Pertama-tama,
mereka saling mengobati luka masing-masing. Luka Nina tampaknya hanya sobekan
kecil di dahinya, dan cedera Mahiru pun tidak separah yang terlihat. Tentu saja
tidak ada yang mengancam nyawa, dan lengannya masih memiliki sensasi hingga ke
ujung jari. Punggungnya memang terasa sakit luar biasa, tetapi tidak sampai
pada tingkat yang berbahaya. Dia ingin memeriksakannya ke dokter setidaknya
sekali, namun jika beristirahat dengan tenang, sepertinya dia akan pulih hingga
bisa bergerak seperti semula.
Setelah
itu, mereka membuat makam untuk Elfilia dan bersama-sama menangkupkan tangan,
memanjatkan doa.
Usai
membereskan kamar yang berantakan, Mahiru menerima hidangan masakan dari Nina
dan Maisy.
Itu
adalah meja makan paling damai di dunia ini, tanpa sedikit pun kekhawatiran.
Kemudian
dia berbaring di ranjang dan terlelap, dan tanpa terjadi apa-apa... dia
menyambut pagi hari keempat.
Dunia
pun meleleh.
Ranjang,
rumah, kontur di sekelilingnya mulai mengabur.
Seperti
mimpi, seakan semua ini hanyalah kebohongan, dunia terurai menjadi partikel-partikel
halus dan kehilangan bentuknya.
Segala
sesuatu selain Grimm Note di tangannya runtuh, menyatu dengan udara, lalu
menghilang.
Pemutus
arus dunia telah dijatuhkan.
Rumah
lenyap, hutan di baliknya pun lenyap, hingga pandangan bisa menembus tanpa
batas dan arah atas-bawah tidak lagi bisa dibedakan. Pijakan yang tidak stabil.
Cakrawala yang membentang tanpa akhir.
Sebuah
tempat kosong yang terasa begitu akrab.
Tempat
awal kisah ini, tempat pembukaan.
“Aku
rupanya telah meremehkanmu, Mahiru.”
Suara
menjengkelkan yang terdengar seolah menari menggema.
“Ada
segudang hal yang mau aku katakan, Gembala.”
“Kamu
luar biasa! Sungguh menakjubkan! Aku tidak pernah menyangka ada cara
penyelesaian seperti ini!”
Si
Gembala, tanpa memedulikan sikap sinis Mahiru, menggenggam tangan Mahiru dengan
senyum yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Mahiru, dengan ekspresi
benar-benar muak, menepisnya.
“Najis.
Jangan sok akrab sentuh-sentuh.”
“Kamu
marah? Jangan-jangan kamu membenciku?”
“Bukan
jangan-jangan lagi. Aku benci sekali. Wanita sialan.”
“Sialan?
Kejam sekali. Aku paham perasaanmu. Bisa kumengerti. Tapi tidak ada pilihan
lain. Aku sungguh mengira satu-satunya cara adalah mencapai hari keempat.
Faktanya, hampir semua pemain sebelumnya menyelesaikan dunia Tudung Merah dengan
metode itu.”
“Aku
tidak peduli. Tidak mau tahu. Urusanmu tidak ada hubungannya denganku.”
“Selama
ini aku telah melihat ribuan pemain, dan tidak satu pun menunjukkan kemungkinan
seperti ini. Bukannya wajar jika aku terjebak dalam prasangka?”
“Anggap
saja itu wajar. Tapi sikapmu tetap bikin aku muak. Sifatmu yang menikmati
kemalangan orang lain itu bikin aku jijik. Aku benci.”
“Bukan
begitu. Aku hanya terlalu bersemangat mendukung usahamu.”
“Jangan
bohong yang keliatan banget. Lagian, bukan soal logika. Aku memang benci kamu.”
“Kita
ini rekan, lho?”
“Seumur
hidup aku nggak bakal anggap kamu rekan.”
“Hmm,
bagaimana ini... sepertinya aku benar-benar dibenci.”
Si
Gembala menutup mulutnya dengan tangan, mengernyitkan dahi. Sekilas dia tampak
benar-benar terpukul, tetapi itu tidak berarti apa-apa. Apa pun kata orang,
Mahiru memang membencinya.
“Tapi
sungguh, aku menganggapmu luar biasa. Kamu menyelamatkan si Tudung Merah sekaligus
menyelesaikan ceritanya. Ini pertama kalinya. Aku belum pernah melihatnya. Kamu
mengabaikan nasihatku dan tetap teguh pada keyakinan yang dianggap sia-sia.
Kemenangan ini milikmu.”
“Oh
ya?”
Si
Gembala mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, tetapi Mahiru
mengabaikannya. Namun karena dia terus tersenyum lebar sambil mempertahankan
tangannya di udara, Mahiru akhirnya meraihnya dan menggenggamnya sekuat tenaga.
“Ngomong-ngomong,
Mahiru. Ada satu hal lagi yang tidak terduga. Sesuatu yang mustahil.”
“Ya,
soal itu... aku juga sudah tahu. Aku juga heran.”
“Bagaimana
bisa kanu ada di sini... bersama itu?”
Di
sisi Mahiru, terdengar napas tidur yang teratur. Maisy.
Tempat
ini adalah tempat pembukaan. Ruang di antara realitas dan dunia dongeng, yang
hanya bisa dimasuki oleh Mahiru sebagai pemain dan si Gembala sebagai pengelola
dunia dongeng.
Seperti
yang dikatakan si Gembala, bukan berarti Mahiru menganggap Maisy sekadar
karakter. Namun tetap saja, keberadaan Maisy yang seharusnya penghuni dunia
Tudung Merah di sini adalah hal yang mustahil.
“Huaah...?
Ah, selamat pagi, Mahiru-san. Bangun pagi dan langsung melihat wajahmu. Lumayan
juga, ya.”
Maisy
bangkit dengan santai sambil mengusap mata yang masih mengantuk. Rambut
pirangnya yang indah melompat kecil.
“P-Pagi,
Maisy.”
“Iyaaa,
pagi... eh? Tempat apa ini!? Kok nggak ada apa-apa!? Mimpi!? Ini dunia mimpi ya!?”
Kesadarannya
pulih, dan setelah memahami situasinya, Maisy melompat berdiri dan melihat
sekeliling. Namun tidak ada apa-apa untuk dilihat.
“Mahiru-san,
coba cubit pipiku.”
Maisy
menyodorkan wajahnya sambil berkata, “Nih.” Mahiru meraih kedua pipinya dengan
kedua tangan. Lembut. Dia menarik-nariknya dengan gemas, dan Maisy membuka
mulutnya dalam keadaan pipinya masih tertarik.
“Ha-hiihht...
he-fel-hi-nya i-ni hu-han hi-hfi ya-fha...”
“Ya,
kaget sih. Iya juga... jadi, ini tuh...”
“Ah,
di mana pun nggak masalah, sih.”
Mahiru
bingung harus menjelaskan dari mana, tetapi Maisy mendongak dan berkata dengan
wajah polos.
“Hah?
Nggak masalah?”
“Yah,
gimana ya... rasanya di sebelah Mahiru-san itu tempatku berada. Kalau ada Mahiru-san,
yang lain nggak terlalu... ah, bukan apa-apa.”
Maisy
pura-pura tersipu, menutup mulutnya. Namun dia juga berkata dia mengkhawatirkan
kakaknya, sambil melirik ke sekeliling dengan gelisah.
“Mahiru-san
ngerti situasi ini, ‘kan?”
“Ya...
kurang lebih.”
“Bukan
sesuatu yang bikin kamu kesulitan, ‘kan?”
“Ya...
kurang lebih?”
“Kalau
begitu nggak apa-apa, ‘kan? Daripada itu, sarapan yuk?”
“Terlalu
tangguh kamu...”
Bangun
dan mendapati diri berada di tempat asing yang kosong melompong, situasi yang
bisa bikin orang waras jadi gila. Namun kemampuan adaptasi Maisy benar-benar tidak
normal. Atau mungkin memang dia tidak terlalu peduli. Selama Mahiru ada,
semuanya beres baginya.
“Ngomong-ngomong,
kenapa sih tingkat kesukaanmu ke aku tinggi banget?”
“Hah?
Soalnya Mahiru-san itu pangeranku, ‘kan?”
“Pangeran...?”
Mendengar
istilah yang asing itu, tanpa sadar dia memiringkan kepala.
Pangeran,
katanya? Pangeran yang itu? Apakah pengertiannya sama dengan yang ada di
benaknya?
“Soalnya
kamu tiba-tiba muncul, mematahkan kutukan penyihir, lalu dengan gagah
menyelamatkan aku dan Kakak! Kalau dipikir-pikir apa yang akan terjadi seandainya
Mahiru-san tidak ada... rasanya mengerikan. Bagi aku maupun Kakak, itu pasti
akhir yang terburuk.”
Begitu
rupanya, di mata Maisy, Mahiru tampak seperti pangeran berkuda putih.
Memang,
kalau hanya potongan peristiwa kali ini yang dilihat, sebutan “dengan gagah”
mungkin masih pantas, setidaknya selain beberapa bagian.
Padahal
kenyataannya, tubuh Maisy pernah dirasuki Olivia palsu, Mahiru dibunuh oleh
Olivia palsu itu, dibunuh serigala, membuat Maisy putus asa, dibunuh oleh Maisy,
lalu kembali dibunuh serigala, dia telah melewati akhir yang kacau
berkali-kali. Namun Maisy yang sekarang tidak mengingat semua itu.
Yang
dia tahu hanyalah Mahiru dalam putaran ini, Mahiru yang tiba-tiba menemukan
jawaban paling tepat.
Meski
begitu.
“Tapi
waktu pertama kali kita ketemu, aku kelihatan payah banget...”
Bahkan
kali ini pun, semuanya tidak berjalan mulus sejak awal.
Tepat
setelah putaran kelima dimulai, justru saat itulah mental Mahiru berada di
titik terendah sejak dia datang ke dunia ini.
Memang
berkat itulah dia bisa lebih dekat dengan Maisy, tetapi bagi Mahiru, itu tetap
masa lalu yang memalukan dan ingin dia hapus.
“Bukannya
sudah seperti tugas seorang putri untuk membangkitkan pangerannya? Lagi pula, aku
tidak keberatan kalau kamu hanya memperlihatkan sisi lemahmu padaku”
Namun
tampaknya, di dalam benak Maisy, bahkan hal itu pun telah terhias indah.
Dia
menempelkan tangan ke pipinya dan tersenyum lembut.
“Puh,
kukuk, fufufufu, ahahahahahaha...!”
Melihat
percakapan mereka, si Gembala akhirnya tidak mampu menahan diri dan meledak
dalam tawa nyaring.
Sekilas
tampak seolah dia akhirnya benar-benar rusak, tetapi mungkin memang sejak awal dia
sudah rusak. Tidak ada lagi yang bisa disebut hancur dari sesuatu yang sudah
retak.
“Bagus,
bagus sekali! Selama ini tidak pernah ada sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Membosankan. Aku bosan di dalam sangkar itu. Tapi ini? Ini jadi menarik,
bukan!”
“Mahiru-san,
apa itu?”
Baru
sekarang Maisy tampaknya benar-benar menyadari keberadaan si Gembala dan menatapnya
dengan pandangan aneh, seperti sedang melihat hewan langka.
“Dia...
wanita dengan hati busuk.”
“Oh
begitu. Jadi Mahiru-san tidak suka.”
“Kurang
lebih begitu.”
“Kalau
begitu, kita bunuh saja dulu?”
“...Hah?”
“...Eh?”
Mahiru
meragukan pendengarannya sendiri, sementara Maisy menatapnya seolah berkata,
memangnya ada yang aneh?
Usulan
pembunuhan itu dilontarkan dengan enteng, seperti memesan makanan tanpa
tambahan.
“Enggak,
nggak perlu sampai segitunya. Lagian, jangan gampang-gampang ngajak bunuh
orang.”
“Mahiru-san
baik sekali pada semua orang, ya.”
Maisy
sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Meski keinginan terbesar Mahiru
untuk menyelamatkannya telah tercapai, tampaknya sifatnya yang agak ekstrem
memang bawaan asli. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya.
“Kayaknya
jalan ke depan bakal berat...”
Mahiru
menggaruk pipinya sambil memandang Maisy yang tersenyum ceria.
Percakapan
itu terasa seperti penutup yang pas, tetapi sayangnya, kisah ini tidak semudah
itu berubah menjadi akhir bahagia.
“Baiklah,
aku ingin segera membawamu ke dunia dongeng berikutnya... tapi bagaimana kalau
kuberikan sedikit libur? Pergilah lihat keadaan adikmu. Kamu akan mengerti
bahwa apa yang kukatakan adalah kebenaran.”
Menyelesaikan
dunia Tudung Merah berarti menyelamatkan adiknya.
Begitulah,
si Gembala mengusulkan pembuktian itu.
“...Hah?
Kamu barusan bilang apa?”
“Kubilang,
pergilah lihat keadaan adikmu.”
“Bukan
itu. Yang sebelumnya. Dunia dongeng berikutnya... katamu...?”
“Apa
yang membuatmu heran?”
“Bukannya
ini sudah selesai?”
“Kamu
baru saja menaklukkan satu dunia dongeng yang paling mudah. Mana mungkin sudah
selesai?”
“Ini...
yang paling mudah?”
“Masih
ada lagi. Enam dunia dongeng tersisa. Seperti dunia Tudung Merah ini, aku ingin
kamu menuntaskannya semuanya dengan sempurna.”
“Oi
oi... kamu bercanda, ‘kan...?”
“Hehe.
Kamu adalah pahlawan yang tidak tergantikan milikku. Tidak mungkin kubiarkan kamu
kabur di sini.”
Si
Gembala menatap Mahiru dengan senyum penuh kenikmatan.
Mahiru
meringis kecil, lalu menghela napas panjang dalam kepasrahan.
Ah,
tidak mungkin dia bisa lari dari makhluk ini.
“Kira-kira
berapa kali lagi kamu akan mati? Nah... dunia dongeng berikutnya sudah
menunggumu.”
Demikianlah,
bab Tudung Merah pun berakhir.
Sebuah
lingkaran gila yang baru.
Dengan
suara roda gigi yang kembali berputar.
Bersambung ke Volume 2