Bab 1: Kejatuhan
Lautan awan
perak dari Lapisan Abu yang membentang hingga ke kejauhan masih tampak tidak
berubah sedikit pun bahkan setelah 300 tahun berlalu.
Nil menyipitkan
mata menatap kilauan fajar yang terbit di batas lautan awan. Pemandangan
matahari terbit yang disaksikan dari atas langit, di mana seluruh penjuru
dikelilingi oleh Lapisan Abu, sungguh terasa memesona dan membuatnya menahan
napas.
Ketinggian
tempatnya berdiri berkisar 1.000 meter di atas permukaan Lapisan Abu.
Sebuah
ketinggian di langit yang tidak mungkin ada di kota daratan.
Pagar pembatas
berkarat yang disinari mentari pagi.
Jaringan pipa
dan kabel listrik yang rumit.
Serta pijakan
besi berongga yang membentang di atas kepulan asap kelabu dari Mekanisme
Amadeus.
Tempat ini
benar-benar berada di atas langit dan di bawah semesta; sebuah zona perantara
di tengah dunia yang dijepit oleh warna perak dan biru jernih.
“Sudah kuduga kamu
ada di sini. Astaga, kamu bisa masuk angin, tahu.”
Sebuah suara
yang sudah tidak asing terdengar dari belakang Nil, yang sedang terpaku menatap
celah di lautan abu. Dia memegang rambut peraknya yang panjang agar tidak
berantakan tertiup angin, lalu berbalik dan melemparkan pandangan tajam ke arah
pemilik suara itu.
“Agatha. Magami
masih belum datang juga? Padahal sudah seminggu sejak kita meninggalkan Kota
Ketigabelas.”
Nada bicaranya
di akhir kalimat dengan jelas menyiratkan rasa tidak puas.
Agatha, yang
tadinya menyembulkan separuh tubuhnya dari balik pintu besi, mengedikkan bahu
dengan gusar. Setelah menggigil sejenak, dia melangkah keluar.
“Bukannya sudah
kubilang waktu kita kemari? Kota layang ini tempat yang khusus, jadi kalau
Magami datang sendirian bisa timbul masalah. Dia harus bersama kapten yang
punya izin resmi.”
Mendengar Agatha
yang bicara dengan nada seperti menasihati anak kecil, Nil menatapnya tanpa
berusaha menyembunyikan perasaannya. Meski menerima tatapan itu secara
langsung, Agatha tidak ambil pusing dan berdiri di sampingnya.
“Tapi tetap
saja, di luar sini dingin sekali, ya?”
Embusan napas
putih keluar dari mulut Agatga, lalu perlahan sirna terbawa angin sepoi-sepoi.
Menatap itu, dia menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas.
“Kamu merasa
kesepian kalau tidak ada dia?”
Mendengar
pertanyaan langsung dari Agatha, pandangan mata Nil sempat beralih sebentar,
namun setelah terdiam sejenak dia segera menjawab.
“Aku tidak tahu.
Tapi, kalau Magami tidak ada di dekatku, rasanya ada yang mengganjal. Tidak
tenang. Kalau perasaan ini yang dinamakan kesepian, mungkin memang iya.”
“Begitu, ya. Kamu
memang masih belum mengerti. Tapi lambat laun kamu akan mengerti berbagai macam
perasaan.”
Agatha
mengucapkannya sambil mengulas senyum lembut.
“Sesuai jadwal,
dia seharusnya sebentar lagi sampai. Jangan khawatir, kalau bersama Kapten, dia
pasti tiba tepat waktu.”
Melihat jam di
tangannya, Agatha menegakkan tubuh lalu merogoh kantong jas laboratorium
putihnya untuk mengambil kotak rokok. Dia menyulut rokok batang—sesuatu yang
langka di zaman ini—tanpa ragu meski ada Nil di sebelahnya.
Sambil
mengembuskan asap putih yang tebal, Agatha mengarahkan pandangannya ke arah yang
sama dengan Nil. Tidak lama kemudian, sebuah bayangan kecil nampak berlatarkan
cahaya mentari pagi.
Nil, yang
memiliki penglihatan jauh lebih tajam daripada Agatha, segera menangkap
bayangan itu dan menahan napasnya.
“Dia datang!”
“Hm? Di sebelah
mana?”
Meskipun nada
bicaranya menunjukkan bahwa dia sedang mencari objek yang sama, Agatha hanya
memegang rokok di bibirnya tanpa banyak bergerak.
“Itu, lihat di
sana!”
Dengan semangat
yang seolah hendak melompat, Nil menyenggol bahu Agatha sambil menunjuk ke arah
matahari terbit, menampakkan ekspresi wajah yang jauh lebih cerah dari
biasanya. Dia berkali-kali menunjuk ke arah bayangan tersebut.
“Kamu tidak bisa
melihatnya, Agatha? Itu, di sebelah sana!”
Agatha mencoba
mencermati arah yang ditunjuk oleh jemari putih mulus bagaikan porselen itu,
namun akhirnya dia hanya tersenyum menyerah.
“Sayang sekali,
aku tidak bisa melihatnya.”
“Kalau begitu
Agatha, kamu tunggu saja di sini sebentar. Sedikit lagi pasti kelihatan. Aku
mau pergi ke tempat pendaratan duluan.”
Rasa tidak puas
yang tadi dirasakannya entah pergi ke mana; Nil berucap demikian lalu berbalik
dan mulai berlari kecil. Langkah kakinya terasa begitu ringan tanpa beban,
seolah kelinci yang menari di atas bulan.
Menatap punggung
gadis itu yang menghilang di balik pintu dalam sekejap, Agatha mengembuskan
napas panjang.
“Baru ditinggal
sebentar saja sudah benar-benar jadi gadis yang jatuh cinta. Aku yang hanya
melihatnya jadi ikut malu.”
Agatha beralih
pandangan dari pintu tempat Nil menghilang kembali ke langit.
Disiram rona
merah fajar tepat dari depan, dia menikmati rokoknya dengan begitu nikmat.
“Yah, dia memang
sudah memasuki usia yang pas untuk merasakannya. Wajar-wajar saja kalau dipikir-pikir,
‘kan?”
Gumamannya yang
tidak ditujukan kepada siapa pun itu perlahan melarut ke udara. Ekspresinya
melunak dengan lembut saat matanya menyipit, menatap bayangan kapal terbang
yang akhirnya mulai menampakkan diri.
* * *
Hari di mana dia
bertemu kembali dengan Nil, gadis yang pernah terpisah darinya, dan mengingat
kembali garis takdir yang membelenggu dirinya. Di hari itu, Magami naik ke
Kapal Mensis bersama Nil, lalu bertarung sengit melawan Paus Putih hingga
akhirnya berhasil menyelamatkan Kota Ketigabelas.
Dua bulan telah
berlalu sejak insiden besar tersebut.
Kota Ketigabelas
yang sempat mengalami kerusakan dahsyat kini telah memulihkan sebagian besar
fungsinya berkat bantuan dari kota-kota lain. Bukan hanya jalur kehidupan bagi
masyarakat, tetapi fungsi fasilitas penelitian pun sudah mulai menunjukkan
titik terang untuk beroperasi kembali.
Di tengah
kondisi yang mulai membaik itu, sebuah misi baru dibebankan kepada Magami dan
yang lainnya.
Sambil memandang
ke luar jendela dari kapal terbang berukuran kecil, Magami mengelus pipinya
dengan raut wajah tegang. Bagian dalam kapal terbang tipe pengisian bahan bakar
ini sangat sempit karena keterbatasan kapasitas muatan. Tidak hanya itu,
zirahnya yang tipis membuat suara deru angin di luar terdengar sangat bising dan
mengganggu.
Namun, begitu
melihat sosok kota layang yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri, Magami
seketika melupakan hal-hal sepele itu.
“Wah, luar
biasa...”
Magami memajukan
tubuhnya hingga nyaris menempel pada kaca jendela, menatap takjub ke arah
Barakaja, sebuah kota layang yang melayang di atas Lapisan Abu.
Objek terbang
raksasa yang tampak seperti susunan kepingan logam raksasa itu memiliki bentuk
unik menyerupai palu terbang. Dari bagian bawah kota, asap kelabu yang
dihasilkan oleh Mekanisme Amadeus mengalir keluar, sementara pendar cahaya biru
pucat yang dipancarkan oleh sistem penggeraknya membuat keseluruhan kota tampak
bergulung-gulung bagaikan gelombang dari waktu ke waktu.
“Sudah
kelihatan, ya?”
Saat Magami
sedang terpesona menatap Barakaja, Krus mendadak sudah berdiri di sampingnya.
Pria itu ikut mengintip ke luar jendela kecil sama seperti Magami.
“Kalau dilihat
dari skalanya, kota ini berkapasitas 3.000 orang. Tapi area pemukimannya
kelihatan cukup sedikit.”
“Pengamatan yang
tajam. Seperti yang diharapkan dari seorang mekanik—bukan, teknisi perbaikan
dinding luar.”
Krus berucap
dengan nada kagum, lalu segera duduk kembali di kursinya.
“Kota layang itu
berbeda dari kota-kota lainnya. Kota itu dirancang khusus dengan mengalokasikan
sebagian besar dayanya untuk melakukan pengerukan di dalam Lapisan Abu.”
“Pantas saja ada
derek raksasa seperti itu di sana. Ukurannya benar-benar menakjubkan.”
Magami menatap
Barakaja sambil menggelengkan kepala seolah masih tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
Dalam
pertempuran melawan Paus Putih dua bulan lalu, Kapal Mensis hancur total tanpa
sisa. Walaupun Kanayago sudah memperkirakan waktu perbaikannya, mereka sampai
pada kesimpulan bahwa akan jauh lebih cepat jika membangun kapal yang baru.
Akan tetapi,
dunia ini telah kehilangan sumber daya dan teknologi untuk membuat kapal dari
nol.
Solusi untuk
mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan pengerukan di Lapisan Abu.
Intinya, mereka
berusaha memanfaatkan kembali peninggalan era kuno yang tenggelam di dasar
Lapisan Abu.
“Tapi, apa kapal
benar-benar bisa diangkat dengan alat itu? Aku masih sulit membayangkannya...”
Mendengar
gumaman Magami yang terdengar seperti keluhan itu, Krus tertawa kecil dari
hidungnya.
“Tenang saja.
Kapal Mensis juga dibuat dengan merombak barang bekas hasil pengerukan yang
diangkat di Barakaja dulu.”
“Kalau begitu,
artinya kita datang untuk meminta mereka mengangkat kapal lagi untuk kita, ya?
Agak merasa tidak enak juga...”
Sebagai sosok
yang menyebabkan hancurnya Kapal Mensis, Magami membungkukkan punggungnya. Mendengar
ucapan pemuda itu, Krus menyunggingkan senyum—hal yang cukup langka darinya.
“Orang-orang itu
pasti tidak akan menyangka kalau kapal itu bisa hancur begitu hebatnya. Mereka
pasti terkejut.”
“Aku juga tidak
berniat menghancurkannya, kok. Itu ‘kan keadaan darurat...”
“Tentu saja, aku
tahu. Tapi, kamu tidak bisa nekat seperti itu setiap saat.”
Ekspresi Krus
kembali dingin seperti biasanya, namun tidak ada nada teguran di matanya.
Magami menganggukkan kepala sebagai tanda penyesalan.
“Tapi, kenapa
hanya kita berdua yang pergi? Bukannya akan lebih baik kalau para mekanik ikut
bersama kita? Lagi pula, daripada membawaku, bukannya lebih baik membawa
Kanayago?”
Mengalihkan pandangannya
dari Barakaja yang kian mendekat, Magami melihat ke sekeliling dalam kapal yang
hanya diisi oleh mereka berdua. Krus terdiam sejenak menanggapi pertanyaan itu,
lalu melirik Magami.
“Itu karena
Barakaja adalah kota layak yang punya banyak rumitnya.”
“Punya banyak
rumitnya? Kalau begitu aku makin ingin tahu alasannya sejak awal...”
“Melihat sekali
lebih baik daripada mendengar seribu kali.”
Bersamaan dengan
ucapan Krus, lampu peringatan yang terpasang di dalam kapal menyala. Itu adalah
lampu petunjuk untuk mengenakan sabuk pengaman.
Tidak lama
kemudian, instruksi dari ruang kemudi terdengar melalui pengeras suara.
“Kita akan
segera mendarat. Harap duduk dan kenakan sabuk pengaman Anda.”
Menuruti
instruksi yang disampaikan oleh suara wanita muda tersebut, Magami dengan sigap
mengamankan posisi tubuhnya.
Setelah
berputar-putar di udara selama beberapa saat, kapal terbang itu mendarat di
area pendaratan disertai sensasi melayang yang kurang menyenangkan. Bersamaan
dengan benturan kecil, sumber daya sistem penggerak dimatikan, dan suara bising
yang mengganggu pun berhenti.
Di hadapan
Magami yang sedang merenggangkan punggungnya setelah menikmati kesunyian sekian
lama, pintu kapal terbang terbuka.
Udara dingin
dari luar merembes masuk, membuat Magami memicingkan matanya.
“Ayo jalan.
Jangan menjauh.”
Krus berucap
singkat lalu segera melangkah turun. Area di bawah sana, tempat Magami
melangkahkan kakinya mengikut punggung Krus, ternyata jauh lebih luas daripada
yang dia bayangkan.
“Wah, kalau
dilihat dari dekat ternyata jauh lebih spektakuler. Bagaimana cara kerja semua
ini, ya?”
Magami
mendongak, menatap struktur-struktur raksasa yang rasanya tidak mungkin dibuat
oleh tangan manusia biasa. Derek berukuran masif dengan mekanisme
multi-persendian, sabuk pengangkut material, hingga platform kargo raksasa yang
bergerak tiga dimensi. Di atas jembatan penyeberangan melayang yang melintas di
antara mesin-mesin raksasa tersebut, orang-orang tampak lalu lalang dengan
sibuk.
Meski diliputi
besi dan karat, tempat ini benar-benar menjadi pusat berkumpulnya puncak
kecerdasan umat manusia. Pemandangan di hadapannya seolah menegaskan hal
tersebut.
Magami tidak
bisa mengatupkan mulutnya, terus menatap sekeliling dengan penuh kekaguman.
Saat dia
bergegas mendekat agar tidak kehilangan jejak Krus yang berjalan di depan,
sesosok bayangan tampak berlari menghampiri mereka dari arah berlawanan.
“Halo, Krus!
Sudah lama tidak bertemu. Wajahmu masih saja kelihatan suram seperti biasa.”
“Shitaharu? Aku
lega melihatmu masih saja memakai pakaian tipis konyol seperti itu.”
Wanita bernama
Shitaharu itu memang mengenakan kaos kutang yang sangat tidak sesuai dengan
suhu udara yang dingin, persis seperti yang dikatakan Krus. Gaya rambut
pendeknya yang rapi sangat cocok dengan wajahnya yang tampak ceria dan
bersemangat. Tubuhnya lebih pendek sekitar dua kepala dari Krus, namun lengan
dan punggungnya yang terbuka tampak sangat padat dan berotot dengan indah.
Sepertinya
mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama.
“Otot yang
terlatih itu indah, tahu? Sebagai kepala teknisi di Barakaja, aku harus
menunjukkan wibawa dengan punggungku. Kamu paham maksudku, ‘kan?”
“Bisa mengobrol
hanya dengan mengandalkan otot menunjukkan kalau kota layang ini masih belum
berubah. Sungguh melegakan melihat orang-orang di sini masih bodoh.”
“Hei. Jangan
katakan itu di depan Ketua nanti. Kalau sampai terjadi keributan seperti waktu
itu, aku tidak mau ikut campur.”
Shitaharu mendekati
Krus dengan sangat akrab, lalu menyenggol dada pria itu dengan tinjunya.
Kemudian, dia
akhirnya menyadari keberadaan Magami yang berdiri di belakang Krus dan
menaikkan alisnya.
“Wah. Kamu
membawa bocah imut lagi, ya? Apa ini anak laki-laki yang sedang ramai
dibicarakan itu?”
Secara
penampilan, Shitaharu tampaknya tidak berbeda jauh usianya dari Magami, namun
kenyataannya sepertinya tidak demikian. Dia menunjuk ke arah Magami saat
mengatakan hal tersebut.
“Ya.”
Krus tidak
menambahkan penjelasan apa pun, tidak pula berniat memperkenalkan Shitaharu
yang ada di depannya. Sikap yang kurang pantas ditunjukkan oleh seorang dewasa.
Magami melangkah
maju ke hadapan Shitaharu lalu mengangguk pelan.
“Namaku Magami.
Um, Shitaharu-san...”
“Ahaha. Tidak usah
formal. Panggil Shitaharu saja. Seperti yang kamu lihat, aku ini kepala teknisi
Divisi Satu di Barakaja. Kalau di tempat kalian, mungkin sepadan dengan sebutan
kepala mekanik. Salam kenal, ya.”
Tertawa dengan
ceria, Shitaharu mengulurkan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan
berlumuran oli untuk berjabat tangan. Magami tanpa ragu membalas uluran tangan
tersebut.
“Baik. Salam
kenal.”
Jemari Shitaharu
yang terasa dari balik kain sarung tangan terasa sangat kekar. Tekanan
genggamannya saat membalas jabat tangan sangat mirip dengan milik Kanayago.
Saat Magami
refleks mendongak menatap wajahnya, sorot mata Shitaharu yang tadinya ramah
telah berubah menjadi tatapan yang tajam dan cerdik.
“Huh... Pantas
saja Krus sampai membawanya ke sini. Bisa dibilang lulus untuk tahap awal.”
“Eh?”
Apa maksudnya
lulus?
Sebelum sempat
bertanya balik, Shitaharu mengurai jabat tangannya lalu memberi isyarat
melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
“Ikut aku. Akan
kupertemukan kalian dengan Ketua.”
Melihat
Shitaharu yang melangkah lebar di depan, Magami melemparkan pandangan penuh
tanda tanya ke arah Krus.
Pria itu hanya
mengedikkan bahunya tanpa bersuara, lalu menepuk punggung Magami dengan ringan.
“Katanya kamu
lulus. Baguslah.”
Jawaban itu sama
sekali tidak menjelaskan apa pun.
Namun seperti
biasa, tanpa penjelasan sedikit pun, Krus mulai melangkah mengekor di belakang
Shitaharu. Magami yang ditinggalkan sendirian tanpa paham situasi hanya bisa
merengut gusar.
Shitaharu membawa
mereka berdua naik ke lift, lalu bergerak menuju area atas kota terbang. Dari
area pendaratan yang didominasi mekanisme fisik yang mencolok, pendaratan di lantai
atas terasa kian didominasi oleh kendali elektronik.
Sensasi seperti
sedang menyaksikan percepatan era dalam putaran cepat itu berhenti saat lift
akhirnya menyatu dengan lantai tujuannya.
“Nah, sampai. Ini
dia area pemukiman Barakaja.”
Saat melangkah
keluar, tempat itu terhubung dengan sebuah ruang terbuka yang sangat luas. Di
atas kepala, panel-panel transparan terpasang rapi, dengan beberapa balok
penopang yang membentang melingkar dari tengah menuju dinding luar di
sekelilingnya.
Dengan membuat
atap pelindung berbentuk kubah, tampaknya tempat ini dirancang untuk menyerap
pencahayaan secara efisien. Rasa lapang yang membentang terasa seperti berada
di luar ruangan.
Magami menatap
sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu.
“Cukup bersih.
Padahal biasanya kota layang cenderung kumuh karena padatnya populasi.”
“Yah, kami di
sini tidak tinggal dalam jumlah yang terlalu banyak. Totalnya paling cuma
sekitar 200 orang.”
“Cuma 200 orang?
Dengan jumlah segitu, hebat sekali bisa mempertahankan kota sebesar ini.”
“Yah, hampir
semua orang yang tinggal di sini adalah teknisi, makanya bisa.”
Shitaharu
berucap santai lalu kembali melangkah cepat.
Magami menatap
punggung gadis itu sambil memiringkan kepalanya, memikirkan ucapan tadi.
Semua
penghuninya adalah teknisi—apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Magami tidak
pernah melihat atau mendengar kota layang seperti itu sebelumnya. Ini
benar-benar bisa disebut sebagai lingkungan yang sangat khusus.
Namun, sebelum dia
sempat bertanya, Shitaharu sudah berjalan jauh di depan.
Tujuan gadis itu
sepertinya adalah bangunan menyerupai menara yang terlihat di tengah ruangan.
Bangunan yang entah mengapa mengingatkan pada menara balai kota di Kota Keenam
itu tampaknya merupakan bagian inti dari Barakaja.
Di tengah
perjalanan menyusuri jalanan yang terawat, Shitaharu hanya memalingkan
kepalanya ke arah Krus.
“Krus, berapa
banyak yang sudah kamu ceritakan ke anak ini tentang kami?”
“Hanya bilang
kalau ini kota yang khusus bergerak di bidang pengerukan.”
“Uwah, tidak
ramah sekali. Berarti dia sama sekali tidak tahu mau dibawa ke mana dan untuk
apa?”
“Bisa dibilang
begitu.”
Setelah membalas
singkat, Krus melirik ke arah Magami. Magami melempar pandangan seolah memohon
penjelasan, namun sama sekali tidak dihiraukan.
Sebagai
gantinya, Shitaharu menatap penuh rasa simpati kepada Magami.
“Yah, semoga
saja kamu tidak dilempar keluar dari Barakaja.”
“Anu, itu tidak
berarti dalam arti sebenarnya, ‘kan?”
“Yah, soalnya
sampai sekarang sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang dilempar keluar.
Aku tidak bisa menjamin apa-apa, sih.”
Meninggalkan
kata-kata yang menebar ancaman itu, Shitaharu membalas Magami dengan senyuman.
Namun senyum manis itu, dalam situasi sekarang, hanya terlihat seperti pertanda
buruk.
Wajah Magami
seketika pucat karena cemas.
“Tenang saja. Kamu
akan baik-baik saja.”
Dukungan tanpa
alasan yang kuat dari Krus itu justru membuat benih kecemasan di hati Magami
makin tertanam dalam.
Tidak lama
kemudian, rombongan itu melangkah melewati pintu masuk menara.
Bagian dalamnya
tertata dingin dan kaku, namun di beberapa bagian masih menyisakan bekas-bekas
perbaikan. Memberikan kesan sebagai bangunan hasil tambal sulam. Setelah
kembali naik lift, tempat yang mereka tuju adalah ruang kendali yang dapat
memandang langsung lantai tertinggi Barakaja.
Di dalam ruang
kendali yang mengingatkan pada anjungan Kapal Mensis itu, seorang wanita tampak
berdiri. Rambut hitam panjangnya terurai hingga mendekati lutut, tubuhnya
sedikit lebih tinggi dari Krus, dan bagian atas tubuhnya yang terbuka
memperlihatkan otot-otot lentur yang tidak kalah dari milik Shitaharu.
Shitaharu
melangkah ke tengah ruangan, merapatkan tumitnya lalu menegakkan punggung.
“Ketua. Aku
sudah membawanya sesuai jadwal.”
“Kerja bagus.
Kamu boleh mundur.”
Suaranya
terdengar berat untuk seorang wanita. Dia berbalik sambil mengibaskan rambut
panjangnya.
Saat melihat
wajah wanita itu, Magami refleks menahan napas.
Di atas parasnya
yang anggun, terhampar bekas luka bakar mengerikan yang menutupi separuh
wajahnya.
Luka bakar itu
melebar hingga ke bahu yang mengintip dari baju tanpa lengannya. Mungkin akibat
dampak luka bakar tersebut, salah satu matanya tampak keruh memutih, namun
anehnya, mata keruh itu justru memancarkan sorot yang jauh lebih tajam daripada
mata hitamnya yang sehat.
Sembari
diselimuti aura yang mengerikan, dia menatap tajam ke arah Magami. Tatapan yang
menyerupai rasa permusuhan itu membuat Magami bingung, namun pandangan wanita
itu segera beralih ke arah Krus.
“Krus. Sudah
lama tidak bertemu, kamu kelihatan makin tua.”
“Kamu sendiri
masih tetap secantik dulu. Jujur aku terkejut, Invel.”
Krus memegang
dagunya sambil memicingkan matanya yang gelap dan redup. Di ujung pandangannya,
Invel duduk di atas meja lalu menyilangkan kakinya yang panjang.
“Tidak usah
merayu. Aku tidak tertarik dipuji oleh orang tua bangka seperti dirimu, beda
cerita kalau kamu yang dulu. Cepat katakan apa maumu.”
Invel bicara
dengan memperlakukan Krus dengan sangat dingin. Dan yang lebih parahnya lagi,
di sudut bibirnya terulas senyuman yang menyatukan nada sindiran dan kejahilan.
Krus mengabaikan
semua kata-kata Invel yang bisa dianggap sebagai provokasi itu, lalu mulai
bicara dengan sangat formal dan lugas.
“Seharusnya
balai kota sudah menyampaikannya padamu, tapi akan kukatakan sekali lagi. Kami
membutuhkan satu kapal lagi yang memiliki performa setara dengan kapal terbang
yang pernah kami minta dari Barakaja sebelumnya. Kami ingin mengajukan
permintaan pengerukan.”
“Berapa batas
waktunya?”
“Sebisa mungkin
secepatnya. Kami bersiap membayar tiga kali lipat dari harga sebelumnya. Kalau
perlu uang muka, kita bisa membicarakannya.”
Mendengar ucapan
Krus yang lugas dan tenang, Invel membelalakkan matanya yang seolah dibuat-buat
lalu bergumam, “Oh ya?”
“Kamu royal
sekali. Tidak biasanya orang-orang yang cuma tahu cara meraup keuntungan dan
memperkaya diri sendiri itu bersikap begini. Ada angin apa?”
Orang-orang yang
dia maksud tentulah kalangan penguasa lama di Kota Ketigabelas.
Mendengar
penuturan wanita itu, Krus terkekeh sinis dari hidungnya.
“Mereka semua
sudah diseret turun dari kursi empuk bertajuk kelas istimewa itu. Tidak, lebih
tepatnya, kami yang telah menyeret mereka turun.”
“Itu baru cerita
yang bagus. Jadi, kamu mau bilang kalau peningkatan persenjataan juga
diperlukan untuk itu?”
“Ya.”
Seperti biasa,
jawaban singkat Krus menghentikan percakapan begitu saja. Invel menatapnya
tajam, lalu mengembuskan napas penuh keheranan.
“Sikap kaku dan
hemat bicaramu itu ternyata belum sembuh juga, ya. Dengar, Krus. Kalau kamu
butuh kapal sekelas itu satu lagi, aku tidak bisa mengangguk begitu saja tanpa
mendengar alasannya lebih lanjut. Barakaja adalah kota netral abadi yang tidak
memihak kota mana pun. Kami tidak akan menerima permintaan yang bisa merusak
keseimbangan dunia. Kamu tahu itu, ‘kan?”
Mendengar nada
bicara Invel yang menuntut penjelasan, raut wajah Krus sedikit memburuk. Alasan
di balik goyahnya raut wajah yang biasanya sedingin es itu cukup sederhana.
Krus melempar
pandangannya ke ruang hampa.
“Kapal Mensis
yang kami beli sebelumnya telah hancur total. Makanya kami butuh satu lagi. Itu
saja.”
“Hah? Kapal itu?
Jangan bercanda. Di wilayah udara ini, hampir tidak ada yang sanggup
menjatuhkan kapal itu. Apa kamu baru saja terlibat bentrok dengan Si Baron
Biru?”
Mendengar nama perompak
bereputasi buruk yang menjadikan wilayah utara sebagai markasnya disebut, Krus
menggelengkan kepala.
“Bukan.”
“Lalu apa? Apa gadis
pilot itu yang buat masalah?”
Menanggapi
pertanyaan Invel yang datang bertubi-tubi, kali ini ganti Krus yang menghela
napas. Setelah menengadah ke langit-langit sejenak, dia melemaskan bahunya dan
kembali menatap Invel.
“Kota
Ketigabelas diserang oleh Paus Putih. Mensis bertarung untuk bertahan hidup,
dan meski berhasil memukulnya mundur, kapal itu hancur total. Begitulah
kejadiannya.”
“Paus Putih,
katamu?”
Invel memajukan
tubuhnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Benar. Lebih
tepatnya, bisa dibilang pertarungan itu berakhir imbang.”
“Oh. Bocah Nil
itu hebat juga. Tapi kalau begitu, bukannya misi kalian untuk mengamankan
Spesies Kuno sudah selesai? Kalau begitu, kalian tidak butuh kapal lagi, ‘kan?”
“Itu kalau
semuanya berjalan sesuai rencana. Menurut pihak laboratorium, jumlah sel dari
Spesies Kuno yang diamankan tidak mencukupi. Alasannya karena Spesies Kuno yang
ditemukan ukurannya hampir separuh lebih kecil dari perkiraan.”
Separuh dari
perkiraan.
Magami, yang
telah menyaksikan langsung sosok Spesies Kuno itu, sangat mengerti maksud
kata-kata tersebut.
Sosok Spesies
Kuno yang menanggalkan wujud manusianya dan menyatukan lebih dari separuh
tubuhnya dengan mesin. Wujud itu pastilah sesuatu yang bahkan tidak
diperkirakan oleh pihak laboratorium.
Mengingat sosok
Spesies Kuno sesaat sebelum mengembuskan napas terakhirnya, perasaan Magami
sedikit muram.
“Jadi, kamu
butuh kapal lagi untuk menjalankan misi itu kembali, begitu?”
Kembali
menyilangkan kakinya yang panjang, Invel mengalihkan pandangannya ke
pemandangan di luar. Setelah berpikir cukup lama dengan ekspresi rumit, dia
akhirnya bergumam, “Baiklah.”
“Pilihan untuk
kapal sekelas Mensis tidak banyak. Proses pengerukannya pun akan sulit. Syarat
dariku, seluruh biaya harus dibayar di muka, dan jika memakan waktu lebih lama
dari perkiraan, akan ada biaya tambahan. Pertimbangkan itu baik-baik terlebih
dahulu.”
“Setuju. Akan
kusampaikan pada orang-orang di balai kota.”
“Senang
berbisnis dengan orang yang cepat paham sepertimu, Krus.”
Invel menyunggingkan
senyum nakal di bibirnya, lalu menopang dagu di atas lututnya yang bersilang.
Dari bagian dadanya yang terdorong ke depan, belahan dadanya mengintip sedikit,
membuat Magami tanpa sadar menatapnya lekat-lekat.
Bukan berarti
tatapan itu yang menjadi penyebab utamanya.
Namun karena
momennya pas bertepatan, tatapan tajam Invel mendadak terarah lurus kepada
Magami.
“Lalu, aku
penasaran dari tadi. Siapa bocah ini? Kamu tahu aturan di kota ini, ‘kan?”
Menerima tatapan
dingin bagaikan pemangsa yang sedang menguliti mangsanya, Magami refleks
menarik lehernya ke belakang.
“Laki-laki
dilarang di sini. Siapa pun yang masuk tanpa izin dari Ketua akan dijadikan
debu di Lapisan Abu tanpa ampun, begitu ‘kan?”
“Benar. Dulu aku
memang memberimu izin, tapi itu berlaku khusus untukmu saja. Soal bocah ini,
aku tidak tahu-menahu.”
Tepat setelah
mengatakan itu, Invel bergerak berdiri dengan anggun memanfaatkan gaya
sentrifugal dari kakinya yang panjang. Kemudian, sembari mengentakkan tumit
sepatunya, dia melangkah maju mendesak Magami.
Saat berdiri di
dekatnya, ukuran tubuh Invel jauh lebih tinggi daripada Magami. Selisih tinggi
mereka mungkin sekitar dua kepala.
Sambil tetap
menengadahkan dagunya yang tirus, wanita itu menatap ke bawah dengan aura
penguasa yang amat dominan.
Hawa membunuh
yang terpancar sangat jelas dari tubuhnya.
Magami refleks
menelan ludah.
Di sampingnya,
Krus mengedikkan bahu sambil menghela napas.
“Invel. Khusus
untuk anak ini, kurasa hal yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi. Lagi pula,
aku membawanya bukan tanpa alasan. Bagaimanapun juga, dia adalah teknisi andal
yang diakui oleh Kanayago, dan dia juga yang mengurus perbaikan dinding luar
kota. Dia mungkin bisa berguna untuk pengerukan nanti.”
“Kanayago yang
itu?”
Rasa permusuhan
di wajah Invel memudar, berganti dengan binar rasa ingin tahu. Dia membungkukkan
tubuhnya yang jangkung, menyamakan tinggi pandangannya dengan Magami.
“Tapi laki-laki
tetaplah laki-laki, kita tidak pernah tahu kapan mereka berubah jadi binatang
buas. Bukannya itu juga fakta?”
Sambil tetap
membungkuk, Invel menatap Magami dari atas sampai bawah seolah sedang menilai
harganya. Berada di bawah tatapan yang membuat tubuhnya serasa ditusuk jarum
itu, Magami merasakan wajahnya kaku.
Melihat
reaksinya, Krus mengangkat sebelah alisnya dengan napas terhela.
“Satu hal lagi
yang perlu kukatakan, pasangan anak ini adalah Nil.”
“Apa? Hmm.
Informasi yang bagus.”
Sebuah isyarat
tanpa kata terjalin antara Invel dan Krus, lalu wanita itu bergumam kepada
Magami, “Ternyata seleramu aneh juga, ya.”
Setelahnya, dia
akhirnya menarik kembali jarak yang sengaja dipangkasnya tadi.
“Justru yang
kukhawatirkan adalah apakah orang-orang di sini yang akan macam-macam padanya.”
“Benar juga.
Wajah oke, sikap oke, keahlian juga oke; kalau sampai ada yang mengganggunya
pun kita tidak bisa protes. Malah, bukannya lebih baik kalau dia menunggu
dengan manis di daratan saja?”
“Nil rewel
sekali dan bersikeras ingin ikut dengannya. Soal yang satu itu, aku tidak punya
pilihan lain.”
“Oh~ Mesra
sekali.”
Dengan suasana
yang seolah hendak bersiul dan menggodanya kapan saja, Invel berbalik
memunggungi mereka. Dia duduk di kursi terdekat lalu menunjuk ke arah Magami.
“Bocah, siapa
namamu?”
Setelah akhirnya
terbebas dari pesona Invel, Magami menatap wanita itu kembali.
“Magami. Aku bekerja
sebagai teknisi perbaikan dinding luar sekaligus mekanik.”
“Bolehlah.
Magami, atas rekomendasi Krus, aku memberimu izin tinggal khusus. Tapi, kalau
sampai kamu melakukan perbuatan licik atau asusila pada keluargaku, kamu akan
langsung jadi debu di Lapisan Abu. Paham?”
Wanita ini pasti
benar-benar sanggup melempar seseorang ke Lapisan Abu tanpa ragu. Magami
merinding membayangkannya.
“Akan aku camkan
dalam-dalam.”
Dengan wajah
yang masih diliputi ketegangan, Magami menjawab.
Namun, Invel yang
masih menunjuk Magami menambahkan satu hal lagi.
“Satu lagi, ini
peringatan demi kebaikanmu sendiri...”
Dia menggantung
kalimatnya, lalu menyunggingkan sudut bibirnya seolah sedang bercanda.
“Waspadalah agar
kamu tidak diserang. Terutama di tempat-tempat yang sepi.”
“...Diserang
oleh apa?”
Mendengar
peringatan tidak terduga—atau lebih tepatnya gurauan itu—Magami hanya bisa
menanyakan kembali dengan wajah yang kaku.
* * *
“Aku sudah
mencarimu lama sekali, tahu. Bukan cuma satu jam, tapi ada dua jam lebih.”
Nil berucap
demikian kepada Magami sembari memonyongkan bibirnya yang tertata indah
bagaikan ujung mata pena.
“Maafkan aku.
Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana rencana pergerakan kita begitu sampai di
sini, jadi kalau kamu menyalahkanku, aku juga bingung harus bagaimana.”
“Meskipun
begitu, tetap saja.”
Gumam Nil dengan
raut tidak puas yang terpampang jelas, lalu mengarahkan tatapannya yang lelap
dan basah ke arah Magami.
Namun, sorot
mata itu bukanlah amarah atau kejengkelan yang tidak beralasan seperti dulu.
Magami yang mengerti memutuskan untuk menerima emosi gadis itu apa adanya.
“Aku akan
menebusnya nanti. Karena sekarang situasinya sudah tenang, kumohon perbaiki
sedikit suasana hatimu.”
“...Uu~”
Nil merintih
pelan, menyipitkan matanya lebih tajam lagi sembari menatap Magami.
Magami yang
setengah menyerah menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas balkon kecil
tersebut, lalu menyapu pandangannya ke pemandangan kota Barakaja yang
membentang di belakang tubuh Nil.
Tempat Magami
dan Nil berada saat ini adalah sebuah rumah singgah yang terletak di area
pemukiman.
Terletak di
sudut paling ujung dan dibangun seolah menempel pada dinding, rumah singgah
tersebut disiapkan sebagai markas mereka selama tinggal di Barakaja.
Saat Shitaharu
membawa Magami ke ruangan ini, sebagian besar barang bawaan yang diangkut oleh
kapal terbang sudah dipindahkan ke dalam, dan para awak Kapal Mensis yang tiba
lebih dulu di kota ini pun telah berkumpul.
Namun entah bisa
dibilang ketiban sial atau bukan, mereka justru saling berselisih jalan dengan
Nil. Gadis itu kembali ke ruangan ini sambil terengah-engah beberapa saat
setelah semua orang selesai bertukar salam perpisahan.
Bisa dibilang
ini hanyalah luput yang sangat sepele.
Namun, itu sudah
lebih dari cukup untuk merusak suasana hati gadis tersebut.
“Padahal aku
menunggu sejak pagi dengan niat ingin menjadi orang pertama yang menyambutmu.
Sejak sebelum matahari terbit, aku terus menunggu. Tapi kamu malah asyik
mengobrol dan bersenda gurau dengan yang lain.”
“Yah, soalnya
aku juga sudah lama tidak bertemu dengan mereka semua.”
Sambil berucap
demikian, Magami mengalihkan pandangannya dari balkon ke dalam ruangan.
Di balik kaca
jendela yang sedikit buram, terdapat sebuah ruang tamu yang cukup luas. Di
sana, wajah-wajah yang tidak asing tampak sibuk bergerak dengan urusan
masing-masing.
Di sudut
ruangan, Agatha dan Krus berdiri mengobrol dengan raut wajah yang tampak rumit,
sementara di dapur yang menyatu di belakang mereka, Luciola dan Nebula sedang
bersiap meracik makan siang. Nox sendiri duduk di kursi, begitu menghayati membaca
sebuah buku.
Sambil
memperhatikan rekan-rekannya di Kapal Mensis satu per satu, pandangan Magami
akhirnya kembali pada Nil yang berada di sampingnya. Gadis itu mengangkat
dagunya dengan sikap yang seolah bisa menggembungkan pipinya kapan saja.
“Maksudmu,
berbincang dengan mereka begitu menyenangkan sampai-sampai kamu tidak berniat
mencariku?”
“Bukan begitu,
aku juga memikirkanmu karena kamu tidak ada di sana, tapi.”
“Tapi?”
Jika dia sampai
kehilangan arah untuk meredakan kejengkelannya begini, masalah ini tidak akan
pernah selesai. Magami mengatupkan matanya dengan kelapangan hati bagaikan
seorang Buddha.
“Maafkan aku.
Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menunggu selangsung
itu. Tapi, terima kasih. Perasaanmu itu sejujurnya membuatku sangat bahagia.”
“...Mm.”
Mendengar
jawaban jujur dari Magami, Nil membungkukkan punggungnya lalu menumpukan
dagunya di atas pagar pembatas, menyahut dengan ungkapan “Kalau begitu, tidak
apa-apa” seolah telah menurunkan senjata perang.
Magami
mengembuskan napas lega, lalu berdiri berdampingan di sisinya dan kembali
melayangkan pandangan ke seluruh penjuru Barakaja.
“Ngomong-ngomong,
ini pertama kalinya aku mendengar ada kota layang yang melarang laki-laki
masuk. Apa benar-benar tidak ada laki-laki sama sekali di sini?”
“Sepertinya ada
beberapa orang. Tapi hampir semuanya perempuan.”
“Kenapa bisa
jadi begitu?”
“Agatha bilang,
ketua di sini mengumpulkan orang-orang yang pernah diculik oleh perompak atau
dijual. Sebagian besar orang yang tinggal di sini adalah kaum tersingkir yang
tidak punya tempat kembali seperti itu.”
Kaum tersingkir.
Sebuah kata yang merujuk pada orang-orang berkedudukan lemah yang tertindas
secara sosial. Gaung kata itu terasa terlalu berat dan kaku jika diucapkan oleh
Nil, namun di saat yang sama terasa sangat khas dengan gaya bahasa Agatha.
Dunia yang
berada di ambang kehancuran ini sudah sangat jauh dari dunia yang tertata dan
memiliki pemerintahan yang berfungsi seperti sedia kala. Meski semua orang
berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup di lingkungan yang teramat
keras, aksi saling rampas dan saling benci antar sesama manusia tetap tidak
pernah sirna.
Entah menyadari
bentuk asli dunia ini atau tidak, Nil menghela napasnya.
“Katanya, sejak
zaman ketua yang terdahulu pun seluruh awaknya memang sudah perempuan semua. Kenapa
bisa sampai seperti itu?”
“Aku pernah dengar
kalau di pasar jual-beli manusia, laki-laki dihargai lebih tinggi sebagai
tenaga kerja kasar, jadi mungkin perempuan lebih mudah dibeli. Tapi, rasanya
tempat ini tidak berjalan dengan pemikiran seperti itu.”
“Maksudmu?”
Mendengar
pertanyaan jujur dari Nil yang memiringkan kepalanya dan menatap ke arahnya,
Magami memberikan jawaban.
“Jika dilihat
dari tujuan awal sebuah kota layang, Barakaja ini sebenarnya punya kelas yang
cukup rendah. Memang tempat ini dirawat dengan sangat bersih. Namun area
pemukimannya tidak luas, dan mereka tidak akan sanggup memproduksi bahan
makanan sendiri. Karena itulah mereka tidak punya pilihan selain berfokus pada
pekerjaan khusus seperti pengerukan.”
“Lalu?”
“Tidak ada cara
lain untuk bertahan hidup selain menuntaskan pekerjaan pengerukan yang tingkat
bahayanya sangat tinggi. Dan di lingkungan sekeras ini, pihak yang bisa bersatu
padu hanyalah mereka yang terdesak tanpa ada jalan lari, serta orang-orang yang
sanggup mendedikasikan kesetiaan penuh.”
“Orang-orang
yang tidak punya rumah sangat menguntungkan bagi diri mereka sendiri maupun bagi
Barakaja. Begitu maksudmu?”
“Daripada bilang
menguntungkan, lebih tepat jika dikatakan mereka saling hidup berdampingan.
Ungkapan itu terasa lebih pas. Mereka ditempa menjadi pasukan elit bukan
sebagai individu, melainkan sebagai sebuah kelompok. Justru karena itulah, pada
akhirnya tempat ini sanggup menjadi rumah kedua bagi mereka.”
Membayangkan
masa lalu para wanita yang hidup di sini, Magami membatin. Kota terbang
Barakaja yang tertata rapi ini adalah wujud nyata dari tekad dan ikatan kasih
sayang yang mereka miliki.
“Bukan hal yang
aneh juga kalau ada orang yang tidak punya kampung halaman. Kita berdua pun
kurang lebih sama seperti itu.”
Seakan memahami
perasaan di dalam hati Magami, Nil meliriknya dari sudut mata lalu bergumam
lirih. Sambil merenungkan kata-kata itu, Magami membalikkan tubuhnya dan
menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.
“Benarkah
begitu? Kalau aku, aku menganggap semua orang di Kapal Mensis adalah keluarga.
Tentu saja, termasuk dirimu juga. Bukannya itu berarti kita punya tempat untuk
pulang, tidak peduli apakah kita punya kampung halaman atau tidak?”
“Tapi kalau
kapalnya sudah tidak ada, semua orang akan terpecah belah. Sekarang pun begitu.
Kapal Mensis adalah rumah bagiku, dan jika kapal itu hilang, maka keluargaku
pun ikut lenyap. Aku bahkan tidak tahu apakah kamu akan tetap berada di sisiku
atau tidak.”
Nil menunduk
dengan wajah tidak puas. Poni peraknya yang indah jatuh menutupi area matanya.
Magami yang
memperhatikan dari samping kembali menyadari bahwa sisa-sisa rasa kesepian
masih bersarang di dalam hati gadis itu.
Proyek Nil untuk
menyelamatkan dunia. Subjek uji yang diciptakan hanya demi menjalankan proyek
tersebut, seorang manusia buatan—itulah sosok gadis bernama Nil. Takdir yang
dipikulnya sebagian besar diisi oleh nilai guna dan arti keberadaan, yang
kemudian membentuk sudut pandang di dalam dirinya.
Hal semacam itu
tampaknya tidak akan sirna begitu saja, bahkan setelah dia mendapatkan seorang rekan
bernama Magami.
Magami
merapatkan bahunya setengah langkah ke arah Nil.
“Yah, mau kita
naik kapal atau tidak, aku tetap ingin bersamamu, kok.”
“Benarkah?”
Di balik poni
yang menyerupai benang perak itu, mata merah delima milik Nil tampak diselimuti
emosi cemas. Sambil terus menatap matanya, Magami membalas dengan senyuman
lembut.
“Benar. Aku
tidak akan berbohong padamu.”
Kata-kata Magami
seharusnya sudah tersampaikan dengan jelas kepadanya. Namun, seolah-olah tidak
mendengar apa pun, Nil tetap terdiam sembari mendongak menatap pemuda itu.
Matanya yang
tampak tidak biasanya basah seolah bergelombang bagaikan permukaan air. Saat
bibir tipisnya yang basah terbuka dan hendak mengutarakan sesuatu, sebuah
teriakan dari suara yang tidak asing bergema di belakang mereka berdua.
“Gyaaaaaa!”
Jeritan
melengking yang mengerikan itu menyela suasana yang sudah terbangun dengan
indah, membuat Magami merasa ingin mengembuskan napas panjang. Di saat yang
sama, sebuah suara yang memanggil namanya terdengar dari dalam ruangan.
Saat berbalik,
Agatha yang tadinya asyik mengobrol dengan Krus tampak memberi isyarat
melambaikan tangan ke arah Magami dengan wajah cemas.
“Maaf. Ada
masalah.”
Sambil
mengembuskan napas panjang di tempat, Magami menyapa Nil sebentar.
Magami mendorong
pintu yang membatasi balkon dan ruangan hingga terbuka. Seketika itu juga, bau
menyengat yang sama sekali tidak terasa di balkon langsung menusuk hidungnya.
“Busuk sekali.
Ada apa sebenarnya, Agatha-san?”
“Sepertinya aku
salah memilih orang untuk diserahi tugas. Tolong bantu mereka sebentar.”
Setelah berucap
demikian, Agatha menunjuk ke arah dapur di belakang punggungnya.
Magami mengintip
ke arah dapur yang terhalang oleh tubuh Agatha. Di sana tampak Nebula yang
sedang panik setengah mati, serta Luciola yang memiringkan kepalanya dengan
santai sesuai ritmenya sendiri.
“Kelihatannya
merepotkan sekali, jadi aku ingin menolak saja.”
“Jangan begitu,
tolonglah. Memangnya kamu sanggup tidak makan apa-apa sampai malam?”
“Yah, benar
juga, sih.”
Magami bergumam
sembari mengalihkan pandangannya kembali ke Agatha.
Lalu dia
menyuarakan keraguan yang mendadak muncul di benaknya.
“Bukannya lebih
baik kalau Agatha-san saja yang mengajari mereka?”
Mendengar
kalimat itu, Agatha menyunggingkan senyum khas orang dewasa di wajahnya.
“Aku memang
terbiasa memegang jarum suntik dan pisau bedah. Tapi aku sama sekali tidak
tertarik dengan urusan memasak. Sama sekali tidak.”
Sembari
menekankan ucapannya seolah menunjukkan angka nol mutlak, wanita itu bersedekap
lalu berseru, “Kalau begitu, aku serahkan padamu ya,” sebelum akhirnya kembali
ke arah Krus.
Setiap manusia
memang memiliki keahlian dan ketidakahliannya masing-masing. Bagi Agatha,
memasak bisa dibilang merupakan hal yang tidak cocok untuknya.
Magami mau tidak
mau melangkah mendekati dapur.
“Uwah. Apa-apaan
ini?”
Melihat
pemandangan utuh dari dapur tersebut, Magami refleks berseru.
Di atas jajaran
wajan yang berderet, teronggok objek hitam hangus tidak dikenal, sementara di
dalam panci berukuran sangat besar, sesuatu seperti sup berwarna keruh bagaikan
air got sedang mendidih. Menyadari sumber dari aroma berbahaya yang terus mengepul
meski kipas ventilasi sudah berputar, Magami menempelkan telapak tangannya ke
dahi.
“Hei, kalian sebenarnya
berniat membuat apa?”
“Tumis sayur dan
sup kacang. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang dibayangkan.”
Luciola yang
berdiri di depan kompor berucap dengan ekspresi wajah yang tetap tenang.
Ekspresi seperti
itu seharusnya hanya ditunjukkan oleh orang yang benar-benar bisa memasak
dengan baik. Sembari melontarkan celaan di dalam hati, Magami kembali menatap
ke arah masakan yang sudah tidak berwujud tersebut.
“Sekadar
memastikan saja. Apa kalian berdua pernah memasak sebelumnya?”
“Tidak pernah.
Di Kapal Mensis ada petugas masak yang menyiapkannya, dan sejak sampai di sini
kami biasanya cukup makan makanan ransum saja.”
Kembali dengan
sikap tanpa rasa bersalah sedikit pun Luciola berucap, lalu membalas Magami
dengan senyuman manis saat mata mereka bertaut.
Dia tadinya
mengira gadis ini yang paling normal, namun ternyata dia mungkin yang paling
merepotkan dari semuanya.
Magami
menyuarakan isi hatinya yang paling dalam dari lubuk hatinya.
“Hei! Kenapa
sayuran mentah bisa langsung hangus begitu! Bikin naik darah saja!”
Nebula yang
menyembulkan kepalanya dari bawah dapur dengan piring di tangan terus
menggerutu sembari mengembuskan napas gusar. Yang satu ini memang beroperasi
seperti biasa, tapi fakta bahwa ada potongan sayur yang menempel di wajahnya
sungguh sulit dipahami. Lagi pula, sayuran mentah adalah bahan makanan yang
relatif sulit hangus. Bagian itu pun sulit dipahami.
Merasakan
kepalanya mulai pening, Magami menunjuk ke arah mereka berdua.
“Pokoknya, untuk
makanan hari ini biar aku yang siapkan, jadi kalian berdua duduk manis saja.”
“Oh, begitu?
Sangat membantu, ya.”
“Apa-apaan.
Kalau berniat begitu katakan saja dari awal. Aku jadi bekerja sia-sia.”
Masing-masing
menyampaikan pendapat seenaknya lalu melepas celemek mereka.
Sambil menahan
keinginan untuk menghela napas, Magami melepas kepergian punggung mereka. Tepat
ketika mereka bertukar posisi, Nil sudah berdiri di samping dapur.
“Magami. Mau
kubantu?”
Berbanding
terbalik dengan kata-katanya yang terdengar segan, dia sudah pasang kuda-kuda
seolah hendak melepas jaket seragam militernya saat itu juga. Magami mengamati
gadis itu lekat-lekat sebelum mengonfirmasi firasat buruknya.
“Aku cuma ingin
memastikan, apa kamu berpengalaman dalam memasak?”
“Tidak ada.
Tapi, aku mahir menggunakan senjata tajam.”
“Aah~ Sudah
kuduga.”
Dengan pandangan
mata yang seolah menatap ke tempat yang jauh, Magami teringat kembali momen
pertemuannya dengan gadis itu. Pisau belati yang diayunkan serta olah tubuhnya
yang luar biasa. Jika bicara soal itu, dia memang bisa dikatakan sangat mahir
dalam menangani benda tajam.
Lagi pula,
melihat reaksi Nebula di belakang yang menjerit kecil “Hiik” begitu mendengar
ucapan Nil, sudah bisa dipastikan bahwa gadis itu pernah membuat masalah
terkait benda tajam di masa lalu.
Magami
mengarahkan telapak tangannya ke arah Nil dengan raut wajah datar tanpa emosi.
“Kamu pasti
lelah juga, jadi sebaiknya istirahatlah sebentar. Untuk urusan memasak, aku
sendiri saja sudah cukup.”
“Sungguh?
Mmm...”
Meski terkulai
lemas karena merasa keberatan, Nil menarik kursi yang paling dekat dengan dapur
lalu duduk manis di sana.
Sambil
mengenakan celemek, Magami menatap racikan menyeramkan yang tersisa di dapur.
Pertama-tama,
membersihkan tempat ini dulu. Mengingat betapa berharganya bahan makanan di
zaman sekarang, Magami pun memanjatkan doa bagi bahan-bahan yang telah terbuang
sia-sia tersebut, lalu mulai memasak.
* * *
Di balik masker
yang menutupi wajahnya, Magami mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sambil
memastikan tali yang mengikat tubuhnya, dia menyempurnakan posisi amannya.
Tempat Magami
berada saat ini adalah bagian bawah Barakaja.
Di bawah
kakinya, hamparan permukaan Lapisan Abu membentang luas, sementara di atas
kepalanya terlihat dinding luar Barakaja. Tempat ini, tempat gas buang
Mekanisme Amadeus yang dikeluarkan dari sistem penggerak megah melintas dan
menyapu ujung hidungnya, terasa seperti tempat yang paling dekat dengan
kematian di Barakaja.
Magami merasakan
tetesan keringat mengalir di dahinya. Suhu udara luar mungkin sangat rendah,
tetapi bagian dalam pakaian pelindung yang menutupi seluruh tubuhnya terasa
sangat pengap dan panas.
Setelah
memastikan rantai yang menjadi tahap akhir pekerjaannya telah terpasang dengan
kuat, Magami mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Pemasangan
selesai! Mulai penarikan!”
Selaras dengan
gerakan tangannya, sosok manusia kecil yang mengintip dari tempat yang sangat
tinggi di atas sana ikut mengangkat tangan membalas tandanya. Tidak lama
kemudian, rantai perlahan-lahan mulai digulung naik, menarik ke atas sebuah
perangkat besar yang disebut transceiver.
Melihat proses
kerja berjalan dengan lancar tanpa hambatan, Magami merasa lega.
“Magami. Di sini
sepertinya sudah aman. Kita juga tarik diri!”
Dari balik
bayangan transceiver raksasa,
Shitaharu yang mengenakan pakaian pelindung serupa dengan Magami berteriak.
Dengan gerakan tubuh yang jauh lebih ringan daripada Magami, dia mulai melepas
tali-tali yang mengikat tubuhnya.
“Apa tidak
apa-apa? Padahal proses penarikannya baru saja dimulai.”
Magami bertanya
kepada Shitaharu yang menempel di dinding bagaikan seekor laba-laba, tetapi
wanita itu menjawab tanpa berbalik.
“Kamu tidak
percaya diri dengan pekerjaanmu sendiri, ya? Lagi pula diam berdiri melamun di
sini cuma menambah risiko mati.”
Entah dia serius
atau bercanda, Shitaharu tertawa lepas penuh semangat.
Sembari
melontarkan kata-kata itu, dia telah selesai melepas tali pengikat tubuhnya.
Melihat hal tersebut, Magami pun bergegas melakukan persiapan dengan cepat.
Shitaharu adalah
seorang teknisi yang memimpin Divisi Satu, divisi yang berisi jajaran teknisi
paling elit di Barakaja ini. Karena alasan itulah, dia bekerja dengan kecepatan
yang bahkan membuat Magami, yang berpengalaman sebagai teknisi perbaikan
dinding luar, merasa terkagum-kagum.
Keduanya
memanjat dinding luar sembari mencengkeram tonjolan-tonjolan di dinding.
Setelah sampai di salah satu pintu kedap udara yang terpasang di dinding luar
dan kembali ke dalam kota, Magami langsung terduduk di tempat saat proses
pembersihan udara selesai.
“Haaah... luar
biasa. Apakah orang-orang di sini semuanya bekerja secepat ini?”
Saat Magami
melepas maskernya dan menyeka butiran keringat yang menetes deras, Shitaharu
meregangkan lehernya hingga berbunyi.
“Tidak juga,
hampir tidak ada orang yang bisa bekerja dengan kecepatan yang sama denganku.
Makanya, kamu ini punya bakat yang cukup bagus. Tidak salah lagi Kanayago
sampai mau mengakuimu.”
Shitaharu
melepas maskernya, lalu menyeka wajahnya yang penuh bercak keringat sama
seperti Magami. Kemudian, dia tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan
giginya dengan riang.
“Rasanya aku
benar-benar ingin merekrutmu menjadi teknisi di Barakaja.”
“Sayang sekali,
di tempatku ada banyak rekan yang sedang menungguku. Terima kasih atas
ajakannya, tapi mungkin di lain waktu saja.”
“Ahaha. Rekan
yang menunggu itu, maksudmu si Tuan Putri itu ‘kan? Kelihatannya dia cukup
liar, apa kamu tidak kerepotan mengurusnya? Yah, kalau aku sendiri sih suka
dengan orang bersemangat seperti dia.”
Rupanya Nil pernah
membuat semacam keributan di Barakaja dalam waktu singkat. Magami merasa
sedikit cemas, tetapi melihat raut wajah Shitaharu, dia memutuskan untuk
menganggapnya sebagai kekhawatiran yang tidak perlu.
Setelah melepas
pakaian pelindungnya, Shitaharu kini berganti memakai pakaian tipis berupa
selembar kaus kutang. Magami berdiri dengan bantuan lengan yang diulurkan
Shitaharu, lalu kembali membayangkan sosok Nil di benaknya.
“Tapi ya,
sejujurnya dia tidak terlalu terasa seperti seorang Tuan Putri. Lebih tepatnya
terasa seperti seorang prajurit. Namun di balik penampilannya itu, dia punya
sisi ceroboh yang cukup banyak, jadi aku selalu khawatir.”
“Ahaha. Magami,
kamu ini sudah seperti walinya saja.”
“Bukan. Bagiku,
dia adalah rekan yang tidak bisa dibiarkan sendirian begitu saja.”
Saat Magami
membalas dengan wajah penuh percaya diri, Shitaharu bersiul lalu berjalan
keluar ruangan. Setelah melepas pakaian pelindung yang basah oleh keringat dan
memasukkannya ke dalam loker, Magami bergegas berlari kecil mengekor di
belakangnya.
“Aduh, tapi
benar-benar merepotkan ya. Begitu sampai pada tahap menggunakan transceiver, barangnya malah rusak. Ini
sih namanya gagal sebagai pelaku bisnis pengerukan.”
Melihat Magami
yang berlari menghampiri di lorong yang agak temaram, Shitaharu menyesuaikan
langkah kakinya. Magami yang berhasil menyusul di sampingnya menengadahkan
kepala sambil menyeka keringat yang masih terus menetes.
“Lagi pula,
bagaimana cara mencari kapal yang tenggelam di bawah Lapisan Abu? Kalau pakai transceiver biasa, bukannya sulit
membedakan antara kapal dan dasar tanah?”
“Itu sih
gampang. Tinggal cari saja Mekanisme Amadeus-nya.”
“Justru aku
bertanya karena tidak paham maksudnya.”
“Apa-apaan, masa
teknisi tidak tahu soal itu? Ya sudah, kuajari.”
Shitaharu
tertawa kekeh lalu mengacungkan jari telunjuknya.
“Mekanisme
Amadeus itu, dalam kondisi fungsinya terhenti total, bisa diaktifkan dari jarak
jauh. Caranya dengan memancarkan frekuensi khusus dari Mekanisme Amadeus lain
dan menghantamkannya ke sasaran. Karena itulah kita memanfaatkan transceiver yang dilengkapi Mekanisme
Amadeus skala kecil.”
“Huh. Aku masih
tidak begitu paham, tapi rasanya aku mengerti apa yang harus dilakukan. Jadi
karena itulah Nil dan Luciola ikut datang bersama?”
“Anima milik
kami sudah kewalahan hanya untuk mempertahankan fungsi kota. Dalam hal
pencarian, kalau ada Anima lain, akan lebih efisien jika kita menyerahkan tugas
itu pada mereka. Tapi sepertinya Tuan Putri di tempatmu itu tergolong
istimewa.”
“?”
Magami memandang
penuh tanda tanya pada Shitaharu yang terus melangkah di koridor. Sambil
menghela napas, wanita itu menyenggol Magami.
“Yang baru kita
tarik tadi adalah transceiver yang
memancarkan frekuensi itu. Dan Tuan Putri di tempatmu, Nil kalau tidak salah
namanya, mengoperasikannya dengan keluaran yang terlalu tinggi sampai-sampai
barangnya langsung konslet dalam sekali pakai.”
Shitaharu
menggelengkan kepalanya dengan wajah masam sembari menggerutu, “Ini pertama
kalinya kejadian seperti ini.”
Memang benar, keluaran
yang dipunyai Nil jauh berbeda dibandingkan Anima lainnya. Tampaknya hal itu
justru membawa dampak buruk. Dan fakta bahwa Magami yang harus membereskan
kekacauan itu terasa cukup masuk akal dalam arti tertentu.
“Anu, maafkan
kami atas masalah ini.”
“Ahaha.
Sudahlah, tidak apa-apa. Lagi pula karena itulah aku menarikmu ikut bekerja.
Bisa mengonfirmasi keahlianmu juga membuat ini jadi sekali mendayung dua tiga
pulau terlampaui.”
Meskipun
Shitaharu lebih pendek satu kepala dari Magami, kekuatan tepukan tangannya di
punggung Magami sebanding dengan pukulan Kanayago. Punggungnya ditepuk keras
hingga terasa sakit, membuat Magami menundukkan kepalanya sedikit.
“Oh, panjang umur,
si Tuan Putri muncul juga.”
Sesuai arah dagu
yang ditunjukkan oleh Shitaharu, sosok Nil muncul dari balik sudut lorong.
Dia berjalan
sendirian dengan wajah dingin sama seperti saat masih berada di Kapal Mensis.
Begitu menyadari keberadaan Magami, wajahnya sempat berseri-seri sejenak, namun
saat melihat Shitaharu, ekspresinya kembali mengeras.
“Waduh.
Sepertinya aku tidak terlalu disukai nih. Bagaimana kalau aku mundur dulu?”
Melihat
Shitaharu yang berpura-pura mengendap-endap hendak kabur bagaikan seorang
pencuri, Magami menahannya.
“Tidak usah.
Mumpung ada kesempatan bagus. Lagi pula aku berpikir Nil memang harus belajar
jadi lebih ramah sedikit. Bisakah kamu menemaninya sebentar?”
“Serius? Tapi
tatapan matanya itu kelihatan seperti cemburu karena pria kesayangannya direbut
tahu?”
“Kalau begitu
justru sebaliknya, aku harus menyampaikan bahwa tidak ada yang seperti itu,
kalau tidak posisiku yang akan terancam ‘kan?”
“Kamu pandai
menjaga perasaan orang ya. Ternyata kamu memang pria yang baik. Aku jadi makin
mau sama kamu.”
Shitaharu mencampurkan
gurauan dan perasaan jujurnya dengan santai sembari melangkah mendekati Nil
bersama Magami. Seiring berkurangnya jarak di antara mereka, Magami merasa
wajah Nil makin kehilangan emosi dan berubah kaku.
Begitu sampai
pada jarak di mana suaranya bisa terdengar, Magami mengangkat sebelah
tangannya.
“Hai, Nil.
Katanya kamu ikut membantu pekerjaan pengerukan sejak kemarin, ya?”
“Benar.”
Jadi apa? Begitu
respons singkat yang membuat percakapan terputus seolah dia ingin
menyampaikannya.
Sikapnya itu
seolah mengingatkan kembali pada keposisiannya yang dingin dan tidak ramah saat
pertama kali mereka bertemu. Menghadapi sikapnya yang menimbulkan rasa rindu
itu, Shitaharu membuka suara dengan ceria.
“Aduh aduh. Maaf
ya, langsung ada gangguan begini. Akan kami perbaiki sebentar dan dipasang
lagi, jadi jangan cemberut begitu dong.”
Seolah-olah
mereka adalah teman lama, Shitaharu memangkas jarak dan mendongak menatap Nil
sambil tersenyum malu-malu. Karena jaraknya dipangkas secara begitu alami, alis
Nil bergerak sedikit.
“Aku tidak
cemberut.”
“Oh. Kalau
begitu justru tidak bagus punya muka muram begitu. Kamu ‘kan cantik, lebih bagus
kalau tersenyum tahu? Atau jangan-jangan, kalau lagi berdua dengan Magami kamu
lebih banyak tersenyum?”
Shitaharu mendekatkan
tubuhnya satu langkah lagi sembari memamerkan deretan giginya yang putih.
Bagi Nil, orang
dengan tipe seperti ini pasti yang pertama kali dijumpainya. Raut wajahnya yang
tadinya tanpa ekspresi kini dihiasi rona kebingungan.
“Tidak ada
hubungannya denganmu, ‘kan?”
“Yah, tidak bisa
dibilang tidak ada hubungannya juga sih~”
Ujar Shitaharu
sembari mulai melangkah di depan untuk memimpin jalan mereka berdua. Toh,
tujuan mereka bertiga sama. Nil yang mengekor di belakangnya dengan enggan memandang
Magami, bertanya apa maksud dari ucapan itu.
Bahkan kalau
diperlihatkan muka seperti itu pun aku tidak tahu. Magami bergegas
menggelengkan kepalanya sebagai balasan.
“Ahaha. Tidak
ada hubungannya dengan Magami kok. Yang ada hubungannya itu antara aku dan
kamu.”
Sambil berjalan
santai dengan langkah yang ringan, dia berbalik lalu menunjuk dirinya dan Nil
sembari menyeringai. Entah mengapa, sorot matanya tampak menyiratkan aura
seekor pemangsa.
“Aku suka dengan
wanita cantik yang angkuh dan tegas. Aku suka tipe-tipe seperti Ketua sih. Dan
sepertinya, kamu ini termasuk tipe yang itu.”
“H-Huh?”
“Kalau sudah
bosan dengan Magami, kapan saja berpalinglah padaku. Aku menunggu dengan tangan
terbuka kok.”
Pembicaraan
macam apa ini, bisik Nil dalam rintihan kebingungannya.
“Ups, gara-gara
bicara berlebihan kita sudah sampai di tujuan.”
Di ujung koridor
polos tanpa hiasan yang mereka lalui, bertiga mereka memasuki sebuah ruang
raksasa yang dinamai Hanggar Ketiga.
Tempat itu
berbau minyak dan dipenuhi oleh berbagai macam mesin dan peralatan. Di atas
lantai yang luas berjejer beberapa kapal terbang kecil yang rusak serta
mesin-mesin yang tidak diketahui kegunaannya, mungkin hasil dari pengerukan.
Di salah satu
sudutnya, transceiver yang baru saja
ditarik oleh Magami dan yang lainnya teronggok di sana.
“Heeii. Bagaimana
kondisi transceiver-nya?”
Shitaharu
menyapa para teknisi dengan nada bicara yang santai. Para wanita yang
mengelilingi transceiver menyadari
kehadiran Shitaharu dan mengacungkan tangan mereka pelan.
“Secara fisik
tidak ada kerusakan di bagian luar, jadi kurasa kabel listrik di bagian dalam
ada yang putus. Atau mungkin ada masalah dalam konversi keluaran dari Mekanisme
Amadeus. Kalau yang terakhir itu yang terjadi, akan merepotkan.”
“Hahahaa. Kalau
begitu, harus dimulai dari melepas penutup luarnya dulu, ya?”
“Benar. Kalau ke
depannya dia yang akan terus menaikinya, lebih baik seluruh pengkabelannya
diganti dengan yang punya ketahanan lebih tinggi.”
Salah satu
teknisi melirik ke arah Nil, lalu memiringkan kepalanya seolah ingin mengatakan
sesuatu. Menanggapi sikap itu, Nil perlahan mengangkat dagunya.
Melihat
interaksi mereka dari sudut mata, Shitaharu langsung menjawab tanpa mengembuskan
napas mengeluh sedikit pun.
“Itu sih bisa jadi
pekerjaan besar. Kalau begitu, untuk sementara kita pakai unit cadangan saja?”
“Iya. Untuk
sementara, biarkan Anima selain dia yang menggunakan unit cadangan untuk
melakukan pengerukan.”
“Sip. Kalau
begitu rencananya...”
Shitaharu dan
para teknisi mulai membicarakan langkah selanjutnya dengan gerakan tangan dan
tubuh. Magami menyisih dari mereka dan mendekati transceiver yang baru saja ditarik tadi.
Transceiver itu berbentuk silinder dari
susunan kepingan besi tambal sulam. Di bagian ujungnya terpasang peralatan
untuk memancarkan dan menerima gelombang radio, dan di bagian tengahnya
terdapat Mekanisme Amadeus berukuran kecil. Kemudian di bagian atasnya terdapat
ruang kursi kecil yang cukup untuk diduduki satu orang.
Magami mengintip
ke dalam ruang itu dan menelan ludah.
“Duduk berjam-jam
di dalam ruang seperti ini...”
Tempat itu
adalah sebuah ruang yang bahkan untuk bergerak pun sulit, tidak ada layar
monitor maupun lubang intip untuk melihat ke luar sama sekali. Sangat mudah
dibayangkan bahwa begitu pintu kedap udaranya ditutup, tempat itu akan menjadi
ruang tertutup nan gelap gulita yang hanya diterangi oleh sedikit lampu
indikator.
“Bagian dalam
ini rasanya jauh lebih tidak nyaman dari yang kamu bayangkan.”
Tanpa disadari
Nil sudah berdiri di samping Magami, bergumam sembari mengintip ke dalam persis
seperti dirinya.
“Benda ini bukan
cuma sempit. Benda ini digantung dengan kawat sampai dekat batas permukaan
Lapisan Abu. Kalau sudah begitu, benda ini akan bergoyang berayun-ayun dan bikin
mual.”
Nil berucap
demikian sembari menggerakkan ujung jarinya memperagakan gerakan ayunan bandul.
Dengan daya imajinasinya yang terbatas, Magami mencoba membayangkan pengalaman
gadis itu.
“Hmm. Rasanya
bisa bikin mabuk, ya.”
“Itu pertama
kalinya aku merasa ingin muntah di dalam kendaraan.”
“Kamu bisa mabuk
kendaraan? Sulit dibayangkan.”
“Kalau begitu,
Magami coba saja naik. Toh, seharunya kamu juga bisa menggunakannya.”
Nil berucap
seolah itu sudah sewajarnya, sembari mengangkat sebelah alisnya.
Sejak kapan dia
belajar memasang wajah provokatif seperti itu? Entah mengapa ekspresi yang
mengingatkan pada Agatha itu dibalas Magami dengan senyum getir.
“Aku ini ‘kan
cuma mekanik. Tapi, kalau Nil butuh bantuan, aku boleh saja ikut.”
“Dua orang di
tempat sempit begini? Kamu bercanda, ‘kan?”
“Yah, kalau
sampai kejadian begitu, kamu di dalam dan aku di luar. Bagian sekitar sini kelihatannya
bisa dipegang, ‘kan?”
Magami menunjuk
ke arah tonjolan kecil di sisi transceiver
sembari mengedikkan bahu. Nil menggelengkan kepalanya seolah tidak mau
melayani gurauan itu.
“Mustahil bisa
dipegang manusia.”
“Mungkin saja
tidak. Tapi itu cuma perumpamaan, kok.”
Saat berucap demikian
kepada Nil, Magami berbalik menanggapi kehadiran seseorang yang mendekat dari
belakang.
Di sana berdiri
Shitaharu yang telah selesai melakukan koordinasi, dengan wajah yang tampak
serba salah.
“Aduh, maaf ya,
tapi ini kelihatannya bukan sekadar perbaikan melainkan bakal jadi pengerjaan
ulang. Kasihan sih buat Nil-chan, tapi kamu harus istirahat dulu untuk
sementara.”
“Maksudmu?”
Wajah yang
tadinya melunak secara alami kini mengeras kembali, Nil menatap tajam ke arah
Shitaharu. Wanita itu tidak peduli dengan tatapan tajam itu dan menepuk bahu
Nil.
“Maksudku, kami akan
menyesuaikannya khusus untukmu. Bukan kabar buruk, ‘kan? Selama dua-tiga hari
ini, nikmati saja sambil tertawa melihat Anima lain yang muntah-muntah. Rasanya
cukup menyenangkan lho melihat orang lain berwajah pucat.”
Bukan kalimat
dengan selera yang bagus.
Namun, saat
menyaksikan sikap Shitaharu yang tertawa lepas hingga suaranya bergema di
seluruh ruang penyimpanan, anehnya perkataan buruk itu tidak terasa begitu
jahat.
“Terserahmu
saja, tapi cepat persiapkan. Ini pekerjaan yang tidak ingin kuserahkan pada
Anima lain.”
“Ohh. Maksudmu
kamu mau mencari kapalmu sendiri? Sikap yang bagus. Kalau begitu, kami juga
harus bersiap-siap dengan sungguh-sungguh. Melihat Nil-chan mual dan muntah-muntah
juga punya daya tarik tersendiri sih.”
Shitaharu
menyunggingkan senyum jahat yang jelas terlihat, lalu tertawa kekeh.
Magami hanya
bisa memiringkan kepalanya heran sembari mengabaikan pandangan Nil yang seolah
mempertanyakan orang macam apa wanita ini sebenarnya.
* * *
“Aw, sebentar,
tidak kuat. Mau muntah lagi.”
Nebula, yang
mengatakannya tanpa daya seperti biasa, berdiri dari meja makan tempat makan
malam disajikan, lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Tirai malam
telah terkumpul sepenuhnya.
Di rumah
singgah, aroma harum masakan yang disiapkan Magami memenuhi udara. Para Anima
yang berkumpul di ruang tamu mengantar kepergian Nebula yang melangkah
sempoyongan dengan helaan napas panjang.
Magami menatap Nebula
dengan cemas, lalu menghentikan tangannya yang sedang menyajikan makanan di
depan mangkuk sup yang kosong.
“Anak itu, sejak
pulang begitu terus kondisinya. Apa dia tidak apa-apa?”
“Begitulah.
Kalau naik transceiver, mualnya akan
terus berlanjut sampai setengah hari. Tapi besok pasti sudah membaik, kok.”
Yang menjawab
kekhawatiran Magami adalah Luciola. Sambil menyesap supnya, dia tertawa kecil.
“Kemarin kamu juga
kelihatan lumayan menderita, ‘kan?”
“Ya. Sensasi
melayang itu sulit terbiasa. Mekanisme Amadeus-nya juga punya resistensi yang
kuat meski ukurannya kecil, ditambah pengap yang menyiksa sampai rasanya
mencekik, perasaanku benar-benar buruk.”
Sambil
melontarkan kalimat itu dengan santai seolah-olah masalah orang lain, Luciola
kembali melanjutkan makan malamnya.
Saat ini dia
bisa menunjukkan ketenangan seperti ini, tetapi kemarin dia pulang dengan
langkah yang jauh lebih sempoyongan dibandingkan Nebula hari ini. Bahkan Agatha
yang biasanya tenang pun sampai ikut khawatir.
Namun, seperti
yang dikatakannya, kondisinya tampak pulih sepenuhnya setelah tidur semalam.
Magami berhenti mengkhawatirkan yang tidak perlu, lalu mengembalikan panci sup
ke tengah meja.
“Pengerukan di
Lapisan Abu itu ternyata dimulai dari mencari lokasinya, ya. Kukira lokasinya
sudah ditentukan dengan lebih pasti.”
“Ya, benar. Tapi
menurut orang-orang di Barakaja, ini pun sebenarnya sudah diperkirakan sampai
batas tertentu.”
“Yah, benar
juga. Di langit seluas ini, kalau mencari tanpa arah pasti tidak akan pernah
ketemu.”
Setelah duduk di
kursinya, Magami menatap mangkuk sup yang masih terasa hangat.
Sudah beberapa
hari sejak Barakaja memulai operasi pengerukan. Para Anima dari Kapal Mensis
dikerahkan setiap hari untuk bekerja menggunakan transceiver. Dengan jam kerja yang panjang, antara 8 hingga 10 jam
sehari, kelelahan mereka mulai terlihat jelas.
Magami menyesap
sup sederhana buatannya sendiri, lalu menundukkan bahunya.
“Rasanya aku
merasa bersalah karena tidak banyak yang bisa kubantu. Maaf ya, sudah
menyerahkan semuanya pada kalian.”
“Tidak, tidak.
Dengan membuatkan makanan lezat setiap hari saja sudah sangat membantu kami.
Lagi pula, setelah kapal berhasil diangkat, kalianlah yang akan sibuk, ‘kan?
Mulai dari situ, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan.”
Luciola berkata
demikian, lalu beralih pandang pada Nox yang duduk di sampingnya seakan meminta
persetujuan. Nox mengangguk tanpa bersuara. Cara menjawab yang sangat khas
untuk dirinya yang irit bicara.
Namun, Magami
menyadari bahwa tidak biasanya Nox yang jarang mengekspresikan keinginan itu
sedang menatap tangannya dengan hangat. Di dekat tangannya, tersisa sebuah
piring yang sudah bersih tanpa sisa.
“Ternyata Nox
makan banyak juga, ya. Mau tambah lagi?”
Magami dengan
peka mengulurkan tangannya ke arah piring Nox. Namun, gadis itu bergegas
menarik piring kosongnya mendekat ke arahnya.
Apakah ada
sesuatu yang membuatnya sungkan? Hanya dengan raut wajahnya yang agak keruh,
Nox berusaha menyampaikan sesuatu kepada Magami.
Begitu rupanya,
pikir Magami.
“Tidak usah
khawatir. Bagian Nil sudah kupisahkan tersendiri, lalu Kapten dan Agatha sudah
selesai makan. Walau tidak banyak, kalau cuma untuk porsi Nox masih ada, kok.”
“Sungguh?”
“Coba lihat ke
dalam panci. Masih ada sisa.”
Magami memiringkan
panci berisi sup kentang untuk memperlihatkannya. Nox yang mengintip ke
dalamnya langsung membuat matanya berbinar dengan jelas. Kemudian, dia
mendorong piring yang tadi ditariknya maju ke depan, lalu menyuarakan
keinginannya dengan singkat, “Tambah.”
“Besok
gilirannya Nox yang naik transceiver,
‘kan? Makanlah yang banyak.”
Di samping Nox
yang menggoyangkan tubuhnya dengan penuh antusias, Luciola tersenyum. Kemudian,
dia dengan lembut memindahkan roti kering dari piringnya sendiri ke atas piring
Nox.
“Terima kasih
atas makanannya. Hari ini juga sangat lezat.”
“Lho, sudah
selesai? Kamu makan sedikit sekali.”
“Aku hanya makan
lebih sedikit daripada Nox.”
Sambil menyeka
bibirnya dengan rapi lalu berdiri, Luciola menyunggingkan senyum tenang seperti
biasanya. Dia mengembalikan kursinya ke posisi semula, lalu melangkah
meninggalkan ruang tamu.
Melihat
peralatan makan yang tersisa di atas meja, Magami membayangkan porsi sup yang
disajikannya untuk Luciola tadi.
Memang benar dia
bukan tipe yang makan banyak.
Namun, porsi
makanannya hari ini terasa tidak biasa karena terlalu sedikit.
Setelah
menuangkan sup ke piring Nox, Magami berkata, “Permisi sebentar,” lalu melangkah
menuju tangga tempat Luciola menghilang.
Saat keluar dari
ruang tamu menuju tangga yang agak gelap tanpa penerangan, udara terasa dingin.
Sinar rembulan menerobos masuk dari jendela yang ada di bordes tangga. Saat
mendongak, dia melihat punggung Luciola yang bersandar pada bingkai jendela.
“Luciola?”
Saat dipanggil
pelan, gadis itu berbalik kaget dan terburu-buru menyeka dahinya.
“Ah, ada apa?”
Meski
berpura-pura tenang, suaranya jelas terdengar bergetar.
Magami
mengerutkan alisnya lalu menaiki anak tangga.
“Kamu sedang
tidak enak badan?”
“Tidak.
Sepertinya aku hanya makan terlalu banyak.”
“Makan terlalu
banyak katamu, padahal kamu hampir tidak makan apa-apa, ‘kan? Kurasa belum ada
setengah dari biasanya.”
“Duh. Jangan
memeriksa porsi makan seorang gadis dong.”
Luciola
bermaksud membalas dengan nada santainya yang biasa.
Namun, nada
bicara itu kehilangan ketegasannya. Begitu berdiri di bordes tangga, Magami
akhirnya yakin bahwa ada yang tidak beres dengannya.
Meskipun agak
gelap dan sulit terlihat, butiran keringat dingin menetes deras di dahi
Luciola. Matanya mulai memerah karena iritasi, dan dibandingkan tadi, warna
bibirnya tampak lebih pucat.
Padahal baru
saja dia kelihatan baik-baik saja.
Dengan terkejut,
Magami menawarkan bahunya untuk memapah Luciola.
“Luciola. Kamu
sedang sakit, ‘kan? Jangan dipaksakan, lebih baik istirahat. Aku bantu, ayo ke
kamarmu.”
“Aku tidak apa-apa.
Kalau istirahat sebentar...”
Baru saja
mengucapkan hal itu, Luciola sempoyongan dan nyaris roboh. Magami dengan sigap
menopang tubuhnya, sementara gadis itu bergumam, “Masih... tidak apa-apa...”
Melihat keadaan
yang tidak wajar itu, Magami menyadari situasi ini berbahaya. Dia memeluk tubuh
Luciola lalu bergegas naik ke lantai dua.
Kalau tidak
salah, kamar paling depan setelah menaiki tangga adalah kamar Agatha. Sambil
membawa Luciola yang terasa kian berat di setiap langkahnya menuju lantai dua,
Magami berhasil mengetuk pintu, dan Agatha pun menyembulkan wajahnya dari
dalam.
“Agatha.
Luciola...”
Sebelum Magami
sempat menjelaskan situasinya, Agatha langsung membuka pintu lebar-lebar.
Kemudian dengan nada bicara yang tenang, dia hanya berkata, “Baringkan di
tempat tidur belakang.”
Dengan langkah
terhuyung-huyung, Magami membaringkan Luciola di tempat tidur yang terletak di
sudut ruangan. Setelah memeriksa kondisinya sendiri dan melihat sekeliling,
Luciola mengatupkan matanya yang redup begitu saja.
“Hei, Luciola.”
Magami mengintip
raut wajahnya. Di sisinya, Agatha yang memegang jarum suntik di satu tangan membuka
kelopak mata Luciola untuk memeriksa pupilnya.
“Tidak apa-apa.
Sepertinya efek obatnya sudah habis. Setelah diberi obat, dia akan segera
pulih.”
Dengan gerakan
yang sangat terampil, Agatha membuka baju bagian atas Luciola. Kemudian, dia
menyuntikkan jarum suntik itu menembus kulit lehernya yang terbuka.
Suara rintihan
pelan keluar dari mulut Luciola, dan napasnya pun perlahan mulai memburu
menjadi lebih tenang. Meski sempat dibuat panik oleh kejadian yang tiba-tiba
ini, sepertinya situasi berhasil dikendalikan tanpa menjadi masalah besar.
Magami menatap
langit-langit sembari mengembuskan napas lega.
“Efek obatnya
mulai memendek. Haruskah kutambah dosisnya? Tapi kalau ditambah lebih dari ini,
aku takut akan mempercepat perkembangan tahapannya.”
Agatha yang
meletakkan jarum suntik kosong di atas meja bergumam seorang diri. Lalu saat
matanya tertuju pada rekam medis, dia mendongak seolah baru teringat akan
keberadaan Magami.
“Terima kasih,
Magami-kun. Kamu sudah boleh pergi.”
“Baik.”
Merasa tidak
nyaman berada di dalam ruangan itu, Magami melangkah menuju pintu. Namun, rasa
penasaran tetap mengganggunya. Tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, dia
berbalik.
“Anu... apakah
kondisi Luciola separah itu?”
Di dalam ruangan
yang hanya diterangi oleh pendar lampu meja, Agatha melirik Magami dari sudut
matanya. Lalu, dia mengembuskan napas pendek.
“Tidak bagus.
Kalau dari tahapannya, mungkin sudah masuk tahap keempat.”
“Tahap keempat?”
“Ya.”
Agatha
mengangguk seolah mengiyakan, tetapi melihat ekspresi Magami, dia menyadari
keraguan di dalam diri pemuda itu. Dia menyipitkan poninya yang terurai ke
belakang telinga, lalu menegakkan punggungnya.
“Magami-kun
pasti tidak tahu, ya? Soal tahapan kelelahan Anima. Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Aku
sendiri juga bingung apakah boleh bertanya atau tidak.”
Magami menggaruk
pipinya dengan wajah serba salah.
Gadis-gadis yang
disebut Anima ini pada dasarnya adalah barang habis pakai untuk mengoperasikan
Mekanisme Amadeus. Walau Magami mengetahui itu, secara psikologis dia selalu
berusaha menghindari untuk berhadapan langsung dengan masalah tersebut.
Kini saat
dihadapkan kembali pada kenyataan itu, Magami bingung harus berkata apa.
Melihat ekspresi kebingungannya, Agatha menarik kursi lalu duduk.
“Tahapan kelelahan
Anima itu totalnya ada lima tingkat. Kondisi sehat adalah tingkat pertama, lalu
mulai merasakan sakit kepala atau nyeri tubuh yang sangat ringan adalah tingkat
kedua. Tingkat ketiga adalah saat timbul sakit kepala kronis atau gangguan
fisik yang membutuhkan bantuan obat. Tingkat keempat adalah saat obat mulai
kehilangan efektivitasnya, disertai gangguan ingatan atau gangguan kesadaran.
Dan tingkat kelima yang terakhir, obat sudah tidak mempan lagi dan berujung
pada kematian.”
Kematian.
Mendengarnya,
Magami refleks menelan ludah.
“Kalau begitu,
Luciola...”
“Dia mulai
memasuki tahapan keempat.”
“Tahap
keempat... Apakah kondisi itu bisa membaik kalau dia beristirahat?”
“Sayang sekali,
meski ada cara untuk memperlambat prosesnya, tidak ada cara untuk membalikkan
tahapannya. Tubuhnya sudah menjadi seperti itu, dia tidak akan bisa bertahan
hidup tanpa bantuan obat.”
Tanpa mengubah
ekspresinya yang biasa, Agatha berbicara dengan lugas dan dingin. Hanya saja, dia
mengambil sebatang rokok yang tergeletak di atas meja dan menyelipkannya di
bibir tanpa menyulutnya.
Menghadapi
kenyataan bahwa tahapan keempat ini tidak dapat dipulihkan, Magami mengalihkan
pandangannya pada Luciola yang terbaring di atas tempat tidur.
Meski napasnya
terdengar teratur, wajahnya yang masih pucat tanpa rona darah terasa tampak
berbeda dari biasanya.
Agatha membuka
lembaran rekam medis di atas meja sembari bersuara.
“Magami-kun, apa
kamu pernah melihat seorang Anima melampaui batas kemampuannya?”
Mendengar
pertanyaan yang terasa begitu mendadak itu, Magami menjawab dengan agak
ragu-ragu.
“Tidak. Saat
masih berada di daratan, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang Anima.”
“Tentu saja.
Bahkan bagi orang-orang yang tinggal di kota layang pun, hanya sedikit yang
menyaksikan detik-detik terakhir mereka. Kamu tahu kenapa?”
Anehnya, Magami
merasa seperti bisa menebak jawabannya.
Mereka hanyalah
pihak yang menikmati manfaat dari keberadaan manusia yang disebut Anima. Takdir
seperti apa yang harus dipikul oleh gadis-gadis itu; jika sampai mengetahuinya,
takkan ada yang punya keberanian untuk menyaksikan detik-detik terakhir mereka.
Melihat Magami
yang bungkam tanpa memberikan jawaban, Agatha melayangkan pandangannya. Magami
hanya menggelengkan kepala dalam diam.
“Detik-detik
terakhir mereka itu jauh lebih mengenaskan dari yang kamu bayangkan.”
Sembari
mengucapkannya sendiri, Agatha mengembuskan napas yang terasa begitu berat.
Saat menatap
langit-langit yang gelap, dia melanjutkan kalimatnya tanpa emosi.
“Ketika memasuki
fase akhir dari tahapan keempat, pembuluh darah para Anima akan mulai pecah,
membuat memar dan pendarahan dalam makin bertambah. Seiring dengan itu, ada
individu yang sebagian jaringan tubuhnya mengalami nekrosis, ditambah rasa
lelah tinggi dan nyeri tumpul di sekujur tubuh hingga fungsi organ dalam pun
ikut terganggu. Perlahan-lahan fungsi tubuh mereka merosot sampai tidak bisa
berjalan lagi.”
Seolah tidak sanggup
menahannya lagi, Agatha bangkit berdiri dan berjalan mendekati jendela. Setelah
melepas kaitan engselnya, dia menyulut rokoknya di dekat jendela yang terbuka.
Secara perlahan
dan dengan gerakan tangan yang sangat terampil, dia memegang rokoknya lalu
mengembuskan asapnya. Sembari tetap seperti itu, dia mengarahkan matanya yang
tanpa emosi ke arah Magami.
“Bisa mati
dengan tenang itu masih tergolong beruntung. Namun dalam banyak kasus, meski
harus diikat di atas kursi roda pun, pemanfaatan mereka sebagai Anima akan
terus berlanjut. Dan pada akhirnya, pembuluh darah di otak mereka akan pecah,
lalu mereka tewas dalam kejang-kejang yang menyiksa.”
Membayangkan
akhir hidup yang begitu tragis bagaikan penyiksaan itu, wajah Magami menjadi
goyah.
“Itu benar-benar
mirip dengan kematian akibat kontaminasi Lapisan Abu.”
Magami teringat
kembali sosok mantan rekan kerjanya yang tewas dengan cara paling tragis di
dekatnya.
Seorang rekan yang
tidak sengaja jatuh ke dalam Lapisan Abu saat melakukan pekerjaan perbaikan
dinding luar, membutuhkan waktu beberapa hari hingga tubuhnya membusuk dari
dalam dan akhirnya tewas. Cara mati yang sangat mengerikan.
Agatha
mengangguk pelan menanggapi pernyataan Magami.
“Beban yang
ditimbulkan oleh Mekanisme Amadeus itu sangat mirip dengan kontaminasi Lapisan
Abu. Aku tidak tahu alasannya. Tapi mungkin memang ada semacam keterkaitan di
antara keduanya. Hanya saja bedanya, jika kematian akibat kontaminasi bisa
dihindari asal kita berhati-hati terhadap Lapisan Abu, para Anima ini
terus-menerus tergerogoti setiap hari. Terlebih lagi, mereka melakukannya demi
menjadi pengganti bagi diri kita.”
“Apa tidak ada
satu pun sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mereka?”
“Tidak ada yang
bisa kita lakukan. Paling-paling hanya mengurangi beban Luciola sebisa mungkin.
Namun, dia sendiri pasti tidak akan menginginkannya.”
Dengan rokok
yang masih terselip di bibirnya, Agatha menatap hampa ke balik kepulan asap.
“Bahwa dirinya
akan mati adalah hal yang sudah pasti. Kalau begitu, dia akan bertindak
sedemikian rupa agar anak-anak lainnya bisa bertahan hidup lebih lama. Jika
melihat kepribadiannya, dia pasti akan memilih jalan itu.”
“Kepribadian
Luciola, maksudmu?”
“Daripada
disebut kepribadian, mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai jalan hidupnya.
Sesuatu yang tidak akan pernah bisa diubah selama dia masih bernapas, seperti
sebuah takdir.”
Agatha menekan
puntung rokoknya yang memendek ke asbak di tepi jendela. Saat kepulan asap
terakhir membubung, dia mengutarakan kata-kata yang kiranya amat ingin dia
sampaikan kepada Magami.
“Karena itu,
persiapkanlah dirimu. Sebelum Proyek Nil berhasil dituntaskan, akan ada banyak
rekan yang kamu kenal gugur satu per satu. Meski begitu, kamu dan Nil harus
terus berlari hingga akhir. Demi mereka yang telah gugur.”
Kesiapan diri yang
dimaksud Agatha terasa jauh lebih berat dan membelenggu daripada yang
dibayangkan Magami. Tidak diragukan lagi, itu adalah beban yang sungguh berat
yang tidak sanggup dipikul seorang diri.
Namun, Magami
tidak sendirian. Dia mengangguk mantap menanggapi ucapan Agatha.
“Aku mengerti.”
Melihat wajah
Magami yang bersungguh-sungguh, ketegangan pada ekspresi Agatha menyurut.
Sembari menyentuh poninya untuk merapikan rambut, dia mengalihkan pandangan ke
luar jendela yang terbuka.
Meninggalkan
kamar Agatha dan turun ke ruang tamu di lantai satu, Magami berpapasan dengan
Nil yang sepertinya baru saja kembali dari luar. Kendati udara malam terasa
menusuk, gadis itu melepas jaketnya dan hanya mengenakan atasan tanpa lengan.
Peluh tipis tampak menetes dari dahi hingga ke lehernya.
Belakangan ini,
Nil hampir setiap malam pergi berlari. Menurut pengakuannya sendiri, itu
dilakukan demi melatih fisik. Namun sejatinya, bisa jadi itu hanyalah caranya
meluapkan kekesalan karena belum bisa naik ke transceiver.
“Selamat datang
kembali. Mau makan?”
Ketika Magami
bertanya pada punggung Nil yang tengah mengintip ke dalam lemari es, gadis itu
hanya memalingkan kepalanya.
“Ya. Aku mau
makan sekarang.”
Menjawab
singkat, Nil melangkah menuju meja makan dengan memegang botol air di satu
tangan.
Meski tidak
diperlihatkan secara terang-terangan, Magami merasa Nil memendam stres atas
kondisinya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Pada penekanan di akhir
kalimat Nil, terasa ketajaman yang tidak biasanya.
Magami meletakkan
piring Nox yang sudah selesai makan ke tempat cuci piring, lalu memanaskan
kembali sup.
Merasakan hawa
panas dari kompor listrik, Magami dalam hati merenung bahwa energi ini pun
dihasilkan dengan mengikis nyawa seorang Anima.
Seakan menangkap
atmosfer muram yang memancar dari diri Magami, Nil yang hendak duduk di kursi
menghentikan gerakannya.
“Magami, ada
apa?”
“Tidak. Tidak
ada apa-apa.”
“Kelihatannya
tidak begitu?”
“Yah, bukan
berarti tidak terjadi apa-apa sama sekali, sih.”
Sembari membalas
dengan senyum tipis, Magami menuangkan sup yang mulai berasap ke dalam piring.
Saat dia meletakkan makanan yang disisihkan untuk Nil di atas meja, gadis itu
menatap wajah Magami lekat-lekat.
“Meskipun
menatapku seperti itu, tidak akan keluar apa-apa, tahu.”
“Aku juga tidak
berharap begitu, kok.”
“Kalau begitu
baguslah.”
Usai bertukar
percakapan asal-asalan, Magami duduk tepat di hadapan Nil. Setelah menanti
gadis itu mulai menyantap makanannya, dia baru membuka pembicaraan kembali.
“Nil, apa kamu
tahu kondisi Luciola?”
“Kondisi?”
“Itu. Yang
dinamakan tahapan kelelahan.”
Menanggapi
pertanyaan Magami yang terdengar segan, Nil bergumam “Ah” seolah baru
mengingatnya.
“Sudah masuk
tahapan keempat, ‘kan? Aku tahu.”
Sambil menyesap
supnya, Nil mengatakannya dengan sangat santai. Merasa ada yang mengganjal
dengan tanggapannya, Magami sedikit mengerutkan alisnya.
“Mendengar itu,
apa kamu tidak merasakan apa-apa?”
“Sejak aku naik
ke Kapal Mensis, Anima sudah berganti berkali-kali. Ada yang turun karena tidak
sanggup mengimbangiku, ada juga yang diganti karena sudah mencapai batas
kelelahan.”
Mungkin karena
sangat lapar, Nil mengunyah potongan roti yang disobeknya sambil terus
berbicara. Di tengah gigitannya, seolah menyadari emosi yang dipendam Magami, dia
menghentikan sendok yang baru saja diangkatnya.
“Magami.
Terkurasnya Anima adalah hal yang tidak terelakkan. Sudah banyak Anima yang
gugur di depan mataku. Sekalipun hati kita merasa sakit, tidak banyak hal yang
bisa kita lakukan.”
“Meski begitu,
melihat rekan yang kita kenal baik gugur satu per satu itu rasanya menyakitkan,
‘kan?”
“Heh. Tidak
disangka. Ternyata kamu juga tipe orang yang seperti itu. Menatap rekan yang
gugur, lalu berpura-pura sedih dan menangis terisak-isak.”
“...Apa katamu?”
Magami tidak
bisa menyembunyikan rasa jijik dalam nada bicaranya. Kata-kata yang dilontarkan
Nil terasa terlalu tidak memiliki tenggang rasa.
Namun, meski
menerima luapan emosi tersebut, Nil sama sekali tidak menunjukkan niat untuk
merubah sikapnya. Dia membalas tatapan Magami dengan sorot mata yang sarat akan
provokasi.
Tanpa sadar,
Magami mengepalkan tinjunya di bawah meja.
“Ini menyangkut
hidup dan mati seseorang. Mustahil aku bisa menahan diri untuk tidak melibatkan
perasaan?”
“Jika dengan
begitu Anima bisa terselamatkan, lakukan saja. Tapi rasa simpati tidak akan
bisa menyelamatkan siapa pun. Daripada melakukan hal sia-sia seperti itu, jauh
lebih baik fokus melakukan apa yang bisa dilakukan satu per satu.”
Tanpa
menyelipkan emosi khusus, Nil mengucapkannya dengan tempo yang lebih cepat dari
biasanya.
“Nil. Luciola
itu rekan kita, ‘kan? Kenapa kamu bisa acuh tak acuh seperti itu?”
Magami menahan
nada bicaranya sembari merasakan darahnya berdesir naik ke kepala. Walau
begitu, tekanan suaranya tetap terdengar lebih tajam dibanding biasanya.
Bagi Nil,
perubahan nada suara yang tipis bukanlah hal yang perlu dipusingkan, tetapi
beda ceritanya jika lawan bicaranya adalah Magami. Dengan menimbulkan bunyi, dia
menjatuhkan sendoknya ke dalam mangkuk sup, lalu menatap Magami dengan
pandangan menusuk.
“Luciola itu
orang yang baik. Dia orang yang paling lama sanggup bertahan mengimbangiku
sampai saat ini. Tapi, Luciola tidak bisa diselamatkan. Dia pasti akan mati.
Kalau aku harus bersedih untuk setiap hal seperti itu, takkan pernah ada cukup
waktu.”
“Maksudmu, waktu
untuk berduka pun tidak perlu ada?”
“Daripada
membuang waktu untuk itu, aku lebih pilih berada di atas kapal walau hanya
semenit lebih lama. Hanya itu alasannya.”
“Kamu...”
Melihat emosi dingin
Nil, Magami kehabisan kata-kata.
Hubungannya
dengan gadis ini sudah berjalan lumayan lama. Magami adalah orang yang
menyaksikan dari paling dekat bagaimana gadis itu perlahan belajar berempati
dan mempedulikan orang lain.
Namun, di saat
seperti ini, Nil justru menunjukkan kekejaman yang tidak pernah dia lihat
sebelumnya.
Tidak mampu
berbelas kasih atas kematian rekan sendiri.
Bagi Magami, itu
sudah berada di luar batas nalarnya. Perasaan yang berada di luar jangkauan
pemahamannya itu bahkan nyaris terasa bagai penghinaan.
Nil pasti
menangkap gelagat tersebut. Sambil membiarkan makanannya terbengkalai, dia
berdiri dengan kasar.
Lalu sambil
menatap ke bawah ke arah Magami, dia mengembuskan napas berburu.
“Magami, kamu
harus jadi jauh lebih kuat. Kalau begini terus, kamu tidak akan sanggup
mengimbangiku.”
“Apakah hal
itu... benar-benar bisa disebut sebagai kekuatan...?”
Mendengar
sanggahan Magami, kilatan amarah sempat melintas di wajah Nil.
Akan tetapi,
setelah menahannya kuat-kuat, gadis itu membalikkan badan tanpa memedulikan
rambut panjangnya yang terurai berantakan.
“Terima kasih
makanannya.”
Ujarnya dingin
sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.
Sambil
mendengarkan derap langkah kaki yang menjauh dengan berisik, Magami menundukkan
pandangannya ke meja.
Setelah sosok
Nil menghilang sepenuhnya dari ruang tamu, terdengar banting keras pintu lantai
dua yang ditutup. Magami menundukkan bahunya sembari menghela napas panjang.
“Ah, astaga.
Kenapa jadi begini, sih?”
Sambil
mengacak-acak rambutnya, Magami bangkit berdiri dengan sigap.
Tujuannya adalah
tangga menuju lantai dua.
Akan tetapi,
tepat setelah dia melangkah keluar dari ruang tamu, sebuah suara dari arah
belakang menghentikan langkah kakinya.
“Sebaiknya kamu
urungkan niatmu.”
Saat berbalik
menanggapi suara itu, Nebula tampak berdiri menyandar di dinding. Dengan wajah
yang masih pucat, dia menyunggingkan senyum kaku ke arah Magami.
“Aku tidak
berniat menguping, sih, tapi suasananya tadi sama sekali tidak memungkinkan
untuk menyela.”
Setelah memberi
pengantar demikian, dia menunjuk ke arah Magami.
“Kamu itu
terlalu naif. Untuk kali ini, apa yang dikatakan Nil itu justru yang benar.”
“Apa katamu?”
Merasakan emosi
yang sempat dia tahan kembali membakar di dalam dada, Magami memaksa mulutnya
yang terbuai untuk tertutup. Membuang emosi pada gadis ini pun takkan ada
gunanya.
Daripada itu, kenapa
Nebula sampai mengatakan itu? Hal itulah yang mengusik pikirannya. Setelah
menelan kembali kata-kata yang sempat naik ke tenggorokannya, Magami dengan
patuh menanti jawaban dari Nebula.
Nebula
menepuk-nepuk perutnya sembari menengadah menatap langit-langit di tempatnya
berdiri.
“Anima itu pada
akhirnya cuma barang habis pakai. Orang yang paling paham soal itu adalah dia.
Dan, yang paling takut akan hal itu melebihi siapa pun juga dia. Mungkinkah,
orang yang paling merasa terpukul kalau Luciola sampai tidak ada nanti juga
dia.”
“Bagaimana bisa
hal itu berhubungan dengan sikap acuh tak acuhnya yang tadi?”
Magami
melontarkan pertanyaan yang murni membingungkannya kepada Nebula. Sebagai pihak
yang menerima pertanyaan itu, Nebula memaki, “Kamu ini bodoh ya,” sebelum
akhirnya memasang wajah tangguh yang menjadi ciri khasnya.
“Malah
sebaliknya, kenapa kamu sampai tidak paham, sih? Padahal kamu orang yang paling
dekat dengan Nil, coba baca apa yang ada di balik kata-katanya itu.”
Di balik
kata-katanya.
Apakah artinya
alasan Nil tidak menjadi emosional terhadap kematian Luciola bukanlah sekadar
sikap acuh tak acuh atau ketidakpunyaan perasaan?
Namun, dengan
hati yang dipenuhi pusaran emosi kejengkelan, kekecewaan, dan amarah, dia tidak
punya kelapangan pikiran untuk memikirkan makna tersembunyi yang sesungguhnya
di balik ucapan Nil.
Saat Magami
menundukkan pandangannya ke lantai, Nebula melangkah mendekat dan mendesaknya.
“Aduh, astaga!
Kenapa kalian berdua ini rumit dan berbelit-belit sekali, sih! Dengar ya, dia
itu...”
Nebula yang
merapat hingga ke dada Magami mendaratkan jarinya yang kecil dan kurus ke dada
pemuda itu. Ujung jari yang terdorong masuk itu terasa seolah menusuk tepat di
lubuk hati Magami.
Hanya saja,
setelah itu suara Nebula mendadak terhenti. Saat mendongak heran untuk melihat
apa yang terjadi, Magami mendapati wajah pucat Nebula yang menggembungkan
pipinya bagaikan seekor tupai.
Hanya dalam
hitungan pecahan detik saat pandangan mata mereka bertaut, kantung pipi yang
tadinya menahan luapan itu akhirnya terlepas.
“Buororororororororor!”
“Uwah! Bodoh,
jangan muntah di sini!”
Muntahan yang
keluar dari mulut kecilnya begitu melimpah hingga membuat orang bertanya-tanya
dari mana semua itu berasal di dalam tubuh sekecil itu. Setelah mengeluarkan
lendir hijau misterius, Nebula merengutkan wajahnya seolah hendak menangis
detik itu juga.
“Aduh, ini sih
benar-benar bencana besar.”
Magami yang
bajunya telah berlumuran muntahan hanya bisa bergumam tenang dengan penuh kepasrahan,
lalu menepuk pelan bahu Nebula.
“Pokoknya, kita
ke kamar mandi dulu. Wajahmu kelihatan mengenaskan sekali.”
“Uu...u...”
Nebula merintih
sembari mengeluarkan isyarat seolah masih ada yang hendak dimuntahkan lagi.
Sambil membalikkan tubuh gadis itu, Magami mulai melangkah menuju kamar mandi.
Nebula yang bahunya terkulai lemas bergumam pelan, “Maaf,” dengan ditopang oleh
Magami.
* * *
Laporan dari
Shitaharu bahwa transceiver yang
disesuaikan khusus untuk Nil telah selesai dikerjakan datang tepat setelah
mereka selesai sarapan.
Entah karena
insiden semalam yang masih menyisakan beban hingga membuat wajahnya kurang
tidur dan memancarkan kekesalan yang jelas, Nil langsung melesat keluar dari
rumah singgah begitu mendengar laporan tersebut.
Sekitar dua jam
setelahnya. Mendengar bahwa berbagai penyesuaian akhir telah rampung, Magami
datang menyaksikan proses pencarian menggunakan transceiver dari atas jembatan gantung yang membentang di bagian
bawah kota Barakaja.
“Uwaah. Kalau
dilihat lagi secara langsung, rasanya sungguh mengerikan. Apa dia benar-benar
bakal naik ke dalam benda seperti itu lalu digantung?”
Sambil
menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas dan menatap permukaan Lapisan Abu
yang membentang luas di bawah sana, Magami merinding. Di sampingnya, tampak Nox
yang menyusutkan tubuhnya seolah menyembunyikan lehernya di dalam kerah baju.
“Enak ya. Aku
juga ingin naik.”
Dengan nada
bicara yang santai, Nox menyedot hidungnya yang terasa dingin.
“Kamu mau naik?
Aneh sekali. Kalau aku sih, lebih memilih menonton dengan tenang dari sini.”
“Kalau naik,
sepertinya menyenangkan.”
“Apanya yang
menyenangkan?”
“Bergoyang-goyang.”
Sudah kuduga,
pikir Magami sambil menganggukkan kepala menanggapi jawaban yang sudah sewajarnya
itu, lalu hanya bergumam, “Nox ini aneh juga.”
Dengan
selesainya transceiver khusus untuk
Nil, para Anima yang sebelumnya mengoperasikan unit cadangan untuk sementara
waktu dibebaskan dari tugas mereka. Entah Nox tergolong beruntung atau sial,
yang jelas dia kehilangan pekerjaannya hari ini dan menjadi menganggur.
Dan sembari
mengisi waktu luangnya, dia memilih untuk menyaksikan aksi Nil dari kejauhan.
Nox yang berdiri
di samping Magami menatap transceiver yang
terlihat jauh di sana, lalu mengangkat lengannya tanpa bersuara. Ujung jarinya
yang kecil terarah ke transceiver tersebut.
“Ada banyak
benda yang terpasang.”
Persis seperti
yang dikatakan Nox, pada transceiver itu
kini terpasang berbagai perangkat dan pengkabelan tambahan yang sebelumnya
tidak ada.
Magami mengamati
penampilan luarnya dan mencoba meraba-raba apa saja yang telah dilakukan pada
benda itu.
“Hm? Ah, benar
juga, pengkabelannya sendiri tampaknya diganti dengan yang lebih tebal. Pasti
mereka memasang konverter atau semacamnya untuk menyesuaikan tegangan
listriknya.”
“Konverter?”
Nox yang
jarang-jarang bertanya dengan antusias seperti ini membuat Magami bersedekap
dan bergumam memikirkan jawabannya.
“Mesin untuk mengubah
sesuatu seperti tegangan atau arus listrik menjadi frekuensi yang berbeda...
apa kamu paham?”
“?”
Nox memiringkan
kepalanya seolah sama sekali tidak mengerti.
Menjelaskan
konverter kepada seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan soal
mesin tampaknya agak terlalu sulit. Magami mengatupkan bibirnya membentuk garis
lurus, kembali bergumam karena tidak menemukan cara penjelasan yang bagus.
“Benda itu
digunakan untuk mengubah energi yang dikeluarkannya dari Mekanisme Amadeus
menjadi tenaga listrik, panas, atau daya dorong. Walaupun semua itu sebenarnya
adalah fungsi yang sudah tertanam di dalam Mekanisme Amadeus itu sendiri.”
Sebuah suara
berat terdengar dari belakang Magami yang sedang kesulitan menjawab, membuat
mereka berdua berbalik.
Di sana berdiri
sosok Krus. Memiringkan lehernya sedikit sama seperti Nox, pastilah karena
udara yang terasa dingin.
“Kapten. Ada
urusan apa sampai datang ke tempat seperti ini?”
“Urusanku sama
denganmu. Aku datang untuk melihat kemajuan pengerukan.”
Berucap demikian
dengan nada datar yang sulit ditebak isi hatinya, Krus berdiri berdampingan di
dekat Magami. Karena tinggi badan mereka yang bertingkat bagaikan anak tangga,
Magami merasa agak canggung berdiri di sana.
“Sepertinya
lokasi pastinya sudah mulai terlihat dari pengerukan hingga kemarin. Hari ini mungkin
kapalnya bisa ditemukan.”
“Sudah sejauh
itu kemajuannya? Kukira akan memakan waktu yang jauh lebih lama.”
“Pilihan untuk
barang yang kita minta tidak banyak, jadi kandidatnya bisa dihitung dengan
jari.”
Apakah ada hal
tertentu yang sedang dia renungkan; Krus menatap tajam ke bawah Lapisan Abu.
Di dalam Lapisan
Abu yang tidak berubah sedikit pun selama bertahun-tahun, masih banyak hal yang
belum diketahui manusia terendam di sana. Seolah-olah seperti kotak harta karun
yang dipisahkan oleh rentang waktu.
Saat
membayangkan hal itu dalam lamunan, Nox yang berada di sampingnya berseru,
“Ah.”
“Datang.”
Hanya dengan
kata itu, Magami sudah tahu siapa yang datang dan ke mana tujuannya.
Yang melangkah
keluar menyusuri tangga menuju pintu masuk transceiver
adalah Nil dengan seragam militer merahnya.
Sembari
mempertahankan ekspresi wajah yang tampak agak kaku, ia mendekati transduser
mengikuti arahan Shitaharu. Sambil berjalan, Nil mendongakkan wajahnya sedikit.
Pada saat yang singkat itu, Magami merasa pandangan mereka berdua saling
bertaut.
Magami mencoba
mengangkat tangannya pelan ke arah gadis itu.
Akan tetapi,
sang pemilik diri justru memonyongkan bibir bawahnya lalu memalingkan wajahnya
ke arah lain.
Merasakan
sensasi seperti ditinggalkan sendirian, Magami perlahan menurunkan tangannya
yang terangkat. Merasakan kehadiran Krus di sampingnya yang hanya mengarahkan
pandangan mata padanya, dia menyusutkan lehernya dengan agak canggung.
“Ada masalah
dengan Nil?”
“Tadi malam,
kami cuma sedikit berbeda pendapat soal Luciola.”
“Luciola, ya.”
Krus hanya
mengucapkannya begitu saja tanpa mencecar lebih lanjut.
Pasti dia sudah
bisa menebak hal seperti apa yang terjadi di antara mereka berdua tadi malam.
Sambil terkekeh kecil dari hidungnya, Krus hanya berpesan singkat, “Cepatlah
berbaikan.”
Di tengah
obrolan singkat itu, sosok Nil perlahan menghilang ke dalam gundukan logam
tersebut.
Setelah
Shitaharu menyampaikan sesuatu untuk terakhir kalinya, pintu berat transceiver pun ditutup. Begitu
gagangnya diputar untuk memastikan kerapatannya, alat penahan yang mengunci transceiver ditarik lepas.
Suara logam
berderit.
Tepat
setelahnya, transceiver itu perlahan
tergantung di udara mengikuti pergerakan derek. Beberapa kawat tebal perlahan
terulur, membawa transceiver itu
turun mendekati permukaan Lapisan Abu.
Menatap transceiver yang tampak persis bagaikan
peti mati dari logam, Magami mendadak merasa cemas. Di dalam sana, kira-kira
apa yang dipikirkan Nil sembari menjalankan misinya?
“Keluaran Nil
itu tujuh sampai sepuluh kali lipat dari Anima lainnya.”
Kepada Magami
yang terus terpaku menatap transceiver yang
kian mengecil di bawah sana, Krus mendadak membuka suara.
“Dengan tingkat keluaran
miliknya, gelombang yang dipancarkan transceiver
bisa menjangkau sampai ke daratan.”
“Daratan?”
“Ya. Dasar Lapisan
Abu yang kedalamannya mencapai ribuan meter. Dunia era kuno di mana umat
manusia pernah mencapai puncak kejayaannya.”
Magami mencoba
membayangkan dunia dengan daratan yang membentang tanpa batas, sebelum Lapisan
Abu menutupi segalanya.
Meski sama
sekali sulit dibayangkan, tempat itu pastilah dunia yang jauh lebih baik
daripada sekarang. Paling tidak, begitulah sejarah yang diwariskan
turun-temurun.
Akan tetapi,
bagi Magami yang hanya mengenal dunia di antara warna perak dan biru jernih,
kisah itu terasa bagaikan impian hampa. Walau mendengarnya lewat kata-kata,
tidak ada gambaran yang muncul di kepala.
“Dunia era kuno,
ya. Tempat seperti apa itu sebenarnya?”
Saat Magami
menatap ke ruang hampa, Krus yang berdiri di sampingnya menatap ke arah Lapisan
Abu dengan helaan napas.
“Bukan tempat
yang bagus. Tempat itu tidak ubahnya sisa-sisa busuk dari umat manusia. Jika
tidak begitu, dunia tidak akan berubah sejauh ini.”
“Yah, mungkin
memang begitu.”
Keduanya menatap
ke bawah pada permukaan Lapisan Abu yang tidak menyingkap apa pun, dan
kesunyian pun berlangsung selama beberapa saat.
Dalam kilauan
perak itu, Magami merasa seperti melihat keputusasaan berdampingan dengan
harapan.
Atas alasan apa
dunia ini sampai ditelan oleh Lapisan Abu? Tidak ada yang tahu.
Namun, di bawah
Lapisan Abu yang menutupi dunia seolah hendak menyembunyikan sesuatu, mungkin
memang tersimpan hal yang tidak baik.
Jika demikian,
apakah tindakan mereka yang nekat menerobos masuk ke tempat seperti itu akan
baik-baik saja?
“Kuharap tidak
terjadi apa-apa.”
Seolah mewakili
isi hati Magami, Krus bergumam.
Kalimat itu
terdengar begitu muram hingga Magami merasakan sedikit kejanggalan.
Rasanya ada
sesuatu yang mengganjal dari ucapan Krus. Namun, tanpa sanggup mengutarakan
kejanggalan itu dengan jelas dalam kata-kata, tepat ketika dia membuka mulut
hendak menyampaikan sesuatu, sebuah suara melengking yang menggetarkan udara
terasa bergema.
“Ini...?”
Magami menatap
ke bawah ke arah Lapisan Abu sumber suara itu.
Rupanya transceiver telah beroperasi. Gundukan
logam yang tergantung di udara itu kini diselimuti oleh pendar cahaya biru yang
dipancarkan dari Mekanisme Amadeus.
“Hmm, apakah ada
sesuatu?”
Ujar Krus yang
ikut mengarahkan pandangannya ke Lapisan Abu, suaranya melarut di tengah langit
yang luas. Seolah mengisi kekosongan itu, suara dari transceiver kembali terdengar dua hingga tiga kali.
Suara yang
terlalu melengking untuk disebut sekadar suara itu menggetarkan partikel-partikel
halus Lapisan Abu. Terdengar begitu misterius, bagaikan bel pintu yang
dibunyikan untuk membuka gerbang sihir.
Akan tetapi,
mendengar suara itu, raut wajah Krus seketika menjadi keruh.
“Ini... suara
apa?”
Merasakan
sesuatu yang tidak sanggup ditangkap oleh Magami dan yang lainnya, Krus mengerutkan
alisnya.
Tidak sampai
beberapa detik, dia tampaknya menyadari identitas dari suara tersebut. Sambil
mengentakkan kepalanya mendongak, dia berteriak ke arah Shitaharu yang sedang
bekerja di kejauhan.
“Meriam
anti-udara datang! Tarik naik!”
Ini pertama
kalinya Magami melihat Krus berteriak. Suaranya yang berat namun melengking
menembus udara membuat Shitaharu yang berdiri di koridor seberang mendongak.
Gadis itu
seketika memahami situasi dan langsung menyampaikan instruksi kepada para
teknisi yang berdiri di sampingnya.
Namun, semua itu
sudah terlambat.
Tepat setelah
Lapisan Abu di bawah sana bergulung bagaikan permukaan air yang dijatuhi
tetesan air, beberapa gundukan bercahaya putih melesat terbang mengincar
Barakaja.
Kecepatannya
bahkan tidak sanggup ditangkap oleh mata.
Bersamaan dengan
ledakan dahsyat yang bergema, jembatan yang tergantung di udara berderit hebat
dan pijakannya mulai miring. Magami secara refleks memeluk Nox lalu
mencengkeram pagar pembatas kuat-kuat.
“Sial!”
Proyektil yang
terbang melesat dari dalam Lapisan Abu itu tepat menghantam bagian bawah
Barakaja. Sembari membubung asap tebal, kota layang itu sendiri miring dalam
skala besar. Kota itu mencoba melakukan manuver penghindaran.
Namun, tindakan
itu justru makin memperparah distorsi pada jembatan di bagian bawah kapal.
Melihat pijakan
di bawah kakinya melengkung disertai suara deritan yang mengerikan, Magami
tanpa ragu mulai berlari. Sembari menepis kepingan-kepingan logam berbagai
ukuran yang berjatuhan dari atas kepalanya, Magami melompat masuk ke dalam
bagian kapal Barakaja.
Hanya berselang
beberapa saat, sosok Krus menyusul masuk.
“Nox tidak
apa-apa!?”
Sebelum
memikirkan dirinya sendiri, Krus terlebih dahulu mencari keberadaan Nox. Magami
memeriksa Nox yang dilindunginya di bawah tubuhnya. Gadis itu tampak tidak
memahami situasi apa yang sedang terjadi, memandang ke kiri dan ke kanan dengan
bingung.
Meskipun
terlihat panik, tampaknya dia tidak mengalami luka-luka.
“Dia aman. Ada
di sini.”
“Bagus.”
Sembari melirik
ke arah mereka berdua untuk memastikan keselamatan mereka, Krus melepas mantel
panjangnya. Di ujung tangannya yang terulur, terdapat tali pengaman dan alat
penambat.
Melihat
kepanikannya, Magami pun tersadar kembali.
“Bagaimana
dengan Nil?”
Magami yang melompat bangkit sembari memajukan
tubuhnya ke arah pintu, seketika terpana melihat pemandangan mengenaskan di
hadapannya.
Meski tidak
sampai kehilangan fungsi terbangnya, Kota Layang Barakaja mengalami kerusakan
yang cukup parah. Sambil miring perlahan melakukan manuver penghindaran, kota
itu menyebarkan kepingan-kepingan logam. Di antara kepingan yang berjatuhan
bagaikan hujan tersebut, seutas kawat baja bergoyang dengan sangat ringkih.
Di ujung kawat
tersebut, transceiver yang dinaiki Nil
berguncang hebat. Bersamaan dengan rasa lega karena alat itu belum jatuh,
Magami menatap pangkal kawat baja tersebut sembari menahan napas.
“Gawat. Kalau
begitu terus, tidak akan bertahan lama.”
Pangkal kawat
baja itu terhubung dengan mesin penggulung yang kokoh.
Namun, kerangka
besi raksasa tempat mesin penggulung itu terpasang telah miring hebat akibat
serangan tadi. Terlihat jelas kerangka itu makin membengkok karena tidak
sanggup menahan bobot transceiver.
“Magami!”
Mendengar suara
yang memanggil dari belakang, Magami berbalik dan melihat Krus melemparkan dua
pasang masker gas. Tepat setelah menangkapnya, Magami segera berlari ke luar
pintu.
Sudah tidak ada
lagi tempat yang bisa disebut sebagai jalur penyeberangan. Melompati
pijakan-pijakan yang tergantung pada sisa-sisa kawat baja, Magami berlari
seolah melayang di angkasa.
Tidak ada tali
pengaman sama sekali. Salah melangkah satu senti saja, dia akan meluncur bebas
jatuh ke bawah langit.
Namun alih-alih
rasa takut, dorongan impulsif justru menggerakkan tubuhnya.
Dia harus sampai
di tempat Nil secepat mungkin, walau hanya lebih cepat satu detik.
Dari celah-celah
pijakan yang berguncang, sosok Shitaharu mulai terlihat.
Wanita itu
sedang menarik beberapa orang teknisi naik ke dalam kapal seolah merangkul
mereka. Salah seorang teknisi yang membantunya melihat Magami yang sudah
mendekati mesin penggulung transceiver,
lalu berteriak.
“Kawatnya tidak
akan bertahan! Jangan nekat!”
Mendengar
teriakannya, Magami menatap ke bawah. Kawat baja yang menyatukan untaian kawat
besi itu makin terkelupas dan berserabut setiap kali berguncang.
Bahkan tanpa
perlu menjadi seorang teknisi pun orang akan tahu.
Kawat baja ini
tidak akan bertahan satu menit lagi.
Sama sekali
tidak ada waktu untuk turun ke transceiver,
merangkul Nil, lalu memanjat naik. Jika demikian, pilihan yang harus diambil
adalah menyelamatkan diri sendiri.
Pasrahkan saja
Nil.
Para teknisi
yang berhasil kembali ke dalam kapal dengan bersusah payah seolah menyampaikan
hal itu.
Magami mengatupkan
gerahamnya kuat-kuat, lalu mendongak menatap dari arah transceiver. Di ujung pandangannya, terdapat sosok Shitaharu yang
tetap tidak bergeming menghadapi situasi ini.
Mata mereka
bertaut, dan Shitaharu langsung menyadari tekad bulat Magami saat itu juga.
Melihat wanita
itu menghilang ke bagian dalam lorong, Magami menarik napas dalam-dalam. Dua
kali, tiga kali, dengan perlahan. Kemudian dia menutupi wajahnya dengan masker
gas yang sudah terbiasa dia kenakan.
Di tengah proses
itu, kawat baja yang menggantung transceiver
terus berderit dan putus terurai.
Jangan jatuh
dulu.
Sembari
memanjatkan doa, Magami mempertajam fokusnya.
Shitaharu segera
kembali. Di tangannya, persis seperti tebakan Magami, tergenggam sebuah tas
ransel besar.
Magami berteriak.
“Parasut!?”
“Ya!”
“Lempar sini!
Akan kutangkap di udara!”
Bersamaan dengan
selesainya kalimat itu, Magami melompatkan tubuhnya.
Menangkap
parasut yang dilemparkan Shitaharu di udara, Magami menyangkutkannya ke bahu.
Tepat ketika dia memiringkan tubuhnya menuju transceiver memanfaatkan hambatan udara yang mulai terasa, sebuah
suara dering nyaring yang memekakkan telinga bergema.
Kawat baja yang
menggantung transceiver telah
mencapai batasnya.
Melihat kawat
baja yang bergulung-gulung melayang di depan matanya, Magami berdecak kesal. Dia
meluruskan tubuhnya untuk memangkas jarak menuju transceiver dengan cepat.
Sensasi melayang
yang kurang menyenangkan mengempas seluruh tubuhnya. Di ujung kejatuhannya,
Magami menerjang transceiver bagaikan
dihantamkan, lalu mencengkeram pintu kedap udara dan membukanya dengan paksa.
Pintu yang
terlepas seolah koyak oleh terpaan angin kencang melayang pergi di atas
kepalanya bagaikan dedaunan gugur.
Lalu, dari dalam
ruangan itu, sosok wajah gadis yang tidak asing menyembul keluar.
“Magami!?”
Terkejut. Dengan
mata merahnya yang liar membelalak bulat, Nil membuka mulutnya. Melihat wajah
gadis itu, Magami merasa lega atas keselamatannya sembari menekan masker gas
yang tergantung di pinggangnya ke wajah Nil.
“Pakai ini!”
Nil dengan panik
memasang dan mengencangkan masker di wajahnya. Tanpa menanti pergerakan gadis
itu selesai, Magami melingkarkan tangannya di pinggang Nil lalu menariknya
keluar dari transceiver.
Tidak ada waktu
untuk bersantai. Keduanya telah menerobos masuk ke dalam Lapisan Abu, dan sosok
Barakaja yang terbang di atas mereka pun sudah tidak terlihat lagi. Di tengah
kondisi di mana ketinggian daratan tidak diketahui, semakin cepat membuka
parasut akan semakin baik.
“Kenapa kamu
bisa ada di sini!?”
Saat Magami
mengikat dan mengamankan tubuh mereka berdua menjadi satu, Nil bertanya kepada
Magami dengan bingung. Suaranya bergetar, walau samar-samar terhalang oleh deru
angin yang menyapu telinga.
“Bukannya sudah
kubilang? Aku akan selalu bersamamu.”
“Tapi tidak
perlu sampai ke sini juga...”
Magami menatap
balik Nil yang alisnya terlipat membentuk sudut menyedihkan.
“Bicara nanti
saja. Jangan bicara, nanti lidahmu tergigit!”
Magami membalas
dengan tegas, lalu merengkuh erat tubuh Nil.
Kemudian, dia
melompat turun dari transceiver.




