Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Arifureta: From Commonplace to World's Strongest Volume 2 Epilog

“Kamulah yang paling pantas menjadi Pahlawan.”

Di bawah sinar separuh rembulan yang benderang menerangi sela-sela pegunungan, tatkala dedaunan merah abadi yang tidak terikat musim berpendar mistis, kata-kata tersebut terdengar begitu jelas dan tegas. Pria yang mengucapkannya menyodorkan sebelah tangan layaknya ajakan memikat, sembari mengarahkan tatapan matanya yang menyipit lurus ke depan.

“Kuh, a-aku...”

Di sisi lain, sosok yang menerima kalimat tersebut menelan ludah dengan tenggorokan yang berbunyi teguk, menahan kata-katanya di ujung lidah. Dia sangat mengerti bahwa saat ini dirinya tengah berdiri di persimpangan jalan hidupnya, dan dia sadar betul betapa hatinya terombang-ambing hebat di hadapan bahaya nyata serta godaan yang begitu kuat.

Jika mengedarkan pandangan ke sekeliling, di sana tampak siluet monster-monster yang berhasil dia taklukkan di bawah kendalinya. Alasan dia meninggalkan rekan-rekannya dan datang sendirian di tengah malam buta ke Pegunungan Utara yang menjulang di sebelah utara Kota Tepi Danau Ur—tempat yang jauh dari ibu kota Kerajaan Heiligh—tidak lain karena dia ingin mengubah status quo dirinya yang begitu menyedihkan. Walaupun terpilih sebagai bagian dari peristiwa luar biasa yang semula hanya ada dalam angan-angan liar berupa pemanggilan ke dunia lain, dan bahkan dianugerahi bakat curang yang begitu dahsyat, dia tetap tidak bisa menerima posisinya yang hanya ditempatkan sebagai karakter figuran tidak berarti.

Terlebih lagi, dia sama sekali tidak bisa memaafkan pria itu, sosok yang melangkahi dirinya dan bertingkah seolah-olah menjelma menjadi pahlawan dalam sebuah cerita dongeng. Oleh sebab itu, dia menjinakkan monster-monster kuat seperti ini demi memaksa orang-orang di sekitarnya mengakui keberadaannya.

Kendati demikian, dia pun mulai merasakan batas kemampuannya. Jika diberi banyak waktu, keinginannya mungkin saja bisa terwujud. Namun jika waktu terus berjalan, orang-orang lain pun akan ikut bertambah kuat. Terutama rombongan sang Pahlawan yang pastinya terus berkembang di garis terdepan, yang bahkan di detik ini mungkin tengah melesat meninggalkannya semakin jauh di belakang. Meski ingin membuktikan diri dan memaksa mereka mengakuinya, dia sadar bahwa dirinya yang sempat kalah oleh rasa takut hingga kabur dari dungeon besar mungkin tidak akan pernah bisa mengejar mereka. Meski terus meyakinkan diri bahwa segalanya tergantung pada caranya bertindak, dan meyakini bahwa metode yang dia temukan pasti akan berhasil, rasa cemas, kepanikan, serta kepasrahan bahwa sejak lahir dia memang berbeda kelas dari sang Pahlawan tidak henti-hentinya melintas di benaknya.

Karena itulah, di hadapan pria yang mendadak muncul di depan matanya dan mengajaknya bergabung dengan berkata “kamulah sosok yang istimewa” hatinya seketika goyah tidak terkendali.

...Sekalipun bayaran dari pilihan ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.

“A-Apa kamu benar-benar akan menjadikanku sebagai Pahlawan? Kamu tidak berniat mengkhianatiku nanti, ‘kan?”

“Tentu saja. Jika kamu bersedia membuang seluruh masa lalumu dan datang ke sisi tuanku, serta membuktikan kesetiaanmu di hadapan para penduduk kota itu dan sang Dewi Kesuburan, kami akan mempercayaimu dan menyambutmu sebagai Pahlawan kami. Pengkhianatan adalah hal yang mustahil. Bukan orang lain, melainkan karena dirimu yang istimewa inilah, kami sangat berharap kamu bersedia bergabung ke kubu kami.”

“...Aku, menjadi Pahlawan. Menjadi tokoh utama cerita...”

Sekali lagi menerima perkataan pria itu, dia kembali menelan ludahnya dalam-dalam. Di dalam pupil matanya, lidah api hitam dari kobaran ambisi mulai membakar perlahan. Hasrat terpendam dan batin yang lama terbelenggu rasa frustrasi kini mewarnai lubuk hatinya, persis seperti semburan air yang menjebol tanggul penahan. Tanpa berusaha menyembunyikan getaran gairah yang menggelora, dia menjilat bibirnya sendiri lalu mengangguk setuju.

“...Boleh juga. Aku yang akan menjadi Pahlawan kalian.”

Ekspresi yang terpasang di wajahnya terdistorsi begitu buruk rupa, muka yang dilihat dari sudut mana pun sama sekali tidak pantas disematkan pada gelar sosok yang berjiwa kesatria.

“Pilihan yang sangat bagus. Mulai sekarang mohon bantuannya, ya. ...Wahai Pahlawan kami.”

Pria yang melancarkan bujukan tersenyum ramah, sembari tertawa mencemooh jauh di dalam lubuk hatinya. Membayangkan panggung pembantaian keji yang akan segera terjadi, serta ironi manis bahwa malapetaka itu lahir murni dari ulah pihak musuh mereka sendiri.

Di salah satu sudut Pegunungan Utara, dua suara seringai tawa tanpa suara saling bersahut-sahutan. Dan pemandangan itu hanya disaksikan dalam hening oleh separuh rembulan serta kawanan monster yang tidak berakal.

Read Also :-
Labels : #Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ,#Arifureta_2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar