Kisah Tambahan: Aku Memang Monster, Ada Masalah dengan Itu?
Di dalam hutan
yang diselimuti kabut tebal, sesosok siluet mungil tengah berlari sekuat tenaga
tanpa memedulikan sekelilingnya.
Rambut putih
kebiruannya yang tampak menyatu dengan kabut putih berkibar melambai-lambai
lembut seiring langkah kakinya yang membelah kabut. Namun, suasana hati sang
pemilik rambut sama sekali jauh dari kesan lembut itu. Batinnya justru dipenuhi
kesedihan, hingga dia terus terisak dan sesenggukan sembari berlari dengan air
mata bercucuran.
Di Hutan
Belantara Haltina yang diakui banyak orang sebagai salah satu wilayah terkutuk,
jika seorang bocah berusia sekitar 5 atau 6 tahun nekat berkeliaran sendirian
tanpa perhitungan, tidak sulit membayangkan bahwa dia akan tersesat dalam
sekejap mata lalu berakhir menjadi santapan empuk para monster buas.
Akan tetapi,
kekhawatiran semacam itu sama sekali tidak berlaku bagi bocah mungil ini.
Alasannya, meskipun
agak sulit dikenali karena terkulai lemas mencerminkan kesedihannya, di atas
kepala sang bocah yang membaur dengan kabut bertengger sepasang telinga kelinci
berbulu lebat yang elok. Bocah mungil ini adalah salah satu anggota ras
setengah manusia yang menjadikan Hutan Belantara ini sebagai kampung halaman
mereka—suku manusia kelinci.
Suku manusia
kelinci memang terkenal sebagai yang terlemah di antara seluruh ras setengah
manusia, namun sebagai gantinya, kemampuan sensor bahaya dan manipulasi keberadaan
mereka adalah yang nomor satu. Kemampuan itu tetap berlaku sama bahkan bagi
seorang anak kecil sekalipun. Hampir tidak ada musuh yang sanggup luput dari
pendengaran telinga kelinci mereka.
Terlebih lagi,
bocah mungil ini memiliki kemampuan istimewa yang tidak dipunyai oleh suku
manusia kelinci lainnya. Oleh sebab itu, dalam dua lapis alasan perlindungan,
kemungkinan bocah ini terancam bahaya di tempat yang sedekat ini dari pemukiman
sangatlah rendah.
Hasilnya, gadis
kelinci mungil itu berhasil tiba di pemukimannya sendiri dengan selamat sembari
terus terisak menangis. Kabut tebal mulai menyibak, memperlihatkan pagar kayu
kokoh yang kelewat megah hingga tergolong langka bahkan jika dibandingkan
dengan suku lain di sekitar maupun pemukiman suku manusia kelinci lainnya.
Pagar kayu yang dibangun begitu rapat tanpa celah hingga kondisi di dalamnya
mustahil diintip dari luar itu memiliki ketinggian mencapai hampir 3 meter.
Pada dasarnya, suku
manusia kelinci yang hanya memiliki pilihan untuk lari atau bersembunyi sama
sekali tidak mementingkan pertahanan fisik, baik untuk diri sendiri maupun
pemukiman mereka. Asalkan bisa mengulur waktu untuk melarikan diri dan agar
bisa memantau kondisi di luar dari dalam pemukiman, mereka biasanya hanya
membuat pagar sederhana yang memiliki banyak celah renggang.
Oleh karena itu,
jika dipikirkan secara normal, pagar yang kokoh ini tergolong sangat tidak
wajar. Sekilas memang terlihat mengutamakan pertahanan, namun kenyataan bahwa
pagar ini hanya tersusun dari papan-papan kayu yang dijejerkan rapat tanpa
memiliki ketahanan fisik yang berarti juga merupakan keanehan tersendiri.
Benar, konstruksinya terasa begitu janggal, seolah-olah tujuannya semata-mata
hanya difokuskan agar bagian dalamnya tidak bisa diintip oleh siapa pun.
Mengitari pagar
pemukiman yang tampak kelewat janggal jika diperhatikan secara saksama
tersebut, si gadis kelinci mungil berlari masuk melewati pintu masuk. Di tengah
jalan, seorang bapak-bapak bertelinga kelinci yang bertugas sebagai penjaga
gerbang sempat mengatakan sesuatu, namun si gadis kelinci sama sekali tidak
menyadarinya.
Tanpa peduli suara
sapaan dari para warga pemukiman lainnya di sepanjang jalan, si gadis kelinci
melesat masuk ke dalam rumahnya sendiri.
“Astaga... ada
apa, Shea? Kenapa telinga kelincimu sampai lemas begitu?”
Sosok yang
menyapa si gadis kelinci mungil—atau lebih tepatnya, Shea yang berusia 5 tahun—sembari
melangkah keluar dari dalam ruangan adalah seorang wanita cantik berambut biru
tua panjang khas suku manusia kelinci. Sorot matanya tampak lembut dan anggun,
namun memancarkan kilasan tekad kuat yang tidak lazim bagi seorang manusia
kelinci.
“Ibuuu!!”
Melihat wanita
tersebut—yang tidak lain adalah ibunya, Mona Haulia—tangis Shea yang semula
terisak langsung meledak hebat bersamaan dengan cucuran air mata dan ingus,
lalu dengan langkah yang mustahil dilakukan oleh anak berusia 5 tahun dia
menerjang masuk ke dalam pelukan sang ibu.
Tepat saat
mendekapnya, terdengar suara erangan tertahan yang rasanya tidak pantas keluar
dari mulut seorang wanita, namun Shea tidak peduli dan terus mengusapkan air
mata serta ingusnya ke dada Mona.
Pakaian adat manusia
kelinci terbilang cukup terbuka. Bagi wanita, setelan atas yang mirip pakaian
renang dan rok pendek adalah busana standar mereka. Sebab, mengenakan pakaian
yang terlalu tebal bisa menghambat pergerakan saat melarikan diri, ditambah
lagi suara gesekan kain bisa mengganggu upaya persembunyian mereka. Selain itu,
suhu di dalam Hutan Belantara selalu stabil sepanjang tahun berkat kabut tebal,
dan karena mereka harus kabur hanya membawa badan jika bahaya datang, memiliki
banyak pakaian pun tidak ada gunanya.
Oleh sebab itu,
belahan dada Mona yang berisi dalam sekejap mata langsung basah kuyup
berantakan oleh air mata, ingus, dan air liur putri kecilnya. Kendati demikian,
mendengar suara tangis sang putri mungil yang meraung pilu tentu tidak akan
memicu rasa kesal di hatinya. Mona justru tengah berjuang mati-matian menahan
rasa sakit di ulu hatinya akibat tubrukan pertama tadi, sekaligus menahan isi
perutnya yang mendadak terdorong naik agar tidak sampai memuntahkannya ke atas
kepala sang putri.
Sembari menahan
matanya yang agak berkaca-kaca, Mona menepuk-nepuk punggung Shea dengan lembut
untuk menenangkannya, lalu menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada
putri tercintanya yang perlahan mulai tenang.
Akan tetapi, Shea
tidak langsung menjawab. Sebaliknya, sambil menyedot ingusnya dan menengadah
menatap Mona lewat pandangan sayu, dia menumpahkan isi hatinya melalui pertanyaan
lirih yang bergetar.
“Ibu... apa aku
ini... monster? Apa aku ini... makhluk terkutuk?”
“...Shea.”
Mendengar
pertanyaan sekejam itu terlontar dari mulut seorang anak kecil, Mona memahami
apa yang baru saja terjadi karena dialah yang paling memahami keistimewaan Shea
dibanding siapa pun.
Keistimewaan Shea—bukan
hanya rambut putih kebiruan pucat yang tidak dimiliki manusia kelinci pada
umumnya, melainkan kapasitas mana, manipulasi mana secara langsung, serta
penggunaan sihir bawaan yang mustahil dimiliki oleh seluruh ras setengah
manusia.
Kecuali
kapasitas mana, semua kemampuan itu bukan hanya mustahil bagi setengah manusia,
tetapi bahkan bagi bangsa manusia maupun bangsa iblis sekalipun, karena itu
adalah kemampuan yang hanya bisa dimiliki secara eksklusif oleh monster. Suatu
eksistensi yang menjadi objek kebencian bersama tanpa memandang sekat antarras.
Justru karena
itulah suku Haulia sengaja membangun pagar rapat yang menutupi pandangan ke
dalam pemukiman. Mereka berusaha sebisa mungkin membesarkan Shea hanya di dalam
lingkup pemukiman, agar keberadaannya tidak pernah bocor ke pihak luar. Sebab
jika sampai terdengar oleh Verbergen, negeri tempat bernaungnya ras setengah
manusia, Shea dipastikan akan langsung dieksekusi mati.
Andaikan Shea
tidak terlahir di tengah-tengah manusia kelinci yang memiliki ikatan cinta
keluarga paling kuat di antara seluruh ras setengah manusia, dia pasti sudah
dieksekusi tepat pada hari kelahirannya. Hanya karena dia terlahir di suku
Haulia-lah, dengan menanggung pengorbanan tenaga yang begitu besar serta bahaya
yang luar biasa nyata, Shea sanggup bertahan hidup hingga usianya saat ini.
Namun, sebaik
apa pun orang dewasa menjaga dan mengawasinya, seorang anak kecil tentu tidak
akan pernah puas hanya dengan hidup terkurung di dunia sempit pemukiman.
Sangatlah wajar jika dorongan rasa ingin tahu membuatnya melangkah keluar pagar
hanya untuk sekadar bermain sebentar...
“Shea... kamu pergi
keluar lagi, ya?”
“Ugh... Maafkan
aku, Ibu. Tapi, tapi...”
Melihat Shea
yang menundukkan kepala dengan wajah bersalah, senyum getir terbit di wajah
Mona. Tampaknya, ada orang luar yang memergoki Shea saat dia diam-diam
menjelajahi area di luar pemukiman.
Kabut tebal
memang tidak sampai mengacaukan indra ras setengah manusia, tetapi dalam hal menghalangi
pandangan, efeknya sama saja seperti pada ras lainnya. Terlebih lagi, meskipun
rasa ingin tahu Shea terhadap dunia luar tidak pernah ada habisnya, dia sangat
paham bahwa jika keberadaannya diketahui oleh selain suku Haulia, keluarganya
akan terkena masalah besar. Oleh karena itu, dia selalu menghindari pandangan
orang lain mengandalkan kemampuan fisik dan sensor keberadaan yang jauh
melampaui manusia kelinci dewasa sekalipun.
Dengan demikian,
keberadaan Shea hampir mustahil bocor sepenuhnya. Jika memang begitu, maka
alasan mengapa Shea bersedih hanya ada satu hal.
“Bayangan putih
bersemayam di dalam Hutan Belantara. Mau dikejar secepat apa pun tidak akan
bisa terkejar, lalu tanpa disadari menghilang bagai ilusi. Entah itu monster
jenis baru, atau makhluk terkutuk yang sudah bersarang di Hutan Belantara sejak
zaman purbakala... jangan-jangan kamu mendengar rumor itu, ya? Menggunakan
telinga kelincimu yang sangat tajam ini.”
“Ah, Ibu... Ibu
sudah tahu?”
Sembari membelai
dan mengusap lembut telinga kelinci Shea yang terkejut, Mona mengangguk dengan
senyum getir. Apa yang diucapkan Mona adalah rumor kecil yang sempat
berbisik-bisik di antara sesama ras mereka beberapa waktu lalu. Itu hanyalah
obrolan ringan semacam legenda urban yang biasa dipakai untuk menghabiskan waktu.
Kisah seperti itu sudah tidak terhitung banyaknya di Hutan Belantara yang
selalu diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, jadi sebenarnya bukan sesuatu
yang perlu dipusingkan.
Namun, bagi Shea
yang baru pertama kali mendengar rumor tersebut dengan telinga kelincinya
sendiri, hal itu jelas menjadi pukulan yang sangat berat. Dia sangat paham
bahwa dirinya berbeda dari semua anggota keluarganya. Dia pun tahu bahwa apa
yang sanggup dia lakukan sama persis seperti seekor monster. Dia selalu
berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, tetapi begitu kenyataan itu
disodorkan langsung di depan matanya, dia tidak tahan untuk tidak merenung.
Apakah dirinya
ini benar-benar makhluk yang berbeda dari keluarganya? Apakah dia ini bukan
monster, bukan pula manusia, melainkan sesosok makhluk terkutuk?
Sudut matanya
kembali digenangi air mata yang merebak, lalu Shea mulai terisak menyedot
ingusnya. Menghadapi putri tercinta yang mulai meragukan keberadaan dirinya sendiri,
Mona berbicara kepada Shea dengan tatapan yang memadukan kelembutan, ketegasan,
serta kasih sayang.
“Shea. Memangnya
Shea tidak suka kalau dibilang makhluk terkutuk?”
“Hueh? Ya, jelas
tidak...”
“Kenapa?”
“K-Kenapa
apanya...”
Shea kebingungan
karena tidak memahami maksud dari pertanyaannya. Menggerak-gerakkan telinga
kelincinya ke sana kemari, dia memasang wajah yang luar biasa sedih seolah
berpikir, “Jangan-jangan Ibu juga menganggapku sebagai makhluk terkutuk?” Mona
mencubit gemas pipi lembut Shea agar pandangan putrinya tidak teralihkan, lalu
melanjutkan kata-katanya dengan tenang serta sorot mata yang begitu dalam
hingga membuat Shia terperangah.
“...Menjadi
berbeda dari orang lain itu memang sangat mencemaskan, ya. Terasa menakutkan,
kesepian, dan menyedihkan. Tapi, dengar ya, Shea. Ibu justru sangat iri pada
Shea yang berbeda dari orang lain. Ibu sangat iri, dan Ibu merasa luar biasa
bahagianya memiliki putri sepertimu yang terlahir ke dunia ini.”
“...Kenapa
begitu?”
“Karena justru
saat kamu berbeda dari orang lain, kamu bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa
dilakukan orang lain, ‘kan? Bukannya itu sangat luar biasa?”
Tidak mengerti apa
yang dimaksudkan oleh Mona, Shea mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah oleh
air mata, memperlihatkan warna biru langit yang jarang sekali bisa dijumpai di
dalam Hutan Belantara.
“Luar biasa?
Memangnya kalau Ibu jadi sepertiku, apa yang ingin Ibu lakukan?”
“Hehe, kalau
Ibu, sejak masih kecil dulu selalu... selalu ingin menjadi seorang pahlawan.”
“P-Pahlawan?”
Sebenarnya, Mona
memiliki tubuh yang cukup lemah hingga sering terbaring sakit selama setengah bulan.
Mendengar impian besar yang mendadak terlontar dari sang ibu yang penyakitan
itu, Shea sempat mengerjapkan matanya sesaat, namun kemudian dia mengangguk
sembari membatin bahwa impian itu terasa sangat cocok dengan ibunya.
“Benar,
pahlawan. Ibu ingin menjadi sosok yang sanggup melindungi keluarga. Bukan hanya
sekadar lari dan bersembunyi. Tetapi sosok yang sanggup melawan segala hal yang
berniat merenggut orang-orang yang Ibu sayangi, dan mampu melindungi semuanya.”
Suku manusia kelinci
adalah ras yang lembut, paling benci pertikaian, dan sangat cinta damai.
Seorang wanita manusia kelinci yang memiliki hati membara hingga meruntuhkan
akal sehat rasnya sendiri, ironisnya, terlahir dengan fisik yang lemah sejak
lahir. Walaupun memiliki tekad bertarung yang lebih membara dibanding siapa
pun, walaupun memiliki hati yang lebih tangguh dibanding siapa pun, takdir
justru menganugerahinya tubuh paling lemah dari ras yang paling lemah. Sungguh sebuah
ironi kejam.
Namun, justru
karena itulah dia berpikir seperti ini.
“‘Semoga anak
yang lahir nanti menjadi anak yang kuat’—Shea lahir persis seperti apa yang Ibu
harapkan selama ini. Kalau ini bukan disebut kebahagiaan, lalu disebut apa
lagi?”
“Ibu...”
Begitu bahagia,
seolah-olah Shea adalah kebanggaan dan harta karunnya yang paling berharga,
Mona mendekap Shea erat-erat dalam pelukannya.
“Shea. Menjadi
manusia, monster, atau makhluk terkutuk sekalipun, itu semua hanyalah
kata-kata. Ingin menjadi sosok seperti apa, Shea sendiri yang menentukannya.
Kamu cukup menjadi apa yang kamu inginkan. Bukan sekadar manusia kelinci biasa,
justru karena kamu adalah Shea yang berbeda dari orang lain... kamu bisa menjadi
apa pun yang kamu mau.”
“...”
Melihat kobaran
api tekad dan kasih sayang yang terpancar dari mata sang ibu yang menatapnya lurus
dalam jarak sedekat ini, Shea terpesona oleh kilauannya hingga hanya bisa
menatap balik tanpa sanggup berkata-kata.
Kepada Shea,
Mona mulai bertutur mengenai masa depan layaknya seorang peramal.
“Shea. Hal yang
menantimu di masa depan tidak hanya hal-hal yang indah. Hal yang sulit dan
menyakitkan pasti akan jauh lebih banyak merintangimu dibanding orang lain.
Menjadi berbeda dari orang lain, memang membawa arti seperti itu juga.”
“Uugh... Ibuuu...”
Sepasang telinga
kelincinya terkulai, memperlihatkan wajah yang tampak begitu cemas. Akan
tetapi, Mona sama sekali tidak berniat menghentikan kata-kata tegasnya yang
rasanya terlalu berat jika ditujukan kepada anak sekecil ini.
“Tapi ya, kamu punya
kekuatan untuk menghancurkan semua rintangan itu. Oleh karena itu... Shea.
Jangan pernah membenci dirimu sendiri. Tetaplah ceria. Tetaplah bersemangat. Sesuatu
yang buruk maupun yang menyakitkan, tertawakan saja semuanya. Busungkan dadamu
dan katakan, ‘Aku ini Shea Haulia, ada masalah dengan itu!?’. Selama Shea tidak
membenci diri sendiri, itu saja sudah cukup untuk membuat segalanya baik-baik
saja.”
“Semuanya...
baik-baik saja?”
“Tentu saja,
semuanya akan baik-baik saja.”
“Uugh, aku akan berusaha.”
“Hehe, anak pintar.”
Menatap helaian
rambut putih kebiruan pucat miliknya yang secara kasatmata sangat berbeda dari
anggota keluarga lainnya, Shea mengerang pelan dengan begitu menggemaskan.
Tampaknya dia langsung berusaha membiasakan diri untuk menyukai warna rambutnya
yang selama ini tidak terlalu dia sukai.
Menyaksikan
putri tercintanya yang menggemaskan itu, hati Mona menghangat, lalu sembari
membuyarkan atmosfer serius tadi dia menyunggingkan senyum jahil yang sarat
akan keisengan.
“Ah iya, Ibu
masih punya satu cerita masa depan lagi untukmu.”
“?”
“Suatu hari
nanti, Shea pasti akan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Bukan dari
sesama manusia kelinci, bahkan bukan pula dari ras setengah manusia.
Orang-orang dari luar Hutan Belantara... ya, orang-orang yang pastinya sama
seperti Shea.”
“Sama sepertiku?”
“Iya,
kemungkinan besar, tidak, kamu pasti akan bertemu dengan mereka.”
Padahal ibunya
tidak memiliki kemampuan untuk mengintip masa depan seperti dirinya, namun
entah mengapa perkataannya bisa terdengar begitu penuh keyakinan. Melihat Shea yang
memiringkan sepasang telinga kelincinya dengan wajah heran, Mona pun bertutur.
“Habisnya, kalau
orang yang memiliki kondisi khusus seperti Shea cuma ada satu orang saja di
dunia ini... tidak mungkin ada hal yang semenyedihkan itu. Dunia ini memang
luar biasa kejam, tapi terkadang, dunia juga bisa menjadi sangat baik hati.
Karena itulah, Shea pasti akan bertemu dengan mereka. Orang-orang berharga yang
bisa membuatmu bersandar seutuhnya, dan mereka pun bersedia menyandarkan diri
padamu.”
“...Di luar
Hutan Belantara, apa orang-orang seperti itu benar-benar ada ya...?”
“Pasti ada,
pasti. Heheh, siapa tahu salah satu dari mereka kelak akan menjadi calon
suamimu lhoo~”
“Hueh!? C-Calon
s-s-suami, suamiku!?”
“Lalu, kamu dan
sahabat perempuanmu akan terlibat drama cinta segitiga yang penuh pertumpahan
darah demi memperebutkan pria itu!”
“P-Pertumpahan
darah!?”
Membayangkan
masa depan putrinya, Mona tampak begitu riang dan bersemangat. Mengingat
dirinya tetaplah seorang anak perempuan meskipun usianya masih belia, rentetan
kata kunci penting semacam itu tidak pelak membuat Shea menggerak-gerakkan
telinga kelincinya dengan heboh.
Tanpa disadari, syok
akibat disebut sebagai makhluk terkutuk dalam rumor tadi telah terlupakan
seutuhnya, berganti menjadi obrolan khas perempuan bersama sang ibu. Lantas,
hingga seluruh anggota keluarga Haulia yang cemas karena melihatnya berlari
melintasi pemukiman sembari menangis berdatangan, serta Cam yang baru pulang
dari berburu bahan makanan menampakkan diri di depan pintu, wajah Shea terus
memerah padam karena memikirkan sosok sahabat karib serta calon suami di masa
depannya kelak.
Melihat putrinya
yang tersipu seperti itu, Cam sengaja memasang ekspresi luar biasa sedih seolah
berpikir apakah putrinya sudah menginjak usia yang mulai memikirkan urusan asmara...
namun baik Mona maupun Shea sama sekali mengabaikannya begitu saja. Siapa
sangka bahwa di masa depan sang calon suami itulah yang justru akan mengubah Cam
menjadi sosok ayah bertopeng pembantai yang gemar bersorak histeris, suatu hal
yang pastinya tidak pernah terlintas dalam mimpi siapa pun. Bahkan seorang Mona
sekalipun dipastikan tidak akan pernah sanggup menduganya.
“Nghhh...”
Di dalam kamar
penginapan yang samar-samar terjamah oleh riuh suara hiruk pikuk di luar,
terdengar suara rengekan malas seorang gadis. Gesekan halus kain seprai tempat
tidur serta embusan napas yang mengiringi kuapan panjangnya membaur bersama
keramaian yang menyusup dari balik jendela.
“Nhee, sudah
pagi yaa~”
“Dasar bodoh,
ini sudah lewat tengah hari. Kamu tidurnya beneran kelewatan, dasar kelinci
tukang molor.”
Meski masih
setengah sadar dengan lidah yang kaku saat menggumamkan racauannya, Shea yang
mendengar balasan tidak terduga seketika kaget hingga sepasang telinga
kelincinya berkedut-kedut.
Lantas, sudut
matanya menangkap sosok Hajime yang tengah duduk di dekat jendela sembari
mengelap senjata kesayangannya, menatap jengah ke arahnya.
“Lhoo? Kenapa
Hajime-san bisa ada di sini? Ha! Jangan-jangan mau menyelinap malam-malam...abesh!?”
“Tadi ‘kan sudah
kubilang ini sudah lewat tengah hari. Yue bahkan sudah berangkat belanja dari
tadi. Padahal kalian sudah janjian mau pergi bareng, tapi biarpun diguncang-guncang
sampai disetrum petir sekalipun, kamu tetap mendengkur pulas sambil ileran dan tidak
mau bangun, jadi akhirnya dia berangkat sendirian.”
“B-Begitu ya.
Duh, aku jadi tidak enak hati sama dia. Kalau begitu aku harus cepat-cepat
siap-siap dan menyusulnya... eh, tunggu dulu? Terus kenapa Hajime-san ada di
sini?”
Jika Yue pergi
berbelanja, mengapa Hajime malah berdiam diri di tempat ini? Melihat Shea yang
memiringkan sepasang telinga kelincinya karena heran sembari bertanya, ekspresi
wajah Hajime seketika berubah seolah baru saja menelan serangga pahit sebelum
akhirnya bergumam, “Monster pemilik toko baju itu... aku tidak tahan
menghadapinya.”
Rupanya setelah
berhasil menaklukkan Dungeon Besar Reisen, Hajime sangat tidak tahan menghadapi
pemilik toko pakaian di Kota Brooke tempat mereka menginap saat ini. Tampaknya dia
begitu enggan bertemu dengannya sampai-sampai rela membatalkan kencannya
bersama Yue.
Mendengar
gumaman Hajime itu, Shea terkekeh canggung sembari membalas, “Padahal dia itu
orang baik,” namun kata “monster” yang baru saja terlontar sempat memicu
sedikit gejolak di dalam dadanya. Itu pasti karena mimpi nostalgia yang baru
saja dia alami barusan.
“...Ada apa, Shea?”
“Eh?”
Tanpa disadari,
Hajime rupanya tengah mengamati gerak-gerik Shea dengan saksama. Kelihatannya
secuil kegundahan di lubuk hatinya berhasil terbaca oleh pemuda itu. Meskipun dalam
hati merasa senang karena diperhatikan, tepat saat Shea tengah memikirkan
bagaimana cara menjelaskannya, Hajime lebih dulu membuka suara.
“Soal ibumu, ya?”
“Eeeh!?”
Tebakan yang
begitu tepat sasaran sontak membuat Shea membelalak sembari membatin, Jangan-jangan Hajime-san punya sihir bawaan
membaca pikiran!? Seolah berusaha menutupi isi hatinya agar tidak terbaca, dia
melipat sepasang telinga kelincinya rapat-rapat, lalu mendekap erat dada montoknya
yang diwarisi dari sang ibu dengan kedua tangan.
“Aku tidak membaca
pikiranmu. Tadi kamu mengigau... terus-terusan memanggil ibumu.”
“Ah... begitu
rupanya. Ya ampun, ahaha, sudah sebesar ini tapi masih mengigau memanggil ibu,
memalukan sekali yaa.”
Melihat Shea
yang menggaruk-garuk kepalanya dengan raut tersipu malu, Hajime terus menatapnya
lekat-lekat tanpa memalingkan pandangan, sebelum akhirnya dia mengangkat bahu
seolah telah memahami sesuatu lalu membuang muka.
“Syukurlah, kelihatannya
bukan mimpi buruk...”
Mendengar
kata-kata itu, Shea menyadari bahwa Hajime sejatinya tengah mencemaskan dirinya
dengan caranya sendiri, membuat jantung sang gadis berdegup kencang. Baik
kepada Hajime maupun Yue, Shea memang belum pernah menceritakan perihal Mona.
Bukannya sengaja menyembunyikannya, melainkan karena belum pernah ada kesempatan
yang pas. Namun bagi Hajime, fakta bahwa ibu Shea tidak pernah dibahas maupun
terlihat batang hidungnya membuatnya sempat membayangkan
kemungkinan-kemungkinan buruk. Pemuda itu mengira mungkin saja hal tersebut
adalah salah satu peristiwa kelam yang enggan diingat kembali oleh gadis itu.
Perhatian yang
begitu tulus semacam ini adalah hal yang mustahil terjadi sebelum mereka
menaklukkan dungeon besar tempo hari. Shea pun merasa semakin bahagia hingga
mengibas-ngibaskan sepasang telinga dan ekor kelincinya dengan riang.
“Iya, itu adalah
kenangan yang sangat berharga dan penuh nostalgia. Lagipula, Ibu meninggal
karena sakit sebelum umurku genap 10 tahun. Sejak awal beliau memang orang yang
berfisik lemah, bahkan fakta bahwa beliau masih bisa bertahan hidup selama
hampir 10 tahun setelah melahirkanku adalah sesuatu yang sangat menakjubkan.”
“Begitu ya?”
“Iya, benar.
Jadi beliau meninggal bukan saat kami diusir dari Hutan Belantara, dan kami pun
sempat mengucapkan salam perpisahan dengan baik, jadi Hajime-san tidak perlu
terlalu mencemaskanku sampai segitunya kok~”
“Siapa juga yang
mencemaskanmu.”
Menghadapi
Hajime yang buang muka, Shea yang menggoda dengan nada usil “Ih, malu-malu
banget deh~ Ayo ngaku” langsung dihadiahi sentilan dahi yang membuatnya
meringis. Sembari mengusap dahinya yang memerah dengan mata berkaca-kaca,
senyuman yang merekah hangat dan bahagia tetap terpancar di pipinya saat dia
kembali membuka suara dengan nada lembut.
“...Kapan-kapan,
aku ingin menceritakan soal Ibu bersama dengan Yue-san juga. Apa Hajime-san mau
mendengarkannya?”
Sorot mata rumit
yang terpancar saat pertama kali mereka bertemu dulu, ketika Shea menceritakan
bahwa ada masa depan yang tidak sanggup dia ubah akibat usahanya yang masih
kurang. Ada kemungkinan di saat itu pun Shea tengah teringat akan sosok sang
ibu. Namun berbeda dengan waktu itu, kali ini ada sedikit rasa bangga yang
menyelimuti atmosfer dirinya. Dari itu saja, Hajime sudah bisa memahami betul
betapa Shea sangat membanggakan sosok ibunya.
“...Boleh saja.
Berhubung kamu kelelahan sampai disetrum pun tidak bangun, kita masih akan tinggal
di kota ini sedikit lebih lama lagi. Ceritakan saja pas ada waktu luang nanti.”
“Ehehe. Siap,
laksanakan!”
Tampak begitu
bahagia, Shea mengibas-ngibaskan sepasang telinga dan ekor kelincinya dengan
sangat heboh. Menyaksikan tingkahnya yang begitu menggemaskan, Hajime bahkan
nyaris mengulurkan tangan secara spontan. ...Tentu saja, bukan dalam artian
aneh, melainkan murni dorongan alami nan sehat karena ingin membelai bulunya yang
lebat. Tepat pada saat itu...
“...Dilarang
bermesraan.”
“Oh, Yue ya. Muncul
dari mana coba kamu itu.”
“Waa, bikin
kaget saja tahu, Yue-san.”
Dari balik
jendela yang entah sejak kapan terbuka, Yue yang tanpa ekspresi melongokkan
kepalanya ke dalam. Di tangannya tergantung sebuah kantong belanjaan, tampaknya
dia sudah menyelesaikan urusan belanjanya dan kembali ke penginapan untuk
mengajak Hajime dan Shea pergi bersama.
Menyambut ajakan
tersebut, Hajime melompat keluar melewati jendela. Shea pun buru-buru merapikan
penampilannya lalu berlari menyusul di belakang mereka berdua.
Sinar matahari
terik benderang yang hampir mustahil dijumpai di dalam Hutan Belantara, serta
riuh rendah suara para pedagang, petualang, dan penduduk kota menyelimuti Shea.
Shea menyipitkan matanya dengan nyaman sembari melangkah riang dengan ketukan
langkah yang ringan.
Ada begitu banyak
peristiwa menyedihkan yang telah dia lewati. Ada masa depan yang tidak sanggup dia
ubah walaupun telah berjuang sekuat tenaga. Ada begitu banyak hal berharga yang
telah terenggut dari hidupnya. Akan tetapi, seperti perkataan Mona, Shea
akhirnya berhasil bertemu dengan mereka. Pertemuan itulah yang telah
menyelamatkan seluruh keluarganya. Menuntun langkahnya menuju ke tempat yang
disinari cahaya mentari. Dan kini, manusia kelinci yang memiliki tekad untuk
bertarung persis seperti yang dulu selalu diimpikan oleh Mona telah terlahir
dalam jumlah yang banyak.
“Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau.”
Suara sang ibu
kembali terngiang menggema di dalam lubuk hatinya. Apakah dirinya tidak suka
disebut makhluk terkutuk? Tidak, sama sekali tidak. Jika sekarang, dia sanggup
mengatakannya dengan lantang dan jelas.
“Hajime-san,
Yue-san.”
Di hadapan Shea,
ada dua orang yang kini sangat dia cintai. Menghadapi Hajime dan Yue yang
menoleh sembari menyahut “Ada apa?” dan “...Mm?” Shea menyunggingkan seringai
tawa lebarnya, lalu berkata, “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai monster.”
Lewat senyuman
yang merekah penuh di wajahnya, dia menyatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Hajime dan Yue
sempat terheran-heran sesaat sebelum kemudian saling bertatapan, lalu keduanya tersenyum
yang mengandung perasaan jengah, saling memahami, serta sedikit bahagia. Lalu,
kepada Shea yang berjalan mengekor di belakang mereka:
“Tidak usah banyak
bicara dan cepat jalan di samping kami, dasar kelinci biang masalah. Kalau kamu
jalan terpisah, gerombolan orang yang mau menjadikanmu budak akan berdatangan
lagi.”
“...Mm. Tetap
berada di dekat kami. Jangan berkeliaran sendiri. Repot kalau harus mencarimu.”
Kata-kata itu
meluncur dari bibir mereka. Berbanding terbalik dari ucapan tersebut, ekspresi
wajah keduanya tampak begitu hangat. Sangat jelas terlihat bahwa tanpa perlu
diungkapkan lewat kata-kata sekalipun, mereka telah mengakui keberadaan Shea di
tempat ini, mengakui bahwa mereka akan terus melangkah bersama.
Sepasang telinga
dan ekor kelinci Shea bergoyang-goyang dengan luar biasa heboh.
“Kalau begitu,
permisi mau nebeng di tengah yaa!!”
“Hei, siapa yang
mengizinkanmu menyusup di antara aku dan Yue, hah?”
“...Shea, berani
juga ya. Kalau menginginkan pertumpahan darah, akan kulakukan.”
Sengaja
menyempil masuk tepat di antara Hajime dan Yue, Shea menggandeng tangan mereka
berdua sembari melangkah riang. Dia sama sekali tidak memedulikan suara protes
dari keduanya. Sang surya telah bertengger di puncak langit, dan hiruk pikuk
kota kian membahana semakin ramai. Sembari membaur menjadi bagian dari
keramaian tersebut:
Ibu, aku sudah bertemu dengan calon suami dan sahabatku.
Walaupun statusnya baru sampai tahap calon, sih... tapi Shea Haulia akan berjuang
sekuat tenaga!!
Shea mengikrarkan sumpah itu di dalam hatinya. Berharap doa tersebut tersampaikan hingga ke jiwa sang ibu.