Epilog: Mengenang Senja Kala Itu
Karena ini
adalah libur musim panas di mana seluruh keluarga ada di rumah, aku ingin
menghabiskan waktu bersama mereka, jadi jadwal penjelajahan dungeon-ku masih
kubuat santai.
Aku tetap
melakukan petualangan rutin selama setengah hari agar insting sihirku tidak
tumpul. Jadwal harianku terasa seperti latihan ekskul setengah hari; mulai di
siang hari dan selesai saat petang tiba.
Begitu selesai
bersiap-siap untuk pulang, aku tidak sengaja berpapasan dengan Shiraishi-san.
Sejak pensiun sebagai petualang, raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dari
sebelumnya. Bagiku, dia bukan lagi rekan petualang, melainkan seseorang yang
menyambutku di akhir petualangan. Kesan itu jauh lebih kuat sekarang.
“Terima kasih
atas kerja kerasnya. Ada urusan di sini?”
“Iya.
Beres-beres loker dan beberapa hal lainnya. Isshiki-kun juga baru mau pulang?”
“Iya. Ini baru
mau jalan.”
“Kalau begitu,
ayo ke stasiun bareng.”
Kami berjalan
beriringan di atas aspal jalanan.
Hari ini
Shiraishi-san mengenakan blus lengan pendek dan celana abu-abu. Secara
keseluruhan, pakaiannya didominasi garis-garis tegas yang membuat postur
tubuhnya yang bagus semakin menonjol.
“Bagaimana
kabarmu belakangan ini? Jubah barumu nyaman?”
“Luar biasa.
Benar-benar... luar biasa. Jauh berbeda dengan poliester.”
“Ahaha! Luar biasa
ya? Syukurlah kalau begitu.”
Meskipun
perbendaharaan kataku buruk sekali, Shiraishi-san tetap tertawa.
Jika dipikir
secara saksama, bahan langka yang didapat dari individu unik memang tidak bisa
dibandingkan dengan produk industri yang serbaguna sekalipun.
“Oh, benar
juga. Tadi saat merapikan loker, aku menemukan sesuatu. Kamu mau?”
“Barang apa
memangnya?”
Shiraishi-san
mengaduk isi tas yang tersampir di bahunya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang
tidak asing lagi bagiku.
“Jadaaa!”
“I-Itu ‘kan
topeng...!”
Sebuah topeng
pesta yang hanya menutupi setengah bagian atas wajah.
Saat berkilau
diterpa cahaya matahari terbenam, auranya terasa agak mewah.
“Aku sudah
tidak memakainya lagi, jadi kupikir lebih baik kuwariskan saja pada
Isshiki-kun.”
“Serius?”
“Iya. Serius
sekali. Serius tingkat tinggi.”
“Maksudnya, aku
akan meneruskan gelar Topeng Sukarelawan... begitu?”
“Bukan. Tidak
perlu diteruskan juga tidak apa-apa. Aku hanya merasa akan lebih baik jika
Isshiki-kun yang menyimpannya.”
Orang ini
benar-benar tidak adil.
Jika dia
mengatakannya dengan senyuman seperti itu, aku tidak akan bisa menolak. Tanpa
tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya...
“Baiklah. Kalau
begitu akan kusimpan. Tapi, kalau aku pakai ini, bukannya aku akan terlihat
semakin mirip penjahat?”
“Habisnya,
jubah Raja Roh Kematian itu ‘kan memang hitam pekat.”
“Padahal tanpa
topeng ini pun auranya sudah cukup menyeramkan.”
“Ahaha! Benar
juga. Mungkin kamu memang tidak akan terlihat seperti pahlawan keadilan.”
Aku tidak ingin
memakai ini sambil berteriak “Volaaa~”.
Tapi, jika
Shiraishi-san bisa tertawa lepas seperti ini... yah, tidak ada salahnya jika
hanya menyimpannya saja.
“Soalnya, Isshiki-kun
adalah orang pertama yang berhasil mengungkap identitas asli Topeng
Sukarelawan.”
“Benarkah?”
“Iya. Biasanya
orang-orang tidak akan sadar.”
“...Orang
Jepang ternyata baik-baik ya.”
“Ada apa?”
“Tidak.”
Kenyataan bahwa
identitasnya mudah terbongkar mungkin justru menciptakan kesepakatan tidak
tertulis bahwa “hal itu tidak boleh ditanyakan”. Jika aku diberitahu oleh
petualang senior sejak awal, aku pun pasti akan berpura-pura tertipu. Itu
menunjukkan betapa Shiraishi-san sangat disayangi oleh orang-orang di
sekitarnya. Mungkin.
Matahari yang
hampir terbenam perlahan membakar sudut-sudut kota. Di tengah cahaya oranye
itu, dia terus melangkah menatap ke depan.
“Bagaimana dengan
Shiraishi-san sendiri belakangan ini?”
“Aku? Aku sih...
hmm. Mungkin merasa luang?”
“Merasa luang
ya.”
“Masa cutiku
masih ada, dan aku ingin melakukan sesuatu. Tapi meski berpikir begitu, di luar
sangat panas.”
“Aku paham.
Kalau cuaca panas memang malas keluar rumah ya.”
“Iya.
Benar-benar malas. Aku baru kembali bekerja bulan September... dan sekarang aku
juga bukan petualang lagi...”
Shiraishi-san
menyipitkan mata. Nada suaranya sedikit merendah.
Dia menunjuk ke
arah kedai makanan cepat saji di seberang jalan. Tempat itu adalah tempat yang
pernah kami datangi berdua beberapa waktu lalu.
“Dulu kalau
pulang petang, kami semua sering mampir ke sana. Yuuko selalu pesan pai apel,
dan aku paling suka saladnya. Sungguh. Entah kenapa aku sangat suka saus
dressing-nya. Lalu, apa ya namanya... crouton? Iya, aku juga suka itu.”
Aku berdoa agar
suaranya tidak bergetar.
Sebab, itu
bukanlah luka yang sanggup kusembuhkan.
Seandainya itu
hanya luka biasa, mungkin aku masih bisa berbuat sesuatu.
Kenangan hangat
itu bersinar terang seperti cahaya matahari terakhir sebelum bersembunyi di
balik gedung. Alasan mengapa air mata rasanya ingin tumpah di saat-saat seperti
ini bukanlah karena kenangan buruk. Melainkan memori kebahagiaan yang teramat
rapuh yang terselip di tengah penderitaan.
Aku pun masih
menyembunyikan kenangan itu rapat-rapat. Kenangan saat Ayah dan Ibu masih ada;
saat segalanya terasa pas-pasan namun tidak ada yang kurang.
Apakah suatu
saat nanti aku sanggup menyentuhnya kembali? Apakah aku bisa membicarakannya
bersama Nina, Mitsuru, Sena, Seika, dan Mutsuki?
Shiraishi-san
mengepalkan jemarinya yang lentur lalu tersenyum.
“Aku senang
sudah menjadi petualang. Karena jika tidak, aku tidak akan pernah bisa bertemu
siapa pun. Baik itu Yuuko, Haruto... maupun Isshiki-kun.”
Apakah aku
benar-benar boleh berada di dalam daftar itu?
Aku merasa
senang, namun juga merasa tidak enak hati. Karena itulah, aku akan terus
melangkah maju. Membawa serta harapan dari Shiraishi-san dan Kirishima-san.
Agar saat Shiraishi-san menyebutkan namaku kelak, aku bisa tetap memiliki
kepercayaan diri.
“Aku pun merasa
senang telah menjadi petualang. ...Dan aku ingin terus bisa mengatakan hal
itu.”
Aku ingin
menjadi sesuatu yang lebih nyata dan berkelanjutan, bukan sesuatu yang rapuh
dan mudah menghilang.
Meskipun itu
adalah hal yang sulit dilakukan.
“Pulanglah
dengan selamat.”
Shiraishi-san,
yang melangkah sedikit di depanku, berucap.
“Isshiki-kun,
kamu harus selalu pulang dengan selamat. Terus begitu, selamanya.”
Meski dia tidak
melihat ke arahku, aku mengangguk.
“Iya.”
Di balik
hamparan warna jingga, stasiun mulai terlihat.
Aku pasti tidak akan pernah melupakan pemandangan hari ini. Bersama sebuah keyakinan yang aneh, aku pun melangkah maju hingga berdiri sejajar di samping Shiraishi-san.