Bab Lanjutan: Pengamatan
Barisan perangkat tidak terhitung jumlahnya berjejer
seolah tengah menahan napas sambil memancarkan hawa dingin dalam senyap.
Teknologi yang cara penggunaannya pun sudah melampaui nalar manusia itu terus
beroperasi, memancarkan pendar biru pucat di tengah kegelapan.
Di celah antara mesin-mesin tersebut, terdapat
sebuah ruang yang hanya cukup untuk diduduki satu orang.
Di tengah kegelapan yang terasa begitu menyesakkan
bagi manusia untuk bertahan hidup itu, sepasang mata merah delima tampak
mengambang. Sepasang mata itu tengah menatap lekat-lekat pada sebuah layar yang
terpampang dari salah satu perangkat.
Sebuah pola gelombang beriak di atas layar. Riaknya
bergejolak hebat membentuk puncak yang tajam, tumpang tindih dengan pekikan
maut yang terdengar dari kejauhan. Pemuda yang menatap layar itu perlahan
mengulurkan tangannya yang putih pucat seperti orang sakit ke arah gelombang
tersebut.
“%$#&&$”
Tangannya yang menyentuh layar tampak bergetar
sangat halus. Suara yang dia gumamkan begitu kecil dan serak hingga takkan
sampai ke telinga siapa pun.
Namun sebaliknya, sepasang mata merah delimanya
justru memancarkan kebencian yang amat mendalam.
Entah apa yang sedang dia pikirkan, tidak ada satu
pun yang tahu. Namun, benteng baja yang bergejolak itu mulai melaju pasti
menuju arah yang tertangkap oleh pandangan matanya.
Di balik barisan banyak perangkat dan tumpukan pelat
zirah yang berlapis-lapis, terbentang kedalaman Lapisan Abu yang luas. Dasar
terdalam Lapisan Abu yang bahkan tidak terjangkau oleh sinar mentari. Di tengah
kegelapan total, bayangan kawanan Paus Putih yang mulai berpendar biru pucat
pun muncul ke permukaan.
Segalanya belum akan berakhir.
Maka dari itu, mari kita mulai sekali lagi.
Di sini, di atas langit, di bawah cakrawala.
Sebuah tempat bagi takdir, di mana mereka yang saling mendamba bertemu, dan mulai menenun jalinan kisah.