Epilog: Bertemu Raja Iblis – Bagian 2
“Hee~
Jadi kamu datang ke akademi karena ditolak oleh teman masa kecilmu? Berat juga
ya, Nak.”
Erinyes
sang Raja Iblis, dengan santai membuka sedikit leher gaunnya, sambil meminum
anggur merah langsung dari botol.
Sudah
botol kelima. Belahan gaunnya yang terbuka memperlihatkan paha putih mulus yang
begitu menggoda, seakan memancarkan pesona yang memikat siapa saja yang
melihatnya.
Di
depan Raja Iblis, terhampar berbagai hidangan mewah seperti steak tebal, ham
yang menggugah selera, serta beragam makanan lezat lainnya.
Awalnya,
aku masuk ke Penjara Tersegel Ketujuh dengan membawa hadiah dari Kepala Sekolah,
namun sang Raja Iblis mengerutkan kening dan menggerutu. “Hei, Nak! Roti dan anggur saja jelas nggak cukup!”Alhasil, aku
harus bolak-balik beberapa kali ke dalam selnya untuk memenuhi
permintaannya.
“Minum
juga, Nak. Jangan bilang kamu menolak tawaran minuman dariku?”
“T-Terima
kasih.”
Sebagai
warga kekaisaran, aku sudah dianggap dewasa dan diperbolehkan minum.
Tapi
aku sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kali pertama aku minum bersama
seseorang akan seperti ini—bersama sang Raja Iblis...
Ketika
aku meneguk anggur dari gelas yang disodorkan, tenggorokanku terasa panas.
“Oooh,
cukup kuat juga ternyata! Ayo, ayo, minum lebih banyak!”
Erinyes
dengan semangat terus menuangkan anggur ke gelasku. Dia terlihat sangat
senang.
Jika
tujuanku adalah menjaga suasana hatinya tetap baik, maka bisa dibilang tugasku
berjalan dengan sukses.
Namun,
aku masih belum tahu kapan aku akan diizinkan keluar dari tempat ini.
Pesta
minum bersama sang Raja Iblis tampaknya masih akan berlangsung lama.
Aku
teringat tentang percakapanku dengan ayah terlintas dalam pikiranku.
“Eugene, aku akan pulang larut
malam hari ini. Ada pertemuan penting dengan para pejabat kekaisaran.
Merepotkan sekali.”
“Haruskah Ayah benar-benar menghadirinya?”
“Itulah yang disebut sebagai
hubungan antar orang dewasa. Suatu hari nanti kamu juga akan mengerti.”
“Hmm. Orang dewasa sepertinya sulit
ya.”
Saat
itu, aku tidak sepenuhnya mengerti. Namun, di balik rasa penasaran, aku juga
merasa sedikit iri pada kehidupan orang dewasa.
“Tapi
kamu cukup hebat, Nak. Biasanya, manusia yang berada sedekat ini denganku akan
pingsan karena racun miasma. Atau setidaknya mereka akan merasa tidak enak
badan.”
“Kepala
Sekolah sempat memperingatkanku soal itu. Tapi, aku tidak merasakan apa-apa.
Mungkin karena aku bisa menggunakan sihir penghalang.”
“Hee~”
Erinyes
menatapku dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat di matanya. Dia mulai
menyentuh rambutku, lalu menepuk-nepuk pipiku dengan lembut.
Tangan
Raja Iblis terasa lembut dan hangat.
Setelah
puas meraba-raba wajahku, Erinyes akhirnya kembali berbicara.
“Nah,
lalu? Kamu tidak pernah menghubungi teman masa kecilmu lagi? Ceritakan semuanya,
kakak akan mendengarkanmu~”
Erinyes
tersenyum usil sambil mendesakku. Astaga, ini benar-benar merepotkan.
“Sebelum
keluar dari akademi, dia bilang ingin menjaga jarak. Setelah itu, aku tidak
pernah bertemu dengannya lagi. Tidak ada surat, tidak ada pesan... Mungkin dia
sudah melupakanku.”
Saat
aku menyebut nama Iris, perasaan sedih kembali menyelimutiku.
Kupikir
bersekolah jauh dari Kekaisaran akan membuatku melupakannya sedikit demi
sedikit. Namun, aku masih belum bisa menghilangkan rasa itu.
“Oh,
kasihan sekali. Wajahmu menyedihkan seperti anak kucing yang kehujanan~”
“Eh?
Apa yang—”
Tanpa
memberi waktu bagiku untuk bereaksi, Erinyes tiba-tiba menarikku mendekat,
wajahku terbenam di dadanya.
Kulit
sang Raja Iblis terasa halus dan lembut.
“Hehehe...
Anak manis. Kamu boleh menangis di dadaku kalau mau.”
“Umm...
Aku bukan anak kecil, namaku Eugene.”
Meski
dipeluk erat oleh Erinyes sang Raja Iblis dan rambutku dielus lembut, aku
berusaha membalas ucapannya.
Panggilan
“anak” itu terasa merendahkan, membuatku merasa diperlakukan seperti
bocah.
“Aku
tahu. Aku sudah mendengarnya tadi. Eugene... Kamu pasti akan tumbuh menjadi
pria yang hebat.”
Erinyes
menyipitkan matanya dan tersenyum menggoda. Senyum itu tampak begitu mempesona,
hampir seperti ilusi yang menakutkan namun memikat.
“Hehehe...
Jadi, Eugene yang bukan anak kecil ini, seberapa banyak kamu tahu tentang
wanita? Seberapa dekat kamu dengan gadis teman masa kecilmu itu?”
Jari-jari
panjangnya yang lentik menyentuh pipiku, lalu dengan lembut mencubit
bibirku.
Sentuhannya
membuat jantungku berdebar kencang.
“T-Tidak
ada yang istimewa.”
Hubunganku
dengan Iris tidak lebih dari hubungan antara teman masa kecil yang berusaha
menggapai cita-cita masing-masing.
Kami
hanya sibuk belajar dan berlatih di akademi militer, tanpa pernah melakukan
sesuatu yang bisa disebut sebagai hubungan romantis.
...Jika
dipikir sekarang, mungkin aku sedikit menyesal.
“Eh?
Jadi kamu bahkan belum pernah menciumnya?”
Erinyes
memiringkan kepalanya, menatapku dengan ekspresi terkejut.
“T-Tentu
saja belum! Berapa kali aku harus mengatakannya—”
Saat
aku mulai terbawa emosi karena mengingat masa lalu, perkataanku tiba-tiba
terputus.
...Eh?
Sebelum
aku sempat memproses apa yang terjadi, Erinyes telah mencuri ciumanku.
Aku
terdiam. Waktu tetap berlalu.
Bahkan
setelah dia perlahan melepaskan bibirnya dariku, pikiranku masih kosong.
Dengan
senyum penuh kemenangan, Erinyes menjilat bibirnya, seolah menikmati sisa-sisa
momen itu.
“Bagaimana
rasanya ciuman pertamamu?”
“A-Apa...
A-Apa yang barusan...?”
“Oh,
reaksimu sangat lucu♡
Jadi itu benar-benar ciuman pertamamu? Hehe, ayo kita lakukan lagi☆”
Sebelum
aku sempat bereaksi, Erinyes kembali mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan yang
cepat, aku mencoba mundur. Tapi tanpa kusadari, lenganku telah dicengkeram. Dalam
sekejap, tubuhku terbaring di bawahnya.
“E-Eh...!?”
“Jangan
khawatir. Serahkan saja semuanya pada kakak ini.”
“S-Serahkan...?”
Apa
yang dimaksud olehnya?
Aku
tidak bisa menelaah apa yang dikatakan Raja Iblis. Namun firasat buruk mulai
merayap dan jantungku berdebar.
“Aku
harus mengakui, tubuhmu memang terlatih. Layak untuk seorang siswa akademi
militer.”
“E-Eh...!
Hei, tunggu!”
Saat
aku menyadarinya, kancing bajuku telah terlepas. Tubuhku tidak bisa bergerak,
seolah-olah terkunci oleh kekuatan yang tak terlihat.
“Kamu
pasti merasa kesepian setelah ditolak oleh teman masa kecilmu, bukan? Jangan
khawatir. Aku akan membuatmu melupakan semua itu.”
Dia
berbisik di telingaku. Desir suara indahnya membuat bulu kudukku merinding. Lalu,
bibirnya kembali menutup.
Aku
tidak melawan.
Jari-jarinya
dengan lembut menjelajahi tubuhku. Meski baru pertama kali bertemu, seolah dia
tahu persis di mana harus menyentuh untuk membuatku kehilangan kekuatan.
“Anggap
ini kehormatan. Mulai sekarang, aku mengizinkanmu memanggilku Erie.”
“...Erie.”
Aku
hanya mampu mengucapkan namanya dengan susah payah.
Dengan
gerakan lembut, sang Raja Iblis menanggalkan gaunnya yang elegan.
Keindahan
tubuhnya yang terpampang di hadapanku membuat napasku seolah terhenti.
Perlahan,
Erie mendekat, tubuhnya yang memancarkan kehangatan bersandar lembut di
atasku.
“Aku
akan memperlihatkan surga padamu♡”
Mungkin,
pada saat itu, sosok teman masa kecilku telah benar-benar lenyap dari
pikiranku.
Dan
begitulah, aku akhirnya menyerahkan tubuhku untuk pertama kalinya kepada Raja
Iblis Erinyes.