Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

The Science Notes by δ and γ Volume 1: Therefore, the first love has been proven - Interlude 2

Selingan: Erythronium japonicum

“Rio, kenapa sih kamu selalu kelihatan sok hebat?”

Saat pertama kali mendengarnya dikatakan langsung di depan wajahku, alih-alih terkejut, rasa lega justru menghampiriku.

Akhirnya mereka mengutarakan isi hati yang sebenarnya. Alasan kenapa aku dibenci dan diabaikan oleh mereka bukanlah karena aku telah melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan.

Bukan karena aku bersikeras melanjutkan survei vegetasi saat gerimis meski cuacanya buruk, bukan karena aku mencoba menambah jadwal kegiatan klub yang hanya dua kali seminggu, dan bukan pula karena aku menolak pernyataan cinta mendadak dari lelaki yang disukai Sana.

Melainkan murni karena aku terkesan sok hebat.

Aku sendiri pun sebenarnya pernah memikirkan kemungkinan itu.

Tentu saja bukan berarti aku membusungkan dada dan berkata, “Aku ini hebat.” Belajar giat demi ujian masuk SMA. Bersedia menjadi ketua kelas saat tidak ada seorang pun yang mau mengajukan diri. Mencalonkan diri sebagai ketua OSIS atas rekomendasi guru. Mengajukan diri menjadi ketua klub sains demi meramaikan kegiatan di sana. Akumulasi dari hal-hal semacam itulah yang membuatku terkesan menampilkan sosok yang sok hebat. Namun, itulah jalan hidupku.

“Kamu selalu membicarakan hal-hal aneh. Rasanya melelahkan sekali kalau mengobrol denganmu, Rio.”

Sana bahkan pernah mengatakan hal itu kepadaku. Itulah alasan kenapa mereka akhirnya bersikap seolah mengabaikanku.

Aku sudah sering mendiskusikan banyak hal tentang sains dengan teman-teman di klub sains. Aku mengira hal itu menyenangkan, namun tampaknya mereka merasakan hal yang berbeda. Niatku hanya ingin mengobrol tentang topik yang kusukai, namun mungkin aku telah mengguyur mereka dengan limpahan pengetahuan secara sepihak dan terkesan menggurui.

Aku merasa sangat sedih karena harus kehilangan teman-teman justru disebabkan oleh hal yang kuanggap menyenangkan. Meskipun statusku adalah ketua klub, aku jadi tidak bisa lagi datang ke kegiatan klub.

“Duh, kamu ini benar-benar tidak becus menjalani hidup, ya. Padahal spekmu tinggi begitu.”

Yuuka membentuk bingkai layar melebar dengan jari-jari kedua tangannya, lalu memosisikan wajahku di dalam bingkai tersebut.

Di jam istirahat makan siang saat kami hanya berdua di belakang gedung SMP. Aku menelan nasi yang sedari tadi kukunyah tanpa gairah.

“Apa aku seburuk itu, ya...”

Yuuka adalah satu-satunya teman yang membuatku tidak perlu repot-repot menyelipkan kata-kata rendah diri seperti “ah tidak juga”. Yuuka tahu banyak tentang diriku. Dia jauh lebih cantik dariku, kemampuan atletiknya luar biasa, dan nilai akademisnya pun hampir setara denganku. Kami berada di angkatan yang sama, namun dia terasa seperti senpai-ku dalam menjalani hidup. Aku selalu bisa menerima pujian dari Yuuka apa adanya.

“Maksudku, kamu terlalu sering memilih hal-hal yang tidak efisien. Aku tidak bilang itu sia-sia, tapi kamu sengaja mengambil jalan yang sulit. Menjadi ketua kelas atau ketua OSIS dengan nilai rapormu, Rio, kamu seharusnya tidak perlu mencemaskan poin internal sekolah sama sekali, ‘kan? Begitu juga dengan klub sains. Berjuang keras di sana hanya akan menambah sisi eksentrikmu saja.”

“Begitu ya,” jawabku setelah meresapinya, lalu melanjutkan. “Tapi klub sains itu berbeda. Aku tidak menganggapnya sebagai beban yang berat. Aku melakukannya karena suka. Yuuka juga bermain basket karena suka, ‘kan? Sama seperti itu.”

Efisiensinya mungkin buruk, dan hal yang kudapatkan mungkin bukanlah poin popularitas, namun perhitungan untung rugi seharusnya tidak ada hubungannya ketika seseorang ingin melakukan hal yang disukainya.

“Mempertahankan hal yang kamu suka itu bagus, tentu saja. Tapi ada juga pilihan untuk tidak menunjukkannya di permukaan. Apa perlu kamu begitu terikat dengan klub sains? Di klub yang isinya cuma anak-anak kuper seperti itu. Kamu tidak perlu memaksakan diri berjuang di sana, Rio. Waktu SD dulu pun, kamu melakukan penelitian sendirian saja, ‘kan?”

Yuuka memang orang yang tegas, namun dia sama sekali bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain. Alasan dia membicarakan anak-anak klub sains seperti itu adalah karena dia sedang mendengarkan keluh kesahku dan memberikan nasihat mengenai masalahku yang dituduh sok hebat oleh teman-teman di klub sains.

“Sendirian saja, ya...”

“Yup. Kamu tidak perlu mengubah jalan hidupmu, tapi lakukanlah dengan sedikit lebih cerdik.”

Pada akhirnya, aku tidak perlu keluar dari klub sains. Sebab tidak lama setelah itu, aku menjadi satu-satunya anggota yang tersisa. Saat masih tahun pertama dan kedua, kami memang diwajibkan untuk bergabung dengan salah satu klub, namun peraturan itu tidak berlaku bagi murid tahun ketiga. Di musim semi, begitu kami naik tahun ketiga, semua orang termasuk para anak laki-laki langsung keluar dari klub.

Kami tidak punyaadik kelas.

“Kalau ada murid baru yang masuk, urusannya ‘kan jadi makin repot. Makanya waktu itu aku mengusir mereka.”

Aku baru mendengar pengakuan itu dari Sana tepat pada hari upacara kelulusan.

 

Bunga katakuri pemberian Del-chan kini sudah tertekan pipih, benar-benar kering dan warnanya pun telah memudar.

Namun, setiap kali melihatnya, kenangan indah itu selalu bangkit kembali. Warna merah muda pucat cerah yang memikat serangga di musim semi.

Namun kupikir, esensi sejati dari bunga katakuri sebenarnya terletak di bawah lapisan tanah.

Pada spesimen herbarium ini, seluruh bagian mulai dari bunga hingga akar terkumpul dengan lengkap. Rimpang yang ramping dan digali dengan hati-hati seolah mengingatkanku pada perjuangan panjang bunga katakuri yang mengumpulkan pati sedikit demi sedikit hanya di awal musim semi.

Delapan tahun.

Itulah waktu yang dibutuhkan sejak benih katakuri berkecambah hingga akhirnya bisa memekarkan bunga. Aku memang tidak tahu bagaimana perasaan tumbuhan, atau lebih tepatnya, tumbuhan yang tidak memiliki sistem saraf seharusnya tidak memiliki perasaan, namun seandainya ada sebuah perasaan yang bersemayam di dalamnya, tidakkah bunga katakuri telah memimpikan hari pembungaan itu selama delapan tahun penuh?

Hari ketika ia bisa memamerkan hasil dari jerih payahnya bertahan di kedalaman tanah selama bertahun-tahun dengan malu-malu di atas panggung musim semi.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#The Science Notes by δ and γ ,#The Science Notes by δ and γ_1 ,
Getting Info...

Posting Komentar