“Kamulah yang
paling pantas menjadi Pahlawan.”
Di bawah sinar
separuh rembulan yang benderang menerangi sela-sela pegunungan, tatkala
dedaunan merah abadi yang tidak terikat musim berpendar mistis, kata-kata
tersebut terdengar begitu jelas dan tegas. Pria yang mengucapkannya menyodorkan
sebelah tangan layaknya ajakan memikat, sembari mengarahkan tatapan matanya
yang menyipit lurus ke depan.
“Kuh, a-aku...”
Di sisi lain,
sosok yang menerima kalimat tersebut menelan ludah dengan tenggorokan yang
berbunyi teguk, menahan kata-katanya di ujung lidah. Dia sangat mengerti bahwa
saat ini dirinya tengah berdiri di persimpangan jalan hidupnya, dan dia sadar
betul betapa hatinya terombang-ambing hebat di hadapan bahaya nyata serta
godaan yang begitu kuat.
Jika mengedarkan
pandangan ke sekeliling, di sana tampak siluet monster-monster yang berhasil dia
taklukkan di bawah kendalinya. Alasan dia meninggalkan rekan-rekannya dan
datang sendirian di tengah malam buta ke Pegunungan Utara yang menjulang di
sebelah utara Kota Tepi Danau Ur—tempat yang jauh dari ibu kota Kerajaan
Heiligh—tidak lain karena dia ingin mengubah status quo dirinya yang begitu
menyedihkan. Walaupun terpilih sebagai bagian dari peristiwa luar biasa yang
semula hanya ada dalam angan-angan liar berupa pemanggilan ke dunia lain, dan
bahkan dianugerahi bakat curang yang begitu dahsyat, dia tetap tidak bisa
menerima posisinya yang hanya ditempatkan sebagai karakter figuran tidak berarti.
Terlebih lagi, dia
sama sekali tidak bisa memaafkan pria itu, sosok yang melangkahi dirinya dan
bertingkah seolah-olah menjelma menjadi pahlawan dalam sebuah cerita dongeng.
Oleh sebab itu, dia menjinakkan monster-monster kuat seperti ini demi memaksa
orang-orang di sekitarnya mengakui keberadaannya.
Kendati
demikian, dia pun mulai merasakan batas kemampuannya. Jika diberi banyak waktu,
keinginannya mungkin saja bisa terwujud. Namun jika waktu terus berjalan,
orang-orang lain pun akan ikut bertambah kuat. Terutama rombongan sang Pahlawan
yang pastinya terus berkembang di garis terdepan, yang bahkan di detik ini
mungkin tengah melesat meninggalkannya semakin jauh di belakang. Meski ingin
membuktikan diri dan memaksa mereka mengakuinya, dia sadar bahwa dirinya yang
sempat kalah oleh rasa takut hingga kabur dari dungeon besar mungkin tidak akan
pernah bisa mengejar mereka. Meski terus meyakinkan diri bahwa segalanya
tergantung pada caranya bertindak, dan meyakini bahwa metode yang dia temukan
pasti akan berhasil, rasa cemas, kepanikan, serta kepasrahan bahwa sejak lahir dia
memang berbeda kelas dari sang Pahlawan tidak henti-hentinya melintas di
benaknya.
Karena itulah,
di hadapan pria yang mendadak muncul di depan matanya dan mengajaknya bergabung
dengan berkata “kamulah sosok yang istimewa” hatinya seketika goyah tidak terkendali.
...Sekalipun
bayaran dari pilihan ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki
lagi.
“A-Apa kamu
benar-benar akan menjadikanku sebagai Pahlawan? Kamu tidak berniat
mengkhianatiku nanti, ‘kan?”
“Tentu saja.
Jika kamu bersedia membuang seluruh masa lalumu dan datang ke sisi tuanku,
serta membuktikan kesetiaanmu di hadapan para penduduk kota itu dan sang Dewi
Kesuburan, kami akan mempercayaimu dan menyambutmu sebagai Pahlawan kami.
Pengkhianatan adalah hal yang mustahil. Bukan orang lain, melainkan karena
dirimu yang istimewa inilah, kami sangat berharap kamu bersedia bergabung ke
kubu kami.”
“...Aku, menjadi
Pahlawan. Menjadi tokoh utama cerita...”
Sekali lagi
menerima perkataan pria itu, dia kembali menelan ludahnya dalam-dalam. Di dalam
pupil matanya, lidah api hitam dari kobaran ambisi mulai membakar perlahan.
Hasrat terpendam dan batin yang lama terbelenggu rasa frustrasi kini mewarnai
lubuk hatinya, persis seperti semburan air yang menjebol tanggul penahan. Tanpa
berusaha menyembunyikan getaran gairah yang menggelora, dia menjilat bibirnya
sendiri lalu mengangguk setuju.
“...Boleh juga.
Aku yang akan menjadi Pahlawan kalian.”
Ekspresi yang
terpasang di wajahnya terdistorsi begitu buruk rupa, muka yang dilihat dari
sudut mana pun sama sekali tidak pantas disematkan pada gelar sosok yang
berjiwa kesatria.
“Pilihan yang
sangat bagus. Mulai sekarang mohon bantuannya, ya. ...Wahai Pahlawan kami.”
Pria yang melancarkan bujukan tersenyum ramah, sembari tertawa mencemooh jauh di dalam lubuk hatinya. Membayangkan panggung pembantaian keji yang akan segera terjadi, serta ironi manis bahwa malapetaka itu lahir murni dari ulah pihak musuh mereka sendiri.
Di salah satu sudut Pegunungan Utara, dua suara seringai tawa tanpa suara saling bersahut-sahutan. Dan pemandangan itu hanya disaksikan dalam hening oleh separuh rembulan serta kawanan monster yang tidak berakal.