Navigate titles from navigation bar on the left / Navigasi judul melalui menu navigasi di sebelah kiri

The Eldest Son of A Poor Family Eventually Rises to Become the Wizard King Volume 1 Epilog

Epilog: Mengenang Senja Kala Itu

Karena ini adalah libur musim panas di mana seluruh keluarga ada di rumah, aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka, jadi jadwal penjelajahan dungeon-ku masih kubuat santai.

Aku tetap melakukan petualangan rutin selama setengah hari agar insting sihirku tidak tumpul. Jadwal harianku terasa seperti latihan ekskul setengah hari; mulai di siang hari dan selesai saat petang tiba.

Begitu selesai bersiap-siap untuk pulang, aku tidak sengaja berpapasan dengan Shiraishi-san. Sejak pensiun sebagai petualang, raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya. Bagiku, dia bukan lagi rekan petualang, melainkan seseorang yang menyambutku di akhir petualangan. Kesan itu jauh lebih kuat sekarang.

“Terima kasih atas kerja kerasnya. Ada urusan di sini?”

“Iya. Beres-beres loker dan beberapa hal lainnya. Isshiki-kun juga baru mau pulang?”

“Iya. Ini baru mau jalan.”

“Kalau begitu, ayo ke stasiun bareng.”

Kami berjalan beriringan di atas aspal jalanan.

Hari ini Shiraishi-san mengenakan blus lengan pendek dan celana abu-abu. Secara keseluruhan, pakaiannya didominasi garis-garis tegas yang membuat postur tubuhnya yang bagus semakin menonjol.

“Bagaimana kabarmu belakangan ini? Jubah barumu nyaman?”

“Luar biasa. Benar-benar... luar biasa. Jauh berbeda dengan poliester.”

“Ahaha! Luar biasa ya? Syukurlah kalau begitu.”

Meskipun perbendaharaan kataku buruk sekali, Shiraishi-san tetap tertawa.

Jika dipikir secara saksama, bahan langka yang didapat dari individu unik memang tidak bisa dibandingkan dengan produk industri yang serbaguna sekalipun.

“Oh, benar juga. Tadi saat merapikan loker, aku menemukan sesuatu. Kamu mau?”

“Barang apa memangnya?”

Shiraishi-san mengaduk isi tas yang tersampir di bahunya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang tidak asing lagi bagiku.

“Jadaaa!”

“I-Itu ‘kan topeng...!”

Sebuah topeng pesta yang hanya menutupi setengah bagian atas wajah.

Saat berkilau diterpa cahaya matahari terbenam, auranya terasa agak mewah.

“Aku sudah tidak memakainya lagi, jadi kupikir lebih baik kuwariskan saja pada Isshiki-kun.”

“Serius?”

“Iya. Serius sekali. Serius tingkat tinggi.”

“Maksudnya, aku akan meneruskan gelar Topeng Sukarelawan... begitu?”

“Bukan. Tidak perlu diteruskan juga tidak apa-apa. Aku hanya merasa akan lebih baik jika Isshiki-kun yang menyimpannya.”

Orang ini benar-benar tidak adil.

Jika dia mengatakannya dengan senyuman seperti itu, aku tidak akan bisa menolak. Tanpa tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya...

“Baiklah. Kalau begitu akan kusimpan. Tapi, kalau aku pakai ini, bukannya aku akan terlihat semakin mirip penjahat?”

“Habisnya, jubah Raja Roh Kematian itu ‘kan memang hitam pekat.”

“Padahal tanpa topeng ini pun auranya sudah cukup menyeramkan.”

“Ahaha! Benar juga. Mungkin kamu memang tidak akan terlihat seperti pahlawan keadilan.”

Aku tidak ingin memakai ini sambil berteriak “Volaaa~”.

Tapi, jika Shiraishi-san bisa tertawa lepas seperti ini... yah, tidak ada salahnya jika hanya menyimpannya saja.

“Soalnya, Isshiki-kun adalah orang pertama yang berhasil mengungkap identitas asli Topeng Sukarelawan.”

“Benarkah?”

“Iya. Biasanya orang-orang tidak akan sadar.”

“...Orang Jepang ternyata baik-baik ya.”

“Ada apa?”

“Tidak.”

Kenyataan bahwa identitasnya mudah terbongkar mungkin justru menciptakan kesepakatan tidak tertulis bahwa “hal itu tidak boleh ditanyakan”. Jika aku diberitahu oleh petualang senior sejak awal, aku pun pasti akan berpura-pura tertipu. Itu menunjukkan betapa Shiraishi-san sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Mungkin.

Matahari yang hampir terbenam perlahan membakar sudut-sudut kota. Di tengah cahaya oranye itu, dia terus melangkah menatap ke depan.

“Bagaimana dengan Shiraishi-san sendiri belakangan ini?”

“Aku? Aku sih... hmm. Mungkin merasa luang?”

“Merasa luang ya.”

“Masa cutiku masih ada, dan aku ingin melakukan sesuatu. Tapi meski berpikir begitu, di luar sangat panas.”

“Aku paham. Kalau cuaca panas memang malas keluar rumah ya.”

“Iya. Benar-benar malas. Aku baru kembali bekerja bulan September... dan sekarang aku juga bukan petualang lagi...”

Shiraishi-san menyipitkan mata. Nada suaranya sedikit merendah.

Dia menunjuk ke arah kedai makanan cepat saji di seberang jalan. Tempat itu adalah tempat yang pernah kami datangi berdua beberapa waktu lalu.

“Dulu kalau pulang petang, kami semua sering mampir ke sana. Yuuko selalu pesan pai apel, dan aku paling suka saladnya. Sungguh. Entah kenapa aku sangat suka saus dressing-nya. Lalu, apa ya namanya... crouton? Iya, aku juga suka itu.”

Aku berdoa agar suaranya tidak bergetar.

Sebab, itu bukanlah luka yang sanggup kusembuhkan.

Seandainya itu hanya luka biasa, mungkin aku masih bisa berbuat sesuatu.

Kenangan hangat itu bersinar terang seperti cahaya matahari terakhir sebelum bersembunyi di balik gedung. Alasan mengapa air mata rasanya ingin tumpah di saat-saat seperti ini bukanlah karena kenangan buruk. Melainkan memori kebahagiaan yang teramat rapuh yang terselip di tengah penderitaan.

Aku pun masih menyembunyikan kenangan itu rapat-rapat. Kenangan saat Ayah dan Ibu masih ada; saat segalanya terasa pas-pasan namun tidak ada yang kurang.

Apakah suatu saat nanti aku sanggup menyentuhnya kembali? Apakah aku bisa membicarakannya bersama Nina, Mitsuru, Sena, Seika, dan Mutsuki?

Shiraishi-san mengepalkan jemarinya yang lentur lalu tersenyum.

“Aku senang sudah menjadi petualang. Karena jika tidak, aku tidak akan pernah bisa bertemu siapa pun. Baik itu Yuuko, Haruto... maupun Isshiki-kun.”

Apakah aku benar-benar boleh berada di dalam daftar itu?

Aku merasa senang, namun juga merasa tidak enak hati. Karena itulah, aku akan terus melangkah maju. Membawa serta harapan dari Shiraishi-san dan Kirishima-san. Agar saat Shiraishi-san menyebutkan namaku kelak, aku bisa tetap memiliki kepercayaan diri.

“Aku pun merasa senang telah menjadi petualang. ...Dan aku ingin terus bisa mengatakan hal itu.”

Aku ingin menjadi sesuatu yang lebih nyata dan berkelanjutan, bukan sesuatu yang rapuh dan mudah menghilang.

Meskipun itu adalah hal yang sulit dilakukan.

“Pulanglah dengan selamat.”

Shiraishi-san, yang melangkah sedikit di depanku, berucap.

“Isshiki-kun, kamu harus selalu pulang dengan selamat. Terus begitu, selamanya.”

Meski dia tidak melihat ke arahku, aku mengangguk.

“Iya.”

Di balik hamparan warna jingga, stasiun mulai terlihat.

Aku pasti tidak akan pernah melupakan pemandangan hari ini. Bersama sebuah keyakinan yang aneh, aku pun melangkah maju hingga berdiri sejajar di samping Shiraishi-san.

Read Also :-
Labels : #Eldest Son's Poor Family 1 ,#Light Novel ,#Wizard King of Eldest Son's Poor Family ,
Getting Info...

Posting Komentar