Bab 5: Raja Roh Kematian dan Api Duka Isshiki
Setelah dua
hari penyesuaian terakhir, kami akhirnya berangkat untuk membasmi Raja Roh
Kematian.
Tas besar kami
titipkan, dan beban kami hanyalah kantong kecil berisi peralatan medis minimal,
bahan makanan, serta air.
Entah bagaimana,
aku sudah terbiasa melewati gerbang dalam kondisi kedua tanganku digenggam.
Aku
mengaktifkan Marine Snow, Kirishima-san memastikan posisi kami saat ini, dan
Shiraishi-san melakukan deteksi musuh di sekitar. Kami membagi tugas dan
menyiapkan segalanya untuk keberangkatan.
“Ayo jalan,”
ujar Kirishima-san.
Kami mulai
melangkah.
Tujuan kami
adalah Istana Mausoleum, habitat asli Raja Roh Kematian. Kabarnya, untuk sampai
ke sana, kami harus menemukan gerbang berukuran kecil yang tersembunyi di suatu
tempat di dalam Jalur Ziarah Roh Malam Abadi.
Mencari gerbang
di tengah pemandangan temaram yang terlihat seragam, lalu mengingat rute menuju
ke sana... memikirkannya saja sudah terasa seperti sebuah siksaan.
Konon sebagian
besar petualang yang mencoba memburu Raja Roh Kematian gagal karena tidak bisa
menemukan gerbangnya. Ada alasan kuat mengapa Raja Roh Kematian yang menjadi
objek kebencian, ketakutan, dan penghinaan ini masih bertahan hidup hingga hari
ini.
Setelah
berjalan sekitar satu jam, Kirishima-san memperlambat langkahnya. Sepertinya
tujuan kami sudah dekat.
“Sejauh mata
memandang, tidak ada apa pun yang terlihat seperti gerbang.”
“Biasanya
tersembunyi di balik bebatuan.”
“Apa dia ikan
sungai?”
“Dia itu Raja
Roh Kematian. Lihat, ada batu besar di sana. Kalau kita menggesernya, dia akan
muncul.”
“Bukan udang
rawa juga, ‘kan?”
“Tetap saja dia
Raja Roh Kematian.”
“Suram sekali ya
dia. Yah, namanya juga arwah.”
Kalau dia
ceria, malah terasa aneh.
Kirishima-san
menyelipkan gagang naginata-nya di sela antara batu dan tanah, lalu
menggerakkan batu itu dengan prinsip pengungkit.
Di tempat yang
seharusnya adalah tanah, terdapat pusaran kegelapan yang berputar. Suasananya
jelas berbeda dengan gerbang yang biasa kami gunakan. Terasa mengerikan, dan hanya
dengan melihatnya saja sudah membuat hati terasa berat.
Aku meletakkan
kantong perbekalanku agar bisa bergerak seringan mungkin.
Kirishima-san
mengaktifkan Zirah Sihir: Kagutsuchi. Aku pun memperluas jangkauan Marine Snow.
Begitu
berpindah tempat, pertarungan akan langsung dimulai saat itu juga.
Ketegangan yang
mencekam membuat hati kami terasa berat.
“Sudah
siap...?”
“Ya.”
Kirishima-san
menggenggam naginata-nya, sementara Shiraishi-san memegang tongkatnya erat-erat
dengan kedua tangan.
Aku sendiri...
hanya aku yang tidak membawa apa-apa.
“Kalian berdua,
apa tidak melupakan sesuatu yang penting?”
Aku berdiri di
tengah, mengulurkan tangan kanan ke arah Kirishima-san dan tangan kiri ke arah
Shiraishi-san.
Ini demi
mencegah agar lokasi pemindahan kami tidak terpencar, meski kemungkinannya
kecil.
“Benar juga.
Aku hampir melupakannya.”
“Terima kasih,
Isshiki-kun.”
Kami
bergandengan tangan dan berdiri di depan gerbang. Jari-jari yang kugenggam
terasa dingin. Karena ketegangan satu sama lain saling tersalurkan, aku bisa
memberanikan diri.
“Ayo pergi.”
Aku mengambil
langkah pertama.
Mereka berdua
menyusul.
Pemandangan di
sekitar menggelap.
Kegelapan yang
dalam. Kami seolah terlempar, meluncur melewati lumpur yang hangat.
Api biru,
lantai batu yang dingin, serta puing-puing genting yang berserakan. Sebuah
bangunan aneh yang didirikan di bawah langit malam tanpa bintang. Kami muncul
tepat di tengah sebuah ruangan raksasa.
Dari tangga di
depan kami, muncul sesosok tubuh raksasa yang bergerak perlahan.
Makhluk itu
membawa sabit sepanjang dua meter, dengan api hitam yang bersemayam di rongga
matanya yang berupa tengkorak. Jubah yang membungkus seluruh tubuhnya memiliki
aura sihir yang kuat, berbeda jauh dengan arwah penasaran biasa.
Individu Unik:
Raja Roh Kematian.
Tepat saat
sosok utuhnya tertangkap mata, sebuah cahaya ungu melesat.
“Shiden Issen!”
Satu serangan
yang menandai dimulainya pertempuran. Raja Roh Kematian menangkisnya dengan
mudah menggunakan sabit, lalu langsung mengayunkannya. Ia mengincar
Kirishima-san yang sudah mulai berlari dan menerjang lurus ke arahnya.
Sabit Raja Roh
Kematian memiliki sifat yang sama dengan kutukannya. Sihir kematian seketika
yang memisahkan jiwa dari raga.
Jika tertebas
olehnya, semuanya berakhir. Namun, gerakannya tidak terlalu cepat. Jika
dibandingkan dengan Red Walker, dia jauh lebih lambat. Karena itulah aku bisa
melihatnya. Aku bisa menanganinya.
Aku membidik
dengan tangan kiri. Karena wujudnya samar, aku mengincar bagian pangkal sabit
milik Raja Roh Kematian itu...
“Freeze.”
Kristal es yang
muncul di udara menghambat gerakan ayunan sabitnya. Kirishima-san menerjang masuk
dan mengayunkan naginata-nya ke atas. Api yang menyelimutinya bergejolak aneh
dan menciptakan pilar api raksasa.
“Kikagouzan:
Tebasan Api Misteri!”
Dia menebaskannya
dalam satu tarikan napas.
Serangan itu
menghantam ketahanan sihir Raja Roh Kematian dari arah atas dan membuat tubuh
raksasanya terhuyung.
Api Misteri;
itu adalah sihir asal Tiongkok yang dikembangkan khusus untuk menghabisi mayat
hidup.
“Yang akan
membunuhmu adalah aku.”
Kirishima
menyerbu maju lagi. Mata bilahnya hampir mencapai Raja Roh Kematian sekali
lagi...
Namun naginata
itu hanya menebas udara kosong.
“Haruka!”
Raja Roh
Kematian berpindah dalam sekejap ke belakang Shiraishi-san dan mengangkat
sabitnya.
Gerak Kilat.
Itu adalah
salah satu sihir yang dikuasai Raja Roh Kematian. Jika kami tidak mengetahui
informasi ini sebelumnya, kami pasti sudah kalah di titik ini.
Namun, kami
punya Kirishima-san.
Informasi ini
sudah termasuk dalam data yang dia kumpulkan. Dan aku berada di posisi tengah
di antara mereka berdua tepat untuk menanggapi situasi ini.
“Kamu pikir
sedang mengarahkan senjatamu pada siapa?”
Aku melesat
melewati Shiraishi-san dan mencengkeram wajah sang Raja Roh Kematian dengan
kuat.
Gerak Kilat tidak
bisa digunakan secara berturut-turut. Karena itu, serangan ini pasti akan
mengenainya.
“Frostbite.”
Bilah es
mengempaskan Raja Roh Kematian, tidak. Terasa terlalu ringan.
Dia sengaja
membiarkan dirinya terlempar untuk meredam kekuatan seranganku. Ditambah dengan
ketahanan sihirnya, hampir tidak ada kerusakan yang berarti.
Raja Roh
Kematian mengangkat lengan kirinya. Di tangannya yang kosong tanpa sabit, api
misterius mulai menyala.
“...Laza...t...ruga.”
Sihir yang
muncul di belakang kami bertiga langsung dicegat tepat saat ia bangkit. Yang
tersisa hanyalah kristal salju yang berguguran.
Efek dari
Lazatruga adalah pemberian kutukan secara paksa dan pengaktifan seketika.
Mustahil untuk dihindari. Di saat ini juga, aku memikul kutukan itu. Sejak
sihir ini dirapalkan, frekuensi kemunculan kutukan akan meningkat drastis.
Hanya itu saja.
Antisipasi sudah disiapkan.
Api hitam di
rongga matanya menangkap sosokku dan berkobar semakin hebat.
Lewat mana,
pikiran kami saling mengalir satu sama lain. Hasrat membunuh. Hasrat membunuh.
Arus hawa membunuh yang begitu murni dan bening tanpa campuran apa pun.
Aku... mungkin
memang sudah gila.
Nyawaku sedang
terancam. Musuh bebuyutan dari para penolongku ada di depan mata. Namun, di
saat seperti ini, dadaku justru berdegup kencang. Jantungku berdenyut begitu
panas, seolah sanggup melelehkan sihir es.
“Kalian berdua,
bersembunyilah di belakangku.”
Aku mengunci
pandanganku dengan Raja Roh Kematian. Sebuah komunikasi penuh hasrat membunuh
melalui perantara mana.
“...Va...l...go...dea.”
Puing-puing
terangkat dan berputar di sekeliling Raja Roh Kematian. Sebuah pusaran maut
yang akan membunuh seketika siapa pun yang menyentuhnya.
Daya serang itu
akan kurebut.
Tujuh puluh
persen dari total keseluruhan. Kuberikan perintah pada mana yang sanggup
kupengaruhi.
Tidak ada waktu
untuk menahan diri.
* * *
Malam saat
rapat strategi.
Begitu aku
mengatakan bahwa aku akan membiarkan Raja Roh Kematian melepaskan Orgostra,
bahuku langsung dicengkeram dan diguncang oleh Kirishima-san sampai-sampai
otakku rasanya seperti menjadi daging cincang.
“Anu...
maksudku, membiarkannya melepaskan serangan itu adalah jalan terakhir. Aku juga
punya rencana lain.”
“Katakan itu
lebih awal!”
“Siap, Bu!”
Sambil
merenungi kesalahanku karena telah mengejutkan Kirishima-san dan yang lainnya,
aku mulai menata pikiranku.
Pertama-tama,
aku perlu menjelaskan tentang ekologi arwah penasaran.
“Menurutku
tubuh para arwah itu seperti balon. Mana di dalam tubuh dan mana di luar tubuh
mereka saling menekan satu sama lain dengan lapisan tipis di antaranya,
menciptakan keseimbangan. Karena itu, jika keseimbangan tekanan dari dalam atau
luar terganggu, itu saja sudah bisa menjadi luka fatal bagi mereka.”
“Jadi, itulah
cara kerja Fuyu no Zankyou.”
“Benar. Karena
sihir itu sendiri tidak punya kemampuan membunuh, kurasa penyebab menyusutnya
para arwah itu berkaitan dengan ekologi mereka.”
Shiraishi-san
memegangi kepalanya dan tidak ikut dalam percakapan. Kirishima-san menepuk
bahunya.
“Apa kamu
merasa tidak enak badan?”
“Tidak. Aku
baik-baik saja, tapi... dugaanku benar, sihir itu memang aneh, ‘kan?”
“Sihir itu
memang gila.”
“Kalian berdua
kompak sekali!?”
Aku sadar bahwa
aku memang melakukan sesuatu yang aneh, tapi tidak kusangka Shiraishi-san pun
memberikan reaksi yang sama. Soalnya, Kirishima-san ‘kan memang selalu
memperlakukanku seperti monster.
“Haruka,
berikan penjelasannya.”
“Eh... begini, Isshiki-kun.
Misalnya kita ibaratkan aliran mana itu sebagai sungai, maka menggunakan sihir itu
seperti memutar kincir air.”
“Aku rasa aku
bisa mengerti.”
Mana yang kami
gunakan untuk sihir akan segera terisi kembali. Kecuali jika waktunya
benar-benar berbarengan secara ekstrem, pada dasarnya sihir tidak akan pernah
gagal dilepaskan, hal itu baru kusadari setelah beberapa lama bertarung melawan
Cursewood.
Intinya, saat
itu aku hanya sedang sangat tidak beruntung.
“Fuyu no
Zankyou adalah sihir yang bertujuan untuk mengeringkan air sungainya agar
kincir air lawan tidak bisa berputar, ‘kan? Aku paham logikanya. Tapi apa yang
kamu lakukan itu sama saja dengan meminum habis seluruh air di sungai
tersebut.”
“...Begitulah.”
Penjelasan
Shiraishi-san memang tepat sasaran.
Mengubah mana
yang disuplai dari luar secara instan menjadi sihir milik sendiri. Dengan
begitu, lawan tidak akan bisa menggunakan mana tersebut.
“Yah, karena
ini Isshiki-kun, mau bagaimana lagi.”
“Haruka pun
ternyata sudah melalui banyak kesulitan ya.”
Entah kenapa
Kirishima-san malah menghibur Shiraishi-san. Aku tidak melakukan hal buruk, ‘kan?
“Jadi, Haruka,
apa menurutmu sihir itu bisa mengalahkannya?”
“Entahlah. Tapi
karena akan sulit untuk mendaratkan serangannya...”
Shiraishi-san
tiba-tiba terdiam dan menatap wajahku lekat-lekat. Dia mengerjap berkali-kali,
lalu tiba-tiba mengangkat kertas informasinya. Setelah memperhatikannya dengan
wajah serius, dia mendongak dengan cepat.
“Mungkin lebih
baik jika kita mengincar momen Orgostra. Karena lihat, di sini tertulis...”
Kirishima-san
mengerutkan kening.
“Aku tahu soal
itu. Sebelum menggunakan Orgostra, Raja Roh Kematian akan menghentikan
pergerakannya selama kurang lebih tiga belas detik. Tapi selama tiga belas
detik itu, pertahanannya akan meningkat secara tidak wajar.”
Setelah mengatakan
itu, mata Kirishima-san membelalak.
“Isshiki,
jangan-jangan kamu...”
“Kalau bisa
menang sebelum sampai ke titik itu, tentu lebih baik. Tapi, seandainya ia
berhasil melepaskan Orgostra sekalipun...”
Aku menarik
napas sejenak, lalu melanjutkan.
“Jika ada waktu
merapal selama tiga belas detik, sihirku pasti akan menang.”
* * *
Kartu as
pertama.
“Fuyu no
Zankyou.”
Aku memperkecil
kekuatannya untuk mempersingkat waktu pengaktifan. Tujuh puluh persen dari mana
yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sihir kini kukuasai. Ini bukan pertarungan
adu kekuatan sihir. Karena itulah, sihirku sejak awal tidak akan pernah bisa
ditandingi kekuatannya.
Valgodea milik
Raja Roh Kematian adalah sihir serangan area luas yang memanfaatkan massa
puing-puing. Daya rusaknya tinggi, namun itu berarti mana yang dibutuhkan pun
sangat besar. Pengaruh dari berkurangnya jumlah total mana yang bisa digunakan
sangatlah besar; badai itu terlihat kehilangan momentumnya.
“Aku maju!”
Jarak kami
masih terlalu jauh untuk menghantamkan sihir ini langsung ke Raja Roh Kematian.
Paling tidak lima meter... tidak, aku ingin mendekat hingga empat meter.
Kirishima-san
memukul jatuh puing-puing yang telah kehilangan kecepatannya. Shiraishi-san
mulai merapal mantra untuk sihir berikutnya. Aku terus berlari di tengah-tengah
mereka berdua sambil mempertahankan sihirku.
Badai
puing-puing pun mereda.
Raja Roh
Kematian menyiapkan sihir selanjutnya. Api hitam bersemayam di tangan kirinya,
lalu menyebar ke permukaan tanah.
“...Lebe...g...rakhio.”
Prajurit
bayangan muncul seolah bangkit dari kobaran api. Raja Roh Kematian segera
beralih ke sihir berikutnya, sementara para prajurit bayangan mulai bergerak
secara mandiri. Namun, di saat yang bersamaan, rapalan mantra Shiraishi-san
berakhir.
“Mukou no Tenrai:
Guntur Surgawi Tanpa Dosa.”
Ada sensasi
menyengat di kulit, dan di detik berikutnya...
Kilat yang tidak
terhitung jumlahnya menyambar dari atas kepala para monster. Daya tahan
prajurit bayangan sangatlah rendah. Mereka hancur menjadi debu hanya dengan
satu serangan.
Seranganku akan
sampai.
Melihat
pergerakan Raja Roh Kematian, aku bisa memprediksi sihir apa yang akan ia
gunakan selanjutnya. Kirishima-san bisa menangani hal itu.
Aku hanya perlu
terus berlari dan menjebak musuh ke dalam jangkauan Fuyu no Zankyou.
Tapi, tunggu.
Ada yang aneh.
Raja Roh
Kematian mengayunkan sabitnya secara diagonal ke atas, namun ia tidak segera
mengayunkannya ke bawah.
Aku sedang
dipancing.
“Prajurit
bayangannya masih ada!”
Bersamaan
dengan teriakanku, bayangan meluap keluar dari jubah yang dikenakan Raja Roh
Kematian.
Kirishima-san
beradu dengan bayangan itu. Di saat itulah, Raja Roh Kematian mengayunkan
sabitnya.
Sihir yang
melontarkan tebasan udara. Ia berniat menebas Kirishima-san bersama dengan
bayangannya.
“...Lag...na.”
“Frostbite!”
Aku melangkah
ke depan dan menahan tebasan Raja Roh Kematian. Kekuatannya jauh lebih besar
daripada penampilannya. Aku kalah tenaga dan terpental ke belakang.
“Shiden Issen!”
Shiraishi-san
tidak menoleh. Dia segera melepaskan sihir untuk menahan pergerakan Raja Roh
Kematian. Selagi itu terjadi, Kirishima-san menghabisi para prajurit bayangan.
Aku bangkit dan
menarik napas dalam-dalam.
“Isshiki-kun,
kamu tidak apa-apa?”
“Maaf. Aku
gagal mendekat.”
“Mau bagaimana
lagi. Kita sudah berhasil memaksa dia mengeluarkan seluruh rangkaian sihirnya,
itu sudah pencapaian bagus.”
Seperti yang
dikatakan Kirishima-san, kami telah memancing keluar seluruh sihir milik Raja Roh
Kematian dan berhasil menangani semuanya. Tidak ada satu pun dari kami yang
bisa mendaratkan serangan telak, membuat situasi pertempuran menjadi buntu.
Raja Roh
Kematian berdiri diam sambil memegang sabitnya, menatap kami lekat-lekat. Api
hitam di matanya bergoyang.
Suara gemeretak
bergema di seluruh istana. Suara itu menyerupai getaran bumi, atau mungkin
suara yang lebih ringan yang menghantam gendang telinga.
“...Dia
tertawa?” gumam Kirishima-san.
Aku mengangguk
dengan penuh keyakinan.
Sekarang, emosi
yang tersalurkan dari Raja Roh Kematian tidak lagi terasa bening. Itu adalah
hasrat membunuh yang murni. Namun, hasrat itu sedang bergejolak hebat. Dan
semuanya tertuju lurus ke arahku.
Kami berdua
sudah mengeluarkan semua kartu yang kami miliki. Jika ini masih belum bisa
menentukan pemenangnya...
Semua orang yang
ada di sini pun tahu langkah selanjutnya.
“Isshiki-kun.
Raja Roh Kematian tadi terlihat sangat membenci sihirmu. ...Berjuanglah.”
“Aku
mengandalkanmu, Isshiki.”
Aku
mengembuskan napas perlahan, lalu membatalkan Marine Snow.
Ini dilakukan
agar aku bisa mengerahkan seluruh sumber dayaku ke dalam sihir berikutnya.
“Aku
berangkat.”
Aku melangkah
maju.
Aku dan Raja Roh
Kematian kini saling berhadapan di tengah ruangan luas ini. Dari kejauhan,
tengkorak itu menatapku dari atas.
Pikiranku dan
pikirannya saling bersilangan dengan cara yang sama.
Tunjukkan
padaku sihirmu.
Raja Roh
Kematian mengangkat sabitnya tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke lantai.
Di saat yang
bersamaan, aku pun mulai merapal mantra.
“Hanya
terwarnai oleh satu warna.”
Kegelapan
meluap dari celah lantai, menyelimuti tubuh raksasa Raja Roh Kematian. Itu
adalah pertahanan mutlak yang tidak akan bisa ditembus hingga sesaat sebelum
Orgostra dilepaskan.
Di sisi lain,
dunia mulai memutih secara perlahan.
Warna hitam dan
putih saling bertubrukan di garis perbatasan tanpa pernah menyatu, terus
berusaha saling menimpa satu sama lain.
Tiga belas
detik kemudian, pemenang pertarungan ini akan ditentukan.
“Stagnasi.
Penahanan. Belenggu abadi...”
Udara berderit
keras. Rasa sakit yang menusuk kulit. Pemandangan yang takkan pernah
terlupakan. Kenangan yang ingin kuhapus selamanya. Kehangatan yang telah
hilang. Meski begitu, aku tetap memeluk secercah harapan yang tersisa.
Menuju ke sisi
lain dari musim dingin itu.
“...Namun, aku
akan menempuh jalan yang tidak kunjung usai.”
Selubung
kegelapan itu terkoyak dan jatuh, menampakkan sosok Raja Roh Kematian.
“Hakumei Enro:
Jalan Jauh Kelam Nan Putih.”
“...Or...go...st...ra.”
Detik
berikutnya.
Seluruh dunia
berubah menjadi putih.
Di bawah kaki
kami, salju sudah menumpuk setinggi mata kaki. Salju yang berjatuhan itu adalah
sisa-sisa dari mana. Di dalam jangkauan sihir ini, mana sudah tidak ada lagi.
Karena itulah, sihir sekuat apa pun tidak akan pernah bisa aktif.
Tidak lama
kemudian, salju mulai mencair. Meskipun aku menggunakan waktu tiga belas detik
untuk merapalnya, durasi sihir ini hanya bertahan selama beberapa detik saja.
Mana kembali mengalir masuk. Namun, Raja Roh Kematian tidak bisa memperbaiki kegagalan Orgostra miliknya. Karena rasio mana di dalam dan di luar tubuhnya sudah hancur, berbagai bagian dari tubuh samarnya kini berubah bentuk menjadi tidak beraturan.
“...Ru...o...”
Raja Roh
Kematian mengeluarkan erangan pedih.
“Shiden Issen!”
Guntur ungu
melesat menembus udara dan menghunjam Raja Roh Kematian.
“...Gh...rua...”
Dalam kondisi
normal, Raja Roh Kematian memiliki pertahanan yang bisa dikatakan setangguh
dinding besi. Menembusnya adalah tugas yang sangat sulit. Namun, hanya saat ia
beralih ke mode menyerang dengan Orgostra, sihir pertahanannya seharusnya
terlepas. Aku tahu itu karena aku sendiri adalah pengguna sihir. Adalah hal
konyol untuk membagi sumber daya ke tempat yang tidak diperlukan. Sihir yang
dikerahkan sepenuhnya adalah yang paling benar.
Justru
kebenaran itulah yang kini menjeratnya.
Orgostra yang
terganggu, tubuh yang berubah bentuk, pertahanan menggunakan sihir tidak lagi
memungkinkan baginya.
“Sekarang...
Kirishima-san.”
Sebuah pilar
api raksasa menerjang Raja Roh Kematian yang masih terpaku.
“Kikagouzan!”
Sesaat.
Sosok Raja Roh
Kematian lenyap.
Ia tidak ada di
belakang kami. Tidak di mana pun.
“Kenapa...!”
“Mana
mungkin...!”
Raja Roh
Kematian ternyata melayang di udara. Ia menghunjamkan sabitnya ke jantungnya
sendiri, menggertakkan gigi tengkoraknya dengan suara berisik.
Dengan melukai
diri sendiri, ia membiarkan mana meluap dari dalam tubuhnya. Melalui cara itu,
ia berhasil mengamankan jumlah minimal mana di luar tubuh. Sepertinya ia
berhasil lolos dari kondisi fatal akibat Hakumei Enro.
Ia berpindah ke
tempat yang sangat tinggi. Posisi yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh sihir
Shiraishi-san.
Informasi
semacam itu tidak ada dalam data yang dikumpulkan Kirishima-san.
Tapi.
Otakku berputar
lebih cepat daripada rasa putus asa. Tubuhku mulai bergerak. Aku sudah tahu.
Sihir untuk menginjak udara tanpa pijakan dan berakselerasi. Aku hanya
berhadapan dengannya selama sepuluh detik, namun warna merah itu sudah terpatri
jelas dalam ingatanku.
Aku memperluas
otot yang dibentuk melalui sihir hingga ke luar tubuh. Aku membentuk lapisan
tipis untuk dijadikan pijakan saat menginjakkan kaki. Dengan menyatukan sihir
milik para arwah, sihir ini pun menjadi sempurna.
“Saru Mane:
Aka.”
Tepat saat aku
memijak udara, aku mendengar suara mereka berdua.
“Isshiki-kun!”
“Isshiki!
Kutukannya!”
Aku merasakan
hawa kematian di belakangku.
Kenangan masa
lalu tiba-tiba terbayang kembali.
“Dalam sebuah
pertarungan, yang tidak kalahlah yang sebenarnya menang.”
Aku mengerti,
Ayah. Tapi, ada kalanya sebuah pertarungan harus dimenangkan dengan menyerang.
Aku memilih
untuk naik ke atas. Aku tidak akan memberinya waktu untuk pulih.
Menggunakan
sihir yang diperluas sebagai pijakan, aku melesat seketika.
Seberapa sering
pun kutukan itu ditangkis, Kirishima-san maupun Shiraishi-san tidak akan pernah
terselamatkan.
Raja Roh
Kematian.
Aku akan
membunuhmu dan mematahkan kutukan ini.
“...Ru...a!”
Menghadapi aku
yang melesat naik menembus langit, Raja Roh Kematian menunjukkan rona ketakutan
untuk pertama kalinya.
Lapisan tubuh
yang terkoyak oleh sabitnya sendiri berada tepat di samping intinya.
“Berikan mana
itu padaku!”
Aku
menghunjamkan lenganku. Aku mencengkeram intinya. Kupaksa tarik mana yang
menyusun tubuh sang Raja Roh Kematian.
Kutukan di
punggungku dan Raja Roh Kematian mengayunkan sabit mereka secara bersamaan.
“Frostbite.”
Taring es
menembus Raja Roh Kematian dari arah dalam.
Kutukan itu
hancur di dalam telapak tanganku.
Cahaya meluap
keluar dari inti raksasa itu...
* * *
Tidak lama
lagi, kamu akan kehilangan ingatan ini.
Tujulah bagian
terdalam, Isshiki Itsuki.
* * *
Cahaya yang
meluap itu entah sejak kapan telah mereda.
Rasanya seperti
baru terbangun dari tidur yang tanggung, ada rasa tumpul yang mendekam di lubuk
kepala. Seluruh tubuhku yang tergeletak ditopang oleh sesuatu yang keras.
...Tidak. Hanya kepalaku yang secara ajaib ditopang oleh sesuatu yang terasa
sangat lembut.
“...kun.
Isshiki-kun!”
Sepasang tangan
yang lembut menepuk pipiku dengan pelan. Sentuhan itu membuat pikiranku yang
tadinya mandek mulai berputar kembali sedikit demi sedikit. Segalanya yang tadi
kabur kini menjadi jernih.
Tepat di pusat
penglihatanku, mata Shiraishi-san yang bulat sedang menatapku lekat-lekat.
“Bagaimana
dengan Raja Roh Kematian!?”
Aku bangun
dengan sentakan kuat dan memeriksa sekeliling. Tepat di sampingku, sebuah kain
berukuran raksasa tergeletak di tanah. Itu adalah jubah yang tadi dikenakan
Raja Roh Kematian. Selain itu, di tanganku tergenggam sebuah inti berukuran
besar yang sudah pecah.
“Kita sudah menang.
Kamu mengalahkannya,” ujar Kirishima-san sambil bersedekap dengan wajah yang
tampak lelah.
Shiraishi-san
yang sedang duduk bersimpuh menumpukan tangannya ke tanah sambil mengembuskan
napas panjang.
“Syukurlah kamu
selamat...”
“Bukannya tadi
kita sudah memeriksa detak jantungnya?”
“Tapi tetap
saja! Namanya khawatir ya khawatir!”
Aku tidak bisa
berkata apa-apa melihat mereka berdua yang sepertinya akan mulai berdebat.
Lagipula, semuanya bermula karena aku sempat kehilangan kesadaran.
Namun, sensasi
lembut yang tadi kurasakan di kepala, sudahlah, jangan dipikirkan sekarang. Ini
bukan waktunya.
Shiraishi-san
yang sudah berdiri kini berjejer di samping Kirishima-san. Mereka tidak jadi
berdebat. Namun, mereka berdua kini berdiri berdampingan dan menatapku
lekat-lekat. Rasanya canggung sekali.
...Anu.
“Terima kasih
atas kerja kerasnya.”
Kirishima-san
melangkah maju satu tindak dan mendaratkan tinjunya dengan pelan di bahu
kiriku.
Di bahu yang
satunya, Shiraishi-san melakukan hal yang sama.
Kemudian...
“Sudah kubilang
kutukannya muncul! Kenapa kamu malah menerjang maju! Bisa-bisanya kamu terbang
di udara dengan wajah datar begitu!”
“Tidak ada
gunanya kalau Isshiki-kun sampai mati! Kamu paham tidak!?”
Aku dipukuli
bertubi-tubi dari kedua sisi. Aku hanya bisa pasrah menerima luapan amarah
mereka.
Aku sadar bahwa
aku telah melakukan hal yang berbahaya. Namun, rasanya sangat melegakan saat
ada seseorang yang memarahiku seperti ini.
“Maafkan aku.”
Saat aku
menundukkan kepala, mereka berdua mundur satu langkah untuk mengatur napas.
Ini memang
bukan alasan. Namun, kurasa aku harus menjelaskan apa yang kurasakan pada saat
itu.
“Tapi, saat itu
aku merasa harus maju. Bukan pertarungan agar tidak kalah, tapi aku merasa
harus melakukan pertarungan untuk menang. ...Aku merasa begitu.”
Aku menatap
inti pecah yang ada di tanganku.
Musuh yang
sangat kuat. Kami sudah mendapatkan informasi sebelumnya, menyiapkan strategi
yang matang, dan aku kebetulan punya sihir yang cocok untuk melawannya. Dengan
semua itu, barulah pertarungan ini bisa berjalan seimbang. Seandainya aku tidak
memutuskan untuk mengejar kemenangan pada saat itu meski sudah menumpuk begitu
banyak keuntungan, peluang kami pasti akan hilang.
Shiraishi-san
menatapku.
“Di dalam benakmu,
kamu merasa bisa melakukannya ya.”
“Iya. Kupikir
aku bisa melakukannya.”
Saat aku
mengangguk, Kirishima-san meletakkan tangannya di atas kepalaku. Dia mengacak-acak
rambutku dengan gemas.
“Kalau kamu
sudah berpikir begitu, mau bagaimana lagi.”
“Tunggu,
Kirishima-san. Tolong secukupnya saja.”
Dia mengusap
kepalaku dengan tenaga yang lebih kuat dan waktu yang lebih lama dari biasanya.
Gosok sana, tekan sini, sepertinya tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti.
“...Terima
kasih ya, Isshiki.”
“Ini masih
terlalu awal. Masih ada satu pekerjaan lagi.”
Sambil
menunjukkan inti pecah di tanganku, aku melepaskan diri dari usapan tangan
Kirishima-san.
Inti yang
tadinya berada di pusat tubuh Raja Roh Kematian ini seolah sedang membisikkan
sesuatu. Aku memejamkan mata dan mencoba membaca sihir yang terpatri di
dalamnya dengan saksama.
“Terakhir, ada
hal yang harus kita lakukan.”
Sebuah imbalan
yang diberikan oleh Raja Roh Kematian kepada mereka yang berhasil
menumbangkannya. Sebuah sihir yang hanya bisa digunakan sekali.
Pembebasan
Jiwa.
“Yoake no Soka: Api Duka
Fajar.”
Inti Raja Roh
Kematian berubah menjadi debu, dan di tangan kananku lahirlah api berwarna
biru.
Rasanya tidak
panas. Sedikit dingin pada awalnya, namun perlahan-lahan berubah menjadi
hangat.
Api yang
bersemayam di tanganku beresonansi dengan Istana Mausoleum.
Dari sela-sela
lantai, dari retakan dinding, hingga dari ruang hampa, cahaya-cahaya redup
mulai bermunculan dan membubung ke langit. Jiwa para petualang, monster, dan
segala macam roh yang tadinya terperangkap di sini.
Salah satu di
antaranya menepuk bahuku dan perlahan-lahan membentuk wujud manusia.
“Pertarungan
yang hebat. Selamat. Yuuko, Haruka, dan juga, Isshiki-kun.”
Seorang
petualang yang sedikit lebih tinggi dariku, mengenakan zirah ringan, berdiri di
sana. Dia tidak memiliki wujud fisik. Cahaya redup itu pasti akan langsung
lenyap jika disentuh.
Namun, meski
begitu.
Bayangan semu itu pun memiliki makna yang mendalam.
“...Haru...to?”
“...Haruto?”
Arwah pria itu
mengiyakan dalam diam, lalu menatap Kirishima-san dan Shiraishi-san.
“Kalian berdua
sudah bertambah kuat ya. Ada sihir yang tidak kukenal juga, mungkin begini
rasanya jadi Urashima Taro. Tapi omong-omong, Raja Roh Kematian itu kuat
sekali! Aku juga ingin bertarung melawannya!”
“Hah?”
“Apa pedangku
bisa menebasnya? Tidak, mungkin bakal mustahil...”
“Aku lupa.
Orang ini memang si bodoh penggila dungeon sampai ke akar-akarnya.”
“Aha... ahaha.
Kalau diingat-ingat, dia memang seperti itu.”
Kirishima-san
memegangi kepalanya sementara Shiraishi-san tertawa garing. Haruto-san menatap
mereka berdua dengan wajah puas. Cahaya hangat yang bersemayam di matanya
bukanlah ilusi.
Haruto-san
menoleh padaku.
“Isshiki-kun,
benar ‘kan? Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu.”
“Untukku?”
Haruto-san
mengulurkan tangannya dan berhenti tepat di depan dadaku.
“Ini sihir yang
sering kugunakan semasa hidup. Jika kamu tidak keberatan, aku ingin kamu
mewarisinya.”
“...Terima
kasih banyak.”
Melalui aliran
mana, sebuah sihir terukir di dalam diriku. Haruto-san tersenyum.
“Petualanganku
telah berakhir. Namun petualanganku, petualangan kita, tidak akan pernah
hilang. Selama dungeon masih ada, bahkan jika dungeon menemui ajalnya
sekalipun, ini akan terus berlanjut. Melihat kalian semua hari ini, aku
benar-benar percaya hal itu. Aku puas. Aku benar-benar puas.”
Kirishima-san
tersenyum.
Senyum yang
begitu cerah bagaikan langit yang bersih tanpa awan.
“Aku akan terus
hidup sampai menjadi nenek-nenek.”
Haruto-san
memasang wajah terkejut. Kirishima-san mengarahkan telunjuknya.
“Jadi,
nikmatilah waktumu dengan tenang di neraka.”
“Kenapa harus
neraka... haha. Neraka kolam darah, ya? Semoga airnya hangat...”
Sambil tertawa
seolah menyerah, keberadaan Haruto-san semakin menipis.
Namun, mereka
bertiga tetap tersenyum.
“Sampai jumpa
lagi, Haruto.”
Shiraishi-san
melambaikan tangannya.
“Ingat itu
baik-baik ya, Haruto.”
Kirishima-san
tersenyum simpul.
“Terima kasih.
Sampai bertemu suatu saat nanti...”
Haruto-san
lenyap.
Bersamaan
dengan itu, api yang bersemayam di tanganku turut padam.
Aku mencoba
menangkap percikan terakhirnya, namun ia lolos begitu saja.
Aku memutuskan
untuk memunggungi mereka berdua dan meninggalkan tempat itu.
Aku berjalan
sendirian melewati Istana Mausoleum yang telah kembali ke wujud asalnya dalam
keheningan.
Tidak perlu
bagiku untuk mengingat suara tangisan mereka.
* * *
Akhir bulan
Juli.
Imbalan
pembasmian Raja Roh Kematian masih belum ditransfer ke rekening. Meskipun kain
lebar dan sabit besar sudah diserahkan sebagai bukti, kabarnya masih dibutuhkan
waktu beberapa hari untuk memastikan bahwa kutukan di Jalur Ziarah Roh Malam
Abadi benar-benar sudah tidak muncul lagi. Wajar saja, mengingat laporan
pembasmian monster ini memang sangat langka di seluruh dunia.
Kabar pastinya
baru akan dikonfirmasi paling lambat awal minggu depan. Menurut informasi yang
kudengar sekilas dari Instruktur, sepertinya semua berjalan lancar tanpa
kendala.
Kami bertiga, aku,
Kirishima-san, dan Shiraishi-san, berkumpul di sebuah restoran keluarga.
Pakaianku
adalah kemeja kasual polos yang baru saja kubeli. Untuk bawahannya, aku memakai
jeans yang terlihat wajar. Baju-baju
santai yang kupakai saat SMP sudah tidak muat lagi karena tinggi badanku
bertambah. Tentu saja, Nina yang memilihkan baju-baju ini.
Karena aku tiba
lebih awal dari waktu yang dijanjikan, aku melamun sejenak di tempat teduh
terdekat untuk membunuh waktu. Akhir-akhir ini suara tonggeret terdengar sangat
berisik. Orang-orang berjas yang lewat pun sudah melepas jaket mereka, dan
banyak bangunan yang menggantung lonceng angin di emperannya.
Di seberang
lampu lalu lintas, kulihat sosok mereka berdua.
Bukan hanya
Shiraishi-san, Kirishima-san pun hari ini memakai riasan wajah yang cukup niat.
Sebelum datang ke sini, mereka bilang mereka pergi berziarah ke makam
Haruto-san bersama satu rekan mereka yang lain, yang kini sudah berhenti
menjadi petualang.
“Selamat
siang.”
“Maaf ya,
membuatmu menunggu,” ujar Shiraishi-san sambil tersenyum.
Di sampingnya,
Kirishima-san menimpali dengan nada provokatif.
“Kamu
seharusnya masuk ke restoran duluan saja tadi.”
“Kamu pikir aku
siapa? Mana berani aku masuk ke tempat seperti ini sendirian.”
“Itu bukan hal
yang patut dibanggakan.”
Aku memang
masih belum terbiasa makan di luar. Dibandingkan pintu restoran ini, gerbang dungeon
rasanya jauh lebih tidak menakutkan. Aku bahkan sampai merasa ingin digandeng
tangannya seperti biasa.
“Sudah, ayo
ikut.”
“Ayo, ayo
masuk. Di dalam sejuk, lho.”
Dijepit di
antara Kirishima-san yang memimpin jalan dan Shiraishi-san yang mendorong
punggungku, aku pun masuk ke restoran keluarga itu. Aku hanyalah robot yang
tinggal menggerakkan kaki di antara mereka berdua. Aku duduk di kursi yang
telah ditentukan. Di sisi ini hanya ada aku, sementara mereka berdua duduk
berhadapan denganku.
“Pesanlah apa
pun yang kamu suka. Hari ini kami yang bayar.”
“Eh, tapi
bagianku biar kubayar sendi...”
“Aku ini
klienmu. Aku tidak terima penolakan untuk imbalan ini. Pokoknya, paket drink bar
dan pencuci mulut itu wajib.”
“Wajib!?”
Menu pun
disodorkan padaku. Foto-foto makanan yang begitu penuh warna membuat kepalaku
terasa pening. Dan lihatlah harga yang tertera di bawahnya. Apa-apaan ini, apa
ini semacam serangan mental?
Aku menyeka
keringat yang muncul di dahi dengan ujung jari, lalu membersihkannya lagi
dengan handuk basah yang disediakan.
“Fuu...
ternyata tempat ini lawan yang cukup tangguh.”
“Kalau tidak
bisa memutuskan, biar kupilihkan saja.”
“Tidak mau.
Kirishima-san pasti akan memesankanku banyak makanan enak.”
“Seharusnya
kamu senang, dong.”
Aku bersikeras
menggelengkan kepala. Memang benar, dibelikan makanan enak itu menyenangkan.
Namun, dalam keakraban pun tetap ada tata krama. Aku harus tahu diri.
Setelah
beberapa kali ditolak oleh Kirishima-san karena pilihanku dianggap terlalu
murah, akhirnya diputuskan aku memesan menu panggangan plat besi dengan
berbagai macam daging.
Dari bagian
drink bar, dengan perasaan berdebar aku mengambil melon soda. Aku bahkan tidak
ingat kapan terakhir kali aku meminum minuman berkarbonasi.
Kirishima-san
menyodorkan gelas minumannya. Mengikuti gerakannya, aku pun meletakkan gelas di
tanganku ke tengah meja.
“Bersulang!”
Setelah meminum
jus jeruknya sedikit, Kirishima-san menatapku.
“Terima kasih,
Isshiki. Berkatmu, ambisi lamaku akhirnya tercapai.”
“Kalau tidak
ada Isshiki-kun, kami tidak akan bisa bicara dengan Haruto juga, ‘kan.”
“Soal itu...”
Entahlah.
Memang benar dalam informasi yang dikumpulkan Kirishima-san tidak ada catatan
mengenai hal itu.
Mungkin akulah
orang pertama yang berhasil membebaskan jiwa-jiwa tersebut. Tapi, aku ‘kan
hanya membaca apa yang ada di dalam inti Raja Roh Kematian.
“Isshiki.”
“Ya?”
“Aku tidak akan
marah, jadi tolong jawab jujur. ...Selama pertarungan, apa yang kamu pikirkan
tentang Raja Roh Kematian?”
“...”
Aku perlahan
mengalihkan pandangan. Kenapa ya melon soda ini warnanya bisa sehijau ini?
“Aku tidak akan
marah, kok.”
“Sihir-sihirnya
benar-benar berada di level yang berbeda... sejujurnya aku merasa sangat
antusias. Kurasa, Raja Roh Kematian pun merasakan hal yang sama.”
Sesaat sebelum
kami menunjukkan kartu as masing-masing, kami berdua saling beresonansi dengan
kuat.
Orgostra dan
Hakumei Enro, aku masih ingat sensasi saat rasa penasaran dan hasrat membunuh
yang murni menyelimuti seluruh tubuhku, bertanya-tanya apakah kekuatan penuhku
sanggup menghadapi musuh kuat di depanku.
Shiraishi-san
yang sedang meminum cokelat panas ikut menimpali dengan lembut.
“Mungkin karena
itulah kamu bisa menggunakan sihir terakhir itu. Karena Isshiki-kun berhasil
menjalin ikatan dengan Raja Roh Kematian.”
“Menjalin
ikatan dengan monster? Di tengah pertempuran?”
“Yah, namanya
juga Isshiki-kun.”
“Haruka, jangan
bilang kamu mau menyelesaikan semua penjelasan hanya dengan kalimat ‘namanya
juga Isshiki-kun’.”
“Habisnya,
logika tidak mempan kalau sudah menyangkut Isshiki-kun.”
Apa aku sedang
dipuji? Rasanya ini sudah di ambang batas ejekan. Tapi mana mungkin
Shiraishi-san menjelek-jelekkan orang, jadi sepertinya aku sedang dipuji... ‘kan?
“Yah,
begitulah. Toh semua sudah berakhir. Tidak masalah.”
Kirishima-san
tertawa dan membiarkan topik itu lewat begitu saja. Aku mulai menyantap
hidangan yang diantarkan, lalu menyendok es krim pencuci mulut sedikit demi
sedikit.
Setelah merasa
waktunya tepat, Kirishima-san mulai masuk ke inti pembicaraan. Saat itu,
minuman kami sudah berganti menjadi kopi dan teh.
“Lalu, soal
imbalan enam juta yen itu...”
Aku melirik ke
samping, dan Shiraishi-san mengangguk mantap.
“Aku juga tidak
membutuhkannya. Enam juta yen itu, semuanya untuk Isshiki-kun...”
“Tunggu
sebentar! Tidak bisa! Tidak mungkin! Benar-benar tidak bisa! Lebih baik dibagi
tiga saja secara adil, jadi masing-masing dua juta yen! Lagipula, Kirishima-san
sudah bersusah payah mencari lokasi Istana Mausoleum, jadi kalau mau ambil satu
juta yen lebih banyak pun...”
“Dia bicara
sesuatu ya.”
“Iya.”
“Kok aku
diperlakukan begitu!?”
Tiba-tiba saja
aku diperlakukan dengan sangat dingin.
“Habisnya, ini
enam juta yen, lho. Enam juta. Kalian paham tidak? Uang segitu bisa untuk
membeli enam ratus ribu bungkus jajanan seharga sepuluh yen.”
“Jajanan
sepuluh yen ‘kan sudah tidak ada lagi sekarang.”
“Bukan itu
maksudku!”
“Lagipula,
kalaupun beli enam ratus ribu bungkus, mau kamu apakan?”
“Ya dimakan
atau semacamnya.”
“Kamu bodoh ya?”
Kirishima-san
mengembuskan napas panjang. Sepertinya dia benar-benar tidak habis pikir dengan
nalar keuanganku.
“Asal kamu tahu
ya, uang enam juta itu kalau mau dipakai akan habis dalam sekejap. Beli
perabotan elektronik lengkap, ponsel untuk komunikasi, biaya klub olahraga,
biaya masuk SMA, kamu juga ingin adikmu ikut bimbingan belajar, ‘kan? Semuanya
bakal ludes seketika, tahu.”
“Aku mengerti, tapi...”
Hatiku terasa
berat karena seolah-olah seluruh pencapaian pembasmian Raja Roh Kematian ini
menjadi milikku seorang.
Ini adalah
kemenangan yang kami raih dengan berjuang bertiga.
Karena itulah,
aku ingin membagi apa yang kami dapatkan dengan semestinya.
“Hei, Yuuko, Yuuko.”
Seolah
memikirkan sesuatu, Shiraishi-san menepuk bahu Kirishima-san. Dia membisikkan
sesuatu di telinganya. Kirishima-san awalnya memasang wajah masam, namun tidak lama
kemudian dia mulai mengangguk.
“Benar juga.
Mari kita pakai cara itu. Isshiki.”
“Ya.”
“Kami
memutuskan untuk mengambil masing-masing satu juta yen. Tapi, kami tidak akan
menerima lebih dari itu.”
“...Baiklah.
Terima kasih banyak.”
Hasil dari
negosiasi itu, bagianku menjadi empat juta yen. Bagi keluarga Isshiki, ini
adalah pendapatan yang revolusioner. Menjadi petualang benar-benar luar biasa.
Aku meminum
tehku. Lalu mengembuskan napas.
Memikirkan
angka empat juta itu, tanganku sedikit gemetar.
* * *
Para pelajar
sudah masuk libur musim panas, sehingga waktu yang dihabiskan di rumah pun
menjadi lebih lama.
Karena urusan
petualangan sudah sedikit tenang, aku memutuskan untuk menggunakan waktu guna
merapikan rumah baru. Lagipula, aku ingin benar-benar meluangkan waktu bersama
keluarga yang belakangan ini sulit kudapatkan.
Target hari ini
adalah melengkapi peralatan elektronik yang masih kurang di rumah kami.
Bagaimanapun juga, sekarang aku punya empat juta yen. Sebuah nominal yang lebih
dari cukup untuk menaikkan taraf hidup kami dalam sekejap.
Di toko
elektronik besar yang pendingin ruangannya terasa terlalu dingin ini, aku
berdiri bersedekap sambil melototi label harga di depanku.
“Microwave,
penanak nasi, vacuum cleaner... lalu apa lagi yang bagus, ya?”
“Tunggu, tunggu,
tunggu dulu, Kak Itsuki.”
Nina
menarik-narik lenganku dengan kuat. Dari tenaga yang dia kerahkan, aku bisa
merasakan betapa seriusnya dia.
“Ada apa?”
“Apa kita
memang berencana membeli barang sebanyak itu hari ini?”
“Iya. Makanya Kakak
minta kalian semua ikut.”
Nina
mengerjap-ngerjapkan matanya, menunjukkan kebingungan yang luar biasa. Bagi
keluarga Isshiki, pergi belanja sekeluarga dengan naik bus saja sudah merupakan
kejadian luar biasa. Tidak heran jika dia merasa bingung.
“Oh, benar
juga. Kakak juga harus bertanya pada pelayan toko soal lemari es.”
“...Kak Itsuki.
Barang elektronik itu mahal, lho.”
“Aku tahu.
Jantungku saja berdebar-debar melihat label harganya.”
Bagiku yang
menganggap produk di supermarket saja sudah mahal, barang-barang elektronik ini
terasa berada di level yang terlalu tinggi. Melihat angka yang digitnya satu
atau dua tingkat lebih banyak dari biasanya membuat nyaliku rasanya hampir
ciut.
“Jangan disentuh...
ingat ya, jangan disentuh.”
Mitsuru menatap
Mutsuki, Sena, dan Seika lekat-lekat; tubuhnya kaku karena tegang.
“Tidak perlu
yang spesifikasinya terlalu canggih, tapi yang ukurannya agak besar bagus juga,
ya.”
“Uangnya...
benar-benar aman?”
Nina yang
berdiri di sampingku berbisik dengan suara pelan. Volumenya diatur agar tidak
terdengar oleh Mitsuru dan yang lainnya.
“Ada banyak hal
yang terjadi. Aku berhasil dapat untung besar.”
“Apa menjadi
petualang itu memang pekerjaan yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu?”
“...Yah, kalau
tahu aturan mainnya.”
Analisis Nina
memang cukup tajam.
Petualang biasa
tidak akan berpindah ke area berikutnya secepat ini, apalagi sampai mengincar
buruan besar. Pendapatan seharusnya naik secara bertahap. Aku adalah
pengecualian karena sudah menghasilkan sekitar lima juta yen hanya dalam waktu
tiga bulan. Wajar jika dia merasa curiga.
Meski begitu,
aku tidak mungkin menjelaskan soal Raja Roh Kematian kepada keluargaku. Malah,
aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menceritakan soal monster. Bagi
keluarga Isshiki yang tidak punya ketahanan terhadap film horor, sosok Raja Roh
Kematian itu terlalu mengerikan.
“Karena ini Kak
Itsuki, aku yakin Kakak tidak melakukan hal buruk, tapi...”
“Tidak, kok. Aku
berani sumpah demi Nina.”
“Aku malah
bingung kalau Kakak bersumpah demi aku.”
Melihat Nina
yang tampak sedikit malu-malu sekaligus gemas, aku hanya tersenyum untuk
meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.
“Sepertinya Kakak
memang cukup berbakat untuk menjadi petualang.”
“Soal itu...
entah kenapa aku bisa merasakannya. Belakangan ini Kak Itsuki terlihat sangat
bersemangat.”
“Iya. Rasanya
cukup menyenangkan.”
Saat pertama
kali menjadi petualang, aku merasa sangat terdesak. Namun belakangan ini, aku
sudah lebih tenang dan frekuensi tawaku pun bertambah.
“Kita bisa
membelinya. Semua peralatan elektronik ini bisa kita lengkapi.”
“Baiklah. Kalau
begitu, aku tidak akan melihat label harganya lagi.”
Setelah merasa
yakin, Nina perlahan mengalihkan pandangannya ke arah atas. Itu adalah hal yang
sering kulakukan di supermarket. Karena nyaliku ciut saat melihat harga, aku
sengaja membuang muka. Reaksi spontannya itu benar-benar menunjukkan bahwa kami
sedarah.
“Hei, Nina.”
“Apa?”
Aku melirik ke
arah Mitsuru dan yang lainnya. Mutsuki memegangi tangan Mitsuru dengan wajah
bingung, sementara Sena dan Seika menatap mesin pemanggang roti dengan penuh
rasa penasaran. Benda berwarna pastel yang tampak lucu.
“Ini mungkin pembicaraan
untuk masa depan yang masih jauh, tapi... menurutmu saat semua orang sudah
dewasa nanti, apa mereka akan mengingatnya?”
Hari-hari
seperti hari ini. Sore hari sepulang sekolah yang biasa saja, atau ruang tengah
yang dipenuhi aroma masakan untuk makan malam. Juga malam-malam saat aku pergi
berpetualang. Dan juga hari-hari mendatang, saat hidup kami perlahan-lahan
menjadi lebih makmur. Hari-hari saat kami bertengkar, malam-malam saat kami
bermain sampai larut... semuanya. Apakah semua itu akan terukir di suatu tempat
di dalam hati mereka?
“Aku harap itu menjadi
sebuah kenangan yang indah.”
“Kak Itsuki bicara
seperti kakek-kakek saja.”
Nina tertawa
kecil lalu memukul punggungku.
“Ayo kita
berjuang bersama!”
* * *
Dua minggu
telah berlalu sejak pembasmian Raja Roh Kematian.
Memasuki bulan
Agustus, frekuensi Itsuki masuk ke dungeon menurun drastis.
Karena keluarganya
sedang libur musim panas dan berada di rumah, sepertinya dia menghabiskan waktu
bersama mereka.
“Adik Isshiki-kun
kabarnya mulai main bisbol. Katanya instingnya bagus.”
“Dia pasti
selalu pamer, ‘kan?”
“Iya. Dia
bilang, ‘Adikku punya saraf motorik yang hebat, lho’.”
“Dasar kakak
yang terlalu membanggakan adiknya.”
Haruka dan Yuuko
duduk di bangku dekat gerbang pintu masuk dungeon.
Selama ini,
bertemu dengan Itsuki sepenuhnya bergantung pada keberuntungan. Pemuda itu
tidak memiliki ponsel, dan jam kedatangannya selalu berubah-ubah tergantung
situasi keluarganya.
Namun, sekarang
berbeda. Menggunakan uang imbalan sebesar empat juta yen yang telah ditransfer,
dia akhirnya memiliki sebuah ponsel pintar. Tentu saja itu barang bekas yang
murah, dan paket datanya pun yang paling rendah. Itsuki, yang dengan gigih
menolak tawaran pelayan toko saat disarankan mengambil kuota yang lebih besar,
memiliki sorot mata penuh tekad yang kuat.
Karena
apartemen mereka sudah modern, selama ada router maka jaringan Wi-Fi sudah
tersedia. Tidak ada masalah untuk saling bertukar kabar. Hari ini dia bilang
akan pergi ke dungeon setelah sekian lama, karena itulah Haruka dan Yuuko
datang ke sini. Melihat isi kantong kertas di tangan mereka, keduanya tersenyum
seperti anak nakal yang sedang merencanakan sesuatu.
“Dia pasti akan
terkejut melihat ini.”
“Bisa-bisa kita
malah dimarahi.”
Mereka terkekeh
pelan, dan setelah tawa itu mereda, Haruka tiba-tiba bergumam.
“Apakah suatu
saat nanti Isshiki-kun akan menjadi Raja Penyihir?”
Dia teringat
pada sihir pemuda itu. Saat dia memegang inti Raja Roh Kematian dan membebaskan
jiwa-jiwa yang terperangkap. Sihir itu.
Petualang yang
memiliki kemampuan luar biasa akan diberikan sebuah julukan.
Pahlawan, Pendekar
Pedang, Dewa Pencuri, Sang Pemberani... Namun, di antara semua itu, hanya
julukan Raja Penyihir yang terasa istimewa.
Dalam sejarah
dungeno, dialah petualang terkuat.
Nama yang dia
sandang, namun dia buang saat menuju petualangan terakhirnya.
Sepuluh tahun
setelah kematiannya, mahkota yang kehilangan tuannya itu kini berdebu.
“Bukan hal yang
mustahil,” Yuuko mengangguk dengan nada yang tidak biasanya terasa sangat
berhati-hati.
Kekuatan yang
tidak bisa dilampaui oleh siapa pun di dunia.
Nama yang tidak
pernah diwariskan meski sepuluh tahun telah berlalu.
Mungkin suatu
hari nanti, saatnya bagi pemuda itu untuk menggenggamnya akan tiba.
“Kalau sampai
hal itu terjadi, aku akan memamerkannya seumur hidup.”
“Aku sih sudah
memamerkannya sekarang. Bahwa aku pernah satu tim dengan Isshiki-kun.”
“Hei! Itu
curang sekali.”
Mereka saling
menggoda dan tertawa kembali. Seolah beban berat telah terangkat dari pundak
mereka, keduanya kini tampak begitu lugu seperti dulu.
Itsuki pun
datang. Dia berlari kecil dan langsung menuju ke arah mereka.
“Selamat pagi,”
sapa pemuda itu dengan sopan.
“Selamat pagi, Isshiki-kun.”
“Pagi, Bocah
Poliester.”
Itsuki
mendongak, lalu menatap Yuuko dengan kepala miring.
“Iya. Hari ini
pun aku tetap pakai poliester.”
“Hari ini kamu
lulus.”
“Hah?”
“Mulai hari
ini, pakailah ini.”
Kepada Itsuki
yang kebingungan, mereka berdua menyerahkan barang yang mereka bawa.
Begitu
mengeluarkan isi dari dalam tas dan merasakan teksturnya, mata Itsuki
membelalak. Sekilas itu hanya tampak seperti jubah hitam bertudung, kemeja, dan
celana panjang biasa. Namun, kain yang digunakan bukanlah kain sembarangan.
“Ini... milik
Raja Roh Kematian.”
“Nilainya
sebagai bahan material mungkin rendah, tapi kurasa Isshiki-kun bisa
menguasainya. Sama seperti saat kamu menemukan sihir dari intinya.”
“Terimalah.
Karena Isshiki adalah orang yang akan melangkah jauh mendahului kami.”
Setelah masa
cutinya berakhir, Haruka akan kembali ke tugas administrasinya seperti bagian
penukaran barang.
Yuuko, meski
belum diputuskan secara resmi, sepertinya akan menerima pelatihan untuk menjadi
instruktur berikutnya.
Keduanya akan
pensiun sebagai petualang. Hanya Itsuki yang akan terus melangkah maju di jalan
ini.
Waktu yang
mereka habiskan sebagai rekan satu tim memang tidak lama. Jika dibandingkan
dengan panjangnya kehidupan sebagai petualang ke depan, itu mungkin hanya
sekejap mata.
Namun, waktu
yang mereka habiskan bertiga tidak akan pernah hilang.
Uang dua juta
yen yang diterima Yuuko dan Haruka pun diputuskan untuk digunakan demi masa
depan pemuda itu.
Sebuah
perlengkapan pesanan khusus yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia.
Sebagai pengganti kehadiran mereka berdua, agar perlengkapan itu bisa terus
melindungi Itsuki.
“Terima kasih
banyak!”
Itsuki
tersenyum. Senyum yang jujur layaknya remaja seusianya.
Ah, syukurlah.
Haruka merasa
lega, dan hatinya terasa begitu hangat.
Bukan senyuman
untuk menyemangati seseorang, mendukung, atau untuk sekadar terlihat kuat,
melainkan senyuman yang meluap tulus dari dalam hati. Itsuki pun memiliki
senyum seperti itu, dan dia telah berhasil mendapatkannya kembali.
Itsuki berlari
kecil menuju ruang ganti dan kembali setelah berganti pakaian. Jubah hitam
dengan sulaman biru dingin itu tampak sangat serasi dipakainya.
“Selamat jalan!”
ucap mereka berdua serentak.
Sambil
melambaikan tangan kepada dua orang yang mengantarnya, Itsuki melompat masuk ke
dalam gerbang.
“Aku berangkat!”
Melihat
punggung pemuda itu pergi, keduanya segera meninggalkan tempat tersebut.
Begitu sampai
di luar, Yuuko meregangkan tubuhnya lebar-lebar, lalu melirik Haruka di
sampingnya.
“Hei Haruka.
Sebenarnya, apa pendapatmu tentang Isshiki?”
“Apa...
maksudmu?”
Melihat wajah
Haruka yang tampak tenang, Yuuko hanya menyeringai nakal.
“Kamu
menyukainya, ‘kan?”
“Langsung
sekali ya bicaramu,” Haruka membalas dengan lembut, tanpa menunjukkan rasa
terkejut sedikit pun. Ini memang bukan pertama kalinya Yuuko melemparkan topik
seperti ini kepadanya.
Jawaban Haruka
sudah tetap. Karena dia sendiri pernah menjadi petualang, dia bisa
mengatakannya dengan sangat jelas.
“Aku tidak bisa
jatuh cinta pada seseorang yang belum tentu bisa pulang dengan selamat.”
Tanggapan Yuuko
terhadap ucapan itu terdengar begitu santai.
“Dia pasti
pulang, kok. Bocah itu.”
Ekspresi Yuuko
saat itu tampak seperti campuran antara rasa jengah, pasrah, atau mungkin
sesuatu yang lebih tepat disebut sebagai kepercayaan penuh. Haruka memalingkan
wajahnya, menatap lampu penyeberangan pejalan kaki di hadapan mereka.
“Benarkah?”
tanyanya dalam hati.
Lampu yang
tadinya berwarna merah berubah tepat saat mereka tiba di depan penyeberangan.
“Semoga saja
begitu.”
Di tengah
kebisingan kerumunan dan bunyi sinyal lampu penyeberangan.
Kata-kata
terakhir itu bahkan tidak sampai ke telinga Yuuko yang berdiri tepat di
sampingnya.