Putaran Kelima: Akhir yang Kamu dan Aku Inginkan
Pondok
awal.
Semuanya
berawal dari sini. Dan kali ini pun, akan dimulai dari sini lagi.
Lantainya
terasa dingin menusuk. Matanya terjaga. Kesadarannya jernih sepenuhnya.
Namun,
dia tidak punya keinginan untuk bangkit berdiri.
“...Lalu
aku harus bagaimana...”
Jika
dia membunuh Maisy, dunia dongeng ini bisa diselesaikan. Dan dia bisa
menyelamatkan Asahi.
“Apa
benar... cuma itu satu-satunya cara...”
Selama
ini, tak terhitung jumlah pemain yang menantang dunia Tudung Merah, tenggelam
dalam keputusasaan, dan pada akhirnya memilih opsi untuk membunuh Maisy. Di
antaranya, pasti ada pula pemain yang bahkan belum sempat memilih, lebih dulu
hancur karena tidak sanggup menahan kegilaan dunia ini.
21.114
kali.
Itulah
jumlah dunia ini telah diulang sejauh ini.
Setelah
percobaan yang begitu tidak terbayangkan banyaknya, kesimpulan yang didapat
adalah membunuh Maisy. Itulah cara untuk menyelesaikannya, kata si Gembala.
Itu
bukan angka yang bisa diabaikan.
Dan
andaikan Mahiru memilih untuk membunuh Maisy pun, tidak seorang pun akan
menyalahkannya.
Orang-orang
pasti menganggapnya tidak terhindarkan. Bahkan mungkin akan memujinya.
Dia
memiliki alasan besar, menyelamatkan adiknya, Asahi.
Selama
ini, bukankah dia telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Asahi, tidak peduli
apa pun yang harus dikorbankan?
Sejak
awal, Mahiru hidup demi itu.
Bahkan
di dunia ini pun, dia hanya bergerak mengikuti prinsip yang sama.
Tidak
ada yang aneh.
Tidak
ada yang layak disalahkan.
Dan
justru pada rasionalitas yang berusaha meyakinkannya seperti itulah rasa mual
itu muncul.
“Aku,
aku ini sedang memikirkan apa...!”
Apakah
tadi dia sedang menyusun daftar alasan mengapa membunuh Maisy itu boleh saja?
Jika
dia menuruti perkataan si Gembala, membunuh Maisy, lalu berhasil menyelamatkan
Asahi, apa itu sudah cukup?
Seharusnya
tidak. Tidak mungkin dia bisa menerima hal seperti itu.
Namun
pada akhirnya, dia sendiri tidak mampu menjawab mengapa dia ingin menyelamatkan
Maisy. Apalagi ketika akalnya yang terkutuk berbisik, apakah dia sungguh harus
menyelamatkannya sampai-sampai menimbangnya dengan Asahi di atas timbangan yang
sama.
Mengapa
dia begitu terobsesi pada gadis itu?
Aku harus bergerak...
Jika
terus berdiam di sini, Maisy mungkin akan lebih dulu tiba di rumahnya.
Dengan
pikiran itu, dia berdiri. Namun semangatnya tidak kunjung bangkit.
Tidak
ada barang baru yang bertambah kali ini. Seolah memang sudah tidak ada lagi
kunci yang bisa diandalkan.
Dia
menyimpan barang-barang itu ke dalam Grimm Note, lalu mengenakan jubahnya.
Begitu membuka pintu dan melangkah keluar, sinar matahari yang hangat
menyambutnya. Namun kehangatan itu tidak mampu mencairkan keputusasaan yang
menyelimuti Mahiru saat ini.
Dia
berjalan menyusuri jalan yang biasa dilalui, lalu di persimpangan memilih jalur
kiri. Terhuyung-huyung seperti mayat hidup yang sekadar meniru gerakan semasa
hidupnya, dia menapaki rute yang telah ditentukan.
Dan
kemudian, rambut pirang yang bergoyang tertiup angin muncul dalam pandangannya.
Dia
hendak memanggilnya, tangan terulur, namun tubuhnya runtuh lebih dulu.
Seolah
dayanya diputus, dia terduduk begitu saja di tempat.
Dia
terkejut, tetapi tidak mampu bersuara. Tanpa tahu sebabnya, air mata mengalir
begitu saja.
“Eh,
tunggu, hah? Kamu tidak apa-apa?”
Wajah
Maisy yang tertata indah memenuhi pandangannya yang buram.
Menyadari
Mahiru terjatuh, Maisy-lah yang mendekat lebih dulu. Dia menunduk, menatap
wajah Mahiru dengan cemas.
“Aku
tidak apa-apa. Sungguh.”
Perkembangan
seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal sekecil apa pun bisa
memengaruhi jalannya kejadian setelah ini. Dia tidak boleh membuat Maisy
curiga. Mahiru segera menumpukan tangan ke tanah, berusaha bangkit, namun
tubuhnya tidak mengumpulkan tenaga dengan baik.
“Wajahmu
sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sehat. Apa ada bagian yang sakit?
Atau kamu sedang tidak enak badan? Apa ada yang bisa kulakukan sekarang?”
Wajah
itu sudah berkali-kali dia lihat. Karena itu pula dia tahu. Tidak ada
perhitungan apa pun di sana, hanya kekhawatiran yang murni. Namun justru sikap
itulah yang mengguncang hati Mahiru. Andai saja dia bersikap dingin dan acuh,
mungkin rasa bersalah ini akan sedikit lebih ringan.
“Kenapa
kamu mengkhawatirkanku...?”
“Hah?”
Maisy
memiringkan kepala, jelas tidak mengerti maksud ucapannya.
“Kamu
tidak merasa aku mencurigakan?”
“Yah,
kalau dibiarkan, rasanya kamu bisa mati dalam satu jam ke depan. Sekilas memang
cukup mengkhawatirkan.”
“Bukan
itu maksudku...”
Bagi
Mahiru mungkin berbeda, tapi bagi Maisy, dia seharusnya hanyalah pria asing
yang baru pertama kali ditemui. Tidak ada kedekatan yang bisa menumbuhkan rasa
iba. Tidak ada keuntungan untuk menolongnya. Bahkan justru ada risiko.
“Kalau
ada orang dalam kesulitan, ya ditolong. Kamu tidak tahu? Wajahmu benar-benar
parah, tahu.”
“Biasa...
begitu, ya. ..”
Dia
mengatakannya tanpa beban. Bagi Mahiru sekarang, kata-kata itu bahkan terdengar
seperti sindiran.
“Kalau
posisi kita dibalik, kamu tidak akan menolong?”
“Kurasa...
tidak.”
Jika
bukan karena utang budi, bukan orang yang berharga, atau tidak ada keuntungan
apa pun, dia mungkin tidak akan menolong. Tidak ada habisnya. Dia pernah
berkali-kali dimanfaatkan karena kebaikan hatinya.
Dan
tidak pernah sekalipun dia ditolong.
Bahwa
menolong orang yang kesulitan adalah hal yang wajar, itu hanya ada dalam
cerita.
“Begitu
ya. Kalau begitu, mulai sekarang tolonglah orang yang sedang kesulitan.”
Di
dalam dadanya, sesuatu yang berat seperti timah menggeliat.
Biasanya
dia bisa mengabaikan kata-kata itu. Namun kini, entah mengapa, kalimat itu
justru mengaduk-aduk hatinya dan terasa seperti tuduhan.
“...Apa
maksudmu itu?”
Kebaikan
adalah sebuah cara.
Semua
itu tidak lebih dari sarana untuk mencapai sesuatu yang ada di baliknya.
“...Enak
sekali ya, bisa bersikap selapang itu.”
Hanya
orang yang pernah ditolonglah yang bisa berpikir untuk menolong orang lain.
Bagi
mereka yang hanya terus dirampas, masih adakah sesuatu yang tersisa untuk
diberikan?
“Menolong
itu memangnya jadi apa? Aku tidak pernah sekalipun ditolong...! Lagipula, cinta
tanpa pamrih itu tidak mungkin ada!”
Kata-kata
meluap deras seperti bendungan yang jebol.
Sejak
kecil, tubuh Asahi memang lemah.
Dia
mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan, dan ketika akhirnya harus
dirawat di rumah sakit, kondisinya hanya semakin memburuk.
Orang
tua dan aku telah melakukan segala yang kami bisa untuk Asahi.
Kami
berkonsultasi pada siapa pun yang terpikirkan, mencari dokter terbaik, bahkan
sampai mendatangi dukun dan cenayang yang jelas-jelas mencurigakan.
Kami
seputus asa itu.
Seserius
itu.
Kami
benar-benar berjuang mati-matian demi menyelamatkan Asahi.
Uang
pun habis, ruang untuk bernapas menghilang, dan hati kami terkikis sedikit demi
sedikit.
Tidak
seorang pun mengulurkan tangan.
Sebaliknya,
seolah-olah melihat kami yang sedang terpuruk sebagai kesempatan emas, mereka
merampas segalanya.
Setiap
tawaran manis selalu punya sisi gelap. Orang tuaku yang mempercayainya harus
menelan pahitnya akibat. Uang dirampas. Ketika uang tidak tersisa,
barang-barang berharga pun diambil satu per satu... dan akhirnya rumah pun
hilang, nyawa pun melayang. Semuanya diperas habis, seolah tidak menyisakan
tulang sedikit pun.
Yang
lemah tidak punya pilihan.
Penyelamatan
bagi kaum lemah itu dusta.
Jika
lemah, segalanya akan dirampas.
Karena
itu, bagiku, kelemahan adalah dosa.
“Menurutmu
aku terlihat menyedihkan? Orang lemah memang enak dijadikan sasaran empuk, ya!”
Yang
kuat merampas segalanya seolah itu hal yang wajar.
Bahkan
definisi penyelamatan pun selalu ditentukan oleh mereka yang kuat.
Karena
itu, aku tidak ingin menunjukkan kelemahan.
Di
tengah tidak punya apa-apa, berpura-pura kuat adalah satu-satunya perlawanan
yang tersisa.
Mahiru
yang lemah tidak mampu membuka jalan.
Sekarang
pun sama. Karena lemah, dia tidak bisa memilih.
Dia
dipaksa untuk memilih opsi membunuh Maisy.
“Ya,
benar... karena aku lemah, pada akhirnya...!”
Sampai
di situ dia tersadar dan buru-buru membungkam diri.
Ini
sudah keterlaluan, melampiaskan amarah pada orang yang salah. Dia tahu nasib
malang yang akan menimpa Maisy, lalu apa yang sebenarnya sedang dia katakan?
Lagipula,
bagi Maisy yang ini, Mahiru hanyalah orang asing yang baru pertama kali
ditemui. Tidak mungkin dia tahu keadaan Mahiru, dan hubungan mereka nyaris nol.
Kesan pertama yang terburuk.
Di
hadapan orang yang seharusnya dia selamatkan, wajah seperti apa yang sedang dia
tunjukkan?
Dia
tidak boleh membuatnya semakin curiga.
Saat
dia mengangkat wajah, hendak meminta maaf, Maisy justru menatapnya dengan
lembut, lalu menepuk pelan kepalanya.
“Sepertinya...
kamu sudah melalui banyak hal yang menyakitkan, ya.”
Reaksi
yang sama sekali tidak terduga membuat Mahiru terdiam dengan mulut ternganga.
“...Hah?”
Dia
mengira Maisy akan kesal lalu pergi, atau mungkin berkata, “Sudah khawatir
malah dapat sikap seperti ini,” lalu menamparnya, atau paling tidak meludah
jijik dan menjauh.
Bahkan
sempat terpikir, kalau situasinya memburuk, dia tinggal mati dan mengulang
lagi.
Namun
sekarang, apa yang baru saja terjadi?
Kepalanya
disentuh... dibelai?
Kenapa?
Pertanyaan
murni memenuhi benaknya.
“Tapi,
kamu tidak perlu setakut itu.”
“...Takut?”
“Iya.
Kamu terlihat seperti anak anjing yang gemetar karena tidak bisa mempercayai
siapa pun selain dirinya sendiri.”
Sambil
berkata begitu, Maisy tersenyum, seolah hendak menenangkannya.
Senyum
yang begitu lembut, seakan mampu melunakkan hati yang telah lama tergerus.
Belum
pernah ada yang mengatakan bahwa dia sedang takut.
Dia
ingin membantah, mengatakan bahwa dia tidak takut apa pun. Namun melihat
ekspresi Maisy yang seperti sedang menenangkan anak kecil, keinginan itu
menguap begitu saja.
“...”
Seolah
panas yang membara di hatinya perlahan surut dengan tenang.
Jika
dipikir-pikir, Maisy tidak pernah meminta apa pun darinya.
Mengundang
Mahiru ke rumahnya tidak memberinya keuntungan sedikit pun.
Namun
saat pertama kali bertemu, meski dia tampak curiga, Maisy tetap mengajaknya
masuk. Dia berbagi makanan, bahkan meminjamkan tempat tidur. Pada putaran
ketiga maupun keempat, dia tetap sama. Kadang bersikap ketus, tetapi tidak pernah
benar-benar mengusirnya. Bahkan sering kali justru yang memulai percakapan.
“Baiklah!
Kalau begitu, akan kubuktikan sendiri. Yang namanya kebaikan tanpa pamrih itu.”
Kata-kata
itu jatuh begitu saja ke dalam hati Mahiru dan menetap di sana.
Maisy
lalu bergumam sambil memalingkan wajah, “Memang aku sendiri yang bilang begitu,
tapi tetap saja agak memalukan, ya. Dan mungkin ‘tanpa pamrih’ itu sedikit
berlebihan. Setidaknya mungkin aku tetap akan mengharapkan sesuatu, sedikit
saja... mungkin.”
Perasaan
yang selama ini tidak mampu dia ungkapkan, namun selalu dia rasakan.
Mengapa
dia begitu terikat pada Maisy? Dibandingkan dengan Asahi, seharusnya segala hal
lain terasa seperti debu belaka.
Mengapa
dia tidak bisa begitu saja membuang Maisy seperti hal-hal lain selama ini?
“...Ah...
begitu ya. Jadi begitu.”
Akhirnya
dia mengerti mengapa dia ingin menyelamatkan Maisy sampai sejauh ini.
Bukankah
kebaikan tanpa pamrih itu sudah dia terima sejak awal?
Sejak
awal, yang diselamatkan oleh Maisy adalah Mahiru sendiri.
Berkat
Maisy, dia tidak merasa kesepian di dunia asing ini.
Tanpa
meminta imbalan apa pun, Maisy mengulurkan tangan kepada Mahiru.
Mahiru
menerima kebaikan yang tidak perlu diragukan lagi darinya.
Adik
perempuannya mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Orang tuanya bunuh diri.
Uang tidak ada, rumah pun tidak ada. Dia tidak bisa mempercayai siapa pun, dan tidak
seorang pun menolongnya. Saat tersadar, dia sudah berada di lembaga pembinaan
anak. Hidupnya adalah rangkaian kemalangan tanpa ujung.
Dengan
semua itu, menyuruhnya untuk percaya pada orang lain adalah hal yang mustahil.
Demi
memuaskan hasrat sendiri, manusia tidak segan menipu, merendahkan, bahkan
menjatuhkan sesamanya, binatang buruk rupa seperti itulah manusia. Itulah wujud
yang dianggap benar sebagai manusia, dan mereka yang menunjukkan kelemahan
bernama kebaikan akan diburu lebih dulu. Mahiru mengetahui hal itu lebih dari
siapa pun.
Di
dunia ini pun sama saja. Seorang nenek tua yang bersekongkol demi merebut tubuh
muda cucunya. Serigala yang seluruh hasratnya dilumuri oleh nafsu makan. Dan si
Gembala yang berencana memanipulasi orang lain demi ambisinya sendiri. Semuanya
sama saja. Tidak ada bedanya dengan para bajingan yang merampas keluarganya
dari Mahiru.
Namun,
gadis itu berbeda.
Di
tengah dunia sialan ini, hanya Maisy yang berusaha tetap bersikap baik pada
orang lain. Tanpa perhitungan, dia mengulurkan tangan dengan tulus. Berapa kali
pun semuanya diulang, itu tidak pernah berubah.
Jika
dunia ini hanya bisa diselamatkan dengan membunuh gadis seperti itu, maka
biarlah dunia ini binasa.
Akhir
seperti itu tidak mungkin bisa diterima.
Karena
Mahiru pun sama.
Menyedihkan
betapa sama dirinya dengan Maisy.
“Tidak
bisa... aku tidak mungkin membunuhnya.”
Dari
Maisy yang selama ini hanya dirampas, apakah Mahiru, orang yang paling memahami
perasaannya, akan merenggut bahkan nyawanya?
Tidak
pernah sekalipun Maisy mencoba menjebaknya.
Dia
harus menyelamatkan Maisy.
Itu
sudah sewajarnya.
Tanpa
sedikit pun keraguan, Maisy adalah sosok yang pantas diselamatkan.
“E-eh...
anu... kamu beneran tidak apa-apa?”
Baru
setelah itu Mahiru sadar bahwa dia sedang menangis.
Air
matanya jatuh berderai. Diseka berkali-kali pun tetap mengalir tanpa henti.
“A-Aku
tidak apa-apa...”
“Orang
yang benar-benar tidak apa-apa biasanya tidak menangis di depan gadis yang baru
dikenalnya, lho. Apalagi di depan gadis secantik ini!”
Dia
ingin tertawa menanggapi gurauan Maisy, namun wajahnya tidak mampu membentuk
ekspresi yang layak. Pasti rautnya terlihat sangat buruk. Melihat senyum Mahiru
yang kaku, Maisy tampak sedikit mundur.
“Haaah,
ya ampun. Mau ikut ke rumahku? Kebetulan kamarnya masih kosong. Kalau cuma
beberapa hari, boleh saja menginap. Dan kalau hanya ingin bercerita, aku juga
bisa mendengarkan.”
“...Aku
berterima kasih.”
“Ah,
tapi kamu tetap harus bekerja, ya!”
Setelah
menegaskan itu, Maisy mengulurkan tangannya kepada Mahiru.
“Namaku
Maisy. Maisy Carmine.”
“Misora
Mahiru. Terima kasih, Maisy.”
Mahiru
menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan bajunya, lalu menggenggam
tangan Maisy dengan erat.
Begitulah,
dia kembali bertemu dengan Maisy untuk yang keempat kalinya.
*
* *
Maisy
mengajaknya sampai ke rumahnya, memperkenalkannya pada Olivia, lalu mereka
bertiga duduk mengelilingi meja. Tanpa terasa, sebuah jamuan minum teh pun
dimulai.
Berkat
Maisy, pikirannya terasa jauh lebih jernih.
Dia
sempat terpengaruh oleh kata-kata si Gembala, tetapi menimbang Maisy dan Asahi
di atas timbangan yang sama adalah pemikiran yang keliru. Kedua keinginan itu
harus diwujudkan secara bersamaan.
Dunia
ini bisa diulang kembali. Game over hanya terjadi saat Mahiru menyerah. Memilih
untuk membunuh Maisy di sini hanyalah pilihan yang lahir dari keinginan mencari
jalan mudah.
Menyelamatkan
Asahi adalah syarat mutlak yang tidak perlu dipertanyakan.
Dan
setelah itu, barulah dia memilih.
Menolong
Maisy, atau menyerah dan memilih kemudahan.
Jika
hanya dua pilihan itu, jawabannya pun tidak perlu diragukan.
Siapa
yang bisa diam saja menyaksikan gadis yang telah menyelamatkannya mati secara
tidak adil?
Kini
keraguan yang pesimistis itu telah sirna.
Namun
sayangnya, bukan berarti masalahnya otomatis terpecahkan.
Mampukah
dia menemukan kemungkinan yang tidak ditemukan dalam 21.114 kali pengulangan
itu?
Dengan
jumlah sebanyak itu, jika masih ada elemen yang belum terungkap, berarti ada
sesuatu yang tidak muncul dengan cara biasa. Sesuatu yang bisa membalikkan akal
sehat dari permainan cerita ini.
Dia
harus menemukannya berdasarkan pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang dia
kumpulkan dari loop-loop sebelumnya.
Meski
berbicara seperlunya dalam jamuan teh, Mahiru terus tenggelam dalam pikirannya.
Setelah
jamuan selesai, dia duduk di sofa ruang tamu tanpa melakukan apa-apa.
Adanya
batas waktu juga menjadi sumber kegelisahan. Besok, Olivia akan mulai bergerak
untuk mengambil alih tubuh Maisy. Sebelum itu, dia ingin menetapkan arah.
Mungkin
dia harus menata kembali seluruh informasi yang ada.
“Waaah...!!”
Tiba-tiba
suara meledak tepat di dekat telinganya.
Mahiru
refleks melonjak dan menoleh, di sana berdiri Maisy.
“...!?
Hah!? Apa-apaan sih, tiba-tiba begitu!”
Alih-alih
terlihat puas karena berhasil mengagetkannya, Maisy justru memandangnya dengan
cemas.
“Tidak
apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat.”
“Separah
itu?”
“Dibanding
saat pertama bertemu tadi memang lebih baik, tapi tetap saja masih pucat. Dan
tatapan matanya juga serem.”
Sambil
berkata begitu, Maisy duduk dengan semangat di sampingnya. Sofa itu
mengeluarkan bunyi pelan saat amblas.
“Yang
itu mungkin memang sudah bawaan...”
“Kalau
ada yang mengganjal, aku bisa mendengarkanmu, lho. Kadang hanya dengan
menceritakannya saja sudah jauh lebih ringan. Aku juga dulu sering didengarkan
Kakak.”
“Kakak
yang baik.”
“Iya!
Kakak yang paling kubanggakan. Nah, jadi! Sekarang aku berperan sebagai kakak
Mahiru-san. Silakan, mau cerita apa saja boleh.”
“Lebih
cocok jadi adik, sih.”
“Adik
mana yang kakaknya menangis tersedu-sedu di depannya?”
“Itu...”
Mengingat
tingkah memalukannya tadi, wajah Mahiru memerah.
“Mahiru-san
sudah tidak punya peluang menang, jadi menyerahlah. Oh, tapi jangan khawatir.
Kebaikan ini tetap akan kutagih balasannya nanti!”
“Katanya
kebaikan tanpa pamrih?”
“Tanpa
pamrih itu cuma untuk pertama kali. Mulai selanjutnya, akan dikenakan biaya.”
“Kejam
sekali dunia ini... Baiklah. Tapi ceritaku mungkin akan terdengar berantakan.”
“Namanya
juga curhat, memang begitu.”
Didorong
oleh Maisy, Mahiru pun membuka mulut.
“Ada
sesuatu yang harus kucapai, bahkan kalau harus mempertaruhkan nyawa. Tapi
situasinya benar-benar putus asa, dan aku tidak bisa menemukan celah untuk
menyelesaikannya. Aku tidak tahu kebenaran yang sebenarnya. Informasinya banyak
sekali, tapi aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya kalau ada
satu saja pemicu terakhir, semuanya akan berjalan... tapi aku tidak bisa
menemukannya.”
Dia
tidak bisa membicarakan soal si Gembala maupun dunia dongeng ini, sehingga
ucapannya menjadi sangat abstrak. Bagi Maisy, pasti terdengar tidak jelas sama
sekali.
Namun
Maisy mendengarkannya dengan sungguh-sungguh tanpa menyela sedikit pun. Dia menempelkan
jari telunjuk ke bibirnya, mengangguk kecil seolah berkata, “Hmm, begitu...”
“Akan
kuberikan beberapa petunjuk.”
“Petunjuk?”
“Iya!
Yang pertama, coba beri waktu. Banyak sekali masalah di dunia ini yang selesai
hanya dengan itu.”
Secara
logika dia paham. Mungkin seminggu lagi Mahiru akan berkata, “Kenapa aku tidak
menyadari hal sesederhana ini?” Mungkin dia akan menyadari bahwa situasinya
sebenarnya tidak perlu membuatnya setergesa ini.
Namun
waktu yang tersisa baginya banyak sekaligus sedikit. Besok Olivia akan mencoba
mengambil alih Maisy. Lusa, sang Serigala akan datang mencari mangsa.
Dia
merasa tidak boleh menggunakan kalimat “berapa kali pun diulang” sebagai alasan
untuk bersikap pesimis.
“Tapi!
Ekspresi Mahiru-san masih muram! Jadi kuberi satu petunjuk lagi! Coba lakukan
sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya!”
“Sama
sekali tidak berhubungan?”
“Iyaaa!
Misalnya... bagaimana kalau kita coba menari kreatif? Nanti aku yang kasih
nilai.”
“Itu
kedengarannya seperti waktu yang penuh penderitaan.”
“Atau,
kita coba memikirkan nama kue fiktif!”
“Kinoko
no Yama.”
“Eh,
aku bilang nama kue, lho?”
“Cabbage
Taro.”
“Mahiru-san
tahu apa itu kue tidak?”
“Iya
juga ya. Kalau dipikir-pikir memang aneh.”
“Maaf,
sepertinya permainan ini terlalu sulit untuk tingkat kecerdasan Mahiru-san.”
Sebagai
percobaan, Mahiru bertanya balik pada Maisy, dan gadis itu menjawab,
“Mashuren.” Kedengarannya sangat meyakinkan. Seperti nama kue luar negeri yang
elegan dan jarang dia makan.
Mungkin
memang permainan ini terlalu sulit untuk Mahiru.
“Intinya
ini cuma penyegaran suasana. Pandangan Mahiru-san sekarang sedang menyempit!
Dalam kondisi begitu, ide apa pun tidak akan terpikirkan! Nah, berbincang
dengan gadis cantik sepertiku. Lumayan menyegarkan, bukan?”
“Benar
juga. Maisy, kamu ini sebenarnya baik sekali.”
“Benar,
‘kan? Aku ini sangat imut dan sangat baik hati.”
Awalnya
dia terkesan agak ketus, tapi mungkin itu juga demi membuat Mahiru tidak sungkan.
Mahiru sendiri tidak percaya diri dengan kemampuan komunikasinya. Namun sejak
pertemuan pertama, dia merasa mudah berbicara dengan Maisy. Jika ternyata Maisy
yang menyesuaikan diri, itu masuk akal.
Bayangan
Maisy yang terwarnai kegilaan pada putaran ketiga dan keempat memang begitu
membekas. Namun pada dasarnya, dia mungkin gadis baik yang lembut dan penuh
perhatian.
Mahiru
selalu menganggapnya sebagai sosok yang harus dilindungi, tetapi kalau begini,
sulit mengatakan siapa sebenarnya yang melindungi siapa.
Maisy
tampaknya peka terhadap perubahan halus emosi. Pada putaran pertama, Mahiru
sendiri mencurigainya. Terlebih lagi, berada di dunia asing membuat
kewaspadaannya meningkat setinggi-tingginya. Tanpa sadar dia membangun dinding
kokoh di sekeliling dirinya.
Dan
Maisy menembusnya. Sebaliknya, kali ini Mahiru memperlihatkan sisi memalukan
sampai-sampai terasa konyol untuk bersikap waspada, sehingga jarak di antara
mereka cepat menyempit.
Mahiru
begitu mati-matian ingin dipercaya Maisy, padahal pada kenyataannya dia sendiri
belum benar-benar mempercayainya.
“Walaupun
begitu, sepertinya aku tidak terlalu membantu, ya.”
“Tidak
begitu. Perasaanku jauh lebih ringan sekarang.”
Keraguannya
sudah tersapu bersih. Yang tersisa hanyalah bagaimana menghadapi tembok
kenyataan.
“Hmm...
begitu ya! Ayo kita main permainan kecil! Untuk melatih otak!”
Tampaknya
Maisy belum menyerah dan kembali memberi usulan.
“Permainan?”
“Iya!
Aturannya sederhana. Kalau kita berhasil membuat lawan mengucapkan kata yang sudah
kita tentukan dalam percakapan, kita menang. Supaya tidak curang, kata yang
dipilih harus ditulis di kertas.”
Sepertinya
semacam permainan kata terlarang.
Dulu
sekali, ketika Asahi masih sehat, mereka pernah memainkannya sekeluarga.
Maisy
mengambil kertas dan sebuah pena tinta hitam yang berat dari rak di dekatnya,
lalu menyerahkannya pada Mahiru. Setelah itu dia duduk di meja, menulis sesuatu
sambil menutupinya agar Mahiru tidak bisa melihat.
“Boleh
kata apa saja?”
“Iya!
Tapi jangan pilih nama atau kata ganti orang, itu membosankan.”
“Baiklah.”
Dia
harus memilih kata yang tidak merusak keseruan permainan, namun cukup mungkin
terucap oleh Maisy tanpa sengaja. Setelah berpikir, mengingat Maisy menyukai
makanan manis dan mereka baru saja selesai minum teh, Mahiru memilih kata “kue”.
Tampaknya
Maisy juga sudah selesai menulis. Dia memandang Mahiru sambil tersenyum lebar.
“Sudah
boleh mulai?”
“Iya!
Dimulai dari detik ini.”
“Maisy,
kamu tadi bilang suka butter cake. Selain itu, ada makanan manis lain yang kamu
suka? Kalau ada rekomendasi, beri tahu aku.”
Mahiru
membuka percakapan dengan topik yang netral namun dekat dengan kata yang dia
pilih.
“Hm,
ya. Yang klasik seperti scone juga aku suka. Apalagi kalau ada cokelatnya.”
“Enak
juga. Scone.”
“Kalau
Mahiru-san bagaimana? Ada makanan favorit?”
“Sebetulnya
aku lebih suka Takenoko no Sato.”
“Hah?
Rebung? Apa itu? Mahiru-san benar-benar tahu apa itu makanan manis tidak?”
“Takenoko
no Sato itu cokelat. Mungkin masuk kategori biskuit cokelat.”
“Rebung...
biskuit cokelat... Aku sama sekali tidak paham apa yang Mahiru-san katakan,
tapi untuk sementara Mahiru-san kalah. Aku yang menang.”
“Sudah?”
“Iya.
Mengejutkan, ya. Bahkan sebenarnya Mahiru-san sudah kalah dua kali.”
“Kita
baru satu kali main, kan!?”
“Yang
pertama waktu bilang ‘suka’. Yang kedua waktu bilang ‘cokelat’.”
Ta-da!
seru Maisy sambil memperlihatkan kertasnya. Kertas itu dipenuhi kata-kata. Di
antaranya ada like dan chocolate. Mahiru juga sempat membaca wolf, cute, fire, moon, dan beberapa lainnya. Kertas itu
benar-benar penuh dengan kata. Dengan jumlah sebanyak itu, apa pun topiknya,
selama percakapan berlanjut, Maisy pasti akan menang.
Seharusnya
tidak ada waktu baginya untuk menulis sebanyak ini. Mungkinkah dia pernah
menantang orang lain dengan permainan yang sama sebelumnya?
“Ini
jelas curang, ‘kan?”
“Tidak
curang, kok. Aku tidak pernah bilang katanya cuma satu.”
“Memang
tidak bilang, tapi biasanya satu ‘kan?”
“Tidak
bagus, lho. Cara berpikir yang kaku seperti itu.”
“Kaku
bagaimana maksudnya...”
“Hal
seperti ini memang dibuat supaya pihak yang menetapkan aturan punya
keuntungan.”
Maisy
mendengus bangga. Sebagai pihak yang dijebak, Mahiru merasa tidak terima. Sejak
awal saja sudah tidak adil karena pembuat aturan dan pemainnya orang yang sama.
“Tidak
menjelaskan semua aturan itu bukannya kesalahan pihak yang membuatnya?”
“Mahiru-san
manis sekali. Semanis cokelat!”
Dia
menunjuk dengan gaya tengil.
“Siapa
bilang pembuat aturan pasti berpihak pada kita? Lagi pula, ini permainan yang
dia sendiri ajukan. Mahiru-san tidak curiga sejak awal, jadi sejak saat itu
juga sudah kalah!”
Melihat
sikapnya yang semakin menjadi-jadi, seolah hendak berkata “Dasar payah”, Mahiru
merasa kesal, namun sekaligus tersentak.
“...Itu
benar.”
Saat
ini, Mahiru benar-benar merasakannya, bahwa penaklukan dunia dongeng ini tak
ubahnya sebuah permainan.
Dan
permainan itu benar-benar sampah. Kejam. Tidak ramah sama sekali.
Satu-satunya
kekuatan yang diberikan kepada Mahiru hanyalah kemampuan untuk mengulang.
Tanpa
penjelasan yang layak, dia dilempar ke dunia ini, bahkan syarat untuk
menyelesaikan permainan baru dijelaskan di tengah jalan. Jika ini adalah
permainan komersial yang dijual di pasaran, keluhan pasti akan membanjir.
Penanggung jawabnya tidak akan lolos dari pemecatan.
Entah
siapa yang membuat permainan ini...
“Tunggu.
Sebenarnya siapa yang membuat permainan ini?”
Kalau
dipikir secara wajar, tentu saja si Gembala yang sejak awal bertingkah
seolah-olah game master dan berdiam di lokasi pembuka. Walau mungkin bukan dia
yang menciptakannya secara langsung, masuk akal jika menganggapnya berada di
pihak pencipta.
Namun,
dia pernah berkata begini,
Temukan
biang keladi yang merusak dunia dongeng ini dan sucikanlah. Itulah tugasmu,
tidak, tugasmu dan tugasku.
Artinya,
posisinya sama dengan Mahiru. Di dunia ini dia memang memiliki jauh lebih
banyak informasi yang tidak diketahui Mahiru, tetapi tetap berada di pihak yang
ingin menaklukkan dunia. Meski dia sosok yang tidak biasa, posisinya lebih
dekat ke sisi pemain. Ibarat peri yang membimbing pahlawan dalam RPG.
Dengan
kata lain, entitas tingkat atas yang menetapkan aturan berada di tempat lain.
Kalau
dipikir-pikir, si Gembala pun tidak mengetahui segalanya tentang dunia ini. Dia
tampaknya tidak tahu alasan Maisy menjadi gila, juga tidak tahu detail tentang
kakak Maisy maupun Olivia.
Jika
begitu, tingkat kepercayaan pada kata-kata si Gembala pun berubah sepenuhnya.
Mahiru
perlu sekali lagi mempertimbangkan kebenaran ucapannya.
“Mahiru-san?
Ada apa?”
Pertama-tama,
dari premis dasarnya.
Tujuan
si Gembala dan pemain adalah menyucikan kegilaan yang menggerogoti dunia ini.
Benarkah
itu?
Si
Gembala mengatakan bahwa kegilaan ini memberi dampak buruk pada dunia nyata.
Bahwa banyak kemalangan tidak masuk akal terjadi karena kegilaan yang bocor
dari dunia ini, dan seharusnya dunia menjadi lebih damai.
Pengaruh
terhadap dunia nyata tidak mungkin bisa dipastikan.
Namun,
bahwa dunia ini dirasuki kegilaan, itu tidak diragukan lagi.
Maisy
yang mengamuk, serigala pemakan manusia, nenek tua yang merencanakan untuk
merampas tubuh cucunya.
Siapa
yang bisa melihat dunia sekejam lukisan seperti ini dan berkata bahwa dunia ini
tidak gila?
Dan
masalahnya adalah motif si Gembala. Dia jelas ingin pemain menyelesaikan dunia
ini.
Namun
dia tidak tertarik pada para penghuni dunia Tudung Merah. Maisy, Olivia,
Elfilia, semuanya hanya dipandang sebagai karakter belaka. Karena itu, tidak ada
gagasan untuk menyelamatkan mereka; yang penting hanyalah menyelesaikan
permainan.
Dan
menurut si Gembala, ada dua syarat penyelesaian.
Pertama,
membunuh penyihir.
Kedua,
mencapai hari keempat.
Hanya
dua itu, katanya.
Namun,
itu hanyalah kata-kata si Gembala semata.
Kalau, andaikan saja, syarat itu
berbeda, atau bukan semuanya, bagaimana?
Jika
apa yang dikatakan si Gembala benar, maka bertahan hidup hingga hari keempat,
yakni kelangsungan hidup pemain, jelas merupakan syarat mendasar. Dan membunuh
penyihir seharusnya menjadi cara untuk melakukan penyucian.
“Halo,
Mahiru-san? Jangan-jangan kamu marah? Tadi itu cuma bercanda ringan, lho.”
Namun,
penyihir itu konon sudah mati. Karena itu, katanya, cukup bertahan sampai hari
keempat untuk menyelesaikan dunia ini. Para pemain yang berhasil keluar dari
dunia ini pun melakukannya dengan cara itu.
Namun,
jika dipertanyakan, ada kejanggalan.
Jika
penyihir sudah mati di dunia ini, mengapa kegilaan belum juga lenyap?
Serius, ini penuh kejanggalan.
Karena
syarat membunuh penyihir sudah terpenuhi, maka cukup mencapai pagi hari keempat
untuk menyelesaikan dunia. Berdasarkan itu, si Gembala berkata bahwa langkah
yang benar adalah membunuh Olivia, membuat Maisy membunuh serigala, lalu
terakhir membunuh Maisy.
Namun,
jika tujuan hanya untuk mencapai pagi hari keempat, tidak perlu mengambil risiko
sebesar itu.
“Mengabaikanku,
ya? Berani juga kamu. Kalau begitu, aku tidak akan sungkan mengerjaimu, lho?”
Misalnya,
cukup berdiam diri selama tiga hari di pondok awal pun syaratnya sudah
terpenuhi.
Jika
tidak melakukan apa-apa saja sudah bisa menyelesaikan permainan, bukankah
sebagai permainan maupun sebagai cerita ini terlalu runtuh?
Barang
yang muncul di pondok awal, latar belakang para tokoh, Grimm Note, semuanya
jadi tidak berarti.
Semua
kejanggalan ini bermula dari anggapan bahwa mengalahkan penyihir adalah syarat
penyelesaian.
Artinya,
yang diperlukan untuk penyucian bukanlah pembunuhan penyihir.
Atau mungkin ada syarat lain selain
itu.
Dengan
kata lain, penyelesaian menurut si Gembala hanyalah satu rute, dan mungkin ada true ending yang tersembunyi.
Kalau
begitu, masuk akal... tapi kenapa si Gembala yang seharusnya terus mengamati
tidak menyadarinya?
Tidak,
mungkin justru sebaliknya, pikir Mahiru.
Karena
terus mengamati, dia jadi tidak bisa menyadarinya.
Bagaimanapun,
si Gembala telah mengamati 21.114 kali pengulangan.
Di
tengah sebagian besar pemain yang berakhir dalam keputusasaan, jika akhirnya
ditemukan satu rute untuk keluar, tidak aneh jika dia menganggap itulah jawaban
yang benar. Lagi pula, sejak awal salah satu syarat penyelesaian sudah
terpenuhi, itu sendiri sudah mustahil sebagai sebuah permainan.
“Dilihat
wajah menangisnya oleh gadis yang lebih muda, lalu dikerjai seenaknya, Mahiru-san
tidak apa-apa dengan itu?”
Meski
sudah memikirkan sejauh ini, inti masalah belum juga terpecahkan.
Bahkan
bisa dibilang dia kembali ke titik awal. Dia terseret ke dalam permainan ini,
tetapi tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Jika bahkan sosok navigator
pun tidak tahu, lalu siapa yang tahu?
Secara
logis, mungkin sosok game master.
Namun
dia tidak punya petunjuk tentang keberadaan seperti itu. Satu-satunya makhluk
berakal yang ditemuinya sebelum tiba di dunia ini hanyalah si Gembala.
Game
master berarti entitas yang mengelola dunia ini. Wewenangnya mungkin lebih
tinggi dari pemain, bahkan lebih tinggi dari si Gembala. Sosok yang menjelaskan
aturan. Yang bisa menggunakan kekuatan di luar jangkauan pemain.
Sial, aku tidak mengerti! Setidaknya
kalau ada buku petunjuk!
Penanggung
jawab permainan ini benar-benar layak dipecat.
Mana
ada permainan tanpa buku panduan?
“Atau...
jangan-jangan Mahiru-san memang suka begitu? Punya keinginan dikerjai gadis
imut? Lalu malah senang karenanya?”
“Tunggu...
buku panduan...?”
Pandangan
Mahiru jatuh pada Grimm Note di tangannya.
“Hei,
tolong jangan abaikan aku lagi! Aku bisa menangis, lho! Kamu yakin? Aku bakal
menangis keras-keras sambil menari!”
Tidak
peduli berapa kali Mahiru mengulang, buku aneh itu selalu kembali ke tangannya.
Karena
ini dunia yang menyerupai permainan, dia sempat menganggapnya wajar. Namun jika
dipikirkan baik-baik, hal seperti itu mustahil, bukan?
Sebuah
buku yang memiliki kekuatan melampaui hukum dunia.
Tidak
ada penjelasan apa pun yang tertulis di dalamnya, tetapi ia adalah barang awal
yang wajib dimiliki.
“Tidak...
sebenarnya sudah tertulis?”
Hanya
saja Mahiru yang tidak memahaminya.
“...Ah,
begitu. Mungkin sejak awal semuanya sudah ditunjukkan.”
“Akhirnya
mata kita bertemu juga... sebenarnya ada apa sih?”
“Bisa
jadi, Maisy ini seorang jenius.”
“Hah?
Tiba-tiba apa maksudnya? Kamu pasti sedang mengejekku, ‘kan?”
“Mana
mungkin! Berkat Maisy, mungkin ini bisa terselesaikan. Hei, kamu bisa baca
tulisan, ‘kan?”
“Tentu
saja bisa. Eh, jangan-jangan Mahiru-san tidak bisa?”
“Tidak
bisa. Aku bahkan tidak sekolah SMA dengan benar.”
“SMA?
Eh, kenapa malah terdengar bangga?”
Maisy
menatapnya dengan pandangan penuh iba, tetapi Mahiru sama sekali tidak peduli.
Mahiru
memang tidak bisa membaca bahasa dunia ini. Namun bukan karena itu bahasa asing
dari dunia lain. Sederhana saja, ilmunya kurang.
Kalau
dipikir-pikir, buku cerita bergambar di rumah Elfilia dan kata-kata yang tadi
ditulis Maisy di kertas pun sama.
Bahasa
umum di dunia ini adalah bahasa Inggris.
Dan
kalimat yang tertulis di Grimm Note pun demikian.
Mahiru
membuka Grimm Note dan menunjuk kalimat yang tertulis di balik sampulnya.
“Maisy,
ini bacanya apa?”
I wish what should be where it
should be
“Hmm...
‘Yang seharusnya ada, berada di tempat yang semestinya’, mungkin begitu.”
Buku
sihir yang mengabaikan hukum fisika, Grimm Note.
Inilah
satu-satunya benda asing mutlak yang diberikan oleh entitas tingkat atas dunia
ini.
Selain
si Gembala, satu-satunya sarana untuk menyampaikan kehendak kepada pemain
hanyalah tulisan yang terukir di Grimm Note. Ia adalah barang dengan fungsi
untuk menaklukkan dunia dongeng, sekaligus semacam buku aturan.
Perintah
yang diberikan hanya satu kalimat.
Kalimat
abstrak inilah yang seharusnya dikejar oleh pemain.
Bukankah
ini satu-satunya pedoman tindakan yang seharusnya diikuti?
“Tapi...
apa yang dimaksud dengan ‘yang seharusnya ada’?”
Sesuatu
yang tidak boleh absen dari dunia ini. Sesuatu yang kini tidak berada di tempat
yang semestinya.
Apakah
penafsirannya seperti itu?
Yang
seharusnya ada.
Yang
tidak boleh hilang.
Yang
seharusnya ada di dunia Tudung Merah.
“Ah...!”
Saat
mencapai jawaban itu, Mahiru tanpa sadar menunjuk Maisy.
“Wah,
tunggu, kenapa tiba-tiba begitu!?”
Lebih
tepatnya, dia menunjuk tudung putih yang dikenakan Maisy.
“Itu
dia. Benar. Ada sesuatu yang sangat janggal tepat di depan mata.”
“Hah?
Aku tidak mengerti, tapi rasanya sedang dihina?”
Tudung
Merah adalah kisah tentang seorang gadis yang mengenakan tudung merah.
Namun
gadis yang berperan sebagai si Tudung Merah di hadapannya justru mengenakan
tudung putih.
Ada
si Tudung Merah, ada nenek, ada serigala, bahkan ada gunting, tetapi tidak ada
tudung merah yang menjadi simbol cerita itu sendiri. Bukannya itu aneh?
Lagipula,
bukti yang mengarah ke sana sudah ada.
“Waktu
pertama kali melihatnya, aku tidak menyadarinya...”
Mahiru
menegakkan Grimm Note agar isinya tidak terlihat oleh Maisy, lalu mengeluarkan
sebuah foto dari penyimpanan.
Sudah kuduga...!
Foto
hitam-putih yang menampilkan Maisy, kakaknya, dan ayah mereka.
Maisy
dan kakaknya masing-masing mengenakan tudung dengan warna berbeda.
Tudung
yang dikenakan sang kakak berwarna putih.
Sedangkan
tudung yang dikenakan Maisy tampak hitam, namun itu foto hitam-putih.
Seharusnya
itu berarti bukan hitam, melainkan merah?
Yang
seharusnya ada di tempat yang semestinya.
Jawabannya
sangat mungkin berarti mengembalikan tudung merah kepada Maisy.
“Maisy,
kamu punya ingatan tentang tudung merah?”
“Apa-apaan
ini, tiba-tiba sekali.”
“Kamu
‘kan pakai tudung putih. Kupikir warna merah juga cocok untukmu.”
“Oh,
seleramu lumayan juga! Merah! Cocok sekali untukku yang imut ini!”
“Kamu
pernah punya? Atau pernah melihatnya?”
“Tidak.
Aku tidak punya selain tudung ini. Jadi kalau Mahiru-san mau menghadiahkannya,
tidak masalah, lho?”
Maisy
menepukkan kedua tangannya dan tersenyum manis.
Namun
selama foto itu ada, seharusnya dia pernah memiliki tudung berwarna.
Apakah
dia berpura-pura tidak tahu? Tidak, Maisy tidak punya alasan untuk berbohong,
dan dia tidak terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kalau
begitu, tudung putih itu dari mana? Dapat dari seseorang?”
“Oh,
ini? Sepertinya memang sudah kupunya sejak awal...”
“Mungkin?”
Jawaban
yang aneh. Terasa ragu dan tidak meyakinkan.
Saat
Mahiru menatap wajah Maisy, gadis itu akhirnya membuka mulut seolah menyerah.
“Ehm...
aku juga tidak terlalu ingat, tapi sebenarnya kemarin aku pingsan di hutan.”
“Di
hutan? Kamu?”
Informasi
baru yang tidak terduga.
“Iya.
Ah, tapi tidak ada luka apa-apa, kok. Lalu waktu sadar, benda ini sudah ada di
tanganku...”
“Dan
kamu langsung memakainya.”
“Iya.
Entah kenapa terasa pas sekali, tudung ini. Rasanya tidak tenang kalau tidak
ada sesuatu di kepalaku.”
Berarti
tudung putih itu bukan milik asli Maisy.
Soal
dia ditemukan pingsan di hutan juga mengusik, tetapi jika didalami terlalu jauh
justru akan mencurigakan.
Yang
seharusnya ada di tempat yang semestinya.
Dari
kalimat itu, tidak ada yang lebih cocok selain tudung merah.
Mengembalikan
tudung merah kepada Maisy, itulah yang seharusnya menjadi kunci penyelesaian
cerita dan penyucian kegilaan.
Foto
itu menjadi bukti bahwa tudung merah memang ada.
Berarti
dia harus menemukannya, apa pun caranya. Misterius memang mengapa Maisy tidak
tahu soal tudung merah itu, tetapi jika memang awalnya milik Maisy, kemungkinan
besar masih ada di rumah ini.
Dengan
pemikiran itu, Mahiru mulai mencari ke seluruh penjuru rumah.
Yang
paling mencurigakan tentu kamar Maisy.
Saat
Maisy pergi ke toilet, Mahiru memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke kamar itu.
Dia
pernah masuk ke sana pada putaran ketiga. Setelah Mahiru membunuh Olivia yang
mencoba merasuki tubuh Maisy, dan kondisi mental Maisy hancur, mereka
menghabiskan malam bersama di kamar ini.
Kamar
yang sangat mencerminkan diri Maisy, feminin dan manis.
Mahiru
membuka lemari pakaian. Sebagian besar isinya pakaian putih. Hampir seragam, atau
mungkin hanya detail seperti posisi renda yang sedikit berbeda. Sesekali ada
pakaian merah, tetapi pada dasarnya hanya dua warna itu. Warna merah cukup
mencolok sehingga memudahkan pencarian, tetapi tidak ada yang menyerupai tudung
merah. Rak di sebelahnya juga kosong dari petunjuk. Saat membuka rak bagian
bawah... isinya pakaian dalam.
“...”
Dengan
perasaan bersalah dan canggung, dia tetap memeriksa sampai ke bagian paling
dalam. Tetap saja, tidak ada tudung merah. Dia juga memeriksa bawah tempat
tidur, sekitar meja, dan sudut-sudut lain, tetapi tidak menemukan apa pun yang
menyerupainya.
Berikutnya,
dia memeriksa kamar sang kakak.
Ruangan
itu sederhana dan tertata rapi. Cangkir teh yang dipajang mencolok kemungkinan
adalah hadiah dari Maisy, seperti yang pernah dia katakan. Mahiru mengambil
buku yang terbuka di atas meja, tetapi isinya penuh tulisan bahasa Inggris yang
tidak dia mengerti. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan tudung merah, dan
kepalanya mulai terasa pening, jadi dia segera menutupnya. Dia memeriksa
lemari, rak, kolong dan atas tempat tidur, hingga laci meja, tetap tidak ada
tudung merah.
Mencari
secara membabi buta mungkin memang tidak efisien... namun tetap saja, dia
melanjutkan pencarian ke kamar sang ayah.
“Mahiru-san?
Sedang apa di sana?”
Saat
berdiri di depan pintu, suara Maisy memanggilnya.
Berkeliaran
di rumah orang lain memang wajar jika dicurigai. Terlebih lagi, yang dia
lakukan memang tidak bisa dijelaskan pada Maisy.
“Eh...
itu...”
“Tertarik
sekali dengan kamar pribadi si gadis super cantik Maisy-chan? Tidak boleh, lho.
Katanya, gadis lebih menarik kalau punya banyak rahasia.”
“Ah,
i-itu benar.”
“Eh,
kenapa kamu kelihatan mencurigakan sekali?”
“Tidak
kok. Ini memang gerak-gerikku yang biasa.”
“Tidak
masuk akal sama sekali. Ya sudahlah. Pas sekali, bisa tolong bereskan kamar
itu?”
Maisy
menunjuk pintu tepat di depan Mahiru, kamar ayahnya.
“Itu
kamar yang rencananya akan Mahiru-san pakai untuk menginap, tapi agak sedikit
berantakan.”
Menyingkirkan
Mahiru, Maisy membuka pintu dan menoleh dengan senyum lebar.
Pemandangan
di dalamnya tetap seperti bencana. Pakaian berserakan. Gelas bir dengan sisa
cairan. Botol-botol kosong. Berbagai barang acak. Roti berjamur.
“Ini
bukan sekadar sedikit berantakan...”
Namun
memang kamar ini yang ingin dia periksa. Kesempatan emas.
Dengan
izin Maisy, Mahiru masuk ke kamar ayahnya untuk mencari tudung merah, sekaligus
membersihkan.
Pada
putaran pertama dan ketiga, dia pernah merapikan ruangan ini sampai lantainya
terlihat, jadi lemari dan rak sudah hampir sepenuhnya diperiksa sebelumnya.
Yang
tersisa mungkin area sekitar meja. Dia membuka laci penyimpanan di meja. Isinya
hanya alat tulis acak dan beberapa lembar kertas, tidak ada yang istimewa. Dia memeriksa
lemari sekali lagi untuk memastikan, tetapi hasilnya nihil.
Setelah
itu, tanpa banyak harapan, dia melihat ke bawah tempat tidur.
“Hmm?
Apa ini?”
Yang
dia temukan justru sebuah buku tipis dengan sampul kulit.
Mahiru
mengambilnya. Sampul kulit cokelatnya terlihat mewah, meski menguning dan penuh
kerutan. Halamannya mudah dibuka, tetapi hampir semuanya kosong. Tulisan hanya
ada di sekitar sepuluh halaman pertama. Dari tanggal dan gaya penulisannya,
sepertinya sebuah catatan harian. Namun karena ditulis dalam bahasa Inggris,
isinya tidak bisa dia pahami.
“Buku
harian? Ini milik ayahnya, mungkin... rasanya aneh kalau minta Maisy
membacakannya...”
Sambil
membolak-balik halaman, matanya tiba-tiba tertumbuk pada beberapa kata dalam
satu kalimat, membuatnya tanpa sadar bersuara.
I was abandoned by my wife and my
mother died
mother
dan died.
“...Apa?”
Saat
membaca lebih jauh, dia juga menemukan kata olivia.
Ini
setidaknya masih bisa dia pahami.
“Ibu”
dan “meninggal”.
Ibu
dari ayah Maisy berarti nenek bagi Maisy.
Dan
“Olivia” nama neneknya Maisy, nenek yang tadi makan pai apel bersama mereka.
Dia
mencoba membaca kalimat di sekitarnya, tetapi tetap tidak sepenuhnya mengerti.
Namun
dia bisa menebak.
“Tunggu...
kalau begitu, semuanya masuk akal, bukan...?”
Bukan
kebetulan matanya tertarik pada kata-kata itu.
Itu
adalah hasil dari akumulasi kejanggalan yang selama ini dia rasakan.
Informasi
yang sebelumnya tidak berarti dan hanya terasa ganjil kini terhubung oleh satu
kemungkinan.
“Sudah
kuduga... rumah ini punya empat kamar, tapi tidak ada kamar untuk Olivia. Itu
memang aneh.”
Mahiru
berlari keluar dari kamar ayahnya dan bergegas menuju ruangan di sebelah yang
dijadikan gudang.
Di
dalamnya hanya ada lima peti kayu.
Saat
ini ruangan itu memang tidak digunakan, tetapi pada dasarnya, katanya,
barang-barang pribadi Olivia disimpan di sana. Meski disebut gudang, kalau
isinya hanya sebanyak ini, rasanya lebih baik dijadikan kamar Olivia saja.
Namun kenyataannya tidak demikian. Konon Olivia sendiri yang mengatakan bahwa dia
tidak memerlukan kamar pribadi, tapi itu pun terdengar aneh.
Dalam
setiap putaran sebelumnya, Olivia tidur di ranjang yang sama dengan Maisy. Satu
ranjang untuk dua orang. Apa selama ini mereka selalu menjalani hari-hari
seperti itu?
Saat
Mahiru membuka peti-peti kayu itu, di dalamnya terdapat pakaian, berbagai
barang kecil, buku, peralatan merajut, dan lain-lain, semuanya tampak seperti
barang milik Olivia.
Seolah-olah
seseorang baru saja membereskan peninggalan orang yang telah tiada.
“Oh
iya...!”
Dia
keluar dari ruang gudang dan menuju dapur.
Dengan
saksama dia memeriksa peralatan makan. Piring. Sendok dan garpu. Jika diamati
lebih teliti, dia menyadari bahwa yang benar-benar digunakan sehari-hari hanya
ada tiga set. Memang tersedia lebih banyak untuk tamu, tetapi jumlah piring
yang tampaknya baru dibeli hanya tiga buah.
Untuk
Maisy, kakaknya, dan ayah mereka, tiga orang.
Inilah
salah satu kejanggalan yang sejak lama dia rasakan di rumah ini.
Hampir
tidak ada jejak bahwa Olivia sedang tinggal di sini.
Yang
ada hanyalah jejak bahwa Olivia pernah tinggal di sini.
Catatan
ayah Maisy.
Kamar
yang tertata rapi.
Peralatan
makan untuk tiga orang.
Jawaban
yang ditarik dari semua itu. Artinya...
Olivia
sudah mati.
“Kalau
begitu, siapa Olivia yang itu...?”
Saat
kata-kata itu terucap, bulu kuduknya meremang.
Seorang
nenek tua yang mengaku sebagai nenek Maisy, menyamar sebagai Olivia, tinggal di
rumah ini, dan merencanakan untuk merebut tubuh Maisy. Sosok yang tadi berbicara
santai dengannya itu sebenarnya apa?
Apakah
masuk akal jika dia menganggapnya palsu?
Bahkan
ada serigala yang menyamar menjadi manusia. Sangat mungkin seseorang menyamar
sebagai Olivia.
Kalau
begitu, ada satu hal yang tidak terjelaskan...
“Mahiru-kun,
boleh bicara sebentar?”
“...Hah!?”
Terlalu
tenggelam dalam pikirannya, Mahiru tidak menyadari Olivia mendekat dari
belakang.
Suara
yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya menegang. Jantungnya terasa seperti hendak
meloncat keluar dari mulut.
“A-Ada
apa?”
Meski
berusaha tetap tenang, ucapannya sempat tersendat.
Dengan
gerakan kaku seperti robot, dia menoleh ke arah Olivia.
“Maafkan
aku. Aku mengejutkanmu, ya? Sebenarnya aku ingin meminta tolong. Bisa tolong
ambilkan kayu bakar untuk perapian?”
“A-Ah,
tentu. Kalau cuma itu, saya bisa kok.”
Tidak
tampak sedikit pun tanda-tanda Olivia mencurigainya. Mendengar permintaan yang
begitu biasa, Mahiru menghela napas lega.
“Oh,
benarkah?”
“Iya.
Tapi saya belum terlalu hafal daerah sekitar sini...”
“Kalau
begitu, pergilah bersama May-chan. Nanti akan kusampaikan padanya.”
Setelah
berkata demikian, Olivia berjalan dengan langkah yang agak goyah menuju kamar Maisy.
Dia mengetuk pintu dan memanggil Maisy, lalu menyampaikan agar gadis itu pergi
ke hutan bersama Mahiru untuk memungut kayu bakar.
Dari
balik punggung Olivia, Maisy mengintip Mahiru dan mengangkat bahu seolah
berkata, mau bagaimana lagi.
Tidak
lama kemudian, Mahiru memanggul keranjang di punggungnya dan pergi ke hutan
malam bersama Maisy.
Hubungannya
dengan Maisy berjalan sangat baik.
Percakapan
mereka mengalir ringan, dan tingkat keakraban terasa lebih tinggi dari
sebelumnya. Awalnya Mahiru mengira itu karena pemahamannya terhadap Maisy
semakin dalam. Namun mungkin bukan itu. Barangkali justru Mahiru sendirilah
yang kini lebih membuka hati pada Maisy. Selama ini dia bersusah payah berusaha
meruntuhkan dinding di antara mereka, padahal justru dialah yang membangun
dinding itu terhadap Maisy. Baru kali ini dia benar-benar menyadarinya.
Awalnya
dia khawatir bagaimana jadinya nanti, tetapi melihat sisi Mahiru yang canggung
dan tidak berdaya, kewaspadaan Maisy justru tampaknya menurun.
Sambil
sesekali mengobrol ringan, pikiran Mahiru kembali tenggelam pada kelanjutan
pemikirannya tadi.
Fakta
bahwa Olivia sudah mati memang mengejutkan. Namun tujuan Mahiru adalah
menamatkan cerita ini. Untuk itu, dia harus menemukan barang yang diperlukan, tudung
merah.
Saat
ini yang dikenakan Maisy bukanlah tudung merah, melainkan tudung putih. Dan
tampaknya tudung itu bukan milik Maisy sejak awal.
Kalau
begitu, milik siapa? Jika menilik foto hitam-putih itu, kemungkinan besar milik
kakak Maisy.
Masalahnya,
mengapa tudung itu berada pada Maisy, dan mengapa dia sendiri tidak merasa ada
yang aneh mengenakannya... apa ini ada hubungannya dengan cerita bahwa Maisy
pernah ditemukan pingsan di hutan?
“Hei.”
Sebuah
benturan ringan menyentuh sisi perutnya.
Mahiru
refleks menggeliat karena geli.
“Fugeh...!?”
“Fugeh,
katanya. Fugeh! Mahiru-san lucu sekali!”
“Ngapain
sih, tiba-tiba begitu!”
“Karena
Mahiru-san tidak memperhatikanku. Melamun lagi, ya?”
“Ya,
sedikit. Lagi mikirin perdamaian dunia.”
Ucapan
asal itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah.
Dia
memang berjuang demi menarik masa depan di mana Maisy bisa terus tersenyum.
“Wah,
kedengarannya megah sekali.”
“Begitulah...”
Melihat
Maisy yang tertawa lepas, Mahiru menundukkan pandangannya.
Tadi
pikirannya terputus karena Olivia menyapanya, tetapi ada satu hal yang sangat tidak
masuk akal tentang dirinya.
Olivia
sudah mati, dan Olivia yang sekarang di rumah itu palsu.
Dalam
keadaan seperti itu, mengapa Maisy menerima Olivia palsu?
Tidak
terlihat sedikit pun tanda bahwa Maisy menaruh kecurigaan terhadap Olivia.
Padahal
neneknya yang seharusnya sudah meninggal muncul begitu saja di hadapannya, mustahil
dia tidak merasakan apa-apa.
Seolah-olah
otaknya dicuci...
Tunggu... jangan-jangan begitu.
Hal
paling aneh terkait Maisy adalah kenyataan bahwa dia mulai mengalami kekacauan
sejak hari kedua.
Memang
benar dia sedang tergerus kegilaan. Namun kekacauan yang dialami Maisy jelas
memiliki pemicu. Pada putaran keempat, Mahiru menduga kematian Olivia adalah
pemicunya dan berusaha menghindarinya, tetapi apakah itu berhasil atau tidak
masih meragukan. Pada akhirnya, dia tidak pernah bisa memastikan apa sebenarnya
pemicu yang membuat Maisy kehilangan kendali.
Namun
yang menjadi masalah adalah hakikat dari gejala itu sendiri.
Saat
gejala itu muncul, mungkin karena ingatannya bercampur-aduk, ucapan Maisy
menjadi tidak teratur dan tidak masuk akal.
Dia
berada dalam kondisi yang tidak normal, benar-benar menyimpang.
Namun
bagaimana jika dibalik cara berpikirnya?
Bagaimana jika yang tidak normal
justru Maisy yang sekarang...?
Jika
Maisy telah dicuci otaknya... atau lebih tepatnya, jika ingatannya telah
dimanipulasi, sehingga dia tidak merasakan kejanggalan terhadap Olivia palsu.
Jika
kematian Olivia palsu mengembalikan ingatan yang selama ini hilang. Dan itulah
yang menjadi pemicu hingga dia mengalami kekacauan.
Jika
dugaan ini benar, maka ingatan Maisy dalam kondisi kacau itulah yang justru
benar.
Ada
beberapa hal lain juga yang terasa masuk akal jika dipikirkan demikian.
Pada
putaran keempat, di ruangan terkunci yang terletak di bagian dalam kamar tidur
Elfilia, Mahiru menemukan mayat ayah Maisy.
Jika
ditanya sekarang, Maisy mungkin akan mengatakan bahwa ayahnya orang yang
lembut. Namun dalam kondisi kacau, dia pernah berkata bahwa ayahnya melakukan
kekerasan padanya. Dia dimaki, ditendang. Kenyataannya, dinding dan lantai kamar
sang ayah dipenuhi goresan tak terhitung jumlahnya. Botol-botol minuman keras
yang terbuka, gelas bir, dan berbagai barang berserakan di mana-mana. Dari situ
saja, sudah mudah membayangkan seperti apa sosok ayahnya.
Siapa? Siapa yang memanipulasi ingatan
Maisy? Siapa yang mampu melakukan hal seperti itu...
“...Olivia
palsu?”
Yang
paling diuntungkan dengan memanipulasi ingatan Maisy tentu saja Olivia palsu
yang menyamar itu sendiri. Demi melancarkan tujuannya untuk mengambil alih diri
Maisy, hal itu sangat menguntungkan baginya. Memang terasa agak berbelit,
tetapi jika pelaku cuci otak itu mati, maka cuci otaknya pun akan terlepas.
Penjelasan yang sederhana.
“Hm?
Kamu bilang sesuatu?”
“Tidak.
Maaf. Hanya bicara sendiri.”
“Hmm,
ya sudah. Mahiru-san. Ada satu tempat yang ingin aku singgahi sebentar, boleh?”
Setelah
dengan gerakan yang kini sudah terbiasa memungut kayu bakar hingga keranjang
hampir terisi delapan puluh persen, Maisy memanggilnya.
“Tentu.
Tidak masalah.”
Dipandu
Maisy, mereka keluar ke area hutan yang lebih terbuka. Dia merebahkan diri
dengan tangan dan kaki terentang, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Sambil memandangi banyaknya cahaya-cahaya yang seakan hendak turun menghujani
bumi, dia mendengarkan cerita Maisy.
Waktu
mengalir dengan tenang.
Andai
saja mereka bisa terus seperti ini, tersedot ke dalam lautan bintang selamanya.
Setelah
memikirkan hal sia-sia itu, Mahiru menggeleng. Dia tidak punya waktu untuk
melarikan diri dari kenyataan.
Jika
benar Olivia palsu yang memanipulasi ingatan Maisy, maka dengan menghentikan
manipulasi itu, ingatan Maisy akan kembali, dan keberadaan tudung merah pun
akan terungkap. Namun dia sudah berkali-kali mengalami bahwa makhluk itu bukan
tipe yang bisa diajak bicara. Setidaknya, jika kegilaan yang menyelimuti Olivia
palsu bisa disingkirkan, mungkin percakapan masih mungkin terjadi...
“Syukurlah.
Wajah Mahiru-san terlihat jauh lebih segar sekarang.”
“Ya.
Karena tekadku sudah bulat, mungkin itu yang membuatku sedikit lebih ringan.”
Apa
pun yang terjadi, dia pasti akan menyelamatkan Maisy.
Itu
bukan perkara mudah, tetapi keraguannya telah lenyap.
Jika
tujuan sudah jelas, yang tersisa hanyalah berlari sekuat tenaga ke arahnya.
“Waktu
pertama kali bertemu, wajahmu seperti orang yang hampir mati! Kalau aku biarkan
saja, mungkin sekarang kamu sudah tidak bernyawa.”
“Maaf
soal itu.”
“Kamu
tiba-tiba menangis, aku sampai tidak tahu harus bagaimana.”
“...Maafkan
aku... tapi tolong, jangan lanjutkan lagi.”
Menangis
tersedu-sedu di depan gadis yang lebih muda dan secara praktik baru pertama
kali ditemuinya. Dia bahkan mengucapkan banyak hal memalukan.
Mengingatnya
saja sudah cukup membuatnya ingin menghilang dari dunia.
Rasa
malu itu begitu besar sampai sempat terlintas pikiran bodoh untuk mengulang
semuanya dari awal.
“Kalau
bisa bangkit seperti sekarang, itu semua berkat Maisy-chan yang imut dan
menggemaskan ini. Bersyukurlah dengan sepenuh hati.”
“Aku
benar-benar bersyukur.”
“Bagus!
Kalau begitu, tunjukkan lewat tindakan!”
“Besok
akan kubalas budi. Pasti.”
Dia
tidak ingin lagi membuat Maisy tenggelam dalam keputusasaan.
Meskipun
Maisy sendiri tidak ingat.
“Dalam
waktu dekat? Baiklah, akan kutunggu tanpa berharap terlalu tinggi.”
Sambil
berkata demikian, Maisy berdiri dengan satu entakan ringan.
Dia
meregangkan tubuh besar-besaran, lalu mengulurkan tangan. “Mari kita pulang.
Nenek pasti menunggu.” Mahiru menggenggam tangan itu dan berdiri.
Dengan
keranjang penuh kayu bakar di punggung, dia berjalan berdampingan dengan Maisy
kembali ke rumah.
Saat
rumah beratap merah tempat Olivia menunggu mulai terlihat, Mahiru memutuskan
untuk kembali menanyakan sesuatu yang sebelumnya belum sempat dia tanyakan.
Rasanya mustahil tidak ada cara yang disiapkan untuk memecahkan situasi ini.
Dan sejak awal, hanya inilah yang diberikan kepadanya.
“Maisy,
boleh tanya satu hal?”
“Ya?”
“Menurutmu,
ini artinya apa?”
Mahiru
membuka halaman pertama Grimm Note yang dia keluarkan, lalu menunjuk sebuah
kata.
Chapter
1—Record berarti catatan.
Chapter
3—Storage berarti penyimpanan.
Satu-satunya
kata yang tidak dia pahami adalah pada bagian Chapter 2—“Purification”.
“Itu
artinya menyucikan atau memurnikan.”
Temukan
sumber yang mengacaukan dunia dongeng ini, dan sucikan. Itulah tugasmu. Tidak,
tugasmu dan tugasku.
Kata-kata
si Gembala terngiang kembali di benaknya.
Itu
berarti, tujuan sejatinya memang tidak lain adalah “memurnikan kegilaan”.
Jadi,
ternyata cara yang begitu jelas sudah diberikan sejak awal.
Memang,
kisah ini menjadi rumit sebagian karena ulah si Gembala, tetapi kebodohan Mahiru
sendiri pun tampaknya tidak kalah besar perannya.
Ini
kelalaian yang besar. Terlalu besar. Hampir seperti dia memainkan permainan
tanpa menyadari adanya fitur yang terbuka sejak tutorial, lalu terus
melanjutkan penaklukan tanpa memanfaatkannya.
Pedoman
untuk menamatkan kisah ini, sekaligus sarana untuk melakukannya, semuanya telah
termuat dalam Grimm Note ini.
“Jadi
begitu rupanya.”
Dengan
menggunakan Grimm Note, kegilaan itu bisa disingkirkan.
Memutus
lingkaran keputusasaan... Dan untuk itu, dia akan memulai bab terakhir.
*
* *
Tanpa
sekali pun terseret ke dunia mimpi, Mahiru menyambut pagi, sementara suara
kesibukan rumah tangga mulai terdengar riuh. Sepertinya Maisy dan Olivia pun
sudah mulai beraktivitas.
Tidak
lama kemudian, terdengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kamar
Mahiru, lalu pintu terbuka dengan kasar. Pada saat yang sama Mahiru yang baru
saja bangun duduk, dan pandangannya bertemu dengan Maisy yang membelalakkan
mata.
“Mahiru-san
itu lemah kalau pagi! Semua sel di tubuhku berteriak begitu!”
Maisy
yang datang untuk membangunkannya berteriak sambil membawa wajan di tangannya.
Tampaknya,
seakrab apa pun hubungan mereka, dia tetap melengkapi diri dengan wajan.
“Kenapa
begitu?”
“Karena
aku ingin melakukan macam-macam pada Mahiru-san yang sedang tidak berdaya.”
“Oh,
begitu. Hal-hal mesum, ya.”
“Hal-hal
berdarah-darah♡”
Maisy
mengangkat wajannya dan tersenyum manis.
Bagi
Mahiru, yang pada putaran ketiga tubuhnya benar-benar dicabik-cabik, itu bukan
lelucon yang bisa ditertawakan.
“...Baiklah,
waktunya menyiapkan sarapan, ‘kan? Aku bantu Olivia-san saja.”
Dengan
suara datar, Mahiru berdiri lalu meregangkan tubuh lebar-lebar.
Setelah
itu, seperti biasa mereka sarapan dan kemudian membelah kayu bakar.
Jika
Mahiru tidak melakukan apa pun di sini, tubuh Maisy akan dirampas oleh Olivia
palsu yang telah dirasuki kegilaan. Pertama-tama, itu harus dicegah.
Jangan sampai salah langkah...
Mahiru
memberi tahu Olivia palsu bahwa dia akan menuju gudang, lalu berjalan ke
belakang rumah. Ketika dia melirik ke samping, dari jendela terlihat sosok
Olivia duduk di kursi goyang. Sinar matahari terasa lembut dan hangat menyentuh
tubuh. Dari rimbunnya dedaunan terdengar kicauan burung kecil. Jika hanya bagian
ini yang diambil, suasananya bagaikan sepotong adegan dari dongeng yang damai.
Namun
Mahiru tahu, di balik kedamaian palsu itu tersembunyi sesuatu yang begitu
menjijikkan hingga membuat bulu kuduk meremang.
Saat
sarapan pun, tidak ada yang berubah dalam sikap Maisy dan Olivia palsu, benar-benar
seperti nenek dan cucu yang akrab. Maisy mengkhawatirkan kondisi tubuh Olivia
palsu. Olivia palsu membelai kepala Maisy dengan penuh kasih.
Ah,
pemandangan yang begitu mengerikan.
Hanya
Maisy yang tidak mengetahui kebusukan yang disembunyikan itu.
Sosok
ayah yang lembut. Kakak yang seharusnya kembali. Nenek yang baik hati. Semua
yang membentuk kebahagiaannya hanyalah ilusi, dan pada akhirnya, bahkan
tubuhnya sendiri hendak dirampas.
Ini
adalah kisah di mana Maisy akan kehilangan segalanya.
Hal
seperti itu tidak boleh dibiarkan.
Tenang... tenang...
Menahan
gejolak di dadanya, Mahiru bersandar pada dinding rumah.
Dia
menggenggam Grimm Note di tangannya erat-erat dan mengembuskan napas tipis.
Keringat
dingin merambat di punggungnya, jantungnya berdetak keras tanpa henti.
Pertaruhan
nyawa, tidak peduli berapa kali diulang, tidak pernah menjadi sesuatu yang bisa
dibiasakan.
Sebenarnya
dia ingin membuang semuanya dan melarikan diri.
Menutup
mata dari kenyataan, menyerahkan diri pada ketakutan, dan mencari kelegaan.
Namun
apa yang akan berubah jika dia melakukannya?
Dia
tidak berpendidikan. Tidak memiliki bakat luar biasa. Tidak punya masa depan
yang gemilang.
Selain
satu keluarga yang dia tinggalkan, tidak ada apa pun di tangannya.
Tidak,
mungkin pernah ada.
Mungkin
bahkan setelah semuanya dirampas, masih ada jalan yang tersisa.
Dan
bahkan kemungkinan itu pun telah dia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Ah,
manusia yang begitu bodoh.
Jika
ditanya kepada seratus orang, seratus orang itu pasti akan menilai Mahiru
demikian.
Mahiru
sendiri pun berpikir begitu.
Dicari
ke seluruh dunia pun, mungkin sulit menemukan manusia yang lebih sampah dari
dirinya.
Makhluk
tidak bernilai seperti itu, yang bisa dipertaruhkan hanyalah tubuh ini sendiri.
Begitu
ringan hingga terasa berlebihan menyebutnya sebagai “taruhan”, hanya nyawa ini
saja.
Sadari
bahwa rasa sakit pada tubuh hanyalah hal sepele. Ukir dalam-dalam, penyesalan
terbesar atas apa yang akan kamu rasakan.
Tutup
ketakutan, rasa sakit, dan amarah itu dengan kebencian dan dendam.
Tetap tenang... nyalakan hatimu...!
Mahiru
memejamkan mata kuat-kuat dan menyalakan api di dalam hatinya.
Dia
memantapkan tekad untuk menghadapi nenek tua yang menjijikkan itu.
Si
Gembala pernah berkata bahwa Maisy hanyalah sebuah karakter. Namun Mahiru yang
sekarang bisa menertawakannya sebagai omong kosong.
Entah
dia manusia hidup, karakter fiksi, bahkan jika dia android sekalipun, itu hal
yang terlalu sepele untuk dipersoalkan.
Maisy
punya hati.
Jika
tidak, mustahil dia bisa mengguncang hati Mahiru sedalam ini.
Dari
lubuk hatinya, Mahiru menginginkan kebahagiaannya.
Sebesar
Maisy disakiti, sebesar itu pula dia membenci ketidakadilan dunia ini.
Dia
menarik napas panjang, lalu mengembuskannya.
Dia
tidak akan membiarkan Maisy merasakan keputusasaan lagi.
Untuk
itu, Mahiru akan membunuh ketidakadilan.
“Kyyaaaaaaaaaaa...!”
Jeritan
Maisy terdengar dari dalam rumah.
Mahiru
memeluk Grimm Note dan meletakkan tangan pada bingkai jendela.
Di
dalam rumah, dia melihat Maisy terduduk jatuh dan mundur menjauh dari Olivia.
“Uraaah!”
Dia
menendang jendela hingga pecah dan menerobos masuk dengan kasar. Mahiru berdiri
di depan Maisy dan berhadapan langsung dengan Olivia.
“Mahiru...
san?”
“Kamu
baik-baik saja, Maisy?”
Sambil
membuka Grimm Note, Mahiru menoleh dan berbicara lembut pada Maisy.
“Tidak,
itu... um...”
“Sesuai
janji, aku datang untuk membalas budi kemarin.”
Sambil
berkata demikian, dia kembali menghadap Olivia. Ini sudah kali keempat dia
berhadapan dengan Olivia dalam keadaan seperti ini.
Pertama
kali, tubuh Maisy dirampas, dan Mahiru sendiri dibunuh setelah kaki dan
tangannya dipotong.
Kedua
kali, Mahiru membunuh Olivia dengan kapak.
Ketiga
kali, meski perutnya ditusuk dengan pisau dapur, dia berhasil memukulnya dengan
kunci perak dan mengikatnya.
“Bocah
sialan... mungkin seharusnya aku membunuhmu juga. Supaya tubuh Maisy bisa
kupastikan...”
“Maaf,
tapi aku tidak berniat berdebat denganmu dalam keadaan seperti itu.”
Tanpa
mengubah ekspresi sedikit pun, Mahiru memotong ucapan Olivia.
“Apa
maksudmu?”
“Maksudku,
untuk masa depan di mana Maisy bisa tertawa, kamu tidak diperlukan.”
“Hyah
hyah hyah, kupikir bocah ini mau bilang apa. Masa depan di mana dia bisa
tertawa? Mana mungkin itu datang! Bocah ini cuma punya nilai sebagai wadah, tidak
lebih dari itu!”
Mendengar
kata-kata Mahiru, Olivia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang
terbelah mengerikan, seolah benar-benar geli dari lubuk hati.
Jika
ini Mahiru yang dulu, mungkin dia sudah meluapkan amarahnya di sini. Namun
sekarang justru dia bisa tetap tenang. Mungkin karena dia telah benar-benar
menerima bahwa makhluk di hadapannya ini bukan nenek Maisy, melainkan monster
malang yang dirasuki kegilaan.
“Begitu
tahu kamu cuma palsu yang mengaku-aku sebagai arwah orang mati, semua ucapanmu
jadi terdengar ringan.”
“Yang
ringan itu nyawamu, bukan? Gara-gara ikut campur dengan Maisy, kamu akan mati
sia-sia di sini.”
Olivia
palsu mengeluarkan pisau dapur dari balik selimutnya dan mengarahkan ujungnya
ke Mahiru.
“Nenek,
hentikan... tolong hentikan.”
“Kalau
kamu mau menyerahkan tubuh itu padaku, mungkin aku masih bisa mengampuni nyawa
bocah ini.”
Bohong.
Sekalipun Maisy menyerahkan tubuhnya, Olivia palsu tidak akan pernah membiarkan
Mahiru hidup, orang yang mengetahui soal pertukaran itu. Hal itu sudah terbukti
di putaran pertama.
“K-Kalau
begitu... tidak apa... kalau itu yang nenek inginkan...”
“Maisy!”
Teriakan
keras Mahiru membuat tubuh Maisy tersentak.
“Jangan
gampang menyerah dan melepas semuanya begitu saja. Yang membuatku bangkit saat
aku tidak punya jalan keluar itu, bukan siapa-siapa selain kamu, ‘kan?”
“Mahiru-san...”
Mendengar
kata-kata Mahiru, wajah Olivia palsu berkerut penuh kejengkelan.
“Ah,
sepertinya memang harus membunuhmu dulu sebelum semuanya bisa dimulai.”
Olivia
palsu menggenggam pisaunya kuat-kuat, lalu mengambil posisi dengan kedua tangan
dan kaki kanannya bertumpu di lantai. Dari posisi itu, dia akan menerjang
dengan kecepatan mengerikan, Mahiru tahu betul. Saat Olivia palsu menendang
lantai, pada detik yang sama Mahiru melepaskan mantelnya dan membentangkannya
seperti hendak menghadapi banteng.
Benturan.
Mahiru
membungkus Olivia palsu dengan mantel itu dan meredam momentumnya. Dari luar
mantel, dia memeluk dan menguncinya dengan kedua tangan.
Namun
pisau yang digenggam kuat itu merobek mantel dan melesat ke arah wajah Mahiru.
“...!”
Dia
menghindar dengan memiringkan kepala. Rasa panas menjalar di bawah mata
kirinya. Tergores.
Olivia
palsu berdecak kesal. Dia meronta mencoba melepaskan diri, namun Mahiru juga
memperkuat cengkeramannya.
Jika
dianggap sebagai nenek tua, kekuatan ini sungguh tidak masuk akal. Tapi
dibandingkan tenaga liar seekor serigala, ini bukan apa-apa.
Selagi
menahan Olivia palsu, Mahiru membuka suara ke arah Maisy yang terpaku tidak bisa
bergerak di belakangnya.
“Maisy!
Setelah ini, kamu akan mengingat tragedi yang begitu parah sampai kamu mungkin tidak
bisa lagi percaya apa pun. Tragedi yang akan membalikkan nilai-nilaimu,
pengalamanmu, segalanya.”
Itu
adalah pembicaraan setelah dia melumpuhkan Olivia palsu.
Dimulai
dari fakta bahwa nenek tua ini mengincar tubuh Maisy, masa lalu yang penuh
keputusasaan akan terkuak. Artinya, cepat atau lambat Maisy harus menghadapi
kebenaran kejam yang selama ini dipendamnya.
Karena
itu, di saat terdesak seperti ini, Mahiru ingin dia memutuskan.
Tekad
untuk melawan dengan kuat.
“Kamu
mungkin tidak bisa percaya apa pun lagi. Mungkin kamu akan berpikir hidup ini tidak
ada gunanya.”
Bahwa
Olivia yang asli sudah lama mati.
Bahwa
dia dianiaya oleh ayahnya sendiri.
Bahwa
dia membuat perjanjian dengan penyihir dan menyerahkan hadiah dari kakaknya.
Bahwa
sang penyihir membunuh ayahnya.
Bahwa
kakak tercintanya menghilang tanpa jejak.
“Tapi
ingat satu hal ini. Apa pun yang terjadi, aku selalu ada di pihakmu, Maisy.”
“Mahiru-san...
aku... aku...”
Suara
Maisy yang lirih, dipenuhi keraguan, terdengar sampai padanya.
“Jangan
terhasut oleh kata-kata manis yang terdengar indah, Maisy!”
Olivia
mendorong lebih kuat lagi. Pisau di samping wajah Mahiru bergetar berbahaya.
Dalam posisi seperti ini, adu tenaga jelas merugikannya.
Mahiru
mengambil keputusan dan merendahkan tubuhnya. Pisau itu melintas tepat di
atasnya. Olivia palsu, masih terbungkus mantel, terjatuh menindih dengan
momentum yang sama. Mahiru menumpukan tangan ke lantai dan menendang perutnya
dari balik mantel.
“Guh,
geh!”
Tubuh
Olivia palsu yang ringan terguling di lantai dan terhenti setelah punggungnya
menghantam kaki meja. Dia memegangi perutnya yang ditendang dan terbatuk-batuk
hendak muntah.
Melihat
itu, Mahiru tahu ini kesempatannya. Dia mengangkat Grimm Note dan membuka
sampulnya.
“Ini
akhirnya. Tunjukkan wujud aslimu, dasar palsu...!”
Fungsi
ketiga yang tercatat di dalamnya.
Bab
Kedua Grimm Note. Bagian Pemurnian.
“Bersihkan
kegilaan makhluk ini! Grimm Note!”
Cahaya
suci yang memurnikan kegilaan mengenali targetnya dan aktif.
Cahaya
menyilaukan memancar dari Grimm Note, berputar dan menari. Cahaya suci itu membentuk
spiral, menyelimuti Olivia. Seolah mengikis kenajisan, dia mengerucut perlahan
namun pasti.
“Apa...
apa yang kamu lakukan, bocah sialan!”
Melihat
tubuhnya diselimuti cahaya, Olivia palsu meraung marah.
Ini
memang pertaruhan, namun pemurnian benar-benar aktif. Cahaya itu membungkus
Olivia dan bekerja pada kegilaannya. Yang jadi masalah adalah kecepatannya.
Sial, pemurnian ini lama sekali!?
Diselimuti
cahaya pemurnian, Olivia palsu menggigil kesal. Namun tampaknya belum cukup
untuk membuatnya tidak bisa bergerak. Dengan tatapan penuh kebencian, dia
menoleh pada Mahiru.
“Bocah
menyebalkan! Cepat mati saja!”
Olivia
kembali mengambil posisi dengan kedua tangan dan kaki kanannya bertumpu, lalu
melesat seperti ledakan. Menendang lantai seperti anjing pemburu, dia menerjang
Mahiru dengan bahunya.
“Guh...!”
Mahiru
yang berdiri terpaku sambil membuka Grimm Note tidak sempat bersiap. Dia terempas.
Bagian belakang kepalanya menghantam dinding kayu di bawah jendela.
“Gah...!?”
Benturan
keras itu membuat Grimm Note terlepas dari tangannya.
Seketika,
cahaya pemurnian kehilangan kilauannya, lalu memudar dan lenyap ke udara.
“Mahiru-san!”
Maisy
berlari menghampiri dan memeluknya dengan hati-hati.
“Mahiru-san...
kenapa sampai sejauh ini...?”
Kenapa.
Mengapa dia begitu terikat pada Maisy.
Jawabannya
sudah dia temukan kemarin.
Namun
pikiran itu terputus oleh Olivia palsu yang mendekat sambil menggenggam pisau
dengan pegangan terbalik.
“Hi
hi. Sungguh, bocah ini benar-benar pengganggu!”
Mahiru
buru-buru mendorong Maisy menjauh. Dia bangkit berdiri, menyilangkan kedua
lengannya di atas kepala, lalu menahan lengan yang diayunkan turun. Ujung pisau
dapur itu tepat di depan matanya. Jika terdorong beberapa sentimeter lagi saja,
jaraknya cukup untuk menembus di antara kedua alisnya.
Mahiru
mengatupkan gigi, mati-matian menahan laju pisau itu.
“Yang
pengganggu itu siapa sebenarnya...!”
Alasan
dia begitu terobsesi pada Maisy.
Karena
sejak awal, Maisy-lah yang memberinya kebaikan tanpa pamrih.
Dan
lebih dari segalanya, karena dia merasa Maisy dan dirinya sangat mirip.
“Alasan
aku ingin menyelamatkan Maisy...”
Namun,
mengatakan hal itu langsung di depan orangnya terasa kurang pantas. Dan sedikit
memalukan juga. Jadi dia memilih jawaban yang terdengar masuk akal, yang sama
sekali bukan kebohongan.
“...Mungkin
karena kamu mirip adikku.”
Bagaimana
satu kalimat itu sampai ke hati Maisy, yang terdengar hanya napas halusnya
saja.
Olivia
tidak mengendurkan tangan yang menekan pisau, dan pertarungan saling dorong itu
masih berimbang.
Namun
saat itulah pandangan Mahiru tiba-tiba berputar.
Mungkin
karena dia tadi membenturkan bagian belakang kepalanya terlalu keras. Sekilas,
seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Lututnya tertekuk, dan kedua lengan yang
menahan pisau tidak lagi mampu mempertahankan kekuatannya.
Sial...!
Bilah
yang mendekati keningnya, serta sudut mulut Olivia palsu yang terangkat
menyeringai, terasa bergerak begitu lambat dalam pandangannya.
Lalu,
seolah saling bertukar tempat, rambut pirang berayun memasuki pandangannya.
“Apa
maksudnya itu? Kata-kata yang kuinginkan sedikit berbeda, tahu!”
Dalam
sepersekian detik. Sebelum bilah pisau mencapai Mahiru, Maisy mendorong Olivia
palsu menjauh.
“Guh!?”
Hantaman
mendadak dari samping membuat Olivia palsu terlempar dan tersungkur ke lantai.
Suara
Maisy terdengar sedikit kesal. Namun tidak ada lagi warna keputusasaan di
dalamnya. Nadanya jernih, seolah beban yang merasuki dirinya telah luruh.
“Jadi,
untuk kata-kata itu... akan kuterima di suatu masa depan nanti.”
Napas
Mahiru masih memburu karena ketegangan saat tatapannya bertemu dengan mata
zamrud Maisy.
“Aku
boleh percaya, bukan? Mahiru-san.”
“Ya.
Tentu saja.”
Ketika
Mahiru mengangguk mantap, Maisy meraih gunting raksasa yang bersandar di
samping perapian. Menggenggamnya dengan kedua tangan, dia perlahan mendekati
Olivia palsu.
“Wadah
saja berani-beraninya kurang ajar!”
Olivia
palsu dengan cepat membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap, merendahkan posisi
seolah hendak menerkam Maisy.
Namun
Maisy bergerak lebih cepat. Dengan gunting yang sedikit terbuka, dia
menancapkannya tanpa ragu ke lantai, menjepit leher Olivia di antaranya.
“Kuhg...!?”
Seperti
guillotine. Sedikit saja bergerak, bilahnya akan menyentuh lehernya. Ingin
melepaskan diri pun tidak bisa, lehernya terjepit, tidak ada ruang untuk lari.
“Menancapkan
pisau pada nenek sendiri, benar-benar anak yang tidak tahu balas budi. Kamu
pikir ini akan dimaafkan? Kamu kira dengan perasaan apa aku membesarkanmu
selama ini, Maisy!”
“Maafkan
aku, Nenek.”
Dari
posisi Mahiru, dia tidak bisa melihat wajah Maisy. Namun dia yakin gadis itu
pasti memasang wajah sedih. Maisy yang lembut itu, bahkan dalam keadaan seperti
ini pun, masih belum mampu membenci Olivia palsu sepenuh hati.
“Hihih,
apa kamu sanggup membunuhku, Maisy?”
Dalam
posisi yang tidak wajar, Olivia menengadah ke arah Maisy dengan wajah buruk
rupa, campuran ketakutan dan kegembiraan. Seolah masih melihat celah untuk
memanfaatkan keadaan, tidak ada keraguan dalam kegigihan yang menyala di
matanya.
“Aku
tidak ingin membunuhmu. Bagaimanapun juga, kamu tetap nenekku yang berharga.”
“Kalau
begitu...”
“Tapi!!
Lebih dari itu, aku masih ingin hidup!”
Maisy
menekan gunting itu lebih dalam dan berteriak, seolah sedang mengucapkan
sumpah.
“Bagus,
Maisy! Tahan dia seperti itu!”
Tidak
bisa menyia-nyiakan kesempatan ini, Mahiru kembali mengangkat Grimm Note.
Dia
membuka sampulnya. Menelusuri butir ketiga, bagian pemurnian, lalu berseru
keras.
“Kali
ini benar-benar selesai. Hancurlah...!”
Grimm
Note mengenali Olivia palsu sebagai objek kegilaan dan memuntahkan cahaya suci.
Kali
ini tidak ada celah bagi Olivia palsu untuk melarikan diri. Cahaya itu tidak akan
berhenti sampai seluruh kegilaannya terkikis habis. Hangat namun tajam, cahaya
itu sekaligus menjadi cahaya penyelamatan dan cahaya penghakiman. Cahaya itu
mengambil bentuk dan menembus tubuh Olivia. Dengan gigih, ia mengerucut seolah
mengikis segala kenajisan.
“U,
ga, gi, gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”
Bahkan
dengan mata terpejam, cahaya itu terasa cukup menyilaukan hingga seolah
membakar bola mata dari balik kelopak.
Dengan ini, kegilaannya seharusnya
termurnikan...
Cahaya
suci yang menyelimuti Olivia perlahan mereda, dan memuntahkan seorang gadis.
“Hah?”
Rambut
pirang panjang menjuntai hingga ke pinggang. Wajahnya masih belia, namun
memancarkan aura yang entah bagaimana terasa memikat. Lengan dan kakinya
jenjang. Kaki kirinya yang seharusnya telah hilang kini utuh. Tidak ada luka di
perutnya, dan mungkin karena ukuran tubuhnya berubah, pakaiannya tampak
berantakan. Dia perlahan menyentuh tubuhnya sendiri, menyentuh wajahnya,
memandangi jari-jarinya yang ramping dan indah, sementara mata zamrudnya
bergetar.
“Si...!?”
Saat
hendak mengucapkan “siapa”, dalam benak Mahiru, sosok seorang gadis terhubung
dengan gadis di hadapannya.
Itu dia! Gadis ini!
Tidak
bisa dibilang akrab, namun Mahiru mengenali wajah itu.
Gadis
yang samar-samar menyimpan bayangan wajah Maisy.
Kalau
tidak salah, dia ada dalam foto hitam-putih itu...
“...Kak
Nina?”
Maisy
buru-buru mencabut gunting dari lantai dan menjatuhkannya begitu saja. Dengan
mata terbelalak tidak percaya, dia berlutut di sisi gadis itu.
Mendengar
panggilan Maisy, gadis yang tadinya adalah seorang nenek tua itu mengangkat
wajahnya.
Jati
diri Olivia palsu... Yang muncul di sana adalah kakak Maisy.
Nina
Carmine.
Nina
tampak belum mampu merapikan situasi di kepalanya. Dia memandang ke sekeliling
dengan gelisah, menekan dahinya yang terlihat kesakitan, sementara mulutnya
terkatup-katup seolah hendak mengucapkan sesuatu. Hanya suara lirih yang tidak menjadi
kata yang lolos dari bibirnya.
Pada
saat yang sama, Maisy tiba-tiba menundukkan wajah dan memegangi kepalanya.
“A...
u, ngh...!”
Keadaan
ini sudah beberapa kali Mahiru lihat sebelumnya.
Ingatan
palsu yang ditanamkan sedang terkelupas.
Jadi
benar, Olivia palsu memang telah memanipulasi ingatan.
Mahiru
menggenggam tangan Maisy dan dengan lembut mengusap punggungnya.
“Tidak
apa-apa, tarik napas dalam-dalam. Kamu tidak sendirian, Maisy.”
“Ya,
Mahiru-san... terima kasih.”
Karena
manipulasi ingatan Maisy telah terurai, mungkin seluruh informasi yang selama
ini tersembunyi kini membanjiri benaknya sekaligus. Ingatan yang benar dan
ingatan yang keliru. Campuran keduanya mungkin membuatnya kacau, wajah Maisy
terdistorsi oleh rasa sakit. Namun setidaknya, tidak seperti sebelumnya, dia
tidak sampai kehilangan kewarasan. Dia tampak berjuang keras untuk menelan dan
menerima semuanya dalam dirinya.
Mahiru
menggenggam tangan Maisy yang masih terus menarik napas dalam-dalam dengan
erat, lalu untuk beberapa saat terus mengusap punggungnya, seakan menegaskan
bahwa dia ada di sini bersamanya.
*
* *
Di
depan Maisy, dia tidak boleh terlihat panik. Namun fakta bahwa jati diri Olivia
palsu adalah kakak Maisy, Nina, tetap saja menjadi kenyataan yang mengguncang
bagi Mahiru. Tidak, kalau dipikir-pikir mungkin memang ada petunjuk ke arah itu...
tapi tidak. Dalam keadaan kacau seperti ini, dia tidak punya waktu untuk
memutar otak lebih jauh.
Lagipula,
mungkin itu tidak perlu.
Bagaimanapun
juga, Nina sebagai pihak yang bersangkutan kini ada tepat di depan mereka.
Ditambah
lagi, ingatan Maisy telah kembali dan dia tidak kehilangan kewarasannya.
Tanpa
disengaja, mungkin memurnikan kegilaan Olivia palsu adalah pilihan terbaik.
Maisy
tidak berkata apa-apa. Dia hanya mencengkeram lengan baju Mahiru dan
menundukkan wajahnya.
“Aku...
seharusnya bagaimana, ya?”
Maisy
yang wajahnya tampak begitu letih bergumam pelan.
Berbeda
dengan putaran ketiga dan keempat, kali ini Maisy tidak kehilangan akal
sehatnya. Justru karena itu, dengan pikiran yang jernih, dia menanggung beban
masa lalu yang begitu berat.
Ayah
yang lembut hanyalah ingatan palsu; kenyataannya, dia adalah ayah kejam yang
melakukan kekerasan.
Itu
pernah dia dengar dari Maisy yang mengamuk di gudang makanan kincir air. Dan
setelah melihat kondisi kamar sang ayah, Mahiru yakin cerita itu benar. Maisy disudutkan
oleh ayahnya. Dia membencinya. Dan dia pernah berkata bahwa dia meminta
penyihir untuk membunuhnya.
“Aku
telah melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi... hanya karena emosi
sesaat... padahal pasti ada cara lain.”
Mahiru
tidak bisa sepenuhnya mengerti perasaan Maisy. Namun gadis yang lembut itu
pasti diliputi penyesalan. Meskipun membencinya, dia tetaplah satu-satunya ayah
yang dia miliki. Tapi...
“Mungkin
memang tidak ada jalan lain.”
Dia
tidak akan mengaku memahami seluruh perasaan Maisy, namun Mahiru sendiri telah
menimbun penyesalan yang tidak terhitung jumlahnya.
Misalnya,
saat dia menikam peramal kultus yang telah mendorong kedua orang tuanya hingga
bunuh diri.
Jika
dipikir dengan kepala dingin, tindakan itu tidak efisien dan sia-sia. Sekalipun
peramal itu mati, orang tuanya tidak akan hidup kembali, dan penyakit Asahi tidak
akan sembuh. Bahkan sebaliknya, Mahiru dijebloskan ke lembaga pembinaan anak,
dan dia bahkan tidak bisa leluasa melihat wajah Asahi.
“...Tidak
ada jalan lain?”
Dia
menyesal, dan dia tahu mungkin ada cara lain.
Namun
anehnya, pada saat itu, bagi Mahiru seakan memang tidak ada pilihan lain.
Saat
melihat wajah peramal itu sekilas saja, darah dan dagingnya serasa mendidih, amarah
membakar otaknya hingga terasa seperti direbus. Dia membenci, sangat membenci.
Selain karena kedua orang tuanya, dia menumpahkan seluruh ketidakadilan yang
menimpanya pada sosok itu, lalu mengayunkan pisau. Pada saat itu, tidak ada
jalan lain baginya. Begitulah kondisi mentalnya.
“Kamu
bilang itu cuma emosi sesaat, tapi menurutku bukan berarti seluruh keputusan
lahir hanya dalam satu detik itu. Pengalaman sebelumnya, perasaan yang
menumpuk, semua itu bertambah dan akhirnya memaksa kita membuat keputusan.
Jadi, memang tidak ada jalan lain.”
“Maksudnya
aku tidak perlu memikirkannya? Aku harus mengikhlaskan dan melupakannya begitu
saja?”
“Bukan
begitu. Justru kamu harus benar-benar memikirkannya. Supaya nanti, kalau kamu
berada dalam kondisi mental yang sama, kamu bisa memilih jalan yang berbeda.”
Dia
pikir pilihannya saat itu memang tidak terelakkan.
Namun
dia tetap menyesalinya.
Karena
itu, lain kali dia tidak boleh salah menentukan prioritas.
“Hidupku
juga penuh kesalahan. Tapi untungnya, satu hal yang paling penting masih
tersisa.”
Untuk
melindungi Asahi, dia tidak boleh melupakan kesalahannya sendiri.
Tidak
peduli seberapa besar kebencian menguasai hatinya, dia tidak boleh melupakan
Asahi.
“Bukannya
itu juga berlaku untukmu, Maisy?”
Mendengar
kata-kata Mahiru, Maisy mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada Nina yang
terkulai di atas sofa.
“...Kakak.”
Satu-satunya
keluarga berharga yang masih bisa ia percaya.
Setelah
segala liku dan kekacauan, kakaknya Nina kini hidup di hadapannya.
“Begitu
ya... terima kasih, Mahiru-san. Aku merasa sedikit lebih lega.”
“Syukurlah.”
“Mengubah
perasaan secepat ini memang sulit, tapi demi Kakak, aku ingin mencoba
berusaha.”
Setelah
itu, mereka memberi jeda sejenak sebelum memutuskan untuk berbicara bersama.
Maisy,
Nina, dan Mahiru berkumpul di ruang tamu dan duduk di tempat masing-masing. Maisy
dan Mahiru berdampingan, berhadapan dengan Nina.
Suasana
terasa berat. Nina terus menunduk, sementara Maisy memainkan ujung rambutnya
dengan gelisah. Mahiru pun merasa tidak nyaman, namun jika dibiarkan begini,
pembicaraan tidak akan pernah dimulai.
“Kalau
begitu... anggap saja ini perkenalan resmi. Namaku Misora Mahiru.”
“Nina
Carmine. Tapi aku masih punya ingatan saat menjadi nenek. Jadi, aku tahu
tentang Mahiru-kun.”
Nina
menjawab tanpa mengangkat wajahnya.
“Begitu
ya. Berarti kamu ingat semuanya.”
“Ya.”
Nina
mengepalkan tinjunya erat-erat, tampak menahan rasa getir.
“Aku
ingat... bahwa aku mencoba merebut tubuh Maisy.”
“Kenapa...?”
“Itu
yang ingin kutanyakan! Aku mencintai Maisy lebih dari siapa pun di dunia ini!
Jika Maisy harus mati, aku rela menyerahkan nyawaku sendiri dengan senang hati.
Aku punya tekad itu. Karena itulah... aku membuat perjanjian dengan penyihir.
Tapi justru itu dimanfaatkan olehnya. Bayangkan, membuatku mencoba membunuh Maisy
dengan tanganku sendiri!”
“Dengan
kekuatan penyihir, ingatanmu juga dihapus, lalu kamu dijadikan Olivia, begitu?”
Di
dunia ini, ada rumor tentang penyihir yang bisa mengabulkan permintaan apa pun
dengan imbalan sesuatu yang paling berharga.
Jadi
benar, akar dari semua ini adalah penyihir.
“Ya...
Aku ini kakaknya Maisy. Aku selalu mendoakan kebahagiaan Maisy. Tapi dia,
penyihir itu, mengubah peranku.”
Seolah
mengingat mimpi buruk, Nina memegangi kepalanya dan melanjutkan.
“Kalau
ditelusuri dari awal, yang salah memang aku. Tapi tetap saja, aku tidak tahan.
Aku meremehkan kegilaan penyihir itu. Keberadaanku perlahan-lahan terkelupas
dari dalam, lembar demi lembar, seakan menghilang. Lalu kegilaan
menggantikannya, memenuhi diriku dari dalam. Rasanya seperti lumpur,
menyesakkan... dan ketika kusadari, aku sudah menjadi seorang nenek tua yang
tujuannya merebut tubuh Maisy. Bahkan lengkap dengan pengaturan sebagai
neneknya.”
“Kak...”
“Aku
mencoba membunuh Maisy. Apa pun alasannya, untuk itu saja aku tidak akan pernah
bisa memaafkan diriku sendiri.”
“...Itu
pasti menyakitkan.”
“Apa
yang kamu tahu tentang itu, Mahiru-kun!”
Dengan
suara meninggi, untuk pertama kalinya Nina mengangkat wajahnya.
Kelopak
matanya bengkak, wajahnya basah oleh air mata.
“Aku
tahu. Aku juga punya adik perempuan. Kalau kubayangkan berada di posisimu, aku tidak
yakin bisa tetap waras.”
Jika,
karena suatu kesalahan, dia sampai mencoba membunuh Asahi, Mahiru tidak yakin dia
bisa terus hidup. Apa pun alasannya, dia pasti tidak akan bisa memaafkan
dirinya sendiri.
“Aku
sudah tidak pantas lagi menatap wajah Maisy. Yang terpikir olehku hanya... mati
untuk menebusnya.”
Wajah
Nina terdistorsi, seakan bisa menangis kapan saja saat dia mengucapkannya.
Pada
saat itu, braaak!
Suara
benturan keras mendadak membuat Mahiru dan Nina tersentak, menoleh ke sumber
suara.
Maisy
baru saja menghantamkan tinjunya ke meja, wajahnya dipenuhi amarah.
“Kakak
serius bilang itu? Kakak pikir aku akan sedikit pun merasa senang dengan hal
itu?”
“Aku
telah melakukan hal yang seburuk itu.”
“Kalau
begitu, aku juga sama! Aku juga membunuh Ayah!”
“Itu
bukan salahmu, May-chan!”
“Dan
Kakak juga bukan karena kehendak Kakak sendiri!”
Keduanya
condong ke atas meja, emosi mereka kian memanas. Seakan-akan pertengkaran fisik
bisa pecah kapan saja.
“Hei,
tenang dulu. Kenapa jadi saling menyalahkan begini? Ini aneh, tahu.”
Mahiru
cepat-cepat masuk ke tengah sebagai penengah.
“Karena
Kakak!” “Karena May-chan!”
Keduanya
lalu menoleh pada Mahiru dan mendekat sekaligus.
“Kalian
saling menganggap satu sama lain itu berharga, ‘kan? Memang tidak sesederhana
bilang ‘syukurlah semuanya selamat’, tapi kalau malah bertengkar, itu jadi tidak
masuk akal.”
“Itu...
memang benar, tapi...”
Seolah
tersentuh oleh kata-kata Mahiru, keduanya akhirnya kembali duduk dengan lebih
tenang.
“Pertama-tama,
kita harus bicara dengan kepala dingin. Masih terlalu banyak yang tidak kita
tahu. Kenapa ingatan Maisy diubah. Kenapa Nina membuat perjanjian dengan
penyihir. Dan juga tentang penyihir itu sendiri.”
Dan
yang terpenting, dia ingin tahu keberadaan Tudung Merah.
Saat
Mahiru mengarahkan pandangannya, Nina membuka mulutnya meski wajahnya masih
berkerut menahan getir.
“Ya.
Aku tahu semuanya. Aku bisa menjawab.”
“Aku
boleh ikut mendengarnya juga, ‘kan?”
“Tentu.
Kamu sudah menolongku, Mahiru-kun. Kamu bukan orang luar lagi. Kalau kamu mendengarnya,
kamu pasti akan mengerti. Semua ini salahku. Ini akibat dari pilihan bodoh yang
kuambil.”
Nina
menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengangkat wajahnya menatap
keduanya.
Kebenaran
dari kisah yang dipenuhi kegilaan.
Saat
untuk mencocokkan jawaban dari dunia dongeng ini pun dimulai.
“Baiklah,
akan kuceritakan. Kisah tentang diriku yang belum kalian ketahui...”
*
* *
Rumah
keluarga Nina tidak bisa dibilang sebagai lingkungan yang harmonis.
Ibunya
pergi meninggalkan rumah tidak lama setelah Maisy lahir, dan sejak itu mereka
tinggal berempat: sang ayah, Nina, adiknya Maisy, serta Olivia, nenek dari
pihak ayah. Olivia pun meninggal ketika Maisy berusia sepuluh tahun.
Ayah
mereka adalah pria yang kasar, dan perlakuannya terhadap Maisy terutama sangat
keras. Dia menganggap kepergian istrinya terjadi karena kelahiran Maisy.
Padahal, keputusasaan sang ibu dan kelahiran Maisy sama sekali tidak ada
hubungannya. Hal itu tentu saja sebenarnya dia pahami. Namun, dia membutuhkan
alasan yang mudah disalahkan. Jika tidak menyalahkan sesuatu, dia tidak sanggup
menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah pergi.
Saat
suasana hatinya baik, semuanya terasa baik-baik saja. Namun hari-hari seperti
itu hanya datang sekali dalam tiga hari; selebihnya dia hampir setiap hari
membentak dan memaki. Kekerasan pun bukanlah hal yang jarang terjadi.
Nina
ingin menyelamatkan Maisy dari kekejaman ayah mereka.
Dia
selalu memikirkan itu.
Namun
dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Pernah
terlintas di benaknya untuk membunuh sang ayah, tetapi mewujudkannya
membutuhkan tekad yang luar biasa. Rasa takut terhadap ayahnya pun
menghantuinya. Setiap kali pria itu membentak dengan suara menggelegar seolah
mengguncang tanah, tubuh Nina akan membeku.
Suatu
hari...
Nina
bertemu dengan sahabatnya, Elfilia, di dalam hutan.
Elfilia
berpenampilan seperti gadis desa biasa, tetapi jati dirinya adalah serigala
pemakan manusia. Dia memiliki kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan hidup
tanpa memakan satu orang setiap hari, serta kemampuan untuk menyamar menjadi
wujud manusia yang telah dia santap.
Mungkin
sedang menyukai penampilan itu, Elfilia sudah berminggu-minggu mengenakan wujud
seorang gadis berambut merah dengan bintik-bintik di wajahnya.
“Kamu
sudah makan hari ini?”
“Hah?
Belum sih...”
“Begitu
ya. Kalau begitu aku pulang saja hari ini. Sampai jumpa.”
“Waa!
Tunggu dulu! Aku tidak apa-apa! Aku tidak akan memakan temanku!”
“Aku
sama sekali tidak bisa percaya.”
Elfilia
cenderung memprioritaskan rasa laparnya di atas segala hasrat, janji, maupun
norma. Bahkan diragukan apakah dia benar-benar memiliki rasa moral. Nina tahu dia
gadis yang baik, tetapi tetap saja ada sesuatu dalam dirinya yang terasa
melenceng dari kewajaran manusia biasa.
“Kalau
kamu benar-benar kelaparan dan tidak ada orang lain di sekitarmu selain aku,
apa yang akan kamu lakukan?”
“A-Aku
akan mencari orang lain.”
“Kalau
memang tidak ada?”
“Itu...
maaf ya.”
Elfilia
berkata demikian sambil mengusap perutnya dengan wajah bersalah.
Kejujurannya
yang tidak mampu berbohong itu terasa menggemaskan, tetapi jawaban itu sama
sekali tidak menenangkan.
“Kalau
begitu aku tetap pulang saja.”
“Waa!
Tunggu! Aku serius tidak akan memakanmu!”
Nina
berdiri dan berjalan menjauh, membelakangi Elfilia. Dia tidak sudi kehilangan
nyawa karena dimakan sahabatnya sendiri di tempat seperti ini.
Namun
Elfilia segera mengejarnya dengan panik.
Setelah
berjalan beberapa langkah, Nina tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Baf!
Kenapa tiba-tiba berhenti, Nina?”
Elfilia
yang masih melaju menabrak punggung Nina. Sambil memegangi hidung kecilnya yang
kesakitan, dia mengintip wajah Nina.
Nina
menatap jauh ke dalam hutan.
Di
kejauhan, sekelebat warna merah berkilat.
Dia
tidak mungkin salah melihat apa itu.
“...Maisy?”
Kenapa
dia ada di tempat seperti ini? Bersamaan dengan pertanyaan itu, firasat buruk
menjalar ke seluruh tubuh Nina.
Hari
ini Maisy mengatakan akan pergi ke kota. Nina sempat menawarkan diri untuk
ikut, tetapi Maisy menolaknya dengan keras kepala. Jadi mengapa kini dia berada
di tengah hutan?
Di
bagian terdalam hutan. Seingat Nina, tidak ada apa pun di sana yang layak
dikunjungi...
“Jangan-jangan...!”
Rumor
tentang penyihir itu, menurutmu benar tidak? Kalau memohon pada penyihir, apa
kita bisa jadi bahagia, ya... cuma bercanda kok.
Itu
adalah ucapan ringan Maisy beberapa waktu lalu.
Bagaimana
jika Maisy benar-benar sudah sedemikian terdesak?
Bagaimana
jika itu bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah S.O.S untuk Nina, tanda bahwa dia
sungguh-sungguh mempertimbangkan kemungkinan tersebut?
“Effie,
aku ada urusan mendadak.”
“Aku
‘kan sudah bilang tidak akan memakanmu! Tenang saja! Ya?”
“Bukan
itu. Beneran ada urusan.”
Nina
hendak melepaskan diri dari pegangan Elfilia, tetapi kemudian berhenti. Dia menatap
Elfilia lekat-lekat, memutar otak. Mungkin gadis ini bisa dimanfaatkan.
“Ada
apa, Nina?”
“Effie,
ikut denganku. Kalau berjalan lancar, kamu bisa mendapatkan makanan.”
Nina
menarik tangan Elfilia dan mulai melangkah ke dalam hutan.
“Serius!?
Horeee, maaaakan~!”
Mereka
menyusuri celah di antara pepohonan menuju arah tudung merah yang sempat
terlihat sekilas di kejauhan. Jaraknya lebih jauh dari perkiraan, dan medan
yang buruk membuat langkah mereka tak semudah yang diharapkan. Tujuan mereka
adalah pondok kincir air tempat sang penyihir tinggal.
Sambil
berharap firasat buruknya meleset, Nina terus melangkah bersama Elfilia.
“Effie,
aku punya permintaan...”
Dalam
kemungkinan terburuk, mereka mungkin harus berhadapan langsung dengan sang
penyihir.
Nina
meminta Elfilia untuk membantunya saat itu tiba. Kebetulan Elfilia juga pernah
berkata ingin mencicipi daging penyihir. Sebuah kesepakatan yang saling
menguntungkan.
Menjelang
tujuan, Nina dan Elfilia berpisah. Elfilia diminta bersembunyi di belakang
pondok kincir, sementara Nina akan mendatangi penyihir dari depan. Jika semua
ini hanyalah salah paham Nina dan tidak terjadi apa-apa, itu yang terbaik. Akan
lebih baik jika Maisy tidak ada di sana, dan penyihir hanya duduk sendirian
menikmati teh dengan anggun.
Lalu
Nina mengetuk pintu pondok kincir air itu.
Tampaknya
pintu tidak terkunci. Dengan hati-hati dia memutar gagang agar tidak menimbulkan
suara, lalu menarik pintu perlahan.
“...!?”
Sekejap,
udara berat seolah-olah perwujudan kegelapan itu sendiri menerjang Nina.
Dan yang tertangkap oleh matanya adalah sosok penyihir, mengenakan topi runcing ungu dan jubah longgar yang kebesaran. Rambutnya yang berwarna hijau kekuningan tampak berantakan, seakan baru diterpa angin kencang. Tubuhnya menyerupai gadis kecil, namun wajahnya yang berwarna ungu tua memancarkan kilatan buas seperti binatang pemangsa yang sedang mengincar mangsa.
Hal
berikutnya yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Maisy yang terkulai di
kaki sang penyihir. Bekas air mata masih tersisa di pipinya, dan dengan tatapan
kosong dia berbisik, “Kakak...”
“Oh?
Hari ini tamunya banyak sekali. Jarang-jarang.”
Di
tangan penyihir itu tergenggam tudung merah yang seharusnya milik Maisy.
Dia
terlambat.
Maisy
sudah menyelesaikan transaksi dengan penyihir itu.
Transaksi
dengan penyihir yang konon dapat mengabulkan permohonan apa pun dengan
merenggut hal yang paling berharga sebagai bayaran.
“Maisy!
Kamu tidak apa-apa!? Maisy!”
Nina
bergegas menghampiri dan mengguncang bahu adiknya dengan lembut.
“Maaf...
maafkan aku, Kakak... Aku tidak seharusnya memberikannya pada orang seperti
dia. Padahal itu tudung merah berharga yang Kakak berikan padaku...”
Tampaknya
sebagai harga transaksi, tudung merah itu telah direnggut oleh penyihir.
Nina
memeluk Maisy dan mengusap kepalanya dengan lembut.
“Tidak
apa-apa. Tidak apa-apa.”
“Tidak
mungkin. Itu tudung merah yang sangat, sangat berharga. Itu harta karunku...”
“Kamu
tidak perlu menyalahkan diri. Kakak sudah datang, jadi tenanglah. Syukurlah kamu
selamat.”
Entah
karena kelelahan atau efek samping dari transaksi itu, mata Maisy tetap kosong.
Setelah mendengar kata-kata Nina, perlahan kesadarannya terlepas.
“Apa
yang kamu lakukan pada May-chan?”
“Melakukan
apa? Kurasa persis seperti yang kamu pikirkan.”
Nina
menyandarkan tubuh Maisy perlahan ke dinding, lalu berdiri dan menatap penyihir
itu dengan tajam.
“Anak
itu membuat transaksi. Dia ingin bahagia. Jadi sebagai bayaran, aku mengambil
tudung merahnya yang sangat, sangat berharga, lalu menyingkirkan penyebab
ketidakbahagiaannya.”
“...Penyebab
ketidakbahagiaan?”
“Tentu
saja. Aku mengutuk mati ayahnya yang tidak berguna itu, yang tega melakukan
kekerasan pada putrinya sendiri.”
“...”
“Lalu
anak itu bilang dia tidak menyangka aku akan membunuhnya. Katanya, kembalikan tudung
merahnya. Menyebalkan sekali. Aku sudah menepati janji dan mengabulkan
keinginannya. Bukannya seharusnya aku mendapat ucapan terima kasih, bukan
keluhan?”
Penyihir
itu menatap Maisy yang terkulai dan tertawa kecil.
Tentang
ayah mereka... mungkin memang pantas dibenci. Namun Nina tidak bisa memaafkan
penyihir itu karena telah menipu dan melukai Maisy. Dan lebih dari itu, dia tidak
bisa memaafkan dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa hingga semua
ini terjadi.
“Kembalikan
tudung merah itu.”
Tudung
merah di tangan penyihir jelas adalah yang diberikan Nina kepada Maisy.
Sepasang dengan tudung putih milik Nina. Maisy pernah tersenyum bahagia sambil menyebutnya
sebagai harta karun, sebuah lambang ikatan di antara mereka.
Namun
kini, entah karena telah disentuh sihir atau tidak, tudung yang semula merah
cerah itu tampak memancarkan aura kelam.
“Itu
bukan sesuatu yang pantas kamu miliki.”
Tetapi
saat Nina melangkah mendekati penyihir, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa
digerakkan lagi. Seolah dia lupa cara menggerakkan tubuhnya sendiri.
“Apa...
ini...”
“Maaf
ya. Derajat peran antara aku dan dirimu berbeda.”
Inikah
sihir penyihir yang selama ini dia dengar dalam rumor? Tanpa menggerakkan satu
jari pun, dia mampu melumpuhkan seseorang.
“Kembalikan...!
Itu miliknya...!”
Nina
mengerahkan tenaga untuk berteriak melawan, tetapi penyihir hanya tertawa geli.
“Oh?
Jadi itu permohonanmu? Jika kamu bersedia menyerahkan bayaran, aku bisa saja
mengembalikan tudung merah ini.”
“...Kamu
sungguh akan mengembalikannya?”
Keraguan
itu hanya sekejap.
Jika
dengan itu senyum Maisy bisa kembali, Nina rela membayar apa pun. Lagi pula,
bayaran ini adalah hukuman bagi dirinya sendiri yang tidak melakukan apa pun
hingga keadaan menjadi seperti ini.
“...Baiklah.
Apa yang harus kuserahkan?”
“Bagaimana
kalau adikmu saja?”
“Itu
tidak mungkin. Aku ingin merebut kembali tudung merah itu demi adikku. Jika aku
menyerahkannya, bukannya itu sia-sia?”
“Heh,
hanya bercanda. Kalau begitu, bagaimana kalau waktumu? Waktu berharga yang
seharusnya kamu habiskan bersama adikmu mulai sekarang.”
“...Baik.”
Saat
itu Nina tidak benar-benar memahami apa arti menyerahkan waktu, tetapi dia
sudah meneguhkan hati dan langsung menyetujuinya. Sebagai gantinya untuk
mendapatkan kembali tudung merah, dia menyerahkan waktunya sendiri.
“Kalau
begitu, transaksi selesai.”
Penyihir
menyerahkan tudung merah itu padanya.
Begitu
Nina menerimanya, sesuatu terjadi pada tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa
mendidih panas. Dari dalam terdengar bunyi menggelegak yang tidak pernah dia
dengar sebelumnya. Tulangnya seperti diremukkan, dagingnya seperti meleleh.
“Ugh...
aaahhhhhhh...!”
Dan
ketika dia tersadar, tubuhnya telah menyusut. Tidak, dia menua.
Karena
menyerahkan waktunya pada penyihir, Nina berubah menjadi seorang nenek tua.
“Jadi...
inikah maksud waktu...”
Telapak
tangannya yang terulur kini keriput, lengannya yang kurus menonjol tulang
seperti ranting kering.
Dia
sudah bersiap secara mental, tetapi melihat perubahan itu terpampang jelas di
tubuhnya tetaplah menyakitkan. Wajah seperti apa yang kini dia miliki? Mungkin
wajah seorang wanita renta penuh keriput. Dia takut untuk bercermin.
Namun
tudung merah telah kembali.
Bukankah
keinginan terbesarnya adalah kebahagiaan Maisy?
Jika
dipikir begitu, setidaknya hal terpenting telah berhasil dia lindungi... dan
dengan itu dia berusaha bertahan.
“Oh,
oh, betapa buruk rupamu. Dengan wujud seperti itu, kamu ingin tinggal bersama
adikmu?”
“...Ya.
Bahkan dalam wujud seperti ini, May-chan pasti akan menerimaku.”
Ayah
mereka memang sudah mati, tetapi itu adalah akibat perbuatannya sendiri.
Dia
hanya perlu mengembalikan tudung merah pada Maisy dan hidup berdua di rumah
itu.
Selama
ini mereka telah berbagi kesulitan sebagai saudari. Mungkin Maisy akan
terkejut, tetapi Nina yakin adiknya akan menerima dirinya apa adanya.
Namun
kata-kata penyihir menghantamnya, menyingkap kedangkalan pikirannya.
“Benarkah?
Menurutmu apa yang akan dia rasakan saat melihat kakaknya berubah menjadi nenek
demi dirinya? Pernahkah kamu memikirkan berapa lama sisa umur tubuh itu?
Setelah kehilangan ayahnya, jika dia sampai kehilangan kakaknya juga, bagaimana
perasaan anak itu yang akan sendirian? Mengetahui semua itu berawal dari
tindakannya sendiri yang gegabah, apa dia masih bisa hidup sambil tersenyum?”
Nina
tidak mampu menjawab.
Dia
memandang Maisy. Seolah hendak meraih Nina, ujung jari Maisy bergerak kecil.
Dulu,
ketika nenek mereka Olivia meninggal, Maisy sempat terpuruk dalam kesedihan
yang mendalam. Cinta Maisy kepada orang yang dia percayai begitu besar. Jika
Nina pun menghilang, akankah dia mampu hidup sendirian? Dan sekalipun dia mampu
bertahan hidup, apakah dia bisa tetap tersenyum, ditinggalkan sendirian di
dunia ini tanpa seorang pun untuk bersandar?
Nina
kembali menatap kedua tangannya.
Rasanya
bukan seperti tangannya sendiri. Pucat tanpa darah, dipenuhi keriput yang
dalam, bahkan untuk menggenggam dengan kuat pun dia kesulitan.
Dengan
tubuh seperti ini, sampai kapan dia bisa hidup?
Jaraknya
dengan kematian mendadak terasa begitu dekat. Seolah jika dia menoleh, malaikat
maut sudah berdiri tepat di belakangnya. Bayangan itu begitu kuat hingga nyaris
menguasai pikirannya.
Dan
pada hati yang tengah rapuh itu, kata-kata sang penyihir menyusup perlahan.
“Hehe.
Tidak perlu berpikir sesulit itu. Ada cara yang bagus.”
“Cara
yang bagus...?”
Nina
yang semula tertunduk mengangkat wajahnya. Dia mengangkatnya.
“Ya.
Sederhana saja. Kita ubah ingatan adikmu.”
“Ti...”
Tidak
mungkin hal seperti itu bisa dilakukan.
Dia
hendak mengatakan demikian, namun bibirnya dibungkam oleh jari telunjuk
penyihir.
“Kalian
adalah keluarga yang rukun. Maisy, ayahnya, kakaknya, dan kamu... nenek yang
sudah meninggal, Olivia. Empat orang dalam satu keluarga. Sang ayah dan kakak
sedang lama pergi dari rumah, jadi sekarang dia tinggal berdua dengan
neneknya.”
Dengan
suara lembut nan menggoda, penyihir itu berbisik di telinga Nina.
Olivia.
Nenek kandung mereka yang telah meninggal saat Nina dan Maisy masih kecil.
“Sejauh
mana kamu tahu...?”
“Aku
tahu apa pun tentang dunia cerita ini. Aku ini penyihir.”
Nina
menepisnya dengan kesal.
Penyihir
itu dengan ringan menghindar dan mengambil jarak, lalu menempelkan telunjuk ke
bibirnya sambil tersenyum kecil.
Kalau
saja sejak awal dia menjadikan seolah-olah tidak pernah ada kakak, mungkin akan
lebih baik, pikiran itu kini terlintas.
Namun
dia tidak mampu melakukannya. Itu adalah kelemahan Nina. Keegoisan yang ingin
setidaknya dirinya tetap diingat.
“Dengan
begini, anak ini akan melupakan tragedi hari ini dan seluruh kemalangannya
selama ini, lalu bisa hidup bahagia.”
Itu
adalah tawaran yang terlampau menggoda.
Namun
setiap permohonan pada penyihir selalu menuntut bayaran.
“Apa
yang harus kuserahkan...?”
Menanggapi
pertanyaan Nina, penyihir itu tersenyum menyeramkan.
“Sebagai
bayaran, kenanganmu bersama adikmu. Termasuk seluruh ingatanmu hingga kini.
Bagaimana?”
“...Baik.”
Saat
itu pun, dia sungguh percaya bahwa dengan cara ini Maisy akan bahagia.
Kini
dia sadar, itu pilihan yang bodoh.
Bukan
soal isi perjanjiannya. Sejak dia memutuskan untuk bertransaksi dengan
penyihir, itu sudah merupakan kesalahan. Dia telah melakukan sesuatu yang tidak
bisa ditarik kembali.
Namun
dia berpikir, jika dosa yang dilakukan Maisy bisa dia tanggung, maka itu sudah
cukup.
“Kontraknya
selesai.”
Sekejap,
mata ungu tua sang penyihir berkilat aneh.
Kabut
hitam pekat merembes keluar dari jubahnya, menyelimuti Nina.
“Ugh...
ah, sakit...”
Kepalanya
terasa seperti hendak terbelah.
Rasa
sakit itu seperti otaknya dihantam benda tumpul secara langsung berulang-ulang.
Hantaman itu merenggut kenangannya bersama Maisy. Saat pertama kali adiknya
memanggilnya “Kakak.” Maisy kecil yang berjalan tertatih mengikuti dirinya. Maisy
yang melahap kue dengan wajah ceria. Mengusap krim di pipinya... lalu... lalu...
Bukan
seperti kenangan itu mengalir keluar dengan lembut, melainkan tercabut paksa,
satu per satu, terempas keluar dari dirinya.
Hal-hal
yang tadi memenuhi hatinya dengan begitu wajar kini lenyap. Setiap bagian yang
membentuk dirinya terasa dikuliti satu per satu. Dia merasakan kehilangan
besar, seolah keberadaannya sendiri sedang dicungkil habis.
“Ah...!
Jangan...!”
Prang!
Tiba-tiba
terdengar suara kaca pecah yang nyaring.
Penyihir
menoleh dengan kesal, dan pada saat itu, dia sudah berada tepat di belakangnya.
Waktu yang sempurna. Sahabatnya yang sedang kelaparan datang di saat terbaik.
Dalam
pandangan Nina yang mulai kabur, dia melihat bulu berwarna malam bergoyang.
“K-Kamu...
dari mana...!?”
Seekor
serigala dengan rahang menganga lebar, cukup untuk menelan kepala kecil
penyihir, meneteskan air liur dan memamerkan cakar tajamnya. Cakar yang dengan
mudah dapat merobek daging manusia itu berkilat.
“Gah...!?”
Bunga
merah merekah di dada penyihir.
“Wah,
wah. Baunya enak sekali. Sudah lama aku penasaran seperti apa rasa daging
penyihir.”
Cakar
tajam binatang berwarna malam itu menembus dada penyihir. Darah mengalir dari
mulutnya, dan dengan gerakan kaku dia menoleh ke arah Elfilia.
“Sial,
binatang rendahan...!”
Perlawanan
terakhir penyihir tidak lebih dari gangguan sepele bagi Elfilia, seperti lalat
yang mengerubungi. Dia menancapkan taringnya, menggigit dan merobek daging,
mengunyahnya perlahan seakan menikmati cita rasanya, dengan senyum penuh
kenikmatan.
“Rasanya
aneh sekali. Enak. Sangat enak.”
“Jangan
bercanda! Dikalahkan makhluk seperti ini! Hanya peran figuran semata! Aku ini
penyihir...!”
Bagi
Elfilia, penyihir itu mungkin tidak lebih dari sekadar makanan. Dia tidak
berniat bertukar kata, tidak menunjukkan minat sedikit pun. Dia hanya menikmati
santapannya dengan murni.
“Haha...
pantas saja.”
Dalam
kesadarannya yang hampir padam, Nina menyaksikan penyihir dilahap oleh Elfilia.
Dalam
pandangan kaburnya, dia menangkap sosok Maisy yang terbaring tidak sadarkan
diri.
Dengan
sisa tenaga terakhir, Nina mengulurkan tangan pada Elfilia.
“Kamu
boleh memakan mayat ayahku juga... jadi... tolong...”
“Serius!?
Terima kasih! Aku penasaran sekali seperti apa rasa ayah temanku!”
Dengan
tangan yang masih menggenggam tudung merah, Nina mengulurkannya, tudung merah
yang dulu dia hadiahkan pada Maisy, yang disebut adiknya sebagai harta karun.
“Effie,
ini...”
Dengan
harapan agar disampaikan kepada Maisy, dia menggenggamkan tudung merah itu pada
Elfilia.
Tidak
lama kemudian, kesadaran Nina tenggelam.
Saat
dia membuka mata, Nina mendapati dirinya terbaring di ranjang pondok kincir
air, berdampingan dengan Maisy. Mungkin Elfilia yang membaringkan mereka.
Pada
saat itu, Nina tidak tahu dirinya siapa, dan tidak mengerti mengapa dia berada
di sana. Hanya saja, karena Maisy yang terbangun memanggilnya “Nenek”, dia pun
mengira bahwa dirinya memang nenek anak itu.
Dia
tidak mengungkapkan pada Maisy bahwa dirinya kehilangan ingatan, karena ada
perubahan lain yang terjadi pada tubuhnya.
Dia
merasakan secara nyata kemampuan untuk mengambil alih tubuh orang yang memakan
dagingnya.
Seberkas
kegilaan yang ditanamkan penyihir dalam dirinya.
Perasaan
seolah pengaturan tentang jati dirinya telah ditulis ulang. Pada saat itu, Nina
benar-benar percaya tanpa ragu bahwa menggunakan kekuatan ini untuk merebut
tubuh gadis manis di hadapannya adalah peran yang harus dia jalankan.
Begitulah,
setelah kehilangan ingatan dan menjadi Olivia palsu, Nina kembali ke rumah
bersama Maisy dan mulai hidup bersamanya. Dengan latar bahwa sang ayah dan Nina
sedang lama meninggalkan rumah, dan kini hanya Olivia serta Maisy yang tinggal
berdua, mereka menjalani hari-hari bersama berdasarkan latar tersebut.
Dan
keesokan harinya... Mahiru datang ke rumah itu.
*
* *
Inilah
yang terjadi lusa kemarin. Setelah itu, kalian berdua juga sudah tahu bagaimana
kelanjutannya.”
“Penyihir
itu mati lusa kemarin... jadi semua ini kejadian yang sangat baru, ya.”
Semua
peristiwa itu terjadi sehari sebelum Mahiru datang ke dunia ini.
Teka-teki
tentang ingatan Maisy yang ditimpa ulang. Hubungan antara Elfilia dan Nina.
Alasan Elfilia membawa jasad sang ayah. Kekuatan untuk merebut tubuh Olivia, hampir
seluruh misteri kini telah terurai.
Dan
yang terpenting, kunci untuk menyelesaikan cerita ini.
Mengembalikan
yang seharusnya, ke tempat yang seharusnya.
Tudung
Merah ke sisi Maisy.
Keberadaan
Tudung Merah telah terbukti.
Dan
pada saat yang sama, kesalahpahaman Mahiru pun terungkap. Tidak, mungkin secara
tidak langsung dia tidak sepenuhnya salah, tetapi yang memanipulasi ingatan Maisy
bukanlah Olivia palsu, melainkan sang penyihir.
Artinya,
kisah ini adalah tentang Nina yang mempertaruhkan segalanya demi adiknya, dan
tentang penyihir berhati busuk itu.
Setelah
mendengar semuanya, Maisy menundukkan wajahnya, seolah menyalahkan diri
sendiri.
“J-Jadi,
Kakak menderita semua itu... karena aku...?”
“Bukan.
Bukan begitu, May-chan. Aku tidak melakukan semua ini agar melihatmu memasang
wajah seperti itu.”
“Aku
tahu, aku mengerti itu, tapi...”
Nina
menyesali kenyataan bahwa dia sempat memendam niat membunuh Maisy. Namun jika
ditelusuri ke awal, semua itu juga bisa dikatakan berawal dari keputusan Maisy
mengajukan kesepakatan pada penyihir. Setidaknya, itulah yang dipikirkan Maisy.
“Bukannya
semuanya salahku!? Kalau saja aku tidak membuat permohonan bodoh pada penyihir
itu, Kakak tidak perlu menderita seperti ini, ‘kan!?”
“Tidak!
Sejak awal, yang salah adalah aku yang tahu kamu menderita, tapi tidak
melakukan apa-apa!”
“Itu
tidak masuk akal! Kenapa justru jadi salahnya Kakak!?”
“Sudah
kubilang tadi, meski hanya sekali, aku pernah mencoba membunuhmu... apa pun
alasannya, itu tidak bisa dimaafkan.”
“Yang
salah tetap penyihir itu! Aku sama sekali tidak membenci Kakak!”
Alih-alih
mereda setelah mendengar cerita Nina, emosi Maisy dan Nina justru semakin
memuncak. Percakapan mereka berputar-putar tanpa arah, tidak ada sedikit pun
kesan akan menghasilkan sesuatu yang berarti.
“Aku
paham perasaan kalian, tapi tenanglah.”
Mahiru
kembali masuk ke tengah, mencoba menjadi penengah.
“Aku
sudah tenang! Hanya saja Kakak terlalu keras kepala...!”
“Bagian
mana yang tenang? Jangan cuma terpaku pada apa yang sudah hilang atau apa yang
salah di masa lalu. Lihat yang ada sekarang. Pikirkan apa yang masih tersisa.”
“Aku...
tidak punya hak untuk itu...”
“Bisa
saja masa depan yang terjadi jauh lebih buruk dari ini, ‘kan?”
Mendengar
kata-kata Mahiru, Nina menundukkan wajahnya dengan ekspresi perih.
“Itu...”
Masa
depan di mana Nina, sebagai Olivia palsu, benar-benar merebut tubuh Maisy.
Masa
depan di mana identitas Olivia tidak pernah terungkap, dan Mahiru membunuhnya.
Masa
depan di mana Maisy yang mendapatkan kembali ingatannya tidak mampu menerimanya
dan menjadi gila.
Semua
itu adalah kemungkinan yang pernah Mahiru alami, kemungkinan yang nyaris
menjadi kenyataan.
Karena
mengetahui itu semua, Mahiru bisa berkata dengan yakin.
Bahwa
kenyataan saat ini, Maisy hidup, Nina pun hidup, adalah sebuah keajaiban.
“Lagipula,
kalau bicara siapa yang salah, tidak perlu dipikir lama. Sudah tentu penyihir
itu.”
Siapa
pun yang melihat pasti akan sepakat, tokoh antagonis dalam kejadian ini adalah
penyihir berhati busuk yang kini sudah mati.
“Dia
memanfaatkan kelemahan Maisy, menipu Nina dengan kata-kata manis, lalu menebarkan
kegilaan. Dengan cara paling keji dan menjijikkan, membuat dua saudari yang
saling mencintai saling berebut nyawa. Kalau kalian masih terus bertengkar
sekarang, bukannya itu justru sesuai dengan keinginannya?”
Seolah
tersentuh oleh kata-kata itu, Nina menggigit bibir bawahnya dan terdiam.
Maisy,
yang tampaknya tersadar oleh ucapan Mahiru, mendongak dengan wajah terkejut.
“Aku...
aku benar-benar merasa bersalah pada Kakak...!”
Maisy
berpindah ke hadapan Nina dan menggenggam kedua tangannya.
“Aku
membenci penyihir itu, tapi aku juga pasti ada salah. Namun, meski begitu...”
Dia
menatap lurus ke mata Nina dan melanjutkan dengan suara tegas.
“Yang
paling membuatku bahagia adalah Kakak sudah kembali!”
“May-chan...”
“Bagaimana
dengan Kakak...?”
Mata
Nina berkaca-kaca. Dia membalas genggaman tangan Maisy dengan erat.
“Aku
juga. Aku juga merasakan hal yang sama. Syukurlah kamu selamat, May-chan...!”
Mendengar
itu, Maisy langsung melompat ke dalam pelukan Nina.
Nina
memeluknya lembut, mengusap punggungnya seperti menenangkan anak kecil.
“Kakaaak...
uuu... hiks... syukur... syukur Kakak masih hidup...”
Maisy
meluapkan emosinya dengan polos, menggesekkan dahinya ke dada Nina. Seolah tidak
ingin melepaskannya lagi, dia melingkarkan tangan ke punggung sang kakak,
terisak dan menangis. Nina pun tersenyum lembut di tengah air mata, merasa lega
karena Maisy kini benar-benar berada dalam pelukannya.
Merasa
tidak enak jika mengganggu, Mahiru menjauh dan pindah ke sofa.
Beberapa
waktu berlalu hingga suasana akhirnya tenang.
Dengan
mata merah dan bengkak, Maisy menghirup ingusnya keras-keras, lalu memanggil
Mahiru mendekat.
Kali
ini, Maisy dan Nina duduk berdampingan, sementara Mahiru mengambil kursi di
hadapan mereka.
Dengan
begitu, semuanya selesai.
Begitulah
seharusnya.
Namun,
masih ada satu masalah besar yang tersisa.
“Maaf
mengganggu setelah semuanya agak tenang, tapi boleh aku tanya satu hal, Nina?”
“Ya,
silakan.”
“Aku
berkelana mengejar penyihir. Penyihir yang telah memelintir dunia cerita ini, penyihir
yang mengabulkan permintaan kalian. Kupikir dengan membunuhnya, penyimpangan
dan kegilaan ini akan ikut lenyap. Tapi ternyata, penyihir itu sudah mati lebih
dulu.”
“Ya,
benar.”
Dari
cerita Nina, jelas bahwa penyihir itu mengincar Tudung Merah milik Maisy. Itu
bukti betapa pentingnya Tudung Merah bagi dunia cerita ini. Namun di saat yang
sama, dia juga berusaha mengembalikannya pada Nina. Artinya, bisa jadi
tujuannya telah tercapai sejak dia mendapatkan Tudung Merah itu.
“Kalau
dugaanku benar, seharusnya dunia cerita ini sudah kembali normal. Tapi
kenyataannya tidak. Kegilaan itu masih tersisa di dunia ini. Berarti hidup atau
matinya dia tidak ada hubungannya dengan pemurnian kegilaan itu. Jadi kupikir,
mungkin ada sumber lain selain penyihir. Sesuatu yang telah dia tanami
kekuatannya... apa kamu punya firasat?”
Sampai
di titik ini, hampir pasti Tudung Merah adalah sumber kegilaan tersebut.
Penyihir
itu memanfaatkan celah dengan kata-kata manis dan merampas simbol dunia ini
dari Maisy. Namun di sana juga muncul kekeliruan, campur tangan pihak ketiga
bernama Nina. Karena itu, mungkin penyihir memanipulasi ingatan Nina dan Maisy,
lalu menjadikan Nina sendiri sebagai medium untuk menyebarkan kegilaan.
Pertanyaannya
terdengar berputar dan tidak langsung, tetapi Nina menjawab tanpa ragu sedikit
pun.
“Tudung
Merah yang kuberikan pada May-chan, mungkin itu. Padahal susah payah kurebut
kembali dari penyihir, tapi sampai sekarang belum bisa kuserahkan lagi pada May-chan.
Itu yang membuatku kesal.”
Wajah
Nina berkerut kesal saat mengatakan itu.
“Kamu
menyerahkannya pada Effie, ‘kan? Berarti sekarang dia yang memegangnya?”
Dari
cerita tadi, sebelum kehilangan kesadaran, Nina telah mempercayakannya pada
Elfilia.
“Ya.
Memang begitu, tapi...”
Jawabannya
terdengar tidak tuntas.
“Kamu
tidak tahu keberadaannya?”
“Aku
tahu. Soalnya...”
Dia
memang berkata telah merebut kembali Tudung Merah dari penyihir.
Dengan
membayar harga mahal berupa umur yang terpangkas.
Tidak
lama setelah mendapatkannya, penyihir itu dibunuh oleh Elfilia, dan Nina pun
pingsan. Lalu, keberadaan benda itu setelahnya...
“Effie
memakannya.”
“Hah!?
Kenapa bisa jadi begitu!?”
Melihat
reaksi Mahiru, Nina pun berkata dengan nada serba salah.
“Ya...
bahkan aku sendiri terkejut. Seperti yang kuceritakan tadi, setelah penyihir
merenggut ingatanku, kesadaranku samar-samar. Dalam keadaan itu, aku
mempercayakan Tudung Merah pada Effie. Aku memohon padanya agar apa pun yang terjadi,
tolong sampaikan pada May-chan.”
Sampai
di situ masih masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah kelanjutannya.
“Lalu
dia memakannya?”
“Ya.
Aku tidak bisa berbicara dengan jelas, jadi mungkin pesanku tidak tersampaikan.
Dia malah berkata, ‘Wah, ini apa? Kelihatannya enak! Terima kasih, Nina-chan!’
lalu langsung memakannya.”
Kelihatannya
enak apanya! Itu bukan makanan!
“Sial!
Dasar serigala rakus tolol!”
Syarat
untuk memurnikan dunia ini, mengembalikan Tudung Merah ke tangan Maisy.
Untuk
memenuhi itu, Tudung Merah harus didapatkan kembali.
Dan
untuk itu, dia harus ditarik keluar dari dalam perut Elfilia.
Yang
berarti Elfilia harus dibunuh.
Tidak, memang pada akhirnya akan
sampai ke situ juga...
Di
hari kedua, Elfilia memakan ayahnya. Di hari ketiga, setelah tidak ada lagi
makanan, dia akan datang ke rumah ini.
Entah
bagaimana dengan Nina yang sahabatnya, tapi Mahiru dan Maisy pasti akan
dimakan. Bahkan jika Nina memohon sekalipun, Elfilia mungkin akan tetap
memprioritaskan kerakusannya sendiri. Mungkin itu juga akibat dunia yang masih
dirasuki kegilaan, yang memperkuat sifat asli Elfilia.
Dalam
putaran-putaran sebelumnya pun, tidak pernah ada cara menghentikan Elfilia
selain dengan membunuhnya.
Seolah
memang itulah skenario mutlaknya.
Lagipula,
sejak awal serigala memanglah antagonis dalam dongeng ini.
Membunuh
Elfilia.
Selama
dia adalah sang serigala, mungkin itu tidak terhindarkan.
Sambil
mengepalkan tangan, Mahiru membuka suara pada Nina.
“...Maaf,
Nina. Kamu boleh membenciku. Tapi aku harus membunuh Effie.”
Sebenarnya
Mahiru pun tidak ingin membunuh Elfilia.
Elfilia
adalah gadis yang berhati lembut. Pada putaran kedua, dia sangat banyak
membantunya. Meski akhirnya dia tetap dimakan, nafsu makan Elfilia memang ada terlepas
dari kegilaan dunia ini, serigala memang sejak awal makhluk seperti itu. Dia tidak
membunuh karena niat jahat.
Namun
tanpa membunuh Elfilia, cerita ini tidak akan berakhir.
Karena
di dunia Tudung Merah, serigala adalah antagonisnya.
“Kalau
dibiarkan, aku atau Maisy, bahkan mungkin kamu juga, akan dimakan Effie. Dan
meskipun terdengar tidak masuk akal, untuk menyelamatkan dunia ini, Tudung Merah
harus dikembalikan pada Maisy.”
Dia
mengucapkannya dengan tekad untuk meyakinkan Nina.
Namun
tanpa sedikit pun ragu, Nina langsung menjawab.
“Ya,
aku mengerti. Aku akan membantu.”
“Hah?
Tidak apa-apa? Dia temanmu, ‘kan?”
“Justru
karena dia temanku.”
Bukankah
jika itu sahabatmu, bahkan jika dia seekor binatang pemakan manusia, kamu akan
mengutamakan nyawanya? Saat Mahiru bertanya-tanya dalam hati, Nina melanjutkan.
“Aku
pernah diminta oleh anak itu. Katanya, dia mungkin akan terus membunuh banyak
orang mulai sekarang, jadi sebelum itu terjadi, dia ingin aku yang membunuhnya.
Mungkin dulu dia hanya menganggap manusia sebagai makanan, tapi setelah
berteman denganku, mungkin dia mulai memiliki perasaan. Tapi aku menolaknya.
Kataku, dibanding orang asing yang tidak kukenal, nyawa Effie jauh lebih
penting bagiku.”
Suara
Nina terdengar datar ketika mengatakannya.
Namun
di balik nada datarnya, di matanya tampak bayangan penyesalan yang begitu
dalam.
“Kalau
begitu...”
“Setelah
itu, dia memohon lagi padaku. Katanya, jika suatu hari nyawanya harus ditimbang
di atas neraca, aku harus membunuhnya tanpa ragu. Jangan sampai bimbang,
katanya. Karena dia merasa sudah hidup cukup lama.”
Setelah
mendengar cerita seperti itu, justru semakin sulit untuk membunuh Elfilia.
Namun
tidak ada cara lain. Dan yang lebih penting, mengatakan sebaliknya sama saja
dengan menginjak-injak tekad Nina.
“Baiklah.
Aku akan membunuh Effie.”
“Ya.
Itu sudah benar.”
Membunuh
Elfilia.
Keputusan
itu telah diambil, tetapi bukan berarti mudah melaksanakannya. Pada putaran
keempat, Mahiru telah menyaksikan sendiri kekuatan Elfilia saat berubah menjadi
serigala, dan tidak sekali pun dia mampu membayangkan kemenangan.
Satu-satunya
saat serigala itu berhasil dikalahkan adalah pada putaran ketiga. Saat itu, Maisy
menebasnya dengan gunting raksasa dan merenggut nyawanya. Tentu saja, itu
terjadi ketika Maisy berada dalam kondisi mengamuk.
Tubuh
serigala itu bahkan tidak mempan oleh satu tembakan senapan berburu. Namun
serangan gunting milik Maisy mampu mengantarkannya pada kematian.
Terobosan
ada di sana, tidak mungkin di tempat lain.
“Maisy,
kamu bisa mengalahkan serigala itu?”
“Apa!?
Kamu pikir aku ini apa!?”
Seperti
dugaan, tidak mudah.
Pada
putaran keempat, ketika dia diserang serigala, reaksinya pun serupa. Dia tidak menunjukkan
tanda-tanda melawan, hanya gemetar ketakutan di hadapan kebrutalan serigala
itu. Mungkin Maisy di putaran ketiga memang istimewa.
Namun
itu tidak cukup.
“Tudung
Merah itu benda yang berharga bagimu, bukan?”
“Ya.
Itu hartaku yang paling berharga.”
Benar.
Ia adalah simbol dunia cerita ini, dan karena itu pula dipilih sebagai wadah
kegilaan.
“Tapi
sekarang benda itu ada di tangan serigala.”
“...Ya.”
“Sekarang
tidak ada di tanganmu. Kalau itu benar-benar berharga, seharusnya tidak peduli
alasannya, kamu tidak boleh melepaskannya.”
“Mahiru-kun!”
Nada
bicara Mahiru membuat Nina meninggikan suara.
Namun
yang menghentikannya justru Maisy. Dia menenangkan Nina, lalu kembali
mendengarkan Mahiru dengan sungguh-sungguh.
“Karena
itu, setidaknya kamu harus merebutnya kembali dengan tanganmu sendiri.”
“Dengan
tanganku sendiri...”
“Ya.
Aku datang ke sini untuk memburu penyihir. Tugasku adalah memurnikan kegilaan
yang dia sebarkan. Tapi, protagonis dunia cerita ini bukan aku. Bukan orang
lain. Melainkan kamu, Maisy.”
Bukan
seorang putri, bukan pula gadis desa tanpa nama, Maisy tanpa diragukan adalah
tokoh utama dari kisah Tudung Merah ini.
“Aku..
. tokoh utamanya...”
“Serigala
itu bisa dikalahkan. Kamu punya kekuatan yang ditetapkan untuk melakukannya.”
“Benar
juga... Aku sudah minta tolong menyelamatkan Kakak, lalu berharap serigala juga
dibereskan... ternyata aku terlalu bergantung.”
Maisy
menepuk kedua pipinya keras-keras untuk menyemangati diri.
“Aku
akan mengalahkan serigala itu dan merebut kembali Tudung Merah!”
“Ya,
begitu semangatnya. Tentu saja aku tidak berniat menyerahkan semuanya padamu.
Aku yang akan maju lebih dulu dan bertarung habis-habisan. Tapi pada suatu
titik, kekuatanmu pasti dibutuhkan. Itu saja yang harus kamu ingat.”
Maisy
pernah membunuh serigala itu dengan gunting.
Seperti
dalam dongeng Tudung Merah yang mengisahkan perut serigala dibelah, mungkin
yang benar-benar penting adalah gunting itu sendiri. Di dunia ini, bisa jadi
hanya guntinglah yang mampu melukai serigala.
Kalau
begitu, ada pilihan bagi Mahiru untuk menggunakan gunting raksasa itu sendiri.
Namun
masalahnya adalah kemungkinan bahwa serigala hanya bisa dilukai jika gunting
itu digunakan oleh Maisy. Kemungkinan itu sangatlah besar.
Karena
itulah dia harus memastikan tekad Maisy.
Jika
pada saat genting kakinya gemetar dan tidak mampu bergerak, semuanya akan
sia-sia.
Dengan
demikian, pembahasan tentang rencana penaklukan serigala pun dimulai.
“Baik...
pertama-tama, kita harus mencari cara untuk menahan gerakannya.”
“Memangnya
bisa? Kekuatan anak itu benar-benar di luar nalar.”
“Karena
itu kita akan memikirkan caranya sekarang.”
Baik
Mahiru maupun Maisy yang menggunakan gunting, menghadapi serigala dalam kondisi
penuh tenaga secara langsung terlalu berisiko. Yang paling pasti adalah
melumpuhkan pergerakannya. Sebagai manusia, mereka harus menggunakan akal.
“Aku
sudah punya gambaran cara membunuh Effie. Senapan berburu saja tidak mempan,
tapi gunting itu seharusnya bisa melukainya.”
Mahiru
melirik gunting raksasa yang tersandar di samping perapian.
“Itu
hanya semacam jimat, lho.”
“Kalau
cuma jimat, ukurannya terlalu berlebihan. Ada masa ketika benda itu benar-benar
membunuh serigala. Bukannya karena itu lalu dianggap sebagai jimat?”
“Aku
tidak tahu ada cerita seperti itu atau tidak...”
“Yang
pasti, benda itu pasti punya efek. Percayalah padaku.”
“Aku
percaya pada Mahiru-san! Tidak ada untungnya Mahiru-san berbohong di sini.”
“Yah,
memang tidak ada petunjuk lain. Jadi kita harus menahannya dulu, ya. Tidak
mudah, tapi sepertinya hanya itu caranya.”
“Ya.
Karena itu, aku butuh bantuan pemikiran kalian berdua.”
Menahan
gerakan serigala, lalu mengakhirinya dengan gunting raksasa, membelah perutnya,
dan mengambil kembali Tudung Merah.
Tahap
pertama adalah rintangan terbesar. Mahiru dan yang lain mulai menyusun strategi
untuk menghentikan pergerakan serigala, sebisa mungkin meminimalkan risiko.
Bahkan jika pada akhirnya Maisy harus mengayunkan gunting itu sendiri, mereka
ingin memastikan dia bisa melakukannya tanpa keraguan.
*
* *
Dan
hari ketiga pun tiba.
Jika
tanpa campur tangan Mahiru, pergerakan Elfilia seharusnya tidak berbeda dari
putaran ketiga, sehingga serigala itu kemungkinan akan muncul menjelang senja.
Mereka
memasang serangkaian jebakan untuk menyambutnya, tetapi melihat pemandangan di
depan mata, Mahiru tidak bisa menahan kegundahan.
“Serius...
apa dia bakal kena jebakan sejelas ini?”
Di
dapur terpasang jerat berbentuk lingkaran dari tali kawat. Begitu talinya
ditarik, lingkaran itu akan mengencang dan menangkap apa pun yang berada di
dalamnya, jebakan klasik. Mekanismenya sama seperti laso yang digunakan koboi.
Talinya diambil dari gudang, dan Maisy dengan cekatan membentuk lingkarannya.
“Tenang
saja. Effie itu bodoh sekali. Apalagi kalau lagi lapar.”
“Kalau
begitu, kita kamuflasekan saja!”
Melihat
Mahiru yang tetap tidak yakin meski sudah mendengar Nina, Maisy berlari kecil
ke dapur. Dia mengambil sebuah karung sebesar bayi dari rak, lalu merobeknya
dengan sekuat tenaga.
Sekejap
terdengar bunyi “buf!” dan pandangan mereka memutih. Isi karung itu rupanya
tepung terigu, yang ditaburkan begitu saja hingga menyelimuti seluruh ruangan
dengan warna putih. Memang, lantai dan tali jerat kini tertutup putih, sehingga
sedikit banyak tersamarkan. Namun...
“Bukannya
malah makin aneh? Satu ruangan penuh tepung begini jelas mencurigakan.”
“Tidak
apa-apa. Effie tidak punya akal sehat untuk hal-hal seperti itu.”
“Justru
itu yang bikin aku makin cemas...”
Di
balik posisi jebakan, Mahiru akan bersiaga untuk memancing serigala masuk.
Meski ada kemungkinan serangan terakhir akan diserahkan pada Maisy, pertempuran
utama tetap akan ditangani Mahiru. Dia tidak mau membiarkan para gadis
bertarung di garis depan, dan meski dia menerima perannya, entah kenapa dia
tidak merasa ini adalah rencana terbaik.
“Kalau
begitu, apa ada cara lain yang lebih bagus?”
“Yah,
itu sih...”
“Tenang
saja. Aku yang akan mengarahkannya dengan baik. Aku tidak akan membiarkan May-chan
mengambil peran berbahaya. Apa pun yang bisa kulakukan, akan kulakukan.”
“Kakak
ini terlalu protektif. Aku juga bisa bergerak, lho. Dan aku sudah siap
bertarung melawan serigala!”
“Tidak
boleh. Bagaimana kalau kamu terluka?”
“...Jadi
kalau aku yang terluka tidak apa-apa?”
Jika
bahkan senapan yang dipegang Mahiru tidak mampu melukai serigala, maka pisau
biasa pun jelas tidak akan berguna. Artinya, satu-satunya cara adalah membatasi
gerakannya, dan itu pun bukan hal mudah. Mereka tidak punya waktu membuat
jebakan besar, juga tidak punya bahan atau senjata yang layak. Andaikan saja
ada granat kilat, mungkin akan lebih mudah menangkapnya.
Tentu
saja, jebakan ini bukan satu-satunya persiapan mereka.
Meski
begitu, kecemasan tidak kunjung reda. Rasanya seperti ada strategi yang lebih
baik untuk menjebak serigala itu, tetapi dia tidak menyadarinya. Pikiran itu
terus mengusiknya.
“Percayalah!
Kalau terpaksa, serigala itu akan kubelah jadi dua! Hehe... aku sudah tidak sabar
memperlihatkan teknik guntingku yang anggun pada Mahiru-san!”
Seolah
membaca isi hatinya, Maisy memperlihatkan deretan giginya yang putih sambil
tersenyum lebar.
“Terima
kasih. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga supaya tidak sampai ke situ.”
Mereka
sudah sampai sejauh ini.
Kebenaran
telah terungkap, Nina berhasil kembali, dan bahkan setelah ingatannya pulih, Maisy
tetap menatap ke depan. Yang tersisa hanya mengalahkan sang antagonis, serigala
itu.
Apa
pun yang terjadi, mereka harus merebut kembali Tudung Merah dan mengakhiri
lingkaran ini untuk selamanya.
Tidak
banyak yang bisa dilakukan Mahiru. Kalau perlu, dia rela kehilangan satu
lengannya, asalkan Maisy tidak terluka. Kalau tidak, semua perjuangan hingga
titik ini tidak akan berarti.
“Tenang
saja. Jangan lihat aku begini, aku cukup kuat, tahu.”
Dia
ingin menjadi kuat.
Dalam
empat putaran ini, rasa takut pada kematian telah memudar.
Datang
ke dunia ini membuatnya belajar betapa ketakutan dapat melumpuhkan gerak.
Sebaliknya, jika dia mampu menjinakkannya, dia bisa mengeluarkan kemampuan
terbaiknya. Bukan karena putus asa, melainkan karena kini dia sedikit memahami
jarak antara dirinya dan kematian.
Dan
dia tidak berniat kalah.
Saat
memejamkan mata, yang terbayang adalah wajah Maisy yang putus asa. Ingatan
tentang tubuhnya yang diincar Olivia, tentang ayah yang menyiksanya, tentang
Nina yang menghilang, dan Maisy yang kehilangan kewarasannya.
Ketika
dia membuka mata, yang ada di hadapannya adalah Maisy yang tersenyum lembut.
Dia
tidak akan membiarkan senyum itu ternoda lagi. Dia kembali meneguhkan tekad.
Matahari
mulai condong ke barat. Waktunya hampir tiba.
Mahiru,
Maisy, dan Nina mengambil posisi masing-masing.
Nina
duduk di kursi goyang di ruang tamu sebagai umpan. Maisy menunggu di tempat
yang dapat menyamarkan baunya agar tidak terendus serigala. Mahiru bersembunyi,
bersiap memberi pukulan mematikan.
Jika
sama seperti putaran ketiga, serigala akan masuk melalui jendela kamar Nina.
Rumah
itu diselimuti keheningan. Ketegangan membuat tenggorokan seseorang menelan
ludah.
Mereka
hampir lupa bernapas, memusatkan seluruh indra.
Dan
seperti firasat yang menjadi kenyataan, serigala itu pun datang.
Dumdum! Brak! Prang!
Dengan
suara benda hancur, sosok binatang berwarna gelap malam muncul sambil meneteskan
air liur. Tubuhnya besar, dua kali ukuran wujud penyihir. Taringnya mampu
menghancurkan tulang dengan mudah, cakarnya tajam, dan mata merah gelapnya
berkilat buas sementara perutnya menggeram lapar.
Dengan
gerakan kesal, dia mencabik tirai yang terlilit menggunakan cakarnya yang
tajam, lalu menyingkirkan pecahan kaca.
Dia
menggerak-gerakkan hidungnya, mengendus bau mangsa, lalu menyeringai.
Serigala
itu pertama kali berhadapan dengan Nina yang duduk di kursi goyang.
“Effie,
sudah lama ya.”
“Nina-chan!
Lama tidak bertemu! Hmm, baumu berubah ya?”
“Benarkah?
Aku sendiri tidak menyadarinya.”
“Oh
begitu. Bau yang dulu juga enak sih, tapi yang hari ini juga tidak buruk.”
Tampaknya
benar mereka berteman, karena keduanya langsung berbicara dengan akrab.
Melihat
Elfilia yang telah berubah menjadi serigala tidak langsung menerkam makanan di
hadapannya adalah pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kalau
Mahiru yang berada di situ, mungkin sudah dimakan tiga kali. Dalam kondisi
seperti ini, kata-kata tidak akan sampai kepada Elfilia.
“Ngomong-ngomong,
Effie lapar lagi ya?”
“Iya,
sudah tidak tahan. Ternyata ini rumah Nina-chan, ya. Repot juga, Nina-chan ‘kan
temanku, jadi aku tidak ingin memakannya. Andai saja ada orang lain selain
Nina-chan.”
“Begitu
ya. Sayangnya, di rumah ini tidak ada orang lain selain aku.”
“Kalau
begitu, terpaksa harus makan Nina-chan. Aku tidak mau makan teman, tapi katanya
teman itu juga enak. Tapi berbohong itu tidak baik, lho.”
“Apa
maksudnya?”
“Ada,
‘kan? Satu orang lagi.”
Elfilia
berkata sambil mengendus-endus. Dia mengusap perutnya yang berotot, lalu
mengalihkan pandangannya ke lorong menuju kamar Maisy dan yang lain, ke dapur,
ke luar jendela, ke langit-langit, dan ke perapian.
“Ah,
mungkin cuma perasaanmu saja.”
Kemudian
dia berhenti bergerak, seolah telah menemukan lokasi mangsanya.
“Bohong.
Soalnya aku bisa mencium baunya... iya, ‘kan?”
Dengan
mata merah menyala berkilat, Elfilia menoleh ke arah belakangnya secara
menyilang.
Dan
pandangannya bertemu dengan Mahiru yang bersembunyi di dapur sambil membidikkan
senapan berburu.
“Ck...!”
Keringat
dingin langsung membasahi tubuhnya. Tangan yang menggenggam senapan menegang,
dadanya terasa sesak. Tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi di luar perkiraan,
Mahiru berulang kali mengingatkan dirinya dalam hati untuk menahan gejolak
emosinya.
Elfilia
menendang lantai. Papan lantai hancur tidak mampu menahan dorongan itu. Dengan
daya ledak yang mustahil, dia melesat mendekati Mahiru. Dia melompat ke atas
meja konter yang memisahkan mereka, menginjak keranjang berisi piring yang
telah dicuci hingga jebol. Suara pecah terdengar, pecahan keramik beterbangan.
Tanpa menghiraukan serpihan yang memantul, Elfilia mendarat tepat di depan
Mahiru. Tepung yang ditaburkan Maisy beterbangan ke udara, membuat Mahiru
terbatuk ringan.
“Bau
kamu aneh sekali. Kelihatannya enak. Aku ingin memakannya. Kelihatannya enak.
Aku tidak sabar.”
Mahiru
menodongkan moncong senapan ke arahnya, tetapi Elfilia tidak menunjukkan
sedikit pun tanda gentar.
Sama
seperti pada putaran keempat, Elfilia memahami betul seberapa besar daya hancur
senapan itu, bahwa senjata tersebut tidak akan berpengaruh padanya, dan bahwa
bagi manusia, itu adalah senjata dengan daya serang tertinggi.
Dia
lengah.
Dia
terlalu percaya diri bahwa kekuatan manusia tidak akan pernah mampu membunuh
seekor serigala. Manusia hanyalah makanan baginya. Dia bahkan tidak pernah
membayangkan dirinya berada di pihak yang diburu.
“Kamu
pikir satu-satunya yang bisa mengancammu cuma rasa lapar, ya?”
“Akhir-akhir
ini banyak hidangan lezat, aku senang sekali.”
Barangkali
yang ada di kepala Elfilia hanyalah seperti apa rasa Mahiru nanti. Dia menatap
seluruh tubuh Mahiru seolah sedang menilai kualitas barang, lalu menyeringai.
Tanpa mengindahkan senapan itu, Elfilia melangkah lagi mendekat. Air liur yang
menetes membasahi celana Mahiru.
“Seharusnya
kamulah yang diburu manusia, dasar anjing.”
“Bahasa
seperti itu tidak baik, tahu? Makanan ya bersikaplah seperti makanan, oke?”
Jarak
mata dan hidung.
Mahiru
membalas tatapannya hanya dengan keberanian palsu, lalu berteriak,
“Sekarang,
tarik! Nina!”
Perangkap
tali logam yang telah dipasang sebelumnya. Elfilia telah melangkah masuk ke
dalam jangkauannya. Saat Maisy mulai menaburkan tepung sebagai kamuflase,
Mahiru sempat meragukan kewarasannya, tetapi ternyata itu cukup membantu.
Begitu
Nina menarik tali sekuat tenaga, lingkaran yang mengelilingi kaki Elfilia
seketika menyempit dan mengikat kedua kakinya. Keseimbangannya terenggut,
Elfilia terempas dan menghantam lantai dengan dagu lebih dulu.
“Ahguh...!?”
Mungkin
dia belum mengerti apa yang terjadi. Tersungkur oleh benturan mendadak, Elfilia
terdiam sejenak. Tepat di depan mata, dia tergeletak tidak bergerak, momen
sesaat ini adalah kesempatan emas.
Kalau memburu monster raksasa,
inilah satu-satunya titik yang bisa ditargetkan!
Mahiru
melempar senapannya, lalu mencabut dua bilah pisau. Wajah Elfilia berada dalam
jarak yang bisa dijangkau tangan. Jarak pasti kena. Dia menggenggam kedua pisau
dengan posisi terbalik dan mengayunkannya ke arah sepasang mata merah menyala
itu.
“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”
Elfilia
menutup wajahnya dengan kedua tangan, melengkungkan punggungnya seperti singa
laut, lalu menjerit keras.
Kedua
pisau itu menancap tepat di kedua mata Elfilia. Kulit luarnya memang memiliki
daya tahan yang bahkan mampu menahan peluru, tetapi ujung pisau itu menembus
kornea dan menusuk bola matanya.
Mahiru,
yang diliputi ketegangan hingga keringat dingin membasahi tubuhnya, segera
mengalihkan pandangan kepada Nina.
“Serahkan
padaku!”
Begitu
memahami maksud Mahiru, Nina meraih tali lain yang berbeda dari tali pengikat
Elfilia. Ujung satunya telah diikatkan pada bagian atas lemari piring. Saat
Nina menariknya sekuat tenaga, lemari itu roboh ke arah Elfilia yang tengah
berjongkok sambil menutup wajahnya.
“Gugh...!?”
Lemari
yang telah diisi tanah dan batu hingga seberat mungkin itu tanpa ampun
menghimpit tubuh Elfilia. Suara kaca yang pecah melengking tinggi, disusul
dentuman keras yang menelan segalanya.
Kehilangan
pijakan secara mendadak dan penglihatannya tertutup membuat Elfilia dilanda
kebingungan. Di bawah himpitan massa berat yang runtuh menimpanya, tampaknya dia
pun tidak mampu bergerak. Kedua kakinya yang terikat kencang di pergelangan
meronta-ronta, sementara kedua tangannya bergerak seolah mencari pegangan.
Cakar yang diayunkan menggores dinding kayu, meninggalkan bekas luka panjang.
Nina
menggenggam tali logam yang mengikat kedua kaki Elfilia dan menariknya sekuat
tenaga. Agar tidak terseret, dia menahan dengan seluruh kekuatan tubuh bagian
bawahnya, memeluk tali yang telah melilit lengannya.
Mahiru
bangkit berdiri. Dengan menjadikan lemari yang menghimpit Elfilia sebagai
pijakan, dia bergerak ke sisi tempat Nina berada. Dia meraih gunting raksasa
yang disandarkan di meja konter.
Dengan ini, aku bisa memastikan
apakah tanganku sendiri mampu membunuh serigala itu!
Dia
membuka gunting tersebut. Mengincar lengan kanan yang meronta hendak
menyerangnya, dia mengayunkan bilahnya seolah menghantam dengan keras. Sensasi
keras menghantam tulang terasa di tangannya. Di ujung bulu hitam itu, darah
segar memercik tipis.
“Sial,
susah banget dipakai! Ini senjata terlalu gaya buat dipakai bertarung!”
Tampaknya,
bahkan dengan menggunakan gunting itu, Mahiru tetap bisa melukai serigala.
Namun hasilnya terlalu kecil. Jangankan memutus satu lengan, goresannya pun tidak
seberapa. Entah karena Mahiru memang kurang kuat, atau cara memakai gunting itu
yang salah, atau memang kekuatan aslinya hanya bisa keluar jika Maisy yang
menggunakannya.
“Matilah!”
Mahiru
menutup gunting itu, lalu menggunakannya seperti tombak, menghujamkan ujung
bilahnya berulang kali. Sasarannya adalah bahu Elfilia. Jika satu lengan bisa
diputus, kekuatan tempurnya pasti akan turun drastis. Berkali-kali,
berkali-kali, berkali-kali. Dengan suara basah yang menjijikkan, dia terus
menusuk.
“Kejam...
kejam sekali... kenapa kalian melakukan ini?”
Elfilia
mengerang dengan suara lemah. Dia berhenti menggerakkan tangan dan kakinya,
terkulai di lantai. Darah merah kehitaman mengalir dari bahunya, semakin lama
semakin melebar, membasahi sepatu Mahiru.
Elfilia
tampak telah menyerah dan terbaring lunglai.
Namun
rasa lega itu hanya sesaat. Mahiru menyadari ada yang ganjil.
Elfilia
mengertakkan gerahamnya kuat-kuat, tubuhnya bergetar hebat. Terdengar bunyi tidak
menyenangkan, seperti jaringan tubuh yang tersusun ulang... ya, seolah dia
sedang mengumpulkan tenaga.
“Lepaskan
talinya! Nina!”
Firasat
buruk menjalar ke seluruh tubuhnya. Mahiru spontan melompat mundur sambil
berteriak.
“...Eh?”
Bersamaan
dengan suara Nina yang terdengar lengah, Elfilia bangkit mengamuk dengan bulu
berdiri.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”
Otot-ototnya
mengalir dan berkontraksi, membuat seluruh tubuhnya memantul bangkit seperti
pegas. Hentakan itu menarik tali yang melilit lengan Nina, menyeret tubuhnya.
“Kyaa...!?”
Tidak
mungkin dia mampu menahan dorongan mendadak itu. Kedua kaki Nina terangkat dari
lantai, dan setelah sensasi melayang sesaat, tubuhnya terbanting ke meja dapur.
“Kakak!?”
Melihat
itu, Maisy meloncat keluar dari dalam perapian. Semula dia memang direncanakan
untuk bersembunyi di sana sampai Elfilia berhasil diikat, tetapi mendengar
jeritan Nina, tampaknya dia tidak sanggup lagi diam.
Gaun
putihnya kini menghitam oleh arang, begitu pula pipinya.
Namun
Mahiru tidak punya ruang untuk mengkhawatirkan Nina.
Elfilia
telah berdiri tepat di depannya. Melihat tangan kiri yang terangkat tinggi,
Mahiru melemparkan gunting itu. Secara refleks dia menjatuhkan tubuhnya ke
kanan, seolah menubruk ke arah Elfilia. Di sudut penglihatannya, lengan sebesar
batang kayu melintas, cakar setajam bilah menggores udara. Dia merasakan panas
menyengat di pipinya, lalu beberapa saat kemudian tubuhnya dihantam benturan
keras. Rasa sakit datang menyusul. Itu berarti dia masih hidup. Dengan selisih
tipis dia lolos dari maut. Mahiru mengusap darah yang mengalir dari pipinya,
lalu melirik ke arah Elfilia.
Elfilia
sudah menghadap ke arahnya, jelas mengenali keberadaannya.
Seharusnya
dia tidak bisa melihat karena kedua matanya telah dihancurkan oleh pisau...
Jadi begitu, penciumannya!
Elfilia
tadi mengatakan bahwa Mahiru memiliki bau yang aneh. Ditambah lagi, Maisy yang
bersembunyi di dalam perapian kini dipenuhi jelaga. Wajar saja jika Mahiru yang
menjadi sasaran.
Namun
itu jauh lebih baik daripada perhatian Elfilia tertuju pada Maisy. Dalam
perburuan Elfilia, Maisy bisa menjadi kartu truf. Terlepas dari itu semua,
Mahiru telah bersumpah untuk melindunginya.
Mahiru
segera berlari. Targetnya adalah jendela. Dia menyilangkan kedua lengan di
depan wajahnya dan menerjang sekuat tenaga.
“Uooooooohhhhhh...!”
Hampir
bersamaan antara tubuh Mahiru yang menghantam jendela hingga kaca pecah dan
terjangan Elfilia yang akhirnya menjangkaunya. Di lengannya terasa sensasi
ringan saat kaca hancur, namun di punggungnya menghantam keras benturan kepala
Elfilia. Tubuh mereka terjerembap bersama, dan Mahiru terlempar keluar rumah.
“Mahiru-san...!?”
Dalam
posisi tertekan di bawah Elfilia, Mahiru buru-buru merangkak menjauh. Saat
berdiri, pergelangan kaki kirinya berdenyut nyeri. Sepertinya terkilir aneh
saat terjatuh. Bagian tubuh lainnya juga terasa sakit, tetapi adrenalin yang
meluap membuatnya tidak peduli, selama tubuhnya masih bisa bergerak, itu sudah
cukup.
Elfilia
segera bangkit dan mengayunkan lengan kirinya, mendekat.
“Aku
lapar, aku lapar, aku lapar sekali...!”
Menahan
dorongan untuk membelakangi dan lari, Mahiru memusatkan perhatian pada
gerakannya.
Akibat
serangan gunting tadi, lengan kanan Elfilia tampaknya tidak bisa terangkat.
Meski masih tersambung, darah mengucur deras dari bahunya, dan lengannya
terkulai lemas.
Dengan
begitu, arah serangannya jadi lebih mudah diprediksi.
Lengan
kiri itu diayunkan turun.
Pada
saat yang sama, Mahiru menghindar dengan gerakan seperti belly roll. Dia segera berbalik menghadapnya lagi dan menghindari
uppercut besar berikutnya dengan satu langkah mundur cepat.
“Sudahlah,
cepat dimakan saja. Ini aneh. Makanan kok melawan.”
Perut
Elfilia berbunyi keras, bergemuruh.
Mahiru
yakin refleks dan kemampuan fisiknya di atas rata-rata. Namun itu hanya jika dibandingkan
dengan manusia. Elfilia, meski kedua matanya telah dihancurkan dan satu
lengannya tidak berfungsi, kekuatan dan kecepatannya tetap utuh. Tidak terlihat
sedikit pun melemah. Mungkin memang melemah, tetapi perbedaannya terlalu jauh
untuk bisa dirasakan. Jurang kemampuan fisik antara Mahiru dan Elfilia begitu
besar.
Namun
bukan berarti semua cara telah habis.
Mahiru
tidak keluar rumah tanpa rencana.
Peluang
untuk membalikkan keadaan masih ada.
Elfilia
kembali menerjang. Mahiru mengerahkan tenaga di tubuh bagian bawah agar bisa segera
melakukan manuver balasan, namun nyeri tajam menusuk pergelangan kakinya.
“Sial...!”
Saat
dia mendongak, cakar berkilau terang sudah meluncur turun ke arahnya.
Namun
justru karena dia kehilangan mendadak keseimbangan, serangan Elfilia meleset
dari sasaran utama. Cakarnya merobek lengan kiri Mahiru yang refleks melindungi
kepala. Rasa panas membakar. Darah merah segar muncrat, dan lututnya jatuh
menyentuh tanah. Hoodie kesayangannya terkoyak rapi, memerah oleh darah, dia
tidak punya keberanian untuk melihat lebih jauh.
Di
hadapannya berdiri binatang hitam legam yang menutup cahaya matahari.
“Mahiru-san...!!”
Saat
menoleh ke arah suara itu, dia melihat Maisy berlari sambil mengarahkan ujung
gunting raksasa.
Di
belakangnya, Nina yang memegangi dahinya yang berdarah berusaha meraih Maisy. Dia
mungkin mencoba menghentikannya, tetapi terlambat.
Elfilia
yang hendak menerkam Mahiru menggerakkan telinganya dan mengendus-endus.
Perhatiannya beralih ke arah suara dan langkah kaki Maisy.
Sebagai
satu individu baru, sebagai mangsa, dia mengenali kembali Maisy yang berbau
jelaga.
“Haaahhhhh...!”
Maisy
berteriak sekuat tenaga dan menyerbu.
Namun
sebelum ujung gunting itu bisa menusuk Elfilia, senjata itu dengan mudah
ditepis jatuh.
Tidak
bisa. Dalam kondisi Maisy saat ini, pertarungan langsung melawan serigala
mustahil dimenangkan. Dia bukan tandingan. Saat ini Maisy hanyalah seorang gadis
biasa dengan kekuatan biasa.
“...!?”
Di
hadapan kekuatan lengan, tubuh raksasa, dan tekanan mengerikan itu, Maisy
menahan napas.
“Ahh,
tadi aku tidak sadar, tapi kamu juga harum sekali. Kelihatannya sangat lembut.
Pasti enak.”
Elfilia
menyeringai, air liur menetes. Cakarnya berkilat saat dia perlahan mengangkat
lengannya.
“May-chan!!”
Jeritan
Nina melengking.
Maisy
terpaku di tempat, seolah tubuhnya terkunci.
“Sialan...!”
Di
saat itu, Mahiru menendang tanah dan melesat. Tanpa berpikir, dia menempuh
jarak terpendek menuju Maisy. Dia memeluknya untuk melindungi, dan pada saat
yang sama rasa sakit tajam merobek punggungnya. Darahnya sendiri membasahi
pipinya.
“Gah...!?”
Dengan
gerakan seperti tebasan diagonal, punggungnya disayat cakar Elfilia.
“M-Mahiru-san...?”
Napasnya
tidak teratur. Mungkin hanya daging yang sedikit terpotong. Bukan luka fatal.
Namun rasa sakit membuat pikirannya kacau. Di dalam pelukannya, Maisy
menatapnya cemas, suaranya gemetar. Dia ingin berkata bahwa semuanya baik-baik
saja, ingin menenangkannya, tetapi suaranya tidak keluar dengan benar.
“Mahiru-san,
Mahiru-san...!!”
Maisy
melepaskan diri dari pelukannya dan, tanpa memedulikan pakaiannya yang memerah
oleh darah, memeluk Mahiru. Air mata menggenang di sudut matanya saat dia
memanggil namanya.
Tidak
jauh dari mereka, Elfilia berdiri tegak dengan cakar berlumur darah merah
kehitaman.
“Akhirnya.
Akhirnya bisa makan juga. Katanya rasa lapar adalah bumbu terbaik. Kamu pasti
sangat lezat.”
Jika
dibiarkan, mereka akan tercabik bersama dan langsung menuju perut Elfilia. Dia harus
berdiri. Namun tubuhnya tidak mau menurut.
“Mahiru-san,
kenapa? Tidak... baru saja kita merebutnya kembali. Kakak juga sudah kembali
dan kita akan menjalani hari-hari bahagia lagi. Mahiru-san yang mengembalikannya
untukku, tapi lagi-lagi semuanya direnggut secara tidak masuk akal... lagi-lagi
seperti ini...!”
Maisy
menatap telapak tangannya yang memerah oleh darah Mahiru, bergumam tidak jelas.
Tubuhnya bergetar oleh kesedihan dan amarah. Seolah dia tidak memberi sedikit
pun perhatian pada Elfilia yang berdiri tepat di sampingnya.
“Mai...sy...”
Maisy
seakan tidak hadir sepenuhnya. Mahiru babak belur. Elfilia, meski kehilangan
penglihatan dan satu lengan, masih menyisakan tenaga.
Elfilia
menyeringai, yakin akhirnya akan menikmati santapannya. Dia mengayunkan cakar
ke arah mangsanya, dan jari-jarinya terbang di udara.
“...Hah?”
Suara
kosong itu keluar dari mulut Elfilia.
“Aku
tidak akan membiarkan siapa pun merampas apa pun lagi.”
Di
tangan Maisy tergenggam gunting yang tadi ditepis. Karena tergenggam itulah,
barulah bisa dipahami bahwa Maisy-lah yang memotong jari-jari itu. Meski
begitu, apakah dia benar-benar mengayunkan gunting berat dan sulit dikendalikan
itu dengan satu tangan, lalu secara tepat memotong jari Elfilia?
“Anjing
kecil sebaiknya duduk manis saja, ya?”
Maisy
berdiri sempoyongan, lalu dengan gerakan bak pemain akrobat mengendalikan
gunting itu dan mengambil posisi siap.
Sosoknya
tampak aneh, namun kuat, penuh daya hidup. Brutal, dengan merah darah yang
begitu serasi padanya, namun tetap menyisakan sisi seorang gadis. Matanya yang
menyipit tajam menembus Elfilia.
“Maisy?”
Bayangan
Maisy yang membunuh Mahiru pada putaran ketiga bertumpang tindih di benaknya.
Sosok
Maisy yang kehilangan kewarasan dan diselimuti kegilaan.
“Mahiru-san,
aku sungguh berterima kasih padamu. Kamu sudah menyelamatkanku dan juga Kakak.
Jadi sekarang, giliranku.”
Namun,
ada perbedaan yang jelas antara Maisy yang berdiri di hadapannya sekarang dan
dirinya yang dulu terjerumus dalam kegilaan.
Dulu,
dia tidak tahu harus percaya pada apa, dan pada akhirnya hanya bergantung pada
Mahiru sebagai pilihan terakhir. Tapi Maisy yang sekarang memiliki sesuatu yang
ingin dia lindungi dengan jelas. Dia memiliki sesuatu yang bisa dia percayai. Dia
telah menetapkan sesuatu yang begitu berharga hingga layak dipertaruhkan dengan
nyawanya.
“Mari
kita bunuh seekor serigala dengan anggun.”
Maisy
membuka guntingnya dan menyerang Elfilia. Cakar Elfilia dan bilah gunting
beradu, memercikkan bunyi logam kering. Tanpa mengendurkan serangan, Maisy
terus mengayunkan gunting dengan gerakan mengalir. Elfilia menangkis semuanya
dengan lengan kirinya yang tersisa.
Meski
tipis, Maisy yang mendesak. Fakta bahwa Elfilia masih mampu mengikuti gerakan Maisy
setelah kehilangan kedua mata dan satu lengan saja sudah di luar nalar, tetapi
kini Elfilia bukan lagi monster yang tidak bisa dijangkau. Dia dipojokkan
dengan serius.
Merasa
jengkel, Elfilia melompat mundur mengambil jarak. Maisy tidak melewatkan celah
itu. Dia menyusup masuk, merapat ke jarak dekat, lalu membuka gunting yang
diposisikan rendah.
“Huu...!!”
Dengan
sekuat tenaga, Maisy mengayunkan guntingnya ke atas. Sebuah garis merah terukir
dari pinggang hingga bahu kiri Elfilia.
Serigala
itu meringis kesakitan dan buru-buru menjauh dari Maisy.
“Iri,
ya. Sekarang kita serasi dengan Mahiru-san, bukan?”
Maisy
tidak mengejar. Dia malah menunjuk luka yang baru saja diukirnya dan tersenyum
manis.
“Padahal
kamu cuma ada untuk dimakan. Makanan kok melawan, itu aneh! Lemah pula!”
Elfilia
yang murka menerjang dengan bahunya, mengandalkan tubuh raksasanya.
Maisy
menutup gunting dan menahannya seperti perisai. Dia menghimpun tenaga di tubuh
bagian bawah dan bertahan, tetapi dalam adu kekuatan murni dia tidak mungkin
menang. Dua garis tergores di tanah saat dia terdorong mundur.
“Kuh...!?”
Sudah
sejauh ini dipojokkan, namun gerakan Elfilia belum juga melambat.
Tapi
tinggal sedikit lagi.
Mahiru
menggertakkan gigi dan berdiri tertatih. Dia ingin menjawab perjuangan Maisy
yang sendirian menghadapi Elfilia. Dengan tekad itu, dia memaksa pikirannya
yang tumpul oleh rasa sakit untuk tetap jernih dan menyapu pandangan ke tanah.
Beberapa
meter di depan, dia melihat kunci perak yang ditemukan di kincir air tergeletak
di sana, dan dia menghela napas lega dalam hati. Tentu saja kunci itu bukan
dibawa Elfilia, Mahiru telah mengeluarkannya dari Grimm Note dan menaruhnya
sebagai penanda sebelumnya. Posisinya tidak buruk. Langit masih memihak mereka.
Dia ingin mengalihkan perhatian Elfilia ke sana, dan tepat saat itu...
Bang!
Suara ledakan memecah pikirannya.
Saat
menoleh ke arah suara, dia melihat Nina yang berdarah di dahi sedang
membidikkan senapan. Moncongnya mengarah ke langit, asap tipis mengepul darinya.
Tembakan untuk mengalihkan perhatian Elfilia.
“Kamu
keras kepala sekali, Effie.”
Elfilia
yang buta menoleh ke segala arah, tidak mengerti apa yang terjadi.
Sebuah
celah terbuka. Sepersekian detik yang bernilai ribuan emas.
Nina
menyadari apa yang Mahiru incar. Karena itulah dia memberi dukungan. Menangkap
isyarat mata darinya, Mahiru mengerahkan sisa tenaganya. Rasa sakit dan
ketakutan ditimpa oleh adrenalin. Sensasi melayang seolah menelan obat
terlarang. Dia mengambil jarak ancang-ancang yang cukup, lalu berlari lurus ke
arah Elfilia dan menghantamkan bahu.
“Raaaaaaaaaahh...!”
Namun
tubuh raksasa Elfilia hanya terdorong sedikit ke belakang. Meski kedua matanya
dihancurkan, satu lengannya lumpuh, dan perutnya terkoyak, kekuatan fisiknya
tetap utuh.
Elfilia
merangkulnya, lalu menancapkan cakar lengan kirinya ke punggung Mahiru. Seperti
sedang bergulat. Luka di punggungnya melebar, dia merasakan darah mengalir.
Aliran hangat itu merambat di tulang belakang dan membasahi karet celananya.
Melihat kunci perak di belakang Elfilia, Mahiru menghimpun sisa tenaga.
“Jatuhlaaaaahhhhh...!”
Kerahkan
bahkan tenaga untuk hari esok.
Walau
lengannya tercabik, walau kakinya terlepas, demi mencapai akhir sejati.
Di
sudut pandangannya, renda putih yang ternoda jelaga berayun.
“Makan
tanah sana!”
Tiba-tiba
tekanan dari Elfilia terasa jauh lebih ringan. Maisy mengayunkan gunting
raksasanya dan memotong tendon Achilles Elfilia. Serigala itu runtuh berlutut.
Mahiru merendahkan tubuhnya, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorongnya.
“Ini
akhirnya, Elfilia...!”
Sedikit
demi sedikit, meninggalkan jejak di tanah, tubuh Elfilia terseret mundur.
Mahiru menggertakkan gigi, mengubah setiap sel tubuhnya menjadi tenaga, hanya
untuk terus maju.
Dan
saat kaki Elfilia menyentuh kunci perak...
Pada
saat yang sama, Mahiru merasakan tenaga yang menahannya lenyap seperti kabut.
“A,
eh?”
Suara
bodoh itu keluar dari mulut Elfilia.
Barangkali
Elfilia yang buta itu tidak mengerti apa yang telah terjadi. Yang dia rasakan
hanyalah sensasi melayang yang mendadak, disusul benturan keras. Apakah dengan
itu dia menyadari dirinya telah terperosok ke dalam lubang jebakan?
Sebuah
lubang besar yang menelan tubuhnya hingga ke dada. Satu lengannya telah
tertebas, kakinya pun tidak lagi berfungsi sempurna, dan dalam kondisi seperti
itu, bahkan tanpa mampu memahami situasi dengan benar, mustahil bagi Elfilia
untuk keluar dari lubang ini dengan kekuatannya sendiri.
“Apa
ini? Aneh sekali. Tadi rasanya makanannya ada tepat di depan mata...”
Mahiru
terduduk dengan rasa lega yang belum sepenuhnya hilang, dan Maisy segera
menopangnya.
Nina,
mungkin karena lukanya masih terasa nyeri, berjalan perlahan menghampiri Elfilia.
“Kakak...
ada yang ingin kamu katakan terakhir kali?”
Nina
mengernyit sesaat, wajahnya menyiratkan kepedihan, lalu mengembuskan napas.
Seolah memantapkan tekad. Seolah mengeluarkan sisa kelemahan dalam dirinya
lewat helaan napas tipis itu.
Dia
berjongkok di dekat Elfilia dan dengan lembut mengusap kepalanya.
“Nina-chan...?”
“Maaf
ya, Effie. Tapi ini sudah janji kita.”
Saat
untuk menimbang nyawa Elfilia di atas timbangan akhirnya tiba.
Dan
ketika saat itu datang, nyawa Elfilia harus dianggap lebih ringan daripada apa
pun, itulah janji mereka.
“Begini
memang yang terbaik, ‘kan?”
“Oh...
jadi hari ini, ya.”
Mungkin
karena kata-kata Nina mengingatkannya pada janji itu. Mahiru tidak tahu
seberapa dalam hubungan mereka berdua, tetapi Elfilia tampaknya menerima akhir
ini dengan lapang, menghentikan segala perlawanan.
“Kalau
begitu, tidak ada pilihan lain. Sedih rasanya tidak bisa bertemu Nina-chan
lagi. Tapi... aku sendiri yang memintanya, bukan?”
Elfilia
mengulurkan tangan kirinya kepada Nina.
Nina
menyambut tangan itu dan menempelkannya ke dahinya, seperti sedang berdoa.
“Dengan
ini... aku tidak akan lapar lagi.”
Usai
berkata demikian, Elfilia tersenyum lemah.
Wajahnya
damai, seolah tidak ada lagi yang tersisa untuk disesali.
“Maafkan
aku. Kamu akan selalu jadi sahabat berhargaku, Effie.”
Setelah
mengucapkan itu, Nina berdiri dan membelakangi Elfilia.
Lalu,
kilatan gunting raksasa Maisy menyambar, dan leher Elfilia yang menjulur keluar
dari tanah tertebas bersih.
Tubuh
binatang berwarna malam itu terbelah, darah segar muncrat ke udara.
Pakaian
Maisy yang semula hitam legam oleh arang kini ditimpa warna merah menyala.
Wajah
Mahiru pun terciprat darah kental; dia menyekanya dengan ekspresi tidak suka.
Namun
ini belum berakhir.
Setelah
mengalahkan sang serigala, masih ada urusan di dalam perutnya.
Menggantikan
Mahiru yang tubuhnya telah remuk-redam, Maisy menarik Elfilia keluar dari
lubang jebakan. Tanpa ragu, dia menancapkan gunting ke perutnya dan membukanya
lebar-lebar hingga terbelah. Mahiru lebih dulu memanjatkan doa, lalu dengan
hati-hati memasukkan tangannya ke dalam perut itu.
“Ada.”
Dia
pun menarik keluar tudung merah.
Benda
itu memancarkan aura kelam yang mengerikan. Siapa pun yang melihatnya pasti
langsung tahu bahwa benda itu terkutuk, jelas merupakan sesuatu yang tidak wajar.
Mungkin
inilah kegilaan sang penyihir.
Di
ambang kematiannya, sang penyihir telah menanamkan kegilaannya ke dalam tudung
merah ini.
Kegilaan
yang terlalu kuat tampaknya dapat terlihat oleh mata. Namun dari reaksi Maisy
dan Nina, sepertinya hanya Mahiru yang mampu menyadari keberadaan kegilaan itu.
Mahiru
membuka Grimm Note, lalu menggunakan kekuatan pemurnian untuk menyingkirkan
kegilaan dari tudung merah tersebut.
“Nih,
Maisy.”
Dia
memeras tudung merah yang berlumur darah dan cairan lambung, lalu
mengibaskannya beberapa kali agar airnya berkurang.
Saat
hendak menyerahkannya, Maisy hanya berkata, “Hm,” dan menyodorkan kepalanya.
Maka Mahiru pun berdiri di belakangnya dan memakaikan tudung itu dengan
tangannya sendiri.
Kalau
dipikir-pikir, perjalanan sampai di sini terasa begitu panjang.
Dia
telah mati berkali-kali.
Berkali-kali
pula dia ingin menyerah.
Namun
dia tidak pernah benar-benar menyerah, mungkin karena tokoh utama cerita ini
adalah dirinya.
Karena
Maisy telah mengajarkannya sesuatu yang begitu berharga, mereka akhirnya bisa
mencapai akhir seperti ini.
“Maisy...
terima kasih.”
Mahiru
memakaikan tudung merah itu pada Maisy.
Seketika,
aura kelam yang mengerikan itu pecah seolah terurai, dan cahaya yang
menyilaukan memancar keluar.
Cahaya
itu lebih hangat, lebih lembut, dan lebih penuh kasih dibanding saat pemurnian
tadi.
Ia
memenuhi ruangan seolah memberi berkah, meluber keluar, menyusuri hutan, dan
mungkin akan menjangkau kota, bahkan menyebar ke seluruh dunia. Meluas seakan
menjilat dan melarutkan kegilaan yang ada.
Mengembalikan
apa yang seharusnya, ke tempat yang semestinya.
Tudung
merah itu kembali kepada sang tokoh utama cerita ini, Maisy.
Dan dengan demikian, kisah ini pun mencapai akhir sejati yang telah mereka dambakan.