Bab 4: Miledi Reiseeen~
Di salah satu
sudut istana Kerajaan Heiligh, terdapat sebuah ruang makan sekaligus salon
santai yang dibuka khusus untuk para siswa dari dunia lain yang terpanggil ke
dunia ini. Masing-masing siswa didampingi oleh pelayan pribadi, dan setiap kali
mereka datang ke salon ini lalu mengedarkan pandangan, para pelayan akan
langsung tanggap bahwa ada permintaan yang diinginkan lalu bergegas mendekat.
Dengan begitu, baik makanan maupun minuman, apa pun yang dipesan akan segera
disajikan dengan gerakan anggun dan terlatih.
Mengenai kamar
tidur pun, setiap siswa telah diberi kamar pribadi masing-masing, namun
mengurung diri sendirian di kamar di tanah dunia lain terasa begitu sepi dan mengundang
rasa kesepian, sehingga terkecuali segelintir orang, sebagian besar dari mereka
menghabiskan hari-hari dengan mengobrol santai dan menghabiskan waktu di salon
ini.
Tentu saja,
mereka dipanggil ke dunia ini bukan untuk menghabiskan waktu tanpa arti. Tujuan
utama mereka adalah berperang dan meraih kemenangan melawan musuh bebuyutan
umat manusia, ras iblis, sebagai kekuatan tempur perwakilan dari ras manusia.
Lalu, mengapa
sebagian besar pemuda dan pemudi itu malah menyia-nyiakan waktu dengan
berbincang santai di dalam salon pada siang bolong seperti ini... sejujurnya,
itu karena hati mereka telah hancur lebur.
Beberapa bulan
yang lalu, para siswa itu menyaksikan kematian secara langsung di depan mata
kepala mereka sendiri. Di dasar bumi yang tidak terjangkau sinar mentari
bernama Dungeon Besar Orcus, mereka diserang oleh niat membunuh dari
monster-monster yang sama sekali tidak mengenal belas kasihan, terpojok hingga
masing-masing dari mereka melihat bayangan kematian diri sendiri, dan pada
kenyataannya, seorang teman sekelas mereka benar-benar terseret ke dalam
rengkuhan maut lalu lenyap selamanya.
Fantasi pedang
dan sihir.
Gambaran yang
dipenuhi mimpi dan harapan yang memikat itu seketika hancur berkeping-keping di
hadapan kejamnya kenyataan yang luar biasa dingin serta kemustahilan yang
melesat jauh melampaui perkiraan mereka. Begitu melangkah ke medan perang, kita
akan mati. Fakta yang sangat lumrah itu terpatri begitu dalam hingga ke sumsum
tulang mereka lewat pengorbanan yang terlalu besar.
Berlatih sihir
dengan penuh semangat, merasakan suka dan duka atas bakat yang ditunjukkan oleh
pekerjaan masing-masing, lalu mabuk dalam sensasi kepuasan saat membunuh
monster. Perasaan semacam itu sudah tidak lagi bersisa sedikit pun di dalam
dada. Siapa pun orangnya, jika waktunya mati tiba, maka dia akan mati. Mereka
yang telah memahami kenyataan itu dengan sesungguhnya tidak hanya kehilangan
kemampuan untuk bertarung, namun bahkan tidak lagi sanggup melangkahkan kaki
keluar dari ibu kota kerajaan.
Tentu saja,
petinggi kerajaan dan Gereja Suci terus mendesak para siswa tersebut untuk
kembali bertarung. Mereka tidak menggunakan cara-cara yang kasar. Pendekatan
yang dilakukan berupa bujukan lewat kata-kata. Kendati demikian, bagi batin
para siswa yang sudah telanjur terpojok, bujukan-bujukan itu justru kian
menyudutkan mereka menuju keputusasaan. Jika tidak menurut, bukankah mereka
akan diusir dari tempat ini? Jika sampai terjadi, bukankah mereka akan
dilemparkan tanpa perlindungan siapa pun ke dalam dunia di mana nyawa manusia
dihargai murah ini?
Tepat di saat
genting itulah. Menimbang karakteristik dan kelangkaan pekerjaan yang
dimilikinya, satu-satunya sosok dewasa di antara kelompok yang terpanggil, sang
guru bernama Hatayama Aiko yang sempat terpisah dari para murid untuk melakukan
ekspedisi demi mengatasi masalah pangan di berbagai wilayah, akhirnya kembali
ke ibu kota.
Setibanya di
istana dan mendengar kabar mengenai murid laki-lakinya yang telah tiada, Aiko
sempat sangat terguncang. Akan tetapi, begitu melihat kondisi para muridnya
yang tampak begitu tertekan bahkan hanya dari sekali pandang, Aiko lekas
bangkit berdiri. Berbekal sikap yang tegas, tekad pantang mundur, dan bahkan
memanfaatkan nilai kelangkaan dirinya sendiri dalam bernegosiasi, dia berhasil
menghentikan desakan para petinggi yang menuntut para siswa untuk kembali ke
garis depan.
Hasilnya, para
siswa tersebut tidak lagi diharuskan terjun ke medan pertempuran, mendapatkan
jaminan kehidupan di dalam istana berkat perlindungan Aiko, dan berakhir saling
berkumpul sembari mengobrol santai di dalam salon seperti saat ini.
“Hei, kalian
sudah dengar belum? Rombongan Amanogawa akhirnya berhasil menembus lantai 70,
lho.”
“Seriusan?
Padahal belum lama ini mereka baru saja mulai menaklukkan lantai 66 yang belum
pernah diinjak orang.”
“Memang pantas
disebut kelompok pahlawan ya? Kualitas mereka jelas beda jauh dibanding orang
biasa seperti kita.”
Sembari
mengangkat bahu dan berucap dengan ekspresi sok tenang, terlihat wajah yang
campur aduk dan sulit diartikan dari salah seorang siswa laki-laki bernama Tamai
Atsushi. Emosi yang paling dominan mungkin adalah rasa iri. Melihat kelompok
Kouki yang berhasil lolos dari kematian namun tetap berani menantang wilayah
berbahaya yang belum pernah dijamah siapa pun, dia tidak kuasa menahan rasa iri
atas keberhasilan mereka melakukan hal tersebut. Di saat yang sama, rasa malu
pada diri sendiri, kecanggungan karena berusaha memalingkan muka dari kenyataan
itu, serta bayangan ketakutan mendasar yang pasti meluap setiap kali mengingat
hari nahas tersebut tampak berkelebat di wajahnya.
Perasaan itu
tidak hanya dialami oleh Atsushi seorang, melainkan sebagian besar siswa
kelompok tinggal yang kini berada di salon ini pun merasakan hal yang serupa.
Ingin pulang ke
Jepang, kembali ke rumah. Demi mewujudkannya, mereka harus memenangkan perang
melawan iblis dan meminjam kekuatan Ehit, Dewa Pencipta yang disembah oleh
Gereja Suci yang telah memanggil mereka ke dunia Tortus ini. Meski paham betul
akan hal itu, semangat di dalam hati mereka tidak kunjung bangkit. Pekatnya
warna hitam ketakutan telah melumuri dan menenggelamkan warna putih dari tekad
mereka.
“Benar juga ya.
Bagaimanapun, memang harus anak-anak yang luar biasa seperti Kaori-chan atau
Shizuku-cchi yang bisa melakukannya.”
“Iya, iya.
Shizuku waktu itu benar-benar keren banget, ‘kan? Aku saja sampai nyaris jatuh
cinta padanya lho~”
“Ahaha, apaan
sih~ Kalau urusan saling suka sesama cewek, punya Suzu saja sudah lebih dari
cukup!”
“Eh, Suzu-chan
itu beneran suka cewek ya!?”
“Bukan, dia itu
dalamnya cuma om-om mesum saja kok.”
Sama halnya
dengan Atsushi dan anak-anak laki-laki lainnya, para siswi pun terus
melanjutkan percakapan yang mengambang di permukaan dengan gaya bicara yang
tampak ceria dan bercanda, kendati di balik wajah mereka tersirat rasa iri dan
perasaan bersalah. Atsushi dan anak laki-laki lainnya ikut bergabung ke dalam
obrolan tersebut, melanjutkan percakapan hampa dan kering yang sama sekali tidak
bermakna. Seolah-olah mereka merasa takut jika keheningan sampai menyela di
antara mereka.
Menyaksikan
tingkah laku para pemuda dan pemudi tersebut, para pelayan yang bersiaga di
dalam salon pun memandang mereka dengan berbagai macam sorot mata, walaupun tidak
seorang dari mereka yang menunjukannya secara terang-terangan. Ada tatapan
dingin yang mempertanyakan mengapa mereka menyia-nyiakan waktu di tempat
seperti ini padahal telah dipilih oleh dewa dan saat ini rekan-rekan mereka
tengah bertaruh nyawa di medan perang; ada tatapan iba penuh rasa kasihan yang
menyadari ketakutan yang bersarang di dada para siswa serta kenyataan bahwa
mereka tidak bisa pulang ke kampung halaman; ada tatapan penuh rasa bersalah
karena telah menyudutkan anak-anak yang semula hanyalah siswa biasa hingga ke
titik ini; dan ada pula tatapan hampa tanpa emosi dari mereka yang tampaknya
sudah menyerah dan tidak lagi peduli...
Sorot mata yang
diperlihatkan sekilas oleh para pelayan tersebut mencerminkan persis perasaan
yang dimiliki oleh para bangsawan negeri ini maupun pihak Gereja Suci terhadap
kelompok siswa yang tinggal di istana. Tentu saja, proporsinya berbeda-beda
tergantung dari faksi mana mereka berasal.
Dan kelompok
siswa yang tinggal ini pun samar-samar bisa merasakan atmosfer dari perasaan
yang ditujukan kepada mereka. Hal itulah yang terus mendorong mereka untuk
melarikan diri dari kenyataan dan saling menjilat luka dengan percakapan-percakapan
hampa.
Tepat di saat
itulah, sebuah gumaman pelan meluncur lirih dari bibir seseorang.
“...Padahal Nona
Shizuku pun tetaplah seorang gadis biasa...”
Ucapan itu
sejatinya hanyalah sebuah gumaman tanpa sengaja, yang sama sekali tidak
ditujukan untuk didengar oleh siapa pun. Namun sungguh nahas, terlontar tepat
saat keheningan menyela pembicaraan, suara itu mau tidak mau sampai ke telinga
semua orang yang berada di dalam salon.
Para siswa
terperanjat, lalu serempak mengarahkan pandangan ke arah pelayan yang baru saja
melontarkan gumaman tersebut—Nia, pelayan yang sehari-harinya bertugas melayani
Shizuku. Nia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan sikap yang
jelas-jelas menyiratkan bahwa dirinya baru saja kelepasan bicara, namun...
“...Apa
maksudmu? Ada yang mau kamu keluhkan, hah?”
Atsushi
mengerutkan pangkal alisnya, mengarahkan nada bicara rendah yang terdengar
bagai geraman tertahan ke arah Nia. Walaupun memancarkan atmosfer yang penuh
ancaman, sorot matanya justru terlempar miring ke bawah. Sikap itu
memperlihatkan dengan jelas bahwa reaksi marahnya terhadap Nia hanyalah bentuk
pelampiasan rasa frustrasi.
“Tidak. Saya
sama sekali tidak punya keluhan apa pun. Mohon maafkan kelancangan saya.”
Sekali lagi Nia
membungkuk dalam-dalam di hadapan para siswa. Namun bagi Atsushi, sikap Nia
yang begitu sopan dan tulus itu justru kian menggores harga dirinya,
memancingnya untuk kembali melontarkan cercaan.
“Tidak ada yang
menyuruhmu minta maaf! Kamu lagi mengejek kami, ‘kan!? Kamu bilang Yaegashi-san
juga tidak ada bedanya... maksudmu, meski tidak ada bedanya tapi cuma kami yang
tidak ikut bertarung itu memalukan, itu yang mau kamu katakan!? Bilang langsung
depan muka sini!”
“H-Hei,
Atsushi... sudahlah, hentikan.”
“Buat apa kamu
melampiaskannya ke pelayan begitu?”
Melihat Atsushi
yang melontarkan bentakan penuh amarah layaknya anak kecil yang tengah
mengamuk, kedua temannya, Aikawa Noboru dan Nimura Akito, langsung bersuara
berusaha menenangkannya.
“Berisik kalian!
Aku cuma... aku cuma... sialan...”
“Atsushi...”
“Tamai-kun...”
Berbagai emosi
terpendam yang tidak bisa diutarakan lewat kata-kata berputar liar di dalam
dadanya, menampakkan kekesalan Atsushi yang terus membuncah. Di sampingnya,
Aikawa dan Akito memalingkan wajah dari Atsushi dengan ekspresi yang sulit
diartikan, sementara beberapa siswi yang sempat hendak menegur Atsushi pun
kembali terbungkam dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Mereka semua mengerti.
Perasaan berat dan pekat yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, perasaan
yang menjerat jiwa Atsushi layaknya terbelit sarang laba-laba.
Melihat Atsushi
yang menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya, Nia melangkah maju.
“Tuan Atsushi,
saya benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengucapkan
sesuatu yang menyinggung perasaan Anda. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud
menyindir Anda maupun yang lainnya. Saya mohon, percayalah akan hal itu...”
“Nia-san... tidak,
anu, aku yang harusnya... minta maaf...”
Melihat Nia yang
kembali membungkuk dalam-dalam sembari meminta maaf lewat nada suara dan sikap
yang memancarkan ketulusan, Atsushi memalingkan pandangannya dengan canggung,
lalu membalas permohonan maaf itu setelah amarahnya perlahan mereda. Pasalnya,
melampiaskan amarah hingga memaksa seorang wanita yang sejatinya tidak berbuat
salah untuk menundukkan kepala di hadapannya adalah hal yang memalukan dan
membuatnya merasa sangat bersalah.
Menghadapi
Atsushi, Nia tersenyum tipis, lalu kali ini dia memilih untuk tidak
membiarkannya berlalu begitu saja dan mulai berbicara demi menyampaikan maksud
sebenarnya dari perkataannya tadi.
“Kepada
semuanya, jika perkataan ceroboh saya barusan telah melukai perasaan Anda sekalian,
saya minta maaf. Namun, sebagai pelayan yang bertugas mendampingi Nona Shizuku,
tidak, sebagai seorang teman, saya hanya berpikir bahwa Nona Shizuku pun adalah
seorang gadis yang terkadang seharusnya dilindungi, diperbolehkan untuk
bergantung, dan berhak untuk bersikap manja kepada orang lain.”
“...Tapi ‘kan,
Shizuku-cchi itu super kuat. Dia selalu bisa diandalkan kapan saja...
Sejujurnya, aku bahkan tidak bisa membayangkan Shizuku-cchi yang lemah.”
“Benar juga, ya...”
Salah seorang
siswi yang ikut tinggal di Kerajaan, Miyazaki Nana, mengucapkan itu dengan tawa
kecut, yang segera disetujui lewat anggukan oleh temannya, Sugawara Taeko.
“Memang benar, walaupun
saya selalu mendampingi dan melayani Nona Shizuku, saya tidak pernah sekalipun
melihat beliau memperlihatkan kelemahannya. Akan tetapi, mustahil ada manusia
yang sempurna di dunia ini. Nona Shizuku pun hanyalah seorang gadis remaja yang
hingga beberapa waktu lalu hanyalah seorang siswi biasa. Oleh karena itu, meski
untuk saat ini beliau masih baik-baik saja... di istana ini, tempat beliau
akhirnya bisa kembali pulang namun tidak sempat untuk menenangkan hati, saya
sangat mengkhawatirkan anggapan kalian yang berpikir bahwa ‘wajar saja jika Nona
Shizuku sanggup melakukannya’ justru akan perlahan menyudutkan hati beliau.”
“Nia-san...”
Mendapati bahwa
perkataan barusan lahir dari rasa kepedulian yang begitu mendalam terhadap
Shizuku di luar dugaan mereka, Nana, Atsushi, dan yang lainnya tertegun seraya
menggeser posisi duduk mereka dengan canggung.
Nia yang
ditugaskan sebagai pelayan pribadi Shizuku sejatinya berasal dari garis
keturunan keluarga kesatria. Sejak kecil dia telah mendalami ilmu pedang di
bawah bimbingan ayah dan kakak-kakak laki-lakinya, sehingga dengan Shizuku yang
sama-sama telah berlatih pedang sejak usia dini, keduanya dengan cepat menjadi
akrab berkat topik mengenai ilmu pedang serta latar belakang keluarga yang
sangat mirip. Meski awalnya Nia diliputi ketegangan hebat tanpa henti akibat
tekanan harus melayani Utusan Dewa, kini dia bahkan sanggup menyebut Shizuku
sebagai seorang teman tanpa rasa ragu sedikit pun. Justru karena itulah dia
benar-benar mencemaskan sahabatnya dari dunia lain yang saat ini tengah
bertaruh nyawa di lantai yang belum pernah diinjak oleh siapa pun, dan oleh
sebab itulah hatinya bergejolak mendengar perkataan para siswa yang
memperlakukan Shizuku dengan sangat istimewa. Dia takut jika ekspektasi yang terlalu
besar itu kelak akan mengikis habis batin Shizuku hingga hancur.
Tepat pada saat
itulah, salah seorang siswi yang sedari tadi hanya duduk membisu di salon tanpa
ikut bergabung ke dalam percakapan, yang hanya menatap kosong ke kejauhan,
mendadak menggumamkan kalimat lirih.
“Semuanya...
tidak ada bedanya, ya...”
“Yuka? Ada apa?
Kamu tidak apa-apa?”
“A-Akhirnya
Yuka-cchi bersuara lagi... Kamu beneran gak apa-apa?”
Taeko dan Nana
memusatkan perhatian mereka ke arah teman mereka, Sonobe Yuka, dengan tatapan
yang bercampur antara rasa terkejut dan cemas. Keterkejutan dan kekhawatiran
mereka berdua tentu sangat beralasan. Soalnya, sejak hari saat dia berhasil
lolos dari kematian dan kembali hidup-hidup dari sana, Yuka berubah menjadi apatis
dan kehilangan seluruh semangat hidupnya seolah jiwanya telah melayang pergi.
Padahal semula dia adalah gadis yang agak keras kepala dan energik, baik dalam
artian positif maupun negatif, namun kini dia berubah menjadi pendiam, bahkan
berada dalam kondisi parah di mana jika tidak diajak keluar oleh teman-temannya
dia hanya akan duduk termenung di kursi kamarnya seharian sembari menatap
kosong ke arah luar jendela. Mengingat dirinya dipandang sebagai sosok yang
mengalami luka batin paling dalam di antara seluruh kelompok siswa yang tinggal
di istana, fakta bahwa Yuka kini mulai berbicara atas kehendaknya sendiri tentu
menjadi sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan bagi mereka.
Akan tetapi,
yang bersangkutan tampaknya sama sekali tidak menyadari reaksi kedua temannya
dan terus menyambung kalimatnya sembari tetap menatap ke udara kosong.
“...Benar juga
ya. Bukan cuma Shizuku. Kaori-chan, Sakagami-kun, Nagayama-kun dan yang
lainnya, rombongan Hiyama, bahkan Amanogawa-kun pun... tidak ada bedanya.
Setidaknya, dia orang biasa... tidak, dia bahkan di bawah rata-rata. Tapi...
dibanding siapa pun... padahal begitu, aku malah... padahal kita semua sama...
kalau begitu, aku...”
Untaian kata
yang tidak berpola. Sebuah luapan isi hati yang tidak ditujukan untuk didengar
oleh siapa pun. Namun di dalam diri Yuka yang selama ini terus mengurung diri
dalam keputusasaan, sesuatu perlahan mulai bergerak bangkit.
Menghadapi Yuka
yang terus berkomat-kamit sendirian, Nana dan Taeko semakin cemas, namun
menyaksikan sepasang pupil mata Yuka yang menatap ruang kosong perlahan mulai
memancarkan kembali secercah binar cahaya, keduanya saling bertukar pandang.
Siswa-siswi lain yang turut memperhatikan gerak-gerik Yuka dengan rasa
penasaran pun saling melempar pandang dengan wajah bingung yang kentara.
“Nia-san. Kapan
Ai-chan-sensei berangkat, ya?”
“Nona Aiko?
Seingat saya, beliau dijadwalkan berangkat besok pagi. Tujuannya adalah kota di
tepi danau, Ur, sehingga kemungkinan kepulangannya akan memakan waktu sekitar 2
hingga 3 minggu lagi.”
“Wah, besok
ya... tapi, kurasa malah lebih bagus. Hal ini kalau ditunda-tunda nanti niatnya
malah menciut.”
Mendengar
jawaban Nia, Yuka menyunggingkan tawa getir lalu bangkit berdiri dari kursinya
dengan penuh tenaga. Menyaksikan gerakan yang memancarkan dinamika dan
ketegasan itu, Nana dan Taeko sontak membelalakkan mata. Pemandangan dari sang
sahabat yang sudah sangat lama tidak pernah mereka lihat. Tanpa sadar, Nana
bertanya.
“T-Tunggu
sebentar, Yuka-cchi. Tiba-tiba kenapa sih? Aku sama sekali tidak paham
maksudmu.”
“Iya, bagaimana
ya, rasanya aku sudah muak cuma diam terus begini. Makanya, besok aku akan ikut
ekspedisinya Ai-chan.”
Mendengar
keputusan Yuka yang dilontarkan dengan begitu santai, bukan hanya Nana dan
Taeko, melainkan seluruh siswa kelompok tinggal di ruangan itu seketika
terperangah dengan wajah melongo. Hal itu tentu sangat wajar. Sebab, Yuka
adalah sosok yang menempati urutan teratas sebagai siswa yang hatinya paling
hancur lebur. Tatapan mata kosong, sikap apatis tanpa tenaga, dan sesekali
wajahnya terdistorsi oleh rasa takut... itulah sosok Yuka yang selalu mereka
lihat semenjak kembali ke Kerajaan. Fakta bahwa sosok itu mendadak kembali
seperti semula tidak pelak membuat Nana dan yang lainnya sangat kebingungan.
“H-Hei, Sonobe.
Kamu ini sebenarnya kenapa sih? Sikapmu aneh banget tahu? Tenang dulu sedikit.”
Atsushi yang
baru tersadar dari rasa terkejutnya menegur dengan nada panik. Akan tetapi...
“Aku tenang kok,
Tamai-kun. Dan ini bukan keputusan yang mendadak. ...Sejak dulu, aku tahu kita tidak
bisa terus-terusan begini. Waktu ‘dia’ mati, aku takut, aku tidak mengerti apa-apa,
isi kepalaku berantakan... tapi, aku sadar kita harus melakukan sesuatu. Bukannya
Tamai-kun dan kalian semua juga merasakan hal yang sama?”
“...”
Mendengar
perkataan Yuka, Atsushi tercekat kehabisan napas. Di saat yang sama, bibirnya
terkatup rapat seolah kata-katanya tertelan kembali ke dalam tenggorokan.
Seluruh siswa kelompok tinggal lainnya serempak membuang muka dengan canggung.
Melihat reaksi
rekan-rekannya, Yuka tidak melontarkan cercaan apa pun, malahan dia mengangkat
bahu seolah memahami betul perasaan mereka, lalu mulai melangkah menuju pintu
keluar salon.
“T-Tunggu dulu,
Sonobe! Kamu beneran mau pergi!? Kali ini kamu beneran bisa mati! Tempat ini
bukan dunia manga atau film! Hal-hal yang menguntungkan kita tidak akan terjadi
begitu saja di sini! Makanya, makanya dia sampai mati di sana, ‘kan!? Padahal tidak
punya bakat apa-apa, tapi bertingkah sok pahlawan dan mati semudah itu!! Aku...
aku tidak mau jadi orang bodoh seperti dia... Sonobe, jangan gegabah!”
Atsushi sempat
berteriak dengan nada penuh emosi yang meledak-ledak, namun perlahan suaranya
kehilangan tenaga selagi dia menundukkan kepala berusaha menahan langkah Yuka.
Menghadapi Atsushi, bukan, menghadapi rekan-rekan kelompok tinggal lainnya,
Yuka menjawab dengan nada tenang tanpa menoleh ke belakang.
“...Tapi, berkat
orang yang kamu sebut tidak berbakat dan bodoh itulah, aku bisa selamat. Tidak,
kita semua terselamatkan olehnya.”
“Itu ‘kan...”
“Aku sama sekali
tidak berniat menyuruh Tamai-kun dan yang lainnya ikut denganku kok. Hanya
saja, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Cuma itu. Tentu saja, kalau ada banyak
orang yang mau ikut denganku, aku senang banget.”
Menoleh sekilas
dari balik pundaknya, sembari menyunggingkan senyuman tipis meski wajahnya
tampak sedikit tegang, Yuka membuat Atsushi hanya sanggup menganga tanpa suara.
Pada akhirnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dan dia
roboh kembali ke kursinya layaknya boneka yang putus tali pengendalinya. Yuka
lantas melangkah keluar meninggalkan ruangan.
Meninggalkan
anak-anak kelompok tinggal yang masih tertegun membisu maupun menundukkan
kepala dengan ekspresi yang tampak bungkam, Taeko dan Nana buru-buru berlari
mengejar Yuka. Berhasil menyusul di lorong, keduanya berbicara pada Yuka dengan
kebingungan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
“Hei, Yuka. Kamu
beneran mau ikut Ai-chan-sensei? Kali ini kamu bener-bener bisa mati lho?”
“Aku tahu. Tapi,
aku memang tidak bisa terus-terusan begini. Nyaliku memang tidak cukup besar
untuk menyusul kelompoknya Amanogawa-kun, tapi setidaknya aku akan melindungi
Ai-chan.”
Melihat nada
bicara dan sorot mata yang sarat akan keteguhan tekad tersebut, Nana dan Taeko
saling beradu pandang. Lantas, Nana bertanya dengan nada ragu-ragu.
“Yuka-cchi...
anu, jangan-jangan, soal Nagumo...?”
“Ngomong apa sih
kamu. Kepribadianku tidak sedangkal itu.”
“Masa sih?”
“Ya iyalah.
Lagipula, melihat latihan Kaori-chan yang mengerikan seperti kesurupan itu dan
bagaimana dia masih begitu percaya kalau anak itu masih hidup, siapa pun yang
berani menyela di antara mereka pantas disebut pahlawan sejati. Kalau aku punya
nyali sebesar itu, dari awal aku tidak akan ikut mengurung diri di sini.”
“Yah, benar juga
sih...”
Sonobe
Yuka—siswi yang pada hari insiden di Dungeon Besar Orcus berhasil diselamatkan
dari tebasan Traum Soldier di saat-saat paling kritis oleh Nagumo Hajime yang
kini telah tiada, tidak lain adalah dirinya. Oleh karena itu, wajar jika Nana
sempat berprasangka demikian, namun melihat jawaban dan ekspresi Yuka, jelas
sekali bahwa meski belum bisa disebut sebagai perasaan asmara, dia memendam
sebuah rasa kompleks terhadap Hajime. Cukup kompleks hingga membuat Nana yang
gemar usil pun mengurungkan niat untuk menggodanya lebih jauh.
Bagi Yuka
sendiri, tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Dia murni tidak ingin
menyia-nyiakan apa pun. Baik nyawanya yang telah diselamatkan, maupun
perjuangan Hajime yang bertaruh segenap jiwa dan raga. “Kita semua sama”,
Hajime pun pasti tidak ada bedanya. Kalau begitu, jika dirinya yang tidak ada
bedanya ini, dirinya yang telah diselamatkan ini hanya terus terpaku meratapi
nasib, hal itu terasa seperti pengkhianatan keji terhadap kerja keras pemuda
yang sama biasanya seperti dirinya, dan dia sama sekali tidak sudi merendahkan
dirinya menjadi sosok yang sehina itu.
Tampaknya
memahami isi hati Yuka, kedua sahabat lamanya saling bertukar pandang,
menyunggingkan tawa getir, lalu mengangguk bersamaan. Kemudian, secara serentak
keduanya mengumumkan bahwa mereka pun akan ikut serta dalam ekspedisi tersebut.
“...Beneran?
Kalian tidak perlu memaksakan diri cuma demi menemaniku, lho?”
“Kalau Yuka-cchi
tidak mau menyia-nyiakan nyawa yang sudah diselamatkan oleh anak itu, aku pun tidak
mau menyia-nyiakan nyawaku yang sudah diselamatkan oleh Yuka-cchi. Kalau Yuka-cchi
pergi, aku juga ikut~”
“Iya. Mana bisa kami
membiarkan Yuka pergi sendirian. Lagipula, perasaanku yang tidak mau menyia-nyiakan
segalanya juga sama kok.”
Dulu, setelah diselamatkan
oleh Hajime, Yuka berhasil menyadarkan orang-orang di sekitarnya yang tengah
panik, menata kembali formasi beberapa siswa, dan melindungi teman-temannya.
Dan di antara segelintir siswa tersebut, Nana dan Taeko termasuk di dalamnya.
Nana dan Taeko paham betul bahwa keberhasilan mereka menyambung nyawa hingga
hari ini adalah berkat Yuka yang telah mengembalikan kewarasan mereka saat itu.
Oleh sebab itu, jika Yuka memutuskan untuk bangkit berdiri, tidak ada pilihan
bagi mereka berdua selain melangkah bersamanya.
“Begitu ya.
Hehehe, kalau begitu, ayo kita pergi bersama dalam perjalanan melindungi Ai-chan
dari monster dan para kesatria pengawal ganteng kiriman Gereja itu.”
Bukannya tidak
berharap, namun mengetahui kedua sahabatnya bersedia ikut tentu terasa sangat
membahagiakan, sehingga Yuka tersenyum manis sembari melontarkan seruan komando
dengan nada jenaka. Nana dan Taeko pun menyahut lantang dengan penuh semangat,
“Siap!”
Bayang-bayang
ketakutan yang sempat bersarang di mata ketiga gadis yang kini tertawa bersama
itu telah memudar jauh dibanding sebelumnya, berganti dengan binar cahaya tekad
yang perlahan mulai bersemi kembali.
Pagi buta
sebelum fajar menyingsing, kabut pagi masih menyelimuti tanah lapang. Langit
timur yang mulai memutih samar berpadu dengan udara pagi yang dingin nan
menyegarkan, menjadi pemantik yang pas untuk mengusir kantuk. Namun di tengah
atmosfer yang menjanjikan cuaca keberangkatan yang begitu sempurna itu, ada
satu orang yang memasang muka cemberut. Hatayama Aiko-sensei. Tokoh utama dalam
ekspedisi hari ini.
“...Semuanya.
Bisakah kalian mempertimbangkannya kembali? Soalnya kalau urusan melindungiku,
para kesatria ini pasti akan melakukannya dengan baik.”
“Tidak bisa,
Ai-chan-sensei. Malahan, gerombolan kesatria itulah yang berbahaya. Sudah jelas
mereka itu umpan pemikat berparas tampan yang dikirim oleh Gereja demi menjerat
Ai-chan.”
“Benar banget,
Ai-chan-sensei. Jangan sampai terlena cuma gara-gara mereka semua berwajah
tampan, ya?”
“Yah, walau
kalau dilihat-lihat rasanya para pemburu itu malah sudah berbalik jadi pihak
yang diburu, sih. Tapi tetap saja, Ai-chan-sensei ‘kan guru kesayangan kami,
jadi tidak ada salahnya lebih berhati-hati.”
Menghadapi
perkataan Yuka, Nana, dan Taeko yang telah merampungkan persiapan sejak tadi
malam dan bersikeras menyatakan akan ikut mendampingi, pundak Aiko terkulai
lemas. Pasalnya, bujukan panjang lebar yang dia sampaikan tadi malam mengenai
bahaya perjalanan ini seluruhnya mental tanpa sisa. Sudah jelas bahwa bicara
apa pun sekarang hanya akan berakhir sia-sia.
Sebagai catatan,
perkataan Yuka mengenai Gereja yang melancarkan perangkap pemikat terhadap Aiko
bukanlah sekadar prasangka buruk semata. Regu pengawal dari Ordo Kesatria Kuil
yang ditugaskan mendampingi ekspedisi reformasi dan pembukaan lahan pertanian
Aiko di berbagai penjuru Kerajaan memang seluruhnya terdiri dari pemuda-pemuda
berparas tampan, dan mereka terus berusaha mendekati Aiko. Tujuannya tidak lain
adalah demi mengikat sosok Aiko yang menyimpan potensi untuk mengubah total
kondisi ketahanan pangan di dunia ini. Kendati demikian, persis seperti yang
dikatakan Taeko, dengan alasan yang sama persis seperti para siswa yang begitu
menyayangi sang guru, kompi kesatria tampan itu kini justru perlahan mulai
beralih menjadi barisan pengikut setia Aiko. Hanya saja Aiko sendiri sama
sekali tidak menyadarinya layaknya tokoh utama dalam permainan otome.
Melihat
murid-muridnya mengkhawatirkan dirinya, menyayanginya hingga ingin ikut
menemani, serta kembali bersemangat untuk mencoba berjuang sekali lagi, Aiko
tentu merasa sangat bahagia. Namun memikirkan bahaya nyata yang tidak bisa dimungkiri
dalam perjalanan ini, dia memegangi kepalanya dengan perasaan campur aduk.
Tepat saat itulah, suara gaduh mulai terdengar mendekat dari arah istana.
Saat Aiko dan
murid-muridnya menolehkan pandangan, rombongan kesatria yang menuntun kuda dan
kereta kuda tengah melangkah menuju titik kumpul. Akan tetapi, di antara
rombongan itu tampak sosok-sosok yang tidak terduga, dan mereka tampaknya tengah
bersitegang melabrak para Kesatria Kuil. Mata Aiko seketika membelalak kaget,
sementara Yuka dan yang lainnya merasa heran.
“T-Tamai-kun?
Ditambah lagi, Aikawa-kun dan Nimura-kun juga! Jangan-jangan, kalian bertiga
juga...”
“Halo,
Ai-chan-sensei. Selamat pagi. Kami bertiga juga ikut, jadi mohon bantuannya,
ya.”
Atsushi dan
kedua temannya yang sedari tadi melotot garang ke arah para Kesatria Kuil
menyapa Aiko dengan nada yang sangat santai. Menyaksikannya, Aiko sempat ingin
menegur, namun Yuka lebih dulu bersuara memotong niat sang guru.
“...Kalian
beneran ikut? Sejujurnya, agak bikin kaget.”
“Berisik.
...Bukan cuma kamu saja yang butuh alasan untuk melangkah. Kami juga merasakan
hal yang sama. Meski untuk yang lainnya, kelihatannya masih belum sanggup,
sih.”
“Begitu ya.
Baguslah kalau begitu, mari kita berjuang bersama dengan anggota yang ada ini.”
Yuka mengangkat
bahu lalu menerima keikutsertaan Atsushi dan kawan-kawan tanpa banyak tanya.
Begitu Yuka menyerukan terbentuknya regu pengawal Ai-chan, Atsushi dan yang
lainnya pun menyahut lantang penuh semangat, “Siap!”, walau ketegangan dan sedikit
rasa takut masih tampak tersirat di wajah mereka.
Setelah itu,
tepat sebelum keberangkatan, satu orang siswa lagi bergabung ke dalam regu
pengawal Ai-chan. Sembari diwarnai gesekan-gesekan kecil yang berulang kali
terjadi melawan para Kesatria Kuil yang berparas tampan, rombongan itu akhirnya
bertolak memulai ekspedisi reformasi dan pembukaan lahan pertanian. Membawa
serta tekad baru untuk mencoba berjuang sekali lagi di dalam dada mereka.
“Uugh, pada
akhirnya aku terbawa suasana lagi... Bahkan membujuk satu orang murid saja aku
tidak becus. Aku benar-benar guru yang payah. Hiks.”
Aiko meratapi
nasibnya sembari terombang-ambing di dalam kereta kuda. Melihat tingkah
menggemaskan sang guru, para kesatria tampan tidak pelak dibuat salah tingkah
dan gemas setengah mati, yang tentu saja langsung dibalas oleh geraman buas
garuru dari Yuka dan kawan-kawan setiap kali para kesatria itu hendak mendekat.
Sepanjang perjalanan, percikan api persaingan terus berkobar sengit
memperebutkan Aiko, membuat lambung sang guru yang seharusnya menjadi pihak
yang dilindungi mengalami kerusakan secepat kilat... walau tidak seorang pun
dari mereka yang menyadari penderitaan batin tersebut.
Di dalam sebuah
ruangan, cahaya kebiruan samar yang terpancar dari dinding menyinari siluet
tiga sosok manusia yang tengah duduk bersandar sembari saling merapat ke satu
sama lain. Trio Hajime, Yue, dan Shea.
Dengan Hajime di
tengah, Yue di sisi kanan dan Shea di sisi kiri duduk bersandar merebahkan
kepala di bahunya. Keheningan menyelimuti ruangan tersebut, namun jika
menajamkan pendengaran, sayup-sayup terdengar suara tarikan dan hembusan napas
yang teratur. Suara napas Yue dan Shea yang tengah terlelap. Sembari memeluk
kedua lengan Hajime, kedua gadis itu menjadikan bahunya sebagai pengganti bantal
untuk tidur.
Hari ini tepat
genap satu minggu sejak rombongan Hajime melangkahkan kaki memasuki Dungeon Besar
Reisen. Sepanjang kurun waktu tersebut, berbagai jebakan serta kalimat
menyebalkan tidak henti-hentinya menguras ketahanan mental dibanding fisik
mereka. Terlempar kembali ke titik awal sebanyak 7 kali, diserang jebakan
mematikan sebanyak 48 kali, serta dijatuhi baskom logam, terkena lem getah
perangkap, disiram cairan putih berbau aneh, dan rentetan perbuatan jahil tidak
bermakna lainnya sebanyak 169 kali.
Awalnya batin
rombongan Hajime memang sempat diselimuti amarah membara terhadap Miledi
Reisen, namun setelah melewati hari keempat, kondisi mental mereka perlahan
berubah menjadi pasrah masa bodoh seolah berpikir “ah, terserahlah~”.
Persediaan
makanan mereka melimpah ruah, dan menilik spesifikasi fisik mereka yang di atas
rata-rata membuat mereka tidak akan mati semudah itu merupakan berkah di balik
musibah. Sembari sesekali beristirahat seperti sekarang, mereka terus
melanjutkan penjelajahan sedikit demi sedikit. Hasilnya, mereka akhirnya
menyadari bahwa perubahan struktur dungeon ini ternyata memiliki pola tertentu.
Mengandalkan sihir Pelacakan, Hajime terus memastikan balok mana yang berpindah
ke posisi mana.
Mungkin sebentar
lagi akan ada titik terang. Sembari memikirkan hal itu, Hajime mengalihkan
pandangannya ke arah kedua gadis yang tengah terlelap di kedua sisinya.
“Enak banget
tidurnya... kalian sadar tidak kalau ini di dalam dungeon besar?”
Bisikan bernada
tawa getir meluncur dari bibir Hajime. Karena bertugas berjaga malam, dia
memang terjaga sepanjang waktu. Hajime perlahan melepaskan dekapannya pada
lengannya tanpa membangunkan mereka, lalu mengelus lembut rambut Yue. Sudut
bibir sang gadis tampak sedikit merekah manis. Sorot mata Hajime pun melembut
tipis.
Lantas, saat
mengalihkan pandangan ke sisi sebaliknya, tampak Shea yang tengah tertidur
lelap dengan ekspresi yang luar biasa santai, komat-kamit menggerak-gerakkan
mulutnya sembari meneteskan air liur deras di atas pundak Hajime. Melihat wajah
tidur Shea yang sama sekali tidak mencerminkan suasana mencekam di dalam dungeon
besar ini, Hajime mendadak teringat bahwa tempo hari gadis ini sempat merengek
minta dielus kepalanya, sehingga dia pun mencoba mengelus lembut rambut Shea.
Sekalian saja, dia
turut mengusap-usap telinga kelincinya yang berbulu lebat. Begitu disentuh,
wajahnya yang semula sudah berantakan kini berubah semakin mengendur tanpa
pertahanan. Wajah yang dipenuhi rasa aman seutuhnya. Selama Hajime yang
berjaga, tidak, mungkin hanya dengan berada di sisi Hajime saja sudah cukup
untuk membuatnya merasa tenang.
Sembari membelai
rambut putih kebiruannya yang halus serta telinga kelincinya, ekspresi yang sangat
kompleks terbit di wajah Hajime.
“Astaga, apanya
yang bagus dari orang sepertiku sampai kamu mau ikut ke tempat terkutuk
begini...”
Kendati mulutnya
melontarkan gerutuan, tatapan matanya terlihat begitu hangat. Untuk saat ini dia
memang merasa belum sanggup membalas perasaannya dengan emosi yang sama seperti
yang dia berikan kepada Yue, namun cara berpikir positif, keceriaan, serta
kegigihan Shea yang pantang menyerah meski terus merengek... sejujurnya cukup
disukai oleh Hajime. Oleh sebab itu, belaian tangannya pun secara alami berubah
semakin lembut.
Tepat pada saat
itulah, Shea mulai mengigau tidak jelas.
“Ngh-mung...
aah... Hajime-shan, berani banget sih... di tempat terbuka begini... nanti
dilihatin yang lain lhooo...”
“...”
Sorot matanya
masih tampak lembut, namun binar kehangatan di balik pupil mata Hajime seketika
padam tanpa sisa. Tetap dengan gerakan tangan yang begitu tenang, dia perlahan
menggeser jemarinya lalu memencet hidung Shea sekaligus membekap mulutnya
rapat-rapat. Ekspresi damai di wajah Shea perlahan berubah menjadi tersiksa
kehabisan napas, namun Hajime tetap membekapnya tanpa peduli.
“Mmph, mm!?
Mmph~!? Mmmh!! Mmm!! Puhaaah! Hah, hah, a-apa-apaan sih! Sekalipun mau
menyerangku saat tidur, bukan begini caranya!”
Terengah-engah
meraup oksigen dengan napas memburu seraya membuka matanya lebar-lebar, Shea memprotes
keras, yang hanya dibalas oleh tatapan mata dingin dari Hajime.
“Terus?
Sebenarnya di kepalamu itu aku ini makhluk semesum apa, hah? Memangnya apa yang
kulakukan padamu di tempat terbuka tadi? Hm?”
“Eh? ...Hah,
yang tadi itu mimpi!? Ya ampuun~ padahal Hajime-san sudah bersikap manis
banget, terus karena tidak sanggup menahan gelora asmara yang meluap-luap, kamu
mendesakku dengan kata-kata mesra selagi aku meronta malu, sampai akhirnya di
depan umum kamu...akh-bugh!?
Tidak sanggup lagi
mendengarkan ocehannya, Hajime menyentil dahi dengan penguatan penuh tepat di
kening Shea. Benturan dahsyat tersebut membuat tubuh Shea terlempar ke belakang
hingga membentur dinding dengan keras di bagian belakang kepalanya, sebelum
akhirnya meringkuk memegangi kening dengan mata berkaca-kaca. Tampaknya gadis
ini memang ditakdirkan untuk tidak pernah bisa lepas dari predikat karakter
yang bernasib malang.
Sembari
mengusap-usap bagian belakang kepalanya dia bergumam pelan, “Entah kenapa,
rasanya pas tidur tadi aku sempat merasa bahagia banget... apa cuma perasaanku
saja, ya?” Kemungkinan besar dia dengan tidak sadar merasakan belaian tangan
Hajime tadi. Namun menyadari jika diberitahu gadis ini pasti akan langsung
besar kepala, Hajime memilih untuk tutup mulut dan mengabaikannya.
Karena Shea
sudah (dipaksa) bangun, Hajime mengguncang pelan tubuh Yue untuk
membangunkannya. Yue mengerang manis “...Eungh... augh?” lalu perlahan membuka
matanya. Setelah memastikan Hajime melalui pandangannya yang masih sayu, sudut
matanya melengkung manis, menggesekkan pipinya sekali ke pundak Hajime dengan
manja, lalu beranjak merapikan penampilannya dengan anggun.
“Uugh, Yue-san
imut banget... begini dong bangun tidur yang pantas untuk seorang cewek~ Beda
banget dibanding aku...”
Menghadapi Shea
yang mendadak kembali merasa minder, Yue menatap heran, namun memilih untuk
membiarkannya hanya dengan alasan karena itu Shea.
“Tuh ‘kan, soal
daya tempur pesona wanita kamu memang sudah jelas kalah telak sejak awal.
Daripada meratapi nasib begitu mending bersiap memulai penjelajahan lagi.”
“...Kira-kira
ada tidak ya kebaikan hati yang tercecer di suatu tempat?”
“...? Hajime
sering menjatuhkannya kok.”
“Hiks, itu ‘kan
cuma berlaku buat Yue-san. Sialan banget.”
Shea bangkit
berdiri dengan tampang yang agak masam. Yue dan Hajime sudah siap sepenuhnya.
Sembari berdoa dalam hati agar kali ini tidak dilempar kembali ke titik awal,
ketiganya kembali melanjutkan penaklukan dungeon.
Sekali lagi
mereka melewati rentetan jebakan picik dan kalimat menyebalkan berbekal
ketenangan batin setingkat biksu pertapa.
Dan kemudian,
kelompok Hajime akhirnya tiba di sebuah ruangan yang sejak kunjungan pertama seminggu
lalu tidak pernah mereka temukan lagi. Ruangan golem kesatria yang dulu pertama
kali melempar mereka kembali ke titik awal dan memicu amarah yang menembus
batas langit. Bedanya, kali ini pintu segelnya sudah terbuka sejak awal, dan di
sisi seberangnya bukanlah ruangan melainkan sebuah lorong yang sangat besar.
“Di sini
rupanya... Akan merepotkan kalau kita sampai terkepung lagi. Mumpung pintunya
terbuka, ayo kita terobos sekaligus!”
“Mm!”
“Siap!”
Rombongan Hajime
menerobos masuk ke dalam ruangan golem kesatria. Begitu mereka tiba di tengah
ruangan, persis seperti dugaan, para golem kesatria melompat keluar dari
lekukan di kedua sisi dinding diiringi dentang gaduh logam. Namun sebelum
mereka keluar sepenuhnya, Hajime lebih dulu mematahkan momentum serangan itu
dengan menembak dan memporak-porandakan para golem kesatria di bagian depan.
Memanfaatkan
waktu yang berhasil dibeli tersebut, rombongan Hajime melipatgandakan kecepatan
lari dan tiba di dekat altar sebelum sempat terkepung. Para golem kesatria
mengejar dengan membabi buta, namun mereka tampaknya tidak akan sanggup
mengejar sebelum rombongan Hajime berhasil melewati pintu. Merasa kemenangan
dalam pelarian ini sudah di tangan, seringai puas terbit di bibir Hajime.
Akan tetapi,
seringai Hajime seketika runtuh pada detik berikutnya. Tidak disangka-sangka,
para golem kesatria itu ikut menerobos melewati pintu dan terus mengejar.
Ditambah lagi...
“Apa-apaan!? Mereka
berlari di langit-langit!?”
“...Kaget.”
“Wahai gravitasi,
tolong dong kerjakan tugasmu dengan benaaar!”
Benar sekali,
para golem kesatria yang mengejar itu berlari di dinding dan langit-langit
seolah tidak mengenal gravitasi, memicu suara berisik dari setelan zirah pelat
baja tebal mereka yang berdentang gaduh. Pemandangan itu tidak pelak membuat
kelompok Hajime yang berpengalaman sekalipun tercengang bukan main. Secara refleks
Hajime melancarkan Identifikasi Mineral ke arah lorong, namun material
penyusunnya seluruhnya terdiri dari jenis mineral yang sudah dikenalnya. Tidak
terdeteksi sedikit pun keberadaan mineral dengan sifat penetral gravitasi
ataupun perekat.
“Sebenarnya apa
yang terjadi di sini?”
Gumaman heran
itu terlontar spontan dari bibirnya. Lantas, saat dia kembali melirik sekilas
ke arah para kesatria di belakang, rasa terkejutnya kembali dipaksa naik ke
tingkat berikutnya.
Salah satu golem
kesatria yang tengah berlari di langit-langit mendadak melompat kecil sembari
berlari, lalu melesat terbang di udara layaknya proyektil meriam dalam momentum
luar biasa dahsyat dengan kepala mengarah lurus ke jalur depan.
“Apa yang sedang
terjadi!?”
Sembari
melontarkan seruan syok, Hajime melepaskan tembakan beruntun dari Donner.
Peluru yang ditembakkan melesat bagai kilatan cahaya, menghancurkan helm baja
dan pundak golem kesatria yang tengah meluncur terbang tersebut. Kepala dan
tubuh golem kesatria itu terbelah terpisah, bahkan pedang besar dan perisainya
terlepas dari genggaman. Akan tetapi, serpihan-serpihan itu sama sekali tidak
jatuh ke tanah, melainkan terus meluncur menerjang lurus ke arah kelompok
Hajime.
“Menghindar!”
“Mm.”
“Wakh!”
Sembari
membungkuk dan melompat, mereka berkelit menghindari kepala, tubuh, pedang
besar, serta perisai golem kesatria yang meluncur deras dalam kecepatan
mengerikan. Setelah melewati kelompok Hajime, puing-puing golem kesatria itu
terus menggelinding maju ke depan tanpa kehilangan momentum sedikit pun sembari
berulang kali menghantam dinding, langit-langit, dan lantai.
“Tunggu dulu,
kalau begitu bukannya dia...”
“Mm... seperti
‘terjatuh’.”
“Gravitasi
sedang bekerja asal-asalan ya, aku paham kok.”
Perkataan Yue
dan Shea adalah ungkapan yang paling tepat melukiskan fenomena barusan.
Tampaknya para golem kesatria tersebut sanggup memanipulasi gravitasi. Entah
mengapa trik ini tidak digunakan pada pertempuran sebelumnya, namun ada
kemungkinan kemampuan itu memang hanya bisa diaktifkan setelah melewati ruangan
tadi, tepatnya mulai dari lorong ini.
Pemikiran itu terputus
saat para golem kesatria lainnya serempak berjatuhan meluncur deras ke arah
kelompok Hajime. Di antara mereka bahkan ada sosok tangguh yang meluncur
sembari memutar pedang besarnya layaknya kincir angin. Rombongan Hajime terus
melangkah maju tanpa memperlambat lari sedikit pun, melancarkan serangan jarak
jauh menggunakan tembakan pistol dan sihir Pembelahan, sembari membiarkan Shea
menghantam mundur musuh-musuh yang menerjang terlalu dekat.
Tidak lama
berselang, kelompok Hajime merasakan adanya keberadaan lain di depan sana.
“Ngh... Hajime.”
“Ya, aku tahu.
Yah, kalau mereka bisa merekonstruksi tubuhnya, ujung-ujungnya pasti bakal jadi
begini.”
“K-Kita terjepit
dari depan dan belakang ya.”
Rupanya para
golem kesatria yang meluncur jatuh lebih dulu tadi telah merekonstruksi tubuh
mereka di ujung jalur luncuran. Mereka berbaris rapi membentuk formasi tempur
demi menghadang laju kelompok Hajime. Mendorong perisai ke depan dan
merendahkan pinggul dengan kokoh, mereka membentuk dinding pertahanan yang
solid. Dengan begitu niatnya, barisan kedua golem kesatria menahan para
kesatria pembawa perisai dari belakang. Mereka kemungkinan besar telah memetik
pelajaran bahwa pertahanan satu lapis saja akan langsung dihancurkan oleh
kekuatan fisik murni.
“Cih, bikin
repot saja.”
Hajime
mendecakkan lidah lalu memasukkan Donner dan Schlag ke sarung senjata di kedua
pahanya. Kemudian, dia menarik keluar sebuah persenjataan dari dalam Ruang
Harta.
Sebuah peluncur
roket dan rudal berbentuk persegi panjang dengan magasin putar dua belas
selongsong yang terpasang di dekat pegangan, Orkan. Amunisi roketnya memiliki
panjang hampir 30 sentimeter, membuat daya hancurnya jauh lebih dahsyat dibandingkan
granat tangan biasa. Pada bagian hulu ledak terpasang mineral yang telah
disematkan sihir Lapisan Petir menggunakan Sihir Penciptaan; karena batu ini
selalu dialiri listrik statis, hancurnya hulu ledak saat terjadi benturan
benturan akan langsung memicu percikan yang menyulut bubuk peledak di dalamnya.
Menjepit Orkan
dengan kokoh di bawah ketiaknya, Hajime menyunggingkan seringai di sudut
bibirnya.
“Yue, Shea!
Tutup telinga kalian! Aku bersiap menembak!”
“Mm.”
“Ehh~ benda apa
lagi itu!?”
Mata Shea
terbelalak lebar melihat wujud aneh Orkan yang baru pertama kali dilihatnya.
Yue yang tengah berlari segera menyumbat kedua telinganya dengan jari telunjuk.
Walaupun sepasang telinga kelinci Shea masih berdiri tegak, tanpa peduli itu Hajime
langsung menarik pelatuk Orkan.
Wushhh! Diiringi suara desisan kencang tersebut, sebuah roket
melesat meninggalkan jejak lidah api di belakangnya, menghantam telak formasi
barisan golem kesatria yang tengah bersiap menghadang tanpa meleset sedikit
pun.
Detik berikutnya,
suara gemuruh dahsyat meledak bersamaan dengan kobaran api raksasa. Mengguncang
hebat seisi lorong, bubuk peledak bertekanan tinggi dalam jumlah masif
memuntahkan gelombang kejut yang luar biasa mengerikan. Para golem kesatria di
sekitar titik ledakan terlempar dan membentur keras dinding di kedua sisi serta
langit-langit, hancur lebur hingga tidak lagi menyisakan bentuk aslinya. Proses
rekonstruksi tubuh mereka dipastikan akan memakan waktu yang cukup lama.
Kelompok Hajime
melompati puing-puing sisa golem kesatria itu dalam sekali terjang.
“Telinga kelincikuuu~
telinga kelincikuuu!!”
Sembari berlari
bersisian bersama Hajime dan yang lainnya, Shea melipat sepasang telinga
kelincinya rapat-rapat, mendekapnya dengan kedua tangan, lalu menggeliat menahan
sakit dengan mata berkaca-kaca. Suku manusia kelinci... adalah ras yang
memiliki pendengaran paling tajam di antara seluruh ras setengah manusia.
“Makanya, tadi ‘kan
sudah kubilang suruh tutup telinga!”
“Eeeh? Apa? Aku
tidak dengar!”
“...Haaah, kelinci
yang serba mengecewakan...”
Hajime dan Yue menatap
jengah ke arah Shea, namun Shea yang masih sibuk merintih kesakitan sama sekali
tidak menyadarinya.
Sembari
mengatasi para golem kesatria yang kembali berjatuhan dari atas, mereka terus
melesat berlari selama 5 menit. Akhirnya, ujung lorong mulai terlihat. Di balik
lorong tersebut tampak sebuah ruang raksasa yang membentang luar biasa luas.
Jalur lorong itu sendiri terputus di ujungnya, dan sekitar 10 meter di depan
tampak sebuah pijakan berbentuk balok persegi.
“Yue, Shea! Kita
lompat!”
Mendengar
aba-aba Hajime, Yue dan Shea (yang pendengarannya sudah berhasil pulih)
mengangguk serempak. Dari arah belakang, para golem kesatria masih terus
meluncur jatuh. Sembari membalas serangan dan berkelit menghindar, rombongan
Hajime melompat sekuat tenaga dari tepi ujung lorong. Berkat Penguatan Tubuh,
daya lompat kelompok Hajime jauh melampaui atlet Olimpiade sekalipun. Melewati
rekor dunia dengan mudah, mereka melayang hendak mendarat di atas balok persegi
di bawah pandangan mereka.
Namun, hal-hal
yang tidak berjalan sesuai rencana adalah ciri khas utama dari dungeon besar
ini. Tidak disangka-sangka, tepat di hadapan kelompok Hajime yang tengah
melayang di udara membentuk lintasan parabola, balok persegi itu meluncur
bergerak menjauh begitu saja dengan mulus.
“Apa!?”
Hajime kembali berseru
untuk kesekian kalinya sejak tiba di dungeon ini. Perhitungan jaraknya meleset,
dan jika dibiarkan mereka akan jatuh bebas. Melirik sekilas ke bawah, jurang di
dasarnya tampak luar biasa dalam. Tepat saat dia mengangkat tangan kiri berniat
menancapkan jangkar secara refleks, suara Yue membahana membelah udara.
“Melayang!”
Sihir elemen
angin yang diaktifkan memicu terciptanya embusan angin ke atas yang kuat,
menambah jarak jangkauan lompatan kelompok Hajime. Meski efeknya hanya bertahan
sesaat, itu sudah lebih dari cukup. Mereka berhasil menyusul balok yang masih
terus bergerak menjauh, lalu sukses menggapai tepiannya dan bergelantungan di
sana. Menancapkan paku cakar pada lengan prostetiknya untuk mengunci posisi,
Hajime bergelantungan menahan tubuhnya selagi Yue dan Shea ikut memeluk erat
tubuh pemuda itu.
“K-Kerja bagus,
Yue.”
“Yue-san, hebat
sekali!”
“...Mm. Puji
lagi dong.”
Merasa lega
karena terhindar dari bahaya jatuh bebas, senyuman merekah di wajah Hajime dan
Shea selagi memuji Yue. Yue pun tampak agak kelelahan akibat konsumsi mana yang
boros, namun auranya memancarkan rasa bangga yang terlihat jelas.
Akan tetapi,
suasana hangat tersebut seketika buyar oleh kehadiran para golem kesatria yang
melayang di udara. Benar sekali, para golem kesatria itu kini terbang bebas di
udara. Mereka kemungkinan memanipulasi gravitasi untuk menentukan arah
jatuhnya. Dalam kecepatan yang mengerikan, mereka melesat mendekati kelompok
Hajime yang masih bergelantungan.
“!? Yue, Shea,
naik!”
Bersamaan dengan
instruksi yang dia berikan pada keduanya, Hajime menarik Donner lalu melepaskan
tembakan beruntun ke arah para golem kesatria yang mendekat. Yue dan Shea
merayap menaiki tubuh Hajime hingga berhasil naik ke atas balok, disusul Hajime
yang mengentakkan tubuhnya bagai gerakan melenting berdiri untuk ikut berpindah
ke atas permukaan balok.
Tepat
setelahnya, di titik tempat Hajime bergelantungan tadi, seekor golem kesatria
menusukkan pedang besarnya dengan kekuatan luar biasa dahsyat. Memanfaatkan
jeda kaku sesaat akibat entakan dari sang golem kesatria, Hajime menembaknya
jatuh dari atas kepala.
“Sialan. Entah
mereka memanipulasi gravitasi atau apa, pergerakan mereka semakin lama semakin
lincah dan terampil saja.”
“...Mungkin
penyebabnya tempat ini?”
“Ahaha,
sebenarnya apa sih definisi akal sehat itu? Semuanya mengapung begini, lho?”
Tepat seperti
yang dikatakan Shea, segala sesuatu di sekeliling kelompok Hajime tengah
melayang di udara.
Tempat yang baru
saja dimasuki oleh kelompok Hajime ini adalah sebuah ruangan berbentuk bola
yang luar biasa raksasa. Diameternya diperkirakan mencapai lebih dari 2 kilometer.
Di dalam ruangan seluas itu, balok-balok mineral dari berbagai macam bentuk dan
ukuran tampak melayang-layang sembari bergerak secara acak dan perlahan. Sebuah
ruang yang sepenuhnya mengabaikan hukum gravitasi. Namun anehnya, kelompok
Hajime sendiri masih merasakan adanya tarikan gravitasi dengan jelas di tubuh
mereka. Kemungkinan besar, hanya materi-materi tertentu di ruangan ini saja
yang kebal dari kekangan gravitasi.
Di dalam ruangan
itulah para golem kesatria terbang melesat ke segala arah dengan leluasa.
Mengingat mereka mengatur arah jatuhnya, manuver perubahan arah yang dilakukan
pun berlangsung sangat mendadak dan ekstrem. Jika mereka adalah makhluk hidup
biasa, mereka pasti sudah tewas akibat tekanan gravitasi yang luar biasa
mengerikan. Menimbang pergerakan mereka yang semakin luwes dan presisi seiring
mendekati ruangan ini, kemungkinan besar...
“Artinya, sosok
yang mengendalikan para golem ini ada di tempat ini, ‘kan?”
Menyetujui
dugaan Hajime, ekspresi wajah Yue dan Shea ikut menegang. Anehnya, para golem
kesatria itu kini hanya berputar-putar melayang mengitari kelompok Hajime tanpa
melancarkan serangan. Untuk sementara, Hajime menyapu pandangan ke sekeliling
demi mencari tahu apakah ada jalan pintas lain. Dia tidak tahu apakah tempat
ini merupakan titik akhir atau masih ada kelanjutannya. Namun yang pasti,
tempat ini dipastikan sudah sangat dekat dengan bagian terdalam dungeon.
Peningkatan kemampuan para golem kesatria serta ruangan yang aneh ini
memberikan dasar yang kuat bagi dugaan tersebut.
Hajime
menyipitkan mata, bersiap meneliti ruangan berbentuk bola raksasa ini
menggunakan Penglihatan Jauh.
Tepat pada detik
berikutnya, teriakan Shea yang sarat akan kepanikan mendadak meledak.
“Cepat
kabuuur!!”
“!?”
“!?”
Tanpa sempat
bertanya ada apa, Hajime dan Yue bereaksi secara instan terhadap peringatan Shea,
lalu melompat menghindar laksana terpental. Beruntung, tepat beberapa meter di
depan ada balok lain yang kebetulan melintas, sehingga mereka melompat
meninggalkan balok yang tengah mereka pijak menuju ke arah balok baru tersebut.
Seketika
setelahnya, Krushhahaa!! Diiringi
suara gemuruh dahsyat yang memekakkan telinga, sebuah benturan dahsyat yang
memunculkan ilusi seakan ada meteor jatuh menghantam telak balok yang baru saja
dipijak kelompok Hajime hingga meledak hancur berkeping-keping. Ungkapan meteor
rasanya sama sekali tidak berlebihan. Sesuatu berukuran raksasa yang membara
merah berpijar jatuh menghunjam, lalu melesat melewatinya begitu saja bersamaan
dengan momentum yang menghancurkan balok tersebut.
Keringat dingin
mengalir di pipi Hajime. Andaikan Shea tidak memperingatkannya tadi, mereka
dipastikan sudah terkena serangan langsung. Dalam kondisi saat ini di mana Vajra
tidak dapat digunakan, ada kemungkinan mereka bisa langsung mati seketika.
Bukannya dia sama sekali tidak bisa mendeteksinya. Tepat setelah Shea berteriak
memperingatkan, Hajime memang merasakan adanya keberadaan musuh. Akan tetapi,
kecepatan jatuh benda itu luar biasa cepat, sehingga mustahil rasanya untuk
sempat menghindar jika baru bergerak setelah merasakannya sendiri.
“Shea, kamu
menyelamatkan kita. Terima kasih ya.”
“...Mm, kerja
bagus.”
“Ehehe, untung
saja Tilik Masa-ku aktif. Tapi bayarannya manaku terkuras habis banyak banget,
sih...”
Tampaknya alasan
mengapa Shea bisa menyadarinya lebih cepat daripada Hajime adalah berkat
aktifnya sihir bawaan Tilik Masa miliknya. Sihir Tilik Masa biasanya
memperlihatkan masa depan dari hasil pilihan yang diasumsikan oleh Shea ketika
diaktifkan secara sadar, namun ada kalanya sihir ini aktif secara otomatis.
Seperti kali ini, sihir tersebut sanggup memperlihatkan bahaya besar yang
mengancam nyawa, baik bahaya yang bersifat langsung maupun tidak langsung.
Artinya, andai
tadi terkena serangan langsung, setidaknya Shea pasti sudah tewas. Sembari
kembali merasakan sensasi bergidik ngeri, Hajime mengalihkan pandangannya ke
arah lintasan si meteor jadi-jadian tadi. Dia mengintip ke bawah dari tepian
balok. Tepat saat itu, sesuatu di bawah sana tampak bergerak, lalu melesat naik
ke atas dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam sekejap mata wujud tersebut telah
berada di atas kepala kelompok Hajime, berhenti melayang di sana, lalu menatap
tajam ke arah mereka lewat sorot mata yang berkilat terang.
“Hei, hei, yang
benar saja.”
“...Sangat...
besar.”
“R-Rasanya
seperti bos besarnya ya.”
Ketiganya
melontarkan kesan masing-masing. Sedikit terasa ada yang ambigu dari ucapan
Yue, namun semestinya masih berada di batas aman... seharusnya.
Sosok yang kini
muncul mengapung di hadapan kelompok Hajime adalah sesosok golem kesatria
berukuran super raksasa. Menampilkan wujud yang sama-sama berbalut zirah pelat
baja penuh di sekujur tubuh, tingginya mencapai sekitar 20 meter. Tangan
kanannya membara merah berpijar layaknya tinju api, dan kemungkinan inilah
penyebab hancurnya balok tadi. Sementara tangan kirinya terlilit rantai yang
gemerincing beradu, menggenggam Morningstar bertipe ayun.
Saat kelompok
Hajime memasang kuda-kuda menghadapi golem raksasa tersebut, para golem
kesatria di sekeliling terbang meluncur diiringi desingan angin, lalu berbaris
mengepung kelompok Hajime dari segala arah. Begitu membentuk barisan teratur,
para golem kesatria itu menegakkan pedang besar di depan dada. Gerakan mereka
persis seperti pasukan yang tengah memberi hormat di hadapan sang raja.
Terkepung rapat
secara total membuat ketegangan di antara kelompok Hajime kian memuncak.
Keheningan menyelimuti sekeliling, menciptakan suasana genting yang benar-benar
bisa meledak kapan saja. Detik saat ada yang bergerak, permainan saling bunuh
dengan taruhan nyawa akan segera dimulai.
Namun, sosok
yang memecahkan ketegangan udara yang begitu mencekam itu adalah...
“Yaho~ Salam
kenal yaa~ Ini Miledi Reisen-chan kesayangan kalian semuaaa~”
Sapaan konyol
yang terlontar begitu saja dari mulut golem raksasa tersebut.
“...”
“...”
“...”
Mendapat sapaan yang
luar biasa santai dari sesosok golem raksasa berzirah baja penuh,
berpersenjataan mematikan, dan bermata tajam bengis, kelompok Hajime melongo
dengan mulut ternganga sampai-sampai lupa bahwa mereka tengah berada dalam
kepungan.
Menghadapi
ketiga orang yang membeku kaku itu, si golem raksasa melontarkan suara bernada
jengkel. Suara itu jelas milik seorang perempuan.
“Dengar yaa~
kalau disapa itu harusnya dibalas dong. Itu etika paling mendasar tahu? Astaga,
makanya anak muda zaman sekarang ini... cobalah punya akal sehat sedikit.”
Gaya bicara yang
benar-benar memancing emosi. Terlebih lagi, golem raksasa itu mengangkat tangan
kanannya yang membara dan tangan kirinya yang membawa bola besi berduri hingga
setinggi pundak, lalu mengangkat bahunya dengan gestur yang kelewat mirip
manusia seolah hendak berkata “astaga naga deh”. Kelompok Hajime sontak merasa
jengkel setengah mati. Tingkah laku itu mengingatkan mereka pada deretan
kalimat menyebalkan yang sudah muak mereka lihat di sepanjang jalan. Menilik pengakuannya
sebagai Miledi Reisen, ada kemungkinan dia memang sosok aslinya, namun wanita
itu seharusnya sudah meninggal sejak lama, dan aslinya adalah seorang manusia.
Untuk sementara,
Hajime memutuskan untuk menggali informasi terkait hal tersebut.
“Soal itu aku
minta maaf deh. Tapi Miledi Reisen itu manusia dan harusnya sudah lama
meninggal, ‘kan? Ditambah lagi, aku belum pernah dengar ada golem yang punya
kesadaran sendiri... Aku sudah terkejut sesuai skenariomu jadi tolong maafkan.
Dan sekarang, jelaskan siapa dirimu sebenarnya. Singkat saja.”
“Lhooo~ padahal
situasinya lagi begini tapi orang ini kok bisa sombong banget sih yaa.”
Sama sekali
bukan basa-basi untuk menggali informasi. Malahan terlalu blak-blakan.
Menghadapi reaksi yang tampaknya benar-benar di luar dugaan ini, golem raksasa
yang mengaku sebagai Miledi sempat tampak sedikit kikuk. Namun dia lekas
menguasai diri, lalu kembali berbicara pada kelompok Hajime dengan nada suara
yang membuat siapa pun bisa membayangkan seringai puasnya andai dia berwujud
manusia.
“Ngh~?
Miledi-san ini dari awal memang golem lhoo~ Atas dasar apa coba kalian bilang
aku manusia...”
“Di buku harian
Oscar ada sedikit tulisan tentang dirimu. Kamu digambarkan dengan jelas sebagai
perempuan manusia, tahu? Lagipula aku tidak berminat meladeni tanya-jawab
konyol begini. Tadi kubilang singkat saja. Ujung-ujungnya kamu pasti berniat
menghadang kami, jadi tindakanku tidak akan berubah. Aku akan mengubahmu jadi
rongsokan lalu lanjut maju. Jadi sebelum itu, tidak usah banyak tingkah dan
cepat muntahkan semua informasi yang kamu tahu.”
“A-Aduhai. Tega
banget bicaranya begitu ke orang yang dalam hati lagi girang setengah mati bisa
ngobrol lagi setelah sekian lama. Ngomong-ngomong tadi kamu bilang Oscar?
Jangan-jangan, kalian penakluk dungeonnya O-chan?”
“Ya, dungeon Oscar
Orcus sudah kami taklukkan. Lagipula yang bertanya di sini itu kami. Kalau kamu
tidak berniat menjawab, kita langsung mulai bertarung saja nih? Lagian bukannya
aku ngebet banget ingin tahu juga. Tujuan kami ke sini hanya untuk mengincar Sihir
Zaman Dewa.”
Hajime
mengarahkan moncong Donner ke arah golem raksasa. Yue memasang wajah datar sok
tenang, sementara Shea memandang Hajime dengan rasa kagum bercampur jengah
sembari membatin, “Wah, prinsipnya benar-benar tidak goyah sedikit pun.”
“...Sihir Zaman Dewa,
ya? Itu artinya untuk membunuh para dewa ‘kan? Apa kalian berniat memusnahkan
gerombolan bajingan sialan itu? Sebagai penakluk dungeonnya O-chan, kalian
pasti sudah paham situasinya ‘kan?”
“Sudah kubilang,
yang bertanya di sini itu kami. Kalau mau dijawab, jawab dulu pertanyaanku.”
“Aduh, orang ini
beneran sombong banget sih yaa~ Tapi yah, tidak apa-apa~ Hmm, tadi apa ya...
ah, soal identitas asliku ya. Uuugh.”
“Singkat saja. Tidak
usah bertele-tele seperti Oscar.”
“Ahaha. Memang
sih, O-chan kalau bicara panjang lebar banget ya~ Orangnya suka berteori pula~”
Si golem raksasa
menengadah ke langit seolah tengah bernostalgia dengan tatapan menerawang.
Benar-benar golem yang gerak-geriknya kelewat mirip manusia. Yue seperti biasa
menatap si golem raksasa tanpa ekspresi, sementara Shea tampak gelisah tidak
tenang karena merasa waswas terhadap para golem kesatria di sekeliling.
“Ya sudah,
sesuai permintaanmu, secara singkatnya begini:
“Aku memang
benar-benar Miledi Reisen.
“Semua keanehan
golem ini beres berkat Sihir Zaman Dewa!
“Kalau mau tahu
lebih lengkapnya, kalahkan aku dulu dalam pertarungan! Kira-kira begitu deh.”
“Ujung-ujungnya
masih belum jelas...”
“Hahaha. Ya
iyalah, mana mungkin kamu dapat informasi sebelum berhasil menaklukkan dungeon?
Hilang dong esensi dungeonnya kalau begitu?”
Kali ini si
Golem Miledi membuat gestur memperingatkan dengan menggoyang-goyangkan jari
raksasanya. Fakta bahwa jiwa di dalamnya adalah Miledi Reisen memang
menyebalkan, namun di luar hal itu, tingkahnya lama-kelamaan terasa memiliki
pesona yang menggemaskan. Mendengar Yue yang bergumam pelan “...Masalahnya cuma
isi dalamnya saja” tampaknya dia pun memiliki pemikiran yang sama persis dengan
Hajime.
Mengenai sosok
di dalam golem tersebut, pada akhirnya memang hampir tidak ada hal baru yang
dipahami. Namun jika dia benar-benar Miledi yang asli, Hajime menduga bahwa ini
mungkin semacam pengikatan sisa-sisa kesadaran. Hajime mencoba menggali kembali
ingatan samar di kepalanya, teringat bahwa salah satu teman sekelasnya,
Nakamura Eri, memiliki pekerjaan Necromancer yang mampu memanipulasi sisa-sisa
kesadaran orang mati. Akan tetapi, ilmu pemanggil arwah miliknya semestinya
tidak sanggup menyisakan kesadaran yang begitu jelas dan memiliki kehendak
sekuat ini. Singkat kata, kemampuan yang melampaui batasan itu, serta cara
menanamkan kehendak mendiang ke dalam tubuh golem, pastilah merupakan karya
dari Sihir Zaman Dewa.
Bagaimanapun
juga, tampaknya ini bukan sihir penyeberang dunia yang tengah dicarinya. Dengan
nada sedikit kecewa, Hajime bertanya kepada si golem raksasa yang kini berganti
sebutan menjadi Golem Miledi.
“Apakah Sihir Zaman
Dewa milikmu berhubungan dengan sisa-sisa kesadaran?”
“Hmm~? Dari
reaksimu, sepertinya kamu memang sedang mengincar jenis Sihir Zaman Dewa
tertentu ya? Sebagai catatan, Sihir Zaman Dewa milikku itu hal yang berbeda
lhoo~ Kalau soal pengikatan jiwa, aku cuma dibantu sama Ra-kun kok~”
Tujuan utama
Hajime hanyalah melintasi dunia untuk pulang ke kampung halamannya. Entah itu
urusan jiwa atau kesadaran, mendapatkan Sihir Zaman Dewa yang sanggup
memanipulasi hal semacam itu sama sekali tidak berguna baginya. Namun jawaban
dari Miledi rupanya bertolak belakang dengan dugaan Hajime. Dia tidak tahu
siapa sosok bernama Ra-kun tersebut, namun kemungkinan besar orang itu adalah
salah satu dari Pembebas. Sosok itulah yang tampaknya menanamkan kehendak dari
Miledi yang semestinya telah mati, lalu mengikatnya ke dalam tubuh golem.
“Kalau begitu,
Sihir Zaman Dewa milikmu itu sebenarnya apa?”
“Hmm-hmm,
penasaran ya? Segitunya ingin tahu yaa?”
Kembali
mendengar nada bicara Miledi yang terdengar menyeringai usil, Hajime menahan
rasa jengkelnya sembari menunggu jawaban.
“Kalau memang
ingin tahu~ Sebelum itu, sekarang giliranmu yang menjawab pertanyaanku.”
Hanya pada
kalimat terakhir itu, nada suaranya mendadak berubah total. Suasana santai dan
cengengesan yang sedari tadi mendominasi seketika sirna, berganti dengan
keseriusan yang pekat. Perubahan atmosfer yang begitu drastis membuat kelompok
Hajime sedikit terkejut. Tanpa memperlihatkannya di wajah, Hajime balik
bertanya.
“Apa?”
“Apa tujuanmu?
Untuk apa kamu menginginkan Sihir Zaman Dewa?”
Penuh kehendak
yang menegaskan bahwa dusta tidak akan diampuni, Miledi bertanya tanpa
menyisakan sedikit pun nada main-main. Mungkinkah sosok aslinya yang sebenarnya
justru adalah yang sekarang ini? Jika dipikir-pikir, wanita ini adalah salah
satu sosok yang bertaruh nyawa menantang dewa demi umat manusia. Wajar saja
jika dia merasa wajib mengetahui apa yang akan diperbuat oleh orang yang hendak
dia titipkan sihir tersebut.
Berbeda dengan
Oscar yang hanya meninggalkan rekaman proyeksi sebagai surat wasiat, menunggu
para penantang di dasar dungeon yang sangat dalam selama ratusan tahun sembari
mempertahankan kesadaran diri seutuhnya adalah sebuah siksaan batin yang luar
biasa berat. Sikapnya yang santai dan menyebalkan itu mungkin hanyalah
gertakan, sementara sosok aslinya menyimpan ketabahan, tekad, serta rasa
tanggung jawab yang besar.
Tampaknya
memikirkan hal yang sama, Yue menatap Golem Miledi dengan sorot mata yang
berbeda dari sebelumnya. Penderitaan berada sendirian di dasar kegelapan yang
pekat adalah hal yang sangat dipahami oleh Yue. Justru karena itulah, dia
merasakan sesuatu yang jauh melampaui rasa simpati terhadap keputusan Miledi
yang memilih tetap bertahan di dasar kegelapan sembari mempertahankan
kesadarannya.
Menatap lurus ke
arah kilatan mata Golem Miledi tanpa gentar, Hajime membalas lewat kata-kata
yang jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun.
“Tujuanku cuma
ingin pulang ke kampung halaman. Aku dipaksa datang ke dunia ini oleh dewa gila
yang kalian maksud itu. Jadi aku sedang mencari Sihir Zaman Dewa yang bisa
melakukan teleportasi melintasi dunia... Aku sama sekali tidak berniat mengalahkan
dewa menggantikan posisi kalian. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk mempertaruhkan
nyawaku demi dunia ini.”
“...”
Golem Miledi
menatap Hajime lekat-lekat selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya
bergantian ke arah Yue dan Shea, sebelum kemudian mengangguk pelan seakan telah
memahami sesuatu. Lalu, satu kata meluncur lirih dari mulutnya, “Begitu ya?”
Namun pada detik
berikutnya, atmosfer serius itu menguap lenyap layaknya fatamorgana, dan gaya
bicaranya yang santai kembali seperti semula.
“Hmm, begitu ya,
begitu ya. Paham deh~ dari dunia lain ya~ Iya, iya. Pasti berat banget yaa~
Baiklah, kalau begitu mari kita berperang! Kalahkan aku dalam pertarungan ini,
dan rebutlah Sihir Zaman Dewa itu sesukamu!”
“Sama sekali tidak
nyambung dan tidak masuk akal... Jadi pada akhirnya Sihir Zaman Dewa milikmu itu
apa? Tipe teleportasi bukan?”
Miledi
melontarkan tawa menyebalkan “Nuhuhu~” lalu dengan gaya yang luar biasa sengaja
dibuat menggantung dia menunda jawabannya, “Sihir itu adalah...” Sikapnya itu
mengingatkan pada pembawa acara kuis televisi legendaris saat hendak
mengumumkan jawaban final dari sang peserta.
Sudah mencapai
batas kesabarannya dan berniat memulai perang dari pihaknya sendiri, Hajime
mengeluarkan Orkan. Namun, seolah mendahului niatnya, Miledi meneriakkan
jawabannya.
“Cari tahu
sendiri~!”
“Mati sana.”
Tanpa banyak
bicara, Hajime langsung meluncurkan roket dari Orkan. Badai kehancuran yang
menarik jejak lidah api melesat lurus menerjang Golem Miledi dan menghantamnya
telak.
Suara ledakan
dahsyat mengguncang seisi ruangan. Asap pekat mengepul membubung tinggi.
“Apa berhasil!?”
“...Shea, itu death flag namanya.”
Melihat Shea
yang bersorak gembira, “Hebat sekali, Hajime-san! Menang di serangan pertama
nih!” Yue langsung melayangkan teguran. Dan ternyata, tebakan Yue-lah yang
terbukti benar. Dari balik kepulan asap, sebuah tangan kanan yang berpijar
merah membara muncul dengan suara berderu keras, lalu diayunkan menyapu untuk
mengempaskan kabut asap di sekelilingnya.
Begitu asapnya
sirna, dari baliknya tampak Golem Miledi yang meski bagian kedua lengan
depannya hancur, dia sama sekali tidak terlihat goyah. Golem Miledi menarik
sebongkah balok yang kebetulan melintas di dekatnya, meremukkannya, lalu menjadikannya
bahan material untuk merekonstruksi kedua lengannya yang rusak dalam sekejap.
“Ehehe, serangan
pembuka yang lumayan juga yaa~ Ayo, ayo, siapa tahu Sihir Zaman Dewa milikku
ini memang yang kamu cari lhoo~ Aku ini sangat kuat, jadi berjuanglah biar
tidak mati yaa~”
Sembari tertawa
riang, Golem Miledi melontarkan Morningstar bertipe ayun di tangan kirinya
lurus ke arah kelompok Hajime. Bukan dilempar. Tanpa ada gerakan ancang-ancang
sedikit pun, Morningstar itu mendadak melesat keluar dalam kecepatan luar biasa
dahsyat. Kemungkinan besar dia memanipulasi arah gravitasi untuk menjatuhkannya
ke arah sasaran, sama persis seperti para golem lainnya.
Kelompok Hajime
melompat ke balok apung terdekat demi berkelit dari Morningstar tersebut.
Morningstar itu menghancurkan balok tempat kelompok Hajime berpijak tadi hingga
berkeping-keping, lalu berputar melayang di udara sebelum ditarik kembali ke
tangan Golem Miledi.
“Kita mulai.
Yue, Shea. Hancurkan Miledi!”
“Mm!”
“Dimengerti!”
Bersamaan dengan
seruan aba-aba dari Hajime, pertarungan terakhir di salah satu dari Tujuh Dungeon
Besar, Dungeon Besar Reisen, resmi dimulai.
Para golem
kesatria yang sedari tadi bersiaga sembari menegakkan pedang besar seketika
bergerak serempak seolah menjadikan seruan Hajime sebagai tanda dimulainya
pertempuran. Persis seperti yang mereka lakukan di lorong tadi, mereka
mengarahkan kepala lurus ke arah kelompok Hajime lalu melesat menerjang secara
bersamaan.
Yue memutar
tubuhnya dengan luwes, lalu menyodorkan salah satu botol air yang tergantung di
tubuhnya ke depan dan mengayunkannya menyapu. Air yang terkompresi hingga batas
maksimal berubah menjadi semburan pemotong air yang melesat bagai tembakan
laser, menebas putus barisan para golem kesatria di depannya.
“Ahaha, hebat juga
yaa~ Tapi bisakah kalian meladeni 50 kesatria yang beregenerasi tanpa henti ini
secara bersamaan denganku yaa~”
Lewat nada
bicara yang terdengar begitu menyebalkan, Golem Miledi kembali menembakkan
Morningstar miliknya. Shea melompat tinggi ke udara, mendarat di atas balok
berbentuk limas segitiga yang tengah melintas di atas mereka. Sementara Hajime
tetap bertahan di tempatnya tanpa bergeming, lalu melepaskan tembakan beruntun
dari Donner ke arah Morningstar yang tengah melesat.
Hanya terdengar
satu kali suara letusan senjata. Namun peluru yang terlontar berjumlah enam
butir. Kilatan cahaya yang dilepaskan lewat teknik tembakan kilat itu
menghantam Morningstar yang meluncur dalam kecepatan tinggi tanpa meleset
sedikit pun. Walaupun Morningstar itu berupa bola logam bermassa luar biasa
besar, menerima benturan dari tembakan elektromagnetik sebanyak enam kali
secara bersamaan tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Jalur lintasannya
seketika terbelok melenceng jauh dari arah Hajime.
Pada saat yang
sama, Shea yang telah melompat ke balok di atas mengambil posisi tepat di atas
kepala Miledi, lalu terjun ke bawah sembari mengayunkan Drucken sekuat tenaga.
“Kelihatan
banget lhoo~”
Bersamaan dengan
kalimat itu, Golem Miledi melesat menyamping dalam gerakan yang mendadak.
Tampaknya dia menjatuhkan dirinya ke arah samping.
“Kuh, sialan!”
Perhitungan
jaraknya yang meleset membuat Shea menggertakkan gigi, lalu dia menarik pelatuk
di tangannya untuk memicu ledakan pada permukaan hantam Drucken. Mengabaikan selongsong
peluru yang terlempar keluar dari senjatanya, dia memanfaatkan gaya tolak balik
ledakan itu untuk membetulkan arah serangannya. Berputar sebanyak tiga kali di
udara demi memusatkan gaya sentrifugal penuh, dia menghantamkan pukulan telak
ke arah Golem Miledi.
Secara refleks
Golem Miledi menangkis serangan tersebut menggunakan lengan kirinya. Diiringi
suara benturan yang memekakkan telinga, lengan kirinya remuk berantakan. Akan
tetapi, seolah menganggap enteng kerusakan tersebut, Golem Miledi langsung mengayunkan
lengan kirinya yang remuk itu dalam satu tebasan menyapu.
“Kyaaa!!”
“Shea!”
Shea terpental
melayang sembari memekikkan jeritan panik. Namun di udara dia berhasil menarik
pelatuk Drucken dan memanfaatkan daya ledaknya untuk menstabilkan posisi tubuh,
lalu menggunakan sisa gaya tolaknya untuk mendarat darurat di atas balok
terdekat.
“Heh, boleh
juga. Hei, Yue. Sebenarnya kamu melatih anak itu dengan cara apa, sih?”
“...Cuma terus
memojokkannya saja.”
“...Begitu
rupanya. Pantas saja kemampuan bertahan hidupnya yang ulet itu jadi paling
terasah.”
Melihat Shea
yang melompat lincah dari satu balok ke balok lain untuk kembali ke posisinya
dari kejauhan, Hajime mengangguk kagum. Di balok tempat Hajime dan Yue
berpijak, kawanan golem kesatria akhirnya maju dalam jumlah yang sudah tidak sanggup
lagi dibendung oleh Yue seorang diri.
Hajime menarik
keluar senapan mesin Gatling Metzelei dari dalam Ruang Harta. Kemudian, sembari
saling menempelkan punggung bersama Yue, dia melepaskan monster pemuntah kematian
berkecepatan 12.000 peluru per menit tersebut ke medan tempur.
Enam laras
senapang itu berputar kencang sembari memulai tembakan sapuan. Menggaungkan
suara tembakan yang khas, untaian kilatan cahaya merah yang melesat lurus
menyapu seisi ruangan tanpa celah, mengubah setiap musuh yang melayang di udara
menjadi tumpukan rongsokan dan mengempaskan mereka jatuh ke dasar ruangan.
Musuh yang mencoba berkelit atau memutar ke arah belakang demi mengincar titik
buta, seluruhnya ditebas putus secara horizontal oleh tembakan laser air.
Dalam sekejap
mata, lebih dari 40 golem kesatria berjatuhan ke dasar ruangan dalam kondisi
yang mengenaskan. Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan menyelesaikan
rekonstruksi tubuh dan kembali ke medan tempur, namun asalkan untuk sementara
tidak ada gangguan, hal itu sudah lebih dari cukup. Benar, sampai mereka
berhasil menghancurkan sang bos utama, Golem Miledi.
“Tunggu, apaan
itu barusan! Benda kayak begitu belum pernah kulihat atau kudengar sama
sekali!”
Mengabaikan
teriakan syok Golem Miledi, Hajime menyimpan Metzelei kembali ke dalam Ruang
Harta, lalu sembari menarik Donner dia berteriak lantang agar bisa didengar
oleh Shea yang berada agak jauh.
“Inti Miledi ada
di posisi yang sama dengan jantung! Kita hancurkan bagian itu!”
“Hah! Kenapa
kamu bisa tahu!?”
Miledi kembali
memekikkan suara terkejut. Dia pasti sama sekali tidak menyangka bahwa Hajime
memiliki Mata Sihir yang sanggup melihat aliran mana secara langsung.
Mengetahui posisi inti yang menjadi kunci utama untuk merobohkan golem, sorot
mata Yue dan Shea seketika menajam.
Golem kesatria
yang melayang di sekeliling kini hanya tersisa sekitar 10 monster. Mereka
bertiga akan melancarkan serangan bergelombang secara beruntun demi mendaratkan
satu hantaman telak ke jantung Miledi.
Hajime melompat
kuat, memanfaatkan balok-balok apung di sekitarnya sebagai pijakan demi
merapatkan jarak ke arah Golem Miledi. Dengan daya dorong railgun saat ini,
akan sulit untuk menghancurkan tubuh raksasa Golem Miledi hingga serangannya menembus
ke inti. Oleh karena itu, dia berencana menghancurkan lapisan zirah luarnya
lewat tembakan jarak nol, lalu menjejalkan granat tangan ke dalamnya.
Namun walaupun memiliki
kepribadian yang konyol, Miledi adalah salah satu kaum Pembebas yang menguasai
Sihir Zaman Dewa. Dia bukan lawan yang bisa diremehkan. Tepat saat matanya
berkilat sesaat, balok apung yang berada di atas kepalanya meluncur deras
menghunjam ke arah Hajime dalam kecepatan mengerikan.
“!?”
“Dari awal aku tidak
pernah bilang cuma bisa mengendalikan para kesatria lhoo~”
Mengabaikan nada
bicara Miledi yang terdengar menyeringai usil, Hajime mengaktifkan mekanisme
pada lengan prostetiknya yang berdentang.
Bum!! Diiringi suara ledakan berat yang mengguncang rongga
dada, sebuah daya kejut dahsyat meletus dari siku lengan prostetiknya. Lebih
tepatnya, peluru sebar berkekuatan tinggi baru saja ditembakkan. Mekanisme ini
memang tidak bisa menggunakan akselerasi elektromagnetik, namun rasio kompresi
bubuk peledaknya jauh lebih padat dibanding peluru Donner. Seiring dengan hal
itu, gaya tolak baliknya pun sangat dahsyat. Tubuh Hajime yang melayang di
udara seketika terpental mengubah arah lintasannya, nyaris saja tertabrak
sebelum berhasil berkelit dari balok apung yang melesat. Dan pada akhirnya, dia
berhasil menjejakkan kakinya di balok apung sasaran.
Tentu saja,
Golem Miledi berniat menjatuhkan balok pijakan Hajime, namun Shea yang entah
sejak kapan telah menyusup dari belakang melompat tinggi demi menghantamkan
serangan dahsyat ke kepala Golem Miledi. Rencananya adalah menghancurkan
kepalanya beserta matanya yang selalu memancarkan kilatan cahaya mencurigakan
setiap kali beraksi.
Tampaknya telah
menyadari pergerakan Shea, Golem Miledi memerintahkan para golem kesatria untuk
meluncur menerjang ke arah Shea yang tengah melayang di udara. Berada di udara
terbuka membuat Shea berada dalam posisi tanpa pertahanan. Tepat di saat
tubuhnya nyaris terbelah oleh pedang besar...
“...Tidak akan
kubiarkan.”
Yue yang rupanya
telah berpindah posisi sejak tadi melancarkan sihir Pembelahan, mencabik-cabik
para golem kesatria yang hendak menyerang Shea hingga terpotong menjadi
serpihan kecil.
“Hebat sekali,
Yue-san!”
Sembari
meneriakkan pujian itu melewati ruang hampa yang kini bersih dari rintangan,
Shea melepaskan ayunan palu dari posisi atas berbekal kemampuan fisik yang
telah ditingkatkan hingga batas maksimal.
“Mana mungkin
golem bisa kalah dalam urusan adu kekuatan lhoo~”
Seolah hendak
membuktikan perkataannya sendiri, Golem Miledi berputar sembari mengayunkan
tangan kanannya yang membara lurus ke arah Shea.
Palu perang
Drucken milik Shea dan tinju api milik Golem Miledi bertubrukan telak diiringi
suara gemuruh yang memekakkan telinga. Gelombang kejut yang tercipta seketika
mengempaskan beberapa balok apung di sekitarnya terpental ke segala arah.
“Sialaaan!”
Menghadapi tinju
Golem Miledi yang tidak sanggup ditembus, Shea melolongkan jerit perang sembari
memompa seluruh kekuatannya. Akan tetapi, kekuatannya tetap tidak sanggup
mengimbangi tenaga fisik murni sang golem, dan dia malah terlempar jauh akibat
hantaman tinju yang mendadak meledakkan gelombang kejut saat diayunkan tuntas.
“Kyaaa!!”
Shea menjerit
panik. Tubuhnya yang mati rasa akibat benturan dahsyat tidak bisa langsung
digerakkan sesuai kehendak, sementara di arah dia terlempar sama sekali tidak
ada balok apung yang melintas. Tepat di saat dia nyaris jatuh bebas ke dasar
jurang, seolah telah memperkirakan situasi tersebut, Yue melesat dari arah
samping dan menyambar tubuh Shea, mengoreksi arah jatuhnya dengan sihir
Melayang selama sesaat, lalu mendarat dengan mulus di atas balok apung di bawah
mereka.
“Kerja sama yang
lumayan juga yaa~”
Melalui nada
bicara yang terdengar santai, Golem Miledi memandang rendah ke arah Yue dan Shea
yang tengah mendongak menatapnya. Tepat pada saat itulah, sebuah suara menyahut
dari jarak yang tidak disangka-sangka begitu dekat.
“Keren, ‘kan?”
“!?”
Terperanjat,
Golem Miledi buru-buru memutar pandangannya ke arah datangnya suara. Di sana,
entah sejak kapan telah menyusup masuk ke dalam jangkauan tubuhnya, Hajime
berdiri mengunci posisinya dengan menancapkan jangkar serta menyelipkan kakinya
di celah zirah pelat, sembari menodongkan senjata raksasa—senapan antimaterial
bertenaga akselerasi elektromagnetik Schlagen—tepat ke bagian jantung Golem
Miledi. Percikan petir merah tampak berderak membara menyelimuti Schlagen.
“S-Sejak kapan...”
Kata-kata syok
Miledi seketika tertelan oleh suara gemuruh dahsyat yang diledakkan oleh
Schlagen.
Gumpalan niat
membunuh yang dilepaskan dalam jarak nol itu mengempaskan Golem Miledi
sekaligus menghancurkan lapisan zirah dadanya hingga berkeping-keping. Karena Lapisan
Petir tidak bisa digunakan secara maksimal, daya hancur Schlagen saat ini hanya
setara dengan kekuatan penuh Donner di ruangan biasa. Kendati demikian, daya
hancur sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan baju zirah logam.
Menimbang lapisan zirah para golem kesatria bisa ditembus dengan mudah bahkan
oleh Donner yang kekuatannya sedang merosot, Hajime memperkirakan bahwa zirah
Golem Miledi yang tampak bermaterial serupa semestinya bisa dihancurkan dengan
Schlagen jika perbedaannya hanya sedikit lebih tebal.
Mengepulkan asap
tebal dari bagian dadanya, Golem Miledi terpental ke belakang. Hajime pun ikut
terlempar ke arah berlawanan akibat gaya tolak balik tembakan. Menembakkan
jangkar lalu menancapkannya ke balok apung terdekat, dia memanfaatkan momentum
tarikan kawat untuk berputar di udara dan mendarat di atasnya. Kemudian, dia
mengamati kondisi Golem Miledi secara saksama.
Yue dan Shea
ikut melompat mendarat di balok apung yang berada di dekat Hajime.
“...Berhasil?”
“Rasanya ada
benturan telak, tapi...”
“Kuharap ini
sudah selesai yaa.”
Yue menanyakan
kepastian serangannya, sementara Shea menyuarakan harapan yang penuh optimisme.
Wajah Hajime tampak begitu masam. Persis seperti dugaannya, Golem Miledi yang
bagian zirah dadanya masih dalam kondisi hancur menarik balok apung terdekat ke
tangannya tanpa merasa terganggu sedikit pun, lalu berbicara kepada kelompok
Hajime lewat nada suara yang memancarkan kekaguman.
“Wah, wah, luar
biasa juga yaa. Tadi sempat bikin merinding sedikit lhoo. Kalau tidak ada efek
dekomposisi dan Artefak itu bisa mengeluarkan kekuatan aslinya, mungkin tadi
bakal bahaya banget ya~ Iya, Miledi-chan yang sudah bersusah payah bikin dungeon
di tempat ini memang jenius!!”
Golem Miledi
memuji dirinya sendiri. Akan tetapi, kata-katanya sama sekali tidak masuk ke
telinga Hajime. Ekspresi wajah Hajime tampak begitu kelam. Pasalnya, jauh di
balik zirah dada yang telah hancur itu, tampak lapisan zirah hitam pekat yang
sama sekali tidak tergores barang sedikit pun. Hajime sangat mengenali jenis
mineral yang menjadi material zirah tersebut.
“Hmm~ Kamu
penasaran sama yang ini yaa~”
Menyadari arah
pandangan Hajime, Golem Miledi menunjuk ke arah zirah hitam pekat tersebut
lewat nada bicara yang terdengar menyeringai usil. Tepat saat dia hendak
membeberkan identitasnya sembari berlagak sok misterius dengan berkata “Ini itu
sebenarnya...” Hajime lebih dulu menggumamkan kelanjutannya bersamaan dengan
umpatan kasar.
“...Azanthium.
Sialan.”
Bijih Azanthium
adalah mineral dengan tingkat kekerasan dan keuletan tertinggi di dunia yang
turut digunakan pada beberapa perlengkapan milik Hajime. Sekadar menjadikannya
lapisan tipis saja sudah cukup untuk menahan tembakan berkekuatan penuh dari
Donner. Pantas saja satu hantaman Schlagen tadi sama sekali tidak meninggalkan
bekas luka. Menyadari bahwa menembus zirah Azanthium tersebut adalah perkara
yang luar biasa mustahil, Hajime mengerutkan dahinya dalam-dalam.
“Oho? Ternyata
kamu tahu yaa~ tapi ya wajar saja sih. Soalnya kamu ‘kan penakluk dungeon O-kun,
tidak mungkin pengguna Sihir Penciptaan tidak tahu ini~ Ayo, mumpung rasa putus
asanya sudah pas begini, mari kita lanjut ke ronde keduaa!”
Miledi menyerap
material dari balok apung yang diremukkannya untuk merekonstruksi zirah
permukaan luar, lalu sembari mengayunkan morningstar dia sendiri ikut melesat
menerjang maju dengan buas.
“B-Bagaimana
ini!? Hajime-san!”
“Masih ada cara.
Pokoknya kita harus menyegel pergerakannya dulu!”
“...Mm,
dimengerti.”
Menghadapi
masalah pelik akibat kekurangan daya serang yang tidak bisa dihindari ini, Shea
melontarkan pertanyaan kepada Hajime dengan panik. Hajime tampaknya masih menyimpan
kartu as lain, dan demi menggunakannya dia memberikan instruksi untuk
melumpuhkan pergerakan Golem Miledi terlebih dahulu. Mengetahui masih ada jalan
keluar, sedikit rasa lega tampak di wajah Yue dan Shea selagi keduanya bersiap
melompat ke balok apung terdekat demi berkelit dari Morningstar yang mendekat.
Akan tetapi...
“Tidak akan
kubiarkan lhoo~”
Bersamaan dengan
suara tanpa beban dari Golem Miledi, balok apung yang mereka jadikan pijakan
mendadak berputar dalam kecepatan tinggi.
Pijakan yang
mendadak berputar seketika membuat keseimbangan kelompok Hajime goyah. Tepat
pada saat itulah Morningstar menghantam tempat tersebut dengan daya hancur yang
luar biasa dahsyat. Kelompok Hajime terlempar bebas dari pijakan yang hancur
berkeping-keping. Hajime melompat menyambar rantai Morningstar yang melesat
melewatinya diiringi gemerincing berisik. Yue menginjak serpihan pecahan balok
apung sembari mengaktifkan Melayang, sementara Shea memanfaatkan gaya tolak
balik dari letupan Drucken demi mendarat darurat di balok apung di bawah
mereka.
Tepat ke titik
pendaratan itu, seolah telah memperhitungkannya dengan matang, Golem Miledi
meluncur menghunjam deras sembari menyodorkan tinju apinya ke depan.
“Khh!!”
“Ngh!!”
Walaupun berhasil
menghindari hantaman langsung, ledakan dahsyat dan gelombang kejut yang meletus
tepat pada saat benturan membuat erangan tertahan meluncur dari bibir Yue dan
Shea. Kendati demikian, saat berpapasan di udara, Yue melepaskan Pembelahan
mengincar lengan Golem Miledi, sementara Shea memicu pasak baja yang terpasang
pada permukaan hantam Drucken untuk mencengkeram zirah lawan dan menempelkan
tubuhnya di sana.
Sihir Pembelahan
berhasil mencabik sebagian lengan kanan Golem Miledi meski tidak sampai
memotongnya putus, membuat Yue mendarat di balok apung lain dengan wajah kesal.
Di sisi lain,
Shea yang melompat ke area pundak Golem Miledi menjadikan pundak kiri lawan
sebagai pijakan lalu mengayunkan Drucken sekuat tenaga mengincar bagian kepala.
Namun Golem Miledi mendadak menjatuhkan tubuhnya ke arah lain secara ekstrem,
membuat keseimbangan Shea buyar hingga tubuhnya terlempar melayang ke udara
kosong.
“Kyaaa!”
Shea menjerit
panik. Tepat pada saat itu, Hajime yang sedari tadi bergelantungan di rantai Morningstar
memanfaatkan gaya sentrifugal dari ayunan rantai untuk melesat menyambar Shea
dan menangkap tubuh gadis itu di udara.
“Hajime-san!”
Lewat suara yang
dipenuhi luapan kebahagiaan, Shea memanggil nama Hajime. Diselamatkan sembari
digendong dalam dekapan yang selama ini diidam-idamkannya, walaupun sadar
situasi saat ini sama sekali tidak tepat, perasaannya tidak kuasa melambung.
Akan tetapi, di situlah letak standar khas seorang Hajime. Persis seperti saat dia
melemparkan Shea ke tengah kerumunan monster tempo hari, dia menarik tubuh sang
gadis ke belakang bersiap melemparnya sekuat tenaga.
“H-Hajime-san!?”
“Sana pergi mati
sekali lagi!”
Peluru sebar
yang terpasang di lengan prostetiknya terisi kembali bersamaan dengan bunyi
klik mekanis, lalu langsung diledakkan. Hajime, yang tubuhnya berputar akibat
gaya tolak balik ledakan dahsyat tersebut, memanfaatkan gaya sentrifugalnya
untuk melempar Shea lurus ke arah Golem Miledi.
“Sialaaan
bangeeet!”
Mendapati impian
indahnya yang baru saja terkabul sedetik kemudian langsung berubah menjadi aksi
serbuan bunuh diri ke arah musuh, Shea melolongkan teriakan putus asa sembari
mengangkat palu perangnya, Drucken.
Melihat tindakan
gila Hajime, Miledi sendiri tampaknya sempat sedikit bergidik ngeri. Kendati
demikian, dia tetap bersiap menghadang serangan tersebut dengan menarik tangan
kanannya jauh ke belakang demi meluncurkan tinju apinya. Namun tepat pada detik
itu, rantai yang terhubung pada Morningstar yang baru saja dia tarik kembali
mendadak meledak dahsyat.
“Wawawa,
apa-apaan ini!?”
Miledi menjerit
kaget. Penyebab ledakan tersebut adalah sejumlah besar granat tangan yang
sempat dipasang oleh Hajime saat dirinya bergelantungan di rantai tadi. Daya
ledak yang luar biasa dahsyat membuat rantai tersebut putus meledak dari
tengah, yang secara berantai memicu kerusakan masif pada lengan kiri tempat
rantai itu terlilit. Benturan tersebut seketika merusak keseimbangan tubuh
Golem Miledi.
Tepat pada saat
itulah, Shea yang telah mengangkat Drucken tiba di hadapannya.
“Ryaaahhh!!”
Bersamaan dengan
pekikan penuh tekad membara, pelatuk di tangannya ditarik dan peluru sebar di
dalamnya meledak seketika. Terakselerasi kilat oleh gaya tolak ledakan, Drucken
meluncur menerjang Golem Miledi dengan daya hancur yang seolah sanggup
meremukkan udara sekalipun.
Secara refleks
Golem Miledi mengangkat lengan kirinya yang telah rusak parah. Detik
berikutnya, hantaman Drucken mendarat telak di lengan kiri tersebut. Drucken
meremukkan lengan kiri yang rapuh itu tanpa ampun, menghancurkan bagian pundak
hingga ke bawah menjadi serpihan debu.
Usai mengayunkan
Drucken hingga tuntas, tubuh Shea melayang bebas di udara akibat momentum
serangannya. Berniat membalas hancurnya lengan kiri dengan mendaratkan satu
serangan telak pada Shea yang tengah berada dalam posisi terbuka, Golem Miledi
bersiap melepaskan tinju apinya.
Namun tepat
ketika fokus Miledi tertuju penuh pada Shea, sebuah tembakan laser air melesat
dari arah bawah, menembus tepat pada bekas sayatan yang telah dibuat sebelumnya
tanpa meleset sedikit pun. Air bertekanan tinggi itu kembali mencabik dan
memperlebar lukanya, hingga akhirnya berhasil memotong putus lengan kanan Golem
Miledi secara mutlak.
“...Huhuhu,
lengah itu musuh utama.”
Sosok yang
menyunggingkan seringai puas sambil mengucapkannya tentu saja adalah Yue.
“Kh, dasar kalian
ini! Jangan sombong dulu yaa!”
Miledi berteriak
kesal dengan nada gusar. Di saat bersamaan, Hajime yang telah menancapkan
jangkar pada balok apung di atas meluncur melintasi udara menggunakan ayunan bandul,
lalu menyambar tubuh Shea yang tengah jatuh bebas. Bedanya, kali ini bukan
dengan dekapan menggendong, melainkan dengan menjepitnya di bawah ketiak.
“Hajime-sa~n, di
saat seperti ini harusnya kamu menggendongku manis sebagai hadiah, tahu? Tolong
baca situasi, dong~”
“Jangan bicara
seolah-olah aku orang yang gak peka situasi. Justru kamu yang harusnya lebih
sadar situasi karena masih sempat-sempatnya menyelipkan keinginan pribadi di
kondisi begini.”
Tepat saat
mereka mendarat di balok apung terdekat, Hajime membalas keluhan manja Shea
lewat teguran bernada jengah. Namun saat itu juga, Miledi yang telah kehilangan
kedua lengannya anehnya tidak menarik balok apung di sekitarnya untuk
merekonstruksi lengannya, melainkan terus menatap ke arah langit-langit sembari
memancarkan kilatan cahaya yang terang dari matanya.
Merasakan
firasat buruk yang luar biasa pekat, ekspresi wajah Hajime seketika menegang
kaku. Memperkuat dugaan tersebut, wajah Shea berubah pucat pasi.
“Hajime-san,
Yue-san! Cepat menghindar! Ada yang mau jatuh!”
Hajime menduga
sihir bawaan milik Shea pasti baru saja aktif. Dan itu menandakan bahwa sebuah
ancaman yang cukup mematikan untuk merenggut nyawa Shea akan segera terjadi. Setelah
melirik sekilas ke arah Yue yang berada agak jauh, Hajime memasang kuda-kuda
agar siap merespons bahaya apa pun yang akan datang.
Detik
berikutnya, bencana itu benar-benar terjadi.
Seisi ruangan
bergemuruh hebat. Suara gempa berfrekuensi rendah bergema memekakkan telinga,
dan puing-puing batu mulai berjatuhan dari langit-langit. Tidak, bukan sekadar
puing-puing kecil. Melainkan seluruh langit-langit itu sendiri yang bersiap
runtuh menjatuhi mereka.
“!? Bajingan
ini!”
“Huhuhu, ini
hadiah balasan dariku lhoo. Selain para kesatria, aku memang tidak bisa
mengendalikan banyak objek secara mendetail secara bersamaan, tapi kalau cuma
menjatuhkannya serentak, ratusan batu sekaligus pun bisa kulakukan lhoo~ Silakan
coba bertahan kalau bisa yaa~”
Walaupun merasa
sangat muak dengan nada bicara Miledi yang santai, tidak ada waktu lagi untuk
memusingkan hal tersebut. Dinding di sekeliling ruangan ini dipenuhi oleh
susunan balok-balok batu, dan kini bongkahan balok yang tidak terhitung
jumlahnya yang melapisi langit-langit tengah bersiap jatuh secara serempak.
Masing-masing balok merupakan batu raksasa yang bobotnya dengan mudah melampaui
10 ton. Dan benda-benda sebesar itu akan segera menghujani mereka layaknya
badai lebat. Keringat dingin mengucur deras di kening Hajime.
“H-Hajime-san!”
“Kita bergabung
dengan Yue!”
Mendekap Shea
yang suaranya bergetar panik, Hajime memanfaatkan ayunan kawat jangkar untuk
melompat turun menuju ke arah posisi Yue. Yue pun melompat melintasi
balok-balok apung demi mendekat dan bergabung bersama mereka.
Sepanjang jeda
tersebut, Golem Miledi terus menatap lurus ke arah langit-langit tanpa
bergerak. Kemungkinan besar, seperti perkataannya tadi, sistem kendali untuk
batu-batu ini berbeda dengan para golem kesatria. Mengingat para golem kesatria
sanggup mengambil tindakan yang cukup fleksibel, mereka dipastikan memiliki
tingkat otonomi tertentu. Dengan instruksi dan komando dari Miledi di atasnya,
pertempuran kelompok yang terkoordinasi rapi pun bisa tercipta.
Akan tetapi,
untuk memanipulasi objek mati lainnya yang sama sekali tidak memiliki
kesadaran, mengendalikannya secara mendetail paling banyak hanya terbatas pada
satu atau dua objek saja. Meski hanya sekadar menjatuhkannya, melepaskan
ratusan bongkahan batu raksasa dari langit-langit rupanya membutuhkan
konsentrasi penuh dari dirinya.
Waktu
konsentrasi itulah yang memberi kesempatan bagi rombongan Hajime untuk
berkumpul kembali. Detik saat ketiganya saling merapatkan tubuh terjadi tepat
bersamaan dengan saat gugusan batu raksasa itu turun dari langit.
Guguguguuguuugur!!! Graaak!!
Bongkahan-bongkahan
batu terlepas dari langit-langit, dan begitu getaran tanah terhenti, gugusan
batu raksasa mulai terjun bebas sembari menggemuruhkan suara ledakan. Terlebih
lagi dengan begitu niatnya, lintasan jatuhnya tampak masih bisa diarahkan
sampai batas tertentu, sehingga batu-batu itu terkonsentrasi rapat tepat ke
titik keberadaan kelompok Hajime. Menimbang Golem Miledi sendiri tentu tidak berniat
mati bersama, Hajime segera mengedarkan pandangan mencari posisinya dengan
asumsi tempat di dekatnya akan aman, namun sang golem rupanya tengah melesat
mundur mengamankan diri ke tepi dinding dalam kecepatan penuh. Sudah terlambat
jika harus mengejarnya sekarang.
“Yue! Shea!
Pegangan! Jangan sampai lepas!”
“Mm.”
“Siap!”
Tepat setelah
berseru kepada Yue dan Shea, Hajime kembali menarik keluar Orkan dari dalam
Ruang Harta. Lantas, dia menembakkan seluruh 12 butir roketnya sekaligus ke
arah batu-batu raksasa yang tengah turun. Melesat sembari menarik ekor lidah
api demi memporak-porandakan di atas kepala, roket-roket itu meledak hebat
secara beruntun dan meremukkan bebatuan raksasa tersebut.
Gugusan batu
raksasa yang semula menutupi seluruh jarak pandang hingga menyembunyikan
langit-langit kini memperlihatkan sedikit celah berkat gempuran Orkan. Dari
celah sempit itu, bagian langit-langit mulai terlihat. Hajime menyimpan Orkan,
lalu menarik Donner dan Schlag untuk diacungkan ke langit dan ditembakkan
bertubi-tubi. Seolah memperlebar jalur bertahan hidup yang begitu sempit,
tembakan presisi yang diperhitungkan secara sempurna kembali meremukkan
serpihan batu raksasa yang tersisa sekaligus menyingkirkannya secara berantai.
Akan tetapi,
perlawanan Hajime hanya sanggup bertahan sampai di situ.
Gugusan batu
raksasa yang meluncur turun dalam kecepatan mengerikan akhirnya mencapai posisi
kelompok Hajime. Setelah memastikan Yue dan Shea telah memeluk tubuhnya dengan
erat, Hajime mengaktifkan sihir bawaannya. Gerak Kilat. Dunia di sekitar Hajime
seketika kehilangan warnanya, membuatnya sanggup mengenali setiap kepingan maut
yang jatuh dengan jelas.
Bagaikan
memasukkan benang ke lubang jarum, dia berkelit melewati tirai pecahan batu
raksasa dengan gerakan seminimal mungkin. Di saat yang sama, dia memutar
pistolnya demi mengisi amunisi yang diteleportasikan ke tangannya, lalu
melepaskan tembakan terkonsentrasi ke satu titik demi membelokkan lintasan
serpihan yang tidak sanggup dihindari. Sepersekian detik pun tidak boleh
disia-siakan. Perluasan persepsi indra setingkat saat pertama kali
membangkitkan Gerak Kilat sewaktu bertarung melawan monster penjaga di Dungeon Besar
Orcus tempo hari masih belum cukup. Dia membutuhkan fokus konsentrasi yang
menembus batas maksimal!
Hajime kembali
mengaktifkan sihir bawaan lainnya. Pelampauan Batas.
Cahaya merah
menyelimuti sekujur tubuh Hajime selama sesaat. Namun cahaya itu segera menguap
sirna. Sihir bawaan yang semestinya melipatgandakan kemampuan fisik Hajime
hingga tiga kali lipat itu dinetralkan oleh efek dekomposisi mana milik dungeon.
Hal itu terjadi karena Pelampauan Batas pada dasarnya serupa dengan mengenakan
kerangka luar penguat tubuh yang terbuat dari mana. Bedanya dengan kerangka
luar biasa adalah organ bagian dalam tubuhnya turut diperkuat. Dengan kata
lain, walau penguatan fisiknya dibatalkan, perluasan persepsi indra yang kian
mendalam tidak ikut dibatalkan dan tetap bekerja secara efektif.
Kendati
demikian, bagaimanapun dia tengah melampaui batas dirinya. Beban yang
ditanggung tubuhnya jelas tidak main-main. Terlebih lagi, Hajime sebelumnya
telah memaksimalkan persepsi indranya hingga titik ekstrem lewat Gerak Kilat.
Andaikan tidak memiliki tubuh kokoh yang telah menyerap daging dan darah
monster, tubuhnya pasti sudah hancur sejak tadi. Faktanya, meski masih sanggup
bertahan, pembuluh darah halus mulai bermunculan tampak jelas di bola mata Hajime,
dan sedikit darah mulai mengucur keluar dari hidungnya.
Sembari
membiarkan Yue dan Shea memeluk erat tubuhnya, Hajime bergerak meliuk-liuk
lincah menghindari kematian yang menghujani mereka setipis helai rambut.
Menjaga keseimbangan tubuhnya secara ajaib di atas pijakan yang berguncang
hebat dan remuk berantakan, dia bahkan sesekali memanfaatkan serpihan batu yang
tengah jatuh sebagai pijakan baru.
Pikirannya terus
terasah tajam di setiap sepersekian detik, hingga kini dia bahkan sanggup
merasakan setiap goresan luka pada bebatuan yang tengah meluncur turun.
Konsentrasi di luar batas kewajaran yang mustahil dilakukan manusia biasa
berhasil membuka secercah jalan keluar di tengah rengkuhan maut!
Bagi Miledi yang
tengah mengamati kondisi kelompok Hajime dari tepi dinding, mereka tampak telah
tertelan habis oleh gugusan batu raksasa dalam sekejap mata. Mengira bahwa
perlawanan gigih mereka pada akhirnya tidak sanggup membendung massa seberat
itu, Miledi melepaskan manipulasi gravitasi pada gugusan batu tersebut diiringi
sedikit rasa kecewa.
Balok-balok
apung yang sempat tertelan oleh runtuhan batu dan jatuh ke dasar kini kembali
melayang naik bersama puing-puing langit-langit, menyebar ke seluruh penjuru
ruangan.
“Hmm. Ternyata
memang tidak sanggup ya~ Tapi kalau segini saja tidak bisa kalian atasi, mana
mungkin kalian bisa menang melawan gerombolan bajingan sialan itu~”
Sembari
menggumamkannya, Miledi mencari-cari jasad kelompok Hajime. Tepat pada saat
itulah...
“Sudah kubilang ‘kan,
aku tidak tertarik sama gerombolan bajingan itu.”
“Eh?”
Sebuah suara
yang familiar bergema memecah udara. Pemuda berambut putih dan penutup mata
yang bersikap angkuh, semaunya sendiri, serta mengendalikan Artefak yang belum
pernah dilihat sebelumnya—benar, itu adalah suara Hajime. Miledi menoleh ke
belakang sembari melontarkan seruan yang memancarkan keterkejutan bercampur
secercah rasa senang. Di sana, walaupun napasnya terengah-engah dan darah
mengalir dari mata serta hidungnya, tampak sosok Hajime yang masih utuh tanpa luka
fatal tengah berdiri di atas balok apung sembari menatap tajam ke arahnya.
“G-Gimana...”
Menyaksikan
Hajime yang jelas-jelas terlihat tertelan oleh gugusan batu tadi kini berdiri
tegak di depan matanya, Miledi spontan bertanya penuh keheranan. Menghadapinya,
seringai tajam terbit di sudut bibir Hajime.
“Bisa saja
kujawab sih... tapi apa tidak masalah kamu cuma melihat ke arahku terus?”
“Eh?”
Miledi kembali
melontarkan seruan heran dengan nada bicara yang sama persis seperti tadi.
Namun kebingungan itu seketika terjawab dalam bentuk sihir telak pada detik
berikutnya.
“Pembelahan!”
Lantunan sihir
Yue yang tegas bergema membahana, disusul untaian tembakan laser air yang
meluncur deras dari arah belakang menghantam punggung, kaki, kepala, serta
pundak Golem Miledi. Pemotong air yang mendarat telak itu mencabik lapisan
zirah terluar di setiap bagian tubuhnya hingga terkoyak lebar.
“Serangan seperti
ini mau diulang berapa kali pun sama saja lhoo~ Sekalian bikin tangan baru nanti
juga kuperbaiki lagi kok~”
“Sayangnya, kamu
tidak akan kuberi waktu untuk itu.”
Menghadapi Golem
Miledi yang menerima sihir Yue tanpa bergeming dan tetap bersikap santai tanpa
menoleh sedikit pun, Hajime melesat mendekat dalam sekali terjang sembari
menancapkan kawat jangkar. Schlagen tergenggam mantap di salah satu tangannya.
“Ahaha, senjata
itu lagi? Benda itu tidak akan bisa meremukkan zirah Azanthium milikku lhoo~”
Miledi tetap
memasang sikap santai. Walaupun Hajime telah menempel di tubuhnya dan
menodongkan moncong Schlagen tepat ke bagian dada, dia bersikap seolah berkata
“kalau mau tembak ya tembak saja”. Dia bahkan sama sekali tidak berniat
menggerakkan balok-balok apung di sekitarnya untuk menghalangi.
Hal itu wajar
saja terjadi. Karena sudah terbukti dengan nyata bahwa senjata milik Hajime
sama sekali tidak mampu melukai lapisan pelindung Golem Miledi. Oleh karena
itu, Miledi menilai bahwa pemilihan cara serang yang sama sekali tidak berubah
di tahap ini menandakan Hajime sudah kehabisan akal dan hanya sedang
melancarkan perjuangan sia-sia.
Namun, rasa
percaya diri itulah yang berujung petaka.
“Aku sudah
tahu!”
Bersamaan dengan
seruan Hajime, kilatan petir merah menyambar dari Schlagen, lalu proyektil
mirip jaket logam penuh bertenaga akselerasi elektromagnetik meledakkan bagian
dada Golem Miledi dalam jarak nol. Suara ledakan dan gelombang kejut yang
dahsyat mengempaskan tubuh Golem Miledi hingga terpental.
Akan tetapi,
kali ini Hajime tidak melompat mundur seperti sebelumnya. Menggulung kawat
jangkarnya, dia terus menempel erat di tubuh lawan, menempelkan lengan
prostetiknya pada bagian dada Golem Miledi yang telah hancur, lalu memuntahkan
seluruh sisa selongsong peluru sebar yang tersimpan di dalamnya sampai habis todak
bersisa. Daya kejut yang bertubi-tubi terus mengempaskan Golem Miledi hingga
tubuhnya terbanting ke atas balok apung yang melayang di belakangnya.
“M-Meski kamu melakukan
ini, pada akhirnya...”
“Yue!”
Mengabaikan
perkataan Miledi, Hajime meneriakkan nama Yue. Seketika itu pula, Yue yang
telah melompat mendekat segera merapalkan sihir lanjutannya.
“Membekulah!
Peti Beku!”
Bersamaan dengan
permohonan tersebut, pelatuk sihir yang semestinya berfungsi mengurung target
di dalam peti mati es ditarik. Akan tetapi, sihir elemen es tergolong ke dalam
sihir tingkat tinggi dari elemen air. Di wilayah ini, sihir tingkat menengah ke
atas semestinya tidak bisa digunakan. Kendati demikian, demi bisa menahan
pergerakan Golem Miledi untuk sementara waktu, sihir ini sangat dibutuhkan.
Bagian belakang
tubuh Golem Miledi yang terbanting membentur balok atap seketika membeku dalam
sekejap, mengunci posisinya menempel erat pada balok apung tersebut.
“Apa-apaan!? Kenapa
sihir tingkat tinggi bisa keluar!?”
Miledi
memekikkan suara penuh keterkejutan. Alasan mengapa Yue sanggup menggunakan
sihir elemen es tingkat tinggi sebenarnya sangat sederhana. Sama seperti sihir
Pembelahan, dia hanya menyediakan air asli sejak awal demi menekan konsumsi
mananya. Sejak awal mereka telah menentukan balok mana yang akan dijadikan
tempat membanting Golem Miledi, lalu menyiramkan air ke sana terlebih dahulu.
Lantas, memanfaatkan celah yang ada, Yue juga menyiramkan air ke punggung Golem
Miledi. Tembakan sihir Pembelahan yang pertama tadi bertujuan untuk itu.
Meski begitu,
jumlah mana yang terkuras tetaplah luar biasa besar, hingga memaksa Yue
menguras seluruh cadangan mana dari setiap batu kristal sihir yang dibawanya.
Sembari terengah-engah dengan napas memburu, Yue mundur mengamankan diri ke
balok apung terdekat.
“Kerja bagus,
Yue!”
Berdiri di atas
dada Golem Miledi yang tubuhnya telah terkunci rapat, Hajime menarik keluar
kartu as andalannya dari dalam Ruang Harta. Benda yang muncul dari kehampaan
itu adalah sebuah silinder peluncur raksasa berukuran panjang sekitar 2,5 meter.
Di bagian luarnya terpasang berbagai instrumen mekanis yang kokoh, dan di
bagian dalamnya telah terpasang sebuah pasak pasak hitam pekat berdiameter
sekitar 20 sentimeter. Di bagian bawahnya terpasang empat buah lengan cengkeram
yang kokoh, dan saat Hajime memasukkan lengan prostetiknya ke dalam mekanisme
penghubung di bagian tengah, alat tersebut mulai bergerak selaras.
Tanpa membuang
waktu Hajime langsung mengunci tubuh Golem Miledi yang tidak berkutik tepat di
bawahnya menggunakan lengan cengkeram tersebut, lalu menembakkan
jangkar-jangkar yang terpasang di bagian luar silinder. Sebanyak enam lengan
penahan menancap dalam-dalam ke balok apung, mengunci posisi silinder peluncur
raksasa itu dengan kokoh. Pada saat yang sama, Hajime mengalirkan mananya ke
dalam senjata tersebut. Seketika itu pula, silinder raksasa memancarkan
percikan kilat merah, dan pasak hitam pekat di dalamnya mulai berputar dengan
kecepatan yang mengerikan.
Kiiiiiiiiiii!!!
Dentingan nada
tinggi yang tercipta dari putaran berkecepatan dahsyat bergema membelah udara.
Melihat seringai tajam yang terbit di wajah Hajime, Miledi dipastikan akan
memasang wajah pucat pasi andai dirinya bukan berwujud golem.
Senjata berwujud
mengerikan itu adalah persenjataan tambahan luar untuk lengan prostetiknya, Pile
Bunker.
Melalui
Transmutasi Kompresi, massa seberat 4 ton dipadatkan menjadi sebuah pasak
berdiameter 20 sentimeter dengan panjang 1,2 meter, yang permukaannya dilapisi
bijih Azanthium, menjadikannya pasak dengan bobot dan tingkat kekerasan
tertinggi di dunia. Pasak tersebut kemudian ditembakkan menggunakan akselerasi
elektromagnetik dan bubuk peledak padat dalam jumlah masif yang terpasang di
bagian atas silinder.
“Nikmatilah sampai
puas.”
Bersamaan dengan
kata-kata tersebut, laksana menancapkan pasak kayu putih ke jantung vampir,
pasak hitam pekat ditembakkan menghunjam lurus ke arah inti Golem Miledi.
Gugugauanagan!!! Diiringi suara benturan yang mengerikan, Pile Bunker bekerja seketika, dan pasak hitam pekat menusuk tegak lurus menembus pertahanan Golem Miledi.
Lapisan
pelindung Azanthium di bagian dada retak dalam sekejap mata, dan ujung pasak
itu membenamkan dirinya tanpa ampun. Menerima hantaman yang begitu dahsyat,
tubuh raksasa Golem Miledi tertekan amblas ke dalam balok apung sembari memicu
retakan yang menjalar radial di sekelilingnya. Ketinggian balok apung itu
sendiri seketika merosot turun dengan drastis. Akibat gesekan dari putaran berkecepatan
tinggi milik Pile Bunker, asap putih pekat mengepul deras membubung dari bagian
dada Golem Miledi.
...Namun, cahaya
di mata Golem Miledi belum juga padam.
“Ha, haha.
Tampaknya dayanya masih belum cukup yaa. Tapi yah, ini hebat banget lhoo?
Bukannya sudah tembus sekitar 3/4 bagian yaa?”
Lewat nada suara
yang terdengar agak kaku, Miledi tetap berusaha berpura-pura tenang. Jauh di
lubuk hatinya dia mengucurkan keringat dingin. Walaupun Pile Bunker adalah
serangan pamungkas yang mematikan, akselerasi elektromagnetiknya belum maksimal
sehingga senjata itu tidak mampu mengeluarkan potensi aslinya. Karena itulah
serangannya hanya sedikit lagi gagal menembus seutuhnya. Akan tetapi, di mata
Hajime sama sekali tidak ada bayang-bayang keputusasaan. Seolah-olah situasi
seperti ini sudah masuk dalam perhitungannya sejak awal.
“Lakukan, Shea!
Akhiri ini!!”
Hajime menyimpan
seluruh bagian Pile Bunker ke dalam Ruang Harta selain pasak bajanya, lalu
melompat mundur menjauh dari dada Golem Miledi dalam sekali sentak.
Sebagai gantinya,
yang muncul adalah Shea yang membiarkan sepasang telinga kelincinya melambai tertiup
angin, mengangkat Drucken tinggi-tinggi di atas kepala, lalu terjun bebas
meluncur turun dari langit-langit yang tinggi.
“!?”
Tampaknya telah
menyadari apa yang hendak dilakukan oleh Shea, kali ini Golem Miledi
benar-benar panik dan berusaha melarikan diri dari tempat itu. Dia berupaya
menggerakkan balok apung tempat tubuhnya terkunci, namun menyadari semuanya
sudah terlambat di hadapan Shea yang meluncur turun dalam kecepatan dahsyat...
Dia menghentikan
pergerakannya seolah telah pasrah menerima kenyataan.
Shea langsung
meledakkan peluru sebar di senjatanya, memanfaatkan daya tolak ledakan itu
untuk menghantamkan pukulan sekuat tenaga tepat ke arah pasak baja.
Diiringi suara
gemuruh yang memekakkan telinga, pasak baja itu tertekan semakin dalam. Kendati
demikian, serangannya belum juga menembus hingga tuntas. Berniat memuntahkan
seluruh sisa amunisi peluru sebar yang tersimpan di dalam senjatanya, Shea
terus-menerus menarik pelatuk tanpa henti.
Dum! Dum! Dum! Dum! Dum! Dum!
“Aaaaaaaaarrrgghhh!!”
Jeritan
melengking Shea membahana membelah udara. Memusatkan seluruh tekad membara
miliknya demi mengakhiri pertarungan ini ke dalam palu perang yang menjadi
rekan seperjuangannya. Jiwa dan raga seutuhnya, seluruh tenaga dikerahkan tanpa
sisa. Seiring dengan benturan bertubi-tubi itu, balok apung tersebut merosot
turun dalam kecepatan yang luar biasa mengerikan.
Dan kemudian,
diiringi suara dentuman raksasa, balok apung menghantam tanah dengan sangat
telak. Benturan dahsyat itu akhirnya membuat pasak hitam pekat menembus dinding
pertahanan mutlak berbahan Azanthium, lalu menusuk inti Golem Miledi. Ujung
pasak membenam masuk sedikit ke dalamnya, memicu retakan yang menjalar pada
inti diiringi bunyi retakan yang nyaring.
Tepat pada detik
saat benturan dengan tanah terjadi, Shea bertumpu pada Drucken untuk melakukan
gerakan berdiri dengan tangan, lalu bersalto di udara. Lantas, memusatkan
seluruh penguatan fisiknya ke kekuatan kaki, dia menghantamkan tendangan yang
sarat akan gaya sentrifugal penuh tepat ke arah pasak baja sebagai pukulan
penutup.
Menerima
tendangan Shea yang membuatnya terus terbenam, pasak baja memperlebar retakan
pada inti tersebut...
Hingga akhirnya,
inti itu hancur berkeping-keping seutuhnya.
Cahaya di mata
Golem Miledi padam total. Begitu memastikannya, Shea akhirnya melepaskan
seluruh ketegangan dari tubuhnya lalu menghela napas lega yang panjang.
Tepat
setelahnya, suara langkah pendaratan terdengar dari belakang dan Shea lekas
menoleh. Di sana, tepat seperti dugaannya, Hajime dan Yue telah tiba. Shea
mengacungkan jempol ke arah mereka berdua dengan senyuman yang merekah lebar di
wajahnya. Membalasnya, Hajime dan Yue tersenyum sembari mengacungkan jempol
balasan.
Detik saat ujian
terakhir di salah satu dari Tujuh Dungeon Besar, Dungeon Besar Reisen, telah
resmi ditaklukkan.
“Bagus sekali,
Shea. Tekad dan semangatmu di serangan terakhir tadi luar biasa dahsyat. Aku
sampai kagum melihatnya, lho.”
“...Mm, sudah
berjuang keras.”
Hajime dan Yue
memujinya di tengah kepulan debu yang masih membubung pekat di sekeliling.
Di tanah lapang
itu kini tercipta sebuah kawah raksasa yang dihiasi retakan menjalar ke segala
arah, dan di titik tengahnya, tepat di atas dada Golem Miledi yang tergeletak tidak
berkutik sedikit pun, Shea yang bertumpu pada Drucken menahan kedua lututnya
yang nyaris ambruk karena rasa lega dan tersenyum “ehehe”.
Alasannya enggan
jatuh terduduk murni karena dia ingin tetap terlihat keren di hadapan Hajime
dan Yue yang tengah melangkah mendekat hingga akhir. Menyaksikan gengsi dan
hasil gemilang yang berhasil ditorehkan oleh Shea, Hajime menyipitkan mata
penuh kekaguman, sementara Yue melayangkan tatapan mata yang begitu lembut.
“Ehehe, terima
kasih banyak. Tapi Hajime-san, di momen begini kalau kamu bilang ‘jatuh cinta
lagi deh’ juga tidak masalah lho?”
“Jatuh cinta
lagi apanya, dari awal juga aku tidak pernah jatuh cinta padamu.”
Menghadapi
candaan (atau mungkin bukan?) dari Shea yang berusaha menutupi rasa malunya,
Hajime melontarkan teguran pedas, namun ekspresi wajahnya bertolak belakang
dengan kata-kata tersebut. Shea yang memancarkan kobaran tekad luar biasa di
saat-saat terakhir tadi memang terlihat begitu memikat.
Kenyataan bahwa
gadis yang hingga beberapa waktu lalu sama sekali tidak mengenal pertarungan
sanggup menunjukkan performa sehebat ini, sejatinya lahir murni dari keinginan
kuat Shea yang ingin berdiri di panggung yang sama dengan Hajime dan Yue, serta
ingin terus bersama mereka selamanya. Keinginan yang begitu dalam dan kokoh itu
berpadu dengan potensi terpendamnya, membuatnya sanggup menghadapi ujian
terberat di Tujuh Dungeon Besar secara langsung dari depan, hingga menorehkan
pencapaian terbaik dengan mendaratkan serangan penentu kemenangan.
Sebenarnya, bagi
Hajime sendiri, bantuan Shea untuk memberikan serangan penutup di saat-saat
terakhir bukanlah hal yang harus ada. Dia sudah memperkirakan bahwa daya rusak
Pile Bunker mungkin akan kurang, dan dia masih menyimpan cara lain untuk menekannya
masuk. Namun melihat Shea yang merupakan ras setengah manusia yang cinta damai
dan tidak terbiasa bertarung, yang hingga baru-baru ini tidak punya cara untuk
membela diri, tidak sekalipun merengek ingin pulang, melainkan terus
menyingkirkan rasa takut, cemas, dan bimbang hingga berhasil tiba di dasar dungeon
besar ini, Hajime berpikir tidak ada salahnya menyerahkan serangan pamungkas
itu kepadanya.
Dan hasilnya
sangat memuaskan.
Serangan
terakhir yang dilepaskan bersamaan dengan tekad yang begitu dahsyat itu,
sejujurnya, sungguh memukau hingga membuat Hajime sendiri terpesona.
Sampai-sampai dia merasa kekuatan perasaan Shea seolah tersampaikan langsung
dalam bentuk gelombang kejut. Bukan berarti Hajime langsung memiliki perasaan seperti
yang diharapkan oleh Shea. Kendati demikian, melihat kerja keras dan kegigihan
gadis itu, wajar saja jika hatinya pada akhirnya ikut luluh. Sorot mata Hajime
yang menatap Shea pun berubah menjadi jauh lebih lembut.
“Fueh? A-Anu...
rasanya tatapan Hajime-san kelihatan lembut banget ya... I-Ini mimpi?”
“Kamu ini ya...
Yah, mengingat bagaimana perlakuanku padamu selama ini, bisa dibilang reaksimu
itu memang wajar sih...”
Dihadapkan
dengan Hajime, Shea mencubit pipinya sendiri seolah baru saja melihat sesuatu
yang mustahil. Melihat reaksi tersebut, Hajime sempat ingin memprotes, namun
mengingat betapa kasarnya dia memperlakukan gadis itu selama ini, reaksi
semacam itu ada benarnya juga, sehingga dia memilih untuk menahan kata-katanya.
Yue melangkah
pelan mendekati Shea yang masih sibuk mencubit pipinya sendiri. Lantas, dia
menarik pelan baju Shea agar menunduk, lalu perlahan mengelus kepala sang
gadis. Begitu lembut dan teliti, seolah tengah merapikan helaian rambutnya yang
berantakan.
“E-Eh, anu,
Yue-san?”
“...Karena
Hajime sepertinya tidak akan mengelusmu, meski mengecewakan, biar aku yang
menggantikannya. Kamu sudah berjuang keras.”
“Y-Yue-saa~n.
Uugh, ada apa ini ya? Entah kenapa air mataku jadi keluar semuaaa. Huaaa.”
“...Anak pintar,
anak pintar.”
Awalnya Shea
sempat bingung menghadapi tindakan Yue yang tiba-tiba, namun begitu menyadari
dirinya tengah dipuji, ketegangan di dadanya seketika runtuh hingga air matanya
tumpah deras, lalu dia memeluk erat tubuh Yue sembari menangis tersedu-sedu.
Bagaimanapun, menjalani perjalanan pertama dan langsung dihadapkan pada salah
satu dari Tujuh Dungeon Besar pastilah memberi beban batin yang luar biasa
berat. Dia berhasil bertahan sejauh ini hanya berbekal tekad kuat untuk terus
mengikuti Hajime dan Yue. Dipuji dan diakui seperti ini membuat bendungan air
matanya jebol karena luapan rasa lega yang luar biasa.
Sebagai catatan,
persis seperti yang dikatakan Yue, Hajime kemungkinan besar memang tidak akan
mengelus kepalanya. Shea adalah tipe orang yang gampang besar kepala, sehingga
jika dia sembarangan mengelusnya dan membuat gadis itu salah paham mengira
dirinya memiliki perasaan asmara, urusannya bakal menjadi sangat merepotkan.
Lewat peristiwa kali ini, Shea memang telah dianggap sepenuhnya sebagai bagian
dari kelompok terdekat Hajime, namun mustahil baginya untuk membagi perasaan
yang sama seperti yang dia berikan kepada Yue ke banyak orang sekaligus.
Perasaan istimewa memang seharusnya seperti itu. Terlebih lagi, melakukan
sesuatu yang bisa melukai hati Yue adalah hal yang sama sekali tidak terlintas
di benak Hajime.
Kendati demikian,
melihat Shea yang merengek manja di pelukan Yue entah karena menangis haru atau
lega, serta Yue dengan wajah keibuan seorang kakak perempuan sembari mengelus
kepalanya dengan lembut... yah, gambaran masa depan mereka bertiga rasanya
sudah bisa ditebak secara samar-samar.
Shea yang
bermanja-manja pada Yue, Yue yang memeluknya erat, serta Hajime yang memandangi
keduanya lewat ekspresi yang sulit diartikan. Tepat di hadapan ketiga orang
tersebut, sebuah suara mendadak menyela memecah suasana.
“Anuu~ Maaf
banget ya di tengah suasana hangat begini~ Tapi kondisiku sudah mulai gawat
nih, boleh minta waktunya sebentaar~?”
Suara yang sangat
mereka kenal. Hajime dan yang lainnya seketika tersentak menoleh ke arah Golem
Miledi, lalu menyadari bahwa cahaya di matanya yang semestinya telah padam kini
kembali menyala entah sejak kapan. Secara refleks kelompok Hajime melompat
mundur demi mengambil jarak. Mengingat mereka yakin intinya telah hancur
berkeping-keping, mereka memasang kuda-kuda sembari memperlihatkan kewaspadaan penuh.
“Tunggu, tunggu,
tenang duluu~ Ujiannya sudah selesai kok! Kalian yang menang! Aku cuma
memanfaatkan sisa-sisa kekuatan di serpihan inti untuk bicara sebentar saja
lhoo~ Paling cuma bertahan beberapa menit lagi.”
Memperkuat
perkataan tersebut, tubuh Golem Miledi sama sekali tidak bergerak sedikit pun,
dan kilatan cahaya di matanya berkedip-kedip redup seolah nyaris padam setiap
saat. Kelihatannya ucapan bahwa dirinya tidak akan bertahan lebih dari beberapa
menit memang benar adanya.
Hajime sedikit menurunkan
kewaspadaannya lalu berbicara pada Golem Miledi.
“Lalu? Mau
bicara apa, dasar orang yang gagal mati. Sudah mati pun masih tidak bisa membaca
situasi... Mau kutulis di buku sejarah kalau kamu itu Pembebas paling
mengecewakan sepanjang masa?”
“Ih, jahat
bangett~ apaan coba perundungan secara halus begitu. Rasanya bikin aku kepikiran
terus sampai mati.”
“Terus? Kalau
mau minta kami mengalahkan gerombolan bajingan itu, aku tidak berminat
mendengarnya.”
Mendengar
kata-kata Hajime yang memotong niatnya sejak awal, Golem Miledi memancarkan
atmosfer yang menyiratkan tawa getir.
“Tidak, tidak.
Sia-sia juga aku memohonnya. Yang mau kubicarakan... lebih tepatnya sebuah
peringatan sih. Sekalipun di dungeon yang kamu datangi nanti tidak ada Sihir Zaman
Dewa yang kamu cari, pastikan untuk mengumpulkan seluruh Sihir Zaman Dewa milik
kami para Pembebas tanpa terkecuali... Karena itu sangat dibutuhkan untuk
mewujudkan keinginanmu...”
Kekuatan Miledi
tampaknya mulai mendekati batas akhir, membuat untaian kata-katanya terdengar
semakin samar dan terputus-putus. Merasa tidak peduli, Hajime menyuarakan
keraguannya.
“Semuanya, ya...
Kalau begitu beri tahu lokasi dungeon lainnya. Catatannya sudah hilang ditelan
zaman, jadi kami hampir tidak tahu apa-apa.”
“Ah, begitu ya.
...Paham deh, rupanya sudah berlalu waktu yang begitu lama... sampai-sampai
lokasi dungeonnya terlupakan. ...Iya, lokasinya... lokasi dungeonnya...”
Akhirnya, suara
Golem Miledi benar-benar mulai kehilangan tenaganya. Mendengar nada suaranya
yang kini menyelipkan getaran emosional yang mendalam, ekspresi Yue dan Shea
berubah khidmat. Di dalam mata mereka terbit rasa hormat yang mendalam kepada
sosok yang telah hidup melintasi kurun waktu yang begitu panjang demi sebuah
misi, atau mungkin sebuah harapan, bahkan sampai rela menukar wadah raganya
demi mempertahankan kehendak jiwanya.
Secara perlahan
dan bertahap, Miledi membeberkan lokasi dari sisa Tujuh Dungeon Besar lainnya.
Di antaranya, ada beberapa lokasi yang benar-benar di luar dugaan.
“Itu saja.
...Berjuanglah ya.”
“...Bisa
bersikap sopan juga ternyata. Ke mana perginya gaya bicara dan kalimat
menyebalkanmu tadi?”
Persis seperti
kata Hajime, Miledi yang sekarang sama sekali lepas dari sifat usil yang gemar
memajang tulisan menyebalkan di dalam dungeon maupun gaya bicara yang memancing
emosi, melainkan memancarkan ketulusan dan kesungguhan. Menilik kilasan yang
sempat dia perlihatkan saat menanyakan tujuan Hajime sebelum pertarungan tadi,
kemungkinan besar inilah sosok aslinya yang sebenarnya. Menjelang kepunahan
totalnya, mungkin dia merasa tidak perlu lagi berpura-pura di hadapan mereka.
“Ahaha, maaf ya~
Tapi... gerombolan bajingan itu... beneran orang-orang yang brengsek banget...
kerjaannya cuma bikin hal-hal yang licik dan menyebalkan terus. ...Makanya, aku
cuma ingin... kalian sedikit terbiasa dengannya...”
“Hei, dengar ya.
Tadi sudah kubilang ‘kan kalau aku tidak peduli sama urusan dewa gila itu.
Kenapa kamu malah bicara seenaknya seolah-olah aku pasti bakal bertarung
melawan mereka, sih?”
Menghadapi suara
Hajime yang terdengar gusar, Miledi membalasnya dengan kata-kata yang serius dan
meyakinkan.
“...Kamu pasti
akan melawannya. Selama kamu tetap menjadi dirimu sendiri... cepat atau
lambat... kamulah yang akan membunuh dewa.”
“...Aku tidak
paham maksudnya. Yah, kalau mereka menghalangi jalanku sih mungkin saja mereka
akan kubunuh...”
Hajime tampak
sedikit bingung. Menyaksikan wajah tersebut, tawa geli yang terdengar riang
meluncur dari bibir Miledi.
“Hehehe...
begitu saja sudah cukup... Hiduplah sesuka hatimu sesuai jalan yang kamu
yakini... Karena pilihan yang kamu ambil... kelak pasti... akan menjadi yang
terbaik... bagi dunia ini...”
Tanpa disadari,
sekujur tubuh Golem Miledi telah diselimuti oleh cahaya kebiruan yang berpendar
laksana fosfor. Cahaya itu terurai menjadi butiran-butiran cahaya kecil nan
lembut layaknya kunang-kunang, lalu membubung naik. Persis seperti jiwa orang
mati yang tengah dijemput kembali menuju surga. Sebuah pemandangan yang begitu
luar biasa mistis dan agung.
Saat itulah, Yue
melangkah perlahan mendekati Golem Miledi. Dia menatap lekat-lekat ke arah
sepasang mata yang telah kehilangan hampir seluruh cahayanya tersebut.
“Ada apa ya?”
Suara Miledi
terdengar begitu lirih bagai bisikan. Membalasnya lewat nada suara yang
sama-sama berbisik, Yue mengucapkan kalimat perpisahan kepada sang Pembebas
agung yang tengah memudar pergi.
“...Terima kasih
atas kerja kerasmu. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik.”
“...”
Itu adalah
sebuah ucapan penuh penghargaan. Hadiah sederhana dari sosok yang hidup di masa
sekarang untuk sosok agung yang telah setia menanti harapan seorang diri di
dasar kegelapan yang pekat. Dari sudut pandang usia, kalimat itu mungkin
terdengar kurang pantas diucapkan oleh sosok yang jauh lebih muda. Kendati
demikian, Yue memang tidak bisa memikirkan kata-kata lain selain itu.
Bagi Miledi
sendiri, itu pastilah kata-kata di luar dugaan. Hawa keheningan yang terpaku
tanpa kata sempat menguar dari tubuhnya. Hingga akhirnya, melalui suara yang
begitu tenang dan lembut, Miledi bergumam lirih.
“...Terima kasih
ya.”
“...Mm.”
Sebagai catatan,
tepat di belakang momen percakapan terakhir antara Yue dan Miledi, Hajime yang
merasa jengkel akibat digurui sempat hendak melontarkan kata-kata “sudahlah,
cepat sana pergi mati” yang secara sigap disadari oleh Shea hingga gadis itu
langsung memiting Hajime dari belakang sembari membekap mulutnya rapat-rapat
sambil berbisik panik “Yang tidak bisa baca situasi itu sebenarnya siapa sih!
Tolong diam dulu sebentar!” Hajime pun hanya bisa meronta-ronta tidak jelas,
namun beruntung keduanya sama sekali tidak menyadarinya sehingga atmosfer yang
khidmat tetap terjaga utuh.
“...Nah,
kelihatannya... sudah waktunya ya. ...Kuharap masa depan kalian... selalu
berada... di bawah kehendak yang bebas...”
Menghadiahkan
untaian kalimat yang sama persis seperti yang diucapkan oleh Oscar, salah satu
kaum Pembebas, Miledi Reisen, akhirnya terurai menjadi butiran cahaya lembut
lalu memudar lenyap ke langit.
Keheningan
menyelimuti sekeliling, dan seolah tenggelam dalam sisa-sisa keharuan, Yue dan
Shea menengadah ke langit menatap jejak lintasan cahaya tersebut.
“...Awalnya
kukira dia itu orang terburuk yang kepribadiannya luar biasa busuk. Tapi
ternyata, dia cuma sedang berjuang sekuat tenaga saja ya.”
“...Mm.”
Yue dan Shea
saling bertukar kata dalam suasana yang sedikit melankolis. Akan tetapi,
Hajime, pria yang sama sekali tidak menaruh rasa simpati barang seujung kuku
pun terhadap Miledi, berbicara kepada keduanya lewat nada suara yang terdengar
begitu jengah.
“Hah, sudah puas
belum? Ayo cepat kita lanjut ke depan. Lagipula, aku berani bersumpah kalau
kepribadiannya yang busuk itu memang sifat aslinya. Sikap menjengkelkan kayak
begitu jelas bukan cuma sekadar akting.”
“Tunggu dulu,
Hajime-san. Tega sekali bicara begitu pada orang yang baru saja meninggal.
Jahat banget. Yang benar-benar tidak bisa baca situasi itu justru Hajime-san.”
“...Hajime tidak
peka?”
“Yue, kamu juga
ikut-ikutan... Hah, ya sudahlah terserah. Biar kujelaskan sekalian, bukannya
aku tidak bisa membaca situasi, ya. Aku cuma sengaja memilih untuk tidak
membacanya.”
Sembari
mengobrol santai seperti itu, kelompok Hajime mendadak menyadari salah satu
sudut dinding tengah memancarkan cahaya terang. Menguasai diri kembali, mereka
melangkah menuju ke arah lokasi tersebut. Mengingat posisinya berada di dinding
bagian atas, ketiganya melompat bersamaan ke salah satu balok apung untuk
menjadikannya pijakan. Namun tepat pada saat itu, balok apung yang mereka pijak
meluncur bergerak dengan mulus, membawa kelompok Hajime terbang menuju ke arah
dinding yang bercahaya tersebut.
“...”
“Waa, baloknya
bergerak sendiri lho. Praktis banget ya.”
“...Layanan
bonus?”
Shea terperangah
melihat balok apung yang mengantar mereka secara otomatis, sementara Yue
memiringkan kepalanya heran. Hajime sendiri entah mengapa justru memasang muka
yang terlihat masam. Dalam waktu kurang dari 10 detik mereka telah tiba di
depan dinding bercahaya, lalu balok tersebut berhenti tepat di jarak sekitar 5 meter
di hadapannya. Kemudian, seolah telah memperhitungkan waktunya dengan tepat,
pendaran pada dinding perlahan memudar, dan bagian dinding yang tadi berpendar
ditarik keluar ke arah depan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Di baliknya
tampak sebuah lorong memanjang yang tersusun dari dinding putih mengilap.
Balok apung yang
dinaiki kelompok Hajime meluncur mulus memasuki lorong tersebut. Kelihatannya
balok ini memang bertugas mengantarkan mereka langsung menuju ke tempat
persembunyian Miledi Reisen. Di ujung perjalanan lorong itu, terdapat sebuah
dinding berukirkan tujuh lambang yang sama persis seperti yang tertera pada
pintu menuju tempat persembunyian Oscar di Dungeon Besar Orcus tempo hari. Saat
kelompok Hajime mendekat, dinding tersebut bergeser ke samping dengan
perhitungan waktu yang begitu sempurna, mengundang mereka untuk masuk ke bagian
dalam. Balok apung itu terus melaju tanpa henti melewati celah dinding
tersebut.
Dan kemudian, di
balik dinding yang baru saja mereka lewati...
“Yaho, ketemu
lagi! Ini Miledi-chan lhoo!”
Di sana Golem
Miledi berukuran mini tengah berdiri menyambut mereka.
“...”
“...”
“Tuh ‘kan, apa
kubilang. Sudah kuduga pasti bakal jadi begini.”
Yue dan Shea
seketika terbungkam seribu bahasa. Di sisi lain, Hajime yang tampaknya sudah
memperkirakan situasi ini hanya sanggup memasang wajah yang luar biasa muak.
Alasan mengapa
Hajime sanggup menebak kejadian ini sejatinya sangat sederhana, karena sejak
awal dia telah menyadari bahwa baik Miledi yang bersikap konyol maupun Miledi
yang bersikap serius, keduanya memang sama-sama sosok aslinya. Tingkat
menyebalkannya tulisan di sepanjang dungeon serta kejahilan jebakan yang
dipasang jelas berada di level yang mustahil diciptakan oleh orang yang berhati
lurus dan serius. Terlebih lagi, Miledi memilih metode meninggalkan kehendak
jiwanya untuk menyeleksi para penantang secara langsung. Jika demikian,
mustahil jika misinya selesai hanya dengan dikalahkan satu kali saja oleh
penantang yang datang. Pasalnya, jika begitu maka ujian terakhir dungeon ini
akan lenyap selamanya hanya dalam sekali takluk.
Oleh sebab itu,
Hajime sudah menduga bahwa menghancurkan Golem Miledi tadi tidak akan
melenyapkan Miledi itu sendiri. Dan dugaan tersebut berubah menjadi keyakinan
mutlak tepat saat balok apung tadi mulai bergerak membawa dan memandu mereka
secara teratur. Pasalnya, satu-satunya sosok yang sanggup menggerakkan balok
apung secara sengaja hanyalah Miledi seorang.
Menghadapi Yue
dan Shea yang terbungkam membisu seraya menundukkan kepala, Miledi menyapa
mereka dengan nada bicara yang luar biasa santai.
“Lhoo? Lhoo? Kok
loyo banget sih~? Boleh lho kalau mau lebih kaget lagi~? Ah, atau jangan-jangan
saking kagetnya sampai gak bisa berkata-kata, ya? Kalau begitu, prank kita
sukses besaaar dong ya!”
Berbeda dari
versi raksasanya, Golem Miledi mini ini memiliki desain yang lebih menyerupai
manusia. Tubuhnya yang ramping dibalut jubah panjang berwarna putih susu,
lengkap dengan topeng putih yang menutupi wajahnya. Gambar emotikon senyum di
topeng tersebut terasa sedikit memancing emosi. Menyelipkan kedipan bintang
centil di akhir kalimatnya, Miledi mini melangkah mendekat hingga ke hadapan kelompok
Hajime. Wajah Yue dan Shea masih tertunduk, tersembunyi di balik helaian rambut
yang terurai sehingga ekspresi mereka tidak terlihat. Namun karena sudah bisa
menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Hajime segera mengambil jarak mundur
satu langkah.
Yue dan Shea
melontarkan pertanyaan lewat gumaman lirih.
“...Yang tadi
itu apa?”
“Hmm~? Tadi? Ah,
jangan-jangan kalian mengira aku benar-benar lenyap ya? Mustahiiiil! Tidak
mungkin~!”
“Tapi, tadi
cahayanya membubung naik lalu menghilang, ‘kan?”
“Hehehe,
aktingnya lumayan ‘kan? Pementasan sandiwara tadi itu! Ya ampun, tidak kusangka
Miledi-chan ternyata punya bakat jadi aktris juga! Benar-benar anak yang luar
biasa!”
Tingkat semangat
Miledi mini melonjak drastis tanpa kendali. Berbanding lurus dengan itu, kadar
menyebalkannya pun melesat menembus batas. Tepat di hadapan Miledi mini, Yue
menyodorkan tangannya ke depan, sementara Shea mengangkat Drucken
tinggi-tinggi. Menyadari gelagat tersebut, Miledi mini menghentikan gerakannya
sembari membatin, “Eh? Apa aku kelewatan ya?”
“E-Eh...”
Menghadapi Yue
dan Shea yang melangkah mendekat dengan gerakan terhuyung-huyung yang
mengerikan, Miledi mini menggerak-gerakkan kepalanya dengan kaku,
memperlihatkan gestur bingung mencari kata-kata, hingga akhirnya dia
membulatkan tekad dan berujar.
“Hehe, maap ya!”
“...Mati sana.”
“Tolong mati
saja.”
“T-Tunggu!
Tunggu sebentar! Tubuh yang ini lemah banget lhoo! Kalau yang ini sampai rusak
urusannya beneran gawat! Tenang duluu! Aku minta maaf deh!”
Untuk beberapa
saat, suara gaduh, debuman keras, retakan benda patah, jeritan, dan berbagai
suara kehancuran lainnya terdengar bersahut-sahutan, namun Hajime mengabaikan
segalanya dan memilih fokus mengamati seisi ruangan. Ruangan itu sendiri
seluruhnya berwarna putih bersih, tanpa ada benda apa pun selain sebuah
lingkaran sihir yang terukir di lantai bagian tengah. Satu-satunya hal lain yang
tampak adalah celah yang menyerupai pintu di salah satu bagian dinding, yang
ditebak oleh Hajime kemungkinan merupakan tempat tinggal Miledi mini.
Hajime melangkah
santai mendekati lingkaran sihir lalu mulai menelitinya sesuka hati. Melihat
hal itu, Miledi mini buru-buru berlari menghampiri Hajime. Dari arah belakang,
tampak sesosok putri vampir tanpa ekspresi dan seorang gadis bertelinga kelinci
tengah mengejarnya dengan derap langkah yang mengintimidasi.
“Kamu ini yaa,
jangan sembarangan diutak-atik dong. Lagian kalian ‘kan teman sekelompok!
Jangan cuma diabaikan, tolong hentikan mereka!”
Sembari
melontarkan protes, Miledi mini bersembunyi di balik punggung Hajime, berniat
menjadikannya perisai menghadapi dua iblis yang tengah mengamuk.
“...Hajime minggir,
aku tidak bisa membunuhnya.”
“Tolong
menyingkir, Hajime-san. Makhluk itu harus kuhabisi. Sekarang, di sini.”
“Tidak kusangka
aku bakal mendengar lelucon itu di momen seperti ini. Lagian sudahlah, berhenti
main-main dan ayo selesaikan apa yang harus diselesaikan.”
Dengan ekspresi
jengah, Hajime menegur Yue dan Shea. Saat Miledi mini di belakangnya mulai ikut
memanas-manasi dengan berujar “Benar, benar, ayo kerja yang serius dong!”
Hajime mencengkeram wajahnya menggunakan lengan prostetiknya dengan teknik
cengkeraman besi. Gambar emotikon senyum di topengnya tampak sedikit
terdistorsi menyiratkan penderitaan yang pilu, namun Hajime sama sekali tidak
peduli. Dia terus mengerahkan tenaga hingga suara retakan tulang mulai berderak
dari kepala Miledi mini.
“Kalau kamu tidak
mau desain kepalamu ini berubah jadi lebih indah, cepat serahkan Sihir Zaman Dewa
milikmu.”
“Anuu~ kamu
sadar tidak sih kalau ucapan dan tindakanmu itu persis banget seperti penjahat—krak krak krak—Understand, Sir! Sekarang
juga akan kuberikan! Makanya berhentiiii! Kalau ditekan lebih dari ini tubuhku
bisa rusak beneran!”
Melihat Miledi
mini yang meronta-ronta, kekesalan Yue dan Shea tampaknya sudah cukup
terlampiaskan sehingga keduanya kembali tenang, dan menyadari bahwa dia benar-benar
bisa hancur jika terus bercanda, Miledi mini pun akhirnya mulai mengaktifkan
lingkaran sihir tersebut.
Kelompok Hajime
melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir. Kali ini, karena Miledi sendiri yang
menyaksikan keberhasilan mereka menyelesaikan ujian, proses penelusuran ingatan
seperti yang terjadi di Dungeon Besar Orcus tempo hari tidak diperlukan lagi,
sehingga pengetahuan serta metode penggunaan Sihir Zaman Dewa langsung terpatri
secara otomatis ke dalam benak mereka. Hajime dan Yue yang sudah pernah
mengalaminya tidak menunjukkan reaksi berlebih, namun Shea yang baru pertama
kali merasakannya sempat tersentak kaget hingga tubuhnya terlonjak sesaat.
Hanya dalam
hitungan detik proses penanaman pengetahuan itu telah tuntas, dan kelompok
Hajime berhasil memperoleh Sihir Zaman Dewa milik Miledi Reisen tanpa kendala
berarti.
“Ini...
benar-benar sihir manipulasi gravitasi, ya.”
“Benar bangeet.
Sihir Miledi-chan ini intinya adalah Sihir Gravitasi. Gunakan dengan baik yaa.
...Sebenarnya aku ingin bilang begitu sih, tapi kamu sama si kelinci ini sama
sekali tidak punya bakat~ Saking tidak berbakatnya bahkan sampai bikin
geleng-geleng kepala lhoo!”
“Berisik. Aku
sudah menduganya sejak awal.”
Persis seperti
kata Miledi mini, walaupun telah ditanamkan pengetahuan tentang Sihir
Gravitasi, Hajime dan Shea sama sekali tidak merasa sanggup menggunakannya dengan
normal. Sama seperti Yue yang tidak bisa menggunakan Sihir Penciptaan dengan
baik, mereka berdua tidak punya bakat di bidang tersebut.
“Yah, kalau si
kelinci ini mungkin masih bisa pakai untuk menambah atau mengurangi berat
badannya sendiri sih. Kalau kamu... berhubung kamu bisa pakai Sihir Penciptaan,
akali saja pakai cara itu. Nah, kalau si pirang ini bakatnya sempurna banget.
Kalau dilatih dengan benar dia bisa menguasainya dengan maksimal.”
Mendengar penjelasan
Miledi mini yang terdengar agak serius itu, Hajime mengangkat bahu, Yue
mengangguk paham, sementara Shea tampak terpukul berat. Sudah susah payah
mendapatkan Sihir Zaman Dewa namun divonis tidak berbakat, dan jikapun bisa
digunakan kemampuannya cuma sebatas menambah atau mengurangi berat badan saja.
Rasa kecewanya benar-benar luar biasa. Terlebih lagi, menambah berat badan
jelas bukan pilihan yang diinginkan, namun mengurangi berat badan pun bisa
memicu masalah tersendiri. Jika sampai lengah, proporsi tubuhnya bisa berubah
ke arah yang sangat berbahaya. Merasa dirinya justru malah tertimpa beban yang
merugikan, Shea seketika kehilangan seluruh semangatnya.
Mengabaikan Shea
yang meratapi nasib di sampingnya, Hajime kembali menuntut. Sama sekali tanpa
rasa sungkan, apalagi belas kasihan.
“Hei, Miledi.
Cepat serahkan bukti penaklukan dungeon. Terus, berikan juga semua Artefak
praktis yang kamu punya dan batu-batu mineral langka seperti batu resonansi.”
“...Kamu sadar tidak
kalau kalimatmu itu sudah persis banget kalimatnya perampok? Kamu sama sekali
tidak punya rasa bersalah?”
Topeng emotikon
senyum yang telah sedikit penyok itu entah bagaimana tampak menatap dengan jengkel,
namun Hajime sama sekali tidak ambil pusing. Miledi mini meraba-raba bagian
dalam bajunya, mengeluarkan sebuah cincin, lalu melemparkannya ke Hajime.
Hajime menangkapnya dengan tangkas hingga menimbulkan bunyi plak. Cincin Reisen tersebut memiliki
desain unik berupa sebuah pasak tunggal yang menembus dua bentuk elips di
bagian atas dan bawahnya.
Miledi mini kemudian
mewujudkan sejumlah besar bijih mineral ke udara kosong. Kemungkinan besar dia
memiliki Artefak Ruang Harta. Tampaknya dia baru saja mengeluarkan tumpukan
mineral yang disimpannya dari sana. Melihat betapa mudahnya dia mengeluarkan
barang-barang itu, ada kemungkinan dia memang berniat menyerahkannya sejak
awal. Entah mengapa Miledi begitu yakin bahwa Hajime kelak akan bertarung
melawan dewa gila tersebut, sehingga dia sama sekali tidak merasa keberatan
memberikan bantuan sebesar ini.
Akan tetapi,
merasa belum puas dengan apa yang diberikan adalah standar khas seorang Hajime.
Sembari memindahkan tumpukan mineral yang disodorkan ke dalam Ruang Harta
miliknya, dia menatap dingin Miledi mini.
“Hei, itu Artefak
Ruang Harta ‘kan? Kalau begitu serahkan sekalian wadahnya. Di dalamnya pasti
masih tersisa Artefak lain ‘kan?”
“H-Hei~ Sudah tidak
ada lagi yang bisa kuberikan. Ruang Harta maupun Artefak-Artefak lainnya itu
barang penting yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemeliharaan dungeon ini.”
“Memangnya aku
peduli? Sini serahkan.”
“Ah, dibilang
tidak ya tidak!”
Melihat Hajime
yang berniat menjarah segalanya hingga ke akar-akar, dengan panik Miledi mini
melangkah mundur. Semua Artefak yang dimilikinya memang hanya digunakan untuk
keperluan operasional dungeon. Bahkan Artefak-Artefak tersebut sama sekali
tidak berguna di luar dungeon, sehingga Hajime membawanya pun tidak akan ada
gunanya. Miledi berusaha menjelaskan poin-poin penting itu dengan ringkas, namun
Hajime hanya membalas dengan “Oh, aku paham kok. Kalau begitu cepat serahkan”
sembari terus menuntut tanpa ampun. Dilihat dari mana pun, dia benar-benar cuma
perampok.
“Hiiih, sudah
kubilang tidak akan kukasih! Sudah sana, cepat pulang!”
Menghadapi
Hajime yang terus melangkah maju memojokkannya perlahan-lahan, Miledi mini
lekas memutar tumitnya lalu berlari kencang menuju ke tepi dinding,
mengapungkan sebuah balok apung lalu menaikinya hingga melayang mendekati
langit-langit.
“Jangan lari
dong. Aku ‘kan cuma minta kamu melucuti semua barang bawaanmu sebagai hadiah
penaklukan dungeon. Bukannya ini tuntutan yang sangat wajar?”
“Isi kepalamu
pasti sudah gak beres sampai-sampai bisa menganggap hal itu wajar! Uugh, tidak
kusangka kalimat yang dulu selalu diucapkan O-chan kepadaku sekarang malah
kuucapkan sendiri ke orang lain...”
“Sebagai
informasi, pola pikir ini memang kutempa dan kupelajari di dalam dungeonnya si
O-chan itu.”
“O-chaaaan!!”
Meskipun sempat merasa
jengah pada Hajime, Yue dan Shea yang masih menyimpan dendam kesumat akibat
dipermainkan habis-habisan sepanjang perjalanan ikut bergabung dalam perburuan,
mempersempit jaring pengepungan terhadap Miledi secara perlahan. Menyadari
bahwa setengah dari nasib malang ini lahir dari perbuatannya sendiri dan
setengahnya lagi akibat ulah dungeon ciptaan mantan rekannya, rasa sesak yang tidak
tertahankan merayapi batin Miledi.
“Haaah, kenapa
penakluk pertamaku harus makhluk seajaib ini sih... Ya sudahlah, terserah. Akan
kupaksa kalian keluar dari sini sekarang juga! Jangan pernah balik lagi ke sini
yaa!”
Tepat di hadapan
kelompok Hajime yang sudah bersiap menerjang ke arahnya, Miledi mini menyambar
seutas tali yang entah sejak kapan telah menjuntai dari langit-langit, lalu
menariknya ke bawah dengan kuat.
“?”
“?”
“?”
Kelompok Hajime
sempat heran bertanya-tanya apa yang tengah dilakukannya. Namun sesaat
kemudian, suara yang sudah muak mereka dengar kembali bergema di telinga
mereka.
Klung!!
“!?”
“!?”
“!?”
Benar, itu adalah
suara picu mekanisme jebakan.
Detik saat suara
itu bergema, diiringi suara gemuruh, air dalam volume yang luar biasa masif
membanjir masuk dari dinding di keempat penjuru ruangan. Menyembur deras
layaknya air bah dari arah miring alih-alih tegak lurus, air dalam jumlah luar
biasa banyak itu menenggelamkan seisi ruangan menjadi arus deras dalam sekejap
mata. Di saat yang sama, lantai di sekitar lingkaran sihir bagian tengah ambruk
ke bawah membentuk corong perangkap undur-undur, menciptakan sebuah lubang
menganga tepat di tengahnya. Arus air yang berputar kencang meluncur tersedot
masuk ke dalam lubang tersebut dalam sekali sentakan.
“Bajingan! Ini
‘kan...!”
Hajime sempat
membeku sesaat tepat ketika menyadari sesuatu, lalu detik berikutnya wajahnya
terdistorsi oleh rasa murka yang luar biasa terhina.
Ruangan serba
putih, lubang cekung di bagian tengah, serta pusaran air masif yang tersedot
deras ke dalamnya... Benar, tata letak ini persis seperti kloset toilet yang
tengah disiram!
“Hal-hal yang
menyebalkan memang paling pas kalau disiram air sampai hanyut!”
Entah bagaimana
caranya, emotikon senyum di topeng Miledi mini berubah bentuk menjadi kedipan
mata centil.
Masih diselimuti
rasa jengkel yang meluap-luap, Yue berniat melancarkan sihir secara refleks
demi menerbangkan mereka semua ke atas. Berkat keberadaan lingkaran Sihir Zaman
Dewa di ruangan ini, efek dekomposisi mana dungeon rupanya tidak bekerja. Oleh
sebab itu, meskipun sisa mananya tinggal sedikit, menyelamatkan semua orang
dari jeratan arus deras masih sangat sanggup dia lakukan.
“Mela...”
“Tidak akan
kubiaarkaan~!”
Namun tepat di
saat Yue hendak merapalkan sihir Melayang, Miledi mini menyodorkan tangan
kanannya ke depan, dan secara bersamaan beban tekanan dahsyat membentur kelompok
Hajime. Laksana ditekan oleh sesuatu yang luar biasa berat dari atas, mereka
terbenam paksa ke dalam arus air yang deras. Miledi tampaknya baru saja
menggunakan Sihir Gravitasi untuk melipatgandakan beban tarikan ke arah bawah.
“Sampai jumpa
lagii~ Berjuanglah menaklukkan dungeon lainnya yaa~”
“Guhkuh...
Kurang ajar, kamu pikir kami ini kotoran, hah!? Suatu saat pasti akan
kuhancurkan kamuuu!!”
“Uhuk... Tidak
akan kumaafkan.”
“Akan kubunuh
kamuuu! Fgakh!”
Dengan makian terakhir
itu, kelompok Hajime ditelan tanpa daya oleh arus deras dan tersedot masuk ke
dalam lubang pembuangan. Tepat sedetik sebelum terperosok ke dalam lubang,
Hajime seorang diri tampaknya sempat melemparkan sesuatu sebagai bentuk aksi
balas dendam. Begitu kelompok Hajime hanyut tertelan ke dalam lubang, air yang
membanjiri ruangan segera surut secepat saat ia datang, dan permukaan lantai
pun kembali pulih seperti sedia kala.
“Fiuh~
benar-benar gerombolan orang yang merepotkan ya~ Tapi ngomong-ngomong, Ahli
Sinergi yang sama seperti O-chan, ya. Heheh, entah kenapa rasanya seperti
takdir. Berjuanglah sekuat tenaga demi menggapai keinginanmu ya... Baiklah,
sekarang soal perbaikan dungeon dan golem-golem ini, kelihatannya aku bakal
sibuk banget untuk beberapa waktu ke depan. ...Hmm? Benda apa itu di sana?”
Walaupun mustahil
baginya untuk berkeringat, Miledi mini bergumam sendirian sembari memperagakan
gestur menyeka dahi. Lantas, sudut matanya mendadak menangkap sebuah benda
asing yang tidak lazim. Sebuah belati yang menancap di dinding, dengan sebuah
objek hitam pekat tergantung di gagangnya. “Sebenarnya apa itu ya?” gumamnya
sembari melangkah mendekat, hingga akhirnya dia menyadari bentuk yang tidak
asing itu.
“Hah!?
Jangan-jangan benda ini...!?”
Objek hitam
pekat itu tidak lain adalah granat tangan buatan tangan Hajime sendiri. Tepat
sebelum terisap ke dalam lubang, sebagai bentuk pembalasan kecil-kecilan,
Hajime sempat melemparkan granat tangan yang diikatkan pada belati. Karena
sudah berulang kali melihatnya digunakan di dalam dungeon, Miledi menyadari
bahwa itu adalah bahan peledak, lalu berusaha melarikan diri dengan panik dan penuh
rasa takut. Masalahnya, Sihir Gravitasi saat ini sangat boros mana bagi tubuh
Miledi mini, dan cadangan tenaganya sudah terkuras habis pada serangan terakhir
tadi. Akibatnya, dia tidak sanggup meredam kekuatan ledakan tersebut.
Miledi mini
buru-buru memutar tumitnya dengan panik, namun sudah terlambat. Detik saat
Miledi mini berbalik arah, ruangan serba putih itu seketika dibanjiri kilatan
cahaya yang menyilaukan mata, disusul gelombang kejut dahsyat yang menghantam
segalanya.
Di bagian
terdalam dungeon, jeritan melengking seorang wanita yang berteriak “Hinyaaaa!!”
bergema memecah keheningan. Konon kabarnya, setelah kejadian itu ada sesosok
golem mini yang menangis sesenggukan karena beban perbaikan dungeonnya menjadi
berlipat ganda semakin berat...
Di sisi lain,
kelompok Hajime yang hanyut terbuang layaknya kotoran diseret dalam kecepatan
mengerikan melintasi tempat yang menyerupai terowongan bawah tanah yang dipenuhi
luapan arus deras. Tanpa ada celah sedikit pun untuk mengambil napas, mereka
murni meluncur maju di bawah permukaan air. Sebisa mungkin mereka berusaha
mengendalikan posisi tubuh agar tidak sampai melakukan kecerobohan fatal
seperti membentur dinding hingga jatuh pingsan.
Tepat pada saat
itulah, kelompok Hajime menangkap beberapa siluet yang berenang mendahului
mereka. Itu adalah kawanan ikan. Tampaknya lokasi tempat mereka hanyut ini
merupakan urat air bawah tanah yang terhubung langsung dengan sungai atau danau
lain di luar sana. Berbeda dengan kelompok Hajime yang hanya bisa pasrah
terombang-ambing diseret arus, kawanan ikan tersebut berenang dengan begitu
lincah di tengah arus deras, sehingga mereka menyalip kelompok Hajime dengan
sangat mudah satu demi satu.
Salah satu dari
kawanan ikan itu entah sejak kapan berenang bersisian tepat di samping wajah
Shea yang tengah menahan napasnya sekuat tenaga. Tanpa sengaja, Shea melirikkan
matanya ke arah ikan tersebut.
Pandangan mereka
saling bertemu. Antara Shea dan seekor ikan. Tidak, walaupun berbadan ikan,
makhluk itu memiliki wajah manusia, terlebih lagi mata dari wajah seorang pria
paruh baya. Terdengar tidak masuk akal memang, namun kenyataannya memang tepat
seperti itu. Singkatnya, makhluk yang saling bertatapan mata dengan Shea adalah
seekor ikan berwajah manusia. Ikan berwajah bapak-bapak yang terlihat angkuh dan
lesu tersebut mengingatkan pada sosok karakter peliharaan virtual legendaris di
masa lalu.
Mata Shea
membelalak lebar karena syok. Nyaris saja dia menghela napasnya, namun dia
buru-buru membekap mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Kendati demikian,
saking terkejutnya, dia sama sekali tidak sanggup memalingkan pandangannya. Shea
dan si bapak-bapak (ikan) itu terus saling bertatapan sembari melesat maju di
tengah arus deras!
Lantas, momen
antara Shea dan si bapak-bapak (ikan) yang sempat terasa berlangsung abadi itu tiba-tiba
menemui akhirnya secara tiba-tiba. Karena, sebuah suara bergema langsung di
dalam kepala Shea.
Apa yang kamu lihat?
Lengkap dengan
bunyi decakan lidah yang menyebalkan. Kali ini Shea benar-benar tidak bisa menahannya.
Di dalam air, dia langsung memuntahkan seluruh cadangan napasnya dengan bunyi buhoah yang spektakuler. Kemungkinan
besar, si bapak-bapak (ikan) ini adalah salah satu jenis monster. Dan ada
kemungkinan dia memiliki sihir bawaan semacam Telepati. Namun tanpa ada cara
untuk memastikannya, si bapak-bapak (ikan) itu berenang meliuk-liuk santai
membelah arus deras lalu melesat jauh ke depan dalam sekejap mata.
Yang tertinggal
di belakang hanyalah sesosok gadis bertelinga kelinci yang matanya telah
memutih dan hanyut tanpa daya terbawa arus air.
Sebuah kereta
kuda dan beberapa ekor kuda tengah melangkah santai menyusuri jalan raya yang
menghubungkan kota dengan kota, maupun desa dengan desa, diiringi ketukan derap
langkah berirama pakka-pakka. Tentu
saja, di atas punggung kuda-kuda itu ada penunggangnya. Tiga orang pria dan
seorang wanita yang berpenampilan layaknya petualang. Sementara di atas kereta
kuda, tepatnya di kursi kusir, duduk seorang gadis berusia sekitar 15 tahun dan
sesosok monster... ralat, seorang gadis berotot kekar.
“Sona-chaan,
sebentar lagi ada mata air lho, kita istirahat sebentar di sana yaa~”
“Siap, Crystabel-san.”
Sosok wanita berotot
yang dipanggil Crystabel itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah pemilik toko
pakaian di Kota Brooke yang dulu sempat melayani Yue dan Shea. Dan gadis muda
yang duduk di samping Crystabel adalah Sona Masaka, gadis maskot dari
Penginapan Masaka. Namanya memang terdengar seperti orang yang selalu terkejut,
namun dia sejatinya hanyalah gadis biasa yang sedikit memiliki rasa ingin tahu
tinggi dan pikiran yang agak terlalu romantis.
Saat ini
keduanya tengah dalam perjalanan pulang menuju Kota Brooke dari kota tetangga
dengan menyewa pengawalan para petualang. Persis seperti yang terlihat dari
tubuh kekarnya, Crystabel sangat kuat bagaikan monster, sehingga dia sering
pergi sendiri untuk mencari bahan-bahan kain pakaian. Kali ini pun dia sengaja
meninggalkan kota untuk urusan pengadaan barang dagangan. Sona kemudian ikut
menumpang dalam perjalanan tersebut. Mendengar kabar bahwa kerabatnya di kota
tetangga mengalami luka parah, dia pergi mengantarkan barang jengukan mewakili
kedua orang tuanya yang tidak bisa meninggalkan penginapan. Para petualang itu
sendiri awalnya adalah petualang dari Kota Brooke yang baru saja menyelesaikan
misi, sehingga mereka sekalian mengawal rombongan ini dalam perjalanan pulang.
Jarak menuju
Kota Brooke tinggal menyisakan sekitar satu hari perjalanan lagi. Rombongan Crystabel
memutuskan untuk mengambil istirahat makan siang di dekat mata air yang berada
di pinggir jalan raya.
Setibanya di
mata air, rombongan Crystabel memberi minum kuda-kuda mereka sembari mulai
menyiapkan makan siang di tepi mata air. Sona melangkah mendekat ke pinggir
mata air untuk menimba air. Namun tepat saat dia mencelupkan wadahnya ke dalam
mata air untuk mengambil air, gopoh!
Gopo-gopo-gobakh!! Tiba-tiba saja bagian tengah mata air mulai bergolak
berbuih dan air menyembur deras ke atas dalam sekejap mata.
“Kyaaa!”
“Sona-chan!”
Melihat Sona
yang menjerit lalu jatuh terduduk di tanah, Crystabel berlari secepat kilat
menghampirinya, menggendongnya demi melindunginya, lalu bergegas mundur kembali
ke posisi para petualang lainnya. Di saat yang sama, air yang menyembur ke atas
semakin mengganas, hingga akhirnya membentuk pilar air raksasa dengan
ketinggian yang diperkirakan mencapai lebih dari 10 meter.
Mata air ini
adalah tempat istirahat yang sudah sangat terkenal di sepanjang jalur jalan
raya, dan fenomena semacam ini belum pernah dilaporkan sekalipun sebelumnya.
Oleh sebab itu, Crystabel, Sona, dan para petualang lainnya terdiam dengan
mulut ternganga, mendongak menatap pilar air raksasa tersebut tanpa peduli
dengan percikan tetesan air yang menghujani mereka layaknya gerimis. Lalu...
“Duaaaaaaaarrghh!!”
“Nghhhhh!!”
“...”
Bersamaan dengan
momentum semburan air yang melesat ke atas, tiga... dua orang melayang keluar
sembari memekikkan jeritan panik. Sontak mata Crystabel dan yang lainnya nyaris
melompat keluar saking kagetnya sambil berseru “Apa-apaan itu!” Ketiga sosok
manusia yang terlempar keluar itu melayang di udara hingga ketinggian hampir 10
meter sembari menjerit, lalu jatuh mengempas air di sisi seberang mata air
tempat rombongan Crystabel berada dengan suara ceburan yang keras.
“...”
“...”
“...”
“...”
“...”
“...”
“S-Sebenarnya
ada apa ini...”
Para petualang
dan Crystabel terbungkam seribu bahasa. Gumaman lirih Sona mewakili isi hati
semua orang yang ada di sana.
“Uhuk, uhuk.
Cih, sialan banget nasibku. Bajingan itu, suatu hari nanti pasti akan kuhancurkan
sampai berkeping-keping. Yue, Shea. Kalian tidak apa-apa?”
“Uhuk-uhuk...
Mm, aku baik-baik saja.”
Hajime yang
berhasil berenang naik ke permukaan air sambil mengumpat kasar memastikan
keselamatan Yue dan Shea. Akan tetapi, hanya sahutan Yue saja yang terdengar
membalas.
“Shea? Hei,
Shea! Kamu di mana!?”
“Shea... di
mana?”
Meski dipanggil
berkali-kali, tidak ada tanda-tanda dirinya di sekeliling. Hajime bergegas
menyelam kembali ke dalam air sembari menyipitkan mata. Tepat seperti
dugaannya, tubuh Shea tengah tenggelam perlahan menuju ke dasar mata air.
Kondisinya yang hilang kesadaran ditambah bobot berat dari Drucken membuatnya
mustahil untuk bisa mengapung sendiri.
Hajime menarik
keluar bongkahan mineral super berat yang telah dikompresi dari dalam Ruang
Harta, menjadikannya pemberat untuk menyelam cepat ke dasar, lalu mengentakkan
kakinya ke tanah untuk menarik tubuh Shea naik ke permukaan.
Hajime menyeret
tubuh Shea naik ke tepi daratan. Shea yang dibaringkan telentang tampak pucat
dengan mata memutih ke atas, serta napas dan detak jantungnya telah berhenti
total. Entah hal mengerikan macam apa yang baru saja dilihatnya, wajahnya
tampak sedikit berkedut tegang meski tengah pingsan tidak sadarkan diri.
“Yue, lakukan
napas buatan!”
“...Na... apa?”
“Ah, maksudku,
amankan jalur pernapasannya terus...”
“???”
Melihat kondisi
gawat Shea, Hajime bermaksud melakukan CPR dan memberikan instruksi pada Yue,
namun Yue hanya memiringkan kepalanya dengan tanda tanya besar melayang di atas
kepalanya. Di dunia ini, ada kemungkinan CPR memang tidak pernah ada. Mengingat
tubuhnya tidak mengalami luka luar dan meminumkan cairan tambahan pada orang
yang baru saja menenggak air terlalu banyak justru berbahaya, Air Ilahi sama
sekali tidak berguna di situasi ini. Yue sendiri tidak menguasai sihir
penyembuhan, dan pastinya dia tidak mengetahui sihir khusus yang sanggup
memompa jantung sekaligus mengeluarkan air dari paru-paru secara spesifik.
Tidak diketahui
sudah sejak kapan Shea kehilangan kesadarannya, namun yang pasti situasi saat
ini benar-benar berpacu dengan waktu. Membulatkan tekadnya, Hajime melakukan CPR
pada Shea.
Tentu saja jika
demikian... tindakan dari mulut ke mulut sudah pasti tidak terelakkan...
Menyaksikannya,
wajah Yue sempat terlihat masam sesaat. Akan tetapi, karena paham betul bahwa
itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Shea, dia hanya
memandanginya dalam diam. Benar-benar diam, menatap lurus tanpa berkedip
sedikit pun.
Sebisa mungkin
mengabaikan tatapan hampa yang menghunus dari Yue, Hajime terus mengulang CPR.
Astaga. Padahal baru saja kubilang kagum melihatnya,
tapi begitu semuanya beres malah nyaris mati begini... kamu ini benar-benar
kelinci yang serba mengecewakan.
Tepat saat
Hajime tersenyum getir di dalam benaknya, usai beberapa kali pemberian napas
buatan, Shea akhirnya memuntahkan air dari mulutnya. Hajime segera memiringkan
kepalanya ke samping agar airnya tidak menyumbat saluran pernapasan. Secara
posisi, tubuh Hajime kini sepenuhnya berada tepat di atas tubuh Shea.
“Uhuk, uhuk...
Hajime-san?”
“Ya, ini
Hajime-san. Lagian bisa-bisanya kamu nyaris mati cuma gara-gara begi...ngh!?”
Menghadapi Shea
yang terbaring sembari terbatuk-batuk, Hajime memasang wajah jengah dari jarak
yang sangat dekat, meski ada kelegaan yang tersirat di matanya. Namun melihat Hajime
dengan tatapan sayu, entah apa yang melintas di benaknya, Shea mendadak
menyergap memeluk leher Hajime dengan kuat lalu langsung mencium bibirnya. Reaksi
yang sama sekali tidak terduga serta jarak yang kelewat intim membuat Hajime
terlambat berkelit.
“Mmph!? Mmmh!!”
“Ammh, nchuu.”
Shea mendekap
kepala Hajime dengan kedua tangannya, melingkarkan kedua kakinya ke pinggang
pemuda itu untuk mengunci tubuhnya rapat-rapat, lalu tanpa ragu dan tanpa ampun
menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Hajime. Tenaga monster milik Shea
berpadu dengan posisi tubuh Hajime yang canggung membuatnya tidak sanggup
melepaskan diri secepatnya.
Sejujurnya, pada
pemberian napas buatan yang ke sekian kali tadi, entah bagaimana Shea sempat
menyadari bahwa dirinya tengah dicium oleh Hajime. Tubuhnya memang tidak bisa
digerakkan dan kesadarannya nyaris lenyap, namun Penguatan Tubuh yang dia
aktifkan secara refleks saat menenggak air waktu itu mungkin telah memicu
kondisi persepsi yang unik tersebut.
Menerima ciuman
yang berulang kali mendarat di bibirnya, jarum meteran emosi Shea seketika
melonjak menembus batas maksimal. Bertekad tidak akan melepaskannya, dia
mengunci tubuh Hajime erat-erat lalu membalas ciuman pemuda itu dengan penuh
gelora tanpa memikirkan apa pun lagi.
Di sisi lain,
bagaimana dengan kondisi Yue yang menyaksikannya secara langsung? Dia terlihat
sangat jengkel. Meskipun tampak luar biasa jengkel, dia sama sekali tidak
berniat melerai. Mulutnya hanya berkomat-kamit bergumam lirih, “Khusus sekarang
saja, hadiah...” Tampaknya Yue sangat mengerti luapan perasaan Shea, sehingga dia
memutuskan untuk memaafkannya sebagai bentuk hadiah atas perjuangan kerasnya di
dalam dungeon.
Meski begitu,
binar cahaya di matanya tampak nyaris padam total, menegaskan bahwa batin sang
putri vampir tengah dilanda pergulatan emosi yang luar biasa. Malam ini, Hajime
dipastikan tidak akan bisa beristirahat barang sejenak pun demi meladeni Yue
yang berubah ke mode manja tanpa batas... kemungkinan besar.
“Waaa, apa ini!?
Sebenarnya apa-apaan situasi begini!? H-Hebat banget... basah kuyup, saling
membelit begitu... p-panas sekali... padahal di tempat terbuka begini! A-Aneh
sekali!”
Yang baru saja
tiba di tempat itu adalah Sona-chan, gadis maskot penginapan yang kepalanya
dipenuhi fantasi liar. Disusul Crystabel yang meliuk-liukkan tubuhnya sembari
mencoba mengingat sosok Yue dan Shea dari ingatannya, “Ara? Kalau tidak salah
kalian ini...” para petualang pria yang matanya membara oleh kobaran api
kecemburuan hingga tangan yang bergerak refleks ke arah gagang pedang harus
ditahan sekuat tenaga oleh tangan lainnya, serta petualang wanita yang menatap
gerombolan pria itu dengan tatapan mata luar biasa dingin.
Menghadapi Shea
yang masih terus mengisap bibirnya dengan penuh gelora diiringi embusan napas
dan tatapan mata yang panas, urat amarah seketika menyembul di dahi Hajime
sebelum dia mengangkat seluruh tubuh Shea ke atas. Kemudian, dia mencengkeram
kuat pantat montok Shea lalu meremasnya dengan sangat keras.
“Ahn!”
Shea spontan
melenguh tertahan. Memanfaatkan celah kuncian Shea yang melonggar selama
sepersekian detik, Hajime dengan cepat melepaskan diri lalu melemparnya
langsung ke tengah mata air.
“Ukyaaaa!”
Diiringi suara
ceburan air yang spektakuler dan jeritan melengking saat Shea jatuh ke dalam
air, Hajime menyugar rambutnya yang basah ke belakang dengan napas memburu.
“A-Aku beneran
tidak boleh lengah sedikit pun. Menyerang orang tepat setelah disadarkan dari
kematian... itu jelas di luar batas perkiraanku.”
Melihat Shea
yang sudah mulai merangkak naik dari mata air dengan poni terurai ke depan
persis seperti hantu sumur, wajah Hajime seketika dipenuhi ekspresi bergidik
ngeri.
“Uugh~ Tega
banget sih~ Padahal Hajime-san sendiri yang menciumku duluan ~”
“Hah? Yang tadi
itu tindakan pertolongan pertama... tunggu, kamu sadar dari tadi?”
“Hmm, antara
sadar dan tidak sadar sih... tapi aku paham banget kok. Pokoknya aku tahu kalau
aku lagi dicium sama Hajime-san! Uhehe.”
“Berhenti
tertawa begitu. ...Dengar ya, itu hanya tindakan medis darurat, tidak ada makna
mendalam apa pun di baliknya, mengerti? Jangan berharap yang aneh-aneh!”
“Masa sih? Tapi ciuman
tetaplah ciuman lho. Setelah ini saatnya masuk ke fase bucin!”
“Tidak. Lagian
Yue, kamu juga tolong hentikan dia dong.”
“...Khusus
sekarang... tapi Shea sudah berjuang keras... tidak, tapi...”
“Yue~? Halo,
Yue-san?”
Melihat Yue yang
masih terus berkomat-kamit sendirian sembari menatap ruang hampa, Hajime
menghela napas panjang menyadari yang satu ini pun sudah tidak bisa diajak
bicara. Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke arah rombongan Crystabel yang
sedari tadi mengintip gerak-gerik mereka dari dekat.
Pandangan Hajime
menyapu para petualang, sempat berhenti sejenak di wajah Sona, beralih ke
Crystabel, lalu kembali ke wajah Sona dalam sekejap. Tampaknya dia memutuskan
untuk menganggap sosok berotot itu tidak pernah ada.
Mendapat tatapan
mata dari Hajime, tubuh Sona terlonjak kaget sebelum wajahnya seketika merona
merah padam hingga ke telinga.
“M-Maaf sudah
mengganggu! S-Silakan, abaikan saja kami dan lanjutkan adegan mesra tadi sesuka
hati!”
Tepat saat Sona
memutar tumit hendak kabur sembari meneriakkan hal tersebut, tengkuk lehernya
dijinjing oleh Crystabel. Sosok berotot itu melangkah menghampiri kelompok
Hajime. Walaupun Hajime merasa sangat ngeri melihat monster yang melangkah
mendekat, Shea di sampingnya dengan cepat bersikap akrab sembari berujar “Ah,
Pemilik Toko” sehingga dia memutuskan untuk meladeni percakapan tersebut.
Hasilnya, mereka
akhirnya mengetahui bahwa lokasi mereka saat ini berada di wilayah yang hanya
berjarak sekitar satu hari perjalanan dari Kota Brooke, dan kelompok Hajime pun
memutuskan untuk ikut mampir ke kota tersebut. Mengingat Crystabel menawarkan
tumpangan di kereta kudanya, mereka memilih menerima kebaikan hati itu. Setelah
berganti ke pakaian kering, mereka melanjutkan perjalanan sembari mengobrolkan
banyak hal di bawah hangatnya sinar mentari, diiringi irama langkah kaki kuda
yang menjadi musik latar alami.
Bersama rekan
baru di sisi mereka, penaklukan dungeon besar kedua telah selesai dilaksanakan.
Tenggelam dalam
rasa haru atas pencapaian tersebut, Hajime berbaring di atas bak kereta kuda,
menatap silau ke arah matahari yang bersinar terang benderang, tersenyum tipis
di sudut bibirnya saat membayangkan petualangan penuh liku yang menanti mereka
di masa depan.