Bab 3: Pengumpan
Kota Layang Barakaja
terus membendung pusaran perjalanan di wilayah udara tempat Nil dan Magami
jatuh, seraya mempertahankan lintasan penerbangan yang stabil.
Langit biru
membentang tanpa batas. Menatap ke bawah pada pemandangan berkilauan saat perak
dari Lapisan Abu bergelombang pelan, Krus mengembalikan pandangannya ke dalam
menara kendali.
“Ini sudah hari
keempat sejak mereka jatuh. Jika segalanya tidak berjalan sesuai rencanamu, itu
artinya kita telah menyia-nyiakan waktu empat hari yang sangat berharga.”
Di dalam menara
kendali yang temaram, seolah terputus dari kecerahan dunia luar, sosok Invel berdiri
di sana. Di depan pintu masuk lift di dekat dinding, Shitaharu berdiri dengan
muram.
Meskipun
kata-kata pesimis yang diucapkannya, sikap Invel justru cenderung tidak peduli.
Sambil menatap peta wilayah udara yang terbentang di atas meja, dia menyesap
isi cangkir yang dipenuhi goresan dan penyok.
Sambil melangkah
mendekatinya, Krus melirik peta di atas meja dari samping. Di atas peta yang
mungkin mencatat hasil penyelidikan di area sekitar ini, tidak terhitung
banyaknya simbol dan angka teknis yang tertulis.
“Sudah waktunya
menyerah. Ambil keputusanmu.”
Krus yang sedang
menatap peta wilayah udara menyadari bahwa Invel tanpa disadari telah menatap tajam
ke arahnya.
Usai
mengembuskan napas pendek, Krus menyentuhkan tangan yang tadinya bersedekap di
saku ke lehernya.
“Aku sudah
menyampaikan koordinat pangkalan pada hari kedua setelah mereka jatuh. Jika
mereka berhasil masuk ke pangkalan dengan selamat, butuh waktu sehari untuk
menjelajahi bagian dalamnya. Sehari lagi bagi Magami untuk membuat alat agar
bisa kembali ke langit atas. Jika ada yang terluka, pasti butuh waktu sehari
lagi.”
“Total lima
hari. Maksudmu besok mereka akan naik ke atas?”
“Ya.”
Menghadapi Krus yang
mengangguk tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Invel mengerutkan alisnya
karena heran.
“Artinya kamu
mau bilang, mintalah kita menunggu sehari lagi, begitu?”
“Benar.”
“Dalam waktu
sehari itu, kita bisa mengangkat kapal lain di wilayah udara berbeda. Kami juga
tidak menganggur, Krus. Permintaan pengerukan lain sudah menumpuk seperti
gunung. Klien yang menunggu juga ada banyak sekali. Apa kamu lupa kalau kami
memprioritaskanmu karena kamu bilang sedang terburu-buru?”
Ujar Invel dengan
nada bicara yang tajam menusuk.
Di atas langit ini,
jumlah kota layang yang berkapasitas dan mampu untuk melakukan pengerukan di
dalam Lapisan Abu bisa dihitung dengan jari. Mereka yang selalu berhadapan
dengan banyak klien ini memang teramat sibuk.
Situasi itu pun
disadari betul oleh Krus.
Meski ditatap
dengan pandangan tajam bagai seekor ular, Krus tetap mempertahankan wajah
datarnya. Menghadapi Invel dari depan, dia justru membalas tatapan tajam wanita
itu.
“Kami telah
menyediakan tenaga kerja yang tidak dapat digantikan. Dan sebagai imbalannya,
kami dihadapkan pada situasi di mana kami kehilangan anggota awak kapal yang
penting. Bukannya itu kelalaian kalian yang belum memastikan keberadaan
pangkalan yang masih beroperasi di area pengerukan ini?”
“Apa katamu?”
Mungkin dia tidak
menduga kalau pedang akan dibalikkan kepadanya di sini.
Invel memiringkan
kepalanya sembari mengutarakan setiap kata demi kata dengan jelas. Wajahnya
mulai dipenuhi emosi amarah, kekesalan, atau bagaimanapun juga ekspresi yang
sangat provokatif.
Namun Krus tetap
tenang tanpa goyah sedikit pun, mengarahkan pandangan matanya yang dingin ke
arah wanita itu.
“Kita berdua
sama-sama menanggung kerugian. Namun di pihak kami, kami hampir kehilangan
nyawa anggota awak kapal—sebuah aset yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan
perbaikan dan pembenahan. Apakah menuntut penghentian hanya selama satu hari
sebagai ganti untuk itu merupakan hal yang begitu tidak masuk akal?”
Menghadapi Krus yang
masih tenang, Invel pun bungkam. Pertanda emosi bagai api di dalam dirinya
perlahan memudar dan lenyap.
Sebagai
gantinya, yang muncul adalah ekspresi dingin bagaikan besi.
“Kamu paham apa
yang dikorbankan demi menggerakkan satu hari itu, ‘kan?”
Invel menaruh
cangkirnya ke atas meja tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Krus.
“Anima yang
dibutuhkan untuk menggerakkan Barakaja ada 2 orang. Jika ditambah dengan
personel cadangan, totalnya 3 orang. Kamu membuat nyawa mereka terbuang sia-sia
selama berhari-hari. Kamu pasti tahu seberapa berharganya keberadaan Anima
sebagai sumber daya di atas langit ini, ‘kan?”
Menerima
perkataannya, Krus mengangguk balik dalam diam.
Anima yang
dibutuhkan untuk mengoperasikan Mekanisme Amadeus akan terkuras seiring
berjalannya waktu operasional. Meskipun nyawa dan sumber daya mereka terbatas,
keberadaan mereka adalah barang kebutuhan mutlak bagi orang-orang yang tinggal
di kota layang.
Dan masalah
nyatanya, Anima diperjualbelikan dengan harga yang sangat fantastis. Nilai
transaksinya bisa belasan kali lipat dari biaya pengerukan yang diminta Krus saat
ini, bahkan puluhan kali lipat jika pihak penjual memanfaatkan situasi.
Artinya, satu
hari bagi mereka memiliki bobot yang tidak sebanding dengan satu hari bagi
orang-orang yang tinggal di daratan. Baik dari segi finansial, sumber daya,
maupun nyawa manusia.
“Memang benar
seperti itu.”
Paham betul dengan kondisi dunia
ini, Krus tidak sanggup menyangkal perkataan Invel. Wanita itu melontarkan topik ini justru karena paham
betul akan hal tersebut.
Dan Krus sudah sejak awal menyadari ke mana arah pembicaraan
ini akan dibawa.
Tidak.
Sejak awal dia sudah memperkirakan bahwa topik ini pasti akan
diungkit.
Seolah ingin
menunjukkan bahwa dia pun paham
kalau Krus sudah
menyadarinya, Invel membuka suara.
“Tapi, jika kamu bersedia
menyediakan sumber daya tersebut, kami tidak keberatan untuk terus menetap di
wilayah udara ini. Jika ingatanku tidak salah, di tempatmu ada tiga orang
Anima, ‘kan?”
“Itu permintaan yang
mustahil. Mereka adalah personel yang mengemudikan kapal, bukan dibawa untuk
menggerakkan kota layang.”
“Tapi ada kalanya situasi mendesak membuat kita tidak punya pilihan lain, ‘kan? Pihakmu pun
tentu punya urusan sendiri. Aku tidak minta ketiganya. Jika ada dua orang,
Barakaja seharusnya sanggup
terus terbang selama berhari-hari.”
Menunjukkan
sikap bahwa dia tidak akan
berkompromi lagi, Invel membalikkan
badan. Dia duduk di kursi
kerjanya yang biasa, lalu bersedekap menyilang kaki menanti jawaban.
Menangkap sosok
wanita itu di sudut pandangannya, Krus
mulai
menyusun perhitungan di dalam
kepalanya.
Anima sangat
penting sebagai sumber daya. Kenyataan itu pun tidak berbeda bagi rekan-rekan
di Kapal Mensis. Namun yang menjadi masalah lebih besar adalah bahwa Anima yang
menaiki Kapal Mensis mengantongi keahlian bertempur menggunakan kapal terbang.
Anima pada
umumnya hanya dikhususkan untuk menggerakkan kota layang saja.
Akan tetapi,
tiga orang Anima yang dipimpin oleh Luciola adalah Anima yang telah dilatih
selama bertahun-tahun hingga menguasai teknik khusus untuk mengemudikan kapal
terbang.
Sebisa mungkin, dia enggan membuat mereka terkuras untuk hal lain di
luar tugas utama mereka.
Mengalah satu
langkah, dia telah
menyetujui pengoperasian transceiver saat pengerukan. Namun untuk
pengoperasian kota layang yang bebannya
jauh lebih berat dari itu, dia sama sekali tidak berniat membiarkan mereka melakukannya.
Pada akhirnya, Krus tiba pada jawaban yang sudah ditetapkannya sejak awal.
“Yang kami butuhkan saat ini adalah kapal terbang.
Namun, kami ingin bertaruh pada kemungkinan untuk menarik kembali anggota awak
kapal kami sebisa mungkin. Bisakah kamu memberi kami
kelonggaran waktu satu hari saja?”
Dalam ucapan Krus, entah kenapa nada ketegasan yang
biasanya ada tampak memudar. Di penghujung kalimatnya, tersirat suasana
menyerupai permohonan yang menggugah emosi, sesuatu yang sama sekali tidak
pernah dia perlihatkan sebelumnya.
Terlebih lagi, itu bukan hanya tercermin dari
kata-katanya.
Kekakuan di wajah Krus telah mengendur, dan
ketajaman tatapan matanya pun meredup.
Menghadapi perubahan sikapnya, Invel mendengus
pelan. Sambil mengadahkan dagunya yang tirus dan tersusun indah, dia memejamkan
mata lalu mengembuskan napas panjang.
“Pria yang licik kamu ini. Di saat seperti ini malah
memasang wajah pria penyayang seperti dulu.”
Usai melemparkan pandangannya ke luar seolah
mengenang masa lalu, Invel mengalihkan tatapannya ke arah Shitaharu yang
berdiri terpaku di samping lift. Tidak diketahui bagaimana Shitaharu menangkap
arti tatapan sang ketua, namun wanita itu mengangguk balik tanpa bersuara.
Kali ini, benar-benar dengan mengembuskan napas
pusing yang pasrah, Invel mengedikkan bahunya.
“Hah, cuma sehari, ya. Lebih dari itu aku tidak akan
mengalah.”
“Aku berutang budi padamu.”
Mendengar balasan Invel, Krus langsung melangkah
menuju lift saat itu juga. Dalam selangkah pertama yang diayunkannya, sosoknya
telah kembali sepenuhnya menjadi wujud orang dewasa yang dingin dan tenang
seperti biasa.
Mengamati sikap pria itu, Invel menopang pipinya
sembari menggelengkan kepala.
“Hei, Krus.”
Suara Invel menghentikan langkah Krus yang baru saja
masuk ke dalam sangkar lift. Langkahnya terhenti, lalu dia menengadahkan
wajahnya.
Wajah pucat dengan lingkar mata yang melesak ke
dalam. Warna matanya yang memudar tampak suram dan keruh. Menatap lekat-lekat
wajah buruk dari pria itu, Invel menyibak rambut panjangnya.
“Sejak kapan kamu berubah menjadi pria sejahat itu?”
Menanggapi mata Invel yang terarah penuh cemooh, Krus
memiringkan kepalanya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Lalu, dia menarik
tipis sudut bibirnya.
“Aku juga sudah punya hal yang harus kulindungi.
Hanya itu.”
Sebagai penutup kalimat tersebut, Krus menahan
Shitaharu yang menumpang bersamanya, lalu menutup pintu lift dengan tangannya
sendiri. Di balik pintu, sangkar besi mulai bergerak meluncur, menyapu habis
sosok dan keberadaan pria itu.
“Begitu, ya. Kamu juga sudah berubah menjadi orang
dewasa yang hebat, rupanya.”
Invel menggumam sembari tetap duduk di kursinya,
lalu terus menatap ke balik dinding untuk beberapa saat seolah enggan berpisah.
Saat Krus kembali ke wisma tamu, para anggota Kapal
Mensis telah berkumpul di ruang keluarga.
Ditinggal oleh tatapan para Anima yang duduk
mengelilingi meja, Krus melangkah mendekati mereka dalam diam.
“Hei, Kapten. Bagaimana hasilnya?”
Melihat Krus yang tidak menggerakkan wajahnya
sedetik pun, Nebula bertanya dengan cemas.
Krus menjawab singkat disertai helaian napas.
“Aku sudah mengamankan batas waktu sehari.”
“Cuma sehari?”
Dengan wajah tegang yang berpadu dengan nada bicara
kasar, Nebula membangkitkan tubuhnya dari kursi. Melihat sosoknya yang tampak
hendak meledak marah saat itu juga, Nox yang duduk di sisinya menarik lengan
bajunya untuk menenangkan.
Sembari berdiri di dekat jendela, Krus mengencangkan
wajahnya agar tidak terlihat oleh mereka.
Kepada para anggota Kapal Mensis, sebelumnya dia
telah menyampaikan perkembangan situasi dan berbagai kemungkinan yang akan
terjadi ke depannya. Mengenai kenyataan bahwa Barakaja takkan terus menetap di
wilayah udara ini, serta bagaimana Proyek Mensis akan dijalankan jika mereka
sampai kehilangan Nil.
“Sepertinya negosiasinya tidak berjalan lancar, ya.”
Sebuah suara terdengar dari tangga lantai dua,
membuat Krus mengikis emosi dari wajahnya lalu berbalik.
Pemilik suara itu adalah Agatha. Sambil melangkah
turun dari tangga, wanita itu menyeka kacamata sembari mengarahkan matanya yang
tampak mengantuk ke arah Krus. Di dalam mata itu tidak terlihat emosi yang
berlebihan. Tatapannya murni seperti seseorang yang sedang bertanya mengenai
urusan pekerjaan.
“Sehari. Lebih dari itu mereka tidak bisa menunggu.”
“Lalu, apa mereka tidak meminta kita meminjamkan
Anima?”
“Mereka meminta, tapi aku menolaknya.”
Melirik Nebula dan Nox yang menatap mereka berdua
dari ruang keluarga, Krus mengutarakannya dengan tegas.
Gadis-gadis itu tidak mengetahui kerumitan situasi
yang sebenarnya. Apakah karena fakta bahwa diri mereka diungkit dalam
pembicaraan terasa mengejutkan, mereka saling bertukar pandang.
“Jadi hasilnya tenggat waktu satu hari, ya. Yah,
tidak buruk kurasa?”
Mengenakan kembali kacamatanya, Agatha memiringkan
kepala. Padahal nyawa rekan mereka sedang dipertaruhkan, namun akhir dari
pembicaraan ini terasa dicapai begitu mudah.
Apakah karena merasa tidak puas akan hal itu, Nebula
memotong pembicaraan dengan emosi.
“Maksudmu, kalau setelah sehari mereka tidak
kembali, kita akan meninggalkan mereka?”
Sembari menatap bergantian ke arah Agatha dan Krus,
Nebula mengibaskan rambut merah mudanya dengan kebingungan.
Menerima tatapan dari Agatha yang mengisyaratkan
agar dirinya yang menjawab, Krus pun membuka suara.
“Benar. Jika sampai besok Nil dan Magami belum juga
kembali, Barakaja akan berpindah ke wilayah udara lain demi pengerukan kapal
terbang. Bagi kita kehilangan mereka adalah kerugian yang menyakitkan, tetapi
kita tidak bisa menunggu selamanya.”
“Mereka berdua masih hidup! Soalnya itu Nil. Dia
tidak akan mati cuma gara-gara hal sepele. Kadang dia memang nekat, tapi di
sana ‘kan ada Magami juga. Mustahil mereka...”
“Tentu saja, aku tidak berpikir mereka sudah tewas.
Jika masih hidup, harusnya hari ini atau besok mereka akan naik ke atas.”
“Tapi... apa tidak bisa menunggu sedikit lebih lama
lagi?”
Menerima tatapan yang diliputi emosi membara dari
kedua Anima tersebut, Krus beralih pandang ke luar jendela. Melihat dirinya
yang memberi sedikit jeda waktu, Agatha pun mulai menjawab.
“Menerbangkan kota layang itu tidak gratis, tahu.
Anima yang berada di sini pun sama seperti kalian. Mereka terus membakar nyawa
mereka yang berharga. Kita tidak bisa membuang-buang itu dengan cuma-cuma hanya
demi emosi berupa harapan dan belas kasih belaka. Kalian mengerti, ‘kan?”
Mendadak dihadapkan pada kenyataan kejam yang
membelenggu Anima, mereka berdua terbungkam.
Esok hari bisa jadi giliran mereka sendiri. Sebagai
pihak yang merasakan hal itu lebih nyata dari siapa pun dan berada di garis
paling depan di dunia, tidak ada penjelasan yang lebih mudah dipahami bagi mereka
selain ini.
Namun meski begitu, Nebula tampaknya tetap tidak
bisa menerima keputusan itu. Dengan emosi yang nyaris membuatnya menangis, dia
memukul meja.
“Kalau begitu, aku saja yang menerbangkannya! Kota layang
sereceh ini sih sanggup kuterbangkan seminggu atau dua minggu sekaligus! Kalau
begitu, kita bisa menunggu di wilayah udara ini, ‘kan?”
Nebula berteriak seolah ingin menepis kecemasannya.
Akan tetapi dalam sekejap, tatapan tajam Krus terarah
padanya, membuat tubuh gadis itu kaku seketika.
“Tidak. Aku tidak bisa membiarkan kalian membuang-buang
waktu kalian yang berharga.”
“B-Bukan membuang-buang waktu! Kalau Nil dan Magami
sampai bisa kembali...”
“Bagaimana kalau mereka tidak kembali? Menggerakkan
kota layang seluas ini akan menguras nyawa yang tidak sebanding dengan Kapal
Mensis. Kalian akan terus menghabiskan sisa umur kalian dengan cuma-cuma. Itu
tidak akan pernah kuizinkan.”
Kata-kata Krus sangat tegas. Selain nada bicaranya, kalimat
yang dilandasi oleh tekad dan perasaannya menghantam Nebula, membuat gadis itu
mengepalkan tinjunya dengan penuh penyesalan.
Perasaan Krus pun tersampaikan dengan jelas kepada
mereka. Justru karena itulah, emosi tidak terbendung yang menumpuk di dalam
dada mereka malah mengalami kegagalan pembakaran.
“Tapi...”
Mewakili perasaan Nebula, Nox menyuarakan gumaman
pelan.
Namun tidak ada lagi kata-kata yang terucap
setelahnya. Melihat kebingungan yang membayang di wajahnya yang biasa tanpa
ekspresi, Agatha mengembuskan napas panjang.
“Aku paham. Kami pun tidak ingin meninggalkan mereka.
Tapi kenyataan selalu menuntut kita untuk memilih sesuatu dan mengorbankan yang
lainnya. Tolong mengertilah.”
Suara Agatha bergema di ruangan dengan nada rendah
dan diselimuti emosi yang lembut.
Tepat saat semua orang yang berkumpul di sana mulai
diliputi atmosfer yang terpaksa harus menerima kenyataan tidak terelakkan itu.
Mendadak terdengar sebuah suara dari arah pintu
masuk ruangan.
“Kalau begitu, aku yang akan menjadi pengganti untuk
menerbangkan Barakaja.”
Luciola berdiri bersandar di bingkai pintu yang
menuju ke tangga.
Wajahnya yang terlihat di balik rambut hitamnya yang
berantakan sama sekali tidak tampak baik. Kulitnya pucat sepucat mayat, berpadu
dengan bibir yang kering. Matanya yang memerah tampak masih belum sanggup
berfokus dengan benar.
Melihatnya, Agatha bergegas berlari menghampiri.
“Luciola. Kamu harus berbaring tidur. Ini akan
membebani tubuhmu.”
Luciola menolak bantuan Agatha yang hendak
memapahnya sembari mengarahkan tangannya ke depan. Sambil menarik napas pendek
berkali-kali, dia mengarahkan wajahnya pada Krus yang berdiri di ujung ruangan.
“Kapten Krus. Kapten sangat peduli pada kami. Aku sangat
paham akan itu. Namun jika kita kehilangan Nil, pada saat ada orang yang
sanggup menggantikan perannya muncul, kita semua pasti sudah mati.”
Perbedaan antara sisa umur Anima dan rentang waktu
yang telah dihabiskan oleh Proyek Nil sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Apa
yang dikatakan Luciola adalah kebenaran yang sama sekali tidak salah.
Justru karena itulah, menghadapi tatapan tulus dan
jujur dari Luciola yang mengutarakan kenyataan kejam tersebut, Krus hanya
sanggup mengangguk balik dalam diam.
“Namun, tetap saja jauh, jauh lebih baik jika rekan
yang pernah berjuang bersama kita bisa bertahan hidup. Lagi pula, aku memang
berjuang untuk itu.”
Usai mengutarakannya, Luciola membangkitkan tubuhnya
yang terasa berat dari dinding, lalu berdiri di atas lantai dengan kakinya
sendiri. Kemudian, dia mengarahkan pandangannya yang lembut kepada Nebula dan
Nox.
“Karena itulah, jika ada satu kemungkinan dari
sepuluh ribu sekalipun, aku ingin bertaruh pada kelangsungan hidup mereka. Jika
nyawaku bisa digunakan untuk ikut bertaruh dalam itu, izinkan aku
melakukannya.”
Menyaksikan keberanian Luciola di depan matanya,
Nebula tersedu. Nox pun terus menunduk sembari menggigit bibirnya kuat-kuat.
Hanya saja, Krus selaku pemimpin Kapal Mensis tidak
mengubah ekspresinya sedetik pun. Sebaliknya, tatapannya semakin tajam,
melangkah mendekat seolah hendak menguji tekad Luciola.
“Luciola. Kamu mengerti ‘kan apa yang sedang kamu
ucapkan?”
“Aku sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi. Jika
begitu, aku ingin menuntaskan tugas yang aku pikul di Kapal Mensis. Hingga
akhir, aku ingin menyaksikan makna dari sesuatu yang telah mempertaruhkan nyawaku.
Karena itu, kumohon.”
Luciola melangkah maju satu langkah di hadapan Krus dengan
tubuh yang tampak bisa terhuyung kapan saja.
Lalu, dia membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
“Beri aku izin untuk mengemudikan Barakaja.”
Sambil menatap kepala gadis yang menunduk di
hadapannya, untuk pertama kalinya wajah Krus membayang keruh dan pahit. Usai
meluapkan emosi yang membuncah bersama helaan napas, dia merapikan kerah
mantolnya lalu melangkah menuju pintu keluar.
Di samping Luciola yang masih menundukkan kepala, Krus
melintas pergi. Di saat yang sama, teguran Agatha yang bergumam “Yang benar
saja” terdengar.
“Aku akan menyampaikan ini pada Invel. Luciola, kamu
dibebaskan dari seluruh tugas sampai rinciannya diputuskan.”
“Eh?”
Mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka,
Luciola mengangkat wajahnya dengan sigap.
Melihat dirinya yang terhuyung akibat gerakan
mendadak itu, Agatha dengan panik merengkuh tubuhnya. Menatap kondisi gadis
itu, Krus mengerutkan alisnya dengan sangat heran.
“Jika kamu berniat menuntaskan tugasmu, pertama-tama
pulihkan dulu kondisi tubuhmu. Paling cepat, nanti malam kamu sudah harus tiba
di ruang kemudi.”
Usai mengutarakannya secara lugas tanpa intonasi, Krus
membuka pintu dengan sigap lalu melangkah keluar. Sambil menyaksikan keberadaan
pintu yang perlahan tertutup rapat, Luciola menatap Agatha.
“Dia memang kaku dalam berkata-kata, jadi maafkan
dia, ya.”
Kalimat Agatha sama sekali tidak terdengar seperti
ucapan yang ditujukan kepada seorang kapten. Namun pada ucapan yang diliputi
perasaan bagai kepada keluarga sendiri itu, senyum lega mengembang di bibir
Luciola.
* * *
Meski ada cahaya dari lampu darurat, suasana di
dalam pangkalan terasa terlalu gelap untuk melakukan pekerjaan. Mempertajam
pandangannya pada bayangan yang ada, Magami mengencangkan baut mengandalkan
sensasi pada kunci pas yang digenggamnya.
“Nil, bisa geser lampunya ke sini sedikit?”
Gumam Magami yang merangkak masuk ke bawah mesin
kepada Nil.
Akan tetapi, bahkan setelah beberapa saat berlalu,
tidak ada pertanda bahwa cahaya itu bergerak. Sambil mengembuskan napas panjang
pelan, dia merangkak keluar dari bawah mesin diiringi derit roda papan luncur
mekaniknya.
“Nil? Kamu tidak apa-apa?”
Magami bertanya dengan cemas saat menemukan sosok
yang masih membungkuk di tengah pendaran cahaya yang redup.
Di sana Nil baru menyadari suara Magami. Sambil
mengibaskan rambut panjangnya dia berbalik, lalu mengambil sebuah kunci pas
dari kotak perkakas seolah-olah tadinya dia mendengarkan perkataan pemuda itu.
“Kunci pas ukuran 17 inci, ‘kan? Harusnya yang ini?”
“Kalau yang itu sudah kamu serahkan tadi. Sekarang
aku butuh lampunya.”
Magami menunjuk ke arah lentera portabel isi ulang
yang tergeletak di atas lantai. Wajah Nil terarah pada lampu tersebut, dan
wajahnya membayang muram.
“Maaf. Sepertinya aku melamun lagi.”
“Tidak apa-apa, kok. Kamu pasti masih lelah. Kalau
mau beristirahat di sana dulu juga tidak apa-apa.”
“Tidak. Kalau cuma diam saja, aku malah memikirkan
hal-hal yang tidak perlu. Membantumu justru membuat perasaanku terasa agak
lebih tenang... mungkin.”
Meskipun mengutarakannya demikian, pada kenyataannya
Nil tetap saja memikirkan berbagai hal di tengah pekerjaannya.
Magami sangat mengerti, namun dia tidak bisa begitu
saja mengabaikan apa yang harus dikerjakannya saat ini.
Jam elektronik yang terpasang di dinding menunjukkan
bahwa waktu telah berada di larut malam. Lima hari telah berlalu sejak mereka
jatuh ke dalam Lapisan Abu, dan hari keenam akan segera tiba.
Sambil menyeka keringat yang mengalir di dahinya,
Magami merasakan firasat bahwa batas waktu kian mendekat.
“Mungkin Barakaja masih berada di atas sini. Tapi
kita harus bergegas.”
“Benar. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan menunggu
kita sampai seminggu.”
Magami dan Nil sama-sama menengadah menatap
langit-langit, padahal dari sana langit sama sekali tidak terlihat. Sambil
merindukan langit biru yang sudah lama tidak dilihatnya, Magami kembali melihat
ke perangkat di hadapannya.
“Ada beberapa suku cadang yang masih kurang, jadi
ayo kita cari malam ini. Dengan begitu besok perangkat peluncur naik ini sudah
bisa selesai.”
Sambil menepuk pelan perangkat yang tersusun agak
janggal itu dengan tangannya, Magami berucap pada Nil. Gadis itu pun berdiri di
samping perangkat tersebut lalu menatap gumpalan besi di bawahnya dengan penuh
kesan.
“Hebat ya, dalam sehari kamu bisa menyusunnya sampai
sejauh ini. Seperti sudah ada gambar desainnya saja sejak awal.”
“Prinsip kerjanya sederhana, sisanya cuma tergantung
kombinasi suku cadang yang ada di tangan. Intinya sama seperti balon udara,
yang rumit itu cuma menyusun pembakar dan mengatur besaran keluarannya...”
Mungkin sudah menjadi tabiat seorang teknisi, Magami
mulai menunjuk-nunjuk mekanisme mesin dan bersiap memberikan penjelasan. Nil di
sisinya pun bukannya menghentikan, malah ikut mengangguk-angguk menyimak, yang
juga merupakan kebiasaan buruk di antara mereka.
Magami berjuang menahan dirinya, lalu berdeham
pelan.
“Maaf. Daripada banyak bicara, lebih baik
memprioritaskan tangan kita untuk bergerak, ya.”
“Ya. Maaf, aku juga malah kelepasan mendengarkan.”
Keduanya saling meminta maaf, lalu tersenyum malu
satu sama lain.
“Kalau begitu, ayo kita ambil suku cadang yang
kurang. Aku butuh bagian penyambung untuk memasang pembakar dan silinder bahan
bakar. Lalu kalau ada bantalan peluru di bagian yang menghubungkan keranjang
dan balon, itu akan sangat membantu. Kurasa suku cadang itu ada di kapal
terbang kecil di sebelah sana. Mau ikut denganku?”
“Baiklah. Aku ikut.”
Nil memungut kotak perkakas di kaki kakinya, lalu
mulai melangkah menuju kapal terbang yang terlihat di sudut dok. Magami yang
membawa lampu dan tas pun bergegas mengekor di belakangnya.
Sepanjang hari kemarin, Magami dan Nil telah
menjelajahi seluruh sudut dok ini untuk mencari apakah ada barang yang bisa
dimanfaatkan untuk meloloskan diri.
Hasilnya, mereka mendapati bahwa beberapa kapal
terbang terparkir di dalam tempat ini.
Selain kapal terbang bercat putih yang mereka
temukan pertama kali, ada pula kapal terbang kecil berkapasitas dua orang,
kapal terbang berukuran sedang yang sedikit lebih besar dari itu, hingga
helikopter pengangkut barang yang digunakan untuk mengangkut perbekalan.
Semua kendaraan itu tidak ada yang dilengkapi dengan
Mekanisme Amadeus. Terlebih lagi, mekanisme kapal-kapal itu bukanlah tipe isi
ulang yang marak ditemui di langit saat ini. Jika dilihat dari strukturnya,
semuanya merupakan tipe kendaraan yang terbang menggunakan bahan bakar cair
dari masa lalu.
Usai memeriksa sisa-sisa endapan di dasar tangki
bahan bakar, Magami menduga bahwa zat itu pastilah apa yang dinamakan bahan
bakar fosil. Sebuah peninggalan masa lalu yang tidak pernah lagi didapatkan
maupun digunakan di atas langit.
“Tidak disangka aku malah akan menggunakan benda
seperti ini.”
Gumam Magami seolah mengenang masa lalu. Nil
berbalik menanggapi gumaman seorang diri pemuda itu.
“Bicara soal apa?”
“Tidak, cuma memikirkan bahan bakar fosil yang ada
di sini.”
“Bahan bakar fosil?”
“Ya. 300 tahun yang lalu, sebelum Lapisan Abu menyebar
di dunia ini, zat itu sangat sering digunakan. Bahkan sampai sekarang, minyak
atau gemuk yang berbahan dasar zat itu masih terus digunakan berulang kali
setelah disaring, tapi menggunakan bahan bakarnya secara langsung hampir tidak
pernah terjadi lagi.”
“Kenapa begitu?”
Dengan wajah letih, Nil memiringkan kepalanya
menyimpan keraguan polos. Melihat sosok gadis itu yang sudah lama tidak disaksikannya,
suasana hati Magami secara alami menjadi lebih cerah.
“Bahan bakar fosil itu kalau dipakai akan habis.
Barang yang tidak bisa didaur ulang harus terus-menerus diproduksi. Tapi bahan
bakar fosil tidak bisa didapatkan kecuali dipompa keluar dari dalam tanah.”
“Hmm. Manusia zaman dulu ternyata menggunakan barang
yang sangat merepotkan, ya.”
“Yah, bisa dibilang begitu.”
Sambil memikirkan manusia di masa lalu yang bahkan
sulit dibayangkan oleh pikirannya, Magami mengangguk.
“Pada zaman dulu, selain bahan bakar fosil
sepertinya ada berbagai macam energi lain. Tapi yang tersisa di dunia saat ini
cuma Mekanisme Amadeus dan konverter sinar matahari. Makanya, kapal terbang
seperti ini justru terasa sangat langka.”
Begitu menghentikan langkah di depan kapal terbang
kecil, Magami menyentuhkan tangannya pada bodi kapal lalu mengintip ke bagian
dalam.
Meskipun dia telah melepas beberapa bagian pelindung
luar dan mengamati isinya, setiap kali melihatnya dia selalu dibuat kagum oleh
rancangan yang telah diperhitungkan dengan sangat presisi.
“Nil, tolong lampunya ke arah sini.”
Magami yang membenamkan kepalanya ke dalam
kompartemen roda melambaikan tangannya pada Nil.
“Di sini oke?”
“Ya. Pas sekali.”
Menemukan pipa kuis kecil di antara tumpukan kabel
yang tidak terhitung jumlahnya, dia mulai melepas penguncinya. Di ujung
pandangan keduanya yang menatap lekat sembari merapatkan tubuh di ruang sempit
tersebut, sesuatu terlepas diiringi bunyi klak.
“Sip. Kalau begini sepertinya bisa dipakai.”
Genggaman jemarinya yang terbungkus sarung tangan
meraih komponen logam tersebut, dan Magami tersenyum gembira sembari melirik ke
sisinya. Di sana Nil berdiri membawa lampu di salah satu tangannya.
Gadis itu pun ikut tersenyum terpancing oleh ukiran
senyum di wajah Magami.
Akan tetapi, Magami mendadak tersadar saat mencoba
melihat situasi mereka saat ini dari sudut pandang luar.
Jarak antara tubuhnya dan gadis itu hampir mendekati
nol, dan wajah mereka berada dalam jarak sedemikian dekat hingga embusan napas
pun dapat terasa. Tubuh mereka saling menempel sepenuhnya, mengalirkan
kehangatan suhu tubuh gadis itu padanya.
Merasakan kelembutan tubuh gadis itu melintasi helai
pakaian, telinga Magami seketika memerah panas. Sambil menelan ludah, aliran
darah terasa naik ke wajahnya.
Tidak sanggup menahannya lagi, Magami bergegas
memutar tubuhnya lalu merangkak keluar dari dalam bodi kapal.
“Anu, untuk sementara pipa bahan bakarnya sudah
terhubung, deh. Lalu, sisanya apa lagi, ya?”
Rasa tenang yang menyelimutinya hingga tadi seketika
sirna, dan Magami berbicara dengan gagap. Nil menatap pemuda itu dengan heran.
“Kalau tidak salah bantalan peluru?”
“Ah, benar juga. Bantalan peluru. Aku butuh yang
ukurannya kira-kira sebesar ini...”
Menggambarkan ukurannya dengan kedua belah tangan,
Magami menggaruk pipinya.
Emosi yang mendadak muncul dan bergolak di dalam
kepalanya terasa begitu memalukan sekaligus bagai sebuah kesalahan, hingga
Magami tidak sanggup mengunci pandangan dengan Nil.
Dia tahu betul pipinya terasa membara dan masih
memerah. Saat dia bergumam pusing di dalam hati, Nil melangkah mendekat tanpa
ragu.
“Magami. Kamu juga sebenarnya merasa lelah, ‘kan?”
Nil tampak mengkhawatirkannya dari lubuk hati yang
paling dalam. Bertekuk lutut di sisinya, gadis itu mendekatkan wajahnya
rapat-rapat.
Lalu, ujung jemarinya yang kurus tertempel di dahi
Magami.
“Mungkin kamu demam. Wajahmu merah sekali.”
“Tidak. Kurasa aku tidak demam, kok.”
“Hmm...”
Dengan wajah tegang, Nil terus mengamati wajah
Magami dari jarak yang sangat dekat. Melihat hidungnya yang indah mendekat
hingga nyaris bersentuhan, Magami refleks menahan napasnya.
Gadis ini pasti sedang bersikap serius, namun Magami
sama sekali tidak sanggup memikirkan hal itu. Dia merasa wajahnya kian membara
panas.
“Aku tidak apa-apa, Nil. K-Kamu tidak perlu memikirkanku.”
Merasa tidak sanggup menahannya lebih lama lagi,
Magami menepis pelan Nil lalu bangkit berdiri. Di belakang punggungnya yang
sedang menepis debu di bagian pinggul, alis Nil meredup agak serba salah.
“Magami. Aku selalu merasa gembira karena kamu
selalu mengkhawatirkanku. Aku juga paham kalau kamu memaksakan diri gara-gara
aku. Tapi, kalau kamu merasa berat, andalkanlah aku.”
Nada bicara Nil tidak memancarkan ketegasan maupun
ketajaman khas dirinya. Nada suaranya terdengar ringkih, seolah bercampur
antara rasa bingung dan rasa malu.
Magami merasakan bahwa kata-kata itu adalah perasaan
jujur yang tersimpan di dalam hati gadisnya, namun justru karena itulah dia tidak
punya keberanian untuk berbalik menatapnya.
“Ya. Aku tahu.”
Guna menyembunyikan rona merah di wajahnya, Magami
mengusap pipinya dengan sarung tangan. Dia merasa noda minyak di tangannya
menempel di wajah, namun itu tidak lagi dipedulikannya.
Detak jantungnya bertabuh kencang dan napasnya
memburu. Apa yang sebenarnya dipikirkannya di saat-saat seperti ini? Magami
menepuk pipinya pelan sebagai bentuk peringatan pada dirinya sendiri.
“Nah, sekarang bantalan peluru. Ayo cepat cari dan
selesaikan perangkatnya.”
Di samping pemuda yang kembali berbalik menghadap
kapal terbang itu, Nil mengangguk balik dengan sedikit rasa cemas.
* * *
Barakaja yang tadinya melayang menetap di atas
langit, kini mulai menaikkan ketinggiannya.
Tim pengamat cuaca menangkap adanya gangguan arus
udara di kejauhan, lalu mengeluarkan instruksi guna menghindari bahaya
kontaminasi. Perlahan-lahan, bodi raksasa Barakaja terbang makin tinggi ke
langit, diiringi suhu udara yang kian membeku.
Di sepanjang koridor logam yang terpasang di bagian
luar, lapisan es tipis berwarna putih mulai membayang, dan asap hitam buangan
pun makin memekat warnanya. Tepat ketika warna langit bergeser dari kebiruan
menjadi kian gelap, Barakaja akhirnya menghentikan kenaikan ketinggiannya.
Atmosfer di sekeliling sangat tipis dan dingin,
hingga terasa begitu menyiksa bagi manusia untuk bertahan hidup. Seluruh akses
yang terhubung dengan udara luar tertutup rapat, dan seluruh penduduk kota
telah dievakuasi ke bagian dalam kota.
Luciola yang duduk di ruang kemudi Barakaja menatap
monitor yang ukurannya jauh lebih kecil dan bidang pandangnya jauh lebih sempit
dibanding milik Kapal Mensis, lalu mengembuskan napas panjang.
“Perpindahan kenaikan ke ketinggian yang
direncanakan telah selesai.”
Usai menyuarakan laporan tersebut ke perangkat
komunikasi elektronik, suara petugas pengawas bergaung membalas diiringi derau.
“Terima kasih atas kerja kerasnya. Badai
diperkirakan baru akan berlalu sekitar 6 jam lagi. Kami akan terus membagikan
informasi secara berkala, jadi tolong pertahankan ketinggian saat ini.”
“Dimengerti.”
Lampu penanda panggilan pada perangkat komunikasi
padam, dan Luciola membiarkan seluruh tubuhnya bersandar pada sandaran kursi
sembari tetap menggenggam tuas kemudi.
Sensasi nyeri tumpul mendera di sekitar pelipisnya,
diiringi keringat dingin yang mengalir tidak menyenangkan di sepanjang tulang
belakangnya.
“Kota layang ternyata benar-benar berat, ya.”
Mumpung tidak ada siapa-siapa di sana, Luciola
meluapkan keluhannya disertai senyum getir.
Barakaja dikategorikan sebagai kota layang berukuran
semi-besar. Karena mengangkut banyak derek, peralatan, hingga material yang
tersimpan di bagian dalamnya, bobotnya jauh lebih berat dari yang terlihat.
Saat terhubung secara nyata dengan Mekanisme Amadeus
untuk menggerakkan kota ini, situasi itu terasa kian mengimpit dan dapat
dipahaminya secara mendalam.
Demi menenangkan pikirannya, Luciola menarik dan
mengembuskan napas secara perlahan berturut-turut.
“Ini baru saja dimulai, Luciola. Aku harus bertahan
selama 3 hari, atau bahkan 5 hari.”
Menatap rekaman permukaan Lapisan Abu yang terpapar
di dalam monitor, dia membujuk dirinya sendiri.
Keputusan untuk mengambil alih kemudi Barakaja dari
Anima aslinya baru terjadi kemarin. Dan sejak saat itu tanpa beristirahat
sedikit pun, dia terus menerbangkan kota layang ini seorang diri. Yang
seharusnya digilir setiap 8 jam sekali, ditanggungnya sendiri.
Mencoba meneguhkan kembali tekadnya, Luciola
menegakkan punggungnya tepat saat suara pintu ruang kemudi yang terbuka
terdengar di telinganya. Pintu besi tipe manual yang berbeda dari Kapal Mensis
terkuak, dan sebuah kepala berwarna merah muda mendadak menyembul masuk.
“Luciola! Aku membawa minuman, makanan, dan banyak
barang lainnya!”
Yang melangkah masuk ke dalam ruang kemudi dengan
gerak kaki terhuyung dan berbahaya adalah Nebula.
Dengan tubuh kecilnya yang membopong berbagai
barang, dia mendekati Luciola sembari menunjukkan ekspresi yang dibuat-buat
ceria.
“Luciola, kamu suka roti lapis sayuran segar, ‘kan?
Lalu Agatha juga menyeduhkan teh bunga. Katanya teh hangat sangat baik untuk
tubuh yang lelah. Aku sendiri belum pernah meminumnya sih, jadi penasaran
rasanya seperti apa. Karena baru saja diseduh jadi masih panas, ya. Hati-hati.”
Nebula berbicara dengan nada cepat sembari menata
barang-barang yang dibawanya satu per satu ke area kosong di samping kursi
kemudi. Menatap punggung kecil gadis itu, senyum lembut mengembang di pipi
Luciola.
“Terima kasih, Nebula.”
“Bukan apa-apa, aku cuma membawakannya karena
disuruh, kok. Harusnya aku saja yang menggantikanmu, tapi Kapten benar-benar
keras kepala dan menolak mentah-mentah. Padahal kalau digilir bertiga, jam
kerjanya tidak bakal seberat ini.”
Nebula membusungkan pipinya sembari bersedekap.
Bicara gadis itu terasa jauh lebih banyak dari
biasanya, dan gestur tubuhnya pun terkesan berlebihan. Setiap hal kecil itu
pastilah wujud perhatian khas dirinya untuk Luciola.
Luciola mengulurkan tangannya ke arah Nebula yang
sedang bersungut-sungut.
“Mumpung sudah dibawakan, boleh aku minta roti
lapisnya?”
“Oh, tentu saja. Maaf ya, daripada mendengarkan
keluh kesahku, kamu pasti lebih ingin makan.”
Berbalik dengan panik, Nebula menyerahkan roti lapis
dengan gerakan lincah dan cekatan khas dirinya. Terkejut merasakan bobot mantap
di tangannya, Luciola menatap roti lapis yang diterimanya.
“Ini porsinya lumayan padat, ya.”
“Tentu saja, ini ‘kan buatan spesialku.”
Tampaknya Nebula menangkap gumaman Luciola sebagai
sebuah pujian. Dia bertolak pinggang sembari membusungkan dada.
Luciola mengamati roti lapis di genggamannya secara
saksama.
Sayuran daun yang dipotong secara kasar memiliki
bentuk yang tidak seragam. Potongan tomat merahnya tidak sama tebal, bahkan
irisannya miring. Rotinya pun agak berserat, dan bagian pinggirannya masih
dibiarkan menempel begitu saja.
Kendati demikian, Luciola merasa dapat melihat
ketulusan Nebula di balik roti lapis yang tampak canggung ini. Menggigit bagian
sudut segitiganya yang tidak simetris, Luciola membalas dengan senyuman terkembang
penuh.
“Terima kasih. Ini enak sekali.”
“T-Tentu saja! Kalau aku yang memasak, sebagian
besar masakan pasti jadi enak!”
Ucap Nebula dengan tegas, meski matanya jelas-jelas
bergerak panik.
Akan tetapi, seolah merusak pembelaan diri gadis
itu, sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk ruang kemudi.
“Shitaharu ikut membantu.”
Saat menoleh ke arah suara itu, sebuah kepala
berambut biru mengintip masuk. Nox dengan matanya yang tampak mengantuk
mengamati interaksi kedua orang itu dengan lekat.
“T-Tidak! Aku cuma minta bahan makanan pada Shitaharu,
yang membuatnya tetap aku!”
“Lagi pula, produk gagalnya ada 15 buah.”
“Tidak sebanyak itu! Memang ada yang sedikit gagal,
tapi tidak sampai 15 buah!”
Menanggapi Nebula yang meninggikan suaranya seolah
hendak menghentakkan kaki saat itu juga, Nox memperlihatkan deretan giginya
sembari tertawa terkekeh. Tawa itu makin memicu gejolak emosi Nebula.
Jika dibiarkan seperti ini, suasana akan semakin
bising dan tidak berujung.
Antara heran dan geli, Luciola menengahi keduanya.
“Yah, benar juga sih. Nebula ‘kan memang tidak
pandai memasak. Tapi mengingat ini buatanmu, bukannya ini sudah sangat bagus?”
“B-Benar! Yang lain juga bilang begitu, kok.”
Sambil memelintir ujung rambut keritingnya dengan
jari, Nebula memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya.
Di ujung pandangannya, Nox memiringkan kepala.
Tanpa perlu diucapkan pun, Luciola sudah bisa
menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Nox. Karena itu, Luciola memberikan
kedipan mata sebagai isyarat agar gadis itu tetap diam.
“Oh, Nox juga ada di sini, ya? Kukira tadi cuma
Nebula sendirian.”
Sebuah suara dewasa memotong kehangatan interaksi
ketiga gadis itu. Sosok yang perlahan memajukan kepalanya ke dalam ruang kemudi
adalah Agatha.
Sambil menyandang tas medis di salah satu tangannya,
wanita itu menatap mereka bertiga.
“Sudah waktunya pemeriksaan rutin?”
Sambil mengunyah roti lapisnya, Luciola melirik jam
di tangannya. Waktu telah melewati pukul 12:00. Agatha melangkah turun menuju
kursi kemudi sembari menyuarakan, “Ya, benar.”
“Nebula, Nox. Jika kalian berlama-lama di sekitar
sini, bisa timbul kesalahpahaman yang aneh. Cepat kembali ke wisma tamu.”
“Kesalahpahaman aneh apa maksudmu?”
“Seperti mencuri dengar sistem penggerak Barakaja,
atau diam-diam bergantian mengemudi dengan Luciola, pokoknya berbagai kesalahpahaman
dari segala arah.”
Agatha memberikan jawaban yang berbelit-belit atas
pertanyaan Nebula. Sambil bertekuk lutut dan mulai mengeluarkan peralatan medis
dari dalam tasnya, dia kembali menatap kedua gadis itu bergantian.
“Baiklah, aku akan melakukan pemeriksaan rutin untuk
Luciola, jadi tolong keluar dulu.”
Diberitahu dengan nada suara yang tenang, Nebula
melangkah menuju pintu keluar ruang kemudi dengan enggan. Sebelum benar-benar
pergi, keduanya melambaikan tangan ke arah Luciola yang duduk di kursi kemudi.
“Jangan memaksakan diri ya, Luciola!”
“Sampai jumpa.”
Usai salam khas mereka berdua terucap, pintu pun
tertutup.
Rasa sesak yang berat dan seolah mengimpit dada
kembali menyelimuti ruang kemudi, membuat Luciola akhirnya bisa melemaskan
ketegangan di bahunya.
“Menjadi seorang kakak itu berat, ya. Aku sungguh
merasa bersalah karena selalu mempercayakan peran-peran yang sulit padamu.”
Ujar Agatha sembari menyesuaikan jarum suntik di
tangannya.
Luciola tersenyum lemah, lalu memperlihatkan roti
lapis yang baru dimakannya separuh.
“Anak-anak itu pun sedang berjuang dengan cara
mereka sendiri. Karena itulah, aku merasa bisa terus berjuang. Aku merasa masih
belum boleh tumbang di sini.”
Sambil melanjutkan pekerjaannya, Agatha hanya
mengarahkan tatapan matanya ke arah Luciola lalu menjawab singkat, “Benar.” Tidak
ada lagi hak bagiku untuk mengatakan apa-apa. Suasana sedih yang memancar dari
dirinya seolah menyiratkan pikiran tersebut.
“Roti lapis itu, apakah masih ada rasanya?”
“Sayang sekali, sama sekali tidak ada rasanya. Kamu sudah
mencobanya?”
“Heh. Malah lebih mudah dimakan kalau tidak terasa
apa-apa.”
Itu mungkin kelakar khas Agatha. Menyunggingkan
senyum, dia menempelkan ujung jarum suntik ke lengan Luciola. Proses
pengambilan darah pun berlangsung dengan gerakan tangan yang sudah terampil.
Darah berwarna merah pekat yang diambil ditampung ke
dalam botol berisi zat reagen, lalu warnanya perlahan berubah. Menyaksikan perubahan
tersebut, Agatha mengerutkan alisnya.
Dengan tetap seperti itu, Agatha menggelengkan
kepala dengan penuh penyesalan.
“Kamu pasti sudah tahu, tapi kondisi tubuhmu saat
ini sama sekali tidak baik. Walau perkembangannya ditahan dengan obat, ini tidak
akan bertahan lama. Karena itu, sebisa mungkin jangan melakukan koneksi yang memberikan
beban secara mendadak.”
Nada bicara Agatha yang mulai menyiapkan obat dengan
cekatan terasa begitu tegas.
Luciola pun mengamati perubahan zat reagen di
sisinya, menyaksikan sendiri bagaimana kondisi tubuhnya. Dan dia sangat paham
betul bahwa hasilnya buruk.
Demi mengistirahatkan tubuhnya yang terasa berat,
Luciola menyandarkan seluruh tubuhnya pada sandaran kursi.
“Tapi, hal ini tidak bisa diatur sesuka hatiku, ‘kan?
Soalnya pergerakan kota ini murni hanya digerakkan berdasarkan instruksi
kendali dari Barakaja.”
“Meski begitu, pasti ada situasi di mana kamu bisa
mengurangi bebannya berdasarkan pertimbanganmu sendiri. Jangan memaksakan diri.
Tolong berjanjilah padaku.”
Agatha yang mendadak menghentikan tangannya
mengangkat wajah.
Wajahnya tampak amat serius. Sebesar itulah dia
memikirkan dan memedulikan kondisi Luciola.
“Baiklah. Aku berjanji.”
Ujar Luciola seperti anak kecil yang baru saja
ditegur, lalu melemaskan wajahnya.
“Astaga. Kalian ini semuanya selalu saja suka
memaksakan diri. Aku jadi tidak pernah bisa tenang.”
“Kami?”
“Aku tidak tahu bagaimana pikiran kalian, tapi aku
menganggap diriku sebagai ibu sekaligus kakak bagi kalian semua. Nekat sampai terluka,
atau bertengkar tanpa guna. Bagaimana bisa hatiku tenang?”
Tidak biasanya Agatha menggumam penuh keluhan.
Mendengar perkataannya, Luciola meresapinya dalam-dalam.
Memang benar, Agatha selalu berada di sisi para
Anima. Kadang dengan tegas, kadang dengan lembut, dia terus melindungi mereka.
Di dalam kehidupan sehari-hari yang membuat hal itu terasa wajar, Luciola
merasa sekali lagi menyadari betapa berharganya sosok yang bernama Agatha.
“Agatha.”
Gumam Luciola tepat saat jarum suntik berisi cairan
obat ditempelkan di salah satu lengannya.
Mendengar namanya dipanggil, tangan Agatha terhenti.
“Ada apa?”
Menanggapi Agatha yang bertanya-tanya apakah terjadi
suatu masalah, Luciola menyunggingkan senyum.
“Terima kasih untuk semuanya. Tolong jaga anak-anak
itu, ya.”
“Untuk apa bicara begitu.”
Agatha tertawa getir seolah menganggapnya sebagai
hal yang sepele.
Akan tetapi, dia tidak menyangkal kalimat Luciola
yang diutarakan bagai sebuah pesan terakhir itu. Tidak peduli apa pun yang dilakukan,
kenyataan bahwa gadis itu kian mendekati kematian sama sekali tidak berubah.
Justru karena itulah, dia tidak memberi harapan
setengah-setengah.
Sikap yang sangat mencerminkan Agatha.
Merasakan rasa sakit dari jarum suntik di lengannya,
Luciola mengerakkan alisnya sedikit lalu menatap lurus ke balik monitor. Waktu
yang tersisa baginya terlalu sedikit. Kendati demikian, sampai dia sanggup
menemukan sosok mereka dari balik Lapisan Abu yang terlihat di monitor, dia
harus terus bertahan hidup.
Bahkan jika ada bahaya bahwa nyawanya akan berakhir
di sini.
Luciola kembali menyuap roti lapis di genggamannya.
Dia menelan makanan yang tidak lagi terasa apa pun di dalam mulutnya, lalu
menggenggam tuas kemudi kuat-kuat.
* * *
Bagaimanapun juga, rasa lapar sudah benar-benar
melewati batas.
Begitu selesai menaikkan generator daya berukuran
besar ke atas kereta dorong, Magami terduduk di tempat itu. Erangan yang keluar
dari mulutnya terdengar parau.
“Magami, mau minum?”
Sembari menyeka dahinya yang basah oleh keringat,
Nil muncul dari balik bayangan kereta dorong dan menyodorkan sebuah botol
berisi air. Karena gadis itu ikut bekerja bersamanya, bahu dan lehernya yang
terbuka tampak ternoda oleh keringat dan noda minyak.
“Terima kasih. Walau tidak ada makanan, syukurlah
sistem pemurni airnya masih berfungsi.”
“Benar sekali. Kalau tidak, sekarang kita pasti
sudah mati kekeringan.”
Nil menyeka keringat yang menetes dari dadanya lalu
menatap ke tempat yang jauh.
Di dalam pangkalan ini, sistem pemurni air
beroperasi beriringan dengan sistem pembersihan dan sirkulasi udara. Meskipun
mekanismenya tidak diketahui, berkat hal itulah tersisa lingkungan minimum yang
memungkinkan mereka berdua bertahan hidup walau berada di pangkalan hampir
seminggu lamanya.
Namun, bahan makanan yang tampaknya pernah disimpan
di sini seluruhnya telah membusuk dan tidak ada satu pun yang bisa dimakan.
Dengan kata lain, batas waktu bertahan hidup mereka paling lama adalah satu
minggu.
Sambil mengusap perutnya yang benar-benar kosong,
Magami menatap tubuhnya yang mulai sulit digerakkan karena kehilangan tenaga.
“Manusia kalau tidak makan benar-benar tidak bisa
keluar tenaga, ya. Kalau dalam kondisi biasa, memindahkan mesin sebesar ini
pasti tidak sampai memakan waktu 1 jam.”
“Mau bagaimana lagi. Kita ‘kan baru saja bekerja tanpa
tidur dan tanpa istirahat.”
Di samping Magami yang menyedot botol air yang
disodorkan, Nil menarik napas dalam-dalam seolah mengalihkan perasaannya.
“Dengan begini kita akhirnya bisa pulang. Ke tempat
yang seharusnya kita tinggali.”
Gadis itu menyentuh mesin berbahan bakar yang
diselesaikan Magami sepanjang malam.
Meskipun merupakan mesin rakitan yang disusun dari
tumpukan logam seadanya, berkat adanya pengetahuan dari orang-orang terdahulu,
mesin ini tersusun dengan sangat baik. Bagi Magami sendiri, ini adalah karya
terbaik yang dibuat dengan sepenuh hati.
Magami menoleh menatap mesin yang disandarinya, lalu
mengembuskan napas panjang saat membayangkan jalan yang harus ditempuh untuk
mengangkutnya.
“Setelah memuat benda ini ke dalam lift, kita harus
keluar lewat jalur pengangkut material, ‘kan? Jaraknya kalau ditotal ada hampir
1 kilometer, bukan?”
“Kelihatannya begitu. Ayo berjuang.”
Ujar Nil menyetujui begitu saja dengan santai seolah
hal itu bukanlah masalah besar.
Ada satu hal yang dipahami betul oleh Magami dalam
beberapa hari terakhir ini.
Rupanya di balik tubuhnya yang kurus, Nil memiliki
kekuatan otot dan daya lari yang jauh melampaui gadis-gadis seusianya. Kalau
diperhatikan baik-baik, ada kemungkinan kemampuan fisiknya bahkan lebih tinggi
dibanding Magami.
Hal itu pasti bersumber dari asal-usul kelahirannya.
Proyek Nil. Gadis yang lahir dari hasil persilangan
dengan Spesies Kuno ini memang menunjukkan kebolehan yang melebihi manusia pada
umumnya.
Namun saat ini, hal semacam itu tidak ada
hubungannya.
Malah kenyataan itu terasa disyukuri.
Magami merenungkan kembali rute perjalanan yang
telah diperiksanya terlebih dahulu di dalam kepala, lalu mengedipkan bahunya.
“Yah, seperti kata pepatah, perjalanan seribu mil
dimulai dari satu langkah. Ayo berjuang.”
Magami menepuk lututnya lalu membangkitkan
pinggulnya. Usai menggendong tas berisi perkakas yang dibutuhkan selain mesin
yang telah diikat di atas kereta dorong, keduanya mulai melangkah perlahan.
Kereta dorong yang memuat peralatan yang bisa
disebut sebagai gumpalan besi raksasa itu sungguh berat.
Meskipun demikian, bantuan dari Nil sangat
berpengaruh besar. Walau perlahan bagaikan seekor siput, keduanya menaiki lift
yang berbeda dari yang mereka gunakan saat turun, meluncur naik ke area dekat
permukaan tanah.
Tujuan kedatangan mereka adalah sebuah jalur
pengangkut material yang luas. Jalan dengan lebar hampir 10 meter membentang
membentuk tanjakan landai sepanjang beberapa ratus meter. Sayangnya, lampu
darurat di area ini tidak berfungsi.
“Rasanya agak dingin, ya.”
Keluar dari lift, Magami melangkah ke lorong yang
gelap gulita lalu menyalakan lenteranya. Nil yang mendorong peralatan keluar
bersandar pada kereta dorong untuk menarik napas sejenak.
“Mungkin di luar sedang malam. Ingat tidak, malam
pertama lalu suhunya sangat dingin.”
“Benar juga. Berarti kita sudah makin dekat dengan
permukaan tanah, ya.”
Mengangkat lentera di lorong yang menyerupai rongga
raksasa, Magami menatap lurus ke arah datangnya gaung suara. Di bawah sinar lentera
yang samar, ujung kegelapan tidak dapat tertangkap oleh matanya.
Akan tetapi, tujuan mereka pasti berada di balik
kegelapan itu.
“Bagus, ayo jalan.”
Ujar Magami pada Nil, dan gadis itu pun mengangguk
balik dengan kuat.
Sejak saat itu, perjalanan yang harus mereka tempuh
terasa jauh lebih panjang dari yang dibayangkan. Mereka terus menyusuri jalan
menanjak, dan beristirahat sejenak setiap kali kehabisan napas. Melalui
pengulangan proses tersebut, jalan yang sebenarnya hanya beberapa ratus meter
terasa bagaikan puluhan kilometer.
Tepat ketika batas stamina keduanya kian mendekat,
tujuan mereka akhirnya tertangkap oleh pandangan mata. Jalan menanjak berubah
menjadi datar, dan sebuah gerbang raksasa membayang di hadapan mereka.
“Akhirnya sampai juga.”
“Waktu kita survei tempat ini, rasanya lebih dekat
dari ini.”
Keduanya menengadah menatap gerbang sembari
terengah-engah.
Gerbang baja yang berdiri kokoh di hadapan mereka
tertutup rapat seolah menutupi rongga hampa tersebut. Di balik gerbang itu
harusnya terdapat sebuah lift barang raksasa yang mengarah ke permukaan tanah.
“Mulai dari sini, kita harus siap menghadapi apa pun
yang ada di depan. Karena bisa saja begitu dibuka Lapisan Abu langsung menyambut
kita, aku serahkan ini dulu.”
Ujar Magami sembari mengeluarkan masker gas dari
dalam tasnya.
Ini adalah barang yang baru ditemukannya di dalam
pangkalan. Walau merupakan peralatan dari 300 tahun yang lalu, fungsinya telah
dipastikan masih bekerja dengan baik.
Magami pun mengenakan barang yang sama di kepalanya,
bersiap agar bisa langsung dipasang kapan saja.
“Sekarang, mulai saatnya untuk unjuk gigi.”
Ujar Magami seperti bergumam seorang diri sembari
berdiri di depan perangkat pembuka gerbang. Dengan cekatan dia melepas pelat
sakelar yang tersusun tidak terhitung jumlahnya, lalu mulai mengotak-atik kabel
di bagian dalamnya.
“Apa kamu kesulitan?”
Nil mengintip dari balik bahunya dengan penuh rasa
ingin tahu, dan Magami memiringkan kepala menjawabnya.
“Aliran listriknya sepertinya masih ada, jadi
harusnya bisa. Kita beruntung.”
“Hmm.”
Nil pun tidak bisa melakukan apa-apa di hadapan
kabel listrik dan jajaran peralatan. Sambil terus mengintip ke arah tangan
Magami, gadis itu menyibak rambutnya.
“Hei, Magami.”
“Ya?”
“Begitu kita kembali ke langit, kita bakal kembali
lagi ke sini untuk mengambil kapal, ‘kan?”
“Yah, harusnya begitu. Soalnya kita tidak bisa menunggu
perbaikan Kapal Mensis, jadi kurasa kita harus mengambil kapal terbang yang ada
di dok tempat ini.”
Saat Magami membalas demikian, Nil di belakangnya
bergumam pelan, “Begitu, ya.” Suara gadis itu terdengar begitu redup, membuat
Magami menghentikan tangannya.
“Kamu enggan mengambil kapal terbang itu?”
Magami berbalik menatap Nil, dan gadis itu
menggelengkan kepalanya perlahan.
“Bukan begitu. Hanya saja...”
Memonyongkan bibirnya, gadis itu tampak ragu untuk
melanjutkan.
Lalu setelah memberi jeda beberapa saat dalam
kesunyian, dia menatap Magami dengan mendongak.
Gadis ini memasang wajah seperti ini biasanya ketika
dia ingin Magami menyadari sendiri hal yang enggan diutarakannya. Magami
melepaskan perhatiannya dari wajahnya yang menggemaskan itu, lalu memutar otak.
Dan dalam waktu singkat dia tiba pada sebuah
jawaban.
“Kamu enggan kalau catatan harian itu dilihat orang
lain, ya?”
“...Ya.”
Nil mengangguk membenarkan.
“Kurasa walau orang lain melihatnya, tidak akan ada yang
berkomentar macam-macam tentangmu lagi sekarang. Tapi kalau kamu khawatir,
nanti saat membimbing orang-orang Barakaja kamu bisa ikut kemari lagi
bersamaku. Lagi pula cepat atau lambat kita pasti akan kembali lagi demi menyesuaikan
kapal terbang itu, kan’?”
“Kalau saat itu tiba, kamu mau ikut denganku juga?”
“Tentu saja, aku memang berencana begitu, kok.”
Merasa heran, Magami mempertanyakan balik mengapa
gadis itu harus memastikan itu. Melihat nada suara dan wajah pemuda itu, Nil
mengembuskan napas lega dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Syukurlah. Kalau begini aku bisa kembali dengan
tenang.”
Tepat setelah kata-kata itu meluncur dari mulutnya.
Aliran listrik terasa menjalar pada gerbang di
hadapan mereka, lalu berguncang hebat. Dari gerbang raksasa yang kembali
bergerak setelah 300 tahun yang panjang, debu-debu berjatuhan, dan pemandangan
di balik gerbang perlahan menampakkan diri.
Beruntung tidak ada pengikisan dari Lapisan Abu.
Ke atas lift barang raksasa yang terpapar di depan
mata, Nil dan Magami melangkah naik dengan tegang.
Lift ini berbentuk celah vertikal, dan jarak menuju
penutup atas yang diperkirakan terhubung ke permukaan tanah hanya sekitar
belasan meter. Menekan tombol aktivasi berwarna hijau yang terpasang di lift
tampaknya menjadi mekanisme untuk membuka penutup atas tersebut.
“Bagus. Akhirnya saatnya tiba. Mari bersiap-siap.”
Merasakan hawa udara yang mendadak dingin, Magami
menggosok-gosok tangannya sembari menyiapkan mesin rakitannya.
Membentangkan bagian balon yang dijahit dari
gabungan parasut, dia bersiap menyalakan mesin pengembus udara dan pembakar.
Nil pun, sesuai rencana yang disepakati sebelumnya, mulai bersiap menaiki
keranjang kecil.
“Di sini sudah siap.”
Mendengar suara Nil yang menuntaskan pekerjaannya
dengan cepat, Magami menunjuk ke arah tombol aktivasi lift.
“Tolong tekan tombol itu. Jangan lupa pakai
maskermu.”
“Ya.”
Usai saling memastikan bahwa masing-masing telah
mengenakan masker gas, Nil menekan tombol lift.
Diiringi suara dentang yang keras, motor penggerak
mulai beroperasi. Penutup atas perlahan terbuka, dan dari atas langit kabut
Lapisan Abu yang bercampur dengan pasir berjatuhan.
Magami menengadah menatap ke atas, lalu mulai
menarik napas dalam-dalam dengan perlahan.
Langit Lapisan Abu yang kembali dilihatnya setelah
sekian lama tampak muram. Firasat buruk yang terlintas di kepalanya
membangkitkan rasa cemas.
“Apakah di luar sedang badai...?”
Akan tetapi, mereka sudah tidak memiliki kelonggaran
waktu maupun tenaga untuk berbalik arah.
Magami memanggil Nil.
“Masuklah ke dalam keranjang. Aku akan menyalakan
mesinnya.”
Ujar Magami sembari menyalakan starter mesin.
Gumpalan besi raksasa itu mulai bergetar hebat lalu
memuntahkan asap hitam.
Usai memutar tuas gas beberapa kali, Magami memencet
tombol pemantik api. Dalam sekejap udara hangat tersembur dari bagian pembakar,
dan balon udara yang terbentang di lantai mulai mengembang.
“Magami! Di luar sedang badai dahsyat!”
Nil yang menengadah menatap dunia Lapisan Abu yang
kian mendekat berteriak. Firasatnya yang menjadi kenyataan membuat Magami
mendecitkan lidah.
Balon udara yang mengembang membubung tinggi ke
atas, dan daya apung yang membesar turut mengangkat gumpalan baja di bawahnya.
Di balik celah itu, langit yang tertutup awan gelap menganga lebar menampakkan
diri.
Bagaimana ini?
Apakah harus berbalik turun?
Magami memikirkan berbagai kemungkinan di dalam
kepalanya.
Mengingat kemungkinan Barakaja terus menetap di
wilayah udara ini dan sisa tenaga yang dimiliki mereka berdua, saat inilah satu-satunya
kesempatan terakhir.
Namun begitu naik ke langit, tidak akan ada jalan
untuk kembali. Apakah tidak apa-apa meluncur terbang ke dalam badai seperti
ini? Kecemasan merayapi kepalanya, membuat Magami ragu dalam mengambil
keputusan akhir.
Menepis sedikit keraguan itu, sebuah suara lantang
yang jernih terdengar dari belakangnya.
“Magami!”
Saat Magami berbalik, Nil yang telah menaiki
keranjang kecil mengulurkan tangannya. Di balik maskernya, matanya memancarkan
tekad kuat.
“Mari kita pergi, ke langit kita!”
Ujar Nil dengan suara penuh keteguhan hati.
Magami mengangguk.
Lalu, dia menggenggam tangan itu dan melompat masuk
ke dalam keranjang.
“Pegang erat-erat! Ini akan berguncang hebat!”
Usai memastikan bahwa Nil telah mengikatkan tali pengaman
antara keranjang dan tubuh mereka, Magami memotong beban pemberat yang
terpasang pada keranjang.
Balon udara panas menarik naik keranjang dengan
akselerasi yang jauh lebih cepat dari perkiraan. Menyusul rasa terimpit yang
mendadak, sensasi melayang menghantam tubuh mereka.
Struktur bangunan di sekeliling meluncur pergi
dengan cepat, dan keranjang yang dinaiki mereka berdua melesat naik ke langit
Lapisan Abu.
“Berhasil!”
Nil yang berteriak di sisinya menepuk punggung
Magami. Magami menatap ke bawah dari balik keranjang. Lubang persegi buatan
manusia dalam sekejap mata mengecil dan menghilang di balik kabut Lapisan Abu.
Namun di dalam kabut Lapisan Abu itu, seutas kawat
baja tersisa membentang di udara bagaikan jejak roda yang ditinggalkan oleh balon
udara panas.
Ini adalah kawat baja yang dipasang sebagai petunjuk
jalan agar saat mencapai Barakaja nanti, mereka bisa merambat kembali ke
pangkalan menggunakan kawat ini. Paling tidak jika terjadi skenario terburuk
seperti jatuh, kawat ini menjadi jaminan untuk bisa kembali ke pangkalan.
Merasakan sensasi mesin pengurai kawat baja di balik
keranjang, Magami pun bernapas lega. Untuk tahap pertama mereka telah
melewatinya dengan selamat.
Akan tetapi, rasa lega itu hanya bertahan sejenak,
sebelum mereka harus kembali menoleh menatap langit yang gelap keruh dan
berhadapan dengan masalah baru.
“Sisanya adalah apakah kita sanggup menembus Lapisan
Abu ini atau tidak.”
Merasakan kecemasan pemuda itu, Nil pun ikut menoleh
menatap langit yang sama.
“Tidak apa-apa. Begitu naik ke langit atas, itu
adalah wilayah kita. Barakaja pasti juga sedang menunggu.”
“Semoga saja begitu.”
Balon udara panas terus menaikkan ketinggiannya.
Setiap kali ketinggian bertambah, arus udara di
sekeliling kian bergolak hebat secara kasatmata. Di langit yang teramat jauh di
atas sana, dia bahkan merasa seperti sempat menangkap kilatan sambaran petir.
Magami mengulurkan tangannya ke arah tuas pengatur torsi mesin sembari
meneguhkan hatinya.
“Mulai dari sini adalah pertarungan yang sesungguhnya.
Aku mengandalkanmu, Nil.”
“Ya. Serahkan padaku.”
Balas Nil sembari mengarahkan wajahnya menatap
langit yang mengamuk hebat.
* * *
Langit yang didaki Nil dan Magami mengamuk hebat,
seolah-olah memperlihatkan murka para dewa di depan mata.
Jika dilihat dari ketinggiannya saja, mereka sudah
melampaui batas Lapisan Abu. Ketemaraman khas yang menyelimuti bagian dalam
Lapisan Abu pun sudah cukup banyak tersapu terang.
Akan tetapi, sinar matahari yang menerobos justru terhalang
oleh tumpukan awan tebal yang pekat di atas kepala.
Tidak hanya itu. Angin kencang yang dahsyat membuat
debu Lapisan Abu berkilauan, diiringi deru angin yang meraung-raung hebat. Di
antara celah awan, kilatan petir dan dentum gemuruh guruh bergema tanpa henti.
Badai yang mengerikan.
Bahkan jika itu Kapal Mensis sekalipun, situasi ini
adalah jenis cuaca yang sebisa mungkin ingin dihindari untuk diterbangi.
Namun, fakta bahwa balon udara ini masih sanggup
bertahan terbang di tengah situasi seperti ini, tidak lain karena Nil.
“Magami! Arah pukul empat!”
Di tengah embusan angin yang meraung-raung hebat,
suara teriakan Nil terdengar. Magami memiringkan pembakar yang terpasang pada
mesin di atas kepalanya lalu menyemburkan api. Balon udara miring tajam,
menyisakan sensasi berpindah posisi secara berpasrah.
“Segini cukup?”
“Tidak, tambah lagi! Kalau begini terus kita akan
tertelan arus udara itu!”
Nil yang mengintip teropong binokular berteriak
sembari menunjuk ke balik langit. Di ujung jarinya, yang terlihat oleh Magami
hanyalah gumpalan awan kelam dan kilatan petir.
Akan tetapi, Nil tampaknya sanggup melihat sesuatu.
Karena gadis itulah yang selama bertahun-tahun mempertaruhkan segalanya hanya
untuk terbang di langit, ada sesuatu yang hanya sanggup ditangkap oleh
penglihatannya.
Magami meyakininya.
“Baik! Aku akan mendekatkannya lagi!”
Di tengah badai dahsyat yang seolah hendak
menerbangkan seluruh tubuhnya saat itu juga, Magami menjulurkan tubuhnya dari
keranjang guna mengendalikan semburan pembakar.
Balon udara yang dinaiki mereka berdua
perlahan-lahan naik hingga ketinggian tempat pandangan mulai terbuka.
Namun, gejolak arus udara yang hebat membuat proses
menaikkan ketinggian semakin sulit. Terlebih lagi, berpadu dengan beban kawat
baja yang meluncur turun dari balon udara, pergerakan mereka pun menjadi semakin
lambat.
“Magami, apa kawat baja itu tidak bisa dipotong
saja!?”
Nil yang merasa tidak puas dengan pergerakan balon
udara menatap tajam ke arah pengait yang menghubungkan kawat baja seolah benda
itu mengganggu pandangannya. Sambil menopang pembakar, Magami menggelengkan
kepalanya kuat-kuat.
“Tidak! Aku tidak mau memotongnya sampai batas
paling terakhir. Lagi pula kalau dilepas di sini, balon udara bisa naik dengan
mendadak lalu meledak!”
“Sial!”
Nil menatap langit dengan geram dan penuh
penyesalan.
Di antara celah awan tipis, warna biru langit mulai
menampakkan diri. Tinggal sedikit lagi mereka harusnya sanggup menembus badai
ini. Hanya saja, sedikit itu terasa jauh. Tempat yang dituju terkesan tidak
sanggup terjangkau oleh jemari secara pas.
“Kita harus cepat keluar dari sini atau kita akan
tergulung badai. Buat kawat itu agar bisa dipotong kapan saja!”
“Baiklah!”
Meskipun berada dalam jarak yang tidak sampai 2 meter
satu sama lain, keduanya saling berteriak. Angin yang melintas di antara mereka
begitu dahsyat, berpadu dengan suara gemuruh guruh di sekeliling, hingga tanpa
berteriak percakapan pun takkan sanggup terjalin.
Nil kembali mengintip teropong binokularnya, lalu menunjuk
ke langit.
“Magami, arus udaranya bergolak! Menghindar ke arah
pukul sembilan!”
Tepat setelah gadis itu berteriak demikian, balon
udara berguncang hebat. Mungin karena tersentuh oleh gejolak arus udara yang
bereembus mendadak.
Akibat benturan itu, Nil kehilangan keseimbangan di
dalam keranjang.
“Ah!”
Jeritan pendek gadis itu terdengar, membuat napas
Magami terhenti seketika. Sosok Nil yang menjulur dari keranjang meluncur jatuh
secara terbalik dari bagian atas tubuhnya terpapar di retina matanya bagaikan
rekaman lambat.
Tubuh Magami bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Dia menggenggam erat tali yang menghubungkan dirinya
dan gadis itu, lalu mengambil posisi menahan benturan. Seketika sensasi tali
yang meregang tegang terasa, menarik tubuhnya ke arah tepi keranjang.
Dia mengerahkan tenaga ke kakinya, namun dorongan
tubuhnya tidak sanggup terhenti.
“Ugh!”
Suara tertahan meluncur dari mulutnya, dan Magami
berhasil menahan benturan tersebut dengan susah payah. Keranjang berguncang
hebat, miring tajam seolah tubuh Magami pun akan ikut meluncur jatuh kapan
saja.
“Nil! Kamu tidak apa-apa?”
Magami yang menoleh menatap ke bawah memanggil Nil
yang tergantung di udara.
Akan tetapi, gadis itu tetap meliuk pasrah tanpa ada
pertanda bergerak. Teropong binokular yang digenggamnya terlepas dari tangan,
meluncur jatuh dan menghilang di antara celah Lapisan Abu.
“Gawat. Dia pingsan...”
Sambil terbelenggu oleh bobot satu orang manusia,
Magami mengulurkan tangannya mencoba menarik tali.
Akan tetapi, pada tubuh yang selama beberapa hari
hanya diganjal oleh air minum saja, sama sekali tidak tersisa tenaga yang cukup
untuk menarik seseorang di atas pijakan yang tidak stabil. Tali itu justru
perlahan terlepas dari genggaman tangannya.
“Nil! Bangun!”
Magami berteriak.
Suara itu mungkin tidak sanggup sampai ke telinga
Nil yang tergantung beberapa meter di bawah sana. Melihat tubuh Nil yang
bergoyang diayun badai mulai mengoyak keseimbangan balon udara bagaikan
pendulum, rasa panik merayapi dada Magami.
“Gawat. Kalau begini terus, balon udaranya bisa
jatuh.”
Di atas langit, terlebih lagi di tempat dengan arus
udara yang bergolak ini, titik berat mereka telah bergeser secara dahsyat. Ini
situasi yang kritis.
Dia menggenggam tali dengan sebelah tangan, berusaha
sebisa mungkin menahan guncangan, namun hal itu hanyalah usaha yang sia-sia.
“Mau bagaimana lagi. Meskipun ketinggian kita masih
belum cukup, tapi...”
Magami mengulurkan tangannya ke arah pistol sinyal
yang terikat di dalam keranjang. Mengandalkan sensasi plastik yang terasa pada
jemarinya, dia menggenggam gagangnya lalu menarik pelatuk ke arah langit.
Setelah entakan ringan, sinar merah pekat meluncur
terbang ke langit. Menatap sinar yang tampak kabur di balik kabut Lapisan Abu
itu, Magami memanjatkan doa.
“Tolong, temukan kami...”
Selama beberapa detik dia menatap sinar yang melambung
tinggi di langit, sebelum mengembalikan pandangannya ke bawah.
Nil masih belum sadarkan diri. Dia harus menariknya
naik bagaimanapun caranya.
Melilitkan tali ke tangannya, Magami menumpukan
kakinya di tepi keranjang. Menahan bobot yang seolah hendak mencopot tangannya
berpadu dengan rasa sakit yang merobek kulit, Magami menarik tali.
“Ughhh!”
Dua kali, tiga kali, dia mengulang proses yang sama.
Bahkan dari balik pakaian kerjanya, dia tahu betul darah mulai merembes di
tangannya.
Namun, dia tidak peduli dengan rasa sakit itu.
Karena di ujung tali ini, ada sesuatu yang jauh
lebih berharga.
“Nil! Kamu dengar akuuu!?”
Bagian bawah keranjang tidak terlihat oleh matanya.
Kendati demikian, Magami terus berteriak sekuat tenaga.
Tangannya sudah melampaui batas dan tidak sanggup
lagi digerakkan.
Mungkin saja tulang tangannya telah patah. Rasa
dingin dan rasa sakit telah menyapu habis seluruh indranya.
Hingga akhirnya, persis seperti perkiraan Magami,
balon udara mulai berguncang hebat akibat gejolak arus udara. Tanpa adanya
pembacaan arah angin dari Nil, persis seperti yang dikatakan gadis itu, tempat
ini tidak sanggup bertahan bahkan untuk beberapa menit saja.
“Akhirnya tiba juga, ya. Skenario terburuknya adalah
melompat turun.”
Magami menyadari parasut yang digendong di
punggungnya.
Ini adalah parasut yang tertidur di dalam gudang
selama 300 tahun. Parasut ini merupakan salah satu barang yang dikeluarkan saat
membuat balon udara ini, namun sayangnya kondisi bagian dalamnya belum sempat
dipastikan.
Parasut yang dilipat dengan cara khusus ini, sekali
saja terbuka, akan menjadi akhir segalanya. Bagi orang awam, mustahil untuk
melipatnya kembali ke bentuk semula.
Terlebih lagi yang lebih buruk, sebagian besar
parasut yang dikeluarkan saat membuat balon udara berada dalam kondisi lapuk
dan tidak lagi bisa digunakan.
Jika parasut di punggungnya ini pun ternyata lapuk,
begitu terbuka di udara akan hancur berkeping-keping dalam sekejap, dan mereka
berdua akan meluncur jatuh secara terbalik hingga menghantam tanah.
“Pada akhirnya, cuma bisa pasrah pada keberuntungan,
ya?”
Magami menengadah menatap langit.
Menatap langit yang tidak sanggup diraih hanya selangkah
lagi, dia menggigit bibirnya dengan penuh penyesalan. Bibirnya yang kering
terobek, mengalirkan rasa besi yang menyebar di dalam mulutnya.
Di dalam dunia yang diselimuti oleh Lapisan Abu ini,
keberadaan manusia begitu kerdil dan tidak berdaya. Tidak peduli seberapa besar
kekuatan khusus yang dimiliki, hal yang bisa dilakukan hanyalah hal-hal yang
sepele. Sebagian besar dari mereka hanya sekadar dibiarkan hidup di dalam keteraturan
alam.
Menyaksikan sendiri bagaimana dunia bekerja di depan
matanya, Magami menghela napas.
“Yah, masih beruntung setidaknya dewi keberuntungan
masih berpihak pada kita.”
Sampai saat ini, sudah banyak rekan kerjanya yang tidak
beruntung dan tewas akibat kecelakaan tragis.
Dibandingkan dengan mereka, fakta bahwa dirinya
masih berada dalam situasi yang bisa dipertaruhkan adalah sesuatu yang patut
disyukuri. Di tengah kenyataan yang menyiksa pun, Magami menyunggingkan senyum
di bibirnya.
“Aku masih belum boleh mati. Masih ada hal yang harus
kita lakukan. Kita akan kembali ke langit. Benar tidak, Nil!?”
Dia menarik tali yang dililitkan di tangannya dengan
mengandalkan sisa tekad dan tenaga terakhir.
Tepat saat Magami melepaskan raungan kekuatan dan
rintihan penderitaan.
Suara panggilannya yang menyerap dan lenyap ke
langit, mendadak terasa bergaung memantul pada sesuatu. Di dalam pandangannya
yang mengabur akibat kekurangan oksigen, sesuatu bergerak dan menampakkan
wujudnya.
Di balik celah Lapisan Abu di depannya, pendar biru
keperakan menjulang naik.
“Jangan-jangan, Paus Putih!”
Magami bergumam seolah menyaksikan sesuatu yang tidak
dapat dipercaya, namun itu pun hanya berlangsung dalam sekejap mata.
Di dalam Lapisan Abu, bayangan yang menyerupai Paus
Putih itu meliukkan tubuhnya yang raksasa dengan dahsyat, lalu mengibaskan
ekornya ke atas. Gelombang Lapisan Abu yang terangkat oleh ekor raksasanya
mendorong mereka naik dari bawah balon udara.
“Ugh!”
Di hadapan Magami yang secara refleks pasang
kuda-kuda, sesuatu yang tidak masuk akal sedang terjadi.
Tubuh Nil yang tergantung di bawah, melayang naik
terbawa oleh gelombang Lapisan Abu. Terhadap tubuh gadis itu yang melayang naik
hingga tepat di depan matanya, Magami melompat menerjang. Begitu merengkuh
gadis itu ke dalam pelukannya, balon udara kembali mulai meluncur turun dan
gaya gravitasi pun kembali.
Magami yang bertekuk lutut akibat bobot tubuh Nil di
dalam dekapannya segera memastikan keselamatan gadis itu.
“Nil!”
“Ugh, ngh...”
“Syukurlah. Kamu masih hidup.”
Usai mengamankan kembali tubuh Nil, Magami menyapu
pandangannya ke lautan awan Lapisan Abu.
Sosok Paus Putih sudah tidak lagi dapat ditemukan. Bingung,
Magami memiringkan kepalanya mempertanyakan apa yang baru saja terjadi.
“Apa-apaan tadi itu. Benda itu seolah-olah baru saja
menolong kita, ‘kan?”
Magami menatap langit dengan terpana seolah tidak
sanggup menangkap maksud yang sebenarnya.
Berkat pertolongan dari Paus Putih, ketinggian balon
udara tampaknya melonjak naik secara drastis. Mungkin karena telah keluar dari
gejolak arus udara yang memicu badai, pandangan di sekeliling menjadi terbuka
terang.
Lapisan Abu yang bergelombang perak yang melayang
naik bersama balon udara, jatuh meluncur di antara celah awan kumulonimbus
badai. Rona kuning samar dari sinar matahari yang menerobos dari celah-celah
awan yang mengepul, tampak memancarkan kilau yang begitu indah hingga terasa
mengerikan.
Sambil menyaksikan dengan langsung mengerikannya
dunia ini, Magami terpana oleh pemandangan yang indah yang terpapar di matanya.
Namun menemukan sebuah bayangan kecil yang terpantul
pada awan, dia segera kembali ke sadar. Bayangan itu turun dari langit yang
jauh di atas sana menuju ke arahnya dengan sangat terampil.
Ini bukan ilusi.
“Jangan-jangan...”
Magami bergegas menengadah menatap langit.
Di ujung pandangannya.
Di langit yang membentang luas, Barakaja membayang
dengan bayang-bayang yang jelas akibat paparan sinar matahari yang mulai
miring. Dan para pekerja berpakaian pelindung yang sedang turun meluncur
melambaikan tangan ke arah sini.
“Magamiii! Kamu masih hidup ‘kan!?”
Jika didengar dari suaranya, sosok di depan itu
pastilah Shitaharu. Rasa lega membuat sudut mata Magami terasa memanas. Sambil
melambaikan tangan lebar-lebar dia memberi isyarat pada mereka.
“Di siniii!”
Hanya dalam kurun waktu tidak sampai beberapa menit,
Shitaharu dengan sigap menempel pada balon udara. Dan di balik masker gasnya,
gadis itu senyum ceria khas dirinya tersungging lalu menunjuk Magami sembari
memejamkan sebelah mata.
“Yo! Pangeran berkuda putih datang menolong, nih.”
Astaga. Padahal situasi saat ini belum bisa
dikatakan aman sepenuhnya, Shitaharu tetap bergurau dengan gaya bicaranya yang
biasa.
Antara heran dan terperangah, Magami mengedipkan
bahunya.
“Hahaha, sungguh. Anehnya kamu memang terlihat
seperti itu.”
Ketegangan di seluruh tubuhnya meluruh dan lenyap.
Magami terduduk di dalam keranjang, lalu menengadah
menatap langit.
Dari celah awan kumulonimbus yang menjulang tinggi,
langit yang ternoda oleh warna hangat samar menampakkan diri. Di ujung tempat
sinar matahari barat menerobos bagaikan tangga cahaya, Barakaja yang terbang
membelah celah-celah awan terus mendekat.
Mereka telah berhasil kembali dari dasar Lapisan Abu.
Meresapi kenyataan itu dalam-dalam, Magami menghela
napas lega.