Putaran Kelima: Dentang Lonceng Tengah Malam dan Kelahiran Pengguna Sihir
Aroma
jerami dan ringkikan kuda.
Mahiru
masih terbaring di atas tumpukan jerami baru, seolah tidak sanggup untuk
bangkit.
Karena
besok adalah hari pesta dansa, keriuhan kota terdengar samar dari kejauhan.
Alunan musik piano entah dari mana pun sesekali tertangkap oleh indranya.
Segalanya terasa seperti kejadian di dunia yang sangat jauh.
Setelah
si Gembala menghilang, amarah yang sebelumnya membara di hati Mahiru sedikit
mereda, membuatnya mampu meninjau kembali situasinya dengan lebih jernih. Di
dunia Si Tudung Merah, dia hanya perlu mengalahkan seekor serigala, namun kali
ini tidak sesederhana itu.
Lawannya
adalah seorang pangeran yang mabuk kekuasaan serta obsesi, dan telah terpikat
oleh penyihir yang mampu meruntuhkan negara.
Penyihir
Layla bersemayam di dalam tubuh Elez. Satu-satunya jalan untuk mengalahkannya
hanyalah dengan membunuh Elez.
Mahiru
merasa jika dia mengulanginya beberapa kali lagi, mungkin dia bisa membereskan
urusan dengan Reset. Dia tidak merasa hal itu mustahil. Namun, bagaimana dengan
Layla? Elez sudah berkata bahwa dia tidak ingin mati. Sambil berurai air mata
dan ingus, gadis itu telah mengucapkannya secara langsung...
Mahiru
merasa seolah-olah dia sedang menuruni anak tangga menuju keputusasaan secara
perlahan.
Entah
sudah berapa lama dia berbaring di sana.
Bintang-bintang
mulai nampak berkilauan di langit yang semakin gelap.
Elez
bukanlah seorang pendendam.
Lantas,
siapakah dia sebenarnya? Hanya gadis biasa?
Bayangan
tentang gadis bertudung merah yang tertawa nakal melintas di benak Mahiru,
membuatnya buru-buru menggelengkan kepala.
Sama sekali tidak. Dipikir bagaimanapun,
gadis itu sangat jauh dari kata biasa.
Setelah
menyelesaikan kisah Si Tudung Merah, Maisy berada di tempat pembukaan, namun dia
menghilang saat Mahiru kembali ke dunia nyata. Jika dipikir secara wajar, Maisy
pasti kembali ke kisah aslinya, namun Mahiru bertanya-tanya apa yang sedang
dilakukan gadis itu sekarang.
Tidak,
tidak boleh. Kenapa Mahiru jadi selemah ini?
Dia
harus tetap membakar amarahnya.
Reset
tidak bisa dimaafkan.
Layla
pun akan dia hancurkan.
Dunia
yang tidak adil ini benar-benar tidak boleh dibiarkan.
“Hei.”
Tiba-tiba
sebuah suara memanggilnya, membuat Mahiru perlahan bangkit.
Di
depannya berdiri Elez yang tampak heran. Begitu melihat Mahiru, dia mengerutkan
dahi dengan cemas.
“Ada
apa? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?”
Mahiru
menatap Elez sekali lagi.
Keras
kepala, kasar, namun sebenarnya tidak sekuat itu. Ah, benar kata si Gembala,
Mahiru memang masih kurang memahami sosok Elez.
“Hei,
kakak-kakakmu itu benar-benar sampah, ya?”
Mahiru
teringat perlakuan mereka terhadap Elez pada putaran pertama.
Mereka
menyiramnya dengan air, memojokkannya, dan hampir melakukan sesuatu yang
menyerupai penyiksaan.
Dia
bisa merasakan obsesi dan kegilaan yang mereka tujukan pada Elez. Itu bukan
sekadar perundungan biasa.
“Memang
benar... tapi kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Apa mereka melakukan sesuatu
padamu?”
“Kenapa
kamu tidak pergi saja dari rumah ini? Apa kamu tidak pernah
memikirkannya?"
Elez
mengernyitkan dahi dengan curiga.
Namun,
melihat ekspresi Mahiru yang sangat serius, dia merasa tidak pantas untuk
menghindar dan mulai mencari kata-kata. Setelah mengorek tanah dengan ujung
sepatunya dan meremas ujung baju pelayannya, akhirnya satu kata singkat keluar
dari mulutnya.
“Balas
dendam.”
“...”
“Kamu
merasa jijik?”
Elez
menatap Mahiru seolah sedang memantau reaksinya.
“Sama
sekali tidak, jika itu memang benar. Karena aku pun sama sepertimu.”
Benar,
Elez bilang itulah tujuannya bertahan hidup selama ini.
Namun,
apakah itu benar-benar hal yang paling utama baginya? Fakta bahwa dia bisa
menceritakannya kepada Mahiru yang hubungannya masih belum dalam, apakah itu
berarti dia memiliki niat tulus yang lain?
“Kamu
bilang ingin mengalahkan Penyihir demi adikmu, ‘kan?”
Itu
adalah pembicaraan Mahiru dengan Layla sebelumnya.
Tampaknya
Elez pun mendengar percakapan itu.
“Ya.
Untuk menyelamatkan adikku, aku harus mengalahkannya bagaimanapun caranya.
Karena itu, aku harus melewati hari ini dan pergi ke pesta dan... eh?”
Sesuatu
seolah menusuk otak Mahiru, membuatnya terdiam kaku.
Apa
yang baru saja dia katakan? Melewati hari ini? Bagaimana caranya?
Dengan
meminta bantuan Layla untuk melindunginya dari Penyihir yang akan menyerang
saat dia tidur?
Tidak, tunggu, tunggu, itu aneh!
“Ada
apa, Mahiru?”
Mahiru
menjulurkan tangannya untuk menghentikan Elez yang tampak bingung. Saat ini dia
tidak ingin diganggu karena sedang berpikir keras.
Aneh.
Sangat aneh. Jika penyihirnya adalah Layla, lantas dari siapa dia harus
dilindungi? Musuh Mahiru adalah Penyihir Layla.
Lalu, siapa sebenarnya sosok yang
datang menyerang malam itu?
Jika
sosok itu bukan sang Penyihir, lantas kenapa dia mengincar Mahiru? Tidak, ada
hal lain yang lebih penting. Jika Layla adalah sang Penyihir, maka Mahiru harus
meragukan seluruh tindakan Layla selama ini.
Ingat
kembali kejadian sebelum putaran ketiga saat identitas Layla terbongkar.
Percakapan apa yang dia lakukan dengan Layla? Pasti ada sebuah petunjuk...
“...Ah,
permata.”
Layla
memintanya untuk meletakkan permata merah di tempat yang telah ditentukan.
Layla
bilang kekuatannya sedang dibatasi oleh Penyihir dan dia butuh permata itu
untuk melepaskan segelnya. Mahiru tidak tahu itu benar atau bohong. Namun, yang
pasti hal itu menguntungkan Layla, dan itu berarti merugikan bagi Mahiru.
Meski
belum semuanya terhubung, dia yakin tindakannya saat itu telah mengubah
sesuatu. Pasti mengubah sesuatu. Permata merah itu adalah benda yang sama
sekali tidak boleh diletakkan di sana.
“H-Hei,
Mahiru!?”
Mahiru
yang mendadak berdiri langsung berlari sekuat tenaga.
Elez
yang bingung sempat mencengkeram lengannya, namun Mahiru melepaskan diri sambil
berteriak, “Maaf, aku ingat ada urusan mendesak! Kalau ada apa-apa, tolong
karang alasan apa saja untuk menutupi kepergianku!”
Mahiru
berlari sekencang mungkin menuju bukit yang terletak di pinggiran Ibu Kota.
*
* *
Sebatang
pohon metasequoia agung berdiri kokoh di puncak bukit, mendampingi sebuah batu
nisan.
Secara
kronologis seharusnya ini masih hari yang sama, namun bagi Mahiru, rasanya
sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali dia menginjakkan kaki di tempat
ini.
Ada
orang lain di depan batu nisan itu. Mahiru terkejut saat menyadari bahwa sosok
itu adalah satu dari sedikit orang yang dia ketahui namanya di dunia ini.
Rambut pirang yang tertata rapi, pakaian bangsawan kelas atas yang kemewahannya
bahkan bisa dikenali Mahiru, serta wajah yang tampak gagah dan berwibawa.
Dia
adalah kepala keluarga Cendrillon, Ryzen Cendrillon.
Pria
itu baru saja meletakkan sekuntum bunga.
Sebatang
mawar merah menyala. Seingat Mahiru, saat dia datang sebelumnya, ada bunga
mawar serupa yang tergeletak di sana. Tampaknya Ryzen rutin mengunjungi tempat
ini.
Menyadari
kehadiran Mahiru, Ryzen mengeraskan raut wajahnya, kembali ke ekspresi masamnya
yang biasa.
“Membolos
kerja bukan hal yang patut dipuji.”
“...Anda
masih ingat saya, ya.”
Mahiru
terkejut karena tidak menyangka akan disapa.
Meski
mereka pernah berpapasan sekali, Mahiru yakin belum sempat memperkenalkan diri.
Lagipula, dia mengira sang kepala keluarga tidak akan menaruh minat pada seorang
pelayan yang baru bekerja dua hari.
“Sepertinya
kamu cukup akrab dengan Elez.”
“Ya,
begitulah...”
Mahiru
tidak bisa membaca emosi dari wajah Ryzen. Apakah pria itu mencemaskan Elez,
atau sekadar berbasa-basi karena canggung? Tidak, dia tidak tampak seperti tipe
orang yang sudi membuang waktu berkomunikasi dengan pelayan. Apa dia marah?
Mahiru benar-benar tidak paham.
Namun,
Ryzen terus menatapnya lekat-lekat seolah menaruh rasa ingin tahu.
Atmosfer
ketegasan yang dipancarkannya membuat Mahiru merasa sangat tidak nyaman hingga dia
refleks membuang muka.
“Ada
apa? Anda tidak mungkin tertarik pada rakyat jelata seperti saya, ‘kan?”
“Tidak
juga. Misalnya, aku tertarik pada alasanmu menyamar sebagai pelayan demi
menyusup ke kediaman Cendrillon.”
Mata
Ryzen menyipit, memicu ketegangan di udara. Bayangan tentang kepalanya yang
dipenggal gara-gara salah bicara seketika melintas di benak Mahiru, membuat
punggungnya basah oleh keringat dingin.
Bodoh
sekali dia. Mana mungkin pria yang mempekerjakan para pelayan ini tidak
mengetahui hal itu.
“...Kenapa
Anda diam saja sampai sekarang?”
“Jika
kamu mata-mata dari faksi lawan, aku pasti sudah langsung memenggal kepalamu.
Tapi sepertinya bukan. Pekerjaanmu terlalu ceroboh untuk ukuran seorang
mata-mata. Lagipula, sudah lama aku tidak melihat Elez tampak seceria itu.”
Untuk
sekejap, raut tajam di wajah Ryzen melunak.
Karena
Elez tampak ceria...? Apa-apaan itu?
Mahiru
bingung mendengar ucapan yang terdengar seperti seorang ayah yang
mengkhawatirkan putrinya. Ibu angkat Elez, juga Schale dan Coupe, semuanya
membenci Elez yang merupakan anak angkat. Elez sendiri merasa tidak punya
tempat di rumah itu. Namun, meski hanya sekali, Ryzen memang pernah menunjukkan
gelagat peduli dengan Elez.
“Padahal
kalian sama sekali tidak mirip. Namun, saat melihat mata liarmu dan api yang
berkobar di baliknya, aku teringat padanya. Wanita yang datang dari luar akal
sehat yang kaku ini.”
“...Wanita
itu.”
Saat
bertemu di kediaman, Ryzen selalu memancarkan aura yang mengancam, namun
sekarang dia tampak berbeda. Mengapa Ryzen, yang bersikap dingin bahkan kepada
putrinya sendiri, mencoba berbicara dengan orang seperti Mahiru? Apakah suasana
tempat ini yang memengaruhinya, ataukah ini jati dirinya yang sebenarnya?
Mahiru
mengikuti arah pandang Ryzen menuju batu nisan tersebut.
“...Petrie
Liliarouge.”
Mahiru
merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tapi dia tidak bisa
mengingatnya dengan jelas.
“Dari
mana kamu berasal?”
“...Tempat
yang jauh. Diberi tahu pun Anda tidak akan paham.”
“Haha,
bahkan caramu menjawab pun sama persis dengannya.”
Kali
ini Ryzen benar-benar tersenyum. Raut masamnya sirna, digantikan oleh ekspresi
yang membuatnya tampak seperti anak laki-laki. Ryzen sedikit melonggarkan kerah
pakaiannya, lalu duduk di samping batu nisan itu.
Dia
memberi isyarat dengan dagunya agar Mahiru mendekat, maka dengan ragu Mahiru
pun duduk di sampingnya.
Angin
berembus kencang.
Ryzen
menatap pemandangan ibu kota yang terbentang di bawah mata mereka dan
mengembuskan napas panjang.
“Dia
tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku masih muda. Berpakaian kumal, bicara
sembarangan. Namun, dia memiliki aura keanggunan yang aneh, daya tarik yang
memikat mata orang lain.”
Ryzen
mulai bercerita dengan pandangan menerawang.
“Awalnya
aku seorang bangsawan, sementara dia bukan sekadar rakyat biasa; dia adalah
gadis polos yang datang sendirian dari antah berantah. Namun, tidak butuh waktu
lama bagiku untuk jatuh hati padanya. Aku sering menyelinap keluar dari rumah
untuk menemuinya... Kalau dipikir kembali, masa-masa itulah yang paling
membahagiakan.”
Kalimat
demi kalimat meluncur dari bibir Ryzen, seolah dia tengah mengakukan rahasia
yang selama ini terpendam rapat.
“Namun,
aku tidak bisa bersatu dengannya. Dia memiliki kekuatan misterius, dan Paduka Raja
menginginkan kekuatan itu. Aku tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Dia pasti
sangat membenciku.”
Ryzen
adalah sosok agung, bangsawan kaku berwajah besi yang angkuh. Itulah kesan
Mahiru saat pertama kali melihatnya. Namun jika sosok itu hanyalah topeng yang
harus dia pakai di rumah, di depan Schale atau Coupe, maka ceritanya berbeda.
Mahiru merasakan benih-benih pemberontakan dalam setiap perkataan Ryzen terhadap
keluarganya sendiri dari balik nada bicaranya.
“Apa
tidak apa-apa menceritakan ini pada saya?”
“Jangan
cemas. Jika keadaan mendesak, melenyapkan satu orang sepertimu adalah perkara
mudah.”
Karena
Ryzen mengucapkan kalimat ancaman itu dengan wajah datar, Mahiru sama sekali
tidak merasa itu lucu.
“Ah,
benar juga. Dia memiliki seorang putri dari Paduka Raja. Gadis itu tumbuh menjadi
sosok yang mirip dengannya... cantik, liar, dan sangat menawan. Dia meninggal
saat putrinya masih kecil... Jika bisa, aku ingin memperlihatkan sosok putrinya
sekarang kepadanya.”
Selesai
bicara, Ryzen berdiri dan merapikan pakaiannya.
“...Apa
Anda tidak menyukai keluarga kerajaan?”
“Kamu
sepertinya salah paham. Bangsawan itu sama sekali tidak hebat. Di saat genting,
kami selalu tidak berdaya. Bahkan untuk melindungi satu wanita yang dicintai
pun kami tidak mampu.”
Mahiru
terpaku mendengar jawaban yang di luar dugaannya. Menyadari bahwa Ryzen ternyata
cukup bersahabat, Mahiru ingin menanyakan banyak hal. Termasuk soal Elez,
karena seharusnya Ryzen-lah orang yang mengambilnya sebagai anak angkat.
Namun,
Ryzen tampak sudah puas bicara dan mulai beranjak pergi.
“Hei,
tunggu dulu!”
“Jaga
bicaramu. Terutama di dalam kediaman. Jika tidak, aku benar-benar harus
melenyapkanmu.”
Wibawa
Ryzen yang tidak terbantahkan membuat langkah Mahiru terhenti seketika. Tanpa
menoleh lagi, Ryzen menuruni bukit, meninggalkan Mahiru yang termangu
kebingungan.
Akhirnya,
dengan perasaan campur aduk, Mahiru menyambar permata merah yang sebelumnya dia
letakkan di samping batu nisan itu.
*
* *
Mahiru
tidak tahu apa yang akan berubah dengan ini. Namun, dia yakin keadaan pasti
akan bergeser ke arah yang lebih baik. Untuk saat ini, mungkin yang terbaik
adalah melihat hasilnya terlebih dahulu.
Setelah
memasukkan permata merah itu ke dalam saku, Mahiru mulai menuruni bukit.
Tiba-tiba,
napasnya terasa sesak.
“Ugh...!”
Udara
di sekelilingnya terasa sangat berat, seolah dia sedang tenggelam di dasar
laut.
Ini
bukan pertama kalinya dia merasakan sensasi ini. Ini adalah perasaan yang sama
dengan yang menyerang Mahiru saat dia tertidur pada malam kedua. Ini adalah pertanda
kehadiran sang Penyihir—tidak, lebih tepatnya, gadis berjubah itu.
“Berani-beraninya
kamu menampakkan muka bodohmu lagi di depan makamku, dasar keparat!”
Mahiru
menoleh dan melihat seorang gadis kuncir dua yang mengenakan jubah dalam.
“Tunggu,
kenapa kamu ada di sini?”
Gadis
itu bergumam pelan, lalu cahaya mulai memancar dan menyelimuti tubuhnya. Cahaya
itu berubah bentuk, memiliki massa, menyimpan fungsi khusus, dan menjadi
sepasang zirah. Sang pengguna sihir mengenakan perlengkapan ringan yang
mengutamakan kelincahan, lengkap dengan sebuah tombak panjang.
Dengan
gerakan lincah, dia mengarahkan tombak itu ke arah Mahiru.
“Muntahkan
isi perutmu, dasar buruk rupa!”
Mata
tombak itu melesat lurus ke arah Mahiru dan darah segar memercik. Meski
wajahnya menyernyit menahan perih, Mahiru berhasil menjepit tombak itu dengan
lengannya. Sambil berkeringat dingin merasakan sentuhan darah yang mengalir, dia
memaksakan kekuatannya dan meyakinkan diri bahwa ini hanyalah luka ringan.
Pikirkan.
Gadis ini adalah sosok yang sama dengan penyihir palsu yang menyerangnya di
malam hari. Awalnya dia mengira gadis ini adalah Penyihir, namun kini terbukti
bahwa Layla-lah penyihir yang sebenarnya, musuh yang menyebarkan kegilaan dalam
kisah Cinderella.
Gadis
di depannya bukanlah Penyihir itu. Namun, mustahil jika dia tidak memiliki
kaitan dengan cerita ini.
Jika
begitu, berarti ada satu peran yang masih kosong.
“...Kamu
adalah si pengguna sihir, ya?”
“Hah?
Pakaian itu, kamu pelayan keluarga Cendrillon? Dia membiarkan antek Penyihir
masuk ke dalam rumah? Padahal kupikir wajahmu terlihat sedikit lebih mendingan,
ternyata pria itu tetap bodoh seperti biasanya.”
Jika
gadis ini adalah si pengguna sihir, maka menurut dongeng Cinderella, dia adalah
peran yang wajib ada dalam cerita, dan yang terpenting, dia memiliki kemampuan
khusus untuk melawan sihir jahat.
Jujur
saja, Mahiru tidak bisa melihat masa depan di mana dia bisa menang melawan
Layla, tidak seperti saat melawan serigala dulu. Jika gadis ini adalah
jawabannya, maka ini adalah taktik melawan racun dengan racun. Dengan
kekuatannya, Mahiru bisa melawan balik.
“Aku
bukan antek Penyihir, aku justru musuhnya!”
“Hah?
Jangan bohong, dasar bocah brengsek yang tidak tahu malu.”
“Aku
tidak bohong! Aku tahu rahasia negeri ini! Bahwa pusat kerajaan telah dicemari
oleh Penyihir! Aku tahu mereka mengumpulkan wanita di pesta dansa untuk diubah
menjadi permata dan menyebarkan kegilaan ke mana-mana!”
Mendengar
desakan Mahiru yang penuh keputusasaan, pegangan gadis itu pada tombaknya
mengendur.
Ini
adalah sebuah pertaruhan. Sudah hampir pasti bahwa si pengguna sihir ini
bermusuhan dengan Layla, namun Mahiru tidak tahu seberapa jauh dia memahami
situasi negeri ini.
Semakin
banyak informasi yang dia buka, semakin besar pula kemungkinan dia dicurigai,
apalagi tingkat kepercayaan terhadap Mahiru sudah berada di titik terendah
karena dia telah bertindak sesuai rencana Layla.
Namun,
justru karena dia pernah melakukan kesalahan besar, dia tidak boleh ragu di
sini. Dia harus mengambil risiko demi meraih kemungkinan sukses.
“Aku
berada di sini untuk mengalahkan Penyihir! Tapi aku gagal menyadari bahwa Layla
adalah pelakunya. Itulah sebabnya aku kembali! Untuk menyingkirkan benda ini,
sekali lagi!”
Mahiru
mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak berniat menyerang,
lalu mengeluarkan permata merah dari sakunya.
Gadis
itu menurunkan kuda-kudanya, membuat Mahiru bisa bernapas lega. Namun
ketenangan itu hanya sesaat. Gadis itu bergerak dengan sangat cepat mendekati
Mahiru, lalu mendorongnya hingga jatuh dan menindihnya. Permata merah itu
terlepas dari tangan Mahiru. Bagian belakang kepalanya menghantam tanah dengan
keras hingga dia melihat kilatan cahaya. Begitu pandangannya kembali jelas,
ujung tombak sudah berada tepat di depan matanya.
“Jangan
berlagak polos, kamu pasti sekutu Penyihir keparat itu, ‘kan? Apa tujuanmu? Apa
kamu bocah tolol yang tergiur kekuatan sihir, atau kamu cuma haus harta? Hah?”
Mata
gadis itu dipenuhi dengan permata permusuhan.
Kata-katanya
membuat amarah Mahiru mendidih dari dasar perut. Sekutu Penyihir? Tergiur
kekuatan sihir? Mahiru sudah merasakan penderitaan yang luar biasa gara-gara
Layla. Dia ditipu, dikhianati, dan ditusuk dengan pedang. Biarpun mati seratus
kali, dia tidak akan pernah sudi menjadi sekutu Penyihir itu.
“Siapa
yang sekutu Penyihir!? Daripada jadi temannya, aku lebih baik mati gantung
diri!”
Mahiru
tidak peduli ujung tombak yang menggores pipinya. Dia mengulurkan tangan ke
arah leher gadis itu, mencengkeram pakaiannya, dan berteriak dalam amarah.
“Aku
datang ke sini untuk membantai Penyihir sialan itu! Bahkan jika anggota tubuhku
dipotong-potong pun, aku siap menggigit lehernya sampai putus! Jadi diam dan
pinjamkan kekuatanmu!”
Gadis
itu tampak tercengang dan menjatuhkan tombaknya. Dia mendecih lalu menepis
lengan Mahiru, kemudian berdiri sambil menatap Mahiru dengan bingung.
“Sebenarnya
siapa kamu ini?”
“Misora
Mahiru. Aku akan membantai Penyihir itu, menyelamatkan adikku... dan juga Elez.”
Mendengar
perkataan Mahiru, alis gadis yang terbentuk indah itu sedikit bergerak.
Berlawanan
dengan amarahnya, pikiran Mahiru terasa sangat jernih.
Tadi,
gadis itu melihat batu nisan dan mengatakan itu adalah makamnya sendiri. Bisa
dianggap bahwa gadis ini, entah bagaimana caranya, pernah mati sekali.
Ryzen
memberikan bunga di makam itu dan membicarakan masa lalu. Tentang wanita yang dia
cintai, perasaannya, masa lalu, dan fakta bahwa wanita itu memiliki seorang
putri.
Terlebih
lagi, penampilan gadis ini. Rambut perak yang indah, mata safir, bahkan cara
bicaranya yang kasar pun sangat mirip.
Dengan
semua petunjuk ini, bahkan Mahiru yang tidak peka pun bisa menebak identitas
gadis di depannya.
“Kamu
ini ibunya Elez, bukan?”
Itulah
jawaban yang ditarik oleh Mahiru.
Meskipun
ada beberapa pertanyaan seperti mengapa dia berwujud gadis muda atau bagaimana dia
bisa ada di sini padahal seharusnya sudah mati, namun dia terlalu banyak
menyisakan kemiripan dengan Elez.
Gadis
itu tidak mengatakan apa-apa, dia melepaskan perlengkapan sihirnya. Mahiru
menganggap itu sebagai sebuah jawaban.
Elez
bilang dia ingin membalas dendam dan hidup demi hal itu.
Namun
di saat kritis, dia mengaku tidak ingin mati, lalu mengutarakan perasaan dari
lubuk hatinya yang terdalam.
“Elez
bersumpah untuk membalas dendam... tapi, dia mengatakannya dengan jujur. Bahwa
dia ingin bertemu ibunya. Itulah keinginannya yang paling tulus.”
Ya,
benar. Mungkin hal yang diinginkan Elez sebenarnya adalah ibunya. Bukankah ibu
yang seharusnya sudah mati ini memegang kunci besar untuk mencapai True Ending?
Jika
esensi dari Cinderella bukanlah balas dendam, maka hipotesis si Gembala akan
runtuh.
“Ah,
sial, baiklah aku mengerti.”
Petrie
mengacak-acak rambutnya, lalu melepas jubahnya dengan raut wajah gusar.
“Setelah kamu bicara sejauh itu, aku tidak bisa menganggapmu sebagai musuh. Akan kuberi tahu jawabannya, bocah tolol. Petrie Liliarouge. Akulah ibu kandung Elez, sekaligus si pengguna sihir yang baik.”
*
* *
Ini
adalah kisah tentang jalinan takdir antara sang Penyihir dan pengguna sihir
yang tidak diketahui oleh Mahiru dan kawan-kawannya.
Petrie
lahir di sebuah desa para penyihir yang terletak jauh di dalam hutan, terpisah
dari hiruk-pikuk Ibu Kota.
Dia
menginjakkan kaki di kota pusat kerajaan itu saat usianya baru 17 tahun. Kala
itu, suasana kota tidak segegap gempita sekarang. Meski tidak bisa dikatakan
diliputi kemalangan, kota itu hanyalah sebuah tempat biasa yang bisa ditemukan
di mana saja, dengan sebuah istana megah yang menjulang tinggi di pusatnya.
Kedatangan
Petrie ke Ibu Kota didorong oleh rasa penasaran yang besar.
Ilmu
sihir adalah sesuatu yang harus dirahasiakan dan tidak boleh bocor ke dunia
luar. Begitulah aturannya, namun Petrie tidak sanggup membayangkan dirinya
harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya hingga ajal menjemput di dalam hutan
yang rimbun dan suram.
Petrie
menjalani hidupnya hari demi hari dengan serabutan. Dia menggunakan sihir untuk
mencuri makanan atau pakaian, dan menginap di sembarang tempat sesuka hatinya. Meski
merasa lebih bebas dibandingkan saat di dalam hutan, bukan berarti dia memiliki
tujuan hidup yang jelas. Baginya, setiap hari terasa membosankan.
Di
tengah masa itulah, dia bertemu dengan seorang bangsawan bernama Ryzen.
“Luar
biasa. Apa kamu yang melakukan itu?”
Secara
tidak terduga, pria itu melihat Petrie saat sedang menggunakan sihir.
Gawat,
apa aku harus membunuhnya? Pikiran ekstrem itu sempat melintas di benak Petrie,
namun kalimat yang keluar dari mulut pria itu justru di luar perkiraan.
“Tapi,
cara pakaimu kurang tepat. Itu adalah kekuatan yang sangat indah. Seharusnya kamu
menggunakannya untuk membantu orang lain. Itu juga demi kebaikanmu sendiri.”
Petrie
benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu.
Dia
selalu mengira bangsawan di Ibu Kota hanyalah sekumpulan orang brengsek, namun
pria ini benar-benar merusak persepsinya.
Sosok
pria besar yang berwajah masam, kaku, namun sangat jujur. Itulah kesan pertama Petrie
terhadapnya. Ryzen tampak sangat benci pada ketidakadilan, namun di balik itu dia
memiliki kelembutan hati yang melebihi orang biasa. Walaupun, dia sangat buruk
dalam menunjukkannya.
Seiring
berjalannya waktu, mereka perlahan mulai saling tertarik hingga akhirnya
menjadi sepasang kekasih. Di masa itu, Petrie mulai menggunakan kekuatannya
untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka di kota atau memperbaiki pakaian
mereka menjadi baru kembali. Bukannya dia mendadak memiliki cita-cita yang
mulia, dia hanya merasa senang setiap kali melihat raut wajah Ryzen yang kaku
itu melunak.
Namun,
kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Petrie
dipanggil oleh sang Raja yang telah mengetahui rahasia sihirnya. Raja
menggunakan keselamatan Ryzen sebagai jaminan; jika Petrie tidak mau menjadi
miliknya, maka kedudukan dan gelar bangsawan Ryzen akan dicabut. Petrie tidak
ragu sedikit pun.
Yah, mau bagaimana lagi. Aku yang
nekat keluar dari hutan, lalu dipungut oleh pria seperti Ryzen... Segalanya
memang terasa terlalu indah selama ini.
Petrie
menganggap ini sebagai hukuman atas segala tindakan seenaknya di masa lalu.
Berpikir
demikian, dia pun menyerahkan dirinya menjadi milik sang Raja.
Karena
praktik memiliki selir tampaknya tidak diakui secara terbuka di negeri ini, Petrie
dipandang rendah dan dicibir oleh orang-orang di dalam istana.
Kehidupan
yang tidak nyaman itu terus berlanjut untuk beberapa waktu.
Awalnya
Petrie mengira Raja memanggilnya karena mengincar kekuatan sihirnya untuk
dimanfaatkan, namun dugaannya meleset. Tampaknya, Raja benar-benar jatuh cinta
pada Petrie. Suatu malam, Raja berkata bahwa karena Petrie telah menjadi sosok
yang sangat berharga baginya, dia tidak sanggup memanfaatkan Petrie demi
keuntungan finansial.
Konyol sekali. Rasanya ingin
muntah. Dia membawaku ke sini dengan paksa, lalu bicara seolah-olah telah
bertemu dengan pasangan takdirnya... Padahal aku ingin sekali menghancurkannya
saat ini juga.
Tak
lama kemudian, Elez lahir.
Karena
statusnya sebagai anak selir, Elez pun dipandang sebelah mata. Petrie berusaha
keras agar kebencian orang-orang tidak sampai menyentuh Elez. Meski dia sangat
membenci sang Raja, dia mencintai anak pertamanya itu dari lubuk hatinya yang
terdalam.
Tujuh
tahun berlalu tanpa sekalipun Petrie menginjakkan kaki ke luar istana.
Elez
yang dulunya mungil kini sudah bisa berlari dengan kedua kakinya sendiri dan
berbicara dengan lancar.
Meski
Elez adalah anak yang bandel dan merepotkan, melihatnya tumbuh sehat tanpa
penyakit adalah kebahagiaan terbesar bagi Petrie. Namun di saat yang sama,
hatinya terasa pedih karena harus mengurung Elez di dalam sangkar burung
seperti ini selamanya.
Di
saat itulah, sebuah peristiwa terjadi. Sosok penyihir muncul di hadapan Raja.
Sebagai perkenalan, sang Penyihir mengubah menteri yang menentang Raja menjadi
sebilah permata. Lalu, dia kembali menggunakan kekuatannya untuk memenuhi satu
per satu permintaan Raja. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk memikat hati sang
Raja.
“Hehehe,
Anda ingin membuat negara ini menjadi lebih besar, bukan? Saya akan meminjamkan
kekuatan saya.”
Itu
adalah kekuatan sihir yang mengerikan dan menjijikkan, berbeda dengan sihir
milik Petrie.
Meski
sama-sama merupakan kemampuan yang mengabaikan hukum dunia, sihir itu berbeda
jenis dengan yang diketahui Petrie. Wanita itu adalah sosok jahat yang sangat
pantas disebut sebagai Penyihir.
Sang
Penyihir menawarkan kesepakatan kepada Raja; dia berjanji akan memakmurkan
negeri ini asalkan Raja mau memberikan beberapa rakyatnya sebagai tumbal. Raja
pun menyetujuinya.
Dan
akhirnya, tangan jahat sang Penyihir mulai mengincar Elez. Mungkin dia merasa
terganggu dengan keberadaan Elez yang memiliki kekuatan sihir, apalagi Elez
juga mendapat tempat di hati Raja. Petrie tidak bisa memaafkan hal itu. Dia bertekad
kuat bahwa anak yang dicintainya, serta negeri hangat yang dicintai Ryzen dan
telah menerimanya ini, tidak boleh dicemari oleh kegilaan sang Penyihir.
Raja
sudah sepenuhnya terpikat oleh penyihir itu, dan suara Petrie tidak lagi mampu
menjangkaunya.
Jika
sudah begitu, tidak ada pilihan lain.
Dia
tidak bisa lagi memilah-milih cara.
“Kalau
kamu berani menyentuh Elez, aku tidak akan melepaskanmu, dasar penyihir
keparat!”
Sebagai
pengguna sihir, ia akan menghancurkan wanita brengsek yang tampak seperti wujud
nyata dari kebencian itu.
Petrie
mengerahkan seluruh kekuatan sihir yang telah dia kumpulkan selama ini menjadi
daya serang untuk menghadapi sang Penyihir.
Namun,
dia justru terdesak oleh sang Penyihir yang mampu merapal sihir berubah-ubah dengan
menggunakan permata. Sang Penyihir tidak tampak lelah sedikit pun, dia terus
merapal sihir bertubi-tubi dengan wajah tenang seolah sedang bermain dengan
permatanya.
“Heh
heh, kamu cukup tangguh juga, tapi level peran kita berbeda. Bagaimanapun, kamu
hanyalah sebatas pengguna sihir.”
Dan
saat tersadar, Petrie sudah terkapar di lantai dalam kondisi bersimbah darah.
Kekuatan
sihirnya terkuras habis, dan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit seolah
tulang-tulangnya akan remuk.
Namun,
Petrie sama sekali tidak berniat menyerah begitu saja.
“Hah?
Kalau kamu pikir aku sama dengan pengguna sihir penurut lainnya, kamu salah
besar!”
Petrie
mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk melakukan serangan sihir terakhir yang
mempertaruhkan nyawa.
Jika
dia memang harus mati, setidaknya dia ingin memberikan perlawanan terakhir. Dia
membiarkan kekuatan sihir bergejolak di seluruh pembuluh darah mikronya. Sambil
merasakan panas yang membakar di sekujur tubuh, dia merapal kutukan yang
dipenuhi rasa benci.
“Apa!?
Menggunakan tubuh sendiri sebagai katalis untuk kutukan...!”
Begitulah
cara Petrie melepaskan sihirnya, dengan bayaran kehilangan raga miliknya
sendiri.
Dia
membatasi kekuatan sihir lawan dan melemahkan raga sang Penyihir secara
drastis. Selain itu, dia juga memasang mantra agar sang Penyihir tidak bisa
mendekati Petrie lebih dari jarak tertentu. Untuk sementara waktu, sang Penyihir
pasti tidak akan bisa menggunakan sihir permata andalannya.
Setelah
itu, Petrie berubah menjadi entitas pikiran. Sebagai bukti kehilangan
kekuatannya, wujudnya pun berubah kembali menjadi sosok dirinya di masa kecil.
Meski begitu, dia merasa beruntung karena masih bisa mempertahankan
kesadarannya.
Alasan
dia melarang sang Penyihir mendekat adalah karena dia merasa hanya dirinyalah,
sang pengguna sihir, yang mampu melawan Penyihir itu. Dia berpikir akan
menyegel sang Penyihir sepenuhnya saat kekuatannya pulih nanti. Namun...
Segalanya
justru berbalik menjadi malapetaka.
Penyihir
itu, entah bagaimana caranya, memindahkan jiwanya ke dalam tubuh Elez.
Fakta
bahwa sang Penyihir tidak bisa mendekati Petrie berarti Petrie pun tidak bisa mendekati
sang Penyihir. Gara-gara sihir maut yang dia rapalkan sendiri, Petrie tidak berdaya
menemui Elez yang jiwanya telah dirasuki sang Penyihir.
Dia
benar-benar dikalahkan.
Setelah
itu, dengan menggunakan tubuh Elez, Layla mendekati Pangeran Kedua, Reset.
Memanfaatkan
pesta dansa untuk mengamankan bahan baku, mengubahnya menjadi permata, lalu
menyebarkannya ke seluruh negeri.
Meski
sihir Petrie seharusnya membuat sang Penyihir sulit mengolah sihir, segalanya
berubah saat dia menanggalkan raga aslinya. Alasannya merasuki Elez mungkin
demi menyiksa Petrie, namun yang terpenting adalah karena mengalir darah Petrie
dalam nadi Elez, yang berarti gadis itu memiliki kekuatan sihir. Sang Penyihir
berniat memanfaatkan hal tersebut.
Namun,
dia tampak kesulitan mengendalikan tubuh yang asing baginya. Seandainya dia
bisa menggunakan kekuatan penuh, pemandangan di Ibu Kota pasti sudah jauh lebih
mengerikan dari sekarang.
Terpisah
dari kekasih, bahkan tidak mampu melihat pertumbuhan putrinya yang tercinta.
Kalah dari Penyihir meski sudah bertaruh nyawa, dan ironisnya, dia justru
tersiksa oleh sihir buatannya sendiri.
Benar-benar
kehidupan yang tiada harapan.
Tidak
ada satu pun yang berjalan sesuai keinginan, tidak ada satu pun yang berhasil dia
capai.
Petrie
yakin Elez pasti membencinya... Hanya perasaan itulah yang terus menghantuinya.
Mendengar
cerita Petrie, segala teka-teki yang selama ini berserakan akhirnya terhubung
menjadi satu garis lurus.
Penyihir
Layla dan pengguna sihir Petrie yang mencoba melawannya. Sang Raja yang
terpikat oleh Penyihir. Lalu Pangeran Kedua Reset yang memanfaatkan sekaligus
dimanfaatkan oleh kekuatan Penyihir. Serta Ryzen, mantan kekasih Petrie
sekaligus kepala keluarga Cendrillon yang kemudian mengambil Elez sebagai anak
angkat.
Petrie
ternyata selama ini bertarung sendirian. Tidak, bahkan hingga sekarang dia
masih bertarung.
“Anda
hebat.”
“Hah?
Jangan coba-coba menjilat, aku belum sepenuhnya percaya padamu! Kamu datang
untuk membatalkan kutukan yang kupasang pada sang Penyihir. Tentu saja aku menganggapmu
musuh, bocah bodoh.”
Itu
adalah permata merah yang diberikan Layla. Penjelasan bahwa benda itu adalah
alat untuk memulihkan kelemahan Layla memang tidak salah, namun tampaknya benda
itu juga berfungsi untuk menghapus pembatas yang mencegah pertemuan antara
Layla dan Petrie.
“Tapi,
bukannya ini aneh? Keuntungan bagi Layla untuk menghapus sihirmu itu kecil.
Tentu dia ingin bebas bersihir, tapi risikonya dia bisa ditemui olehmu.
Diganggu oleh pengguna sihir sepertimu pasti merugikan bagi Layla.”
Jika
Petrie membocorkan rencana dan niat asli Layla kepada Elez, semuanya akan
hancur. Berbeda dengan Mahiru yang hanya seorang pelayan asing, Elez pasti akan
langsung memercayai kata-kata ibunya sendiri.
“Ini
bukan lagi soal itu. Besok adalah pesta dansa. Sang Penyihir berniat merebut
kembali tubuhnya saat kekuatan sihir Elez mencapai puncaknya.”
“Kekuatan
sihir memuncak...?”
“Pada
hari seseorang dilahirkan ke dunia, seorang pengguna sihir akan menerima
berkah. Hari setelah pesta dansa adalah, hari ulang tahun Elez.”
Layla
memilih tubuh Elez karena bakat sihirnya. Dengan adanya sihir, dia bisa
melakukan apa saja.
“Tujuan
penyihir busuk itu pasti untuk menghapus sihirku sepenuhnya. Begitu kekuatan
sihir Elez memuncak, dia akan merapalkan sihir penangkal pada tubuh aslinya.”
“...Berarti
sejauh ini, semuanya berjalan sesuai skenario yang dia buat.”
Layla
memanfaatkan Elez untuk kembali ke tubuh aslinya.
Menyegel
Petrie, memenangkan kepercayaan Elez, bahkan Mahiru sempat diperalat olehnya.
Segalanya berjalan mulus sesuai rencana. Jika dibiarkan, Layla akan bangkit
sepenuhnya, rakyat akan diubah menjadi permata, dan Elez yang dikhianati akan
hancur batinnya lalu dipermainkan oleh Reset.
“Tapi
selama dia di tubuh Elez, tidak ada cara membunuh Layla. Setelah dia kembali ke
tubuh aslinya, semua sudah terlambat... lagipula, entah kita bisa menang atau
tidak.”
Kalimat
Mahiru terhenti oleh rasa janggal yang menusuk.
“Kembali
ke tubuh asli... tunggu sebentar.”
Pada
akhir putaran ketiga, Layla sudah memisahkan diri dari tubuh Elez.
Mahiru
yang saat itu dijebloskan ke penjara bawah tanah, di tengah pusaran amarah dan
keputusasaan, memang sempat bertukar kata dengan Layla. Meski kesadarannya
kacau dan kewarasannya menghilang, rambut merah menyala itu terpaku kuat dalam
ingatannya. Benar.
Jika
tubuh itu memang benar adanya...
“Layla
punya tubuh asli!”
Mahiru
mendongak, melihat secercah cahaya harapan yang tidak terduga.
“Hah?
Ya tentu saja ada. Makhluk seperti dia pun pasti sangat menghargai tubuhnya
sendiri.”
“Di
mana! Di mana tubuh itu berada!?”
“Pasti
di istana. Itu tempat paling aman dan pasti bagi dirinya.”
Mengingat
Layla berada di istana saat hari pesta dansa, dugaan itu pasti benar.
Jiwa
Layla ada di dalam tubuh Elez. Oleh karena itu, satu-satunya cara membunuh
Layla hanyalah dengan membunuh Elez. Mahiru telah bersusah payah mencari cara
untuk mematahkan persamaan yang menjurus pada keputusasaan itu.
“Apa
yang terjadi kalau tubuh itu dihancurkan?”
Jantung
Mahiru berdegup kencang. Dia seolah melihat seutas benang laba-laba turun di
hadapannya, lalu dia menelan ludah.
“Entahlah...
tapi sang Penyihir merapalkan sihir dengan tujuan kembali ke raga itu. Jiwa
butuh raga, raga butuh jiwa. Keduanya terhubung oleh jalur tidak kasatmata... artinya,
jika raga dibunuh, jiwa pun akan mati.”
Mahiru
mengepalkan tangannya mendengar penjelasan itu.
Layla
bisa dibunuh. Tanpa harus membunuh Elez, ternyata ada cara lain untuk
melenyapkan Layla.
“Sebelum
Layla merebut raganya kembali... sebelum lonceng tengah malam berdentang, kita
harus menghancurkan tubuhnya!”
“Secara
teori memang begitu, tapi...”
Petrie
menunjukkan ekspresi yang berat.
Namun,
Mahiru justru merasakan energi yang meluap dari dasar tubuhnya.
Dia
melihat jalan, dia melihat arah yang harus dituju, dia melihat masa depan yang
harus diraih.
“Tolong,
bantu aku.”
“Kamu
mau menyelinap ke istana dan membunuh raga sang Penyihir? Itu gila.”
“Lalu
kamu mau kita melawan Layla yang sudah bangkit sepenuhnya?”
“Itu
malah lebih gila lagi. Saat lonceng tengah malam berbunyi, Layla berniat
memindahkan jiwanya kembali ke raga aslinya. Jika raga itu berhasil dia rebut
kembali, sang Penyihir Bayangan akan bangkit sepenuhnya. Kalau sudah begitu,
aku pun takkan mampu menandinginya.”
Bukan
hanya itu. Saat tujuan Layla tercapai, kemalangan Elez sudah bisa dipastikan.
“Kalau
begitu, pilihannya cuma satu! Di pesta dansa besok, sebelum lonceng berbunyi,
kita cari raga Layla dan hancurkan!”
Penjagaan
istana sangat ketat. Untuk menyelinap ke sana, tidak ada cara lain selain
memanfaatkan pesta dansa. Jika Petrie saja tidak bisa mengalahkan Layla yang
sudah pulih, maka kesempatan untuk bertindak hanya ada pada momen singkat ini.
Mahiru harus mempertaruhkan segalanya di sini.
“Aduh,
benar-benar ya!”
Petrie
tampak berpikir keras sesaat, sebelum akhirnya dia menggaruk kepalanya dengan
kasar.
Setelah
memutar otak berkali-kali, Petrie tampaknya tidak menemukan rencana lain. Dia
terlihat sudah pasrah dan siap menghadapi risiko terburuk. Petrie memejamkan
matanya sejenak, lalu ketika membukanya kembali, dia menatap Mahiru dengan
sepasang mata yang memancarkan keteguhan.
“Ada
pepatah yang bilang bahwa di balik kemakmuran sebuah negara besar selalu ada
bayang-bayang penyihir, tapi siapa pun yang benar-benar percaya pada hal itu
hanyalah orang bodoh yang tidak tertolong.”
Petrie
menatap ke arah istana dengan penuh kebencian sembari menggigit bibirnya.
“Memang
benar, negara ini sempat makmur untuk sementara. Namun, kekuatan besar selalu
menuntut imbalan yang setimpal. Begitu pula dengan sihir, atau apa pun itu.
Akhir bagi mereka yang dengan mudahnya menyentuh kekuatan yang tidak pantas
mereka miliki sudah pasti akan berakhir mengenaskan.”
Jika
Mahiru memejamkan mata, kegelapan mengerikan di negeri ini seketika terbayang
di benaknya.
Ini
adalah kota yang sudah membusuk, yang berada dalam cengkeraman penyihir gila.
Pangeran yang telah terperangkap dalam rayuan sang Penyihir mengadakan pesta
dansa untuk mengumpulkan para gadis muda. Gadis-gadis yang terkumpul itu kemudian
diubah oleh kekuatan Penyihir menjadi permata yang penuh dengan kegilaan untuk
diperjualbelikan. Negara menjadi kaya raya, kegilaan tersebar ke mana-mana,
sementara orang-orang kaya tertawa sembari mengenakan permata itu di tubuh
mereka tanpa menyadari bahwa benda itu terbuat dari daging manusia. Benar-benar
sebuah kegilaan yang nyata.
Petrie
telah mengetahui kegelapan kota ini jauh sebelum Mahiru, dan selama ini dia
terus berjuang sendirian.
“Baiklah.
Aku akan meminjamkan kekuatanku padamu.”
Petrie
menyipitkan mata seolah sedang menilai, lalu menjulurkan tangannya kepada
Mahiru.
“Syukurlah...
Jadi, bisa kuanggap kau sudah sedikit percaya padaku?”
Ketika
Mahiru menyahut dengan nada sedikit ketus, Petrie justru tertawa dengan riang.
“Hah?
Tentu saja aku masih merasa kamu mencurigakan. Tiba-tiba saja muncul dan
membualkan hal-hal yang terdengar terlalu muluk. Aku juga tidak tahu bagaimana
kamu bisa mengetahui rahasia permata itu. Tapi, yah, selama ini aku hidup
dengan meyakini instingku.”
“Kalau
kamu sampai mati begitu, instingmu tidak banyak membantu ya.”
“Kamu
benar. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk Elez. Satu-satunya yang
kutinggalkan untuknya hanyalah kebencian. Padahal, sebenarnya aku hanya ingin
dia bahagia. Aku tidak ingin dia menderita. Aku ingin dia hidup bebas tanpa
terikat oleh apa pun. Aku benar-benar ibu yang gagal.”
Elez
telah menghabiskan hidupnya dengan memendam dendam atas kematian ibunya.
Namun
Petrie mengatakan bahwa dia hanya ingin Elez bahagia.
Dada
Mahiru terasa sesak. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan
situasi ini dengan nasibnya sendiri. Apa yang dipikirkan oleh ibu Mahiru saat
itu? Apakah ibunya juga mengharapkan kebahagiaan Mahiru dan Asahi? Namun, jika
memang begitu, bukankah seharusnya ibunya tidak memilih untuk mati?
Mahiru-lah
yang sebenarnya tidak sempat membalas apa pun kepada ibunya. Dia tetap tidak
tahu apa-apa tentang perasaan sang ibu. Seumur hidup, dia tidak akan pernah
mendapatkan jawaban yang lebih dari sekadar imajinasi, karena ibunya telah
tiada.
“Aku
yakin kebencianmu pada penyihir itu nyata. Rasanya tidak enak memanfaatkan
kebencianmu sementara aku sendiri meracau ingin putriku bahagia, tapi
bagaimanapun juga, aku adalah seorang ibu.”
“...”
“Aku
benar-benar berada di titik putus asa. Kumohon, tolong selamatkan Elez.”
Mahiru
tidak akan pernah bisa lagi mendengar perasaan ibunya, apalagi mewujudkannya.
Jika
memang begitu, setidaknya, apakah dengan melakukan ini dia bisa sedikit merasa
tenang?
“Ya,
aku mengerti. Bahkan jika harus bertaruh nyawa, aku pasti akan menyelamatkan Elez.”
Setelah
mengatakannya, Mahiru menjabat tangan Petrie.
Nah,
sebelum sihirnya lenyap, musnahkanlah raga sang Penyihir itu.
*
* *
Malam
telah benar-benar larut saat Mahiru kembali ke gubuk pelayan.
Agar
tidak menimbulkan kecurigaan bagi Layla, dia memutuskan untuk meninggalkan
permata merah itu di batu nisan. Bagaimanapun juga, saat ini Petrie belum bisa
bersentuhan dengan Layla, dan Mahiru ingin menghindari segala bentuk kecurigaan
sebelum mereka pergi ke pesta dansa.
Mengingat
dia sudah berdamai dengan Petrie, tidak akan ada lagi orang yang datang
menyerang Mahiru malam ini. Namun, tidak peduli berapa lama dia berbaring di
tempat tidur, rasa kantuk tidak kunjung datang. Arus pemikiran yang tidak terbendung
terus mendesak pikirannya, dan panas di tubuhnya tidak kunjung reda, besok
adalah hari penentuan.
Saat
matahari pagi mulai menyinari, Mahiru bangkit berdiri.
Sambil
mengikuti alur yang sudah dia lalui berkali-kali, dia mengarang alasan
asal-asalan kepada Elez mengenai kepergian mendadaknya kemarin sore. Karena
suasana menjelang pesta dansa begitu sibuk, tampaknya Elez tidak terlalu
memikirkannya dan tidak bertanya lebih dalam.
Begitu
waktunya tiba, Elez dan Mahiru mengenakan pakaian pesta berkat sihir Layla.
Sebenarnya
Mahiru ingin masuk ke istana lebih awal, namun karena adanya pesta dansa,
penjagaan terasa jauh lebih ketat dari biasanya. Tampaknya tidak ada cara lain
selain menyelinap masuk dengan berpura-pura menjadi tamu.
“Wah,
aku terlihat cukup cantik juga ya dengan gaun ini... Eh, ada apa? Tatapanmu
lebih garang dari biasanya.”
Elez
mengernyitkan dahi dan mencoba mengintip wajah Mahiru.
Sekali
lagi, kata-kata Petrie terngiang-ngiang di dalam kepala pemuda itu, “tolong
selamatkan putriku”.
Dia
telah mendengar permohonan dari seorang ibu yang seharusnya sudah mati. Wajah Petrie
saat menundukkan kepala kepada Mahiru benar-benar murni wajah seorang ibu.
Sosok itu tumpang tindih dengan bayangan ibunya sendiri yang telah tiada, yang dia
pikir tidak akan pernah bisa dia temui lagi seumur hidup.
Permohonan
yang diucapkan Petrie terasa cukup berat bagi Mahiru.
“Bukan
apa-apa,” jawab Mahiru sambil menggelengkan kepala, lalu dia merapikan jasnya.
Dia
menaiki kereta kuda bersama Elez menuju aula pesta dansa.
Disambut
oleh musik klasik yang megah, mereka melangkahkan kaki ke dalam ajang pergaulan
para bangsawan yang berkilauan.
Mahiru
segera berdansa satu lagu dengan Elez. Karena gerakannya yang cukup intens, dia
menyeka keringat di dahinya.
Dia
mengamati sekeliling aula. Reset belum menampakkan diri. Namun, berdasarkan
pengalaman sebelumnya, seharusnya sebentar lagi pangeran itu akan turun dari
tangga utama. Sebelum itu terjadi, Mahiru memantapkan tekad dan mencengkeram
lengan Elez.
“Aku
benar-benar tidak suka suasana seperti ini. Ayo kita keluar sebentar.”
Dia
langsung menarik lengan Elez, berjalan membelah kerumunan para bangsawan.
“Hei,
tunggu, Mahiru?”
Meski
tampak bingung, Elez tetap mengikuti langkahnya.
Jika
mengikuti alur yang sama seperti sebelumnya, Reset akan datang menghampiri
mereka. Bagi Mahiru yang ingin menyelidiki istana demi mencari raga asli Layla,
menarik perhatian Reset adalah hal yang ingin dia hindari.
Di
bawah langit bertabur bintang, angin sejuk berembus pelan. Mahiru dan Elez
telah keluar dari istana menuju taman tengah, tepat di depan air mancur yang
biasa. Musik klasik bergema dari kejauhan, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran
orang lain di sana.
Jika
segalanya berjalan lancar, dia akan membunuh Layla, musuh bebuyutan Elez.
Sebelum
itu, ada hal yang harus dia pastikan kepada gadis itu.
Kembalikan
sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya... apa sebenarnya makna di
balik kalimat itu? Kata-kata Petrie memang sangat berat, namun bagaimanapun
juga, tokoh utama dalam cerita ini adalah Elez Cendrillon.
Namun,
Mahiru bingung bagaimana harus memulai pembicaraan. Pada tahap ini, dia belum
sempat mendengar sumpah balas dendam Elez maupun alasan mengapa gadis itu
sempat tinggal di lingkungan kerajaan.
“Kenapa
diam saja dengan wajah serius begitu? Apa perutmu sakit karena gugup?”
“Tentu
saja tidak!”
“Kamu
terlihat tegar tapi ternyata cukup sensitif juga ya! Baiklah, aku akan
menemanimu di sini sampai kamu merasa lebih baik.”
“Sudah
kubilang bukan itu alasannya! Ah, sudahlah, kenapa jadi begini...”
Mahiru
memegangi kepalanya saat atmosfer kaku di antara mereka mulai mencair.
Rasanya
suasananya sudah tidak mendukung lagi untuk membicarakan masa lalu yang berat.
“Nona
Elez...? Apakah itu Anda, Nona Elez?”
Tiba-tiba,
suara rendah seorang wanita terdengar.
Mahiru
menoleh dengan heran sementara Elez tampak terkejut. Di sana berdiri seorang
wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan istana. Wajahnya dipenuhi
kerutan dalam, menandakan dia telah melewati banyak kesulitan hidup.
“...Cecil?”
“Benar,
ini saya, Cecil... Ah, Anda sudah tumbuh sebesar ini. Sejak Nona Petrie tiada,
saya tidak bisa berbuat apa-apa... Saya baru tahu belum lama ini bahwa Anda
diambil oleh keluarga Cendrillon. Saya sungguh... saya...”
Wanita
bernama Cecilitu tampak sangat terguncang, kata-katanya melantur tidak
beraturan.
Dengan
ekspresi penuh penyesalan dia memeluk Elez, dan Elez hanya diam menerima
pelukan itu.
“Hanya
sekali lihat saya langsung tahu itu Anda. Anda tumbuh cantik mirip sekali
dengan Nona Petrie. Saya selalu mencemaskan Anda. Tapi saya terlalu penakut
untuk datang menemui Anda...”
Elez
tampak bingung harus bersikap bagaimana, dia mulai mengusap punggung Cecil untuk
menenangkannya. Namun hal itu justru memberikan efek sebaliknya; Cecil malah
menangis semakin kencang.
Setelah
beberapa saat, Cecil akhirnya tampak lebih tenang. Dia melepaskan pelukannya
dan mengatur napas.
“A-Ah,
benar juga... Ada sesuatu yang ingin saya berikan jika saya bertemu dengan Nona
Elez...”
Cecil
mengamati sekeliling dengan waspada, lalu berbisik pelan, “Maukah Anda ikut ke
ruangan saya?”
Mahiru
sempat berpikir apakah dia sebaiknya pergi dan memberi mereka ruang, namun Cecil
menahannya. Wanita itu menatap Mahiru dan Elez bergantian, lalu tersenyum hangat.
Mahiru merasa ada sesuatu yang salah paham di sini, namun dia memilih diam
karena situasi ini menguntungkan baginya.
Mereka
kemudian dipandu menuju sebuah ruangan sederhana yang biasa digunakan oleh para
pelayan istana.
Cecil
mengeluarkan sepucuk surat yang disimpan rapat di dalam laci meja, lalu
menyerahkannya kepada Elez.
Elez
menerima surat itu sambil mengernyitkan dahi.
“Maafkan
saya... seharusnya saya memberikan ini lebih awal.”
Cecil
menundukkan kepala dengan rasa bersalah.
Elez
membuka surat itu, matanya bergerak menyusuri setiap baris kalimat di dalamnya.
Setelah membaca isi surat itu sebanyak dua kali, dia membelalakkan mata dengan
ekspresi yang tampak rumit.
“Tidak
apa-apa. Terima kasih, Cecil.”
Elez
menyimpan surat itu dengan hati-hati, lalu tersenyum tipis yang menyiratkan
kegundahan.
Pandangan
Cecil dan Mahiru bertemu. Cecil esil memberikan anggukan kecil dengan raut
wajah penuh harap, seolah sedang menitipkan keselamatan Elez kepadanya.
Setelah
itu, Elez dan Cecil bertukar sepatah dua patah kata sebelum Mahiru dan Elez
meninggalkan ruangan tersebut.
Mungkin
karena Cecil telah membocorkan rahasianya, Elez merasa tidak ada gunanya lagi
bersembunyi. Sambil berjalan di depan Mahiru, dia mulai bercerita tentang masa
lalunya saat tinggal di istana, statusnya sebagai anak selir raja, serta tekad
balas dendam yang menjadi tujuannya.
Mahiru
hanya diam mengikuti di belakang dan mendengarkan ceritanya.
“Kamu
tidak terkejut, ya?” ucap Elez saat mereka telah kembali ke taman tengah.
“Entah
kenapa, aku sudah punya firasat.”
“Apa
karena aku cantik sekali sampai pantas jadi putri?”
“Menyebalkan.”
Elez
tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan Mahiru.
Mahiru
mencengkeram liontin di balik pakaiannya. Benda itu pemberian Petrie. Petrie,
yang kini berupa entitas pikiran, harus menggunakan kekuatan untuk
mempertahankan wujudnya. Di dalam liontin itu, tersegel sebuah inti yang bisa
disebut sebagai jiwanya. Petrie bilang dia bisa keluar jika Mahiru memohon
dengan sungguh-sungguh... tapi Mahiru bertanya-tanya, apakah wanita itu juga
bisa merasakan situasi di luar?
Seandainya
dia masih memiliki kesadaran saat ini...
“Ngomong-ngomong,
ibumu itu orangnya seperti apa?”
“Hmm...
dia orang yang lembut.”
Elez
menatap rerumputan di depannya dengan pandangan menerawang. Mungkin dia sedang
menyelaraskan tempat ini dengan kenangan saat dia masih tinggal di istana.
Jika
dipikir kembali, Elez tidak pernah ragu untuk menceritakan soal balas dendam
maupun masa lalunya di lingkungan kerajaan. Mahiru merasa jika dia bertanya, Elez
pasti akan menjawab, dan gadis itu sepertinya tidak menganggap hal tersebut
sebagai rahasia yang memalukan. Mungkin, sebenarnya dia hanya ingin seseorang
mengetahuinya.
Ah,
benar juga. Elez bukanlah seorang pendendam.
Dia
berbeda dari manusia bodoh seperti Mahiru, dia adalah sang protagonis.
Elez
lahir di istana.
Ibunya
adalah Petrie, sang pengguna sihir.
Dia
tidak memiliki ingatan pernah berbincang secara layak dengan ayahnya, sang
Raja.
Satu-satunya
teman bicaranya hanyalah sang ibu, dan dia dilarang keras menginjakkan kaki ke
luar istana. Seluruh masa kecilnya dihabiskan di dalam sana. Namun, Elez tidak
pernah merasa keberatan. Dia menganggap itulah dunianya, dan dia tidak pernah
mempertanyakannya.
Di
dalam istana, ada dua anak lain selain Elez. Para pangeran pemegang hak takhta:
Licht dan Reset. Licht tampak sama sekali tidak tertarik pada Elez dan tidak
pernah menyapanya. Sebaliknya, Reset selalu mengganggunya sampai pada tahap
yang menyebalkan.
“Bagaimana,
Elez? Maukah kamu menjadi milikku yang hebat ini? Habisnya, kamu terlihat
sangat malang jika dibiarkan begini. Anggap saja ini adalah tugas dari
kakakmu.”
Elez
sangat membenci pria itu dari lubuk hatinya.
Sang
ibu sering melatih Elez menggunakan pedang.
“Kamu
tertarik pada ilmu pedang... padahal kamu ini perempuan. Yah, kurasa itu memang
mirip denganku. Tapi, aku tidak pandai bermain pedang. Aku hanya bisa mengajarimu
dasar-dasarnya saja,” kata Petrie.
Meski
bicaranya kasar dan latihannya sangat berat karena dia mengajar dengan penuh
semangat, di akhir latihan, Petrie akan mengacak-acak rambut Elez dan
memujinya.
“Bakatmu
dalam pedang jauh melampauiku! Benar-benar putriku!”
Elez
merasa senang dan terus mengayunkan pedangnya meskipun sedang sendirian.
“Suatu
saat nanti, aku akan mengalahkan naga!”
“Naga?
Tahu dari mana istilah itu?”
“Dari
buku cerita di perpustakaan!”
“Begitu
ya... entah ada atau tidak sihir yang bisa memanggil naga.”
“Aku
akan jadi lebih kuat lagi! Jika ada naga atau apa pun yang menyerang, aku yang
akan melindungi Ibu!”
Mendengar
itu, Petrie membelalakkan mata karena terkejut, lalu tertawa kecil sambil
mengusap kepala Elez, “Begitu ya. Kalau begitu Ibu tenang, apa pun yang terjadi
nanti.”
Meski
merasa cukup dengan adanya sang ibu, terkadang Elez tetap penasaran dengan
dunia luar.
“Apa
naga hanya ada di pegunungan jauh?” gumamnya sambil menatap kota dari balik
jendela.
Suatu
kali, Petrie pernah membawanya menyelinap keluar istana.
Elez
masih ingat hangatnya mentari musim semi kala itu. “Ini rahasia kita berdua
ya,” bisik Petrie sambil menarik tangannya menuju sebuah bukit yang puncaknya
dihiasi sebatang pohon besar. Seluruh tempat itu ditumbuhi bunga, dan Petrie
bercerita bahwa itu adalah tempat kenangannya dengan orang yang sangat penting.
“Wah...”
Sejak
saat itulah, Elez merasa sangat tertarik pada dunia luar.
Dia
mulai mendambakan kebebasan.
“Ibu!
Suatu saat nanti mari kita keluar dari istana dan tinggal di dunia luar! Itu
janji kita!”
Namun,
seolah ingin menghancurkan harapan Elez, perpisahan dengan Petrie pun tiba.
Ibunya
mati. Dibunuh. Seseorang merenggut nyawanya di dalam istana.
Kamar
itu berlumuran warna merah. Petrie tergeletak dengan mata hampa, tubuhnya
terkoyak, dan genangan darah meluas di sekelilingnya bagaikan rawa tanpa dasar.
Petrie yang seharusnya hangat kini terasa begitu dingin. Tidak peduli apa pun
yang dikatakan Elez, sang ibu tidak menyahut. Petrie tidak pernah kembali.
“A-Ahh,
aaaaahhh... bohong, tidak mungkin...”
Terdengar
suara tawa yang tertahan.
Elez
merinding, seolah punggungnya dicakar oleh hantu, lalu dia menoleh.
Di
sana, ada seseorang. Seseorang yang telah membunuh ibunya. Sosok itu
menyeringai. Bayangannya tampak seperti coretan tinta hitam yang pekat, membuat
Elez tidak bisa mengenalinya dengan jelas. Dia tidak tahu apakah itu pria atau
wanita, namun yang tersisa di ingatannya hanyalah citra warna merah.
Sesuatu
yang menyerupai cairan kental mulai merembes dari sosok itu, merayap perlahan
mendekati Elez. Pemandangan itu begitu sulit dinalar hingga dia tidak bisa memastikan
apakah itu kenyataan atau bukan. Sampai sekarang pun, dia masih ragu apakah
kejadian itu benar-benar ada, atau sekadar kegelapan yang mulai menggerogoti
tubuhnya.
Apakah
ini mimpi? Mimpi buruk akibat syok kehilangan ibu? Siapa kamu? Kamu siapa,
pembunuh Petrie? Dia tidak bisa mengingatnya. Dia tidak akan pernah bisa
mengingatnya. Setiap kali dia mencoba mengingat, hanya rasa dendam yang semakin
membara.
Kepalanya
terasa sakit seolah akan pecah.
Rasanya
sakit, seolah tengkoraknya sedang dicungkil paksa dari dalam. Sakit sekali...
“Ugh,
uwek, aaa! Kembalikan, kembalikan Ibuku, ugh.”
Elez,
yang baru saja menceritakan kejadian masa lalu itu, mendadak memegangi
kepalanya dan berjongkok.
Dia
muntah, terengah-engah dalam kepedihan, dan meringkuk erat.
Dari
tubuhnya, kegelapan yang berat dan pekat seperti lumpur meluap keluar. Mahiru
pernah melihat ini di bawah tanah istana. Inilah kegilaan, akar penyebab yang
merusak dunia ini, juga dunia Mahiru. Sesuatu yang begitu kuat hingga sanggup
menampakkan wujudnya.
“Begitu
rupanya, Elez. Ternyata kamu tahu!”
Sebenarnya,
Elez pernah melihat pelaku yang membunuh ibunya, sang Penyihir.
Dia
tahu perbuatan keji yang dilakukan penyihir itu. Namun, sebagian ingatannya
disegel oleh kegilaan, hingga yang tersisa hanyalah rasa dendam yang
terombang-ambing tanpa arah.
Mahiru
memunculkan Grimm Note dan menggunakan kemampuan Pemurnian.
Cahaya
menyelimuti Elez dan melenyapkan kegilaan itu, dibarengi dengan gema suara
nyaring seperti kaca yang pecah.
“Kamu
baik-baik saja?”
Mahiru
berlutut dan mengusap punggung Elez.
Gadis
yang kini bersujud dengan kedua tangan dan lutut di tanah itu berusaha mengatur
napas dengan dada yang kembang kempis. Dia menyeka mulutnya, lalu mencengkeram
tanah kuat-kuat dengan jemarinya.
“Benar...
seorang penyihir muncul di istana. Wanita dengan rambut merah menyala dan rupa
yang sangat menawan... dia memikat Raja, mulai keluar masuk istana, dan sejak
saat itu segalanya menjadi kacau... Ibuku pun dibunuh olehnya!”
Layla
benar-benar licik. Dengan menyegel ingatan Elez, dia mengarahkan panah amarah
gadis itu kepada pihak kerajaan. Karena ingatan pahit di istana itu memang
nyata, sangat mudah baginya untuk melakukan hasutan. Bahkan setelah ingatan
tentang penyihir itu kembali pun, Mahiru ragu apakah Elez bisa menghubungkan
sosok penyihir itu dengan Layla. Sebab, yang Elez ketahui hanyalah sosok Layla
sebagai sebuah jiwa.
“Jadi,
musuhku yang sebenarnya adalah sang Penyihir...”
Elez
mengepalkan tangannya, mendongak, lalu berdiri. Di saat itulah, amplop yang
tadi dia terima terjatuh dari balik pakaiannya. Isinya pun menyembul keluar,
dan Elez tersentak saat melihatnya.
I
hope you find happiness.
Mahiru
tidak mengerti makna mendalam dari tulisan itu.
Namun,
Elez yang sebelumnya mengerutkan dahi kini melonggarkan kepalan tangannya,
menunduk, dan membiarkan sebutir air mata mengalir. Dengan tangan yang gemetar,
dia memungut surat itu dan memeluknya erat di dada.
“Aku...
aku hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu. Suatu saat nanti keluar dari istana,
dan meski mungkin hidup serba terbatas, aku tetap mendambakan hari-hari yang
damai bersamanya...”
Mahiru
mengusap punggung Elez yang terisak dengan lembut.
“Aku...
hanya ingin dia tetap hidup.”
Mendengar
kalimat itu, Mahiru tanpa sadar mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
Seorang
ibu pasti berharap anaknya tetap hidup. Namun, hal yang sama juga berlaku bagi
sang anak. Mahiru pun sangat ingin ibunya tetap hidup. Dia tidak ingin ibunya
memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Baginya, asalkan sang ibu tetap
hidup, itu sudah lebih dari cukup.
Elez
ternyata memiliki perasaan yang ingin dia utamakan lebih dari sekadar dendam.
Berbeda
dengan Mahiru yang bodoh, Elez sudah menyadari hal itu sebelum segalanya
terlambat. Seperti halnya Mahiru yang selalu memikirkan Asahi, Elez pun terus
menjalani hidup dengan memikirkan Petrie, meskipun sosok itu sudah tidak ada
lagi di dunia ini.
“Dunia
ini telah dirusak sepenuhnya oleh sang Penyihir.”
Seandainya
tidak ada penyihir itu, mungkinkah Elez dan Petrie sudah keluar dari istana
keparat itu dan hidup dengan damai berdua?
Kembalikan
sesuatu yang seharusnya di tempat yang seharusnya, mungkin makna sejati dari
kalimat itu adalah memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh Penyihir yang
menjadi tumor bagi dunia ini.
“Serahkan
padaku, Elez.”
Jika
esensi dari cerita ini adalah kebahagiaan bagi gadis yang dijuluki si Upik Abu,
maka Mahiru harus mewujudkan keinginan Elez.
“...Ugh,
uwaa.”
Elez
yang baru saja menyeka air matanya kembali membungkuk dan merintih. Mahiru
menopang tubuh gadis yang tampak limbung sambil memegangi dahinya dalam
kesakitan itu. Wajah Elez pucat pasi, dia tampak sangat kelelahan.
“Maaf,
ingatanku masih agak kacau. Terima kasih sudah mau mendengarkan.”
“Jangan
bicara begitu sekarang. Jika ada tempat untuk beristirahat...”
Mahiru
mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun Elez menarik lengannya dan
menggeleng.
“Aku
tidak apa-apa. Jangan pedulikan aku... Mahiru juga punya hal yang harus
dilakukan hingga datang ke tempat ini, ‘kan?”
Mahiru
sempat ragu sejenak, namun setelah melihat tatapan mata Elez yang penuh
kesungguhan, dia memantapkan hatinya.
Gadis
ini sedang mencoba menghadapi masa lalunya dan melangkah maju. Dan seperti kata
Elez, Mahiru pun memiliki pertarungannya sendiri, memiliki alasan mengapa dia
harus terus melawan.
“Ya,
kamu benar. Hidupku pun telah dihancurkan oleh penyihir itu. Jangan khawatir,
aku pasti akan membunuh wanita itu.”
Hanya
kalimat itu yang Mahiru ucapkan sebelum dia melangkah kembali menuju istana.
*
* *
“Kamu
bukan tipe tuan putri yang hanya menunggu untuk diselamatkan. Kamu memang
benar-benar sang protagonis.”
Asalkan
dia bisa mengalahkan Layla, Mahiru yakin akan ada waktu untuk berbicara dengan Petrie.
Berbeda
dengannya, Elez masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan kata-katanya.
Untuk
itu, dia harus menemukan raga Layla terlebih dahulu.
Mahiru
berlari menyusuri koridor istana dengan tujuan yang pasti. Namun, menyusup dan
menggeledah istana sambil menghindari para penjaga adalah tugas yang sangat
berat. Tanpa petunjuk yang berarti, waktu yang tersisa sebelum tengah malam
kini kurang dari satu jam.
Dia
bersembunyi di sudut koridor, mengawasi seorang pelayan yang menghilang di
balik belokan. Dia melirik jam saku yang dipinjamnya dari kediaman Cendrillon,
lalu mendecih karena rasa cemas.
Haruskah aku menangkap salah satu
dari mereka dan memaksanya bicara...?
Tidak,
mustahil Reset yang licik itu akan sembarangan menyebarkan rahasia tentang
permata.
Kalau
begitu, menangkap Reset dan menginterogasinya? Risikonya terlalu tinggi. Kecil
kemungkinan pria itu akan berada dalam kondisi tanpa perlindungan.
Alunan
musik klasik yang terdengar dari kejauhan hanya menambah kegelisahan di
hatinya.
Di mana? Kalau aku jadi dia, di mana
aku akan menyembunyikannya?
Tempat
yang tidak diketahui siapa pun. Tempat yang cukup luas untuk menyembunyikan
satu orang dewasa. Karena tubuh itu perlu dijaga agar tetap hidup, mungkin
tempat itu memiliki fasilitas yang memadai. Jika demikian...
“Ketemu.”
Tempat
itu memenuhi semua kriteria yang baru saja dia pikirkan.
Lagipula,
tadi ada jalan bercabang saat dia menuruni tangga.
“Ruang
bawah tanah. Tubuh sang Penyihir pasti ada di bawah tanah.”
Mahiru
memutar mekanisme pada leher baju zirah pajangan, memicu munculnya pintu menuju
lorong bawah tanah.
Setelah
menuruni tangga beberapa lama, dia sampai di jalan bercabang.
Ke
kanan, terdapat laboratorium kegilaan tempat para gadis diubah menjadi permata.
Sisi
kiri adalah tempat yang belum pernah dia injaki.
Namun
jika dugaannya benar, tubuh Layla pasti ada di sana.
Hawa
dingin yang merayap dari kegelapan membuat Mahiru menelan ludah. “Ayo jalan,”
ucapnya pada diri sendiri untuk menguatkan tekad, lalu dia menuruni lorong
kiri.
Tidak
lama kemudian, dia sampai di sebuah ruangan terbuka.
Lantai
batu yang lembap dengan jeruji besi berkarat yang berderet di kiri dan kanan.
Aroma busuk yang menyengat hidung bercampur dengan cahaya lilin yang temaram.
Tampaknya ini adalah penjara bawah tanah.
Namun,
sebagian besar sel itu kosong melompong, dan tempat itu tidak terlihat seperti
penjara yang berfungsi normal. Lebih tepat jika disebut sebagai bekas penjara.
Kemungkinan
besar, di sinilah tempat Mahiru dikurung pada putaran ketiga.
Sambil
memeriksa bagian dalam sel, dia terus melangkah jauh ke dalam. Hingga
tiba-tiba...
“Hei,
ada orang di sana?”
Sebuah
suara yang sangat tenang dan tidak selaras dengan suasana tempat itu terdengar.
Mahiru
mengernyitkan dahi mengenali suara tersebut, lalu mendekat dengan langkah
mengendap-endap.
“...Licht.”
Licht
Cinder, sang Pangeran Pertama, sedang mendekam di dalam sel dengan kedua tangan
terikat di belakang punggung.
Pakaiannya
masih rapi dan dia tidak tampak terlalu kelelahan. Sepertinya dia baru saja
ditangkap. Licht menatap Mahiru dengan tajam, kewaspadaannya berada di tingkat
tertinggi.
Ini
adalah keberuntungan yang tidak terduga. Bagi Reset yang mengincar takhta,
Licht yang memiliki urutan pewaris lebih tinggi adalah musuh. Kesimpulan Mahiru
adalah dia memiliki kemungkinan untuk bekerja sama dengan Licht.
Mahiru
memunculkan Grimm Note dan mengeluarkan sepasang gunting raksasa dari Storage.
“Aku
tidak peduli siapa kamu sebenarnya. Ada hal yang harus kuselesaikan. Cepat
keluarkan aku dari sini, rakyat jelata.”
“Ah,
berisik sekali. Apa kamu tidak punya mata? Itu ‘kan yang sedang kulakukan.”
Mengingat
kembali putaran ketiga, Mahiru dihukum mati justru karena Licht tidak banyak
bicara. Seandainya dia menjelaskan kekejaman Reset sejak awal, Mahiru pasti
sudah menyadari kebenarannya lebih cepat.
Mahiru
menghantamkan ujung gunting itu ke arah gembok sel.
“Jika
kamu merasa berhutang budi sedikit saja padaku... atau ya, meski tidak pun, ini
sudah menjadi keharusan. Jika kamu membiarkan Reset menguasai negara ini,
semuanya akan berakhir. Bantu aku, Licht.”
“Kamu...
sebenarnya siapa? Seberapa banyak yang kamu ketahui?”
“Menjelaskannya
satu per satu itu merepotkan. Semuanya! Aku tahu semuanya! Tentang rahasia
permata itu, tentang niatnya merebut takhta, tentang sang Penyihir, bahkan
tentang obsesinya yang menjijikkan terhadap Elez!”
Setelah
beberapa kali hantaman gunting, gembok itu akhirnya hancur. Mahiru menendang
jeruji besi itu hingga terbuka, lalu menghampiri Licht dan melepaskan
ikatannya.
“Kita
tidak punya waktu untuk saling curiga. Musuh kita sama. Asalkan kita paham itu,
tidak akan ada masalah.”
“...Jadi
kamu sudah melihat laboratorium bawah tanah itu.”
“Yah,
anggap saja begitu.”
Mahiru
mengulurkan tangan dan membantu Licht berdiri, pada saat itulah, sebuah
guncangan seperti tusukan jarum melintasi otaknya. Kejanggalan yang nyaris dia
lewatkan tiba-tiba muncul ke permukaan.
Tunggu sebentar... kenapa Licht ada
di sini?
Pada
putaran ketiga, saat dia dikhianati Reset di bawah tanah istana, gaun yang
dikenakan Elez mencair dan menghilang bersamaan dengan dentang lonceng. Itu
karena kekuatan sihirnya habis tepat pada tengah malam, persis seperti dalam
dongeng.
Artinya,
paling lambat, Licht baru turun ke bawah tanah istana sekitar tiga puluh menit
sebelum tengah malam pada putaran ketiga.
Lantas,
kenapa sekarang Licht sudah tertangkap?
Apalagi,
karena kali ini Mahiru tidak melakukan kontak dengan Reset, seharusnya kejadian
Mahiru dibawa ke bawah tanah istana tidak terjadi. Bukankah sebelumnya Licht
mengikuti mereka karena melihat Mahiru dan Elez turun ke bawah tanah? Apa Licht
memang berniat menyelidiki tempat ini hari ini, terlepas dari apa yang
dilakukan Mahiru?
Tidak mungkin segalanya berjalan
semulus itu, ‘kan?
Mahiru
merasakan firasat buruk yang aneh.
“Hei,
Licht. Di mana kamu ditangkap? Di bawah tanah ini? Ataukah...”
Jika
Licht memang menyelidiki Reset secara mandiri dan berniat memojokkannya di hari
pesta dansa, maka tidak ada masalah. Meski pergerakannya yang berubah dibanding
putaran sebelumnya tetap terasa mengganjal.
Namun,
kemungkinan terburuknya adalah...
“Wah,
Mahiru. Aku bertanya-tanya ke mana kamu pergi, ternyata kamu ada di sini.
Ternyata percaya pada Layla adalah keputusan yang tepat.”
Saat
menoleh, di sana sudah berdiri Reset bersama hampir sepuluh orang prajurit
pengawal istana.
Reset
melontarkan tatapan penuh penghinaan, lalu menghunus sebilah pedang yang tampak
mewah.
“Reset...!”
*
* *
Dia
terlalu naif.
Dia
telah memurnikan kegilaan dari tubuh Elez dan membuka segel ingatannya. Jika
dipikirkan dengan tenang, tidak mungkin Layla tidak menyadarinya. Dengan kata
lain, apakah kepemilikan tubuh itu sudah berada di tangan Layla sekarang?
Tidak.
Dia tidak punya waktu untuk menganalisis situasi dengan santai.
Seolah
melindungi Reset yang telah menghunuskan pedang, para prajurit pengawal mulai
bergerak maju dengan tombak, mengepung Mahiru dan Licht secara perlahan.
Situasi ini sudah bukan lagi tahap untuk bernegosiasi. Reset telah menetapkan
Mahiru sebagai musuh yang nyata.
Musuh
berjumlah sekitar sepuluh orang, sedangkan mereka hanya berdua. Bisa dikatakan
ini adalah situasi yang sangat mendesak.
Mahiru
mengeluarkan sebilah pedang Barat dari Grimm Note dan memasang kuda-kuda.
Mustahil baginya untuk menang jika bertarung secara frontal. Untungnya koridor
ini cukup sempit, sehingga mereka tidak akan terkepung sepenuhnya. Jika dia
bisa meloloskan diri dengan baik, itu sudah cukup.
Namun
pada saat itu, pedangnya dirampas oleh Licht.
“Hei,
apa-apaan kamu!”
Licht
mengabaikan teguran Mahiru dan langsung menerjang ke arah para prajurit
pengawal.
“Raaaaa!
Akan kuhajar watakmu itu sampai benar, adik bodoh!”
Licht
merangsek masuk ke tengah-tengah kepungan prajurit dengan keganasan bak iblis
yang sedang mengamuk. Para prajurit pengawal itu tampaknya tidak menyangka
seorang anggota keluarga kerajaan akan menyerang dengan nafsu bertarung yang
begitu besar. Terlihat jelas mereka terintimidasi dan gagal mempertahankan
formasi dengan baik.
“Ternyata
dia sekuat ini. Cih.”
Mahiru
terpaksa merebut sebuah tombak panjang dari prajurit yang tumbang, lalu memasang
posisi bertarung.
Meski
merasa kikuk dengan senjata yang tidak biasa dia gunakan, dia tetap menerjang
masuk untuk membantu Licht.
Mahiru
mencengkeram tombak panjang itu kuat-kuat dengan kedua tangan, membalas
serangan lawan sambil terus menjaga jarak. Menurut teori, saat menghadapi musuh
dalam jumlah besar, seseorang harus membelakangi dinding untuk membatasi arah
datangnya serangan. Melihat Reset yang biasanya melakukan gerakan-gerakan aneh
membuat Mahiru merasa campur aduk, namun sekarang bukan saatnya untuk keras
kepala.
Mahiru
memusatkan perhatiannya untuk menangkis setiap serangan musuh, berusaha sekuat
tenaga mempertahankan nyawanya.
“Hei,
rakyat jelata pengguna ilmu aneh.”
“Apa,
pangeran yang kaku?”
“Kamu
bilang kamu tahu seluruh keadaannya, ‘kan?”
Licht
berucap dengan suara tenang sambil mengayunkan pedangnya, merubah posisi
berdirinya dengan gerakan yang mengalir.
“Dari
ucapanmu, aku mengerti kamu punya dendam pada adik bodohku dan sang Penyihir
itu. Pergilah duluan, jangan biarkan Penyihir itu bertindak sesukanya.”
“Hah?
Aku juga harus membalas utangku pada Reset...”
Kalimat
Mahiru terputus saat dia menggigit bibirnya sendiri.
“Hmm.
Aku sama sekali tidak ingat. Apa ini soal urusan wanita? Yah, menjadi terlalu
tampan memang terkadang merepotkan.”
Reset
menyisir rambut pirangnya yang indah sambil terus berlindung di balik barisan
prajurit pengawal.
“...Keparat.”
Mahiru
sangat ingin menghancurkan pria itu dengan tangannya sendiri, namun dia harus
mempertimbangkan skala prioritas. Dia sudah cukup muak dikuasai oleh emosi
sesaat yang hanya berujung pada penyesalan.
Petrie
telah menitipkan Elez kepadanya. Saat ini, tubuh Elez mungkin sedang
dikendalikan oleh Layla. Terlebih lagi, jika dia tidak menemukan tubuh asli
Layla sebelum lonceng berbunyi, segalanya akan sia-sia.
Dia
memeriksa jam saku miliknya. Pukul 11:23 malam.
Tersisa
waktu kurang dari empat puluh menit sebelum batas waktu berakhir.
Hal
terburuk yang bisa terjadi adalah Layla mendapatkan kembali kekuatan aslinya
tepat saat lonceng berdentang.
Ternyata
tubuh asli Layla tidak ada di ruang bawah tanah istana. Artinya, Mahiru harus
menemukan tubuh itu di sisa waktu yang ada dan menghancurkannya.
Benar, berapa pun waktu yang
tersisa, rasanya tidak akan pernah cukup...
Seolah
menembus pemikiran santainya, sebuah tombak panjang melesat ke depan matanya.
Mahiru refleks memiringkan kepala untuk menghindar, namun bilah tajam itu tetap
menggores pipinya. Darah segar memercik diikuti rasa perih yang menusuk.
“Cepat
pergi! Ini adalah masalah yang harus kuselesaikan sebagai seorang kakak!”
Dongan
dorongan dari tepukan Licht yang sedang murka, tekad Mahiru pun bulat.
Apakah
untuk memukul Reset?
Ataukah
untuk menyelamatkan Elez?
Itu
adalah pertanyaan yang jawabannya tidak perlu ditimbang lagi.
“Ah,
sial, baiklah aku mengerti! Jangan bunuh Reset! Sisakan bagian untuk kupukul nanti!”
Begitu
Mahiru memantapkan hati untuk meloloskan diri, Reset tentu saja langsung
menghalanginya.
“Kamu
kira aku akan membiarkanmu lari? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.”
Meski
penampilannya seperti itu, kemampuan pedang Reset sama sekali tidak bisa
diremehkan. Saat Mahiru mendecih kesal, Licht kembali menyelinap masuk di waktu
yang tepat.
“Raaaaah!
Tidak akan kubiarkan!”
Licht
yang berlumuran darah dan keringat dengan napas memburu itu terlihat seperti
binatang buas. Pakaian mewahnya telah terkoyak, tubuhnya bersimbah darah, namun
dia tetap meraung tanpa sedikit pun mengendurkan serangannya. Atmosfer di
tempat ini telah sepenuhnya dikuasai oleh Licht.
“Ugh,
padahal selama ini kamu tidak pernah melakukan apa pun!”
“Ya,
karena itulah, demi melepaskan diri dari sosok bodohku yang membiarkan
segalanya selama ini, aku akan menghentikanmu meski harus mempertaruhkan
nyawa!”
Tring!
Pedang Reset yang diayunkan bertemu dengan bilah pedang Licht, memercikkan
bunga api.
Mahiru
tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah diciptakan oleh Licht.
Dia
berbalik dan berlari menembus kekacauan pertarungan itu, lalu segera menaiki
anak tangga dengan tergesa-gesa.
*
* *
Mahiru
keluar dari bawah tanah istana dan kembali ke permukaan. Alunan musik megah
masih mengalir dari aula, meski temponya perlahan berubah menjadi lebih lambat.
Waktunya
sempit.
Akhir
dari pesta dansa, batas waktu terakhir sudah semakin dekat.
Mahiru
menaiki tangga di ujung koridor, terus menyisir ke lantai dua, lalu lantai
tiga.
Dan
di sana, di lorong lantai tiga, helai rambut perak yang dia kenali melambai di
sudut mata.
“Elez...?”
Sosok
itu menoleh, lalu menyisir rambut peraknya ke belakang sambil tersenyum
menawan.
“Bukan,
bukan dia...”
Itu
adalah ekspresi yang mengejek Mahiru, ekspresi yang tidak mungkin ditunjukkan
oleh Elez.
Amarah
seketika meluap di dalam dada Mahiru, dan bekas luka di tubuhnya yang pernah
terkoyak mendadak terasa perih.
“Layla!”
“Lama
tidak jumpa ya, Mahiru-kun. Ada apa? Kenapa wajahmu seseram itu?”
Tampaknya
dia tidak berniat bersandiwara lagi. Layla tersenyum provokatif. Dia merasa
tidak perlu lagi menyembunyikan jati dirinya. Dengan kata lain, dia sudah
menunjukkan niat untuk bermusuhan secara terang-terangan.
Mahiru
pun merasakan hal yang sama.
“Masih
perlu bersilat lidah, hah?”
Mahiru
kini sudah mengetahui segalanya.
Tentang
Layla yang melemah karena sihir Petrie dan terpaksa merasuki tubuh Elez.
Tentang
usahanya memanfaatkan Mahiru untuk menghapus sihir itu karena dia tidak bisa
mendekati Petrie.
Tentang
warga yang diubah menjadi permata dan disebarkan melalui Reset untuk menebar
kegilaan.
Tentang
niatnya merebut kembali tubuh aslinya tepat saat pergantian hari, ketika
kekuatan sihir Elez mencapai puncaknya.
Begitu
pula dengan Layla; dia sadar bahwa Mahiru, yang telah memurnikan kegilaan,
adalah musuhnya.
“Hehehe,
aku penasaran bagaimana kamu bisa tahu kalau Petrie bukanlah Penyihir.”
Layla
menyeringai lebar, menunjukkan rasa senangnya.
“Karena
baunya sangat busuk sampai aku tidak tahan. Bau yang menjijikkan seperti usus
yang mulai membusuk.”
Dalam
kisah Si Tudung Merah yang tidak lazim itu, sang Penyihir sudah mati.
Ini
adalah pertama kalinya Mahiru berhadapan langsung dengan penyihir yang menjadi
sumber dari segala kegilaan ini.
Namun,
tidak ada sedikit pun rasa gentar dalam dirinya.
Ini
bukanlah jalan buntu. Tidak peduli seberapa sulit jalannya, memiliki musuh yang
nyata dan target yang harus diselamatkan memberikan secercah harapan yang
besar.
Dibandingkan
dengan keputusasaan di dunia Si Tudung Merah, di mana dia dipaksa menimbang
nyawa Elez, memukul mundur Layla bukanlah apa-apa.
Rute
jawaban sudah terpampang jelas.
Sisanya,
dia tidak peduli berapa kali harus mengulang.
Tidak
peduli berapa kali dia harus mati.
Mulai
sekarang, inilah arena permainan Mahiru.
“Aku
sudah muak dengan permainan tebak-tebakan yang bertele-tele ini. Mari kita
akhiri saja, penyihir keparat!”
Mahiru
membuka Storage di Grimm Note dan bersiap.
“Maksudmu,
kamu pikir kamu bisa menang melawanku? Rakyat jelata sepertimu?”
“Ya,
cepatlah keluar dari tubuh Elez, dasar parasit tidak berguna.”
“Mustahil.
Dalam perebutan hak kendali tubuh, kondisi mental sangatlah berpengaruh. Elez
tidak akan pernah bisa muncul lagi.”
Layla
terkekeh mengejek.
“Sebenarnya,
saat kamu membuka paksa ingatannya... yah, aku penasaran bagaimana caramu
melakukannya, tapi saat itu dia sadar kalau akulah yang membunuh Petrie.”
Mahiru
sempat mengira bahwa karena Elez hanya mengenal sosok jiwa Layla, dia tidak
akan bisa menghubungkannya dengan pembunuh ibunya. Namun, tampaknya tawa palsu Elez
selama ini menyimpan makna tersebut.
“Aku
yang membunuh ibunya Elez. Aku, yang seharusnya menjadi satu-satunya teman yang
bisa dia percayai. Aku hanya memanfaatkan Elez demi mendapatkan tubuhku
kembali. Aku mendekatinya saat dia berduka demi memenangkan kepercayaannya,
padahal dalam hati aku selalu menertawakannya. Betapa malangnya anak itu,
benar-benar tidak tertolong...”
“Berisik!”
Mahiru
berteriak menggelegar.
“Saat
itu, seharusnya kamu tidak membiarkan Elez sendirian!”
Layla
menyahut, suaranya tumpang tindih dengan teriakan Mahiru.
“Elez
tidak selemah yang kamu kira!”
“Bicara
kasar itu hanya kedok dari kelemahannya. Sama halnya dengan kata-katanya yang
seolah ingin dipahami. Begitu juga dengan fakta bahwa dia harus bergantung
padaku. Dia adalah wanita yang lemah, bodoh, dan terlahir hanya untuk diperas.”
Terlahir
hanya untuk diperas?
Apa
karena Elez anak selir?
Karena
ayahnya tidak peduli dan ibunya dibunuh?
Karena
status sosial? Karena harta?
Jika
seseorang memiliki kelemahan, apakah wajar jika dia dimanfaatkan?
“Jangan
bercanda! Jangan biarkan orang seperti dia berbuat semaunya! Robek jiwa Penyihir
sialan itu dengan tangan kosong dan keluarlah!”
“Percuma.
Tubuh ini sudah menjadi milikku.”
“Aku
bicara pada Elez! Kamu bukan orang yang selemah itu, ‘kan!? Hei!”
Namun,
tidak ada tanda-tanda Elez akan muncul, dan Layla tetap memasang wajah tenang.
Kalau
diingat kembali, pada putaran keempat pun Elez yang tubuhnya diambil alih oleh
Layla tidak menjawab panggilan Mahiru.
Tapi
ini salah. Elez pasti punya alasan untuk bangkit.
Ingatlah,
hei, Elez.
Di
saat itulah, liontin di dadanya mulai memancarkan cahaya redup.
“Petrie...?”
Mahiru
merasakan amarah yang luar biasa hebat dari benda itu.
Liontin
itu memancarkan panas yang seolah berteriak, “Panggil aku!”
Benar
juga, Mahiru sudah mengeluarkan semua pedang dan gunting yang bisa dijadikan
senjata.
Jika
dia menyerang Layla hanya dengan amarah, hasilnya sudah bisa ditebak.
Mahiru
langsung memutuskan bahwa inilah saatnya mengeluarkan kartu Joker.
Mahiru
menggenggam liontin itu erat-erat dan memusatkan seluruh pikirannya.
“Datanglah,
sang pengguna sihir!”
Cahaya
perak yang menyilaukan meluap dari tangan Mahiru. Cahaya itu membentuk sosok
manusia kecil. Rambut perak yang sama seperti Elez. Kuncir duanya berkibar
tertiup angin, menampakkan sosok seorang gadis, sang pengguna sihir kini telah
bermanifestasi.
“B-Bagaimana
bisa kamu ada di sini?”
Untuk
pertama kalinya Layla tampak gugup di hadapan musuh bebuyutannya, satu-satunya
orang yang dia anggap sebagai ancaman.
“Wajah
bodoh yang bagus. Tentu saja aku di sini untuk menghancurkanmu, penyihir keparat!”
Amarah
Petrie meledak, menandakan bahwa saat yang dinantinya akhirnya tiba.
Jubah
yang berkibar karena luapan sihir, berpadu dengan rambut perak yang tertiup
angin.
“Berani-beraninya
kamu meremehkan putriku yang sangat kucintai, wanita sampah. Kali ini, mari
kita selesaikan semuanya. Ayo!”
“Heh
heh heh, bicaramu lucu sekali. Segalanya sudah selesai, tahu. Aku sudah
menguasai tubuh Elez, dan untukmu sendiri, aku sudah pernah mengalahkanmu
sekali.”
“Mari
kita bertarung sampai salah satu jiwa kita hangus terbakar! Lagipula, aku tidak
bilang kalau lawanmu cuma aku saja, ‘kan? Nah, pergilah, Mahiru. Kalau sampai
gagal, kamu juga akan kubunuh!”
“Ya.
Sisanya kuserahkan padamu.”
Selama
Layla berada di tubuh Elez, masalah tidak akan selesai begitu saja meskipun dia
berhasil dikalahkan di sini. Mahiru harus menemukan tubuh asli Layla yang
tersembunyi di suatu tempat di istana ini, lalu menghancurkannya. Petrie secara
sukarela menawarkan diri untuk menjadi umpan.
Mahiru
mencoba meninggalkan medan pertarungan tanpa ragu.
Namun.
“Mana
mungkin aku membiarkanmu pergi!”
Menyadari
niat Mahiru, Layla menyeringai dengan wajah cantiknya yang kini tampak bengis,
lalu dia mengeluarkan permatanya.
Dia
melemparkan permata beraneka warna, biru, hijau, dan kuning, sambil merapal
sihir. Api merah membara seketika dimuntahkan ke arah Petrie dan Mahiru.
“Dress
Up...!”
Seketika,
Petrie merapal sihir yang pernah dia tunjukkan saat menyerang Mahiru dulu.
Wujud
jubah yang sebelumnya tampak seperti kain rombeng berubah, peran yang
dimainkannya berganti, dan bertransformasi menjadi baju zirah perak yang
berkilau. Dengan perisai besar yang ukurannya melampaui tubuhnya sendiri, dia
menghalau serangan api itu sepenuhnya.
“Ha,
cuma segini? Katanya ini duel maut antara kita, ayo buat suasana jadi lebih
panas!”
Layla
yang didera kegelisahan segera menggunakan permatanya satu per satu untuk
merapal sihir secara bertubi-tubi, namun Petrie berhasil menangkis dan
menghalau semuanya. Mahiru bisa merasakan tekad yang membara, bahkan jika Petrie
harus gugur dalam pertarungan ini sekalipun.
“Pergilah,
Mahiru!”
Mahiru
tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Petrie.
Dia
berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk segera meninggalkan medan pertarungan.
*
* *
Mahiru
berlari kesana kemari di dalam istana dengan panik, namun dia belum menemukan
petunjuk apa pun. Dia mengira tubuh Layla pasti ada di fasilitas bawah tanah.
Namun, di lorong kiri hanya ada sel penjara yang sudah tidak terpakai.
Jika
ada pintu rahasia lain dengan mekanisme serupa, tamatlah riwayatnya.
Tidak, Layla itu tampak gelisah
saat menyadari tujuanku. Jika dia bersembunyi di tempat yang mustahil
ditemukan, dia tidak akan bereaksi seperti itu.
Pikirkan,
ayo berpikir, Misora Mahiru.
Musik
klasik yang terdengar dari kejauhan sudah sepenuhnya menyuarakan suasana
penutupan.
Keringat
membasahi telapak tangannya, dan pikirannya tidak bisa fokus dengan baik.
Pukul
11:44.
Tersisa
16 menit sebelum batas waktu berakhir.
Istana
ini terlalu luas untuk dijelajahi secara membabi buta.
Dia
merasa pemikirannya tadi tidak meleset jauh. Jika Mahiru harus menyembunyikan
tubuh Layla, itu haruslah tempat yang tidak diketahui siapa pun. Tempat yang
mampu menyembunyikan sesuatu sebesar manusia. Karena tubuh itu butuh sokongan
hidup, fasilitas yang memadai mungkin diperlukan.
Jika
merujuk pada syarat-syarat itu, tempat yang belum dia selidiki adalah...
“...Ah,
aku mungkin tahu di mana.”
Tempat
ini pasti diketahui oleh semua orang yang bekerja di istana, bahkan jika mereka
tidak tahu soal urusan sang Penyihir.
Dia
tidak perlu repot-repot mencari dengan kakinya sendiri, cukup paksa seseorang
untuk bicara.
Begitu
menaiki tangga, tepat di depannya ada seorang pelayan wanita yang mengenakan
seragam pelayan bersih tanpa kerutan. Pelayan itu terperanjat saat melihat
Mahiru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan panik.
“Beruntung
sekali. Syukurlah lawanku bukan pria kekar.”
Mahiru
berlari ke arah pelayan itu tanpa ragu.
Tanpa
mengurangi kecepatannya, dia menerjang pelayan yang ketakutan itu. Pelayan itu
jatuh terlentang, dan Mahiru langsung menindihnya. Dia melayangkan tinjunya
hingga nyaris mengenai wajah wanita itu.
“Beri
tahu aku di mana kamar Reset. Kalau menolak, kubunuh kamu.”
Inilah
tempatnya. Tempat yang paling masuk akal memenuhi kriteria tadi hanyalah kamar
pribadi sang pangeran.
Waktu
sudah hampir habis. Mahiru tidak punya kemewahan maupun kekuatan untuk memilih
cara yang halus.
Dia
baru saja berpikir untuk mematahkan beberapa jarinya jika wanita itu tidak mau
buka mulut.
“Di...
di lantai empat, kamar paling ujung... Ah, tapi, kalau ketahuan aku yang
memberi tahu, itu...”
Pelayan
itu bicara dengan suara gemetar karena ketakutan.
Mendengar
jawaban itu, Mahiru langsung bangkit dan berlari kencang.
Sambil
berlari, dia melirik jam sakunya.
Gawat.
Waktu tersisa kurang dari sepuluh menit.
“Semoga
sempat!”
Dia
menaiki tangga beralas karpet merah menyala dan sampai di lantai empat.
Entah
karena perintah Reset atau pengaruh pesta dansa, untungnya tidak ada prajurit
penjaga atau pelayan yang terlihat. Dia berlari lurus menyusuri koridor,
melewati baju zirah pajangan yang berjejer rapi. Seperti yang dikatakan pelayan
tadi, di ujung koridor terdapat pintu yang dihias dengan sangat mewah.
“Hiaaa!”
Dia
mengambil jarak, lalu melayangkan tendangan terbang dengan sekuat tenaga ke
pintu itu.
Mahiru
mengambil sebilah pedang Barat dari salah satu baju zirah pajangan dan masuk ke
dalam.
Di
sana ada tempat tidur berkelambu yang cukup untuk lima orang, serta lemari
pakaian raksasa. Ruangan itu sangat bersih tanpa setitik debu pun, dan di
setiap sudut terpajang lukisan seorang gadis berambut perak. Lukisan-lukisan
itu menggambarkan sang gadis dalam berbagai rentang usia, mulai dari lima tahun
hingga remaja akhir, dengan berbagai pose dan latar belakang.
Tidak
perlu berpikir dua kali untuk mengetahui siapa sosok dalam lukisan itu.
“Elez...”
Tidak
salah lagi. Ini adalah kamar pribadi sang pangeran sesat itu.
Di
tengah ruangan, terdapat sebuah lukisan yang tingginya setara dengan Mahiru.
Itu
adalah lukisan Elez yang sedang tersenyum sambil memegang bunga matahari.
Tapi
kenapa?
Ada
rasa janggal yang sangat mengusik.
Bukan
karena dia tidak bisa membayangkan Elez menyukai bunga, tapi... ya, bingkainya
terlalu besar untuk lukisan itu. Seolah-olah bingkai itu sudah disiapkan lebih
dulu, lalu lukisannya dipaksa masuk ke sana.
“...Jangan-jangan.”
Begitu
dia menyentuh lukisan bunga matahari itu, Grak.
Bagian
lukisan itu amblas ke dalam, lalu seluruh bingkainya terangkat ke atas seperti
tirai yang dibuka.
Mungkin
mekanismenya mirip dengan pintu menuju bawah tanah. Di baliknya terdapat ruang
kecil yang luasnya sekitar delapan tikar tatami. Di sana ada tempat tidur yang
bersih, rak berisi obat-obatan aneh, peralatan medis, dan sejenisnya,
benar-benar seperti ruang perawatan rumah sakit.
Dan
di atas tempat tidur, terbaring seorang gadis kecil berambut merah panjang.
Kulitnya pucat pasi, tulang rusuknya menonjol karena kurus, dan kakinya
mengecil karena kehilangan massa otot, seolah dia sudah lama tidak berjalan.
“Ini
Layla... ‘kan?”
Mahiru
merasa kurang yakin karena sosok ini sangat berbeda jauh dengan yang dia lihat
di penjara pada putaran ketiga.
Sosok
dalam ingatannya adalah wanita dewasa yang berisi dan menggoda, namun gadis di
hadapannya ini justru sebaliknya. Dia tampak menyedihkan, rapuh, dan
benar-benar seperti anak-anak. Namun, ciri-ciri lainnya mengarah tepat pada
sosok yang dikatakan Petrie waktu itu.
Jadi
wujud yang dulu itu hanya sihir, ah, detail kecil seperti itu tidak penting
sekarang.
Tersisa
lima menit menuju tengah malam, dia nyaris terlambat.
Petrie
bilang jiwa dan tubuh Layla saling terhubung, jadi jika raganya mati, jiwanya
pun akan sirna.
Dengan
kata lain, jika dia menghabisi tubuh ini, Elez akan terbebas dari kutukan
Layla. Soal penjelasan Elez, dia bisa mendengarkannya nanti saja.
Pertama-tama,
dia harus menyingkirkan penyihir pengganggu ini dari dunia dongeng.
Mahiru
menggenggam pedang Baratnya dengan kedua tangan, lalu menodongkannya ke leher
Layla.
“Sampai
di sini saja, penyihir keparat!”
Saat
dia mengangkat pedangnya, pada detik itu juga, rasa panas yang hebat menjalar
di lengan kirinya, dan percikan darah segar melayang di sudut matanya.
*
* *
Sebilah
tombak baja kasar menyerempet lengan kiri Mahiru.
Menahan
diri agar tidak menjatuhkan pedangnya, dia menoleh dan mendapati Elez, bukan,
Layla yang sedang mengendalikan tubuh Elez, dengan rambut perak panjang yang
berantakan.
“Hehehe,
sayang sekali ya.”
Layla
mencengkeram tengkuk Petrie yang sudah babak belur dan menyeretnya. Setiap kali
Layla menyentak lengannya dengan kasar, Petrie terengah-engah dalam kepedihan.
Entah
karena posisinya tidak menguntungkan tanpa tubuh asli, atau karena dia tidak
bisa mengerahkan kekuatan penuh melawan Layla yang merasuki tubuh Elez, yang
jelas Petrie tidak mampu menang.
“Ah,
tidak boleh. Karena kamu sudah melihat tubuhku itu, aku harus membunuhmu apa
pun yang terjadi.”
“...Sialan.”
Layla
mengubah permata menjadi pedang perak dan menerjang Mahiru.
“Seandainya
kamu sampai beberapa menit lebih awal, kamu mungkin menang. Tapi, inilah
kenyataannya.”
Mahiru
menangkis serangan sebongkah besi yang diayunkan tanpa keanggunan itu dengan
pedang Barat yang sempat dipungutnya. Dia memilih serangan jarak dekat
kemungkinan besar karena takut melukai tubuhnya sendiri yang berada di belakang
Mahiru. Meski itu sebuah keberuntungan di tengah kemalangan, Mahiru harus
berjuang sekuat tenaga hanya untuk menahan adu pedang itu. Entah karena
pengaruh sihir atau memang kekuatan fisik asli Elez yang luar biasa.
Dia
tidak punya waktu untuk bersantai.
Begitu
tengah malam tiba dan kekuatan sihir Elez meningkat, Layla akan dengan mudah
mengempaskannya, lalu menggunakan sihir itu untuk merebut kembali tubuh aslinya.
Sial, padahal sedikit lagi!
Tepat
saat itu.
Keseimbangan
Layla goyah dan kekuatan di lengan yang menggenggam pedangnya melonggar.
“Mati
saja sana, bodoh.”
Petrie
memeluk pinggang Layla erat-erat, mengunci pergerakannya dari belakang.
“Cih,
dasar bangkai bernapas...!”
Raut
wajah Layla berubah panik dan tubuhnya membeku.
Tanpa
menyia-nyiakan kesempatan itu, Mahiru melayangkan tendangan keras ke perutnya.
“Agh...!”
Berkat
bantuan Petrie, serangan itu mendarat telak tanpa ada kekuatan yang terbuang.
Layla jatuh tersungkur di sana, mengerang kesakitan dengan air liur yang
menetes.
Mahiru
segera menggenggam kembali pedangnya.
Kali ini pasti!
Dia
membidik leher tubuh Layla yang terbaring di tempat tidur dan mengayunkan
pedangnya.
“Berakhir
sudah semuanya!”
Seketika,
mata tubuh Layla yang seharusnya kosong melompong itu membelalak lebar.
Di
saat yang sama, sebuah gelombang kejut panas yang menyesakkan melesat dan
melemparkan Mahiru.
“Ugh...!”
Punggungnya
menghantam rak obat-obatan sebelum akhirnya terjatuh di sana.
Rasa
sakit yang tumpul membuat pandangannya berkunang-kunang.
Kenapa?
Seharusnya lonceng tengah malam belum berbunyi. Apakah dia gagal?
Pertanyaan
hampa itu terus berputar di kepala Mahiru.
“Menyebalkan.
Benar-benar menyebalkan. Semuanya hanya bisa mengganggu saja... Manusia di
dunia dongeng ini hanyalah bahan baku belaka di hadapanku, sang Penyihir
Bayangan!”
Layla
yang telah kembali ke tubuh aslinya merampas segenggam penuh permata dari balik
pakaian Elez, lalu melemparkannya sembarangan untuk memicu sihir. Tanpa bidikan
yang jelas, itu hanyalah penggunaan kekuatan yang membabi buta. Cahaya putih
menyilaukan yang seolah membakar retina muncul, diikuti suara ledakan yang
menggelegar. Di saat yang sama, dia merasa mendengar jeritan melengking Petrie,
namun Mahiru tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Sihir
Layla memicu ledakan raksasa yang merambat secara berantai.
Tempat
tidur hancur, dinding ruangan lenyap berkeping-keping, kaca jendela pecah,
lantai amblas, dan Mahiru merasakan tubuhnya melayang. Pandangannya tertutup
oleh api dan debu hingga tidak bisa melihat apa-apa. Meski dia berusaha
menggapai sesuatu, tangannya hanya meraup udara hampa. Dia tersungkur. Hanya
itu yang bisa disadarinya.
“Agh,
sakit...”
Beberapa
saat kemudian, sebuah guncangan hebat menghantam tubuhnya.
Menahan
rasa sakit, Mahiru memaksa dirinya bangkit, dan di depannya, pemandangan tragis
terbentang luas.
Sepertinya
dia terjatuh tepat di tengah aula pesta dansa.
Seluruh
area itu hancur lebur. Orang-orang tertimbun reruntuhan, dan genangan darah
merah merekah di mana-mana bagaikan bunga yang bermekaran. Aroma daging yang
hangus menyengat. Bau kematian dan amis darah memenuhi udara, terasa seolah
bisa merontokkan hidung.
Di
puncak tumpukan reruntuhan yang tinggi, sosok Layla tampak melayang dengan kaki
menjuntai seperti patung hiasan di haluan kapal. Mata lembayungnya berkilat
aneh saat dia memandang rendah lautan darah dan gunung mayat yang diciptakannya
sendiri.
“Kehehe,
heheh heh, ahahahaha!”
Seolah
menyahuti tawa melengking Layla, dentang lonceng penanda tengah malam berbunyi.
Bagi Mahiru, suara itu terdengar seperti jeritan yang mengabarkan keputusasaan.
*
* *
Begitu
debu mereda, kesadaran Mahiru pun mulai kembali jernih.
Mengapa
dia bisa selamat meski terkena ledakan dari jarak sedekat itu, jawabannya
terpampang nyata pada sosok gadis di hadapannya yang kini terengah-engah dalam
kondisi babak belur.
Petrie,
yang mengenakan zirah putih murni dan membawa perisai besar, telah melindungi
Mahiru dan Elez.
Seolah
seluruh sisa sihirnya telah diperas habis, zirah Petrie mulai luruh menjadi
partikel dan menghilang. Gadis itu terduduk lemas, dan Mahiru bergegas
menopangnya. Elez tampak benar-benar dirundung keputusasaan; mulutnya
ternganga, mencoba berucap, namun tidak ada satu pun suara bermakna yang keluar
dari sana.
Saat
Mahiru mendongak, dia melihat Layla sedang membabi buta melepaskan sihirnya.
Aula
itu telah berubah menjadi neraka jahanam yang dipenuhi jerit tangis.
Para
gadis bergaun indah yang tadinya terbuai oleh sisa-sisa pesta dansa kini
berlarian menyelamatkan diri. Layla mengejar mereka dengan penuh kegirangan,
mengubah bagian tubuh atau seluruh raga mereka menjadi permata.
Reruntuhan
bangunan yang menumpuk telah menutup pintu keluar dengan sempurna, mengubah
aula itu menjadi lahan perburuan yang dipenuhi keputusasaan.
Pandangan
Mahiru beralih ke samping, melihat Reset berjalan terhuyung-huyung sambil
memegangi lengan kirinya yang tampak kesakitan.
Jangan-jangan!
Ketika pikiran itu melintas, Mahiru mengedarkan pandangan dan menemukan Licht
terkapar telentang bersimbah darah. Mahiru bergegas menghampiri dan mengangkat
tubuhnya. Lengan kiri Licht putus dari siku ke bawah, dan sebuah lubang
menganga di perutnya.
“Maafkan
aku, maafkan aku... Seharusnya aku menghentikannya, Reset...” gumam Licht meracau.
Cahaya di matanya telah sirna, dan suaranya yang serak perlahan kehilangan
kekuatan. Tubuh itu terasa sangat berat, seolah seluruh semangat hidupnya telah
menguap begitu saja.
“Keparat!”
Situasinya
benar-benar buruk.
Dia
menatap Layla dengan raut wajah pahit saat melihat wanita itu mengubah
orang-orang menjadi permata lalu meledakkannya dengan sihir.
Mahiru
kembali ke sisi Petrie, namun pengguna sihir itu sudah hancur lebur, sementara Elez
tampak seperti tubuh yang kehilangan jiwa.
“Seharusnya
belum waktunya...!”
Suara
lonceng baru bergema setelah Layla menggunakan sihir untuk meledakkan istana.
Mahiru
sempat tiba tepat waktu. Seharusnya dia berhasil...
“Dia
pasti memaksakan diri untuk kembali meski tubuhya belum pulih benar. Tapi
penyihir keparat itu sama sekali tidak terlihat lelah,” ujar Petrie sambil
bangkit berdiri dengan goyah dan meludahkan darah.
Apakah semuanya akan berakhir di
sini? Seperti kata Petrie, jika Layla sudah mendapatkan kembali tubuhnya,
apakah benar-benar tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan?
Mahiru
mengatupkan rahangnya kuat-kuat, tidak mampu membayangkan cara untuk
mengalahkan Layla.
“Poin yang menunjukkan kemalangan
sang protagonis dalam cerita Cinderella yang kamu ketahui. Diberi sihir oleh
penyihir, pergi ke pesta dansa, lalu dipikat oleh pangeran. Coba selaraskan
alur cerita itu dengan dunia yang sekarang.”
Kata-kata
si Gembala terlintas di benaknya.
Bahwa
akhir yang benar bagi Cinderella adalah saat Elez menjadi malang. Bahwa akhir
yang sekilas terlihat seperti akhir yang buruk itulah yang sebenarnya merupakan
True Ending.
Mahiru
menopang Petrie dan menatap Elez yang tubuhnya gemetar hebat.
Dia
mengepalkan tangan, lalu menggelengkan kepala seolah ingin menepis segala
keraguan dalam dirinya.
Tidak, itu salah. Bukan begitu
seharusnya!
Di
dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang hidupnya dihancurkan oleh sang Penyihir.
Elez hanya mendambakan kehidupan yang damai bersama Petrie.
Bukankah
Cinderella Story, sebuah kisah tentang si Upik Abu yang meraih kebahagiaannya
sendiri, adalah esensi sebenarnya dari cerita ini?
“Ayo
berjuang, Elez! Bukannya kamu terus berlatih pedang selama ini demi saat-saat
seperti sekarang!?”
Mahiru
mengguncang bahu Elez, lalu melemparkan tatapan benci ke arah Layla.
“Penyihir
Layla. Dialah pelaku yang memojokkan dan membunuh ibumu. Dia mengubah
orang-orang menjadi permata dan menyebarkan kegilaan. Dialah akar dari segala
kejahatan ini. Aku akan membantumu, jadi...”
“...Tidak
mungkin.”
Namun,
yang kembali dari bibir Elez hanyalah sepatah kata yang tidak bertenaga.
Dengan
wajah yang tampak seperti akan menangis kapan saja, Elez mengutarakan
keputusasaannya.
Tidak
mungkin? Apa yang dia katakan? Di depannya ada musuh bebuyutannya, ada ibunya
yang sekarat, dan kata pertama yang keluar adalah tidak mungkin?
“Akhir
seperti ini... ini bukan akhir yang aku inginkan.”
“Musuhmu
ada di depan mata!”
“Apa
yang kamu tahu tentang perasaanku!? Layla adalah satu-satunya temanku! Meski
aku curiga ada alasan tertentu, aku tetap mencoba percaya padanya... Tapi
ternyata sejak awal, sejak awal aku hanya dimanfaatkan!”
“...!”
Ibunya
meninggal, dan Elez diadopsi oleh keluarga Cendrillon sendirian.
Dikelilingi
oleh ibu angkat yang kejam dan dua kakak angkat, tidak ada seorang pun yang
berada di pihak Elez.
Dia
ditindas di saat luka atas kematian ibunya belum kering, dan dipaksa menjalani
hidup yang sangat berat.
Di
saat itulah, dia mendapatkan teman satu-satunya; jiwa lain yang bersemayam di
dalam tubuhnya, Layla.
“Memangnya
apa salahku!? Aku tidak meminta sesuatu yang istimewa, ‘kan!? Ibu dibunuh, dan
setiap hari aku ditindas ibu angkat dan kakak-kakak angkatku! Hidupku seperti
sampah! Selama ini aku hanya berpikir untuk membalas dendam... dan ternyata
pelakunya adalah Layla? Apa-apaan semua ini!?”
Elez
bukanlah seorang pendendam.
Namun,
tanpa tujuan yang jelas seperti balas dendam, dia mungkin tidak akan sanggup
bertahan hidup hingga hari ini. Dia menggenggam pedang sendirian, mengatupkan
gigi, dan terus berjuang. Tanpa menunjukkan kelemahan pada siapa pun, meski
hanya gertakan belaka atau apa pun alasannya, dia terus melangkah maju.
Namun,
kemalangan yang menimpa Elez terlalu bertubi-tubi.
Dia
telah menerima terlalu banyak kebencian dalam hidupnya.
Teman
satu-satunya yang terus mendukungnya sejak kematian sang ibu.
Ternyata
adalah sosok yang telah membunuh ibunya sendiri.
“Aku
sudah tidak sanggup lagi... Apa aku masih harus berjuang? Semua orang pergi
meninggalkanku. Tidak ada seorang pun yang bisa kupercayai sepenuhnya. Aku
lelah mencurigai orang lain. Lelah hidup dalam kepura-puraan. Aku sudah
berusaha... aku sudah berjuang sekuat tenaga...”
Suara
Elez perlahan melemah, dan dia pun menunduk.
Tiba-tiba,
beberapa bilah pedang melesat ke arah Elez. Serangan maut itu membelah udara,
namun Mahiru segera mendekap Elez dan menghindar di saat-saat terakhir.
Bilah-bilah itu menggores lengan dan kakinya, namun baginya itu hanyalah luka
ringan yang bisa diabaikan.
“Dasar
keparat!”
Petrie
menggunakan pedang besarnya untuk menjatuhkan pedang-pedang yang terus
berdatangan.
Dengan
sihirnya, Petrie kembali mengenakan zirahnya, bertransformasi menjadi kesatria
perak dengan pedang besar yang berdiri melindungi Mahiru dan yang lainnya.
Tampak jelas dia sedang mengerahkan sisa kekuatan terakhirnya; bahkan dari
belakang pun Mahiru bisa melihat bahunya yang kembang kempis karena sesak
napas.
Petrie
tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Elez. Melihat ekspresi wajahnya tadi,
Mahiru paham alasannya. Petrie merasa tidak punya hak untuk memanggil putri
itu.
“Hei,
Petrie...”
“Maafkan
aku. Karena aku begitu lemah, maaf!”
Mendengar
suara Petrie yang dipaksakan itu, Mahiru tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Elez
hanya terus menyembunyikan wajahnya dengan bahu yang gemetar, tanpa memberikan
jawaban.
Mahiru
merasa gemas, bahkan nyaris marah. Dia sudah tahu apa keinginan Elez. Begitu
pun dengan keinginan Petrie. Mereka berada di jarak yang cukup dekat untuk
saling bicara, namun, tidak ada kemewahan waktu untuk menengahi hubungan ibu
dan anak itu sekarang.
Layla
mengubah permata menjadi pedang dan melontarkannya bertubi-tubi. Suara ledakan
menggema, lantai terkoyak, percikan api menyambar, dan Petrie terus membalas
serangan itu. Salah langkah sedikit saja, kepala bisa melayang, ini benar-benar
sebuah medan tempur.
Layla
yang melayang tampak terbuai oleh rasa kuasa yang tidak terbatas, dia tertawa
terbahak-bahak.
Dengan
bilah-bilah baja yang menyelimutinya, bersimbah darah segar, dan berhiaskan
kegilaan, begitulah wujud mengerikan sang Penyihir itu sekarang.
“Aku
ingin menghentikan permainan rumah-rumahan itu sejak dulu. Benar-benar konyol.
Aku selalu ingin melakukan ini. Membalikkan seluruh panggung dan menghancurkannya
berkeping-keping, bukannya itu hal yang paling gila?”
Layla
membidik Mahiru dan yang lainnya sambil mendekat.
Mahiru
melirik Elez, namun gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak.
Jika
sudah begini, Mahiru harus melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Pikirkan, ayo berpikir, Misora Mahiru. Dunia ini tidak mungkin dibuat mustahil
untuk diselesaikan. Pasti ada sesuatu yang terlewat. Pasti ada celah. Pasti ada
jalan keluar.
“Menyebarkan
permata sedikit demi sedikit saja tidak cukup. Berikan lebih banyak
keputusasaan! Lebih banyak kegilaan! Dengan lipstik merah yang indah dan
memukau, mari kita berpisah dengan dunia yang terkutuk ini!”
“Cih,
dasar penyihir gila keparat.”
“Apa
yang kamu katakan? Inilah seharusnya wujud dunia yang benar!”
Layla
melepaskan permatanya dan menembakkan pedang yang tidak terhitung jumlahnya.
Pedang-pedang itu melesat membentuk lengkungan ke arah Elez, namun Petrie
kembali menangkisnya dengan pedang besar. Meski begitu, beberapa luka sayatan
baru mulai terukir di tubuh Petrie.
“Ugh...
ah, kurang ajar...”
Petrie
nyaris tidak bisa berdiri, menggunakan pedang besarnya sebagai penopang.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia hanya bertahan dengan harga diri yang
tersisa. Dia sedang mengerahkan seluruh sisa hidupnya demi melindungi putrinya.
Layla
sepertinya sudah mengincar Elez sejak tadi.
Tunggu, kenapa dia harus repot-repot
mengincar Elez yang sedang putus asa?
“Kekeke,
menghancurkan kalian hanya masalah wak...”
Layla
yang memandang rendah Mahiru dan kawan-kawannya dari langit tiba-tiba menyisir
rambutnya dengan anggun. Dengan tubuh kecilnya yang tampak tidak selaras namun
terlihat memikat, dia tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba memuntahkan darah.
Darah menetes deras dari mulut dan hidungnya.
“Eh...
kenapa?”
Penyihir
itu sendiri tampak terbelalak kebingungan.
“Kenapa...
aku berbeda dari sampah-sampah buatan ini, aku adalah sosok yang terpilih. Aku
istimewa. Aku ini spesial. Begitu indah, seperti permata, bahkan lebih dari
permata... ah, aaaah.”
Darah
menetes dari celah jemari yang menutupi wajahnya.
Layla
menatap telapak tangannya yang memerah dan wajahnya berkerut penuh kebencian.
Mahiru
menegang melihat perubahan mendadak pada Layla.
Wajah
tenangnya sirna, dan seiring dengan jiwanya yang tidak stabil, tubuhnya semakin
mengurus. Layla mencakar tubuhnya sendiri seolah berteriak melarang sesuatu
pergi. Seakan baru pertama kali melihat tubuhnya sendiri dengan jelas, dia
membelalak kaget merasakan tekstur fisiknya.
“A-Aaa...
ak-ak-ak-ak-aaaah, aku ini penyihir! Aku akan menenggelamkan dunia dalam kegilaan
dan meraih kebahagiaan!”
Layla
berteriak sambil memegangi dahinya dalam kesakitan.
“Penyihir
keparat itu... sihir yang serampangan tadi... dia benar-benar sudah memaksakan
diri.”
Jelas
sekali bahwa saat Layla merebut kembali tubuhnya, waktu belum melewati tengah
malam. Ternyata proses itu memang tidak sempurna. Belum lagi, melakukan hal
gila dengan tubuh yang sudah lama tidak digerakkan pasti akan menimbulkan efek
samping yang hebat.
Tunggu, sihir? Benar juga, ada satu
orang lagi yang punya kemungkinan untuk menandingi Layla!
Mahiru
kembali menatap Elez.
Satu-satunya
alasan mereka masih bisa bertahan melawan Layla meski hanya sekejap adalah
berkat bantuan Petrie.
Hanya
pengguna sihir yang bisa menghadapi sihir Layla secara frontal.
Dan
Layla pernah berkata bahwa dia memilih tubuh Elez karena gadis itu memiliki
kekuatan sihir.
Jika
begitu, Elez sendiri mungkin bisa menggunakan sihir. Layla menggunakan sihir
saat berada di dalam tubuh Elez. Secara teori, itu seharusnya mungkin
dilakukan.
Layla
mengincar Elez demi menyingkirkan kemungkinan sekecil apa pun itu.
Ternyata
kuncinya tetaplah Elez.
Mahiru
harus membuat Elez bangkit sekali lagi.
Karena
tokoh utama dalam dunia dongeng ini adalah Elez Cendrillon.
*
* *
Elez
merasakan pertempuran yang terjadi di hadapannya seperti kejadian di tempat
yang sangat jauh.
Sambil
menatap hampa ke arah itu, kenangan masa lalu berputar di benaknya bagaikan
lentera putar.
Ibunya
dibunuh, dia baru menyadari bahwa Layla adalah pelakunya beberapa saat yang
lalu, tetapi saat itu dia tidak tahu apa-apa dan hanya tenggelam dalam
keputusasaan.
Tidak
lama kemudian, Elez diusir dari istana.
Sepertinya
keberadaan anak selir seperti dirinya memang tidak diizinkan. Dia diberi
penjelasan panjang lebar untuk bersyukur karena tidak dibunuh, namun tidak ada
satu pun kata yang masuk ke kepalanya. Saat itulah dia baru menyadari bahwa
selama ini Petrie-lah yang menanggung semua makian, kecemburuan, dan
perundungan itu sendirian.
Padahal
asalkan ibunya hidup, itu sudah cukup baginya.
Meski
di dalam istana seperti itu, dia merasa bahagia.
Setelah
menghabiskan malam di atas tanah gang yang dingin dan keras, dia baru
benar-benar tersadar bahwa Petrie telah tiada. Elez menangis sejadi-jadinya,
seolah-olah baru pertama kali melihat dunia yang sebenarnya.
Kemudian,
dia dipungut oleh seseorang bernama Ryzen Cendrillon.
Sampai
sekarang pun dia tidak tahu alasan pria itu memungutnya. Pria itu tidak ramah,
jarang berbicara, dan terkadang hanya menatapnya dengan ekspresi rumit sambil
bertanya apakah dia baik-baik saja. Elez tidak pernah mengerti maksudnya.
Sejak
saat itu, hari-hari bagaikan neraka dimulai.
Entah
kenapa ibu angkatnya sangat membencinya, dan entah karena hal itu menular ke
anak-anaknya atau memang karena mereka tidak menyukainya, kedua kakak angkatnya
terus merundungnya.
Ibunya
sudah tidak ada.
Tidak
ada seorang pun yang memihak Elez.
Merasa
kesepian, tersiksa, berat, dan sedih, dia hanya bisa menangis diam-diam
sendirian.
Malam-malam
seperti itu terus berulang hingga dia sempat berpikir untuk mengakhiri hidup,
namun dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk itu. Saat dia menodongkan
pisau ke lehernya sendiri, tepat di saat-saat terakhir, muncul sebuah benih
keinginan yang disebut insting untuk bertahan hidup, daripada mati sia-sia...
“Benar,
bunuh saja mereka, Elez.”
Sebuah
suara terdengar dari dalam dirinya.
“Kamu
harus merebut kembali apa yang telah dirampas darimu. Bukannya begitu, Elez?”
Itu
adalah suara yang manis dan melumpuhkan, seolah melilitnya dengan lekat.
Sejak
saat kematian Petrie, dia memang merasa ada sosok lain di dalam dirinya. Dia baru
bisa berkomunikasi dengan jelas setelah beberapa lama tinggal di kediaman
Cendrillon.
“Pembunuh
ibumu ada di keluarga kerajaan. Benar-benar tidak termaafkan, bukan? Pasti
menyakitkan. Hatimu tidak akan pernah tenang sampai kamu membalaskan dendam
itu. Ayo, ayunkan pedangmu, Elez.”
Jiwa
yang satu lagi itu menyebut dirinya Layla.
Layla
berbisik seolah sedang mengutuknya.
Jika
dipikirkan sekarang, memang banyak kejanggalan.
Namun
saat itu, hanya Layla yang bisa diandalkan oleh Elez.
Dia
pun memutuskan untuk hidup demi membalaskan dendam ibunya.
Dia
menyelidiki segala hal tentang istana secara mandiri, dan sisa waktunya dia
habiskan untuk berlatih pedang.
Setelah
memiliki tujuan, Elez merasa hidupnya seolah-olah memiliki arti.
Dia
mengayunkan pedang untuk mengusir kecemasan.
Dia
mengayunkan pedang untuk membuang kelemahan.
Dia
mengayunkan pedang seolah tidak mengenal rasa sedih.
Layla
selalu memberikan kata-kata yang dia inginkan di saat yang tepat.
Terkadang
Layla menyemangatinya, memarahinya, atau sekadar berbincang tentang hal-hal
sepele. Karena Layla selalu mendampinginya, dia tidak lagi menangis di malam
hari yang sepi. Tanpa disadari, mereka menjadi sangat akrab, dan Elez mengira dia
akhirnya menemukan sosok yang bisa disebut sahabat untuk pertama kalinya dalam
hidupnya.
Namun,
itu pun hanya salah paham.
Layla
hanya memanfaatkan Elez dan tidak merasakan sedikit pun ikatan persahabatan.
Selama
ini, Elez sudah berjuang sekuat tenaga untuk tetap melangkah maju.
Benar,
Elez telah berjuang sendirian.
Namun,
kini dia sudah merasa lelah.
“Maafkan
aku... Maafkan aku, Ibu.”
Dia
bersusah payah untuk membalaskan dendam Petrie, namun mengetahui bahwa musuh
bebuyutannya adalah orang yang dia anggap satu-satunya sahabat merupakan mimpi
buruk yang mengerikan. Dia terus membakar amarahnya karena tidak bisa memaafkan
pembunuh ibunya, namun setelah tahu bahwa pelakunya adalah Layla, dia tidak
tahu lagi harus berbuat apa.
Selama
ini dia berusaha untuk tidak memikirkannya.
Namun,
sekali saja emosi itu meluap, dia tidak bisa menghentikannya.
Mengapa
hanya dia yang harus mengalami hal seperti ini?
Apa
salahnya?
Padahal
dia hanya ingin menjalani kehidupan yang normal.
Asalkan
ibunya tetap hidup, itu sudah cukup baginya.
Seandainya
dia bisa hidup bersama ibunya di luar istana, itu saja sudah cukup.
Dia
ingin seseorang menolongnya.
Dia
ingin dibebaskan dari neraka yang perlahan-lahan mencekiknya ini.
Ah,
ternyata di akhir masih ada satu orang lagi yang sepertinya bisa menjadi temannya.
Apa
Mahiru akan menolongnya?
Tiba-tiba
dia kembali ke kenyataan, melihat tragedi yang membentang di hadapannya, dan
melihat sosok Mahiru yang sedang menuju ke arahnya.
Dia
mengulurkan tangannya perlahan, memohon bantuan.
Namun,
pemuda itu justru melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Elez.
“Jangan
berlagak seperti protagonis dalam tragedi! Dasar bodooooooh!”
*
* *
“Sama
sekali tidak cocok untukmu! Beraninya kamu menyerah begitu saja dan mencoba
mencari jalan pintas untuk merasa tenang!”
“Ha...
haha... Apa-apaan kamu? Kamu juga ingin memojokkanku?”
Elez
memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya.
Sorot
matanya seolah meneriakkan bahwa dia baru saja dikhianati dan dibuang.
“Ya,
benar! Memangnya siapa yang sudi menolong orang peragu sepertimu? Aku tidak
sudi, begitu pun orang lain!”
Mahiru
merenungkan kembali dongeng tentang Cinderella.
Namun,
dia tidak pernah benar-benar memahami Cinderella.
Itu
semata-mata karena kehendak diri sang gadis tidak pernah terlihat dalam cerita
tersebut.
Cinderella
yang ditindas ibu angkat dan kedua kakak angkatnya, lalu tiba-tiba muncul
seorang penyihir yang memberinya sihir agar dia bisa pergi ke pesta dansa
dambaan. Akhirnya, dia pun dipikat oleh pangeran dan hidup bahagia selamanya.
Lantas,
di mana letak keinginan Cinderella?
Pangerannya
pun sama saja. Apa cerita itu hanya ingin bilang bahwa penampilan adalah
segalanya? Meski sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat pesta dansa, si
pangeran tetap tidak mengenali Cinderella saat gadis itu mengenakan pakaian
kumal. Benar-benar pria yang hanya mementingkan rupa.
Ah,
menjengkelkan. Semuanya benar-benar memuakkan.
“Apa
kamu pikir orang yang mendekatimu dengan lembut saat kamu sedang lemah itu
berniat menyelamatkanmu karena niat baik semata!? Salah! Kamu sebenarnya tahu
itu, ‘kan!?”
Mahiru
memahami perasaan Elez seolah itu adalah perasaannya sendiri. Siapa pun pasti
pernah berada di titik terlemah. Siapa pun bisa saja ditimpa ketidakadilan yang
tidak masuk akal.
Di
saat seperti itulah muncul keinginan untuk diselamatkan seseorang dari neraka
tersebut.
Mahiru
pun pernah merasakannya.
Saat
Asahi menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan orang tua mereka bunuh
diri. Mahiru harus menanggung biaya rumah sakit Asahi. Sebagai siswa SMP saat
itu, mustahil baginya untuk mencari uang dalam jumlah besar dengan cara yang
benar, dan dia pun mengalami banyak hal mengerikan.
Sudah
tidak terhitung berapa kali hatinya nyaris hancur. Setiap kali itu pula, pasti
ada seseorang yang mengulurkan tangan, dan sudah tidak terhitung berapa kali dia
dikhianati. Berkali-kali dimanfaatkan, lalu dibuang seperti kain pel yang
kotor.
Elez
pun seharusnya menyadari hal itu.
Pada
putaran pertama, kakak-kakak angkatnya mendekatinya dengan janji akan membawanya
ke pesta dansa, namun mereka justru membuat Elez membunuh Mahiru dan
mengingkari janji tersebut. Pada putaran ketiga, Elez memihak Reset karena pria
itu mengaku tahu siapa pembunuh ibunya. Namun, setelah rahasia Layla terungkap
sekarang, bisa dibayangkan bagaimana akhir dari pilihan itu.
“...Berisik.”
Dan
sekarang, Elez sedang mencoba bergantung pada Mahiru.
Itu
bukan kehendak Elez; dia hanya mengibaskan ekor pada cahaya semu di depan
matanya yang tampak seperti harapan. Dia tidak memilih, dia hanya dipaksa untuk
memilih.
“Isinya
hanya orang-orang yang ingin memanfaatkan kelemahanmu! Betapa konyolnya dirimu,
Elez, begitu mudahnya percaya orang lain! Bisa saja aku ini bajingan yang memanfaatkanmu
untuk mendapatkan banyak uang!”
“Apa-apaan!?
Kenapa keinginanku untuk ditolong seseorang harus kamu anggap sebagai sesuatu
yang jahat! Aku sudah berjuang sekuat tenaga! Bukannya aku layak mendapatkan
imbalan? Atas dasar apa kamu terus-terusan menyalahkanku!?”
Ah,
dugaannya benar.
Elez
sangat mirip dengan Mahiru yang dulu.
Karena
tidak bisa menerima kenyataan pahit, Mahiru pun selalu berharap ada seseorang
yang akan menolongnya. Dia pernah berpikir bahwa karena dia sudah bekerja
sekeras ini, pasti akan ada orang yang datang menyelamatkannya.
Namun,
orang-orang yang mendekat saat itu hanyalah orang jahat. Begitu pun orang tua
Mahiru yang tertipu dukun palsu saat sudah tidak punya pegangan lagi.
Setelah
mengalami banyak kepahitan, Mahiru akhirnya sadar, siapa pun yang lemah akan
dirampas segalanya.
Meski
dia sudah berusaha waspada, pada akhirnya dia tetap tertipu dengan mudahnya
kali ini. Hal itu akan terus terukir dalam hatinya.
“Jangan
buat aku tertawa dengan dalih sudah berjuang sementara kamu hanya pasrah
menerima kemalangan!”
“Habisnya
mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu cara berteman, aku tidak pernah diajari
bahwa aku boleh bersandar pada orang lain! Aku sudah meronta sebisaku! Dan
hasilnya adalah ini!”
Elez
berteriak dengan air mata yang menggenang, lalu mulai terisak.
“Meronta?
Jangan seenaknya menyudahi semuanya! Justru di sinilah tempatmu untuk bertahan!
Yang bisa menyelamatkanmu hanyalah dirimu sendiri! Merontalah sekarang!
Merontalah, berjuanglah, Elez!”
Sekarang
Mahiru sedikit memahami perasaan orang-orang yang pernah memerasnya.
Ingin
diselamatkan, ingin ditolong, ingin seseorang mengulurkan tangan. Merampas
segalanya dari orang malang yang mengumumkan kelemahannya dengan cara
mengibaskan ekor seperti itu pasti semudah membalikkan telapak tangan.
“Di
dasar neraka ini, kamu sendirian! Yang bisa keluar dari sana hanyalah kamu
dengan kekuatanmu sendiri! Siapa yang sudi menolong orang yang hanya diam di
tempat seperti itu! Sadarlah!”
Mahiru
tahu betul kata-kata apa yang ingin didengar oleh Elez. Justru karena itulah, dia
tidak akan pernah mengucapkannya.
“Aku
tahu, aku mengerti... tapi sendirian itu menyakitkan...”
Elez
memasang wajah putus asa seolah-olah dialah orang paling malang di dunia.
Dia
benar-benar mirip dengan Mahiru yang dulu. Lemah, tidak tertolong, dan bahkan
tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Mungkin
karena itulah Mahiru merasa sangat jengkel.
Dan
mungkin karena itu pula dia merasa ingin mengulurkan tangan.
Jika
dia hanya menanggung penderitaan itu sebagai ganti Elez, gadis itu tidak akan
pernah selamat. Mahiru tahu hal itu lebih baik dari siapa pun.
“Aku
bilang pilih dengan kehendakmu sendiri! Jangan hanya mengikuti arus dan mencoba
mengambil jalan termudah dari pilihan yang diberikan padamu!”
Petrie
berkata bahwa dia tidak ingin Elez menderita.
Namun,
seperti halnya seorang ibu yang memiliki keinginan untuk anaknya, Elez sebagai
seorang putri pun pasti memiliki perasaan yang ingin dia tunjukkan.
“Apa
keinginanmu yang sebenarnya, Elez! Apakah membalas dendam pada pembunuh ibumu!?
Apa kamu akan puas bagaimana pun akhirnya asalkan pembunuhnya mati!? Itu bukan
keinginanmu, ‘kan? Aku sudah mendengarnya langsung darimu! Jawab, Elez!”
“Tapi,
Ibu... sudah...”
Sambil
menahan rasa sakit, Mahiru menatap Layla yang sedang mengamuk melepaskan sihir
secara membabi buta.
Para
bangsawan yang datang ke pesta dansa berlarian panik. Mereka satu per satu
berubah menjadi permata atau tewas tertusuk pedang. Aula itu bersimbah darah.
Harmoni sumbang dari jeritan dan denting senjata bergema. Api merah berkobar,
benar-benar menyerupai neraka.
Di
tengah semua itu, Petrie sedang bertarung mempertaruhkan nyawa.
Menggunakan
pedang besarnya, dia menangkis pedang-pedang yang dilontarkan Layla demi
melindungi orang-orang.
Meski
keringat bercucuran dan memuntahkan darah, dia tidak menyerah, memeras setiap
tetes sihirnya untuk terus bertarung.
Elez
mengikuti arah pandangan Mahiru dan menangkap pemandangan itu.
“Apa
Petrie yang sedang bertarung di depanmu itu hanya khayalan? Apa dia palsu?”
“Itu...”
“Ibuku
sudah mati dan aku bahkan tidak bisa lagi bertukar kata dengannya. Tapi kamu
berbeda, Elez.”
Mendengar
ucapan Mahiru, Elez tersentak dan mendongak.
Di
dasar matanya, sisa-sisa api yang nyaris padam kembali berkobar.
“...Benar.
Selama ini aku mengira dia sudah tiada.”
Elez
mengepalkan tangannya dan berucap dengan nada penuh penekanan.
“Jika
aku bisa bertemu dengannya sekali lagi, apa yang harus kukatakan... Aku sudah
memikirkannya lebih sering daripada jumlah malam yang telah kulewati.”
Sama
saja. Mahiru pun merasakan hal yang sama.
Terkadang
pikiran negatif melintas di benaknya. Hidupnya penuh dengan penyesalan. Dia pun
sering memusingkan hal-hal yang sudah tidak bisa diubah lagi. Sambil berpikir
bahwa hal itu terasa seperti kutukan, dia pasti belum bisa melepaskan diri
sepenuhnya.
Seandainya
dia bisa berbicara kembali dengan orang tuanya, apa yang ingin dia sampaikan?
Ingin
hidup damai bersama ibu. Itu pun bukan sebuah kebohongan. Namun, Elez menyadari
bahwa hal itu takkan mungkin terwujud lagi. Jika masih ada satu keinginan yang
bisa dikabulkan sekarang, itu adalah....
“Aku
yakin Ibu sangat mengkhawatirkanku.”
“Ya.”
Sebab
Petrie bahkan bertarung demi Elez meski dia kini hanyalah roh.
Petrie
pun memendam penyesalannya sendiri dan terus melawan sendirian dengan cara yang
sama.
“Aku
belum sempat membalas budinya sedikit pun. Sejujurnya, aku ingin kami hidup
damai bersama. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin. Setidaknya, bagi Ibu yang
selalu melindungiku, aku ingin menunjukkan sisi kerenku untuk terakhir
kalinya.”
“Ya.”
“Apa
yang kamu katakan itu benar, Mahiru. Ibu memang sudah meninggal, tapi kami
masih bisa berbicara. Dia selalu menjagaku. Jika aku terus meratapi nasib
seperti ini, rasanya benar-benar memalukan.”
Benar.
Elez tidak sepenuhnya terpisah dari Petrie.
Petrie
memperhatikan Elez. Elez memperhatikan Petrie.
Mereka
bisa saling bertukar kata. Dia bisa menunjukkan kehendak hatinya.
Pasti
ada sesuatu yang ingin Elez sampaikan sejak lama. Mahiru pun berpikir demikian.
Sebab, bagi seorang ibu yang akan pergi, tidak banyak hal yang bisa diberikan
oleh seorang anak...
“Aku
ingin menunjukkan betapa besarnya aku telah tumbuh. Aku ingin dia merasa tenang
dan yakin bahwa aku sudah baik-baik saja.”
Elez
mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu memejamkan mata.
“Kalau
aku terus menangis sesenggukan begini, hal itu tidak akan pernah terwujud!”
Dia
menyeka air matanya dan bangkit berdiri. Dia memaksakan diri untuk tersenyum
dan mengeraskan suaranya.
Kemudian,
dengan tekad yang bulat, dia mengulurkan tangannya kepada Mahiru.
“Tapi,
meskipun terlihat begini, aku tidak sekuat dirimu. Jadi, tolong pinjamkan
kekuatanmu padaku. Ini bukan karena aku dipaksa memilih.”
“...Elez.”
“Kalau
bersamamu, kurasa aku bisa berjuang sedikit lebih lama lagi. Sebagai teman yang
setara, aku ingin meminjam kekuatanmu, Mahiru.”
“Tentu
saja!”
Mahiru
menjabat tangan Elez dengan erat.
Keduanya
menatap Layla yang melayang di atas tumpukan reruntuhan, memantapkan tekad
mereka sekali lagi.
“Petrie!
Tukar!”
Petrie
menoleh dengan wajah heran saat Mahiru menghampirinya di tengah gempuran Layla.
Tubuhnya
sudah babak belur, seharusnya dia sudah lama melewati batas kekuatannya, namun
sepasang matanya masih memancarkan semangat yang berkobar.
“Memangnya
kamu sanggup menghadapi Penyihir itu sendirian?”
“Ini
bukan soal sanggup atau tidak. Ini satu-satunya cara. Kumohon, ajari Elez
sihir.”
Mendengar
itu, kerutan di dahi Petrie semakin dalam.
“Kamu
bilang akan membunuhku kalau aku gagal menyelamatkan Elez, ‘kan? Aku berdiri di
sini justru agar Elez tidak perlu bertarung, dasar bodoh!”
“Anak-anak
itu tumbuh dewasa. Sama seperti orang tua yang mengkhawatirkan anaknya, kami
pun punya perasaan yang ingin kami tunjukkan pada kalian.”
Petrie
sempat bimbang sejenak, namun dia menggelengkan kepala.
Tangannya
yang mencengkeram pedang besar yang tertancap di tanah tampak gemetar. Dia mengertakkan
gigi seolah meratapi sesuatu. Dia menatap Layla yang kini menjadi penyihir
mengerikan, lalu menatap putri tercintanya, Elez, sebelum akhirnya membuka
suara.
“Tidak
bisa. Sebagai orang tua, ada hal yang tidak bisa kutoleransi. Aku belum
memberikan apa pun untuk Elez... Jika aku mundur sekarang, aku benar-benar ibu
yang gagal.”
Tekadnya
tampak sangat kuat.
Mahiru
mengerti perasaan itu. Petrie telah berjuang sendirian demi melindungi Elez.
menantang Layla dengan keberanian maut, menganggap ini sebagai tugas
terakhirnya sebagai seorang ibu.
Namun,
Mahiru tetap berpihak pada perasaan Elez sebagai seorang anak.
“Ibu
bukan ibu yang gagal!”
Elez
merangsek maju melewati Mahiru dan berteriak.
Keraguan
yang tadi menyelimutinya telah sirna, berganti dengan wibawa seorang kesatria
yang telah memantapkan hati.
“Aku
tahu semuanya. Saat aku kecil, Ibu melindungiku dari orang-orang istana keparat
itu. Ibu bertarung melawan Layla, bahkan setelah mati pun Ibu masih terus melawan...
Itu semua demi aku, ‘kan?”
“...Benar.
Kalau kamu sudah paham, pergilah dari sini.”
Petrie
menjawab dengan nada berat setelah terdiam sejenak.
Tekadnya
tetap teguh, dia sama sekali tidak berniat menyerah.
Melihat
hal itu, Elez menggaruk kepalanya dengan kesal, seolah ingin memprotes ibunya
yang keras kepala.
“Ibu
tahu! Sekarang aku sudah bisa makan wortel!”
“Hah...
apa?”
Petrie
mengeluarkan suara bodoh karena tidak mengerti maksud dari ucapan mendadak itu.
“Aku
juga jago memasak. Tidak seperti Ibu yang payah dalam urusan dapur.”
“O-Oh...”
“Lagipula,
aku terus berlatih pedang selama ini. Aku yakin sekarang aku lebih kuat dari
Ibu!”
“Enak
saja... aku juga belum kalah, tahu! Aku tahu betul semua kebiasaanmu dalam
bertarung. Masih terlalu dini seratus tahun bagimu untuk bisa menang dariku!”
Petrie
akhirnya terpancing untuk membalas ucapan Elez yang terus mendesaknya.
“Kalau
begitu, mau coba tanding sekarang? Karena tubuh Ibu sudah mengecil, aku akan
memberi Ibu kompensasi. Keuntungan buat Ibu!”
“Tidak
butuh! Malah tubuh kecil ini yang memberimu keuntungan, dasar bodoh!”
“Baiklah
kalau begitu, akan kuhajar Ibu sampai babak belur! Sekalian kubalas semua latihan
keras yang Ibu berikan dulu!”
Meski
baru kembali berbicara setelah sekian lama, suasana hangat yang mencerminkan
hubungan ibu dan anak mengalir di antara mereka.
Walaupun
jika dilihat sekilas, interaksi mereka terasa sedikit lebih kasar daripada
hubungan orang tua dan anak pada umumnya...
Elez
membuat gerakan seperti akan mengayunkan pedang, lalu ekspresi wajahnya melunak
sejenak seolah sedang mengenang masa lalu.
“Kumohon,
Ibu. Ajari aku sihir.”
Setelah
melirik ke arah Layla, Elez mengucapkannya dengan nada suara yang penuh
kekuatan.
“...Elez.”
Petrie
tertegun sejenak.
Suara
hantaman keras terdengar. Serpihan batu melesat dan menggores lengan Mahiru.
Gempuran
membabi buta dari Layla sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Para bangsawan berlarian panik di dalam istana. Layla seolah sedang menikmati
perburuan; dia menggunakan kekuatannya secara serampangan untuk mengubah
orang-orang menjadi permata, lalu menggunakan permata itu untuk merapalkan
sihir. Mungkin karena kondisi mentalnya yang tidak stabil, dia tidak fokus
menyerang Mahiru dan yang lainnya. Dua tampak sedang mengamuk kehilangan
kendali.
“Maaf
sudah membuat Ibu khawatir. Tapi sekarang, aku sudah tidak apa-apa.”
Elez
mengucapkannya seolah sedang menenangkan.
“Aku
ini putrinya Ibu, jadi aku pasti akan baik-baik saja.”
Selama
ini Petrie pasti terus mengawasi Elez.
Dia
melihat Elez yang ditindas dengan tidak adil di kediaman Cendrillon.
Dia
melihat Elez yang mengayunkan pedang dengan amarah yang membara. Dia melihat Elez
yang bertahan hidup dengan segala kepura-puraannya.
Petrie
pasti tahu bahwa sebenarnya Elez merasa kesepian dan sering menangis sendirian
di tengah malam.
Karena
itulah, dia bisa memahami betapa berat beban dari kata-kata Elez.
Apakah
itu sekadar gertakan, kenyataan, atau rasa pesimis, Petrie pasti lebih paham
daripada Mahiru.
Mahiru
yakin seorang ibu tidak akan mungkin mengabaikan hal itu.
“Ah,
sial, baiklah! Lagipula kalau dibiarkan begini, kita semua akan hancur lebur.
Dan kalau aku tidak percaya pada putriku sendiri, itu baru namanya ibu yang
gagal. Hei, Mahiru...”
Petrie
menggaruk rambut peraknya dengan kasar dan berucap dengan nada sedikit pasrah.
Kemudian,
dia mengambil sebuah kalung dari balik pakaiannya dan melemparkannya kepada
Mahiru.
“Ambil
ini!”
Mahiru
menangkap kalung itu dengan sedikit kikuk. Itu adalah sebuah perhiasan dengan
tiga buah kristal biru yang tertanam di sana. Kata “alat sihir” langsung
terlintas di kepala Mahiru.
Melihat
Mahiru yang kebingungan, Petrie mengangkat tiga jarinya.
“Tiga
kali. Benda itu akan menanggung luka fatalmu sampai tiga kali. Jangan mati,
bodoh.”
“Siap!”
Mahiru
mengenakan kalung itu, mencengkeram gunting raksasanya kuat-kuat, lalu
mendongak menatap Layla.
Layla
terus merapalkan sihir dengan liar sambil memegangi dahinya yang tampak
kesakitan, seolah sedang tantrum. Tugas Mahiru hanyalah mengulur waktu.
Mengulur waktu dengan tingkat kesulitan maksimal.
Aku harus melakukannya!
Seandainya
Layla menyerang dengan sihir yang terorganisir dengan tenang, Mahiru pasti
sudah angkat tangan. Namun untungnya, Layla sedang dalam kondisi kalap. Hal itu
disebabkan karena Mahiru berhasil menemukan tubuh aslinya sebelum tengah malam
dan mempercepat kebangkitannya yang tidak sempurna. Bagus, ternyata semua
usahanya tidak sia-sia.
Mahiru
tidak boleh membiarkan Layla mengarahkan perhatian pada Elez. Dia akan
mempertaruhkan tiga nyawa tambahannya untuk memberikan waktu bagi Elez
mempelajari sihir.
Tepat
saat Mahiru menggengam gunting raksasanya, memantapkan tujuannya...
Reset
muncul dari balik reruntuhan, memanfaatkan celah saat serangan Layla terhenti
sejenak. Kaki kirinya tampak terseret, kemungkinan terluka akibat terkena sihir
Layla. Darah menempel di beberapa bagian tubuhnya, rambutnya berantakan, dan
matanya berkilat penuh amarah.
“Sial,
sial, sial... Beraninya kamu menghancurkan istanaku sampai berantakan begini.
Apa kamu tidak tahu cara menahan diri? Ah, memikirkan apa yang harus kulakukan
setelah ini saja sudah membuatku muak.”
Melihat
Reset yang terus meracau penuh keluhan, Mahiru langsung berlari menerjang
sebelum dia sempat menyadarinya.
Mengingat
bagaimana pria itu menghasut Elez dengan kata-kata manis demi ambisinya
sendiri, mengkhianati Mahiru, dan mengeksekusinya sebagai kriminal besar di
depan rakyat... hanya dengan mengingat senyum palsu pria itu saja sudah membuat
darah Mahiru mendidih. Amarah yang nyata inilah yang menggerakkan kedua
kakinya.
“Sebelum
itu, aku harus membalas utangku padamu!”
Mahiru
melayangkan tinjunya dengan penuh amarah.
Namun,
serangan besar itu berhasil dihindari oleh Reset yang terperanjat dan memiringkan
tubuhnya.
“Kamu
rupanya... aku tidak tahu apa maksudmu, sayangnya saat ini suasana hatiku
sedang buruk!”
Reset
melangkah maju dengan cepat dan mendaratkan pukulan telak di wajah Mahiru.
Rasa
sakit yang tumpul menjalar, namun kedua kaki Mahiru tetap berpijak kokoh di
atas tanah, menahan serangan itu.
“Pukulan
yang ringan, cocok sekali dengan kepribadianmu yang dangkal, Reset!”
Mahiru
mencengkeram pergelangan tangan Reset dan menariknya mendekat. Reset mendecih
kesal dan membalas dengan memukul Mahiru berkali-kali. Otak Mahiru terasa
berguncang hebat. Meski rasa sakit yang datang bertubi-tubi menyerangnya,
kesadaran Mahiru yang dibakar amarah tetap terjaga dengan jernih.
“Lepaskan
aku! Dasar rakyat jelata yang kotor! Aku adalah calon raja berikutnya, Reset
Cinder!”
Mahiru
mencengkeram tangan yang memegang Reset lebih kuat lagi, menatap sang pangeran
dengan tajam.
“Mana
aku peduli! Alasan aku memukulmu hanyalah karena aku sangat muak, jadi aku
berniat membunuhmu sekali saja!"
Dia
mengepalkan tinju erat-erat, lalu mengayunkan lengannya lebar-lebar.
Reset
yang matanya membelalak panik mencoba memukul balik, namun rasa sakit itu kalah
oleh luapan emosi yang membara dalam diri Mahiru.
“Matilah,
pangeran brengsek!”
Mahiru
menghantamkan kepalan tangannya sekuat tenaga tepat ke wajah Reset.
“Agh!”
Gigi
Reset yang tanggal terpental ke tanah, darah mulai merembes dari sudut
mulutnya. Tampaknya satu pukulan itu cukup untuk melenyapkan nyalinya; dia
berlutut lemas dan menatap Mahiru dengan mata penuh ketakutan. Namun, Mahiru
masih belum melepaskan cengkeramannya.
“Jangan
harap ini akan berakhir semudah itu. Aku, sudah pernah kamu bunuh sekali,
tahu.”
“...K-Kamu
gila.”
Gila?
Seharusnya itu adalah kalimat Mahiru. Meminjam kekuatan Penyihir, mengubah orang-orang
menjadi permata untuk dijual, itu benar-benar perbuatan iblis.
Mahiru
kembali mengangkat tinjunya, namun gerakannya mendadak terhenti. Sesuatu yang
aneh mulai terjadi pada tubuh Reset. Matanya bergerak liar tidak menentu, lalu
keringat dalam jumlah besar mengucur deras dari tubuhnya. Tubuhnya gemetar
hebat, dan dalam sekejap wajahnya memucat pasi seolah dia menua puluhan tahun
dalam hitungan detik.
Mahiru
mengikuti arah pandangan Reset dan menoleh ke belakang. Di sana berdiri Layla
yang tampak seperti pecandu tahap akhir; dia menjambak rambut merahnya sendiri,
sementara yang mengalir dari matanya bukanlah air mata, melainkan darah.
“T-Tunggu,
Layla.”
“Apa?
Kamu mencoba memerintahku? Apa-apaan itu. Kamu pikir kita ini setara? Jangan
bercanda. Mustahil. Menjijikkan. Benci, aku sangat membencimu. Padahal kamu
cuma boneka.”
Tubuh
Reset memancarkan cahaya redup, dan pengerasan mulai merayap naik dari kakinya.
Mahiru yang menyadari bahaya segera melepaskan tangannya dari Reset.
Itu
adalah sihir pengubah tubuh manusia menjadi permata yang pasti sudah sering
dilakukan di laboratorium bawah tanah. Meski belum sempurna, penggunaan sihir
oleh Layla yang telah kembali ke tubuh aslinya memiliki kekuatan yang jauh
melampaui kristalisasi sebagian tubuh seperti yang selama ini dia lakukan dalam
tahap uji coba.
“Bagus,
‘kan? Wujud yang ini jauh lebih keren untukmu.”
Kristalisasi
pada tubuh Reset terus merambat naik dari kakinya.
“...Ah,
tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak!”
Perlahan
namun pasti, kebebasan tubuhnya dirampas seolah-olah ada sosok dari alam baka
yang sedang menariknya untuk ikut ke sana. Kristal permata itu sudah mencapai
lutut, paha, pinggang, dada, lalu merambat ke lengan yang terulur meminta
bantuan, hingga akhirnya mencapai leher, menyisakan mulutnya untuk terakhir
kali.
“Kenapa!?
Aku adalah calon raja berikutnya! Kastaku berbeda dengan rakyat jelata! Aku ini
seorang raja, kenapa aku harus... tidak, tidak, tidak, menjadi permata,
aaarrggghhh...!”
Pada
akhirnya, seluruh tubuhnya mengkristal sempurna. Wujudnya menjadi sebongkah
permata yang tampak seperti lumpur hitam keruh yang membeku.
“Mudah
sekali kamu dikalahkan. Sial, padahal aku belum puas menghajarmu.”
Mahiru
meludah dengan kesal.
Dendamnya
karena telah dikhianati dan dieksekusi di depan umum belum sepenuhnya terbalas.
Melihat bagaimana Reset menganggap orang lain sebagai benda dengan begitu
wajarnya juga sangat menjengkelkan. Dia sudah bersumpah akan membunuhnya dengan
tangannya sendiri, namun dia justru kecolongan.
Tidak,
mungkin ini adalah akhir yang cocok untuk pangeran sampah yang tidak berguna
itu.
Mahiru
menggigit bagian dalam pipinya untuk mengalihkan kesadaran. Dia menenangkan
hatinya dengan berpikir bahwa Reset hanyalah musuh kecil yang tidak layak dia
habisi secara langsung.
Selain
itu, dia harus melihat sisi positifnya; setidaknya kejadian ini memberinya
sedikit tambahan waktu untuk tujuannya. Setiap menit dan detik saat ini secara
harfiah akan mengubah masa depan.
“I-Ini
semua salahmu. Benar. Siapa kamu sebenarnya? Gara-garamu semuanya jadi
berantakan. Padahal aku hanya menjalankan peranku sebagai Penyihir.”
Perhatian
Layla kini beralih kepada Mahiru.
Permata
berjatuhan dari telapak tangannya, berubah menjadi pedang-pedang Barat yang
melesat ke arah Mahiru. Mahiru segera melompat ke samping untuk menghindar. Dia
langsung bangkit berdiri sambil tetap mengawasi Layla.
“...Eh?”
Tiba-tiba
keseimbangannya goyah.
Mahiru
menunduk saat merasakan perih yang tajam, dan melihat paha kirinya tersayat
hingga darah segar mengalir. Padahal dia yakin tadi sudah menghindar dengan
sempurna...
Dia
menatap Layla yang sedang tertawa cekikikan.
“Keparat,
lengah sedikit saja langsung tamat!”
Layla
kembali melemparkan permata, dan pedang-pedang Barat yang tidak terhitung
jumlahnya kini membidik Mahiru. Senjata-senjata itu membelah udara, melesat
secepat peluru. Mahiru memaksa tubuhnya yang sudah babak belur untuk berlari.
Suara denting logam dan ledakan terdengar silih berganti dari arah belakangnya.
Debu
beterbangan di depannya, membuatnya harus berhenti mendadak, berbelok, dan
kembali berlari sekuat tenaga.
Gawat, gawat, gawat! Sial, aku
tidak boleh berakhir di tempat seperti ini!
Layla
yang melayang di udara sulit untuk dijangkau. Karena dia terus mengubah para
bangsawan di aula menjadi permata, tampaknya dia tidak akan kehabisan amunisi
dalam waktu dekat.
Mahiru
memiliki sisa tiga nyawa, dia memang percaya diri dengan kemampuan fisiknya,
tapi itu jika dibandingkan dengan standar manusia biasa.
“Keheheheh,
ah, aaaah, tidak, tidak, benar-benar tidak menyenangkan. Sebaiknya kamu
berputus asa, menangis sejadi-jadinya, dan memohon ampunlah seperti peran
figuran yang tidak berguna. Aku akan membunuhmu tanpa menunggu sedetik pun!”
Layla
menganggap Mahiru tidak lebih dari serangga kecil yang remeh.
“Mana
mungkin aku menyerah... Sudah sampai sejauh ini, memalukan sekali kalau aku bahkan
tidak bisa mengulur waktu!”
Napasnya
mulai memburu. Tubuhnya terasa seberat timah.
Namun,
dia tahu jika dia berhenti, dia akan mati. Dengan pikiran itu, dia terus
menggerakkan kakinya sekuat tenaga.
Situasinya
hampir sama seperti saat melawan serigala di dunia Si Tudung Merah. Saat itu dia
juga dengan nekat menghadapi lawan yang memiliki kekuatan fisik luar biasa
hanya dengan tubuh manusianya. Tidak, ada yang berbeda. Tiba-tiba bayangan
seorang gadis pirang yang tersenyum jahil melintas di benaknya.
Lengah
sesaat itu berakibat fatal.
Banyak
permata yang jatuh dari tangan Layla bersinar terang. Begitu sinarnya meredup,
pedang-pedang yang terbentuk sudah berada tepat di depan matanya. Pedang yang
terbang itu tampak bergerak sangat lambat di mata Mahiru. Namun, tubuhnya
seolah kaku dan tidak bisa digerakkan.
Serangannya
akan kena, dia merasakannya lewat insting.
“Sialan...!”
Tepat
saat dia bersiap menyambut kematian, tubuh Mahiru seolah didorong kuat ke
depan.
Pedang-pedang
itu melesat melewati punggungnya, dan nyawanya pun terselamatkan.
Rasanya
seolah tubuhnya mendadak menjadi ringan, seakan ada sesuatu yang tidak kasatmata
mendorong punggungnya. Mahiru menunduk menatap guntingnya, dan dia seolah
melihat bayangan gadis pirang yang sedang menggenggam gagang gunting itu
bersama tangannya.
Mungkinkah...
tidak, meskipun itu hanya halusinasinya pun tidak apa-apa. Tubuhnya terasa
ringan secara tidak masuk akal, dan pandangannya menjadi jernih. Perasaan
seolah kemampuan fisiknya dipaksa meningkat membuat vitalitasnya meluap
kembali.
“Kalau
begini aku bisa melakukannya!”
Dia
bisa mati tiga kali. Dalam tiga nyawa itu, dia akan mengulur waktu selama
mungkin.
“Elez
akhirnya sudah memantapkan hati, kalau aku tidak bertahan di sini, semuanya
akan sia-sia.”
Mahiru
mengarahkan ujung senjatanya ke arah Layla, lalu memasang kuda-kuda guntingnya
dengan mantap.
*
* *
Kakinya
terseret, lengannya didekap, pakaiannya koyak dan bersimbah warna merah.
Benar-benar
babak belur. Petrie tampak seolah bisa tumbang kapan saja. Meski begitu, tanpa
raut kesakitan, dia justru tersenyum tenang.
“Bisa
melihat sosok putriku yang sudah dewasa itu menyenangkan juga ya. Kamu cantik
sekali mirip denganku, sialan.”
“Ibu...”
Sosok
ibu kandung yang seharusnya sudah meninggal sejak lama.
Hingga
hari ini, Elez hidup hanya untuk membalas dendam atas kematiannya.
Ada
begitu banyak hal yang ingin dia sampaikan. Tentang betapa berat hidup yang dia
jalani, keluhan karena ibunya pergi begitu saja, permintaan maaf karena sempat
bicara sombong namun akhirnya gagal melindungi sang ibu, hingga rasa sukacita
karena bisa kembali bertukar kata.
Namun,
perasaan itu terlalu meluap hingga tidak ada satu pun yang bisa terucap dengan
benar.
Begitu
Mahiru pergi, rasa canggung yang aneh membuat Elez sulit bicara.
Petrie
pun tampak merasakan hal yang sama, bibirnya bergerak-gerak kaku seolah merasa
geli.
“Yah,
aku mengerti perasaanmu, tapi sekarang kita harus melakukan apa yang perlu
dilakukan, ‘kan?”
Elez
mengikuti arah pandang Petrie dan menatap Mahiru.
Pemuda
itu sedang menghadapi Layla sembari mengayunkan gunting raksasanya dengan
gerakan yang kaku.
“Mahiru
itu anak yang baik ya. Jarang ada orang yang mau bicara sejauh itu untukmu.”
Dia
tidak bisa menggunakan sihir, kemampuan fisiknya pun tidak luar biasa. Dia
hanya pemuda biasa tanpa kekuatan spesial apa pun. Dalam duel satu lawan satu, Elez
yakin dirinya tidak akan kalah.
Namun,
Elez merasa pemuda itu adalah manusia yang jauh lebih kuat darinya.
Dia
terus berlari tanpa henti, menghindari pedang Layla, dan mempertaruhkan nyawa
demi mengulur waktu.
“Jangan berlagak seperti protagonis
dalam tragedi! Dasar bodooooooh!”
Begitu
memejamkan mata, tubuh Elez bergetar teringat kata-kata pemuda itu.
Apa
yang dikatakannya benar. Elez bukan tipe tuan putri, tapi dia sempat terbuai
dalam kemalangan, mengkhianati kepercayaan orang-orang berharga, dan mencoba
lari ke jalan yang lebih mudah. Benar-benar memalukan.
“Kamu
ingin menjawab tantangannya, ‘kan, Elez?”
Elez
mengangguk dalam-dalam menanggapi ucapan Petrie.
“Demi
berdiri sejajar dengannya, juga demi Ibu, aku tidak akan lari lagi.”
Sebenarnya
dia pun menyadarinya.
Mahiru
telah mengorek kelemahan yang selama ini tidak ingin dia akui. Pemuda itu
menyadarkannya. Meski caranya sedikit kasar, itu memang gayanya. Elez harus
mengalahkan kelemahannya sendiri di sini, karena itulah makna sebenarnya dari
pertemuan kembali dengan ibunya.
“Aku
bukan protagonis dalam tragedi. Aku adalah protagonis dalam dunia cerita ini.”
Petrie
menyunggingkan senyum yang memancarkan rasa bangga sekaligus sedikit kesepian.
Dia
meregangkan tubuh untuk memastikan kondisinya. Mengalirkan mana, lalu
mengembuskan napas. Melihat kesiapan Elez, Petrie pun memantapkan tekad dan
menepuk kedua pipinya sendiri.
“Mari
kita mulai latihan setelah sekian lama. Tapi hari ini bukan latihan pedang.”
“Aku
belum pernah menggunakan sihir. Aku tidak yakin bisa melakukannya dalam waktu
sesingkat ini...”
“Tidak,
kamu pasti bisa. Penyihir keparat itu menggunakan kekuatan sihirmu untuk
merapalkan sihirnya. Tubuhmu pasti mengingatnya. Sensasi sihir yang mengalir.
Memberi wadah pada imajinasi dalam benak, mengisinya dengan sihir, lalu mewujudkan
keajaiban. Itulah caranya.”
Elez
memiringkan kepala namun mulai mencari keberadaan sihir yang mengalir di dalam
tubuhnya.
“Tubuhku
mengingatnya...”
Rasanya
ada namun tidak ada, dia paham namun tidak paham.
Sesuatu
yang sulit digapai, terasa seperti kekeliruan, sebuah sensasi yang mengambang
lembut.
Di
sudut matanya, Mahiru masih berjuang keras. Menghadapi Layla yang terus
menyerang dari jarak jauh menggunakan permata, Mahiru berlari kesana kemari
tanpa arah yang pasti. Dia memungut perisai yang digunakan prajurit pengawal
untuk menahan serangan.
“Keheheheh...
hancurlah. Sebaiknya kalian semua hancur lebur!”
Layla
kembali merapalkan sihir. Pedang-pedang Barat melesat bertubi-tubi. Meski suara
belahan angin terdengar tajam saat pedang-pedang itu menyerang, Mahiru mencoba
bertahan menggunakan perisainya. Namun dia tidak sanggup menahannya;
pedang-pedang itu menembus perisai sekaligus tubuh Mahiru. Mahiru melepaskan
perisainya dan jatuh terguling di lantai.
“Mahiru!”
Elez
tanpa sadar berteriak.
Namun,
Mahiru segera bangkit berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ugh...
sial, sisa dua nyawa lagi!”
Liontin
yang diberikan Petrie telah menanggung luka fatal sebagai gantinya.
“Hei,
fokus, Elez. Pertama-tama, rasakan mananya.”
“Aku
tahu!”
Melihat
Mahiru yang berlari mempertaruhkan nyawa, hati Elez merasa tidak sabar.
Secara
logika dia paham. Jika benar-benar memikirkan Mahiru, dia harus segera memahami
inti dari sihir secepat mungkin. Dia memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi
berulang kali.
“Lemaskan
tubuhmu, bayangkan kamu sedang menyelam jauh ke dalam dirimu sendiri.”
Mengikuti
suara Petrie, Elez mulai melukis imajinasi di dalam dirinya.
Mencari
jati diri. Membiarkan seluruh tubuhnya meremang, dia mengarahkan kesadarannya
jauh ke dalam.
Perlahan,
dia merasa dunia sekitarnya menjauh.
“Plung. Tubuhmu tenggelam ke dalam cairan
yang sedikit lebih berat daripada air. Kamu tidak sesak napas. Itu adalah
tempat yang bebas. Segala hal untuk mewujudkan imajinasimu tersedia lengkap di
sana tanpa kurang sedikit pun.”
Melemaskan
otot. Dia merasakan panas tubuhnya. Panas yang mengalir ke seluruh tubuh. Panas
yang terasa seperti sengatan listrik. Rasanya panas ini sudah ada di sana sejak
dulu sebagai hal yang wajar. Mungkinkah ini yang disebut sihir?
Sedikit
sesak napas. Rasanya benar-benar seperti di dalam laut. Ada sensasi sulit
bernapas, dan dia pun meronta. Muncul dorongan kuat untuk keluar dari sana dan
menghirup udara dunia luar sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru.
“Tetaplah
begitu. Jangan tegang. Menyelamlah lebih dalam lagi. Itu baru permulaan.”
Elez
memberanikan diri mengikuti instruksi Petrie dan melemaskan seluruh tubuhnya
yang kaku.
Sesak.
Perih. Sakit. Mual, namun terasa nyaman.
Dia
merasa telah melewati sebuah batasan. Seketika, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Sebuah
sensasi menyambung kesadaran tipis, seperti berada di ambang terjaga dari
mimpi.
“Seluruh
tubuhmu sudah terendam. Kamu pasti sudah bisa melihatnya. Kamu sudah berulang
kali menggunakan sihir selama ini. Kau mengingat tempat itu. Nah, angkatlah
wujud imajinasimu itu.”
Namun,
di tengah sensasi seperti berada di dalam air itu, tubuhnya tidak bisa bergerak
bebas. Meski dia menggerakkan lengannya, dia tidak bisa menggapai apa pun.
Rasanya tidak sakit, tapi dia bingung harus berbuat apa, atau mungkinkah dia
hanya perlu mengikuti arusnya saja?
“......!”
Dengan
begitu, keyakinan itu datang dari seberang, begitu rupanya, ini dia.
“Puhah!
A-Aku dapat!”
Layaknya
muncul ke permukaan dari dasar laut, Elez terengah-engah mencari oksigen.
Di
dalam genggamannya, dia menggenggam kepastian dari potensi yang tertidur di
dalam dirinya.
Mengepalkan
tangan, mengalirkan sihir, membiarkannya memancar, lalu membentuk wujudnya.
Sihir
bukanlah kekuatan mahakuasa yang mampu mengabulkan segala keinginan.
Imajinasi
yang bisa ditarik keluar oleh masing-masing orang berbeda-beda, dan itu lebih
mirip seperti sihir yang memilih penggunanya. Misalnya, memberikan wujud pada
gejolak emosi seperti idealisme, trauma, atau hasrat; itulah sihir.
“Kekuatan
untuk terus melawan, bahkan setelah menatap langsung pada tragedi...”
Elez
menyematkan perasaan yang selama ini dia sembunyikan ke dalam mananya, lalu
berteriak.
“Dress
Up!”
Seketika,
cahaya meledak dari dalam tubuhnya.
Sihir
Layla terurai, seragam pelayan yang sudah compang-camping itu meleleh dan
mengambil wujud baru.
Sebuah
gaun biru yang memukau, berpadu dengan perlengkapan yang menyerupai baju zirah.
Sepatu kaca, hiasan yang mengingatkan pada buket pengantin, dan sebilah pedang
pusaka yang ketajamannya seolah bisa memutuskan jari hanya dengan satu
sentuhan, penampilannya adalah perpaduan antara seorang putri dan seorang
pendekar pedang.
Berkilau,
elegan, garang, namun indah, benar-benar seperti Cinderella sang protagonis.
“Aku
pergi dulu, Ibu.”
Tanpa
menoleh ke arah Petrie, dia menggenggam pedangnya erat-erat.
“Ya.
Berhati-hatilah, Elez.”
Pedang
Barat yang melesat dengan kecepatan tinggi menembus dada Mahiru.
Prang.
Permata dari liontin pemberian Petrie hancur.
Ini
yang ketiga kalinya. Artinya, sisa nyawa Mahiru kini nol.
“Aku
sudah tidak bisa mati lagi setelah ini.”
Dia
menyeka keringat yang mengalir di dagunya, menatap tajam ke arah Layla yang
melayang.
Sekalipun
kemampuan fisiknya telah ditingkatkan, dia tetaplah manusia dengan segala
keterbatasannya. Akibat serangan Layla yang bertubi-tubi tanpa henti, napasnya
tersengal-sengal dan tubuhnya hancur lebur seperti kain lap basah. Dia hanya
bertahan dengan mengandalkan tekad; jika terus berlanjut, rasanya tangan dan
kakinya akan putus.
“Keh
heh heh, aku mulai bosan. Hei, kamu juga ingin segera merasa tenang, ‘kan?”
Seiring
kilauan permata, panas membara yang menyesakkan dada dimuntahkan ke arahnya.
Mahiru
secara refleks menahan napas dan berlari menerobos bagian api yang tipis.
Menahan rasa sakit yang menusuk seperti jarum, dia berhasil keluar dari kobaran
api dan terengah-engah menghirup udara.
“Sayangnya,
aku belum pernah berpikir ingin mati agar bisa merasa tenang! Aku justru lebih
ingin membunuh orang-orang seperti kalian!”
“Begitu.
Benar, benar, benar, benar! Kalau begitu, matilah. Mati saja sana.”
Layla
menatap dingin Mahiru yang sedang mengaum.
Permata
bersinar lebih terang dari sebelumnya, dan pedang-pedang Barat bermunculan
bagaikan bintang yang berkilau di malam gelap. Ditarik oleh gravitasi, pedang-pedang
itu jatuh bak meteor. Masing-masing membawa daya hancur yang mematikan, melesat
mendekat dalam sekejap.
“Mana
mungkin aku mati! Aku tidak sudi mati di sini!”
Pikiran
Mahiru sangat jernih.
Dengan
refleks mata yang luar biasa, dia menangkis, membalas, dan menjatuhkan
pedang-pedang yang mengancam nyawanya.
Pedang
Barat menyerempet kakinya, mengoyak dagingnya, dan cipratan darahnya sendiri
terlihat di sudut matanya. Meski begitu, dengan tatapan lurus ke depan, dia
menangkap seluruh serangan dalam pandangannya, menangkis semuanya dalam kondisi
tanpa pikiran.
Lalu,
dia menjatuhkan pedang terakhir, tepat saat dia lengah, rasa dingin merayap di
sekujur tubuhnya.
T-Tunggu, masih ada satu lagi!
Sebilah
pedang Barat melesat tepat di belakang pedang yang dia kira sebagai serangan
terakhir.
Mengayunkan
gunting untuk menangkis? Tidak, tidak akan sempat.
Tubuhnya
kaku. Kakinya seolah berakar dan tidak bisa digerakkan.
Gawat, kali ini aku benar-benar
mati...
Tepat
saat pikiran itu melintas, kilatan perak menyambar pandangannya, diikuti suara
benturan logam yang nyaring.
“Maaf
membuatmu menunggu, Mahiru.”
Mengenakan
gaun biru dengan pedang perak yang tampak kokoh.
Dengan
postur yang penuh percaya diri, Elez membelah pedang Barat itu menjadi dua.
“Ada
apa dengan reaksimu itu? Apa kamu tidak percaya padaku?”
Elez
mengerucutkan bibir melihat wajah Mahiru yang terperanjat.
“Yah,
kamu ‘kan si cengeng penakut.”
Bertolak
belakang dengan kata-katanya, Mahiru justru menyunggingkan senyum lega.
Wajah
Elez sedikit melunak melihat kondisi pemuda itu yang terlihat seperti bisa
tumbang hanya dengan satu sentuhan. Pria ini benar-benar selalu berbuat nekat,
apa dia tidak punya rasa takut sama sekali?
“Huh,
seenaknya saja kamu bicara. Aku akan membersihkan nama baikku sekarang, jadi
lihat baik-baik, dasar Mahiru bodoh! Yang berubah bukan cuma penampilanku saja,
tahu.”
Petrie
dan Mahiru telah berjuang hingga titik ini demi dirinya.
Elez
merasa tidak akan bisa membalas semua itu hanya dengan ini, namun dia juga sama
sekali tidak merasa akan kalah.
“Baiklah,
hajar dia.”
“Kehehe,
ahahahaha!”
Seolah
ingin memotong udara yang mulai bergemuruh, Layla tertawa terbahak-bahak.
Dia
menjambak rambutnya dengan kasar, dan permata berwarna-warni berjatuhan dari
tangannya.
“A-A-Apa-apaan
itu? Itu tidak mungkin! Kamu itu lemah, menyedihkan, lari dari kenyataan,
memendam dendam yang kekanak-kanakan, dan terlalu mabuk dalam kemalangan!
Itulah dirimu yang sebenarnya!”
“Semua
itu benar, aku memang lemah.”
“Ya,
tentu saja. Aku yang selalu berada di sampingmu menyaksikannya sendiri yang
mengatakannya, jadi itu pasti benar.”
Layla
berucap dengan nada penuh kemenangan.
Mungkin
selama ini dia selalu meremehkan Elez di dalam hatinya. Melihat sosok Elez yang
menyedihkan, meski dia melontarkan kata-kata penghiburan, di dalam hatinya dia
menertawakan Elez sebagai sosok yang tidak berguna. Betapa mudahnya
dikendalikan, betapa bodohnya, dan betapa tidak terselamatkannya anak ini, dia
pasti menyeringai puas memikirkannya.
“Bahkan
sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau Layla ternyata adalah pembunuh
Ibuku. Mungkin aku memang tidak cocok untuk membalas dendam. Aku mulai tidak
mengerti diriku sendiri... Tapi ada satu hal yang pasti.”
Elez
menatap Petrie yang terduduk lemas penuh luka, lalu menatap Mahiru yang babak
belur bersimbah darah dan keringat.
“Aku
tidak ingin mengkhianati harapan mereka berdua, orang-orang yang telah menaruh
ekspektasi pada diriku yang lemah ini.”
Alih-alih
ingin menghancurkan Layla, keinginan untuk melindungi mereka justru terasa
lebih kuat.
Hatinya
berkobar demi rekan-rekan yang dia cintai, melebihi amarahnya terhadap musuh
yang dia benci.
“Benar-benar
menjijikkan!”
Layla
memekik nyaring seraya melontarkan pedang-pedang Barat miliknya.
Menjadikan
itu sebagai aba-aba, Elez berlari lurus menuju arah Layla.
“Atas
dasar apa kamu mencoba mendapatkan balasan yang indah? Kamu harus terus menjadi
orang yang menyedihkan selamanya. Mana mungkin boneka dunia dongeng sepertimu
bisa menang melawan aku, sang Penyihir!”
Layla
mengubah permata yang tidak terhitung jumlahnya menjadi pedang dan
menembakkannya tanpa ampun. Namun, Elez tidak mengurangi kecepatannya, dia
justru bertambah cepat. Dia memutar tubuhnya dengan momentum tersebut. Ujung
gaunnya mengembang lebar. Dengan teknik pedang yang luar biasa, dia menjatuhkan
seluruh pedang Barat itu, mendarat, dan langsung melesat lebih kencang lagi.
“Tidak,
akulah sang protagonisnya! Untuk ukuran musuh terakhir kamu memang terlalu
menyedihkan, tapi akan kutahan rasa muakku ini! Cepatlah kalah seperti layaknya
penjahat.”
Mendengar
ucapan Elez, gerakan Layla terhenti.
“Ke,
keheheh... siapa yang kamu sebut menyedihkan?”
Sorot
mata Layla berubah. Seolah-olah ada sesuatu yang putus di dalam dirinya.
Dia
mulai merapalkan kutukan-kutukan penuh kebencian dan melemparkan permatanya
secara membabi buta.
Api
merah menyala menyembur dari permata-permata itu, tetapi Elez menyeringai dan
berhenti mendadak di tempat.
“Aku
sudah ingin mengatakannya sejak lama, tapi nada bicaramu itu sama sekali tidak
cocok dengan tubuh bocahmu yang menyedihkan itu!”
Elez
mengayunkan pedangnya dengan gerakan lebar. Tebasan putih murni yang tercipta
dari lintasan pedangnya membelah kobaran api. Api itu terbelah menjadi dua
layaknya pintu yang dipaksa terbuka, lalu buyar tidak berbekas.
“Akan
kupastikan kamu mati!”
Layla
terus memuntahkan api, namun Elez memotong semuanya satu per satu.
“Dasar
anak tidak tahu diri. Padahal kalau bukan karena aku, kamu tidak bisa melakukan
apa pun, padahal, padahal, padahal, padahal... ahahaha! Berani-beraninya kamu
melawanku, benar-benar tidak tahu balas budi!”
Gerakan
Elez sangat tajam. Jika dipikirkan kembali, tubuhnya terasa ringan sejak Layla
keluar dari tubuhnya. Apakah ini kekuatan asli Elez? Entah kenapa, dia sama
sekali tidak merasa akan kalah.
“Padahal
aku baru saja merasa bebas, akhirnya, akhirnya, akhirnya aku bebas, tapi kalian
merampasnya lagi dariku! Pengguna sihir, Cinderella, dunia macam ini... dunia
ini!”
Namun,
karena Layla terus-menerus merapalkan sihir dari jarak jauh dan Elez hanya bisa
menangkisnya, mereka terjebak dalam kebuntuan. Elez tidak bisa mendekat. Dia sempat
menyesal, bertanya-tanya apakah dia seharusnya nekat menerobos api tadi
meskipun berisiko.
“Cih,
tidak sampai.”
Layla
berada di puncak reruntuhan yang paling tinggi, melayang di posisi yang nyaris
menyentuh tanah, sambil memandang rendah ke bawah. Seandainya saja Elez bisa
memanjat tumpukan reruntuhan itu. Musuhnya ada tepat di sana, tetapi jarak yang
sedikit itu terasa begitu sulit dijangkau.
Layla
memiliki persediaan permata yang melimpah dari tubuh para bangsawan. Dalam
pertarungan jangka panjang, pihak Elez-lah yang tidak menguntungkan.
Kondisi
Layla pun perlahan semakin aneh. Pertarungan ini harus segera diakhiri.
“Demi
mewujudkan keinginan, tidak masalah seberapa besar kita merendahkan orang lain.
Itulah artinya hidup. Dunia ini ada hanya untuk diinjak-injak olehku, sang Penyihir.
Ini adalah logika dunia yang tidak akan pernah dipahami oleh boneka sepertimu!”
Pedang-pedang
Barat berjajar membentuk lingkaran menyerupai lampu gantung raksasa. Hujan
pedang pun turun dengan ganasnya secara bertubi-tubi.
Gawat,
tepat saat tubuh Elez membeku karena terkejut, Mahiru meluncur masuk di antara
mereka seraya memasang tameng. Setelah menangkis seluruh pedang, Mahiru memberi
isyarat lewat pandangannya agar Elez segera berlari. Tanpa keraguan sedetik
pun, Elez mengentakkan kakinya ke tanah.
“Kalau
begitu, jika kamu kalah dari aku yang lemah ini, artinya kamu pun tidak punya
nilai untuk hidup!”
Mahiru
berlari bersisian dengan Elez. Setiap kali api menyembur, dia menahannya dengan
perisai untuk membukakan jalan.
Layla
yang mulai kehilangan kesabaran melancarkan serangan dengan jumlah yang lebih
besar. Dia menebar permata sebanyak yang bisa dipeluk kedua tangannya,
melepaskan bilah pedang yang tidak terhitung jumlahnya.
Mahiru
tanpa ragu melompat ke depan Elez dengan momentum terjangannya, menanggung
seluruh serangan itu dengan perisainya.
“Pergilah,
Cinderella sang protagonis!”
Mahiru
terpental akibat dampak serangan itu dan terguling di tanah.
Elez
tidak menoleh. Dia terus maju demi membalas pengorbanan itu.
Dia
memanjat tumpukan reruntuhan seolah sedang terbang, sisa sepuluh meter lagi!
“Aku
boleh merampas apa pun, karena selama ini aku tidak pernah diberikan apa pun!
Padahal kalian tidak tahu apa-apa, tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu apa-apa,
tapi kalian seenaknya menjadikanku penjahat! Padahal sejak dulu, kalianlah
penjahatnya!”
Layla
mengambil permata merah menyala dari balik pakaiannya dan mengisinya dengan
mana.
“Apa
aku harus terus sendirian, tidak bisa bergerak, dan merasa iri pada orang lain
setiap hari? Tidak akan! Jika aku mati, apa aku akan merasa tenang? Aku tidak
melakukan kesalahan apa pun, tapi kenapa pilihanku selalu terasa menyakitkan?
Kalianlah yang harus merasakan rasa sakit sebagai gantiku! Itu bukan hal yang
aneh. Aku tidak aneh, kalianlah yang memaksaku untuk menjadi aneh! Begitulah
kenyataannya. Kenapa, kenapa selalu berakhir seperti ini!?”
Sesuatu
yang dimanifestasikan Layla dari permata merah itu adalah air lumpur dengan
massa yang tidak masuk akal. Air itu menciptakan tsunami layaknya mulut raksasa
monster, membubung tinggi seraya menerjang ke arah Elez.
Elez
sama sekali tidak bisa memahami argumen maupun kata-kata Layla.
Layla
adalah pembunuh ibunya. Dia memikat sang Raja, menghasut Reset, dan terus
mengubah rakyat menjadi permata. Dia merasuki tubuh Elez untuk memanfaatkannya,
dan memanfaatkan kelemahannya untuk meraih kepercayaan. Melakukan segala bentuk
kejahatan dengan wajah tanpa dosa seolah itu hal yang wajar, dia benar-benar
seorang penyihir.
Elez
yakin wanita itu adalah penjahat tulen tanpa keraguan, seseorang yang memang
harus mati.
“Laylaaaaa!”
Dulu
Elez berpikir jika dia terus bertahan di dalam neraka, suatu saat seseorang
akan menyelamatkannya.
Dia
berpikir seorang pangeran berkuda putih akan muncul dan membawanya ke dunia
yang bahagia.
Mana
mungkin hal itu terjadi. Tanpa perlu dikatakan oleh Mahiru pun, sebenarnya Elez
sadar bahwa itu salah, namun dia tidak sanggup menatap langsung kelemahannya
sendiri.
Meski
begitu. Justru karena itulah.
“Aku
akan membuktikan di sini, bahwa aku bisa membuka jalanku sendiri dengan tanganku!
Agar Ibu bisa merasa tenang!”
Bertarunglah.
Lawanlah.
Hadapi
tanpa rasa takut.
Elez
memantapkan tekad di saat-saat krusial ini, mengalirkan seluruh sihirnya ke
dalam pedang pusaka.
Lumpur
yang mendekat itu terasa mengerikan seperti kegelapan yang tidak tertembus
cahaya. Gelombang berat itu menerjang hendak menelan Elez. Namun, tidak ada
rasa takut. Yang mengalir di tubuhnya adalah rasa kegembiraan. Panas yang
bernama sihir itu membangkitkan semangat Elez. Seolah mencerminkan gambaran
batinnya, cahaya putih murni yang terpancar membelah kegelapan, dan setelah
itu, satu tebasan miring menghunjam Layla dari bahu hingga ke pinggang.
“Ugh...
tidak, aku tidak mau ini.”
Crat.
Darah yang lebih merah dari permata memercik.
Tangan
yang terulur seolah ingin menggapai sesuatu itu hanya meraup udara hampa, dan
Layla jatuh terlentang perlahan-lahan.
Darah
mengalir dari setiap lubang di tubuhnya, dan mulutnya bergerak-gerak seolah
ingin menyampaikan sesuatu.
Ma-ti-lah
kau, suara parau terdengar dari tenggorokannya. Sambil terengah-engah, Layla
menyeringai mengejek. Dia mengulurkan tangan ke arah permata yang menggantung
di lehernya.
“Kali
ini, akan kuhabisi dirimu, wahai pembunuh Ibuku.”
Elez
perlahan menghujamkan pedang pusakanya tepat ke jantung Layla.
Saat
pedang itu ditarik kembali, tubuh Layla berguling jatuh tanpa tenaga dari puncak
reruntuhan.
Seketika,
kesunyian yang mencekam menguasai tempat itu.
Saat
mengedarkan pandangan ke sekeliling, terlihat para bangsawan yang menyaksikan
kejadian itu dengan wajah terpana. Sebagian besar dari mereka sudah diubah
menjadi permata, tertusuk pedang, atau hangus terbakar, namun orang-orang yang
masih tersisa kini terpaku menatap Elez, seolah sedang memuja sesosok malaikat.
Cahaya
bulan yang remang-remang menyinari Elez dari celah langit-langit yang runtuh.
Rambut
perak yang berantakan. Gaun biru yang dihiasi warna merah pekat dari percikan
darah. Raut wajah yang penuh tekad, tampak ganas, namun entah bagaimana tetap
memancarkan keanggunan. Elez mengangkat lengannya perlahan, menjunjung tinggi
pedang pusakanya ke arah langit malam.
“Aku
adalah si Upik Abu Cinderella, Elez Cinder! Penyihir Bayangan yang mencoba
menenggelamkan negeri ini dalam kegilaan telah kuhabisi dengan tanganku
sendiri!”
Teriakan
Elez disambut oleh sorak-sorai yang meledak dari seisi ruangan. Mereka
mengepalkan tangan ke atas, bersukacita atas kematian sang Penyihir serta
lahirnya seorang pahlawan, berseru lantang tanpa memedulikan status sosial atau
apa pun lagi.
“Seperti
dugaanku, kamu memang sang protagonis.”
Merasa
lega, Mahiru jatuh terduduk di sana, lalu merebahkan diri sambil menatap langit
malam.
*
* *
Saat
dilihat kembali, aula itu berada dalam kondisi yang mengenaskan.
Permata
berserakan di sana-sini. Api masih berkobar menjalar di lantai. Tumpukan
reruntuhan menyelimuti ruangan. Bunga-bunga merah merekah di mana-mana,
menebarkan bau amis darah yang menyengat, sementara air lumpur yang gelap bagai
kegelapan pekat menggenangi lantai.
Namun,
ancaman terbesar kini telah disingkirkan.
Kebangkitan
Elez, dan jatuhnya sang Penyihir.
Suasana
aula yang sempat diliputi kegilaan perlahan kembali tenang. Elez dan Mahiru pun
berkumpul di sisi Petrie.
Butiran
cahaya kecil tampak merembes keluar dari tubuh Petrie, seolah nyawanya sedang
tumpah perlahan. Tidak, itu bukan sekadar kiasan. Selama ini Petrie menggunakan
sihir untuk mempertahankan wujud fisiknya sekaligus menstabilkan jiwanya. Fakta
bahwa dia masih bisa mempertahankan kesadaran setelah memeras seluruh
kekuatannya dalam pertarungan sengit tadi adalah sebuah mukjizat.
“Ibu...”
Elez
melepaskan gaun hasil sihirnya, lalu berlutut untuk menopang tubuh Petrie.
Dia
menyeka air mata yang terus menetes. Bibirnya yang bergerak-gerak kaku seolah
sedang mencari kata-kata terakhir yang ingin diucapkan.
“Aku
juga... cukup hebat, ‘kan?”
“Ya,
itu baru putriku! Terima kasih, Elez.”
Petrie
mencoba mengulurkan tangan untuk memeluk putrinya, namun tangannya justru
menembus tubuh Elez.
Kekuatan
untuk mempertahankan wujud nyata sudah tidak tersisa lagi. Mungkin karena
menyadari bahwa Petrie akan benar-benar menghilang, air mata Elez kembali
tumpah dengan derasnya. Berkali-kali dia menyekanya, namun air mata itu terus
mengalir tanpa henti.
“Jangan
pasang wajah begitu. Setidaknya di saat terakhir aku bisa melihat
pertumbuhanmu, ‘kan? Ternyata ada gunanya juga aku sempat menunda kematian.
Haha... aku memang paling tidak bisa menghadapi suasana sedih seperti ini.”
Petrie
menggaruk kepalanya dengan kikuk, mencoba menutupi rasa haru.
“Lagipula,
aku ‘kan memang sudah mati sejak awal. Tidak perlu menangis sekarang.
Tersenyumlah! Ayo, tersenyum!”
“...!”
“Yah,
sepertinya permintaanku memang terlalu berlebihan. Maafkan aku ya, karena telah
menjadi ibu yang seperti ini.”
Sejujurnya
pasti ada banyak hal yang ingin Elez sampaikan, namun air mata yang terus
meluap membuatnya sulit merangkai kata. Semakin dia merasa harus mengatakan
sesuatu, semakin deras pula air mata itu mengalir.
“Sebenarnya
aku selalu ingin kita berdua pergi dari Ibu Lota dan hidup bersama... aku terus
memikirkan hal itu. Tapi karena aku tahu itu mustahil, setidaknya aku ingin Ibu
merasa tenang. Aku ingin menunjukkan pada Ibu betapa aku telah tumbuh
dewasa...”
Sambil
menyeka air mata, Elez berusaha keras untuk tersenyum saat mengucapkan
kata-kata itu.
Andai
Mahiru bisa bertemu ibunya sekali lagi, dia pasti akan melakukan hal yang sama.
Ingin membuat sang ibu merasa tenang dan yakin bahwa anaknya akan baik-baik
saja meski sendirian. Mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, lalu
memintanya untuk beristirahat dengan tenang.
“Ya,
aku terkejut. Karena bagiku, kamu akan selalu menjadi anak kecil. Rasanya sepi,
tapi aku juga sangat bahagia. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat
pertumbuhanmu.”
Bayangan
ibu kandungnya sendiri tumpang tindih dengan sosok Petrie, membuat hati Mahiru
terasa hangat.
Padahal
ibu Mahiru dan Petrie sama sekali tidak mirip. Namun, Mahiru merasa ibunya pun
pasti akan membisikkan kata-kata yang serupa. Meski hal itu tidak mungkin lagi
bisa dibuktikan, memikirkannya saja sudah membuat Mahiru merasa sedikit
terobati.
Setidaknya,
semua perjuangan yang mempertaruhkan nyawa ini terasa sepadan.
“...Padahal
waktu ini seharusnya tidak pernah ada.”
Mendengar
ucapan Petrie, air mata Elez yang sempat terhenti kini kembali meluap.
Melihat
itu, Petrie hanya bisa tersenyum pahit seolah sedang menghadapi anak yang
nakal.
“Benar,
ada sesuatu yang sejak dulu ingin kuberikan padamu.”
Sambil
berkata demikian, Petrie mengangkat tangannya seolah sedang mengambil sesuatu.
Tiba-tiba,
di tangannya telah tersedia sepasang sepatu yang terbuat dari kulit.
“Ini
hadiah terakhir dari pengguna sihir tidak berguna ini. Mungkin tidak semewah
gaun yang indah atau sepatu kaca, tapi untuk aku yang payah ini, aku sudah berusaha
keras membuatnya.”
Elez
mengulurkan tangannya yang gemetar dan menerima sepatu itu.
Memang
benda itu bukanlah barang dengan kualitas tertinggi, namun siapa pun bisa
melihat bahwa sepatu itu dibuat dengan sangat teliti dan penuh kasih sayang.
“...Ibu
tidak payah. Lagipula, aku lebih suka ini daripada sepatu kaca mana pun.”
“Begitu
ya.”
Melihat
Elez yang mengelus sepatu itu dengan penuh kasih, Petrie menggaruk pipinya
dengan malu.
“Ukurannya
pas sekali, ‘kan...”
“Karena
aku memang berniat memberikannya di ulang tahunmu yang ke-18. Syukurlah
keinginan itu tercapai.”
Mendengar
itu, Elez tersentak.
Dia
mendekap sepatu itu erat-erat di dadanya dan kembali menangis.
“Ugh...
a-aku... aku bersyukur menjadi putrimu! Terima kasih!”
Pada
saat itu, cahaya lembut memancar keluar dari sepatu kulit berbulu tersebut.
Cahaya hangat yang seolah melelehkan kegelapan dunia. Itu adalah cahaya
pemurnian yang sama dengan yang pernah Mahiru lihat saat mengembalikan tudung
kepada Maisy di dunia Si Tudung Merah.
“Ya,
aku juga. Selamat ulang tahun, Elez.”
Seiring
dengan pancaran cahaya pemurnian itu, keberadaan Petrie semakin memudar, dan
tubuhnya mulai meluruh.
Elez
tidak lagi mencoba menggapainya. Dia menyeka air mata dan tersenyum lebar
hingga memperlihatkan giginya.
Lewat
kisah Cinderella kali ini, Mahiru mulai mengerti.
Dunia
dongeng adalah kisah tragedi yang menjadi gila akibat campur tangan Penyihir.
Keluarga kerajaan yang disihir. Rakyat yang diubah menjadi permata, dan Elez
yang ibunya dibunuh serta hidup dalam penindasan. Namun, hal yang paling Elez
inginkan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ibunya.
Karena
itu, Mahiru yakin ini adalah kisah tentang seorang gadis bernama si Upik Abu
Cinderella yang meronta di tengah kemalangan, lalu meraih kebahagiaannya
sendiri dengan tangannya sendiri.
Bukan
sebuah kisah nyaman tentang gadis yang kebetulan ikut pesta dansa lalu secara tidak
sengaja dipikat oleh pangeran dan menjadi bahagia.
Begitulah, kisah ini akhirnya mencapai tujuan yang diinginkan, sebuah True Ending.