Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Putaran Kelima

Putaran Kelima: Akhir yang Kamu dan Aku Inginkan

Pondok awal.

Semuanya berawal dari sini. Dan kali ini pun, akan dimulai dari sini lagi.

Lantainya terasa dingin menusuk. Matanya terjaga. Kesadarannya jernih sepenuhnya.

Namun, dia tidak punya keinginan untuk bangkit berdiri.

“...Lalu aku harus bagaimana...”

Jika dia membunuh Maisy, dunia dongeng ini bisa diselesaikan. Dan dia bisa menyelamatkan Asahi.

“Apa benar... cuma itu satu-satunya cara...”

Selama ini, tak terhitung jumlah pemain yang menantang dunia Tudung Merah, tenggelam dalam keputusasaan, dan pada akhirnya memilih opsi untuk membunuh Maisy. Di antaranya, pasti ada pula pemain yang bahkan belum sempat memilih, lebih dulu hancur karena tidak sanggup menahan kegilaan dunia ini.

21.114 kali.

Itulah jumlah dunia ini telah diulang sejauh ini.

Setelah percobaan yang begitu tidak terbayangkan banyaknya, kesimpulan yang didapat adalah membunuh Maisy. Itulah cara untuk menyelesaikannya, kata si Gembala.

Itu bukan angka yang bisa diabaikan.

Dan andaikan Mahiru memilih untuk membunuh Maisy pun, tidak seorang pun akan menyalahkannya.

Orang-orang pasti menganggapnya tidak terhindarkan. Bahkan mungkin akan memujinya.

Dia memiliki alasan besar, menyelamatkan adiknya, Asahi.

Selama ini, bukankah dia telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Asahi, tidak peduli apa pun yang harus dikorbankan?

Sejak awal, Mahiru hidup demi itu.

Bahkan di dunia ini pun, dia hanya bergerak mengikuti prinsip yang sama.

Tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang layak disalahkan.

Dan justru pada rasionalitas yang berusaha meyakinkannya seperti itulah rasa mual itu muncul.

“Aku, aku ini sedang memikirkan apa...!”

Apakah tadi dia sedang menyusun daftar alasan mengapa membunuh Maisy itu boleh saja?

Jika dia menuruti perkataan si Gembala, membunuh Maisy, lalu berhasil menyelamatkan Asahi, apa itu sudah cukup?

Seharusnya tidak. Tidak mungkin dia bisa menerima hal seperti itu.

Namun pada akhirnya, dia sendiri tidak mampu menjawab mengapa dia ingin menyelamatkan Maisy. Apalagi ketika akalnya yang terkutuk berbisik, apakah dia sungguh harus menyelamatkannya sampai-sampai menimbangnya dengan Asahi di atas timbangan yang sama.

Mengapa dia begitu terobsesi pada gadis itu?

Aku harus bergerak...

Jika terus berdiam di sini, Maisy mungkin akan lebih dulu tiba di rumahnya.

Dengan pikiran itu, dia berdiri. Namun semangatnya tidak kunjung bangkit.

Tidak ada barang baru yang bertambah kali ini. Seolah memang sudah tidak ada lagi kunci yang bisa diandalkan.

Dia menyimpan barang-barang itu ke dalam Grimm Note, lalu mengenakan jubahnya. Begitu membuka pintu dan melangkah keluar, sinar matahari yang hangat menyambutnya. Namun kehangatan itu tidak mampu mencairkan keputusasaan yang menyelimuti Mahiru saat ini.

Dia berjalan menyusuri jalan yang biasa dilalui, lalu di persimpangan memilih jalur kiri. Terhuyung-huyung seperti mayat hidup yang sekadar meniru gerakan semasa hidupnya, dia menapaki rute yang telah ditentukan.

Dan kemudian, rambut pirang yang bergoyang tertiup angin muncul dalam pandangannya.

Dia hendak memanggilnya, tangan terulur, namun tubuhnya runtuh lebih dulu.

Seolah dayanya diputus, dia terduduk begitu saja di tempat.

Dia terkejut, tetapi tidak mampu bersuara. Tanpa tahu sebabnya, air mata mengalir begitu saja.

“Eh, tunggu, hah? Kamu tidak apa-apa?”

Wajah Maisy yang tertata indah memenuhi pandangannya yang buram.

Menyadari Mahiru terjatuh, Maisy-lah yang mendekat lebih dulu. Dia menunduk, menatap wajah Mahiru dengan cemas.

“Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

Perkembangan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal sekecil apa pun bisa memengaruhi jalannya kejadian setelah ini. Dia tidak boleh membuat Maisy curiga. Mahiru segera menumpukan tangan ke tanah, berusaha bangkit, namun tubuhnya tidak mengumpulkan tenaga dengan baik.

“Wajahmu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sehat. Apa ada bagian yang sakit? Atau kamu sedang tidak enak badan? Apa ada yang bisa kulakukan sekarang?”

Wajah itu sudah berkali-kali dia lihat. Karena itu pula dia tahu. Tidak ada perhitungan apa pun di sana, hanya kekhawatiran yang murni. Namun justru sikap itulah yang mengguncang hati Mahiru. Andai saja dia bersikap dingin dan acuh, mungkin rasa bersalah ini akan sedikit lebih ringan.

“Kenapa kamu mengkhawatirkanku...?”

“Hah?”

Maisy memiringkan kepala, jelas tidak mengerti maksud ucapannya.

“Kamu tidak merasa aku mencurigakan?”

“Yah, kalau dibiarkan, rasanya kamu bisa mati dalam satu jam ke depan. Sekilas memang cukup mengkhawatirkan.”

“Bukan itu maksudku...”

Bagi Mahiru mungkin berbeda, tapi bagi Maisy, dia seharusnya hanyalah pria asing yang baru pertama kali ditemui. Tidak ada kedekatan yang bisa menumbuhkan rasa iba. Tidak ada keuntungan untuk menolongnya. Bahkan justru ada risiko.

“Kalau ada orang dalam kesulitan, ya ditolong. Kamu tidak tahu? Wajahmu benar-benar parah, tahu.”

“Biasa... begitu, ya. ..”

Dia mengatakannya tanpa beban. Bagi Mahiru sekarang, kata-kata itu bahkan terdengar seperti sindiran.

“Kalau posisi kita dibalik, kamu tidak akan menolong?”

“Kurasa... tidak.”

Jika bukan karena utang budi, bukan orang yang berharga, atau tidak ada keuntungan apa pun, dia mungkin tidak akan menolong. Tidak ada habisnya. Dia pernah berkali-kali dimanfaatkan karena kebaikan hatinya.

Dan tidak pernah sekalipun dia ditolong.

Bahwa menolong orang yang kesulitan adalah hal yang wajar, itu hanya ada dalam cerita.

“Begitu ya. Kalau begitu, mulai sekarang tolonglah orang yang sedang kesulitan.”

Di dalam dadanya, sesuatu yang berat seperti timah menggeliat.

Biasanya dia bisa mengabaikan kata-kata itu. Namun kini, entah mengapa, kalimat itu justru mengaduk-aduk hatinya dan terasa seperti tuduhan.

“...Apa maksudmu itu?”

Kebaikan adalah sebuah cara.

Semua itu tidak lebih dari sarana untuk mencapai sesuatu yang ada di baliknya.

“...Enak sekali ya, bisa bersikap selapang itu.”

Hanya orang yang pernah ditolonglah yang bisa berpikir untuk menolong orang lain.

Bagi mereka yang hanya terus dirampas, masih adakah sesuatu yang tersisa untuk diberikan?

“Menolong itu memangnya jadi apa? Aku tidak pernah sekalipun ditolong...! Lagipula, cinta tanpa pamrih itu tidak mungkin ada!”

Kata-kata meluap deras seperti bendungan yang jebol.

Sejak kecil, tubuh Asahi memang lemah.

Dia mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan, dan ketika akhirnya harus dirawat di rumah sakit, kondisinya hanya semakin memburuk.

Orang tua dan aku telah melakukan segala yang kami bisa untuk Asahi.

Kami berkonsultasi pada siapa pun yang terpikirkan, mencari dokter terbaik, bahkan sampai mendatangi dukun dan cenayang yang jelas-jelas mencurigakan.

Kami seputus asa itu.

Seserius itu.

Kami benar-benar berjuang mati-matian demi menyelamatkan Asahi.

Uang pun habis, ruang untuk bernapas menghilang, dan hati kami terkikis sedikit demi sedikit.

Tidak seorang pun mengulurkan tangan.

Sebaliknya, seolah-olah melihat kami yang sedang terpuruk sebagai kesempatan emas, mereka merampas segalanya.

Setiap tawaran manis selalu punya sisi gelap. Orang tuaku yang mempercayainya harus menelan pahitnya akibat. Uang dirampas. Ketika uang tidak tersisa, barang-barang berharga pun diambil satu per satu... dan akhirnya rumah pun hilang, nyawa pun melayang. Semuanya diperas habis, seolah tidak menyisakan tulang sedikit pun.

Yang lemah tidak punya pilihan.

Penyelamatan bagi kaum lemah itu dusta.

Jika lemah, segalanya akan dirampas.

Karena itu, bagiku, kelemahan adalah dosa.

“Menurutmu aku terlihat menyedihkan? Orang lemah memang enak dijadikan sasaran empuk, ya!”

Yang kuat merampas segalanya seolah itu hal yang wajar.

Bahkan definisi penyelamatan pun selalu ditentukan oleh mereka yang kuat.

Karena itu, aku tidak ingin menunjukkan kelemahan.

Di tengah tidak punya apa-apa, berpura-pura kuat adalah satu-satunya perlawanan yang tersisa.

Mahiru yang lemah tidak mampu membuka jalan.

Sekarang pun sama. Karena lemah, dia tidak bisa memilih.

Dia dipaksa untuk memilih opsi membunuh Maisy.

“Ya, benar... karena aku lemah, pada akhirnya...!”

Sampai di situ dia tersadar dan buru-buru membungkam diri.

Ini sudah keterlaluan, melampiaskan amarah pada orang yang salah. Dia tahu nasib malang yang akan menimpa Maisy, lalu apa yang sebenarnya sedang dia katakan?

Lagipula, bagi Maisy yang ini, Mahiru hanyalah orang asing yang baru pertama kali ditemui. Tidak mungkin dia tahu keadaan Mahiru, dan hubungan mereka nyaris nol. Kesan pertama yang terburuk.

Di hadapan orang yang seharusnya dia selamatkan, wajah seperti apa yang sedang dia tunjukkan?

Dia tidak boleh membuatnya semakin curiga.

Saat dia mengangkat wajah, hendak meminta maaf, Maisy justru menatapnya dengan lembut, lalu menepuk pelan kepalanya.

“Sepertinya... kamu sudah melalui banyak hal yang menyakitkan, ya.”

Reaksi yang sama sekali tidak terduga membuat Mahiru terdiam dengan mulut ternganga.

“...Hah?”

Dia mengira Maisy akan kesal lalu pergi, atau mungkin berkata, “Sudah khawatir malah dapat sikap seperti ini,” lalu menamparnya, atau paling tidak meludah jijik dan menjauh.

Bahkan sempat terpikir, kalau situasinya memburuk, dia tinggal mati dan mengulang lagi.

Namun sekarang, apa yang baru saja terjadi?

Kepalanya disentuh... dibelai?

Kenapa?

Pertanyaan murni memenuhi benaknya.

“Tapi, kamu tidak perlu setakut itu.”

“...Takut?”

“Iya. Kamu terlihat seperti anak anjing yang gemetar karena tidak bisa mempercayai siapa pun selain dirinya sendiri.”

Sambil berkata begitu, Maisy tersenyum, seolah hendak menenangkannya.

Senyum yang begitu lembut, seakan mampu melunakkan hati yang telah lama tergerus.

Belum pernah ada yang mengatakan bahwa dia sedang takut.

Dia ingin membantah, mengatakan bahwa dia tidak takut apa pun. Namun melihat ekspresi Maisy yang seperti sedang menenangkan anak kecil, keinginan itu menguap begitu saja.

“...”

Seolah panas yang membara di hatinya perlahan surut dengan tenang.

Jika dipikir-pikir, Maisy tidak pernah meminta apa pun darinya.

Mengundang Mahiru ke rumahnya tidak memberinya keuntungan sedikit pun.

Namun saat pertama kali bertemu, meski dia tampak curiga, Maisy tetap mengajaknya masuk. Dia berbagi makanan, bahkan meminjamkan tempat tidur. Pada putaran ketiga maupun keempat, dia tetap sama. Kadang bersikap ketus, tetapi tidak pernah benar-benar mengusirnya. Bahkan sering kali justru yang memulai percakapan.

“Baiklah! Kalau begitu, akan kubuktikan sendiri. Yang namanya kebaikan tanpa pamrih itu.”

Kata-kata itu jatuh begitu saja ke dalam hati Mahiru dan menetap di sana.

Maisy lalu bergumam sambil memalingkan wajah, “Memang aku sendiri yang bilang begitu, tapi tetap saja agak memalukan, ya. Dan mungkin ‘tanpa pamrih’ itu sedikit berlebihan. Setidaknya mungkin aku tetap akan mengharapkan sesuatu, sedikit saja... mungkin.”

Perasaan yang selama ini tidak mampu dia ungkapkan, namun selalu dia rasakan.

Mengapa dia begitu terikat pada Maisy? Dibandingkan dengan Asahi, seharusnya segala hal lain terasa seperti debu belaka.

Mengapa dia tidak bisa begitu saja membuang Maisy seperti hal-hal lain selama ini?

“...Ah... begitu ya. Jadi begitu.”

Akhirnya dia mengerti mengapa dia ingin menyelamatkan Maisy sampai sejauh ini.

Bukankah kebaikan tanpa pamrih itu sudah dia terima sejak awal?

Sejak awal, yang diselamatkan oleh Maisy adalah Mahiru sendiri.

Berkat Maisy, dia tidak merasa kesepian di dunia asing ini.

Tanpa meminta imbalan apa pun, Maisy mengulurkan tangan kepada Mahiru.

Mahiru menerima kebaikan yang tidak perlu diragukan lagi darinya.

Adik perempuannya mengidap penyakit tidak tersembuhkan. Orang tuanya bunuh diri. Uang tidak ada, rumah pun tidak ada. Dia tidak bisa mempercayai siapa pun, dan tidak seorang pun menolongnya. Saat tersadar, dia sudah berada di lembaga pembinaan anak. Hidupnya adalah rangkaian kemalangan tanpa ujung.

Dengan semua itu, menyuruhnya untuk percaya pada orang lain adalah hal yang mustahil.

Demi memuaskan hasrat sendiri, manusia tidak segan menipu, merendahkan, bahkan menjatuhkan sesamanya, binatang buruk rupa seperti itulah manusia. Itulah wujud yang dianggap benar sebagai manusia, dan mereka yang menunjukkan kelemahan bernama kebaikan akan diburu lebih dulu. Mahiru mengetahui hal itu lebih dari siapa pun.

Di dunia ini pun sama saja. Seorang nenek tua yang bersekongkol demi merebut tubuh muda cucunya. Serigala yang seluruh hasratnya dilumuri oleh nafsu makan. Dan si Gembala yang berencana memanipulasi orang lain demi ambisinya sendiri. Semuanya sama saja. Tidak ada bedanya dengan para bajingan yang merampas keluarganya dari Mahiru.

Namun, gadis itu berbeda.

Di tengah dunia sialan ini, hanya Maisy yang berusaha tetap bersikap baik pada orang lain. Tanpa perhitungan, dia mengulurkan tangan dengan tulus. Berapa kali pun semuanya diulang, itu tidak pernah berubah.

Jika dunia ini hanya bisa diselamatkan dengan membunuh gadis seperti itu, maka biarlah dunia ini binasa.

Akhir seperti itu tidak mungkin bisa diterima.

Karena Mahiru pun sama.

Menyedihkan betapa sama dirinya dengan Maisy.

“Tidak bisa... aku tidak mungkin membunuhnya.”

Dari Maisy yang selama ini hanya dirampas, apakah Mahiru, orang yang paling memahami perasaannya, akan merenggut bahkan nyawanya?

Tidak pernah sekalipun Maisy mencoba menjebaknya.

Dia harus menyelamatkan Maisy.

Itu sudah sewajarnya.

Tanpa sedikit pun keraguan, Maisy adalah sosok yang pantas diselamatkan.

“E-eh... anu... kamu beneran tidak apa-apa?”

Baru setelah itu Mahiru sadar bahwa dia sedang menangis.

Air matanya jatuh berderai. Diseka berkali-kali pun tetap mengalir tanpa henti.

“A-Aku tidak apa-apa...”

“Orang yang benar-benar tidak apa-apa biasanya tidak menangis di depan gadis yang baru dikenalnya, lho. Apalagi di depan gadis secantik ini!”

Dia ingin tertawa menanggapi gurauan Maisy, namun wajahnya tidak mampu membentuk ekspresi yang layak. Pasti rautnya terlihat sangat buruk. Melihat senyum Mahiru yang kaku, Maisy tampak sedikit mundur.

“Haaah, ya ampun. Mau ikut ke rumahku? Kebetulan kamarnya masih kosong. Kalau cuma beberapa hari, boleh saja menginap. Dan kalau hanya ingin bercerita, aku juga bisa mendengarkan.”

“...Aku berterima kasih.”

“Ah, tapi kamu tetap harus bekerja, ya!”

Setelah menegaskan itu, Maisy mengulurkan tangannya kepada Mahiru.

“Namaku Maisy. Maisy Carmine.”

“Misora Mahiru. Terima kasih, Maisy.”

Mahiru menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan bajunya, lalu menggenggam tangan Maisy dengan erat.

Begitulah, dia kembali bertemu dengan Maisy untuk yang keempat kalinya.

 

* * *

 

Maisy mengajaknya sampai ke rumahnya, memperkenalkannya pada Olivia, lalu mereka bertiga duduk mengelilingi meja. Tanpa terasa, sebuah jamuan minum teh pun dimulai.

Berkat Maisy, pikirannya terasa jauh lebih jernih.

Dia sempat terpengaruh oleh kata-kata si Gembala, tetapi menimbang Maisy dan Asahi di atas timbangan yang sama adalah pemikiran yang keliru. Kedua keinginan itu harus diwujudkan secara bersamaan.

Dunia ini bisa diulang kembali. Game over hanya terjadi saat Mahiru menyerah. Memilih untuk membunuh Maisy di sini hanyalah pilihan yang lahir dari keinginan mencari jalan mudah.

Menyelamatkan Asahi adalah syarat mutlak yang tidak perlu dipertanyakan.

Dan setelah itu, barulah dia memilih.

Menolong Maisy, atau menyerah dan memilih kemudahan.

Jika hanya dua pilihan itu, jawabannya pun tidak perlu diragukan.

Siapa yang bisa diam saja menyaksikan gadis yang telah menyelamatkannya mati secara tidak adil?

Kini keraguan yang pesimistis itu telah sirna.

Namun sayangnya, bukan berarti masalahnya otomatis terpecahkan.

Mampukah dia menemukan kemungkinan yang tidak ditemukan dalam 21.114 kali pengulangan itu?

Dengan jumlah sebanyak itu, jika masih ada elemen yang belum terungkap, berarti ada sesuatu yang tidak muncul dengan cara biasa. Sesuatu yang bisa membalikkan akal sehat dari permainan cerita ini.

Dia harus menemukannya berdasarkan pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang dia kumpulkan dari loop-loop sebelumnya.

Meski berbicara seperlunya dalam jamuan teh, Mahiru terus tenggelam dalam pikirannya.

Setelah jamuan selesai, dia duduk di sofa ruang tamu tanpa melakukan apa-apa.

Adanya batas waktu juga menjadi sumber kegelisahan. Besok, Olivia akan mulai bergerak untuk mengambil alih tubuh Maisy. Sebelum itu, dia ingin menetapkan arah.

Mungkin dia harus menata kembali seluruh informasi yang ada.

“Waaah...!!”

Tiba-tiba suara meledak tepat di dekat telinganya.

Mahiru refleks melonjak dan menoleh, di sana berdiri Maisy.

“...!? Hah!? Apa-apaan sih, tiba-tiba begitu!”

Alih-alih terlihat puas karena berhasil mengagetkannya, Maisy justru memandangnya dengan cemas.

“Tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat.”

“Separah itu?”

“Dibanding saat pertama bertemu tadi memang lebih baik, tapi tetap saja masih pucat. Dan tatapan matanya juga serem.”

Sambil berkata begitu, Maisy duduk dengan semangat di sampingnya. Sofa itu mengeluarkan bunyi pelan saat amblas.

“Yang itu mungkin memang sudah bawaan...”

“Kalau ada yang mengganjal, aku bisa mendengarkanmu, lho. Kadang hanya dengan menceritakannya saja sudah jauh lebih ringan. Aku juga dulu sering didengarkan Kakak.”

“Kakak yang baik.”

“Iya! Kakak yang paling kubanggakan. Nah, jadi! Sekarang aku berperan sebagai kakak Mahiru-san. Silakan, mau cerita apa saja boleh.”

“Lebih cocok jadi adik, sih.”

“Adik mana yang kakaknya menangis tersedu-sedu di depannya?”

“Itu...”

Mengingat tingkah memalukannya tadi, wajah Mahiru memerah.

“Mahiru-san sudah tidak punya peluang menang, jadi menyerahlah. Oh, tapi jangan khawatir. Kebaikan ini tetap akan kutagih balasannya nanti!”

“Katanya kebaikan tanpa pamrih?”

“Tanpa pamrih itu cuma untuk pertama kali. Mulai selanjutnya, akan dikenakan biaya.”

“Kejam sekali dunia ini... Baiklah. Tapi ceritaku mungkin akan terdengar berantakan.”

“Namanya juga curhat, memang begitu.”

Didorong oleh Maisy, Mahiru pun membuka mulut.

“Ada sesuatu yang harus kucapai, bahkan kalau harus mempertaruhkan nyawa. Tapi situasinya benar-benar putus asa, dan aku tidak bisa menemukan celah untuk menyelesaikannya. Aku tidak tahu kebenaran yang sebenarnya. Informasinya banyak sekali, tapi aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya kalau ada satu saja pemicu terakhir, semuanya akan berjalan... tapi aku tidak bisa menemukannya.”

Dia tidak bisa membicarakan soal si Gembala maupun dunia dongeng ini, sehingga ucapannya menjadi sangat abstrak. Bagi Maisy, pasti terdengar tidak jelas sama sekali.

Namun Maisy mendengarkannya dengan sungguh-sungguh tanpa menyela sedikit pun. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, mengangguk kecil seolah berkata, “Hmm, begitu...”

“Akan kuberikan beberapa petunjuk.”

“Petunjuk?”

“Iya! Yang pertama, coba beri waktu. Banyak sekali masalah di dunia ini yang selesai hanya dengan itu.”

Secara logika dia paham. Mungkin seminggu lagi Mahiru akan berkata, “Kenapa aku tidak menyadari hal sesederhana ini?” Mungkin dia akan menyadari bahwa situasinya sebenarnya tidak perlu membuatnya setergesa ini.

Namun waktu yang tersisa baginya banyak sekaligus sedikit. Besok Olivia akan mencoba mengambil alih Maisy. Lusa, sang Serigala akan datang mencari mangsa.

Dia merasa tidak boleh menggunakan kalimat “berapa kali pun diulang” sebagai alasan untuk bersikap pesimis.

“Tapi! Ekspresi Mahiru-san masih muram! Jadi kuberi satu petunjuk lagi! Coba lakukan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya!”

“Sama sekali tidak berhubungan?”

“Iyaaa! Misalnya... bagaimana kalau kita coba menari kreatif? Nanti aku yang kasih nilai.”

“Itu kedengarannya seperti waktu yang penuh penderitaan.”

“Atau, kita coba memikirkan nama kue fiktif!”

“Kinoko no Yama.”

“Eh, aku bilang nama kue, lho?”

“Cabbage Taro.”

“Mahiru-san tahu apa itu kue tidak?”

“Iya juga ya. Kalau dipikir-pikir memang aneh.”

“Maaf, sepertinya permainan ini terlalu sulit untuk tingkat kecerdasan Mahiru-san.”

Sebagai percobaan, Mahiru bertanya balik pada Maisy, dan gadis itu menjawab, “Mashuren.” Kedengarannya sangat meyakinkan. Seperti nama kue luar negeri yang elegan dan jarang dia makan.

Mungkin memang permainan ini terlalu sulit untuk Mahiru.

“Intinya ini cuma penyegaran suasana. Pandangan Mahiru-san sekarang sedang menyempit! Dalam kondisi begitu, ide apa pun tidak akan terpikirkan! Nah, berbincang dengan gadis cantik sepertiku. Lumayan menyegarkan, bukan?”

“Benar juga. Maisy, kamu ini sebenarnya baik sekali.”

“Benar, ‘kan? Aku ini sangat imut dan sangat baik hati.”

Awalnya dia terkesan agak ketus, tapi mungkin itu juga demi membuat Mahiru tidak sungkan. Mahiru sendiri tidak percaya diri dengan kemampuan komunikasinya. Namun sejak pertemuan pertama, dia merasa mudah berbicara dengan Maisy. Jika ternyata Maisy yang menyesuaikan diri, itu masuk akal.

Bayangan Maisy yang terwarnai kegilaan pada putaran ketiga dan keempat memang begitu membekas. Namun pada dasarnya, dia mungkin gadis baik yang lembut dan penuh perhatian.

Mahiru selalu menganggapnya sebagai sosok yang harus dilindungi, tetapi kalau begini, sulit mengatakan siapa sebenarnya yang melindungi siapa.

Maisy tampaknya peka terhadap perubahan halus emosi. Pada putaran pertama, Mahiru sendiri mencurigainya. Terlebih lagi, berada di dunia asing membuat kewaspadaannya meningkat setinggi-tingginya. Tanpa sadar dia membangun dinding kokoh di sekeliling dirinya.

Dan Maisy menembusnya. Sebaliknya, kali ini Mahiru memperlihatkan sisi memalukan sampai-sampai terasa konyol untuk bersikap waspada, sehingga jarak di antara mereka cepat menyempit.

Mahiru begitu mati-matian ingin dipercaya Maisy, padahal pada kenyataannya dia sendiri belum benar-benar mempercayainya.

“Walaupun begitu, sepertinya aku tidak terlalu membantu, ya.”

“Tidak begitu. Perasaanku jauh lebih ringan sekarang.”

Keraguannya sudah tersapu bersih. Yang tersisa hanyalah bagaimana menghadapi tembok kenyataan.

“Hmm... begitu ya! Ayo kita main permainan kecil! Untuk melatih otak!”

Tampaknya Maisy belum menyerah dan kembali memberi usulan.

“Permainan?”

“Iya! Aturannya sederhana. Kalau kita berhasil membuat lawan mengucapkan kata yang sudah kita tentukan dalam percakapan, kita menang. Supaya tidak curang, kata yang dipilih harus ditulis di kertas.”

Sepertinya semacam permainan kata terlarang.

Dulu sekali, ketika Asahi masih sehat, mereka pernah memainkannya sekeluarga.

Maisy mengambil kertas dan sebuah pena tinta hitam yang berat dari rak di dekatnya, lalu menyerahkannya pada Mahiru. Setelah itu dia duduk di meja, menulis sesuatu sambil menutupinya agar Mahiru tidak bisa melihat.

“Boleh kata apa saja?”

“Iya! Tapi jangan pilih nama atau kata ganti orang, itu membosankan.”

“Baiklah.”

Dia harus memilih kata yang tidak merusak keseruan permainan, namun cukup mungkin terucap oleh Maisy tanpa sengaja. Setelah berpikir, mengingat Maisy menyukai makanan manis dan mereka baru saja selesai minum teh, Mahiru memilih kata “kue”.

Tampaknya Maisy juga sudah selesai menulis. Dia memandang Mahiru sambil tersenyum lebar.

“Sudah boleh mulai?”

“Iya! Dimulai dari detik ini.”

“Maisy, kamu tadi bilang suka butter cake. Selain itu, ada makanan manis lain yang kamu suka? Kalau ada rekomendasi, beri tahu aku.”

Mahiru membuka percakapan dengan topik yang netral namun dekat dengan kata yang dia pilih.

“Hm, ya. Yang klasik seperti scone juga aku suka. Apalagi kalau ada cokelatnya.”

“Enak juga. Scone.”

“Kalau Mahiru-san bagaimana? Ada makanan favorit?”

“Sebetulnya aku lebih suka Takenoko no Sato.”

“Hah? Rebung? Apa itu? Mahiru-san benar-benar tahu apa itu makanan manis tidak?”

“Takenoko no Sato itu cokelat. Mungkin masuk kategori biskuit cokelat.”

“Rebung... biskuit cokelat... Aku sama sekali tidak paham apa yang Mahiru-san katakan, tapi untuk sementara Mahiru-san kalah. Aku yang menang.”

“Sudah?”

“Iya. Mengejutkan, ya. Bahkan sebenarnya Mahiru-san sudah kalah dua kali.”

“Kita baru satu kali main, kan!?”

“Yang pertama waktu bilang ‘suka’. Yang kedua waktu bilang ‘cokelat’.”

Ta-da! seru Maisy sambil memperlihatkan kertasnya. Kertas itu dipenuhi kata-kata. Di antaranya ada like dan chocolate. Mahiru juga sempat membaca wolf, cute, fire, moon, dan beberapa lainnya. Kertas itu benar-benar penuh dengan kata. Dengan jumlah sebanyak itu, apa pun topiknya, selama percakapan berlanjut, Maisy pasti akan menang.

Seharusnya tidak ada waktu baginya untuk menulis sebanyak ini. Mungkinkah dia pernah menantang orang lain dengan permainan yang sama sebelumnya?

“Ini jelas curang, ‘kan?”

“Tidak curang, kok. Aku tidak pernah bilang katanya cuma satu.”

“Memang tidak bilang, tapi biasanya satu ‘kan?”

“Tidak bagus, lho. Cara berpikir yang kaku seperti itu.”

“Kaku bagaimana maksudnya...”

“Hal seperti ini memang dibuat supaya pihak yang menetapkan aturan punya keuntungan.”

Maisy mendengus bangga. Sebagai pihak yang dijebak, Mahiru merasa tidak terima. Sejak awal saja sudah tidak adil karena pembuat aturan dan pemainnya orang yang sama.

“Tidak menjelaskan semua aturan itu bukannya kesalahan pihak yang membuatnya?”

“Mahiru-san manis sekali. Semanis cokelat!”

Dia menunjuk dengan gaya tengil.

“Siapa bilang pembuat aturan pasti berpihak pada kita? Lagi pula, ini permainan yang dia sendiri ajukan. Mahiru-san tidak curiga sejak awal, jadi sejak saat itu juga sudah kalah!”

Melihat sikapnya yang semakin menjadi-jadi, seolah hendak berkata “Dasar payah”, Mahiru merasa kesal, namun sekaligus tersentak.

“...Itu benar.”

Saat ini, Mahiru benar-benar merasakannya, bahwa penaklukan dunia dongeng ini tak ubahnya sebuah permainan.

Dan permainan itu benar-benar sampah. Kejam. Tidak ramah sama sekali.

Satu-satunya kekuatan yang diberikan kepada Mahiru hanyalah kemampuan untuk mengulang.

Tanpa penjelasan yang layak, dia dilempar ke dunia ini, bahkan syarat untuk menyelesaikan permainan baru dijelaskan di tengah jalan. Jika ini adalah permainan komersial yang dijual di pasaran, keluhan pasti akan membanjir. Penanggung jawabnya tidak akan lolos dari pemecatan.

Entah siapa yang membuat permainan ini...

“Tunggu. Sebenarnya siapa yang membuat permainan ini?”

Kalau dipikir secara wajar, tentu saja si Gembala yang sejak awal bertingkah seolah-olah game master dan berdiam di lokasi pembuka. Walau mungkin bukan dia yang menciptakannya secara langsung, masuk akal jika menganggapnya berada di pihak pencipta.

Namun, dia pernah berkata begini,

Temukan biang keladi yang merusak dunia dongeng ini dan sucikanlah. Itulah tugasmu, tidak, tugasmu dan tugasku.

Artinya, posisinya sama dengan Mahiru. Di dunia ini dia memang memiliki jauh lebih banyak informasi yang tidak diketahui Mahiru, tetapi tetap berada di pihak yang ingin menaklukkan dunia. Meski dia sosok yang tidak biasa, posisinya lebih dekat ke sisi pemain. Ibarat peri yang membimbing pahlawan dalam RPG.

Dengan kata lain, entitas tingkat atas yang menetapkan aturan berada di tempat lain.

Kalau dipikir-pikir, si Gembala pun tidak mengetahui segalanya tentang dunia ini. Dia tampaknya tidak tahu alasan Maisy menjadi gila, juga tidak tahu detail tentang kakak Maisy maupun Olivia.

Jika begitu, tingkat kepercayaan pada kata-kata si Gembala pun berubah sepenuhnya.

Mahiru perlu sekali lagi mempertimbangkan kebenaran ucapannya.

“Mahiru-san? Ada apa?”

Pertama-tama, dari premis dasarnya.

Tujuan si Gembala dan pemain adalah menyucikan kegilaan yang menggerogoti dunia ini.

Benarkah itu?

Si Gembala mengatakan bahwa kegilaan ini memberi dampak buruk pada dunia nyata. Bahwa banyak kemalangan tidak masuk akal terjadi karena kegilaan yang bocor dari dunia ini, dan seharusnya dunia menjadi lebih damai.

Pengaruh terhadap dunia nyata tidak mungkin bisa dipastikan.

Namun, bahwa dunia ini dirasuki kegilaan, itu tidak diragukan lagi.

Maisy yang mengamuk, serigala pemakan manusia, nenek tua yang merencanakan untuk merampas tubuh cucunya.

Siapa yang bisa melihat dunia sekejam lukisan seperti ini dan berkata bahwa dunia ini tidak gila?

Dan masalahnya adalah motif si Gembala. Dia jelas ingin pemain menyelesaikan dunia ini.

Namun dia tidak tertarik pada para penghuni dunia Tudung Merah. Maisy, Olivia, Elfilia, semuanya hanya dipandang sebagai karakter belaka. Karena itu, tidak ada gagasan untuk menyelamatkan mereka; yang penting hanyalah menyelesaikan permainan.

Dan menurut si Gembala, ada dua syarat penyelesaian.

Pertama, membunuh penyihir.

Kedua, mencapai hari keempat.

Hanya dua itu, katanya.

Namun, itu hanyalah kata-kata si Gembala semata.

Kalau, andaikan saja, syarat itu berbeda, atau bukan semuanya, bagaimana?

Jika apa yang dikatakan si Gembala benar, maka bertahan hidup hingga hari keempat, yakni kelangsungan hidup pemain, jelas merupakan syarat mendasar. Dan membunuh penyihir seharusnya menjadi cara untuk melakukan penyucian.

“Halo, Mahiru-san? Jangan-jangan kamu marah? Tadi itu cuma bercanda ringan, lho.”

Namun, penyihir itu konon sudah mati. Karena itu, katanya, cukup bertahan sampai hari keempat untuk menyelesaikan dunia ini. Para pemain yang berhasil keluar dari dunia ini pun melakukannya dengan cara itu.

Namun, jika dipertanyakan, ada kejanggalan.

 

Jika penyihir sudah mati di dunia ini, mengapa kegilaan belum juga lenyap?

 

Serius, ini penuh kejanggalan.

Karena syarat membunuh penyihir sudah terpenuhi, maka cukup mencapai pagi hari keempat untuk menyelesaikan dunia. Berdasarkan itu, si Gembala berkata bahwa langkah yang benar adalah membunuh Olivia, membuat Maisy membunuh serigala, lalu terakhir membunuh Maisy.

Namun, jika tujuan hanya untuk mencapai pagi hari keempat, tidak perlu mengambil risiko sebesar itu.

“Mengabaikanku, ya? Berani juga kamu. Kalau begitu, aku tidak akan sungkan mengerjaimu, lho?”

Misalnya, cukup berdiam diri selama tiga hari di pondok awal pun syaratnya sudah terpenuhi.

Jika tidak melakukan apa-apa saja sudah bisa menyelesaikan permainan, bukankah sebagai permainan maupun sebagai cerita ini terlalu runtuh?

Barang yang muncul di pondok awal, latar belakang para tokoh, Grimm Note, semuanya jadi tidak berarti.

Semua kejanggalan ini bermula dari anggapan bahwa mengalahkan penyihir adalah syarat penyelesaian.

Artinya, yang diperlukan untuk penyucian bukanlah pembunuhan penyihir.

Atau mungkin ada syarat lain selain itu.

Dengan kata lain, penyelesaian menurut si Gembala hanyalah satu rute, dan mungkin ada true ending yang tersembunyi.

Kalau begitu, masuk akal... tapi kenapa si Gembala yang seharusnya terus mengamati tidak menyadarinya?

Tidak, mungkin justru sebaliknya, pikir Mahiru.

Karena terus mengamati, dia jadi tidak bisa menyadarinya.

Bagaimanapun, si Gembala telah mengamati 21.114 kali pengulangan.

Di tengah sebagian besar pemain yang berakhir dalam keputusasaan, jika akhirnya ditemukan satu rute untuk keluar, tidak aneh jika dia menganggap itulah jawaban yang benar. Lagi pula, sejak awal salah satu syarat penyelesaian sudah terpenuhi, itu sendiri sudah mustahil sebagai sebuah permainan.

“Dilihat wajah menangisnya oleh gadis yang lebih muda, lalu dikerjai seenaknya, Mahiru-san tidak apa-apa dengan itu?”

Meski sudah memikirkan sejauh ini, inti masalah belum juga terpecahkan.

Bahkan bisa dibilang dia kembali ke titik awal. Dia terseret ke dalam permainan ini, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Jika bahkan sosok navigator pun tidak tahu, lalu siapa yang tahu?

Secara logis, mungkin sosok game master.

Namun dia tidak punya petunjuk tentang keberadaan seperti itu. Satu-satunya makhluk berakal yang ditemuinya sebelum tiba di dunia ini hanyalah si Gembala.

Game master berarti entitas yang mengelola dunia ini. Wewenangnya mungkin lebih tinggi dari pemain, bahkan lebih tinggi dari si Gembala. Sosok yang menjelaskan aturan. Yang bisa menggunakan kekuatan di luar jangkauan pemain.

Sial, aku tidak mengerti! Setidaknya kalau ada buku petunjuk!

Penanggung jawab permainan ini benar-benar layak dipecat.

Mana ada permainan tanpa buku panduan?

“Atau... jangan-jangan Mahiru-san memang suka begitu? Punya keinginan dikerjai gadis imut? Lalu malah senang karenanya?”

“Tunggu... buku panduan...?”

Pandangan Mahiru jatuh pada Grimm Note di tangannya.

“Hei, tolong jangan abaikan aku lagi! Aku bisa menangis, lho! Kamu yakin? Aku bakal menangis keras-keras sambil menari!”

Tidak peduli berapa kali Mahiru mengulang, buku aneh itu selalu kembali ke tangannya.

Karena ini dunia yang menyerupai permainan, dia sempat menganggapnya wajar. Namun jika dipikirkan baik-baik, hal seperti itu mustahil, bukan?

Sebuah buku yang memiliki kekuatan melampaui hukum dunia.

Tidak ada penjelasan apa pun yang tertulis di dalamnya, tetapi ia adalah barang awal yang wajib dimiliki.

“Tidak... sebenarnya sudah tertulis?”

Hanya saja Mahiru yang tidak memahaminya.

“...Ah, begitu. Mungkin sejak awal semuanya sudah ditunjukkan.”

“Akhirnya mata kita bertemu juga... sebenarnya ada apa sih?”

“Bisa jadi, Maisy ini seorang jenius.”

“Hah? Tiba-tiba apa maksudnya? Kamu pasti sedang mengejekku, ‘kan?”

“Mana mungkin! Berkat Maisy, mungkin ini bisa terselesaikan. Hei, kamu bisa baca tulisan, ‘kan?”

“Tentu saja bisa. Eh, jangan-jangan Mahiru-san tidak bisa?”

“Tidak bisa. Aku bahkan tidak sekolah SMA dengan benar.”

“SMA? Eh, kenapa malah terdengar bangga?”

Maisy menatapnya dengan pandangan penuh iba, tetapi Mahiru sama sekali tidak peduli.

Mahiru memang tidak bisa membaca bahasa dunia ini. Namun bukan karena itu bahasa asing dari dunia lain. Sederhana saja, ilmunya kurang.

Kalau dipikir-pikir, buku cerita bergambar di rumah Elfilia dan kata-kata yang tadi ditulis Maisy di kertas pun sama.

 

Bahasa umum di dunia ini adalah bahasa Inggris.

 

Dan kalimat yang tertulis di Grimm Note pun demikian.

Mahiru membuka Grimm Note dan menunjuk kalimat yang tertulis di balik sampulnya.

“Maisy, ini bacanya apa?”

 

I wish what should be where it should be

 

“Hmm... ‘Yang seharusnya ada, berada di tempat yang semestinya’, mungkin begitu.”

Buku sihir yang mengabaikan hukum fisika, Grimm Note.

Inilah satu-satunya benda asing mutlak yang diberikan oleh entitas tingkat atas dunia ini.

Selain si Gembala, satu-satunya sarana untuk menyampaikan kehendak kepada pemain hanyalah tulisan yang terukir di Grimm Note. Ia adalah barang dengan fungsi untuk menaklukkan dunia dongeng, sekaligus semacam buku aturan.

Perintah yang diberikan hanya satu kalimat.

Kalimat abstrak inilah yang seharusnya dikejar oleh pemain.

Bukankah ini satu-satunya pedoman tindakan yang seharusnya diikuti?

“Tapi... apa yang dimaksud dengan ‘yang seharusnya ada’?”

Sesuatu yang tidak boleh absen dari dunia ini. Sesuatu yang kini tidak berada di tempat yang semestinya.

Apakah penafsirannya seperti itu?

Yang seharusnya ada.

Yang tidak boleh hilang.

Yang seharusnya ada di dunia Tudung Merah.

“Ah...!”

Saat mencapai jawaban itu, Mahiru tanpa sadar menunjuk Maisy.

“Wah, tunggu, kenapa tiba-tiba begitu!?”

Lebih tepatnya, dia menunjuk tudung putih yang dikenakan Maisy.

“Itu dia. Benar. Ada sesuatu yang sangat janggal tepat di depan mata.”

“Hah? Aku tidak mengerti, tapi rasanya sedang dihina?”

Tudung Merah adalah kisah tentang seorang gadis yang mengenakan tudung merah.

Namun gadis yang berperan sebagai si Tudung Merah di hadapannya justru mengenakan tudung putih.

Ada si Tudung Merah, ada nenek, ada serigala, bahkan ada gunting, tetapi tidak ada tudung merah yang menjadi simbol cerita itu sendiri. Bukannya itu aneh?

Lagipula, bukti yang mengarah ke sana sudah ada.

“Waktu pertama kali melihatnya, aku tidak menyadarinya...”

Mahiru menegakkan Grimm Note agar isinya tidak terlihat oleh Maisy, lalu mengeluarkan sebuah foto dari penyimpanan.

Sudah kuduga...!

Foto hitam-putih yang menampilkan Maisy, kakaknya, dan ayah mereka.

Maisy dan kakaknya masing-masing mengenakan tudung dengan warna berbeda.

Tudung yang dikenakan sang kakak berwarna putih.

Sedangkan tudung yang dikenakan Maisy tampak hitam, namun itu foto hitam-putih.

Seharusnya itu berarti bukan hitam, melainkan merah?

Yang seharusnya ada di tempat yang semestinya.

Jawabannya sangat mungkin berarti mengembalikan tudung merah kepada Maisy.

“Maisy, kamu punya ingatan tentang tudung merah?”

“Apa-apaan ini, tiba-tiba sekali.”

“Kamu ‘kan pakai tudung putih. Kupikir warna merah juga cocok untukmu.”

“Oh, seleramu lumayan juga! Merah! Cocok sekali untukku yang imut ini!”

“Kamu pernah punya? Atau pernah melihatnya?”

“Tidak. Aku tidak punya selain tudung ini. Jadi kalau Mahiru-san mau menghadiahkannya, tidak masalah, lho?”

Maisy menepukkan kedua tangannya dan tersenyum manis.

Namun selama foto itu ada, seharusnya dia pernah memiliki tudung berwarna.

Apakah dia berpura-pura tidak tahu? Tidak, Maisy tidak punya alasan untuk berbohong, dan dia tidak terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kalau begitu, tudung putih itu dari mana? Dapat dari seseorang?”

“Oh, ini? Sepertinya memang sudah kupunya sejak awal...”

“Mungkin?”

Jawaban yang aneh. Terasa ragu dan tidak meyakinkan.

Saat Mahiru menatap wajah Maisy, gadis itu akhirnya membuka mulut seolah menyerah.

“Ehm... aku juga tidak terlalu ingat, tapi sebenarnya kemarin aku pingsan di hutan.”

“Di hutan? Kamu?”

Informasi baru yang tidak terduga.

“Iya. Ah, tapi tidak ada luka apa-apa, kok. Lalu waktu sadar, benda ini sudah ada di tanganku...”

“Dan kamu langsung memakainya.”

“Iya. Entah kenapa terasa pas sekali, tudung ini. Rasanya tidak tenang kalau tidak ada sesuatu di kepalaku.”

Berarti tudung putih itu bukan milik asli Maisy.

Soal dia ditemukan pingsan di hutan juga mengusik, tetapi jika didalami terlalu jauh justru akan mencurigakan.

Yang seharusnya ada di tempat yang semestinya.

Dari kalimat itu, tidak ada yang lebih cocok selain tudung merah.

Mengembalikan tudung merah kepada Maisy, itulah yang seharusnya menjadi kunci penyelesaian cerita dan penyucian kegilaan.

Foto itu menjadi bukti bahwa tudung merah memang ada.

Berarti dia harus menemukannya, apa pun caranya. Misterius memang mengapa Maisy tidak tahu soal tudung merah itu, tetapi jika memang awalnya milik Maisy, kemungkinan besar masih ada di rumah ini.

Dengan pemikiran itu, Mahiru mulai mencari ke seluruh penjuru rumah.

Yang paling mencurigakan tentu kamar Maisy.

Saat Maisy pergi ke toilet, Mahiru memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke kamar itu.

Dia pernah masuk ke sana pada putaran ketiga. Setelah Mahiru membunuh Olivia yang mencoba merasuki tubuh Maisy, dan kondisi mental Maisy hancur, mereka menghabiskan malam bersama di kamar ini.

Kamar yang sangat mencerminkan diri Maisy, feminin dan manis.

Mahiru membuka lemari pakaian. Sebagian besar isinya pakaian putih. Hampir seragam, atau mungkin hanya detail seperti posisi renda yang sedikit berbeda. Sesekali ada pakaian merah, tetapi pada dasarnya hanya dua warna itu. Warna merah cukup mencolok sehingga memudahkan pencarian, tetapi tidak ada yang menyerupai tudung merah. Rak di sebelahnya juga kosong dari petunjuk. Saat membuka rak bagian bawah... isinya pakaian dalam.

“...”

Dengan perasaan bersalah dan canggung, dia tetap memeriksa sampai ke bagian paling dalam. Tetap saja, tidak ada tudung merah. Dia juga memeriksa bawah tempat tidur, sekitar meja, dan sudut-sudut lain, tetapi tidak menemukan apa pun yang menyerupainya.

Berikutnya, dia memeriksa kamar sang kakak.

Ruangan itu sederhana dan tertata rapi. Cangkir teh yang dipajang mencolok kemungkinan adalah hadiah dari Maisy, seperti yang pernah dia katakan. Mahiru mengambil buku yang terbuka di atas meja, tetapi isinya penuh tulisan bahasa Inggris yang tidak dia mengerti. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan tudung merah, dan kepalanya mulai terasa pening, jadi dia segera menutupnya. Dia memeriksa lemari, rak, kolong dan atas tempat tidur, hingga laci meja, tetap tidak ada tudung merah.

Mencari secara membabi buta mungkin memang tidak efisien... namun tetap saja, dia melanjutkan pencarian ke kamar sang ayah.

“Mahiru-san? Sedang apa di sana?”

Saat berdiri di depan pintu, suara Maisy memanggilnya.

Berkeliaran di rumah orang lain memang wajar jika dicurigai. Terlebih lagi, yang dia lakukan memang tidak bisa dijelaskan pada Maisy.

“Eh... itu...”

“Tertarik sekali dengan kamar pribadi si gadis super cantik Maisy-chan? Tidak boleh, lho. Katanya, gadis lebih menarik kalau punya banyak rahasia.”

“Ah, i-itu benar.”

“Eh, kenapa kamu kelihatan mencurigakan sekali?”

“Tidak kok. Ini memang gerak-gerikku yang biasa.”

“Tidak masuk akal sama sekali. Ya sudahlah. Pas sekali, bisa tolong bereskan kamar itu?”

Maisy menunjuk pintu tepat di depan Mahiru, kamar ayahnya.

“Itu kamar yang rencananya akan Mahiru-san pakai untuk menginap, tapi agak sedikit berantakan.”

Menyingkirkan Mahiru, Maisy membuka pintu dan menoleh dengan senyum lebar.

Pemandangan di dalamnya tetap seperti bencana. Pakaian berserakan. Gelas bir dengan sisa cairan. Botol-botol kosong. Berbagai barang acak. Roti berjamur.

“Ini bukan sekadar sedikit berantakan...”

Namun memang kamar ini yang ingin dia periksa. Kesempatan emas.

Dengan izin Maisy, Mahiru masuk ke kamar ayahnya untuk mencari tudung merah, sekaligus membersihkan.

Pada putaran pertama dan ketiga, dia pernah merapikan ruangan ini sampai lantainya terlihat, jadi lemari dan rak sudah hampir sepenuhnya diperiksa sebelumnya.

Yang tersisa mungkin area sekitar meja. Dia membuka laci penyimpanan di meja. Isinya hanya alat tulis acak dan beberapa lembar kertas, tidak ada yang istimewa. Dia memeriksa lemari sekali lagi untuk memastikan, tetapi hasilnya nihil.

Setelah itu, tanpa banyak harapan, dia melihat ke bawah tempat tidur.

“Hmm? Apa ini?”

Yang dia temukan justru sebuah buku tipis dengan sampul kulit.

Mahiru mengambilnya. Sampul kulit cokelatnya terlihat mewah, meski menguning dan penuh kerutan. Halamannya mudah dibuka, tetapi hampir semuanya kosong. Tulisan hanya ada di sekitar sepuluh halaman pertama. Dari tanggal dan gaya penulisannya, sepertinya sebuah catatan harian. Namun karena ditulis dalam bahasa Inggris, isinya tidak bisa dia pahami.

“Buku harian? Ini milik ayahnya, mungkin... rasanya aneh kalau minta Maisy membacakannya...”

Sambil membolak-balik halaman, matanya tiba-tiba tertumbuk pada beberapa kata dalam satu kalimat, membuatnya tanpa sadar bersuara.

I was abandoned by my wife and my mother died

mother dan died.

“...Apa?”

Saat membaca lebih jauh, dia juga menemukan kata olivia.

Ini setidaknya masih bisa dia pahami.

“Ibu” dan “meninggal”.

Ibu dari ayah Maisy berarti nenek bagi Maisy.

Dan “Olivia” nama neneknya Maisy, nenek yang tadi makan pai apel bersama mereka.

Dia mencoba membaca kalimat di sekitarnya, tetapi tetap tidak sepenuhnya mengerti.

Namun dia bisa menebak.

“Tunggu... kalau begitu, semuanya masuk akal, bukan...?”

Bukan kebetulan matanya tertarik pada kata-kata itu.

Itu adalah hasil dari akumulasi kejanggalan yang selama ini dia rasakan.

Informasi yang sebelumnya tidak berarti dan hanya terasa ganjil kini terhubung oleh satu kemungkinan.

“Sudah kuduga... rumah ini punya empat kamar, tapi tidak ada kamar untuk Olivia. Itu memang aneh.”

Mahiru berlari keluar dari kamar ayahnya dan bergegas menuju ruangan di sebelah yang dijadikan gudang.

Di dalamnya hanya ada lima peti kayu.

Saat ini ruangan itu memang tidak digunakan, tetapi pada dasarnya, katanya, barang-barang pribadi Olivia disimpan di sana. Meski disebut gudang, kalau isinya hanya sebanyak ini, rasanya lebih baik dijadikan kamar Olivia saja. Namun kenyataannya tidak demikian. Konon Olivia sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak memerlukan kamar pribadi, tapi itu pun terdengar aneh.

Dalam setiap putaran sebelumnya, Olivia tidur di ranjang yang sama dengan Maisy. Satu ranjang untuk dua orang. Apa selama ini mereka selalu menjalani hari-hari seperti itu?

Saat Mahiru membuka peti-peti kayu itu, di dalamnya terdapat pakaian, berbagai barang kecil, buku, peralatan merajut, dan lain-lain, semuanya tampak seperti barang milik Olivia.

Seolah-olah seseorang baru saja membereskan peninggalan orang yang telah tiada.

“Oh iya...!”

Dia keluar dari ruang gudang dan menuju dapur.

Dengan saksama dia memeriksa peralatan makan. Piring. Sendok dan garpu. Jika diamati lebih teliti, dia menyadari bahwa yang benar-benar digunakan sehari-hari hanya ada tiga set. Memang tersedia lebih banyak untuk tamu, tetapi jumlah piring yang tampaknya baru dibeli hanya tiga buah.

Untuk Maisy, kakaknya, dan ayah mereka, tiga orang.

Inilah salah satu kejanggalan yang sejak lama dia rasakan di rumah ini.

Hampir tidak ada jejak bahwa Olivia sedang tinggal di sini.

Yang ada hanyalah jejak bahwa Olivia pernah tinggal di sini.

Catatan ayah Maisy.

Kamar yang tertata rapi.

Peralatan makan untuk tiga orang.

Jawaban yang ditarik dari semua itu. Artinya...

 

Olivia sudah mati.

 

“Kalau begitu, siapa Olivia yang itu...?”

Saat kata-kata itu terucap, bulu kuduknya meremang.

Seorang nenek tua yang mengaku sebagai nenek Maisy, menyamar sebagai Olivia, tinggal di rumah ini, dan merencanakan untuk merebut tubuh Maisy. Sosok yang tadi berbicara santai dengannya itu sebenarnya apa?

Apakah masuk akal jika dia menganggapnya palsu?

Bahkan ada serigala yang menyamar menjadi manusia. Sangat mungkin seseorang menyamar sebagai Olivia.

Kalau begitu, ada satu hal yang tidak terjelaskan...

“Mahiru-kun, boleh bicara sebentar?”

“...Hah!?”

Terlalu tenggelam dalam pikirannya, Mahiru tidak menyadari Olivia mendekat dari belakang.

Suara yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya menegang. Jantungnya terasa seperti hendak meloncat keluar dari mulut.

“A-Ada apa?”

Meski berusaha tetap tenang, ucapannya sempat tersendat.

Dengan gerakan kaku seperti robot, dia menoleh ke arah Olivia.

“Maafkan aku. Aku mengejutkanmu, ya? Sebenarnya aku ingin meminta tolong. Bisa tolong ambilkan kayu bakar untuk perapian?”

“A-Ah, tentu. Kalau cuma itu, saya bisa kok.”

Tidak tampak sedikit pun tanda-tanda Olivia mencurigainya. Mendengar permintaan yang begitu biasa, Mahiru menghela napas lega.

“Oh, benarkah?”

“Iya. Tapi saya belum terlalu hafal daerah sekitar sini...”

“Kalau begitu, pergilah bersama May-chan. Nanti akan kusampaikan padanya.”

Setelah berkata demikian, Olivia berjalan dengan langkah yang agak goyah menuju kamar Maisy. Dia mengetuk pintu dan memanggil Maisy, lalu menyampaikan agar gadis itu pergi ke hutan bersama Mahiru untuk memungut kayu bakar.

Dari balik punggung Olivia, Maisy mengintip Mahiru dan mengangkat bahu seolah berkata, mau bagaimana lagi.

 

Tidak lama kemudian, Mahiru memanggul keranjang di punggungnya dan pergi ke hutan malam bersama Maisy.

Hubungannya dengan Maisy berjalan sangat baik.

Percakapan mereka mengalir ringan, dan tingkat keakraban terasa lebih tinggi dari sebelumnya. Awalnya Mahiru mengira itu karena pemahamannya terhadap Maisy semakin dalam. Namun mungkin bukan itu. Barangkali justru Mahiru sendirilah yang kini lebih membuka hati pada Maisy. Selama ini dia bersusah payah berusaha meruntuhkan dinding di antara mereka, padahal justru dialah yang membangun dinding itu terhadap Maisy. Baru kali ini dia benar-benar menyadarinya.

Awalnya dia khawatir bagaimana jadinya nanti, tetapi melihat sisi Mahiru yang canggung dan tidak berdaya, kewaspadaan Maisy justru tampaknya menurun.

Sambil sesekali mengobrol ringan, pikiran Mahiru kembali tenggelam pada kelanjutan pemikirannya tadi.

Fakta bahwa Olivia sudah mati memang mengejutkan. Namun tujuan Mahiru adalah menamatkan cerita ini. Untuk itu, dia harus menemukan barang yang diperlukan, tudung merah.

Saat ini yang dikenakan Maisy bukanlah tudung merah, melainkan tudung putih. Dan tampaknya tudung itu bukan milik Maisy sejak awal.

Kalau begitu, milik siapa? Jika menilik foto hitam-putih itu, kemungkinan besar milik kakak Maisy.

Masalahnya, mengapa tudung itu berada pada Maisy, dan mengapa dia sendiri tidak merasa ada yang aneh mengenakannya... apa ini ada hubungannya dengan cerita bahwa Maisy pernah ditemukan pingsan di hutan?

“Hei.”

Sebuah benturan ringan menyentuh sisi perutnya.

Mahiru refleks menggeliat karena geli.

“Fugeh...!?”

“Fugeh, katanya. Fugeh! Mahiru-san lucu sekali!”

“Ngapain sih, tiba-tiba begitu!”

“Karena Mahiru-san tidak memperhatikanku. Melamun lagi, ya?”

“Ya, sedikit. Lagi mikirin perdamaian dunia.”

Ucapan asal itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah.

Dia memang berjuang demi menarik masa depan di mana Maisy bisa terus tersenyum.

“Wah, kedengarannya megah sekali.”

“Begitulah...”

Melihat Maisy yang tertawa lepas, Mahiru menundukkan pandangannya.

Tadi pikirannya terputus karena Olivia menyapanya, tetapi ada satu hal yang sangat tidak masuk akal tentang dirinya.

Olivia sudah mati, dan Olivia yang sekarang di rumah itu palsu.

Dalam keadaan seperti itu, mengapa Maisy menerima Olivia palsu?

Tidak terlihat sedikit pun tanda bahwa Maisy menaruh kecurigaan terhadap Olivia.

Padahal neneknya yang seharusnya sudah meninggal muncul begitu saja di hadapannya, mustahil dia tidak merasakan apa-apa.

Seolah-olah otaknya dicuci...

Tunggu... jangan-jangan begitu.

Hal paling aneh terkait Maisy adalah kenyataan bahwa dia mulai mengalami kekacauan sejak hari kedua.

Memang benar dia sedang tergerus kegilaan. Namun kekacauan yang dialami Maisy jelas memiliki pemicu. Pada putaran keempat, Mahiru menduga kematian Olivia adalah pemicunya dan berusaha menghindarinya, tetapi apakah itu berhasil atau tidak masih meragukan. Pada akhirnya, dia tidak pernah bisa memastikan apa sebenarnya pemicu yang membuat Maisy kehilangan kendali.

Namun yang menjadi masalah adalah hakikat dari gejala itu sendiri.

Saat gejala itu muncul, mungkin karena ingatannya bercampur-aduk, ucapan Maisy menjadi tidak teratur dan tidak masuk akal.

Dia berada dalam kondisi yang tidak normal, benar-benar menyimpang.

Namun bagaimana jika dibalik cara berpikirnya?

Bagaimana jika yang tidak normal justru Maisy yang sekarang...?

Jika Maisy telah dicuci otaknya... atau lebih tepatnya, jika ingatannya telah dimanipulasi, sehingga dia tidak merasakan kejanggalan terhadap Olivia palsu.

Jika kematian Olivia palsu mengembalikan ingatan yang selama ini hilang. Dan itulah yang menjadi pemicu hingga dia mengalami kekacauan.

Jika dugaan ini benar, maka ingatan Maisy dalam kondisi kacau itulah yang justru benar.

Ada beberapa hal lain juga yang terasa masuk akal jika dipikirkan demikian.

Pada putaran keempat, di ruangan terkunci yang terletak di bagian dalam kamar tidur Elfilia, Mahiru menemukan mayat ayah Maisy.

Jika ditanya sekarang, Maisy mungkin akan mengatakan bahwa ayahnya orang yang lembut. Namun dalam kondisi kacau, dia pernah berkata bahwa ayahnya melakukan kekerasan padanya. Dia dimaki, ditendang. Kenyataannya, dinding dan lantai kamar sang ayah dipenuhi goresan tak terhitung jumlahnya. Botol-botol minuman keras yang terbuka, gelas bir, dan berbagai barang berserakan di mana-mana. Dari situ saja, sudah mudah membayangkan seperti apa sosok ayahnya.

Siapa? Siapa yang memanipulasi ingatan Maisy? Siapa yang mampu melakukan hal seperti itu...

“...Olivia palsu?”

Yang paling diuntungkan dengan memanipulasi ingatan Maisy tentu saja Olivia palsu yang menyamar itu sendiri. Demi melancarkan tujuannya untuk mengambil alih diri Maisy, hal itu sangat menguntungkan baginya. Memang terasa agak berbelit, tetapi jika pelaku cuci otak itu mati, maka cuci otaknya pun akan terlepas. Penjelasan yang sederhana.

“Hm? Kamu bilang sesuatu?”

“Tidak. Maaf. Hanya bicara sendiri.”

“Hmm, ya sudah. Mahiru-san. Ada satu tempat yang ingin aku singgahi sebentar, boleh?”

Setelah dengan gerakan yang kini sudah terbiasa memungut kayu bakar hingga keranjang hampir terisi delapan puluh persen, Maisy memanggilnya.

“Tentu. Tidak masalah.”

Dipandu Maisy, mereka keluar ke area hutan yang lebih terbuka. Dia merebahkan diri dengan tangan dan kaki terentang, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Sambil memandangi banyaknya cahaya-cahaya yang seakan hendak turun menghujani bumi, dia mendengarkan cerita Maisy.

Waktu mengalir dengan tenang.

Andai saja mereka bisa terus seperti ini, tersedot ke dalam lautan bintang selamanya.

Setelah memikirkan hal sia-sia itu, Mahiru menggeleng. Dia tidak punya waktu untuk melarikan diri dari kenyataan.

Jika benar Olivia palsu yang memanipulasi ingatan Maisy, maka dengan menghentikan manipulasi itu, ingatan Maisy akan kembali, dan keberadaan tudung merah pun akan terungkap. Namun dia sudah berkali-kali mengalami bahwa makhluk itu bukan tipe yang bisa diajak bicara. Setidaknya, jika kegilaan yang menyelimuti Olivia palsu bisa disingkirkan, mungkin percakapan masih mungkin terjadi...

“Syukurlah. Wajah Mahiru-san terlihat jauh lebih segar sekarang.”

“Ya. Karena tekadku sudah bulat, mungkin itu yang membuatku sedikit lebih ringan.”

Apa pun yang terjadi, dia pasti akan menyelamatkan Maisy.

Itu bukan perkara mudah, tetapi keraguannya telah lenyap.

Jika tujuan sudah jelas, yang tersisa hanyalah berlari sekuat tenaga ke arahnya.

“Waktu pertama kali bertemu, wajahmu seperti orang yang hampir mati! Kalau aku biarkan saja, mungkin sekarang kamu sudah tidak bernyawa.”

“Maaf soal itu.”

“Kamu tiba-tiba menangis, aku sampai tidak tahu harus bagaimana.”

“...Maafkan aku... tapi tolong, jangan lanjutkan lagi.”

Menangis tersedu-sedu di depan gadis yang lebih muda dan secara praktik baru pertama kali ditemuinya. Dia bahkan mengucapkan banyak hal memalukan.

Mengingatnya saja sudah cukup membuatnya ingin menghilang dari dunia.

Rasa malu itu begitu besar sampai sempat terlintas pikiran bodoh untuk mengulang semuanya dari awal.

“Kalau bisa bangkit seperti sekarang, itu semua berkat Maisy-chan yang imut dan menggemaskan ini. Bersyukurlah dengan sepenuh hati.”

“Aku benar-benar bersyukur.”

“Bagus! Kalau begitu, tunjukkan lewat tindakan!”

“Besok akan kubalas budi. Pasti.”

Dia tidak ingin lagi membuat Maisy tenggelam dalam keputusasaan.

Meskipun Maisy sendiri tidak ingat.

“Dalam waktu dekat? Baiklah, akan kutunggu tanpa berharap terlalu tinggi.”

Sambil berkata demikian, Maisy berdiri dengan satu entakan ringan.

Dia meregangkan tubuh besar-besaran, lalu mengulurkan tangan. “Mari kita pulang. Nenek pasti menunggu.” Mahiru menggenggam tangan itu dan berdiri.

Dengan keranjang penuh kayu bakar di punggung, dia berjalan berdampingan dengan Maisy kembali ke rumah.

Saat rumah beratap merah tempat Olivia menunggu mulai terlihat, Mahiru memutuskan untuk kembali menanyakan sesuatu yang sebelumnya belum sempat dia tanyakan. Rasanya mustahil tidak ada cara yang disiapkan untuk memecahkan situasi ini. Dan sejak awal, hanya inilah yang diberikan kepadanya.

“Maisy, boleh tanya satu hal?”

“Ya?”

“Menurutmu, ini artinya apa?”

Mahiru membuka halaman pertama Grimm Note yang dia keluarkan, lalu menunjuk sebuah kata.

Chapter 1—Record berarti catatan.

Chapter 3—Storage berarti penyimpanan.

Satu-satunya kata yang tidak dia pahami adalah pada bagian Chapter 2—“Purification”.

“Itu artinya menyucikan atau memurnikan.”

 

Temukan sumber yang mengacaukan dunia dongeng ini, dan sucikan. Itulah tugasmu. Tidak, tugasmu dan tugasku.

 

Kata-kata si Gembala terngiang kembali di benaknya.

Itu berarti, tujuan sejatinya memang tidak lain adalah “memurnikan kegilaan”.

Jadi, ternyata cara yang begitu jelas sudah diberikan sejak awal.

Memang, kisah ini menjadi rumit sebagian karena ulah si Gembala, tetapi kebodohan Mahiru sendiri pun tampaknya tidak kalah besar perannya.

Ini kelalaian yang besar. Terlalu besar. Hampir seperti dia memainkan permainan tanpa menyadari adanya fitur yang terbuka sejak tutorial, lalu terus melanjutkan penaklukan tanpa memanfaatkannya.

Pedoman untuk menamatkan kisah ini, sekaligus sarana untuk melakukannya, semuanya telah termuat dalam Grimm Note ini.

“Jadi begitu rupanya.”

Dengan menggunakan Grimm Note, kegilaan itu bisa disingkirkan.

Memutus lingkaran keputusasaan... Dan untuk itu, dia akan memulai bab terakhir.

 

* * *

 

Tanpa sekali pun terseret ke dunia mimpi, Mahiru menyambut pagi, sementara suara kesibukan rumah tangga mulai terdengar riuh. Sepertinya Maisy dan Olivia pun sudah mulai beraktivitas.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kamar Mahiru, lalu pintu terbuka dengan kasar. Pada saat yang sama Mahiru yang baru saja bangun duduk, dan pandangannya bertemu dengan Maisy yang membelalakkan mata.

“Mahiru-san itu lemah kalau pagi! Semua sel di tubuhku berteriak begitu!”

Maisy yang datang untuk membangunkannya berteriak sambil membawa wajan di tangannya.

Tampaknya, seakrab apa pun hubungan mereka, dia tetap melengkapi diri dengan wajan.

“Kenapa begitu?”

“Karena aku ingin melakukan macam-macam pada Mahiru-san yang sedang tidak berdaya.”

“Oh, begitu. Hal-hal mesum, ya.”

“Hal-hal berdarah-darah

Maisy mengangkat wajannya dan tersenyum manis.

Bagi Mahiru, yang pada putaran ketiga tubuhnya benar-benar dicabik-cabik, itu bukan lelucon yang bisa ditertawakan.

“...Baiklah, waktunya menyiapkan sarapan, ‘kan? Aku bantu Olivia-san saja.”

Dengan suara datar, Mahiru berdiri lalu meregangkan tubuh lebar-lebar.

 

Setelah itu, seperti biasa mereka sarapan dan kemudian membelah kayu bakar.

Jika Mahiru tidak melakukan apa pun di sini, tubuh Maisy akan dirampas oleh Olivia palsu yang telah dirasuki kegilaan. Pertama-tama, itu harus dicegah.

Jangan sampai salah langkah...

Mahiru memberi tahu Olivia palsu bahwa dia akan menuju gudang, lalu berjalan ke belakang rumah. Ketika dia melirik ke samping, dari jendela terlihat sosok Olivia duduk di kursi goyang. Sinar matahari terasa lembut dan hangat menyentuh tubuh. Dari rimbunnya dedaunan terdengar kicauan burung kecil. Jika hanya bagian ini yang diambil, suasananya bagaikan sepotong adegan dari dongeng yang damai.

Namun Mahiru tahu, di balik kedamaian palsu itu tersembunyi sesuatu yang begitu menjijikkan hingga membuat bulu kuduk meremang.

Saat sarapan pun, tidak ada yang berubah dalam sikap Maisy dan Olivia palsu, benar-benar seperti nenek dan cucu yang akrab. Maisy mengkhawatirkan kondisi tubuh Olivia palsu. Olivia palsu membelai kepala Maisy dengan penuh kasih.

Ah, pemandangan yang begitu mengerikan.

Hanya Maisy yang tidak mengetahui kebusukan yang disembunyikan itu.

Sosok ayah yang lembut. Kakak yang seharusnya kembali. Nenek yang baik hati. Semua yang membentuk kebahagiaannya hanyalah ilusi, dan pada akhirnya, bahkan tubuhnya sendiri hendak dirampas.

Ini adalah kisah di mana Maisy akan kehilangan segalanya.

Hal seperti itu tidak boleh dibiarkan.

Tenang... tenang...

Menahan gejolak di dadanya, Mahiru bersandar pada dinding rumah.

Dia menggenggam Grimm Note di tangannya erat-erat dan mengembuskan napas tipis.

Keringat dingin merambat di punggungnya, jantungnya berdetak keras tanpa henti.

Pertaruhan nyawa, tidak peduli berapa kali diulang, tidak pernah menjadi sesuatu yang bisa dibiasakan.

Sebenarnya dia ingin membuang semuanya dan melarikan diri.

Menutup mata dari kenyataan, menyerahkan diri pada ketakutan, dan mencari kelegaan.

Namun apa yang akan berubah jika dia melakukannya?

Dia tidak berpendidikan. Tidak memiliki bakat luar biasa. Tidak punya masa depan yang gemilang.

Selain satu keluarga yang dia tinggalkan, tidak ada apa pun di tangannya.

Tidak, mungkin pernah ada.

Mungkin bahkan setelah semuanya dirampas, masih ada jalan yang tersisa.

Dan bahkan kemungkinan itu pun telah dia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Ah, manusia yang begitu bodoh.

Jika ditanya kepada seratus orang, seratus orang itu pasti akan menilai Mahiru demikian.

Mahiru sendiri pun berpikir begitu.

Dicari ke seluruh dunia pun, mungkin sulit menemukan manusia yang lebih sampah dari dirinya.

Makhluk tidak bernilai seperti itu, yang bisa dipertaruhkan hanyalah tubuh ini sendiri.

Begitu ringan hingga terasa berlebihan menyebutnya sebagai “taruhan”, hanya nyawa ini saja.

Sadari bahwa rasa sakit pada tubuh hanyalah hal sepele. Ukir dalam-dalam, penyesalan terbesar atas apa yang akan kamu rasakan.

Tutup ketakutan, rasa sakit, dan amarah itu dengan kebencian dan dendam.

Tetap tenang... nyalakan hatimu...!

Mahiru memejamkan mata kuat-kuat dan menyalakan api di dalam hatinya.

Dia memantapkan tekad untuk menghadapi nenek tua yang menjijikkan itu.

Si Gembala pernah berkata bahwa Maisy hanyalah sebuah karakter. Namun Mahiru yang sekarang bisa menertawakannya sebagai omong kosong.

Entah dia manusia hidup, karakter fiksi, bahkan jika dia android sekalipun, itu hal yang terlalu sepele untuk dipersoalkan.

Maisy punya hati.

Jika tidak, mustahil dia bisa mengguncang hati Mahiru sedalam ini.

Dari lubuk hatinya, Mahiru menginginkan kebahagiaannya.

Sebesar Maisy disakiti, sebesar itu pula dia membenci ketidakadilan dunia ini.

Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya.

Dia tidak akan membiarkan Maisy merasakan keputusasaan lagi.

Untuk itu, Mahiru akan membunuh ketidakadilan.

“Kyyaaaaaaaaaaa...!”

Jeritan Maisy terdengar dari dalam rumah.

Mahiru memeluk Grimm Note dan meletakkan tangan pada bingkai jendela.

Di dalam rumah, dia melihat Maisy terduduk jatuh dan mundur menjauh dari Olivia.

“Uraaah!”

Dia menendang jendela hingga pecah dan menerobos masuk dengan kasar. Mahiru berdiri di depan Maisy dan berhadapan langsung dengan Olivia.

“Mahiru... san?”

“Kamu baik-baik saja, Maisy?”

Sambil membuka Grimm Note, Mahiru menoleh dan berbicara lembut pada Maisy.

“Tidak, itu... um...”

“Sesuai janji, aku datang untuk membalas budi kemarin.”

Sambil berkata demikian, dia kembali menghadap Olivia. Ini sudah kali keempat dia berhadapan dengan Olivia dalam keadaan seperti ini.

Pertama kali, tubuh Maisy dirampas, dan Mahiru sendiri dibunuh setelah kaki dan tangannya dipotong.

Kedua kali, Mahiru membunuh Olivia dengan kapak.

Ketiga kali, meski perutnya ditusuk dengan pisau dapur, dia berhasil memukulnya dengan kunci perak dan mengikatnya.

“Bocah sialan... mungkin seharusnya aku membunuhmu juga. Supaya tubuh Maisy bisa kupastikan...”

“Maaf, tapi aku tidak berniat berdebat denganmu dalam keadaan seperti itu.”

Tanpa mengubah ekspresi sedikit pun, Mahiru memotong ucapan Olivia.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, untuk masa depan di mana Maisy bisa tertawa, kamu tidak diperlukan.”

“Hyah hyah hyah, kupikir bocah ini mau bilang apa. Masa depan di mana dia bisa tertawa? Mana mungkin itu datang! Bocah ini cuma punya nilai sebagai wadah, tidak lebih dari itu!”

Mendengar kata-kata Mahiru, Olivia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terbelah mengerikan, seolah benar-benar geli dari lubuk hati.

Jika ini Mahiru yang dulu, mungkin dia sudah meluapkan amarahnya di sini. Namun sekarang justru dia bisa tetap tenang. Mungkin karena dia telah benar-benar menerima bahwa makhluk di hadapannya ini bukan nenek Maisy, melainkan monster malang yang dirasuki kegilaan.

“Begitu tahu kamu cuma palsu yang mengaku-aku sebagai arwah orang mati, semua ucapanmu jadi terdengar ringan.”

“Yang ringan itu nyawamu, bukan? Gara-gara ikut campur dengan Maisy, kamu akan mati sia-sia di sini.”

Olivia palsu mengeluarkan pisau dapur dari balik selimutnya dan mengarahkan ujungnya ke Mahiru.

“Nenek, hentikan... tolong hentikan.”

“Kalau kamu mau menyerahkan tubuh itu padaku, mungkin aku masih bisa mengampuni nyawa bocah ini.”

Bohong. Sekalipun Maisy menyerahkan tubuhnya, Olivia palsu tidak akan pernah membiarkan Mahiru hidup, orang yang mengetahui soal pertukaran itu. Hal itu sudah terbukti di putaran pertama.

“K-Kalau begitu... tidak apa... kalau itu yang nenek inginkan...”

“Maisy!”

Teriakan keras Mahiru membuat tubuh Maisy tersentak.

“Jangan gampang menyerah dan melepas semuanya begitu saja. Yang membuatku bangkit saat aku tidak punya jalan keluar itu, bukan siapa-siapa selain kamu, ‘kan?”

“Mahiru-san...”

Mendengar kata-kata Mahiru, wajah Olivia palsu berkerut penuh kejengkelan.

“Ah, sepertinya memang harus membunuhmu dulu sebelum semuanya bisa dimulai.”

Olivia palsu menggenggam pisaunya kuat-kuat, lalu mengambil posisi dengan kedua tangan dan kaki kanannya bertumpu di lantai. Dari posisi itu, dia akan menerjang dengan kecepatan mengerikan, Mahiru tahu betul. Saat Olivia palsu menendang lantai, pada detik yang sama Mahiru melepaskan mantelnya dan membentangkannya seperti hendak menghadapi banteng.

Benturan.

Mahiru membungkus Olivia palsu dengan mantel itu dan meredam momentumnya. Dari luar mantel, dia memeluk dan menguncinya dengan kedua tangan.

Namun pisau yang digenggam kuat itu merobek mantel dan melesat ke arah wajah Mahiru.

“...!”

Dia menghindar dengan memiringkan kepala. Rasa panas menjalar di bawah mata kirinya. Tergores.

Olivia palsu berdecak kesal. Dia meronta mencoba melepaskan diri, namun Mahiru juga memperkuat cengkeramannya.

Jika dianggap sebagai nenek tua, kekuatan ini sungguh tidak masuk akal. Tapi dibandingkan tenaga liar seekor serigala, ini bukan apa-apa.

Selagi menahan Olivia palsu, Mahiru membuka suara ke arah Maisy yang terpaku tidak bisa bergerak di belakangnya.

“Maisy! Setelah ini, kamu akan mengingat tragedi yang begitu parah sampai kamu mungkin tidak bisa lagi percaya apa pun. Tragedi yang akan membalikkan nilai-nilaimu, pengalamanmu, segalanya.”

Itu adalah pembicaraan setelah dia melumpuhkan Olivia palsu.

Dimulai dari fakta bahwa nenek tua ini mengincar tubuh Maisy, masa lalu yang penuh keputusasaan akan terkuak. Artinya, cepat atau lambat Maisy harus menghadapi kebenaran kejam yang selama ini dipendamnya.

Karena itu, di saat terdesak seperti ini, Mahiru ingin dia memutuskan.

Tekad untuk melawan dengan kuat.

“Kamu mungkin tidak bisa percaya apa pun lagi. Mungkin kamu akan berpikir hidup ini tidak ada gunanya.”

Bahwa Olivia yang asli sudah lama mati.

Bahwa dia dianiaya oleh ayahnya sendiri.

Bahwa dia membuat perjanjian dengan penyihir dan menyerahkan hadiah dari kakaknya.

Bahwa sang penyihir membunuh ayahnya.

Bahwa kakak tercintanya menghilang tanpa jejak.

“Tapi ingat satu hal ini. Apa pun yang terjadi, aku selalu ada di pihakmu, Maisy.”

“Mahiru-san... aku... aku...”

Suara Maisy yang lirih, dipenuhi keraguan, terdengar sampai padanya.

“Jangan terhasut oleh kata-kata manis yang terdengar indah, Maisy!”

Olivia mendorong lebih kuat lagi. Pisau di samping wajah Mahiru bergetar berbahaya. Dalam posisi seperti ini, adu tenaga jelas merugikannya.

Mahiru mengambil keputusan dan merendahkan tubuhnya. Pisau itu melintas tepat di atasnya. Olivia palsu, masih terbungkus mantel, terjatuh menindih dengan momentum yang sama. Mahiru menumpukan tangan ke lantai dan menendang perutnya dari balik mantel.

“Guh, geh!”

Tubuh Olivia palsu yang ringan terguling di lantai dan terhenti setelah punggungnya menghantam kaki meja. Dia memegangi perutnya yang ditendang dan terbatuk-batuk hendak muntah.

Melihat itu, Mahiru tahu ini kesempatannya. Dia mengangkat Grimm Note dan membuka sampulnya.

“Ini akhirnya. Tunjukkan wujud aslimu, dasar palsu...!”

Fungsi ketiga yang tercatat di dalamnya.

Bab Kedua Grimm Note. Bagian Pemurnian.

“Bersihkan kegilaan makhluk ini! Grimm Note!”

Cahaya suci yang memurnikan kegilaan mengenali targetnya dan aktif.

Cahaya menyilaukan memancar dari Grimm Note, berputar dan menari. Cahaya suci itu membentuk spiral, menyelimuti Olivia. Seolah mengikis kenajisan, dia mengerucut perlahan namun pasti.

“Apa... apa yang kamu lakukan, bocah sialan!”

Melihat tubuhnya diselimuti cahaya, Olivia palsu meraung marah.

Ini memang pertaruhan, namun pemurnian benar-benar aktif. Cahaya itu membungkus Olivia dan bekerja pada kegilaannya. Yang jadi masalah adalah kecepatannya.

Sial, pemurnian ini lama sekali!?

Diselimuti cahaya pemurnian, Olivia palsu menggigil kesal. Namun tampaknya belum cukup untuk membuatnya tidak bisa bergerak. Dengan tatapan penuh kebencian, dia menoleh pada Mahiru.

“Bocah menyebalkan! Cepat mati saja!”

Olivia kembali mengambil posisi dengan kedua tangan dan kaki kanannya bertumpu, lalu melesat seperti ledakan. Menendang lantai seperti anjing pemburu, dia menerjang Mahiru dengan bahunya.

“Guh...!”

Mahiru yang berdiri terpaku sambil membuka Grimm Note tidak sempat bersiap. Dia terempas. Bagian belakang kepalanya menghantam dinding kayu di bawah jendela.

“Gah...!?”

Benturan keras itu membuat Grimm Note terlepas dari tangannya.

Seketika, cahaya pemurnian kehilangan kilauannya, lalu memudar dan lenyap ke udara.

“Mahiru-san!”

Maisy berlari menghampiri dan memeluknya dengan hati-hati.

“Mahiru-san... kenapa sampai sejauh ini...?”

Kenapa. Mengapa dia begitu terikat pada Maisy.

Jawabannya sudah dia temukan kemarin.

Namun pikiran itu terputus oleh Olivia palsu yang mendekat sambil menggenggam pisau dengan pegangan terbalik.

“Hi hi. Sungguh, bocah ini benar-benar pengganggu!”

Mahiru buru-buru mendorong Maisy menjauh. Dia bangkit berdiri, menyilangkan kedua lengannya di atas kepala, lalu menahan lengan yang diayunkan turun. Ujung pisau dapur itu tepat di depan matanya. Jika terdorong beberapa sentimeter lagi saja, jaraknya cukup untuk menembus di antara kedua alisnya.

Mahiru mengatupkan gigi, mati-matian menahan laju pisau itu.

“Yang pengganggu itu siapa sebenarnya...!”

Alasan dia begitu terobsesi pada Maisy.

Karena sejak awal, Maisy-lah yang memberinya kebaikan tanpa pamrih.

Dan lebih dari segalanya, karena dia merasa Maisy dan dirinya sangat mirip.

“Alasan aku ingin menyelamatkan Maisy...”

Namun, mengatakan hal itu langsung di depan orangnya terasa kurang pantas. Dan sedikit memalukan juga. Jadi dia memilih jawaban yang terdengar masuk akal, yang sama sekali bukan kebohongan.

“...Mungkin karena kamu mirip adikku.”

Bagaimana satu kalimat itu sampai ke hati Maisy, yang terdengar hanya napas halusnya saja.

Olivia tidak mengendurkan tangan yang menekan pisau, dan pertarungan saling dorong itu masih berimbang.

Namun saat itulah pandangan Mahiru tiba-tiba berputar.

Mungkin karena dia tadi membenturkan bagian belakang kepalanya terlalu keras. Sekilas, seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Lututnya tertekuk, dan kedua lengan yang menahan pisau tidak lagi mampu mempertahankan kekuatannya.

Sial...!

Bilah yang mendekati keningnya, serta sudut mulut Olivia palsu yang terangkat menyeringai, terasa bergerak begitu lambat dalam pandangannya.

Lalu, seolah saling bertukar tempat, rambut pirang berayun memasuki pandangannya.

“Apa maksudnya itu? Kata-kata yang kuinginkan sedikit berbeda, tahu!”

Dalam sepersekian detik. Sebelum bilah pisau mencapai Mahiru, Maisy mendorong Olivia palsu menjauh.

“Guh!?”

Hantaman mendadak dari samping membuat Olivia palsu terlempar dan tersungkur ke lantai.

Suara Maisy terdengar sedikit kesal. Namun tidak ada lagi warna keputusasaan di dalamnya. Nadanya jernih, seolah beban yang merasuki dirinya telah luruh.

“Jadi, untuk kata-kata itu... akan kuterima di suatu masa depan nanti.”

Napas Mahiru masih memburu karena ketegangan saat tatapannya bertemu dengan mata zamrud Maisy.

“Aku boleh percaya, bukan? Mahiru-san.”

“Ya. Tentu saja.”

Ketika Mahiru mengangguk mantap, Maisy meraih gunting raksasa yang bersandar di samping perapian. Menggenggamnya dengan kedua tangan, dia perlahan mendekati Olivia palsu.

“Wadah saja berani-beraninya kurang ajar!”

Olivia palsu dengan cepat membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap, merendahkan posisi seolah hendak menerkam Maisy.

Namun Maisy bergerak lebih cepat. Dengan gunting yang sedikit terbuka, dia menancapkannya tanpa ragu ke lantai, menjepit leher Olivia di antaranya.

“Kuhg...!?”

Seperti guillotine. Sedikit saja bergerak, bilahnya akan menyentuh lehernya. Ingin melepaskan diri pun tidak bisa, lehernya terjepit, tidak ada ruang untuk lari.

“Menancapkan pisau pada nenek sendiri, benar-benar anak yang tidak tahu balas budi. Kamu pikir ini akan dimaafkan? Kamu kira dengan perasaan apa aku membesarkanmu selama ini, Maisy!”

“Maafkan aku, Nenek.”

Dari posisi Mahiru, dia tidak bisa melihat wajah Maisy. Namun dia yakin gadis itu pasti memasang wajah sedih. Maisy yang lembut itu, bahkan dalam keadaan seperti ini pun, masih belum mampu membenci Olivia palsu sepenuh hati.

“Hihih, apa kamu sanggup membunuhku, Maisy?”

Dalam posisi yang tidak wajar, Olivia menengadah ke arah Maisy dengan wajah buruk rupa, campuran ketakutan dan kegembiraan. Seolah masih melihat celah untuk memanfaatkan keadaan, tidak ada keraguan dalam kegigihan yang menyala di matanya.

“Aku tidak ingin membunuhmu. Bagaimanapun juga, kamu tetap nenekku yang berharga.”

“Kalau begitu...”

“Tapi!! Lebih dari itu, aku masih ingin hidup!”

Maisy menekan gunting itu lebih dalam dan berteriak, seolah sedang mengucapkan sumpah.

“Bagus, Maisy! Tahan dia seperti itu!”

Tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini, Mahiru kembali mengangkat Grimm Note.

Dia membuka sampulnya. Menelusuri butir ketiga, bagian pemurnian, lalu berseru keras.

“Kali ini benar-benar selesai. Hancurlah...!”

Grimm Note mengenali Olivia palsu sebagai objek kegilaan dan memuntahkan cahaya suci.

Kali ini tidak ada celah bagi Olivia palsu untuk melarikan diri. Cahaya itu tidak akan berhenti sampai seluruh kegilaannya terkikis habis. Hangat namun tajam, cahaya itu sekaligus menjadi cahaya penyelamatan dan cahaya penghakiman. Cahaya itu mengambil bentuk dan menembus tubuh Olivia. Dengan gigih, ia mengerucut seolah mengikis segala kenajisan.

“U, ga, gi, gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”

Bahkan dengan mata terpejam, cahaya itu terasa cukup menyilaukan hingga seolah membakar bola mata dari balik kelopak.

Dengan ini, kegilaannya seharusnya termurnikan...

 

Cahaya suci yang menyelimuti Olivia perlahan mereda, dan memuntahkan seorang gadis.

 

“Hah?”

Rambut pirang panjang menjuntai hingga ke pinggang. Wajahnya masih belia, namun memancarkan aura yang entah bagaimana terasa memikat. Lengan dan kakinya jenjang. Kaki kirinya yang seharusnya telah hilang kini utuh. Tidak ada luka di perutnya, dan mungkin karena ukuran tubuhnya berubah, pakaiannya tampak berantakan. Dia perlahan menyentuh tubuhnya sendiri, menyentuh wajahnya, memandangi jari-jarinya yang ramping dan indah, sementara mata zamrudnya bergetar.

“Si...!?”

Saat hendak mengucapkan “siapa”, dalam benak Mahiru, sosok seorang gadis terhubung dengan gadis di hadapannya.

Itu dia! Gadis ini!

Tidak bisa dibilang akrab, namun Mahiru mengenali wajah itu.

Gadis yang samar-samar menyimpan bayangan wajah Maisy.

Kalau tidak salah, dia ada dalam foto hitam-putih itu...

“...Kak Nina?”

Maisy buru-buru mencabut gunting dari lantai dan menjatuhkannya begitu saja. Dengan mata terbelalak tidak percaya, dia berlutut di sisi gadis itu.

Mendengar panggilan Maisy, gadis yang tadinya adalah seorang nenek tua itu mengangkat wajahnya.

 

Jati diri Olivia palsu... Yang muncul di sana adalah kakak Maisy.

Nina Carmine.

 

Nina tampak belum mampu merapikan situasi di kepalanya. Dia memandang ke sekeliling dengan gelisah, menekan dahinya yang terlihat kesakitan, sementara mulutnya terkatup-katup seolah hendak mengucapkan sesuatu. Hanya suara lirih yang tidak menjadi kata yang lolos dari bibirnya.

Pada saat yang sama, Maisy tiba-tiba menundukkan wajah dan memegangi kepalanya.

“A... u, ngh...!”

Keadaan ini sudah beberapa kali Mahiru lihat sebelumnya.

Ingatan palsu yang ditanamkan sedang terkelupas.

Jadi benar, Olivia palsu memang telah memanipulasi ingatan.

Mahiru menggenggam tangan Maisy dan dengan lembut mengusap punggungnya.

“Tidak apa-apa, tarik napas dalam-dalam. Kamu tidak sendirian, Maisy.”

“Ya, Mahiru-san... terima kasih.”

Karena manipulasi ingatan Maisy telah terurai, mungkin seluruh informasi yang selama ini tersembunyi kini membanjiri benaknya sekaligus. Ingatan yang benar dan ingatan yang keliru. Campuran keduanya mungkin membuatnya kacau, wajah Maisy terdistorsi oleh rasa sakit. Namun setidaknya, tidak seperti sebelumnya, dia tidak sampai kehilangan kewarasan. Dia tampak berjuang keras untuk menelan dan menerima semuanya dalam dirinya.

Mahiru menggenggam tangan Maisy yang masih terus menarik napas dalam-dalam dengan erat, lalu untuk beberapa saat terus mengusap punggungnya, seakan menegaskan bahwa dia ada di sini bersamanya.

 

* * *

 

Di depan Maisy, dia tidak boleh terlihat panik. Namun fakta bahwa jati diri Olivia palsu adalah kakak Maisy, Nina, tetap saja menjadi kenyataan yang mengguncang bagi Mahiru. Tidak, kalau dipikir-pikir mungkin memang ada petunjuk ke arah itu... tapi tidak. Dalam keadaan kacau seperti ini, dia tidak punya waktu untuk memutar otak lebih jauh.

Lagipula, mungkin itu tidak perlu.

Bagaimanapun juga, Nina sebagai pihak yang bersangkutan kini ada tepat di depan mereka.

Ditambah lagi, ingatan Maisy telah kembali dan dia tidak kehilangan kewarasannya.

Tanpa disengaja, mungkin memurnikan kegilaan Olivia palsu adalah pilihan terbaik.

Maisy tidak berkata apa-apa. Dia hanya mencengkeram lengan baju Mahiru dan menundukkan wajahnya.

“Aku... seharusnya bagaimana, ya?”

Maisy yang wajahnya tampak begitu letih bergumam pelan.

Berbeda dengan putaran ketiga dan keempat, kali ini Maisy tidak kehilangan akal sehatnya. Justru karena itu, dengan pikiran yang jernih, dia menanggung beban masa lalu yang begitu berat.

Ayah yang lembut hanyalah ingatan palsu; kenyataannya, dia adalah ayah kejam yang melakukan kekerasan.

Itu pernah dia dengar dari Maisy yang mengamuk di gudang makanan kincir air. Dan setelah melihat kondisi kamar sang ayah, Mahiru yakin cerita itu benar. Maisy disudutkan oleh ayahnya. Dia membencinya. Dan dia pernah berkata bahwa dia meminta penyihir untuk membunuhnya.

“Aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi... hanya karena emosi sesaat... padahal pasti ada cara lain.”

Mahiru tidak bisa sepenuhnya mengerti perasaan Maisy. Namun gadis yang lembut itu pasti diliputi penyesalan. Meskipun membencinya, dia tetaplah satu-satunya ayah yang dia miliki. Tapi...

“Mungkin memang tidak ada jalan lain.”

Dia tidak akan mengaku memahami seluruh perasaan Maisy, namun Mahiru sendiri telah menimbun penyesalan yang tidak terhitung jumlahnya.

Misalnya, saat dia menikam peramal kultus yang telah mendorong kedua orang tuanya hingga bunuh diri.

Jika dipikir dengan kepala dingin, tindakan itu tidak efisien dan sia-sia. Sekalipun peramal itu mati, orang tuanya tidak akan hidup kembali, dan penyakit Asahi tidak akan sembuh. Bahkan sebaliknya, Mahiru dijebloskan ke lembaga pembinaan anak, dan dia bahkan tidak bisa leluasa melihat wajah Asahi.

“...Tidak ada jalan lain?”

Dia menyesal, dan dia tahu mungkin ada cara lain.

Namun anehnya, pada saat itu, bagi Mahiru seakan memang tidak ada pilihan lain.

Saat melihat wajah peramal itu sekilas saja, darah dan dagingnya serasa mendidih, amarah membakar otaknya hingga terasa seperti direbus. Dia membenci, sangat membenci. Selain karena kedua orang tuanya, dia menumpahkan seluruh ketidakadilan yang menimpanya pada sosok itu, lalu mengayunkan pisau. Pada saat itu, tidak ada jalan lain baginya. Begitulah kondisi mentalnya.

“Kamu bilang itu cuma emosi sesaat, tapi menurutku bukan berarti seluruh keputusan lahir hanya dalam satu detik itu. Pengalaman sebelumnya, perasaan yang menumpuk, semua itu bertambah dan akhirnya memaksa kita membuat keputusan. Jadi, memang tidak ada jalan lain.”

“Maksudnya aku tidak perlu memikirkannya? Aku harus mengikhlaskan dan melupakannya begitu saja?”

“Bukan begitu. Justru kamu harus benar-benar memikirkannya. Supaya nanti, kalau kamu berada dalam kondisi mental yang sama, kamu bisa memilih jalan yang berbeda.”

Dia pikir pilihannya saat itu memang tidak terelakkan.

Namun dia tetap menyesalinya.

Karena itu, lain kali dia tidak boleh salah menentukan prioritas.

“Hidupku juga penuh kesalahan. Tapi untungnya, satu hal yang paling penting masih tersisa.”

Untuk melindungi Asahi, dia tidak boleh melupakan kesalahannya sendiri.

Tidak peduli seberapa besar kebencian menguasai hatinya, dia tidak boleh melupakan Asahi.

“Bukannya itu juga berlaku untukmu, Maisy?”

Mendengar kata-kata Mahiru, Maisy mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada Nina yang terkulai di atas sofa.

“...Kakak.”

Satu-satunya keluarga berharga yang masih bisa ia percaya.

Setelah segala liku dan kekacauan, kakaknya Nina kini hidup di hadapannya.

“Begitu ya... terima kasih, Mahiru-san. Aku merasa sedikit lebih lega.”

“Syukurlah.”

“Mengubah perasaan secepat ini memang sulit, tapi demi Kakak, aku ingin mencoba berusaha.”

Setelah itu, mereka memberi jeda sejenak sebelum memutuskan untuk berbicara bersama.

Maisy, Nina, dan Mahiru berkumpul di ruang tamu dan duduk di tempat masing-masing. Maisy dan Mahiru berdampingan, berhadapan dengan Nina.

Suasana terasa berat. Nina terus menunduk, sementara Maisy memainkan ujung rambutnya dengan gelisah. Mahiru pun merasa tidak nyaman, namun jika dibiarkan begini, pembicaraan tidak akan pernah dimulai.

“Kalau begitu... anggap saja ini perkenalan resmi. Namaku Misora Mahiru.”

“Nina Carmine. Tapi aku masih punya ingatan saat menjadi nenek. Jadi, aku tahu tentang Mahiru-kun.”

Nina menjawab tanpa mengangkat wajahnya.

“Begitu ya. Berarti kamu ingat semuanya.”

“Ya.”

Nina mengepalkan tinjunya erat-erat, tampak menahan rasa getir.

“Aku ingat... bahwa aku mencoba merebut tubuh Maisy.”

“Kenapa...?”

“Itu yang ingin kutanyakan! Aku mencintai Maisy lebih dari siapa pun di dunia ini! Jika Maisy harus mati, aku rela menyerahkan nyawaku sendiri dengan senang hati. Aku punya tekad itu. Karena itulah... aku membuat perjanjian dengan penyihir. Tapi justru itu dimanfaatkan olehnya. Bayangkan, membuatku mencoba membunuh Maisy dengan tanganku sendiri!”

“Dengan kekuatan penyihir, ingatanmu juga dihapus, lalu kamu dijadikan Olivia, begitu?”

Di dunia ini, ada rumor tentang penyihir yang bisa mengabulkan permintaan apa pun dengan imbalan sesuatu yang paling berharga.

Jadi benar, akar dari semua ini adalah penyihir.

“Ya... Aku ini kakaknya Maisy. Aku selalu mendoakan kebahagiaan Maisy. Tapi dia, penyihir itu, mengubah peranku.”

Seolah mengingat mimpi buruk, Nina memegangi kepalanya dan melanjutkan.

“Kalau ditelusuri dari awal, yang salah memang aku. Tapi tetap saja, aku tidak tahan. Aku meremehkan kegilaan penyihir itu. Keberadaanku perlahan-lahan terkelupas dari dalam, lembar demi lembar, seakan menghilang. Lalu kegilaan menggantikannya, memenuhi diriku dari dalam. Rasanya seperti lumpur, menyesakkan... dan ketika kusadari, aku sudah menjadi seorang nenek tua yang tujuannya merebut tubuh Maisy. Bahkan lengkap dengan pengaturan sebagai neneknya.”

“Kak...”

“Aku mencoba membunuh Maisy. Apa pun alasannya, untuk itu saja aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.”

“...Itu pasti menyakitkan.”

“Apa yang kamu tahu tentang itu, Mahiru-kun!”

Dengan suara meninggi, untuk pertama kalinya Nina mengangkat wajahnya.

Kelopak matanya bengkak, wajahnya basah oleh air mata.

“Aku tahu. Aku juga punya adik perempuan. Kalau kubayangkan berada di posisimu, aku tidak yakin bisa tetap waras.”

Jika, karena suatu kesalahan, dia sampai mencoba membunuh Asahi, Mahiru tidak yakin dia bisa terus hidup. Apa pun alasannya, dia pasti tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Aku sudah tidak pantas lagi menatap wajah Maisy. Yang terpikir olehku hanya... mati untuk menebusnya.”

Wajah Nina terdistorsi, seakan bisa menangis kapan saja saat dia mengucapkannya.

Pada saat itu, braaak!

Suara benturan keras mendadak membuat Mahiru dan Nina tersentak, menoleh ke sumber suara.

Maisy baru saja menghantamkan tinjunya ke meja, wajahnya dipenuhi amarah.

“Kakak serius bilang itu? Kakak pikir aku akan sedikit pun merasa senang dengan hal itu?”

“Aku telah melakukan hal yang seburuk itu.”

“Kalau begitu, aku juga sama! Aku juga membunuh Ayah!”

“Itu bukan salahmu, May-chan!”

“Dan Kakak juga bukan karena kehendak Kakak sendiri!”

Keduanya condong ke atas meja, emosi mereka kian memanas. Seakan-akan pertengkaran fisik bisa pecah kapan saja.

“Hei, tenang dulu. Kenapa jadi saling menyalahkan begini? Ini aneh, tahu.”

Mahiru cepat-cepat masuk ke tengah sebagai penengah.

“Karena Kakak!” “Karena May-chan!”

Keduanya lalu menoleh pada Mahiru dan mendekat sekaligus.

“Kalian saling menganggap satu sama lain itu berharga, ‘kan? Memang tidak sesederhana bilang ‘syukurlah semuanya selamat’, tapi kalau malah bertengkar, itu jadi tidak masuk akal.”

“Itu... memang benar, tapi...”

Seolah tersentuh oleh kata-kata Mahiru, keduanya akhirnya kembali duduk dengan lebih tenang.

“Pertama-tama, kita harus bicara dengan kepala dingin. Masih terlalu banyak yang tidak kita tahu. Kenapa ingatan Maisy diubah. Kenapa Nina membuat perjanjian dengan penyihir. Dan juga tentang penyihir itu sendiri.”

Dan yang terpenting, dia ingin tahu keberadaan Tudung Merah.

Saat Mahiru mengarahkan pandangannya, Nina membuka mulutnya meski wajahnya masih berkerut menahan getir.

“Ya. Aku tahu semuanya. Aku bisa menjawab.”

“Aku boleh ikut mendengarnya juga, ‘kan?”

“Tentu. Kamu sudah menolongku, Mahiru-kun. Kamu bukan orang luar lagi. Kalau kamu mendengarnya, kamu pasti akan mengerti. Semua ini salahku. Ini akibat dari pilihan bodoh yang kuambil.”

Nina menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengangkat wajahnya menatap keduanya.

Kebenaran dari kisah yang dipenuhi kegilaan.

Saat untuk mencocokkan jawaban dari dunia dongeng ini pun dimulai.

“Baiklah, akan kuceritakan. Kisah tentang diriku yang belum kalian ketahui...”

 

* * *

 

Rumah keluarga Nina tidak bisa dibilang sebagai lingkungan yang harmonis.

Ibunya pergi meninggalkan rumah tidak lama setelah Maisy lahir, dan sejak itu mereka tinggal berempat: sang ayah, Nina, adiknya Maisy, serta Olivia, nenek dari pihak ayah. Olivia pun meninggal ketika Maisy berusia sepuluh tahun.

Ayah mereka adalah pria yang kasar, dan perlakuannya terhadap Maisy terutama sangat keras. Dia menganggap kepergian istrinya terjadi karena kelahiran Maisy. Padahal, keputusasaan sang ibu dan kelahiran Maisy sama sekali tidak ada hubungannya. Hal itu tentu saja sebenarnya dia pahami. Namun, dia membutuhkan alasan yang mudah disalahkan. Jika tidak menyalahkan sesuatu, dia tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah pergi.

Saat suasana hatinya baik, semuanya terasa baik-baik saja. Namun hari-hari seperti itu hanya datang sekali dalam tiga hari; selebihnya dia hampir setiap hari membentak dan memaki. Kekerasan pun bukanlah hal yang jarang terjadi.

Nina ingin menyelamatkan Maisy dari kekejaman ayah mereka.

Dia selalu memikirkan itu.

Namun dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Pernah terlintas di benaknya untuk membunuh sang ayah, tetapi mewujudkannya membutuhkan tekad yang luar biasa. Rasa takut terhadap ayahnya pun menghantuinya. Setiap kali pria itu membentak dengan suara menggelegar seolah mengguncang tanah, tubuh Nina akan membeku.

Suatu hari...

Nina bertemu dengan sahabatnya, Elfilia, di dalam hutan.

Elfilia berpenampilan seperti gadis desa biasa, tetapi jati dirinya adalah serigala pemakan manusia. Dia memiliki kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan hidup tanpa memakan satu orang setiap hari, serta kemampuan untuk menyamar menjadi wujud manusia yang telah dia santap.

Mungkin sedang menyukai penampilan itu, Elfilia sudah berminggu-minggu mengenakan wujud seorang gadis berambut merah dengan bintik-bintik di wajahnya.

“Kamu sudah makan hari ini?”

“Hah? Belum sih...”

“Begitu ya. Kalau begitu aku pulang saja hari ini. Sampai jumpa.”

“Waa! Tunggu dulu! Aku tidak apa-apa! Aku tidak akan memakan temanku!”

“Aku sama sekali tidak bisa percaya.”

Elfilia cenderung memprioritaskan rasa laparnya di atas segala hasrat, janji, maupun norma. Bahkan diragukan apakah dia benar-benar memiliki rasa moral. Nina tahu dia gadis yang baik, tetapi tetap saja ada sesuatu dalam dirinya yang terasa melenceng dari kewajaran manusia biasa.

“Kalau kamu benar-benar kelaparan dan tidak ada orang lain di sekitarmu selain aku, apa yang akan kamu lakukan?”

“A-Aku akan mencari orang lain.”

“Kalau memang tidak ada?”

“Itu... maaf ya.”

Elfilia berkata demikian sambil mengusap perutnya dengan wajah bersalah.

Kejujurannya yang tidak mampu berbohong itu terasa menggemaskan, tetapi jawaban itu sama sekali tidak menenangkan.

“Kalau begitu aku tetap pulang saja.”

“Waa! Tunggu! Aku serius tidak akan memakanmu!”

Nina berdiri dan berjalan menjauh, membelakangi Elfilia. Dia tidak sudi kehilangan nyawa karena dimakan sahabatnya sendiri di tempat seperti ini.

Namun Elfilia segera mengejarnya dengan panik.

Setelah berjalan beberapa langkah, Nina tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Baf! Kenapa tiba-tiba berhenti, Nina?”

Elfilia yang masih melaju menabrak punggung Nina. Sambil memegangi hidung kecilnya yang kesakitan, dia mengintip wajah Nina.

Nina menatap jauh ke dalam hutan.

Di kejauhan, sekelebat warna merah berkilat.

Dia tidak mungkin salah melihat apa itu.

“...Maisy?”

Kenapa dia ada di tempat seperti ini? Bersamaan dengan pertanyaan itu, firasat buruk menjalar ke seluruh tubuh Nina.

Hari ini Maisy mengatakan akan pergi ke kota. Nina sempat menawarkan diri untuk ikut, tetapi Maisy menolaknya dengan keras kepala. Jadi mengapa kini dia berada di tengah hutan?

Di bagian terdalam hutan. Seingat Nina, tidak ada apa pun di sana yang layak dikunjungi...

“Jangan-jangan...!”

Rumor tentang penyihir itu, menurutmu benar tidak? Kalau memohon pada penyihir, apa kita bisa jadi bahagia, ya... cuma bercanda kok.

Itu adalah ucapan ringan Maisy beberapa waktu lalu.

Bagaimana jika Maisy benar-benar sudah sedemikian terdesak?

Bagaimana jika itu bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah S.O.S untuk Nina, tanda bahwa dia sungguh-sungguh mempertimbangkan kemungkinan tersebut?

“Effie, aku ada urusan mendadak.”

“Aku ‘kan sudah bilang tidak akan memakanmu! Tenang saja! Ya?”

“Bukan itu. Beneran ada urusan.”

Nina hendak melepaskan diri dari pegangan Elfilia, tetapi kemudian berhenti. Dia menatap Elfilia lekat-lekat, memutar otak. Mungkin gadis ini bisa dimanfaatkan.

“Ada apa, Nina?”

“Effie, ikut denganku. Kalau berjalan lancar, kamu bisa mendapatkan makanan.”

Nina menarik tangan Elfilia dan mulai melangkah ke dalam hutan.

“Serius!? Horeee, maaaakan~!”

Mereka menyusuri celah di antara pepohonan menuju arah tudung merah yang sempat terlihat sekilas di kejauhan. Jaraknya lebih jauh dari perkiraan, dan medan yang buruk membuat langkah mereka tak semudah yang diharapkan. Tujuan mereka adalah pondok kincir air tempat sang penyihir tinggal.

Sambil berharap firasat buruknya meleset, Nina terus melangkah bersama Elfilia.

“Effie, aku punya permintaan...”

Dalam kemungkinan terburuk, mereka mungkin harus berhadapan langsung dengan sang penyihir.

Nina meminta Elfilia untuk membantunya saat itu tiba. Kebetulan Elfilia juga pernah berkata ingin mencicipi daging penyihir. Sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan.

Menjelang tujuan, Nina dan Elfilia berpisah. Elfilia diminta bersembunyi di belakang pondok kincir, sementara Nina akan mendatangi penyihir dari depan. Jika semua ini hanyalah salah paham Nina dan tidak terjadi apa-apa, itu yang terbaik. Akan lebih baik jika Maisy tidak ada di sana, dan penyihir hanya duduk sendirian menikmati teh dengan anggun.

Lalu Nina mengetuk pintu pondok kincir air itu.

Tampaknya pintu tidak terkunci. Dengan hati-hati dia memutar gagang agar tidak menimbulkan suara, lalu menarik pintu perlahan.

“...!?”

Sekejap, udara berat seolah-olah perwujudan kegelapan itu sendiri menerjang Nina.

Dan yang tertangkap oleh matanya adalah sosok penyihir, mengenakan topi runcing ungu dan jubah longgar yang kebesaran. Rambutnya yang berwarna hijau kekuningan tampak berantakan, seakan baru diterpa angin kencang. Tubuhnya menyerupai gadis kecil, namun wajahnya yang berwarna ungu tua memancarkan kilatan buas seperti binatang pemangsa yang sedang mengincar mangsa.

Hal berikutnya yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Maisy yang terkulai di kaki sang penyihir. Bekas air mata masih tersisa di pipinya, dan dengan tatapan kosong dia berbisik, “Kakak...”

“Oh? Hari ini tamunya banyak sekali. Jarang-jarang.”

Di tangan penyihir itu tergenggam tudung merah yang seharusnya milik Maisy.

Dia terlambat.

Maisy sudah menyelesaikan transaksi dengan penyihir itu.

Transaksi dengan penyihir yang konon dapat mengabulkan permohonan apa pun dengan merenggut hal yang paling berharga sebagai bayaran.

“Maisy! Kamu tidak apa-apa!? Maisy!”

Nina bergegas menghampiri dan mengguncang bahu adiknya dengan lembut.

“Maaf... maafkan aku, Kakak... Aku tidak seharusnya memberikannya pada orang seperti dia. Padahal itu tudung merah berharga yang Kakak berikan padaku...”

Tampaknya sebagai harga transaksi, tudung merah itu telah direnggut oleh penyihir.

Nina memeluk Maisy dan mengusap kepalanya dengan lembut.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”

“Tidak mungkin. Itu tudung merah yang sangat, sangat berharga. Itu harta karunku...”

“Kamu tidak perlu menyalahkan diri. Kakak sudah datang, jadi tenanglah. Syukurlah kamu selamat.”

Entah karena kelelahan atau efek samping dari transaksi itu, mata Maisy tetap kosong. Setelah mendengar kata-kata Nina, perlahan kesadarannya terlepas.

“Apa yang kamu lakukan pada May-chan?”

“Melakukan apa? Kurasa persis seperti yang kamu pikirkan.”

Nina menyandarkan tubuh Maisy perlahan ke dinding, lalu berdiri dan menatap penyihir itu dengan tajam.

“Anak itu membuat transaksi. Dia ingin bahagia. Jadi sebagai bayaran, aku mengambil tudung merahnya yang sangat, sangat berharga, lalu menyingkirkan penyebab ketidakbahagiaannya.”

“...Penyebab ketidakbahagiaan?”

“Tentu saja. Aku mengutuk mati ayahnya yang tidak berguna itu, yang tega melakukan kekerasan pada putrinya sendiri.”

“...”

“Lalu anak itu bilang dia tidak menyangka aku akan membunuhnya. Katanya, kembalikan tudung merahnya. Menyebalkan sekali. Aku sudah menepati janji dan mengabulkan keinginannya. Bukannya seharusnya aku mendapat ucapan terima kasih, bukan keluhan?”

Penyihir itu menatap Maisy yang terkulai dan tertawa kecil.

Tentang ayah mereka... mungkin memang pantas dibenci. Namun Nina tidak bisa memaafkan penyihir itu karena telah menipu dan melukai Maisy. Dan lebih dari itu, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa hingga semua ini terjadi.

“Kembalikan tudung merah itu.”

Tudung merah di tangan penyihir jelas adalah yang diberikan Nina kepada Maisy. Sepasang dengan tudung putih milik Nina. Maisy pernah tersenyum bahagia sambil menyebutnya sebagai harta karun, sebuah lambang ikatan di antara mereka.

Namun kini, entah karena telah disentuh sihir atau tidak, tudung yang semula merah cerah itu tampak memancarkan aura kelam.

“Itu bukan sesuatu yang pantas kamu miliki.”

Tetapi saat Nina melangkah mendekati penyihir, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan lagi. Seolah dia lupa cara menggerakkan tubuhnya sendiri.

“Apa... ini...”

“Maaf ya. Derajat peran antara aku dan dirimu berbeda.”

Inikah sihir penyihir yang selama ini dia dengar dalam rumor? Tanpa menggerakkan satu jari pun, dia mampu melumpuhkan seseorang.

“Kembalikan...! Itu miliknya...!”

Nina mengerahkan tenaga untuk berteriak melawan, tetapi penyihir hanya tertawa geli.

“Oh? Jadi itu permohonanmu? Jika kamu bersedia menyerahkan bayaran, aku bisa saja mengembalikan tudung merah ini.”

“...Kamu sungguh akan mengembalikannya?”

Keraguan itu hanya sekejap.

Jika dengan itu senyum Maisy bisa kembali, Nina rela membayar apa pun. Lagi pula, bayaran ini adalah hukuman bagi dirinya sendiri yang tidak melakukan apa pun hingga keadaan menjadi seperti ini.

“...Baiklah. Apa yang harus kuserahkan?”

“Bagaimana kalau adikmu saja?”

“Itu tidak mungkin. Aku ingin merebut kembali tudung merah itu demi adikku. Jika aku menyerahkannya, bukannya itu sia-sia?”

“Heh, hanya bercanda. Kalau begitu, bagaimana kalau waktumu? Waktu berharga yang seharusnya kamu habiskan bersama adikmu mulai sekarang.”

“...Baik.”

Saat itu Nina tidak benar-benar memahami apa arti menyerahkan waktu, tetapi dia sudah meneguhkan hati dan langsung menyetujuinya. Sebagai gantinya untuk mendapatkan kembali tudung merah, dia menyerahkan waktunya sendiri.

“Kalau begitu, transaksi selesai.”

Penyihir menyerahkan tudung merah itu padanya.

Begitu Nina menerimanya, sesuatu terjadi pada tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa mendidih panas. Dari dalam terdengar bunyi menggelegak yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Tulangnya seperti diremukkan, dagingnya seperti meleleh.

“Ugh... aaahhhhhhh...!”

Dan ketika dia tersadar, tubuhnya telah menyusut. Tidak, dia menua.

Karena menyerahkan waktunya pada penyihir, Nina berubah menjadi seorang nenek tua.

“Jadi... inikah maksud waktu...”

Telapak tangannya yang terulur kini keriput, lengannya yang kurus menonjol tulang seperti ranting kering.

Dia sudah bersiap secara mental, tetapi melihat perubahan itu terpampang jelas di tubuhnya tetaplah menyakitkan. Wajah seperti apa yang kini dia miliki? Mungkin wajah seorang wanita renta penuh keriput. Dia takut untuk bercermin.

Namun tudung merah telah kembali.

Bukankah keinginan terbesarnya adalah kebahagiaan Maisy?

Jika dipikir begitu, setidaknya hal terpenting telah berhasil dia lindungi... dan dengan itu dia berusaha bertahan.

“Oh, oh, betapa buruk rupamu. Dengan wujud seperti itu, kamu ingin tinggal bersama adikmu?”

“...Ya. Bahkan dalam wujud seperti ini, May-chan pasti akan menerimaku.”

Ayah mereka memang sudah mati, tetapi itu adalah akibat perbuatannya sendiri.

Dia hanya perlu mengembalikan tudung merah pada Maisy dan hidup berdua di rumah itu.

Selama ini mereka telah berbagi kesulitan sebagai saudari. Mungkin Maisy akan terkejut, tetapi Nina yakin adiknya akan menerima dirinya apa adanya.

Namun kata-kata penyihir menghantamnya, menyingkap kedangkalan pikirannya.

“Benarkah? Menurutmu apa yang akan dia rasakan saat melihat kakaknya berubah menjadi nenek demi dirinya? Pernahkah kamu memikirkan berapa lama sisa umur tubuh itu? Setelah kehilangan ayahnya, jika dia sampai kehilangan kakaknya juga, bagaimana perasaan anak itu yang akan sendirian? Mengetahui semua itu berawal dari tindakannya sendiri yang gegabah, apa dia masih bisa hidup sambil tersenyum?”

Nina tidak mampu menjawab.

Dia memandang Maisy. Seolah hendak meraih Nina, ujung jari Maisy bergerak kecil.

Dulu, ketika nenek mereka Olivia meninggal, Maisy sempat terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Cinta Maisy kepada orang yang dia percayai begitu besar. Jika Nina pun menghilang, akankah dia mampu hidup sendirian? Dan sekalipun dia mampu bertahan hidup, apakah dia bisa tetap tersenyum, ditinggalkan sendirian di dunia ini tanpa seorang pun untuk bersandar?

Nina kembali menatap kedua tangannya.

Rasanya bukan seperti tangannya sendiri. Pucat tanpa darah, dipenuhi keriput yang dalam, bahkan untuk menggenggam dengan kuat pun dia kesulitan.

Dengan tubuh seperti ini, sampai kapan dia bisa hidup?

Jaraknya dengan kematian mendadak terasa begitu dekat. Seolah jika dia menoleh, malaikat maut sudah berdiri tepat di belakangnya. Bayangan itu begitu kuat hingga nyaris menguasai pikirannya.

Dan pada hati yang tengah rapuh itu, kata-kata sang penyihir menyusup perlahan.

“Hehe. Tidak perlu berpikir sesulit itu. Ada cara yang bagus.”

“Cara yang bagus...?”

Nina yang semula tertunduk mengangkat wajahnya. Dia mengangkatnya.

“Ya. Sederhana saja. Kita ubah ingatan adikmu.”

“Ti...”

Tidak mungkin hal seperti itu bisa dilakukan.

Dia hendak mengatakan demikian, namun bibirnya dibungkam oleh jari telunjuk penyihir.

“Kalian adalah keluarga yang rukun. Maisy, ayahnya, kakaknya, dan kamu... nenek yang sudah meninggal, Olivia. Empat orang dalam satu keluarga. Sang ayah dan kakak sedang lama pergi dari rumah, jadi sekarang dia tinggal berdua dengan neneknya.”

Dengan suara lembut nan menggoda, penyihir itu berbisik di telinga Nina.

Olivia. Nenek kandung mereka yang telah meninggal saat Nina dan Maisy masih kecil.

“Sejauh mana kamu tahu...?”

“Aku tahu apa pun tentang dunia cerita ini. Aku ini penyihir.”

Nina menepisnya dengan kesal.

Penyihir itu dengan ringan menghindar dan mengambil jarak, lalu menempelkan telunjuk ke bibirnya sambil tersenyum kecil.

Kalau saja sejak awal dia menjadikan seolah-olah tidak pernah ada kakak, mungkin akan lebih baik, pikiran itu kini terlintas.

Namun dia tidak mampu melakukannya. Itu adalah kelemahan Nina. Keegoisan yang ingin setidaknya dirinya tetap diingat.

“Dengan begini, anak ini akan melupakan tragedi hari ini dan seluruh kemalangannya selama ini, lalu bisa hidup bahagia.”

Itu adalah tawaran yang terlampau menggoda.

Namun setiap permohonan pada penyihir selalu menuntut bayaran.

“Apa yang harus kuserahkan...?”

Menanggapi pertanyaan Nina, penyihir itu tersenyum menyeramkan.

“Sebagai bayaran, kenanganmu bersama adikmu. Termasuk seluruh ingatanmu hingga kini. Bagaimana?”

“...Baik.”

Saat itu pun, dia sungguh percaya bahwa dengan cara ini Maisy akan bahagia.

Kini dia sadar, itu pilihan yang bodoh.

Bukan soal isi perjanjiannya. Sejak dia memutuskan untuk bertransaksi dengan penyihir, itu sudah merupakan kesalahan. Dia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Namun dia berpikir, jika dosa yang dilakukan Maisy bisa dia tanggung, maka itu sudah cukup.

“Kontraknya selesai.”

Sekejap, mata ungu tua sang penyihir berkilat aneh.

Kabut hitam pekat merembes keluar dari jubahnya, menyelimuti Nina.

“Ugh... ah, sakit...”

Kepalanya terasa seperti hendak terbelah.

Rasa sakit itu seperti otaknya dihantam benda tumpul secara langsung berulang-ulang. Hantaman itu merenggut kenangannya bersama Maisy. Saat pertama kali adiknya memanggilnya “Kakak.” Maisy kecil yang berjalan tertatih mengikuti dirinya. Maisy yang melahap kue dengan wajah ceria. Mengusap krim di pipinya... lalu... lalu...

Bukan seperti kenangan itu mengalir keluar dengan lembut, melainkan tercabut paksa, satu per satu, terempas keluar dari dirinya.

Hal-hal yang tadi memenuhi hatinya dengan begitu wajar kini lenyap. Setiap bagian yang membentuk dirinya terasa dikuliti satu per satu. Dia merasakan kehilangan besar, seolah keberadaannya sendiri sedang dicungkil habis.

“Ah...! Jangan...!”

Prang!

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah yang nyaring.

Penyihir menoleh dengan kesal, dan pada saat itu, dia sudah berada tepat di belakangnya. Waktu yang sempurna. Sahabatnya yang sedang kelaparan datang di saat terbaik.

Dalam pandangan Nina yang mulai kabur, dia melihat bulu berwarna malam bergoyang.

“K-Kamu... dari mana...!?”

Seekor serigala dengan rahang menganga lebar, cukup untuk menelan kepala kecil penyihir, meneteskan air liur dan memamerkan cakar tajamnya. Cakar yang dengan mudah dapat merobek daging manusia itu berkilat.

“Gah...!?”

Bunga merah merekah di dada penyihir.

“Wah, wah. Baunya enak sekali. Sudah lama aku penasaran seperti apa rasa daging penyihir.”

Cakar tajam binatang berwarna malam itu menembus dada penyihir. Darah mengalir dari mulutnya, dan dengan gerakan kaku dia menoleh ke arah Elfilia.

“Sial, binatang rendahan...!”

Perlawanan terakhir penyihir tidak lebih dari gangguan sepele bagi Elfilia, seperti lalat yang mengerubungi. Dia menancapkan taringnya, menggigit dan merobek daging, mengunyahnya perlahan seakan menikmati cita rasanya, dengan senyum penuh kenikmatan.

“Rasanya aneh sekali. Enak. Sangat enak.”

“Jangan bercanda! Dikalahkan makhluk seperti ini! Hanya peran figuran semata! Aku ini penyihir...!”

Bagi Elfilia, penyihir itu mungkin tidak lebih dari sekadar makanan. Dia tidak berniat bertukar kata, tidak menunjukkan minat sedikit pun. Dia hanya menikmati santapannya dengan murni.

“Haha... pantas saja.”

Dalam kesadarannya yang hampir padam, Nina menyaksikan penyihir dilahap oleh Elfilia.

Dalam pandangan kaburnya, dia menangkap sosok Maisy yang terbaring tidak sadarkan diri.

Dengan sisa tenaga terakhir, Nina mengulurkan tangan pada Elfilia.

“Kamu boleh memakan mayat ayahku juga... jadi... tolong...”

“Serius!? Terima kasih! Aku penasaran sekali seperti apa rasa ayah temanku!”

Dengan tangan yang masih menggenggam tudung merah, Nina mengulurkannya, tudung merah yang dulu dia hadiahkan pada Maisy, yang disebut adiknya sebagai harta karun.

“Effie, ini...”

Dengan harapan agar disampaikan kepada Maisy, dia menggenggamkan tudung merah itu pada Elfilia.

Tidak lama kemudian, kesadaran Nina tenggelam.

 

Saat dia membuka mata, Nina mendapati dirinya terbaring di ranjang pondok kincir air, berdampingan dengan Maisy. Mungkin Elfilia yang membaringkan mereka.

Pada saat itu, Nina tidak tahu dirinya siapa, dan tidak mengerti mengapa dia berada di sana. Hanya saja, karena Maisy yang terbangun memanggilnya “Nenek”, dia pun mengira bahwa dirinya memang nenek anak itu.

Dia tidak mengungkapkan pada Maisy bahwa dirinya kehilangan ingatan, karena ada perubahan lain yang terjadi pada tubuhnya.

Dia merasakan secara nyata kemampuan untuk mengambil alih tubuh orang yang memakan dagingnya.

Seberkas kegilaan yang ditanamkan penyihir dalam dirinya.

Perasaan seolah pengaturan tentang jati dirinya telah ditulis ulang. Pada saat itu, Nina benar-benar percaya tanpa ragu bahwa menggunakan kekuatan ini untuk merebut tubuh gadis manis di hadapannya adalah peran yang harus dia jalankan.

Begitulah, setelah kehilangan ingatan dan menjadi Olivia palsu, Nina kembali ke rumah bersama Maisy dan mulai hidup bersamanya. Dengan latar bahwa sang ayah dan Nina sedang lama meninggalkan rumah, dan kini hanya Olivia serta Maisy yang tinggal berdua, mereka menjalani hari-hari bersama berdasarkan latar tersebut.

Dan keesokan harinya... Mahiru datang ke rumah itu.

 

* * *

 

Inilah yang terjadi lusa kemarin. Setelah itu, kalian berdua juga sudah tahu bagaimana kelanjutannya.”

“Penyihir itu mati lusa kemarin... jadi semua ini kejadian yang sangat baru, ya.”

Semua peristiwa itu terjadi sehari sebelum Mahiru datang ke dunia ini.

Teka-teki tentang ingatan Maisy yang ditimpa ulang. Hubungan antara Elfilia dan Nina. Alasan Elfilia membawa jasad sang ayah. Kekuatan untuk merebut tubuh Olivia, hampir seluruh misteri kini telah terurai.

Dan yang terpenting, kunci untuk menyelesaikan cerita ini.

Mengembalikan yang seharusnya, ke tempat yang seharusnya.

Tudung Merah ke sisi Maisy.

Keberadaan Tudung Merah telah terbukti.

Dan pada saat yang sama, kesalahpahaman Mahiru pun terungkap. Tidak, mungkin secara tidak langsung dia tidak sepenuhnya salah, tetapi yang memanipulasi ingatan Maisy bukanlah Olivia palsu, melainkan sang penyihir.

Artinya, kisah ini adalah tentang Nina yang mempertaruhkan segalanya demi adiknya, dan tentang penyihir berhati busuk itu.

Setelah mendengar semuanya, Maisy menundukkan wajahnya, seolah menyalahkan diri sendiri.

“J-Jadi, Kakak menderita semua itu... karena aku...?”

“Bukan. Bukan begitu, May-chan. Aku tidak melakukan semua ini agar melihatmu memasang wajah seperti itu.”

“Aku tahu, aku mengerti itu, tapi...”

Nina menyesali kenyataan bahwa dia sempat memendam niat membunuh Maisy. Namun jika ditelusuri ke awal, semua itu juga bisa dikatakan berawal dari keputusan Maisy mengajukan kesepakatan pada penyihir. Setidaknya, itulah yang dipikirkan Maisy.

“Bukannya semuanya salahku!? Kalau saja aku tidak membuat permohonan bodoh pada penyihir itu, Kakak tidak perlu menderita seperti ini, ‘kan!?”

“Tidak! Sejak awal, yang salah adalah aku yang tahu kamu menderita, tapi tidak melakukan apa-apa!”

“Itu tidak masuk akal! Kenapa justru jadi salahnya Kakak!?”

“Sudah kubilang tadi, meski hanya sekali, aku pernah mencoba membunuhmu... apa pun alasannya, itu tidak bisa dimaafkan.”

“Yang salah tetap penyihir itu! Aku sama sekali tidak membenci Kakak!”

Alih-alih mereda setelah mendengar cerita Nina, emosi Maisy dan Nina justru semakin memuncak. Percakapan mereka berputar-putar tanpa arah, tidak ada sedikit pun kesan akan menghasilkan sesuatu yang berarti.

“Aku paham perasaan kalian, tapi tenanglah.”

Mahiru kembali masuk ke tengah, mencoba menjadi penengah.

“Aku sudah tenang! Hanya saja Kakak terlalu keras kepala...!”

“Bagian mana yang tenang? Jangan cuma terpaku pada apa yang sudah hilang atau apa yang salah di masa lalu. Lihat yang ada sekarang. Pikirkan apa yang masih tersisa.”

“Aku... tidak punya hak untuk itu...”

“Bisa saja masa depan yang terjadi jauh lebih buruk dari ini, ‘kan?”

Mendengar kata-kata Mahiru, Nina menundukkan wajahnya dengan ekspresi perih.

“Itu...”

Masa depan di mana Nina, sebagai Olivia palsu, benar-benar merebut tubuh Maisy.

Masa depan di mana identitas Olivia tidak pernah terungkap, dan Mahiru membunuhnya.

Masa depan di mana Maisy yang mendapatkan kembali ingatannya tidak mampu menerimanya dan menjadi gila.

Semua itu adalah kemungkinan yang pernah Mahiru alami, kemungkinan yang nyaris menjadi kenyataan.

Karena mengetahui itu semua, Mahiru bisa berkata dengan yakin.

Bahwa kenyataan saat ini, Maisy hidup, Nina pun hidup, adalah sebuah keajaiban.

“Lagipula, kalau bicara siapa yang salah, tidak perlu dipikir lama. Sudah tentu penyihir itu.”

Siapa pun yang melihat pasti akan sepakat, tokoh antagonis dalam kejadian ini adalah penyihir berhati busuk yang kini sudah mati.

“Dia memanfaatkan kelemahan Maisy, menipu Nina dengan kata-kata manis, lalu menebarkan kegilaan. Dengan cara paling keji dan menjijikkan, membuat dua saudari yang saling mencintai saling berebut nyawa. Kalau kalian masih terus bertengkar sekarang, bukannya itu justru sesuai dengan keinginannya?”

Seolah tersentuh oleh kata-kata itu, Nina menggigit bibir bawahnya dan terdiam.

Maisy, yang tampaknya tersadar oleh ucapan Mahiru, mendongak dengan wajah terkejut.

“Aku... aku benar-benar merasa bersalah pada Kakak...!”

Maisy berpindah ke hadapan Nina dan menggenggam kedua tangannya.

“Aku membenci penyihir itu, tapi aku juga pasti ada salah. Namun, meski begitu...”

Dia menatap lurus ke mata Nina dan melanjutkan dengan suara tegas.

“Yang paling membuatku bahagia adalah Kakak sudah kembali!”

“May-chan...”

“Bagaimana dengan Kakak...?”

Mata Nina berkaca-kaca. Dia membalas genggaman tangan Maisy dengan erat.

“Aku juga. Aku juga merasakan hal yang sama. Syukurlah kamu selamat, May-chan...!”

Mendengar itu, Maisy langsung melompat ke dalam pelukan Nina.

Nina memeluknya lembut, mengusap punggungnya seperti menenangkan anak kecil.

“Kakaaak... uuu... hiks... syukur... syukur Kakak masih hidup...”

Maisy meluapkan emosinya dengan polos, menggesekkan dahinya ke dada Nina. Seolah tidak ingin melepaskannya lagi, dia melingkarkan tangan ke punggung sang kakak, terisak dan menangis. Nina pun tersenyum lembut di tengah air mata, merasa lega karena Maisy kini benar-benar berada dalam pelukannya.

Merasa tidak enak jika mengganggu, Mahiru menjauh dan pindah ke sofa.

Beberapa waktu berlalu hingga suasana akhirnya tenang.

Dengan mata merah dan bengkak, Maisy menghirup ingusnya keras-keras, lalu memanggil Mahiru mendekat.

Kali ini, Maisy dan Nina duduk berdampingan, sementara Mahiru mengambil kursi di hadapan mereka.

Dengan begitu, semuanya selesai.

Begitulah seharusnya.

Namun, masih ada satu masalah besar yang tersisa.

“Maaf mengganggu setelah semuanya agak tenang, tapi boleh aku tanya satu hal, Nina?”

“Ya, silakan.”

“Aku berkelana mengejar penyihir. Penyihir yang telah memelintir dunia cerita ini, penyihir yang mengabulkan permintaan kalian. Kupikir dengan membunuhnya, penyimpangan dan kegilaan ini akan ikut lenyap. Tapi ternyata, penyihir itu sudah mati lebih dulu.”

“Ya, benar.”

Dari cerita Nina, jelas bahwa penyihir itu mengincar Tudung Merah milik Maisy. Itu bukti betapa pentingnya Tudung Merah bagi dunia cerita ini. Namun di saat yang sama, dia juga berusaha mengembalikannya pada Nina. Artinya, bisa jadi tujuannya telah tercapai sejak dia mendapatkan Tudung Merah itu.

“Kalau dugaanku benar, seharusnya dunia cerita ini sudah kembali normal. Tapi kenyataannya tidak. Kegilaan itu masih tersisa di dunia ini. Berarti hidup atau matinya dia tidak ada hubungannya dengan pemurnian kegilaan itu. Jadi kupikir, mungkin ada sumber lain selain penyihir. Sesuatu yang telah dia tanami kekuatannya... apa kamu punya firasat?”

Sampai di titik ini, hampir pasti Tudung Merah adalah sumber kegilaan tersebut.

Penyihir itu memanfaatkan celah dengan kata-kata manis dan merampas simbol dunia ini dari Maisy. Namun di sana juga muncul kekeliruan, campur tangan pihak ketiga bernama Nina. Karena itu, mungkin penyihir memanipulasi ingatan Nina dan Maisy, lalu menjadikan Nina sendiri sebagai medium untuk menyebarkan kegilaan.

Pertanyaannya terdengar berputar dan tidak langsung, tetapi Nina menjawab tanpa ragu sedikit pun.

“Tudung Merah yang kuberikan pada May-chan, mungkin itu. Padahal susah payah kurebut kembali dari penyihir, tapi sampai sekarang belum bisa kuserahkan lagi pada May-chan. Itu yang membuatku kesal.”

Wajah Nina berkerut kesal saat mengatakan itu.

“Kamu menyerahkannya pada Effie, ‘kan? Berarti sekarang dia yang memegangnya?”

Dari cerita tadi, sebelum kehilangan kesadaran, Nina telah mempercayakannya pada Elfilia.

“Ya. Memang begitu, tapi...”

Jawabannya terdengar tidak tuntas.

“Kamu tidak tahu keberadaannya?”

“Aku tahu. Soalnya...”

Dia memang berkata telah merebut kembali Tudung Merah dari penyihir.

Dengan membayar harga mahal berupa umur yang terpangkas.

Tidak lama setelah mendapatkannya, penyihir itu dibunuh oleh Elfilia, dan Nina pun pingsan. Lalu, keberadaan benda itu setelahnya...

 

“Effie memakannya.”

 

“Hah!? Kenapa bisa jadi begitu!?”

Melihat reaksi Mahiru, Nina pun berkata dengan nada serba salah.

“Ya... bahkan aku sendiri terkejut. Seperti yang kuceritakan tadi, setelah penyihir merenggut ingatanku, kesadaranku samar-samar. Dalam keadaan itu, aku mempercayakan Tudung Merah pada Effie. Aku memohon padanya agar apa pun yang terjadi, tolong sampaikan pada May-chan.”

Sampai di situ masih masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah kelanjutannya.

“Lalu dia memakannya?”

“Ya. Aku tidak bisa berbicara dengan jelas, jadi mungkin pesanku tidak tersampaikan. Dia malah berkata, ‘Wah, ini apa? Kelihatannya enak! Terima kasih, Nina-chan!’ lalu langsung memakannya.”

Kelihatannya enak apanya! Itu bukan makanan!

“Sial! Dasar serigala rakus tolol!”

Syarat untuk memurnikan dunia ini, mengembalikan Tudung Merah ke tangan Maisy.

Untuk memenuhi itu, Tudung Merah harus didapatkan kembali.

Dan untuk itu, dia harus ditarik keluar dari dalam perut Elfilia.

Yang berarti Elfilia harus dibunuh.

Tidak, memang pada akhirnya akan sampai ke situ juga...

Di hari kedua, Elfilia memakan ayahnya. Di hari ketiga, setelah tidak ada lagi makanan, dia akan datang ke rumah ini.

Entah bagaimana dengan Nina yang sahabatnya, tapi Mahiru dan Maisy pasti akan dimakan. Bahkan jika Nina memohon sekalipun, Elfilia mungkin akan tetap memprioritaskan kerakusannya sendiri. Mungkin itu juga akibat dunia yang masih dirasuki kegilaan, yang memperkuat sifat asli Elfilia.

Dalam putaran-putaran sebelumnya pun, tidak pernah ada cara menghentikan Elfilia selain dengan membunuhnya.

Seolah memang itulah skenario mutlaknya.

Lagipula, sejak awal serigala memanglah antagonis dalam dongeng ini.

Membunuh Elfilia.

Selama dia adalah sang serigala, mungkin itu tidak terhindarkan.

Sambil mengepalkan tangan, Mahiru membuka suara pada Nina.

“...Maaf, Nina. Kamu boleh membenciku. Tapi aku harus membunuh Effie.”

Sebenarnya Mahiru pun tidak ingin membunuh Elfilia.

Elfilia adalah gadis yang berhati lembut. Pada putaran kedua, dia sangat banyak membantunya. Meski akhirnya dia tetap dimakan, nafsu makan Elfilia memang ada terlepas dari kegilaan dunia ini, serigala memang sejak awal makhluk seperti itu. Dia tidak membunuh karena niat jahat.

Namun tanpa membunuh Elfilia, cerita ini tidak akan berakhir.

Karena di dunia Tudung Merah, serigala adalah antagonisnya.

“Kalau dibiarkan, aku atau Maisy, bahkan mungkin kamu juga, akan dimakan Effie. Dan meskipun terdengar tidak masuk akal, untuk menyelamatkan dunia ini, Tudung Merah harus dikembalikan pada Maisy.”

Dia mengucapkannya dengan tekad untuk meyakinkan Nina.

Namun tanpa sedikit pun ragu, Nina langsung menjawab.

“Ya, aku mengerti. Aku akan membantu.”

“Hah? Tidak apa-apa? Dia temanmu, ‘kan?”

“Justru karena dia temanku.”

Bukankah jika itu sahabatmu, bahkan jika dia seekor binatang pemakan manusia, kamu akan mengutamakan nyawanya? Saat Mahiru bertanya-tanya dalam hati, Nina melanjutkan.

“Aku pernah diminta oleh anak itu. Katanya, dia mungkin akan terus membunuh banyak orang mulai sekarang, jadi sebelum itu terjadi, dia ingin aku yang membunuhnya. Mungkin dulu dia hanya menganggap manusia sebagai makanan, tapi setelah berteman denganku, mungkin dia mulai memiliki perasaan. Tapi aku menolaknya. Kataku, dibanding orang asing yang tidak kukenal, nyawa Effie jauh lebih penting bagiku.”

Suara Nina terdengar datar ketika mengatakannya.

Namun di balik nada datarnya, di matanya tampak bayangan penyesalan yang begitu dalam.

“Kalau begitu...”

“Setelah itu, dia memohon lagi padaku. Katanya, jika suatu hari nyawanya harus ditimbang di atas neraca, aku harus membunuhnya tanpa ragu. Jangan sampai bimbang, katanya. Karena dia merasa sudah hidup cukup lama.”

Setelah mendengar cerita seperti itu, justru semakin sulit untuk membunuh Elfilia.

Namun tidak ada cara lain. Dan yang lebih penting, mengatakan sebaliknya sama saja dengan menginjak-injak tekad Nina.

“Baiklah. Aku akan membunuh Effie.”

“Ya. Itu sudah benar.”

Membunuh Elfilia.

Keputusan itu telah diambil, tetapi bukan berarti mudah melaksanakannya. Pada putaran keempat, Mahiru telah menyaksikan sendiri kekuatan Elfilia saat berubah menjadi serigala, dan tidak sekali pun dia mampu membayangkan kemenangan.

Satu-satunya saat serigala itu berhasil dikalahkan adalah pada putaran ketiga. Saat itu, Maisy menebasnya dengan gunting raksasa dan merenggut nyawanya. Tentu saja, itu terjadi ketika Maisy berada dalam kondisi mengamuk.

Tubuh serigala itu bahkan tidak mempan oleh satu tembakan senapan berburu. Namun serangan gunting milik Maisy mampu mengantarkannya pada kematian.

Terobosan ada di sana, tidak mungkin di tempat lain.

“Maisy, kamu bisa mengalahkan serigala itu?”

“Apa!? Kamu pikir aku ini apa!?”

Seperti dugaan, tidak mudah.

Pada putaran keempat, ketika dia diserang serigala, reaksinya pun serupa. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda melawan, hanya gemetar ketakutan di hadapan kebrutalan serigala itu. Mungkin Maisy di putaran ketiga memang istimewa.

Namun itu tidak cukup.

“Tudung Merah itu benda yang berharga bagimu, bukan?”

“Ya. Itu hartaku yang paling berharga.”

Benar. Ia adalah simbol dunia cerita ini, dan karena itu pula dipilih sebagai wadah kegilaan.

“Tapi sekarang benda itu ada di tangan serigala.”

“...Ya.”

“Sekarang tidak ada di tanganmu. Kalau itu benar-benar berharga, seharusnya tidak peduli alasannya, kamu tidak boleh melepaskannya.”

“Mahiru-kun!”

Nada bicara Mahiru membuat Nina meninggikan suara.

Namun yang menghentikannya justru Maisy. Dia menenangkan Nina, lalu kembali mendengarkan Mahiru dengan sungguh-sungguh.

“Karena itu, setidaknya kamu harus merebutnya kembali dengan tanganmu sendiri.”

“Dengan tanganku sendiri...”

“Ya. Aku datang ke sini untuk memburu penyihir. Tugasku adalah memurnikan kegilaan yang dia sebarkan. Tapi, protagonis dunia cerita ini bukan aku. Bukan orang lain. Melainkan kamu, Maisy.”

Bukan seorang putri, bukan pula gadis desa tanpa nama, Maisy tanpa diragukan adalah tokoh utama dari kisah Tudung Merah ini.

“Aku.. . tokoh utamanya...”

“Serigala itu bisa dikalahkan. Kamu punya kekuatan yang ditetapkan untuk melakukannya.”

“Benar juga... Aku sudah minta tolong menyelamatkan Kakak, lalu berharap serigala juga dibereskan... ternyata aku terlalu bergantung.”

Maisy menepuk kedua pipinya keras-keras untuk menyemangati diri.

“Aku akan mengalahkan serigala itu dan merebut kembali Tudung Merah!”

“Ya, begitu semangatnya. Tentu saja aku tidak berniat menyerahkan semuanya padamu. Aku yang akan maju lebih dulu dan bertarung habis-habisan. Tapi pada suatu titik, kekuatanmu pasti dibutuhkan. Itu saja yang harus kamu ingat.”

Maisy pernah membunuh serigala itu dengan gunting.

Seperti dalam dongeng Tudung Merah yang mengisahkan perut serigala dibelah, mungkin yang benar-benar penting adalah gunting itu sendiri. Di dunia ini, bisa jadi hanya guntinglah yang mampu melukai serigala.

Kalau begitu, ada pilihan bagi Mahiru untuk menggunakan gunting raksasa itu sendiri.

Namun masalahnya adalah kemungkinan bahwa serigala hanya bisa dilukai jika gunting itu digunakan oleh Maisy. Kemungkinan itu sangatlah besar.

Karena itulah dia harus memastikan tekad Maisy.

Jika pada saat genting kakinya gemetar dan tidak mampu bergerak, semuanya akan sia-sia.

Dengan demikian, pembahasan tentang rencana penaklukan serigala pun dimulai.

“Baik... pertama-tama, kita harus mencari cara untuk menahan gerakannya.”

“Memangnya bisa? Kekuatan anak itu benar-benar di luar nalar.”

“Karena itu kita akan memikirkan caranya sekarang.”

Baik Mahiru maupun Maisy yang menggunakan gunting, menghadapi serigala dalam kondisi penuh tenaga secara langsung terlalu berisiko. Yang paling pasti adalah melumpuhkan pergerakannya. Sebagai manusia, mereka harus menggunakan akal.

“Aku sudah punya gambaran cara membunuh Effie. Senapan berburu saja tidak mempan, tapi gunting itu seharusnya bisa melukainya.”

Mahiru melirik gunting raksasa yang tersandar di samping perapian.

“Itu hanya semacam jimat, lho.”

“Kalau cuma jimat, ukurannya terlalu berlebihan. Ada masa ketika benda itu benar-benar membunuh serigala. Bukannya karena itu lalu dianggap sebagai jimat?”

“Aku tidak tahu ada cerita seperti itu atau tidak...”

“Yang pasti, benda itu pasti punya efek. Percayalah padaku.”

“Aku percaya pada Mahiru-san! Tidak ada untungnya Mahiru-san berbohong di sini.”

“Yah, memang tidak ada petunjuk lain. Jadi kita harus menahannya dulu, ya. Tidak mudah, tapi sepertinya hanya itu caranya.”

“Ya. Karena itu, aku butuh bantuan pemikiran kalian berdua.”

Menahan gerakan serigala, lalu mengakhirinya dengan gunting raksasa, membelah perutnya, dan mengambil kembali Tudung Merah.

Tahap pertama adalah rintangan terbesar. Mahiru dan yang lain mulai menyusun strategi untuk menghentikan pergerakan serigala, sebisa mungkin meminimalkan risiko. Bahkan jika pada akhirnya Maisy harus mengayunkan gunting itu sendiri, mereka ingin memastikan dia bisa melakukannya tanpa keraguan.

 

* * *

 

Dan hari ketiga pun tiba.

Jika tanpa campur tangan Mahiru, pergerakan Elfilia seharusnya tidak berbeda dari putaran ketiga, sehingga serigala itu kemungkinan akan muncul menjelang senja.

Mereka memasang serangkaian jebakan untuk menyambutnya, tetapi melihat pemandangan di depan mata, Mahiru tidak bisa menahan kegundahan.

“Serius... apa dia bakal kena jebakan sejelas ini?”

Di dapur terpasang jerat berbentuk lingkaran dari tali kawat. Begitu talinya ditarik, lingkaran itu akan mengencang dan menangkap apa pun yang berada di dalamnya, jebakan klasik. Mekanismenya sama seperti laso yang digunakan koboi. Talinya diambil dari gudang, dan Maisy dengan cekatan membentuk lingkarannya.

“Tenang saja. Effie itu bodoh sekali. Apalagi kalau lagi lapar.”

“Kalau begitu, kita kamuflasekan saja!”

Melihat Mahiru yang tetap tidak yakin meski sudah mendengar Nina, Maisy berlari kecil ke dapur. Dia mengambil sebuah karung sebesar bayi dari rak, lalu merobeknya dengan sekuat tenaga.

Sekejap terdengar bunyi “buf!” dan pandangan mereka memutih. Isi karung itu rupanya tepung terigu, yang ditaburkan begitu saja hingga menyelimuti seluruh ruangan dengan warna putih. Memang, lantai dan tali jerat kini tertutup putih, sehingga sedikit banyak tersamarkan. Namun...

“Bukannya malah makin aneh? Satu ruangan penuh tepung begini jelas mencurigakan.”

“Tidak apa-apa. Effie tidak punya akal sehat untuk hal-hal seperti itu.”

“Justru itu yang bikin aku makin cemas...”

Di balik posisi jebakan, Mahiru akan bersiaga untuk memancing serigala masuk. Meski ada kemungkinan serangan terakhir akan diserahkan pada Maisy, pertempuran utama tetap akan ditangani Mahiru. Dia tidak mau membiarkan para gadis bertarung di garis depan, dan meski dia menerima perannya, entah kenapa dia tidak merasa ini adalah rencana terbaik.

“Kalau begitu, apa ada cara lain yang lebih bagus?”

“Yah, itu sih...”

“Tenang saja. Aku yang akan mengarahkannya dengan baik. Aku tidak akan membiarkan May-chan mengambil peran berbahaya. Apa pun yang bisa kulakukan, akan kulakukan.”

“Kakak ini terlalu protektif. Aku juga bisa bergerak, lho. Dan aku sudah siap bertarung melawan serigala!”

“Tidak boleh. Bagaimana kalau kamu terluka?”

“...Jadi kalau aku yang terluka tidak apa-apa?”

Jika bahkan senapan yang dipegang Mahiru tidak mampu melukai serigala, maka pisau biasa pun jelas tidak akan berguna. Artinya, satu-satunya cara adalah membatasi gerakannya, dan itu pun bukan hal mudah. Mereka tidak punya waktu membuat jebakan besar, juga tidak punya bahan atau senjata yang layak. Andaikan saja ada granat kilat, mungkin akan lebih mudah menangkapnya.

Tentu saja, jebakan ini bukan satu-satunya persiapan mereka.

Meski begitu, kecemasan tidak kunjung reda. Rasanya seperti ada strategi yang lebih baik untuk menjebak serigala itu, tetapi dia tidak menyadarinya. Pikiran itu terus mengusiknya.

“Percayalah! Kalau terpaksa, serigala itu akan kubelah jadi dua! Hehe... aku sudah tidak sabar memperlihatkan teknik guntingku yang anggun pada Mahiru-san!”

Seolah membaca isi hatinya, Maisy memperlihatkan deretan giginya yang putih sambil tersenyum lebar.

“Terima kasih. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga supaya tidak sampai ke situ.”

Mereka sudah sampai sejauh ini.

Kebenaran telah terungkap, Nina berhasil kembali, dan bahkan setelah ingatannya pulih, Maisy tetap menatap ke depan. Yang tersisa hanya mengalahkan sang antagonis, serigala itu.

Apa pun yang terjadi, mereka harus merebut kembali Tudung Merah dan mengakhiri lingkaran ini untuk selamanya.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Mahiru. Kalau perlu, dia rela kehilangan satu lengannya, asalkan Maisy tidak terluka. Kalau tidak, semua perjuangan hingga titik ini tidak akan berarti.

“Tenang saja. Jangan lihat aku begini, aku cukup kuat, tahu.”

Dia ingin menjadi kuat.

Dalam empat putaran ini, rasa takut pada kematian telah memudar.

Datang ke dunia ini membuatnya belajar betapa ketakutan dapat melumpuhkan gerak. Sebaliknya, jika dia mampu menjinakkannya, dia bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Bukan karena putus asa, melainkan karena kini dia sedikit memahami jarak antara dirinya dan kematian.

Dan dia tidak berniat kalah.

Saat memejamkan mata, yang terbayang adalah wajah Maisy yang putus asa. Ingatan tentang tubuhnya yang diincar Olivia, tentang ayah yang menyiksanya, tentang Nina yang menghilang, dan Maisy yang kehilangan kewarasannya.

Ketika dia membuka mata, yang ada di hadapannya adalah Maisy yang tersenyum lembut.

Dia tidak akan membiarkan senyum itu ternoda lagi. Dia kembali meneguhkan tekad.

Matahari mulai condong ke barat. Waktunya hampir tiba.

Mahiru, Maisy, dan Nina mengambil posisi masing-masing.

Nina duduk di kursi goyang di ruang tamu sebagai umpan. Maisy menunggu di tempat yang dapat menyamarkan baunya agar tidak terendus serigala. Mahiru bersembunyi, bersiap memberi pukulan mematikan.

Jika sama seperti putaran ketiga, serigala akan masuk melalui jendela kamar Nina.

Rumah itu diselimuti keheningan. Ketegangan membuat tenggorokan seseorang menelan ludah.

Mereka hampir lupa bernapas, memusatkan seluruh indra.

Dan seperti firasat yang menjadi kenyataan, serigala itu pun datang.

Dumdum! Brak! Prang!

Dengan suara benda hancur, sosok binatang berwarna gelap malam muncul sambil meneteskan air liur. Tubuhnya besar, dua kali ukuran wujud penyihir. Taringnya mampu menghancurkan tulang dengan mudah, cakarnya tajam, dan mata merah gelapnya berkilat buas sementara perutnya menggeram lapar.

Dengan gerakan kesal, dia mencabik tirai yang terlilit menggunakan cakarnya yang tajam, lalu menyingkirkan pecahan kaca.

Dia menggerak-gerakkan hidungnya, mengendus bau mangsa, lalu menyeringai.

Serigala itu pertama kali berhadapan dengan Nina yang duduk di kursi goyang.

“Effie, sudah lama ya.”

“Nina-chan! Lama tidak bertemu! Hmm, baumu berubah ya?”

“Benarkah? Aku sendiri tidak menyadarinya.”

“Oh begitu. Bau yang dulu juga enak sih, tapi yang hari ini juga tidak buruk.”

Tampaknya benar mereka berteman, karena keduanya langsung berbicara dengan akrab.

Melihat Elfilia yang telah berubah menjadi serigala tidak langsung menerkam makanan di hadapannya adalah pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kalau Mahiru yang berada di situ, mungkin sudah dimakan tiga kali. Dalam kondisi seperti ini, kata-kata tidak akan sampai kepada Elfilia.

“Ngomong-ngomong, Effie lapar lagi ya?”

“Iya, sudah tidak tahan. Ternyata ini rumah Nina-chan, ya. Repot juga, Nina-chan ‘kan temanku, jadi aku tidak ingin memakannya. Andai saja ada orang lain selain Nina-chan.”

“Begitu ya. Sayangnya, di rumah ini tidak ada orang lain selain aku.”

“Kalau begitu, terpaksa harus makan Nina-chan. Aku tidak mau makan teman, tapi katanya teman itu juga enak. Tapi berbohong itu tidak baik, lho.”

“Apa maksudnya?”

“Ada, ‘kan? Satu orang lagi.”

Elfilia berkata sambil mengendus-endus. Dia mengusap perutnya yang berotot, lalu mengalihkan pandangannya ke lorong menuju kamar Maisy dan yang lain, ke dapur, ke luar jendela, ke langit-langit, dan ke perapian.

“Ah, mungkin cuma perasaanmu saja.”

Kemudian dia berhenti bergerak, seolah telah menemukan lokasi mangsanya.

“Bohong. Soalnya aku bisa mencium baunya... iya, ‘kan?”

Dengan mata merah menyala berkilat, Elfilia menoleh ke arah belakangnya secara menyilang.

Dan pandangannya bertemu dengan Mahiru yang bersembunyi di dapur sambil membidikkan senapan berburu.

“Ck...!”

Keringat dingin langsung membasahi tubuhnya. Tangan yang menggenggam senapan menegang, dadanya terasa sesak. Tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi di luar perkiraan, Mahiru berulang kali mengingatkan dirinya dalam hati untuk menahan gejolak emosinya.

Elfilia menendang lantai. Papan lantai hancur tidak mampu menahan dorongan itu. Dengan daya ledak yang mustahil, dia melesat mendekati Mahiru. Dia melompat ke atas meja konter yang memisahkan mereka, menginjak keranjang berisi piring yang telah dicuci hingga jebol. Suara pecah terdengar, pecahan keramik beterbangan. Tanpa menghiraukan serpihan yang memantul, Elfilia mendarat tepat di depan Mahiru. Tepung yang ditaburkan Maisy beterbangan ke udara, membuat Mahiru terbatuk ringan.

“Bau kamu aneh sekali. Kelihatannya enak. Aku ingin memakannya. Kelihatannya enak. Aku tidak sabar.”

Mahiru menodongkan moncong senapan ke arahnya, tetapi Elfilia tidak menunjukkan sedikit pun tanda gentar.

Sama seperti pada putaran keempat, Elfilia memahami betul seberapa besar daya hancur senapan itu, bahwa senjata tersebut tidak akan berpengaruh padanya, dan bahwa bagi manusia, itu adalah senjata dengan daya serang tertinggi.

Dia lengah.

Dia terlalu percaya diri bahwa kekuatan manusia tidak akan pernah mampu membunuh seekor serigala. Manusia hanyalah makanan baginya. Dia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya berada di pihak yang diburu.

“Kamu pikir satu-satunya yang bisa mengancammu cuma rasa lapar, ya?”

“Akhir-akhir ini banyak hidangan lezat, aku senang sekali.”

Barangkali yang ada di kepala Elfilia hanyalah seperti apa rasa Mahiru nanti. Dia menatap seluruh tubuh Mahiru seolah sedang menilai kualitas barang, lalu menyeringai. Tanpa mengindahkan senapan itu, Elfilia melangkah lagi mendekat. Air liur yang menetes membasahi celana Mahiru.

“Seharusnya kamulah yang diburu manusia, dasar anjing.”

“Bahasa seperti itu tidak baik, tahu? Makanan ya bersikaplah seperti makanan, oke?”

Jarak mata dan hidung.

Mahiru membalas tatapannya hanya dengan keberanian palsu, lalu berteriak,

“Sekarang, tarik! Nina!”

Perangkap tali logam yang telah dipasang sebelumnya. Elfilia telah melangkah masuk ke dalam jangkauannya. Saat Maisy mulai menaburkan tepung sebagai kamuflase, Mahiru sempat meragukan kewarasannya, tetapi ternyata itu cukup membantu.

Begitu Nina menarik tali sekuat tenaga, lingkaran yang mengelilingi kaki Elfilia seketika menyempit dan mengikat kedua kakinya. Keseimbangannya terenggut, Elfilia terempas dan menghantam lantai dengan dagu lebih dulu.

“Ahguh...!?”

Mungkin dia belum mengerti apa yang terjadi. Tersungkur oleh benturan mendadak, Elfilia terdiam sejenak. Tepat di depan mata, dia tergeletak tidak bergerak, momen sesaat ini adalah kesempatan emas.

Kalau memburu monster raksasa, inilah satu-satunya titik yang bisa ditargetkan!

Mahiru melempar senapannya, lalu mencabut dua bilah pisau. Wajah Elfilia berada dalam jarak yang bisa dijangkau tangan. Jarak pasti kena. Dia menggenggam kedua pisau dengan posisi terbalik dan mengayunkannya ke arah sepasang mata merah menyala itu.

“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”

Elfilia menutup wajahnya dengan kedua tangan, melengkungkan punggungnya seperti singa laut, lalu menjerit keras.

Kedua pisau itu menancap tepat di kedua mata Elfilia. Kulit luarnya memang memiliki daya tahan yang bahkan mampu menahan peluru, tetapi ujung pisau itu menembus kornea dan menusuk bola matanya.

Mahiru, yang diliputi ketegangan hingga keringat dingin membasahi tubuhnya, segera mengalihkan pandangan kepada Nina.

“Serahkan padaku!”

Begitu memahami maksud Mahiru, Nina meraih tali lain yang berbeda dari tali pengikat Elfilia. Ujung satunya telah diikatkan pada bagian atas lemari piring. Saat Nina menariknya sekuat tenaga, lemari itu roboh ke arah Elfilia yang tengah berjongkok sambil menutup wajahnya.

“Gugh...!?”

Lemari yang telah diisi tanah dan batu hingga seberat mungkin itu tanpa ampun menghimpit tubuh Elfilia. Suara kaca yang pecah melengking tinggi, disusul dentuman keras yang menelan segalanya.

Kehilangan pijakan secara mendadak dan penglihatannya tertutup membuat Elfilia dilanda kebingungan. Di bawah himpitan massa berat yang runtuh menimpanya, tampaknya dia pun tidak mampu bergerak. Kedua kakinya yang terikat kencang di pergelangan meronta-ronta, sementara kedua tangannya bergerak seolah mencari pegangan. Cakar yang diayunkan menggores dinding kayu, meninggalkan bekas luka panjang.

Nina menggenggam tali logam yang mengikat kedua kaki Elfilia dan menariknya sekuat tenaga. Agar tidak terseret, dia menahan dengan seluruh kekuatan tubuh bagian bawahnya, memeluk tali yang telah melilit lengannya.

Mahiru bangkit berdiri. Dengan menjadikan lemari yang menghimpit Elfilia sebagai pijakan, dia bergerak ke sisi tempat Nina berada. Dia meraih gunting raksasa yang disandarkan di meja konter.

Dengan ini, aku bisa memastikan apakah tanganku sendiri mampu membunuh serigala itu!

Dia membuka gunting tersebut. Mengincar lengan kanan yang meronta hendak menyerangnya, dia mengayunkan bilahnya seolah menghantam dengan keras. Sensasi keras menghantam tulang terasa di tangannya. Di ujung bulu hitam itu, darah segar memercik tipis.

“Sial, susah banget dipakai! Ini senjata terlalu gaya buat dipakai bertarung!”

Tampaknya, bahkan dengan menggunakan gunting itu, Mahiru tetap bisa melukai serigala. Namun hasilnya terlalu kecil. Jangankan memutus satu lengan, goresannya pun tidak seberapa. Entah karena Mahiru memang kurang kuat, atau cara memakai gunting itu yang salah, atau memang kekuatan aslinya hanya bisa keluar jika Maisy yang menggunakannya.

“Matilah!”

Mahiru menutup gunting itu, lalu menggunakannya seperti tombak, menghujamkan ujung bilahnya berulang kali. Sasarannya adalah bahu Elfilia. Jika satu lengan bisa diputus, kekuatan tempurnya pasti akan turun drastis. Berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali. Dengan suara basah yang menjijikkan, dia terus menusuk.

“Kejam... kejam sekali... kenapa kalian melakukan ini?”

Elfilia mengerang dengan suara lemah. Dia berhenti menggerakkan tangan dan kakinya, terkulai di lantai. Darah merah kehitaman mengalir dari bahunya, semakin lama semakin melebar, membasahi sepatu Mahiru.

Elfilia tampak telah menyerah dan terbaring lunglai.

Namun rasa lega itu hanya sesaat. Mahiru menyadari ada yang ganjil.

Elfilia mengertakkan gerahamnya kuat-kuat, tubuhnya bergetar hebat. Terdengar bunyi tidak menyenangkan, seperti jaringan tubuh yang tersusun ulang... ya, seolah dia sedang mengumpulkan tenaga.

“Lepaskan talinya! Nina!”

Firasat buruk menjalar ke seluruh tubuhnya. Mahiru spontan melompat mundur sambil berteriak.

“...Eh?”

Bersamaan dengan suara Nina yang terdengar lengah, Elfilia bangkit mengamuk dengan bulu berdiri.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...!”

Otot-ototnya mengalir dan berkontraksi, membuat seluruh tubuhnya memantul bangkit seperti pegas. Hentakan itu menarik tali yang melilit lengan Nina, menyeret tubuhnya.

“Kyaa...!?”

Tidak mungkin dia mampu menahan dorongan mendadak itu. Kedua kaki Nina terangkat dari lantai, dan setelah sensasi melayang sesaat, tubuhnya terbanting ke meja dapur.

“Kakak!?”

Melihat itu, Maisy meloncat keluar dari dalam perapian. Semula dia memang direncanakan untuk bersembunyi di sana sampai Elfilia berhasil diikat, tetapi mendengar jeritan Nina, tampaknya dia tidak sanggup lagi diam.

Gaun putihnya kini menghitam oleh arang, begitu pula pipinya.

Namun Mahiru tidak punya ruang untuk mengkhawatirkan Nina.

Elfilia telah berdiri tepat di depannya. Melihat tangan kiri yang terangkat tinggi, Mahiru melemparkan gunting itu. Secara refleks dia menjatuhkan tubuhnya ke kanan, seolah menubruk ke arah Elfilia. Di sudut penglihatannya, lengan sebesar batang kayu melintas, cakar setajam bilah menggores udara. Dia merasakan panas menyengat di pipinya, lalu beberapa saat kemudian tubuhnya dihantam benturan keras. Rasa sakit datang menyusul. Itu berarti dia masih hidup. Dengan selisih tipis dia lolos dari maut. Mahiru mengusap darah yang mengalir dari pipinya, lalu melirik ke arah Elfilia.

Elfilia sudah menghadap ke arahnya, jelas mengenali keberadaannya.

Seharusnya dia tidak bisa melihat karena kedua matanya telah dihancurkan oleh pisau...

Jadi begitu, penciumannya!

Elfilia tadi mengatakan bahwa Mahiru memiliki bau yang aneh. Ditambah lagi, Maisy yang bersembunyi di dalam perapian kini dipenuhi jelaga. Wajar saja jika Mahiru yang menjadi sasaran.

Namun itu jauh lebih baik daripada perhatian Elfilia tertuju pada Maisy. Dalam perburuan Elfilia, Maisy bisa menjadi kartu truf. Terlepas dari itu semua, Mahiru telah bersumpah untuk melindunginya.

Mahiru segera berlari. Targetnya adalah jendela. Dia menyilangkan kedua lengan di depan wajahnya dan menerjang sekuat tenaga.

“Uooooooohhhhhh...!”

Hampir bersamaan antara tubuh Mahiru yang menghantam jendela hingga kaca pecah dan terjangan Elfilia yang akhirnya menjangkaunya. Di lengannya terasa sensasi ringan saat kaca hancur, namun di punggungnya menghantam keras benturan kepala Elfilia. Tubuh mereka terjerembap bersama, dan Mahiru terlempar keluar rumah.

“Mahiru-san...!?”

Dalam posisi tertekan di bawah Elfilia, Mahiru buru-buru merangkak menjauh. Saat berdiri, pergelangan kaki kirinya berdenyut nyeri. Sepertinya terkilir aneh saat terjatuh. Bagian tubuh lainnya juga terasa sakit, tetapi adrenalin yang meluap membuatnya tidak peduli, selama tubuhnya masih bisa bergerak, itu sudah cukup.

Elfilia segera bangkit dan mengayunkan lengan kirinya, mendekat.

“Aku lapar, aku lapar, aku lapar sekali...!”

Menahan dorongan untuk membelakangi dan lari, Mahiru memusatkan perhatian pada gerakannya.

Akibat serangan gunting tadi, lengan kanan Elfilia tampaknya tidak bisa terangkat. Meski masih tersambung, darah mengucur deras dari bahunya, dan lengannya terkulai lemas.

Dengan begitu, arah serangannya jadi lebih mudah diprediksi.

Lengan kiri itu diayunkan turun.

Pada saat yang sama, Mahiru menghindar dengan gerakan seperti belly roll. Dia segera berbalik menghadapnya lagi dan menghindari uppercut besar berikutnya dengan satu langkah mundur cepat.

“Sudahlah, cepat dimakan saja. Ini aneh. Makanan kok melawan.”

Perut Elfilia berbunyi keras, bergemuruh.

Mahiru yakin refleks dan kemampuan fisiknya di atas rata-rata. Namun itu hanya jika dibandingkan dengan manusia. Elfilia, meski kedua matanya telah dihancurkan dan satu lengannya tidak berfungsi, kekuatan dan kecepatannya tetap utuh. Tidak terlihat sedikit pun melemah. Mungkin memang melemah, tetapi perbedaannya terlalu jauh untuk bisa dirasakan. Jurang kemampuan fisik antara Mahiru dan Elfilia begitu besar.

Namun bukan berarti semua cara telah habis.

Mahiru tidak keluar rumah tanpa rencana.

Peluang untuk membalikkan keadaan masih ada.

Elfilia kembali menerjang. Mahiru mengerahkan tenaga di tubuh bagian bawah agar bisa segera melakukan manuver balasan, namun nyeri tajam menusuk pergelangan kakinya.

“Sial...!”

Saat dia mendongak, cakar berkilau terang sudah meluncur turun ke arahnya.

Namun justru karena dia kehilangan mendadak keseimbangan, serangan Elfilia meleset dari sasaran utama. Cakarnya merobek lengan kiri Mahiru yang refleks melindungi kepala. Rasa panas membakar. Darah merah segar muncrat, dan lututnya jatuh menyentuh tanah. Hoodie kesayangannya terkoyak rapi, memerah oleh darah, dia tidak punya keberanian untuk melihat lebih jauh.

Di hadapannya berdiri binatang hitam legam yang menutup cahaya matahari.

“Mahiru-san...!!”

Saat menoleh ke arah suara itu, dia melihat Maisy berlari sambil mengarahkan ujung gunting raksasa.

Di belakangnya, Nina yang memegangi dahinya yang berdarah berusaha meraih Maisy. Dia mungkin mencoba menghentikannya, tetapi terlambat.

Elfilia yang hendak menerkam Mahiru menggerakkan telinganya dan mengendus-endus. Perhatiannya beralih ke arah suara dan langkah kaki Maisy.

Sebagai satu individu baru, sebagai mangsa, dia mengenali kembali Maisy yang berbau jelaga.

“Haaahhhhh...!”

Maisy berteriak sekuat tenaga dan menyerbu.

Namun sebelum ujung gunting itu bisa menusuk Elfilia, senjata itu dengan mudah ditepis jatuh.

Tidak bisa. Dalam kondisi Maisy saat ini, pertarungan langsung melawan serigala mustahil dimenangkan. Dia bukan tandingan. Saat ini Maisy hanyalah seorang gadis biasa dengan kekuatan biasa.

“...!?”

Di hadapan kekuatan lengan, tubuh raksasa, dan tekanan mengerikan itu, Maisy menahan napas.

“Ahh, tadi aku tidak sadar, tapi kamu juga harum sekali. Kelihatannya sangat lembut. Pasti enak.”

Elfilia menyeringai, air liur menetes. Cakarnya berkilat saat dia perlahan mengangkat lengannya.

“May-chan!!”

Jeritan Nina melengking.

Maisy terpaku di tempat, seolah tubuhnya terkunci.

“Sialan...!”

Di saat itu, Mahiru menendang tanah dan melesat. Tanpa berpikir, dia menempuh jarak terpendek menuju Maisy. Dia memeluknya untuk melindungi, dan pada saat yang sama rasa sakit tajam merobek punggungnya. Darahnya sendiri membasahi pipinya.

“Gah...!?”

Dengan gerakan seperti tebasan diagonal, punggungnya disayat cakar Elfilia.

“M-Mahiru-san...?”

Napasnya tidak teratur. Mungkin hanya daging yang sedikit terpotong. Bukan luka fatal. Namun rasa sakit membuat pikirannya kacau. Di dalam pelukannya, Maisy menatapnya cemas, suaranya gemetar. Dia ingin berkata bahwa semuanya baik-baik saja, ingin menenangkannya, tetapi suaranya tidak keluar dengan benar.

“Mahiru-san, Mahiru-san...!!”

Maisy melepaskan diri dari pelukannya dan, tanpa memedulikan pakaiannya yang memerah oleh darah, memeluk Mahiru. Air mata menggenang di sudut matanya saat dia memanggil namanya.

Tidak jauh dari mereka, Elfilia berdiri tegak dengan cakar berlumur darah merah kehitaman.

“Akhirnya. Akhirnya bisa makan juga. Katanya rasa lapar adalah bumbu terbaik. Kamu pasti sangat lezat.”

Jika dibiarkan, mereka akan tercabik bersama dan langsung menuju perut Elfilia. Dia harus berdiri. Namun tubuhnya tidak mau menurut.

“Mahiru-san, kenapa? Tidak... baru saja kita merebutnya kembali. Kakak juga sudah kembali dan kita akan menjalani hari-hari bahagia lagi. Mahiru-san yang mengembalikannya untukku, tapi lagi-lagi semuanya direnggut secara tidak masuk akal... lagi-lagi seperti ini...!”

Maisy menatap telapak tangannya yang memerah oleh darah Mahiru, bergumam tidak jelas. Tubuhnya bergetar oleh kesedihan dan amarah. Seolah dia tidak memberi sedikit pun perhatian pada Elfilia yang berdiri tepat di sampingnya.

“Mai...sy...”

Maisy seakan tidak hadir sepenuhnya. Mahiru babak belur. Elfilia, meski kehilangan penglihatan dan satu lengan, masih menyisakan tenaga.

Elfilia menyeringai, yakin akhirnya akan menikmati santapannya. Dia mengayunkan cakar ke arah mangsanya, dan jari-jarinya terbang di udara.

“...Hah?”

Suara kosong itu keluar dari mulut Elfilia.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas apa pun lagi.”

Di tangan Maisy tergenggam gunting yang tadi ditepis. Karena tergenggam itulah, barulah bisa dipahami bahwa Maisy-lah yang memotong jari-jari itu. Meski begitu, apakah dia benar-benar mengayunkan gunting berat dan sulit dikendalikan itu dengan satu tangan, lalu secara tepat memotong jari Elfilia?

“Anjing kecil sebaiknya duduk manis saja, ya?”

Maisy berdiri sempoyongan, lalu dengan gerakan bak pemain akrobat mengendalikan gunting itu dan mengambil posisi siap.

Sosoknya tampak aneh, namun kuat, penuh daya hidup. Brutal, dengan merah darah yang begitu serasi padanya, namun tetap menyisakan sisi seorang gadis. Matanya yang menyipit tajam menembus Elfilia.

“Maisy?”

Bayangan Maisy yang membunuh Mahiru pada putaran ketiga bertumpang tindih di benaknya.

Sosok Maisy yang kehilangan kewarasan dan diselimuti kegilaan.

“Mahiru-san, aku sungguh berterima kasih padamu. Kamu sudah menyelamatkanku dan juga Kakak. Jadi sekarang, giliranku.”

Namun, ada perbedaan yang jelas antara Maisy yang berdiri di hadapannya sekarang dan dirinya yang dulu terjerumus dalam kegilaan.

Dulu, dia tidak tahu harus percaya pada apa, dan pada akhirnya hanya bergantung pada Mahiru sebagai pilihan terakhir. Tapi Maisy yang sekarang memiliki sesuatu yang ingin dia lindungi dengan jelas. Dia memiliki sesuatu yang bisa dia percayai. Dia telah menetapkan sesuatu yang begitu berharga hingga layak dipertaruhkan dengan nyawanya.

“Mari kita bunuh seekor serigala dengan anggun.”

Maisy membuka guntingnya dan menyerang Elfilia. Cakar Elfilia dan bilah gunting beradu, memercikkan bunyi logam kering. Tanpa mengendurkan serangan, Maisy terus mengayunkan gunting dengan gerakan mengalir. Elfilia menangkis semuanya dengan lengan kirinya yang tersisa.

Meski tipis, Maisy yang mendesak. Fakta bahwa Elfilia masih mampu mengikuti gerakan Maisy setelah kehilangan kedua mata dan satu lengan saja sudah di luar nalar, tetapi kini Elfilia bukan lagi monster yang tidak bisa dijangkau. Dia dipojokkan dengan serius.

Merasa jengkel, Elfilia melompat mundur mengambil jarak. Maisy tidak melewatkan celah itu. Dia menyusup masuk, merapat ke jarak dekat, lalu membuka gunting yang diposisikan rendah.

“Huu...!!”

Dengan sekuat tenaga, Maisy mengayunkan guntingnya ke atas. Sebuah garis merah terukir dari pinggang hingga bahu kiri Elfilia.

Serigala itu meringis kesakitan dan buru-buru menjauh dari Maisy.

“Iri, ya. Sekarang kita serasi dengan Mahiru-san, bukan?”

Maisy tidak mengejar. Dia malah menunjuk luka yang baru saja diukirnya dan tersenyum manis.

“Padahal kamu cuma ada untuk dimakan. Makanan kok melawan, itu aneh! Lemah pula!”

Elfilia yang murka menerjang dengan bahunya, mengandalkan tubuh raksasanya.

Maisy menutup gunting dan menahannya seperti perisai. Dia menghimpun tenaga di tubuh bagian bawah dan bertahan, tetapi dalam adu kekuatan murni dia tidak mungkin menang. Dua garis tergores di tanah saat dia terdorong mundur.

“Kuh...!?”

Sudah sejauh ini dipojokkan, namun gerakan Elfilia belum juga melambat.

Tapi tinggal sedikit lagi.

Mahiru menggertakkan gigi dan berdiri tertatih. Dia ingin menjawab perjuangan Maisy yang sendirian menghadapi Elfilia. Dengan tekad itu, dia memaksa pikirannya yang tumpul oleh rasa sakit untuk tetap jernih dan menyapu pandangan ke tanah.

Beberapa meter di depan, dia melihat kunci perak yang ditemukan di kincir air tergeletak di sana, dan dia menghela napas lega dalam hati. Tentu saja kunci itu bukan dibawa Elfilia, Mahiru telah mengeluarkannya dari Grimm Note dan menaruhnya sebagai penanda sebelumnya. Posisinya tidak buruk. Langit masih memihak mereka. Dia ingin mengalihkan perhatian Elfilia ke sana, dan tepat saat itu...

Bang! Suara ledakan memecah pikirannya.

Saat menoleh ke arah suara, dia melihat Nina yang berdarah di dahi sedang membidikkan senapan. Moncongnya mengarah ke langit, asap tipis mengepul darinya. Tembakan untuk mengalihkan perhatian Elfilia.

“Kamu keras kepala sekali, Effie.”

Elfilia yang buta menoleh ke segala arah, tidak mengerti apa yang terjadi.

Sebuah celah terbuka. Sepersekian detik yang bernilai ribuan emas.

Nina menyadari apa yang Mahiru incar. Karena itulah dia memberi dukungan. Menangkap isyarat mata darinya, Mahiru mengerahkan sisa tenaganya. Rasa sakit dan ketakutan ditimpa oleh adrenalin. Sensasi melayang seolah menelan obat terlarang. Dia mengambil jarak ancang-ancang yang cukup, lalu berlari lurus ke arah Elfilia dan menghantamkan bahu.

“Raaaaaaaaaahh...!”

Namun tubuh raksasa Elfilia hanya terdorong sedikit ke belakang. Meski kedua matanya dihancurkan, satu lengannya lumpuh, dan perutnya terkoyak, kekuatan fisiknya tetap utuh.

Elfilia merangkulnya, lalu menancapkan cakar lengan kirinya ke punggung Mahiru. Seperti sedang bergulat. Luka di punggungnya melebar, dia merasakan darah mengalir. Aliran hangat itu merambat di tulang belakang dan membasahi karet celananya. Melihat kunci perak di belakang Elfilia, Mahiru menghimpun sisa tenaga.

“Jatuhlaaaaahhhhh...!”

Kerahkan bahkan tenaga untuk hari esok.

Walau lengannya tercabik, walau kakinya terlepas, demi mencapai akhir sejati.

Di sudut pandangannya, renda putih yang ternoda jelaga berayun.

“Makan tanah sana!”

Tiba-tiba tekanan dari Elfilia terasa jauh lebih ringan. Maisy mengayunkan gunting raksasanya dan memotong tendon Achilles Elfilia. Serigala itu runtuh berlutut. Mahiru merendahkan tubuhnya, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorongnya.

“Ini akhirnya, Elfilia...!”

Sedikit demi sedikit, meninggalkan jejak di tanah, tubuh Elfilia terseret mundur. Mahiru menggertakkan gigi, mengubah setiap sel tubuhnya menjadi tenaga, hanya untuk terus maju.

Dan saat kaki Elfilia menyentuh kunci perak...

Pada saat yang sama, Mahiru merasakan tenaga yang menahannya lenyap seperti kabut.

“A, eh?”

Suara bodoh itu keluar dari mulut Elfilia.

Barangkali Elfilia yang buta itu tidak mengerti apa yang telah terjadi. Yang dia rasakan hanyalah sensasi melayang yang mendadak, disusul benturan keras. Apakah dengan itu dia menyadari dirinya telah terperosok ke dalam lubang jebakan?

Sebuah lubang besar yang menelan tubuhnya hingga ke dada. Satu lengannya telah tertebas, kakinya pun tidak lagi berfungsi sempurna, dan dalam kondisi seperti itu, bahkan tanpa mampu memahami situasi dengan benar, mustahil bagi Elfilia untuk keluar dari lubang ini dengan kekuatannya sendiri.

“Apa ini? Aneh sekali. Tadi rasanya makanannya ada tepat di depan mata...”

Mahiru terduduk dengan rasa lega yang belum sepenuhnya hilang, dan Maisy segera menopangnya.

Nina, mungkin karena lukanya masih terasa nyeri, berjalan perlahan menghampiri Elfilia.

“Kakak... ada yang ingin kamu katakan terakhir kali?”

Nina mengernyit sesaat, wajahnya menyiratkan kepedihan, lalu mengembuskan napas. Seolah memantapkan tekad. Seolah mengeluarkan sisa kelemahan dalam dirinya lewat helaan napas tipis itu.

Dia berjongkok di dekat Elfilia dan dengan lembut mengusap kepalanya.

“Nina-chan...?”

“Maaf ya, Effie. Tapi ini sudah janji kita.”

Saat untuk menimbang nyawa Elfilia di atas timbangan akhirnya tiba.

Dan ketika saat itu datang, nyawa Elfilia harus dianggap lebih ringan daripada apa pun, itulah janji mereka.

“Begini memang yang terbaik, ‘kan?”

“Oh... jadi hari ini, ya.”

Mungkin karena kata-kata Nina mengingatkannya pada janji itu. Mahiru tidak tahu seberapa dalam hubungan mereka berdua, tetapi Elfilia tampaknya menerima akhir ini dengan lapang, menghentikan segala perlawanan.

“Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Sedih rasanya tidak bisa bertemu Nina-chan lagi. Tapi... aku sendiri yang memintanya, bukan?”

Elfilia mengulurkan tangan kirinya kepada Nina.

Nina menyambut tangan itu dan menempelkannya ke dahinya, seperti sedang berdoa.

“Dengan ini... aku tidak akan lapar lagi.”

Usai berkata demikian, Elfilia tersenyum lemah.

Wajahnya damai, seolah tidak ada lagi yang tersisa untuk disesali.

“Maafkan aku. Kamu akan selalu jadi sahabat berhargaku, Effie.”

Setelah mengucapkan itu, Nina berdiri dan membelakangi Elfilia.

Lalu, kilatan gunting raksasa Maisy menyambar, dan leher Elfilia yang menjulur keluar dari tanah tertebas bersih.

Tubuh binatang berwarna malam itu terbelah, darah segar muncrat ke udara.

Pakaian Maisy yang semula hitam legam oleh arang kini ditimpa warna merah menyala.

Wajah Mahiru pun terciprat darah kental; dia menyekanya dengan ekspresi tidak suka.

Namun ini belum berakhir.

Setelah mengalahkan sang serigala, masih ada urusan di dalam perutnya.

Menggantikan Mahiru yang tubuhnya telah remuk-redam, Maisy menarik Elfilia keluar dari lubang jebakan. Tanpa ragu, dia menancapkan gunting ke perutnya dan membukanya lebar-lebar hingga terbelah. Mahiru lebih dulu memanjatkan doa, lalu dengan hati-hati memasukkan tangannya ke dalam perut itu.

“Ada.”

Dia pun menarik keluar tudung merah.

Benda itu memancarkan aura kelam yang mengerikan. Siapa pun yang melihatnya pasti langsung tahu bahwa benda itu terkutuk, jelas merupakan sesuatu yang tidak wajar.

Mungkin inilah kegilaan sang penyihir.

Di ambang kematiannya, sang penyihir telah menanamkan kegilaannya ke dalam tudung merah ini.

Kegilaan yang terlalu kuat tampaknya dapat terlihat oleh mata. Namun dari reaksi Maisy dan Nina, sepertinya hanya Mahiru yang mampu menyadari keberadaan kegilaan itu.

Mahiru membuka Grimm Note, lalu menggunakan kekuatan pemurnian untuk menyingkirkan kegilaan dari tudung merah tersebut.

“Nih, Maisy.”

Dia memeras tudung merah yang berlumur darah dan cairan lambung, lalu mengibaskannya beberapa kali agar airnya berkurang.

Saat hendak menyerahkannya, Maisy hanya berkata, “Hm,” dan menyodorkan kepalanya. Maka Mahiru pun berdiri di belakangnya dan memakaikan tudung itu dengan tangannya sendiri.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan sampai di sini terasa begitu panjang.

Dia telah mati berkali-kali.

Berkali-kali pula dia ingin menyerah.

Namun dia tidak pernah benar-benar menyerah, mungkin karena tokoh utama cerita ini adalah dirinya.

Karena Maisy telah mengajarkannya sesuatu yang begitu berharga, mereka akhirnya bisa mencapai akhir seperti ini.

“Maisy... terima kasih.”

Mahiru memakaikan tudung merah itu pada Maisy.

Seketika, aura kelam yang mengerikan itu pecah seolah terurai, dan cahaya yang menyilaukan memancar keluar.

Cahaya itu lebih hangat, lebih lembut, dan lebih penuh kasih dibanding saat pemurnian tadi.

Ia memenuhi ruangan seolah memberi berkah, meluber keluar, menyusuri hutan, dan mungkin akan menjangkau kota, bahkan menyebar ke seluruh dunia. Meluas seakan menjilat dan melarutkan kegilaan yang ada.

Mengembalikan apa yang seharusnya, ke tempat yang semestinya.

Tudung merah itu kembali kepada sang tokoh utama cerita ini, Maisy.

Dan dengan demikian, kisah ini pun mencapai akhir sejati yang telah mereka dambakan.


Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar