Kata Penutup
Jika kalian mengikutinya satu per satu, selamat
datang kembali. Jika kalian membelinya sekaligus, selamat datang.
Kamachi Kazuma di sini.
Volume ini adalah tentang pelarian Iblis Agung Coronzon!!
...Seperti yang bisa kalian ketahui jika kalian telah membaca Item Volume 4 atau Zashiki Warashi of Intellectual Village Volume 6, saya sebenarnya
sangat suka menulis dari sudut pandang seseorang yang terisolasi dan sedang
dalam pelarian. Dan kali ini pelakunya adalah sesosok iblis yang bukan manusia.
Saya terus membayangkan berbagai cara baginya untuk melarikan diri sambil tetap
membuatnya tampak seperti musuh yang kuat. Dibutuhkan penjahat yang memikat
untuk membuat sang protagonis bersinar, j-jadi bukan berarti saya memihak sang
penjahat atau semacamnya!
Bagian favorit saya saat menulisnya adalah di akhir
Bab 2 ketika ternyata mobil biasa menjadi pilihan terbaik karena semua orang
mencari keberadaan sihir dengan begitu teliti. “Biasa” bukan berarti tidak
berbahaya atau tidak berharga. Hal itu merujuk pada pengetahuan dan teknik yang
telah diterima oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang berguna. Karena tidak
selalu tidak berbahaya, “biasa” adalah alat berbahaya yang bisa melukai orang.
Mungkin kalian sendiri pernah mengatakannya atau mungkin orang lain
mengatakannya kepada kalian, namun bukannya kalian semua pada suatu saat pernah
mendengar hal seperti “Biasanya benda ini bisa melakukan sebanyak ini”.
Untuk pertempuran melawan Coronzon, saya menggunakan
Magick gaya Crowley sebagai bumbu dan kemudian mengakhirinya dengan nasib sial
yang terbentuk secara alami selama pertempuran Kamijou. Coronzon tahu kartu as
itu bisa menang. Hal itu sudah terbukti efektif. ...Di tengah ketegangan
tantangan terbesar dalam hidup kalian, apakah kalian akan memilih opsi aman itu
lagi ataukah kalian akan memutuskan bahwa itu terlalu berbahaya untuk terus
digunakan berulang kali? Manusia memiliki kecenderungan untuk memilih yang
pertama. Saya menulis naskah ini sembari menyadari bahwa saya sendiri mungkin
akan melakukan hal yang sama. Lalu, untuk Dakshina Kalika milik Coronzon, saya mendasarkan
ideku pada istilah-istilah seperti APS
dan hard kill. ...Tentu saja saya
tidak tahu seberapa akurat hal-hal ini sebenarnya, namun kemampuan untuk
menembak jatuh peluru meriam tank yang terbang pada kecepatan Mach 5
memberitahu saya bahwa tank-tank berubah menjadi sesuatu yang benar-benar aneh
di era drone ini. Meskipun hal tersebut tampaknya lebih dimaksudkan sebagai
langkah darurat yang mereka harap tidak pernah perlu digunakan. Berbeda dengan
cara Coronzon membuat dirinya tidak tersentuh sehingga dia bisa mendekati
targetnya secara langsung, meruntuhkan pertahanan mereka dengan serangkaian
serangan, lalu membunuh mereka.
Di sisi kelompok Kamijou, mereka mengalami banyak
kesulitan hanya untuk mencari tahu cara mencari Coronzon yang dalam kondisi
terbaiknya saja sudah menyebalkan, apalagi sekarang saat sedang dalam pelarian.
Mereka tidak bisa menggunakan siapa pun yang seaneh Coronzon (kecuali Alice),
namun mereka memiliki segala yang telah mereka bangun hingga titik itu. Masalah
terbesar bagi saya adalah bagaimana membuat Kanzaki dan yang lainnya
mendengarkan pendapat seorang amatir seperti Kamijou... jadi saya menggunakan
istilah praktis Tsujiura. Bentuk ramalan yang menggunakan hal kasual pertama
yang diucapkan oleh seseorang yang tidak memahami situasi sepertinya menjadi
alat pamungkas untuk menyeret seorang anak SMA amatir ke dalam dunia sihir!!
Selain itu, Accelerator menerima luka fatal dari
serangan jarak jauh, jadi saya juga harus menangani hal itu. Untuk itu saya menggunakan
Isabella yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersinar terakhir kali. Meski
begitu, Isabella tidak menggunakan Voodoo yang semestinya, jadi kalian harus
berhati-hati di sana. Dan jika ada yang akan membangkitkan si Nomor 1, saya
tahu siapa orangnya, jadi saya mengirimkan menara pengawas itu masuk.
Gagasan bahwa Kamijou Touma terputus dari berkah
tuhan karena dia terlahir dengan Imagine Breaker dan hal itulah yang menjadi
penyebab kesialannya telah disajikan jauh di awal seri, namun yang penting
adalah hal ini memberinya kemiripan dengan Coronzon kali ini. Apa perbedaan
antara mereka yang membusuk dan mereka yang tidak? Saya harap kalian memikirkan
hal itu.
Dan saya menggunakan kata-kata Kamijou untuk
memberikan tanggapan kepada Hamazura yang mengatakan terakhir kali bahwa dunia
ini busuk dan harus dihancurkan. Beberapa dari kalian pembaca mungkin setuju
dengan Hamazura saat itu. Jejerkan mereka berdampingan dan kalian seharusnya
bisa melihat perbedaan antara pendirian Kamijou dan Hamazura. Jika kalian
terlahir kembali di dunia lain, apa kalian ingin hidup di dunia yang adil atau
dunia yang tidak adil?
Dan berbicara soal terakhir kali, Shokuhou Misaki
ditinggalkan begitu saja tanpa ampun saat itu, namun dia memastikan untuk
memanfaatkannya sebaik mungkin. Dia hanya muncul dalam satu adegan, namun dia mengambil
sebuah kejadian yang memengaruhi akhir cerita. Faktanya, saya merasa
menggunakan dia sebagai bahan rahasia seperti itu adalah cara terbaik untuk
memanfaatkannya dalam cerita utama Index, tapi bagaimana menurut kalian?
Saya sampaikan terima kasih kepada para ilustrator
saya, Haimura-san dan Itou Tateki-san, serta para editorku Miki-san, Anan-san,
Nakajima-san, dan Hamamura-san. Kelompok pengejar terdiri dari berbagai macam
orang dan Coronzon melarikan diri ke mana-mana, jadi barang-barang serta latar
belakangnya pasti sangat merepotkan. Seperti Distrik 19 yang bertenaga uap atau
kapal induk drone yang terpotong-potong! Terima kasih sekali lagi karena telah
bersabar menghadapi semua ini.
Dan saya sampaikan terima kasih kepada para pembaca.
Bagaimana menurut kalian kisah pengejaran di mana sihir dan sains bercampur
aduk ini? Terima kasih telah terus membaca buku-buku ini!
Sudah waktunya untuk menutup halaman saat ini
sembari berdoa agar halaman buku berikutnya akan dibuka.
Dan saya meletakkan pena untuk saat ini.
Sepertinya Kingsford juga memanfaatkan situasinya
sebaik mungkin.
- Kamachi Kazuma
?
Ruangannya kecil dan gelap.
Satu-satunya pintu di sana sangatlah kokoh dan
terkunci rapat, mengubah ruangan itu menjadi sebuah kotak baja yang tanpa
harapan.
Ada suara berderak, jadi apakah dia sedang dibawa ke
suatu tempat?
Mungkin dia akan dilupakan selamanya.
“...”
Hamazura Shiage duduk dengan punggung bersandar ke
dinding dan kepala tertunduk ke dadanya.
Apa itu tadi?
Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?
Apa mereka akan menerima begitu saja kematian
Coronzon? Dia hanyalah seorang gadis. Gadis kesepian yang tidak mengharapkan
bantuan siapa pun! Namun mereka semua menyebutnya iblis, mengeroyoknya dengan
kejam, bahkan merenggut nyawanya!! Dan sekarang seluruh dunia akan
bersorak-sorai merayakan dan menandai hari ini sebagai hari libur!?
Itu salah.
Akhir seperti ini sangatlah salah.
Andai dia mulai mempertanyakannya, pemikiran lainnya
datang dengan cepat. Dunia di sekitarnya tampak berbeda.
Tidak ada yang namanya keadilan. Yang ada hanyalah
kekerasan dari pihak mayoritas yang memaksakan kehendak mereka kepada orang
lain.
Tidak ada orang yang benar-benar memiliki
kebahagiaan. Itu tidak lebih dari hak orang lain yang kamu curi dalam sebuah
permainan zero-sum.
Tidak ada keindahan pada bunga. Mereka hanyalah kotoran
yang mencuri napas orang-orang dari udara dan menancapkan akar mereka di tanah
yang penuh dengan sampah membusuk.
Matahari bukanlah cahaya yang diberkati. Itu hanyalah
neraka termonuklir yang sangat berbahaya.
“Aku akhirnya mengerti,” gumamnya.
Api kegelapan berkobar dalam hatinya bahkan saat dia
tertunduk lemas.
“Aku akhirnya melihat apa yang kamu lihat, Coronzon.”
Inilah dunia yang dilihat melalui mata sang
penjahat.
Tidak, inilah sistem nilai yang oleh mayoritas
dianggap sebagai kejahatan.
...Apakah mempelajari hal itu merupakan tindakan
jahat yang perlu dihukum? Apa mereka akan membunuhnya karena menyadari sesuatu
yang mereka anggap merepotkan? Apakah ada bajingan yang berkeliling membunuh
orang berdasarkan nilai-nilai mereka berada di sisi yang salah dari sebuah
garis sewenang-wenang yang ditarik oleh seseorang di menara gading mereka? Jika
demikian, mereka pasti sangat “benar” memang.
Cara berpikir
seperti ini sepertinya tidak akan membuat orang-orang yang berkuasa sangat
menyukaiku.
Dia tidak akan percaya pada konsep keadilan secara
membabi buta. Dia tidak akan langsung menolak mereka yang disebut jahat. Dia
akan mengamati segala sesuatu di depan matanya, mempertanyakan segalanya, dan
kemudian memutuskan sendiri apa yang benar-benar benar. Itu adalah kemampuan
yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. ...Namun itu akan menjadi setetes
racun terbesar bagi orang-orang yang mencoba mengendalikan semua orang dengan
paksa. Karena hal itu akan terus menciptakan lebih banyak orang seperti
Hamazura yang mulai melawan gagasan mereka tentang apa yang baik dan benar.
Begitu kamu tahu, begitu kamu menyadarinya, kamu secara alami akan mulai
melihatnya.
Pemikiran-pemikiran ini adalah langkah pertama
menuju perlawanan terhadap kekuatan yang lebih tinggi.
“...”
Namun yang dia lakukan hanyalah melihat sesuatu.
Cara dia memandang dunia telah berubah, tapi lantas
kenapa?
Dia adalah Level 0 yang tida berdaya. Tanpa
kelebihan apa pun seperti kemampuan langka untuk melakukan sesuatu yang lebih.
Dia benar-benar tidak berguna. Ini sudah melampaui titik perjuangan sia-sia
untuk mencapai sesuatu. Nama dan identitasnya sudah diketahui dan kelompok
asing telah menangkapnya sebagai sebuah ancaman. Bagaimana dia bisa melakukan
sesuatu untuk Coronzon dalam kondisi seperti ini?
Dia bahkan tidak bisa melarikan diri dari satu kotak
logam kecil ini, jadi bagaimana mungkin dia bisa melawan seluruh dunia?
Namun.
Kemudian dia mendengar sebuah suara. Sesuatu jatuh
ke lantai. Sebuah ponsel. Dan sesuatu bergerak-gerak di dalam ventilasi yang
lebarnya kurang dari 15 sentimeter di dinding dekat langit-langit. Namun itu
belum tentu makhluk hidup.
Bunyi bip kecil terdengar dari lantai.
Hamazura dengan ragu memungut ponsel itu untuk
melihat sesuatu di layarnya yang retak.
Kalau dipikir-pikir... dia memang memiliki sesuatu.
“...Aneri?”
AI itu merespons.
Di sinilah kemampuan yang langka itu.
Level 0 ini memang memiliki sesuatu yang lebih.