Bab 6: Keselarasan
Pagi berikutnya. Pemandangan Kota Ketiga Belas yang
terlihat dari anjungan membuat para awak kapal terkelu.
Meski ada laporan mengenai pertempuran di malam
hari, situasi sebenarnya baru bisa terlihat jelas setelah langit mulai memutih.
Begitu fajar menyingsing, kondisi Kota Ketiga Belas terpampang dengan nyata.
Asap hitam mengepul bagaikan laron-laron gelap dari
Kota Ketiga Belas, sesekali diselingi luncuran suar merah tanda permintaan
tolong. Guratan asap tipis yang membubung dari permukaan Lapisan Abu pastilah
jejak kapal-kapal terbang yang mencoba mencari bantuan namun berakhir karam
dihantam Paus.
Krus tetap bergeming di kursi kapten, menatap dalam
diam kehancuran yang menimpa Kota Ketigabelas.
“Kapten Krus. Apa rencana kita?”
Sae, yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan rutin
pagi hari, kembali ke anjungan dan langsung melontarkan pertanyaan itu. Krus tidak
menyahut, matanya tetap terpaku pada permukaan Lapisan Abu yang diselimuti
asap.
Sebagai kapten, dia memikul kewajiban untuk menjaga
kapal. Namun di saat yang sama, timbangan di hatinya sedang bergoyang hebat;
haruskah dia menyelamatkan Kota Ketiga Belas?
Menyelamatkan kota itu berarti memperpanjang napas
para bajingan yang haus kuasa. Namun, membiarkannya berarti membiarkan keluarga
para awak kapalnya mati sia-sia.
“Biarpun memuakkan, aku tidak bisa mengabaikannya
begitu saja,” gumam Krus penuh kebencian sambil menatap kota tersebut. Sae
mengangguk kecil, seolah sepakat dengan bisikan itu.
Sae memahami kebimbangan Krus. Dia pun tahu bahwa
untuk mengambil keputusan akhir, diperlukan satu kepingan lagi. Mendengar
langkah kaki yang mendekat dari belakang, dia merasakan firasat bahwa genderang
perang akan segera ditabuh.
Tidak lama setelah Sae, Agatha pun tiba di anjungan
bersama Nil dan Magami. Krus menyandarkan punggungnya dalam-dalam ke kursi.
Pemuda yang biasanya hanya mengikuti Nil itu kini
berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh tekad, seolah siap memikul segala
beban di pundaknya.
Melihat ekspresi Magami, persepsi Krus terhadap
pemuda itu berubah total. Dia menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut
Magami tanpa perlu mendesak. Kini, dia tidak lagi harus menyudutkan pemuda itu
seperti sebelumnya.
Di hadapan sang kapten, Magami berucap dengan
lantang.
“Kapten Krus. Mari kita selamatkan Kota Ketiga
Belas.”
Mendengar pernyataan tegas itu, Krus beralih menatap
Nil yang berdiri di samping Magami. Pandangannya seolah bertanya, bagaimana
denganmu? Gadis itu mengangguk, menunjukkan keteguhan hati yang tidak kalah
kuat dari Magami.
“Kota itu tak ubahnya mimpi buruk bagi kalian. Meski
begitu, kalian tetap ingin melindunginya?”
“Benar. Bagiku maupun Nil, kota itu memang bukan
tempat dengan kenangan indah. Mungkin bagi para Anima lainnya pun sama. Tapi,
masa lalu biarlah berlalu. Masa depan masih bisa diubah.”
Magami tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
Tekadnya terhunus lurus ke arah Krus.
Krus mengembuskan napas panjang lalu menyilangkan
kakinya. Dia melepas topi militer dan menggantungnya di sisi kursi. Sosok
Magami saat ini mengingatkannya pada memori masa lalu.
Sebuah harapan yang dulu tidak mampu dia raih, kini
seolah akan diwujudkan oleh mereka.
Kurs meraih penutup pipa suara. Dia membuka semua
saluran, hanggar, ruang kemudi, hingga ruang mesin, lalu berdeham.
“Perhatian untuk seluruh awak kapal. Mulai saat ini,
Mensis akan memulai operasi pembersihan Paus yang mengepung Kota Ketiga Belas.
Target utama adalah melumpuhkan Paus Putih. Kendali kapal kuserahkan kepada Nil
dan Magami. Sisanya, segera bersiap untuk memberikan dukungan penuh. Operasi
dimulai sepuluh menit lagi. Sekian.”
Krus menutup semua saluran komunikasi dengan gerakan
tangkas, lalu menoleh ke arah Magami dan mengangguk.
“Kalau kamu berniat mengubah masa depan, pastikan kamu
bertahan hidup di sini. Berangkatlah.”
“Terima kasih banyak.”
Magami dan Nil saling menggenggam tangan lalu
berlari menuju ruang kemudi. Kepergian dua anak muda yang penuh semangat itu
meninggalkan jejak sunyi di anjungan, seolah mentari sedikit bersembunyi di
balik awan.
Krus merapikan kerah seragam kaptennya sambil
merenung. Agatha, yang berdiri tidak jauh darinya, mengedikkan bahu melihat sikap
Krus.
“Kamu benar-benar berani bertaruh, ya.”
“Medan perang selalu soal pertaruhan. Tentang
seberapa besar keyakinanmu dan pada apa kamu mempertaruhkannya. Hanya itu.”
Agatha bergumam sangat pelan, hampir tidak
terdengar, “Dasar pria bodoh.”
Tetesan air merayap di kaca jendela anjungan.
Aliran-aliran kecil itu perlahan menyatu, membentuk sebuah arus besar yang siap
menerjang ke depan.
* * *
Di dalam ruang kemudi, para Anima berkerumun
mengelilingi Magami yang masih pemula dalam urusan navigasi.
Nebula terus berceloteh tanpa henti tepat di telinga
Magami, menjelaskan detail instrumen kendali, sementara Nox dengan cekatan
mengencangkan sabuk pengaman di tubuh pemuda itu tanpa suara. Di dekat pintu
masuk, Luciola tampak sedang melakukan penyesuaian akhir bersama Nil.
“Nah, ini sakelar untuk penyesuaian halus bidikan.
Jadi, kamu harus menyesuaikan target yang sudah ditentukan Nil lewat sini. Dia akan
fokus menggerakkan kapal, jadi sentuhan akhirnya adalah tugasmu.”
“Ternyata banyak juga ya yang harus dilakukan bagi
seorang asisten pilot.”
“Kamu pikir kami selama ini cuma duduk santai sambil
mendengkur? Ini bakal sangat sibuk, jadi siapkan mentalmu,” cetus Nebula sambil
menyeringai hingga deretan gigi putihnya terlihat, seolah sedang
mengintimidasi.
Magami hanya menjawab singkat, “Maafkan aku.”
Nox muncul dari balik sandaran kursi setelah
memastikan kekencangan sabuk pengaman empat titik yang melintang di dada
Magami.
“Terlalu kencang?”
“Tidak. Sudah pas kok,” sahut Magami sambil
menyentuh sabuk tersebut dan mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya, kursi itu tidak dirancang untuk diduduki
oleh pria bertubuh besar. Nox telah memodifikasinya agar sesuai dengan ukuran
tubuh Magami menggunakan berbagai peralatan yang dia kumpulkan dari hanggar.
Mendengar jawaban Magami, Nox tampak puas,
membusungkan dadanya sedikit, lalu kembali menarik diri.
Posisi Nox segera digantikan oleh Nebula yang
kembali berdiri di depan Magami dengan rambut yang bergoyang lincah.
“Biarpun keluaran Mekanisme Amadeus meningkat karena
keberadaanmu, lawan kali ini bukan musuh yang mudah. Kita akan menghadapi
beberapa Paus Hitam dan satu Paus Putih. Secara normal, kita tidak mungkin
menang. Jadi, tanamkan semua cara pengoperasian ini di otakmu dan bertarunglah
dengan performa maksimal.”
Nebula bicara dengan nada yang lebih serius dari
biasanya. Namun, alih-alih terdengar agresif, kata-katanya justru terasa
seperti dorongan semangat bagi Magami.
Pemuda itu mengangguk mantap.
“Aku mengerti. Aku akan memberikan yang terbaik.”
“Kumohon ya. Karena apa pun yang terjadi nanti, aku
tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kalian,” ujar Nebula sambil
menggigit bibir bawahnya dengan raut menyesal.
Magami memahami perasaan gadis itu, lalu dia
mengulurkan tangan dan mengusap kepala Nebula.
“Bukan berarti kamu tidak melakukan apa-apa. Kalau
kamu tidak mengajariku, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa di sini. Jadi, kamu
sudah sangat membantu, tahu? Baik bagiku, maupun bagi Nil.”
Magami menoleh ke arah kursi belakang. Di sana,
Luciola dan Nil sedang melakukan pemeriksaan akhir pada sistem persenjataan.
Merasa namanya disebut, Nil memiringkan kepalanya
sedikit.
“Ada apa?” tanya Nil kepada Magami.
Nil yang sekarang tampak jauh lebih tenang
dibandingkan sebelumnya yang selalu ketus. Hawa keberadaannya terasa sangat
stabil, seolah semua emosi negatifnya telah luruh.
Nebula melirik ke arah Nil, lalu kembali menatap
Magami.
“Hei, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Dia
benar-benar terasa seperti orang yang berbeda,” bisik Nebula dengan suara
lirih, seolah merasa ngeri dengan perubahan mendadak itu.
Magami hanya mengulas senyum getir dan membalas
dengan bisikan pelan, “Yah, banyak hal yang terjadi.”
“Banyak hal? Eh...”
Entah apa yang terlintas di pikiran Nebula, wajahnya
mendadak memerah. Dia memandang Magami dan Nil bergantian dengan tatapan
curiga.
Lalu tiba-tiba saja dia berlari pergi dengan raut
wajah yang entah mengapa tampak kesal. Magami tidak benar-benar paham dengan
jalan pikiran gadis itu. Mungkin nanti dia akan bertanya apa yang sebenarnya
Nebula pikirkan.
Magami mulai meninjau kembali fungsi instrumen yang
diajarkan Nebula satu per satu. Alat pengukur tekanan untuk memeriksa kerusakan
lambung, indikator sisa amunisi, pengukur keluaran, altimeter, tuas penyesuaian
bidikan, dan berbagai panel lainnya.
Kursi ini benar-benar menuntut konsentrasi tinggi
karena banyaknya hal yang harus diperhatikan. Dia bertanya-tanya apakah dia
sanggup memantau semuanya di tengah sengitnya pertempuran nanti.
Saat Magami sedang bersedekap sambil mengerutkan
kening, Luciola menyapanya.
“Pemeriksaan untuk Nil sudah selesai, bagaimana
denganmu?”
Menanggapi nada bicara Luciola yang dewasa dan
tenang, Magami menjawab dengan suara yang kurang percaya diri.
“Sejujurnya, aku merasa cemas. Kemarin rasanya aku
hanya mengandalkan momentum saja.”
“Serahkan urusan navigasi pada Nil. Tidak ada pilot
yang lebih hebat darinya. Sisanya, kamu hanya perlu membangun keselarasan batin
dengannya untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan.”
“Keselarasan batin...”
Magami mendongak dengan wajah bingung, namun Luciola
justru membalasnya dengan senyum lebar. Seolah ingin mengatakan bahwa hal itu
adalah keahlian Magami. Hal itu justru membuat Magami semakin bingung.
Namun, di kursi belakang, Nil tampak sangat percaya
diri. Tanpa keraguan sedikit pun, gadis itu berucap, “Jangan khawatir. Kalau
kita berdua, kita pasti bisa.”
“Benar. Kalian pasti bisa,” Luciola menimpali sambil
mengangguk setuju dengan Nil. Kedua gadis itu tampak jauh lebih akrab sekarang
dan saling melempar senyum.
Tidak lama kemudian, suara dari anjungan terdengar
melalui pengeras suara.
“Lima menit menuju dimulainya operasi. Seluruh
personel, segera menuju pos tempur utama.”
Suara Sae menggema di seluruh kapal. Dengan raut
wajah yang sedikit berat untuk berpisah, Luciola mengucapkan salam terakhir
lalu meninggalkan ruang kemudi.
Pintu ruang kemudi tertutup rapat, dan lampu di
dalam ruangan mulai berpendar terang. Sambungan monitor eksternal pun selesai
terhubung secara waktu nyata, menyajikan pemandangan dua warna, perak dari
Lapisan Abu dan biru dari cakrawala, di seluruh bidang pandang Magami dan Nil.
Haluan Kapal Mensis telah diarahkan menuju Kota
Ketiga Belas. Di depan sana, asap hitam yang membubung tinggi terlihat sangat
jelas dan nyata.
Pertempuran akan segera dimulai. Magami menyeka
keringat di tangannya menggunakan baju. Di tengah ketegangan yang memuncak, Nil
membuka suara.
“Magami. Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang
sangat sulit, tapi mari kita berjuang dan jangan menyerah.”
Nada suara Nil terdengar sangat tenang. Mengenakan
seragam militernya yang biasa, dia menyelonjorkan kakinya yang ramping dan
menggenggam tuas kendali dengan santai namun mantap.
Magami pun mengikuti sikap gadis itu dan merilekskan
bahunya. Dia tidak sedang bertarung sendirian. Di belakangnya, ada Nil yang dia
percayai lebih dari siapa pun. Mengingat hal itu, Magami menarik napas dalam
untuk menenangkan jiwanya.
“Iya. Aku tidak akan pernah menyerah sampai akhir.
Mari kita berjuang bersama.”
Kursi kemudi mulai berguncang seiring meningkatnya
daya aktif Mekanisme Amadeus. Begitu pertempuran pecah, mereka tidak akan punya
waktu lagi untuk saling menatap wajah. Magami membatin demikian, lalu menoleh
ke belakang. Dia dan Nil saling bertatapan, kemudian mengangguk mantap satu
sama lain.
Sesaat lagi, pertempuran akan segera dimulai.
* * *
Langit begitu cerah, tidak sehelai awan pun tampak
menggantung.
Hamparan Lapisan Abu yang biasanya bergejolak berat
kini tampak tenang tanpa riak sedikit pun. Dunia seolah hanya terlukis dalam
dua warna: perak keputihan dan biru langit yang jernih. Di tengah angkasa yang
membiru, sang rembulan masih menampakkan siluet putihnya yang samar. Sinar
mentari yang perlahan mendaki cakrawala membuat permukaan Lapisan Abu
berkilauan, seiring dengan suhu udara yang mulai menghangat.
Di Kota Ketiga Belas, dinding luar telah hancur
sebagian, membiarkan Lapisan Abu mulai merembes masuk ke jantung kota. Rembesan
itu telah merangkak maju hingga mendekati kawasan pemukiman.
Seakan sedang mengamati kehancuran itu, beberapa
bayangan hitam tampak berenang mengitari Kota Ketiga Belas. Mereka adalah Paus
Hitam. Ukuran mereka tidak jauh berbeda dengan kota layang berkapasitas seribu
penduduk. Beberapa ekor monster dengan panjang tubuh yang jauh melampaui tiga
ratus meter itu berulang kali menyelam ke dalam Lapisan Abu lalu menyembulkan
kepala mereka ke permukaan.
Orang-orang yang masih bertahan di Kota Ketiga Belas
kini berkerumun di dataran tinggi yang belum terjamah Abu, saling merapat di
sebuah alun-alun yang menghadap ke arah perbukitan. Baik itu para peneliti
maupun pejabat pemerintah, di hadapan maut, mereka hanyalah manusia biasa yang
didera ketakutan yang sama.
Saat keputusasaan mulai menyelinap dan semua orang
berpikir bahwa kota ini akan segera berakhir, seseorang di tengah kerumunan itu
menangkap sekelebat suar yang meluncur ke langit.
Dua, kemudian tiga suar melesat bergantian dalam
warna kuning dan merah. Itu adalah sinyal bantuan.
“Lihat! Bantuan sudah datang!”
Mendengar teriakan itu, semua pasang mata serentak
beralih ke arah datangnya suar. Di atas permukaan Lapisan Abu, tampak sebuah
kapal terbang yang ukurannya masih terlihat sekecil butiran debu. Menatap
bayangan kapal yang nyaris tidak tertangkap mata telanjang itu, seseorang
bergumam lirih.
“Itu Kapal Mensis.”
Bayangan kapal yang mendekat dengan kecepatan yang
kian meningkat itu memiliki bentuk yang sangat berbeda dari kapal terbang
biasa. Garis-garis tubuhnya yang tajam memang dirancang khusus agar dapat
bertempur di atas Lapisan Abu dengan kecepatan dan efisiensi maksimal. Para
peneliti Kota Ketiga Belas yang merancang Kapal Mensis tentu menyadari hal itu
dalam sekejap.
Namun, kepulan asap berwarna pelangi yang menyembur
dari Kapal Mensis adalah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun
sebelumnya. Para peneliti itu kehilangan kata-kata saat melihat pendaran
pelangi yang hanya bisa dihasilkan oleh keluaran ekstrem dari Mekanisme Amadeus.
Rakyat jelata yang tidak memahami kerumitan teknis
di baliknya pun ikut terpesona oleh kemilau warna-warni yang tidak kalah
benderang dari pantulan perak di permukaan Lapisan Abu.
“Kumohon... selamatkan kami.”
Entah siapa yang memulainya, namun orang-orang mulai
memanjatkan doa kepada kapal terbang yang tengah membelah samudra perak itu.
Sebilah kapal yang tampak begitu mungil jika dibandingkan dengan ukuran raksasa
sang Paus Hitam.
Meski begitu, ia adalah mahakarya terbaik yang
tercipta dari puncak kecerdasan umat manusia. Di tengah doa yang mengalun dari
ribuan bibir, Kapal Mensis memacu kecepatannya hingga titik puncak dan melesat
membelah permukaan Lapisan Abu.
* * *
Keluaran daya Kapal Mensis telah mencapai titik
maksimal. Dengan kecepatan yang membuat kilauan Lapisan Abu di sekitarnya
tampak seperti garis-garis cahaya yang melesat, lambung kapal yang hitam itu
menerjang masuk ke zona tempur kawanan Paus. Haluan kapal sedikit mendongak,
mengangkat badan pesawat dari permukaan Lapisan Abu, sebelum akhirnya kemudi
dimiringkan dengan perlahan.
Dalam sekejap, Kapal Mensis telah melintasi langit
di atas Kota Ketiga Belas dan melakukan manuver putar balik yang tajam di
langit. Dari ketinggian itu, seluruh permukaan batas Lapisan Abu dapat terlihat
dengan jelas.
Setelah terbang selama beberapa detik, Nil menemukan
sasarannya. Sebuah bayangan putih yang seolah menyatu dengan warna perak
Lapisan Abu. Sosok yang menjatuhkan sedikit bayangan di bawah sinar matahari
itu adalah sang pemimpin kawanan, si Paus Putih.
“Sasaran ditemukan! Arah jam sembilan!”
Begitu Magami melapor ke anjungan, pesawat mulai
menukik turun. Nil memiringkan tuas kendali, membelokkan haluan kapal lurus
menuju Paus Putih.
Kapal Mensis sebelumnya sudah pernah terlibat
pertempuran. Akibat bentrokan dengan beberapa Paus Hitam sebelumnya, persediaan
logistik tempur mereka tidak bisa dibilang melimpah. Mereka harus segera
mengincar target utama dalam sekali serang.
Dengan sensasi melayang yang tidak menyenangkan,
Kapal Mensis meluncur lurus menuju Lapisan Abu. Menyadari kehadiran Kapal
Mensis, Paus Putih tersebut segera menyelam ke dalam Lapisan Abu untuk
bersembunyi. Namun, Nil tidak peduli dan tetap menerjangkan Kapal Mensis masuk
ke dalam Lapisan Abu.
Dengan suara dentum yang tumpul, Kapal Mensis
menerobos masuk ke dalam Lapisan Abu yang memiliki jarak pandang nol, lalu
segera beralih ke mode navigasi instrumen dengan mengandalkan sonar.
“Deteksi sonar dimulai.”
Suara operator sonar terdengar dari anjungan. Magami
mengandalkan informasi darinya untuk memetakan situasi ke dalam monitor.
Tampaknya Paus Putih itu telah menyelam cukup dalam;
pantulan suara sonar terdengar dari posisi yang jauh di bawah mereka.
“Bayangan musuh terdeteksi, di bawah dua ratus
meter.”
“Musuh di bawah dua ratus meter. Dimengerti.”
Setelah menandai jarak musuh pada monitor sebagai
informasi pendukung, Nil mengarahkan kemudi lebih dalam lagi ke bawah. Pemandangan
di balik monitor perlahan berubah menjadi warna kelabu tua yang pekat. Sama
halnya dengan lautan yang dulu pernah menutupi permukaan bumi, semakin dalam
seseorang menyelam ke dalam Lapisan Abu, semakin sedikit cahaya yang bisa
menembus. Di saat yang sama, kepekatan Lapisan Abu itu sendiri pun semakin
meningkat.
Jarum indikator kepekatan Lapisan Abu di luar kapal
terus bergerak naik. Saat suara gesekan yang menyerupai pasir mulai terdengar
pada sayap pesawat, terdengar suara dentingan tinggi yang menghantam lambung
kapal dua, tiga kali berturut-turut.
Mendengar suara itu, sebuah perintah mendesak datang
dari anjungan.
“Sonar aktif! Dia datang!”
Itu adalah teriakan Kapten Krus.
Meski operator sonar mencoba memastikan posisi
melalui sonar milik kapal, lokasi pasti musuh masih belum bisa dikonfirmasi.
Magami mempertajam pendengarannya pada informasi yang dikirimkan oleh operator.
“Gagal menangkap bayangan musuh.”
“...Masih belum juga?”
“Deteksi sonar ulang. Masih gagal menangkap bayangan
musuh. Bukan, ini...”
Bersamaan dengan suara operator sonar yang tertahan,
Magami menyadari sesuatu. Sebagai seorang mekanik yang memahami struktur sonar,
dia mampu membaca kepanikan sang operator dan langsung berteriak.
“Nil, tepat di bawah kita!”
Seketika itu juga, Nil memutar kemudi.
Kapal Mensis mengerang hebat karena mendadak
dimiringkan dengan sangat tajam. Sebuah guncangan hebat melanda, cukup kuat
untuk membuat siapa pun yang berada di dalam kapal merasakan sakit.
Tepat setelah itu, sesosok raksasa Paus Putih muncul
dari dalam Lapisan Abu. Dengan mulut menganga lebar, Paus Putih itu menerjang
naik tepat dari bawah Kapal Mensis. Hanya selisih beberapa meter dari hidung
kapal, Paus Putih itu melesat naik menuju langit.
Nil segera memutar tuas kendali untuk mengejar ekor
sang Paus Putih.
“Takkan kubiarkan kamu lolos!”
Sambil mengatupkan rahang menahan beban gravitasi,
Nil memposisikan kapal pada jarak yang memungkinkannya untuk terus membayangi
Paus Putih itu. Jika sebelumnya saat bersama Anima lain dia tidak pernah bisa
menyejajari kecepatan Paus Putih, sekarang hal itu menjadi mungkin.
Bahkan jika hanya bicara soal kecepatan terbang,
Kapal Mensis kini telah mengungguli sang Paus. Setelah berhasil menempel di
belakang tubuh raksasa itu, Nil mengunci sasaran harpun pada bagian belakang
Paus Putih.
Setelah memastikan bidikan kasar, Magami melakukan
penyesuaian lintasan yang lebih mendalam.
Kecepatan navigasi Kapal Mensis, sudut tembak,
hingga titik paling optimal untuk menembus zirah lawan; Magami seolah secara
alami mampu menentukan metode tersebut. Entah karena sisa-sisa pelatihan masa
lalu yang sudah mendarah daging, ataukah sekadar insting liar, dia sendiri
tidak tahu.
Setelah selesai melakukan penyesuaian, Magami
menarik pelatuk tembakan dengan kuat.
Disertai guncangan tumpul, enam buah harpun meluncur
dari Kapal Mensis menuju Paus Putih. Beberapa di antaranya meleset dari
lintasan karena arus Lapisan Abu. Sisanya berhasil menghantam tubuh Paus Putih,
namun tidak memberikan luka fatal yang mampu menembus zirahnya.
“Zirah itu lebih keras dari sebelumnya,” keluh Nil.
Benar saja, serangan yang seharusnya cukup efektif
pada pertempuran sebelumnya kini terasa tumpul. Mungkinkah dalam waktu singkat
ini mereka telah memperkuat zirahnya? Magami kembali memperbesar cakupan
bidikannya hingga maksimal.
Zirah Paus Putih itu tampak seperti kumpulan
kepingan logam kecil yang rapat. Memberikan kesan sebuah struktur yang jauh
lebih maju dan rumit dibandingkan Kapal Mensis.
“Zirahnya terlalu tebal. Kita tidak akan bisa
menembusnya tanpa kecepatan peluru yang lebih tinggi.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus menambah kecepatan benturannya. Kita
tembakkan harpunnya saat kita berpapasan dengan mereka. Sama seperti waktu
itu.”
“Oke.”
Warna kelabu dari Lapisan Abu mulai diterangi
cahaya, dan lingkaran putih matahari mulai terlihat di atas kepala. Nil pun
segera mengambil jarak dari Paus Putih tersebut.
Kapal Mensis melesat menembus permukaan Lapisan Abu
dan kembali membubung ke angkasa. Sang Paus Putih pun melakukan lompatan ke
udara, seolah sedang menatap Kapal Mensis, sebelum kembali menyelam ke dalam
Lapisan Abu.
Seiring dengan pergerakan itu, terasa hawa
keberadaan kawanan Paus Hitam yang mulai berkumpul di sekitar sang Paus Putih.
Nil mendaratkan Kapal Mensis dengan waspada,
menyisir tepat di atas permukaan batas Lapisan Abu. Kapal itu meninggalkan
jejak di atas permukaan saat mulai menjauh dari garis depan pertempuran. Dengan
Kota Ketiga Belas di sisi kanan, Mensis mulai terbang berputar, dan kawanan Paus
pun mulai mengejarnya.
Mensis semakin memacu kecepatannya sambil memancing
Paus Hitam di belakangnya. Akselerasinya jauh lebih cepat dibanding sebelumnya,
dan volume debu pelangi yang disemburkan pun semakin banyak. Kapal itu melesat
di permukaan Abu, memancarkan cahaya yang tampak seperti aurora.
Magami terus mengawasi Lapisan Abu sambil melirik ke
belakang.
Entah mengapa, kawanan Paus memiliki kecenderungan
untuk muncul ke permukaan batas Lapisan Abu secara berkala. Mungkin bagi mereka
pun Lapisan Abu itu beracun. Itulah sebabnya mereka perlu menghirup udara
secara rutin.
Melihat sedikit gundukan di Lapisan Abu, Magami
berseru.
“Arah jam dua, jarak empat ratus!”
Nil tanpa ragu mengarahkan haluan kapal sesuai
instruksi Magami. Di titik itu, kepala Paus Putih menyembul keluar. Beruntung,
moncong Paus Putih itu terjatuh tepat ke arah haluan Mensis.
Nil semakin memperkuat daya dorong. Tubuh mereka
tertekan ke kursi akibat gaya gravitasi dari percepatan tersebut.
Suara rintihan tertahan keluar dari mulut Magami. Di
tengah akselerasi mendadak yang membuat mata pun perih untuk sekadar terbuka,
Nil berhasil mengunci sasaran.
Ditambah dengan kecepatan Mensis, waktu yang mereka
miliki hampir tidak ada. Namun, mereka tidak boleh gagal di sini. Dengan
konsentrasi yang seolah membakar otak, Magami melakukan penyesuaian titik
fokus.
Jumlah harpun yang akan diluncurkan adalah dua belas
buah. Itu adalah seluruh lubang meriam yang bisa ditembakkan Mensis dalam satu
waktu. Setelah menyelesaikan penyesuaian bidikan secepat kilat, Magami menarik
pelatuknya.
“Tembak!”
Bersamaan dengan seruannya, suara tembakan yang
tumpul bergema di dalam kapal. Melalui monitor, bayangan harpun yang melesat
dengan kecepatan dahsyat terbang menuju sasaran.
Dua belas harpun itu berkumpul dan menghunjam tepat
di pangkal leher Paus Putih. Belum jelas apakah itu luka fatal atau tidak.
Namun, Paus Putih itu tampak melentingkan tubuhnya dengan hebat akibat hantaman
harpun tersebut.
Sesaat kemudian, Nil melakukan manuver menghindar.
Dia memiringkan badan kapal tepat di depan Paus
Putih, namun kecepatannya sudah terlalu tinggi.
Lambung kapal menghantam tubuh Paus Putih, membuat
kepingan zirah luar berhamburan ke udara. Kapal Mensis memercikkan bunga api
sembari menggoreskan garis hitam panjang pada tubuh putih bersih sang Paus.
Serangan saat berpapasan itu memberikan dampak yang
cukup berarti. Terlihat jelas bahwa Paus Putih itu gagal melanjutkan selamannya
karena menderita kerusakan. Dari bagian dada yang terkena serangan Mensis,
kilatan listrik besar terpancar diikuti suara derit yang terdengar seperti
jeritan kesakitan.
Namun, Mensis sendiri tidak lolos tanpa luka.
Saat Magami memeriksa monitor di tangannya, area
dari sayap kanan hingga badan kapal tampak berkedip merah terus-menerus. Zirah
luar yang terpasang rangkap tiga hampir seluruhnya terkelupas.
Tidak hanya itu. Beberapa indikator menunjukkan
bahwa lubang peluncur harpun telah berhenti berfungsi.
“Baterai meriam nomor empat sampai tujuh mati.
Kerusakan zirah luar dari sayap kanan hingga lambung kanan sangat parah!”
Suara teriakan Kanayago terdengar dari balik pipa
suara. Magami mematikan suara peringatan lalu bertanya kepada Kanayago.
“Bagaimana dengan sistem penggerak?”
“Kalau itu masih aman. Bagian yang rusak juga akan
segera kami perbaiki. Jangan khawatir!”
“Tolong bantuannya.”
Nil yang mendengarkan percakapan itu dari belakang
Magami tampak mengernyitkan wajah dengan kesal.
“Nil. Mari kita percayakan urusan dalam kapal pada
Kanayago dan yang lainnya. Kemampuan mereka tidak perlu diragukan.”
“Aku yang paling tahu soal itu. Berikutnya akan
kupastikan dia tumbang!”
Mendengar pernyataan Nil, Magami segera memeriksa
kesiapan amunisi berikutnya. Dia membuka pipa suara dan berseru kepada
Kanayago.
“Pada benturan berikutnya, kami akan menembakkan
seluruh peluru lagi. Mohon persiapkan pengisiannya!”
“Siap! Hei kalian semua, mulai persiapan pengisian
peluru. Lakukan yang terbaik!”
Di sela-sela suara lantang Kanayago, terdengar
sahutan riuh dari para mekanik yang menyerupai teriakan perang. Di balik suara
mereka, terdengar kebisingan dari kesibukan yang luar biasa. Mungkin saat ini,
setiap sudut di dalam kapal telah berubah menjadi medan tempur.
Dengan perasaan penuh harap, Magami mulai melakukan
penyesuaian untuk tembakan berikutnya.
Setelah melihat koordinasi tersebut, Nil mengedarkan
pandangannya ke seluruh pemandangan luar yang terpampang di dinding ruang
kemudi. Paus Putih yang tadi mereka hantam masih tampak meronta-ronta di
permukaan batas Lapisan Abu.
Kapal Mensis kembali memacu kecepatan, berputar
searah jarum jam dengan Kota Ketiga Belas sebagai pusatnya. Sambil menatap Paus
Putih yang perlahan menghilang di balik bayang-bayang daratan, Nil semakin
meningkatkan keluaran Mekanisme Amadeus.
Tubuh Nil sudah mulai menunjukkan tanda-tanda
penolakan akibat koneksi berlebih dengan Mekanisme Amadeus. Matanya mulai memerah
dan ujung jarinya gemetar.
Namun, dia tidak boleh berhenti sekarang.
Nil mengatupkan rahang rapat-rapat agar Magami tidak
menyadari kondisinya.
Bayangan Paus Putih yang mulai terlihat kembali dari
balik bayang-bayang Kota Ketiga Belas tampak bergulung-gulung hebat, seolah
menunjukkan bahwa ia masih perkasa.
Melihat hal itu, Nil menggigit bibirnya. Mengabaikan
rasa sakit yang menjalar di kepalanya, dia mencengkeram tuas kendali kuat-kuat.
Paus Putih menyadari kehadiran Mensis yang mendekat
dalam lintasan melingkar yang besar. Monster itu menegakkan tubuhnya dan
mengeluarkan suara benturan yang berat dan dahsyat. Suara yang cukup kuat untuk
menggetarkan Lapisan Abu itu seketika memanggil kawanan Paus Hitam lainnya.
Tidak berhenti di situ. Cahaya biru dari Mekanisme
Amadeus yang terpancar dari tubuh Paus Putih mulai bergejolak, dan secara
mengejutkan, tubuh Paus Putih yang tadinya berupa gumpalan logam mulai berubah
bentuk. Garis-garis lengkung pada tubuhnya perlahan melebar dan mulai membentuk
sesuatu yang menyerupai sayap.
“Apa-apaan itu?”
Jelas sekali, ini adalah eksistensi yang jauh
melampaui teknologi manusia saat ini. Kepada Magami yang terperanjat, suara Nil
terdengar memanggil.
“Tenanglah. Apa yang harus kita lakukan tidak
berubah. Berikutnya pasti kita habisi.”
Ucap Nil dengan nada datar, seolah ingin menenangkan
Magami yang mulai goyah. Namun, itu justru pertanda buruk. Magami segera
menyadari ketidakberesan pada kondisi Nil dan menoleh ke belakang.
Gadis itu sudah mendekati batas kemampuannya akibat
koneksi berlebih pada Mekanisme Amadeus. Padahal dia baru saja menjalani
eksperimen gila sebelumnya, dan beban pada tubuhnya masih tersisa. Kini dia
harus menghadapi pertempuran sengit yang tidak kunjung usai ini.
“Magami, aku tidak apa-apa. Ayo jalan.”
Nil jelas-jelas memaksakan diri; dia mencoba
mengulas senyum lemah. Saat ini, jika Nil tumbang, habislah sudah peluang untuk
menang. Magami memantapkan tekad seolah telah memutus jalan untuk mundur, lalu
mengangguk mantap.
“Aku mengerti.”
Kembali ke tugasnya, Magami memantapkan hati. Jika
serangan berikutnya tidak berhasil, segalanya akan berakhir.
Kapal Mensis mengunci posisi Paus Putih dalam garis
lurus tanpa mengubah lintasan. Paus-Paus Hitam mencoba merapat untuk
menghalangi, namun sepertinya mereka tidak akan sempat.
Menatap langsung ke arah Paus Putih, Nil membidik
sasaran. Sasarannya adalah pangkal leher si Paus Putih, tempat pendaran biru
semakin kuat, yang kemungkinan besar adalah lokasi Mekanisme Amadeus terpasang.
Zirah yang tadinya berlapis-lapis tampak menipis
seiring perubahan bentuk tubuhnya. Dengan mengepakkan bagian tubuh yang
menyerupai sayap ke kiri dan kanan, si Paus Putih pun bersiap menyambut
serangan Mensis.
Inilah konfrontasi langsung yang terakhir. Dengan
kecepatan maksimal, Mensis memasuki jarak serang Paus Putih. Tepat saat itu,
cahaya biru Mekanisme Amadeus yang mengalir di ujung sayapnya berkilat.
Nil secara refleks memiringkan kapal. Sesuatu
menghantam posisi di mana Mensis berada sesaat yang lalu. Seketika, Lapisan Abu
membubung tinggi menjadi pilar asap.
Serangan jarak jauh. Mekanismenya tidak diketahui,
tapi mereka menembakkan sesuatu.
Di belakang Magami, Nil mendecakkan lidah. Jika
musuh memiliki serangan jarak jauh, mereka tidak bisa bergerak lurus sembarangan.
Keadaan menjadi sulit untuk memacu kecepatan.
Namun, dengan terus menggoyangkan kapal ke kiri dan
kanan, Nil tetap merangsek mendekati Paus Putih.
Beberapa pilar Lapisan Abu membubung, dan Mensis
terbang menyelinap di antaranya. Saat Paus Putih sudah di depan mata, suara
Kanayago terdengar dari pipa suara.
“Pengisian selesai! Hajar saja!”
Menjadikan suara itu sebagai aba-aba, Magami
melakukan penguncian sasaran terakhir. Sasarannya adalah unit penggerak Paus
Putih yang berpendar biru. Jika Mekanisme Amadeus berhenti, kemenangan ada di
tangan mereka.
Begitu lampu indikator penguncian menyala, Magami
menarik pelatuknya.
Namun, tepat saat harpun ditembakkan, Lapisan Abu
membubung di jalur lintasan Mensis. Mengeluarkan suara berat dan dalam yang
menyerupai peluit uap, moncong Paus Hitam tiba-tiba menyembul ke permukaan.
Gawat! Jerit Magami dalam hati, namun harpun sudah
terlanjur meluncur. Harpun yang meluncur lurus itu menghantam zirah luar Paus
Hitam, lalu terpental jauh ke arah lain dengan lintasan yang melenceng hebat.
“Kuh!”
Suara kesal Nil menggema di ruang kemudi. Mensis
terbang melewati harpun yang terpental sia-sia dan menghilang ke dalam Lapisan
Abu. Melakukan manuver menghindar, Mensis memperlambat kecepatannya saat
melesat melewati sisi samping Paus Putih.
Di dalam ruang kemudi, Nil yang akhirnya mencapai
batas kemampuannya terbatuk hebat. Matanya memerah akibat pendarahan.
Jari-jarinya gemetar, membuatnya nyaris tidak sanggup lagi menggenggam tuas
kendali. Menyadari pergerakan Mensis mulai melambat, Magami bangkit dari kursi
asisten pilot.
“Anjungan di sini! Keluaran menurun! Apa yang
terjadi!?”
Mengabaikan suara dari pipa suara, Magami melepas
sabuk pengamannya. Dia melompati bingkai kursi dan bergegas menuju kursi kemudi
Nil, lalu berlutut dan mendekap bahunya.
“Tuas kendalinya!”
Nil, yang terbatuk kesakitan, berucap seolah
memprioritaskan kapal dibanding dirinya sendiri. Sambil memapah Nil dengan satu
tangan, Magami mencengkeram tuas kendali di atas tangan gadis itu.
Tuas kendali itu terasa jauh lebih berat dari yang dia
bayangkan. Merasakan hawa keberadaan Paus Hitam yang mendekat dari belakang,
Magami memacu kecepatan Mensis. Tujuannya adalah area non-tempur yang berada
tepat di arah berlawanan dari Kota Ketiga Belas. Sambil menarik diri sejenak
dari garis depan, Magami melapor ke anjungan.
“Nil sudah di batasnya.”
“Dimengerti. Segera kirim Anima pengganti.
Tinggalkan garis depan. Akhiri pertempuran.”
Suara datar Krus menyahut. Suara yang membuat siapa
pun bisa membayangkan sang kapten sedang menempelkan tangan di dahi sambil
menghela napas.
Namun, Magami sama sekali tidak berniat menuruti
perintah itu. Sambil mengemudikan kapal dengan satu tangan, dia melepas sabuk
pengaman Nil.
“Mulai sekarang aku yang pegang kendali. Aku pindahkan
Nil ke kursi asisten.”
“Apa? Kamu gila ya?”
Magami beralih ke mode autopilot sejenak, lalu
mendekap Nil. Dia menurunkan tubuh Nil yang sangat ringan ke kursi asisten
pilot. Sambil memasangkan kembali sabuk pengamannya, dia terus bicara ke arah
pipa suara.
“Tubuhku masih mengingat cara mengemudi sampai batas
tertentu. Nil memang lelah, tapi dia akan membantuku, jadi tidak apa-apa.”
“Mustahil. Bahkan dengan kemudi Nil saja musuh itu
nyaris tidak bisa dihadapi. Aku tidak yakin kamu bisa berbuat apa-apa.”
“Tapi kalau kita mundur sekarang, Kota Ketiga Belas tidak
akan selamat.”
“Sama saja jika kapal ini pun ikut tenggelam.”
“Kita sudah sampai sejauh ini. Tidak mungkin kita
berbalik di tempat seperti ini. Lagipula, aku ingat.”
Setelah selesai mengamankan posisi Nil, Magami
menghadap ke pipa suara.
“Saat masih di laboratorium dulu, hasil uji
sinkronisasi Mekanisme Amadeus milikku menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi
daripada Nil.”
“Kamu ini sedang membicarakan zaman kapan?”
Melalui pipa suara, terdengar desah napas panjang Krus
yang berat.
Meski begitu, Magami tidak mau mengalah.
“Faktanya, aku tidak tepar meski sudah terbang
bersama Nil. Itu karena aku punya tenaga yang lebih besar darinya.”
“Lalu, apa rencanamu?”
“Paus Putih pasti mengira gerakan Mensis tadi adalah
keluaran maksimal kita. Kalau aku yang memegang kendali, aku bisa menciptakan
satu celah kelengahan dengan gerakan yang tidak terduga. Aku akan memanfaatkan
itu.”
Keheningan yang berat menyelimuti jalur komunikasi. Krus
jelas-jelas ragu untuk mengambil keputusan. Secara logika, keraguannya sangat
wajar.
Namun, seolah menghancurkan keraguan itu, sebuah
suara rendah yang berpadu dengan bisingnya suara latar mesin terdengar menyela.
“Kapten. Bagaimana kalau kita biarkan Magami mencobanya?”
Suara itu milik Kanayago. Napasnya terdengar sedikit
memburu, mungkin karena dia sedang sibuk melakukan perbaikan. Menanggapi suara
itu, Krus bertanya dengan nada bimbang, “Mengapa?”
“Mekanisme Amadeus belum mencapai batasnya. Malah, ia
seperti sedang berteriak minta dipacu lebih kencang lagi. Kalau ucapan Magami
benar, kapal ini masih bisa bergerak lebih liar.”
“Tapi aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa awak kapal
hanya karena alasan itu. Jika pilot utama sudah tumbang, keputusan yang normal
adalah mundur.”
“Normal? Terdengar aneh mendengar kata itu dari
mulut Kapten. Lagipula, sejak awal memangnya ada orang normal yang naik di
kapal ini, termasuk aku dan Kapten sendiri?”
Suara tawa rendah Kanayago yang menggetarkan pipa
suara membuat Magami sedikit menyunggingkan senyum. Mendapat dukungan tidak terduga
itu, Krus mulai bergumam bimbang.
Hingga akhirnya, Kanayago memberikan dorongan
terakhir.
“Di kota itu ada keluarga kami. Kalau memang masih
ada pilihan untuk bertarung, aku ingin bertaruh pada pilihan itu. Aku tidak
tahu apa yang direncanakan Magami. Tapi, bagi pemuda yang sudah mempertaruhkan
nyawa demi menyelamatkan Nona, kami pun rela mempertaruhkan nyawa kami
untuknya.”
Di tengah bisingnya suara perbaikan yang luar biasa
sibuk, Kanayago mengakhiri ucapannya dengan nada tenang. Tidak lama, suara
beberapa mekanik lain yang sangat akrab di telinga ikut menimpali.
“Hei, kalian dengar itu! Magami yang akan memegang
kendali!”
“Apa katamu?”
“Kalau begitu cepat selesaikan bagian ini! Jangan sampai
kita yang jadi penghambat!”
Suara para awak kapal terdengar dari balik
hiruk-pikuk bunyi alarm dan gangguan sinyal. Terdesak oleh semangat mereka, Krus
akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Magami. Kamu punya peluang menang, ‘kan?”
“Kalau Kapten tidak keberatan dengan cara yang
sedikit kasar, aku punya.”
“...”
Krus tampaknya menutup pipa suara sejenak untuk
meninjau situasi. Dari kejauhan, terdengar suaranya yang menanyakan sisa
amunisi dan kondisi kerusakan kapal. Setelah jawaban dari Sae dan awak lainnya
terdengar, keheningan menyelimuti sejenak.
“Baiklah. Tapi seperti yang kamu katakan, serangan
kejutan hanya bisa dilakukan sekali. Jika kamu gagal menghabisinya dalam
serangan berikutnya, kita harus segera mundur. Paham?”
“Dimengerti.”
“Sial. Ternyata aku ini memang penjudi yang payah,”
ucap Krus sebelum mengakhiri pembicaraan.
Magami menutup katup pipa suara lalu menoleh ke arah
Nil. Gadis itu tampak sangat kelelahan dengan mata yang sayu. Keringat
membasahi dahinya seiring dengan napasnya yang pendek-pendek.
Magami menggenggam tangan gadis itu.
“Ini pasti berat, tapi bertahanlah sebentar lagi.
Aku butuh bantuanmu.”
Meski sudah sangat lemah, binar di mata Nil belum
sepenuhnya padam. Dia perlahan menegakkan tubuhnya dan memegang tuas kendali asisten.
“Amunisi kita sudah menipis. Apa yang akan kamu
lakukan?” tanya Nil dengan suara yang terputus-putas.
Magami menyunggingkan senyum bangga sambil menyeka
keringat di wajah Nil.
“Aku teringat apa yang ingin kamu lakukan dulu. Itu
lho, saat di Kota Keenam.”
Magami berucap dengan nada berkelakar, lalu
menggerakkan telapak tangannya seperti sebuah pesawat yang meluncur lurus.
“Semua orang pasti akan ternganga.”
“...Ah, ide yang cemerlang.”
Hanya dalam percakapan singkat, pemikiran yang sama
telah terlintas di kepala mereka berdua. Keduanya saling bertukar senyum jahil,
mengonfirmasi rencana masing-masing.
Magami segera melompat ke kursi kemudi. Sambil
mengencangkan sabuk pengaman, dia membuka pipa suara yang terhubung ke
Kanayago.
“Kanayago! Untuk serangan berikutnya, aku ingin
kapal ini seringan mungkin. Bisakah kamu melepaskan harpun yang sudah terpasang
dan membuang semua zirah luar yang rusak selain bagian haluan?”
“Aku bisa melakukannya, tapi sebenarnya apa yang kamu
rencanakan?”
Mendengar pertanyaan Kanayago, Magami membasahi
bibirnya yang tipis.
“Aku memang tidak sepandai Nil dalam mengemudi. Tapi
kalau soal adu jantan, aku tidak akan kalah.”
“...Aku tidak paham maksudmu, tapi intinya kamu mau
duel satu lawan satu, ‘kan?”
Kanayago menjawab dengan nada heran, namun semangat
tempurnya perlahan mulai tersulut.
“Serahkan padaku, akan segera kukerjakan!” teriaknya
lantang bagaikan singa sebelum segera memulai tugasnya.
Magami duduk tegak di kursi kemudi dan menarik napas
dalam-dalam berulang kali. Ini adalah misi yang tidak bisa dijalankan tanpa
semangat yang membara dan kepala yang dingin.
Dengan mata yang terbuka lebar, Magami mencengkeram
tuas kendali dan memacu tuas gas. Sama seperti saat bersama Nil, Mekanisme
Amadeus pun menurut dengan patuh kepada perintah Magami.
“Baiklah. Ayo jalan!”
Tanpa bicara kepada siapa pun, Magami memantapkan
tekad dan memiringkan tuas kendalinya.
Kapal Mensis memutar haluannya dengan tajam,
mengarahkan kembali lintasan yang sempat melenceng menuju sang Paus Putih.
Kali ini, gerakannya bukan lagi melingkar dengan
pusat Kota Ketiga Belas. Ia menarik garis lurus, sebuah lintasan mati yang
menghubungkan langsung antara Paus Putih dan Kota Ketiga Belas.
Magami menghubungkan pipa suara ke seluruh bagian
kapal dan berseru kepada seluruh awak.
“Semuanya, tolong bersiap menghadapi benturan.
Sebisa mungkin, menjauhlah dari bagian haluan.”
Apa yang akan dia lakukan adalah tindakan yang
takkan pernah terpikirkan oleh manusia waras mana pun. Begitu pula dengan pilot
sang Paus Putih.
Namun, justru karena pemikiran seperti itulah
tindakan ini layak untuk dicoba.
Magami memacu keluaran Mekanisme Amadeus hingga
batas maksimal. Rasa sakit yang merambat dari telapak tangan ke otaknya
bagaikan sengatan listrik, menandakan sinkronisasi yang mendalam dengan mesin
tersebut.
Masih bisa.
Magami mendorong tuas gas lebih kencang lagi. Meski
tekanan darah di otaknya meningkat dan rasa sakit yang seolah membelah kepala
menyerang, Magami tidak peduli dan terus menambah kecepatan.
Kapal Mensis melesat lurus menuju Paus Putih. Sang
Paus Putih yang mungkin sudah merasa yakin akan kemenangannya, sedikit
terlambat menanggapi terjangan Mensis yang melaju gila-gilaan di atas Lapisan Abu.
Paus Hitam yang menyadari kehadiran Mensis mencoba
menghalangi lintasan, namun mereka sama sekali tidak mampu mengejarnya.
Mengabaikan tubuh raksasa Paus Hitam yang mendekat
dari kedua sisi, Kapal Mensis hanya fokus berhadapan dengan Paus Putih di
depannya.
Melihat percepatan yang nyata itu, Paus Putih segera
masuk ke posisi tempur. Ia kembali membentangkan sayapnya yang bergelombang dan
menangkap sosok Mensis yang datang menantang maut di bawahnya. Kemudian, ia
mulai melepaskan tembakan jarak jauh dari sayapnya yang terbuka.
Dua, tiga kali pilar Lapisan Abu membubung tinggi.
Sesaat sebelum mencapai Paus Putih, sebuah hantaman
keras mengguncang hebat badan Kapal Mensis.
“Satu tembakan kena. Sayap kiri rusak!” teriak Nil
dari kursi depan.
Sambil mengendalikan kemudi untuk menjaga stabilitas
kapal, Magami sama sekali tidak menurunkan keluaran meski kapal baru saja
terkena serangan.
Paus Putih kini sudah berada tepat di depan mata.
Tiba-tiba, Paus Putih menurunkan sayap yang tadinya
terangkat ke langit, menyejajarkannya dengan permukaan Lapisan Abu sambil
merendahkan pusat gravitasinya untuk bersiaga. Mungkin karena kecepatan Mensis
yang tidak normal membuat bidikannya sulit dikunci.
Namun, posisi itu secara bersamaan juga menutup
jalan bagi Mensis untuk menghindar.
“Magami! Jalur keluar tertutup! Putar kemudi!”
teriak Krus dari anjungan.
Namun, Magami sama sekali tidak berniat menghindar.
“Malah bagus, akan kuberikan kejutan tepat di
wajahmu itu!”
Magami mengunci sasarannya pada sang Paus Putih yang
tampak indah sekaligus agung di depan matanya. Dengan keluaran maksimal, dia
mengangkat haluan kapal tepat ke arah pangkal leher Paus Putih.
Haluan Kapal Mensis dilapisi oleh zirah yang lebih
tebal dan kokoh dibandingkan kapal mana pun. Sejak awal, haluan itu memang
dirancang untuk membelah Lapisan Abu. Dalam kondisi tertentu, kapal ini memang
dibuat dengan asumsi bahwa haluannya bisa digunakan untuk menghunjam lawan.
Magami, yang mata pencahariannya adalah memeriksa kapal, memahami hal itu lebih
baik daripada siapa pun.
“Melesatlaaaah!”
Sambil menerima rentetan serangan jarak jauh, Magami
terus memacu Kapal Mensis.
Meninggalkan jejak pelangi di atas Lapisan Abu, pada
momen ini Kapal Mensis berubah menjadi sekelebat kilatan hitam. Membawa
momentum dan massa yang luar biasa dahsyat, Kapal Mensis yang kini menjelma
bagaikan tombak suci menghunjam masuk ke pangkal leher Paus Putih.
Seketika itu juga, seluruh kapal terguncang hebat.
Suara raungan logam yang saling bergesekan dengan
ngeri bergema di seluruh bagian kapal, bahkan terdengar hingga radius ratusan
kilometer di angkasa.
Dari monitor ruang kemudi, warna putih Lapisan Abu
menghilang, digantikan oleh kegelapan pekat yang dipenuhi percikan bunga api.
Melihat pendaran cahaya biru yang samar di balik kegelapan itu, Magami
menyadari bahwa pertarungan belum berakhir.
Momentum Kapal Mensis tertahan oleh tubuh raksasa
Paus Putih, membuat kecepatannya melemah. Jika terus begini, ia takkan bisa
menghabisinya.
Magami memantapkan tekadnya dan mengerahkan seluruh
kekuatannya untuk menaikkan keluaran.
“Uuoooooooh!”
Seiring dengan teriakan Magami yang membahana
bagaikan binatang buas, Mekanisme Amadeus menunjukkan keluaran yang sangat luar
biasa.
Kapal Mensis yang sempat kehilangan momentum kembali
merangsek maju di atas Lapisan Abu sambil terus menghujam tubuh raksasa Paus
Putih. Asap pelangi dalam jumlah masif yang disemburkan dari badan kapal yang
hitam mulai membelah lautan Lapisan Abu.
Di antara dunia yang diselimuti warna biru dan perak
kelabu, orang-orang Kota Ketiga Belas yang berada di daratan ternganga melihat tirai
pelangi yang membubung tinggi.
Tanpa komando siapa pun, mereka mulai memanjatkan
doa pada cahaya yang dipancarkan oleh Kapal Mensis. Membawa harapan mereka,
Kapal Mensis yang telah mengunci tubuh sang monster perlahan-lahan mulai
menembus zirah luar Paus Putih.
Akhirnya, keseimbangan itu runtuh. Kapal Mensis
menghantamkan Paus Putih ke dinding luar Kota Ketiga Belas. Saat kedua massa
raksasa itu menabrak dinding secara bersamaan, Paus Putih meliukkan tubuhnya
sambil mengeluarkan suara nyaring yang terdengar seperti jeritan.
Namun, laju Kapal Mensis tidak berhenti.
Melewati batas tuas gas, Magami mendorong tuas
pendorong lebih dalam lagi. Selaras dengan gerakannya, Nil pun mendorong tuas
kendali asisten dengan kuat.
Keluaran Kapal Mensis masih terus meningkat.
Menghadapi kenyataan itu, Paus Putih melengkungkan tubuh raksasanya dan
mengeluarkan pekikan terakhir. Tubuh Paus Putih merayap naik melewati dinding
luar yang sudah mulai runtuh, menimbulkan kepulan debu tanah yang membubung
tinggi ke angkasa. Pemandangan tubuh raksasa yang terseret naik ke atas bukit
itu benar-benar terasa tidak nyata.
Bagaikan tombak hitam yang menancap pada tubuh
putih, Kapal Mensis terus mendorong massa raksasa itu semakin tinggi dan
tinggi. Dalam sekejap, kedua raksasa itu menghilang di balik gumpalan debu
tanah, namun gerak mereka yang merangsek naik ke daratan masih bisa dirasakan
dengan jelas.
Lalu, suara gemuruh dan gumpalan debu itu perlahan
berhenti bergerak di dekat puncak bukit Kota Ketiga Belas.
Di puncak tertinggi itu, di bawah langit biru yang
bersih, haluan Kapal Mensis mulai menampakkan dirinya dari balik kepulan debu.
Saat debu perlahan menipis, terlihat pula tubuh raksasa Paus Putih yang telah
tertembus sepenuhnya.
Cahaya biru yang sebelumnya berpendar dari celah
zirah sang Paus Putih perlahan-lahan meredup. Orang-orang menahan napas,
terpaku menyaksikan detik-detik terakhirnya.
Sembari melantunkan lengkingan panjang yang tipis,
sang Paus Putih menghentikan Mekanisme Amadeus-nya dengan begitu anggun.
Sang Paus Putih telah benar-benar mati. Sebagai
buktinya, kawanan Paus Hitam yang mengepung Kota Ketiga Belas serentak
menghentikan pergerakan mereka.
Sorak-sorai membuncah seketika dari kerumunan yang
baru saja terbebas dari deru memekakkan telinga. Mereka yang sempat menatap
maut di depan mata kini lepas dari belenggu keputusasaan, saling berbagi suka
cita dalam tangis yang seragam.
Angin sepoi berembus menyapu kota seolah hendak
menghanyutkan sorak-sorai itu menuju angkasa. Mendengar gema kebahagiaan yang
terbawa angin, kawanan Paus Hitam perlahan-lahan tenggelam ke dalam Lapisan Abu,
lalu hilang tidak berbekas.
Dan akhirnya, yang tersisa hanyalah tirai pelangi
yang membentang di sepanjang lintasan yang baru saja dilalui Kapal Mensis.
* * *
Kapal Mensis akhirnya berhasil menundukkan sang Paus
Putih.
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal dengan
kondisi Mensis yang rusak berat, memaksa seluruh awaknya untuk meninggalkan
kapal. Sambil memapah Nil yang bahkan sulit untuk melangkah sendiri, Magami
turun dari kapal, dan seketika itu juga, pemandangan yang membentang di hadapan
mereka tampak begitu indah hingga menyita napas.
Di titik tertinggi Kota Ketiga Belas, tepat di
puncak bukit tempat Mensis teronggok, panorama 360 derajat terhampar tanpa
batas.
“Apa ini sudah semuanya? Ada yang belum ditemukan!?”
Sosok yang terakhir keluar dari kapal adalah Krus,
suaranya menggelegar lantang. Dia memastikan keselamatan setiap awak kapal dan
segera memberikan instruksi untuk langkah selanjutnya.
Dalam situasi segawat apa pun, sikap pria ini tidak
pernah goyah sedikit pun. Magami memperhatikannya dengan kagum sembari
melemaskan bahunya yang tegang.
Kanayago, yang sudah lebih dulu berada di luar,
melihat mereka dan bergegas menghampiri.
“Oit. Kalian aman?”
“Iya. Maafkan aku, aku menggunakan kapalnya dengan
cara yang kasar begitu.”
“Jangan dipikirkan. Itu cara pakai yang sangat
gagah, aku menyukainya.”
Kanayago menepuk bahu Magami sembari berkata bahwa
itu adalah kebanggaan bagi seorang mekanik, yang dibalas Magami dengan senyum
getir.
Namun, ekspresi Kanayago tiba-tiba berubah serius.
“Agatha memintaku untuk memeriksa bangkai Paus
Putih, dan dia ingin kalian berdua datang ke sana.”
Kanayago menatap Nil sambil bersedekap.
“Nona, apa kamu ingin beristirahat di sini saja?”
Nil merapikan rambutnya yang berantakan, lalu
mendongak dan menggelengkan kepala.
“Aku tidak apa-apa. Bawa aku ke sana.”
Sepertinya dia sudah menduga apa yang akan mereka
saksikan nanti. Magami pun mendekap Nil, lalu melangkah menuju sang Paus Putih
mengikuti tuntunan Kanayago.
Kondisi sang Paus Putih ternyata jauh lebih hancur
daripada yang terlihat dari ruang kemudi. Berlumuran tanah daratan, badan
raksasa yang kini kotor dan ringsek itu sama sekali tidak menyisakan keanggunan
saat ia berenang di Lapisan Abu.
Di dekat bangkai yang bentuknya sudah tidak karuan
itu, Agatha berdiri menanti. Dia menyulut rokok di mulutnya saat menyadari
kedatangan mereka.
Setelah mengembuskan asap, dia menundukkan pandangan
dengan raut wajah yang khusyuk.
Di sana, tampak seikat rambut berwarna perak yang
sangat mirip dengan milik Nil.
Jadi begitu rupanya. Magami akhirnya memahami apa
yang ingin ditunjukkan Agatha kepada mereka.
“Inilah pilot sang Paus Putih.”
Sosok yang dadanya masih kembang-kempis itu memang
berbentuk manusia, namun kondisinya jauh dari yang dibayangkan. Bukan karena tubuhnya
hancur akibat benturan, melainkan karena dia tampak menyatu dengan mesin.
Bagian manusia yang masih bisa dikenali hanya dari
dada ke atas. Dari bagian belakang kepalanya menjalar pipa-pipa organik yang tidak
terhitung jumlahnya, sementara bagian bawah tubuhnya telah berasimilasi
sepenuhnya dengan mesin.
Inilah sisa-sisa dari mereka yang disebut sebagai
Spesies Kuno.
Magami nyaris memalingkan wajah karena tidak tega.
Namun, dia teringat bahwa Nil terlahir dari gen
Spesies Kuno yang sama dengan sosok ini. Bahkan dirinya sendiri pun memiliki
garis keturunan yang sama. Bisa dibilang, sosok di hadapan mereka ini adalah
cetak biru asli dari keberadaan mereka.
Magami memaksa matanya untuk kembali menatap sang
pilot. Di sampingnya, Nil pun memandang sang Spesies Kuno dengan raut wajah
yang sungguh serius.
Sang pilot Paus Putih menatap Magami dan Nil dari
balik helaian rambutnya yang panjang. Dia memiliki wajah yang rupawan. Di bawah
terik matahari, kulitnya tampak putih pucat yang ganjil, dan matanya merah
menyala persis seperti mata Nil.
Dia terbelalak saat melihat Nil yang berdiri di
samping Magami.
“Ah...”
Mungkin itu hanya embusan napas terakhir, namun di detik-detik pamungkasnya, dia menunjukkan ekspresi tenang seolah-olah baru saja mendapatkan keselamatan.
Menatap sang Spesies Kuno yang kini terkulai layu
bagaikan boneka yang kehabisan daya, Agatha menangkupkan kedua tangannya dalam
doa. Dia kemudian meletakkan sisa rokoknya di samping sosok tersebut sebagai
penghormatan terakhir.
Punggung wanita itu entah mengapa tampak begitu
kesepian. Sambil tetap mendekap Nil, Magami pun melontarkan pertanyaan ke arah
punggung itu.
“Agatha. Bolehkah aku bertanya satu hal?”
“Apa itu?”
“Saat mereka datang ke tempat ini, mereka
menyampaikan pesan agar kita menyerahkan pilot Kapal Mensis.”
Tepat di samping Magami, wajah Nil menampakkan
keterkejutan. Magami mengangguk pelan kepadanya, lalu melanjutkan dengan
tenang.
“Mengapa mereka mengincar Nil?”
Agatha terdiam sejenak merenungkan pertanyaan
Magami. Sambil merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok baru, dia menatap
sang Spesies Kuno yang telah mati itu lalu berujar dengan awalan, “Mungkin saja
ini hanya dugaanku.”
“Mungkin mereka mengira Nil adalah sesama Spesies Kuno
yang ditawan. Mungkin bagi mereka, ini adalah upaya untuk menyelamatkan rekan sendiri.”
Jika benar demikian, ini adalah kisah yang
memilukan. Tanpa sadar, Magami mendekap bahu Nil lebih erat.
“Kalaupun benar begitu, apakah ini keputusan yang
tepat?”
Magami bertanya pada Agatha, seolah sedang mencari
pelabuhan bagi perasaannya yang berkecamuk. Wanita itu menggelengkan kepalanya
sembari menyelipkan rokok ke bibir.
“Entahlah. Tapi kami tidak sedingin itu sampai tega
menyerahkan keluarga sendiri begitu saja.”
Sambil memainkan rokok di sudut bibirnya, Agatha
menatap Magami dan Nil bergantian. Kemudian dia memiringkan kepala dan
bertanya, “Benar, ‘kan?”
“Kamu benar. Aku tidak punya niat untuk berpisah
lagi dengan Nil.”
“Sudah kuduga.”
Agatha memicingkan matanya mendengar ucapan Magami
yang begitu jujur hingga terasa menggelitik. Di ujung pandangannya, pipi Nil
merona merah padam setelah mendengar perkataan Magami.