Bab Penutup: Langkah Baru
Kerusakan yang dialami Kota Ketiga Belas setelah
serangan Paus sangatlah hebat. Bagian dinding luar hancur hingga mustahil
diperbaiki, dan sebagian fasilitas penelitian terpaksa harus dibuang. Meski
begitu, beruntung area pemukiman hanya menderita kerusakan kecil, dan rembesan
Lapisan Abu pun berhasil ditekan hingga batas minimal.
Magami menyeka keringat di dahinya di bawah terik
sinar mentari yang menyengat. Sambil menatap puas berbagai peralatan perbaikan
dinding yang kembali dia kenakan setelah sekian lama, dia melayangkan
pandangannya ke arah pemandangan di sisi dinding luar tersebut.
“Memang pemandangan dari dinding luar yang terbaik,”
gumamnya.
Tepat saat dia hendak melanjutkan pekerjaannya,
sebuah suara terdengar memanggil dari arah atas.
“Magamiii! Ada bapak-bapak besar datang mencari,
nih!”
Itu adalah suara Nebula, dengan cara bicara yang
seenaknya seperti biasa. Saat menengadah ke arah dinding, tampak sebuah kepala
kecil yang bergoyang ke kiri dan ke kanan di antara batas langit. Magami
melambaikan tangan sebagai tanda dia mendengar panggilannya, lalu mulai
memanjat dinding luar menggunakan alat derek yang terpasang di pinggangnya.
Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, dia naik
ke selasar di atas dinding luar. Di sana, Nebula sedang memeriksa jumlah
material yang bertumpuk tinggi di sampingnya.
“Kamu bekerja keras hari ini. Hebat, Nebula.”
Mendengar pujian itu, Nebula justru menggembungkan
pipinya dengan gusar.
“Habisnya kapalnya sudah tidak ada, jadi tidak ada
pekerjaan lain. Aku harap kapal baru segera datang. Tugas menghitung barang
seperti ini ‘kan bisa diserahkan pada orang lain saja.”
Walau terus menggerutu, Nebula sebenarnya sangat
tekun menyelesaikan tugas yang diberikan padanya. Magami hanya
mengangguk-angguk kecil sambil berkacak pinggang menanggapi kejujurannya itu.
Seperti yang dia katakan, Kapal Mensis akhirnya
hancur total. Belum ada rencana pembuatan kapal baru dalam waktu dekat,
sehingga para Anima pun akhirnya dikerahkan ke lapangan untuk membantu menutupi
kekurangan tenaga kerja.
Nebula melirik Magami dengan tatapan tajam yang
kesal, lalu menunjuk ke arah tumpukan material yang lebih dalam.
“Tuh, bapak-bapak itu. Mandormu, ‘kan? Cepatlah
temui dia.”
“Ah, mungkin dia sudah selesai dengan area yang
kuminta. Terima kasih ya.”
Magami melepas gawai pelindung matanya dan segera
berlari menghampiri.
Mandor itu adalah orang yang pernah mengasuh Magami
di Kota Keenam. Begitu mendengar kabar kerusakan di Kota Ketiga Belas, sang
Mandor segera memenuhi permintaan Magami untuk datang membantu proses
perbaikan. Meski dulu dia pernah berkata bahwa hubungan mereka bukan sekadar
hubungan sesaat, Magami tidak menyangka sang Mandor benar-benar akan datang
sejauh ini.
Sang Mandor menyadari kehadiran Magami yang mendekat
dan menoleh ke arahnya.
“Oit, Magami. Perbaikan dinding sisi timur yang kamu
minta sudah selesai. Mengenai area berikutnya, aku berpikir untuk bergeser
langsung ke sisi selatan, tapi aku ingin mendengar pendapatmu dulu.”
Sambil membentangkan cetak biru dinding luar Kota
Ketiga Belas, sang Mandor terus menjelaskan rencananya. Magami membuka cetak
birunya sendiri lalu mengambil sebatang pensil.
“Di bagian itu tim Kanayago sedang bekerja.
Sebaiknya jangan terlalu dicampuri. Lebih baik Anda berputar ke sisi utara
saja.”
“Begitu ya. Di sana orang-orang lokal sedang
melakukan perbaikan, apa tidak masalah kalau kami ikut bergabung?”
“Nanti biar aku yang bicara dengan mereka. Kita
harus segera memulihkan kota secepat mungkin sebelum badai datang, kalau tidak
bisa gawat.”
“Baiklah. Siang nanti aku akan membawa anak buahku
ke sisi utara, jadi tolong pastikan semuanya sudah beres sebelum itu.”
Sang Mandor menepuk punggung Magami dengan keras,
lalu kembali ke posisinya dengan langkah kaki yang berat mengguncang tanah.
Magami menggulung cetak birunya dan memasukkannya ke
dalam kantong di pinggang. Sebenarnya dia ingin lanjut memperbaiki dinding,
tapi sepertinya mengatur jadwal kemajuan pekerjaan secara keseluruhan jauh
lebih mendesak. Sambil memutar bahu untuk melemaskan otot, Magami mulai
berjalan menyusuri dinding luar.
Atas kejadian ini, banyak pejabat tinggi di Kota
Ketiga Belas yang dipaksa mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban. Alasannya
adalah kegagalan mereka dalam mengambil tindakan yang tepat saat serangan Paus
terjadi. Mengingat kerusakan hebat yang dialami kota, hal itu memang sudah
sewajarnya terjadi.
Berbanding terbalik dengan itu, Kapal Mensis yang berhasil
menundukkan Paus Putih, meskipun dengan melanggar perintah, mendadak dianggap
sebagai pahlawan. Hukuman atas pelanggaran peraturan pun diperkirakan akan
diringankan atau bahkan dibebaskan sepenuhnya.
Namun, kerusakan yang terjadi tetaplah besar, dan
faktanya tidak semua pendapat masyarakat bersifat positif.
Itulah sebabnya para awak Mensis merasa harus
berkontribusi dalam pemulihan kota, lebih dari sekadar alasan karena mereka
kehilangan kapal.
“Yah, biarpun tanpa alasan seperti itu pun kami tetap
akan melakukannya sendiri,” gumam Magami dalam hati sambil melihat
rekan-rekannya yang bekerja dengan penuh semangat.
Langkahnya terasa ringan seiring dengan embusan
angin yang sejuk saat dia menyusuri dinding luar.
Pandangannya jernih. Permukaan batas Lapisan Abu
tampak tenang. Tidak ada awan yang menandakan badai di langit, hanya hamparan
biru yang luas.
Di sudut matanya, tampak sisa-sisa bangkai Paus
Putih yang berdiri tegak menembus warna biru tersebut.
Bangkai Paus Putih dan Kapal Mensis yang tertinggal
di puncak bukit dibiarkan begitu saja untuk sementara waktu karena keterbatasan
waktu dan biaya evakuasi. Sisa-sisa logam raksasa yang berdiri gagah di bawah
sinar matahari itu kini telah menjelma menjadi semacam monumen bagi siapa pun
yang memandangnya.
Namun, bagi Agatha dan staf peneliti lainnya,
bangkai itu tampak seperti gunung harta karun. Hingga hari ini, mereka masih
terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap berbagai misteri dunia, seperti
mengapa Paus Putih ada di dunia ini, atau apa tujuan Spesies Kuno berada di
dalam Lapisan Abu.
Saat Magami tengah menatap sisa-sisa yang menyimpan
rahasia dunia tersebut, dia merasakan kehadiran seseorang yang bergerak di
depan.
Seorang gadis dengan seragam militer berwarna merah
tua tampak menaiki tangga yang menghubungkan bagian dalam dinding menuju
selasar atas. Dengan rambut perak indahnya yang berkibar, dia memandang ke arah
dinding luar.
Gerakannya terhenti saat dia menemukan sosok Magami.
Sepasang mata merah delima itu menatap Magami
lurus-lurus, lalu sedikit menyipit. Bukan karena silau matahari, bukan pula
karena dia sedang melotot.
Dia sedang mengulas senyum yang begitu lembut.
Magami mengangkat tangan sedikit sebagai sapaan.
Gadis itu pun membalas dengan gerakan yang sama. Sambil memperhatikan Nil yang
berlari kecil menghampirinya, Magami memasukkan tangan ke dalam saku.
Mengenai masa depan Nil, belum ada yang diputuskan.
Kini setelah Kapal Mensis tiada, peran yang dia
pikul mulai berubah. Kelanjutan rencana yang selama ini dijalankan pasti akan
ditinjau kembali oleh dewan. Mungkin saja diputuskan bahwa Proyek Nil atau
Proyek Mensis akan dihentikan sepenuhnya.
Namun, ada satu hal yang telah Magami janjikan di
dalam hatinya.
Sebuah tekad untuk terus melindungi Nil.
Mungkin setelah ini pun Nil akan tetap hidup sebagai
subjek percobaan Proyek Nil. Di hadapan takdir kejam yang terus menerjang, dia
pasti akan mengalami banyak kesulitan berkali-kali.
Itu adalah garis nasib yang tidak terelakkan.
Jika memang begitu adanya, biarlah dia berbagi nasib
bersama di sisi gadis itu. Magami telah memantapkan janji tersebut di dalam
hatinya.
Menatap Nil yang mendekat dengan raut wajah yang
tampak jauh lebih ceria dari biasanya, Magami mulai membatin.
Kira-kira, kata apa yang akan pertama kali
diucapkannya hari ini? Karena suasana hatinya sedang baik, mungkinkah sebuah
sapaan selamat pagi? Ataukah sekadar menanyakan kabar mengingat waktu yang
telah berjalan? Sambil membayangkan berbagai kemungkinan, pandangannya pun
bertaut dengan mata Nil yang kini telah berdiri tepat di hadapannya.
Nil menyunggingkan senyum seolah sedang menggoda
Magami sembari memiringkan kepalanya sedikit. Gerakan itu sungguh manis, bahkan
terasa curang bagi jantung Magami. Magami segera mengalihkan pandangannya ke
arah langit di atas Lapisan Abu demi menyembunyikan rasa malunya.
Lautan awan Lapisan Abu yang membentang tanpa ujung
itu kini terasa seperti tempat yang dipenuhi oleh masa depan yang bebas bagi
mereka berdua.
Karena itu, mari kita mulai sekali lagi dari sini.
Di atas langit ini, di bawah cakrawala yang luas.
Kisah tentang kamu dan aku.