Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Project Nil: The World Engulfed in Ash, or the Tale of a Girl's Salvation Volume 2 Epilog

Epilog: Jalan

Satu minggu telah berlalu sejak kapal buatan baru Veritas dikirimkan ke Kota Ketiga. Kota layang Barakaja yang sempat berlabuh sembari melakukan penyesuaian akhir dan perawatan produk kini mulai meninggalkan Kota Ketiga.

Magami terus melepas pergi Barakaja yang kian menjauh dari pelabuhan khusus kapal terbang menuju ke atas langit Lapisan Abu hingga akhir.

“Tapi, setelah turun rasanya malah terasa agak kesepian, ya.”

Sambil menyipitkan matanya menatap pendaran cahaya matahari yang terik menyengat, Magami menyampaikan salam perpisahan terakhir pada sosok Barakaja yang telah mengering mengecil.

Sejak hari berhasil menarik kapal dari Lapisan Abu, Magami menerima ajakan bergabung yang gencar dari Invel melebihi dari yang dibayangkannya. Terlebih lagi dia berhasil pulang dari dasar Lapisan Abu, menemukan kapal buatan baru, bahkan hingga sanggup memukul mundur Paus Putih. Sangat dapat dipahami jika penilaian wanita itu terhadap Magami terus meningkat.

Akan tetapi, karena tidak berniat mengkhianati Nil dan rekan-rekan lainnya, Magami terus menolak ajakan hangat itu. Pada akhirnya Invel pun tampaknya mengerti keputusannya, kendati demikian sepasang matanya masih terkesan menyisakan rasa sesal di suatu tempat.

“Yah, bagaimanapun juga aku lega bisa kembali dengan selamat.”

Meluruhkan ketegangan dari bahunya, Magami menyunggingkan senyum getir.

Pada akhirnya, Magami dan yang lainnya yang kembali ke Barakaja dengan menaiki Veritas dari pangkalan bawah tanah terpaksa meninggalkan sebagian besar hal selain kapal dan beberapa perbekalan di dasar Lapisan Abu.

Di pangkalan itu tentulah tersisa banyak sekali informasi seperti misteri dunia 300 tahun yang lalu maupun rahasia dari Spesies Kuno. Akan tetapi, hal-hal tersebut kini telah melayang menuju tempat yang tidak lagi sanggup dijangkau oleh umat manusia. Akibat gerusan Lapisan Abu, seiring berjalannya waktu pangkalan itu sendiri pun akan melapuk dan hancur.

Data catatan harian yang berhasil didapatkan berkat keberuntungan pun takkan berharga jika tidak ada mesin yang sanggup membacanya. Data itu takkan pernah dibuka untuk kedua kalinya.

Sangat disayangkan jika pada akhirnya banyak misteri yang tetap mengendap tanpa terpecahkan. Hanya saja, Magami berpikir bahwa hal itu mungkin merupakan hasil yang baik bagi Nil.

“Mereka akhirnya pergi juga, ya.”

Saat sedang terhanyut dalam perenungan sembari menatap langit, sebuah suara terdengar dari balik punggung Magami. Dari aroma rokok yang merambat terbawa angin, Magami bisa langsung menebak siapa pemilik suara tersebut.

Mengulum rokok di bibirnya, Krus berdiri menyelaraskan bahu di samping Magami.

“Nada bicaramu terdengar seolah kamu sangat membenci mereka.”

“Aku tidak akan bilang sampai membencinya. Tapi, di istana milik orang lain kita tidak bisa merokok dengan bebas tanpa rasa sungkan, ‘kan?”

Ujar Krus, lalu menutupi bibirnya dengan sebelah tangan sembari mengembuskan asap rokok. Tanpa berniat melanjutkan obrolan sendiri lebih jauh, dia memandang ke seberang lautan awan Lapisan Abu.

Astaga. Orang ini, kalaupun ada hal yang perlu dibicarakan, dia takkan mau memulainya sendiri. Magami merasa terkadang bisa sedikit memahami rasa heran Agatha padanya.

Karena tidak ada pilihan lain, Magami menegakkan punggungnya sedikit lalu mengalirkan topik pembicaraan.

“Spesies Kuno, kita gagal mengamankannya.”

“Ya.”

“Jujur aku kaget saat tahu mereka tidak mati walau ditembak senjata api. Sebenarnya Spesies Kuno itu seperti apa, sih?”

Krus mengarahkan pandangannya pada Magami seolah ingin bertanya kenapa kamu menanyakan itu padaku.

Magami menyapu pandangannya ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di sana.

“Di dalam Paus Putih bidang pandang sangat buruk, dan kita pun tidak tahu strukturnya. Kita baru bisa tiba di tempat itu setelah ada panduan dari Spesies Kuno. Tapi Kapten berbeda. Kapten berhasil tiba di lokasi Spesies Kuno dari tempat yang sama sekali berbeda dari kami.”

“Itu cuma kebetulan.”

“Tidak. Kapten tahu struktur bagian dalam Paus Putih. Karena itulah tanpa panduan pun Kapten sanggup tiba di tempat Spesies Kuno berada, serta sanggup menunjukkan petunjuk pintu keluar secara tepat dalam situasi seperti itu.”

Menghadapi nada bicara Magami yang seolah mencecar, Krus membisu. Magami memutar tubuhnya tepat ke arah Krus, menatapnya dengan terus terang.

“Kapten, bukannya Kapten tahu sesuatu yang tidak kami ketahui? Apa yang sebenarnya Kapten sembunyikan dari kami?”

Usai mengembuskan asap rokoknya, Krus mengalihkan pandangan dari kejauhan Lapisan Abu menuju Magami. Seolah saling memastikan tekad masing-masing, kesunyian membisu berembus di antara mereka berdua selama beberapa saat.

Angin kering yang merayap di langit mengibarkan seragam militer Krus secara dahsyat, dan dia pun menyibak rambutnya perlahan-lahan.

“Sesuai dengan perkiraanmu, aku punya pengetahuan mengenai struktur Paus Putih. Tapi, itu hanyalah pengetahuan dan pengalaman berkarat yang berlandaskan pada pengalaman di masa lalu yang usang. Kebetulan saja ada gunanya. Bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.”

“Maksudnya, Kapten pernah masuk ke dalam Paus Putih di masa lalu?”

“Benar. Dalam sebuah penjelajahan yang menjadi pemicu tercetusnya Proyek Nil.”

Krus menghentikan kata-katanya di tengah-tengah, lalu menyemburkan asap rokoknya sembari berucap, “Yah, bukan sesuatu yang perlu diceritakan sekarang.”

“Aku tahu apa yang kamu dan Nil cemaskan. Fasilitas penelitian mendefinisikan Spesies Kuno sebagai manusia dari era lampau. Tapi, apakah makhluk yang tidak mati walau dahinya ditembus peluru benar-benar sanggup disebut sebagai manusia? Mungkinkah mereka adalah wujud yang terlepas dari batasan manusia, tidak, sejak awal memang bukan manusia.”

Apakah kamu berpikiran demikian? Mata Krus bertanya pada Magami.

Memang tepat seperti itu. Dari kenyataan masa lalu yang dihadapi Nil dan Magami di pangkalan bawah tanah, identitas Spesies Kuno yang terpikirkan ada dua.

Manusia yang berevolusi, ataukah penjajah Zeno yang datang dari luar planet.

Wajah Magami membayang keruh. Terhadap pertanyaan tanpa jawaban itu, dia menggelengkan kepala.

“Apakah Kapten tahu? Apa sebenarnya Spesies Kuno itu?”

“Tidak. Aku tidak tahu.”

Di hadapan Krus yang dengan jelas membalasnya tanpa ragu, Magami menundukkan kepalanya sembari menggumam, “Begitu, ya.” Menatap Magami yang kecewa, Krus menghela napas panjang diiringi embusan asap yang mengepul tinggi ke udara.

“Apa itu sangat penting bagimu?”

“Huh?”

“Sosok yang menjadi asal-usul dirimu dan Nil itu siapa. Apa itu ada hubungannya dengan jalan yang kalian lalui, serta masa depan yang kalian tuju?”

Menukar pegangan rokoknya yang kian memendek dengan terampil, Krus menarik embusan terakhirnya sembari menunduk. Mengangkat rokok yang sudah memendek hingga hampir membakar ujung jarinya, dia melemparnya ke udara bersamaan dengan asap yang diembuskannya.

“Kamu adalah kamu. Tidak peduli kamu terlahir dari apa pun, hanya itu yang takkan pernah berubah.”

Memperhatikan jalurnya rokok yang melenyap ke dalam Lapisan Abu, Krus mendadak membalikkan punggungnya pada Magami. Tepat saat Magami heran apa yang terjadi, di balik garis luar tubuh Krus bayangan seragam militer merah terlihat oleh matanya.

Rupanya Nil yang mencari Magami telah tiba di tempat ini. Melihat Nil, Krus tampaknya tidak berniat melanjutkan obrolan ini lebih jauh.

Dia menatap deretan bangunan Kota Ketiga yang terlihat di sepanjang pelabuhan.

“Kemarin, pembicaraan dengan atasan sudah selesai. Hari ini persetujuan bahwa Veritas adalah kapal dengan kemampuan yang sangat cukup untuk menjalankan tugas akan keluar. Prospek kelanjutan Proyek Mensis sudah terlihat.”

Proyek Mensis.

Meski nama kapalnya berganti, nama proyek tersebut takkan pernah berubah. Melintasi bahunya, Krus mengarahkan sepasang mata hitamnya yang selalu tanpa emosi pada Magami.

“Begitu kapal selesai dibangun, kita akan kembali mengejar Paus Putih. Siapa sebenarnya diri kalian, tunjukkanlah lewat hasil nyata.”

Dengan nada bicara yang mengesahkan tugas resmi, Krus melangkah cepat menuju pintu keluar.

Perkataannya mungkin terdengar dingin tergantung bagaimana orang mendengarkannya.

Namun, ada arti tersirat di balik kata-kata tersebut.

Siapa sebenarnya diri sendiri, hanya bisa dibuktikan di ujung jalan yang dilalui. Tidak peduli bagaimana masa lalu, tidak peduli dari mana mereka lahir, hal-hal itu sama sekali tidak ada hubungannya.

Derap sol sepatunya yang menggelegar saat melangkah pergi seolah menampakkan jawaban tersebut lewat punggungnya.

Memperhatikan punggungnya yang menjauh, Magami meluruhkan ketegangan dari bahunya yang tanpa disadari sempat mematung. Rasanya seolah jawaban yang sudah diketahuinya sejak awal tanpa disadari sempat terlepas dari matanya.

Demi menyampaikan itu, Krus sengaja datang ke tempat ini.

“Repot juga, ya. Benar-benar terasa sangat mencirikan Kapten.”

Magami menggumam sembari menggaruk-garuk kepala.

Meski terlihat tidak peduli, dia sebenarnya mengamati dengan sangat baik. Apakah ini yang dinamakan orang dewasa?

Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku dan menenangkan pikiran, Nil berlari menghampiri Magami. Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk memastikan hanya ada Magami seorang di sana, lalu melembutkan wajahnya.

“Aku mencarimu, Magami. Tidak disangka kamu ada di sini. Lalu, apa yang kamu bicarakan dengan Krus?”

Nil yang mendekat bertanya sembari membandingkan Krus yang melangkah pergi dan Magami dengan penuh keheranan. Memang benar, adalah hal yang langka jika Krus sampai melakukan obrolan santai dengan seseorang. Sambil menyadari hal itu, Magami mengedipkan bahunya ringan.

“Bisa dibilang cuma sekadar obrolan santai, sih.”

“Obrolan santai? Krus?”

“Ya. Saat merokok dia sering banyak bicara untuk melepas lelah, tahu.”

“Oh... Kalau begitu, mulai sekarang kalau dia sedang mengulum rokok aku tidak akan mendekat.”

Apakah itu sebuah candaan ataukah keseriusan? Menanggapi Nil yang wajahnya agak sulit diartikan, Magami hanya bisa menghela napas.

“Lalu, kenapa kamu mencariku?”

“Oh iya! Soal Krus tidak penting. Agatha bilang, kesadaran Luciola sudah pulih, jadi mulai hari ini kita sudah bisa menjenguknya. Makanya ayo pergi bersama!”

Pulihnya Luciola adalah kabar yang sangat baik. Magami membelalakkan matanya lalu menepuk tangannya.

“Benarkah!? Syukurlah. Tapi kalau kita bergegas menjenguk begitu dia baru bangun, bukannya Luciola malah akan kelelahan?”

“Tidak, tidak begitu. Lagipula aku ingin menemui Luciola lebih dulu sebelum Nebula dan Nox.”

“Kenapa?”

“Entahlah, rasanya menyebalkan kalau mereka mendahului kita!”

Apa-apaan itu?

Dari percakapan dengan Krus tadi yang mendadak berubah menjadi percakapan konyol, Magami menaruh tangannya di pinggang merasa tidak sanggup mengikuti alur pikirannya.

Namun, itu pun tidak masalah. Nil menyampaikannya dengan sangat serius. Bagi gadis itu, ini pastilah merupakan persoalan yang sangat penting.

Melihat wajah Magami yang tanpa disadari mengukir senyum di pipinya, Nil membusungkan pipinya.

“Kenapa? Kamu tidak mau pergi menjenguknya?”

“Bukan.”

“Kalau begitu, kenapa wajahmu begitu?”

Menatap Nil yang mengarahkan mata basahnya yang terlihat tidak puas, Magami menyampaikan perasaan jujurnya.

“Tidak ada apa-apa. Aku cuma berpikir bahwa dengan bersamamu ternyata tidak buruk juga.”

“...Apa maksudnya itu?”

Nil memiringkan kepalanya sembari bersedekap. Tampaknya untuk memahami nuansa halus di bagian ini, dia pun masih membutuhkan sedikit lebih banyak pengalaman.

Magami menepuk tangannya ringan, mengakhiri pembicaraan.

“Yah, anggap saja begitu. Ngomong-ngomong, Luciola ada di mana? Ruang rawat?”

“Katanya di lantai empat gedung penelitian. Ayo pergi.”

Lantai empat gedung penelitian jaraknya lumayan jauh dari sini. Magami baru saja hendak melangkah santai sambil berpikir untuk berjalan pelan-pelan, namun Nil bukanlah orang yang membiarkannya bersantai.

“Ayo, kalau tidak cepat nanti kita keduluan.”

Nil yang mendadak terburu-buru menarik lengan Magami lalu berlari kencang karena tidak sabar.

Ah, entah kenapa rasa ini terasa begitu dirindukan, pikir Magami sembari ditarik menyelaraskan kecepatan lari gadis itu.

Persis seperti hari itu saat dia diseret berkeliling di dalam Kapal Mensis, Magami hari ini pun pasti akan dipermainkan oleh gadis ini. Oleh gadis merepotkan yang tertawa polos, marah, dan memberi perintah tanpa peduli dengan keadaan orang lain.

Hanya saja, perasaan di dalam dadanya jelas-jelas berbeda dari masa itu.

Dua orang yang berjalan di atas jalan yang berbeda telah bertemu, saling mengenal, dan saling menginginkan. Dan bahkan pada detik ini pun, mereka sedang melangkah di atas jalan yang sama.

Di atas jalan yang tampaknya masih akan membentang, di masa depan mereka pasti akan diterpa badai berkali-kali, bertekuk lutut, dan sesekali kehilangan arah. Hari di mana mereka kehilangan arah tujuan di tengah kegelapan dan putus asa akan dunia mungkin saja akan tiba.

Namun, itu adalah hal kecil yang tidak berarti.

Di antara mereka berdua, jemari mereka terikat dan tergenggam kuat satu sama lain. Rasa dingin atau kegelapan bagaimanapun takkan pernah sanggup memisahkan jemari yang saling bertautan ini.

Asal mereka berdua terus bersama, jalan takkan pernah terputus. Jalan itu akan terus membentang ke mana pun. Hingga tiba di kaki masa depan yang mereka impikan.

 

Karena itu, mari melangkah bersama-sama.

Di atas langit ini, di bawah naungan semesta.

Ke mana pun takdir akan menuntun mereka.

Di seberang lautan awan.

Percaya bahwa masa depan yang mereka impikan berada di sana.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#Project Nil ,#Project Nil 2 ,
Getting Info...

Posting Komentar