Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Afterword

Kata Penutup

Ketika mendengar kata Tudung Merah, sosok seperti apa yang terlintas di benak Anda? Rasanya tidak ada yang membayangkan seorang laki-laki. Seorang gadis kecil dengan tudung merah, persis seperti judulnya. Warna rambutnya? Banyak orang mungkin membayangkannya berwarna pirang. Mungkin ada juga yang mengatakan cokelat. Panjang rambutnya? Dibandingkan rambut panjang terurai, barangkali lebih banyak yang membayangkan potongan bob hingga sebahu.

Saat mendengar Tudung Merah, kebanyakan orang pasti membayangkan sosok gadis yang kurang lebih serupa. Tudung merah itu sendiri sudah begitu ikonik, hingga rasanya hampir mustahil ada yang keliru menganggapnya sebagai tokoh dongeng lain. Sebagai sebuah motif, dia benar-benar luar biasa.

Ceritanya pun sederhana dan mudah dipahami. Terbuka untuk berbagai penafsiran, dan juga mudah untuk diadaptasi atau diubah.

Saya sudah berpanjang lebar berbicara seolah-olah paham, tetapi singkatnya, saya menyukai dongeng. Mengapa? Pertanyaan itu agak sulit dijawab. Namun saya memang menyukainya. Sebagai motif pun menurut saya sangat unggul, dan sejak lama saya ingin menulis karya yang berangkat dari dongeng. Terutama Tudung Merah, itulah yang paling saya sukai, dan sejak awal saya sudah memutuskan jilid pertama akan mengangkatnya. Mengapa harus Tudung Merah? Itu pun sulit dijelaskan.

Kalau harus menyebut satu alasan, mungkin karena pengalaman awal saya terhadap cerita berasal dari dongeng.

Ketika saya masih kecil... ingatan saya samar, mungkin sekitar usia tiga atau empat tahun. Saya ingat ibu membacakan buku cerita bergambar untuk saya. Sebuah buku tebal yang memuat berbagai dongeng, Grimm, Andersen, Aesop, dan lain-lain. Ibu membacakannya untuk saya, dan saat dia tidak ada, saya akan membalik halaman sendiri. Entah saat itu saya sudah bisa membaca bahasa Jepang atau hanya menghafal dan mengulang isinya dalam ingatan, saya tidak yakin. Namun saya ingat betul bagaimana saya tenggelam di dalamnya. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, saya memang anak yang gemar membaca, tetapi tanpa pengalaman itu, mungkin kebiasaan membaca tidak akan pernah tumbuh dalam diri saya.

Mulai dari sini, saya akan berbicara cukup dalam mengenai karya ini. Jadi bagi Anda yang tidak tertarik pada pembahasan semacam ini, silakan menutup halaman ini dengan tenang. Secara pribadi, saya memahami perasaan itu. Sebelum benar-benar bercita-cita menjadi penulis, saya pun termasuk tipe pembaca yang melewatkan bagian seperti ini.

Grimm Connect adalah cerita yang merebus dan memadatkan selera serta hasrat pribadi saya. Pada dasarnya, ketika menulis untuk ranah komersial, kita tidak bisa seenaknya menuangkan seluruh selera pribadi, nanti bisa dimarahi. Saya memang cenderung menyukai kisah yang cukup kelam, dan tentu ada pertimbangan etika, tren, serta banyak hal lain yang menuntut keseimbangan. Bukan berarti saya menolak hal itu, hanya saja... untuk karya ini, editor saya bahkan pernah mengusulkan, “Bagaimana kalau tokoh utamanya kita masukkan ke lembaga pembinaan anak?” Saya sampai berpikir, “Eh? Boleh? Saya sih senang saja, tapi benar boleh begitu?” Dan jawabannya, boleh. Oh, begitu. Jadi selama menarik, apa pun boleh dilakukan dalam karya ini! Saat itulah sesuatu dalam diri saya terasa lepas.

Hasilnya, Mahiru-kun terus-menerus mengalami nasib buruk, tetapi saya rasa tema seri ini adalah “kelemahan adalah dosa”.

Mahiru-kun itu lemah. Dia berkali-kali dihadapkan pada kenyataan itu dengan berbagai cara. Di dunia yang dihuni manusia serigala seperti Elfilia atau penyihir yang mampu menggunakan sihir, kemampuan fisiknya biasa saja. Kepalanya tidak bodoh, tetapi dia tidak berpendidikan. Dan kelemahan bukan hanya soal kemampuan pribadi semata. Mahiru-kun tidak berpendidikan karena lingkungan keluarganya membuatnya tidak bisa bersekolah dengan layak. Itu bukan karena dia malas. Adiknya menderita penyakit tidak tersembuhkan, orang tuanya tertipu peramal licik, lalu bunuh diri. Masa lalu Mahiru-kun memang tidak digambarkan secara rinci, tetapi bisa dibayangkan bahwa dia juga pernah ditipu saat berada dalam kondisi rapuh. Semua itu bukan kesalahannya. Justru menurut saya, dia sudah berusaha sebaik mungkin. Namun itu tidak mengubah apa pun. Jika hidupnya dinilai secara objektif berdasarkan fakta, dia tetaplah seorang yang lemah, dan tidak ada yang lebih menyadari itu selain dirinya sendiri. Dia merasa karena kelemahannya, dia menjadi tidak bahagia dan membuat orang lain tidak bahagia. Seandainya keluarganya kaya, seandainya dia punya waktu untuk mengasah kemampuannya, seandainya dia cukup cerdas untuk menembus kebohongan sang peramal, seandainya dia punya koneksi atau uang untuk menyembuhkan adiknya. Kekuatan itu sangat tidak adil. Mahiru-kun memahami hal itu. Namun dia tidak menyerah pada keputusasaan. Jadi kalau harus menyebut satu hal yang kuat dalam dirinya, mungkin itu adalah mentalnya.

Dunia dongeng mungkin tempat yang tepat baginya. Dia boleh mati berkali-kali. Dia boleh gagal berkali-kali. Selama hatinya tidak hancur, suatu hari dia pasti mencapai jawaban yang benar. Namun bahkan di sana, dia kembali dihadapkan pada kelemahannya. Dia harus memilih, menyelamatkan Maisy atau adiknya, Asahi, hanya satu yang bisa diselamatkan. Jika kelemahan adalah dosa, maka kita juga harus memikirkan apa itu kelemahan. Berdasarkan pengalaman hidupnya, Mahiru-kun tampaknya memandang kelemahan sebagai keadaan ketika keputusan tidak bisa diambil tanpa campur tangan orang lain, atau ketika situasi tidak bisa diubah kecuali dengan bergantung pada orang lain. Karena itu, mengandalkan orang lain atau menunjukkan kelemahan mungkin baginya adalah sesuatu yang harus dihindari. Kali ini, tanpa sengaja dia memperlihatkan sisi lemahnya kepada Maisy, dan justru karena itu dia diselamatkan. Itu adalah pengalaman pertama baginya. Seberapa besar hal itu memengaruhi nilai-nilai yang dia pegang, atau apakah dia tidak semudah itu berubah, semua itu mungkin akan terlihat dalam perjalanan Mahiru-kun ke depan.

Ke depannya pun Mahiru-kun akan terus terpojok oleh berbagai hal, tetapi secara pribadi saya berharap suatu hari definisi “kelemahan” dalam dirinya akan berubah.

Berikut ini adalah ucapan terima kasih.

Saya menyukai perpaduan dongeng dan dunia yang gelap, dan sudah mengenal Nyanpo-sensei jauh sebelum beliau ditetapkan sebagai ilustrator karya ini. Singkatnya, saya adalah penggemar. Jadi ketika nama beliau masuk sebagai kandidat ilustrator, saya terkejut sekaligus sangat bahagia. Maisy memiliki aura heroine utama yang luar biasa kuat, sementara Effie benar-benar sesuai dengan selera pribadi saya. Tubuh ramping, bodysuit ketat dengan jubah kebesaran, mata setengah sayu tetapi ekspresinya tetap cerah, sempurna. Si Gembala pun, di balik wajah rupawannya, memancarkan keburukan sifat yang terasa jelas, dan saya sangat menyukainya. Terima kasih banyak.

Kepada Presiden Otaku Penguin yang telah mengedit karya ini, saya telah merepotkan Anda berkali-kali. Bohong. Sampai sekarang pun masih merepotkan. Sepertinya masih butuh waktu sebelum saya menjadi penulis jenius, jadi untuk sementara ini saya akan terus merepotkan Anda. Namun saya tidak akan membuat Anda menyesal telah memilih saya. Mohon bimbingannya.

Terakhir, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah mengambil dan membaca karya ini.

Jilid kedua sedang saya tulis dengan penuh semangat, jadi saya akan sangat senang jika kita bisa bertemu lagi di volume berikutnya.

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

2 komentar

  1. Itu sangat keren! Saya harap Anda akan menerjemahkan jilid kedua dan ketiga😭
    1. Tentu saja akan saya lanjutkan sampai Volume Rapunzel!