Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

The Master Swordsman's Story Starts with Zero Attack Power Volume 1 Epilog

Epilog: Bertemu Raja Iblis – Bagian 2

“Hee~ Jadi kamu datang ke akademi karena ditolak oleh teman masa kecilmu? Berat juga ya, Nak.”

Erinyes sang Raja Iblis, dengan santai membuka sedikit leher gaunnya, sambil meminum anggur merah langsung dari botol. 

Sudah botol kelima. Belahan gaunnya yang terbuka memperlihatkan paha putih mulus yang begitu menggoda, seakan memancarkan pesona yang memikat siapa saja yang melihatnya. 

Di depan Raja Iblis, terhampar berbagai hidangan mewah seperti steak tebal, ham yang menggugah selera, serta beragam makanan lezat lainnya. 

Awalnya, aku masuk ke Penjara Tersegel Ketujuh dengan membawa hadiah dari Kepala Sekolah, namun sang Raja Iblis mengerutkan kening dan menggerutu. “Hei, Nak! Roti dan anggur saja jelas nggak cukup!”Alhasil, aku harus bolak-balik beberapa kali ke dalam selnya untuk memenuhi permintaannya. 

“Minum juga, Nak. Jangan bilang kamu menolak tawaran minuman dariku?”

“T-Terima kasih.”

Sebagai warga kekaisaran, aku sudah dianggap dewasa dan diperbolehkan minum. 

Tapi aku sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kali pertama aku minum bersama seseorang akan seperti ini—bersama sang Raja Iblis... 

Ketika aku meneguk anggur dari gelas yang disodorkan, tenggorokanku terasa panas. 

“Oooh, cukup kuat juga ternyata! Ayo, ayo, minum lebih banyak!”

Erinyes dengan semangat terus menuangkan anggur ke gelasku. Dia terlihat sangat senang. 

Jika tujuanku adalah menjaga suasana hatinya tetap baik, maka bisa dibilang tugasku berjalan dengan sukses. 

Namun, aku masih belum tahu kapan aku akan diizinkan keluar dari tempat ini. 

Pesta minum bersama sang Raja Iblis tampaknya masih akan berlangsung lama. 

Aku teringat tentang percakapanku dengan ayah terlintas dalam pikiranku. 

 

“Eugene, aku akan pulang larut malam hari ini. Ada pertemuan penting dengan para pejabat kekaisaran. Merepotkan sekali.”

“Haruskah Ayah benar-benar menghadirinya?”

“Itulah yang disebut sebagai hubungan antar orang dewasa. Suatu hari nanti kamu juga akan mengerti.”

“Hmm. Orang dewasa sepertinya sulit ya.”

 

Saat itu, aku tidak sepenuhnya mengerti. Namun, di balik rasa penasaran, aku juga merasa sedikit iri pada kehidupan orang dewasa. 

“Tapi kamu cukup hebat, Nak. Biasanya, manusia yang berada sedekat ini denganku akan pingsan karena racun miasma. Atau setidaknya mereka akan merasa tidak enak badan.”

“Kepala Sekolah sempat memperingatkanku soal itu. Tapi, aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena aku bisa menggunakan sihir penghalang.”

“Hee~”

Erinyes menatapku dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat di matanya. Dia mulai menyentuh rambutku, lalu menepuk-nepuk pipiku dengan lembut. 

Tangan Raja Iblis terasa lembut dan hangat. 

Setelah puas meraba-raba wajahku, Erinyes akhirnya kembali berbicara. 

“Nah, lalu? Kamu tidak pernah menghubungi teman masa kecilmu lagi? Ceritakan semuanya, kakak akan mendengarkanmu~”

Erinyes tersenyum usil sambil mendesakku. Astaga, ini benar-benar merepotkan. 

“Sebelum keluar dari akademi, dia bilang ingin menjaga jarak. Setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tidak ada surat, tidak ada pesan... Mungkin dia sudah melupakanku.”

Saat aku menyebut nama Iris, perasaan sedih kembali menyelimutiku. 

Kupikir bersekolah jauh dari Kekaisaran akan membuatku melupakannya sedikit demi sedikit. Namun, aku masih belum bisa menghilangkan rasa itu. 

“Oh, kasihan sekali. Wajahmu menyedihkan seperti anak kucing yang kehujanan~”

“Eh? Apa yang—”

Tanpa memberi waktu bagiku untuk bereaksi, Erinyes tiba-tiba menarikku mendekat, wajahku terbenam di dadanya. 

Kulit sang Raja Iblis terasa halus dan lembut.

“Hehehe... Anak manis. Kamu boleh menangis di dadaku kalau mau.”

“Umm... Aku bukan anak kecil, namaku Eugene.”

Meski dipeluk erat oleh Erinyes sang Raja Iblis dan rambutku dielus lembut, aku berusaha membalas ucapannya. 

Panggilan “anak” itu terasa merendahkan, membuatku merasa diperlakukan seperti bocah. 

“Aku tahu. Aku sudah mendengarnya tadi. Eugene... Kamu pasti akan tumbuh menjadi pria yang hebat.”

Erinyes menyipitkan matanya dan tersenyum menggoda. Senyum itu tampak begitu mempesona, hampir seperti ilusi yang menakutkan namun memikat. 

“Hehehe... Jadi, Eugene yang bukan anak kecil ini, seberapa banyak kamu tahu tentang wanita? Seberapa dekat kamu dengan gadis teman masa kecilmu itu?”

Jari-jari panjangnya yang lentik menyentuh pipiku, lalu dengan lembut mencubit bibirku. 

Sentuhannya membuat jantungku berdebar kencang. 

“T-Tidak ada yang istimewa.”

Hubunganku dengan Iris tidak lebih dari hubungan antara teman masa kecil yang berusaha menggapai cita-cita masing-masing. 

Kami hanya sibuk belajar dan berlatih di akademi militer, tanpa pernah melakukan sesuatu yang bisa disebut sebagai hubungan romantis.

...Jika dipikir sekarang, mungkin aku sedikit menyesal. 

“Eh? Jadi kamu bahkan belum pernah menciumnya?”

Erinyes memiringkan kepalanya, menatapku dengan ekspresi terkejut. 

“T-Tentu saja belum! Berapa kali aku harus mengatakannya—”

Saat aku mulai terbawa emosi karena mengingat masa lalu, perkataanku tiba-tiba terputus. 

...Eh?

 

Sebelum aku sempat memproses apa yang terjadi, Erinyes telah mencuri ciumanku. 

 

Aku terdiam. Waktu tetap berlalu. 

Bahkan setelah dia perlahan melepaskan bibirnya dariku, pikiranku masih kosong. 

Dengan senyum penuh kemenangan, Erinyes menjilat bibirnya, seolah menikmati sisa-sisa momen itu. 

“Bagaimana rasanya ciuman pertamamu?”

“A-Apa... A-Apa yang barusan...?”

“Oh, reaksimu sangat lucu♡ Jadi itu benar-benar ciuman pertamamu? Hehe, ayo kita lakukan lagi☆”

Sebelum aku sempat bereaksi, Erinyes kembali mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan yang cepat, aku mencoba mundur. Tapi tanpa kusadari, lenganku telah dicengkeram. Dalam sekejap, tubuhku terbaring di bawahnya. 

“E-Eh...!?”

“Jangan khawatir. Serahkan saja semuanya pada kakak ini.”

“S-Serahkan...?”

Apa yang dimaksud olehnya?

Aku tidak bisa menelaah apa yang dikatakan Raja Iblis. Namun firasat buruk mulai merayap dan jantungku berdebar.

“Aku harus mengakui, tubuhmu memang terlatih. Layak untuk seorang siswa akademi militer.”

“E-Eh...! Hei, tunggu!”

Saat aku menyadarinya, kancing bajuku telah terlepas. Tubuhku tidak bisa bergerak, seolah-olah terkunci oleh kekuatan yang tak terlihat. 

“Kamu pasti merasa kesepian setelah ditolak oleh teman masa kecilmu, bukan? Jangan khawatir. Aku akan membuatmu melupakan semua itu.”

Dia berbisik di telingaku. Desir suara indahnya membuat bulu kudukku merinding. Lalu, bibirnya kembali menutup. 

Aku tidak melawan. 

Jari-jarinya dengan lembut menjelajahi tubuhku. Meski baru pertama kali bertemu, seolah dia tahu persis di mana harus menyentuh untuk membuatku kehilangan kekuatan. 

“Anggap ini kehormatan. Mulai sekarang, aku mengizinkanmu memanggilku Erie.”

“...Erie.”

Aku hanya mampu mengucapkan namanya dengan susah payah.

Dengan gerakan lembut, sang Raja Iblis menanggalkan gaunnya yang elegan. 

Keindahan tubuhnya yang terpampang di hadapanku membuat napasku seolah terhenti. 

Perlahan, Erie mendekat, tubuhnya yang memancarkan kehangatan bersandar lembut di atasku. 

“Aku akan memperlihatkan surga padamu♡”

Mungkin, pada saat itu, sosok teman masa kecilku telah benar-benar lenyap dari pikiranku. 

 

Dan begitulah, aku akhirnya menyerahkan tubuhku untuk pertama kalinya kepada Raja Iblis Erinyes.

Read Also :-
Labels : #Light Novel ,#The Master Swordsman's Story Starts with Zero Attack Power ,#ZeroAttackPower1 ,
Getting Info...

Posting Komentar