Epilog:
Sendiri di Kegelapan
Bad_Light
Semuanya berakhir.
Dunia sekali lagi menyambut hari yang baru.
Semburat fajar masih tampak begitu jingga saat
cahayanya membasuh Kota Akademi.
Termasuk asrama siswi SMP Tokiwadai di Distrik 7.
“...Onee-sama.”
“Ugh,” gumam Misaka Mikoto.
Shirai Kuroko duduk di atas ranjangnya.
Dia sepertinya tidak memejamkan mata semalaman.
“Aku sungguh tidak habis pikir. Aku sangat
mengkhawatirkanmu, tapi kamu malah tidak pulang semalaman tanpa mengabariku
sedikit pun. Jadi, apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana alih-alih
kembali ke asrama? Aku butuh laporan terperincinya.”
“Aku sendiri tidak begitu mengerti... tapi kurasa
aku baru saja menyelamatkan dunia atau melindungi nasib umat manusia, atau
semacamnya? Wah, dan kamu juga ikut membantu tanpa menyadarinya, Kuroko!!
Bukannya kamu hebat!?”
“Aku tidak tahu-menahu soal menyelamatkan dunia atau
nasib umat manusia, tapi apa kamu tahu betapa sulitnya mengelabui penjaga asrama?
Apa kamu mau mencoba bermain petak umpet dari neraka lain kali?”
“Maaf, tapi itu satu hal yang tidak bisa kulakukan.”
“Aku hanyalah sekuntum bunga kecil yang mekar di
balik bayang-bayang, segala upayanya tidak pernah dihargai. Aku merasa sangat,
sangat kesepian, aku butuh bantuanmu untuk menghiburku, Onee-sama... jilat,
jilat, jilat, jilat, jilat, jilat, jilat, jilat!!”
“Lidahmu, ugh, berhenti menggerakkannya ke kiri dan
ke kanan seperti itu! Ahhhh, itu menakutkan! Kenapa kamu jadi jauh lebih mengerikan
dari biasanya, Kuroko!?”
“Berita utama hari ini: sebuah pertemuan keagamaan
rahasia yang diadakan oleh Gereja Anglikan, Gereja Katolik Roma, dan Gereja
Ortodoks Rusia? Kami menerima kabar bahwa sang Patriark yang memimpin Gereja
Ortodoks Rusia melakukan kunjungan mendadak kepada Paus Katolik yang saat ini
tengah berada di sebuah tempat peristirahatan kesehatan di Edinburgh. Menurut
narasumber yang memahami masalah tersebut, mereka mendiskusikan pemikiran
mereka mengenai perubahan iklim global serta perubahan yang dibawa oleh
teknologi pintar ke dalam kehidupan sehari-hari.”
Sebuah perangkat seluler tengah memutar berita
televisi tersebut.
Jika itulah yang didengar oleh publik, maka topik
sebenarnya dalam pertemuan itu pastilah tidak bocor keluar.
Seseorang yang ikut terjebak dalam kekacauan di Kota
Akademi dan bahkan belum sempat mandi merasa kesal mendengar berita ini. Orang
itu adalah Dion Fortune.
“Kalian bercanda!? Wahai penduduk Bumi, apa kalian
melupakan uskup agung hebat yang memimpin Gereja Anglikan!? Para pembuat onar
itu menyebabkan begitu banyak masalah dengan mantra skala besar mereka, dan
sekarang mereka malah mengadakan pertemuan tanpaku!?”
Pasukan Amakusa yang dipimpin oleh Kanzaki, Mantan
Pasukan Agnese yang dipimpin oleh Agnese, serta para pengikut Anglikan lainnya
berencana untuk segera meninggalkan Kota Akademi. Mereka bisa saja menuntut
untuk tetap memegang kendali atas kota tersebut, namun mereka memutuskan bahwa
membagi kekuatan hanya akan memancing pihak Katolik Roma atau Ortodoks Rusia
untuk menyerang London.
“Hamazura Shiage? Untuk saat ini, dia akan tetap
berada dalam pengawasan kami sebagai simpatisan Coronzon.”
Kanzaki Kaori menjelaskan situasinya kepada
Takitsubo yang tampak cemas.
“Meski begitu, ini hanyalah formalitas, jadi kamu
tidak perlu khawatir. Secara ideologi dia memang bersimpati padanya, namun dia
tidak memberikan dukungan materi atau tempur secara nyata. Setelah urusan
administrasinya beres dan dia diberikan peringatan keras, dia akan dibebaskan. Aku
akan memastikannya sendiri.”
Ada orang lain yang berada di rumah sakit yang sama.
Meskipun Tsushima kembali bertempur setelah
mendapatkan sihir penyembuhan untuk luka leher yang didapatnya dari Coronzon,
luka itu cukup serius hingga mengharuskannya menggunakan fasilitas rumah sakit
Kota Akademi. Tekanan udara di pesawat merupakan masalah serius bagi orang yang
terluka, dan jika kondisinya memburuk dalam penerbangan, pramugari harus mulai
berteriak mencari dokter.
Entah mengapa, Kanzaki dan Itsuwa memberikan tatapan
tajam kepadanya. Tajam yang tidak perlu.
“...”
“...”
“Yah, ini canggung sekali.”
Hujan yang tidak wajar mengguyur Kota Akademi saat
fajar. Langit kembali cerah hanya dalam waktu setengah jam, namun sepertinya
hujan itu telah melenyapkan salju merah yang terus menempel dan membuat
berkendara menjadi berbahaya. Berkat itu, tidak ada satu pun korban jiwa.
Sebuah kapal udara menampilkan sebuah pesan pada
layar besarnya.
“Tidak ada ancaman terhadap infrastruktur listrik,
gas, maupun air. Distribusi pasokan darurat dan pekerjaan pemulihan telah
dilanjutkan di seluruh kota. Mohon tetap tenang dan ikuti instruksi yang diberikan.
Kota Akademi telah aman.”
Kapal-kapal udara yang menghiasi langit itu sendiri
merupakan kabar baik bagi Kota Akademi. Karena hal itu menandakan segalanya
mulai kembali normal.
“Semuanya dimulai dari sini.”
Ketua Dewan yang baru, Accelerator, berucap lirih
sembari duduk di atas ranjang sel isolasinya.
Terus terang, si Nomor 1 itu memiliki seseorang yang
akan dia lindungi meski harus menghancurkan dunia.
Namun begitu pula dengan orang lain.
Setiap orang memiliki sosok yang ingin mereka
lindungi.
Dunia tidaklah dikendalikan oleh suatu sistem yang
agung. Dunia terbentuk dari akumulasi tujuh atau delapan miliar hal kecil
semacam itu.
Jadi, menjadi yang terkuat bukanlah sebuah
pembenaran. Dia tidak boleh menginjak-injak perasaan orang lain atau memaksakan
perasaannya kepada mereka. Itulah sebabnya dia akan menciptakan sebuah kota di
mana tidak ada seorang pun yang perlu melakukannya.
Teknologi Kota Akademi sudah dua puluh hingga tiga
puluh tahun lebih maju.
Jadi, jika kota ini terbukti berhasil, keberhasilan
itu nantinya akan menyebar ke seluruh dunia.
Namun jika gagal, segalanya bisa runtuh begitu saja.
“Jadi... semuanya dimulai dari sini. Sudah waktunya
untuk membuktikan nilai dari Kota Akademi.”
“Aduh, ampun deh.”
Kihara Noukan, si anjing Golden Retriever, berjalan
di balik bayang-bayang di antara bangunan.
Dia penasaran apa yang terjadi pada jasad Iblis Agung
Coronzon, tidak, pada sisa-sisa peninggalan Aleister, namun pria itu memang
berasal dari Inggris, bukan? Tubuh aslinya rupanya sudah dimakamkan di sana,
jadi mungkin itu adalah tempat terbaik untuk peristirahatan terakhirnya.
“Seharusnya dia meninggalkan surat wasiat untuk
mengantisipasi kemungkinan ini. Itu adalah satu hal romantis bagi mereka yang
berada di puncak. Cacat terbesar dari temanku yang menyebalkan itu adalah
ketidaksadarannya yang mutlak mengenai seberapa besar pengaruh yang dia miliki
terhadap dunia di sekelilingnya.”
Beberapa sosok bergerak melintasi kota.
Alice Anotherbible, Bologna Succubus, Aradia, dan
para Transenden lainnya dari Kelompok Pembangun Jembatan menyeberangi tembok
kota dan segera pergi.
Sekali saja, Alice menoleh ke arah kota di
belakangnya.
“Guru...”
“Alice. Jika kamu ingin membalas budi padanya, maka
hal terbaik adalah dengan tidak membawa kekacauan lebih lanjut ke dunia ini.
Kamijou Touma sudah memulihkan kedudukanmu di masyarakat. Dan kartu as miliknya
sebaiknya tetap tersembunyi,” ucap Aradia.
Penyihir Kucing Hitam Mina Mathers juga tengah
merencanakan pelarian.
Tidak seperti Uskup Agung Dion Fortune, Mina tidak
memiliki identitas resmi. Dia memasuki Kota Akademi tanpa izin. Hal itu memang
diperlukan saat itu, namun sekarang dia ingin pergi sebelum pengamanan di
sekitar tembok pulih kembali.
“Kamu tahu...”
“Apa?”
Ucapan sang penyihir kucing hitam mendapatkan
tanggapan dari wanita mungil yang jahat, Anna Sprengel.
“Aku kira kamu akan tetap tinggal di kamar
asramanya.”
“Saat dia sudah punya perpustakaan grimoire dan
sisa-sisa dari seorang Dewa Sihir yang menginap di sana? Tidak akan ada cukup
ruang. Dan jika dia mulai menonjol, itu akan menghancurkan kehidupannya yang damai.”
Mina Mathers tampak tercengang.
Akhirnya, dia berhasil membuka mulutnya.
“Sejak kapan kamu tahu caranya bersikap penuh
pertimbangan?”
“Bahkan seorang wanita jahat pun tahu kapan dia
berutang budi.”
Dan...
Dia mati.
Dan begitu dia mati, tentu saja dia akan masuk
neraka.
Itulah cara manusia tersebut melihatnya. Dia entah
bagaimana berhasil mengelabui sistem pada tahun 1947, namun hidupnya seharusnya
berakhir setelah menyelesaikan urusan dengan Coronzon di lautan Skotlandia yang
membeku dan menyerahkan Kunci Master kepada Ketua Dewan berikutnya. Meminjam
tubuh sang iblis agung tidak lebih dari sisa panas yang tertinggal, seperti
bara api terakhir yang membara di balik abu dari api yang telah padam di
perapian.
Dia telah menyebabkan begitu banyak masalah bagi
dunia.
Menyerahkan Kunci Master kepada si Nomor 1 mungkin
telah membantu menebus kesalahannya sedikit (dengan cara yang sangat
pragmatis), namun dia menyadari bahwa dia belum melakukan apa pun untuk bocah
yang itu.
Penyesalan itulah yang mungkin membuatnya tetap
bertahan hidup.
Dia senang bisa membantu bocah itu pada akhirnya.
Dia benar-benar senang karena hal-hal yang coba
dilindungi oleh bocah itu tidak hancur.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.
Itu bukan sensasi fisik... namun dia merasakan
sesuatu yang menariknya. Menariknya ke bawah. Gerbang neraka mungkin sedang
terbuka lebar di kedalaman sana. Manusia itu tidak melawan tarikan tersebut.
Kematian tidak seharusnya menakutkan. Karena kematian menuntun ke surga. Dia hanya
takut pada kematian hingga melarikan diri ke neraka karena banyak perbuatan
buruknya sendiri. Namun sekarang saatnya telah tiba untuk membayar harganya.
Dia benar-benar berpikir demikian.
Namun...
“Aduh, aduh. Kamu bersikap jauh lebih penurut dari
yang kuduga, Aleister.”
Dia tidak mengerti.
Bahkan manusia itu pun gagal memahami situasinya.
Mengapa dia mendengar suara itu di sini dan sekarang? Sosok itu sudah tiada. Sosok
itu telah berjanji untuk melindungi hal-hal yang ingin dia lindungi,
benar-benar melakukannya, membangkitkan Kamijou Touma dari kematian, lalu pergi
ke neraka seorang diri.
Tunggu. Neraka?
“Apa yang kamu lakukan di sana, Anna Kingsford!?”
“Bukannya sudah ku💬 padamu, Aleister? Aku
selalu menepati janjiku. Aku berjanji akan 🛡️ hal-hal yang kamu sayangi
dan membuatmu bahagia. Untuk mewujudkannya, aku mematikan jasadku yang
diawetkan agar aku bisa sengaja ☠️ dan sengaja pergi ke
neraka. Jadi, biarkan aku melakukan tugasku★”
“Maksudmu...?”
“Ya, aku sudah tahu semua ini akan terjadi sejak
awal. Memangnya kenapa?”
Hanya itu saja yang dia katakan soal hal tersebut.
Sampai ke tingkat manakah sang ahli, penyihir sejati
ini, telah naik?
“Dan karena aku tahu kamu akan berakhir di neraka,
aku tiba di sini mendahuluimu dan menyiapkan sebuah jaring. 🧙 sejati
tahu cara mengubah hal sepele seperti takdir untuk ☠️.
Ini semua adalah bagian dari melayani orang-orang di sekitarku. Kita harus
menciptakan mukjizat buatan demi membahagiakan orang lain. Seberapa sulitnya
itu bukanlah pertanyaan utama. Itu hanya berarti kamu perlu mengasah
kemampuanmu lebih tajam lagi. Bukan kesalahan orang yang butuh diselamatkan.”
Anna Kingsford tersenyum dan menggoyangkan jari
telunjuknya.
Cahaya putih kecil muncul.
Dalam sekejap, cahaya itu memenuhi pandangan
Aleister dan menyelimutinya.
Cahayanya tidak menyilaukan mata. Itu adalah cahaya
yang lembut.
Dan dia merasakan tarikan ke atas.
...Seberapa besar harga yang harus dibayar Kingsford
demi mewujudkan satu hal ini? Kamijou Touma pasti sempat mempertanyakannya saat
mengalaminya: Bukankah Anna Kingsford bisa saja merangkak kembali dari neraka
dalam keadaan hidup atas kemauannya sendiri jika dia mau? Seandainya saja dia
sudi menginjak-injak orang lain dan menutup mata terhadap kerusakan yang
ditimbulkannya pada dunia?
Namun itu adalah batasan yang tidak sudi dilalui
Kingsford.
Maka dia tidak ragu untuk menyerahkan kesempatan itu
kepada siapa pun yang paling membutuhkannya.
Dia telah menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya.
Sang ahli berucap dari balik cahaya.
“Pulanglah, anak 🪄. Dan jangan ambil jalan
pintas yang mudah. Masih terlalu dini bagimu untuk datang ke sini.”
Aleister menganggapnya seperti seorang ibu.
Meskipun ibu kandungnya adalah seseorang yang
mengusir Aleister kecil dengan teriakan histerisnya.
Mungkin itulah tujuan yang telah ditetapkan Anna
Kingsford untuk dirinya sendiri.
“Oh, dan aku akan membuat neraka menjadi tempat
tinggal yang lebih menyenangkan sebelum kamu sampai di sini. Aku baru saja
berpikir tempat ini butuh lebih banyak udara segar dan sinar ☀️. Aku sudah mengambil alih Pengadilan Neraka dan
membunuh semua pengawalnya untuk meletakkan fondasi untuk hal itu! Sekarang,
sudah saatnya aku mencoba pertarungan bos melawan menteri pertama: Raja Iblis
Astaroth!! Ayo, CRC!! Konstruksi, memasak, dan bahkan kerajinan tangan,
semuanya adalah pilihan! Waktunya mengubah neraka menjadi negeri taman dan
kebun bunga!!!”
Rupanya seorang ahli sejati memiliki cukup kekuatan
tersisa untuk bersenda gurau di neraka.
Apa yang akan terjadi jika dia kembali ke dunia
orang hidup tanpa tubuh miliknya sendiri?
Jiwa Aleister Crowley dilontarkan lurus ke atas
sebelum dia sempat bertanya.
Saat itu pukul 08:30.
Begitu banyak hal telah terjadi, namun hari yang
baru telah tiba bagi Kota Akademi. Hampir tidak ada satu pun dari 2,3 juta
penduduknya yang tahu seberapa besar upaya yang telah dicurahkan untuk itu,
namun tekad mereka untuk menjalani kehidupan normal, bangun di pagi hari,
sarapan, mencuci muka, berganti seragam, berjalan ke sekolah, pastilah
memainkan peran yang tidak sedikit. Karena tekad itu telah menang atas kekuatan
yang membusuk untuk mengambil jalan pintas yang mudah. Untuk memutuskan bolos
sekolah hanya karena beberapa kejadian luar biasa buruk telah terjadi.
Ikatan antarmanusia tetap kuat.
Aogami Pierce sedang konyol-konyolan di ruang kelas
yang biasa.
“Benar, lho! Asrama putra benar-benar hancur! Bagiku
sih tidak masalah karena aku melanggar aturan dengan menumpang di tempat orang
lain... tapi kuharap ini tidak menjadi bumerang bagiku. Bagaimana kalau mereka
tidak punya pilihan lain dan solusi darurat mereka adalah mengundang semua anak
laki-laki yang kehilangan tempat tinggal untuk tinggal di asrama putri, tapi
cuma aku yang ketinggalan surga dunia itu!? Kamu tahu maksudku, ‘kan!? Bukannya
ini terdengar seperti latar sempurna untuk komedi romantis: seorang pemuda
malang yang tidak punya tempat tujuan berakhir di asrama penuh gadis!?”
“Imajinasimu membuatku kesal dan menurutku ini sudah
termasuk pelecehan seksual. Aku sangat ingin memukulmu.”
Kota ini berjalan atas kekuatan manusia.
Kehidupan biasa yang normal dan alami ini hanya bisa
ada melalui upaya orang-orang.
“Oke, Aogami-chan, silakan duduk. Fukiyose-chan,
berhenti mengejar si bodoh itu dan kembali ke kursimu. Kalian yang lain juga,
silakan duduk.”
Memang tidak terasa karena adanya kejadian yang
sangat tidak biasa berupa pemakaman teman sekelas mereka, namun kemarin adalah
upacara pembukaan.
Yang berarti hari ini adalah hari sekolah biasa.
Bel yang biasa berbunyi melalui pengeras suara.
Hal itu menandakan sebuah akhir. Menutup suasana di
tempat tersebut.
Tsukuyomi Komoe membacakan daftar nama siswanya
dengan nada datar, namun salah satu nama tidak kunjung mendapatkan sahutan.
Kamijou Touma belum kembali.
Semester baru telah dimulai sementara dia masih
menghilang.
Namun kemudian...
Pintu kelas bergeser terbuka dan seorang pemuda
berambut jabrik melangkah masuk ke dalam.
“M-Maaf. Aku terlambat karena harus meminta dokter
memastikan kalau aku masih hidup.”
Dia telah berjuang melawan kehancuran dunia hanya agar dia bisa mengucapkan kalimat itu.