Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Project Nil: The World Engulfed in Ash, or the Tale of a Girl's Salvation Volume 2 Chapter 4

Bab 4: Serangan

Saat Magami dan yang lainnya ditarik naik dari balon udara yang mereka buat sendiri, langit di atas telah sepenuhnya ternoda senja. Badai yang tadi mengamuk sedemikian dahsyat pun telah lenyap tanpa bekas, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Setelah membantu pekerjaan mengamankan kawat baja yang terhubung dari balon udara menuju pangkalan, Magami bergegas berlari menuju ruang medis tempat Nil dilarikan. Dia melintasi koridor sempit yang tidak jauh berbeda dengan bagian dalam Kapal Mensis, lalu membuka pintu tempat keberadaan orang-orang terasa.

Di sana, sosok-sosok yang sudah sangat familiar rupanya telah berkumpul.

“Syukurlah kalian selamat.”

Agatha membuka suara sembari menatap Magami seolah memastikan keberadaannya. Di sisinya, Krus berdiri dengan muka masam seperti biasa.

Kendati demikian, entah mengapa rasa lega tampak menyelinap dengan samar.

Langkah Magami memasuki ruangan, lalu dia membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepada Krus.

“Kami telah merepotkan Kapten. Lalu, soal suar sinyal itu. Kami sangat terbantu berkat benda tersebut.”

“Ya.”

Krus tidak berucap lebih dari itu. Seolah tidak tertarik lagi, dia mengalihkan pandangannya dari Magami lalu mengelus lehernya. Memperhatikan gestur pria itu dari samping, Agatha tersenyum.

“Kami juga tidak bisa melakukan banyak hal. Mungkin ada hal lain yang bisa kami lakukan, tetapi dalam situasi saat ini, itulah batas maksimalnya. Itu adalah langkah terakhir yang terpaksa diambil. Maafkan kami, ya.”

“Tidak, kalau bukan karena suar itu, kami benar-benar sudah mati.”

“Kalau begitu, syukurlah.”

Agatha lalu mengarahkan pandangan matanya ke sudut ruangan.

Di atas tempat tidur, Nil duduk dengan separuh tubuhnya yang terangkat. Meskipun terhubung dengan pipa infus dan berbagai alat ukur, dia tampak baik-baik saja.

Saat matanya bersinggungan dengan Magami, Nil membungkukkan punggungnya agak canggung dan malu. Dia mungkin merasa risi dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Kasihan jika terus dicecar dengan pertanyaan, Magami pun mendudukkan dirinya di kursi bundar di dekatnya.

“Lalu, bagaimana kondisi Nil?”

“Malnutrisi ringan dan dehidrasi. Ada rasa lelah juga. Tapi kalau makan dengan benar dan beristirahat, dia akan baik-baik saja. Bisa selamat hanya dengan kondisi sejauh ini setelah jatuh ke bawah Lapisan Abu benar-benar sebuah keajaiban.”

Agatha menutup rekam medisnya lalu menempelkan jari di dekat matanya di balik kacamata. Kemudian dengan sebelah mata yang terbuka, dia mengarahkan tatapan mata seorang dokter kepada Magami.

“Nil baik-baik saja. Sekarang giliranmu. Tampaknya, ada gangguan kontaminasi ringan, ya?”

“Ah, karena sempat menghirup sedikit Lapisan Abu, mungkin gara-gara itu.”

“Kamu pasti bertindak nekat lagi, ‘kan? Astaga, mentang-mentang masih muda.”

Sambil menempelkan stetoskop yang melingkar di lehernya ke telinga, Agatha menggerakkan dagunya memberi isyarat agar Magami memperlihatkan dadanya. Magami sempat ragu-ragu sejenak, namun pada akhirnya dia menyerah pada tekanan tanpa kata dari Agatha. Tepat saat tangannya hendak membuka bagian depan baju montirnya dengan enggan...

Suara langkah kaki yang berlari mendekat di koridor belakang terdengar, dan pintu di belakang mereka dibuka dengan paksa. Bunyi pintu yang terempas kencang membuat Agatha mengerutkan lehernya.

“Apa benar Nil sudah kembali!?”

Dari derap langkah kakinya saja sosok pembuat suara itu sudah bisa ditebak. Saat Magami berbalik, sosok Nebula dan Nox yang terengah-engah berdiri di sana.

Begitu menemukan sosok Magami dan Nil, wajah mereka berdua terlukiskan ekspresi yang tidak dapat dibedakan antara kegembiraan atau gejolak emosi. Begitu mereka berdua menerobos masuk ke dalam ruangan, tanpa bertanya apa pun Nebula langsung menggenggam tangan Nil yang berada di atas tempat tidur dengan sangat kuat.

Nil sempat membelalakkan matanya terkejut sejenak, namun melihat Nebula, dia tampaknya paham bahwa tindakan gadis itu sama sekali tidak dilandasi rasa permusuhan.

“Syukurlah. Kukira kamu sudah mati. Karena kamu tidak kunjung kembali, kukira kamu benar-benar mati.”

Dengan suara bergetar dan bibir yang digigit kuat-kuat, Nebula menundukkan kepalanya tersedu-sedu.

Nil yang merasa sikap gadis itu di luar dugaannya tampak begitu bingung. Menatap tangannya yang digenggam erat, Nil ragu harus berbuat apa sebelum akhirnya dengan perlahan menaruh tangannya di atas kepala Nebula.

“M-Maaf.”

Nil menggumam dengan suara yang nyaris lenyap, dan Nebula menggelengkan kepalanya dalam diam. Nox yang memperhatikan interaksi mereka dari samping mengangguk puas lalu menyentuh punggung Nebula.

Ini adalah pemandangan yang tidak pernah terbayangkan beberapa waktu lalu. Di sekeliling Nil, gadis yang membenci dan menjauhi orang lain, rekan-rekannya perlahan-lahan mulai berkumpul. Ikatan itu bukan sekadar hidup bersama atau berbagi tempat semata. Melainkan ikatan hati. Sesuatu yang pastilah sangat dekat dengan apa yang dinamakan keluarga.

Apakah Nil sendiri menyadarinya? Menatap wajahnya yang kebingungan, bersamaan dengan kehangatan yang merebak di dalam dadanya, bagian dalam hidung Magami terasa memanas dan pedih.

“Hei, di mana Luciola?”

Usai terbungkam beberapa saat, Nil mendadak teringat dan membuka suara. Di saat itulah Magami pun akhirnya tersadar. Memang aneh rasanya jika mereka bertiga yang biasanya selalu bersama tidak berkumpul secara utuh.

Magami pun berbalik menatap pintu keluar mengikuti kata-kata Nil.

Akan tetapi, di balik pintu yang terbuka lebar itu tidak ada pertanda keberadaan manusia. Selain suara langkah kaki yang terdengar dari kejauhan, hanya dinding koridor yang temaram saja yang terlihat.

Firasat buruk merayapi pikirannya.

Magami mengarahkan pandangan matanya yang mempertanyakan hal itu kepada Agatha.

“Luciola ada di ruangan lain.”

Agatha mengutarakannya dengan nada suara datar yang sama sekali tidak selaras dengan atmosfer hangat yang menyelimuti ruangan tadi.

“Di ruangan lain... apakah dia baik-baik saja?”

“Dia masih hidup. Jika itu yang kamu maksud dengan baik-baik saja, maka bisa dibilang dia baik-baik saja.”

Melihat sikap Agatha yang datar, Magami teringat kembali sosok Luciola yang terakhir kali dilihatnya. Kondisi gadis itu yang jelas-jelas tidak baik membangkitkan bayangan skenario terburuk di kepalanya.

Apakah itu benar-benar terjadi? Magami refleks bertukar pandang dengan Nil. Meski merasa takut untuk mendengarkan detailnya, dia tidak sanggup untuk tidak mengetahuinya.

Dengan ragu-ragu Magami membuka suara.

“Itu artinya...”

Meskipun ingin menanyakan situasinya, tidak ada lagi kata-kata yang sanggup keluar dari mulutnya. Menerima tatapan Magami, Agatha menghela napas pendek.

“Dia adalah Anima yang paling terkuras di antara kita, ‘kan? Karena itulah, tampaknya pada pengemudian kali ini dia telah melewati batas yang sangat fatal. Tapi, dia masih hidup. Untuk saat ini.”

“Pengemudian kali ini maksudnya bagaimana?”

Dari samping Magami yang kebingungan mencari kata-kata yang harus diucapkan, suara Nil bergaung memenuhi ruangan. Memang, ada banyak hal yang ingin diketahuinya. Namun kata itulah yang paling bergema di telinganya.

Agatha tidak menjawab pertanyaan Nil, dia hanya membisu mengarahkan pandangannya kepada Krus.

Dari hal itu saja sudah bisa dipahami.

Bahwa keputusan mengenai pengemudian kali ini adalah tindakan Krus.

Dengan wajah yang tetap tanpa ekspresi, Krus mulai berbicara seolah telah meneguhkan hatinya.

“Barakaja tadinya berencana menganggap kalian sudah tewas dalam waktu dekat, lalu bersiap menuju wilayah udara berikutnya. Karena situasi saat itu berisiko menguras para Anima di sini secara cuma-cuma. Demi menghentikan itu, tidak ada cara lain selain salah satu Anima kita yang terus menerbangkan kota layang ini. Begitulah kejadiannya.”

Pantas saja Barakaja masih bertahan di wilayah udara ini.

Memahami situasinya, Magami bisa mengerti.

Bahkan sejak masih berada di pangkalan bawah tanah, rasa panik sudah menggelayutinya. Karena dia menganggap sangat kecil kemungkinannya Barakaja terus terbang di wilayah udara yang sama selama seminggu penuh. Jujur saja, saat melihat wujud Barakaja terbang di langit, dia merasakan ketakjuban dan keraguan yang berpadu bersama rasa lega.

Tidak disangka bahwa keberadaan kota itu dipertahankan oleh seorang gadis bernama Luciola.

Rasa sesak yang mendadak mengimpit dadanya membuat Magami menundukkan kepala.

“Sebenarnya, sudah berapa hari dia menerbangkannya?”

“3 hari, tidak. Sekitar 4 hari.”

Krus melirik jam yang terpasang di dinding.

“Mustahil, dia melakukannya sendirian, ‘kan?”

Nil bertanya dengan wajah yang berubah drastis. Karena Nil sendiri adalah sosok yang sanggup terhubung dengan Mekanisme Amadeus, dia pastilah paham betul betapa mengerikannya situasi ini.

Menerima pandangannya yang tajam, Krus berucap tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.

“Sendirian.”

Mendengar jawabannya, Nil mendadak bangkit berdiri dari tempat tidur. Langkah kakinya masih terhuyung dan tidak stabil. Kendati demikian, saat mencoba melangkah maju, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Magami dengan panik menopang tubuh gadis itu yang nyaris jatuh.

“Kembalilah berbaring. Walau kamu pergi ke sana pun, situasinya tidak akan berubah.”

Agatha mencoba menahan Nil dengan tenang, namun hal itu mustahil sanggup menghentikannya.

Nil menatap tajam Agatha.

“Maksudmu Luciola menjadi tumbal demi menyelamatkan kami, ‘kan! Kalau begitu, mana bisa aku cuma diam saja!”

Sambil meluapkan teriakan yang bergaung di seluruh ruangan, Nil mulai melangkah menuju luar ruangan.

Melihat tekadnya, Agatha menghela napas. Sambil memberi isyarat mata pada Krus lalu bangkit dari kursinya, keduanya mulai melangkah mendahului Nil untuk memandu jalan.

“Baiklah. Kalau begitu akan kubawa kamu ke sana. Tapi jangan terlalu bising, ya. Luciola butuh waktu untuk beristirahat tenang.”

Menanggapi peringatan Agatha, Nil mengangguk balik sembari menggigit bibirnya.

Ruang perawatan tempat Luciola berada tidak begitu jauh dari ruang medis. Melintasi beberapa pintu dan melangkah turun dari tangga, ruangan itu berada di sana.

Saat membuka pintu yang tidak memiliki perbedaan mencolok, bau obat pembasmi kuman menusuk hidung. Ukuran ruangannya sama sekali tidak luas. Hanya saja tempat itu merupakan ruangan yang memiliki jendela—hal yang terbilang langka untuk ukuran Barakaja—dan sebuah tempat tidur diletakkan di dekat dinding.

Di atas sprei putih, seorang gadis yang merebahkan tubuhnya mengarahkan wajah ke arah para pengunjung.

“Ah, ternyata kalian kelihatan lebih segar dari bayanganku, ya.”

Menyadari bahwa gadis yang berujar itu adalah Luciola, Magami tanpa sadar menahan napasnya.

Luciola mengenakan masker oksigen yang menutupi area mulutnya. Di lengan dan lehernya, terhubung banyak sekali selang infus hingga tampak menyayat hati. Warna wajahnya pucat pasi, dan kulitnya retak-retak. Fokus matanya tampak samar, dan bola mata kanannya memerah hebat.

Jika manusia merupakan barang habis pakai persis seperti benda mati, mungkin seperti inilah wujud mereka saat melapuk.

Wujudnya benar-benar menimbulkan pemikiran itu.

“Astaga. Wajah seperti apa yang sedang kalian pasang itu?”

Ujar Luciola dengan suara yang terdengar sesak. Karena masker menutupi mulutnya, wajahnya tidak dapat dipastikan dengan jelas. Namun, dia pasti sedang tersenyum. Matanya yang menatap ke arah sini menyipit, dan sudut matanya melengkung turun.

Apa yang harus diucapkannya? Padahal Magami sudah menguatkan hatinya, namun tubuhnya kaku seolah gentar untuk melangkah masuk ke dalam ruangan. Di hadapan jalan hidup yang ditunjukkan oleh gadis bernama Luciola ini, dirinya merasa begitu kerdil dan tidak berarti.

Akan tetapi, Nil yang berdiri di sisinya melangkah melewati batas ruangan tanpa ragu. Langkah kakinya memang masih terhuyung, namun tanpa bantuan Magami sekalipun dia melangkah lurus mendekati Luciola.

“Luciola. Maafkan aku.”

Bertekuk lutut di samping tempat tidur, Nil menatap Luciola sembari menggetarkan bibirnya. Luciola yang membalas tatapan mata merah delimanya membelalakkan mata terkejut.

“Duh. Kamu sampai meminta maaf begini. Kejadian yang sangat langka, ya.”

Di balik maskernya, suara parau itu terasa bercampur dengan rasa heran dan tawa khas dirinya seperti biasa. Walau berada dalam kondisi tubuh yang mengerikan, tekadnya yang berusaha bersikap seperti biasa makin semakin menyakiti dada yang menatapnya.

Nil pun mencoba menyuarakan sesuatu, namun kata-katanya tidak sanggup terbentuk.

Dia hanya bisa menggenggam sprei tempat tidur kuat-kuat seolah meratapi ketidakberdayaannya.

“Ini semua gara-gara aku. Gara-gara aku, Luciola jadi...”

Sambil menggumam dengan suara bergetar, Nil menundukkan wajahnya guna menyembunyikan ekspresinya. Ujung jemarinya yang menggenggam sprei bergetar kecil.

Menatap tangan itu dari atas, Luciola dengan perlahan menumpukkan tangannya yang kurus di atas tangan Nil.

“Bukan... begitu.”

“Mustahil tidak berbeda. Kalau saja aku tidak jatuh ke Lapisan Abu, kejadiannya tidak akan menjadi seperti ini. Semuanya pasti bisa selamat dan baik-baik saja. Bukan begitu!?”

Nil berteriak dengan kasar. Emosi yang tersirat di suaranya menyerupai kesal dan amarah. Namun, itu tidak lagi diarahkan kepada orang lain seperti sebelumnya.

Nil mengerutkan alisnya lalu menengadahkan wajahnya yang bergetar. Mengetahui sepasang mata merah delimanya bergetar dilapisi genangan air mata, Luciola menggelengkan kepalanya perlahan.

“Cepat atau lambat, aku memang akan menjadi seperti ini. Karena itu, ini bukan salahmu.”

“Tapi...”

Terhadap Nil yang membalas seolah enggan mengalah, tatapan mata Luciola yang tenang berbicara. Sebuah tatapan bagaikan ketenangan laut yang menyapu habis emosi bagai badai.

Mengamati Nil yang bungkam, Luciola mengutarakan padanya dengan suara yang nyaris lenyap.

“Nil, tahu tidak. Kamu telah berusaha sekuat tenaga demi kami. Aku tahu betul itu. Dibandingkan dulu, kamu jauh lebih memikirkan diriku, Nebula, dan Nox. Hal itu tersampaikan dengan sangat baik, kok.”

Diiringi suara seperti gesekan angin di tenggorokannya, Luciola menengadah menatap langit-langit. Usai terbatuk-batuk dengan menderita sejenak, dia mengangguk balik pada Nil yang mengamati kondisinya dengan cemas.

“Kamu sudah berubah. Kamu telah diajari kebaikan untuk bisa berjuang demi orang lain. Kamu pasti berubah karena bertemu Magami, ‘kan? Benar, ‘kan?”

Luciola menatap Magami dan Nil secara bergantian lalu menyunggingkan senyum.

“Sama halnya dengan itu.”

“Sama? Apa yang sama?”

Nil memiringkan kepalanya. Luciola mengedipkan bahunya dengan pandangan yang tetap lembut.

“Aku pun berjuang demi dirimu, demi para Anima, dan demi semua orang di Kapal Mensis. Ini bukan salah siapa pun, dan tidak dipaksakan oleh apa pun. Ini adalah sesuatu yang kusingkap dan kupilih atas keinginanku sendiri.”

Dibandingkan sebelumnya, Luciola merangkai kata-katanya dengan lebih menderita. Perasaan yang ingin disampaikannya mungkin masih belum sanggup terutarakan sepenuhnya.

Kendati demikian, Nil merasa telah menerima sesuatu secara nyata. Nil merengkuh tangan Luciola dengan kedua telapak tangannya, menanti kata-kata gadis itu.

“Karena itulah...”

Apakah karena sanggup menerima mata yang tertuju dari Nil, Luciola membuka suaranya dengan kian samar.

“Pilihanku tidak salah. Ini pun bukan salahmu. Kalian bisa kembali, sungguh, syukur...”

Suara Luciola terputus di tengah-tengah. Kelopak matanya terpejam berlawanan dengan keinginannya, lalu kepalanya terkulai lemas menempel di bantal. Persis seperti boneka yang kehabisan baterai.

“Luciola? Luciola!”

Panik melihat kondisinya, Nil bangkit berdiri. Dia membungkuk ke depan seolah hendak mengguncang tubuh Luciola saat itu juga. Magami refleks menggenggam bahu gadis itu.

“Tidak apa-apa. Dia hanya pingsan.”

Agatha yang memperhatikan dari jarak satu langkah melangkah mendekat, berbicara untuk menenangkan Nil.

“Sudah kubilang. Kelelahan menumpuk di tubuhnya. Karena kondisinya saat ini adalah yang terburuk, jika dia beristirahat sebentar lagi seharusnya keadaannya akan sedikit membaik.”

Apakah benar demikian? Menyimpan rasa ragu di dalam hati, Magami mengamati Agatha yang mulai menyesuaikan takaran obat.

Akan tetapi, berlawanan dengan rasa cemasnya, Agatha hanya melanjutkan pekerjaannya secara administratif.

Tepat di saat itu, mendadak terdengar suara ketukan pintu.

Saat berbalik, Invel berdiri di samping pintu yang terbuka. Melihat sosoknya di luar ruang kendali, tubuh tingginya terasa semakin mencolok.

Invel sama sekali tidak berniat melangkah masuk ke dalam ruangan, dia hanya melihat kondisi Luciola dari kejauhan lalu menunjuk Krus.

“Maaf mengganggu di tengah situasi seperti ini, tapi ada hal yang perlu dibicarakan mengenai pekerjaan ke depannya. Krus, lalu... ya. Aku ingin mendengar penjelasan dari Magami juga. Tidak keberatan, ‘kan?”

Krus mengangguk, lalu menatap Magami. Membaca maksud agar dirinya ikut datang, Magami pun mengangguk balik.

“Baik. Kami segera ke sana.”

“10 menit lagi di ruang kendali. Jangan terlambat.”

Mengibaskan rambut hitamnya, Invel melangkah pergi dari depan ruangan sembari menyisakan matanya yang tajam. Magami merasa tatapan itu tidak tertuju padanya maupun Krus, melainkan pada Nil.

Nil pun tampaknya memahami itu, hingga dia tetap merasa tegang dan merasa waspada sepenuhnya sampai wanita itu benar-benar melangkah pergi.

 

Saat keduanya yang dipanggil oleh Invel tiba di ruang kendali, para personel utama Barakaja rupanya telah berkumpul di sana. Pemimpin beserta asisten dari tim kerja nomor 1 hingga nomor 12. Serta para elit yang mencakup sang ketua dari kapal ini.

Bersamaan dengan bunyi pintu lift yang terbuka, tatapan mata mereka seketika tertuju secara serentak, membuat Magami menggaruk pipinya dengan canggung.

“Anu... aku minta maaf karena telah merepotkan kalian semua.”

Begitu memasuki ruang kendali, Magami tidak sanggup menahannya dan langsung membungkukkan kepala. Untuk beberapa saat, tatapan mata para wanita itu tertuju pada puncak kepalanya.

Namun, kesunyian yang memenuhi ruangan itu tampaknya bukan wujud dari sebuah tuduhan padanya.

“Hei, hei. Yang harus minta maaf itu kami, tahu, Magami.”

Sebuah suara riang bergaung di seluruh ruang kendali.

Suara itu tidak lain dari Shitaharu yang paling pertama datang menyelamatkannya.

“Fakta bahwa kalian jatuh ke Lapisan Abu adalah kelalaian dari pihak kami juga. Malah, kamu yang sanggup membawa kembali Nil-chan dalam keadaan hidup memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, sampai-sampai semua orang di sini dibuat kagum olehmu.”

“Tidak, bagaimana ya. Kami hanya terselamatkan berkat berbagai bantuan dan keberuntungan belaka. Sama sekali bukan karena kemampuan atau semacamnya.”

“Heh, sifat rendah hati itu juga merupakan kelebihanmu, sih. Tapi untuk hari ini, biarkan kami sedikit mengapresiasi jasamu.”

Shitaharu yang bersedekap dengan lengan berototnya memberi isyarat agar Magami melangkah ke tengah kerumunan. Meski merasa bingung, Magami dengan enggan melangkah ke samping Shitaharu akibat dorongan di punggungnya dari Krus.

Bagian tengah ruang kendali. Magami berdiri di samping meja besar yang biasanya ditaruh peta wilayah udara maupun denah struktur bodi kapal.

Di seberang meja yang diterangi cahaya terang, sosok Invel berada di sana. Tatapan matanya yang tajam terarah padanya, membuat Magami refleks menelan ludah.

“Magami, aku sudah mendengar cerita singkat mengenai kronologi bagaimana kamu bisa kembali ke langit. Selain itu, yang ingin kami ketahui adalah mengenai fasilitas bawah tanah yang kamu temukan.”

“Untuk melakukan penarikan kapal, ya.”

“Benar. Dari pemeriksaan sebelumnya, kami sempat mempertimbangkan untuk menarik kapal yang jatuh di area permukaan tanah. Namun jika ada kapal yang berada dalam kondisi yang lebih sempurna, kami ingin menarik kapal tersebut. Karena itu, aku ingin mendengar taksiran dan pemikiran dari dirimu yang berada langsung di lokasi.”

Magami menaruh tangannya di pinggang, memutar otak sembari menyusuri ingatannya.

“Menurutku penarikan kapal itu bisa dilakukan. Jika dilihat dari wujud luarnya, kapal itu tidak mengalami kerusakan, dan kalaupun ada kerusakan kecil, kapal itu masih sangat bisa diperbaiki. Di fasilitas bawah tanah itu—atau mungkin lebih pas disebut pangkalan bawah tanah—sistem pemeliharaan kehidupan paling mendasar pun masih terus berfungsi.”

“Oh. Ada udara dan air di sana?”

“Ya. Tapi masalahnya adalah bagaimana cara mengeluarkan kapal sebesar itu ke luar. Kalau fungsi pangkalan itu sendiri tidak dipulihkan, kurasa pelontar peluncuran atau gerbang besar yang menuju ke landasan pacu tidak akan bisa dibuka.”

“Memulihkan fungsi pangkalan itu sendiri, ya. Tingkat kerepotannya tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sekadar memperbaiki kapal.”

Invel menopang dagunya sembari memikirkan besarnya kendala tersebut. Dengan alami dia memberi isyarat mata kepada Shitaharu. Usai bergumam “Hmm”, Shitaharu menyeringai memperlihatkan giginya.

“Yah, skenario terburuknya tinggal kita ledakkan saja.”

“Benar juga.”

Sambil melemparkan senyum bergurau satu sama lain, keduanya membungkukkan badan ke atas meja seolah masalah tersebut telah selesai diatasi.

Invel menyodorkan selembar kertas lusuh ke hadapan Magami.

“Bisa buatkan denah sederhana bagian dalam pangkalan di sini? Aku ingin membagikannya dengan orang-orang yang akan menyelam ke Lapisan Abu.”

“Ya, kalau cuma sampai batas tertentu aku masih mengingatnya, jadi tidak masalah. Tapi, aku punya permintaan, atau mungkin sebuah usulan, sih.”

Meskipun memulainya sendiri, Magami menunjukkan keraguan sembari mengamati Invel.

Hubungan Magami dengannya masih terbilang dangkal, dan dia belum sanggup membaca isi hatinya. Dia agak segan karena berpikir jangan-jangan permintaan ini bisa menyinggung harga diri wanita itu.

Invel mengangkat sebelah alisnya menanggapi sikap Magami.

“Apa, katakan saja.”

“Kalau bisa, aku ingin ikut pergi bersama kalian. Struktur di dalam cukup rumit, dan ada bagian-bagian yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata, jadi kurasa akan lebih pasti kalau aku ikut mendampingi.”

“Maksudmu, kamu ingin menyelam sekali lagi ke Lapisan Abu itu?”

“Ya. Toh sekali atau dua kali rasanya tidak akan jauh berbeda, ‘kan?”

Dengan Magami yang menjawab dengan begitu santai, Invel mengerutkan alisnya dengan heran. Dia bertukar pandang dengan Shitaharu yang berdiri di sisinya sembari memiringkan kepala.

“Baru kali ini aku melihat orang yang sudah selamat setelah jatuh ke Lapisan Abu, tapi malah ingin kembali lagi ke sana. Kamu benar-benar tidak waras, ya. Kenapa sampai sejauh itu ingin kembali?”

Bagi Invel, usulan Magami tampaknya ditangkap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Karena terasa mengejutkan, Magami justru mengedipkan bahunya.

“Apakah bagi para teknisi di sini, bekerja di dalam Lapisan Abu bukanlah hal yang biasa? Saat aku masih melakukan perbaikan dinding luar pun, walau cuma sesekali, aku juga pernah masuk ke dalam Lapisan Abu. Kembali ke dalam Lapisan Abu bukanlah sesuatu yang kuanggap istimewa.”

“Oh. Apakah anak ini didikan Kanayago? Tidak, ini memang sudah sifatnya, ya.”

Di bawah sinar yang memancarkan bayangan kuat di wajahnya, senyum penuh makna mengembang di bibir Invel. Dia menatap Magami lekat-lekat dengan pandangan yang tampak menginginkan sesuatu.

Melirik sikap Invel dari samping, Shitaharu menghela napas.

“Di tempat kami pun tidak banyak teknisi yang sanggup menyelam ke dalam Lapisan Abu, tahu. Kami selalu menyelam bersama pasukan elit yang mengumpulkan rekan-rekan berpengalaman tinggi. Tidak ada orang yang mau turun ke dalam zat beracun yang kalau terhirup bisa bikin mati.”

“Tapi kalau memakai masker bukannya tidak apa-apa?”

“Di balik selembar masker itu terhampar dunia kematian, tahu. Bagi manusia biasa, ketegangan itu bisa merusak mental mereka. Orang yang bisa kembali dengan wajah santai sepertimu itu yang sebenarnya aneh.”

Melihat wajah Shitaharu yang bercampur tawa getir, Magami akhirnya menyadari.

Atmosfer yang memenuhi ruangan ini dan pandangan yang terarah padanya, ini adalah perasaan kaget dan bingung yang berada satu langkah di depan rasa iri atau kagum.

Sebuah perasaan yang mendekati rasa takut terhadap sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahaman mereka. Menerima itu di tubuhnya, Magami meresapinya dalam-dalam. Dia berpikir, Nil pun pasti selalu ditatap dengan mata yang sama seperti ini.

“Kalau begitu, aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu ingin menyelam lagi ke Lapisan Abu? Dari wajahmu aku tahu ini bukan karena rasa penasaran atau sekadar iseng. Tapi aku akan repot kalau kamu malah berbuat yang aneh-aneh.”

Diselimuti atmosfer yang berbeda jenis dari emosi di sekelilingnya, Invel mengarahkan matanya melintasi meja. Tatapan matanya sangat khas. Seperti tatapan seekor ular yang sedang mengincar mangsanya. Sebagian besar orang mungkin akan mematung hanya dengan ditatap olehnya sekali saja.

Namun, Magami berbeda. Dengan janji kepada Nil yang terpatri di dalam dadanya, dia memberikan jawaban yang jujur sesuai dengan perasaannya.

“Karena di sana ada kapal yang akan dinaiki Nil. Bagi seorang teknisi, apakah masih dibutuhkan alasan yang lebih dari itu?”

“...”

Mendengar jawaban Magami yang jujur dan melesat lurus, Invel dan Shitaharu membisu. Usai saling bertukar isyarat mata, Invel tertawa hingga suaranya merembes keluar.

“Bisa saja kamu, Magami. Kamu ini teknisi yang hebat, ya. Aku jadi makin menginginkanmu.”

“Hei, Invel.”

Krus yang memperhatikan interaksi keduanya dari kejauhan mengangkat suaranya. Akan tetapi, Invel mengabaikan suaranya seolah tidak mendengar dan melanjutkan perkataannya.

“Kamu, mau pindah ke tempatku tidak? Kalau perlu, gundik kecil bernama Nil itu juga sekalian dibawakan kemari. Pihak kami sangat menyambut kalian.”

“Invel!”

Teguran tegang dari Krus akhirnya menghentikan mulut wanita itu.

Seolah ingin mengatakan jangan merusak suasana, Invel melirik Krus lalu menuntut jawaban dari Magami.

Astaga, orang-orang ini. Magami menggelengkan kepalanya sembari merasa heran di dalam hati.

“Aku dan Nil adalah anggota Kapal Mensis. Sebelum Kapten Krus memerintahkan pembubaran, kami tidak berniat turun dari kapal. Tapi, kalau terjadi sesuatu yang mendesak, bolehkah kami mengandalkanmu?”

“Tentu saja. Kamu pasti punya rasa hormat pada kaptenmu juga. Kalau kamu dalam kesulitan, datang saja ke tempatku. Kami selalu menyambutmu.”

Invel tertawa puas. Di belakang Magami, suara Krus yang bergumam “Momen itu tidak akan pernah datang” terdengar. Sebagai sesama pihak yang memimpin rekan-rekan, pasti ada hal yang membuat mereka saling bersaing.

Lagi pula, entah mengapa kedua orang ini terasa agak mirip. Demi tujuan mereka tidak segan bertindak nekat, namun demi melindungi anggota awak kapal dan penduduk yang merupakan rekan mereka, mereka tidak takut untuk berseteru. Kekejaman yang tanpa ampun dan kebaikan yang memikirkan orang lain bersemayam bersamaan di dalam diri mereka.

Suatu saat nanti, apakah dirinya juga akan tumbuh menjadi orang dewasa seperti ini? Sambil memikirkan hal semacam itu, Magami memasang telinganya mendengarkan penjelasan garis besar rencana penarikan kapal terbang yang mulai dipaparkan oleh Shitaharu.

 

* * *

 

Dasar Lapisan Abu.

Pangkalan bawah tanah yang dibangun oleh umat manusia 300 tahun yang lalu masih tetap berada di sana tanpa ada yang berubah, bahkan setelah Magami dan Nil melangkah pergi.

Namun, yang membedakannya dari sebelumnya adalah keriuhan yang menyelimuti tempat itu.

Melihat sosok berpakaian seragam militer merah di dalam lift yang turun dari atas kepala, Magami menghentikan pekerjaannya lalu bergegas berlari menghampiri.

“Hai, Nil. Aku lega kamu tiba dengan selamat.”

“Ya. Terima kasih. Tidak disangka kita malah akan kembali ke sini secepat ini.”

“Aku juga tidak menyangka. Tapi kali ini suasananya agak lebih ramai dari sebelumnya. Tidak buruk, ‘kan?”

Magami bergurau ringan pada Nil yang baru saja keluar dari lift, lalu mengarahkan tangannya ke belakang.

Berbeda dari sebelumnya, dok pangkalan bawah tanah kini diterangi oleh cahaya yang benderang. Para teknisi Barakaja yang berlarian di sekitar pun bekerja dengan bersemangat, tampak agak antusias.

Menyapu pandangannya pada itu, Nil mengedipkan bahunya. Lalu dengan langkah sigap dia mendekati Magami dan berbisik di sisinya.

“Jujur saja, aku lebih suka kalau cuma berdua denganmu.”

“...Aku senang mendengarnya.”

Magami melirik wajah Nil dari samping seolah mencoba mencari makna di balik kata-katanya. Gadis itu tidak bermaksud lain, hanya merasa santai seakan baru saja mengutarakan perasaan jujurnya secara polos.

Nil belakangan ini terkadang kalimat seperti ini acuh tak acuh, yang terasa agak curang. Begitu pikir Magami di dalam hati.

Sambil membiarkan detak jantungnya meningkat sendirian, Magami sengaja berdeham.

“Kalau begitu, ayo segera kubimbing ke kapal.”

“Ya. Mohon bantuannya.”

Nil tersenyum lengah yang hanya diperlihatkan pada Magami, lalu mulai melangkah mengekor di belakang pemuda yang memandu jalan.

Seminggu telah berlalu sejak keberhasilan mereka bertahan hidup setelah jatuh ke dalam Lapisan Abu. Magami dan Nil telah kembali ke dalam pangkalan bawah tanah. Kali ini dengan merambat turun melalui kawat baja yang ditarik naik dari pangkalan oleh Magami dan Nil, mereka berhasil tiba tanpa terhalang oleh sistem pertahanan pangkalan.

Terlebih lagi kali ini berbeda dari sebelumnya, para teknisi handal Barakaja berkumpul bersama. Kepakan kaki mereka memasuki pangkalan berlangsung begitu lancar hingga tidak menyisakan rasa tegang seperti sebelumnya.

Bahkan setelah Magami dan Nil meloloskan diri, bagian dalam pangkalan bawah tanah tampaknya terus berfungsi tanpa berubah. Bersama Shitaharu dan yang lainnya, Magami telah masuk terlebih dahulu beberapa hari lalu, dan saat ini sedang memastikan keamanan di berbagai area.

Melintasi koridor yang menghadap ke arah dok, Nil melihat gambaran utuh tempat itu yang memancarkan atmosfer berbeda dari sebelumnya.

“Fasilitas pangkalan sudah bisa dipulihkan?”

“Ya. Shitaharu dan yang lainnya menghabiskan waktu hampir 2 hari untuk memulihkan dok dan beberapa blok saja. Tidak semuanya kembali sempurna. Tapi kalau cuma untuk penarikan kapal, itu sudah lebih dari cukup.”

“Oh...”

Nil menanggapinya dengan nada bicara yang terkesan melayang di udara. Alasan di balik sikapnya itu dapat dipahami Magami dengan sangat jelas.

Magami mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kartu dari dalam sakunya. Menatap kartu yang dijepit di ujung jari Magami, Nil melepaskan suara “Ah”.

“Yang kamu cemaskan itu benda ini, ‘kan? Tenang saja. Seperti yang kamu lihat, aku sudah mengamankannya dengan benar.”

“Ya. Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Nil menjepit kartu itu dengan jarinya yang kurus, lalu menyimpannya ke dalam saku dengan kesal.

“Lantai atas tempat benda ini berada, aliran listriknya sudah kembali juga?”

“Tidak. Di sana pengkabelannya sangat rumit khususnya, jadi tidak bisa diapa-apakan. Shitaharu sepertinya tertarik juga, tapi saat ini kapal diprioritaskan.”

“Begitu. Kalau begitu syukurlah.”

Derap langkah kaki Nil yang menyusuri koridor mengentakkan sol sepatunya terasa sedikit lebih ringan.

Di pangkalan bawah tanah ini, banyak hal yang telah hilang dari umat manusia terlelap. Bukan hanya kapal terbang atau Mekanisme Amadeus saja. Sejarah dan informasi masa lalu yang terkubur selama kurun waktu 300 tahun tertimbun di sana.

Hal-hal itu pastilah sangat berguna bagi umat manusia. Namun bagi Nil, hal itu berbeda. Setiap informasi tunggal di sana bisa saja menjadi penentu yang mencekik lehernya. Rasa takut itulah yang membayanginya.

Fakta bahwa pangkalan tidak dapat dipulihkan secara keseluruhan bisa dibilang merupakan hasil yang positif dalam hal itu.

Magami mengerti perasaan Nil dengan sangat jelas, lalu merasa lega sama halnya dengan gadis itu. Ada hal-hal yang memang lebih baik belum diketahui saat ini.

“Lalu, bagaimana kondisi kapalnya?”

Melihat bayangan kapal putih mulai tertangkap oleh pandangan matanya, Nil mengalihkan topik pembicaraan. Mungkin juga karena jumlah teknisi Barakaja yang berselisihan jalan kian bertambah.

Sambil melangkah, Magami menunjuk ke arah kapal baru tersebut.

“Tampilan luarnya sepertinya tidak ada masalah khusus. Kami sedang memeriksa sistem penggerak bagian dalamnya, tapi kurasa bagian itu pun bisa diatasi dengan perbaikan ringan. Masalahnya adalah...”

Usai mengutarakannya, Magami berwajah pahit.

“Mekanisme Amadeus milik kapal ini berukuran lebih besar dibanding milik Kapal Mensis. Kami memang bisa membentuknya menjadi tipe Mekanisme Amadeus Ganda, tapi untuk ukuran sebesar itu, penyesuaian daya keluarannya benar-benar dibutuhkan. Kalau tidak, bebannya akan terlalu tinggi dan tidak bisa bergerak dengan benar.”

“Karena itulah aku dipanggil ke sini, ya.”

“Begitulah.”

Usai menjelaskan kembali alasan Nil dipanggil ke sini di luar pembicaraan sampingan tadi, Magami menghentikan langkahnya di depan pintu masuk kapal. Di dalam kapal yang telah dipasangi tangga portabel, para teknisi yang membawa perkakas maupun suku cadang sibuk keluar masuk.

“Meski begitu, penyesuaian yang dilakukan di sini cukup yang paling mendasar saja. Asal kapal ini bisa terbang dan keluar ke atas Lapisan Abu. Sisa penyesuaian halus akan dilakukan bersama Nebula dan yang lainnya di Barakaja...”

Magami yang melanjutkan penjelasannya sembari menanti alur teknisi yang keluar dari dalam kapal terhenti, menyela kata-katanya saat melihat Nil memiringkan kepala dengan bingung.

Menanggapi wajah Magami yang mempertanyakan itu, Nil mengedipkan bahunya ringan.

“Lho, kamu belum dengar? Mereka bertiga harusnya ikut datang bersamaku, tahu.”

“Hah?”

Magami membalas dengan bingung, dan pikirannya seketika terhenti.

Dalam pembicaraan awal, mengingat risiko kontaminasi Lapisan Abu, seharusnya hanya Nil seorang yang datang ke sini. Jika para Anima lain sampai ikut datang, jalan ceritanya akan sangat berbeda.

Lagi pula, mana mungkin pria seperti Krus memberikan izin untuk hal itu. Sebagai kapten yang harus memprioritaskan kelanjutan misi di atas segalanya, dia takkan mungkin mengambil risiko besar.

“Mustahil. Pasti ada yang salah.”

“Tidak, kok. Coba lihat, Nebula ada di sebelah sana.”

Dengan santai seolah heran mengapa pemuda itu begitu bingung, Nil menunjuk ke satu titik di bawah sana. Magami pun mengikuti arah jarinya, lalu menemukan sosok gadis kecil berambut merah muda. Di sisinya, ada gadis berambut biru pendek yang diyakininya sebagai Nox, serta Krus yang sepertinya memimpin mereka.

“Yang benar saja.”

Magami menggumam tanpa ditujukan pada siapa pun, lalu mengucek matanya. Bukan mimpi ataupun halusinasi, sosok yang berada di sana memang para anggota Kapal Mensis yang sangat dikenalnya.

“Toh kita akan kembali ke atas dengan kapal ini. Bukannya lebih praktis kalau semua orang berkumpul di sini?”

Ujar Nil dengan nada bicara yang terkesan bergurau. Gadis itu mungkin tidak menyadari betapa seriusnya ini. Dia melangkah masuk ke dalam kapal begitu alur keluar masuk orang-orang mereda.

Melihat punggungnya, Magami bergegas bertanya dari belakang.

“Barusan kamu bilang semua orang, tapi tidak mungkin ‘kan Agatha dan Luciola juga ikut turun dan tidak tinggal di Barakaja?”

“Ngh?”

Baru saja melangkah masuk separuh badan ke dalam kapal, Nil berbalik. Dia sengaja mengalihkan pandangannya dari Magami, lalu menatap ke ujung koridor sembari menggerakkan dagunya perlahan.

“Mereka datang, kok. Sebelah sana.”

Magami mempertajam pandangannya ke arah yang ditunjuk Nil. Lalu di antara orang-orang yang berseliweran sibuk, dia menemukan sosok Luciola yang duduk di atas kursi roda, serta Agatha yang mendorongnya dari belakang.

Mereka datang ke sini dalam kondisi seperti itu? Magami terbelalak tidak percaya. Nil berucap dengan nada samar dan penuh rasa iba.

“Makanya, aku bilang semua orang.”

“Kenapa, Luciola sampai...”

Magami bermaksud meminta penjelasan situasi pada Nil.

Akan tetapi, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya ringan lalu memalingkan tubuhnya ke dalam kapal.

“Tanya saja pada Agatha. Aku mau fokus untuk menerbangkan kapal ini dulu.”

Nil yang melangkah turun ke dalam kapal temaram yang bahkan lampunya belum menyala sepenuhnya melambaikan tangan ke arah Magami dari balik punggungnya. Seolah ingin mengatakan bahwa panduan jalannya sudah cukup sampai di sini, dia menyapa “Sampai nanti” lalu dibimbing oleh para teknisi di dalam kapal menuju kursi kemudi.

Magami terpaku sendirian di tengah tangga portabel.

Repot juga kalau begini, pikirnya sembari menggaruk kepala dan membungkukkan punggung, lalu dengan enggan berbalik ke arah Agatha dan Luciola berada.

Padahal tidak ada salahnya memberi sedikit penjelasan atau berbagi situasi padanya. Magami pun melangkah menghampiri Agatha.

Di atas koridor tanpa sekat ini, menyadari satu sama lain bukanlah hal yang sulit. Begitu Magami mulai melangkah, Agatha yang menyadari kehadirannya mengangkat tangan lalu menyapanya.

“Kamu pasti lelah, Magami-kun.”

Begitu jarak mereka cukup dekat untuk menjangkau suara, Agatha berucap dengan hangat seperti biasa. Luciola yang didorong di atas kursi roda pun tersenyum padanya dengan warna wajah yang tampak jauh lebih membaik.

Magami bingung harus memasang wajah seperti apa saat mendekati mereka berdua.

“Tidak disangka kalian semua malah ikut turun bersama-sama. Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Begitu, ya. Wajar jika tanggapanmu seperti itu.”

Agatha tampaknya bisa menebak isi pikiran Magami dari wajahnya. Sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku, dia menarik sudut bibirnya dengan penuh arti.

“Tentu saja Kapten Krus menolak. Tapi aku dan anak-anak ini sangat ingin turun kemari. Karena kupikir di tempat ini, kita mungkin bisa menemukan sebuah kemungkinan kecil.”

Sambil menggunakan frasa yang khas, Agatha menaruh tangannya di bahu Luciola yang duduk di kursi roda. Dari gestur itu, Magami bisa menebak apa yang ingin disampaikannya.

“Maksudnya, mungkin ada sesuatu di sini yang bisa menyembuhkan Luciola?”

“Tepat sekali.”

Karena mendapat jawaban yang diharapkannya, Agatha merasa puas.

Tidak heran. Memang di tempat ini banyak tersisa teknologi dari 300 tahun yang lalu. Kemungkinan besar demi menghadapi masalah bernama Lapisan Abu, beberapa metode untuk melawannya pun masih tersisa di sini.

Tampaknya mereka datang kemari untuk bertaruh pada harapan yang sangat tipis itu.

Magami kembali menyelaraskan pandangan matanya pada Luciola yang duduk di kursi roda. Usai ditatap oleh Magami untuk beberapa saat, gadis itu akhirnya menyadari pandangan tersebut.

“Astaga. Kalau kamu menatapku lekat-lekat begitu, tidak akan ada apa-apa yang keluar, tahu?”

Ujar Luciola dengan nada bergurau seolah ingin menepis keseriusan, sangat mencerminkan dirinya. Magami pun tersenyum getir akan gurauan gadis itu.

“Tidak mungkin begitu. Bukannya selama ini kamu sudah beberapa kali memberiku plester luka atau permen?”

“Tentu saja karena aku sudah menyiapkannya untuk saat-saat seperti itu. Tapi sayang sekali, sekarang aku tidak punya persiapan itu.”

Sambil menopang pipi di pegangan tangan kursi roda, Luciola menengadah menatap Magami disertai helaan napas. Matanya terasa agak tidak fokus, memancarkan kesan itu.

Magami melangkah mendekat pada Luciola, lalu mendekatkan wajahnya.

“Apakah matamu tidak bisa melihat dengan jelas?”

“Begitulah. Mungkin agak sedikit memburuk. Tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa melihat, kok.”

Usai membalas demikian, Luciola menegakkan jari telunjuknya lalu menepuk dahi Magami dengan ringan. Seakan ingin menunjukkan bahwa dalam jarak sedekat ini dia bisa melihat dengan sangat jelas.

Tampaknya rasa cemas yang berlebihan tidak diperlukan. Magami menegakkan kembali tubuhnya yang membungkuk lalu melanjutkan percakapan dengan Agatha.

“Jika ada sesuatu yang bisa digunakan untuk pengobatan Luciola, kurasa itu ada di lantai atas tempat ini. Seingatku salah satu lift sudah dipulihkan, jadi kalau memakai itu harusnya bisa naik bersama kursi rodanya. Jika ada yang bisa kubantu, katakan saja padaku.”

“Terima kasih. Untuk sekarang tidak apa-apa. Prioritaskan saja mengaktifkan kapal itu. Tapi kalau terjadi sesuatu, aku akan meminta bantuanmu, ya.”

“Baiklah.”

Di antara lift-lift yang ada di dok, Agatha menemukan salah satu yang memperlihatkan tanda-tanda digunakan orang, lalu mulai mendorong kursi roda ke sana. Memperhatikan mereka berdua yang makin menjauh diiringi gemerincing roda, rasa iba dan sedih menyelimuti hati Magami.

Menyaksikan secara langsung rekan yang dikenalnya perlahan melapuk dan layu memang merupakan hal yang sungguh menyiksa. Terlebih lagi, tidak ada satu hal pun yang sanggup dilakukannya.

“Astaga... aku benar-benar tidak berdaya.”

Mampu menguasai perkakas dengan lincah dan mengendalikan mesin dengan terampil. Bahkan sebagai teknisi yang sanggup melompat ke dalam Lapisan Abu jika diperlukan, dia tetap tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap nyawa manusia. Hal itu memang wajar, namun dia merasa kenyataan tersebut kembali menyerang tepat di wajahnya.

 

* * *

 

Malam pun tiba di pangkalan bawah tanah.

Tim kerja Barakaja menjalankan tugas dalam tiga shift selama 24 jam penuh. Sambil mempertajam pendengarannya pada suara pekerjaan mereka yang terdengar dari kejauhan, Krus melangkah keluar dari ruang istirahat tempat para Anima terlelap.

Melirik peta yang menampilkan denah utuh pangkalan dari sudut matanya, dia melangkah menuju laboratorium medis yang ditemukan oleh Agatha. Di ujung koridor terlihat sebuah ruangan yang terangkul pendaran cahaya, dan Krus pun berdiri di depan pintu masuknya.

Saat mengintip ke dalam secara perlahan, dinding putih yang diterangi cahaya berpadu dengan deretan peralatan yang tersusun rapi tertangkap oleh matanya. Saat menatap peralatan yang sangat mencirikan perlengkapan medis itu, dia bahkan merasa seolah aroma obat pembasmi kuman merembes dari suatu tempat.

“Kukira siapa yang datang jam segini. Ada apa?”

Sebelum Krus sanggup menemukannya, suara Agatha sudah lebih dulu terdengar dari bagian dalam ruangan. Butuh sedikit waktu sampai dia bisa menemukan Agatha yang memajukan kepalanya dari balik meja. Di dalam laboratorium yang serba putih bersih ini, sosoknya yang mengenakan jas putih tampak menyatu bagai warna perlindungan hingga tidak mencolok.

Krus tidak menjawab apa pun dan melangkah masuk ke dalam.

“Kamu menemukan sesuatu?”

“Ya. Ada banyak.”

Tampaknya tidak berniat menjelaskannya terperinci, Agatha menunjuk tumpukan dokumen yang tersusun rapi di atas meja. Bukan hanya berkas kertas saja, beberapa mesin rakitan logam pun diletakkan bersamaan di sana.

“Media penyimpanan elektronik, ya. Apakah masih bisa digunakan?”

“Ya. Aku sudah memastikannya. Jika dihubungkan ke kapal baru, kita mungkin bisa menganalisis isinya secara terperinci. Lalu...”

Agatha tampak agak enggan, namun dia menunjuk ke arah ruangan terisolasi yang berada di bagian dalam laboratorium. Di balik dinding dengan transparansi tinggi yang memisahkannya, terdapat sebuah perangkat berbentuk telur dengan ukuran yang sanggup memuat satu orang berbaring.

Menatap perangkat tersebut, wajah Krus sedikit membayang keruh.

“Kapsul Penyesuaian Biologis?”

“Tepat sekali. Kondisi penyimpanannya jauh lebih baik dibanding yang kita temukan sebelumnya. Jika menggunakan benda itu, pengobatan Luciola mungkin bisa dilakukan.”

Krus melangkah bersama Agatha ke depan ruangan yang terisolasi tersebut.

“Bisa berfungsi?”

“Aku cuma bisa bilang mungkin. Karena aku pun belum pernah memegang barang dengan kondisi sebaik ini sebelumnya. Tapi fungsi dasarnya seharusnya bisa digunakan.”

Dengan wajah masam, Agatha mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Mungkin ragu untuk menyalakan api di dalam laboratorium medis, dia hanya mengulum rokok tersebut lalu mengembuskan napas pendek.

“Menemukan benda ini benar-benar sebuah keberuntungan. Apalagi kondisinya bagus. Tapi entah kenapa, ya. Perasaanku sama sekali tidak terasa menyenangkan.”

“Benar.”

Sambil terus menatap perangkat yang disebut Kapsul Penyesuaian Biologis itu, keduanya terbungkam. Kenangan yang terlintas di dalam kepala masing-masing kemungkinan besar sama. Bayangan kelam dan berat membayang di wajah mereka berdua.

“Sudah berapa tahun berlalu? Sejak kita menemukan barang yang sama dengan ini di bawah tanah waktu itu.”

“Itu terjadi saat aku masih menjadi asisten Profesor, jadi sudah hampir 20 tahun yang lalu.”

“Sudah selama itu, ya?”

Diselingi helaan napas, Krus menatap telapak tangannya seolah ingin memastikan dirinya yang kian menua.

Agatha meliriknya dari samping, lalu mengedipkan bahunya dengan heran.

“Waktu itu situasinya jauh lebih tragis dibanding sekarang, ‘kan? Fungsi seluruh pangkalan mati total, dan laboratorium yang dipenuhi Lapisan Abu dipenuhi oleh mayat di mana-mana. Aku tidak pernah merasa kematian begitu dekat seperti saat itu.”

“Ya. Pada akhirnya yang bisa kembali dari tempat itu cuma kita berdua. Waktu itu kita memang benar-benar sedang berdiri di atas garis batas kematian.”

“Jika kita ikut mati di sana waktu itu, mungkin jalan hidup kita akan terasa sedikit lebih mudah, ya.”

Agatha berujar dengan nada setengah bergurau, namun Krus tidak berniat membalas gurauan itu.

Di balik matanya yang kelam, wajah rekan-rekannya yang telah tewas bermunculan. Ada yang memiliki keluarga, ada pula yang sebatang kara. Ada yang berdada lapang, ada pula yang menyerupai preman. Mereka adalah rekan-rekan yang telah berulang kali melewati garis kematian bersama.

Akan tetapi, mereka semua tewas tanpa terkecuali. Hanya menyisakan Krus dan Agatha berdua.

Mengingat kembali wajah kematian mereka, dia mengepalkan tinjunya.

“Memang benar kita telah kehilangan banyak rekan. Namun justru karena menjadikan nyawa mereka sebagai pijakanlah, kita bisa ada di sini saat ini. Mimpi buruk itu sama sekali tidak sia-sia. Tidak, kita tidak boleh membiarkannya jadi sia-sia. Benar tidak?”

“Ya. Segala hal memang harus selalu ditangkap secara positif. Terutama orang sepertimu.”

Agatha yang meluapkan tawa kering mendongakkan lehernya menatap ke arah langit-langit.

“Fakta dan kemungkinan yang kita capai seorang diri setelah kehilangan begitu banyak nyawa. Sisi depan dan belakang Proyek Nil yang dirancang untuk itu. Memikirkan bahwa suatu hari nanti kita harus memberitahukannya pada anak-anak itu, dari sekarang saja hatiku sudah terasa berat.”

Sambil menaruh tangannya di pinggang, Agatha menyungkit bahunya lebar-lebar lalu meraba-raba bagian dalam sakunya. Sambil memutar-mutar korek api yang dikeluarkannya di dalam genggaman, dia menatap Krus yang membisu dengan pandangan mata yang tampak basah.

“Atau, kamu sendiri yang akan menceritakannya? Mengenai kronologi kelahiran Nil, serta wujudnya yang sesungguhnya.”

Diberikan pertanyaan demikian, Krus memalingkan wajahnya dengan enggan. Usai membiarkan pandangan matanya melayang selama beberapa detik ke arah depan, dia mengalihkan topik pembicaraan dengan tenang.

“Lalu, kapan kamu berencana memulai pengobatan Luciola?”

“Besok. Karena kita akan melangkah sembari mencoba apa saja yang bisa dilakukan oleh perangkat ini, aku tidak tahu sejauh mana pengobatan bisa dicapai sebelum kapal terbang berangkat.”

Agatha mengedikkan bahunya sembari menyalakan api pada rokoknya. Asap ungu yang mengepul dan bergoyang, lalu meleleh dan melenyap di antara mereka berdua. Menanti wanita itu mengembuskan asapnya, Krus membalikkan badannya.

“Jadi aku bisa menganggap masih ada kemungkinan untuk menyembuhkannya?

“Ya. Tentu saja. Kemungkinan itu setara bagi siapa saja.”

“Bukan itu yang kutanyakan. Kita telah mengambil risiko untuk datang kemari. Hasil yang sepadan dengan itu sangat dibutuhkan.”

“Memang benar. Tentu saja aku akan bertanggung jawab. Tapi ini cukup mengejutkan.”

Pada punggung Krus yang sudah bersiap untuk melangkah pergi, Agatha melempar senyum. Apakah pria itu menyadari sesuatu, dia bahkan tidak berniat untuk berbalik.

Kepada punggung yang mematung kaku bagaikan batu itu, Agatha mengarahkan kata-katanya bersamaan dengan embusan asap.

“Tidak peduli seberapa keras para Anima memohon, aku tidak pernah menyangka kamu akan mengizinkan mereka datang kemari. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?”

“Melindungi nyawa anggota awak kapal adalah salah satu tanggung jawab yang dipikul oleh seorang kapten.”

“Hmm...”

Alasan itu memang terdengar sangat masuk akal. Namun, pria bernama Krus yang dikenal oleh Agatha sama sekali tidak bisa dibayangkan akan bergerak hanya berdasarkan pemikiran itu. Hal yang menggerakkan dirinya bukan cuma sebatas keuntungan maupun rasionalitas belaka. Melainkan lain di luar itu, sebuah emosi yang jauh lebih manusiawi.

Agatha menjatuhkan abu rokoknya ke lantai, lalu menengadahkan pandangan matanya ke ruang hampa seolah menatap ke tempat yang jauh.

“Ngomong-ngomong, tidakkah kamu merasa kalau Luciola entah kenapa agak mirip dengan gadis itu? Baik dari rambut hitamnya, maupun dari atmosfer dirinya. Atau ini cuma perasaanku saja?”

Sambil menggoyangkan rokok di bibirnya, Agatha mengangkat alisnya. Di hadapannya, bahu Krus yang tadinya tidak bergerak sedikit pun mendadak bergeming. Perlahan-lahan, matanya dari posisi tubuh yang setengah berbalik menatap wanita itu.

Sepasang mata hitam pekat bagaikan mata mayat. Di kedalamannya, warna emosi yang membara bergejolak hebat. Terhadap sosoknya yang diselimuti hawa membunuh yang sanggup membuat siapa pun merinding ketakutan, Agatha membalasnya dengan dingin.

“Rupanya arwah gadis itu memang masih bersemayam di dalam dirimu, ya. Kalau begitu, cepat usir dia. Emosi itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak dibutuhkan di tempat tujuan kita.”

Menghadapi sikap Agatha yang tidak mundur selangkah pun, wajah Krus tampak berkerut. Setiap kali menarik napas pendek dua hingga tiga kali berturut-turut, hawa membunuh meluruh dan melenyap dari tubuhnya.

Begitu kembali pada ketenangan dirinya yang biasa, Krus merapikan kerah bajunya dengan kasar.

“Waktu kita tidak banyak. Cepatlah.”

Dengan itu sebagai salam perpisahan, Krus melangkah cepat menuju pintu keluar ruangan. Sambil memperhatikan punggung pria itu yang menjauh, Agatha melempar rokoknya yang terus memendek ke lantai.

“Akulah yang paling paham soal itu.”

Usai menginjak puntung rokok yang memercikkan bunga api, dia menggumam seolah meluapkan kekesalannya.

 

* * *

 

“Tapi tetap saja, luar biasa sekali kalian berdua benar-benar bisa kembali dalam keadaan hidup, ya.”

Ujar Nebula penuh kekaguman sembari menyerahkan kunci pas kepada Magami yang berdiri di atas tangga lipat.

Sambil menyeka keringat di dahinya, Magami yang melanjutkan pekerjaannya menanggapi, “Masa, sih?” Menatapnya, Nebula kembali menyapu pandangannya ke sekeliling dok.

“Habisnya, kalian ‘kan berada di tempat yang tidak jelas seperti ini selama seminggu penuh di dasar Lapisan Abu. Mau udara dan airnya melimpah sekalipun, tidak mungkin orang bisa tetap berpikir jernih. Apalagi kalau membayangkan cuma berdua saja dengan Nil.”

Mencapai titik itu dalam ucapannya, Nebula sengaja memeluk kedua bahunya sendiri lalu bergidik. Magami tahu betul bahwa kata-kata ketus yang terlontar saat ini justru berlandaskan rasa hormatnya kepada Nil. Karena itulah Magami hanya membalasnya dengan tawa getir.

Tiga hari telah berlalu sejak gadis-gadis itu tiba di pangkalan bawah tanah. Penyesuaian kapal terbang yang baru tampaknya berjalan sangat lancar, hingga tampilan luar dan persenjataannya telah tertata sepenuhnya. Dari Shitaharu pun dia mendengar bahwa yang tersisa kini tinggal penyesuaian sistem penggerak saja.

Magami memasang kembali sebagian pelindung luar yang sempat dilepas, lalu menepuk pelan bagian yang sudah diperbaiki.

“Sip. Kalau begini sudah beres. Selanjutnya... nomor 72 di pelindung sayap kanan.”

Saat memegang buku catatan di salah satu tangan guna memastikan perkiraan lokasinya, Nebula mengeluh dengan lesu, “Masih ada lagi?” Magami hanya membalasnya dengan senyuman sembari menjawab, “Tinggal 8 titik lagi, kok.”

“Pekerjaan montir itu benar-benar rumit dan membosankan, ya. Sama sekali tidak cocok denganku.”

“Yah, mungkin begitu. Tapi karena kamu cepat paham, aku sangat terbantu.”

Turun dari tangga lipat, Magami memberi isyarat agar Nebula menyerahkan kotak perkakas yang dipegangnya dengan tampak berat. Entah mengapa gadis itu memanyunkan bibirnya, lalu menyerahkan kotak perkakas tersebut dengan enggan.

“Dipuji begitu pun aku tidak akan senang, tahu.”

“Aku juga tidak berharap mendapatkan apa-apa, kok.”

Sambil memikul tangga lipat yang telah ditutup di atas bahunya, Magami mulai melangkah menuju lokasi berikutnya, dan kepala kecil berwarna merah muda itu mengekor di belakangnya. Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, gadis itu melangkah seolah bersembunyi di balik punggung Magami. Gerakannya entah bagaimana mengingatkan pada hewan kecil seperti kelinci atau kucing.

“Lalu, menyambung pembicaraan yang tadi...”

Begitu tiba di lokasi pemeriksaan berikutnya dan mulai mengulang gerakan yang telah dilakukannya berkali-kali, Nebula kembali membuka obrolan santai. Karena telah mengulang gerakan yang sama selama hampir 1 jam lebih, mungkin mulutnya jadi menganggur.

Magami yang memegang perkakas yang diterimanya mulai melepas pelat pelindung sembari membalas ucapannya.

“Pembicaraan yang tadi?”

“Iya. Kamu ‘kan berada di sini cuma berdua saja dengan Nil, ‘kan? Dalam situasi di mana nyawa kalian terancam pula.”

“Ya. Memang begitu, terus?”

Merasakan ada sedikit gejolak emosi di dalam nada bicara Nebula, Magami mulai mengendurkan bautnya.

“Kalau dalam situasi itu, bukannya hubungan kalian mengalami suatu kemajuan?”

“Kemajuan apa maksudmu?”

“Habisnya, kalian berdua ‘kan punya hubungan seperti itu, ‘kan? Kalian cuma berdua saja di bawah tanah yang temaram, tidak mungkin ‘kan tidak terjadi apa-apa di antara kalian?”

Mendengar sampai di situ, Magami akhirnya paham apa yang ingin disampaikan oleh Nebula.

Menghentikan tangannya yang sedang bekerja, Magami menatap ke bawah tangga lipat, lalu pandangannya bersinggungan dengan mata Nebula yang menatapnya dengan binar-binar aneh.

Pantas saja. Ternyata beginilah wujud dari pandangan seorang gadis.

Menerima tatapan yang menyilaukan itu, Magami mengembuskan napas.

“Dengar ya, waktu itu ‘kan situasi kita sedang mempertaruhkan nyawa. Lagi pula, hubungan semacam itu apa maksudmu?”

“Eeeh. Tapi kalian berdua jelas-jelas punya hubungan seperti itu. Cara Nil menatapmu itu berkilau-kilau begitu, sampai rasanya menggelikan, tahu.”

“Tidak menggelikan, kok. Maksudku, matamu sendiri yang dari tadi bersinar-sinar antusias begitu, ‘kan?”

“Bukan begitu! Kalau aku ‘kan cuma murni rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Ah, soal aku tidak penting! Yang ingin kutanyakan itu bagaimana kelanjutanmu dengan Nil setelah kejadian itu!”

Nebula membalas sembari pipinya perlahan merona merah, melontarkan kata-katanya dengan luapan emosi yang seolah hendak memperlihatkan deretan giginya saat itu juga.

“Biasa saja. Seperti biasa.”

“Jadi... maksudmu tidak terjadi apa-apa?”

“Kami berdua cuma berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang dalam keadaan hidup. Aku, dan juga Nil. Hanya itu.”

“Hmm. Aneh ya. Padahal kudengar kalau dalam situasi seperti itu biasanya setidaknya bakal ada ciuman.”

Informasi macam apa dan dari mana sebenarnya itu? Magami menyungkit bahunya dengan heran.

Tepat saat itu, dari arah belakang yang sama sekali tidak memancarkan keberadaan, sebuah suara lain terdengar.

“Asmara dan gairah.”

Gumamannya terdengar begitu mendadak hingga Magami refleks hampir menjatuhkan perkakas di tangannya. Nebula pun tampaknya mengalami hal yang sama, hingga dia menegakkan punggungnya lalu melepaskan jeritan pelan, “Hikk!”

Saat melihat ke arah datangnya suara, Nox berdiri di sana sembari memegang beberapa kabel. Baru teringat bahwa dia sempat meminta gadis itu mengambilkan perbekalan tambahan, Magami menyeka keringatnya.

“Nox, ya. Bikin kaget saja. Lalu, barusan kamu bilang apa?”

“Asmara dan gairah.”

Saat kosakata yang sangat vulgar dan jelas meluncur dari mulut Nox—seseorang yang tampaknya paling jauh dari hal-hal seperti itu—Magami seketika mematung.

“Anu, apa maksudnya itu?”

“Buku yang dibaca Nebula belakangan ini.”

Di wajah Nox yang tanpa ekspresi, ukiran senyum jahil membayang sembari dia mengangguk pada Magami. Di sisinya, Nebula dengan panik mulai memberikan klarifikasi.

“T-Tidak! Buku itu ‘kan...”

“Tiap malam dia asyik membacanya.”

“Asyik membaca apa maksudmu, cara bicaramu itu ada niat buruknya, ya!”

Sambil mengibaskan kedua tangannya dengan panik dan menerobos ke antara Nox dan Magami, telinga Nebula memerah hingga ke ujung-ujungnya. Karena Magami pun tidak berniat mencampuri kesenangan pribadi gadis itu, dia hanya menyampaikan kata-kata yang aman, “Rupanya kamu suka membaca buku, ya.”

Namun itu pun tampaknya salah, hingga Nebula mulai berteriak sembari mengayunkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Judulnya memang agak cabul, tapi isinya bukan buku seperti itu, tahu! Lagi pula itu karena Luciola bilang bukunya menarik dan menyuruhku untuk mencobanya, makanya aku baca!”

“Sudah tiga kali kamu membacanya.”

“Ehh? Kenapa kamu bisa tahu sampai sejauh itu, sih!”

Sambil berputar-putar di antara Magami dan Nox, Nebula mengacak-acak rambutnya frustrasi.

“Aaaah, sudah! Anggap saja kamu tidak pernah mendengar yang tadi!”

Melihat gadis itu menangkupkan kedua tangannya memohon-mohon, Magami yang masih terheran-heran pun mengangguk balik.

“Bukan hobi yang buruk juga. Yah, lagi pula hal-hal seperti yang ada di dalam novel sama sekali tidak terjadi di antara aku dan Nil, kok.”

Ujar Magami sembari kembali pada pekerjaannya seolah tidak berniat melanjutkan topik itu lagi, namun entah mengapa rasanya ada sedikit ganjalan yang tersisa di dalam hatinya.

Bagi Magami, Nil adalah sosok yang tidak tergantikan. Bisa dibilang, keberadaannya sudah seperti separuh dari jiwanya sendiri. Akan tetapi, dia merasa itu mungkin agak sedikit berbeda dari sekadar hubungan asmara biasa.

Saat bersamanya, ada rasa tenang dan banyak hal yang menyenangkan. Melihat senyumnya membuat tenaga kembali mengalir, dan saat dia sedih, ada dorongan untuk segera mengulurkan tangan menolongnya. Perasaan ini pasti memang sangat dekat dengan yang dinamakan asmara.

Hanya saja, ada sesuatu yang jauh berbeda. Melebihi sekadar emosi, ada sensasi seolah benang takdir dan garis kausalitas yang melampaui logika sedang mengikat mereka berdua bersama.

Gerangan apakah ini jika harus diungkapkan dengan kata-kata?

Dengan dada yang dipenuhi ganjalan itu, Magami mendorong pelat pelindung yang telah selesai dikerjakannya kembali ke posisi semula. Tepat saat sensasi dingin logam merambat di telapak tangannya dan gesekan halus antarlogam terdengar di telinganya.

Magami merasa mendengar sebuah suara yang sangat halus, mirip dengan dengungan di dalam telinga. Suara itu bergelombang rendah, sama sekali bukan bunyi gesekan logam.

Merasa pernah mendengar nada unik yang misterius itu di suatu tempat, Magami menyapu pandangannya ke sekeliling.

“Kamu mendengar suara tadi?”

“Suara? Tidak ada apa-apa, kok?”

Dengan wajah yang masih merona merah, Nebula yang sedang mengaduk-aduk kotak perkakas menjawab pertanyaan mendadak itu dengan bingung. Saat melihat ke arah Nox yang berdiri di sisinya, gadis itu pun hanya menggelengkan kepala.

“Cuma perasaanku saja, ya. Rasanya aku mendengar sesuatu.”

Tepat saat Magami memiringkan kepalanya lalu melangkah turun dari tangga lipat.

Tanpa ada tanda-tanda apa pun, guncangan dahsyat yang seolah mengentak dari dalam tanah menghantam seluruh dok. Cahaya lampu di atas kepala yang menerangi seluruh fasilitas berkedip-kedip, menghentikan pasokan listrik di beberapa titik. Koridor gantung bergoyang hebat, memicu kepulan histeria dan jeritan ketakutan dari berbagai penjuru.

“Merunduk!”

Secara refleks Magami menarik Nebula dan Nox, lalu merebahkan tubuhnya melingkupi mereka berdua. Dia bisa merasakan kapal terbang di atas kepalanya berguncang hebat diiringi derit yang berderak.

Jika pengaitnya sampai terlepas, mereka akan tertimpa saat itu juga. Sambil membayangkan skenario terburuk, Magami merasakan guncangan perlahan-lahan mereda.

“A-Apa yang terjadi?”

Menanggapi Nebula yang alisnya bergetar panik, Magami menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu. Tapi jelas bukan pertanda baik.”

Meski situasi masih belum jelas, yang terpenting saat ini adalah memastikan keselamatan. Magami membangunkan mereka berdua, lalu berlari keluar dari bawah kapal menuju area yang lebih terbuka. Di tengah perjalanan, kondisi dok pun mulai terlihat oleh matanya.

Beberapa teknisi tampak terluka akibat tertimpa rak yang roboh atau membentur peralatan. Selain dari itu, para personel saling memastikan keselamatan rekan-rekannya. Kerja sama mereka benar-benar terorganisir. Bahkan untuk situasi seperti ini pun, tampaknya sudah ada aturan mengenai bagaimana mereka harus bergerak.

“Magami!”

Tepat saat tiba di area terbuka yang tampak aman, Nil dan Krus berlari menghampiri mereka. Melihat mereka berdua baik-baik saja, Magami bernapas lega.

“Syukurlah. Kalian tidak terluka, ‘kan?”

“Ya. Daripada itu, kamu dengar suara tadi?”

“Suara?”          

Begitu mendekat, Nil langsung menanyakannya dengan serius. Menanggapi pertanyaannya, tiga orang lainnya selain Magami saling bertukar pandang penuh kebingungan.

Namun hanya Magami seorang yang mengangguk balik diiringi rasa kaget.

“Ya, aku mendengarnya. Suara itu...”

“Raungan Paus Putih. Paus Putih pasti sudah tiba di luar pangkalan.”

Pantas saja. Jawaban Nil membuat Magami mengerti sepenuhnya.

Suara itu sangat mirip dengan nada yang dikeluarkan oleh Paus Putih yang pernah didengarnya berkali-kali. Karena yang terdengar hanyalah sebagian kecil dari urutan nada kompleks yang saling bertumpuk—kemungkinan bagian suara yang daya hantarnya paling tinggi—dia jadi tidak menyadarinya seketika.

Di samping Magami yang mengangguk dengan wajah serius, ekspresi Krus berubah drastis.

“Kamu yakin?”

Krus bertanya pada Nil dengan wajah yang jauh lebih terdesak dari biasanya. Gadis itu membalas, “Tidak salah lagi.”

“Nebula, Nox. Kalian berdua segera naik ke kapal dan mulailah persiapan lepas landas. Naikkan seluruh teknisi Barakaja tanpa tersisa satu orang pun.”

“Siap.”

Menerima instruksi dari kapten, Nebula dan Nox seketika menegang. Sambil menegakkan punggung, mereka berdua berlari kencang menuju pintu masuk kapal.

Hampir bersamaan saat mereka berdua melangkah pergi, Magami dengan panik mendekati Krus.

“Kapten, penyesuaian daya keluaran kapal masih belum selesai sepenuhnya. Sangat mustahil jika harus bertarung melawan Paus Putih di langit.”

Krus sudah melangkah pergi dengan terdesak.

Namun, dia tetap mendengarkan pendapat Magami dari balik punggungnya.

“Aku tahu. Aku tidak berpikir kapal ini sanggup menang melawan Paus Putih, dan aku pun tidak berniat bertarung.”

“Jadi, kita akan meloloskan diri?”

“Tidak sesederhana itu.”

Krus mengarahkan pandangannya yang berkilat mengerikan pada Magami yang menyelaraskan langkah di sisinya.

“Ancaman saat ini adalah jika Paus Putih melancarkan pertarungan jarak dekat. Orang-orang di sini sebagian besar bukan petarung. Terlebih lagi kita berada di ruang tertutup dengan jalur melarikan diri yang minim. Ini adalah medan pembantaian yang sempurna.”

“Pertarungan jarak dekat...?”

Bagaimana bisa Paus Putih raksasa itu melancarkan pertarungan jarak dekat? Magami menggumamkan pertanyaan itu dengan penuh kebingungan.

Akan tetapi, Krus tampaknya tidak berniat menjelaskan semuanya. Dia mengarahkan wajahnya pada Nil lalu mulai berbicara.

“Nil. Maaf, tapi tidak banyak orang yang menerima pelatihan pertarungan jarak dekat di sini. Kamu harus ikut bekerja.”

“Baik.”

Tujuan langkah Krus adalah sebuah lemari loker di sudut dok. Magami sama sekali tidak pernah membayangkan apa yang tersimpan di dalamnya, namun begitu pintu lemari itu dibuka oleh tangan Krus, dia pun mengetahui isinya.

“Ini...”

“Senapan serbu. Walau ini adalah barang dari 300 tahun yang lalu.”

Di dalam lemari loker, senjata api yang tampak seperti gumpalan besi tersusun rapi. Mengambil salah satunya, Krus memeriksa bagian-bagian detailnya dengan gerakan terampil. Usai menggumamkan “Bagus” secara singkat, dia menyerahkan salah satunya pada Nil.

Seolah telah menyentuhnya berkali-kali, Nil menuntaskan penyesuaian senapan serbu itu lalu melilitkan sabuk magasin di pinggangnya. Menyaksikan penampilannya itu, jantung Magami terasa berdegup kencang secara mendadak.

Entah kenapa dia sudah memahaminya sejak awal. Bahwa dunia tempat Nil dan Magami hidup adalah dua hal yang berbeda. Namun menyaksikan perbedaan dunia itu ditegaskan kembali secara nyata di depan matanya, Magami hanya bisa mematung terpana di tempatnya.

Menyadari kondisinya, Nil menyapa pemuda itu seakan baru teringat sesuatu.

“Magami. Kamu ikutlah bersama para Anima untuk menyiapkan lepas landas kapal.”

“Ah, tapi...”

Bagi Magami yang tidak pernah tergabung dalam militer maupun pasukan pengawal, ikut serta dalam pertempuran yang sesungguhnya adalah hal yang tidak mungkin. Kendati demikian, memikirkan bahwa dia hanya bisa melepas Nil pergi ke tempat berbahaya seperti itu membuat Magami meragu.

Melihat wajahnya, Krus adalah orang yang paling cepat menyadari itu.

“Jumlah tenaga makin banyak makin baik. Magami, kamu pernah berlatih senjata api?”

“Tidak. Ah, tapi saat masih di Kota Keenam aku pernah menerima pelatihan penggunaan meriam udara dan peluncur jangkar.”

“Meriam udara, ya...”

Sambil melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, Krus mendadak memutar tangannya ke pinggang. Dari sarung senjata yang tersembunyi di balik mantel panjangnya, dia menarik keluar sebuah pistol.

“Kalau begitu, senjata sebesar ini harusnya bisa kamu gunakan.”

Krus memutar badan pistol dengan sebelah tangannya, lalu menyodorkan bagian gagangnya pada Magami.

“Ini pistol yang kutemukan di reruntuhan masa lalu 20 tahun yang lalu. Sudah dirawat dengan baik.”

Sambil kebingungan, Magami menggenggam pistol tersebut. Bobot yang terasa di tangannya tidak jauh berbeda dengan perkakas kerja. Namun entah karena perbedaan tujuan keberadaannya, dia merasa bobotnya terasa begitu mantap dan berat.

Pistol revolver yang digenggamnya memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari yang diketahuinya. Meskipun merupakan sebuah senjata api, bentuk luarnya bagi Magami terasa begitu familier, mirip dengan sebuah martil.

Menatap pistol aneh itu lekat-lekat, Krus merapatkan bahunya ke arah Magami.

“Mateba.”

“Eh?”

“Nama pistol ini.”

Krus menyunggingkan senyum kekanak-kanakan.

“Akurasi benda ini jauh lebih baik daripada pistol lain. Tapi karena menggunakan peluru berkaliber besar, entakannya lebih besar dibanding meriam udara. Ukurannya memang kecil, tapi anggap saja benturannya setara dengan peluncur jangkar.”

“Sekuat itu?”

“Ya. Saat menembakkan benda ini...”

Krus menjelaskan cara penanganan dan penembakan senjata itu kepada Magami secara singkat dan padat. Itu mungkin merupakan pelatihan paling minimum yang bisa diberikan. Usai mengakhirinya, Krus menepuk punggung Magami seolah meminta maaf.

“Paling buruk, tidak masalah walau meleset asal tidak kena rekan sendiri. Intinya fokuslah untuk mendukung Nil penuh. Paham?”

“Baik, aku mengerti.”

Nil yang membisu mengamati pelatihan dari Krus memamerkan wajah bangga mendengar kata-katanya. Dia mengangkat dagunya lalu memberikan isyarat mata pada Magami.

“Kurasa giliranmu tidak akan pernah tiba, kok. Tenang saja.”

Magami agak tidak puas dengan sikap dan nada bicaranya, namun tidak ada kalimat yang sanggup dibalasnya. Malah seperti kata gadis itu, makin tidak ada giliran baginya untuk bertindak justru makin baik.

Sambil menyelipkan pistol yang diterimanya ke dalam sabuk pinggang, Magami melemparkan senyum kaku pada Nil.

“Aku benar-benar berharap akan seperti itu.”

“Ya. Tidak apa-apa. Kali ini giliran aku yang akan melindungimu.”

Pandangan Nil yang tajam bagaikan bilah pisau perlahan melunak. Tepat saat wajahnya kembali mengencang dipenuhi ketegangan, derap langkah kaki tergesa-gesa dan kumpulan suara bergaung di seluruh dok bertepatan dengan perubahan ekspresinya.

“Seluruh personel bersiap mundur!”

Suara itu milik Shitaharu.

Saat Magami dan yang lainnya berbalik, Shitaharu yang berlari ke dalam dok tampak memapah salah satu rekannya di bahu. Para bawahan yang menyusul di belakangnya pun keluar sembari membopong korban luka.

Akan tetapi ada sesuatu yang aneh. Para korban luka yang dibopong itu tampak menderita luka sayat yang tidak bisa dibayangkan akibat tertimpa barang jatuh atau cedera karena tersandung.

Menyadari adanya kejanggalan dari kondisi mereka, Krus mendekati Shitaharu yang sedang melemparkan komando.

“Shitaharu!”

“Krus! Syukurlah, kamu selamat!”

Shitaharu sendiri tampak mengalami luka-luka, namun melihat Magami dan yang lainnya baik-baik saja, rasa lega memancar tulus dari dirinya. Di saat yang sama dia mulai memberikan penjelasan secara cepat kepada Krus.

“Penyusup asing masuk dari luar pangkalan. Kami sudah menurunkan sekat kedap udara untuk menahan mereka, tapi menembusnya cuma masalah waktu. Sebelum itu terjadi, percepat persiapan evakuasi!”

“Bagaimana ciri-ciri penyusup itu?”

“Entah bagaimana aku harus menyebutnya. Mereka seperti laba-laba logam. Apa kamu tahu sesuatu?”

Krus menghela napas lalu memutar tangannya ke arah senapan yang tergantung di bahunya.

“Tidak salah lagi, itu ‘Pasukan Pelopor’ yang diangkut Paus Putih. Pembersih yang dikendalikan dari jarak jauh sama seperti Paus Hitam. Berapa jumlah mereka?”

“Kira-kira ada 20. Dari dalam koridor terasa kehadiran yang lebih banyak lagi.”

“Mereka benar-benar datang untuk berburu. Dengan jumlah segitu kita tidak punya peluang menang. Lebih aman untuk segera mundur. Begitu orang-orang di sini selesai naik, langsung berangkatkan kapal.”

Melihat gelombang teknisi yang mulai menunggangi kapal terbang untuk evakuasi akibat seruan Shitaharu, Shitaharu menggelengkan kepalanya menatap Krus dari samping.

“Tidak bisa. Di atas masih ada beberapa orang dari kelompok kami yang tertinggal. Kami tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.”

“Demi menyelamatkan beberapa orang itu, kamu mau mempertaruhkan semua orang di sini dalam bahaya? Sesekali berpikirlah untuk membuang sebagian. Itu adalah tugas seorang pemimpin.”

Krus memberikan perintah kepada Shitaharu dengan tegas.

Perkataannya ada benarnya. Itu adalah pernyataan realistis yang sangat mencirikan Krus yang telah menatap kegelapan dunia.

Akan tetapi, Shitaharu membalas dengan sikap menolak sepenuhnya.

“Itu ‘kan prinsip kalian! Kami ini bukan militer apalagi prajurit. Rekan-rekan yang menaiki Barakaja itu sudah seperti keluarga sendiri. Kami tidak akan pernah meninggalkan mereka!”

Pada wajah Shitaharu, tekad yang tidak pernah terlihat sebelumnya membayang jelas. Sama halnya seperti Krus yang berjuang mati-matian melindungi rekan-rekannya di Kapal Mensis, dia pun akan terus melindungi rekan-rekannya di Barakaja hingga akhir. Mungkin itulah harga diri yang dipikulnya sebagai pemimpin kelompok nomor satu di Barakaja.

Di hadapan tekad bulat yang dipancarkan Shitaharu, wajah Krus berkerut seolah baru menelan obat pahit.

“Ada peta bagian dalam pangkalan? Dari mana mereka masuk, sekat mana yang ditutup, jumlah dan ciri-ciri teknisi yang tertinggal, bagikan semuanya!”

Mendengar kata-kata Krus, wajah Shitaharu melunak lalu menyuarakan “Terima kasih”. Dia mengeluarkan peta dari kantong di pinggangnya lalu membentangkannya di lantai.

“Tempat mereka masuk adalah di sini. Sisi utara koridor luar pangkalan. Sekat yang diturunkan ada enam bagian, dan...”

Ujung jari Shitaharu yang ternoda minyak menunjuk di atas peta lalu menggesernya. Memperhatikan ujung jari itu, Magami secara refleks menatap wajah Nil. Gadis itu pun tampaknya memikirkan hal yang sama.

“Nil. Luciola dan Agatha di mana?”

“Aku tidak melihatnya. Kamu sendiri?”

“Aku pun terakhir melihat mereka tadi pagi di atas.”

“Gawat.”

Sambil mengacak-acak rambutnya, Magami bertekuk lutut di samping peta yang dibentangkan Shitaharu. Mengedarkan pandangan matanya di atas peta yang terisi tulisan-tulisan detail, Magami menunjuk ke satu titik.

“Laboratorium medis tempat Agatha dan Luciola berada ada di sepanjang koridor luar. Dari cerita tadi, lokasinya berada di balik jalan memutar sekat itu.”

Ujung jari yang menekan ruangan bertuliskan Laboratorium Medis itu bergetar. Magami menoleh pada Krus seolah memohon.

Krus memuntahkan sumpah serapah diselingi decitan lidah. Menekan jarinya ke dahi, usai memikirkan selama beberapa detik dia menunjuk Nil.

“Luciola dan Agatha kuserahkan padamu. Pergilah bersama Magami untuk menjemput mereka. Di sini aku sendiri yang akan mengatasinya.”

“Baik.”

Sama sekali tidak ada ragu maupun bingung. Nil mengangguk balik, lalu menepuk punggung Magami.

“Magami. Ayo pergi. Kita tidak punya waktu.”

“Ya.”

Tepat saat Magami bangkit berdiri untuk mengejar Nil yang telah berlari lebih dulu, suara Krus memanggilnya dari belakang.

“Magami. Jangan nekat. Jika saatnya tiba, kamu yang harus menimbang mana yang harus kamu pilih. Mengerti?”

Pandangan Krus yang tidak bergeming merajam lurus ke arah Magami. Pemuda itu merasa entah bagaimana sanggup memahami maksud di balik kata-katanya.

Dalam situasi saat ini, apa yang harus dijadikan prioritas utama? Jika dalam skenario terburuk Agatha atau Luciola ternyata tidak sanggup diselamatkan, di mana garis keputusan akhir harus diambil? Sosok yang harus menilai dan menentukan hal itu bukanlah Nil. Melainkan Magami.

Begitulah hal yang diutarakan Krus.

“Kurasa aku mengerti.”

Usai membalas pahit kata-kata Krus, Magami bergegas berlari mengejar sosok punggung Nil yang kian mengecil di kejauhan.

Lantai atas pangkalan bawah tanah. Area tempat berkumpulnya fasilitas-fasilitas pendukung kehidupan seperti laboratorium penelitian, ruang kendali, dan berbagai sarana penting lainnya kini telah berubah drastis akibat serangan Paus Putih.

Akibat guncangan yang mengentak seluruh fasilitas, blok-blok yang terputus dari pasokan listrik hanya diterangi oleh lampu darurat yang redup, menyisakan temaram yang muram. Entah usaha yang sempat dilakukan Shitaharu dan yang lainnya, beberapa sekat di berbagai tempat tampak tertutup secara menggantung.

Di seluruh penjuru, hawa mengerikan yang mencekam merebak tebal.

“Bidang pandang sangat buruk. Mari melangkah dengan waspada.”

Nil yang melangkah turun dari lift menyapu pandangannya ke koridor, lalu keluar menuju aula terlebih dahulu. Pada Magami yang menyusul di belakangnya, Nil menunjukkan gestur menempelkan jari telunjuknya di bibir.

“Aku yang akan memimpin di depan. Ikuti aku sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara.”

Sesuai dengan perkataannya, Nil mulai memandu Magami melangkah menuju laboratorium medis. Terkadang, bunyi dentang tumpul yang berbeda dari derap langkah kaki mereka berdua bergaung dari tempat yang cukup jauh, namun tidak salah lagi berada di lantai yang sama.

Membayangkan benda apa sebenarnya pembuat suara itu, rasa tegang membangkitkan keringat dingin di dahi Magami.

“Belok kanan di persimpangan itu. Lalu belok kiri di ujung jalan berikutnya, di sanalah laboratorium medis.”

Saat Magami berbisik pada punggung Nil yang melangkah merapat ke dinding koridor, gadis itu mengangguk sembari tetap mengacungkan senapan serbunya. Bertekuk lutut di sudut persimpangan jalan, Nil mencondongkan wajahnya perlahan-lahan untuk memastikan situasi.

Setelah menatap ke seberang lorong selama beberapa detik, dia memalingkan wajahnya pada Magami di belakangnya lalu menggelengkan kepala.

“Suara itu terdengar dari arah laboratorium medis. Mereka sudah tiba di sana.”

“Bagaimana ini? Kita tumbangkan saja?”

“Tidak. Mengamuk adalah pilihan paling terakhir. Lagi pula kita tidak tahu berapa jumlah lawan, kalau musuh di sekeliling berkumpul kita bisa dikepung dan dihabisi sekaligus. Sebisa mungkin aku ingin menghindari pertempuran.”

Meskipun mulutnya berkata demikian, Nil memeriksa magasin senapan yang dipegangnya lalu melepas pengunci aman. Suatu sikap yang bisa disebut sebagai posisi siap tempur. Hawa haus perang tampak merebak samar di matanya.

Mendengar Nil, Magami menaruh tangannya di dagu.

“Akses jalan menuju laboratorium medis pada dasarnya cuma lewat koridor ini... ya?”

Sambil menggumam seperti bicara seorang diri, Magami menatap langit-langit. Ubin langit-langit terpasang rapi tanpa celah. Sambil menatap lembar demi lembar ubin itu, sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.

“Sistem sirkulasi udara. Untuk mengelola fasilitas dan ruangan seluas ini, pasti ada saluran ventilasi dengan ukuran yang cukup untuk dilalui manusia.”

Menunjuk ke arah lubang saluran ventilasi berpenutup kisi-kisi di bagian langit-langit, Magami mengacungkan jarinya seolah menemukan ide cemerlang. Namun emosi itu tampaknya tidak tersampaikan dengan baik pada Nil.

Gadis itu memiringkan kepalanya penuh curiga.

“Saluran ventilasi?”

“Ya, di langit-langit atau di bawah kaki biasanya ada ruang untuk mensirkulasikan udara. Kalau kita menyusuri itu, kita bisa masuk ke laboratorium medis tanpa harus lewat koridor.”

“...”

Nil membisu, menatap Magami lekat-lekat untuk beberapa saat. Lalu dia mengangguk pelan.

“Ayo kita coba. Walau sebenarnya aku agak ingin sedikit bertarung, tapi akan kusimpan untuk pilihan paling terakhir saja.”

“Mendengar dorongan perangmu itu surut, jujur aku benar-benar lega.”

Hawa haus perang yang sempat keluar dari Nil rupanya memang bukan sekadar halusinasinya. Magami bersyukur di dalam hati karena ide ini terlintas di kepalanya.

Memanfaatkan troli pengangkut di dekat mereka dengan cekatan, Magami mendorong dan membuka penutup kisi-kisi di langit-langit. Saat mencondongkan kepalanya ke dalam, benar saja tersisa ruang yang cukup untuk merayap satu orang manusia.

“Kita bisa masuk.”

“Baiklah. Aku yang masuk duluan.”

Usai membantu Nil yang memanjat ke atas troli yang sama lalu menuntunnya masuk ke saluran ventilasi, Magami pun ikut merayap masuk ke dalamnya.

Bukan sekadar temaram, di dalam sana gelap gulita. Melewati pendaran yang sesekali menerobos dari lubang isap dan pembuangan udara di sepanjang saluran yang sempit itu, keduanya merayap maju dengan penuh kewaspadaan.

Di tengah perjalanan. Tepat di lubang pembuangan udara persis di depan laboratorium medis, Magami melihat kondisi koridor dan refleks menahan napasnya. Kata-kata “Benda apa itu” yang sempat naik ke tenggorokannya ditelannya kembali pada saat-saat terakhir.

Di bawah cahaya yang berkedip-kedip, bayangan dari tumpukan benda yang menggeliat merayap terlihat oleh matanya. Butuh waktu untuk memahami bentuk dari benda-benda tersebut. Karena meskipun wujudnya sangat berbeda dari bentuk manusia, entah bagaimana mereka memancarkan atmosfer yang menyerupai wujud manusia.

Ukuran mereka setara dengan manusia biasa. Hanya saja, meskipun memiliki delapan kaki yang kurus namun tangguh menyerupai laba-laba, bagian batangnya memiliki tubuh bagian atas dan dua buah lengan menyerupai manusia. Di bagian tempat kepala seharusnya berada, tiga buah antena atau sesuatu yang menyerupai tentakel menggeliatkan diri seolah mengamati sekeliling.

Seluruh tubuhnya tampaknya tersusun dari logam-logam kecil menyerupai sisik ular, hingga dari kejauhan terlihat bagaikan logam perak yang bergelombang.

Sungguh seperti monster.

Apakah ini sosok dari apa yang disebut sebagai Pasukan Pelopor Paus Putih? Magami kehilangan kata-kata.

Saat dia mematung menatap pemandangan di koridor, ujung sepatu Nil yang merayap di depan bergoyang-goyang masuk ke dalam pandangannya. Saat mengangkat wajahnya, gadis itu sedang menatapnya dengan serius.

Mata gadis itu berbicara menuntutnya untuk cepat menyusul. Magami menganggukkan kepalanya dua kali secara pelan.

Beberapa meter dari sana. Melintasi dinding, saluran ventilasi terhubung ke dalam laboratorium medis persis seperti perkiraan Magami. Usai melepas penutupnya dan melompat turun dengan terampil, Nil pasang kuda-kuda sembari mengacungkan senapan serbunya untuk memastikan keamanan sekeliling.

“Aman. Magami, turunlah.”

Tidak selincah Nil, Magami yang melompat turun ke laboratorium medis dengan gerakan ringan segera menyadari ada yang janggal.

“Tempat ini diacak-acak. Apa mereka sempat masuk kemari?”

“Mungkin saja. Kalau begitu, di mana Luciola dan yang lainnya?”

Usai memastikan bahwa pintu keluar tertutup oleh tumpukan rak dan meja, Magami memandang ke sekeliling ruangan. Sama halnya dengan tempat lain, aliran listrik di ruangan ini pun mati total hingga nyaris tidak ada cahaya selain dari lampu darurat.

Di tengah ruangan itu, Nil merundukkan tubuhnya secara perlahan ke lantai.

“...Darah.”

Gadis itu berucap sembari menelusuri bekas tetesan darah di lantai dengan jarinya. Darah itu masih belum membeku. Tetesan darah berlanjut melintasi kaki Magami dan Nil dari arah pintu masuk ruangan, membentang menuju dinding di sisi seberang.

“Ke sana. Ayo.”

Ujar Magami, dan Nil pun mengangguk lalu bangkit berdiri. Meski dia tentu sama sekali tidak menyadarinya, alisnya yang tertata indah berkerut cemas.

Bercak darah di lantai membentang menyusuri celah-celah meja, lalu terputus di depan pintu. Tepat saat bayangan sesuatu terlihat di bawah pintu putih itu, Nil sudah berlari lebih dulu sebelum Magami sempat bereaksi.

“Agatha! Kamu masih hidup?”

Mendengar suara Nil, Agatha yang meringkuk bersandar pada pintu mengangkat wajahnya yang terasa berat. Meski di dalam temaram, sangat mudah untuk segera menyadari bahwa warna wajahnya tidak normal.

“Ah... Nil? Kamu membawa barang berbahaya lagi, ya. Krus yang menyuruhmu membawa itu?”

“Kamu terluka? Di mana? Apa yang harus kubuat?”

“Tidak apa-apa. Pendarahannya sudah kuhentikan. Aku tidak akan mati untuk sementara waktu.”

Ujar Agatha sembari menarik bibirnya yang pucat pasi dan mengembuskan napas lemah.

Jas putihnya ternoda merah di bagian perut. Pinggang samping yang ditutupi oleh tangannya tampak mengalirkan darah yang banyak.

Akan tetapi, dia pun seorang dokter. Melihat kotak peralatan medis di sisinya dalam keadaan terbuka, tindakan pertolongan pertama memang telah dilakukannya.

Menggantikan Nil yang panik, Magami merunduk di samping Agatha.

“Apa kamu bisa berjalan? Saat ini di dok persiapan evakuasi sedang dilakukan. Pengobatan untuk luka pun harus dilakukan dengan benar. Jika sulit berjalan, aku akan menggendongmu.”

“Tidak. Tidak bisa, Magami-kun. Aku tidak bisa bergerak dari sini.”

Terhadap Agatha yang menggelengkan kepalanya, Nil membungkukkan tubuhnya mendekati wanita itu lalu bertanya.

“Apa lukamu sangat parah?”

Menatap mata Nil yang cemas bagaikan seorang anak kecil, Agatha tertawa lemah.

“Bukan begitu. Di balik pintu ini, pengobatan Luciola sedang berlangsung. Kami sudah tiba di tahap di mana perkembangan gejalanya tampaknya bisa dihentikan. Aku tidak bisa meninggalkannya.”

Jadi begitu rupanya.

Magami menyapu pandangannya ke sekeliling dan mengerti sepenuhnya.

Agatha sengaja duduk di tempat ini demi melindungi Luciola yang tidak sanggup bergerak. Bisa saja dia tadi mengusir Pasukan Pelopor Paus Putih yang sempat menerobos masuk ke dalam ruangan ini sekali.

Kekacauan ruangan, metode penguncian pintu, serta luka-luka pada tubuh Agatha. Menghubungkan hal-hal tersebut, gambaran besarnya menjadi terlihat jelas.

Wanita yang luar biasa.

Magami merasa sekali lagi menyaksikan secara langsung tekad yang dimiliki oleh wanita bernama Agatha.

Namun, imbalan untuk itu sangat besar.

Mengembalikan pandangannya pada Agatha yang pucat pasi, Magami menepuk bahu wanita itu.

“Situasinya sudah terdesak. Pertama-tama mari bawa Agatha sendiri ke dok.”

Terhadap usulan Magami, Agatha menggelengkan kepalanya.

“Pasti sangat sulit. Di balik pintu itu ada banyak sekali Pasukan Pelopor Paus Putih yang berkeliaran. Sayangnya dengan tubuhku yang seperti ini, aku tidak akan sanggup melewati saluran ventilasi tempat kalian datang tadi. Kalau begitu, satu-satunya pintu keluar hanyalah pintu di depan ini. Tapi begitu pintu ini dibuka sekali saja, pintu ini tidak akan bisa ditutup untuk kedua kalinya. Jika itu terjadi, sama saja kita membiarkan Luciola mati.”

“Kalau begitu, aku akan mengangkut Luciola sekalian ke luar.”

“Hanya dengan kalian berdua? Itu nekat sekali.”

Di balik kelopak matanya yang mulai terkulai, tatapan Agatha yang seolah menegur terarah pada Magami. Pandangan itu bukan bermaksud meremehkan usulan Magami, bukan pula mempertanyakan apakah pemuda itu sudah memahami situasi sepenuhnya atau belum.

Dengan tersirat wanita itu sedang menyuruhnya. Mengutamakan Luciola, dan meninggalkannya di sini.

Akan tetapi, Magami sama sekali tidak berniat melakukan itu.

“Kalau cuma menggendong dua orang sambil berlari, aku masih sanggup melakukannya. Aku tidak bekerja sebagai teknisi perbaikan dinding luar hanya untuk pamer semata.”

“Tangguh sekali, ya. Tapi nekat tetaplah nekat.”

Agatha menyunggingkan senyum getir lalu melirik jarum jam tangannya.

“Sebenarnya aku ingin menahannya sedikit lebih lama lagi, tapi tampaknya ini adalah batas waktunya. Magami-kun, Luciola ada di dalam ruangan ini. Karena diberikan obat penenang untuk pengobatan, dia sedang tidak sadarkan diri. Jadi, maaf ya, bisakah kamu menggendongnya?”

Melihat kehangatan di mata Agatha, Magami mengatupkan giginya kuat-kuat.

Bagaimanapun juga, wanita ini berniat memprioritaskan Luciola. Dan dia telah membuang jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Wanita bernama Agatha di hadapan kenyataan ini terasa begitu tenang dan rasional. Terlalu sedikit usulan yang bisa dipilih Magami untuk bisa menggoyahkan sikapnya yang mencerminkan seorang peneliti. Di samping Magami yang berusaha keras memikirkan kemungkinan lain, Nil merapat mendekati Agatha.

“Aku akan membawa Agatha sekalian. Aku yang akan menggendongmu, jadi berjuanglah sedikit.”

“Tidak mungkin. Lagi pula, kamu punya tugas untuk melindungi Magami-kun. Kalau ada aku, kalian tidak akan bisa melarikan diri dari Pasukan Pelopor.”

“Ini bukan soal bisa atau tidak bisa. Aku...”

Baru kali ini Magami melihat Nil begitu panik dan merajuk seperti ini. Gadis itu menggelengkan kepalanya, berusaha keras menolak usulan Agatha. Kendati demikian, tekad Agatha sama sekali tidak goyah.

Dia menempelkan jari telunjuknya dengan lembut di bibir Nil, lalu melempar senyum tenang padanya.

“Nil. Dengarkan baik-baik. Setiap orang itu punya tugas masing-masing. Dan begitu tugas itu selesai, saatnya untuk turun dari panggung akan tiba. Cepat atau lambat, semua orang pun sama. Hari ini, orang yang turun dari panggung itu adalah aku. Hanya itu.”

“Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak mau kalau kamu pergi!”

“Benar juga. Tapi, ini sesuatu yang tidak bisa dihindari.”

Meraih leher Nil dengan tangannya yang ternoda merah, Agatha memeluk kepala gadis itu. Dia tidak berniat melanjutkan perdebatan lebih jauh. Hanya demi memastikan keberadaan sosok yang disayangkan untuk dilepas, Agatha mengelus rambut perak Nil.

“Magami-kun. Keluarkan Luciola.”

“...Baik.”                                       

Seluruh tubuhnya terasa berat bagaikan timah, dan sendi-sendinya berderit bagaikan engsel yang berkarat. Kendati demikian, Magami memaksakan dirinya bangkit berdiri lalu menaruh tangannya di pintu yang disandari Agatha.

Tangannya menyentuh kenop logam. Tepat saat sensasi dingin khas logam merambat di ujung jarinya, Magami menghentikan tangannya yang hendak memutar kenop tersebut.

“Tunggu dulu. Aku merasa ada sesuatu yang terlewatkan.”

Tanpa ditujukan pada siapa pun, Magami menggumam pelan.

Seketika itu juga, kebisingan serasa menjauh dari telinganya. Kejanggalan berupa potongan-potongan memori yang tersisa di dalam kepalanya serasa berputar, berpusat menuju satu buah kemungkinan.

“Kapten Krus bilang kalau Pasukan Pelopor Paus Putih itu sama dengan Paus Hitam, dikendalikan dari jarak jauh. Tapi, apa hal seperti itu benar-benar mungkin dilakukan di bawah tanah seperti ini?”

Sambil terus menggenggam kenop pintu, Magami mengerutkan alisnya hingga membuat Agatha menengadah menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Tidak, Paus Putih memang dilengkapi banyak sekali teknologi yang tidak dikenal. Tapi, setinggi apa pun teknologinya, kurasa sangat sulit untuk memancarkan gelombang radio pengendali jarak jauh hingga tembus ke dalam tanah seperti ini.”

Magami menggali ingatan masa lalu di kepalanya, lalu berucap dengan nada cepat.

“Dulu, aku pernah beberapa kali menggunakan peralatan yang memanfaatkan gelombang radio. Tapi semuanya menjadi kurang berfungsi jika terhalang oleh gumpalan logam atau batuan. Tempat ini adalah bawah tanah di gurun yang terbentuk dari butiran logam. Mustahil gelombang radio dari permukaan tanah bisa menjangkau tempat ini.”

Di tengah situasi yang harus berlomba dengan waktu ini, sebenarnya apa yang sedang dikatakannya? Wajah Agatha yang menatapnya memancarkan emosi itu.

Namun Magami tetap melanjutkan.

“Jika memang begitu, kemungkinan yang terpikirkan ada dua. Mereka telah menjatuhkan sesuatu yang menjadi pemancar perantara ke dalam tanah, atau tubuh utama Paus Putih berada sangat dekat dengan pangkalan ini. Mana pun yang terjadi, asal kita menghancurkan pusat komando yang memberi perintah pada Pasukan Pelopor itu, mereka akan berhenti. Jika kita melakukan itu, baik Agatha maupun Luciola, keduanya akan selamat.’

“Jangan. Di dalam pangkalan ini ada puluhan, kalau situasi buruk mungkin ada ratusan Pasukan Pelopor yang dijatuhkan. Kalian berdua tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

“Tidak, kami tidak akan menumbangkan semuanya. Asalkan tahu lokasi pusat komandonya, kita bisa mendekatinya lewat saluran ventilasi. Sisanya, tinggal menghancurkannya dalam serangan kilat.”

Magami sudah tidak berniat lagi mendengarkan bujukan Agatha.

Dia menyergap denah dalam fasilitas yang tergantung di dinding, lalu membentangkannya di atas meja terdekat. Mengempaskan ujung pensil yang dikeluarkannya dari saku ke atas peta, dia menambahkan tanda di lokasi yang sama dengan peta yang diperlihatkan oleh Shitaharu.

“Sekat yang tertutup ada 6 titik. Dari cerita Shitaharu, pendobrakan terjadi dari koridor luar pangkalan, jadi kemungkinan titik masuk Pasukan Pelopor ada di sekitar sini?”

Diiringi gumaman bicara seorang diri yang dilontarkan Magami, ujung pensil yang melaju mengukir lingkaran di satu titik.

Akan tetapi, ujung pensil itu berhenti dan tidak menambahkan coretan lanjutan.

Mata Magami bergerak melintas ke kanan dan ke kiri di atas peta pangkalan.

Lalu, dia bergumam pelan.

“Kenapa, dari tempat seperti ini?”

“Ada yang mengganjal?”

Tanpa disadari telah berdiri di sisinya, Nil menyibak rambutnya ke belakang telinga lalu ikut mengintip denah. Meski sudut matanya merona merah tipis, tidak ada keputusasaan di wajahnya.

Merasa lega, Magami melarikan pensilnya ke beberapa titik.

“Pintu keluar masuk pangkalan ini totalnya ada 8 titik. Semuanya punya ruang dan jumlah yang sangat cukup untuk dimasuki Pasukan Pelopor. Tapi, dari tempat yang jauh dari mana pun, serta tempat yang sama sekali tidak punya pintu keluar masuk itulah mereka masuk. Dengan kata lain...”

Magami menghentikan kata-katanya lalu bertukar pandang dengan Nil.

“Mungkinkah Paus Putih sedang menggigit tempat ini?”

Sambil mengutarakannya dari mulutnya sendiri, Magami membayangkan wujud Paus Putih yang mengerikan yang pernah dilihatnya di atas langit dulu.

Meskipun menyerupai mesin, kapal terbang aneh itu sanggup mengubah wujudnya sesuka hati bagaikan makhluk hidup. Mereka dilengkapi dengan pelontar berbentuk mulut layaknya makhluk hidup. Jika dengan benda itu mereka sanggup menggigit pangkalan bawah tanah ini, mereka pasti bisa menyusupkan Pasukan Pelopor dari bagian yang rusak tersebut.

Tidak hanya itu. Ruang dan jangkauan gelombang radio yang dibutuhkan untuk pengendalian jarak jauh pun bisa diamankan secara bersamaan. Bisa dibilang sangat masuk akal.

Namun, hal itu sulit dipercayai secara mendadak. Mungkinkah fasilitas berskala besar yang ada di bawah tanah bisa dijangkau dari permukaan tanah? Pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Nil yang berdiri di sisinya.

“Meskipun kamu bilang menggigit, apakah hal itu benar-benar bisa dilakukan?”

“Kenyataannya Kapal Mensis pun pernah hampir ditangkap, ‘kan? Terlebih lagi guncangan yang menghantam seluruh pangkalan tadi, kalau disebabkan oleh cengkeraman Paus Putih, bukannya semuanya jadi masuk akal? Kalaupun Paus Putih tidak ada di sana, pasti ada semacam mesin pemancar di tempat ini.”

Magami mengutarakannya dengan nada bicara penuh keseriusan, lalu menaruh jarinya di atas peta. Nil melirik ujung jari pemuda itu sekali lalu menelan ludahnya.

Sinar cahaya menerobos masuk ke dalam situasi yang tadinya diperkirakan harus dipasrahkan begitu saja. Meskipun itu adalah cahaya yang sangat kecil, bagi Nil saat ini hal itu merupakan sebuah harapan yang sangat besar. Hal yang sama berlaku pula bagi Magami.

Secara alami tenaga kembali di mata Nil. Cahaya menyala di sepasang mata merah delimanya, dialiri oleh dorongan semangat yang kuat. Magami mengangguk kuat seolah menjawab perasaan gadis itu.

“Ayo pergi. Ke tempat ini.”

“Ya!”

Di wajah Nil, sama sekali tidak tersisa keraguan seperti sebelumnya. Tepat saat keduanya membalikkan badan dan hendak melangkah menuju saluran ventilasi secara bersamaan.

Sebuah suara tajam menghantam punggung mereka berdua.

“Tunggu!”

Suara Agatha. Menerima suara yang belum pernah terdengar sebelumnya itu, keduanya secara refleks menghentikan langkah lalu berbalik.

Di ujung pandangan mereka, Agatha telah berdiri. Menyandarkan punggungnya ke dinding, dia memaksakan dirinya. Wajahnya yang pucat pasi memancarkan ketegasan.

“Tidak boleh. Aku tidak akan membiarkan kalian pergi.”

“Agatha...”

“Pergi ke tempat Paus Putih berada, lalu apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian berniat memohon pada Spesies Kuno agar menarik kembali Pasukan Pelopor mereka?”

Sambil terengah-engah, Agatha bertanya sangat tepat sasaran. Magami pun belum memikirkan sejauh itu, hingga dia terbungkam tidak sanggup menjawab.

Melihatnya, Agatha mengerutkan pangkal alisnya.

“Untuk menghentikan invasi mereka, tidak ada cara lain selain menghentikan napas sang pengemudi. Itu berarti membunuh dengan tangan kalian sendiri mereka yang memiliki nyawa yang tidak berbeda dari kita walau telah berubah wujud menjadi bentuk aneh. Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu.”

Dengan wajah yang belum pernah diperlihatkan pada Magami dan yang lainnya, Agatha mengutarakannya dengan suara yang berat dan rendah.

“Kami melakukannya demi melindungi Agatha dan Luciola...”

Nil maju satu langkah mencoba menyanggah. Akan tetapi, Magami menghentikannya di tengah-tengah kalimat. Terhadap Nil yang bingung mengarahkan matanya, Magami menggelengkan kepalanya dalam diam.

Bukan itu maksudnya.

Maksud dari apa yang ingin disampaikan oleh Agatha.

Spesies Kuno adalah keberadaan yang menjadi fondasi Proyek Nil. Tidak peduli apakah identitas asli mereka adalah manusia yang terdistorsi ataupun makhluk asing yang disebut Zeno, kenyataan itu takkan pernah berubah.

Dengan kata lain, Spesies Kuno adalah kerabat dekat yang setara dengan Nil, dan bagi Magami pun bisa dibilang merupakan keberadaan yang dekat.

Lantas, apakah artinya jika mereka sampai membunuh mereka?

Membunuh sesama kerabat, membunuh sesama spesies.

Meskipun saat ini tidak ada kelonggaran untuk memikirkan itu, apakah kelak mereka berdua akan memikul dosa itu di masa depan? Agatha mengkhawatirkan itu.

Magami benar-benar menaruh rasa hormat yang sangat dalam pada wanita bernama Agatha ini. Tanpa peduli dengan dirinya sendiri, wanita itu memikirkan masa depan Nil dan yang lainnya. Sosoknya benar-benar menyerupai seorang ibu.

Usai memahami perasaannya, Magami membalas dengan nada bicara yang lembut.

“Terima kasih, Agatha. Tapi, apa kita harus benar-benar membunuh mereka?”

“?”

Agatha memiringkan kepalanya, benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja diutarakan oleh Magami.

Magami berbicara dengan nada tenang tanpa memancarkan rasa permusuhan sedikit pun.

“Sampai saat ini, kita belum pernah berhadapan langsung secara tatap muka dengan Spesies Kuno yang masih hidup. Orang-orang menyebut mereka sebagai monster atau wujud terdistorsi, tapi bukannya belum ada seorang pun yang memastikan apakah itu benar atau tidak?”

“Tentu saja, dalam sejarah umat manusia ada masa-masa saat mereka mencoba berkomunikasi dengan Spesies Kuno. Tapi semuanya berujung pada kegagalan tanpa terkecuali. Bukan berarti kita memusuhi mereka hanya karena tidak tahu apa-apa. Kami sudah berulang kali melakukan usaha untuk saling mendekat. Kendati demikian mereka telah menyerang banyak kota layang dan memusnahkan kota-kota darat. Itulah kenyataannya. Mereka adalah musuh kita, umat manusia.”

“Tapi demi apa mereka melakukan itu, tidak ada seorang pun yang tahu alasannya, ‘kan? Benar tidak?”

“Tepat sekali. Kita tidak tahu alasannya. Tapi hasilnya umat manusia berada di ambang kepunahan. Dunia sedang menuju kehancurannya. Spesies Kuno ikut membantu mempercepat kepunahan itu. Apa menurutmu kamu masih bisa berdiskusi dengan mereka?”

“Layak untuk dicoba.”

Menghadapi Magami yang tidak mundur selangkah pun, Agatha menyibak poni rambutnya. Magami melanjutkan walau wanita itu yang menggelengkan kepala menandakan ketidaksetujuannya.

“Paus Putih yang bertarung di Kota Ketiga dulu menuntut agar Nil diserahkan pada mereka. Waktu membicarakan itu, kamu pernah bilang, ‘kan? Bahwa mungkin saja mereka berusaha merebut kembali keluarga mereka.”

“Itu hanya perkiraan. Tidak, itu cuma khayalan.”

“Apakah benar begitu? Aku merasa sepertinya itu memang benar terjadi. Di dunia ini ada kekuatan misterius. Sesuatu yang saling menarik antara mereka yang saling menginginkan.”

Magami mengalihkan pandangan matanya dari Agatha, lalu menatap Nil lekat-lekat.

“Karena itulah, jika mereka berjuang mati-matian demi melindungi rekan yang berharga, kalau itu kita, mungkin kita bisa saling memahami dengan mereka.”

Ciptaan Proyek Nil. Jika itu adalah mereka berdua yang memiliki garis keturunan genetik Spesies Kuno. Tanpa dijelaskan melalui kata-kata, Magami menyampaikan perasaan yang sanggup tersampaikan pada Agatha.

Wanita itu benar-benar tampak menerima perasaannya.

Akan tetapi, dia tidak berniat menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya justru berubah kian tegas.

“Mereka itu berbeda dari kalian berdua.”

“Aku akan pergi untuk memastikannya.”

Agatha benar-benar berniat menghentikan Magami.

Meski demikian, Magami pun bersikap serius.

Dia tidak berniat kehilangan Agatha, Luciola, maupun rekan-rekannya di Kapal Mensis di sini. Jika ada cara untuk menyelamatkan mereka, dan jika itu sanggup dilakukan bersama Nil, jalan yang harus dipilih hanya ada satu.

Kehangatan samar merapat menempel di bahu Magami yang sedang bertatap mata.

Nil berdiri di samping Magami. Gadis itu menatap Magami dengan mata yang dipenuhi ragu dan cemas, namun setelah mengangguk dalam-dalam, dia menguatkan ekspresinya seolah telah mengambil keputusan.

“Aku pun ingin tahu siapa sebenarnya Spesies Kuno itu. Walau takut untuk mengetahuinya, kalau bersama Magami pasti akan baik-baik saja. Karena itulah, aku pun akan ikut pergi bersamamu.”

Saat mereka berdua menghadapi Agatha bersama-sama, wanita itu menatap langit-langit lalu meluruhkan ketegangan dari bahunya.

“Aku menyerah.”

Hanya dua kata. Agatha menggumam dengan segar, seolah beban di tubuhnya baru saja terangkat.

“Cobalah kalau begitu. Sesekali berhadapan dengan kenyataan pun memang perlu. Tapi ingat, berjanjilah satu hal padaku.”

Sambil bersandar pada dinding, dia menatap Magami dan Nil secara bergantian dan cermat.

“Kalian harus kembali dalam keadaan hidup bagaimanapun caranya. Nyawa kalian berdua bukan cuma milik kalian sendiri. Persis seperti Luciola yang mempertaruhkan nyawanya, semua orang membutuhkan kalian berdua. Karena itu jangan pernah mati. Mengerti?”

“Baik, aku mengerti. Kami pasti akan kembali dalam keadaan hidup.”

Berjanji pada Agatha, Magami mengangguk kuat-kuat. Lalu dengan lembut dia menggenggam tangan Nil yang berdiri di sisinya. Jemari kurus gadis itu membalas genggaman tangan Magami yang kasar dengan sangat kuat.

 

* * *

 

Koridor luar pangkalan bawah tanah. Di koridor yang dipenuhi pendaran lampu yang menyala samar-samar, tidak terhitung banyaknya wujud perak bergerombol. Pasukan Pelopor Paus Putih dengan tubuh aneh mereka bergerak maju dengan gencar menuju ujung lorong. Di ujung lorong itu, para teknisi Barakaja berada.

“Cepat, Shitaharu! Kita tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi!”

Krus berteriak sembari mengacungkan senapan serbunya, lalu menekan pelatuknya. Di antara pendar cahaya dari tembakan senapan serbu yang meletup berirama, bayangan selongsong peluru kosong bertumpukan.

Peluru-peluru yang dilepaskan menembus dan menghantam lengan, kaki, serta bodi Pasukan Pelopor dengan amat presisi. Meskipun demikian, mereka bukanlah makhluk bernyawa. Luka pada tubuh mereka yang terdistorsi hebat mulai mengalami pemulihan setelah beberapa puluh detik, dan kembali utuh seperti sedia kala tidak sampai satu menit.

“Tidak ada habisnya.”

Mengubah mode tembakan senapan dari tiga putaran berturut-turut menjadi tembakan tunggal, Krus mendaratkan lututnya ke lantai demi tembakan presisi. Sabuk magasin yang tergantung di pinggangnya sudah menipis drastis. Dia tidak bisa lagi menarik pelatuknya secara membabi buta.

“Bagus. Ini yang terakhir! Mundur, Krus!”

Shitaharu yang memapah beberapa korban luka seorang diri sembari melangkah mundur berteriak kencang pada punggung Krus. Sambil menukar magasin dengan sangat terlatih dan sigap, Krus mengalihkan pandangan.

“Pergilah duluan! Aku yang akan menjadi garis belakang!”

“Jangan sampai mati!”

Dari balik desingan tembakan yang gencar, suara Shitaharu bergaung. Krus mengangguk balik lalu berbalik menghadap Pasukan Pelopor di depannya. Merasakan para teknisi mulai dievakuasi satu demi satu di belakangnya, Krus pun mulai melangkah mundur perlahan dengan tubuh yang tetap merunduk rendah.

“Jumlah mereka... terus bertambah?”

Krus mendecitkan lidahnya menatap pemandangan di depan matanya.

Mendengar desingan tembakan, Pasukan Pelopor berkumpul bergerombol satu demi satu. Pasukan Pelopor yang tadinya hanya beberapa ekor kini telah bertambah menjadi belasan. Dari sudut lorong, unit demi unit bertambah secara beruntun, mulai mendesak maju bagaikan dinding.

“Gawat. Jika lebih dari ini...”

Daya tekan peluru ada batasnya. Merasakan desakan Pasukan Pelopor di depannya terus menguat, Krus mempercepat langkah mundurnya.

“Shitaharu! Suruh semuanya berlari!”

Tepat saat Krus berteriak demikian, seekor Pasukan Pelopor mendadak menampakkan wujudnya di jalur yang dilalui para teknisi, tertangkap oleh matanya.

Gawat. Tidak ada personel tempur di antara mereka. Jika dibiarkan, teknisi yang berjalan di depan akan menjadi mangsa. Krus seketika mengubah prioritas di kepalanya.

Dia memutar tubuhnya dengan sigap, menyelaraskan bidikannya melewati punggung mereka. Seketika alur dunia terasa lambat, dan dia menarik pelatuk ke arah ujung pandangan matanya yang membelalak.

Dua tembakan, tiga tembakan.

Peluru yang dilepaskan Krus menyambar rambut sang teknisi, menyapu pipinya, lalu menghantam tepat pada bodi Pasukan Pelopor. Dua dari delapan kakinya hancur, dan bagian kepalanya meliuk hebat ke belakang.

Melihat Pasukan Pelopor yang roboh ke lantai, para teknisi bergetar hebat diiringi rasa kaget dan ketakutan. Krus berteriak kencang pada punggung mereka.

“Jangan berhenti! Kalian bisa mati!”

Saat Pasukan Pelopor yang roboh di lantai memperlihatkan pertanda akan bergerak kembali, Krus menembak sekali lagi, lalu berbalik menghadap ke belakang.

“Sial.”

Umpatan meluncur dari mulut Krus ke arah tujuan pandangannya.

Tumpukan warna perak Pasukan Pelopor yang saling bertindihan telah mendekat hingga tepat di depan mata dan hidungnya. Mengubah senapan serbunya ke mode tembakan penuh, Krus pasang kuda-kuda.

Secara naluriah, dia tahu ini takkan sanggup menahan mereka. Akan tetapi, demi mengulur waktu, tidak ada pilihan lain selain bertarung. Senapan yang menembak bertubi-tubi memancarkan suara letupan yang bising. Selongsong peluru kosong yang terlontar secara beruntun menumpuk berjatuhan di lantai, namun Pasukan Pelopor sama sekali tidak peduli.

Menginjak dan melindas rekan mereka yang roboh, Pasukan Pelopor di belakang meluap keluar tanpa henti.

“Cih!”

Tepat setelah decitan lidah meluncur dari mulut Krus, entakan senapan mendadak terhenti.

Kehabisan peluru.

Laju gerombolan Pasukan Pelopor yang mendesak di depan mata kian menghebat saat kehilangan rintangan berupa tirai peluru. Secara fisik hal itu dapat dirasakannya dengan sangat jelas. Tidak ada kelonggaran waktu untuk mengganti magasin.

Krus melepaskan senapannya, membiarkan mantelnya berkibar. Sambil memutar tangannya ke pinggang, dia menarik keluar sebuah belati. Dia melangkah mundur satu langkah, bersiap bertempur jarak dekat yang nekat menghadapi Pasukan Pelopor yang menerjang.

“Krus!”

Suara Shitaharu terdengar dari belakang.

Akan tetapi, Krus hanya bisa melihat Pasukan Pelopor di depan matanya. Ketenangan sama sekali tidak lenyap dari matanya. Malah sebaliknya, semangat bertarung merebak hebat. Aku takkan membiarkan kalian maju lebih jauh dari ini. Raut wajahnya yang pasang kuda-kuda menegaskannya.

Kaki Pasukan Pelopor yang tidak terhitung banyaknya mengarahkan bidikan pada Krus. Pasukan Pelopor yang menumpuk hingga ke langit-langit menerjang Krus bagaikan gelombang raksasa.

Bukan hal yang sanggup diatasi oleh seorang manusia berdarah daging sendirian. Di hadapan kejadian yang akan membuat siapa pun berpikir demikian, Krus berdiri menerjang. Tanpa gentar dia justru menerobos masuk ke dalam jangkauan lawan, dan tepat saat belatinya menebas putus kaki Pasukan Pelopor.

“Apa?”

Suara kaget dan bingung keluar dari Krus. Sama halnya seperti kaki Pasukan Pelopor yang tertebas meluncur jatuh di lantai dan menghentikan pergerakannya, di ujung pandangannya Pasukan Pelopor menghentikan gerakan mereka.

Pasukan Pelopor yang saling bersilang dan bertumpukan mematung bagaikan patung raksasa, menatap Krus dari atas. Lalu dengan gerakan yang lambat, mereka mengurai jalinan satu sama lain, kemudian berlari beruntun menuju bagian dalam koridor.

Mengabaikan musuh di depan mata, mereka mulai melakukan proses kembali ke pangkalan.

“Apa yang terjadi?”

Mengamati Pasukan Pelopor yang melangkah pergi diiringi derap langkah kaki berdering nyaring, Krus memungut senapan serbu yang jatuh di lantai. Sambil menegakkan kembali gumpalan besi yang terasa berat itu, dia menggumam pelan, “Jangan-jangan...”

 

* * *

 

“Ternyata benar.”

Di lokasi perkiraan yang ditunjukkan di atas peta pangkalan bawah tanah, Magami dan Nil telah menemukan sebuah ruang yang membuka mulutnya lebar-lebar di balik dinding yang runtuh.

Selama perjalanan hingga tiba di sini, dengan memanfaatkan saluran ventilasi mereka berhasil menghindari kontak dengan Pasukan Pelopor dengan sangat baik. Terlebih lagi, walau alasannya tidak diketahui, mereka sama sekali tidak terlihat di sekitar area masuk ini.

Apakah mereka tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya seseorang yang datang sampai ke tempat ini? Ataukah, kewaspadaan terhadap kedatangan siapa pun ke sini memang tidak ada artinya bagi mereka?

Mana pun alasannya, fakta bahwa mereka sanggup menghindari pertempuran adalah keuntungan yang besar.

Magami memberi isyarat pada Nil sembari memperhatikan pijakan kakinya yang dipenuhi puing-puing reruntuhan.

“Sepertinya kita bisa masuk ke dalam dari sini.”

“Aku yang memimpin di depan.”

“Ya. Tolong pimpin.”

Melompati celah-celah reruntuhan mendekati Magami, Nil menyalakan lampu yang terpasang di ujung senapan serbunya.

Dia mengarahkan cahaya ke dalam kegelapan yang tampak bagaikan rongga hampa. Di ujung cahaya yang memancar redup secara terpisah, area di balik lubang perlahan-lahan terintegrasi dan terikat terang.

Di balik pandangan mata yang ditatap mereka berdua, jalan setapak dari logam membentang terbenam di balik puing reruntuhan. Keberadaan rongga hampa yang jauh lebih besar dibanding bagian luar dinding yang runtuh terasa berlanjut di balik tempat itu. Lampu kecil yang memancar lemah tidak sanggup menerangi gambaran utuh tempat itu.

“Sepertinya kita bisa maju lebih jauh.”

“Benar. Bagian dalamnya kelihatan sangat luas. Mari berhati-hati agar tidak terpisah satu sama lain. Bisa gawat kalau sampai tersesat.”

“Kalau saat itu tiba, kamu pasti bisa menemukanku, ‘kan? Kamu ‘kan paling jago menemukan anak yang tersesat.”

Di balik sandaran senapan yang diacungkannya, Nil mengangkat sebelah alisnya dengan penuh makna.

Jika dipikir-pikir kembali, baik saat membawa gadis itu keluar dari fasilitas penelitian maupun saat dia jatuh ke dalam Lapisan Abu, orang yang datang menjemputnya adalah Magami. Dia pasti mengucapkannya berdasarkan pengalaman-pengalaman itu.

Magami menyipitkan matanya membalas Nil.

“Maksudku, berusahalah sedikit agar tidak tersesat. Aku ini bukan manusia super yang tidak terkalahkan, tahu.”

“Benarkah? Bagiku, Magami adalah manusia super yang tidak terkalahkan.”

Nil membalasnya dengan candaan, lalu melangkah masuk ke dalam kegelapan diiringi seruan, “Ayo, kita berangkat.” Secara alami Magami menarik keluar pistol yang diselipkan di pinggangnya, lalu mengekor di belakang punggung gadis itu.

Saat melangkah masuk ke dalam sembari memilih pijakan secara hati-hati, pemandangan yang jelas-jelas dapat dianggap sebagai bagian dalam tubuh Paus Putih terhampar di depan mata.

Terkadang, pendar biru keperakan mengalir bagaikan detak jantung di dalam kegelapan, menyinari struktur bagian dalam dengan sinar temaram. Tidak salah lagi itu adalah frekuensi cahaya unik yang dipancarkan oleh Mekanisme Amadeus.

Semakin mereka melangkah masuk ke bagian dalam, derap langkah kaki mereka berdua bergaung semakin luas. Ujung kegelapan tempat cahaya lampu melenyap terasa jauh lebih besar dari yang dibayangkan Magami.

Nil mengarahkan jalurnya ke arah aliran cahaya biru yang merambat di permukaan dinding. Cahaya biru Mekanisme Amadeus mengalir mengumpul ke satu titik dengan jelas, berlawanan dengan struktur bangunan yang rumit dan bersilang.

Seolah-olah, aliran itu sedang membimbing mereka berdua. Magami merasakannya.

“Di balik tempat ini, ya?”

Magami mengerutkan alisnya di ujung ruang yang ditemuinya.

“Mungkin di sini. Sambungan dengan Mekanisme Amadeus terpusat di tempat ini.”

Nil tetap mengacungkan senapan serbunya, lalu berdiri di depan sesuatu yang menyerupai pintu berbentuk segi enam. Cahaya biru yang bergelombang di dalam ruangan menyentuh garis luar pintu, berkedip-kedip hingga mencolok di dalam kegelapan.

Mengarahkan cahaya lampunya menyusuri sudut pintu segi enam guna memastikan gambaran utuhnya, Nil dengan ragu menempelkan tangannya ke permukaan logam tersebut.

Seketika, seluruh bagian pintu memancarkan cahaya biru keperakan dan bergelombang dalam sekejap.

“Wah.”

Di hadapan Nil yang menarik tangannya kembali diiringi rasa kaget, pola-pola geometris yang rumit mencolok membayang di pintu, lalu terlipat sedemikian rupa hingga membuka sebuah jalan. Tidak percaya dengan fenomena yang terjadi di depan matanya, Nil membelalakkan mata lalu menatap kembali pada Magami.

“Autentikasi biologis Mekanisme Amadeus. Walau mekanisme pintunya sendiri sulit untuk dipahami, sih.”

“B-Benar.”

Tanpa sanggup menyembunyikan kepanikannya, Nil menyeka keringat di lehernya.

Autentikasi biologis di dalam Paus Putih merespons Nil. Apakah itu terjadi karena dia memiliki genetik Spesies Kuno, ataukah dia sedang dibimbing oleh Spesies Kuno yang mengendalikan Paus Putih ini?

Mana pun alasannya, tanpa keberadaan gadis ini mereka takkan mungkin sanggup tiba sampai ke tempat ini.

Mungkin ke dalam wilayah tempat manusia untuk pertama kalinya melangkahkan kaki, mereka berdua akan menyusup.

Diliputi rasa tegang, Nil kembali mengacungkan senapan serbunya.

“Ayo bergegas. Kita tidak punya banyak waktu.”

“Ya.”

Mereka akhirnya melangkah satu demi satu menuju pusat Paus Putih.

Melintasi pintu berbentuk segi enam, pemandangan kembali berubah.

Tepat saat Nil melangkahkan kakinya ke koridor, dinding koridor berbentuk silinder berpendar putih menerangi mereka. Aliran cahaya yang menguat dan melemah seolah menyerupai detak jantung makhluk hidup mengalir di permukaan dinding, memantulkan sosok Nil dan Magami secara benderang.

Melintasi koridor sepanjang 50 meter yang memantulkan gema secara aneh, sebuah pintu yang sama seperti pintu masuk berada di ujung sana.

Kali ini, Nil tidak lagi gentar. Tetap mengacungkan senapan serbu, dia menangkupkan tangan hingga pintu terbuka.

“Ada di dalam.”

Gumam Nil tepat saat bagian di balik pintu yang mulai terbuka terlihat oleh matanya.

Sebuah ruangan gelap. Tidak, ruang yang sangat sempit untuk disebut sebagai sebuah ruangan berada di sana.

Tidak terhitung banyaknya pipa dan kabel yang diselimuti cahaya biru Mekanisme Amadeus memancarkan garis luar yang samar, seolah merambat ke dalam kegelapan di sekelilingnya. Mungkin demi menjaga suhu di dalam ruangan, lantai selain dari area pijakan terisi oleh cairan hitam kental berminyak.

Di dalam ruangan yang mengingatkan pada bagian dalam tas yang dijejali barang hingga batas maksimal, cahaya dari beberapa monitor menyala. Memantul di cahaya itu, garis luar dari satu sosok terlihat jelas. Rambut perak yang panjang serta mata merah delima. Spesies Kuno—sosok yang sama yang pernah ada di dalam Paus Putih yang dijatuhkan oleh Kapal Mensis—berada di sana.

Namun yang membedakannya dari sebelumnya adalah fakta bahwa Spesies Kuno ini masih hidup.

Sosoknya agak berbeda dari Spesies Kuno sebelumnya, menatap para tamu yang datang dengan wajah yang sama sekali tanpa ekspresi. Bahkan sebelum membicarakan apa itu emosi, tidak diketahui apakah di sana ada sesuatu yang sanggup disebut sebagai keinginan atau tidak. Kehadiran yang dipancarkannya sangat mirip dengan benda mati.

Magami dan Nil melangkah masuk ke dalam ruangan saling merapat satu sama lain lalu menahan napas.

“Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan?”

Sambil menurunkan ujung senapan serbunya, Nil yang tetap menggenggam erat gagangnya memiringkan kepala. Pada Magami pun, tenaga terkumpul di tangannya yang menggenggam pistol.

“Pertama-tama mari coba apakah komunikasi bisa tersampaikan atau tidak. Setidaknya, pemahaman maksud harusnya bisa dilakukan.”

Setelah itu, Magami menarik napas dalam-dalam lalu maju satu langkah. Mata merah delima milik Spesies Kuno itu terasa beralih dari Nil menuju dirinya.

“Namaku Magami. Kalau kamu paham, berikan tanggapan apa saja padaku.”

“...”

“Na-ma-ku Ma-ga-mi. Kamu mendengar suaraku?”

“...”

Magami memotong kalimatnya patah demi patah, mencoba melontarkannya secara berlebihan dari mulutnya.

Akan tetapi, Spesies Kuno di hadapannya hanya mengarahkan sepasang mata yang terbelalak pada Magami tanpa memberikan balasan sedikit pun.

“Tidak bisa, ya. Mungkin bahasanya berbeda. Tidak. Mungkin bukan soal bahasa?”

Di belakang Magami yang mengerang penuh kebingungan, Nil berdeham. Menyadari pertanda yang disengaja itu, Magami berbalik dan menemukan Nil sedang melepas lampu dari badan senapan.

“Magami. Dulu kamu pernah cerita. Kalau Paus Putih berkomunikasi menggunakan sinyal cahaya. Kalau begitu, bagaimana kalau mencoba memakai benda ini?”

Menerima lampu yang disodorkan padanya sembari berucap demikian, Magami mengangguk.

“Ide cemerlang. Ayo kita coba.”

Setelah memastikan fungsi kedipannya, Magami kembali mengarahkan lampu pada Spesies Kuno itu.

“Nama saya, Magami. Meminta. Respons, tanggapan.”

Pertama-tama dia mencoba bahasa sinyal cahaya yang digunakan secara umum di seluruh dunia. Jika tidak ada tanggapan, dia berniat mencoba bahasa sinyal cahaya lain yang digunakan di tempat berbeda.

Namun untungnya, Spesies Kuno yang melihat sinyal tersebut seketika memberikan tanggapan.

Wajahnya yang tadinya kaku bergerak tipis, dan Spesies Kuno itu mengulurkan tangannya ke salah satu monitor.

Setelah menepuk tombol di samping monitor beberapa kali, pendar cahaya biru keperakan kecil yang tadinya tidak ada menyala di sudut ruangan.

Tanggapan dari pihak Spesies Kuno telah kembali. Magami yang membacanya secara intuitif mulai mengartikan kedipan cahaya tersebut.

“Kalian, manusia?”

Membaca balasan dari Spesies Kuno itu keras-keras dengan mulutnya, Magami berbalik menatap Nil dengan wajah gembira. Gadis itu pun menahan napasnya, menganga diiringi rasa kaget.

“Kita bisa berkomunikasi! Anu, kalau begitu, bagaimana kita harus melanjutkan?”

Diiringi rasa gembira dan antusias, Magami mengacak-acak rambutnya.

Namun bagi Magami dan Nil saat ini, ada hal yang harus dilakukan selain sekadar bergembira. Hanya saja dari apa mereka harus memulainya, bagaimana pembicaraan harus dilanjutkan, Magami merasa bingung.

Di balik punggungnya yang hanya bisa mengerang tanpa bisa menyusun pikiran, suara tenang Nil terlontar.

“Pertama-tama, suruh mereka menarik kembali Pasukan Pelopor. Lalu, kurasa lebih baik menyampaikan kalau kita bukan musuh.”

“Benar juga. Kalau cuma sinyal cahaya kita tidak bisa melakukan percakapan yang rumit. Intinya singkat dan padat saja. Pertama-tama harus menyampaikan kalau kita bukan musuh.”

Sambil mengelus tangannya yang mulai bergetar, Magami kembali mengarahkan lampu pada Spesies Kuno itu.

“Kami, bukan, musuh. Ingin, bicara.”

Spesies Kuno menajamkan matanya menatap cahaya yang dikirimkan Magami. Usai menerima sinyal cahaya tersebut, dia menatap Magami dan Nil lekat-lekat untuk beberapa saat. Tidak salah lagi, mereka mengerti kata-kata yang disampaikan Magami dan Nil.

Dengan gerakan yang lambat, Spesies Kuno kembali menepuk tombol.

Mengartikan sinyal yang kembali, Magami memiringkan kepalanya.

“Apa katanya?”

“Kawan atau lawan tidak ada hubungannya. Menghentikan manusia.”

“Apa maksudnya?”

Nil dan Magami bertukar pandang penuh kebingungan satu sama lain.

Tepat saat itulah.

Magami menyadari suara halus yang terdengar dari balik dinding. Nil yang menatapnya pun tampaknya menyadari kejanggalan itu. Alisnya yang kurus berkerut.

“Nil. Kamu mendengar suara ini?”

“Dengar. Dari arah tempat kita datang tadi.”

Ujar Nil, lalu berbalik menatap koridor silinder yang berpendar.

Tidak salah lagi suara itu memang terdengar dari seberang koridor.

Tidak hanya itu.

Kehadiran yang terus mendekat ke arah sini terasa secara perlahan. Makin dipertajam pendengarannya, identitas dari suara itu makin menjadi jelas.

Ini adalah derap langkah kaki. Namun, bukan milik manusia. Suara adu logam yang saling berbenturan terdengar bertumpukan dalam jumlah yang banyak. Keberadaan yang melangkah diiringi suara semacam ini hanya bisa dihitung dengan jari.

“Pasukan Pelopor!”

Belum sempat suara Magami meninggi, Nil dengan tegas mengarahkan tubuhnya ke arah koridor. Di ujung senapan serbu yang kembali diacungkannya, pemandangan yang sanggup membangkitkan rasa merinding terlihat oleh matanya.

Di seberang koridor silinder. Pasukan Pelopor dalam jumlah yang sanggup memenuhi lubang segi enam menatap tajam ke arah mereka.

“Magami!”

Nil berteriak. Gadis itu mendaratkan sebelah lututnya di tempat, menempelkan pipinya ke sandaran senapan. Di ujung pandangan matanya yang menatap bidikan, warna perak bergelombang dahsyat. Rasa takut bahwa gelombang itu akan menerjang saat ini juga memenuhi ruang di antara mereka berdua.

Tidak diketahui apa maksud dari Spesies Kuno ini. Pemahaman maksud dengannya masih di tengah jalan. Akan tetapi situasi jelas-jelas bergulir menuju arah yang buruk.

Menyerahkan bagian belakang pada Nil, Magami dengan sigap kembali mengarahkan lampu pada Spesies Kuno.

“Kami, bukan, musuh. Ingin, bicara.”

Menanggapi penyampaiannya yang terdesak, Spesies Kuno menjawab dengan gerakan yang lambat.

“Manusia, berbahaya.”

“Tidak, damai, itu mungkin.”

“Kalian, manusia?”

Di antara Magami dan Spesies Kuno, sinyal cahaya berulang kali melayang silang. Setiap kali itu terjadi, rasa permusuhan seolah terasa terus meluap di mata sang Spesies Kuno.

“Kami, sekutu, ingin menghindari, pertempuran.”

“Bukan, bertempur. Tujuan, ###.”

“Tujuan?”

“Kalian, bukan, manusia, kenapa?”

“Kami, sekutu.”

“Bukan, sekutu. Kalian, $$$.”

“$$$, apa?”

“¥¥¥, $$$, menghentikan, manusia, %%%.”

Keringat mulai menetes di dahi Magami yang berjuang mati-matian saling menukar sinyal. Sinyal cahaya dari Spesies Kuno semakin banyak yang tidak sanggup diartikan. Mulutnya mendadak terasa kering, dan jarinya yang menggenggam lampu terhenti.

Tidak bisa.

Lebih dari ini, sudah tidak mungkin.

Magami menyesali dangkalnya pemikiran serta ketidakberdayaan dirinya sendiri.

Di dasar pemikiran mereka, Spesies Kuno punya tujuan lain yang belum diketahui manusia. Hal itu kemungkinan besar melibatkan beberapa keberadaan yang tidak lagi tersisa di zaman tempat Magami dan yang lainnya hidup saat ini.

Mencoba mengartikan hal yang keberadaannya saja tidak diketahui melalui kata-kata adalah hal yang mustahil untuk dipahami. Walau sanggup diucapkan melalui kata-kata dari mulut, tanpa tahu artinya percakapan takkan pernah bisa terjalin.

Dialog dengan Spesies Kuno membutuhkan pemulihan atas jurang perbedaan pengetahuan yang jelas. Tanpa menyadari kemungkinan itu, dia terlalu tinggi hati berpikir sanggup berdialog dengan mereka.

Melihat Magami yang tidak kunjung memberikan balasan, Spesies Kuno menatapnya dari atas dengan penuh keheranan lalu memiringkan kepala. Matanya beralih ke arah monitor.

Melihat jemarinya yang panjang dan kurus tidak wajar terulur ke monitor yang berbeda dari sebelumnya, rasa dingin merayapi tulang belakang Magami.

Firasat buruk merayap.

Menumpuk di atas firasat buruknya, Nil yang berada di belakangnya berteriak.

“Magami! Pasukan Pelopor datang! Aku tembak, ya!”

“Ya. Tahan mereka!”

Hampir bersamaan dengan balasan Magami, senapan yang diacungkan Nil menyemburkan api. Peluru-peluru mulai dilepaskan ke arah Pasukan Pelopor yang mendesak masuk di dalam koridor silinder.

Akan tetapi, mereka tidak mati. Mengempaskan bangkai rekan-rekan mereka, mereka terus mendekat tanpa henti. Meski tidak sanggup mati, hawa membunuh yang nyata merebak dari Pasukan Pelopor yang melancarkan pergerakan paksa yang nekat itu.

Magami mengembuskan napas, lalu kembali mengirimkan pesan pada Spesies Kuno.

“Kedamaian, bicara, diinginkan.”

Tidak ada tanggapan.

“Kami, bukan, musuh.”

Mata merah delima milik Spesies Kuno berbalik menatap ke arahnya.

“Kenapa, memusuhi?”

Lengan Spesies Kuno terangkat, lalu menepuk monitor.

“Apa, diinginkan?”

Cahaya yang dikirimkan Magami menyinari bagian samping wajah Spesies Kuno. Garis luar tubuhnya perlahan-lahan menghadap tepat ke arah Magami, dan cahaya biru keperakan di dalam kegelapan berkedip redup bagaikan lilin di hadapan embusan angin.

“Serahkan, dia.”

Menatap sinyal cahaya terakhir yang dikirimkan oleh Spesies Kuno, tubuh Magami membeku seketika.

Sosok yang ditunjukkan sebagai kata “dia” di tempat ini hanya ada satu orang.

Tentu saja, merujuk pada Nil.

Sempat mengalihkan pandangan pada Nil yang terus menembak ke seberang koridor dengan panik, Magami kembali menatap Spesies  Kuno.

Sepasang mata Spesies Kuno membelalak tidak seperti biasanya. Mata merah delima yang terasah tajam bagaikan bilah pisau menatap tajam ke arah Magami.

Meski kata-kata tidak sanggup terucap, emosi tersampaikan dengan jelas dari matanya. Amarah dan permusuhan. Apa yang membuat Spesies Kuno bertindak sejauh ini? Magami dan yang lainnya sama sekali tidak tahu apa-apa.

Namun, ada satu hal yang dapat dipahami.

Menuruti permintaan Spesies Kuno adalah sesuatu yang sama sekali mustahil dilakukan.

Nil takkan pernah diserahkan.

Magami meluruhkan ketegangan dari bahunya, lalu dengan perlahan dan tegas menggelengkan kepalanya.

“Kalau itu tidak bisa.”

Sinyal cahaya tidak lagi dibutuhkan. Di antara Spesies Kuno dan Magami, entah mengapa perasaan dan emosi satu sama lain serasa saling tersampaikan.

Hal yang sama tentu berlaku pula bagi Spesies Kuno. Mendengar suara Magami, dia menegakkan tubuhnya lalu menatap langit-langit. Kemudian, dia mengacungkan ujung jari telunjuknya tepat pada Magami.

“%\#$%”

Mulut Spesies Kuno bergerak, dan suara aneh yang menyerupai bunyi mesin bergaung di dalam ruangan. Menerobos bertumpukan di atas suara tembakan senjata, suara itu entah mengapa meresap masuk ke telinga Magami dengan mudah.

Kata-kata apa sebenarnya yang ingin disampaikannya tanpa menggunakan sinyal cahaya?

Jika saja kata-kata itu sanggup dipahami, apakah masa depan akan berubah? Sambil membayangkan mimpi dan harapan kecil yang samar, Magami melepaskan lampu di genggamannya.

Tangan yang menganggur gantian menggenggam sebuah gumpalan besi.

Gagang pistol.

Dengan wajah penuh penderitaan, Magami mengacungkan pistol dengan kedua telapak tangannya.

Melintasi bidikan, matanya bersinggungan dengan Spesies Kuno. Tenaga terkumpul di genggaman gagang pistol, dan ujung jari yang menempel di pelatuk bergetar.

Lawan yang akan dibunuhnya mulai saat ini ada di sana. Spesies Kuno menatapnya balik murni tanpa rasa takut maupun panik sedikit pun.

“Magami! Kalau lebih dari ini sudah tidak sanggup ditahan!”

Nil mengangkat suaranya sembari mengganti magasin.

Kehadiran Pasukan Pelopor yang mendesak dari belakang sudah berada tepat di depan mata. Dari suaranya saja sangat jelas terlihat bahwa Nil sedang berjuang mati-matian mengulur waktu. Gadis itu pastilah percaya bahwa Magami akan berbuat sesuatu atas situasi saat ini.

Kalau begitu, yang harus dilakukannya hanya satu.

Membunuh Spesies Kuno.

“Sial.”

Magami menggumam dengan muak.

Bahunya mengencang, dan mata Magami membelalak.

Sosok Spesies Kuno berrambut perak dan bermata merah delima serasa bertumpukan dengan sosok Nil di kepalanya. Sambil mengempaskan bayangan mimpi buruk itu dari kepalanya, dia mengumpulkan tenaga pada jari yang menempel di pelatuk.

Momen berikutnya.

Kepala Spesies Kuno terlempar meliuk hebat ke atas.

Akan tetapi, yang menembus kepalanya bukanlah peluru dari pistol Magami. Melepaskan jarinya dari pelatuk pada detik-detik terakhir, Magami kaget menatap bayangan seseorang yang merayap keluar dari dalam kegelapan.

“Magami, Nil! Lari ke arah pukul enam!”

Suara itu sangat familier di telinganya. Magami merasakan tenaga meluruh dari tubuhnya, dan bagian dalam hidungnya mendadak terasa hangat dan pedih.

Yang menampakkan diri dari balik cairan hitam pekat bagaikan kegelapan yang membentang di lantai adalah Krus.

Tersiram cairan misterius itu, dia menyibak poni rambutnya ke atas. Pangkal alisnya yang dimakan usia berkerut, dan sepasang matanya yang jauh lebih hitam pekat dari siapa pun membidik pada Spesies Kuno di ujung senapannya.

“Kamu dengar tidak!? Lari!”

Meluapkan suara yang menyerupai teriakan emosi, Krus menembak Spesies Kuno bertubi-tubi. Terendam cairan hingga setinggi pinggang, dia terus menembak sembari merapat mendekati mereka berdua.

Magami menyelipkan pistol yang digenggamnya ke sabuk pinggang, lalu menepuk bahu Nil.

“Nil! Sini!”

Magami mengarahkan pandangan matanya ke arah yang ditunjukkan Krus. Di sana, meski tidak terlihat karena gelap, ada pintu berbentuk segi enam lainnya. Menatap arah yang hendak dituju Magami, Nil pun membaca maksudnya.

“Aku pasang tirai peluru. Bimbing aku!”

Sambil menaruh tangan di bahu Nil yang bangkit berdiri, Magami membimbing gadis itu menuju pintu dengan langkah cepat. Nil yang melangkah dengan posisi menghadap ke belakang terus menembak. Dari pintu keluar koridor, kaki-kaki perak milik Pasukan Pelopor mulai terlihat.

Jika sudah begini, tembakan tidak lagi sanggup menahan mereka.

Sambil dihujani peluru, Pasukan Pelopor akhirnya meluap masuk memenuhi ruangan. Memanfaatkan delapan kaki mereka dengan terampil, mereka merayap dan menyebar di lantai dan dinding seolah mengabaikan gravitasi.

“Krus! Sini!”

Magami tiba di depan pintu lalu mengaktifkan sistem autentikasi. Pintu yang terbuka dengan gerakan lamban terhubung ke koridor tanpa cahaya. Mungkin karena sudah lama tidak digunakan, tempat itu bahkan terasa agak berdebu.

Menembaki Pasukan Pelopor yang kian mendesak maju, Krus bergabung bersama mereka. Dia mengintip jalan yang dibuka oleh Magami, lalu mengangguk memastikan sesuatu.

“Ikuti aku.”

Ujar Krus singkat dan mantap lalu melompat masuk ke dalam koridor. Magami mendorong punggung Nil, memaksanya menyusul di belakang pria itu.

Tepat sebelum melewati pintu, Magami memalingkan wajahnya menatap ke arah ruangan.

Di dalam ruangan, cahaya monitor memantul pada tubuh Pasukan Pelopor yang tidak terhitung banyaknya dan menggeliat, memancarkan atmosfer yang terus memikat secara mengerikan. Di balik tubuh Pasukan Pelopor itu, tubuh Spesies Kuno yang tertembak oleh Krus terkulai lemas tanpa tenaga.

Tembakan senapan Krus sungguh presisi. Satu tembakan di pelipis Spesies Kuno. Jantung, leher, dan dahi. Semua bagian yang dikenainya adalah titik-titik yang akan menjadi luka fatal jika dialami oleh manusia biasa.

Akan tetapi, entah kenapa. Magami merasa Spesies Kuno yang terkulai lemas itu akan mulai bergerak kembali.

Jika tubuh utama Spesies Kuno yang merupakan inti dari Paus Putih terhenti napasnya, kendali atas Pasukan Pelopor seharusnya ikut berhenti.

Namun mereka masih terus bergerak. Jawaban dari itu hanya ada satu.

Di ujung matanya, Spesies Kuno yang tadinya roboh bagaikan boneka putus tali mendadak mengangkat lengannya. Menumpukkan tangannya di salah satu sudut peralatan, Spesies Kuno itu mulai menegakkan tubuhnya perlahan-lahan.

“Tembakan tadi tidak cukup...?”

Spesies Kuno menempelkan tangannya di dahi yang menyisakan luka tembak, lalu menyeka darahnya. Seolah baru saja terbangun dari mimpi, dia membiarkan pandangan matanya yang tampak mengantuk melayang di ruang hampa, sebelum akhirnya menyelaraskan fokus pandangan itu tepat pada Magami.

Pandangan mereka bertabrakan, dan sang Spesies Kuno mengedipkan matanya. Dengan misterius kebingungan di sekeliling melenyap. Terpaku seolah tersedot ke dalam matanya, Magami melihat dengan sangat jelas bagaimana bibir Spesies Kuno itu mulai bergerak.

“#$/&%%”

Spesies Kuno kembali menyampaikan kata-kata unik yang tidak sanggup dipahami oleh Magami. Tidak salah lagi, dia sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang ditujukan khusus hanya untuk Magami seorang.

Apa yang dimaksud oleh ucapan itu? Magami tidak sanggup untuk mengerti. Hanya saja, dia sanggup memahami bahwa Spesies Kuno itu pun memiliki sesuatu yang hendak diselesaikannya walau harus mempertaruhkan nyawa.

Mungkin saja, Spesies Kuno itu baru saja menyatakan tekad bulatnya.

Merasa telah selesai menyampaikan hal yang harus disampaikan pada Magami, dia menyelipkan tangannya ke peralatan aneh di samping kursi kemudi. Bersamaan dengan itu, lantai bergetar dan berguncang dahsyat.

“Gawat! Dia berniat menerbangkan Paus Putih!?”

Seketika ditarik kembali ke alam realita dari bayangan mimpi buruk yang sempat melayang di kepalanya, Magami bergegas berlari kencang. Di ujung pandangan, Krus yang sudah tiba di pintu keluar koridor berada di sana.

“Jangan melamun! Kita pergi dari sini!”

Krus berteriak kencang sembari mengayunkan tangannya lebar-lebar. Di sisinya, Nil melemparkan senapan serbunya, mengarahkan wajah cemas dan khawatir ke pemuda itu.

Benar. Saat ini, hal-hal yang belum selesai dikerjakan masih melayang di kepalanya. Kendati demikian, ada sosok yang sedang menantinya. Dia tidak boleh mati di tempat seperti ini.

Semakin melangkah maju, Magami merasakan kenyataan itu kian menguat di dalam dadanya.

 

* * *

 

Persiapan lepas landas kapal terbang sudah rampung sepenuhnya. Para teknisi Barakaja yang sempat tersebar di dalam pangkalan—termasuk para korban luka—semuanya telah menaiki kapal terbang.

Dampak dari berpisahnya Paus Putih dari pangkalan membuat Lapisan Abu mulai meluap dan menerobos masuk ke dalam pangkalan. Tidak sampai 10 menit lagi, pangkalan ini pasti akan ditelan bulat-bulat oleh Lapisan Abu.

Magami dan yang lainnya berhasil menaiki kapal bersama Luciola dan Agatha di saat-saat terakhir. Menjadikan kedatangan mereka sebagai yang paling akhir, kapal pun akhirnya memasuki mode penerbangan.

“Astaga! Lama sekali kalian!”

Begitu Nil melompat masuk ke ruang kemudi kapal terbang, Nebula adalah orang pertama yang menyambut. Meskipun nada bicaranya terdengar seperti umpatan, wajahnya tampak benderang seakan tersiram sinar matahari.

Nox yang duduk di kursi kemudi berderet depan-belakang beranjak dari kursinya, membimbing Nil menuju tempat duduknya. Setelah menyampaikan “Terima kasih” padanya, Nil melompat naik ke kursi kemudi.

“Sudah sampai di mana prosesnya?”

“Tinggal panduan pelontar dan akselerasi lepas landas saja. Yang lainnya sudah diselesaikan sejak tadi.”

Ujar Nebula sembari menyalakan tombol-tombol instrumen dan peralatan yang masih serba baru dari kursi pembantu. Mengibaskan rambut merah mudanya, dia menatap Nil yang duduk di kursi belakang.

“Sisanya, tinggal kamu yang menerbangkannya. Bisa, ‘kan?”

Bertatap mata dengan Nebula, Nil menarik sudut bibirnya dengan bangga.

“Kamu pikir aku ini siapa?”

Angkuh, tidak sopan, percaya diri berlebihan. Menanggapi kalimat dan wajah yang bisa diartikan sebagai apa saja itu, Nebula tertawa sinis. Usai menekan tombol komunikasi kabel yang terhubung di dalam kapal, dia menyambungkannya ke anjungan.

“Di sini ruang kemudi, selanjutnya kami akan memasuki lepas landas. Kapten, mohon izinnya.”

“Di sini Kapten Krus. Lepas landas diizinkan.”

Agak berbeda dari tabung penyalur suara biasa, Krus menjawab seperti biasa dengan suara yang bercampur bunyi mesin.

Nil menyandarkan punggungnya dalam-dalam ke sandaran kursi, memejamkan mata lalu menarik napas panjang.

Seluruh bagian kapal ini serba baru, sebuah kapal buatan baru yang bahkan belum punya nama. Kapal yang terlelap di dasar Lapisan Abu selama kurun waktu 300 tahun lamanya ini akan terbang ke langit untuk pertama kalinya. Terlebih lagi, dilakukan oleh Nil sendiri.

Emosi muram yang pernah dirasakannya saat mengemudikan Kapal Mensis dulu. Keputusasaan dan rasa sia-sia saat melaju di tengah kegelapan tanpa ujung sekilas sempat membuncah di dalam hatinya.

Akan tetapi, emosi-emosi itu buyar dan hilang di saat berikutnya.

Sesuatu yang dengan sekejap mata mewarnai pandangan yang tadinya serba hitam pekat menjadi terang benderang adalah sosok yang bernama Magami. Serta rekan-rekannya yang pernah bersama di Kapal Mensis.

Mari pulang bersama mereka.

Lalu sekali lagi, melangkah maju ke depan.

Bobot dari hal-hal yang dipikulnya tidak pernah berubah. Namun, saat ini ada rekan-rekan yang melangkah bersama di sisinya. Hanya dengan itu saja, hatinya terasa begitu ringan seolah mengepakkan sayap, serta lebih kokok dari baja.

Nil membuka matanya, lalu menggenggam tuas kemudi kuat-kuat.

“Lepas landas!”

Pada wajah gadis itu, tekad bulat dan kesiapan hati yang tangguh membayang jelas.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#Project Nil ,#Project Nil 2 ,
Getting Info...

Posting Komentar