“Uhukk...
uhukk... gah, aakh!”
Mahiru
terbatuk-batuk hebat. Kedua tangannya bertumpu pada tanah, dia mual ingin
muntah. Dengan panik dia meraup napas untuk menghirup oksigen. Dia meraba-raba
lehernya, memastikan tidak ada masalah di sana. Dia berbaring telentang,
menarik napas, lalu membuangnya. Dia mulai mengatur napas.
“Sungguh
menyedihkan. Kamu gagal lagi mencapai pesta dansa kali ini. Tolonglah jangan
mati dengan cara yang biasa-biasa saja. Aku ingin kamu lebih menghargai aspek
hiburan, mati sambil menyemburkan darah dengan heboh, menjerit ketakutan, dan
lari tunggang langgang. Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya di putaran berikutnya?”
Seperti
sebelumnya, si Gembala mengenakan seragam pelayan yang imut. Namun keimutan itu
hanyalah pada pakaiannya; kejahatan yang merembes dari dalam diri si Gembala menciptakan
ketimpangan yang aneh.
“Wanita
keparat. Kamu saja yang coba mati sampai seratus kali.”
“Heh,
itu lelucon yang sangat menarik.”
Si
Gembala menjentikkan jarinya.
Dua
buah kursi bundar tanpa sandaran muncul, dan si Gembala duduk di salah satunya.
Dia mengisyaratkan Mahiru untuk duduk juga, tapi Mahiru justru menendang kursi
itu sekuat tenaga.
“Sialan.”
“Heh
heh, semangatmu yang masih bisa meluap-luap itu memang luar biasa. Kalau sudah
tenang, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?”
Meski
merasa jengkel dengan gaya bicara si Gembala, Mahiru tetap berusaha mengatur
napasnya yang memburu.
Percuma
saja melawan si Gembala di sini. Melampiaskan amarah dengan kekerasan hanya
akan membuatnya merasa semakin hina. Bukankah dia sudah memutuskan untuk
memanfaatkan si Gembala?
Mahiru
teringat pada Asahi dan kembali memantapkan tujuannya.
Dia
menarik napas dalam-dalam sekali lagi.
“Sepertinya
di dunia Cinderella ini, sang Penyihir memang masih hidup. Apa mengalahkannya
adalah syarat mutlak untuk menyelesaikan misi?”
Kekuatan
yang digunakan wanita berkerudung itu untuk membunuh Mahiru benar-benar tidak
bisa dijelaskan dengan logika dunia ini. Itu murni sihir.
Terlebih
lagi, Mahiru punya alasan kuat untuk diincar. Waktunya terasa terlalu
kebetulan, tepat setelah dia kembali dari nisan itu.
Menanggapi
gaya bicara Mahiru yang kasar, si Gembala menyilangkan kakinya dengan raut
wajah geli.
“Kalau
pun aku memberitahumu cara menyelesaikannya, apa kamu akan percaya? Lagipula,
jawabannya bergantung pada apa yang kamu anggap sebagai keberhasilan. Yang
kuminta darimu adalah True Ending. Fakta bahwa dunia Cinderella ini masih ada
sudah membuktikan bahwa belum ada yang berhasil mencapai akhir itu, ‘kan? Namun,
jika yang kamu sebut sebagai keberhasilan adalah sekadar keluar dari dunia
Cinderella tanpa kehilangan nyawa, kurasa jawabannya hanya satu. Aku
memahaminya setelah melihat apa yang terjadi di dunia Si Tudung Merah.”
Si
Gembala mendongak seolah baru saja terpikir sesuatu, lalu memunculkan sebuah
hiasan kepala. Dia mengenakannya perlahan, lalu berpose seolah sedang berlagak
imut. Mahiru mengabaikannya.
“Kamu
hanya perlu bertahan hidup sampai tanggal yang ditentukan.”
“Sama
seperti saat harus menyambut pagi hari keempat di dunia Si Tudung Merah?”
“Sedikit
berbeda. Di dunia Si Tudung Merah, Penyihir sudah mati. Itulah anomali utamanya.
Tampaknya, jika sang Penyihir sudah mati, kamu akan dipaksa keluar dari dunia
dongeng setelah kurun waktu tertentu terlampaui.”
Si
Gembala melanjutkan tingkahnya dengan membentuk simbol hati di depan dadanya.
Sekali lagi, Mahiru mengabaikannya.
“Lalu,
karena kali ini Penyihir masih hidup, apa tidak ada jalan keluar selain
mencapai True Ending?”
“Tidak,
misi ini tetap bisa diselesaikan jika syarat-syarat tertentu terpenuhi. Yang
terpenting adalah mengakhiri cerita tersebut. Yah, tapi karena kamu hanya
mengincar True Ending, kamu tidak perlu memikirkannya, ‘kan?”
Mengakhiri
cerita.
Sebagai
contoh, cara yang pernah ditawarkan si Gembala sebelumnya, membiarkan Maisy
membunuh Serigala lalu membunuh Maisy, juga merupakan salah satu bentuk akhir
cerita. Atau mungkin, sebuah cerita di mana dia menyelamatkan Elfiria alih-alih
Maisy pun bisa saja terjadi.
“...Mengalahkan
Penyihir adalah keharusan, ‘kan?”
“Jika
kamu mengincar True Ending, itu mutlak diperlukan. Namun, lebih dari itu, kamu harus
memikirkan makna kalimat ‘kembalikan segala sesuatu ke tempat yang seharusnya’
dalam dunia Cinderella ini.”
Si
Gembala berkata dengan nada tidak puas, lalu melempar hiasan kepalanya ke
sembarang tempat.
Di
dunia Si Tudung Merah, si Gembala mengajukan dua syarat keberhasilan.
Pertama,
membunuh Penyihir.
Kedua,
menyambut pagi hari keempat.
Meski
pada akhirnya syarat-syarat itu keliru, Mahiru sadar bahwa berpikir seolah-olah
ada daftar tugas yang jelas layaknya permainan video justru berbahaya.
Menentukan
sendiri syarat keberhasilan tersebut adalah bagian dari menaklukkan dunia
dongeng.
“Sang
Penyihir yang menjadi sumber kegilaan ini harus dilacak, dan Elez Cendrillon
yang memegang peran utama pun harus tetap diawasi.”
“Berarti
fakta bahwa aku bisa melihat Penyihir kali ini adalah sebuah kemajuan.”
“Bisa
juga dikatakan hanya itu satu-satunya kemajuan yang kamu dapat. Seharusnya kamu
memajukan alur ceritanya. Belum ada kejanggalan mencolok yang terjadi, dan kamu
bahkan belum sampai ke acara utama.”
Acara
utama, maksudnya pasti pesta dansa.
Itu
juga menjadi targetnya di putaran sebelumnya, namun dia malah terbunuh oleh Penyihir
yang muncul tiba-tiba.
“...Aku
tahu.”
Si
Gembala berdiri lalu menyapukan jemarinya di atas buku.
Aksara
cahaya yang meluap dari buku itu menyelimuti Mahiru, menari-nari dengan riang.
“Sekali
lagi kutingatkan, tolong utamakan aspek hiburan. Aku pun bisa merasa bosan,
tahu. Kuharap kamu mati dengan cara yang lebih menyenangkan, seru, dan menarik
untuk ditonton.”
Kesadaran
Mahiru perlahan memudar seiring dengan suara si Gembala yang kian menjauh.
Demikianlah, putaran ketiga kisah Cinderella pun dimulai.