Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

Arifureta: From Commonplace to World's Strongest Volume 2 Chapter 4

Bab 4: Miledi Reiseeen~ 

Di salah satu sudut istana Kerajaan Heiligh, terdapat sebuah ruang makan sekaligus salon santai yang dibuka khusus untuk para siswa dari dunia lain yang terpanggil ke dunia ini. Masing-masing siswa didampingi oleh pelayan pribadi, dan setiap kali mereka datang ke salon ini lalu mengedarkan pandangan, para pelayan akan langsung tanggap bahwa ada permintaan yang diinginkan lalu bergegas mendekat. Dengan begitu, baik makanan maupun minuman, apa pun yang dipesan akan segera disajikan dengan gerakan anggun dan terlatih.

Mengenai kamar tidur pun, setiap siswa telah diberi kamar pribadi masing-masing, namun mengurung diri sendirian di kamar di tanah dunia lain terasa begitu sepi dan mengundang rasa kesepian, sehingga terkecuali segelintir orang, sebagian besar dari mereka menghabiskan hari-hari dengan mengobrol santai dan menghabiskan waktu di salon ini.

Tentu saja, mereka dipanggil ke dunia ini bukan untuk menghabiskan waktu tanpa arti. Tujuan utama mereka adalah berperang dan meraih kemenangan melawan musuh bebuyutan umat manusia, ras iblis, sebagai kekuatan tempur perwakilan dari ras manusia.

Lalu, mengapa sebagian besar pemuda dan pemudi itu malah menyia-nyiakan waktu dengan berbincang santai di dalam salon pada siang bolong seperti ini... sejujurnya, itu karena hati mereka telah hancur lebur.

Beberapa bulan yang lalu, para siswa itu menyaksikan kematian secara langsung di depan mata kepala mereka sendiri. Di dasar bumi yang tidak terjangkau sinar mentari bernama Dungeon Besar Orcus, mereka diserang oleh niat membunuh dari monster-monster yang sama sekali tidak mengenal belas kasihan, terpojok hingga masing-masing dari mereka melihat bayangan kematian diri sendiri, dan pada kenyataannya, seorang teman sekelas mereka benar-benar terseret ke dalam rengkuhan maut lalu lenyap selamanya.

Fantasi pedang dan sihir.

Gambaran yang dipenuhi mimpi dan harapan yang memikat itu seketika hancur berkeping-keping di hadapan kejamnya kenyataan yang luar biasa dingin serta kemustahilan yang melesat jauh melampaui perkiraan mereka. Begitu melangkah ke medan perang, kita akan mati. Fakta yang sangat lumrah itu terpatri begitu dalam hingga ke sumsum tulang mereka lewat pengorbanan yang terlalu besar.

Berlatih sihir dengan penuh semangat, merasakan suka dan duka atas bakat yang ditunjukkan oleh pekerjaan masing-masing, lalu mabuk dalam sensasi kepuasan saat membunuh monster. Perasaan semacam itu sudah tidak lagi bersisa sedikit pun di dalam dada. Siapa pun orangnya, jika waktunya mati tiba, maka dia akan mati. Mereka yang telah memahami kenyataan itu dengan sesungguhnya tidak hanya kehilangan kemampuan untuk bertarung, namun bahkan tidak lagi sanggup melangkahkan kaki keluar dari ibu kota kerajaan.

Tentu saja, petinggi kerajaan dan Gereja Suci terus mendesak para siswa tersebut untuk kembali bertarung. Mereka tidak menggunakan cara-cara yang kasar. Pendekatan yang dilakukan berupa bujukan lewat kata-kata. Kendati demikian, bagi batin para siswa yang sudah telanjur terpojok, bujukan-bujukan itu justru kian menyudutkan mereka menuju keputusasaan. Jika tidak menurut, bukankah mereka akan diusir dari tempat ini? Jika sampai terjadi, bukankah mereka akan dilemparkan tanpa perlindungan siapa pun ke dalam dunia di mana nyawa manusia dihargai murah ini?

Tepat di saat genting itulah. Menimbang karakteristik dan kelangkaan pekerjaan yang dimilikinya, satu-satunya sosok dewasa di antara kelompok yang terpanggil, sang guru bernama Hatayama Aiko yang sempat terpisah dari para murid untuk melakukan ekspedisi demi mengatasi masalah pangan di berbagai wilayah, akhirnya kembali ke ibu kota.

Setibanya di istana dan mendengar kabar mengenai murid laki-lakinya yang telah tiada, Aiko sempat sangat terguncang. Akan tetapi, begitu melihat kondisi para muridnya yang tampak begitu tertekan bahkan hanya dari sekali pandang, Aiko lekas bangkit berdiri. Berbekal sikap yang tegas, tekad pantang mundur, dan bahkan memanfaatkan nilai kelangkaan dirinya sendiri dalam bernegosiasi, dia berhasil menghentikan desakan para petinggi yang menuntut para siswa untuk kembali ke garis depan.

Hasilnya, para siswa tersebut tidak lagi diharuskan terjun ke medan pertempuran, mendapatkan jaminan kehidupan di dalam istana berkat perlindungan Aiko, dan berakhir saling berkumpul sembari mengobrol santai di dalam salon seperti saat ini.

“Hei, kalian sudah dengar belum? Rombongan Amanogawa akhirnya berhasil menembus lantai 70, lho.”

“Seriusan? Padahal belum lama ini mereka baru saja mulai menaklukkan lantai 66 yang belum pernah diinjak orang.”

“Memang pantas disebut kelompok pahlawan ya? Kualitas mereka jelas beda jauh dibanding orang biasa seperti kita.”

Sembari mengangkat bahu dan berucap dengan ekspresi sok tenang, terlihat wajah yang campur aduk dan sulit diartikan dari salah seorang siswa laki-laki bernama Tamai Atsushi. Emosi yang paling dominan mungkin adalah rasa iri. Melihat kelompok Kouki yang berhasil lolos dari kematian namun tetap berani menantang wilayah berbahaya yang belum pernah dijamah siapa pun, dia tidak kuasa menahan rasa iri atas keberhasilan mereka melakukan hal tersebut. Di saat yang sama, rasa malu pada diri sendiri, kecanggungan karena berusaha memalingkan muka dari kenyataan itu, serta bayangan ketakutan mendasar yang pasti meluap setiap kali mengingat hari nahas tersebut tampak berkelebat di wajahnya.

Perasaan itu tidak hanya dialami oleh Atsushi seorang, melainkan sebagian besar siswa kelompok tinggal yang kini berada di salon ini pun merasakan hal yang serupa.

Ingin pulang ke Jepang, kembali ke rumah. Demi mewujudkannya, mereka harus memenangkan perang melawan iblis dan meminjam kekuatan Ehit, Dewa Pencipta yang disembah oleh Gereja Suci yang telah memanggil mereka ke dunia Tortus ini. Meski paham betul akan hal itu, semangat di dalam hati mereka tidak kunjung bangkit. Pekatnya warna hitam ketakutan telah melumuri dan menenggelamkan warna putih dari tekad mereka.

“Benar juga ya. Bagaimanapun, memang harus anak-anak yang luar biasa seperti Kaori-chan atau Shizuku-cchi yang bisa melakukannya.”

“Iya, iya. Shizuku waktu itu benar-benar keren banget, ‘kan? Aku saja sampai nyaris jatuh cinta padanya lho~”

“Ahaha, apaan sih~ Kalau urusan saling suka sesama cewek, punya Suzu saja sudah lebih dari cukup!”

“Eh, Suzu-chan itu beneran suka cewek ya!?”

“Bukan, dia itu dalamnya cuma om-om mesum saja kok.”

Sama halnya dengan Atsushi dan anak-anak laki-laki lainnya, para siswi pun terus melanjutkan percakapan yang mengambang di permukaan dengan gaya bicara yang tampak ceria dan bercanda, kendati di balik wajah mereka tersirat rasa iri dan perasaan bersalah. Atsushi dan anak laki-laki lainnya ikut bergabung ke dalam obrolan tersebut, melanjutkan percakapan hampa dan kering yang sama sekali tidak bermakna. Seolah-olah mereka merasa takut jika keheningan sampai menyela di antara mereka.

Menyaksikan tingkah laku para pemuda dan pemudi tersebut, para pelayan yang bersiaga di dalam salon pun memandang mereka dengan berbagai macam sorot mata, walaupun tidak seorang dari mereka yang menunjukannya secara terang-terangan. Ada tatapan dingin yang mempertanyakan mengapa mereka menyia-nyiakan waktu di tempat seperti ini padahal telah dipilih oleh dewa dan saat ini rekan-rekan mereka tengah bertaruh nyawa di medan perang; ada tatapan iba penuh rasa kasihan yang menyadari ketakutan yang bersarang di dada para siswa serta kenyataan bahwa mereka tidak bisa pulang ke kampung halaman; ada tatapan penuh rasa bersalah karena telah menyudutkan anak-anak yang semula hanyalah siswa biasa hingga ke titik ini; dan ada pula tatapan hampa tanpa emosi dari mereka yang tampaknya sudah menyerah dan tidak lagi peduli...

Sorot mata yang diperlihatkan sekilas oleh para pelayan tersebut mencerminkan persis perasaan yang dimiliki oleh para bangsawan negeri ini maupun pihak Gereja Suci terhadap kelompok siswa yang tinggal di istana. Tentu saja, proporsinya berbeda-beda tergantung dari faksi mana mereka berasal.

Dan kelompok siswa yang tinggal ini pun samar-samar bisa merasakan atmosfer dari perasaan yang ditujukan kepada mereka. Hal itulah yang terus mendorong mereka untuk melarikan diri dari kenyataan dan saling menjilat luka dengan percakapan-percakapan hampa.

Tepat di saat itulah, sebuah gumaman pelan meluncur lirih dari bibir seseorang.

“...Padahal Nona Shizuku pun tetaplah seorang gadis biasa...”

Ucapan itu sejatinya hanyalah sebuah gumaman tanpa sengaja, yang sama sekali tidak ditujukan untuk didengar oleh siapa pun. Namun sungguh nahas, terlontar tepat saat keheningan menyela pembicaraan, suara itu mau tidak mau sampai ke telinga semua orang yang berada di dalam salon.

Para siswa terperanjat, lalu serempak mengarahkan pandangan ke arah pelayan yang baru saja melontarkan gumaman tersebut—Nia, pelayan yang sehari-harinya bertugas melayani Shizuku. Nia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan sikap yang jelas-jelas menyiratkan bahwa dirinya baru saja kelepasan bicara, namun...

“...Apa maksudmu? Ada yang mau kamu keluhkan, hah?”

Atsushi mengerutkan pangkal alisnya, mengarahkan nada bicara rendah yang terdengar bagai geraman tertahan ke arah Nia. Walaupun memancarkan atmosfer yang penuh ancaman, sorot matanya justru terlempar miring ke bawah. Sikap itu memperlihatkan dengan jelas bahwa reaksi marahnya terhadap Nia hanyalah bentuk pelampiasan rasa frustrasi.

“Tidak. Saya sama sekali tidak punya keluhan apa pun. Mohon maafkan kelancangan saya.”

Sekali lagi Nia membungkuk dalam-dalam di hadapan para siswa. Namun bagi Atsushi, sikap Nia yang begitu sopan dan tulus itu justru kian menggores harga dirinya, memancingnya untuk kembali melontarkan cercaan.

“Tidak ada yang menyuruhmu minta maaf! Kamu lagi mengejek kami, ‘kan!? Kamu bilang Yaegashi-san juga tidak ada bedanya... maksudmu, meski tidak ada bedanya tapi cuma kami yang tidak ikut bertarung itu memalukan, itu yang mau kamu katakan!? Bilang langsung depan muka sini!”

“H-Hei, Atsushi... sudahlah, hentikan.”

“Buat apa kamu melampiaskannya ke pelayan begitu?”

Melihat Atsushi yang melontarkan bentakan penuh amarah layaknya anak kecil yang tengah mengamuk, kedua temannya, Aikawa Noboru dan Nimura Akito, langsung bersuara berusaha menenangkannya.

“Berisik kalian! Aku cuma... aku cuma... sialan...”

“Atsushi...”

“Tamai-kun...”

Berbagai emosi terpendam yang tidak bisa diutarakan lewat kata-kata berputar liar di dalam dadanya, menampakkan kekesalan Atsushi yang terus membuncah. Di sampingnya, Aikawa dan Akito memalingkan wajah dari Atsushi dengan ekspresi yang sulit diartikan, sementara beberapa siswi yang sempat hendak menegur Atsushi pun kembali terbungkam dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Mereka semua mengerti. Perasaan berat dan pekat yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, perasaan yang menjerat jiwa Atsushi layaknya terbelit sarang laba-laba.

Melihat Atsushi yang menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya, Nia melangkah maju.

“Tuan Atsushi, saya benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengucapkan sesuatu yang menyinggung perasaan Anda. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud menyindir Anda maupun yang lainnya. Saya mohon, percayalah akan hal itu...”

“Nia-san... tidak, anu, aku yang harusnya... minta maaf...”

Melihat Nia yang kembali membungkuk dalam-dalam sembari meminta maaf lewat nada suara dan sikap yang memancarkan ketulusan, Atsushi memalingkan pandangannya dengan canggung, lalu membalas permohonan maaf itu setelah amarahnya perlahan mereda. Pasalnya, melampiaskan amarah hingga memaksa seorang wanita yang sejatinya tidak berbuat salah untuk menundukkan kepala di hadapannya adalah hal yang memalukan dan membuatnya merasa sangat bersalah.

Menghadapi Atsushi, Nia tersenyum tipis, lalu kali ini dia memilih untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja dan mulai berbicara demi menyampaikan maksud sebenarnya dari perkataannya tadi.

“Kepada semuanya, jika perkataan ceroboh saya barusan telah melukai perasaan Anda sekalian, saya minta maaf. Namun, sebagai pelayan yang bertugas mendampingi Nona Shizuku, tidak, sebagai seorang teman, saya hanya berpikir bahwa Nona Shizuku pun adalah seorang gadis yang terkadang seharusnya dilindungi, diperbolehkan untuk bergantung, dan berhak untuk bersikap manja kepada orang lain.”

“...Tapi ‘kan, Shizuku-cchi itu super kuat. Dia selalu bisa diandalkan kapan saja... Sejujurnya, aku bahkan tidak bisa membayangkan Shizuku-cchi yang lemah.”

“Benar juga, ya...”

Salah seorang siswi yang ikut tinggal di Kerajaan, Miyazaki Nana, mengucapkan itu dengan tawa kecut, yang segera disetujui lewat anggukan oleh temannya, Sugawara Taeko.

“Memang benar, walaupun saya selalu mendampingi dan melayani Nona Shizuku, saya tidak pernah sekalipun melihat beliau memperlihatkan kelemahannya. Akan tetapi, mustahil ada manusia yang sempurna di dunia ini. Nona Shizuku pun hanyalah seorang gadis remaja yang hingga beberapa waktu lalu hanyalah seorang siswi biasa. Oleh karena itu, meski untuk saat ini beliau masih baik-baik saja... di istana ini, tempat beliau akhirnya bisa kembali pulang namun tidak sempat untuk menenangkan hati, saya sangat mengkhawatirkan anggapan kalian yang berpikir bahwa ‘wajar saja jika Nona Shizuku sanggup melakukannya’ justru akan perlahan menyudutkan hati beliau.”

“Nia-san...”

Mendapati bahwa perkataan barusan lahir dari rasa kepedulian yang begitu mendalam terhadap Shizuku di luar dugaan mereka, Nana, Atsushi, dan yang lainnya tertegun seraya menggeser posisi duduk mereka dengan canggung.

Nia yang ditugaskan sebagai pelayan pribadi Shizuku sejatinya berasal dari garis keturunan keluarga kesatria. Sejak kecil dia telah mendalami ilmu pedang di bawah bimbingan ayah dan kakak-kakak laki-lakinya, sehingga dengan Shizuku yang sama-sama telah berlatih pedang sejak usia dini, keduanya dengan cepat menjadi akrab berkat topik mengenai ilmu pedang serta latar belakang keluarga yang sangat mirip. Meski awalnya Nia diliputi ketegangan hebat tanpa henti akibat tekanan harus melayani Utusan Dewa, kini dia bahkan sanggup menyebut Shizuku sebagai seorang teman tanpa rasa ragu sedikit pun. Justru karena itulah dia benar-benar mencemaskan sahabatnya dari dunia lain yang saat ini tengah bertaruh nyawa di lantai yang belum pernah diinjak oleh siapa pun, dan oleh sebab itulah hatinya bergejolak mendengar perkataan para siswa yang memperlakukan Shizuku dengan sangat istimewa. Dia takut jika ekspektasi yang terlalu besar itu kelak akan mengikis habis batin Shizuku hingga hancur.

Tepat pada saat itulah, salah seorang siswi yang sedari tadi hanya duduk membisu di salon tanpa ikut bergabung ke dalam percakapan, yang hanya menatap kosong ke kejauhan, mendadak menggumamkan kalimat lirih.

“Semuanya... tidak ada bedanya, ya...”

“Yuka? Ada apa? Kamu tidak apa-apa?”

“A-Akhirnya Yuka-cchi bersuara lagi... Kamu beneran gak apa-apa?”

Taeko dan Nana memusatkan perhatian mereka ke arah teman mereka, Sonobe Yuka, dengan tatapan yang bercampur antara rasa terkejut dan cemas. Keterkejutan dan kekhawatiran mereka berdua tentu sangat beralasan. Soalnya, sejak hari saat dia berhasil lolos dari kematian dan kembali hidup-hidup dari sana, Yuka berubah menjadi apatis dan kehilangan seluruh semangat hidupnya seolah jiwanya telah melayang pergi. Padahal semula dia adalah gadis yang agak keras kepala dan energik, baik dalam artian positif maupun negatif, namun kini dia berubah menjadi pendiam, bahkan berada dalam kondisi parah di mana jika tidak diajak keluar oleh teman-temannya dia hanya akan duduk termenung di kursi kamarnya seharian sembari menatap kosong ke arah luar jendela. Mengingat dirinya dipandang sebagai sosok yang mengalami luka batin paling dalam di antara seluruh kelompok siswa yang tinggal di istana, fakta bahwa Yuka kini mulai berbicara atas kehendaknya sendiri tentu menjadi sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan bagi mereka.

Akan tetapi, yang bersangkutan tampaknya sama sekali tidak menyadari reaksi kedua temannya dan terus menyambung kalimatnya sembari tetap menatap ke udara kosong.

“...Benar juga ya. Bukan cuma Shizuku. Kaori-chan, Sakagami-kun, Nagayama-kun dan yang lainnya, rombongan Hiyama, bahkan Amanogawa-kun pun... tidak ada bedanya. Setidaknya, dia orang biasa... tidak, dia bahkan di bawah rata-rata. Tapi... dibanding siapa pun... padahal begitu, aku malah... padahal kita semua sama... kalau begitu, aku...”

Untaian kata yang tidak berpola. Sebuah luapan isi hati yang tidak ditujukan untuk didengar oleh siapa pun. Namun di dalam diri Yuka yang selama ini terus mengurung diri dalam keputusasaan, sesuatu perlahan mulai bergerak bangkit.

Menghadapi Yuka yang terus berkomat-kamit sendirian, Nana dan Taeko semakin cemas, namun menyaksikan sepasang pupil mata Yuka yang menatap ruang kosong perlahan mulai memancarkan kembali secercah binar cahaya, keduanya saling bertukar pandang. Siswa-siswi lain yang turut memperhatikan gerak-gerik Yuka dengan rasa penasaran pun saling melempar pandang dengan wajah bingung yang kentara.

“Nia-san. Kapan Ai-chan-sensei berangkat, ya?”

“Nona Aiko? Seingat saya, beliau dijadwalkan berangkat besok pagi. Tujuannya adalah kota di tepi danau, Ur, sehingga kemungkinan kepulangannya akan memakan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu lagi.”

“Wah, besok ya... tapi, kurasa malah lebih bagus. Hal ini kalau ditunda-tunda nanti niatnya malah menciut.”

Mendengar jawaban Nia, Yuka menyunggingkan tawa getir lalu bangkit berdiri dari kursinya dengan penuh tenaga. Menyaksikan gerakan yang memancarkan dinamika dan ketegasan itu, Nana dan Taeko sontak membelalakkan mata. Pemandangan dari sang sahabat yang sudah sangat lama tidak pernah mereka lihat. Tanpa sadar, Nana bertanya.

“T-Tunggu sebentar, Yuka-cchi. Tiba-tiba kenapa sih? Aku sama sekali tidak paham maksudmu.”

“Iya, bagaimana ya, rasanya aku sudah muak cuma diam terus begini. Makanya, besok aku akan ikut ekspedisinya Ai-chan.”

Mendengar keputusan Yuka yang dilontarkan dengan begitu santai, bukan hanya Nana dan Taeko, melainkan seluruh siswa kelompok tinggal di ruangan itu seketika terperangah dengan wajah melongo. Hal itu tentu sangat wajar. Sebab, Yuka adalah sosok yang menempati urutan teratas sebagai siswa yang hatinya paling hancur lebur. Tatapan mata kosong, sikap apatis tanpa tenaga, dan sesekali wajahnya terdistorsi oleh rasa takut... itulah sosok Yuka yang selalu mereka lihat semenjak kembali ke Kerajaan. Fakta bahwa sosok itu mendadak kembali seperti semula tidak pelak membuat Nana dan yang lainnya sangat kebingungan.

“H-Hei, Sonobe. Kamu ini sebenarnya kenapa sih? Sikapmu aneh banget tahu? Tenang dulu sedikit.”

Atsushi yang baru tersadar dari rasa terkejutnya menegur dengan nada panik. Akan tetapi...

“Aku tenang kok, Tamai-kun. Dan ini bukan keputusan yang mendadak. ...Sejak dulu, aku tahu kita tidak bisa terus-terusan begini. Waktu ‘dia’ mati, aku takut, aku tidak mengerti apa-apa, isi kepalaku berantakan... tapi, aku sadar kita harus melakukan sesuatu. Bukannya Tamai-kun dan kalian semua juga merasakan hal yang sama?”

“...”

Mendengar perkataan Yuka, Atsushi tercekat kehabisan napas. Di saat yang sama, bibirnya terkatup rapat seolah kata-katanya tertelan kembali ke dalam tenggorokan. Seluruh siswa kelompok tinggal lainnya serempak membuang muka dengan canggung.

Melihat reaksi rekan-rekannya, Yuka tidak melontarkan cercaan apa pun, malahan dia mengangkat bahu seolah memahami betul perasaan mereka, lalu mulai melangkah menuju pintu keluar salon.

“T-Tunggu dulu, Sonobe! Kamu beneran mau pergi!? Kali ini kamu beneran bisa mati! Tempat ini bukan dunia manga atau film! Hal-hal yang menguntungkan kita tidak akan terjadi begitu saja di sini! Makanya, makanya dia sampai mati di sana, ‘kan!? Padahal tidak punya bakat apa-apa, tapi bertingkah sok pahlawan dan mati semudah itu!! Aku... aku tidak mau jadi orang bodoh seperti dia... Sonobe, jangan gegabah!”

Atsushi sempat berteriak dengan nada penuh emosi yang meledak-ledak, namun perlahan suaranya kehilangan tenaga selagi dia menundukkan kepala berusaha menahan langkah Yuka. Menghadapi Atsushi, bukan, menghadapi rekan-rekan kelompok tinggal lainnya, Yuka menjawab dengan nada tenang tanpa menoleh ke belakang.

“...Tapi, berkat orang yang kamu sebut tidak berbakat dan bodoh itulah, aku bisa selamat. Tidak, kita semua terselamatkan olehnya.”

“Itu ‘kan...”

“Aku sama sekali tidak berniat menyuruh Tamai-kun dan yang lainnya ikut denganku kok. Hanya saja, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Cuma itu. Tentu saja, kalau ada banyak orang yang mau ikut denganku, aku senang banget.”

Menoleh sekilas dari balik pundaknya, sembari menyunggingkan senyuman tipis meski wajahnya tampak sedikit tegang, Yuka membuat Atsushi hanya sanggup menganga tanpa suara. Pada akhirnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dan dia roboh kembali ke kursinya layaknya boneka yang putus tali pengendalinya. Yuka lantas melangkah keluar meninggalkan ruangan.

Meninggalkan anak-anak kelompok tinggal yang masih tertegun membisu maupun menundukkan kepala dengan ekspresi yang tampak bungkam, Taeko dan Nana buru-buru berlari mengejar Yuka. Berhasil menyusul di lorong, keduanya berbicara pada Yuka dengan kebingungan yang tidak lagi bisa disembunyikan.

“Hei, Yuka. Kamu beneran mau ikut Ai-chan-sensei? Kali ini kamu bener-bener bisa mati lho?”

“Aku tahu. Tapi, aku memang tidak bisa terus-terusan begini. Nyaliku memang tidak cukup besar untuk menyusul kelompoknya Amanogawa-kun, tapi setidaknya aku akan melindungi Ai-chan.”

Melihat nada bicara dan sorot mata yang sarat akan keteguhan tekad tersebut, Nana dan Taeko saling beradu pandang. Lantas, Nana bertanya dengan nada ragu-ragu.

“Yuka-cchi... anu, jangan-jangan, soal Nagumo...?”

“Ngomong apa sih kamu. Kepribadianku tidak sedangkal itu.”

“Masa sih?”

“Ya iyalah. Lagipula, melihat latihan Kaori-chan yang mengerikan seperti kesurupan itu dan bagaimana dia masih begitu percaya kalau anak itu masih hidup, siapa pun yang berani menyela di antara mereka pantas disebut pahlawan sejati. Kalau aku punya nyali sebesar itu, dari awal aku tidak akan ikut mengurung diri di sini.”

“Yah, benar juga sih...”

Sonobe Yuka—siswi yang pada hari insiden di Dungeon Besar Orcus berhasil diselamatkan dari tebasan Traum Soldier di saat-saat paling kritis oleh Nagumo Hajime yang kini telah tiada, tidak lain adalah dirinya. Oleh karena itu, wajar jika Nana sempat berprasangka demikian, namun melihat jawaban dan ekspresi Yuka, jelas sekali bahwa meski belum bisa disebut sebagai perasaan asmara, dia memendam sebuah rasa kompleks terhadap Hajime. Cukup kompleks hingga membuat Nana yang gemar usil pun mengurungkan niat untuk menggodanya lebih jauh.

Bagi Yuka sendiri, tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Dia murni tidak ingin menyia-nyiakan apa pun. Baik nyawanya yang telah diselamatkan, maupun perjuangan Hajime yang bertaruh segenap jiwa dan raga. “Kita semua sama”, Hajime pun pasti tidak ada bedanya. Kalau begitu, jika dirinya yang tidak ada bedanya ini, dirinya yang telah diselamatkan ini hanya terus terpaku meratapi nasib, hal itu terasa seperti pengkhianatan keji terhadap kerja keras pemuda yang sama biasanya seperti dirinya, dan dia sama sekali tidak sudi merendahkan dirinya menjadi sosok yang sehina itu.

Tampaknya memahami isi hati Yuka, kedua sahabat lamanya saling bertukar pandang, menyunggingkan tawa getir, lalu mengangguk bersamaan. Kemudian, secara serentak keduanya mengumumkan bahwa mereka pun akan ikut serta dalam ekspedisi tersebut.

“...Beneran? Kalian tidak perlu memaksakan diri cuma demi menemaniku, lho?”

“Kalau Yuka-cchi tidak mau menyia-nyiakan nyawa yang sudah diselamatkan oleh anak itu, aku pun tidak mau menyia-nyiakan nyawaku yang sudah diselamatkan oleh Yuka-cchi. Kalau Yuka-cchi pergi, aku juga ikut~”

“Iya. Mana bisa kami membiarkan Yuka pergi sendirian. Lagipula, perasaanku yang tidak mau menyia-nyiakan segalanya juga sama kok.”

Dulu, setelah diselamatkan oleh Hajime, Yuka berhasil menyadarkan orang-orang di sekitarnya yang tengah panik, menata kembali formasi beberapa siswa, dan melindungi teman-temannya. Dan di antara segelintir siswa tersebut, Nana dan Taeko termasuk di dalamnya. Nana dan Taeko paham betul bahwa keberhasilan mereka menyambung nyawa hingga hari ini adalah berkat Yuka yang telah mengembalikan kewarasan mereka saat itu. Oleh sebab itu, jika Yuka memutuskan untuk bangkit berdiri, tidak ada pilihan bagi mereka berdua selain melangkah bersamanya.

“Begitu ya. Hehehe, kalau begitu, ayo kita pergi bersama dalam perjalanan melindungi Ai-chan dari monster dan para kesatria pengawal ganteng kiriman Gereja itu.”

Bukannya tidak berharap, namun mengetahui kedua sahabatnya bersedia ikut tentu terasa sangat membahagiakan, sehingga Yuka tersenyum manis sembari melontarkan seruan komando dengan nada jenaka. Nana dan Taeko pun menyahut lantang dengan penuh semangat, “Siap!”

Bayang-bayang ketakutan yang sempat bersarang di mata ketiga gadis yang kini tertawa bersama itu telah memudar jauh dibanding sebelumnya, berganti dengan binar cahaya tekad yang perlahan mulai bersemi kembali.

 

Pagi buta sebelum fajar menyingsing, kabut pagi masih menyelimuti tanah lapang. Langit timur yang mulai memutih samar berpadu dengan udara pagi yang dingin nan menyegarkan, menjadi pemantik yang pas untuk mengusir kantuk. Namun di tengah atmosfer yang menjanjikan cuaca keberangkatan yang begitu sempurna itu, ada satu orang yang memasang muka cemberut. Hatayama Aiko-sensei. Tokoh utama dalam ekspedisi hari ini.

“...Semuanya. Bisakah kalian mempertimbangkannya kembali? Soalnya kalau urusan melindungiku, para kesatria ini pasti akan melakukannya dengan baik.”

“Tidak bisa, Ai-chan-sensei. Malahan, gerombolan kesatria itulah yang berbahaya. Sudah jelas mereka itu umpan pemikat berparas tampan yang dikirim oleh Gereja demi menjerat Ai-chan.”

“Benar banget, Ai-chan-sensei. Jangan sampai terlena cuma gara-gara mereka semua berwajah tampan, ya?”

“Yah, walau kalau dilihat-lihat rasanya para pemburu itu malah sudah berbalik jadi pihak yang diburu, sih. Tapi tetap saja, Ai-chan-sensei ‘kan guru kesayangan kami, jadi tidak ada salahnya lebih berhati-hati.”

Menghadapi perkataan Yuka, Nana, dan Taeko yang telah merampungkan persiapan sejak tadi malam dan bersikeras menyatakan akan ikut mendampingi, pundak Aiko terkulai lemas. Pasalnya, bujukan panjang lebar yang dia sampaikan tadi malam mengenai bahaya perjalanan ini seluruhnya mental tanpa sisa. Sudah jelas bahwa bicara apa pun sekarang hanya akan berakhir sia-sia.

Sebagai catatan, perkataan Yuka mengenai Gereja yang melancarkan perangkap pemikat terhadap Aiko bukanlah sekadar prasangka buruk semata. Regu pengawal dari Ordo Kesatria Kuil yang ditugaskan mendampingi ekspedisi reformasi dan pembukaan lahan pertanian Aiko di berbagai penjuru Kerajaan memang seluruhnya terdiri dari pemuda-pemuda berparas tampan, dan mereka terus berusaha mendekati Aiko. Tujuannya tidak lain adalah demi mengikat sosok Aiko yang menyimpan potensi untuk mengubah total kondisi ketahanan pangan di dunia ini. Kendati demikian, persis seperti yang dikatakan Taeko, dengan alasan yang sama persis seperti para siswa yang begitu menyayangi sang guru, kompi kesatria tampan itu kini justru perlahan mulai beralih menjadi barisan pengikut setia Aiko. Hanya saja Aiko sendiri sama sekali tidak menyadarinya layaknya tokoh utama dalam permainan otome.

Melihat murid-muridnya mengkhawatirkan dirinya, menyayanginya hingga ingin ikut menemani, serta kembali bersemangat untuk mencoba berjuang sekali lagi, Aiko tentu merasa sangat bahagia. Namun memikirkan bahaya nyata yang tidak bisa dimungkiri dalam perjalanan ini, dia memegangi kepalanya dengan perasaan campur aduk. Tepat saat itulah, suara gaduh mulai terdengar mendekat dari arah istana.

Saat Aiko dan murid-muridnya menolehkan pandangan, rombongan kesatria yang menuntun kuda dan kereta kuda tengah melangkah menuju titik kumpul. Akan tetapi, di antara rombongan itu tampak sosok-sosok yang tidak terduga, dan mereka tampaknya tengah bersitegang melabrak para Kesatria Kuil. Mata Aiko seketika membelalak kaget, sementara Yuka dan yang lainnya merasa heran.

“T-Tamai-kun? Ditambah lagi, Aikawa-kun dan Nimura-kun juga! Jangan-jangan, kalian bertiga juga...”

“Halo, Ai-chan-sensei. Selamat pagi. Kami bertiga juga ikut, jadi mohon bantuannya, ya.”

Atsushi dan kedua temannya yang sedari tadi melotot garang ke arah para Kesatria Kuil menyapa Aiko dengan nada yang sangat santai. Menyaksikannya, Aiko sempat ingin menegur, namun Yuka lebih dulu bersuara memotong niat sang guru.

“...Kalian beneran ikut? Sejujurnya, agak bikin kaget.”

“Berisik. ...Bukan cuma kamu saja yang butuh alasan untuk melangkah. Kami juga merasakan hal yang sama. Meski untuk yang lainnya, kelihatannya masih belum sanggup, sih.”

“Begitu ya. Baguslah kalau begitu, mari kita berjuang bersama dengan anggota yang ada ini.”

Yuka mengangkat bahu lalu menerima keikutsertaan Atsushi dan kawan-kawan tanpa banyak tanya. Begitu Yuka menyerukan terbentuknya regu pengawal Ai-chan, Atsushi dan yang lainnya pun menyahut lantang penuh semangat, “Siap!”, walau ketegangan dan sedikit rasa takut masih tampak tersirat di wajah mereka.

Setelah itu, tepat sebelum keberangkatan, satu orang siswa lagi bergabung ke dalam regu pengawal Ai-chan. Sembari diwarnai gesekan-gesekan kecil yang berulang kali terjadi melawan para Kesatria Kuil yang berparas tampan, rombongan itu akhirnya bertolak memulai ekspedisi reformasi dan pembukaan lahan pertanian. Membawa serta tekad baru untuk mencoba berjuang sekali lagi di dalam dada mereka.

“Uugh, pada akhirnya aku terbawa suasana lagi... Bahkan membujuk satu orang murid saja aku tidak becus. Aku benar-benar guru yang payah. Hiks.”

Aiko meratapi nasibnya sembari terombang-ambing di dalam kereta kuda. Melihat tingkah menggemaskan sang guru, para kesatria tampan tidak pelak dibuat salah tingkah dan gemas setengah mati, yang tentu saja langsung dibalas oleh geraman buas garuru dari Yuka dan kawan-kawan setiap kali para kesatria itu hendak mendekat. Sepanjang perjalanan, percikan api persaingan terus berkobar sengit memperebutkan Aiko, membuat lambung sang guru yang seharusnya menjadi pihak yang dilindungi mengalami kerusakan secepat kilat... walau tidak seorang pun dari mereka yang menyadari penderitaan batin tersebut.

 

Di dalam sebuah ruangan, cahaya kebiruan samar yang terpancar dari dinding menyinari siluet tiga sosok manusia yang tengah duduk bersandar sembari saling merapat ke satu sama lain. Trio Hajime, Yue, dan Shea.

Dengan Hajime di tengah, Yue di sisi kanan dan Shea di sisi kiri duduk bersandar merebahkan kepala di bahunya. Keheningan menyelimuti ruangan tersebut, namun jika menajamkan pendengaran, sayup-sayup terdengar suara tarikan dan hembusan napas yang teratur. Suara napas Yue dan Shea yang tengah terlelap. Sembari memeluk kedua lengan Hajime, kedua gadis itu menjadikan bahunya sebagai pengganti bantal untuk tidur.

Hari ini tepat genap satu minggu sejak rombongan Hajime melangkahkan kaki memasuki Dungeon Besar Reisen. Sepanjang kurun waktu tersebut, berbagai jebakan serta kalimat menyebalkan tidak henti-hentinya menguras ketahanan mental dibanding fisik mereka. Terlempar kembali ke titik awal sebanyak 7 kali, diserang jebakan mematikan sebanyak 48 kali, serta dijatuhi baskom logam, terkena lem getah perangkap, disiram cairan putih berbau aneh, dan rentetan perbuatan jahil tidak bermakna lainnya sebanyak 169 kali.

Awalnya batin rombongan Hajime memang sempat diselimuti amarah membara terhadap Miledi Reisen, namun setelah melewati hari keempat, kondisi mental mereka perlahan berubah menjadi pasrah masa bodoh seolah berpikir “ah, terserahlah~”.

Persediaan makanan mereka melimpah ruah, dan menilik spesifikasi fisik mereka yang di atas rata-rata membuat mereka tidak akan mati semudah itu merupakan berkah di balik musibah. Sembari sesekali beristirahat seperti sekarang, mereka terus melanjutkan penjelajahan sedikit demi sedikit. Hasilnya, mereka akhirnya menyadari bahwa perubahan struktur dungeon ini ternyata memiliki pola tertentu. Mengandalkan sihir Pelacakan, Hajime terus memastikan balok mana yang berpindah ke posisi mana.

Mungkin sebentar lagi akan ada titik terang. Sembari memikirkan hal itu, Hajime mengalihkan pandangannya ke arah kedua gadis yang tengah terlelap di kedua sisinya.

“Enak banget tidurnya... kalian sadar tidak kalau ini di dalam dungeon besar?”

Bisikan bernada tawa getir meluncur dari bibir Hajime. Karena bertugas berjaga malam, dia memang terjaga sepanjang waktu. Hajime perlahan melepaskan dekapannya pada lengannya tanpa membangunkan mereka, lalu mengelus lembut rambut Yue. Sudut bibir sang gadis tampak sedikit merekah manis. Sorot mata Hajime pun melembut tipis.

Lantas, saat mengalihkan pandangan ke sisi sebaliknya, tampak Shea yang tengah tertidur lelap dengan ekspresi yang luar biasa santai, komat-kamit menggerak-gerakkan mulutnya sembari meneteskan air liur deras di atas pundak Hajime. Melihat wajah tidur Shea yang sama sekali tidak mencerminkan suasana mencekam di dalam dungeon besar ini, Hajime mendadak teringat bahwa tempo hari gadis ini sempat merengek minta dielus kepalanya, sehingga dia pun mencoba mengelus lembut rambut Shea.

Sekalian saja, dia turut mengusap-usap telinga kelincinya yang berbulu lebat. Begitu disentuh, wajahnya yang semula sudah berantakan kini berubah semakin mengendur tanpa pertahanan. Wajah yang dipenuhi rasa aman seutuhnya. Selama Hajime yang berjaga, tidak, mungkin hanya dengan berada di sisi Hajime saja sudah cukup untuk membuatnya merasa tenang.

Sembari membelai rambut putih kebiruannya yang halus serta telinga kelincinya, ekspresi yang sangat kompleks terbit di wajah Hajime.

“Astaga, apanya yang bagus dari orang sepertiku sampai kamu mau ikut ke tempat terkutuk begini...”

Kendati mulutnya melontarkan gerutuan, tatapan matanya terlihat begitu hangat. Untuk saat ini dia memang merasa belum sanggup membalas perasaannya dengan emosi yang sama seperti yang dia berikan kepada Yue, namun cara berpikir positif, keceriaan, serta kegigihan Shea yang pantang menyerah meski terus merengek... sejujurnya cukup disukai oleh Hajime. Oleh sebab itu, belaian tangannya pun secara alami berubah semakin lembut.

Tepat pada saat itulah, Shea mulai mengigau tidak jelas.

“Ngh-mung... aah... Hajime-shan, berani banget sih... di tempat terbuka begini... nanti dilihatin yang lain lhooo...”

“...”

Sorot matanya masih tampak lembut, namun binar kehangatan di balik pupil mata Hajime seketika padam tanpa sisa. Tetap dengan gerakan tangan yang begitu tenang, dia perlahan menggeser jemarinya lalu memencet hidung Shea sekaligus membekap mulutnya rapat-rapat. Ekspresi damai di wajah Shea perlahan berubah menjadi tersiksa kehabisan napas, namun Hajime tetap membekapnya tanpa peduli.

“Mmph, mm!? Mmph~!? Mmmh!! Mmm!! Puhaaah! Hah, hah, a-apa-apaan sih! Sekalipun mau menyerangku saat tidur, bukan begini caranya!”

Terengah-engah meraup oksigen dengan napas memburu seraya membuka matanya lebar-lebar, Shea memprotes keras, yang hanya dibalas oleh tatapan mata dingin dari Hajime.

“Terus? Sebenarnya di kepalamu itu aku ini makhluk semesum apa, hah? Memangnya apa yang kulakukan padamu di tempat terbuka tadi? Hm?”

“Eh? ...Hah, yang tadi itu mimpi!? Ya ampuun~ padahal Hajime-san sudah bersikap manis banget, terus karena tidak sanggup menahan gelora asmara yang meluap-luap, kamu mendesakku dengan kata-kata mesra selagi aku meronta malu, sampai akhirnya di depan umum kamu...akh-bugh!?

Tidak sanggup lagi mendengarkan ocehannya, Hajime menyentil dahi dengan penguatan penuh tepat di kening Shea. Benturan dahsyat tersebut membuat tubuh Shea terlempar ke belakang hingga membentur dinding dengan keras di bagian belakang kepalanya, sebelum akhirnya meringkuk memegangi kening dengan mata berkaca-kaca. Tampaknya gadis ini memang ditakdirkan untuk tidak pernah bisa lepas dari predikat karakter yang bernasib malang.

Sembari mengusap-usap bagian belakang kepalanya dia bergumam pelan, “Entah kenapa, rasanya pas tidur tadi aku sempat merasa bahagia banget... apa cuma perasaanku saja, ya?” Kemungkinan besar dia dengan tidak sadar merasakan belaian tangan Hajime tadi. Namun menyadari jika diberitahu gadis ini pasti akan langsung besar kepala, Hajime memilih untuk tutup mulut dan mengabaikannya.

Karena Shea sudah (dipaksa) bangun, Hajime mengguncang pelan tubuh Yue untuk membangunkannya. Yue mengerang manis “...Eungh... augh?” lalu perlahan membuka matanya. Setelah memastikan Hajime melalui pandangannya yang masih sayu, sudut matanya melengkung manis, menggesekkan pipinya sekali ke pundak Hajime dengan manja, lalu beranjak merapikan penampilannya dengan anggun.

“Uugh, Yue-san imut banget... begini dong bangun tidur yang pantas untuk seorang cewek~ Beda banget dibanding aku...”

Menghadapi Shea yang mendadak kembali merasa minder, Yue menatap heran, namun memilih untuk membiarkannya hanya dengan alasan karena itu Shea.

“Tuh ‘kan, soal daya tempur pesona wanita kamu memang sudah jelas kalah telak sejak awal. Daripada meratapi nasib begitu mending bersiap memulai penjelajahan lagi.”

“...Kira-kira ada tidak ya kebaikan hati yang tercecer di suatu tempat?”

“...? Hajime sering menjatuhkannya kok.”

“Hiks, itu ‘kan cuma berlaku buat Yue-san. Sialan banget.”

Shea bangkit berdiri dengan tampang yang agak masam. Yue dan Hajime sudah siap sepenuhnya. Sembari berdoa dalam hati agar kali ini tidak dilempar kembali ke titik awal, ketiganya kembali melanjutkan penaklukan dungeon.

Sekali lagi mereka melewati rentetan jebakan picik dan kalimat menyebalkan berbekal ketenangan batin setingkat biksu pertapa.

Dan kemudian, kelompok Hajime akhirnya tiba di sebuah ruangan yang sejak kunjungan pertama seminggu lalu tidak pernah mereka temukan lagi. Ruangan golem kesatria yang dulu pertama kali melempar mereka kembali ke titik awal dan memicu amarah yang menembus batas langit. Bedanya, kali ini pintu segelnya sudah terbuka sejak awal, dan di sisi seberangnya bukanlah ruangan melainkan sebuah lorong yang sangat besar.

“Di sini rupanya... Akan merepotkan kalau kita sampai terkepung lagi. Mumpung pintunya terbuka, ayo kita terobos sekaligus!”

“Mm!”

“Siap!”

Rombongan Hajime menerobos masuk ke dalam ruangan golem kesatria. Begitu mereka tiba di tengah ruangan, persis seperti dugaan, para golem kesatria melompat keluar dari lekukan di kedua sisi dinding diiringi dentang gaduh logam. Namun sebelum mereka keluar sepenuhnya, Hajime lebih dulu mematahkan momentum serangan itu dengan menembak dan memporak-porandakan para golem kesatria di bagian depan.

Memanfaatkan waktu yang berhasil dibeli tersebut, rombongan Hajime melipatgandakan kecepatan lari dan tiba di dekat altar sebelum sempat terkepung. Para golem kesatria mengejar dengan membabi buta, namun mereka tampaknya tidak akan sanggup mengejar sebelum rombongan Hajime berhasil melewati pintu. Merasa kemenangan dalam pelarian ini sudah di tangan, seringai puas terbit di bibir Hajime.

Akan tetapi, seringai Hajime seketika runtuh pada detik berikutnya. Tidak disangka-sangka, para golem kesatria itu ikut menerobos melewati pintu dan terus mengejar. Ditambah lagi...

“Apa-apaan!? Mereka berlari di langit-langit!?”

“...Kaget.”

“Wahai gravitasi, tolong dong kerjakan tugasmu dengan benaaar!”

Benar sekali, para golem kesatria yang mengejar itu berlari di dinding dan langit-langit seolah tidak mengenal gravitasi, memicu suara berisik dari setelan zirah pelat baja tebal mereka yang berdentang gaduh. Pemandangan itu tidak pelak membuat kelompok Hajime yang berpengalaman sekalipun tercengang bukan main. Secara refleks Hajime melancarkan Identifikasi Mineral ke arah lorong, namun material penyusunnya seluruhnya terdiri dari jenis mineral yang sudah dikenalnya. Tidak terdeteksi sedikit pun keberadaan mineral dengan sifat penetral gravitasi ataupun perekat.

“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”

Gumaman heran itu terlontar spontan dari bibirnya. Lantas, saat dia kembali melirik sekilas ke arah para kesatria di belakang, rasa terkejutnya kembali dipaksa naik ke tingkat berikutnya.

Salah satu golem kesatria yang tengah berlari di langit-langit mendadak melompat kecil sembari berlari, lalu melesat terbang di udara layaknya proyektil meriam dalam momentum luar biasa dahsyat dengan kepala mengarah lurus ke jalur depan.

“Apa yang sedang terjadi!?”

Sembari melontarkan seruan syok, Hajime melepaskan tembakan beruntun dari Donner. Peluru yang ditembakkan melesat bagai kilatan cahaya, menghancurkan helm baja dan pundak golem kesatria yang tengah meluncur terbang tersebut. Kepala dan tubuh golem kesatria itu terbelah terpisah, bahkan pedang besar dan perisainya terlepas dari genggaman. Akan tetapi, serpihan-serpihan itu sama sekali tidak jatuh ke tanah, melainkan terus meluncur menerjang lurus ke arah kelompok Hajime.

“Menghindar!”

“Mm.”

“Wakh!”

Sembari membungkuk dan melompat, mereka berkelit menghindari kepala, tubuh, pedang besar, serta perisai golem kesatria yang meluncur deras dalam kecepatan mengerikan. Setelah melewati kelompok Hajime, puing-puing golem kesatria itu terus menggelinding maju ke depan tanpa kehilangan momentum sedikit pun sembari berulang kali menghantam dinding, langit-langit, dan lantai.

“Tunggu dulu, kalau begitu bukannya dia...”

“Mm... seperti ‘terjatuh’.”

“Gravitasi sedang bekerja asal-asalan ya, aku paham kok.”

Perkataan Yue dan Shea adalah ungkapan yang paling tepat melukiskan fenomena barusan. Tampaknya para golem kesatria tersebut sanggup memanipulasi gravitasi. Entah mengapa trik ini tidak digunakan pada pertempuran sebelumnya, namun ada kemungkinan kemampuan itu memang hanya bisa diaktifkan setelah melewati ruangan tadi, tepatnya mulai dari lorong ini.

Pemikiran itu terputus saat para golem kesatria lainnya serempak berjatuhan meluncur deras ke arah kelompok Hajime. Di antara mereka bahkan ada sosok tangguh yang meluncur sembari memutar pedang besarnya layaknya kincir angin. Rombongan Hajime terus melangkah maju tanpa memperlambat lari sedikit pun, melancarkan serangan jarak jauh menggunakan tembakan pistol dan sihir Pembelahan, sembari membiarkan Shea menghantam mundur musuh-musuh yang menerjang terlalu dekat.

Tidak lama berselang, kelompok Hajime merasakan adanya keberadaan lain di depan sana.

“Ngh... Hajime.”

“Ya, aku tahu. Yah, kalau mereka bisa merekonstruksi tubuhnya, ujung-ujungnya pasti bakal jadi begini.”

“K-Kita terjepit dari depan dan belakang ya.”

Rupanya para golem kesatria yang meluncur jatuh lebih dulu tadi telah merekonstruksi tubuh mereka di ujung jalur luncuran. Mereka berbaris rapi membentuk formasi tempur demi menghadang laju kelompok Hajime. Mendorong perisai ke depan dan merendahkan pinggul dengan kokoh, mereka membentuk dinding pertahanan yang solid. Dengan begitu niatnya, barisan kedua golem kesatria menahan para kesatria pembawa perisai dari belakang. Mereka kemungkinan besar telah memetik pelajaran bahwa pertahanan satu lapis saja akan langsung dihancurkan oleh kekuatan fisik murni.

“Cih, bikin repot saja.”

Hajime mendecakkan lidah lalu memasukkan Donner dan Schlag ke sarung senjata di kedua pahanya. Kemudian, dia menarik keluar sebuah persenjataan dari dalam Ruang Harta.

Sebuah peluncur roket dan rudal berbentuk persegi panjang dengan magasin putar dua belas selongsong yang terpasang di dekat pegangan, Orkan. Amunisi roketnya memiliki panjang hampir 30 sentimeter, membuat daya hancurnya jauh lebih dahsyat dibandingkan granat tangan biasa. Pada bagian hulu ledak terpasang mineral yang telah disematkan sihir Lapisan Petir menggunakan Sihir Penciptaan; karena batu ini selalu dialiri listrik statis, hancurnya hulu ledak saat terjadi benturan benturan akan langsung memicu percikan yang menyulut bubuk peledak di dalamnya.

Menjepit Orkan dengan kokoh di bawah ketiaknya, Hajime menyunggingkan seringai di sudut bibirnya.

“Yue, Shea! Tutup telinga kalian! Aku bersiap menembak!”

“Mm.”

“Ehh~ benda apa lagi itu!?”

Mata Shea terbelalak lebar melihat wujud aneh Orkan yang baru pertama kali dilihatnya. Yue yang tengah berlari segera menyumbat kedua telinganya dengan jari telunjuk. Walaupun sepasang telinga kelinci Shea masih berdiri tegak, tanpa peduli itu Hajime langsung menarik pelatuk Orkan.

Wushhh! Diiringi suara desisan kencang tersebut, sebuah roket melesat meninggalkan jejak lidah api di belakangnya, menghantam telak formasi barisan golem kesatria yang tengah bersiap menghadang tanpa meleset sedikit pun.

Detik berikutnya, suara gemuruh dahsyat meledak bersamaan dengan kobaran api raksasa. Mengguncang hebat seisi lorong, bubuk peledak bertekanan tinggi dalam jumlah masif memuntahkan gelombang kejut yang luar biasa mengerikan. Para golem kesatria di sekitar titik ledakan terlempar dan membentur keras dinding di kedua sisi serta langit-langit, hancur lebur hingga tidak lagi menyisakan bentuk aslinya. Proses rekonstruksi tubuh mereka dipastikan akan memakan waktu yang cukup lama.

Kelompok Hajime melompati puing-puing sisa golem kesatria itu dalam sekali terjang.

“Telinga kelincikuuu~ telinga kelincikuuu!!”

Sembari berlari bersisian bersama Hajime dan yang lainnya, Shea melipat sepasang telinga kelincinya rapat-rapat, mendekapnya dengan kedua tangan, lalu menggeliat menahan sakit dengan mata berkaca-kaca. Suku manusia kelinci... adalah ras yang memiliki pendengaran paling tajam di antara seluruh ras setengah manusia.

“Makanya, tadi ‘kan sudah kubilang suruh tutup telinga!”

“Eeeh? Apa? Aku tidak dengar!”

“...Haaah, kelinci yang serba mengecewakan...”

Hajime dan Yue menatap jengah ke arah Shea, namun Shea yang masih sibuk merintih kesakitan sama sekali tidak menyadarinya.

Sembari mengatasi para golem kesatria yang kembali berjatuhan dari atas, mereka terus melesat berlari selama 5 menit. Akhirnya, ujung lorong mulai terlihat. Di balik lorong tersebut tampak sebuah ruang raksasa yang membentang luar biasa luas. Jalur lorong itu sendiri terputus di ujungnya, dan sekitar 10 meter di depan tampak sebuah pijakan berbentuk balok persegi.

“Yue, Shea! Kita lompat!”

Mendengar aba-aba Hajime, Yue dan Shea (yang pendengarannya sudah berhasil pulih) mengangguk serempak. Dari arah belakang, para golem kesatria masih terus meluncur jatuh. Sembari membalas serangan dan berkelit menghindar, rombongan Hajime melompat sekuat tenaga dari tepi ujung lorong. Berkat Penguatan Tubuh, daya lompat kelompok Hajime jauh melampaui atlet Olimpiade sekalipun. Melewati rekor dunia dengan mudah, mereka melayang hendak mendarat di atas balok persegi di bawah pandangan mereka.

Namun, hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana adalah ciri khas utama dari dungeon besar ini. Tidak disangka-sangka, tepat di hadapan kelompok Hajime yang tengah melayang di udara membentuk lintasan parabola, balok persegi itu meluncur bergerak menjauh begitu saja dengan mulus.

“Apa!?”

Hajime kembali berseru untuk kesekian kalinya sejak tiba di dungeon ini. Perhitungan jaraknya meleset, dan jika dibiarkan mereka akan jatuh bebas. Melirik sekilas ke bawah, jurang di dasarnya tampak luar biasa dalam. Tepat saat dia mengangkat tangan kiri berniat menancapkan jangkar secara refleks, suara Yue membahana membelah udara.

“Melayang!”

Sihir elemen angin yang diaktifkan memicu terciptanya embusan angin ke atas yang kuat, menambah jarak jangkauan lompatan kelompok Hajime. Meski efeknya hanya bertahan sesaat, itu sudah lebih dari cukup. Mereka berhasil menyusul balok yang masih terus bergerak menjauh, lalu sukses menggapai tepiannya dan bergelantungan di sana. Menancapkan paku cakar pada lengan prostetiknya untuk mengunci posisi, Hajime bergelantungan menahan tubuhnya selagi Yue dan Shea ikut memeluk erat tubuh pemuda itu.

“K-Kerja bagus, Yue.”

“Yue-san, hebat sekali!”

“...Mm. Puji lagi dong.”

Merasa lega karena terhindar dari bahaya jatuh bebas, senyuman merekah di wajah Hajime dan Shea selagi memuji Yue. Yue pun tampak agak kelelahan akibat konsumsi mana yang boros, namun auranya memancarkan rasa bangga yang terlihat jelas.

Akan tetapi, suasana hangat tersebut seketika buyar oleh kehadiran para golem kesatria yang melayang di udara. Benar sekali, para golem kesatria itu kini terbang bebas di udara. Mereka kemungkinan memanipulasi gravitasi untuk menentukan arah jatuhnya. Dalam kecepatan yang mengerikan, mereka melesat mendekati kelompok Hajime yang masih bergelantungan.

“!? Yue, Shea, naik!”

Bersamaan dengan instruksi yang dia berikan pada keduanya, Hajime menarik Donner lalu melepaskan tembakan beruntun ke arah para golem kesatria yang mendekat. Yue dan Shea merayap menaiki tubuh Hajime hingga berhasil naik ke atas balok, disusul Hajime yang mengentakkan tubuhnya bagai gerakan melenting berdiri untuk ikut berpindah ke atas permukaan balok.

Tepat setelahnya, di titik tempat Hajime bergelantungan tadi, seekor golem kesatria menusukkan pedang besarnya dengan kekuatan luar biasa dahsyat. Memanfaatkan jeda kaku sesaat akibat entakan dari sang golem kesatria, Hajime menembaknya jatuh dari atas kepala.

“Sialan. Entah mereka memanipulasi gravitasi atau apa, pergerakan mereka semakin lama semakin lincah dan terampil saja.”

“...Mungkin penyebabnya tempat ini?”

“Ahaha, sebenarnya apa sih definisi akal sehat itu? Semuanya mengapung begini, lho?”

Tepat seperti yang dikatakan Shea, segala sesuatu di sekeliling kelompok Hajime tengah melayang di udara.

Tempat yang baru saja dimasuki oleh kelompok Hajime ini adalah sebuah ruangan berbentuk bola yang luar biasa raksasa. Diameternya diperkirakan mencapai lebih dari 2 kilometer. Di dalam ruangan seluas itu, balok-balok mineral dari berbagai macam bentuk dan ukuran tampak melayang-layang sembari bergerak secara acak dan perlahan. Sebuah ruang yang sepenuhnya mengabaikan hukum gravitasi. Namun anehnya, kelompok Hajime sendiri masih merasakan adanya tarikan gravitasi dengan jelas di tubuh mereka. Kemungkinan besar, hanya materi-materi tertentu di ruangan ini saja yang kebal dari kekangan gravitasi.

Di dalam ruangan itulah para golem kesatria terbang melesat ke segala arah dengan leluasa. Mengingat mereka mengatur arah jatuhnya, manuver perubahan arah yang dilakukan pun berlangsung sangat mendadak dan ekstrem. Jika mereka adalah makhluk hidup biasa, mereka pasti sudah tewas akibat tekanan gravitasi yang luar biasa mengerikan. Menimbang pergerakan mereka yang semakin luwes dan presisi seiring mendekati ruangan ini, kemungkinan besar...

“Artinya, sosok yang mengendalikan para golem ini ada di tempat ini, ‘kan?”

Menyetujui dugaan Hajime, ekspresi wajah Yue dan Shea ikut menegang. Anehnya, para golem kesatria itu kini hanya berputar-putar melayang mengitari kelompok Hajime tanpa melancarkan serangan. Untuk sementara, Hajime menyapu pandangan ke sekeliling demi mencari tahu apakah ada jalan pintas lain. Dia tidak tahu apakah tempat ini merupakan titik akhir atau masih ada kelanjutannya. Namun yang pasti, tempat ini dipastikan sudah sangat dekat dengan bagian terdalam dungeon. Peningkatan kemampuan para golem kesatria serta ruangan yang aneh ini memberikan dasar yang kuat bagi dugaan tersebut.

Hajime menyipitkan mata, bersiap meneliti ruangan berbentuk bola raksasa ini menggunakan Penglihatan Jauh.

Tepat pada detik berikutnya, teriakan Shea yang sarat akan kepanikan mendadak meledak.

“Cepat kabuuur!!”

“!?”

“!?”

Tanpa sempat bertanya ada apa, Hajime dan Yue bereaksi secara instan terhadap peringatan Shea, lalu melompat menghindar laksana terpental. Beruntung, tepat beberapa meter di depan ada balok lain yang kebetulan melintas, sehingga mereka melompat meninggalkan balok yang tengah mereka pijak menuju ke arah balok baru tersebut.

Seketika setelahnya, Krushhahaa!! Diiringi suara gemuruh dahsyat yang memekakkan telinga, sebuah benturan dahsyat yang memunculkan ilusi seakan ada meteor jatuh menghantam telak balok yang baru saja dipijak kelompok Hajime hingga meledak hancur berkeping-keping. Ungkapan meteor rasanya sama sekali tidak berlebihan. Sesuatu berukuran raksasa yang membara merah berpijar jatuh menghunjam, lalu melesat melewatinya begitu saja bersamaan dengan momentum yang menghancurkan balok tersebut.

Keringat dingin mengalir di pipi Hajime. Andaikan Shea tidak memperingatkannya tadi, mereka dipastikan sudah terkena serangan langsung. Dalam kondisi saat ini di mana Vajra tidak dapat digunakan, ada kemungkinan mereka bisa langsung mati seketika. Bukannya dia sama sekali tidak bisa mendeteksinya. Tepat setelah Shea berteriak memperingatkan, Hajime memang merasakan adanya keberadaan musuh. Akan tetapi, kecepatan jatuh benda itu luar biasa cepat, sehingga mustahil rasanya untuk sempat menghindar jika baru bergerak setelah merasakannya sendiri.

“Shea, kamu menyelamatkan kita. Terima kasih ya.”

“...Mm, kerja bagus.”

“Ehehe, untung saja Tilik Masa-ku aktif. Tapi bayarannya manaku terkuras habis banyak banget, sih...”

Tampaknya alasan mengapa Shea bisa menyadarinya lebih cepat daripada Hajime adalah berkat aktifnya sihir bawaan Tilik Masa miliknya. Sihir Tilik Masa biasanya memperlihatkan masa depan dari hasil pilihan yang diasumsikan oleh Shea ketika diaktifkan secara sadar, namun ada kalanya sihir ini aktif secara otomatis. Seperti kali ini, sihir tersebut sanggup memperlihatkan bahaya besar yang mengancam nyawa, baik bahaya yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

Artinya, andai tadi terkena serangan langsung, setidaknya Shea pasti sudah tewas. Sembari kembali merasakan sensasi bergidik ngeri, Hajime mengalihkan pandangannya ke arah lintasan si meteor jadi-jadian tadi. Dia mengintip ke bawah dari tepian balok. Tepat saat itu, sesuatu di bawah sana tampak bergerak, lalu melesat naik ke atas dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam sekejap mata wujud tersebut telah berada di atas kepala kelompok Hajime, berhenti melayang di sana, lalu menatap tajam ke arah mereka lewat sorot mata yang berkilat terang.

“Hei, hei, yang benar saja.”

“...Sangat... besar.”

“R-Rasanya seperti bos besarnya ya.”

Ketiganya melontarkan kesan masing-masing. Sedikit terasa ada yang ambigu dari ucapan Yue, namun semestinya masih berada di batas aman... seharusnya.

Sosok yang kini muncul mengapung di hadapan kelompok Hajime adalah sesosok golem kesatria berukuran super raksasa. Menampilkan wujud yang sama-sama berbalut zirah pelat baja penuh di sekujur tubuh, tingginya mencapai sekitar 20 meter. Tangan kanannya membara merah berpijar layaknya tinju api, dan kemungkinan inilah penyebab hancurnya balok tadi. Sementara tangan kirinya terlilit rantai yang gemerincing beradu, menggenggam Morningstar bertipe ayun.

Saat kelompok Hajime memasang kuda-kuda menghadapi golem raksasa tersebut, para golem kesatria di sekeliling terbang meluncur diiringi desingan angin, lalu berbaris mengepung kelompok Hajime dari segala arah. Begitu membentuk barisan teratur, para golem kesatria itu menegakkan pedang besar di depan dada. Gerakan mereka persis seperti pasukan yang tengah memberi hormat di hadapan sang raja.

Terkepung rapat secara total membuat ketegangan di antara kelompok Hajime kian memuncak. Keheningan menyelimuti sekeliling, menciptakan suasana genting yang benar-benar bisa meledak kapan saja. Detik saat ada yang bergerak, permainan saling bunuh dengan taruhan nyawa akan segera dimulai.

Namun, sosok yang memecahkan ketegangan udara yang begitu mencekam itu adalah...

“Yaho~ Salam kenal yaa~ Ini Miledi Reisen-chan kesayangan kalian semuaaa~”

Sapaan konyol yang terlontar begitu saja dari mulut golem raksasa tersebut.

“...”

“...”

“...”

Mendapat sapaan yang luar biasa santai dari sesosok golem raksasa berzirah baja penuh, berpersenjataan mematikan, dan bermata tajam bengis, kelompok Hajime melongo dengan mulut ternganga sampai-sampai lupa bahwa mereka tengah berada dalam kepungan.

Menghadapi ketiga orang yang membeku kaku itu, si golem raksasa melontarkan suara bernada jengkel. Suara itu jelas milik seorang perempuan.

“Dengar yaa~ kalau disapa itu harusnya dibalas dong. Itu etika paling mendasar tahu? Astaga, makanya anak muda zaman sekarang ini... cobalah punya akal sehat sedikit.”

Gaya bicara yang benar-benar memancing emosi. Terlebih lagi, golem raksasa itu mengangkat tangan kanannya yang membara dan tangan kirinya yang membawa bola besi berduri hingga setinggi pundak, lalu mengangkat bahunya dengan gestur yang kelewat mirip manusia seolah hendak berkata “astaga naga deh”. Kelompok Hajime sontak merasa jengkel setengah mati. Tingkah laku itu mengingatkan mereka pada deretan kalimat menyebalkan yang sudah muak mereka lihat di sepanjang jalan. Menilik pengakuannya sebagai Miledi Reisen, ada kemungkinan dia memang sosok aslinya, namun wanita itu seharusnya sudah meninggal sejak lama, dan aslinya adalah seorang manusia.

Untuk sementara, Hajime memutuskan untuk menggali informasi terkait hal tersebut.

“Soal itu aku minta maaf deh. Tapi Miledi Reisen itu manusia dan harusnya sudah lama meninggal, ‘kan? Ditambah lagi, aku belum pernah dengar ada golem yang punya kesadaran sendiri... Aku sudah terkejut sesuai skenariomu jadi tolong maafkan. Dan sekarang, jelaskan siapa dirimu sebenarnya. Singkat saja.”

“Lhooo~ padahal situasinya lagi begini tapi orang ini kok bisa sombong banget sih yaa.”

Sama sekali bukan basa-basi untuk menggali informasi. Malahan terlalu blak-blakan. Menghadapi reaksi yang tampaknya benar-benar di luar dugaan ini, golem raksasa yang mengaku sebagai Miledi sempat tampak sedikit kikuk. Namun dia lekas menguasai diri, lalu kembali berbicara pada kelompok Hajime dengan nada suara yang membuat siapa pun bisa membayangkan seringai puasnya andai dia berwujud manusia.

“Ngh~? Miledi-san ini dari awal memang golem lhoo~ Atas dasar apa coba kalian bilang aku manusia...”

“Di buku harian Oscar ada sedikit tulisan tentang dirimu. Kamu digambarkan dengan jelas sebagai perempuan manusia, tahu? Lagipula aku tidak berminat meladeni tanya-jawab konyol begini. Tadi kubilang singkat saja. Ujung-ujungnya kamu pasti berniat menghadang kami, jadi tindakanku tidak akan berubah. Aku akan mengubahmu jadi rongsokan lalu lanjut maju. Jadi sebelum itu, tidak usah banyak tingkah dan cepat muntahkan semua informasi yang kamu tahu.”

“A-Aduhai. Tega banget bicaranya begitu ke orang yang dalam hati lagi girang setengah mati bisa ngobrol lagi setelah sekian lama. Ngomong-ngomong tadi kamu bilang Oscar? Jangan-jangan, kalian penakluk dungeonnya O-chan?”

“Ya, dungeon Oscar Orcus sudah kami taklukkan. Lagipula yang bertanya di sini itu kami. Kalau kamu tidak berniat menjawab, kita langsung mulai bertarung saja nih? Lagian bukannya aku ngebet banget ingin tahu juga. Tujuan kami ke sini hanya untuk mengincar Sihir Zaman Dewa.”

Hajime mengarahkan moncong Donner ke arah golem raksasa. Yue memasang wajah datar sok tenang, sementara Shea memandang Hajime dengan rasa kagum bercampur jengah sembari membatin, “Wah, prinsipnya benar-benar tidak goyah sedikit pun.”

“...Sihir Zaman Dewa, ya? Itu artinya untuk membunuh para dewa ‘kan? Apa kalian berniat memusnahkan gerombolan bajingan sialan itu? Sebagai penakluk dungeonnya O-chan, kalian pasti sudah paham situasinya ‘kan?”

“Sudah kubilang, yang bertanya di sini itu kami. Kalau mau dijawab, jawab dulu pertanyaanku.”

“Aduh, orang ini beneran sombong banget sih yaa~ Tapi yah, tidak apa-apa~ Hmm, tadi apa ya... ah, soal identitas asliku ya. Uuugh.”

“Singkat saja. Tidak usah bertele-tele seperti Oscar.”

“Ahaha. Memang sih, O-chan kalau bicara panjang lebar banget ya~ Orangnya suka berteori pula~”

Si golem raksasa menengadah ke langit seolah tengah bernostalgia dengan tatapan menerawang. Benar-benar golem yang gerak-geriknya kelewat mirip manusia. Yue seperti biasa menatap si golem raksasa tanpa ekspresi, sementara Shea tampak gelisah tidak tenang karena merasa waswas terhadap para golem kesatria di sekeliling.

“Ya sudah, sesuai permintaanmu, secara singkatnya begini:

“Aku memang benar-benar Miledi Reisen.

“Semua keanehan golem ini beres berkat Sihir Zaman Dewa!

“Kalau mau tahu lebih lengkapnya, kalahkan aku dulu dalam pertarungan! Kira-kira begitu deh.”

“Ujung-ujungnya masih belum jelas...”

“Hahaha. Ya iyalah, mana mungkin kamu dapat informasi sebelum berhasil menaklukkan dungeon? Hilang dong esensi dungeonnya kalau begitu?”

Kali ini si Golem Miledi membuat gestur memperingatkan dengan menggoyang-goyangkan jari raksasanya. Fakta bahwa jiwa di dalamnya adalah Miledi Reisen memang menyebalkan, namun di luar hal itu, tingkahnya lama-kelamaan terasa memiliki pesona yang menggemaskan. Mendengar Yue yang bergumam pelan “...Masalahnya cuma isi dalamnya saja” tampaknya dia pun memiliki pemikiran yang sama persis dengan Hajime.

Mengenai sosok di dalam golem tersebut, pada akhirnya memang hampir tidak ada hal baru yang dipahami. Namun jika dia benar-benar Miledi yang asli, Hajime menduga bahwa ini mungkin semacam pengikatan sisa-sisa kesadaran. Hajime mencoba menggali kembali ingatan samar di kepalanya, teringat bahwa salah satu teman sekelasnya, Nakamura Eri, memiliki pekerjaan Necromancer yang mampu memanipulasi sisa-sisa kesadaran orang mati. Akan tetapi, ilmu pemanggil arwah miliknya semestinya tidak sanggup menyisakan kesadaran yang begitu jelas dan memiliki kehendak sekuat ini. Singkat kata, kemampuan yang melampaui batasan itu, serta cara menanamkan kehendak mendiang ke dalam tubuh golem, pastilah merupakan karya dari Sihir Zaman Dewa.

Bagaimanapun juga, tampaknya ini bukan sihir penyeberang dunia yang tengah dicarinya. Dengan nada sedikit kecewa, Hajime bertanya kepada si golem raksasa yang kini berganti sebutan menjadi Golem Miledi.

“Apakah Sihir Zaman Dewa milikmu berhubungan dengan sisa-sisa kesadaran?”

“Hmm~? Dari reaksimu, sepertinya kamu memang sedang mengincar jenis Sihir Zaman Dewa tertentu ya? Sebagai catatan, Sihir Zaman Dewa milikku itu hal yang berbeda lhoo~ Kalau soal pengikatan jiwa, aku cuma dibantu sama Ra-kun kok~”

Tujuan utama Hajime hanyalah melintasi dunia untuk pulang ke kampung halamannya. Entah itu urusan jiwa atau kesadaran, mendapatkan Sihir Zaman Dewa yang sanggup memanipulasi hal semacam itu sama sekali tidak berguna baginya. Namun jawaban dari Miledi rupanya bertolak belakang dengan dugaan Hajime. Dia tidak tahu siapa sosok bernama Ra-kun tersebut, namun kemungkinan besar orang itu adalah salah satu dari Pembebas. Sosok itulah yang tampaknya menanamkan kehendak dari Miledi yang semestinya telah mati, lalu mengikatnya ke dalam tubuh golem.

“Kalau begitu, Sihir Zaman Dewa milikmu itu sebenarnya apa?”

“Hmm-hmm, penasaran ya? Segitunya ingin tahu yaa?”

Kembali mendengar nada bicara Miledi yang terdengar menyeringai usil, Hajime menahan rasa jengkelnya sembari menunggu jawaban.

“Kalau memang ingin tahu~ Sebelum itu, sekarang giliranmu yang menjawab pertanyaanku.”

Hanya pada kalimat terakhir itu, nada suaranya mendadak berubah total. Suasana santai dan cengengesan yang sedari tadi mendominasi seketika sirna, berganti dengan keseriusan yang pekat. Perubahan atmosfer yang begitu drastis membuat kelompok Hajime sedikit terkejut. Tanpa memperlihatkannya di wajah, Hajime balik bertanya.

“Apa?”

“Apa tujuanmu? Untuk apa kamu menginginkan Sihir Zaman Dewa?”

Penuh kehendak yang menegaskan bahwa dusta tidak akan diampuni, Miledi bertanya tanpa menyisakan sedikit pun nada main-main. Mungkinkah sosok aslinya yang sebenarnya justru adalah yang sekarang ini? Jika dipikir-pikir, wanita ini adalah salah satu sosok yang bertaruh nyawa menantang dewa demi umat manusia. Wajar saja jika dia merasa wajib mengetahui apa yang akan diperbuat oleh orang yang hendak dia titipkan sihir tersebut.

Berbeda dengan Oscar yang hanya meninggalkan rekaman proyeksi sebagai surat wasiat, menunggu para penantang di dasar dungeon yang sangat dalam selama ratusan tahun sembari mempertahankan kesadaran diri seutuhnya adalah sebuah siksaan batin yang luar biasa berat. Sikapnya yang santai dan menyebalkan itu mungkin hanyalah gertakan, sementara sosok aslinya menyimpan ketabahan, tekad, serta rasa tanggung jawab yang besar.

Tampaknya memikirkan hal yang sama, Yue menatap Golem Miledi dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Penderitaan berada sendirian di dasar kegelapan yang pekat adalah hal yang sangat dipahami oleh Yue. Justru karena itulah, dia merasakan sesuatu yang jauh melampaui rasa simpati terhadap keputusan Miledi yang memilih tetap bertahan di dasar kegelapan sembari mempertahankan kesadarannya.

Menatap lurus ke arah kilatan mata Golem Miledi tanpa gentar, Hajime membalas lewat kata-kata yang jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun.

“Tujuanku cuma ingin pulang ke kampung halaman. Aku dipaksa datang ke dunia ini oleh dewa gila yang kalian maksud itu. Jadi aku sedang mencari Sihir Zaman Dewa yang bisa melakukan teleportasi melintasi dunia... Aku sama sekali tidak berniat mengalahkan dewa menggantikan posisi kalian. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk mempertaruhkan nyawaku demi dunia ini.”

“...”

Golem Miledi menatap Hajime lekat-lekat selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya bergantian ke arah Yue dan Shea, sebelum kemudian mengangguk pelan seakan telah memahami sesuatu. Lalu, satu kata meluncur lirih dari mulutnya, “Begitu ya?”

Namun pada detik berikutnya, atmosfer serius itu menguap lenyap layaknya fatamorgana, dan gaya bicaranya yang santai kembali seperti semula.

“Hmm, begitu ya, begitu ya. Paham deh~ dari dunia lain ya~ Iya, iya. Pasti berat banget yaa~ Baiklah, kalau begitu mari kita berperang! Kalahkan aku dalam pertarungan ini, dan rebutlah Sihir Zaman Dewa itu sesukamu!”

“Sama sekali tidak nyambung dan tidak masuk akal... Jadi pada akhirnya Sihir Zaman Dewa milikmu itu apa? Tipe teleportasi bukan?”

Miledi melontarkan tawa menyebalkan “Nuhuhu~” lalu dengan gaya yang luar biasa sengaja dibuat menggantung dia menunda jawabannya, “Sihir itu adalah...” Sikapnya itu mengingatkan pada pembawa acara kuis televisi legendaris saat hendak mengumumkan jawaban final dari sang peserta.

Sudah mencapai batas kesabarannya dan berniat memulai perang dari pihaknya sendiri, Hajime mengeluarkan Orkan. Namun, seolah mendahului niatnya, Miledi meneriakkan jawabannya.

“Cari tahu sendiri~!”

“Mati sana.”

Tanpa banyak bicara, Hajime langsung meluncurkan roket dari Orkan. Badai kehancuran yang menarik jejak lidah api melesat lurus menerjang Golem Miledi dan menghantamnya telak.

Suara ledakan dahsyat mengguncang seisi ruangan. Asap pekat mengepul membubung tinggi.

“Apa berhasil!?”

“...Shea, itu death flag namanya.”

Melihat Shea yang bersorak gembira, “Hebat sekali, Hajime-san! Menang di serangan pertama nih!” Yue langsung melayangkan teguran. Dan ternyata, tebakan Yue-lah yang terbukti benar. Dari balik kepulan asap, sebuah tangan kanan yang berpijar merah membara muncul dengan suara berderu keras, lalu diayunkan menyapu untuk mengempaskan kabut asap di sekelilingnya.

Begitu asapnya sirna, dari baliknya tampak Golem Miledi yang meski bagian kedua lengan depannya hancur, dia sama sekali tidak terlihat goyah. Golem Miledi menarik sebongkah balok yang kebetulan melintas di dekatnya, meremukkannya, lalu menjadikannya bahan material untuk merekonstruksi kedua lengannya yang rusak dalam sekejap.

“Ehehe, serangan pembuka yang lumayan juga yaa~ Ayo, ayo, siapa tahu Sihir Zaman Dewa milikku ini memang yang kamu cari lhoo~ Aku ini sangat kuat, jadi berjuanglah biar tidak mati yaa~”

Sembari tertawa riang, Golem Miledi melontarkan Morningstar bertipe ayun di tangan kirinya lurus ke arah kelompok Hajime. Bukan dilempar. Tanpa ada gerakan ancang-ancang sedikit pun, Morningstar itu mendadak melesat keluar dalam kecepatan luar biasa dahsyat. Kemungkinan besar dia memanipulasi arah gravitasi untuk menjatuhkannya ke arah sasaran, sama persis seperti para golem lainnya.

Kelompok Hajime melompat ke balok apung terdekat demi berkelit dari Morningstar tersebut. Morningstar itu menghancurkan balok tempat kelompok Hajime berpijak tadi hingga berkeping-keping, lalu berputar melayang di udara sebelum ditarik kembali ke tangan Golem Miledi.

“Kita mulai. Yue, Shea. Hancurkan Miledi!”

“Mm!”

“Dimengerti!”

Bersamaan dengan seruan aba-aba dari Hajime, pertarungan terakhir di salah satu dari Tujuh Dungeon Besar, Dungeon Besar Reisen, resmi dimulai.

Para golem kesatria yang sedari tadi bersiaga sembari menegakkan pedang besar seketika bergerak serempak seolah menjadikan seruan Hajime sebagai tanda dimulainya pertempuran. Persis seperti yang mereka lakukan di lorong tadi, mereka mengarahkan kepala lurus ke arah kelompok Hajime lalu melesat menerjang secara bersamaan.

Yue memutar tubuhnya dengan luwes, lalu menyodorkan salah satu botol air yang tergantung di tubuhnya ke depan dan mengayunkannya menyapu. Air yang terkompresi hingga batas maksimal berubah menjadi semburan pemotong air yang melesat bagai tembakan laser, menebas putus barisan para golem kesatria di depannya.

“Ahaha, hebat juga yaa~ Tapi bisakah kalian meladeni 50 kesatria yang beregenerasi tanpa henti ini secara bersamaan denganku yaa~”

Lewat nada bicara yang terdengar begitu menyebalkan, Golem Miledi kembali menembakkan Morningstar miliknya. Shea melompat tinggi ke udara, mendarat di atas balok berbentuk limas segitiga yang tengah melintas di atas mereka. Sementara Hajime tetap bertahan di tempatnya tanpa bergeming, lalu melepaskan tembakan beruntun dari Donner ke arah Morningstar yang tengah melesat.

Hanya terdengar satu kali suara letusan senjata. Namun peluru yang terlontar berjumlah enam butir. Kilatan cahaya yang dilepaskan lewat teknik tembakan kilat itu menghantam Morningstar yang meluncur dalam kecepatan tinggi tanpa meleset sedikit pun. Walaupun Morningstar itu berupa bola logam bermassa luar biasa besar, menerima benturan dari tembakan elektromagnetik sebanyak enam kali secara bersamaan tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Jalur lintasannya seketika terbelok melenceng jauh dari arah Hajime.

Pada saat yang sama, Shea yang telah melompat ke balok di atas mengambil posisi tepat di atas kepala Miledi, lalu terjun ke bawah sembari mengayunkan Drucken sekuat tenaga.

“Kelihatan banget lhoo~”

Bersamaan dengan kalimat itu, Golem Miledi melesat menyamping dalam gerakan yang mendadak. Tampaknya dia menjatuhkan dirinya ke arah samping.

“Kuh, sialan!”

Perhitungan jaraknya yang meleset membuat Shea menggertakkan gigi, lalu dia menarik pelatuk di tangannya untuk memicu ledakan pada permukaan hantam Drucken. Mengabaikan selongsong peluru yang terlempar keluar dari senjatanya, dia memanfaatkan gaya tolak balik ledakan itu untuk membetulkan arah serangannya. Berputar sebanyak tiga kali di udara demi memusatkan gaya sentrifugal penuh, dia menghantamkan pukulan telak ke arah Golem Miledi.

Secara refleks Golem Miledi menangkis serangan tersebut menggunakan lengan kirinya. Diiringi suara benturan yang memekakkan telinga, lengan kirinya remuk berantakan. Akan tetapi, seolah menganggap enteng kerusakan tersebut, Golem Miledi langsung mengayunkan lengan kirinya yang remuk itu dalam satu tebasan menyapu.

“Kyaaa!!”

“Shea!”

Shea terpental melayang sembari memekikkan jeritan panik. Namun di udara dia berhasil menarik pelatuk Drucken dan memanfaatkan daya ledaknya untuk menstabilkan posisi tubuh, lalu menggunakan sisa gaya tolaknya untuk mendarat darurat di atas balok terdekat.

“Heh, boleh juga. Hei, Yue. Sebenarnya kamu melatih anak itu dengan cara apa, sih?”

“...Cuma terus memojokkannya saja.”

“...Begitu rupanya. Pantas saja kemampuan bertahan hidupnya yang ulet itu jadi paling terasah.”

Melihat Shea yang melompat lincah dari satu balok ke balok lain untuk kembali ke posisinya dari kejauhan, Hajime mengangguk kagum. Di balok tempat Hajime dan Yue berpijak, kawanan golem kesatria akhirnya maju dalam jumlah yang sudah tidak sanggup lagi dibendung oleh Yue seorang diri.

Hajime menarik keluar senapan mesin Gatling Metzelei dari dalam Ruang Harta. Kemudian, sembari saling menempelkan punggung bersama Yue, dia melepaskan monster pemuntah kematian berkecepatan 12.000 peluru per menit tersebut ke medan tempur.

Enam laras senapang itu berputar kencang sembari memulai tembakan sapuan. Menggaungkan suara tembakan yang khas, untaian kilatan cahaya merah yang melesat lurus menyapu seisi ruangan tanpa celah, mengubah setiap musuh yang melayang di udara menjadi tumpukan rongsokan dan mengempaskan mereka jatuh ke dasar ruangan. Musuh yang mencoba berkelit atau memutar ke arah belakang demi mengincar titik buta, seluruhnya ditebas putus secara horizontal oleh tembakan laser air.

Dalam sekejap mata, lebih dari 40 golem kesatria berjatuhan ke dasar ruangan dalam kondisi yang mengenaskan. Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan menyelesaikan rekonstruksi tubuh dan kembali ke medan tempur, namun asalkan untuk sementara tidak ada gangguan, hal itu sudah lebih dari cukup. Benar, sampai mereka berhasil menghancurkan sang bos utama, Golem Miledi.

“Tunggu, apaan itu barusan! Benda kayak begitu belum pernah kulihat atau kudengar sama sekali!”

Mengabaikan teriakan syok Golem Miledi, Hajime menyimpan Metzelei kembali ke dalam Ruang Harta, lalu sembari menarik Donner dia berteriak lantang agar bisa didengar oleh Shea yang berada agak jauh.

“Inti Miledi ada di posisi yang sama dengan jantung! Kita hancurkan bagian itu!”

“Hah! Kenapa kamu bisa tahu!?”

Miledi kembali memekikkan suara terkejut. Dia pasti sama sekali tidak menyangka bahwa Hajime memiliki Mata Sihir yang sanggup melihat aliran mana secara langsung. Mengetahui posisi inti yang menjadi kunci utama untuk merobohkan golem, sorot mata Yue dan Shea seketika menajam.

Golem kesatria yang melayang di sekeliling kini hanya tersisa sekitar 10 monster. Mereka bertiga akan melancarkan serangan bergelombang secara beruntun demi mendaratkan satu hantaman telak ke jantung Miledi.

Hajime melompat kuat, memanfaatkan balok-balok apung di sekitarnya sebagai pijakan demi merapatkan jarak ke arah Golem Miledi. Dengan daya dorong railgun saat ini, akan sulit untuk menghancurkan tubuh raksasa Golem Miledi hingga serangannya menembus ke inti. Oleh karena itu, dia berencana menghancurkan lapisan zirah luarnya lewat tembakan jarak nol, lalu menjejalkan granat tangan ke dalamnya.

Namun walaupun memiliki kepribadian yang konyol, Miledi adalah salah satu kaum Pembebas yang menguasai Sihir Zaman Dewa. Dia bukan lawan yang bisa diremehkan. Tepat saat matanya berkilat sesaat, balok apung yang berada di atas kepalanya meluncur deras menghunjam ke arah Hajime dalam kecepatan mengerikan.

“!?”

“Dari awal aku tidak pernah bilang cuma bisa mengendalikan para kesatria lhoo~”

Mengabaikan nada bicara Miledi yang terdengar menyeringai usil, Hajime mengaktifkan mekanisme pada lengan prostetiknya yang berdentang.

Bum!! Diiringi suara ledakan berat yang mengguncang rongga dada, sebuah daya kejut dahsyat meletus dari siku lengan prostetiknya. Lebih tepatnya, peluru sebar berkekuatan tinggi baru saja ditembakkan. Mekanisme ini memang tidak bisa menggunakan akselerasi elektromagnetik, namun rasio kompresi bubuk peledaknya jauh lebih padat dibanding peluru Donner. Seiring dengan hal itu, gaya tolak baliknya pun sangat dahsyat. Tubuh Hajime yang melayang di udara seketika terpental mengubah arah lintasannya, nyaris saja tertabrak sebelum berhasil berkelit dari balok apung yang melesat. Dan pada akhirnya, dia berhasil menjejakkan kakinya di balok apung sasaran.

Tentu saja, Golem Miledi berniat menjatuhkan balok pijakan Hajime, namun Shea yang entah sejak kapan telah menyusup dari belakang melompat tinggi demi menghantamkan serangan dahsyat ke kepala Golem Miledi. Rencananya adalah menghancurkan kepalanya beserta matanya yang selalu memancarkan kilatan cahaya mencurigakan setiap kali beraksi.

Tampaknya telah menyadari pergerakan Shea, Golem Miledi memerintahkan para golem kesatria untuk meluncur menerjang ke arah Shea yang tengah melayang di udara. Berada di udara terbuka membuat Shea berada dalam posisi tanpa pertahanan. Tepat di saat tubuhnya nyaris terbelah oleh pedang besar...

“...Tidak akan kubiarkan.”

Yue yang rupanya telah berpindah posisi sejak tadi melancarkan sihir Pembelahan, mencabik-cabik para golem kesatria yang hendak menyerang Shea hingga terpotong menjadi serpihan kecil.

“Hebat sekali, Yue-san!”

Sembari meneriakkan pujian itu melewati ruang hampa yang kini bersih dari rintangan, Shea melepaskan ayunan palu dari posisi atas berbekal kemampuan fisik yang telah ditingkatkan hingga batas maksimal.

“Mana mungkin golem bisa kalah dalam urusan adu kekuatan lhoo~”

Seolah hendak membuktikan perkataannya sendiri, Golem Miledi berputar sembari mengayunkan tangan kanannya yang membara lurus ke arah Shea.

Palu perang Drucken milik Shea dan tinju api milik Golem Miledi bertubrukan telak diiringi suara gemuruh yang memekakkan telinga. Gelombang kejut yang tercipta seketika mengempaskan beberapa balok apung di sekitarnya terpental ke segala arah.

“Sialaaan!”

Menghadapi tinju Golem Miledi yang tidak sanggup ditembus, Shea melolongkan jerit perang sembari memompa seluruh kekuatannya. Akan tetapi, kekuatannya tetap tidak sanggup mengimbangi tenaga fisik murni sang golem, dan dia malah terlempar jauh akibat hantaman tinju yang mendadak meledakkan gelombang kejut saat diayunkan tuntas.

“Kyaaa!!”

Shea menjerit panik. Tubuhnya yang mati rasa akibat benturan dahsyat tidak bisa langsung digerakkan sesuai kehendak, sementara di arah dia terlempar sama sekali tidak ada balok apung yang melintas. Tepat di saat dia nyaris jatuh bebas ke dasar jurang, seolah telah memperkirakan situasi tersebut, Yue melesat dari arah samping dan menyambar tubuh Shea, mengoreksi arah jatuhnya dengan sihir Melayang selama sesaat, lalu mendarat dengan mulus di atas balok apung di bawah mereka.

“Kerja sama yang lumayan juga yaa~”

Melalui nada bicara yang terdengar santai, Golem Miledi memandang rendah ke arah Yue dan Shea yang tengah mendongak menatapnya. Tepat pada saat itulah, sebuah suara menyahut dari jarak yang tidak disangka-sangka begitu dekat.

“Keren, ‘kan?”

“!?”

Terperanjat, Golem Miledi buru-buru memutar pandangannya ke arah datangnya suara. Di sana, entah sejak kapan telah menyusup masuk ke dalam jangkauan tubuhnya, Hajime berdiri mengunci posisinya dengan menancapkan jangkar serta menyelipkan kakinya di celah zirah pelat, sembari menodongkan senjata raksasa—senapan antimaterial bertenaga akselerasi elektromagnetik Schlagen—tepat ke bagian jantung Golem Miledi. Percikan petir merah tampak berderak membara menyelimuti Schlagen.

“S-Sejak kapan...”

Kata-kata syok Miledi seketika tertelan oleh suara gemuruh dahsyat yang diledakkan oleh Schlagen.

Gumpalan niat membunuh yang dilepaskan dalam jarak nol itu mengempaskan Golem Miledi sekaligus menghancurkan lapisan zirah dadanya hingga berkeping-keping. Karena Lapisan Petir tidak bisa digunakan secara maksimal, daya hancur Schlagen saat ini hanya setara dengan kekuatan penuh Donner di ruangan biasa. Kendati demikian, daya hancur sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan baju zirah logam. Menimbang lapisan zirah para golem kesatria bisa ditembus dengan mudah bahkan oleh Donner yang kekuatannya sedang merosot, Hajime memperkirakan bahwa zirah Golem Miledi yang tampak bermaterial serupa semestinya bisa dihancurkan dengan Schlagen jika perbedaannya hanya sedikit lebih tebal.

Mengepulkan asap tebal dari bagian dadanya, Golem Miledi terpental ke belakang. Hajime pun ikut terlempar ke arah berlawanan akibat gaya tolak balik tembakan. Menembakkan jangkar lalu menancapkannya ke balok apung terdekat, dia memanfaatkan momentum tarikan kawat untuk berputar di udara dan mendarat di atasnya. Kemudian, dia mengamati kondisi Golem Miledi secara saksama.

Yue dan Shea ikut melompat mendarat di balok apung yang berada di dekat Hajime.

“...Berhasil?”

“Rasanya ada benturan telak, tapi...”

“Kuharap ini sudah selesai yaa.”

Yue menanyakan kepastian serangannya, sementara Shea menyuarakan harapan yang penuh optimisme. Wajah Hajime tampak begitu masam. Persis seperti dugaannya, Golem Miledi yang bagian zirah dadanya masih dalam kondisi hancur menarik balok apung terdekat ke tangannya tanpa merasa terganggu sedikit pun, lalu berbicara kepada kelompok Hajime lewat nada suara yang memancarkan kekaguman.

“Wah, wah, luar biasa juga yaa. Tadi sempat bikin merinding sedikit lhoo. Kalau tidak ada efek dekomposisi dan Artefak itu bisa mengeluarkan kekuatan aslinya, mungkin tadi bakal bahaya banget ya~ Iya, Miledi-chan yang sudah bersusah payah bikin dungeon di tempat ini memang jenius!!”

Golem Miledi memuji dirinya sendiri. Akan tetapi, kata-katanya sama sekali tidak masuk ke telinga Hajime. Ekspresi wajah Hajime tampak begitu kelam. Pasalnya, jauh di balik zirah dada yang telah hancur itu, tampak lapisan zirah hitam pekat yang sama sekali tidak tergores barang sedikit pun. Hajime sangat mengenali jenis mineral yang menjadi material zirah tersebut.

“Hmm~ Kamu penasaran sama yang ini yaa~”

Menyadari arah pandangan Hajime, Golem Miledi menunjuk ke arah zirah hitam pekat tersebut lewat nada bicara yang terdengar menyeringai usil. Tepat saat dia hendak membeberkan identitasnya sembari berlagak sok misterius dengan berkata “Ini itu sebenarnya...” Hajime lebih dulu menggumamkan kelanjutannya bersamaan dengan umpatan kasar.

“...Azanthium. Sialan.”

Bijih Azanthium adalah mineral dengan tingkat kekerasan dan keuletan tertinggi di dunia yang turut digunakan pada beberapa perlengkapan milik Hajime. Sekadar menjadikannya lapisan tipis saja sudah cukup untuk menahan tembakan berkekuatan penuh dari Donner. Pantas saja satu hantaman Schlagen tadi sama sekali tidak meninggalkan bekas luka. Menyadari bahwa menembus zirah Azanthium tersebut adalah perkara yang luar biasa mustahil, Hajime mengerutkan dahinya dalam-dalam.

“Oho? Ternyata kamu tahu yaa~ tapi ya wajar saja sih. Soalnya kamu ‘kan penakluk dungeon O-kun, tidak mungkin pengguna Sihir Penciptaan tidak tahu ini~ Ayo, mumpung rasa putus asanya sudah pas begini, mari kita lanjut ke ronde keduaa!”

Miledi menyerap material dari balok apung yang diremukkannya untuk merekonstruksi zirah permukaan luar, lalu sembari mengayunkan morningstar dia sendiri ikut melesat menerjang maju dengan buas.

“B-Bagaimana ini!? Hajime-san!”

“Masih ada cara. Pokoknya kita harus menyegel pergerakannya dulu!”

“...Mm, dimengerti.”

Menghadapi masalah pelik akibat kekurangan daya serang yang tidak bisa dihindari ini, Shea melontarkan pertanyaan kepada Hajime dengan panik. Hajime tampaknya masih menyimpan kartu as lain, dan demi menggunakannya dia memberikan instruksi untuk melumpuhkan pergerakan Golem Miledi terlebih dahulu. Mengetahui masih ada jalan keluar, sedikit rasa lega tampak di wajah Yue dan Shea selagi keduanya bersiap melompat ke balok apung terdekat demi berkelit dari Morningstar yang mendekat.

Akan tetapi...

“Tidak akan kubiarkan lhoo~”

Bersamaan dengan suara tanpa beban dari Golem Miledi, balok apung yang mereka jadikan pijakan mendadak berputar dalam kecepatan tinggi.

Pijakan yang mendadak berputar seketika membuat keseimbangan kelompok Hajime goyah. Tepat pada saat itulah Morningstar menghantam tempat tersebut dengan daya hancur yang luar biasa dahsyat. Kelompok Hajime terlempar bebas dari pijakan yang hancur berkeping-keping. Hajime melompat menyambar rantai Morningstar yang melesat melewatinya diiringi gemerincing berisik. Yue menginjak serpihan pecahan balok apung sembari mengaktifkan Melayang, sementara Shea memanfaatkan gaya tolak balik dari letupan Drucken demi mendarat darurat di balok apung di bawah mereka.

Tepat ke titik pendaratan itu, seolah telah memperhitungkannya dengan matang, Golem Miledi meluncur menghunjam deras sembari menyodorkan tinju apinya ke depan.

“Khh!!”

“Ngh!!”

Walaupun berhasil menghindari hantaman langsung, ledakan dahsyat dan gelombang kejut yang meletus tepat pada saat benturan membuat erangan tertahan meluncur dari bibir Yue dan Shea. Kendati demikian, saat berpapasan di udara, Yue melepaskan Pembelahan mengincar lengan Golem Miledi, sementara Shea memicu pasak baja yang terpasang pada permukaan hantam Drucken untuk mencengkeram zirah lawan dan menempelkan tubuhnya di sana.

Sihir Pembelahan berhasil mencabik sebagian lengan kanan Golem Miledi meski tidak sampai memotongnya putus, membuat Yue mendarat di balok apung lain dengan wajah kesal.

Di sisi lain, Shea yang melompat ke area pundak Golem Miledi menjadikan pundak kiri lawan sebagai pijakan lalu mengayunkan Drucken sekuat tenaga mengincar bagian kepala. Namun Golem Miledi mendadak menjatuhkan tubuhnya ke arah lain secara ekstrem, membuat keseimbangan Shea buyar hingga tubuhnya terlempar melayang ke udara kosong.

“Kyaaa!”

Shea menjerit panik. Tepat pada saat itu, Hajime yang sedari tadi bergelantungan di rantai Morningstar memanfaatkan gaya sentrifugal dari ayunan rantai untuk melesat menyambar Shea dan menangkap tubuh gadis itu di udara.

“Hajime-san!”

Lewat suara yang dipenuhi luapan kebahagiaan, Shea memanggil nama Hajime. Diselamatkan sembari digendong dalam dekapan yang selama ini diidam-idamkannya, walaupun sadar situasi saat ini sama sekali tidak tepat, perasaannya tidak kuasa melambung. Akan tetapi, di situlah letak standar khas seorang Hajime. Persis seperti saat dia melemparkan Shea ke tengah kerumunan monster tempo hari, dia menarik tubuh sang gadis ke belakang bersiap melemparnya sekuat tenaga.

“H-Hajime-san!?”

“Sana pergi mati sekali lagi!”

Peluru sebar yang terpasang di lengan prostetiknya terisi kembali bersamaan dengan bunyi klik mekanis, lalu langsung diledakkan. Hajime, yang tubuhnya berputar akibat gaya tolak balik ledakan dahsyat tersebut, memanfaatkan gaya sentrifugalnya untuk melempar Shea lurus ke arah Golem Miledi.

“Sialaaan bangeeet!”

Mendapati impian indahnya yang baru saja terkabul sedetik kemudian langsung berubah menjadi aksi serbuan bunuh diri ke arah musuh, Shea melolongkan teriakan putus asa sembari mengangkat palu perangnya, Drucken.

Melihat tindakan gila Hajime, Miledi sendiri tampaknya sempat sedikit bergidik ngeri. Kendati demikian, dia tetap bersiap menghadang serangan tersebut dengan menarik tangan kanannya jauh ke belakang demi meluncurkan tinju apinya. Namun tepat pada detik itu, rantai yang terhubung pada Morningstar yang baru saja dia tarik kembali mendadak meledak dahsyat.

“Wawawa, apa-apaan ini!?”

Miledi menjerit kaget. Penyebab ledakan tersebut adalah sejumlah besar granat tangan yang sempat dipasang oleh Hajime saat dirinya bergelantungan di rantai tadi. Daya ledak yang luar biasa dahsyat membuat rantai tersebut putus meledak dari tengah, yang secara berantai memicu kerusakan masif pada lengan kiri tempat rantai itu terlilit. Benturan tersebut seketika merusak keseimbangan tubuh Golem Miledi.

Tepat pada saat itulah, Shea yang telah mengangkat Drucken tiba di hadapannya.

“Ryaaahhh!!”

Bersamaan dengan pekikan penuh tekad membara, pelatuk di tangannya ditarik dan peluru sebar di dalamnya meledak seketika. Terakselerasi kilat oleh gaya tolak ledakan, Drucken meluncur menerjang Golem Miledi dengan daya hancur yang seolah sanggup meremukkan udara sekalipun.

Secara refleks Golem Miledi mengangkat lengan kirinya yang telah rusak parah. Detik berikutnya, hantaman Drucken mendarat telak di lengan kiri tersebut. Drucken meremukkan lengan kiri yang rapuh itu tanpa ampun, menghancurkan bagian pundak hingga ke bawah menjadi serpihan debu.

Usai mengayunkan Drucken hingga tuntas, tubuh Shea melayang bebas di udara akibat momentum serangannya. Berniat membalas hancurnya lengan kiri dengan mendaratkan satu serangan telak pada Shea yang tengah berada dalam posisi terbuka, Golem Miledi bersiap melepaskan tinju apinya.

Namun tepat ketika fokus Miledi tertuju penuh pada Shea, sebuah tembakan laser air melesat dari arah bawah, menembus tepat pada bekas sayatan yang telah dibuat sebelumnya tanpa meleset sedikit pun. Air bertekanan tinggi itu kembali mencabik dan memperlebar lukanya, hingga akhirnya berhasil memotong putus lengan kanan Golem Miledi secara mutlak.

“...Huhuhu, lengah itu musuh utama.”

Sosok yang menyunggingkan seringai puas sambil mengucapkannya tentu saja adalah Yue.

“Kh, dasar kalian ini! Jangan sombong dulu yaa!”

Miledi berteriak kesal dengan nada gusar. Di saat bersamaan, Hajime yang telah menancapkan jangkar pada balok apung di atas meluncur melintasi udara menggunakan ayunan bandul, lalu menyambar tubuh Shea yang tengah jatuh bebas. Bedanya, kali ini bukan dengan dekapan menggendong, melainkan dengan menjepitnya di bawah ketiak.

“Hajime-sa~n, di saat seperti ini harusnya kamu menggendongku manis sebagai hadiah, tahu? Tolong baca situasi, dong~”

“Jangan bicara seolah-olah aku orang yang gak peka situasi. Justru kamu yang harusnya lebih sadar situasi karena masih sempat-sempatnya menyelipkan keinginan pribadi di kondisi begini.”

Tepat saat mereka mendarat di balok apung terdekat, Hajime membalas keluhan manja Shea lewat teguran bernada jengah. Namun saat itu juga, Miledi yang telah kehilangan kedua lengannya anehnya tidak menarik balok apung di sekitarnya untuk merekonstruksi lengannya, melainkan terus menatap ke arah langit-langit sembari memancarkan kilatan cahaya yang terang dari matanya.

Merasakan firasat buruk yang luar biasa pekat, ekspresi wajah Hajime seketika menegang kaku. Memperkuat dugaan tersebut, wajah Shea berubah pucat pasi.

“Hajime-san, Yue-san! Cepat menghindar! Ada yang mau jatuh!”

Hajime menduga sihir bawaan milik Shea pasti baru saja aktif. Dan itu menandakan bahwa sebuah ancaman yang cukup mematikan untuk merenggut nyawa Shea akan segera terjadi. Setelah melirik sekilas ke arah Yue yang berada agak jauh, Hajime memasang kuda-kuda agar siap merespons bahaya apa pun yang akan datang.

Detik berikutnya, bencana itu benar-benar terjadi.

Seisi ruangan bergemuruh hebat. Suara gempa berfrekuensi rendah bergema memekakkan telinga, dan puing-puing batu mulai berjatuhan dari langit-langit. Tidak, bukan sekadar puing-puing kecil. Melainkan seluruh langit-langit itu sendiri yang bersiap runtuh menjatuhi mereka.

“!? Bajingan ini!”

“Huhuhu, ini hadiah balasan dariku lhoo. Selain para kesatria, aku memang tidak bisa mengendalikan banyak objek secara mendetail secara bersamaan, tapi kalau cuma menjatuhkannya serentak, ratusan batu sekaligus pun bisa kulakukan lhoo~ Silakan coba bertahan kalau bisa yaa~”

Walaupun merasa sangat muak dengan nada bicara Miledi yang santai, tidak ada waktu lagi untuk memusingkan hal tersebut. Dinding di sekeliling ruangan ini dipenuhi oleh susunan balok-balok batu, dan kini bongkahan balok yang tidak terhitung jumlahnya yang melapisi langit-langit tengah bersiap jatuh secara serempak. Masing-masing balok merupakan batu raksasa yang bobotnya dengan mudah melampaui 10 ton. Dan benda-benda sebesar itu akan segera menghujani mereka layaknya badai lebat. Keringat dingin mengucur deras di kening Hajime.

“H-Hajime-san!”

“Kita bergabung dengan Yue!”

Mendekap Shea yang suaranya bergetar panik, Hajime memanfaatkan ayunan kawat jangkar untuk melompat turun menuju ke arah posisi Yue. Yue pun melompat melintasi balok-balok apung demi mendekat dan bergabung bersama mereka.

Sepanjang jeda tersebut, Golem Miledi terus menatap lurus ke arah langit-langit tanpa bergerak. Kemungkinan besar, seperti perkataannya tadi, sistem kendali untuk batu-batu ini berbeda dengan para golem kesatria. Mengingat para golem kesatria sanggup mengambil tindakan yang cukup fleksibel, mereka dipastikan memiliki tingkat otonomi tertentu. Dengan instruksi dan komando dari Miledi di atasnya, pertempuran kelompok yang terkoordinasi rapi pun bisa tercipta.

Akan tetapi, untuk memanipulasi objek mati lainnya yang sama sekali tidak memiliki kesadaran, mengendalikannya secara mendetail paling banyak hanya terbatas pada satu atau dua objek saja. Meski hanya sekadar menjatuhkannya, melepaskan ratusan bongkahan batu raksasa dari langit-langit rupanya membutuhkan konsentrasi penuh dari dirinya.

Waktu konsentrasi itulah yang memberi kesempatan bagi rombongan Hajime untuk berkumpul kembali. Detik saat ketiganya saling merapatkan tubuh terjadi tepat bersamaan dengan saat gugusan batu raksasa itu turun dari langit.

Guguguguuguuugur!!! Graaak!!

Bongkahan-bongkahan batu terlepas dari langit-langit, dan begitu getaran tanah terhenti, gugusan batu raksasa mulai terjun bebas sembari menggemuruhkan suara ledakan. Terlebih lagi dengan begitu niatnya, lintasan jatuhnya tampak masih bisa diarahkan sampai batas tertentu, sehingga batu-batu itu terkonsentrasi rapat tepat ke titik keberadaan kelompok Hajime. Menimbang Golem Miledi sendiri tentu tidak berniat mati bersama, Hajime segera mengedarkan pandangan mencari posisinya dengan asumsi tempat di dekatnya akan aman, namun sang golem rupanya tengah melesat mundur mengamankan diri ke tepi dinding dalam kecepatan penuh. Sudah terlambat jika harus mengejarnya sekarang.

“Yue! Shea! Pegangan! Jangan sampai lepas!”

“Mm.”

“Siap!”

Tepat setelah berseru kepada Yue dan Shea, Hajime kembali menarik keluar Orkan dari dalam Ruang Harta. Lantas, dia menembakkan seluruh 12 butir roketnya sekaligus ke arah batu-batu raksasa yang tengah turun. Melesat sembari menarik ekor lidah api demi memporak-porandakan di atas kepala, roket-roket itu meledak hebat secara beruntun dan meremukkan bebatuan raksasa tersebut.

Gugusan batu raksasa yang semula menutupi seluruh jarak pandang hingga menyembunyikan langit-langit kini memperlihatkan sedikit celah berkat gempuran Orkan. Dari celah sempit itu, bagian langit-langit mulai terlihat. Hajime menyimpan Orkan, lalu menarik Donner dan Schlag untuk diacungkan ke langit dan ditembakkan bertubi-tubi. Seolah memperlebar jalur bertahan hidup yang begitu sempit, tembakan presisi yang diperhitungkan secara sempurna kembali meremukkan serpihan batu raksasa yang tersisa sekaligus menyingkirkannya secara berantai.

Akan tetapi, perlawanan Hajime hanya sanggup bertahan sampai di situ.

Gugusan batu raksasa yang meluncur turun dalam kecepatan mengerikan akhirnya mencapai posisi kelompok Hajime. Setelah memastikan Yue dan Shea telah memeluk tubuhnya dengan erat, Hajime mengaktifkan sihir bawaannya. Gerak Kilat. Dunia di sekitar Hajime seketika kehilangan warnanya, membuatnya sanggup mengenali setiap kepingan maut yang jatuh dengan jelas.

Bagaikan memasukkan benang ke lubang jarum, dia berkelit melewati tirai pecahan batu raksasa dengan gerakan seminimal mungkin. Di saat yang sama, dia memutar pistolnya demi mengisi amunisi yang diteleportasikan ke tangannya, lalu melepaskan tembakan terkonsentrasi ke satu titik demi membelokkan lintasan serpihan yang tidak sanggup dihindari. Sepersekian detik pun tidak boleh disia-siakan. Perluasan persepsi indra setingkat saat pertama kali membangkitkan Gerak Kilat sewaktu bertarung melawan monster penjaga di Dungeon Besar Orcus tempo hari masih belum cukup. Dia membutuhkan fokus konsentrasi yang menembus batas maksimal!

Hajime kembali mengaktifkan sihir bawaan lainnya. Pelampauan Batas.

Cahaya merah menyelimuti sekujur tubuh Hajime selama sesaat. Namun cahaya itu segera menguap sirna. Sihir bawaan yang semestinya melipatgandakan kemampuan fisik Hajime hingga tiga kali lipat itu dinetralkan oleh efek dekomposisi mana milik dungeon. Hal itu terjadi karena Pelampauan Batas pada dasarnya serupa dengan mengenakan kerangka luar penguat tubuh yang terbuat dari mana. Bedanya dengan kerangka luar biasa adalah organ bagian dalam tubuhnya turut diperkuat. Dengan kata lain, walau penguatan fisiknya dibatalkan, perluasan persepsi indra yang kian mendalam tidak ikut dibatalkan dan tetap bekerja secara efektif.

Kendati demikian, bagaimanapun dia tengah melampaui batas dirinya. Beban yang ditanggung tubuhnya jelas tidak main-main. Terlebih lagi, Hajime sebelumnya telah memaksimalkan persepsi indranya hingga titik ekstrem lewat Gerak Kilat. Andaikan tidak memiliki tubuh kokoh yang telah menyerap daging dan darah monster, tubuhnya pasti sudah hancur sejak tadi. Faktanya, meski masih sanggup bertahan, pembuluh darah halus mulai bermunculan tampak jelas di bola mata Hajime, dan sedikit darah mulai mengucur keluar dari hidungnya.

Sembari membiarkan Yue dan Shea memeluk erat tubuhnya, Hajime bergerak meliuk-liuk lincah menghindari kematian yang menghujani mereka setipis helai rambut. Menjaga keseimbangan tubuhnya secara ajaib di atas pijakan yang berguncang hebat dan remuk berantakan, dia bahkan sesekali memanfaatkan serpihan batu yang tengah jatuh sebagai pijakan baru.

Pikirannya terus terasah tajam di setiap sepersekian detik, hingga kini dia bahkan sanggup merasakan setiap goresan luka pada bebatuan yang tengah meluncur turun. Konsentrasi di luar batas kewajaran yang mustahil dilakukan manusia biasa berhasil membuka secercah jalan keluar di tengah rengkuhan maut!

Bagi Miledi yang tengah mengamati kondisi kelompok Hajime dari tepi dinding, mereka tampak telah tertelan habis oleh gugusan batu raksasa dalam sekejap mata. Mengira bahwa perlawanan gigih mereka pada akhirnya tidak sanggup membendung massa seberat itu, Miledi melepaskan manipulasi gravitasi pada gugusan batu tersebut diiringi sedikit rasa kecewa.

Balok-balok apung yang sempat tertelan oleh runtuhan batu dan jatuh ke dasar kini kembali melayang naik bersama puing-puing langit-langit, menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

“Hmm. Ternyata memang tidak sanggup ya~ Tapi kalau segini saja tidak bisa kalian atasi, mana mungkin kalian bisa menang melawan gerombolan bajingan sialan itu~”

Sembari menggumamkannya, Miledi mencari-cari jasad kelompok Hajime. Tepat pada saat itulah...

“Sudah kubilang ‘kan, aku tidak tertarik sama gerombolan bajingan itu.”

“Eh?”

Sebuah suara yang familiar bergema memecah udara. Pemuda berambut putih dan penutup mata yang bersikap angkuh, semaunya sendiri, serta mengendalikan Artefak yang belum pernah dilihat sebelumnya—benar, itu adalah suara Hajime. Miledi menoleh ke belakang sembari melontarkan seruan yang memancarkan keterkejutan bercampur secercah rasa senang. Di sana, walaupun napasnya terengah-engah dan darah mengalir dari mata serta hidungnya, tampak sosok Hajime yang masih utuh tanpa luka fatal tengah berdiri di atas balok apung sembari menatap tajam ke arahnya.

“G-Gimana...”

Menyaksikan Hajime yang jelas-jelas terlihat tertelan oleh gugusan batu tadi kini berdiri tegak di depan matanya, Miledi spontan bertanya penuh keheranan. Menghadapinya, seringai tajam terbit di sudut bibir Hajime.

“Bisa saja kujawab sih... tapi apa tidak masalah kamu cuma melihat ke arahku terus?”

“Eh?”

Miledi kembali melontarkan seruan heran dengan nada bicara yang sama persis seperti tadi. Namun kebingungan itu seketika terjawab dalam bentuk sihir telak pada detik berikutnya.

“Pembelahan!”

Lantunan sihir Yue yang tegas bergema membahana, disusul untaian tembakan laser air yang meluncur deras dari arah belakang menghantam punggung, kaki, kepala, serta pundak Golem Miledi. Pemotong air yang mendarat telak itu mencabik lapisan zirah terluar di setiap bagian tubuhnya hingga terkoyak lebar.

“Serangan seperti ini mau diulang berapa kali pun sama saja lhoo~ Sekalian bikin tangan baru nanti juga kuperbaiki lagi kok~”

“Sayangnya, kamu tidak akan kuberi waktu untuk itu.”

Menghadapi Golem Miledi yang menerima sihir Yue tanpa bergeming dan tetap bersikap santai tanpa menoleh sedikit pun, Hajime melesat mendekat dalam sekali terjang sembari menancapkan kawat jangkar. Schlagen tergenggam mantap di salah satu tangannya.

“Ahaha, senjata itu lagi? Benda itu tidak akan bisa meremukkan zirah Azanthium milikku lhoo~”

Miledi tetap memasang sikap santai. Walaupun Hajime telah menempel di tubuhnya dan menodongkan moncong Schlagen tepat ke bagian dada, dia bersikap seolah berkata “kalau mau tembak ya tembak saja”. Dia bahkan sama sekali tidak berniat menggerakkan balok-balok apung di sekitarnya untuk menghalangi.

Hal itu wajar saja terjadi. Karena sudah terbukti dengan nyata bahwa senjata milik Hajime sama sekali tidak mampu melukai lapisan pelindung Golem Miledi. Oleh karena itu, Miledi menilai bahwa pemilihan cara serang yang sama sekali tidak berubah di tahap ini menandakan Hajime sudah kehabisan akal dan hanya sedang melancarkan perjuangan sia-sia.

Namun, rasa percaya diri itulah yang berujung petaka.

“Aku sudah tahu!”

Bersamaan dengan seruan Hajime, kilatan petir merah menyambar dari Schlagen, lalu proyektil mirip jaket logam penuh bertenaga akselerasi elektromagnetik meledakkan bagian dada Golem Miledi dalam jarak nol. Suara ledakan dan gelombang kejut yang dahsyat mengempaskan tubuh Golem Miledi hingga terpental.

Akan tetapi, kali ini Hajime tidak melompat mundur seperti sebelumnya. Menggulung kawat jangkarnya, dia terus menempel erat di tubuh lawan, menempelkan lengan prostetiknya pada bagian dada Golem Miledi yang telah hancur, lalu memuntahkan seluruh sisa selongsong peluru sebar yang tersimpan di dalamnya sampai habis todak bersisa. Daya kejut yang bertubi-tubi terus mengempaskan Golem Miledi hingga tubuhnya terbanting ke atas balok apung yang melayang di belakangnya.

“M-Meski kamu melakukan ini, pada akhirnya...”

“Yue!”

Mengabaikan perkataan Miledi, Hajime meneriakkan nama Yue. Seketika itu pula, Yue yang telah melompat mendekat segera merapalkan sihir lanjutannya.

“Membekulah! Peti Beku!”

Bersamaan dengan permohonan tersebut, pelatuk sihir yang semestinya berfungsi mengurung target di dalam peti mati es ditarik. Akan tetapi, sihir elemen es tergolong ke dalam sihir tingkat tinggi dari elemen air. Di wilayah ini, sihir tingkat menengah ke atas semestinya tidak bisa digunakan. Kendati demikian, demi bisa menahan pergerakan Golem Miledi untuk sementara waktu, sihir ini sangat dibutuhkan.

Bagian belakang tubuh Golem Miledi yang terbanting membentur balok atap seketika membeku dalam sekejap, mengunci posisinya menempel erat pada balok apung tersebut.

“Apa-apaan!? Kenapa sihir tingkat tinggi bisa keluar!?”

Miledi memekikkan suara penuh keterkejutan. Alasan mengapa Yue sanggup menggunakan sihir elemen es tingkat tinggi sebenarnya sangat sederhana. Sama seperti sihir Pembelahan, dia hanya menyediakan air asli sejak awal demi menekan konsumsi mananya. Sejak awal mereka telah menentukan balok mana yang akan dijadikan tempat membanting Golem Miledi, lalu menyiramkan air ke sana terlebih dahulu. Lantas, memanfaatkan celah yang ada, Yue juga menyiramkan air ke punggung Golem Miledi. Tembakan sihir Pembelahan yang pertama tadi bertujuan untuk itu.

Meski begitu, jumlah mana yang terkuras tetaplah luar biasa besar, hingga memaksa Yue menguras seluruh cadangan mana dari setiap batu kristal sihir yang dibawanya. Sembari terengah-engah dengan napas memburu, Yue mundur mengamankan diri ke balok apung terdekat.

“Kerja bagus, Yue!”

Berdiri di atas dada Golem Miledi yang tubuhnya telah terkunci rapat, Hajime menarik keluar kartu as andalannya dari dalam Ruang Harta. Benda yang muncul dari kehampaan itu adalah sebuah silinder peluncur raksasa berukuran panjang sekitar 2,5 meter. Di bagian luarnya terpasang berbagai instrumen mekanis yang kokoh, dan di bagian dalamnya telah terpasang sebuah pasak pasak hitam pekat berdiameter sekitar 20 sentimeter. Di bagian bawahnya terpasang empat buah lengan cengkeram yang kokoh, dan saat Hajime memasukkan lengan prostetiknya ke dalam mekanisme penghubung di bagian tengah, alat tersebut mulai bergerak selaras.

Tanpa membuang waktu Hajime langsung mengunci tubuh Golem Miledi yang tidak berkutik tepat di bawahnya menggunakan lengan cengkeram tersebut, lalu menembakkan jangkar-jangkar yang terpasang di bagian luar silinder. Sebanyak enam lengan penahan menancap dalam-dalam ke balok apung, mengunci posisi silinder peluncur raksasa itu dengan kokoh. Pada saat yang sama, Hajime mengalirkan mananya ke dalam senjata tersebut. Seketika itu pula, silinder raksasa memancarkan percikan kilat merah, dan pasak hitam pekat di dalamnya mulai berputar dengan kecepatan yang mengerikan.

Kiiiiiiiiiii!!!

Dentingan nada tinggi yang tercipta dari putaran berkecepatan dahsyat bergema membelah udara. Melihat seringai tajam yang terbit di wajah Hajime, Miledi dipastikan akan memasang wajah pucat pasi andai dirinya bukan berwujud golem.

Senjata berwujud mengerikan itu adalah persenjataan tambahan luar untuk lengan prostetiknya, Pile Bunker.

Melalui Transmutasi Kompresi, massa seberat 4 ton dipadatkan menjadi sebuah pasak berdiameter 20 sentimeter dengan panjang 1,2 meter, yang permukaannya dilapisi bijih Azanthium, menjadikannya pasak dengan bobot dan tingkat kekerasan tertinggi di dunia. Pasak tersebut kemudian ditembakkan menggunakan akselerasi elektromagnetik dan bubuk peledak padat dalam jumlah masif yang terpasang di bagian atas silinder.

“Nikmatilah sampai puas.”

Bersamaan dengan kata-kata tersebut, laksana menancapkan pasak kayu putih ke jantung vampir, pasak hitam pekat ditembakkan menghunjam lurus ke arah inti Golem Miledi.

Gugugauanagan!!! Diiringi suara benturan yang mengerikan, Pile Bunker bekerja seketika, dan pasak hitam pekat menusuk tegak lurus menembus pertahanan Golem Miledi.

Lapisan pelindung Azanthium di bagian dada retak dalam sekejap mata, dan ujung pasak itu membenamkan dirinya tanpa ampun. Menerima hantaman yang begitu dahsyat, tubuh raksasa Golem Miledi tertekan amblas ke dalam balok apung sembari memicu retakan yang menjalar radial di sekelilingnya. Ketinggian balok apung itu sendiri seketika merosot turun dengan drastis. Akibat gesekan dari putaran berkecepatan tinggi milik Pile Bunker, asap putih pekat mengepul deras membubung dari bagian dada Golem Miledi.

...Namun, cahaya di mata Golem Miledi belum juga padam.

“Ha, haha. Tampaknya dayanya masih belum cukup yaa. Tapi yah, ini hebat banget lhoo? Bukannya sudah tembus sekitar 3/4 bagian yaa?”

Lewat nada suara yang terdengar agak kaku, Miledi tetap berusaha berpura-pura tenang. Jauh di lubuk hatinya dia mengucurkan keringat dingin. Walaupun Pile Bunker adalah serangan pamungkas yang mematikan, akselerasi elektromagnetiknya belum maksimal sehingga senjata itu tidak mampu mengeluarkan potensi aslinya. Karena itulah serangannya hanya sedikit lagi gagal menembus seutuhnya. Akan tetapi, di mata Hajime sama sekali tidak ada bayang-bayang keputusasaan. Seolah-olah situasi seperti ini sudah masuk dalam perhitungannya sejak awal.

“Lakukan, Shea! Akhiri ini!!”

Hajime menyimpan seluruh bagian Pile Bunker ke dalam Ruang Harta selain pasak bajanya, lalu melompat mundur menjauh dari dada Golem Miledi dalam sekali sentak.

Sebagai gantinya, yang muncul adalah Shea yang membiarkan sepasang telinga kelincinya melambai tertiup angin, mengangkat Drucken tinggi-tinggi di atas kepala, lalu terjun bebas meluncur turun dari langit-langit yang tinggi.

“!?”

Tampaknya telah menyadari apa yang hendak dilakukan oleh Shea, kali ini Golem Miledi benar-benar panik dan berusaha melarikan diri dari tempat itu. Dia berupaya menggerakkan balok apung tempat tubuhnya terkunci, namun menyadari semuanya sudah terlambat di hadapan Shea yang meluncur turun dalam kecepatan dahsyat...

Dia menghentikan pergerakannya seolah telah pasrah menerima kenyataan.

Shea langsung meledakkan peluru sebar di senjatanya, memanfaatkan daya tolak ledakan itu untuk menghantamkan pukulan sekuat tenaga tepat ke arah pasak baja.

Diiringi suara gemuruh yang memekakkan telinga, pasak baja itu tertekan semakin dalam. Kendati demikian, serangannya belum juga menembus hingga tuntas. Berniat memuntahkan seluruh sisa amunisi peluru sebar yang tersimpan di dalam senjatanya, Shea terus-menerus menarik pelatuk tanpa henti.

Dum! Dum! Dum! Dum! Dum! Dum!

“Aaaaaaaaarrrgghhh!!”

Jeritan melengking Shea membahana membelah udara. Memusatkan seluruh tekad membara miliknya demi mengakhiri pertarungan ini ke dalam palu perang yang menjadi rekan seperjuangannya. Jiwa dan raga seutuhnya, seluruh tenaga dikerahkan tanpa sisa. Seiring dengan benturan bertubi-tubi itu, balok apung tersebut merosot turun dalam kecepatan yang luar biasa mengerikan.

Dan kemudian, diiringi suara dentuman raksasa, balok apung menghantam tanah dengan sangat telak. Benturan dahsyat itu akhirnya membuat pasak hitam pekat menembus dinding pertahanan mutlak berbahan Azanthium, lalu menusuk inti Golem Miledi. Ujung pasak membenam masuk sedikit ke dalamnya, memicu retakan yang menjalar pada inti diiringi bunyi retakan yang nyaring.

Tepat pada detik saat benturan dengan tanah terjadi, Shea bertumpu pada Drucken untuk melakukan gerakan berdiri dengan tangan, lalu bersalto di udara. Lantas, memusatkan seluruh penguatan fisiknya ke kekuatan kaki, dia menghantamkan tendangan yang sarat akan gaya sentrifugal penuh tepat ke arah pasak baja sebagai pukulan penutup.

Menerima tendangan Shea yang membuatnya terus terbenam, pasak baja memperlebar retakan pada inti tersebut...

Hingga akhirnya, inti itu hancur berkeping-keping seutuhnya.

Cahaya di mata Golem Miledi padam total. Begitu memastikannya, Shea akhirnya melepaskan seluruh ketegangan dari tubuhnya lalu menghela napas lega yang panjang.

Tepat setelahnya, suara langkah pendaratan terdengar dari belakang dan Shea lekas menoleh. Di sana, tepat seperti dugaannya, Hajime dan Yue telah tiba. Shea mengacungkan jempol ke arah mereka berdua dengan senyuman yang merekah lebar di wajahnya. Membalasnya, Hajime dan Yue tersenyum sembari mengacungkan jempol balasan.

Detik saat ujian terakhir di salah satu dari Tujuh Dungeon Besar, Dungeon Besar Reisen, telah resmi ditaklukkan.

“Bagus sekali, Shea. Tekad dan semangatmu di serangan terakhir tadi luar biasa dahsyat. Aku sampai kagum melihatnya, lho.”

“...Mm, sudah berjuang keras.”

Hajime dan Yue memujinya di tengah kepulan debu yang masih membubung pekat di sekeliling.

Di tanah lapang itu kini tercipta sebuah kawah raksasa yang dihiasi retakan menjalar ke segala arah, dan di titik tengahnya, tepat di atas dada Golem Miledi yang tergeletak tidak berkutik sedikit pun, Shea yang bertumpu pada Drucken menahan kedua lututnya yang nyaris ambruk karena rasa lega dan tersenyum “ehehe”.

Alasannya enggan jatuh terduduk murni karena dia ingin tetap terlihat keren di hadapan Hajime dan Yue yang tengah melangkah mendekat hingga akhir. Menyaksikan gengsi dan hasil gemilang yang berhasil ditorehkan oleh Shea, Hajime menyipitkan mata penuh kekaguman, sementara Yue melayangkan tatapan mata yang begitu lembut.

“Ehehe, terima kasih banyak. Tapi Hajime-san, di momen begini kalau kamu bilang ‘jatuh cinta lagi deh’ juga tidak masalah lho?”

“Jatuh cinta lagi apanya, dari awal juga aku tidak pernah jatuh cinta padamu.”

Menghadapi candaan (atau mungkin bukan?) dari Shea yang berusaha menutupi rasa malunya, Hajime melontarkan teguran pedas, namun ekspresi wajahnya bertolak belakang dengan kata-kata tersebut. Shea yang memancarkan kobaran tekad luar biasa di saat-saat terakhir tadi memang terlihat begitu memikat.

Kenyataan bahwa gadis yang hingga beberapa waktu lalu sama sekali tidak mengenal pertarungan sanggup menunjukkan performa sehebat ini, sejatinya lahir murni dari keinginan kuat Shea yang ingin berdiri di panggung yang sama dengan Hajime dan Yue, serta ingin terus bersama mereka selamanya. Keinginan yang begitu dalam dan kokoh itu berpadu dengan potensi terpendamnya, membuatnya sanggup menghadapi ujian terberat di Tujuh Dungeon Besar secara langsung dari depan, hingga menorehkan pencapaian terbaik dengan mendaratkan serangan penentu kemenangan.

Sebenarnya, bagi Hajime sendiri, bantuan Shea untuk memberikan serangan penutup di saat-saat terakhir bukanlah hal yang harus ada. Dia sudah memperkirakan bahwa daya rusak Pile Bunker mungkin akan kurang, dan dia masih menyimpan cara lain untuk menekannya masuk. Namun melihat Shea yang merupakan ras setengah manusia yang cinta damai dan tidak terbiasa bertarung, yang hingga baru-baru ini tidak punya cara untuk membela diri, tidak sekalipun merengek ingin pulang, melainkan terus menyingkirkan rasa takut, cemas, dan bimbang hingga berhasil tiba di dasar dungeon besar ini, Hajime berpikir tidak ada salahnya menyerahkan serangan pamungkas itu kepadanya.

Dan hasilnya sangat memuaskan.

Serangan terakhir yang dilepaskan bersamaan dengan tekad yang begitu dahsyat itu, sejujurnya, sungguh memukau hingga membuat Hajime sendiri terpesona. Sampai-sampai dia merasa kekuatan perasaan Shea seolah tersampaikan langsung dalam bentuk gelombang kejut. Bukan berarti Hajime langsung memiliki perasaan seperti yang diharapkan oleh Shea. Kendati demikian, melihat kerja keras dan kegigihan gadis itu, wajar saja jika hatinya pada akhirnya ikut luluh. Sorot mata Hajime yang menatap Shea pun berubah menjadi jauh lebih lembut.

“Fueh? A-Anu... rasanya tatapan Hajime-san kelihatan lembut banget ya... I-Ini mimpi?”

“Kamu ini ya... Yah, mengingat bagaimana perlakuanku padamu selama ini, bisa dibilang reaksimu itu memang wajar sih...”

Dihadapkan dengan Hajime, Shea mencubit pipinya sendiri seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil. Melihat reaksi tersebut, Hajime sempat ingin memprotes, namun mengingat betapa kasarnya dia memperlakukan gadis itu selama ini, reaksi semacam itu ada benarnya juga, sehingga dia memilih untuk menahan kata-katanya.

Yue melangkah pelan mendekati Shea yang masih sibuk mencubit pipinya sendiri. Lantas, dia menarik pelan baju Shea agar menunduk, lalu perlahan mengelus kepala sang gadis. Begitu lembut dan teliti, seolah tengah merapikan helaian rambutnya yang berantakan.

“E-Eh, anu, Yue-san?”

“...Karena Hajime sepertinya tidak akan mengelusmu, meski mengecewakan, biar aku yang menggantikannya. Kamu sudah berjuang keras.”

“Y-Yue-saa~n. Uugh, ada apa ini ya? Entah kenapa air mataku jadi keluar semuaaa. Huaaa.”

“...Anak pintar, anak pintar.”

Awalnya Shea sempat bingung menghadapi tindakan Yue yang tiba-tiba, namun begitu menyadari dirinya tengah dipuji, ketegangan di dadanya seketika runtuh hingga air matanya tumpah deras, lalu dia memeluk erat tubuh Yue sembari menangis tersedu-sedu. Bagaimanapun, menjalani perjalanan pertama dan langsung dihadapkan pada salah satu dari Tujuh Dungeon Besar pastilah memberi beban batin yang luar biasa berat. Dia berhasil bertahan sejauh ini hanya berbekal tekad kuat untuk terus mengikuti Hajime dan Yue. Dipuji dan diakui seperti ini membuat bendungan air matanya jebol karena luapan rasa lega yang luar biasa.

Sebagai catatan, persis seperti yang dikatakan Yue, Hajime kemungkinan besar memang tidak akan mengelus kepalanya. Shea adalah tipe orang yang gampang besar kepala, sehingga jika dia sembarangan mengelusnya dan membuat gadis itu salah paham mengira dirinya memiliki perasaan asmara, urusannya bakal menjadi sangat merepotkan. Lewat peristiwa kali ini, Shea memang telah dianggap sepenuhnya sebagai bagian dari kelompok terdekat Hajime, namun mustahil baginya untuk membagi perasaan yang sama seperti yang dia berikan kepada Yue ke banyak orang sekaligus. Perasaan istimewa memang seharusnya seperti itu. Terlebih lagi, melakukan sesuatu yang bisa melukai hati Yue adalah hal yang sama sekali tidak terlintas di benak Hajime.

Kendati demikian, melihat Shea yang merengek manja di pelukan Yue entah karena menangis haru atau lega, serta Yue dengan wajah keibuan seorang kakak perempuan sembari mengelus kepalanya dengan lembut... yah, gambaran masa depan mereka bertiga rasanya sudah bisa ditebak secara samar-samar.

Shea yang bermanja-manja pada Yue, Yue yang memeluknya erat, serta Hajime yang memandangi keduanya lewat ekspresi yang sulit diartikan. Tepat di hadapan ketiga orang tersebut, sebuah suara mendadak menyela memecah suasana.

“Anuu~ Maaf banget ya di tengah suasana hangat begini~ Tapi kondisiku sudah mulai gawat nih, boleh minta waktunya sebentaar~?”

Suara yang sangat mereka kenal. Hajime dan yang lainnya seketika tersentak menoleh ke arah Golem Miledi, lalu menyadari bahwa cahaya di matanya yang semestinya telah padam kini kembali menyala entah sejak kapan. Secara refleks kelompok Hajime melompat mundur demi mengambil jarak. Mengingat mereka yakin intinya telah hancur berkeping-keping, mereka memasang kuda-kuda sembari memperlihatkan kewaspadaan penuh.

“Tunggu, tunggu, tenang duluu~ Ujiannya sudah selesai kok! Kalian yang menang! Aku cuma memanfaatkan sisa-sisa kekuatan di serpihan inti untuk bicara sebentar saja lhoo~ Paling cuma bertahan beberapa menit lagi.”

Memperkuat perkataan tersebut, tubuh Golem Miledi sama sekali tidak bergerak sedikit pun, dan kilatan cahaya di matanya berkedip-kedip redup seolah nyaris padam setiap saat. Kelihatannya ucapan bahwa dirinya tidak akan bertahan lebih dari beberapa menit memang benar adanya.

Hajime sedikit menurunkan kewaspadaannya lalu berbicara pada Golem Miledi.

“Lalu? Mau bicara apa, dasar orang yang gagal mati. Sudah mati pun masih tidak bisa membaca situasi... Mau kutulis di buku sejarah kalau kamu itu Pembebas paling mengecewakan sepanjang masa?”

“Ih, jahat bangett~ apaan coba perundungan secara halus begitu. Rasanya bikin aku kepikiran terus sampai mati.”

“Terus? Kalau mau minta kami mengalahkan gerombolan bajingan itu, aku tidak berminat mendengarnya.”

Mendengar kata-kata Hajime yang memotong niatnya sejak awal, Golem Miledi memancarkan atmosfer yang menyiratkan tawa getir.

“Tidak, tidak. Sia-sia juga aku memohonnya. Yang mau kubicarakan... lebih tepatnya sebuah peringatan sih. Sekalipun di dungeon yang kamu datangi nanti tidak ada Sihir Zaman Dewa yang kamu cari, pastikan untuk mengumpulkan seluruh Sihir Zaman Dewa milik kami para Pembebas tanpa terkecuali... Karena itu sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keinginanmu...”

Kekuatan Miledi tampaknya mulai mendekati batas akhir, membuat untaian kata-katanya terdengar semakin samar dan terputus-putus. Merasa tidak peduli, Hajime menyuarakan keraguannya.

“Semuanya, ya... Kalau begitu beri tahu lokasi dungeon lainnya. Catatannya sudah hilang ditelan zaman, jadi kami hampir tidak tahu apa-apa.”

“Ah, begitu ya. ...Paham deh, rupanya sudah berlalu waktu yang begitu lama... sampai-sampai lokasi dungeonnya terlupakan. ...Iya, lokasinya... lokasi dungeonnya...”

Akhirnya, suara Golem Miledi benar-benar mulai kehilangan tenaganya. Mendengar nada suaranya yang kini menyelipkan getaran emosional yang mendalam, ekspresi Yue dan Shea berubah khidmat. Di dalam mata mereka terbit rasa hormat yang mendalam kepada sosok yang telah hidup melintasi kurun waktu yang begitu panjang demi sebuah misi, atau mungkin sebuah harapan, bahkan sampai rela menukar wadah raganya demi mempertahankan kehendak jiwanya.

Secara perlahan dan bertahap, Miledi membeberkan lokasi dari sisa Tujuh Dungeon Besar lainnya. Di antaranya, ada beberapa lokasi yang benar-benar di luar dugaan.

“Itu saja. ...Berjuanglah ya.”

“...Bisa bersikap sopan juga ternyata. Ke mana perginya gaya bicara dan kalimat menyebalkanmu tadi?”

Persis seperti kata Hajime, Miledi yang sekarang sama sekali lepas dari sifat usil yang gemar memajang tulisan menyebalkan di dalam dungeon maupun gaya bicara yang memancing emosi, melainkan memancarkan ketulusan dan kesungguhan. Menilik kilasan yang sempat dia perlihatkan saat menanyakan tujuan Hajime sebelum pertarungan tadi, kemungkinan besar inilah sosok aslinya yang sebenarnya. Menjelang kepunahan totalnya, mungkin dia merasa tidak perlu lagi berpura-pura di hadapan mereka.

“Ahaha, maaf ya~ Tapi... gerombolan bajingan itu... beneran orang-orang yang brengsek banget... kerjaannya cuma bikin hal-hal yang licik dan menyebalkan terus. ...Makanya, aku cuma ingin... kalian sedikit terbiasa dengannya...”

“Hei, dengar ya. Tadi sudah kubilang ‘kan kalau aku tidak peduli sama urusan dewa gila itu. Kenapa kamu malah bicara seenaknya seolah-olah aku pasti bakal bertarung melawan mereka, sih?”

Menghadapi suara Hajime yang terdengar gusar, Miledi membalasnya dengan kata-kata yang serius dan meyakinkan.

“...Kamu pasti akan melawannya. Selama kamu tetap menjadi dirimu sendiri... cepat atau lambat... kamulah yang akan membunuh dewa.”

“...Aku tidak paham maksudnya. Yah, kalau mereka menghalangi jalanku sih mungkin saja mereka akan kubunuh...”

Hajime tampak sedikit bingung. Menyaksikan wajah tersebut, tawa geli yang terdengar riang meluncur dari bibir Miledi.

“Hehehe... begitu saja sudah cukup... Hiduplah sesuka hatimu sesuai jalan yang kamu yakini... Karena pilihan yang kamu ambil... kelak pasti... akan menjadi yang terbaik... bagi dunia ini...”

Tanpa disadari, sekujur tubuh Golem Miledi telah diselimuti oleh cahaya kebiruan yang berpendar laksana fosfor. Cahaya itu terurai menjadi butiran-butiran cahaya kecil nan lembut layaknya kunang-kunang, lalu membubung naik. Persis seperti jiwa orang mati yang tengah dijemput kembali menuju surga. Sebuah pemandangan yang begitu luar biasa mistis dan agung.

Saat itulah, Yue melangkah perlahan mendekati Golem Miledi. Dia menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata yang telah kehilangan hampir seluruh cahayanya tersebut.

“Ada apa ya?”

Suara Miledi terdengar begitu lirih bagai bisikan. Membalasnya lewat nada suara yang sama-sama berbisik, Yue mengucapkan kalimat perpisahan kepada sang Pembebas agung yang tengah memudar pergi.

“...Terima kasih atas kerja kerasmu. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik.”

“...”

Itu adalah sebuah ucapan penuh penghargaan. Hadiah sederhana dari sosok yang hidup di masa sekarang untuk sosok agung yang telah setia menanti harapan seorang diri di dasar kegelapan yang pekat. Dari sudut pandang usia, kalimat itu mungkin terdengar kurang pantas diucapkan oleh sosok yang jauh lebih muda. Kendati demikian, Yue memang tidak bisa memikirkan kata-kata lain selain itu.

Bagi Miledi sendiri, itu pastilah kata-kata di luar dugaan. Hawa keheningan yang terpaku tanpa kata sempat menguar dari tubuhnya. Hingga akhirnya, melalui suara yang begitu tenang dan lembut, Miledi bergumam lirih.

“...Terima kasih ya.”

“...Mm.”

Sebagai catatan, tepat di belakang momen percakapan terakhir antara Yue dan Miledi, Hajime yang merasa jengkel akibat digurui sempat hendak melontarkan kata-kata “sudahlah, cepat sana pergi mati” yang secara sigap disadari oleh Shea hingga gadis itu langsung memiting Hajime dari belakang sembari membekap mulutnya rapat-rapat sambil berbisik panik “Yang tidak bisa baca situasi itu sebenarnya siapa sih! Tolong diam dulu sebentar!” Hajime pun hanya bisa meronta-ronta tidak jelas, namun beruntung keduanya sama sekali tidak menyadarinya sehingga atmosfer yang khidmat tetap terjaga utuh.

“...Nah, kelihatannya... sudah waktunya ya. ...Kuharap masa depan kalian... selalu berada... di bawah kehendak yang bebas...”

Menghadiahkan untaian kalimat yang sama persis seperti yang diucapkan oleh Oscar, salah satu kaum Pembebas, Miledi Reisen, akhirnya terurai menjadi butiran cahaya lembut lalu memudar lenyap ke langit.

Keheningan menyelimuti sekeliling, dan seolah tenggelam dalam sisa-sisa keharuan, Yue dan Shea menengadah ke langit menatap jejak lintasan cahaya tersebut.

“...Awalnya kukira dia itu orang terburuk yang kepribadiannya luar biasa busuk. Tapi ternyata, dia cuma sedang berjuang sekuat tenaga saja ya.”

“...Mm.”

Yue dan Shea saling bertukar kata dalam suasana yang sedikit melankolis. Akan tetapi, Hajime, pria yang sama sekali tidak menaruh rasa simpati barang seujung kuku pun terhadap Miledi, berbicara kepada keduanya lewat nada suara yang terdengar begitu jengah.

“Hah, sudah puas belum? Ayo cepat kita lanjut ke depan. Lagipula, aku berani bersumpah kalau kepribadiannya yang busuk itu memang sifat aslinya. Sikap menjengkelkan kayak begitu jelas bukan cuma sekadar akting.”

“Tunggu dulu, Hajime-san. Tega sekali bicara begitu pada orang yang baru saja meninggal. Jahat banget. Yang benar-benar tidak bisa baca situasi itu justru Hajime-san.”

“...Hajime tidak peka?”

“Yue, kamu juga ikut-ikutan... Hah, ya sudahlah terserah. Biar kujelaskan sekalian, bukannya aku tidak bisa membaca situasi, ya. Aku cuma sengaja memilih untuk tidak membacanya.”

Sembari mengobrol santai seperti itu, kelompok Hajime mendadak menyadari salah satu sudut dinding tengah memancarkan cahaya terang. Menguasai diri kembali, mereka melangkah menuju ke arah lokasi tersebut. Mengingat posisinya berada di dinding bagian atas, ketiganya melompat bersamaan ke salah satu balok apung untuk menjadikannya pijakan. Namun tepat pada saat itu, balok apung yang mereka pijak meluncur bergerak dengan mulus, membawa kelompok Hajime terbang menuju ke arah dinding yang bercahaya tersebut.

“...”

“Waa, baloknya bergerak sendiri lho. Praktis banget ya.”

“...Layanan bonus?”

Shea terperangah melihat balok apung yang mengantar mereka secara otomatis, sementara Yue memiringkan kepalanya heran. Hajime sendiri entah mengapa justru memasang muka yang terlihat masam. Dalam waktu kurang dari 10 detik mereka telah tiba di depan dinding bercahaya, lalu balok tersebut berhenti tepat di jarak sekitar 5 meter di hadapannya. Kemudian, seolah telah memperhitungkan waktunya dengan tepat, pendaran pada dinding perlahan memudar, dan bagian dinding yang tadi berpendar ditarik keluar ke arah depan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Di baliknya tampak sebuah lorong memanjang yang tersusun dari dinding putih mengilap.

Balok apung yang dinaiki kelompok Hajime meluncur mulus memasuki lorong tersebut. Kelihatannya balok ini memang bertugas mengantarkan mereka langsung menuju ke tempat persembunyian Miledi Reisen. Di ujung perjalanan lorong itu, terdapat sebuah dinding berukirkan tujuh lambang yang sama persis seperti yang tertera pada pintu menuju tempat persembunyian Oscar di Dungeon Besar Orcus tempo hari. Saat kelompok Hajime mendekat, dinding tersebut bergeser ke samping dengan perhitungan waktu yang begitu sempurna, mengundang mereka untuk masuk ke bagian dalam. Balok apung itu terus melaju tanpa henti melewati celah dinding tersebut.

Dan kemudian, di balik dinding yang baru saja mereka lewati...

“Yaho, ketemu lagi! Ini Miledi-chan lhoo!”

Di sana Golem Miledi berukuran mini tengah berdiri menyambut mereka.

“...”

“...”

“Tuh ‘kan, apa kubilang. Sudah kuduga pasti bakal jadi begini.”

Yue dan Shea seketika terbungkam seribu bahasa. Di sisi lain, Hajime yang tampaknya sudah memperkirakan situasi ini hanya sanggup memasang wajah yang luar biasa muak.

Alasan mengapa Hajime sanggup menebak kejadian ini sejatinya sangat sederhana, karena sejak awal dia telah menyadari bahwa baik Miledi yang bersikap konyol maupun Miledi yang bersikap serius, keduanya memang sama-sama sosok aslinya. Tingkat menyebalkannya tulisan di sepanjang dungeon serta kejahilan jebakan yang dipasang jelas berada di level yang mustahil diciptakan oleh orang yang berhati lurus dan serius. Terlebih lagi, Miledi memilih metode meninggalkan kehendak jiwanya untuk menyeleksi para penantang secara langsung. Jika demikian, mustahil jika misinya selesai hanya dengan dikalahkan satu kali saja oleh penantang yang datang. Pasalnya, jika begitu maka ujian terakhir dungeon ini akan lenyap selamanya hanya dalam sekali takluk.

Oleh sebab itu, Hajime sudah menduga bahwa menghancurkan Golem Miledi tadi tidak akan melenyapkan Miledi itu sendiri. Dan dugaan tersebut berubah menjadi keyakinan mutlak tepat saat balok apung tadi mulai bergerak membawa dan memandu mereka secara teratur. Pasalnya, satu-satunya sosok yang sanggup menggerakkan balok apung secara sengaja hanyalah Miledi seorang.

Menghadapi Yue dan Shea yang terbungkam membisu seraya menundukkan kepala, Miledi menyapa mereka dengan nada bicara yang luar biasa santai.

“Lhoo? Lhoo? Kok loyo banget sih~? Boleh lho kalau mau lebih kaget lagi~? Ah, atau jangan-jangan saking kagetnya sampai gak bisa berkata-kata, ya? Kalau begitu, prank kita sukses besaaar dong ya!”

Berbeda dari versi raksasanya, Golem Miledi mini ini memiliki desain yang lebih menyerupai manusia. Tubuhnya yang ramping dibalut jubah panjang berwarna putih susu, lengkap dengan topeng putih yang menutupi wajahnya. Gambar emotikon senyum di topeng tersebut terasa sedikit memancing emosi. Menyelipkan kedipan bintang centil di akhir kalimatnya, Miledi mini melangkah mendekat hingga ke hadapan kelompok Hajime. Wajah Yue dan Shea masih tertunduk, tersembunyi di balik helaian rambut yang terurai sehingga ekspresi mereka tidak terlihat. Namun karena sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Hajime segera mengambil jarak mundur satu langkah.

Yue dan Shea melontarkan pertanyaan lewat gumaman lirih.

“...Yang tadi itu apa?”

“Hmm~? Tadi? Ah, jangan-jangan kalian mengira aku benar-benar lenyap ya? Mustahiiiil! Tidak mungkin~!”

“Tapi, tadi cahayanya membubung naik lalu menghilang, ‘kan?”

“Hehehe, aktingnya lumayan ‘kan? Pementasan sandiwara tadi itu! Ya ampun, tidak kusangka Miledi-chan ternyata punya bakat jadi aktris juga! Benar-benar anak yang luar biasa!”

Tingkat semangat Miledi mini melonjak drastis tanpa kendali. Berbanding lurus dengan itu, kadar menyebalkannya pun melesat menembus batas. Tepat di hadapan Miledi mini, Yue menyodorkan tangannya ke depan, sementara Shea mengangkat Drucken tinggi-tinggi. Menyadari gelagat tersebut, Miledi mini menghentikan gerakannya sembari membatin, “Eh? Apa aku kelewatan ya?”

“E-Eh...”

Menghadapi Yue dan Shea yang melangkah mendekat dengan gerakan terhuyung-huyung yang mengerikan, Miledi mini menggerak-gerakkan kepalanya dengan kaku, memperlihatkan gestur bingung mencari kata-kata, hingga akhirnya dia membulatkan tekad dan berujar.

“Hehe, maap ya!”

“...Mati sana.”

“Tolong mati saja.”

“T-Tunggu! Tunggu sebentar! Tubuh yang ini lemah banget lhoo! Kalau yang ini sampai rusak urusannya beneran gawat! Tenang duluu! Aku minta maaf deh!”

Untuk beberapa saat, suara gaduh, debuman keras, retakan benda patah, jeritan, dan berbagai suara kehancuran lainnya terdengar bersahut-sahutan, namun Hajime mengabaikan segalanya dan memilih fokus mengamati seisi ruangan. Ruangan itu sendiri seluruhnya berwarna putih bersih, tanpa ada benda apa pun selain sebuah lingkaran sihir yang terukir di lantai bagian tengah. Satu-satunya hal lain yang tampak adalah celah yang menyerupai pintu di salah satu bagian dinding, yang ditebak oleh Hajime kemungkinan merupakan tempat tinggal Miledi mini.

Hajime melangkah santai mendekati lingkaran sihir lalu mulai menelitinya sesuka hati. Melihat hal itu, Miledi mini buru-buru berlari menghampiri Hajime. Dari arah belakang, tampak sesosok putri vampir tanpa ekspresi dan seorang gadis bertelinga kelinci tengah mengejarnya dengan derap langkah yang mengintimidasi.

“Kamu ini yaa, jangan sembarangan diutak-atik dong. Lagian kalian ‘kan teman sekelompok! Jangan cuma diabaikan, tolong hentikan mereka!”

Sembari melontarkan protes, Miledi mini bersembunyi di balik punggung Hajime, berniat menjadikannya perisai menghadapi dua iblis yang tengah mengamuk.

“...Hajime minggir, aku tidak bisa membunuhnya.”

“Tolong menyingkir, Hajime-san. Makhluk itu harus kuhabisi. Sekarang, di sini.”

“Tidak kusangka aku bakal mendengar lelucon itu di momen seperti ini. Lagian sudahlah, berhenti main-main dan ayo selesaikan apa yang harus diselesaikan.”

Dengan ekspresi jengah, Hajime menegur Yue dan Shea. Saat Miledi mini di belakangnya mulai ikut memanas-manasi dengan berujar “Benar, benar, ayo kerja yang serius dong!” Hajime mencengkeram wajahnya menggunakan lengan prostetiknya dengan teknik cengkeraman besi. Gambar emotikon senyum di topengnya tampak sedikit terdistorsi menyiratkan penderitaan yang pilu, namun Hajime sama sekali tidak peduli. Dia terus mengerahkan tenaga hingga suara retakan tulang mulai berderak dari kepala Miledi mini.

“Kalau kamu tidak mau desain kepalamu ini berubah jadi lebih indah, cepat serahkan Sihir Zaman Dewa milikmu.”

“Anuu~ kamu sadar tidak sih kalau ucapan dan tindakanmu itu persis banget seperti penjahat—krak krak krak—Understand, Sir! Sekarang juga akan kuberikan! Makanya berhentiiii! Kalau ditekan lebih dari ini tubuhku bisa rusak beneran!”

Melihat Miledi mini yang meronta-ronta, kekesalan Yue dan Shea tampaknya sudah cukup terlampiaskan sehingga keduanya kembali tenang, dan menyadari bahwa dia benar-benar bisa hancur jika terus bercanda, Miledi mini pun akhirnya mulai mengaktifkan lingkaran sihir tersebut.

Kelompok Hajime melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir. Kali ini, karena Miledi sendiri yang menyaksikan keberhasilan mereka menyelesaikan ujian, proses penelusuran ingatan seperti yang terjadi di Dungeon Besar Orcus tempo hari tidak diperlukan lagi, sehingga pengetahuan serta metode penggunaan Sihir Zaman Dewa langsung terpatri secara otomatis ke dalam benak mereka. Hajime dan Yue yang sudah pernah mengalaminya tidak menunjukkan reaksi berlebih, namun Shea yang baru pertama kali merasakannya sempat tersentak kaget hingga tubuhnya terlonjak sesaat.

Hanya dalam hitungan detik proses penanaman pengetahuan itu telah tuntas, dan kelompok Hajime berhasil memperoleh Sihir Zaman Dewa milik Miledi Reisen tanpa kendala berarti.

“Ini... benar-benar sihir manipulasi gravitasi, ya.”

“Benar bangeet. Sihir Miledi-chan ini intinya adalah Sihir Gravitasi. Gunakan dengan baik yaa. ...Sebenarnya aku ingin bilang begitu sih, tapi kamu sama si kelinci ini sama sekali tidak punya bakat~ Saking tidak berbakatnya bahkan sampai bikin geleng-geleng kepala lhoo!”

“Berisik. Aku sudah menduganya sejak awal.”

Persis seperti kata Miledi mini, walaupun telah ditanamkan pengetahuan tentang Sihir Gravitasi, Hajime dan Shea sama sekali tidak merasa sanggup menggunakannya dengan normal. Sama seperti Yue yang tidak bisa menggunakan Sihir Penciptaan dengan baik, mereka berdua tidak punya bakat di bidang tersebut.

“Yah, kalau si kelinci ini mungkin masih bisa pakai untuk menambah atau mengurangi berat badannya sendiri sih. Kalau kamu... berhubung kamu bisa pakai Sihir Penciptaan, akali saja pakai cara itu. Nah, kalau si pirang ini bakatnya sempurna banget. Kalau dilatih dengan benar dia bisa menguasainya dengan maksimal.”

Mendengar penjelasan Miledi mini yang terdengar agak serius itu, Hajime mengangkat bahu, Yue mengangguk paham, sementara Shea tampak terpukul berat. Sudah susah payah mendapatkan Sihir Zaman Dewa namun divonis tidak berbakat, dan jikapun bisa digunakan kemampuannya cuma sebatas menambah atau mengurangi berat badan saja. Rasa kecewanya benar-benar luar biasa. Terlebih lagi, menambah berat badan jelas bukan pilihan yang diinginkan, namun mengurangi berat badan pun bisa memicu masalah tersendiri. Jika sampai lengah, proporsi tubuhnya bisa berubah ke arah yang sangat berbahaya. Merasa dirinya justru malah tertimpa beban yang merugikan, Shea seketika kehilangan seluruh semangatnya.

Mengabaikan Shea yang meratapi nasib di sampingnya, Hajime kembali menuntut. Sama sekali tanpa rasa sungkan, apalagi belas kasihan.

“Hei, Miledi. Cepat serahkan bukti penaklukan dungeon. Terus, berikan juga semua Artefak praktis yang kamu punya dan batu-batu mineral langka seperti batu resonansi.”

“...Kamu sadar tidak kalau kalimatmu itu sudah persis banget kalimatnya perampok? Kamu sama sekali tidak punya rasa bersalah?”

Topeng emotikon senyum yang telah sedikit penyok itu entah bagaimana tampak menatap dengan jengkel, namun Hajime sama sekali tidak ambil pusing. Miledi mini meraba-raba bagian dalam bajunya, mengeluarkan sebuah cincin, lalu melemparkannya ke Hajime. Hajime menangkapnya dengan tangkas hingga menimbulkan bunyi plak. Cincin Reisen tersebut memiliki desain unik berupa sebuah pasak tunggal yang menembus dua bentuk elips di bagian atas dan bawahnya.

Miledi mini kemudian mewujudkan sejumlah besar bijih mineral ke udara kosong. Kemungkinan besar dia memiliki Artefak Ruang Harta. Tampaknya dia baru saja mengeluarkan tumpukan mineral yang disimpannya dari sana. Melihat betapa mudahnya dia mengeluarkan barang-barang itu, ada kemungkinan dia memang berniat menyerahkannya sejak awal. Entah mengapa Miledi begitu yakin bahwa Hajime kelak akan bertarung melawan dewa gila tersebut, sehingga dia sama sekali tidak merasa keberatan memberikan bantuan sebesar ini.

Akan tetapi, merasa belum puas dengan apa yang diberikan adalah standar khas seorang Hajime. Sembari memindahkan tumpukan mineral yang disodorkan ke dalam Ruang Harta miliknya, dia menatap dingin Miledi mini.

“Hei, itu Artefak Ruang Harta ‘kan? Kalau begitu serahkan sekalian wadahnya. Di dalamnya pasti masih tersisa Artefak lain ‘kan?”

“H-Hei~ Sudah tidak ada lagi yang bisa kuberikan. Ruang Harta maupun Artefak-Artefak lainnya itu barang penting yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemeliharaan dungeon ini.”

“Memangnya aku peduli? Sini serahkan.”

“Ah, dibilang tidak ya tidak!”

Melihat Hajime yang berniat menjarah segalanya hingga ke akar-akar, dengan panik Miledi mini melangkah mundur. Semua Artefak yang dimilikinya memang hanya digunakan untuk keperluan operasional dungeon. Bahkan Artefak-Artefak tersebut sama sekali tidak berguna di luar dungeon, sehingga Hajime membawanya pun tidak akan ada gunanya. Miledi berusaha menjelaskan poin-poin penting itu dengan ringkas, namun Hajime hanya membalas dengan “Oh, aku paham kok. Kalau begitu cepat serahkan” sembari terus menuntut tanpa ampun. Dilihat dari mana pun, dia benar-benar cuma perampok.

“Hiiih, sudah kubilang tidak akan kukasih! Sudah sana, cepat pulang!”

Menghadapi Hajime yang terus melangkah maju memojokkannya perlahan-lahan, Miledi mini lekas memutar tumitnya lalu berlari kencang menuju ke tepi dinding, mengapungkan sebuah balok apung lalu menaikinya hingga melayang mendekati langit-langit.

“Jangan lari dong. Aku ‘kan cuma minta kamu melucuti semua barang bawaanmu sebagai hadiah penaklukan dungeon. Bukannya ini tuntutan yang sangat wajar?”

“Isi kepalamu pasti sudah gak beres sampai-sampai bisa menganggap hal itu wajar! Uugh, tidak kusangka kalimat yang dulu selalu diucapkan O-chan kepadaku sekarang malah kuucapkan sendiri ke orang lain...”

“Sebagai informasi, pola pikir ini memang kutempa dan kupelajari di dalam dungeonnya si O-chan itu.”

“O-chaaaan!!”

Meskipun sempat merasa jengah pada Hajime, Yue dan Shea yang masih menyimpan dendam kesumat akibat dipermainkan habis-habisan sepanjang perjalanan ikut bergabung dalam perburuan, mempersempit jaring pengepungan terhadap Miledi secara perlahan. Menyadari bahwa setengah dari nasib malang ini lahir dari perbuatannya sendiri dan setengahnya lagi akibat ulah dungeon ciptaan mantan rekannya, rasa sesak yang tidak tertahankan merayapi batin Miledi.

“Haaah, kenapa penakluk pertamaku harus makhluk seajaib ini sih... Ya sudahlah, terserah. Akan kupaksa kalian keluar dari sini sekarang juga! Jangan pernah balik lagi ke sini yaa!”

Tepat di hadapan kelompok Hajime yang sudah bersiap menerjang ke arahnya, Miledi mini menyambar seutas tali yang entah sejak kapan telah menjuntai dari langit-langit, lalu menariknya ke bawah dengan kuat.

“?”

“?”

“?”

Kelompok Hajime sempat heran bertanya-tanya apa yang tengah dilakukannya. Namun sesaat kemudian, suara yang sudah muak mereka dengar kembali bergema di telinga mereka.

Klung!!

“!?”

“!?”

“!?”

Benar, itu adalah suara picu mekanisme jebakan.

Detik saat suara itu bergema, diiringi suara gemuruh, air dalam volume yang luar biasa masif membanjir masuk dari dinding di keempat penjuru ruangan. Menyembur deras layaknya air bah dari arah miring alih-alih tegak lurus, air dalam jumlah luar biasa banyak itu menenggelamkan seisi ruangan menjadi arus deras dalam sekejap mata. Di saat yang sama, lantai di sekitar lingkaran sihir bagian tengah ambruk ke bawah membentuk corong perangkap undur-undur, menciptakan sebuah lubang menganga tepat di tengahnya. Arus air yang berputar kencang meluncur tersedot masuk ke dalam lubang tersebut dalam sekali sentakan.

“Bajingan! Ini ‘kan...!”

Hajime sempat membeku sesaat tepat ketika menyadari sesuatu, lalu detik berikutnya wajahnya terdistorsi oleh rasa murka yang luar biasa terhina.

Ruangan serba putih, lubang cekung di bagian tengah, serta pusaran air masif yang tersedot deras ke dalamnya... Benar, tata letak ini persis seperti kloset toilet yang tengah disiram!

“Hal-hal yang menyebalkan memang paling pas kalau disiram air sampai hanyut!”

Entah bagaimana caranya, emotikon senyum di topeng Miledi mini berubah bentuk menjadi kedipan mata centil.

Masih diselimuti rasa jengkel yang meluap-luap, Yue berniat melancarkan sihir secara refleks demi menerbangkan mereka semua ke atas. Berkat keberadaan lingkaran Sihir Zaman Dewa di ruangan ini, efek dekomposisi mana dungeon rupanya tidak bekerja. Oleh sebab itu, meskipun sisa mananya tinggal sedikit, menyelamatkan semua orang dari jeratan arus deras masih sangat sanggup dia lakukan.

“Mela...”

“Tidak akan kubiaarkaan~!”

Namun tepat di saat Yue hendak merapalkan sihir Melayang, Miledi mini menyodorkan tangan kanannya ke depan, dan secara bersamaan beban tekanan dahsyat membentur kelompok Hajime. Laksana ditekan oleh sesuatu yang luar biasa berat dari atas, mereka terbenam paksa ke dalam arus air yang deras. Miledi tampaknya baru saja menggunakan Sihir Gravitasi untuk melipatgandakan beban tarikan ke arah bawah.

“Sampai jumpa lagii~ Berjuanglah menaklukkan dungeon lainnya yaa~”

“Guhkuh... Kurang ajar, kamu pikir kami ini kotoran, hah!? Suatu saat pasti akan kuhancurkan kamuuu!!”

“Uhuk... Tidak akan kumaafkan.”

“Akan kubunuh kamuuu! Fgakh!”

Dengan makian terakhir itu, kelompok Hajime ditelan tanpa daya oleh arus deras dan tersedot masuk ke dalam lubang pembuangan. Tepat sedetik sebelum terperosok ke dalam lubang, Hajime seorang diri tampaknya sempat melemparkan sesuatu sebagai bentuk aksi balas dendam. Begitu kelompok Hajime hanyut tertelan ke dalam lubang, air yang membanjiri ruangan segera surut secepat saat ia datang, dan permukaan lantai pun kembali pulih seperti sedia kala.

“Fiuh~ benar-benar gerombolan orang yang merepotkan ya~ Tapi ngomong-ngomong, Ahli Sinergi yang sama seperti O-chan, ya. Heheh, entah kenapa rasanya seperti takdir. Berjuanglah sekuat tenaga demi menggapai keinginanmu ya... Baiklah, sekarang soal perbaikan dungeon dan golem-golem ini, kelihatannya aku bakal sibuk banget untuk beberapa waktu ke depan. ...Hmm? Benda apa itu di sana?”

Walaupun mustahil baginya untuk berkeringat, Miledi mini bergumam sendirian sembari memperagakan gestur menyeka dahi. Lantas, sudut matanya mendadak menangkap sebuah benda asing yang tidak lazim. Sebuah belati yang menancap di dinding, dengan sebuah objek hitam pekat tergantung di gagangnya. “Sebenarnya apa itu ya?” gumamnya sembari melangkah mendekat, hingga akhirnya dia menyadari bentuk yang tidak asing itu.

“Hah!? Jangan-jangan benda ini...!?”

Objek hitam pekat itu tidak lain adalah granat tangan buatan tangan Hajime sendiri. Tepat sebelum terisap ke dalam lubang, sebagai bentuk pembalasan kecil-kecilan, Hajime sempat melemparkan granat tangan yang diikatkan pada belati. Karena sudah berulang kali melihatnya digunakan di dalam dungeon, Miledi menyadari bahwa itu adalah bahan peledak, lalu berusaha melarikan diri dengan panik dan penuh rasa takut. Masalahnya, Sihir Gravitasi saat ini sangat boros mana bagi tubuh Miledi mini, dan cadangan tenaganya sudah terkuras habis pada serangan terakhir tadi. Akibatnya, dia tidak sanggup meredam kekuatan ledakan tersebut.

Miledi mini buru-buru memutar tumitnya dengan panik, namun sudah terlambat. Detik saat Miledi mini berbalik arah, ruangan serba putih itu seketika dibanjiri kilatan cahaya yang menyilaukan mata, disusul gelombang kejut dahsyat yang menghantam segalanya.

Di bagian terdalam dungeon, jeritan melengking seorang wanita yang berteriak “Hinyaaaa!!” bergema memecah keheningan. Konon kabarnya, setelah kejadian itu ada sesosok golem mini yang menangis sesenggukan karena beban perbaikan dungeonnya menjadi berlipat ganda semakin berat...

Di sisi lain, kelompok Hajime yang hanyut terbuang layaknya kotoran diseret dalam kecepatan mengerikan melintasi tempat yang menyerupai terowongan bawah tanah yang dipenuhi luapan arus deras. Tanpa ada celah sedikit pun untuk mengambil napas, mereka murni meluncur maju di bawah permukaan air. Sebisa mungkin mereka berusaha mengendalikan posisi tubuh agar tidak sampai melakukan kecerobohan fatal seperti membentur dinding hingga jatuh pingsan.

Tepat pada saat itulah, kelompok Hajime menangkap beberapa siluet yang berenang mendahului mereka. Itu adalah kawanan ikan. Tampaknya lokasi tempat mereka hanyut ini merupakan urat air bawah tanah yang terhubung langsung dengan sungai atau danau lain di luar sana. Berbeda dengan kelompok Hajime yang hanya bisa pasrah terombang-ambing diseret arus, kawanan ikan tersebut berenang dengan begitu lincah di tengah arus deras, sehingga mereka menyalip kelompok Hajime dengan sangat mudah satu demi satu.

Salah satu dari kawanan ikan itu entah sejak kapan berenang bersisian tepat di samping wajah Shea yang tengah menahan napasnya sekuat tenaga. Tanpa sengaja, Shea melirikkan matanya ke arah ikan tersebut.

Pandangan mereka saling bertemu. Antara Shea dan seekor ikan. Tidak, walaupun berbadan ikan, makhluk itu memiliki wajah manusia, terlebih lagi mata dari wajah seorang pria paruh baya. Terdengar tidak masuk akal memang, namun kenyataannya memang tepat seperti itu. Singkatnya, makhluk yang saling bertatapan mata dengan Shea adalah seekor ikan berwajah manusia. Ikan berwajah bapak-bapak yang terlihat angkuh dan lesu tersebut mengingatkan pada sosok karakter peliharaan virtual legendaris di masa lalu.

Mata Shea membelalak lebar karena syok. Nyaris saja dia menghela napasnya, namun dia buru-buru membekap mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Kendati demikian, saking terkejutnya, dia sama sekali tidak sanggup memalingkan pandangannya. Shea dan si bapak-bapak (ikan) itu terus saling bertatapan sembari melesat maju di tengah arus deras!

Lantas, momen antara Shea dan si bapak-bapak (ikan) yang sempat terasa berlangsung abadi itu tiba-tiba menemui akhirnya secara tiba-tiba. Karena, sebuah suara bergema langsung di dalam kepala Shea.

Apa yang kamu lihat?

Lengkap dengan bunyi decakan lidah yang menyebalkan. Kali ini Shea benar-benar tidak bisa menahannya. Di dalam air, dia langsung memuntahkan seluruh cadangan napasnya dengan bunyi buhoah yang spektakuler. Kemungkinan besar, si bapak-bapak (ikan) ini adalah salah satu jenis monster. Dan ada kemungkinan dia memiliki sihir bawaan semacam Telepati. Namun tanpa ada cara untuk memastikannya, si bapak-bapak (ikan) itu berenang meliuk-liuk santai membelah arus deras lalu melesat jauh ke depan dalam sekejap mata.

Yang tertinggal di belakang hanyalah sesosok gadis bertelinga kelinci yang matanya telah memutih dan hanyut tanpa daya terbawa arus air.

 

Sebuah kereta kuda dan beberapa ekor kuda tengah melangkah santai menyusuri jalan raya yang menghubungkan kota dengan kota, maupun desa dengan desa, diiringi ketukan derap langkah berirama pakka-pakka. Tentu saja, di atas punggung kuda-kuda itu ada penunggangnya. Tiga orang pria dan seorang wanita yang berpenampilan layaknya petualang. Sementara di atas kereta kuda, tepatnya di kursi kusir, duduk seorang gadis berusia sekitar 15 tahun dan sesosok monster... ralat, seorang gadis berotot kekar.

“Sona-chaan, sebentar lagi ada mata air lho, kita istirahat sebentar di sana yaa~”

“Siap, Crystabel-san.”

Sosok wanita berotot yang dipanggil Crystabel itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah pemilik toko pakaian di Kota Brooke yang dulu sempat melayani Yue dan Shea. Dan gadis muda yang duduk di samping Crystabel adalah Sona Masaka, gadis maskot dari Penginapan Masaka. Namanya memang terdengar seperti orang yang selalu terkejut, namun dia sejatinya hanyalah gadis biasa yang sedikit memiliki rasa ingin tahu tinggi dan pikiran yang agak terlalu romantis.

Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan pulang menuju Kota Brooke dari kota tetangga dengan menyewa pengawalan para petualang. Persis seperti yang terlihat dari tubuh kekarnya, Crystabel sangat kuat bagaikan monster, sehingga dia sering pergi sendiri untuk mencari bahan-bahan kain pakaian. Kali ini pun dia sengaja meninggalkan kota untuk urusan pengadaan barang dagangan. Sona kemudian ikut menumpang dalam perjalanan tersebut. Mendengar kabar bahwa kerabatnya di kota tetangga mengalami luka parah, dia pergi mengantarkan barang jengukan mewakili kedua orang tuanya yang tidak bisa meninggalkan penginapan. Para petualang itu sendiri awalnya adalah petualang dari Kota Brooke yang baru saja menyelesaikan misi, sehingga mereka sekalian mengawal rombongan ini dalam perjalanan pulang.

Jarak menuju Kota Brooke tinggal menyisakan sekitar satu hari perjalanan lagi. Rombongan Crystabel memutuskan untuk mengambil istirahat makan siang di dekat mata air yang berada di pinggir jalan raya.

Setibanya di mata air, rombongan Crystabel memberi minum kuda-kuda mereka sembari mulai menyiapkan makan siang di tepi mata air. Sona melangkah mendekat ke pinggir mata air untuk menimba air. Namun tepat saat dia mencelupkan wadahnya ke dalam mata air untuk mengambil air, gopoh! Gopo-gopo-gobakh!! Tiba-tiba saja bagian tengah mata air mulai bergolak berbuih dan air menyembur deras ke atas dalam sekejap mata.

“Kyaaa!”

“Sona-chan!”

Melihat Sona yang menjerit lalu jatuh terduduk di tanah, Crystabel berlari secepat kilat menghampirinya, menggendongnya demi melindunginya, lalu bergegas mundur kembali ke posisi para petualang lainnya. Di saat yang sama, air yang menyembur ke atas semakin mengganas, hingga akhirnya membentuk pilar air raksasa dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai lebih dari 10 meter.

Mata air ini adalah tempat istirahat yang sudah sangat terkenal di sepanjang jalur jalan raya, dan fenomena semacam ini belum pernah dilaporkan sekalipun sebelumnya. Oleh sebab itu, Crystabel, Sona, dan para petualang lainnya terdiam dengan mulut ternganga, mendongak menatap pilar air raksasa tersebut tanpa peduli dengan percikan tetesan air yang menghujani mereka layaknya gerimis. Lalu...

“Duaaaaaaaarrghh!!”

“Nghhhhh!!”

“...”

Bersamaan dengan momentum semburan air yang melesat ke atas, tiga... dua orang melayang keluar sembari memekikkan jeritan panik. Sontak mata Crystabel dan yang lainnya nyaris melompat keluar saking kagetnya sambil berseru “Apa-apaan itu!” Ketiga sosok manusia yang terlempar keluar itu melayang di udara hingga ketinggian hampir 10 meter sembari menjerit, lalu jatuh mengempas air di sisi seberang mata air tempat rombongan Crystabel berada dengan suara ceburan yang keras.

“...”

“...”

“...”

“...”

“...”

“...”

“S-Sebenarnya ada apa ini...”

Para petualang dan Crystabel terbungkam seribu bahasa. Gumaman lirih Sona mewakili isi hati semua orang yang ada di sana.

“Uhuk, uhuk. Cih, sialan banget nasibku. Bajingan itu, suatu hari nanti pasti akan kuhancurkan sampai berkeping-keping. Yue, Shea. Kalian tidak apa-apa?”

“Uhuk-uhuk... Mm, aku baik-baik saja.”

Hajime yang berhasil berenang naik ke permukaan air sambil mengumpat kasar memastikan keselamatan Yue dan Shea. Akan tetapi, hanya sahutan Yue saja yang terdengar membalas.

“Shea? Hei, Shea! Kamu di mana!?”

“Shea... di mana?”

Meski dipanggil berkali-kali, tidak ada tanda-tanda dirinya di sekeliling. Hajime bergegas menyelam kembali ke dalam air sembari menyipitkan mata. Tepat seperti dugaannya, tubuh Shea tengah tenggelam perlahan menuju ke dasar mata air. Kondisinya yang hilang kesadaran ditambah bobot berat dari Drucken membuatnya mustahil untuk bisa mengapung sendiri.

Hajime menarik keluar bongkahan mineral super berat yang telah dikompresi dari dalam Ruang Harta, menjadikannya pemberat untuk menyelam cepat ke dasar, lalu mengentakkan kakinya ke tanah untuk menarik tubuh Shea naik ke permukaan.

Hajime menyeret tubuh Shea naik ke tepi daratan. Shea yang dibaringkan telentang tampak pucat dengan mata memutih ke atas, serta napas dan detak jantungnya telah berhenti total. Entah hal mengerikan macam apa yang baru saja dilihatnya, wajahnya tampak sedikit berkedut tegang meski tengah pingsan tidak sadarkan diri.

“Yue, lakukan napas buatan!”

“...Na... apa?”

“Ah, maksudku, amankan jalur pernapasannya terus...”

“???”

Melihat kondisi gawat Shea, Hajime bermaksud melakukan CPR dan memberikan instruksi pada Yue, namun Yue hanya memiringkan kepalanya dengan tanda tanya besar melayang di atas kepalanya. Di dunia ini, ada kemungkinan CPR memang tidak pernah ada. Mengingat tubuhnya tidak mengalami luka luar dan meminumkan cairan tambahan pada orang yang baru saja menenggak air terlalu banyak justru berbahaya, Air Ilahi sama sekali tidak berguna di situasi ini. Yue sendiri tidak menguasai sihir penyembuhan, dan pastinya dia tidak mengetahui sihir khusus yang sanggup memompa jantung sekaligus mengeluarkan air dari paru-paru secara spesifik.

Tidak diketahui sudah sejak kapan Shea kehilangan kesadarannya, namun yang pasti situasi saat ini benar-benar berpacu dengan waktu. Membulatkan tekadnya, Hajime melakukan CPR pada Shea.

Tentu saja jika demikian... tindakan dari mulut ke mulut sudah pasti tidak terelakkan...

Menyaksikannya, wajah Yue sempat terlihat masam sesaat. Akan tetapi, karena paham betul bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Shea, dia hanya memandanginya dalam diam. Benar-benar diam, menatap lurus tanpa berkedip sedikit pun.

Sebisa mungkin mengabaikan tatapan hampa yang menghunus dari Yue, Hajime terus mengulang CPR.

Astaga. Padahal baru saja kubilang kagum melihatnya, tapi begitu semuanya beres malah nyaris mati begini... kamu ini benar-benar kelinci yang serba mengecewakan.

Tepat saat Hajime tersenyum getir di dalam benaknya, usai beberapa kali pemberian napas buatan, Shea akhirnya memuntahkan air dari mulutnya. Hajime segera memiringkan kepalanya ke samping agar airnya tidak menyumbat saluran pernapasan. Secara posisi, tubuh Hajime kini sepenuhnya berada tepat di atas tubuh Shea.

“Uhuk, uhuk... Hajime-san?”

“Ya, ini Hajime-san. Lagian bisa-bisanya kamu nyaris mati cuma gara-gara begi...ngh!?”

Menghadapi Shea yang terbaring sembari terbatuk-batuk, Hajime memasang wajah jengah dari jarak yang sangat dekat, meski ada kelegaan yang tersirat di matanya. Namun melihat Hajime dengan tatapan sayu, entah apa yang melintas di benaknya, Shea mendadak menyergap memeluk leher Hajime dengan kuat lalu langsung mencium bibirnya. Reaksi yang sama sekali tidak terduga serta jarak yang kelewat intim membuat Hajime terlambat berkelit.

“Mmph!? Mmmh!!”

“Ammh, nchuu.”

Shea mendekap kepala Hajime dengan kedua tangannya, melingkarkan kedua kakinya ke pinggang pemuda itu untuk mengunci tubuhnya rapat-rapat, lalu tanpa ragu dan tanpa ampun menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Hajime. Tenaga monster milik Shea berpadu dengan posisi tubuh Hajime yang canggung membuatnya tidak sanggup melepaskan diri secepatnya.

Sejujurnya, pada pemberian napas buatan yang ke sekian kali tadi, entah bagaimana Shea sempat menyadari bahwa dirinya tengah dicium oleh Hajime. Tubuhnya memang tidak bisa digerakkan dan kesadarannya nyaris lenyap, namun Penguatan Tubuh yang dia aktifkan secara refleks saat menenggak air waktu itu mungkin telah memicu kondisi persepsi yang unik tersebut.

Menerima ciuman yang berulang kali mendarat di bibirnya, jarum meteran emosi Shea seketika melonjak menembus batas maksimal. Bertekad tidak akan melepaskannya, dia mengunci tubuh Hajime erat-erat lalu membalas ciuman pemuda itu dengan penuh gelora tanpa memikirkan apa pun lagi.

Di sisi lain, bagaimana dengan kondisi Yue yang menyaksikannya secara langsung? Dia terlihat sangat jengkel. Meskipun tampak luar biasa jengkel, dia sama sekali tidak berniat melerai. Mulutnya hanya berkomat-kamit bergumam lirih, “Khusus sekarang saja, hadiah...” Tampaknya Yue sangat mengerti luapan perasaan Shea, sehingga dia memutuskan untuk memaafkannya sebagai bentuk hadiah atas perjuangan kerasnya di dalam dungeon.

Meski begitu, binar cahaya di matanya tampak nyaris padam total, menegaskan bahwa batin sang putri vampir tengah dilanda pergulatan emosi yang luar biasa. Malam ini, Hajime dipastikan tidak akan bisa beristirahat barang sejenak pun demi meladeni Yue yang berubah ke mode manja tanpa batas... kemungkinan besar.

“Waaa, apa ini!? Sebenarnya apa-apaan situasi begini!? H-Hebat banget... basah kuyup, saling membelit begitu... p-panas sekali... padahal di tempat terbuka begini! A-Aneh sekali!”

Yang baru saja tiba di tempat itu adalah Sona-chan, gadis maskot penginapan yang kepalanya dipenuhi fantasi liar. Disusul Crystabel yang meliuk-liukkan tubuhnya sembari mencoba mengingat sosok Yue dan Shea dari ingatannya, “Ara? Kalau tidak salah kalian ini...” para petualang pria yang matanya membara oleh kobaran api kecemburuan hingga tangan yang bergerak refleks ke arah gagang pedang harus ditahan sekuat tenaga oleh tangan lainnya, serta petualang wanita yang menatap gerombolan pria itu dengan tatapan mata luar biasa dingin.

Menghadapi Shea yang masih terus mengisap bibirnya dengan penuh gelora diiringi embusan napas dan tatapan mata yang panas, urat amarah seketika menyembul di dahi Hajime sebelum dia mengangkat seluruh tubuh Shea ke atas. Kemudian, dia mencengkeram kuat pantat montok Shea lalu meremasnya dengan sangat keras.

“Ahn!”

Shea spontan melenguh tertahan. Memanfaatkan celah kuncian Shea yang melonggar selama sepersekian detik, Hajime dengan cepat melepaskan diri lalu melemparnya langsung ke tengah mata air.

“Ukyaaaa!”

Diiringi suara ceburan air yang spektakuler dan jeritan melengking saat Shea jatuh ke dalam air, Hajime menyugar rambutnya yang basah ke belakang dengan napas memburu.

“A-Aku beneran tidak boleh lengah sedikit pun. Menyerang orang tepat setelah disadarkan dari kematian... itu jelas di luar batas perkiraanku.”

Melihat Shea yang sudah mulai merangkak naik dari mata air dengan poni terurai ke depan persis seperti hantu sumur, wajah Hajime seketika dipenuhi ekspresi bergidik ngeri.

“Uugh~ Tega banget sih~ Padahal Hajime-san sendiri yang menciumku duluan ~”

“Hah? Yang tadi itu tindakan pertolongan pertama... tunggu, kamu sadar dari tadi?”

“Hmm, antara sadar dan tidak sadar sih... tapi aku paham banget kok. Pokoknya aku tahu kalau aku lagi dicium sama Hajime-san! Uhehe.”

“Berhenti tertawa begitu. ...Dengar ya, itu hanya tindakan medis darurat, tidak ada makna mendalam apa pun di baliknya, mengerti? Jangan berharap yang aneh-aneh!”

“Masa sih? Tapi ciuman tetaplah ciuman lho. Setelah ini saatnya masuk ke fase bucin!”

“Tidak. Lagian Yue, kamu juga tolong hentikan dia dong.”

“...Khusus sekarang... tapi Shea sudah berjuang keras... tidak, tapi...”

“Yue~? Halo, Yue-san?”

Melihat Yue yang masih terus berkomat-kamit sendirian sembari menatap ruang hampa, Hajime menghela napas panjang menyadari yang satu ini pun sudah tidak bisa diajak bicara. Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke arah rombongan Crystabel yang sedari tadi mengintip gerak-gerik mereka dari dekat.

Pandangan Hajime menyapu para petualang, sempat berhenti sejenak di wajah Sona, beralih ke Crystabel, lalu kembali ke wajah Sona dalam sekejap. Tampaknya dia memutuskan untuk menganggap sosok berotot itu tidak pernah ada.

Mendapat tatapan mata dari Hajime, tubuh Sona terlonjak kaget sebelum wajahnya seketika merona merah padam hingga ke telinga.

“M-Maaf sudah mengganggu! S-Silakan, abaikan saja kami dan lanjutkan adegan mesra tadi sesuka hati!”

Tepat saat Sona memutar tumit hendak kabur sembari meneriakkan hal tersebut, tengkuk lehernya dijinjing oleh Crystabel. Sosok berotot itu melangkah menghampiri kelompok Hajime. Walaupun Hajime merasa sangat ngeri melihat monster yang melangkah mendekat, Shea di sampingnya dengan cepat bersikap akrab sembari berujar “Ah, Pemilik Toko” sehingga dia memutuskan untuk meladeni percakapan tersebut.

Hasilnya, mereka akhirnya mengetahui bahwa lokasi mereka saat ini berada di wilayah yang hanya berjarak sekitar satu hari perjalanan dari Kota Brooke, dan kelompok Hajime pun memutuskan untuk ikut mampir ke kota tersebut. Mengingat Crystabel menawarkan tumpangan di kereta kudanya, mereka memilih menerima kebaikan hati itu. Setelah berganti ke pakaian kering, mereka melanjutkan perjalanan sembari mengobrolkan banyak hal di bawah hangatnya sinar mentari, diiringi irama langkah kaki kuda yang menjadi musik latar alami.

Bersama rekan baru di sisi mereka, penaklukan dungeon besar kedua telah selesai dilaksanakan.

Tenggelam dalam rasa haru atas pencapaian tersebut, Hajime berbaring di atas bak kereta kuda, menatap silau ke arah matahari yang bersinar terang benderang, tersenyum tipis di sudut bibirnya saat membayangkan petualangan penuh liku yang menanti mereka di masa depan.

Read Also :-
Labels : #Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ,#Arifureta_2 ,#Light Novel ,
Getting Info...

Posting Komentar