Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 2: Cinderella - Tempat Pembukaan III

“Uhukk... uhukk... gah, aakh!”

Mahiru terbatuk-batuk hebat. Kedua tangannya bertumpu pada tanah, dia mual ingin muntah. Dengan panik dia meraup napas untuk menghirup oksigen. Dia meraba-raba lehernya, memastikan tidak ada masalah di sana. Dia berbaring telentang, menarik napas, lalu membuangnya. Dia mulai mengatur napas.

“Sungguh menyedihkan. Kamu gagal lagi mencapai pesta dansa kali ini. Tolonglah jangan mati dengan cara yang biasa-biasa saja. Aku ingin kamu lebih menghargai aspek hiburan, mati sambil menyemburkan darah dengan heboh, menjerit ketakutan, dan lari tunggang langgang. Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya di putaran berikutnya?”

Seperti sebelumnya, si Gembala mengenakan seragam pelayan yang imut. Namun keimutan itu hanyalah pada pakaiannya; kejahatan yang merembes dari dalam diri si Gembala menciptakan ketimpangan yang aneh.

“Wanita keparat. Kamu saja yang coba mati sampai seratus kali.”

“Heh, itu lelucon yang sangat menarik.”

Si Gembala menjentikkan jarinya.

Dua buah kursi bundar tanpa sandaran muncul, dan si Gembala duduk di salah satunya. Dia mengisyaratkan Mahiru untuk duduk juga, tapi Mahiru justru menendang kursi itu sekuat tenaga.

“Sialan.”

“Heh heh, semangatmu yang masih bisa meluap-luap itu memang luar biasa. Kalau sudah tenang, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?”

Meski merasa jengkel dengan gaya bicara si Gembala, Mahiru tetap berusaha mengatur napasnya yang memburu.

Percuma saja melawan si Gembala di sini. Melampiaskan amarah dengan kekerasan hanya akan membuatnya merasa semakin hina. Bukankah dia sudah memutuskan untuk memanfaatkan si Gembala?

Mahiru teringat pada Asahi dan kembali memantapkan tujuannya.

Dia menarik napas dalam-dalam sekali lagi.

“Sepertinya di dunia Cinderella ini, sang Penyihir memang masih hidup. Apa mengalahkannya adalah syarat mutlak untuk menyelesaikan misi?”

Kekuatan yang digunakan wanita berkerudung itu untuk membunuh Mahiru benar-benar tidak bisa dijelaskan dengan logika dunia ini. Itu murni sihir.

Terlebih lagi, Mahiru punya alasan kuat untuk diincar. Waktunya terasa terlalu kebetulan, tepat setelah dia kembali dari nisan itu.

Menanggapi gaya bicara Mahiru yang kasar, si Gembala menyilangkan kakinya dengan raut wajah geli.

“Kalau pun aku memberitahumu cara menyelesaikannya, apa kamu akan percaya? Lagipula, jawabannya bergantung pada apa yang kamu anggap sebagai keberhasilan. Yang kuminta darimu adalah True Ending. Fakta bahwa dunia Cinderella ini masih ada sudah membuktikan bahwa belum ada yang berhasil mencapai akhir itu, ‘kan? Namun, jika yang kamu sebut sebagai keberhasilan adalah sekadar keluar dari dunia Cinderella tanpa kehilangan nyawa, kurasa jawabannya hanya satu. Aku memahaminya setelah melihat apa yang terjadi di dunia Si Tudung Merah.”

Si Gembala mendongak seolah baru saja terpikir sesuatu, lalu memunculkan sebuah hiasan kepala. Dia mengenakannya perlahan, lalu berpose seolah sedang berlagak imut. Mahiru mengabaikannya.

“Kamu hanya perlu bertahan hidup sampai tanggal yang ditentukan.”

“Sama seperti saat harus menyambut pagi hari keempat di dunia Si Tudung Merah?”

“Sedikit berbeda. Di dunia Si Tudung Merah, Penyihir sudah mati. Itulah anomali utamanya. Tampaknya, jika sang Penyihir sudah mati, kamu akan dipaksa keluar dari dunia dongeng setelah kurun waktu tertentu terlampaui.”

Si Gembala melanjutkan tingkahnya dengan membentuk simbol hati di depan dadanya. Sekali lagi, Mahiru mengabaikannya.

“Lalu, karena kali ini Penyihir masih hidup, apa tidak ada jalan keluar selain mencapai True Ending?”

“Tidak, misi ini tetap bisa diselesaikan jika syarat-syarat tertentu terpenuhi. Yang terpenting adalah mengakhiri cerita tersebut. Yah, tapi karena kamu hanya mengincar True Ending, kamu tidak perlu memikirkannya, ‘kan?”

Mengakhiri cerita.

Sebagai contoh, cara yang pernah ditawarkan si Gembala sebelumnya, membiarkan Maisy membunuh Serigala lalu membunuh Maisy, juga merupakan salah satu bentuk akhir cerita. Atau mungkin, sebuah cerita di mana dia menyelamatkan Elfiria alih-alih Maisy pun bisa saja terjadi.

“...Mengalahkan Penyihir adalah keharusan, ‘kan?”

“Jika kamu mengincar True Ending, itu mutlak diperlukan. Namun, lebih dari itu, kamu harus memikirkan makna kalimat ‘kembalikan segala sesuatu ke tempat yang seharusnya’ dalam dunia Cinderella ini.”

Si Gembala berkata dengan nada tidak puas, lalu melempar hiasan kepalanya ke sembarang tempat.

Di dunia Si Tudung Merah, si Gembala mengajukan dua syarat keberhasilan.

Pertama, membunuh Penyihir.

Kedua, menyambut pagi hari keempat.

Meski pada akhirnya syarat-syarat itu keliru, Mahiru sadar bahwa berpikir seolah-olah ada daftar tugas yang jelas layaknya permainan video justru berbahaya.

Menentukan sendiri syarat keberhasilan tersebut adalah bagian dari menaklukkan dunia dongeng.

“Sang Penyihir yang menjadi sumber kegilaan ini harus dilacak, dan Elez Cendrillon yang memegang peran utama pun harus tetap diawasi.”

“Berarti fakta bahwa aku bisa melihat Penyihir kali ini adalah sebuah kemajuan.”

“Bisa juga dikatakan hanya itu satu-satunya kemajuan yang kamu dapat. Seharusnya kamu memajukan alur ceritanya. Belum ada kejanggalan mencolok yang terjadi, dan kamu bahkan belum sampai ke acara utama.”

Acara utama, maksudnya pasti pesta dansa.

Itu juga menjadi targetnya di putaran sebelumnya, namun dia malah terbunuh oleh Penyihir yang muncul tiba-tiba.

“...Aku tahu.”

Si Gembala berdiri lalu menyapukan jemarinya di atas buku.

Aksara cahaya yang meluap dari buku itu menyelimuti Mahiru, menari-nari dengan riang.

“Sekali lagi kutingatkan, tolong utamakan aspek hiburan. Aku pun bisa merasa bosan, tahu. Kuharap kamu mati dengan cara yang lebih menyenangkan, seru, dan menarik untuk ditonton.”

Kesadaran Mahiru perlahan memudar seiring dengan suara si Gembala yang kian menjauh.

Demikianlah, putaran ketiga kisah Cinderella pun dimulai.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar