gadis pirang yang tersenyum jahil melintas di benaknya.

Lengah sesaat itu berakibat fatal.

Banyak permata yang jatuh dari tangan Layla bersinar terang. Begitu sinarnya meredup, pedang-pedang yang terbentuk sudah berada tepat di depan matanya. Pedang yang terbang itu tampak bergerak sangat lambat di mata Mahiru. Namun, tubuhnya seolah kaku dan tidak bisa digerakkan.

Serangannya akan kena, dia merasakannya lewat insting.

“Sialan...!”

Tepat saat dia bersiap menyambut kematian, tubuh Mahiru seolah didorong kuat ke depan.

Pedang-pedang itu melesat melewati punggungnya, dan nyawanya pun terselamatkan.

Rasanya seolah tubuhnya mendadak menjadi ringan, seakan ada sesuatu yang tidak kasatmata mendorong punggungnya. Mahiru menunduk menatap guntingnya, dan dia seolah melihat bayangan gadis pirang yang sedang menggenggam gagang gunting itu bersama tangannya.

Mungkinkah... tidak, meskipun itu hanya halusinasinya pun tidak apa-apa. Tubuhnya terasa ringan secara tidak masuk akal, dan pandangannya menjadi jernih. Perasaan seolah kemampuan fisiknya dipaksa meningkat membuat vitalitasnya meluap kembali.

“Kalau begini aku bisa melakukannya!”

Dia bisa mati tiga kali. Dalam tiga nyawa itu, dia akan mengulur waktu selama mungkin.

“Elez akhirnya sudah memantapkan hati, kalau aku tidak bertahan di sini, semuanya akan sia-sia.”

Mahiru mengarahkan ujung senjatanya ke arah Layla, lalu memasang kuda-kuda guntingnya dengan mantap.

 

* * *

 

Kakinya terseret, lengannya didekap, pakaiannya koyak dan bersimbah warna merah.

Benar-benar babak belur. Petrie tampak seolah bisa tumbang kapan saja. Meski begitu, tanpa raut kesakitan, dia justru tersenyum tenang.

“Bisa melihat sosok putriku yang sudah dewasa itu menyenangkan juga ya. Kamu cantik sekali mirip denganku, sialan.”

“Ibu...”

Sosok ibu kandung yang seharusnya sudah meninggal sejak lama.

Hingga hari ini, Elez hidup hanya untuk membalas dendam atas kematiannya.

Ada begitu banyak hal yang ingin dia sampaikan. Tentang betapa berat hidup yang dia jalani, keluhan karena ibunya pergi begitu saja, permintaan maaf karena sempat bicara sombong namun akhirnya gagal melindungi sang ibu, hingga rasa sukacita karena bisa kembali bertukar kata.

Namun, perasaan itu terlalu meluap hingga tidak ada satu pun yang bisa terucap dengan benar.

Begitu Mahiru pergi, rasa canggung yang aneh membuat Elez sulit bicara.

Petrie pun tampak merasakan hal yang sama, bibirnya bergerak-gerak kaku seolah merasa geli.

“Yah, aku mengerti perasaanmu, tapi sekarang kita harus melakukan apa yang perlu dilakukan, ‘kan?”

Elez mengikuti arah pandang Petrie dan menatap Mahiru.

Pemuda itu sedang menghadapi Layla sembari mengayunkan gunting raksasanya dengan gerakan yang kaku.

“Mahiru itu anak yang baik ya. Jarang ada orang yang mau bicara sejauh itu untukmu.”

Dia tidak bisa menggunakan sihir, kemampuan fisiknya pun tidak luar biasa. Dia hanya pemuda biasa tanpa kekuatan spesial apa pun. Dalam duel satu lawan satu, Elez yakin dirinya tidak akan kalah.

Namun, Elez merasa pemuda itu adalah manusia yang jauh lebih kuat darinya.

Dia terus berlari tanpa henti, menghindari pedang Layla, dan mempertaruhkan nyawa demi mengulur waktu.

“Jangan berlagak seperti protagonis dalam tragedi! Dasar bodooooooh!”

Begitu memejamkan mata, tubuh Elez bergetar teringat kata-kata pemuda itu.

Apa yang dikatakannya benar. Elez bukan tipe tuan putri, tapi dia sempat terbuai dalam kemalangan, mengkhianati kepercayaan orang-orang berharga, dan mencoba lari ke jalan yang lebih mudah. Benar-benar memalukan.

“Kamu ingin menjawab tantangannya, ‘kan, Elez?”

Elez mengangguk dalam-dalam menanggapi ucapan Petrie.

“Demi berdiri sejajar dengannya, juga demi Ibu, aku tidak akan lari lagi.”

Sebenarnya dia pun menyadarinya.

Mahiru telah mengorek kelemahan yang selama ini tidak ingin dia akui. Pemuda itu menyadarkannya. Meski caranya sedikit kasar, itu memang gayanya. Elez harus mengalahkan kelemahannya sendiri di sini, karena itulah makna sebenarnya dari pertemuan kembali dengan ibunya.

“Aku bukan protagonis dalam tragedi. Aku adalah protagonis dalam dunia cerita ini.”

Petrie menyunggingkan senyum yang memancarkan rasa bangga sekaligus sedikit kesepian.

Dia meregangkan tubuh untuk memastikan kondisinya. Mengalirkan mana, lalu mengembuskan napas. Melihat kesiapan Elez, Petrie pun memantapkan tekad dan menepuk kedua pipinya sendiri.

“Mari kita mulai latihan setelah sekian lama. Tapi hari ini bukan latihan pedang.”

“Aku belum pernah menggunakan sihir. Aku tidak yakin bisa melakukannya dalam waktu sesingkat ini...”

“Tidak, kamu pasti bisa. Penyihir keparat itu menggunakan kekuatan sihirmu untuk merapalkan sihirnya. Tubuhmu pasti mengingatnya. Sensasi sihir yang mengalir. Memberi wadah pada imajinasi dalam benak, mengisinya dengan sihir, lalu mewujudkan keajaiban. Itulah caranya.”

Elez memiringkan kepala namun mulai mencari keberadaan sihir yang mengalir di dalam tubuhnya.

“Tubuhku mengingatnya...”

Rasanya ada namun tidak ada, dia paham namun tidak paham.

Sesuatu yang sulit digapai, terasa seperti kekeliruan, sebuah sensasi yang mengambang lembut.

Di sudut matanya, Mahiru masih berjuang keras. Menghadapi Layla yang terus menyerang dari jarak jauh menggunakan permata, Mahiru berlari kesana kemari tanpa arah yang pasti. Dia memungut perisai yang digunakan prajurit pengawal untuk menahan serangan.

“Keheheheh... hancurlah. Sebaiknya kalian semua hancur lebur!”

Layla kembali merapalkan sihir. Pedang-pedang Barat melesat bertubi-tubi. Meski suara belahan angin terdengar tajam saat pedang-pedang itu menyerang, Mahiru mencoba bertahan menggunakan perisainya. Namun dia tidak sanggup menahannya; pedang-pedang itu menembus perisai sekaligus tubuh Mahiru. Mahiru melepaskan perisainya dan jatuh terguling di lantai.

“Mahiru!”

Elez tanpa sadar berteriak.

Namun, Mahiru segera bangkit berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ugh... sial, sisa dua nyawa lagi!”

Liontin yang diberikan Petrie telah menanggung luka fatal sebagai gantinya.

“Hei, fokus, Elez. Pertama-tama, rasakan mananya.”

“Aku tahu!”

Melihat Mahiru yang berlari mempertaruhkan nyawa, hati Elez merasa tidak sabar.

Secara logika dia paham. Jika benar-benar memikirkan Mahiru, dia harus segera memahami inti dari sihir secepat mungkin. Dia memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi berulang kali.

“Lemaskan tubuhmu, bayangkan kamu sedang menyelam jauh ke dalam dirimu sendiri.”

Mengikuti suara Petrie, Elez mulai melukis imajinasi di dalam dirinya.

Mencari jati diri. Membiarkan seluruh tubuhnya meremang, dia mengarahkan kesadarannya jauh ke dalam.

Perlahan, dia merasa dunia sekitarnya menjauh.

Plung. Tubuhmu tenggelam ke dalam cairan yang sedikit lebih berat daripada air. Kamu tidak sesak napas. Itu adalah tempat yang bebas. Segala hal untuk mewujudkan imajinasimu tersedia lengkap di sana tanpa kurang sedikit pun.”

Melemaskan otot. Dia merasakan panas tubuhnya. Panas yang mengalir ke seluruh tubuh. Panas yang terasa seperti sengatan listrik. Rasanya panas ini sudah ada di sana sejak dulu sebagai hal yang wajar. Mungkinkah ini yang disebut sihir?

Sedikit sesak napas. Rasanya benar-benar seperti di dalam laut. Ada sensasi sulit bernapas, dan dia pun meronta. Muncul dorongan kuat untuk keluar dari sana dan menghirup udara dunia luar sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru.

“Tetaplah begitu. Jangan tegang. Menyelamlah lebih dalam lagi. Itu baru permulaan.”

Elez memberanikan diri mengikuti instruksi Petrie dan melemaskan seluruh tubuhnya yang kaku.

Sesak. Perih. Sakit. Mual, namun terasa nyaman.

Dia merasa telah melewati sebuah batasan. Seketika, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

Sebuah sensasi menyambung kesadaran tipis, seperti berada di ambang terjaga dari mimpi.

“Seluruh tubuhmu sudah terendam. Kamu pasti sudah bisa melihatnya. Kamu sudah berulang kali menggunakan sihir selama ini. Kau mengingat tempat itu. Nah, angkatlah wujud imajinasimu itu.”

Namun, di tengah sensasi seperti berada di dalam air itu, tubuhnya tidak bisa bergerak bebas. Meski dia menggerakkan lengannya, dia tidak bisa menggapai apa pun. Rasanya tidak sakit, tapi dia bingung harus berbuat apa, atau mungkinkah dia hanya perlu mengikuti arusnya saja?

“......!”

Dengan begitu, keyakinan itu datang dari seberang, begitu rupanya, ini dia.

“Puhah! A-Aku dapat!”

Layaknya muncul ke permukaan dari dasar laut, Elez terengah-engah mencari oksigen.

Di dalam genggamannya, dia menggenggam kepastian dari potensi yang tertidur di dalam dirinya.

Mengepalkan tangan, mengalirkan sihir, membiarkannya memancar, lalu membentuk wujudnya.

Sihir bukanlah kekuatan mahakuasa yang mampu mengabulkan segala keinginan.

Imajinasi yang bisa ditarik keluar oleh masing-masing orang berbeda-beda, dan itu lebih mirip seperti sihir yang memilih penggunanya. Misalnya, memberikan wujud pada gejolak emosi seperti idealisme, trauma, atau hasrat; itulah sihir.

“Kekuatan untuk terus melawan, bahkan setelah menatap langsung pada tragedi...”

Elez menyematkan perasaan yang selama ini dia sembunyikan ke dalam mananya, lalu berteriak.

“Dress Up!”

Seketika, cahaya meledak dari dalam tubuhnya.

Sihir Layla terurai, seragam pelayan yang sudah compang-camping itu meleleh dan mengambil wujud baru.

Sebuah gaun biru yang memukau, berpadu dengan perlengkapan yang menyerupai baju zirah. Sepatu kaca, hiasan yang mengingatkan pada buket pengantin, dan sebilah pedang pusaka yang ketajamannya seolah bisa memutuskan jari hanya dengan satu sentuhan, penampilannya adalah perpaduan antara seorang putri dan seorang pendekar pedang.

Berkilau, elegan, garang, namun indah, benar-benar seperti Cinderella sang protagonis.

“Aku pergi dulu, Ibu.”

Tanpa menoleh ke arah Petrie, dia menggenggam pedangnya erat-erat.

“Ya. Berhati-hatilah, Elez.”

 

Pedang Barat yang melesat dengan kecepatan tinggi menembus dada Mahiru.

Prang. Permata dari liontin pemberian Petrie hancur.

Ini yang ketiga kalinya. Artinya, sisa nyawa Mahiru kini nol.

“Aku sudah tidak bisa mati lagi setelah ini.”

Dia menyeka keringat yang mengalir di dagunya, menatap tajam ke arah Layla yang melayang.

Sekalipun kemampuan fisiknya telah ditingkatkan, dia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya. Akibat serangan Layla yang bertubi-tubi tanpa henti, napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya hancur lebur seperti kain lap basah. Dia hanya bertahan dengan mengandalkan tekad; jika terus berlanjut, rasanya tangan dan kakinya akan putus.

“Keh heh heh, aku mulai bosan. Hei, kamu juga ingin segera merasa tenang, ‘kan?”

Seiring kilauan permata, panas membara yang menyesakkan dada dimuntahkan ke arahnya.

Mahiru secara refleks menahan napas dan berlari menerobos bagian api yang tipis. Menahan rasa sakit yang menusuk seperti jarum, dia berhasil keluar dari kobaran api dan terengah-engah menghirup udara.

“Sayangnya, aku belum pernah berpikir ingin mati agar bisa merasa tenang! Aku justru lebih ingin membunuh orang-orang seperti kalian!”

“Begitu. Benar, benar, benar, benar! Kalau begitu, matilah. Mati saja sana.”

Layla menatap dingin Mahiru yang sedang mengaum.

Permata bersinar lebih terang dari sebelumnya, dan pedang-pedang Barat bermunculan bagaikan bintang yang berkilau di malam gelap. Ditarik oleh gravitasi, pedang-pedang itu jatuh bak meteor. Masing-masing membawa daya hancur yang mematikan, melesat mendekat dalam sekejap.

“Mana mungkin aku mati! Aku tidak sudi mati di sini!”

Pikiran Mahiru sangat jernih.

Dengan refleks mata yang luar biasa, dia menangkis, membalas, dan menjatuhkan pedang-pedang yang mengancam nyawanya.

Pedang Barat menyerempet kakinya, mengoyak dagingnya, dan cipratan darahnya sendiri terlihat di sudut matanya. Meski begitu, dengan tatapan lurus ke depan, dia menangkap seluruh serangan dalam pandangannya, menangkis semuanya dalam kondisi tanpa pikiran.

Lalu, dia menjatuhkan pedang terakhir, tepat saat dia lengah, rasa dingin merayap di sekujur tubuhnya.

T-Tunggu, masih ada satu lagi!

Sebilah pedang Barat melesat tepat di belakang pedang yang dia kira sebagai serangan terakhir.

Mengayunkan gunting untuk menangkis? Tidak, tidak akan sempat.

Tubuhnya kaku. Kakinya seolah berakar dan tidak bisa digerakkan.

Gawat, kali ini aku benar-benar mati...

Tepat saat pikiran itu melintas, kilatan perak menyambar pandangannya, diikuti suara benturan logam yang nyaring.

“Maaf membuatmu menunggu, Mahiru.”

Mengenakan gaun biru dengan pedang perak yang tampak kokoh.

Dengan postur yang penuh percaya diri, Elez membelah pedang Barat itu menjadi dua.

“Ada apa dengan reaksimu itu? Apa kamu tidak percaya padaku?”

Elez mengerucutkan bibir melihat wajah Mahiru yang terperanjat.

“Yah, kamu ‘kan si cengeng penakut.”

Bertolak belakang dengan kata-katanya, Mahiru justru menyunggingkan senyum lega.

Wajah Elez sedikit melunak melihat kondisi pemuda itu yang terlihat seperti bisa tumbang hanya dengan satu sentuhan. Pria ini benar-benar selalu berbuat nekat, apa dia tidak punya rasa takut sama sekali?

“Huh, seenaknya saja kamu bicara. Aku akan membersihkan nama baikku sekarang, jadi lihat baik-baik, dasar Mahiru bodoh! Yang berubah bukan cuma penampilanku saja, tahu.”

Petrie dan Mahiru telah berjuang hingga titik ini demi dirinya.

Elez merasa tidak akan bisa membalas semua itu hanya dengan ini, namun dia juga sama sekali tidak merasa akan kalah.

“Baiklah, hajar dia.”

“Kehehe, ahahahaha!”

Seolah ingin memotong udara yang mulai bergemuruh, Layla tertawa terbahak-bahak.

Dia menjambak rambutnya dengan kasar, dan permata berwarna-warni berjatuhan dari tangannya.

“A-A-Apa-apaan itu? Itu tidak mungkin! Kamu itu lemah, menyedihkan, lari dari kenyataan, memendam dendam yang kekanak-kanakan, dan terlalu mabuk dalam kemalangan! Itulah dirimu yang sebenarnya!”

“Semua itu benar, aku memang lemah.”

“Ya, tentu saja. Aku yang selalu berada di sampingmu menyaksikannya sendiri yang mengatakannya, jadi itu pasti benar.”

Layla berucap dengan nada penuh kemenangan.

Mungkin selama ini dia selalu meremehkan Elez di dalam hatinya. Melihat sosok Elez yang menyedihkan, meski dia melontarkan kata-kata penghiburan, di dalam hatinya dia menertawakan Elez sebagai sosok yang tidak berguna. Betapa mudahnya dikendalikan, betapa bodohnya, dan betapa tidak terselamatkannya anak ini, dia pasti menyeringai puas memikirkannya.

“Bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau Layla ternyata adalah pembunuh Ibuku. Mungkin aku memang tidak cocok untuk membalas dendam. Aku mulai tidak mengerti diriku sendiri... Tapi ada satu hal yang pasti.”

Elez menatap Petrie yang terduduk lemas penuh luka, lalu menatap Mahiru yang babak belur bersimbah darah dan keringat.

“Aku tidak ingin mengkhianati harapan mereka berdua, orang-orang yang telah menaruh ekspektasi pada diriku yang lemah ini.”

Alih-alih ingin menghancurkan Layla, keinginan untuk melindungi mereka justru terasa lebih kuat.

Hatinya berkobar demi rekan-rekan yang dia cintai, melebihi amarahnya terhadap musuh yang dia benci.

“Benar-benar menjijikkan!”

Layla memekik nyaring seraya melontarkan pedang-pedang Barat miliknya.

Menjadikan itu sebagai aba-aba, Elez berlari lurus menuju arah Layla.

“Atas dasar apa kamu mencoba mendapatkan balasan yang indah? Kamu harus terus menjadi orang yang menyedihkan selamanya. Mana mungkin boneka dunia dongeng sepertimu bisa menang melawan aku, sang Penyihir!”

Layla mengubah permata yang tidak terhitung jumlahnya menjadi pedang dan menembakkannya tanpa ampun. Namun, Elez tidak mengurangi kecepatannya, dia justru bertambah cepat. Dia memutar tubuhnya dengan momentum tersebut. Ujung gaunnya mengembang lebar. Dengan teknik pedang yang luar biasa, dia menjatuhkan seluruh pedang Barat itu, mendarat, dan langsung melesat lebih kencang lagi.

“Tidak, akulah sang protagonisnya! Untuk ukuran musuh terakhir kamu memang terlalu menyedihkan, tapi akan kutahan rasa muakku ini! Cepatlah kalah seperti layaknya penjahat.”

Mendengar ucapan Elez, gerakan Layla terhenti.

“Ke, keheheh... siapa yang kamu sebut menyedihkan?”

Sorot mata Layla berubah. Seolah-olah ada sesuatu yang putus di dalam dirinya.

Dia mulai merapalkan kutukan-kutukan penuh kebencian dan melemparkan permatanya secara membabi buta.

Api merah menyala menyembur dari permata-permata itu, tetapi Elez menyeringai dan berhenti mendadak di tempat.

“Aku sudah ingin mengatakannya sejak lama, tapi nada bicaramu itu sama sekali tidak cocok dengan tubuh bocahmu yang menyedihkan itu!”

Elez mengayunkan pedangnya dengan gerakan lebar. Tebasan putih murni yang tercipta dari lintasan pedangnya membelah kobaran api. Api itu terbelah menjadi dua layaknya pintu yang dipaksa terbuka, lalu buyar tidak berbekas.

“Akan kupastikan kamu mati!”

Layla terus memuntahkan api, namun Elez memotong semuanya satu per satu.

“Dasar anak tidak tahu diri. Padahal kalau bukan karena aku, kamu tidak bisa melakukan apa pun, padahal, padahal, padahal, padahal... ahahaha! Berani-beraninya kamu melawanku, benar-benar tidak tahu balas budi!”

Gerakan Elez sangat tajam. Jika dipikirkan kembali, tubuhnya terasa ringan sejak Layla keluar dari tubuhnya. Apakah ini kekuatan asli Elez? Entah kenapa, dia sama sekali tidak merasa akan kalah.

“Padahal aku baru saja merasa bebas, akhirnya, akhirnya, akhirnya aku bebas, tapi kalian merampasnya lagi dariku! Pengguna sihir, Cinderella, dunia macam ini... dunia ini!”

Namun, karena Layla terus-menerus merapalkan sihir dari jarak jauh dan Elez hanya bisa menangkisnya, mereka terjebak dalam kebuntuan. Elez tidak bisa mendekat. Dia sempat menyesal, bertanya-tanya apakah dia seharusnya nekat menerobos api tadi meskipun berisiko.

“Cih, tidak sampai.”

Layla berada di puncak reruntuhan yang paling tinggi, melayang di posisi yang nyaris menyentuh tanah, sambil memandang rendah ke bawah. Seandainya saja Elez bisa memanjat tumpukan reruntuhan itu. Musuhnya ada tepat di sana, tetapi jarak yang sedikit itu terasa begitu sulit dijangkau.

Layla memiliki persediaan permata yang melimpah dari tubuh para bangsawan. Dalam pertarungan jangka panjang, pihak Elez-lah yang tidak menguntungkan.

Kondisi Layla pun perlahan semakin aneh. Pertarungan ini harus segera diakhiri.

“Demi mewujudkan keinginan, tidak masalah seberapa besar kita merendahkan orang lain. Itulah artinya hidup. Dunia ini ada hanya untuk diinjak-injak olehku, sang Penyihir. Ini adalah logika dunia yang tidak akan pernah dipahami oleh boneka sepertimu!”

Pedang-pedang Barat berjajar membentuk lingkaran menyerupai lampu gantung raksasa. Hujan pedang pun turun dengan ganasnya secara bertubi-tubi.

Gawat, tepat saat tubuh Elez membeku karena terkejut, Mahiru meluncur masuk di antara mereka seraya memasang tameng. Setelah menangkis seluruh pedang, Mahiru memberi isyarat lewat pandangannya agar Elez segera berlari. Tanpa keraguan sedetik pun, Elez mengentakkan kakinya ke tanah.

“Kalau begitu, jika kamu kalah dari aku yang lemah ini, artinya kamu pun tidak punya nilai untuk hidup!”

Mahiru berlari bersisian dengan Elez. Setiap kali api menyembur, dia menahannya dengan perisai untuk membukakan jalan.

Layla yang mulai kehilangan kesabaran melancarkan serangan dengan jumlah yang lebih besar. Dia menebar permata sebanyak yang bisa dipeluk kedua tangannya, melepaskan bilah pedang yang tidak terhitung jumlahnya.

Mahiru tanpa ragu melompat ke depan Elez dengan momentum terjangannya, menanggung seluruh serangan itu dengan perisainya.

“Pergilah, Cinderella sang protagonis!”

Mahiru terpental akibat dampak serangan itu dan terguling di tanah.

Elez tidak menoleh. Dia terus maju demi membalas pengorbanan itu.

Dia memanjat tumpukan reruntuhan seolah sedang terbang, sisa sepuluh meter lagi!

“Aku boleh merampas apa pun, karena selama ini aku tidak pernah diberikan apa pun! Padahal kalian tidak tahu apa-apa, tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu apa-apa, tapi kalian seenaknya menjadikanku penjahat! Padahal sejak dulu, kalianlah penjahatnya!”

Layla mengambil permata merah menyala dari balik pakaiannya dan mengisinya dengan mana.

“Apa aku harus terus sendirian, tidak bisa bergerak, dan merasa iri pada orang lain setiap hari? Tidak akan! Jika aku mati, apa aku akan merasa tenang? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi kenapa pilihanku selalu terasa menyakitkan? Kalianlah yang harus merasakan rasa sakit sebagai gantiku! Itu bukan hal yang aneh. Aku tidak aneh, kalianlah yang memaksaku untuk menjadi aneh! Begitulah kenyataannya. Kenapa, kenapa selalu berakhir seperti ini!?”

Sesuatu yang dimanifestasikan Layla dari permata merah itu adalah air lumpur dengan massa yang tidak masuk akal. Air itu menciptakan tsunami layaknya mulut raksasa monster, membubung tinggi seraya menerjang ke arah Elez.

Elez sama sekali tidak bisa memahami argumen maupun kata-kata Layla.

Layla adalah pembunuh ibunya. Dia memikat sang Raja, menghasut Reset, dan terus mengubah rakyat menjadi permata. Dia merasuki tubuh Elez untuk memanfaatkannya, dan memanfaatkan kelemahannya untuk meraih kepercayaan. Melakukan segala bentuk kejahatan dengan wajah tanpa dosa seolah itu hal yang wajar, dia benar-benar seorang penyihir.

Elez yakin wanita itu adalah penjahat tulen tanpa keraguan, seseorang yang memang harus mati.

“Laylaaaaa!”

Dulu Elez berpikir jika dia terus bertahan di dalam neraka, suatu saat seseorang akan menyelamatkannya.

Dia berpikir seorang pangeran berkuda putih akan muncul dan membawanya ke dunia yang bahagia.

Mana mungkin hal itu terjadi. Tanpa perlu dikatakan oleh Mahiru pun, sebenarnya Elez sadar bahwa itu salah, namun dia tidak sanggup menatap langsung kelemahannya sendiri.

Meski begitu. Justru karena itulah.

“Aku akan membuktikan di sini, bahwa aku bisa membuka jalanku sendiri dengan tanganku! Agar Ibu bisa merasa tenang!”

Bertarunglah.

Lawanlah.

Hadapi tanpa rasa takut.

Elez memantapkan tekad di saat-saat krusial ini, mengalirkan seluruh sihirnya ke dalam pedang pusaka.

Lumpur yang mendekat itu terasa mengerikan seperti kegelapan yang tidak tertembus cahaya. Gelombang berat itu menerjang hendak menelan Elez. Namun, tidak ada rasa takut. Yang mengalir di tubuhnya adalah rasa kegembiraan. Panas yang bernama sihir itu membangkitkan semangat Elez. Seolah mencerminkan gambaran batinnya, cahaya putih murni yang terpancar membelah kegelapan, dan setelah itu, satu tebasan miring menghunjam Layla dari bahu hingga ke pinggang.

“Ugh... tidak, aku tidak mau ini.”

Crat. Darah yang lebih merah dari permata memercik.

Tangan yang terulur seolah ingin menggapai sesuatu itu hanya meraup udara hampa, dan Layla jatuh terlentang perlahan-lahan.

Darah mengalir dari setiap lubang di tubuhnya, dan mulutnya bergerak-gerak seolah ingin menyampaikan sesuatu.

Ma-ti-lah kau, suara parau terdengar dari tenggorokannya. Sambil terengah-engah, Layla menyeringai mengejek. Dia mengulurkan tangan ke arah permata yang menggantung di lehernya.

“Kali ini, akan kuhabisi dirimu, wahai pembunuh Ibuku.”

Elez perlahan menghujamkan pedang pusakanya tepat ke jantung Layla.

 

Saat pedang itu ditarik kembali, tubuh Layla berguling jatuh tanpa tenaga dari puncak reruntuhan.

Seketika, kesunyian yang mencekam menguasai tempat itu.

Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, terlihat para bangsawan yang menyaksikan kejadian itu dengan wajah terpana. Sebagian besar dari mereka sudah diubah menjadi permata, tertusuk pedang, atau hangus terbakar, namun orang-orang yang masih tersisa kini terpaku menatap Elez, seolah sedang memuja sesosok malaikat.

Cahaya bulan yang remang-remang menyinari Elez dari celah langit-langit yang runtuh.

Rambut perak yang berantakan. Gaun biru yang dihiasi warna merah pekat dari percikan darah. Raut wajah yang penuh tekad, tampak ganas, namun entah bagaimana tetap memancarkan keanggunan. Elez mengangkat lengannya perlahan, menjunjung tinggi pedang pusakanya ke arah langit malam.

“Aku adalah si Upik Abu Cinderella, Elez Cinder! Penyihir Bayangan yang mencoba menenggelamkan negeri ini dalam kegilaan telah kuhabisi dengan tanganku sendiri!”

Teriakan Elez disambut oleh sorak-sorai yang meledak dari seisi ruangan. Mereka mengepalkan tangan ke atas, bersukacita atas kematian sang Penyihir serta lahirnya seorang pahlawan, berseru lantang tanpa memedulikan status sosial atau apa pun lagi.

“Seperti dugaanku, kamu memang sang protagonis.”

Merasa lega, Mahiru jatuh terduduk di sana, lalu merebahkan diri sambil menatap langit malam.

 

* * *

 

Saat dilihat kembali, aula itu berada dalam kondisi yang mengenaskan.

Permata berserakan di sana-sini. Api masih berkobar menjalar di lantai. Tumpukan reruntuhan menyelimuti ruangan. Bunga-bunga merah merekah di mana-mana, menebarkan bau amis darah yang menyengat, sementara air lumpur yang gelap bagai kegelapan pekat menggenangi lantai.

Namun, ancaman terbesar kini telah disingkirkan.

Kebangkitan Elez, dan jatuhnya sang Penyihir.

Suasana aula yang sempat diliputi kegilaan perlahan kembali tenang. Elez dan Mahiru pun berkumpul di sisi Petrie.

Butiran cahaya kecil tampak merembes keluar dari tubuh Petrie, seolah nyawanya sedang tumpah perlahan. Tidak, itu bukan sekadar kiasan. Selama ini Petrie menggunakan sihir untuk mempertahankan wujud fisiknya sekaligus menstabilkan jiwanya. Fakta bahwa dia masih bisa mempertahankan kesadaran setelah memeras seluruh kekuatannya dalam pertarungan sengit tadi adalah sebuah mukjizat.

“Ibu...”

Elez melepaskan gaun hasil sihirnya, lalu berlutut untuk menopang tubuh Petrie.

Dia menyeka air mata yang terus menetes. Bibirnya yang bergerak-gerak kaku seolah sedang mencari kata-kata terakhir yang ingin diucapkan.

“Aku juga... cukup hebat, ‘kan?”

“Ya, itu baru putriku! Terima kasih, Elez.”

Petrie mencoba mengulurkan tangan untuk memeluk putrinya, namun tangannya justru menembus tubuh Elez.

Kekuatan untuk mempertahankan wujud nyata sudah tidak tersisa lagi. Mungkin karena menyadari bahwa Petrie akan benar-benar menghilang, air mata Elez kembali tumpah dengan derasnya. Berkali-kali dia menyekanya, namun air mata itu terus mengalir tanpa henti.

“Jangan pasang wajah begitu. Setidaknya di saat terakhir aku bisa melihat pertumbuhanmu, ‘kan? Ternyata ada gunanya juga aku sempat menunda kematian. Haha... aku memang paling tidak bisa menghadapi suasana sedih seperti ini.”

Petrie menggaruk kepalanya dengan kikuk, mencoba menutupi rasa haru.

“Lagipula, aku ‘kan memang sudah mati sejak awal. Tidak perlu menangis sekarang. Tersenyumlah! Ayo, tersenyum!”

“...!”

“Yah, sepertinya permintaanku memang terlalu berlebihan. Maafkan aku ya, karena telah menjadi ibu yang seperti ini.”

Sejujurnya pasti ada banyak hal yang ingin Elez sampaikan, namun air mata yang terus meluap membuatnya sulit merangkai kata. Semakin dia merasa harus mengatakan sesuatu, semakin deras pula air mata itu mengalir.

“Sebenarnya aku selalu ingin kita berdua pergi dari Ibu Lota dan hidup bersama... aku terus memikirkan hal itu. Tapi karena aku tahu itu mustahil, setidaknya aku ingin Ibu merasa tenang. Aku ingin menunjukkan pada Ibu betapa aku telah tumbuh dewasa...”

Sambil menyeka air mata, Elez berusaha keras untuk tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu.

Andai Mahiru bisa bertemu ibunya sekali lagi, dia pasti akan melakukan hal yang sama. Ingin membuat sang ibu merasa tenang dan yakin bahwa anaknya akan baik-baik saja meski sendirian. Mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, lalu memintanya untuk beristirahat dengan tenang.

“Ya, aku terkejut. Karena bagiku, kamu akan selalu menjadi anak kecil. Rasanya sepi, tapi aku juga sangat bahagia. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat pertumbuhanmu.”

Bayangan ibu kandungnya sendiri tumpang tindih dengan sosok Petrie, membuat hati Mahiru terasa hangat.

Padahal ibu Mahiru dan Petrie sama sekali tidak mirip. Namun, Mahiru merasa ibunya pun pasti akan membisikkan kata-kata yang serupa. Meski hal itu tidak mungkin lagi bisa dibuktikan, memikirkannya saja sudah membuat Mahiru merasa sedikit terobati.

Setidaknya, semua perjuangan yang mempertaruhkan nyawa ini terasa sepadan.

“...Padahal waktu ini seharusnya tidak pernah ada.”

Mendengar ucapan Petrie, air mata Elez yang sempat terhenti kini kembali meluap.

Melihat itu, Petrie hanya bisa tersenyum pahit seolah sedang menghadapi anak yang nakal.

“Benar, ada sesuatu yang sejak dulu ingin kuberikan padamu.”

Sambil berkata demikian, Petrie mengangkat tangannya seolah sedang mengambil sesuatu.

Tiba-tiba, di tangannya telah tersedia sepasang sepatu yang terbuat dari kulit.

“Ini hadiah terakhir dari pengguna sihir tidak berguna ini. Mungkin tidak semewah gaun yang indah atau sepatu kaca, tapi untuk aku yang payah ini, aku sudah berusaha keras membuatnya.”

Elez mengulurkan tangannya yang gemetar dan menerima sepatu itu.

Memang benda itu bukanlah barang dengan kualitas tertinggi, namun siapa pun bisa melihat bahwa sepatu itu dibuat dengan sangat teliti dan penuh kasih sayang.

“...Ibu tidak payah. Lagipula, aku lebih suka ini daripada sepatu kaca mana pun.”

“Begitu ya.”

Melihat Elez yang mengelus sepatu itu dengan penuh kasih, Petrie menggaruk pipinya dengan malu.

“Ukurannya pas sekali, ‘kan...”

“Karena aku memang berniat memberikannya di ulang tahunmu yang ke-18. Syukurlah keinginan itu tercapai.”

Mendengar itu, Elez tersentak.

Dia mendekap sepatu itu erat-erat di dadanya dan kembali menangis.

“Ugh... a-aku... aku bersyukur menjadi putrimu! Terima kasih!”

Pada saat itu, cahaya lembut memancar keluar dari sepatu kulit berbulu tersebut. Cahaya hangat yang seolah melelehkan kegelapan dunia. Itu adalah cahaya pemurnian yang sama dengan yang pernah Mahiru lihat saat mengembalikan tudung kepada Maisy di dunia Si Tudung Merah.

“Ya, aku juga. Selamat ulang tahun, Elez.”

Seiring dengan pancaran cahaya pemurnian itu, keberadaan Petrie semakin memudar, dan tubuhnya mulai meluruh.

Elez tidak lagi mencoba menggapainya. Dia menyeka air mata dan tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.

Lewat kisah Cinderella kali ini, Mahiru mulai mengerti.

Dunia dongeng adalah kisah tragedi yang menjadi gila akibat campur tangan Penyihir. Keluarga kerajaan yang disihir. Rakyat yang diubah menjadi permata, dan Elez yang ibunya dibunuh serta hidup dalam penindasan. Namun, hal yang paling Elez inginkan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ibunya.

Karena itu, Mahiru yakin ini adalah kisah tentang seorang gadis bernama si Upik Abu Cinderella yang meronta di tengah kemalangan, lalu meraih kebahagiaannya sendiri dengan tangannya sendiri.

Bukan sebuah kisah nyaman tentang gadis yang kebetulan ikut pesta dansa lalu secara tidak sengaja dipikat oleh pangeran dan menjadi bahagia.

 

Begitulah, kisah ini akhirnya mencapai tujuan yang diinginkan, sebuah True Ending.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar