Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Grimm Connect Volume 1: Little Red Riding Hood - Epilog

Pertama-tama, mereka saling mengobati luka masing-masing. Luka Nina tampaknya hanya sobekan kecil di dahinya, dan cedera Mahiru pun tidak separah yang terlihat. Tentu saja tidak ada yang mengancam nyawa, dan lengannya masih memiliki sensasi hingga ke ujung jari. Punggungnya memang terasa sakit luar biasa, tetapi tidak sampai pada tingkat yang berbahaya. Dia ingin memeriksakannya ke dokter setidaknya sekali, namun jika beristirahat dengan tenang, sepertinya dia akan pulih hingga bisa bergerak seperti semula.

Setelah itu, mereka membuat makam untuk Elfilia dan bersama-sama menangkupkan tangan, memanjatkan doa.

Usai membereskan kamar yang berantakan, Mahiru menerima hidangan masakan dari Nina dan Maisy.

Itu adalah meja makan paling damai di dunia ini, tanpa sedikit pun kekhawatiran.

Kemudian dia berbaring di ranjang dan terlelap, dan tanpa terjadi apa-apa... dia menyambut pagi hari keempat.

Dunia pun meleleh.

Ranjang, rumah, kontur di sekelilingnya mulai mengabur.

Seperti mimpi, seakan semua ini hanyalah kebohongan, dunia terurai menjadi partikel-partikel halus dan kehilangan bentuknya.

Segala sesuatu selain Grimm Note di tangannya runtuh, menyatu dengan udara, lalu menghilang.

Pemutus arus dunia telah dijatuhkan.

Rumah lenyap, hutan di baliknya pun lenyap, hingga pandangan bisa menembus tanpa batas dan arah atas-bawah tidak lagi bisa dibedakan. Pijakan yang tidak stabil. Cakrawala yang membentang tanpa akhir.

Sebuah tempat kosong yang terasa begitu akrab.

Tempat awal kisah ini, tempat pembukaan.

“Aku rupanya telah meremehkanmu, Mahiru.”

Suara menjengkelkan yang terdengar seolah menari menggema.

“Ada segudang hal yang mau aku katakan, Gembala.”

“Kamu luar biasa! Sungguh menakjubkan! Aku tidak pernah menyangka ada cara penyelesaian seperti ini!”

Si Gembala, tanpa memedulikan sikap sinis Mahiru, menggenggam tangan Mahiru dengan senyum yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Mahiru, dengan ekspresi benar-benar muak, menepisnya.

“Najis. Jangan sok akrab sentuh-sentuh.”

“Kamu marah? Jangan-jangan kamu membenciku?”

“Bukan jangan-jangan lagi. Aku benci sekali. Wanita sialan.”

“Sialan? Kejam sekali. Aku paham perasaanmu. Bisa kumengerti. Tapi tidak ada pilihan lain. Aku sungguh mengira satu-satunya cara adalah mencapai hari keempat. Faktanya, hampir semua pemain sebelumnya menyelesaikan dunia Tudung Merah dengan metode itu.”

“Aku tidak peduli. Tidak mau tahu. Urusanmu tidak ada hubungannya denganku.”

“Selama ini aku telah melihat ribuan pemain, dan tidak satu pun menunjukkan kemungkinan seperti ini. Bukannya wajar jika aku terjebak dalam prasangka?”

“Anggap saja itu wajar. Tapi sikapmu tetap bikin aku muak. Sifatmu yang menikmati kemalangan orang lain itu bikin aku jijik. Aku benci.”

“Bukan begitu. Aku hanya terlalu bersemangat mendukung usahamu.”

“Jangan bohong yang keliatan banget. Lagian, bukan soal logika. Aku memang benci kamu.”

“Kita ini rekan, lho?”

“Seumur hidup aku nggak bakal anggap kamu rekan.”

“Hmm, bagaimana ini... sepertinya aku benar-benar dibenci.”

Si Gembala menutup mulutnya dengan tangan, mengernyitkan dahi. Sekilas dia tampak benar-benar terpukul, tetapi itu tidak berarti apa-apa. Apa pun kata orang, Mahiru memang membencinya.

“Tapi sungguh, aku menganggapmu luar biasa. Kamu menyelamatkan si Tudung Merah sekaligus menyelesaikan ceritanya. Ini pertama kalinya. Aku belum pernah melihatnya. Kamu mengabaikan nasihatku dan tetap teguh pada keyakinan yang dianggap sia-sia. Kemenangan ini milikmu.”

“Oh ya?”

Si Gembala mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, tetapi Mahiru mengabaikannya. Namun karena dia terus tersenyum lebar sambil mempertahankan tangannya di udara, Mahiru akhirnya meraihnya dan menggenggamnya sekuat tenaga.

“Ngomong-ngomong, Mahiru. Ada satu hal lagi yang tidak terduga. Sesuatu yang mustahil.”

“Ya, soal itu... aku juga sudah tahu. Aku juga heran.”

“Bagaimana bisa kanu ada di sini... bersama itu?”

Di sisi Mahiru, terdengar napas tidur yang teratur. Maisy.

Tempat ini adalah tempat pembukaan. Ruang di antara realitas dan dunia dongeng, yang hanya bisa dimasuki oleh Mahiru sebagai pemain dan si Gembala sebagai pengelola dunia dongeng.

Seperti yang dikatakan si Gembala, bukan berarti Mahiru menganggap Maisy sekadar karakter. Namun tetap saja, keberadaan Maisy yang seharusnya penghuni dunia Tudung Merah di sini adalah hal yang mustahil.

“Huaah...? Ah, selamat pagi, Mahiru-san. Bangun pagi dan langsung melihat wajahmu. Lumayan juga, ya.”

Maisy bangkit dengan santai sambil mengusap mata yang masih mengantuk. Rambut pirangnya yang indah melompat kecil.

“P-Pagi, Maisy.”

“Iyaaa, pagi... eh? Tempat apa ini!? Kok nggak ada apa-apa!? Mimpi!? Ini dunia mimpi ya!?”

Kesadarannya pulih, dan setelah memahami situasinya, Maisy melompat berdiri dan melihat sekeliling. Namun tidak ada apa-apa untuk dilihat.

“Mahiru-san, coba cubit pipiku.”

Maisy menyodorkan wajahnya sambil berkata, “Nih.” Mahiru meraih kedua pipinya dengan kedua tangan. Lembut. Dia menarik-nariknya dengan gemas, dan Maisy membuka mulutnya dalam keadaan pipinya masih tertarik.

“Ha-hiihht... he-fel-hi-nya i-ni hu-han hi-hfi ya-fha...”

“Ya, kaget sih. Iya juga... jadi, ini tuh...”

“Ah, di mana pun nggak masalah, sih.”

Mahiru bingung harus menjelaskan dari mana, tetapi Maisy mendongak dan berkata dengan wajah polos.

“Hah? Nggak masalah?”

“Yah, gimana ya... rasanya di sebelah Mahiru-san itu tempatku berada. Kalau ada Mahiru-san, yang lain nggak terlalu... ah, bukan apa-apa.”

Maisy pura-pura tersipu, menutup mulutnya. Namun dia juga berkata dia mengkhawatirkan kakaknya, sambil melirik ke sekeliling dengan gelisah.

“Mahiru-san ngerti situasi ini, ‘kan?”

“Ya... kurang lebih.”

“Bukan sesuatu yang bikin kamu kesulitan, ‘kan?”

“Ya... kurang lebih?”

“Kalau begitu nggak apa-apa, ‘kan? Daripada itu, sarapan yuk?”

“Terlalu tangguh kamu...”

Bangun dan mendapati diri berada di tempat asing yang kosong melompong, situasi yang bisa bikin orang waras jadi gila. Namun kemampuan adaptasi Maisy benar-benar tidak normal. Atau mungkin memang dia tidak terlalu peduli. Selama Mahiru ada, semuanya beres baginya.

“Ngomong-ngomong, kenapa sih tingkat kesukaanmu ke aku tinggi banget?”

“Hah? Soalnya Mahiru-san itu pangeranku, ‘kan?”

“Pangeran...?”

Mendengar istilah yang asing itu, tanpa sadar dia memiringkan kepala.

Pangeran, katanya? Pangeran yang itu? Apakah pengertiannya sama dengan yang ada di benaknya?

“Soalnya kamu tiba-tiba muncul, mematahkan kutukan penyihir, lalu dengan gagah menyelamatkan aku dan Kakak! Kalau dipikir-pikir apa yang akan terjadi seandainya Mahiru-san tidak ada... rasanya mengerikan. Bagi aku maupun Kakak, itu pasti akhir yang terburuk.”

Begitu rupanya, di mata Maisy, Mahiru tampak seperti pangeran berkuda putih.

Memang, kalau hanya potongan peristiwa kali ini yang dilihat, sebutan “dengan gagah” mungkin masih pantas, setidaknya selain beberapa bagian.

Padahal kenyataannya, tubuh Maisy pernah dirasuki Olivia palsu, Mahiru dibunuh oleh Olivia palsu itu, dibunuh serigala, membuat Maisy putus asa, dibunuh oleh Maisy, lalu kembali dibunuh serigala, dia telah melewati akhir yang kacau berkali-kali. Namun Maisy yang sekarang tidak mengingat semua itu.

Yang dia tahu hanyalah Mahiru dalam putaran ini, Mahiru yang tiba-tiba menemukan jawaban paling tepat.

Meski begitu.

“Tapi waktu pertama kali kita ketemu, aku kelihatan payah banget...”

Bahkan kali ini pun, semuanya tidak berjalan mulus sejak awal.

Tepat setelah putaran kelima dimulai, justru saat itulah mental Mahiru berada di titik terendah sejak dia datang ke dunia ini.

Memang berkat itulah dia bisa lebih dekat dengan Maisy, tetapi bagi Mahiru, itu tetap masa lalu yang memalukan dan ingin dia hapus.

“Bukannya sudah seperti tugas seorang putri untuk membangkitkan pangerannya? Lagi pula, aku tidak keberatan kalau kamu hanya memperlihatkan sisi lemahmu padaku”

Namun tampaknya, di dalam benak Maisy, bahkan hal itu pun telah terhias indah.

Dia menempelkan tangan ke pipinya dan tersenyum lembut.

“Puh, kukuk, fufufufu, ahahahahahaha...!”

Melihat percakapan mereka, si Gembala akhirnya tidak mampu menahan diri dan meledak dalam tawa nyaring.

Sekilas tampak seolah dia akhirnya benar-benar rusak, tetapi mungkin memang sejak awal dia sudah rusak. Tidak ada lagi yang bisa disebut hancur dari sesuatu yang sudah retak.

“Bagus, bagus sekali! Selama ini tidak pernah ada sesuatu yang tidak terduga terjadi. Membosankan. Aku bosan di dalam sangkar itu. Tapi ini? Ini jadi menarik, bukan!”

“Mahiru-san, apa itu?”

Baru sekarang Maisy tampaknya benar-benar menyadari keberadaan si Gembala dan menatapnya dengan pandangan aneh, seperti sedang melihat hewan langka.

“Dia... wanita dengan hati busuk.”

“Oh begitu. Jadi Mahiru-san tidak suka.”

“Kurang lebih begitu.”

“Kalau begitu, kita bunuh saja dulu?”

“...Hah?”

“...Eh?”

Mahiru meragukan pendengarannya sendiri, sementara Maisy menatapnya seolah berkata, memangnya ada yang aneh?

Usulan pembunuhan itu dilontarkan dengan enteng, seperti memesan makanan tanpa tambahan.

“Enggak, nggak perlu sampai segitunya. Lagian, jangan gampang-gampang ngajak bunuh orang.”

“Mahiru-san baik sekali pada semua orang, ya.”

Maisy sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Meski keinginan terbesar Mahiru untuk menyelamatkannya telah tercapai, tampaknya sifatnya yang agak ekstrem memang bawaan asli. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya.

“Kayaknya jalan ke depan bakal berat...”

Mahiru menggaruk pipinya sambil memandang Maisy yang tersenyum ceria.

Percakapan itu terasa seperti penutup yang pas, tetapi sayangnya, kisah ini tidak semudah itu berubah menjadi akhir bahagia.

“Baiklah, aku ingin segera membawamu ke dunia dongeng berikutnya... tapi bagaimana kalau kuberikan sedikit libur? Pergilah lihat keadaan adikmu. Kamu akan mengerti bahwa apa yang kukatakan adalah kebenaran.”

Menyelesaikan dunia Tudung Merah berarti menyelamatkan adiknya.

Begitulah, si Gembala mengusulkan pembuktian itu.

“...Hah? Kamu barusan bilang apa?”

“Kubilang, pergilah lihat keadaan adikmu.”

“Bukan itu. Yang sebelumnya. Dunia dongeng berikutnya... katamu...?”

“Apa yang membuatmu heran?”

“Bukannya ini sudah selesai?”

“Kamu baru saja menaklukkan satu dunia dongeng yang paling mudah. Mana mungkin sudah selesai?”

“Ini... yang paling mudah?”

“Masih ada lagi. Enam dunia dongeng tersisa. Seperti dunia Tudung Merah ini, aku ingin kamu menuntaskannya semuanya dengan sempurna.”

“Oi oi... kamu bercanda, ‘kan...?”

“Hehe. Kamu adalah pahlawan yang tidak tergantikan milikku. Tidak mungkin kubiarkan kamu kabur di sini.”

Si Gembala menatap Mahiru dengan senyum penuh kenikmatan.

Mahiru meringis kecil, lalu menghela napas panjang dalam kepasrahan.

Ah, tidak mungkin dia bisa lari dari makhluk ini.

“Kira-kira berapa kali lagi kamu akan mati? Nah... dunia dongeng berikutnya sudah menunggumu.”

Demikianlah, bab Tudung Merah pun berakhir.

Sebuah lingkaran gila yang baru.

Dengan suara roda gigi yang kembali berputar.

 

Bersambung ke Volume 2

Read Also :-
Labels : #Grimm Connect ,#GrimmConnect 1 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar